Heartbeat – Part 11

Author

Choineke

Title

Heartbeat

Cast

 Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC), others

Genre

Romance

Length

Chapter

Rating

PG-15

——

–My heart is beating so fast just because of you–

——

Author POV

Yeon keluar dari lift dengan berlari kecil. Ia melihat Kyuhyun yang sedang menggedor pintu apartement Yongri. Ia merasa semakin panik saat menyadari jika Yongri mungkin saja tidak ada di apartementnya.

“Kyuhyun-ah!” Panggil Yeon.

“Oh, Yeoni-ya.” Kyuhyun tampak merasa lega saat melihat kedatangan Yeon.

“Aku sudah menekan bel dan menggedor pintunya dari tadi, namun tidak ada yang membukakan pintu.” Ucap Kyuhyun.

Yeon langsung memasukkan password apartement Yongri. Merasa beruntung karena Yongri selalu memberitahunya setiap wanita itu mengganti password apartementnya.

Setelah pintu apartement terbuka, mereka segera masuk ke dalam. Yeon melihat sandal rumah Yongri tersimpan rapi yang menandakan bahwa wanita itu tidak ada di apartement. Namun Yeon tetap masuk ke dalam karena ia ingin memastikan satu hal.

Yeon meninggalkan Kyuhyun dan langsung menuju ke kamar Yongri. Tempat tidur Yongri dalam keadaan rapi seperti tidak pernah ditiduri sebelumnya. Yeon segera membuka lemari pakaian Yongri.

Kaki Yeon terasa lemas saat melihat tidak ada satupun pakaian Yongri di sana. Lemari pakaiannya dalam keadaan kosong dan menandakan bahwa Yongri benar-benar telah pergi.

“K–Kyuhyun-ah.” Panggil Yeon dengan suara bergetar.

“Ada apa?” Tanya Kyuhyun sembari masuk ke dalam kamar Yongri.

“Yongri pergi.” Ujar Yeon dengan mata berkaca-kaca.

“Apa?” Kyuhyun mendekati Yeon dan melihat kemana mata kekasihnya itu menatap.

Mata Kyuhyun tampak melebar saat melihat lemari pakaian dalam keadaan kosong. Tidak ada satupun pakaian yang tersisa, seolah sang pemilik sengaja melakukannya karena tidak ingin kembali.

“Bagaimana ini?” Bisik Yeon.

Kyuhyun menatap Yeon dan menutun wanita itu untuk duduk di atas tempat tidur. Ia yakin Yeon sangat terkejut saat ini. Karena dirinya pun sangat terkejut dan tidak menyangka jika Yongri benar-benar pergi.

“Yongri benar-benar pergi.” Lirih Yeon dengan sedih.

“Semua ini karena diriku, Kyuhyun-ah. Seharusnya aku tidak bersikap berlebihan saat itu.” Kata Yeon dengan penuh penyesalan.

“Tidak, Yeoni-ya. Jangan menyalahkanmu.” Ucap Kyuhyun sembari merangkul Yeon. Berusaha untuk menenangkan wanita itu.

“Bagaimana bisa Yongri pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu padaku? Bagaimana bisa dia pergi meninggalkanku begitu saja?” Tanya Yeon dengan airmata mengalir diwajahnya.

“Sepertinya Yongri mengikuti keinginan Siwon hyung.” Gumam Kyuhyun.

“Apa maksudmu?” Tanya Yeon sembari menyeka airmatanya. Ia menatap Kyuhyun dengan pandangan ingin tahu.

“Malam itu, Siwon hyung salah paham padaku dan Yongri. Ia berpikir jika terjadi sesuatu pada kami karena saat itu aku dan Yongri sedang berpelukan. Jangan salah paham, Yeoni-ya. Saat itu kami hanya saling berterima kasih dan meminta maaf. Tetapi Siwon hyung berpikir jika aku mengkhianatimu. Dia memukulku sedangkan Yongri berusaha untuk membelaku.” Jelas Kyuhyun.

“Yongri menampar Siwon hyung untuk membuatnya berhenti memukuliku. Namun sepertinya Siwon hyung begitu marah dengan apa yang Yongri lakukan padanya. Siwon hyung meminta Yongri untuk pergi dari hidupnya. Ia tidak ingin Yongri menjadi bagian dari hidupnya dan hidupmu lagi.” Kyuhyun menyelesaikan ceritanya.

Yeon nampak benar-benar terkejut mendengar cerita Kyuhyun. Ia tidak menyangka jika Siwon mampu melakukan hal tersebut pada Yongri. Di saat Yeon sangat yakin jika Siwon memiliki perasaan pada Yongri. Kecemburuan Siwon membuat semuanya menjadi semakin kacau.

“Karena itulah aku pikir Yongri mengikuti keinginan Siwon hyung.” Lirih Kyuhyun.

“Ini semua salahku. Kekacauan ini terjadi karena diriku.” Ucap Yeon sembari menutup wajahnya.

“Tidak, Yeon-ah. Jangan salahkan dirimu.” Pinta Kyuhyun.

“Kemana Yongri pergi, Kyuhyun-ah? Dia tidak memiliki siapapun di sini.” Ujar Yeon dengan sedih.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun karena sejujurnya ia tidak tahu kemana Yongri pergi. Sedikitpun ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Yeon.

“Apakah mungkin Yongri pergi ke tempat orangtuanya?” Tebak Yeon.

“London maksudmu?” Sahut Kyuhyun dan disambut anggukkan kepala oleh Yeon.

“Tetapi Yongri tidak menyukai orangtuanya.” Komentar Kyuhyun.

“Benar. Yongri tidak menyukai orangtuanya.” Gumam Yeon.

“Lalu kemana Yongri pergi?” Tanya Yeon dengan putus asa.

Beberapa saat kemudian Yeon tiba-tiba berdiri hingga membuat Kyuhyun terkejut.

“Aku harus mengatakan ini pada Siwon oppa.” Tukas Yeon sembari meninggalkan kamar Yongri.

“Yeoni-ya, sebentar.” Kyuhyun berusaha menghentikan Yeon, tetapi wanita itu tidak memperdulikan panggilan Kyuhyun.

Yongri pergi karena Siwon. Tentu saja Yeon harus meminta pertanggungjawaban dari pria itu. Bagaimanapun caranya, Siwon harus membawa Yongri kembali.

“Yeoni-ya!” Ucap Kyuhyun sembari menarik lengan Yeon yang hendak masuk ke dalam lift.

“Ada apa? Aku harus segera memberitahu Siwon oppa.”

“Aku tahu. Tetapi apakah menurutmu Siwon hyung memiliki jawaban atas kemana perginya Yongri?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak. Dia tidak akan memiliki jawaban. Tetapi dia tetap harus mengetahuinya.” Ucap Yeon dan segera masuk ke dalam lift. Membuat Kyuhyun mau tidak mau mengikuti kekasihnya itu.

“Yongri pasti baik-baik saja. Tenanglah.” Kata Kyuhyun dengan lembut.

Namun sepertinya kata-kata Kyuhyun tidak berarti apapun untuk Yeon saat ini. Ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Yongri. Ia adalah salah satu penyebab Yongri pergi. Bagaimana bisa ia tenang begitu saja? Jika Yeon tidak memiliki hati, ia mungkin tidak akan peduli.

Lift sampai di lantai sepuluh dan Yeon langsung keluar dari sana. Ia melangkahkan kaki jenjangnya dengan lebar agar segera sampai diapartementnya. Beruntung karena Siwon belum bekerja, karena pria itu sudah pasti berada di apartement.

“Oppa!” Panggil Yeon dengan suara keras.

“Siwon oppa!” Panggilnya lagi saat tidak ada tanggapan.

Pintu kamar Siwon terbuka dan pria itu muncul dari sana. Yeon langsung menghampiri Siwon dan mendorong dada pria itu hingga membuat Siwon dan Kyuhyun terkejut.

“Ada apa, Yeon?” Tanya Siwon dengan bingung.

“Bagaimana bisa kau melakukan itu pada Yongri?!” Hardik Yeon langsung.

“Apa yang kau bicarakan, Yeon? Dan bukankah sudah aku katakan jika aku tidak ingin mendengar apapun tentang Yongri?!” Siwon berjalan melewati Yeon namun wanita itu langsung menarik lengannya hingga Siwon berbalik.

“Jung Yeon!” Bentak Siwon.

“Kenapa kau mengusir Yongri? Kenapa kau menyuruh Yongri pergi dari kehidupanku?!” Yeon balas membentak. Ia terlihat tidak takut dengan Siwon yang mulai marah.

“Karena dia sudah mengkhianatimu.” Jawab Siwon sembari menatap Kyuhyun yang berdiri di belakang Yeon.

“Hyung, kau–“

“Tutup mulutmu, Cho Kyuhyun. Aku tidak ingin mendengar apapun darimu.” Sela Siwon sembari menunjuk Kyuhyun.

“Dia tidak mengkhianatiku.” Bantah Yeon. Siwon tersenyum sinis.

“Kau tidak tahu apapun, Yeoni-ya.”

“Kau yang tidak tahu apapun, oppa! Tidak ada yang terjadi antara Kyuhyun dan Yongri.”

“Darimana kau mengetahuinya? Apa Kyuhyun yang mengatakannya? Kau percaya begitu saja?” Ujar Siwon.

“Ya. Aku percaya padanya. Kenapa? Karena aku mencintai Kyuhyun!” Tukas Yeon membuat Siwon terdiam.

“Bagaimana bisa kau tidak mempercayai wanita yang kau cintai?” Tanya Yeon dengan kecewa.

“Aku tidak mencintai Yongri!” Bantah Siwon dengan rahang mengeras.

“Jelas kau sangat mencintainya, oppa. Karena itulah kau merasa marah saat berpikir jika dia masih memiliki perasaan pada Kyuhyun. Tetapi kau salah paham!”

“Omong kosong! Aku tidak ingin mendengarkan omong kosong ini lebih lama lagi, Jung Yeon.” Ucap Siwon sembari berjalan meninggalkan Yeon.

“Yongri pergi, oppa.” Kata Yeon dengan pelan dan berhasil menghentikan langkah Siwon.

“Dia tidak ada di tempat kerja ataupun diapartementnya. Lemari pakaiannya kosong dan tidak ada satupun barangnya yang tersisa di sana. Yongri pergi. Dia benar-benar pergi seperti keinginanmu.” Yeon kembali menangis saat mengatakannya.

“Yongri..pergi?” Tanya Siwon setelah berbalik untuk menatap Yeon. Yeon mengangguk.

“Aku tidak tahu dimana Yongri saat ini, oppa.” Keluh Yeon sedih.

Untuk beberapa saat Siwon hanya diam saja dengan mata yang bergerak gelisah. Namun kemudian ia tersenyum sinis.

“Pengecut.” Ucap Siwon tiba-tiba membuat mata Yeon dan Kyuhyun melebar.

“Oppa..”

“Benar-benar pengecut.” Kata Siwon dengan tertawa pelan.

“Oppa!”

Siwon kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya, namun Yeon segera berlari dan berdiri tepat dihadapan Siwon.

“Apa kau tahu kenapa Yongri pergi? Karena dia mencintaimu, oppa! Dia terluka saat kau menyuruhnya pergi!” Pekik Yeon kesal.

“Perasaan Yongri pada Kyuhyun sudah menghilang karena dirimu. Dan sekarang dia mencintaimu! Tetapi kau tidak mau mendengarkan apapun darinya dan mengusirnya begitu saja! Kau benar-benar keterlaluan!” Yeon kembali memukul dada Siwon dengan keras. Ia benar-benar merasa kesal pada kakak sepupunya itu.

Siwon sudah menyebabkan Yongri meninggalkan mereka semua. Bagaimana bisa Siwon terlihat tidak merasa bersalah? Yeon tidak tahu sejak kapan Siwon menjadi keras kepala dan egois seperti ini. Dan ia sangat tidak menyukainya saat sisi buruk Siwon mengambil alih hatinya seperti ini.

——

Siwon mengepalkan kedua tangannya saat Yeon terus memukuli dadanya sembari menangis. Dadanya terasa sakit. Tetapi bukan karena pukulan Yeon. Siwon tidak tahu kenapa dadanya terasa sakit dan sesak seperti ini. Tidak. Sebenarnya Siwon sangat mengetahuinya, namun ia berpura-pura tidak tahu untuk menutupi perasaannya.

“Bagaimana bisa kau melakukan ini pada Yongri, oppa?” Isak Yeon dan mencengkram kaosnya dengan erat.

Apa yang sebenarnya telah ia lakukan? Benarkah ia telah mengusir Yongri? Benarkah ia meminta wanita itu untuk pergi dari hidupnya? Jika Yongri memang mencintainya, kenapa wanita itu pergi begitu saja?

“Orang-orang di kantor mengucilkannya. Lalu kau mengusirnya. Yongri yang malang. Dia pasti menangis seorang diri.” Lirih Yeon.

“Hentikan, Yeoni-ya.” Kyuhyun mendekati Yeon dan menarik wanita itu menjauh dari Siwon.

Siwon menatap Kyuhyun yang sedang memeluk Yeon dengan erat. Kyuhyun mencintai Yeon, Siwon tahu itu. Lalu apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Kenapa ia marah pada wanita itu dan mengusirnya? Sebenarnya apa yang telah ia lakukan?! Siwon ingin berteriak dengan kencang saat ini.

Melewati Kyuhyun dan Yeon yang sedang berpelukan, Siwon meninggalkan apartementnya. Ia berjalan dengan kedua tangan yang masih terkepal dengan erat. Saat di depan lift, tangannya yang bergetar terulur untuk menekan tombol lift.

Saat pintu lift terbuka, Siwon segera masuk ke dalam. Siwon menatap tombol-tombol angka yang berada di dalam lift. Matanya terus tertuju pada angka delapan saat ini. Pintu lift terus tertutup dan terbuka karena Siwon belum menekan angka tujuannya.

Siwon mengulurkan tangannya dan–tanpa bisa dicegah–menekan angka delapan. Lift sepenuhnya tertutup dan mulai bergerak turun. Entah kenapa Siwon tidak bisa mempercayai ucapan Yeon yang mengatakan jika Yongri pergi. Ia harus memastikannya dengan kedua matanya sendiri.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di lantai delapan. Siwon segera keluar dan dengan langkah lebar mendatangi apartement Yongri. Telunjuknya dengan cekatan menekan angka-angka password apartement tersebut hingga pintu terbuka.

Siwon masuk ke dalam apartement Yongri dan membiarkan pintunya tertutup sendiri. Ia langsung menghampiri kamar Yongri yang dalam keadaan kosong. Saat mengingat ucapan Yeon tentang lemari pakaian, mata Siwon berusaha untuk mencari keberadaan lemari tersebut.

Setelah menemukannya, ia segera membukanya dan tidak melihat satupun pakaian Yongri berada di sana. Tangannya yang berada di pintu lemari tiba-tiba saja terkulai lemas dan jatuh di sisi tubuhnya. Siwon menatap lemari tersebut dengan tidak percaya.

Kakinya melangkah mundur dengan terseok-seok hingga terduduk di atas tempat tidur. Siwon menjambak rambutnya dengan frustasi. Apakah Yongri tidak tahu jika ia tidak bersungguh-sungguh saat mengucapkannya? Kenapa wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya?

“Tidak. Kau tidak boleh pergi, Yongri-ya.” Lirih Siwon dengan mata berkaca-kaca.

Mata Siwon menatap sekeliling. Mencoba untuk mencari sebuah pentunjuk tentang keberadaan Yongri. Namun ia tidak menemukan apapun, selain sebuah foto Yongri yang berada di atas meja. Siwon mendekati meja tersebut dan mengambil foto Yongri yang sedang tersenyum.

Siwon ingat jika foto itu bersanding dengan foto dirinya, Yeon, dan Yongri beberapa tahun yang lalu. Hanya saja saat ini foto mereka bertiga tidak ada di sana dan hanya menyisakan foto Yongri seorang diri. Apa Yongri membawa foto mereka bertiga?

“Yeon bilang jika kau mencintaiku.” Ucap Siwon pada foto Yongri.

“Tidak. Aku tidak percaya padanya. Aku tidak percaya pada perasaanmu.” Kata Siwon dengan tersenyum miris.

“Kau tidak akan meninggalkanku jika kau mencintaiku, Choi Yongri.” Gumam Siwon sembari mendekap erat foto Yongri didadanya.

Kakinya yang tak bertenaga membuatnya jatuh berlutut dengan sebuah isakan yang memenuhi kamar Yongri. Siwon tidak bisa menahan kesedihan yang dirasakannya karena Yongri meninggalkannya. Ia juga merasa menyesal karena telah berkata kasar pada wanita itu hingga membuatnya pergi. Namun Siwon tahu bahwa penyesalannya tidak akan pernah berguna sampai kapanpun.

——

–London, Inggris–

Yongri keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu. Ia melihat kedua orangtuanya telah menunggu di ruang makan untuk sarapan bersama. Terkadang ia tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka.

Selama ini mereka tidak pernah memperdulikannya. Lalu kenapa tiba-tiba mereka menginginkan sarapan bersama seperti layaknya keluarga yang harmonis? Well, orangtuanya memang tidak pernah bertengkar dan kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Dan Yongri bersyukur untuk hal itu.

Namun tetap saja selama ini mereka tidak pernah melakukan apapun secara bersamaan. Karena itulah saat ibunya datang ke kamarnya dan mengajaknya sarapan bersama membuat Yongri merasa bingung dan tidak tertarik. Namun ia tetap datang ke ruang makan karena tidak ingin berdebat dengan mereka.

“Selamat pagi, sayang.” Sapa Lee Hyesoo–ibu Yongri.

“Selamat pagi.” Balas Yongri bergumam dan kemudian duduk di hadapan Hyesoo.

Yongri baru saja hendak membuat roti berisi selai cokelat ketika Hyesoo tiba-tiba langsung menyodorkan roti isi cokelat yang telah dibuatnya. Ia menatap Hyesoo dengan curiga. Ia yakin ada yang aneh pada ibunya itu. Namun Yongri tetap mengambil roti tersebut dan memakannya.

“Jadi, kau memutuskan untuk menetap di London?” Tanya Sanghoon–ayah Yongri.

Yongri berhenti mengunyah saat mendengar pertanyaan dari Sanghoon. Ia menatap roti yang berada ditangannya sembari memikirkan jawaban atas pertanyaan Sanghoon. Sebenarnya ia telah memikirkan hal ini sejak kedatangannya ke London beberapa hari yang lalu.

“Sepertinya begitu.” Jawab Yongri bergumam.

“Bekerjalah di perusahaan kalau begitu.” Ujar Sanghoon sembari meminum kopinya.

“Tidak, appa.” Tolak Yongri langsung membuat Sanghoon dan Hyesoo menatapnya.

“Aku akan bekerja. Tetapi tidak diperusahaanmu. Aku akan mencari pekerjaan dengan usahaku sendiri.” Jelas Yongri.

“Kenapa harus bersusah payah di saat orangtuamu memiliki sebuah perusahaan besar?” Komentar Sanghoon.

“Orang-orang akan menggunjingku.” Gumam Yongri.

“Kau bisa membuktikan pada mereka jika kau pantas bekerja di sana dengan kemampuanmu jika itu yang kau takutkan.” Ucap Sanghoon dengan cuek. Yongri menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.

“Aku tidak akan memaksamu untuk bekerja di sana. Jika kau mau, kau bisa datang. Jika tidak, kau bisa tentukan sendiri pilihanmu. Tetapi saat ini aku membutuhkanmu untuk bertemu dengan Dennis.” Kata Sanghoon sembari menatap Yongri dengan tegas.

Yongri membalas tatapan Sanghoon sebelum akhirnya menatap Hyesoo yang sedang tersenyum. Kenapa ia melupakan alasan utamanya datang ke London? Semua itu karena permintaan mereka yang ingin mengenalkannya dengan Dennis. Yongri menyadari jika sikap perhatian Hyesoo barusan karena pria bernama Dennis itu.

“Aku hanya harus berkenalan dengannya, kan?” Tanya Yongri.

“Kau tidak mungkin pergi setelah berkenalan dengannya, kan? Lagipula kau akan menetap di sini. Kau bisa mulai menjalin hubungan dengannya. Dennis pria yang baik.” Ucap Hyesoo.

“Akan lebih baik jika kau menikah dengannya.” Sahut Sanghoon sembari berdiri.

“Apa kau sedang menjual anakmu, appa?” Komentar Yongri dengan sinis.

“Aku hanya sedang berbinis. Tetapi jika kau berpikiran seperti itu, aku tidak bisa mencegahnya.” Balas Sanghoon sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang makan.

Yongri menatap punggung tegap Sanghoon dengan kesal. Seharusnya ia tahu jika ia tidak akan pernah bisa tinggal bersama orangtuanya. Sejak dulu mereka tidak pernah bersikap hangat padanya. Hanya karena ingin mengubur semua yang terjadi di Korea membuat Yongri melupakan fakta penting tentang orangtuanya.

“Tidak seperti itu, Yongri-ya. Mana mungkin ayahmu menjualmu yang merupakan anaknya satu-satunya. Itu semua karena ia terlalu menyukai Dennis. Pria itu berhasil mengambil hati ayahmu karena itulah ia ingin kalian menikah.” Jelas Hyesoo.

“Bagaimana bisa aku menikah dengan pria asing?” Ucap Yongri dengan kesal.

“Kau tidak akan menikah sekarang. Kalian bisa berkenalan dan berkencan terlebih dahulu. Setelah itu baru menikah. Lagipula kau tidak memiliki kekasih. Kau tidak boleh melupakan usiamu sekarang, Choi Yongri.” Tukas Hyesoo.

“Kapan aku bilang jika aku tidak memiliki kekasih?” Tanya Yongri.

“Lalu apakah kau punya? Jika kau memang memiliki kekasih, kau tidak akan mau menetap di sini. Bukan begitu?” Ucap Hyesoo dengan senyum penuh kemenangan.

Yongri meletakkan rotinya di atas meja dan segera berdiri hingga kursinya berdecit dengan keras. Ia menatap Hyesoo yang tampak tidak memperdulikan kekesalannya. Yongri menendang kursi dibelakangnya sebelum akhirnya meninggalkan ruang makan.

Ia benar-benar membenci orangtuanya.

——

Pada akhirnya Yongri memang tidak bisa menolak keinginan orangtuanya. Hyesoo membuatkan janji bertemu dengan Dennis di sebuah cafe yang cukup mewah dan terlihat elegan. Yongri tidak terbiasa dengan orang-orang berwajah asing yang berada didekatnya. Tetapi ia mulai harus membiasakan dirinya jika ingin menetap di negara ini.

Yongri menatap ponselnya–yang dalam keadaan mati–yang berada di dalam genggamannya. Ia sengaja membiarkan ponselnya mati. Ia terlalu takut menghadapi fakta jika tidak ada yang mencarinya setelah kepergiannya yang tidak diketahui oleh siapapun.

Seandainya Siwon, Yeon, dan Kyuhyun mengetahui kepergiannya, bagaimana jika mereka tidak peduli? Bagaimana jika mereka malah bersyukur dengan kepergiannya? Bagaimana jika ia benar-benar tidak dibutuhkan lagi oleh mereka? Yongri benar-benar merasa takut saat memikirkannya.

Memasukkan ponselnya di dalam tas, Yongri mengeluarkan sebuah foto yang dimana ia, Siwon, dan Yeon berada di dalamnya. Mereka saling merangkul dan tertawa dengan begitu bahagia. Foto itu diambil beberapa tahun yang lalu saat mereka bermain bersama di Lotte World.

Yongri tersenyum saat mengingatnya. Saat itu ia sangat bahagia dan tidak pernah terpikir bahwa Siwon dan Yeon akan menghakiminya seperti saat itu. Yongri berpikir jika mereka akan selalu bersama-sama di saat senang maupun susah. Tetapi apa yang dipikirkannya tidak terjadi. Dan hal itu membuat Yongri sangat sedih.

Hi.

Yongri terkesiap dan segera mendongak saat mendengar suara seorang pria yang menyapanya. Ia menatap pria tinggi yang berdiri dihadapannya saat ini. Memiliki mata berwarna biru gelap, rambut pendek berwarna pirang yang tertata dengan begitu rapi serta wajah yang begitu tampan.

Untuk sesaat Yongri terpesona pada bakal janggut yang memenuhi dagu dan sekitar rahang pria itu. Ia menganggap jika pria ini benar-benar sebuah deskripsi dari kata tampan.

Miss Choi, right?” Tanyanya dengan tersenyum.

Yeah.” Jawab Yongri dengan suara serak. Ketampanan pria ini membuat mulutnya kering.

Wow! You’re prettier than in the photo.” Puji pria itu.

Untuk sesaat Yongri merasa bingung, namun kemudian ia menyadari jika pria ini adalah Dennis yang dibicarakan oleh orangtuanya.

“Dennis Conner.” Pria itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Yongri.

Yongri langsung berdiri dan menyambut uluran tangan Dennis. Ia sempat menahan nafas untuk sesaat ketika tangan besar Dennis menggenggam erat tangannya.

“Yongri Choi.” Ucap Yongri setelah mampu mengendalikan dirinya.

Yeah, I know you.” Dennis memberikan isyarat pada Yongri untuk kembali duduk.

I don’t know if the guy my parents talk about is as handsome as you are.” Yongri tidak bisa menyembunyikan kekagumannya atas wajah tampan yang dimiliki Dennis.

Well, thank you.” Sahut Dennis dengan sebuah senyum diwajahnya.

Your English is so good.” Kata Dennis sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Tetapi kita bisa berbicara dengan Bahasa Korea.” Ucap Dennis kemudian hingga membuat mata Yongri melebar. Pria itu sangat fasih berbicara Bahasa Korea. Bagaimana bisa?

“Aku banyak belajar pada Mr. Choi selama ini. Dia adalah pria yang menyenangkan. Like my dad.”

Yongri hampir saja mendengus. Dennis tidak mengetahui bagaimana Sanghoon sesungguhnya. Ayahnya itu pasti berakting cukup baik dihadapan Dennis hingga pria itu menyukainya. Karena sejujurnya menurut Yongri, Sanghoon adalah pria yang menyebalkan.

“Karena kau menyukai ayahku, kau ingin berkenalan denganku?” Tebak Yongri sembari menunjuk dirinya sendiri.

“Tidak. Tidak seperti itu. Walaupun kau bukan anak dari Mr. Choi, aku akan tetap ingin berkenalan denganmu.” Bantah Dennis.

“Darimana kau melihat fotoku? Ayahku yang menunjukkannya?” Tanya Yongri.

“Sebenarnya Mr. Choi tidak benar-benar menunjukkannya padaku. Aku melihat fotomu di atas meja kerjanya di kantor.” Jawab Dennis membuat Yongri terkejut.

Sanghoon memajang fotonya di kantor? Benarkah? Yongri benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran pria itu.

“Jadi, apa yang membuatmu memutuskan untuk datang ke London? Mrs. Choi bilang jika kau sedikit sulit untuk dibujuk datang ke sini.” Ucap Dennis dengan tertawa kecil.

Yongri tersenyum kecil sembari menundukkan kepalanya. Sejujurnya ia tidak akan pernah datang ke sini jika ia tidak memiliki masalah di Korea.

Something happen.” Gumam Yongri.

Privacy?

I don’t want to talk about it.” Ucap Yongri.

Okay, we will skip it.” Dennis melipat kedua tangannya di atas meja dan memajukan wajahnya. Kemudian menatap Yongri dengan begitu intens.

I have a lot of question for you. Would you answer it?” Tanya Dennis. Yongri ikut melipat kedua tangan di atas meja dan memajukan wajahnya, membalas tatapan Dennis.

We will see later, Mr. Conner.” Jawab Yongri dengan tersenyum.

——

Yongri pulang ke rumah saat hari mulai gelap. Beruntung karena Dennis bersedia mengantarnya pulang, karena Yongri tidak mengetahui apapun tentang jalan di London. Walaupun ia menaiki taksi, ia mungkin tetap akan tersesat.

Yongri hampir menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Namun saat ia mendengar orangtuanya yang sedang mengobrol di ruang keluarga, membuatnya mengurungkan niat dan segera menghampiri mereka.

“Oh, kau sudah pulang.” Ujar Hyesoo.

“Bagaimana Dennis?” Tanya Hyesoo kemudian.

“Pria yang baik.” Jawab Yongri terdengar menggantung.

“Kalau begitu kau bersedia untuk bertemu dengannya lagi, kan?” Wajah Hyesoo terlihat penuh harap.

“Mungkin.” Balas Yongri dengan mata menatap Sanghoon.

“Kenapa kau melihatku?” Tanya Sanghoon dengan bingung. Yongri melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kau memiliki fotoku di ruang kerjamu, appa?” Tanya Yongri membuat mata Sanghoon sedikit melebar.

Sanghoon berdeham pelan dan mengalihkan pandangannya dari Yongri.

Well, itu mengejutkanku.” Komentar Yongri.

“Aku lelah dan ingin beristirahat. Selamat malam.” Pamit Yongri dengan tersenyum kecil dan segera meninggalkan ruang keluarga.

Sesampainya ia di dalam kamar, Yongri meletakkan tasnya di lantai dan langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit dikamarnya dengan pandangan menerawang.

Dennis mungkin adalah pria tertampan yang pernah Yongri temui selama hidupnya. Namun tetap saja pria itu tidak bisa membuat Yongri melupakan Siwon. Wajah pria itu terus terbayang-bayang saat ia sedang mengobrol dengan Dennis.

Yongri menghela nafas dan mengubah posisinya menjadi menyamping. Ia sangat merindukan Siwon. Demi apapun ia ingin bertemu pria itu dan memeluknya dengan sangat erat. Ia ingin mendengar Siwon berkata jika semuanya akan baik-baik saja. Dan pria itu tidak akan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi.

Tetapi tidak ada satupun yang bisa dilakukannya. Ia tidak bisa bertemu Siwon, berbicara dengan Siwon dan membuat Siwon tetap berada disisinya. Ia tidak bisa mempertahankan pria yang dicintainya. Walaupun hanya sedetik, Yongri berharap jika Siwon bisa merindukannya. Seperti ia merindukan pria itu.

Selain itu, Yongri juga berharap jika hubungan Kyuhyun dan Yeon baik-baik saja. Yeon harus bahagia bersama Kyuhyun karena mereka saling mencintainya. Walaupun Yeon membencinya, Yongri tetap mengharapkan yang terbaik untuk sahabatnya itu.

Yongri memejamkan matanya dan membiarkan airmata mengalir dari sudut matanya. Ia sangat merindukan teman-temannya, dan berharap bisa bertemu dengan mereka walaupun hanya di dalam mimpi.

——

–Seoul, Korea Selatan–

Kyuhyun tersenyum saat Yeon membukakan pintu apartement untuknya. Wanita itu sudah rapi dan cantik serta siap untuk berangkat bekerja. Karena itulah Kyuhyun memutuskan untuk tidak masuk ke dalam apartement karena mereka akan segera pergi.

“Wajahmu terlihat tidak semangat. Tidurmu tidak nyenyak?” Tebak Kyuhyun. Yeon mengangguk.

“Aku memikirkan Siwon oppa.” Ucap Yeon sembari mengusap tengkuknya.

“Siwon hyung tidur di apartement Yongri lagi?” Tanya Kyuhyun. Yeon kembali mengangguk.

“Siwon oppa selalu tidur di apartement Yongri semenjak tahu bahwa Yongri pergi. Sepertinya Siwon oppa merasa sangat menyesal dan merindukan Yongri. Tetapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya.” Ucap Yeon.

Mereka masuk ke dalam lift saat pintu lift telah terbuka. Tangan Kyuhyun terus merangkul Yeon seolah ingin menunjukkan kepada siapa saja jika wanita itu adalah miliknya.

“Tentu saja Siwon hyung akan merasa menyesal. Ia membuat pergi wanita yang dicintainya dan mencintainya.” Tukas Kyuhyun.

“Semua ini karena mereka terlalu bodoh dan egois. Mereka seharusnya mengatakan bagaimana perasaan mereka sesungguhnya.” Keluh Yeon dan disambut anggukkan kepala oleh Kyuhyun.

“Oh ya, aku sudah bertanya kepada pihak manajemen apartement tentang apartement Yongri. Mereka bilang apartement itu tidak dalam status penjualan. Itu berarti Yongri tidak menjual apartementnya dan besar kemungkinan jika dia akan kembali.” Ujar Kyuhyun dengan secercah harapan.

“Apartement itu atas nama ayah Yongri, Kyuhyun-ah. Karena itulah Yongri tidak akan bisa menjualnya begitu saja. Hanya karena apartement itu tidak dalam status penjualan, bukan berarti Yongri akan kembali ke sini.” Balas Yeon dengan tidak semangat.

Kyuhyun menghela nafas panjang dan menyetujui ucapan Yeon. Karena apartement itu bukan miliknya sepenuhnya, maka Yongri tidak akan merasa perlu untuk menjualnya hanya karena dia pergi. Semua itu akan menjadi urusan orangtuanya sebagai pemilik asli. Kenapa ia tidak memikirkannya?

“Tapi terima kasih karena sudah melakukannya, Kyuhyun.” Ucap Yeon sembari tersenyum kecil. Kyuhyun balas tersenyum dan mengeratkan rangkulannya pada wanita itu.

——

Siwon membuka matanya saat merasakan hari sudah pagi. Hal pertama yang ditangkap matanya adalah cahaya matahari dari jendela di dalam kamar Yongri. Siwon mengalihkan pandangannya pada sisi kosong disampingnya.

Setiap bangun pagi, ia selalu berharap jika akan melihat Yongri yang sedang tertidur disampingnya. Wanita itu akan meringkuk dengan manja di dalam pelukannya. Membuat Siwon merasa malas untuk bangun karena ingin terus menghabiskan waktu bersama wanita itu.

Namun entah sudah pagi keberapa yang dihabiskannya seorang diri saat bangun tidur. Tidak ada Yongri disisinya seperti keinginannya. Tidak ada Yongri yang akan selalu marah-marah jika Siwon mengganggunya. Dan tidak akan ada Yongri yang selalu tersenyum malu ketika Siwon menciumnya.

“Kau dimana, Yongri-ya?” Bisik Siwon sembari mengusap bantal dingin disampingnya.

Siwon sengaja tidak mencari keberadaan Yongri saat ini. Ia hanya tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan wanita itu seandainya ia telah menemukannya. Apa yang harus dilakukannya? Meminta maaf? Meminta wanita itu untuk menjadi miliknya?

Siwon mungkin merasa sangat percaya diri jika berada di atas ring untuk bertarung, tetapi ia tidak bisa begitu percaya diri saat menghadapi seorang wanita. Terutama wanita itu adalah Choi Yongri. Lagipula ia tidak tahu apakah Yongri bersedia untuk bersamanya. Wanita itu pasti sangat membencinya.

Siwon mengubah posisinya menjadi duduk. Kemudian mengambil bantal dan memeluknya dengan sangat erat. Hidungnya menghirup bau aroma Yongri yang tertinggal di bantal tersebut. Sembari membayangkan jika ia sedang memeluk Yongri saat ini.

Siwon akan terus berada di sana. Ia akan terus berada di apartement Yongri hingga memastikan dengan kedua mata kepalanya sendiri, bahwa Yongri akan kembali. Walaupun bukan untuk dirinya, Siwon berharap Yongri kembali.

——

Yeon masuk ke dalam apartement Yongri yang dalam keadaan gelap. Tetapi ia tahu jika Siwon berada di dalam, karena ia melihat sepatu kakak sepupunya itu berada di depan pintu. Yeon berjalan perlahan sembari mencari keberadaan Siwon.

Yeon menoleh saat mendengar suara botol menggelinding dari arah ruang televisi. Membuatnya dengan segera melangkahkan kakinya ke sana. Ia menemukan Siwon yang sedang menikmati kesendiriannya dengan minuman alkohol.

Yeon menghela nafas panjang dan menghampiri Siwon. Duduk disamping pria itu yang sepertinya telah menyadari keberadaannya, di sela-sela kemabukannya. Namun saat melihat wajah Siwon, Yeon merasa yakin jika pria itu tidak mabuk.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan, oppa?” Tanya Yeon setelah mengalihkan pandangannya dari Siwon.

“Entahlah.” Jawab Siwon pelan.

Yeon menutup mulutnya dan selama beberapa saat tidak ada pembicaraan di antara mereka. Ia merasa sedih melihat Siwon seperti ini. Pria itu merasa sangat kehilangan, namun mencoba untuk menutupinya. Akan lebih baik jika pria itu menunjukkan kesedihannya karena kepergian Yongri.

“Oppa..” Panggil Yeon dan tidak ditanggapi apapun oleh Siwon.

“Apa kau ingat saat kita bertiga pergi ke Lotte World?” Tanya Yeon dengan tersenyum.

“Saat aku mengajak kalian untuk bolos sekolah?” Timpal Siwon membuat senyum Yeon semakin lebar.

“Benar.” Sahutnya.

“Saat itu aku benar-benar merasa sangat senang. Kita bermain berbagai wahana hingga larut malam. Kau dan Yongri begitu menikmati permainan, berbeda denganku yang diliputi rasa takut. Tetapi aku tetap merasa senang. Saat itu, aku tidak pernah berpikir jika kita akan mengalami semua ini. Sebuah kesalahpahaman membuat kita tercerai berai.” Kalimat terakhir diucapkan Yeon dengan suara bergetar.

“Ini semua salahku, oppa. Seandainya aku tidak berada di antara Yongri dan Kyuhyun, semua ini tidak akan terjadi.” Sesal Yeon.

Yeon tidak merasa menyesal karena mencintai Kyuhyun. Tetapi ia menyesal karena telah menyakiti Yongri dengan menarik perhatian Kyuhyun. Jika saat itu Yeon tidak membalas perhatian Kyuhyun, mereka mungkin tidak berkencan dan Yongri bisa berkencan dengan Kyuhyun.

Siwon dan Yongri tidak akan mengalami kesalahpahaman ini. Yongri tidak akan pergi meninggalkan mereka semua. Dan semuanya akan baik-baik saja saat ini. Namun sayangnya semua terjadi di luar kehendak Yeon. Ia tidak bisa menahan perasaannya pada Kyuhyun.

“Ini bukan salahmu.” Ucap Siwon tanpa menatap Yeon.

“Yongri pergi karena aku mengusirnya.” Lanjut Siwon. Yeon dapat menangkap nada penyesalan pada kalimat terakhir Siwon.

“Kau dan aku menjadi penyebab utama Yongri pergi.” Bisik Yeon sembari menundukkan kepalanya. Ia dapat merasakan Siwon menegak minuman alkohol di tangan pria itu.

“Oppa, apa kau tidak akan mencari Yongri?” Tanya Yeon.

“Untuk apa? Meminta maaf? Mengatakan betapa aku sangat menyesal telah memintanya pergi?” Balas Siwon dengan sarkastik.

“Bukankah akan lebih baik jika kita mengetahui keberadaannya?” Usul Yeon. Siwon menggeleng.

“Jika aku mengetahui keberadaan Yongri, aku mungkin akan memohon ampun padanya atas kebodohan yang kulakukan. Dan aku mungkin akan gila jika dia tidak mau memaafkanku.” Ucap Siwon dengan frustasi dan kembali meminum minuman alkoholnya.

Yeon menghela nafas dan kembali menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merindukan Yongri. Ia tidak pernah tidak bertemu dengan Yongri lebih dari satu hari. Karena tinggal di lingkungan tempat tinggal yang sama, mereka selalu bertemu setiap hari.

“Oppa..” Panggil Yongri pelan sembari menatap Siwon. Siwon menoleh dan membalas tatapan Yeon.

“Kau mencintai Yongri, kan?” Tanya Yeon menebak. Ia sebenarnya sudah mengetahui jawabannya, tetapi Yeon ingin mendengarnya langsung dari Siwon.

Untuk beberapa saat Siwon hanya diam sembari terus menatap Yeon. Membuat Yeon berusaha menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh kakak sepupunya itu. Ia merasa tidak memberikan pertanyaan yang sulit pada Siwon.

“Apa pentingnya bagaimana perasaanku pada Yongri untuk sekarang, Yeoni-ya?” Siwon bertanya balik sembari mengalihkan pandangannya.

“Saat itu seharusnya kau mendengarkan penjelasan Yongri.” Gumam Yeon. Merasa sedikit kesal mengingat kebodohan yang dilakukan Siwon.

“Hanya Tuhan yang tahu bagaimana menyesalnya aku saat ini.” Bisik Siwon menanggapi.

Yeon kembali menghela nafas panjang dan melipat kedua kakinya di depan dada. Jika Tuhan memang mengetahui semuanya, Yeon berharap jika Tuhan juga mengetahui betapa inginnya ia bertemu dengan Yongri saat ini.

——

–London, Inggris–

“Jadi, di Korea kau sudah memiliki pekerjaan tetap? Lalu, kenapa kau memutuskan untuk menetap disini? Aku pikir kau hanya akan berada disini selama beberapa hari saja.” Ujar Dennis.

“Apa karena aku?” Lanjut Dennis dengan senyum menggoda.

Yongri tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Dennis yang begitu kekanakkan. Ia menikmati setiap waktu yang dihabiskannya bersama pria itu. Dennis benar-benar cocok untuk dijadikan seorang teman yang baik.

Oh my God! You’re so beautiful.” Puji Dennis saat melihat Yongri tertawa.

Yongri tersenyum kecil mendengar pujian Dennis. Walaupun ia tidak memiliki perasaan apapun pada Dennis, tetapi mendapatkan pujian dari pria tampan tetap membuatnya merasa malu.

“Ya. Sepertinya aku ingin menetap disini karena dirimu, Mr. Conner. Bagaimana ini?” Ujar Yongri membalas menggoda Dennis.

“Hei, kau tidak bisa berbicara seperti itu! Aku bisa benar-benar jatuh cinta padamu jika kau melakukannya.” Protes Dennis membuat Yongri kembali tertawa.

“Dasar pria.” Ejek Yongri sembari menyesap minumannya. Mereka saat ini berada di sebuah kafe terkenal di London.

“Lalu, dimana kau akan bekerja disini? Perusahaan ayahmu? Atau di tempat lain?” Tanya Dennis.

“Tempat lain.” Jawab Yongri.

“Bekerja di perusahaan ayahmu pasti tidak menjadi tantangan untukmu.” Tebak Dennis. Yongri hanya tersenyum kecil untuk menanggapinya.

“Bagaimana jika di perusahaan ayahku?” Dennis menawarkan. Yongri menggelengkan kepalanya.

“Perusahaan ayahku atau ayahmu sama saja. Aku ingin bekerja di tempat tidak ada satupun yang mengenalku.”

“Kenapa? Bukankah akan lebih mudah jika kau mengenal satu atau dua orang?” Komentar Dennis.

“Aku sudah pernah mengalaminya. Dan hasilnya..tidak baik.” Ucap Yongri dengan tersenyum tipis.

Dennis menganggukkan kepalanya seolah mengerti. Yongri merasa lega karena Dennis tidak pernah memaksanya untuk membicarakan masalahnya. Pria itu seolah membebaskannya dalam berbicara. Dennis akan menanggapi jika Yongri berbicara, namun ketika ia memutuskan untuk menutup mulutnya, maka Dennis akan melakukan hal yang sama.

“Apakah kita bisa berbicara tentang sesuatu yang serius sekarang?” Tanya Dennis dengan hati-hati. Yongri menatap Dennis yang sedang menatapnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Yongri bertanya balik.

“Kau tahu apa tujuan awal aku ingin berkenalan denganmu, kan? Orangtua kita juga nampaknya setuju jika kita menjalin sebuah hubungan yang serius. So, what do you think about it?”

Tidak ada kesan memaksa dalam ucapan Dennis. Pria itu bahkan terlihat ragu saat ingin mengucapkannya. Seolah takut jika Yongri akan marah setelah mendengar ucapannya.

Yongri menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbicara.

“Dennis, honestly, I didn’t think about it. I mean, you’re a good man. If to be friend, it’s okay. But, if what you mean is dating..” Yongri menggelengkan kepalanya.

Ia dapat melihat jika Dennis berusaha menutupi kekecewaannya dengan tersenyum kecil. Namun Yongri merasa bahwa ini adalah yang terbaik. Ia tidak bisa memberikan harapan kepada Dennis, di saat hatinya berada pada pria yang tidak menginginkannya.

Yeah, it’s okay. I understand what you say. We can stay friend and chat like this.” Balas Dennis masih dengan tersenyum.

Yongri ikut tersenyum dan bernafas lega. Ia tidak menyesal telah berkenalan dengan pria seperti Dennis. Pria yang menghargai setiap pendapat yang diberikan oleh lawan bicaranya.

Saat hendak kembali menikmati minumannya, tiba-tiba Yongri merasa mual. Ia menutup mulutnya menggunakan tangannya saat merasakan ada sesuatu yang ingin dimuntahkannya.

Hey, are you okay?” Dennis terlihat khawatir.

Tanpa mengatakan apa-apa pada Dennis, Yongri segera beranjak untuk ke kamar mandi. Ia berlari kecil karena takut memuntahkan isi perutnya di tengah-tengah kafe ini.

Setelah sampai di kamar mandi–yang untungnya tidak ada siapapun–Yongri menghampiri wastafel dan segera memuntahkan apapun yang membuatnya merasa mual. Namun sayangnya tidak ada yang keluar selain cairan putih dalam jumlah yang sedikit.

Dan sialnya, rasa mualnya tidak hilang karena itu. Sesuatu seolah mengaduk-aduk perutnya hingga terasa sakit dan mual di saat yang bersamaan. Yongri menghidupkan keran air dan membasuh mulutnya. Ia menatap pantulan dirinya dari cermin di atas wastafel.

Wajahnya saat ini terlihat sangat pucat. Yongri kemudian menatap perutnya sembari mengusapnya dengan perlahan. Kenapa ia memikirkan sesuatu yang tidak mungkin? Sesuatu yang membuatnya mual. Tetapi kenapa hanya itu satu-satunya yang terpikirkan olehnya saat ini?

Yongri menyugar rambutnya sembari memikirkan kapan terakhir kali ia mendapatkan tamu bulanannya. Kenapa terasa seperti sudah lama sekali? Yongri merasa jantungnya berdebar dengan kencang saat ini.

Yongri menghela nafas panjang sebelum akhir meninggalkan kamar mandi. Ia terlonjak saat melihat Dennis berdiri di depan pintu. Wajah pria itu terlihat sangat khawatir.

Are you okay?” Tanya Dennis sembari memegang lengan Yongri.

Y–yeah, I’m okay.” Jawab Yongri dengan tersenyum kecil.

I wanna go home, Dennis.” Ucap Yongri kemudian.

Okay, I will take you. We go home now.” Kata Dennis sembari membiarkan Yongri berjalan lebih dulu.

Baru beberapa langkah, Yongri berhenti berjalan dan berbalik. Membuat sebelah alis Dennis terangkat.

I need to go to the pharmacy.

For what?

“Umm, buy some medicine.” Yongri terlihat tidak yakin.

Okay, no problem.” Ujar Dennis dengan tersenyum.

Yongri kembali tersenyum sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya sembari menghembuskan nafas dengan panjang.

——

Yongri kembali menatap dirinya dari pantulan cermin. Hanya saja saat ini cermin di dalam kamar mandi yang berada di kamarnya. Ia sudah sampai di rumah setelah Dennis mengantarnya.

Yongri menundukkan kepalanya dan melihat sebuah alat tes kehamilan yang sedang digenggamnya. Tangannya terasa gemetar saat ini. Tetapi Yongri mencoba untuk menyembunyikannya dengan menggenggam alat tes kehamilan dengan erat.

Seharusnya Yongri bisa menganggap jika dirinya sedang masuk angin. Tetapi entah kenapa ia tidak bisa berpikiran seperti itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah ia sedang mengandung. Mengandung bayi Siwon.

Yongri segera membuka kemasan alat tes kehamilan tersebut. Ia telah membaca petunjuknya dan segera memakainya. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi atau ia akan gila dengan berbagai pemikirkan diotaknya.

Setelah menggunakan alat tes kehamilan tersebut, Yongri menunggu dengan duduk di atas meja wastafel. Ia sedang memikirkan apa yang akan dilakukannya jika ia memang hamil. Haruskah ia memberitahu Siwon? Apakah Siwon akan peduli?

Yongri menggelengkan kepalanya. Mengingat bagaimana sikap Siwon padanya terakhir kali, Siwon mungkin tidak akan peduli. Apakah Siwon akan berpikir jika anak itu bukan anaknya? Yongri kembali menggeleng. Siwon tahu jika ia tidak pernah tidur dengan pria lain, selain Siwon.

Yongri melirik alat tes kehamilan yang berada didekatnya. Matanya tampak melebar saat melihat dua buah garis yang tercetak di sana. Alat itu menandakan bahwa ia benar-benar hamil. Ada seorang bayi di dalam rahimnya saat ini.

Jantung Yongri berdetak dengan kencang. Perasaannya campur aduk saat ini. Ia merasa takut dan khawatir. Namun terselip sebuah perasaan bahagia. Kenapa? Apa karena ia mengandung anak Siwon?

Yongri mengusap airmata yang tanpa sadar mengalir diwajahnya. Ia segera berdiri dan meninggalkan kamar mandi. Yongri mengambil koper dibawah tempat tidurnya. Ia segera membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.

Yongri menatap sekeliling dan mengambil barang apapun yang bisa dibawanya dan memasukkannya ke dalam koper. Tidak lupa ia mengambil paspor serta barang pribadi lainnya. Yang saat ini bisa dipikirkan oleh Yongri adalah ia harus pulang ke Korea. Orangtuanya tidak boleh tahu jika ia sedang hamil.

Setelah merasa cukup, Yongri segera menarik kopernya dan meninggalkan kamarnya yang telah hampir dua minggu ini ditinggalinya. Sejujurnya ia mulai merasa nyaman dengan London. Tetapi ia harus pulang.

“Kau mau kemana, Yongri-ya?” Tanya Hyesoo yang tampak bingung saat melihat Yongri membawa koper.

“Eomma, aku harus kembali ke Korea.” Jawab Yongri.

“Apa?! Kenapa? Yah, bukankah kau bilang akan menetap disini?” Hyesoo benar-benar terkejut. Ia segera menghampiri Yongri.

“Y–ya, awalnya aku memang ingin menetap. Tetapi aku tidak bisa.”

“Apa yag terjadi? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Kau harus menunggu ayahmu pulang terlebih dahulu.” Ucap Hyesoo dengan panik.

“Aku akan menghubungi appa nanti.” Kilah Yongri sembari berjalan melewati Hyesoo. Namun Hyesoo menahannya.

“Apakah hubunganmu dan Dennis tidak berjalan lancar? Kau benar-benar membuatku bingung, Yongri-ya. Kenapa tiba-tiba memutuskan untuk pulang?” Tanya Hyesoo.

“Ini tidak ada hubungannya dengan Dennis, eomma. Dennis adalah pria yang baik. Ini semua tentang..aku. Karena diriku.” Jawab Yongri.

“Maafkan aku, eomma. A–aku hanya tidak bisa berada di sini lebih lama lagi. Aku merindukan Seoul.” Ucap Yongri dengan wajah menyesal. Hyesoo hanya diam saja sembari menatapnya dengan kecewa.

“Aku akan menghubungimu setelah sampai di Seoul.” Janji Yongri dan kembali melanjutkan langkahnya.

“Apa karena kami?” Tanya Hyesoo dan membuat Yongri menghentikan langkahnya untuk kesekian kali.

“Apa kau kecewa karena aku dan ayahmu tidak bersikap seperti layaknya orangtua pada umumnya?” Tebak Hyesoo.

Yongri menatap Hyesoo untuk beberapa saat. Kemudian ia tersenyum kecil.

“Ini bukan pertama kalinya kalian bersikap seperti ini padaku. Aku sudah terlalu terbiasa dengan keacuhan kalian padaku.” Balas Yongri.

“Tetapi, eomma, ini bukan karena kalian.” Lanjut Yongri masih dengan tersenyum.

“Sampai jumpa, eomma.” Pamit Yongri dan kemudian melanjutkan langkahnya dan benar-benar meninggalkan rumah orangtuanya.

——

–Seoul, Korea Selatan–

Yongri menatap gedung apartement yang telah ditinggalkannya lebih dari seminggu lamanya. Saat berada di London, ia mencoba untuk menepis jika ia merindukan Seoul. Namun setelah kembali, kerinduan itu benar-benar nyata dan dirasakannya.

Setelah menempuh perjalanan belasan jam, Yongri merasa benar-benar lelah. Dan kelelahannya ini juga didukung oleh kondisinya yang sedang dalam keadaan hamil. Namun Yongri merasa sangat lega karena telah kembali ke Seoul.

Walaupun merasa lega, Yongri telah memutuskan jika kepulangannya ini tidak perlu diketahui oleh Siwon dan juga Yeon. Yongri bahkan tidak tahu apakah kedua orang itu mengetahui kepergiannya selama ini. Yongri hanya berharap, ia tidak bertemu dengan keduanya.

Jika mereka mengetahui kepergian Yongri, mereka mungkin akan menganggapnya sebagai seorang pengecut. Dan jika mereka mengetahui bahwa ia telah kembali, mereka mungkin akan berpikir jika ia akan kembali mengacaukan kehidupan mereka.

Dan sejujurnya Yongri tidak memiliki niat untuk itu. Ia hanya ingin membesarkan anaknya disini. Tanpa ada yang mengetahuinya. Baik orangtuanya, Siwon, maupun Yeon. Namun jika terpaksa, ia mungkin akan memberitahu mereka.

Yongri menghela nafas panjang sebelum akhirnya memasuki gedung apartement dan menuju lift. Setelah sampai di apartementnya, ia harus membersihkan apartementnya yang pasti dalam keadaan berdebu. Setelah itu ia akan mulai mencari pekerjaan.

Membesarkan seorang anak tentu saja membutuhkan banyak uang. Walaupun orangtuanya akan terus mengiriminya uang, namun Yongri ingin memberi makan anaknya menggunakan uang hasil kerja kerasnya sendiri.

“Aku harus ke dokter.” Gumam Yongri saat tersadar.

Ia perlu memastikan jika dirinya benar-benar hamil. Walaupun alat tes kehamilan itu akurat, tetap saja kemungkinan keliru itu ada. Jika ternyata dirinya tidak hamil, Yongri tidak tahu perasaan apa yang akan dirasakannya. Karena saat ini ia merasa sangat bahagia karena sedang mengandung.

“Kau benar-benar ada, kan?” Tanya Yongri sembari mengusap perutnya.

Benar. Yongri bisa merasakannya. Ia bisa merasakan jika ada sebuah nyawa di dalam perutnya. Alat tes kehamilan itu tidak akan keliru. Ia benar-benar sedang hamil saat ini.

Lift berbunyi dan pintu lift terbuka beberapa saat kemudian. Ia telah sampai di lantai delapan, dimana apartementnya berada. Yongri terkejut saat melihat seorang petugas keamanan yang hendak masuk lift.

“Oh, nona Yongri.” Sapa petugas tersebut.

“Selamat pagi, ahjussi.” Balas Yongri dengan senyum kaku.

“Selamat pagi, nona. Ah, apakah Anda baru saja pulang dari berpergian?” Tebak petugas keamanan tersebut saat melihat koper Yongri.

Yongri melirik kopernya.

“Y–ya. Begitulah.” Gumam Yongri.

Saat itu ia menyadari jika petugas keamanan pun tidak mengetahui kepergian. Dapat dipastikan jika benar-benar tidak ada satupun yang menyadari bahwa ia sebenarnya meninggalkan Seoul.

“Anda pasti lelah. Silahkan beristirahat, nona.” Ucap petugas keamanan dengan sopan sembari mempersilahkan Yongri untuk keluar dari lift.

“Terima kasih.” Balas Yongri dengan menundukkan kepalanya dan segera meninggalkan lift.

Yongri berjalan di koridor sembari menatap ke belakang. Memastikan bahwa tidak ada siapapun lagi yang melihat kedatangannya. Bertemu dengan petugas keamanan sebenarnya tidak terlalu baik untuknya. Bagaimana jika pria itu mengatakan pada Siwon saat mereka bertemu?

Yongri menggelengkan kepalanya. Ia harus benar-benar melupakan Siwon setelah ini. Ia tidak boleh memikirkan pria yang tidak pernah mencintainya sama sekali.

Ketika sampai di depan apartementnya, Yongri segera memasukkan password apartementnya dan membuka pintu. Mengganti sepatunya menggunakan sandal rumah dan kemudian menarik kopernya untuk menuju ke kamarnya.

Namun saat memasuki apartementnya lebih dalam, Yongri merasa bingung karena apartementnya dalam keadaan bersih. Tidak ada debu yang menempel pada perabotannya. Juga lantai apartementnya yang dalam keadaan mengkilap. Seperti ada yang membersihkannya.

Benarkah? Siapa?

Saat kepala cantiknya sedang memikirkan ‘pelaku’ pembersih apartementnya, ia dikejutkan dengan bunyi pintu kamarnya yang dibuka dari dalam. Matanya langsung menatap ke sana untuk melihat siapa yang akan keluar dari kamarnya.

Dan Yongri tidak dapat menutupi keterkejutannya saat melihat Siwon–yang sepertinya baru bangun tidur–keluar dari kamarnya. Matanya melebar dengan jantung yang berdetak di luar batas normal.

Ketika melihat bahwa tubuh Siwon menegang serta mata pria itu yang melebar ketika balas menatapnya, Yongri menyadari jika Siwon pun sama terkejutnya seperti dirinya.

——

–To Be Continued–

HAI! Sorry karena telat ngepost T.T lagi sibuk + gak ada ide, huhuhu.. semoga yang udah nunggu puas sama part ini^^

Happy reading~

BYE~

Advertisements

101 thoughts on “Heartbeat – Part 11

  1. omoooo ga nyangka banget yongri hamil seriusan dah ga kepikiran dikira ga hamil walapun ngelakuin itu
    semogaaa bisa menjadi kabar baik buat mereka ber dua ya dan bisa balikan lagi secepatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s