Happy Ending (Sequel–Love, Hurt, and Revenge)

Author

Choineke

Title

Happy Ending (Sequel–Love, Hurt, and Revenge)

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC)

Genre

Romance, Marriage–Life

Length

Oneshoot

Rating

PG-17

——

–This is the real Happy Ending–

——

Author POV

“Yeoni-ya, tolong aku!”

Yeon langsung mematikan kompor dan berlari menghampiri Kyuhyun. Teriakan pria itu membuat jantungnya seperti akan berhenti berdetak. Ia takut terjadi sesuatu pada Hyunjae karena pria itu sedang menjaga putra mereka.

“Ada apa?!” Tanya Yeon dengan nafas tersengal.

“Dia buang air besar!” Jawab Kyuhyun sembari menatap Hyunjae yang sedang menangis.

Yeon terpaku di ambang pintu. Kyuhyun memanggilnya dengan begitu dramatis hingga membuatnya menunda kegiatan memasaknya, hanya karena Hyunjae membuang air besar. Apa Kyuhyun bercanda dengannya?

“Kyuhyun?” Panggil Yeon.

“Kenapa?” Kyuhyun menatap Yeon dengan wajah frustasi.

“Kau serius memanggilku seperti itu hanya karena Hyunjae buang air besar?” Tanya Yeon sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Yah, ini masalah besar untukku! Aku tidak bisa membersihkannya!” Hardik Kyuhyun.

Yeon mengusap rambutnya yang sedang dikuncir hingga menjadi berantakan. Ia menghembuskan nafas dan mendekati keberadaan dua laki-laki yang begitu dicintainya di dunia ini, setelah ayahnya yang telah tiada.

“Bukankah kau bilang ingin menjadi ayah yang baik?”

Kyuhyun mengangguk.

“Bagaimana bisa kau menjadi ayah yang baik jika kau bahkan tidak mau membersihkan kotoran anakmu sendiri?” Sindir Yeon.

“Aku tidak bisa bukan tidak mau.” Ralat Kyuhyun.

“Kau tidak mau, Kyuhyun. Kau merasa jijik, aku tahu itu.” Tukas Yeon.

Kyuhyun melangkah mundur dan tidak berniat untuk membela dirinya lagi. Apa yang dikatakan Yeon memang benar. Ia merasa jijik karena kotoran Hyunjae cukup bau.

Yeon mendengus dan mulai membersihkan kotoran putranya itu. Ia melirik dari sudut matanya jika Kyuhyun menutup hidungnya. Kyuhyun bersikap berlebihan hanya karena kotoran seorang bayi.

“Ambilkan popoknya.” Ucap Yeon tanpa menatap Kyuhyun.

Kyuhyun dengan cepat melesat ke lemari pakaian Hyunjae dan mengambil popok seperti yang diinginkan Yeon. Kemudian memberikannya pada wanita itu.

“Kau harus membiasakan diri melakukan ini, Kyuhyun. Bagaimana jika aku tidak ada?” Tanya Yeon.

“Ya! Apa maksudmu dengan kau tidak ada? Kau tidak akan kemana-mana!” Protes Kyuhyun. Yeon melirik kesal padanya.

“Bagaimana jika aku ingin pergi berbelanja atau lainnya? Kau tahu jika aku tidak bisa membawa Hyunjae!” Sungut Yeon.

Kyuhyun menyeringai. Ternyata maksud Yeon dengan ‘pergi’ adalah pergi berbelanja. Pikirannya sudah membayangkan sesuatu yang mengerikan.

“Bagaimana jika kita memperkerjakan babysitter?” Saran Kyuhyun.

Yeon berbalik dan menatap Kyuhyun dengan tajam. Kyuhyun terkesiap saat melihat tatapan tajam wanita itu.

“Sudah berapa kali aku katakan jika aku tidak ingin orang lain yang merawat anakku?! Jika kau tidak mau melakukannya, aku bisa melakukannya seorang diri!” Hardik Yeon.

Yeon menggendong Hyunjae dan membawanya keluar dari kamar. Menghentakkan kakinya agar Kyuhyun menyadari jika ia merasa kesal terhadap pria itu.

“Astaga, sayang. Aku hanya bercanda.” Kyuhyun menyusul Yeon dan mengambil Hyunjae dari gendongan istrinya itu.

Membiarkan Hyunjae bersandar pada bahunya dan ia menepuk-nepuk pelan punggung putranya itu. Beruntung karena tangisan Hyunjae telah mereda dan bayi itu sudah kembali wangi.

“Kau terlihat cantik saat sedang marah.” Goda Kyuhyun.

Yeon merasa kesal, namun ia tidak bisa menahan wajahnya yang memanas saat mendapatkan godaan dari Kyuhyun.

“Jaga dia. Aku harus memasak makan malam.” Gumam Yeon.

Kyuhyun tersenyum dan mengikuti Yeon yang berjalan ke dapur. Ia menduduki salah satu kursi makan dengan Hyunjae yang masih berada digendongannya.

“Apakah pembantu rumah tangga juga tak diperbolehkan? Aku tidak ingin kau susah, Yeoni-ya.”

“Apanya yang susah dengan membuat makan malam untuk suamiku sendiri?” Tanya Yeon tanpa menatap Kyuhyun.

“Aku senang saat kau menyebutku sebagai suamimu.”

Yeon menoleh dan mentap Kyuhyun dengan alis yang terangkat sebelah.

“Kau aneh, Kyuhyun. Kau suamiku, sudah sewajarnya jika aku menyebutmu seperti itu, kan?”

Kyuhyun tersenyum dan menepuk pelan punggung Hyunjae. Ia kembali menatap Yeon yang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Sesekali Kyuhyun mengusapkan wajahnya pada pipi gempal Hyunjae, hingga memuat putranya itu tertawa senang.

“Besok aku akan menemui Luke dan membawa Hyunjae bersamaku.” Kata Yeon.

“Apa Eunsoo tidak ikut?” Tanya Kyuhyun.

“Luke ingin melamar Eunsoo dan dia meminta saran dariku.” Jawab Yeon membuat Kyuhyun mendengus.

“Saran apa yang bisa kau berikan padanya? Seharusnya dia meminta saranku.” Ucap Kyuhyun dengan sombong.

Yongri kembali berbalik untuk menatapnya.

“Apakah kau akan memberikannya saran jika dia memintanya?” Sindir Yeon.

Kyuhyun berdeham pelan dan mengalihkan pandangannya. Ia mungkin tidak akan memberikannya. Tetapi mungkin saja ia akan memberikannya. Tergantung bagaimana cara Luke memintanya.

“Sebenarnya kenapa kau dan Luke tidak bisa akur?” Tanya Yongri bingung.

“Sebentar lagi dia akan menjadi sepupu iparmu.” Lanjut Yongri.

“Tanyakan itu padanya. Kenapa dia selalu menatapku dengan pandangan permusuhan padahal dia mengencani sepupuku.” Gerutu Kyuhyun.

“Kalian sama saja.” Tukas Yeon.

“Lihat! Hyunjae mengerutkan hidungnya. Sepertinya dia tidak setuju dengan ucapanmu. Benar, sayang. Appamu ini tidak bersalah.” Kata Kyuhyun sembari mencium pipi Hyunjae.

Yeon tersenyum kecil dengan tangannya yang bergerak gesit mempersiapkan makan malam. Ia menyukai kesehariannya sebagai seorang istri dan ibu. Yeon benar-benar menyukai kehidupannya sekarang. Dimana Kyuhyun dan Hyunjae berada disisinya.

Yeon tidak membutuhkan apapun lagi saat ini. Jika kedua laki-laki itu berada di dekatnya, maka kehidupan Yeon terasa sempurna. Walaupun akan lebih sempurna jika ayah dan ibunya berada di tengah-tengah mereka.

“Yeoni-ya, setelah aku memperhatikan wajah Hyunjae, ternyata bibirnya sangat mirip dengan bibirmu.” Kata Kyuhyun.

“Memangnya bibirku seperti apa?” Tanya Yeon tanpa menatap Kyuhyun.

“Kecil, merah alami, dan mengundang untuk dicium.” Jawab Kyuhyun.

“YA!” Bentak Yeon membuat Kyuhyun tertawa namun membuat Hyunjae menangis karena terkejut.

——

Yeon melambaikan tangannya saat melihat kedatangan Luke. Kemudian ia mengajak Hyunjae–yang berada di dalam stroller–berbicara.

Uncle Luke sudah datang, sayang.” Ucap Yeon dan Hyunjae hanya bergerak-gerak aktif di dalam sana.

“Maaf aku sedikit terlambat, baby.” Sesal Luke setelah mengambil tempat duduk di depan Yeon.

Luke terlihat berkeringat dan pria itu masih memakai jas dokternya. Sepertinya Luke sangat sibuk hingga datang terlambat di janji pertemuannya dengan Yeon.

“Kau masih memakai jasmu.” Kata Yeon membuat Luke tersadar dan segera melepasnya.

“Ada kecelakaan dan beberapa orang harus di operasi secara mendadak. Aku lelah sekali.” Keluh Luke sembari mengusap keringat di dahinya.

“Ini. Aku sudah memesan minuman untukmu.” Kata Yeon sembari menyodorkan segelas minuman dingin untuk Luke.

“Kau memang yang terbaik, baby.” Puji Luke dengan mengedipkan sebelah matanya.

Saat sedang minum, Luke tersadar jika Hyunjae berada di sana. Ia menaruh gelasnya di atas meja dan menghampiri Hyunjae yang berada di stroller.

“Astaga, aku melupakan keberadaan keponakanku.” Ujar Luke sembari menggendong Hyunjae.

“Hai, boy. Uncle Luke is here.” Luke mengangkat Hyunjae dengan tinggi hingga membuat bayi itu tertawa.

“Jadi, kau ingin melamar Eunsoo?” Tanya Yeon.

“Ya.” Jawab Luke terdengar acuh. Ia sibuk bermain dengan Hyunjae.

“Lamaran seperti apa yang ada dibayanganmu?”

“Entahlah. Karena itu aku mengajakmu bertemu.”

Luke lagi-lagi menjawab pertanyaan Yeon dengan acuh hingga membuat Yeon merasa geram. Pria itu ingin melamar seorang wanita karena mencintainya, tetapi sikapnya seperti ia dipaksa untuk menikah dengan wanita tersebut.

“Ya! Kau benar-benar ingin menikah atau tidak?!” Geram Yeon.

Luke menghentikan permainannya dengan Hyunjae dan menatap Yeon yang menatapnya dengan garang. Ia berdeham pelan dan menyandarkan Hyunjae di bahunya.

“Ya. Aku ingin menikah dengan Eunsoo.” Kata Luke.

“Tetapi apakah kau pikir dia ingin menikah denganku? Bagaimana jika dia menolak lamaranku?” Luke terlihat pesimis.

“Dia sangat mencintaimu, bodoh. Bahkan dia yang lebih dulu menyukaimu daripada kau menyukainya.”

“Astaga, baby. Kau tidak boleh berkata seperti itu dihadapan anakmu.” Omel Luke.

Yeon tersadar dan menepuk bibirnya dengan pelan.

“Jadi, apa yang kau siapkan untuk Eunsoo?” Tanya Yeon sembari menyesap minuman di atas meja.

“Cincin.” Jawab Luke langsung.

Yeon menghela nafas panjang.

“Bukan itu maksudku, Luke. Lamaran seperti apa yang kau siapkan untuknya?”

“Bagaimana jika makan malam romantis terlebih dahulu, setelah itu aku langsung melamarnya?”

“Terlalu biasa.” Komentar Yeon.

Giliran Luke yang menghela nafas. Ia menatap Hyunjae yang sedang menghisap jempolnya dengan begitu semangat. Seolah jempolnya itu adalah makanan.

“Apa kau sudah menemui orangtua Eunsoo?” Tanya Yeon.

“Sudah. Dan mereka mengizinkanku untuk menikahi Eunsoo, selama Eunsoo menerimanya.” Jawab Luke.

“Berarti kau hanya memerlukan cara yang tepat untuk melamarnya.” Tukas Yeon dan disambut anggukkan kepala oleh Luke.

“Sebenarnya aku sudah memikirkan sebuah cara yang tidak biasa.” Kata Luke.

Yeon memicingkan matanya dan menatap Luke dengan curiga.

“Cara seperti apa?” Tanya Yeon. Luke tidak menjawab dan hanya menatap Yeon dengan menyeringai.

——

Eunsoo merentangkan tangannya ke atas dan merenggangkan otot-otot badannya yang terasa melelahkan. Ia berbalik untuk menyambut cahaya matahari yang menyegarkan. Membuat sebuah senyum terbentuk di wajahnya.

Eunsoo mengingat apa yang terjadi semalam. Semalam Luke memperlakukannya dengan sangat lembut. Well, mereka memang sudah sering tidur bersama di apartement Eunsoo. Tetapi perlakuan Luke padanya semalam, benar-benar tidak bisa dilupakannya.

Luke memperlakukannya seolah-olah ia adalah sebuah berlian. Pria itu memujanya dan begitu mendambanya. Luke memang selalu bersikap lembut padanya. Tetapi jika di atas ranjang, pria itu selalu berubah menjadi liar. Walaupun Eunsoo menyukainya.

Senyum diwajah Eunsoo semakin lebar ketika ia menyadari bahwa ia sangat mencintai Luke.

Will you marry me?

Eunsoo membuka matanya dan terkesiap saat melihat Luke berlutut di samping tempat tidur. Di tangannya ia memegang sebuah kotak berisi cincin berlian yang menyilaukan saat terkena cahaya matahari.

Dan Luke saat ini hanya memakai celana jeans tanpa pakaian apapun di atasnya. Eunsoo mendengar apa yang Luke tanyakan padanya. Tetapi wanita itu tidak terlalu yakin dengan pendengarnya saat baru bangun tidur.

“Luke..”

Yeah, honey?

Melihat senyum diwajah Luke membuat Eunsoo tidak bisa memikirkan apapun. Ia benar-benar tidak tahu sejak kapan Luke begitu mempengaruhi hidupnya.

“Aku baru bangun tidur dan kesadaranku belum benar-benar terkumpul. Apa yang kau katakan tadi?” Tanya Eunsoo.

Luke masih terus menunjukkan senyum diwajahnya. Pria itu mencondongkan badannya dan menarik Eunsoo untuk duduk. Membuat Eunsoo harus menahan selimut yang menutupi dada telanjangnya.

Well, kau tidak perlu menahannya karena aku sudah sering melihatnya.” Ucap Luke membuat Eunsoo melotot padanya.

Luke tertawa sebelum akhirnya menunjukkan wajah seriusnya pada Eunsoo.

“Jadi, aku ingin kau menikah denganku.” Kata Luke.

“Luke, seriously?” Eunsoo menatap Luke dengan tidak percaya.

“Kau melamarku di saat aku telanjang dan kau setengah telanjang seperti ini? Dan bukankah seharusnya kau bertanya padaku ‘maukah kau menikah denganku’? Kalimatmu tadi seperti kau memaksaku.” Ucap Eunsoo masih dengan wajah tidak percaya.

Wanita itu mencoba menutupi rasa gugupnya. Jantungnya saat ini berdebar dengan begitu kencang karena Luke melamarnya. Ia pikir Luke tidak menginginkan sebuah pernikahan di dalam hidupnya. Dan Eunsoo selalu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak masalah dengan semua itu. Selama Luke berada di sisinya.

“Melihatmu telanjang membuatku bergairah dan gairah membuatku bersemangat untuk melamarmu. Dan ya, aku memang berniat memaksamu jika kau menolakku. Yang aku maksud dengan memaksa adalah aku akan menggendongmu ke depan altar Gereja untuk mengucapkan janji pernikahan.”

“Ya!” Eunsoo menatap Luke dengan kesal.

Luke menghela nafas dan duduk di tepi tempat tidur. Dengan sebelah tangannya yang bebas, ia menggenggam tangan kekasihnya itu.

“Baiklah, aku hanya bercanda tadi.” Pria itu menunjukkan wajah menyesal.

“Tapi aku tidak bercanda saat mengatakan jika aku ingin kau menikah denganku. Honey, sebelum bertemu denganmu, aku tidak pernah memikirkan tentang pernikahan.” Luke menatap tangan mereka yang saling bertautan.

“Aku bahkan tidak berpikir untuk memiliki seorang kekasih. Karena saat itu aku berpikir jika aku hanya akan menghabiskan sisa hidupku dengan meniduri semua wanita di dunia ini.”

“Tapi setelah bertemu denganmu, semuanya berbeda. Aku merasakan jantungku berdebar kencang setiap melihatmu. Jika tidak bertemu denganmu, aku merasa sangat merindukanmu. Aku merasa marah saat ada pria lain yang menatapmu.”

Eunsoo tidak bisa menahan senyum saat mendengar kalimat terakhir Luke.

“Dan sejak bersamamulah, aku berpikir untuk membangun sebuah keluarga. Aku ingin memiliki banyak anak darimu, honey.” Luke menatap Eunsoo yang wajahnya merona.

“Karena itu, maukah kau menikah denganku? Tidak. Menikahlah denganku, ya?” Ucap Luke membuat Eunsoo tertawa. Walaupun sudut matanya mengalirkan airmata.

“Kau benar-benar menyebalkan.” Gerutu Eunsoo.

“Beruntung karena aku sangat mencintaimu. Ya, aku mau menikah denganmu, Mr. Collins.” Tukas Eunsoo membuat Luke tersenyum lebar.

Luke mengambil cincin dari dalam kotak dan memasangkannya di jari manis Eunsoo. Ia mencium punggung Tangan Eunsoo sebelum akhirnya menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

“Aku mencintaimu, Mrs. Collins.” Bisik Luke.

“Haruskah aku menggunakan nama Eunsoo Collins setelah menikah nanti? Itu terdengar aneh.” Ucap Eunsoo. Luke melepaskan pelukannya dan menatap Eunsoo dengan masam.

“Apakah maksudmu namaku aneh?” Tanya Luke.

“Tidak bukan seperti itu. Namamu terdengar aneh saat bersanding dengan namaku.” Jawab Eunsoo.

“Tapi hanya namamu yang pantas bersanding dengan namaku.” Sahut Luke membuat Eunsoo kembali tersenyum.

“Aku tidak ingin membuang waktu. Bagaimana jika kita menikah satu bulan lagi?” Tanya Luke. Mata Eunsoo melebar saat mendengarnya.

“Yah, apa kau pikir menyiapkan pernikahan itu mudah?”

“Kita bisa meminta bantuan Yeon. Dia sudah tahu bahwa aku ingin menikahimu. Aku juga sudah membeli sebuah rumah untuk kita tinggali setelah menikah nanti. Kita bisa melakukan semua pemesanan di mulai dari sekarang.” Kata Luke.

“Aku tidak ingin membuat Yeon repot. Dia harus mengurus Hyunjae.”

“Aku pikir Yeon akan merasa sedih jika kau tidak melibatkannya.” Komentar Luke.

Eunsoo menyetujui ucapan Luke. Tetapi ia tidak mau membuat Yeon repot karena mengurusi pernikahannya. Namun Eunsoo juga tidak bisa jika tidak melibatkan Yeon di dalamnya.

“Percayalah jika Yeon tidak akan merasa repot. Ia akan membawa Hyunjae bersama kalian.” Kata Luke menenangkan.

“Apa kau juga akan meminta bantuan Kyuhyun oppa?” Tanya Eunsoo dengan menaik-naikkan alisnya. Bermaksud untuk menggoda Luke.

“Kenapa aku harus meminta bantuannya? Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Lagipula aku memiliki banyak teman.” Jawab Luke.

“Kyuhyun oppa akan menjadi saudara iparmu jika kau lupa.”

Shit, aku tidak akan pernah melupakan itu.”

Luke berdiri dan membuka celana jeansnya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Eunsoo.

“Aku mau mandi karena aku harus bekerja, honey. Kenapa? Apa kau mau memandikanku?”

“Well, kau masih memiliki tangan yang utuh untuk melakukannya.”

“Benar. Tetapi aku ingin mandi bersamamu.”

Luke menggendong Eunsoo dengan tiba-tiba hingga membuat wanita itu memekik karena terkejut.

——

“Eunsoo baru saja menghubungiku dan mengatakan jika dia akan menikah dengan Luke satu bulan lagi!” Ucap Yeon dengan semangat.

“Mereka yang akan menikah. Kenapa kau yang terlihat senang, sayang?” Komentar Kyuhyun tanpa menatap Yeon.

Yeon menghampiri Kyuhyun dan memukul punggung suaminya itu dengan keras. Membuat Kyuhyun mengaduh kesakitan dan menatap Yeon dengan kesal.

“Kenapa kau memukulku?!”

“Apa kau tidak senang Eunsoo akan menikah dengan Luke?!” Tuduh Yeon.

“Tentu saja aku senang!”

“Lalu kenapa kau bersikap acuh seperti itu?”

“Apa yang harus aku lakukan?! Haruskah aku menari-nari untuk merayakannya?” Tanya Kyuhyun sembari berdiri dan menggerak-gerakkan badannya dihadapan Yeon.

Yeon menahan senyum diwajahnya.

“Kau terlihat seperti orang bodoh.” Ejek Yeon.

“Aku tahu.” Sahut Kyuhyun yang juga menahan senyum diwajahnya.

Namun beberapa saat kemudian keduanya tertawa bersama. Kyuhyun menghampiri Yeon dan memeluknya dengan erat.

“Hanya denganmu aku bisa terlihat bodoh seperti itu.” Gumam Kyuhyun.

“Itu lebih baik. Jika wanita lain melihatmu seperti tadi, mereka mungkin akan jatuh cinta padamu.” Ucap Yeon.

“Apa kau cemburu jika wanita lain jatuh cinta padaku?” Tanya Kyuhyun sembari melepaskan pelukannya.

Yeon tersenyum manis sembari menggelengkan kepalanya.

“Aku hanya kasihan pada mereka. Karena mereka menyukai pria yang telah memiliki anak.” Jawab Yeon membuat Kyuhyun mencibir.

Yeon tertawa pelan.

“Aku akan membantu Eunsoo mengurus kebutuhan pernikahannya.”

“Bagaimana dengan Hyunjae?”

“Aku akan membawanya bersamaku.”

“Kenapa kita tidak–“

“Tidak ada babysitter, Cho Kyuhyun!” Hardik Yeon sambil melotot.

“Ya! Apa kau begitu ingin memiliki satu babysitter di rumah ini? Haruskah kita memperkerjakannya untuk menjagamu?!” Ucap Yeon dengan kesal.

“Aku sudah memilikimu untuk menjagaku.” Sahut Kyuhyun. Tidak memperdulikan kekesalan Yeon.

“Kau benar-benar menyebalkan.” Gerutu Yeon dan berjalan meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun terkekeh dan berjalan mengikuti Yeon ke kamar Hyunjae.

“Hyunjae-ya, ibumu ini sering sekali memarahi appa akhir-akhir ini. Cepatlah dewasa untuk membela appa, nak.” Kata Kyuhyun sembari melewati Yeon dan menghampiri Hyunjae di atas tempat tidur.

Yeon mencibir dan merapikan pakaian Hyunjae. Wanita itu duduk di atas karpet yang penuh oleh pakaian serta popok Hyunjae.

“Aku tidak mendengar kabar tentang Jun beberapa hari ini.” Kata Kyuhyun sembari memainkan tangan Hyunjae yang menggenggam jari telunjuknya.

“Jun sedang sibuk dengan kegiatannya sebagai mahasiswa baru. Terima kasih karena sudah membiayai kuliah Jun, Kyuhyun.”

“Ck! Berapa kali kukatakan jangan berterima kasih? Uangku juga uangmu. Apa kau mengerti itu?” Omel Kyuhyun.

“Mana bisa uangmu menjadi uangku. Kau yang bekerja keras dan menghasilkannya.” Ucap Yeon.

“Aku bekerja keras karena memang itu kewajibanku sebagai kepala rumah tangga. Kau juga bekerja keras mengurus rumah dan Hyunjae. Pekerjaanmu lebih berat.”

Yeon menghentikan gerakannya dan menatap Kyuhyun yang juga sedang menatapnya.

“Apakah kau pernah menyesal karena menikah denganku, Kyuhyun?” Tanya Yeon.

“Apa yang kau bicarakan?! Aku tidak suka dengan pertanyaanmu!” Kyuhyun terlihat marah.

Pria itu segera berdiri dan meninggalkan kamar Hyunjae. Yeon menatap kepergian Kyuhyun sembari menghela nafas. Ia tidak bermaksud untuk membuat pria itu marah. Yeon tahu bahwa pertanyaannya itu tidak masuk akal.

Yeon berdiri dan menggendong Hyunjae. Kemudian keluar dari kamar putranya itu untuk mencari keberadaan Kyuhyun. Ia ingin meminta maaf karena telah membuat pria itu marah.

Yeon masuk ke dalam kamar mereka, namun tidak menemukan Kyuhyun di sana. Membuat Yeon akhirnya memutuskan untuk ke ruang kerja Kyuhyun. Dan ternyata pria itu berada di sana.

Kyuhyun berdiri membelakanginya sembari menatap pemandangan kota Seoul dari apartement mereka yang berada di lantai 10. Yeon menghampirinya dengan Hyunjae yang berada digendongannya.

“Maafkan aku.” Ucap Yeon sembari memiringkan kepalanya menatap Kyuhyun.

Kyuhyun berdeham pelan dan nampak tidak peduli dengan wajah menyesal Yeon.

“Maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Yeon memegang sebelah daun telinganya dengan tangannya yang bebas.

Kyuhyun meliriknya sebelum akhirnya benar-benar menatapnya. Wajah pria itu masih menunjukkan rasa kesal akibat pertanyaan Yeon tadi.

“Aku tidak suka dengan pertanyaanmu.”

“Aku tahu. Maafkan aku. Aku tidak akan menanyakannya lagi.” Janji Yeon.

“Aku tidak menyesal menikah denganmu. Tidak sedikit pun. Aku justru menyesal karena tidak lebih cepat bertemu dan menikah denganmu.” Kata Kyuhyun membuat Yeon tersenyum walaupun ingin menangis saat mendengarnya.

“Karena itu jangan mempertanyakan hal bodoh seperti itu lagi. Dan ingatlah jika Jun juga adikku. Dia tanggung jawabku sama seperti kau. Kalian adalah keluargaku.” Tegas Kyuhyun.

“Maafkan aku.” Bisik Yeon sembari beringsut untuk memeluk Kyuhyun.

Berusaha agar dirinya dan Kyuhyun tidak menekan Hyunjae yang berada di tengah-tengah mereka. Kyuhyun merangkul bahu Yeon dan mencium puncak kepala istrinya itu.

“Aku sangat mencintaimu, wanita bodoh.” Ucap Kyuhyun.

“Hmm. Aku juga mencintaimu, pria pemarah.” Balas Yeon membuat Kyuhyun tertawa.

——

Eunsoo dan Luke sedang makan siang bersama sembari membicarakan tentang pernikahan mereka. Membahas mengenai, gedung, makanan, gaun pengantin serta tamu undangan. Walaupun waktu persiapan tidak banyak, nyatanya mereka tidak terlihat tegang.

Bahkan keduanya terus bercanda hingga tertawa bersama. Mereka sudah sepakat jika pernikahan ini tidak akan membuat mereka stres. Mereka akan membuatnya dengan mudah dan tanpa menyusahkan orang-orang disekitar mereka.

“Kau bisa berjalan ke altar dengan celana jeans jika kau mau. Aku tidak membutuhkan gaun pengantinmu. Aku hanya membutuhkanmu berada di sana.” Kata Luke dengan tertawa. Eunsoo ikut tertawa sembari memukul lengan pria itu.

“Kau juga bisa datang dengan jas doktermu itu. Biar semua orang tahu jika aku menikah dengan seorang dokter.” Balas Eunsoo.

“Haruskah kita menyuruh tamu undangan datang dengan pakaian yang sesuai dengan pekerjaan mereka?” Saran Luke membuat keduanya kembali tertawa.

“Dasar gila. Apakah banyak keluargamu di London yang akan datang ke sini?” Tanya Eunsoo.

“Tentu saja. Mereka harus mengenal istriku.” Jawab Luke sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Apakah mereka tidak mempermasalahkannya karena kau menikah dengan wanita Asia?”

“Bahkan jika mereka mempermasalahkannya pun aku tidak peduli, honey. Karena dad dan mom sudah menerimamu dengan tangan terbuka.” Ucap Luke.

“Haruskah aku merasa terharu mendengarnya?” Ujar Eunsoo membuat Luke meliriknya dengan kesal.

“Luke Collins?”

Luke dan Eunsoo sama-sama menoleh saat mendengar sebuah suara di dekat mereka. Mereka menemukan seorang wanita cantik dengan tubuh yang seksi sedang berdiri beberapa jarak dari mereka.

“Ah, ternyata kau benar Luke Collins.” Kata wanita itu dengan senang.

Wanita itu mendekati Luke dan memberikan ciuman singkat di pipi Luke hingga meninggalkan bekas lisptik di sana. Mata Luke dan Eunsoo sama-sama melebar melihat apa yang dilakukan wanita itu.

“Senang sekali rasanya bertemu denganmu disini.” Ucap wanita itu.

“Apa kau tidak ingat aku?” Tanya wanita itu saat melihat wajah Luke yang tampak terkejut dan bingung.

“Aku Kim Hyena. Di Hotel Maxone saat itu kita bertiga, kau ingat?” Wanita bernama Hyena itu mengerlingkan matanya pada Luke.

Luke bersumpah jika dia tidak ingat wanita itu. Tetapi saat wanita itu menyebutkan kata hotel, Luke tahu jika wanita itu adalah salah satu wanita yang pernah ditidurinya.

Luke benar-benar merasa panik. Bukan karena ia masih tidur dengan banyak wanita saat ini, tetapi karena ia sedang bersama calon istrinya. Bertemu dengan salah satu partner ranjangnya dulu benar-benar bukan hal yang baik.

“Aku juga mengajak Jieun. Kau ingat Lee Jieun, kan? Kita bertiga saat itu menikmati malam yang menggairahkan di hotel itu.” Ucap Hyena.

“Jieun-ah!” Panggil Hyena sembari melambaikan tangannya.

“Lebih baik kita pergi.” Kata Luke pada Eunsoo yang menunjukkan wajah terkejut, bingung dan kesal.

“Kenapa kita harus pergi?!” Tukas Eunsoo.

Luke mengusap kepalanya saat melihat wanita bernama Jieun sedang menghampiri mereka saat ini. Wanita itu juga tampak senang saat melihat keberadaannya. Jieun menghampiri Luke dan hendak mencium pipinya, tetapi Luke dengan cepat menghindar.

Ia tidak mungkin membiarkan wanita itu mencium pipinya seperti yang dilakukan Hyena tadi. Apalagi di depan Eunsoo. Luke yakin sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.

Nice to meet you, handsome.” Walaupun merasa bingung karena Luke menolak ciumannya, Jieun tetap menyapa pria itu.

Luke segera berdiri dan menatap kedua wanita itu dengan canggung.

“Maaf, aku harus pergi. Ayo.” Ajak Luke sembari menggenggam tangan Eunsoo. Tetapi Eunsoo menepis tangannya.

“Kenapa kau harus cepat-cepat pergi, Collins? Kita bertiga bisa bersenang-senang seperti saat itu.” Ujar Hyena membuat Eunsoo tertawa sinis.

“Atau mungkin berempat.” Timpal Jieun sembari menatap Eunsoo.

“Maaf aku sudah tidak melakukan itu lagi. Maksudku, sebentar lagi aku akan menikah. Ini calon istriku.” Kata Luke sembari menunjuk Eunsoo.

“Menikah?” Jieun tertawa tidak percaya.

“Bukankah kau bilang jika kau tidak percaya pada wanita? Kau hanya ingin bersenang-senang dengan wanita. Kenapa tiba-tiba menikah, tampan?” Tanya Jieun.

“Saat itu–“

“Berapa kali kalian tidur dengannya?” Eunsoo menyela ucapan Luke. Ia menatap Hyena dan Jieun dengan tajam.

Hyena dan Jieun sempat terkejut saat mendapat pertanyaan dari Eunsoo. Namun kemudian mereka merasa senang saat mendapatkannya. Keduanya tampak memikirkan jawaban untuk pertanyaan dari Eunsoo.

“Berapa kali, Hyena-ya? Dua atau tiga?” Tanya Jieun dengan tertawa-tawa.

Luke menjambak rambut pendeknya dengan frustasi. Ia mengusap keringat yang menetes dipelipisnya.

Honey, please.” Luke memegang siku tangan Eunsoo.

“Berapa kali kau tidur dengannya, Luke?” Tanya Eunsoo pada Luke.

“Itu masa lalu. Kau tahu, bukan?” Ujar Luke.

“Aku tahu. Tetapi katakan padaku berapa kali kau tidur dengan mereka.” Pinta Eunsoo. Luke kembali mengusap kepalanya.

“Aku tidak ingat! Aku bahkan tidak mengingat mereka!” Luke merasa kesal.

“Saat itu kau bilang kami yang terbaik.” Sahut Hyena.

“Tutup mulutmu!” Bentak Luke marah.

“Aku akan pulang sendiri.” Kata Eunsoo sembari mengambil tasnya.

Honey, don’t!” Luke menahan Eunsoo.

“Aku ingin sendiri, Luke. Lepaskan aku.” Pinta Eunsoo dengan mata berkaca-kaca.

Tidak ingin membuat Eunsoo lebih marah, Luke melepaskan tangannya. Eunsoo segera berlari meninggalkan restoran. Mengabaikan makanan yang belum sempat dihabiskannya. Ia keluar dari restoran dan memberhentikan taksi. Tepat saat masuk ke dalam taksi, airmata Eunsoo mengalir.

——

Yeon baru saja selesai menyusui Hyunjae saat ada tamu yang datang. Bel apartementnya di tekan dengan tidak sabaran hingga membuat Yeon menghampiri pintu sembari mengancingkan kemejanya.

Yeon memeriksa intercom dan menemukan Eunsoo dengan wajah murungnya. Tanpa membuang waktu, wanita itu langsung membuka pintu.

“Hai–” kalimat sapaan Yeon terputus saat Eunsoo tiba-tiba saja masuk ke dalam apartementnya tanpa permisi.

Yeon menatap punggung Eunsoo dengan bingung. Ia menutup pintu sebelum akhirnya menyusul sepupu iparnya itu yang telah duduk di sofa.

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Yeon. Eunsoo hanya diam saja sembari melipat kedua tangan di depan dada.

Yeon duduk di samping Eunsoo sembari memperhatikan wajah wanita itu.

“Apa kau habis menangis?” Tanya Yeon hati-hati.

“Bajingan.” Umpat Eunsoo membuat mata Yeon melebar.

Kenapa tiba-tiba Eunsoo mengumpat?

“Permisi.” Ucap Yeon sembari mengetuk meja beberapa kali. Membuat Eunsoo menatapnya.

“Bisakah kau katakan padaku kenapa kau datang ke sini dengan wajah cemberut dan mengumpat?” Pinta Yeon.

“Luke bajingan!” Umpat Eunsoo lagi.

Yeon menjadi mengerti jika Eunsoo sedang bertengkar dengan Luke saat ini.

“Ada apa dengan Luke?” Tanya Yeon.

“Dia meniduri banyak wanita!” Jawab Eunsoo.

“Bukankah kau sudah tahu itu sejak awal?”

“Ya. Aku memang mengetahuinya. Tetapi aku tidak berpikir jika akan bertemu dengan wanita-wanita itu!” Tukas Eunsoo kesal.

“Wanita-wanita itu?” Ulang Yeon.

“Sahabatmu itu meniduri dua wanita sekaligus, Jung Yeon!” Hardik Eunsoo membuat Yeon terkejut.

Namun beberapa saat kemudian Yeon tertawa hingga membuat Eunsoo menatapnya tajam. Yeon langsung memaksakan dirinya untuk berhenti tertawa.

“Maaf. Tidak seharusnya aku tertawa.” Sesal Yeon dengan wajah berkedut. Eunsoo mendengus dan wajahnya semakin cemberut.

“Baiklah. Jadi maksudmu Luke meniduri dua wanita sekaligus dan kau bertemu dengan kedua wanita itu?” Yeon menyimpulkan. Eunsoo menganggukkan kepalanya.

“Salah satu dari mereka bahkan mencium pipi Luke!” Rajuk Eunsoo.

“Luke membiarkannya saja?” Tanya Yeon terkejut.

Well, aku pikir karena ia terlalu terkejut. Karena saat wanita kedua hendak menciumnya, dia memilih menjauh.” Jawab Eunsoo dengan enggan. Yeon tersenyum mendengar jawaban Eunsoo.

“Kau tahu jika itu hanya masa lalu, kan? Luke sudah berubah karena dirimu.” Kata Yeon sembari mengusap bahu Eunsoo.

“Tetapi tetap saja aku tidak suka saat mengingat para wanita itu pernah ditiduri oleh Luke. Apalagi mereka ingin melakukannya lagi. Mereka bahkan ingin mengajakku. Wanita gila.” Ujar Eunsoo sembari menyugar rambutnya.

“Aku tebak jika Luke tidak menanggapi mereka.”

“Aku pasti sudah membunuhnya jika dia menanggapi para wanita gila itu.”

“Eunsoo-ya.” Ucap Yeon membuat Eunsoo menatapnya.

“Dari awal kau sudah tahu bagaimana masa lalu Luke. Sampai kapanpun, masa lalu itu akan terus mengikuti Luke. Jika saat ini saja kau merasa marah, bagaimana saat kalian telah menikah nanti? Apa kau akan menceraikannya? Tidak, kan? Kau hanya perlu menekankan kepada dirimu bahwa Luke telah berubah. Saat ini ia hanya milikmu. Baik tubuh maupun hatinya.”

Eunsoo tampak memikirkan kata-kata Yeon. Ia sangat menyetujui apa yang wanita itu katakan. Ia memang tidak seharusnya marah. Eunsoo hanya merasa cemburu karena wanita-wanita itu telah lebih dulu tidur dengan Luke daripada dirinya. Ia marah karena mereka pernah melihat tubuh telanjang Luke yang hanya miliknya seorang.

“Apakah menurutmu aku salah jika marah pada Luke?” Tanya Eunsoo.

“Aku tidak bisa menyalahkanmu. Karena akupun mungkin juga akan marah jika bertemu dengan wanita yang pernah ditiduri oleh Kyuhyun. Hanya saja kemarahan itu tidak perlu berlarut-larut. Karena semua itu hanya masa lalu. Aku adalah masa depan Kyuhyun. Begitupun denganmu yang merupakan masa depan Luke.” Jawab Yeon.

“Apakah sekarang aku harus pergi menemui Luke dan minta maaf?”

Yeon menggeleng.

“Kau bisa memberinya sedikit pelajaran. Biarkan dia mencarimu dan meyakinkan dirimu bahwa wanita-wanita itu tidak berarti untuknya.” Saran Yeon.

Eunsoo menghela nafas panjang.

“Baiklah. Aku akan menunggu hingga Luke datang.” Putus Eunsoo sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.

——

Nyatanya hingga malam telah tiba, Luke tidak datang ke apartement Kyuhyun untuk meminta maaf pada Eunsoo. Bahkan pria itu tidak menghubungi Eunsoo sekedar untuk menanyakan keberadaan calon istrinya itu. Membuat Eunsoo benar-benar merasa marah.

“Aku akan membatalkan pernikahan!” Hardik Eunsoo membuat Kyuhyun dan Yeon terkejut.

“Ya! Kau tidak bisa seperti itu!” Kata Kyuhyun dengan panik.

“Dia bahkan tidak datang untuk minta maaf padaku, oppa!” Rajuk Eunsoo.

Kyuhyun telah mengetahui masalah Eunsoo dari Yeon yang menceritakan padanya. Bukannya menenangkan Eunsoo, Kyuhyun justru ikut menyalahkan Luke. Tetapi saat mendengar Eunsoo ingin membatalkan pernikahannya, membuat Kyuhyun panik.

Walau bagaimana pun Kyuhyun tahu jika Luke–lah yang terbaik untuk Eunsoo. Kyuhyun tahu bagaimana sepupunya itu sangat mencintai Luke.

“Apa kau ingin orangtuamu memenggal kepalamu?” Tanya Kyuhyun.

“Aku akan tidur disini agar appa dan eomma tidak menemukanku.” Jawab Eunsoo.

“Eunsoo-ya, mungkin Luke tidak tahu jika kau berada disini.” Ucap Yeon.

“Ponselku menyala terus dari tadi, Yeon-ah. Dia bisa menghubungiku.” Sahut Eunsoo.

Yeon yang sedang menggendong Hyunjae menatap Kyuhyun dengan bingung.

“Terserah. Pokoknya aku akan membatalkan pernikahan ini!” Kata Eunsoo sembari berdiri.

“Aku akan tidur di kamar Hyunjae malam ini.” Setelah mengatakannya, Eunsoo berjalan meninggalkan keluarga kecil di sana.

“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Yeon.

“Bisakah kau hubungi sahabatmu itu dan katakan untuk tidak menjadi seorang pengecut?” Pinta Kyuhyun. Yeon mendelik kesal pada Kyuhyun, namun tetap menurut.

“Jaga Hyunjae sebentar.” Yeon memberikan Hyunjae pada Kyuhyun sebelum akhirnya menjauh untuk menghubungi Luke.

Ada apa, baby?”

“Ada apa?!” Yeon tidak percaya dengan kalimat pembuka Luke.

“Yah, apa kau ingin membatalkan pernikahanmu?”

Apa? Hei, aku tidak segila itu. Kenapa aku ingin membatalkan pernikahanku?

“Lalu, kenapa kau tidak datang ke sini dan minta maaf pada calon istrimu itu?!”

Eunsoo berada di sana? Sial, aku menunggunya di apartement dari tadi.

“Gunakan otak pintarmu itu untuk berpikir, Luke. Lebih baik kau cepat datang ke sini dan minta maaf pada calon istrimu!”

Ah, sial! Aku akan berada di sana dalam sepuluh menit.

Yeon menatap ponselnya yang menunjukkan layar hitam. Luke memutuskan sambungan telepon begitu saja. Tapi setidaknya pria itu tidak membuang waktunya untuk menyelesaikan masalah.

“Luke akan ke sini.” Kata Yeon sembari duduk di samping Kyuhyun.

“Apakah kau harus menghubunginya lebih dulu?” Sindir Kyuhyun.

“Dia tidak tahu jika Eunsoo berada disini. Luke menunggu Eunsoo di apartementnya dari tadi.” Yeon membela Luke.

“Sebagai seorang pria dia seharusnya bergerak cepat.” Komentar Kyuhyun.

“Sepertimu?” Sahut Yeon dengan tersenyum.

“Tentu saja.” Ucap Kyuhyun dengan bangga.

“Kau memang yang terbaik, Hyunjae appa.” Puji Yeon sembari menggesekkan hidungnya di pipi Kyuhyun.

“Haruskah kalian bermesraan di depanku?” Tukas Eunsoo sembari berkacak pinggang.

“Ini adalah apartement pasangan yang telah menikah dan memiliki anak, Nona Kang. Apalagi yang kau harapkan selain melihat kemesraan di dalamnya?” Ujar Kyuhyun dengan sarkastik.

“Aku ingin memberikan adik untuk Hyunjae.” Lanjut Kyuhyun.

“Ya!” Yeon memukul paha Kyuhyun.

“Oppa, tidak bisakah kau sedikit kasihan padaku?” Rajuk Eunsoo.

“Karena itu selesaikanlah masalahmu dengan Luke secara baik-baik. Kemudian lebih baik kalian cepat menikah agar bisa bermesraan sepertiku dan Yeon.” Saran Kyuhyun.

“Jangan menyebut namanya!”

“Apakah kau benar-benar ingin membatalkan pernikahanmu? Luke sedang dalam perjalanan kemari.” Ucap Yeon.

“Benarkah?! Apa kau mengatakan padanya bahwa aku akan membatalkan pernikahan?” Tanya Eunsoo.

“Ya. Aku mengatakannya. Bukankah kau memang ingin membatalkan pernikahan?”

“Jung Yeon-ah!” Rengek Eunsoo.

“Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?” Yeon menunjukkan wajah polosnya.

“Bagaimana jika Luke menyetujui untuk membatalkan pernikahan? Bagaimana jika setelahnya dia pergi menemui dua wanita tadi dan meniduri mereka? Aku tidak benar-benar ingin membatalkan pernikahan. Aku hanya sedang marah tadi.” Kata Eunsoo dengan panik.

“Maafkan aku! Aku mengira jika kau serius saat mengatakannya.” Ucap Yeon dengan wajah berpura-pura panik.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi bel apartement membuat Eunsoo terkesiap. Ia menatap pintu apartement Kyuhyun sembari menggigiti kuku jari tangannya.

“Itu pasti Luke. Bagaimana ini?!”

“Temui dia dan selesaikan secara baik-baik. Ayo, kita masuk ke kamar, Yeoni-ya.” Ajak Kyuhyun dan disambut anggukkan kepala oleh Yeon.

“Bagaimana ini?” Gumam Eunsoo.

——

Luke menekan bel beberapa kali saat tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Saat ia hendak menekan bel lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan lebar.

Baby–” awalnya Luke berpikir jika Yeon yang membukakan pintu. Namun ternyata calon istrinya.

Eunsoo langsung menarik Luke masuk sebelum pria itu sempat mengatakan apapun.

“Luke, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membatalkan pernikahan. Aku hanya sedang emosi dan kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku tidak ingin membatalkan pernikahan. Aku mohon jangan batalkan pernikahan kita.” Pinta Eunsoo yang hampir menangis.

Luke menatap Eunsoo dengan kening yang berkerut. Ia tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan wanita itu. Siapa yang ingin membatalkan pernikahan?

“Apa yang kau bicarakan?” Tanya Luke pelan.

“Jangan batalkan pernikahan.” Ucap Eunsoo.

“Siapa yang ingin membatalkan pernikahan, honey?” Tanya Luke lagi.

“B–bukankah kau kemari karena ingin menyetujui permintaanku untuk membatalkan pernikahan?” Tebak Eunsoo.

“Kau ingin membatalkan pernikahan?!” Pekik Luke.

“Tidak, itu–” Eunsoo menatap Luke dan pintu kamar Kyuhyun bergantian.

“Yeon tidak mengatakan apapun padamu?” Tanya Eunsoo.

“Dia hanya mengatakan padaku bahwa kau berada disini dan aku harus cepat ke sini untuk minta maaf padamu.” Jawab Luke.

Mata Eunsoo melebar saat mendengar jawaban Luke. Apakah Yeon baru saja membohonginya? Apakah sebenarnya wanita itu tidak mengatakan apapun pada Luke?

“Aish, Jung Yeon.” Gerutu Eunsoo sembari menyugar rambutnya.

“Apa maksud ucapanmu tadi? Kau ingin membatalkan pernikahan?!” Tanya Luke.

“Tidak. Aku tidak mengatakannya.” Jawab Eunsoo dengan ketus.

Honey, aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku benar-benar tidak menyangka jika kita akan bertemu dengan salah satu wanita–“

“Bukan satu, tapi dua.” Sela Eunsoo. Luke menghela nafas.

“Ya, dua. Maafkan aku. Aku bahkan tidak mengingat siapa mereka. Aku hanya tahu bahwa aku pernah tidur dengan mereka setelah mereka menyebutkan kata hotel. Semua itu hanya masa lalu. Aku mohon maafkan aku.” Pinta Luke dengan wajah frustasi.

“Tapi mereka mengingatmu dengan jelas, Luke!”

“Aku tidak peduli dengan semua itu. Karena yang ada di dalam ingatanku hanya kau. Dan semua tentangmu.”

“Honey, kau tahu bagaimana buruknya masa laluku. Aku tidak tahu bagaimana caranya membersihkan diriku dari masa lalu itu. Bahkan jika aku mati, aku tetaplah seorang bajingan.” Kata Luke dengan putus asa.

“Jangan berkata seperti itu.” Ucap Eunsoo.

“Itulah kenyataannya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa itu semua hanya masa lalu dan tidak berarti apapun untukku. Kau masa depanku. Dan tubuhku hanya akan menjadi milikmu untuk selamanya. Tidak ada wanita lain.”

“Benarkah?” Gumam Eunsoo sembari menatap Luke.

“Ya.”

“Jika suatu saat aku bertemu dengan wanita-wanita itu lagi, bolehkah aku mencakar wajah mereka?” Tanya Eunsoo. Luke nampak terkejut, namun tetap tidak bisa menahan senyum diwajahnya.

“Lakukan apapun yang membuatmu puas.” Jawab Luke.

Eunsoo mendekati Luke dan memeluk pria itu. Luke membalas pelukan Eunsoo dengan erat dan perasaan lega.

“Maafkan aku.”

“Aku memaafkanmu.”

“Kenapa kalian berpelukan?” Tanya Yeon membuat Luke dan Eunsoo saling melepaskan diri.

“Bukankah kau ingin membatalkan pernikahan?” Yeon menatap Eunsoo dengan tatapan menggoda.

“Ya!”

“Kau benar-benar ingin membatalkan pernikahan?” Tanya Luke.

“Tidak. Aku hanya asal bicara.” Jawab Eunsoo sembari menundukkan kepalanya.

“Dasar pasangan kekanakkan.” Gumam Yeon sembari tersenyum.

“Aku mendengarmu, baby.” Sahut Luke.

“Kenapa kau selalu memanggil istriku dengan sebutan baby? Istriku bukan seorang bayi.” Tukas Kyuhyun yang berdiri di samping Yeon.

“Kau seharusnya berterima kasih padaku karena aku mengganggap istrimu seorang bayi. Haruskah aku memandangnya sebagai seorang wanita dewasa sekarang?” Tantang Luke.

“Sial! Tutup mulutmu itu dan pergilah dari apartemenku. Bawa calon istrimu yang kekanakkan itu.” Usir Kyuhyun.

“Oppa!”

Baby, kau harus menjauhkan keponakanku itu dari suamimu. Karena dia mungkin akan menularkan sifat jeleknya itu pada Hyunjae.” Sindir Luke.

“Ya!”

“Aku setuju.” Timpal Eunsoo membuat Kyuhyun menatapnya dengan kesal.

“Kau! Aku tidak akan menerimamu disini jika kau bertengkar dengan pria itu lagi!” Ancam Kyuhyun.

“Aku tidak akan bertengkar lagi dengan Luke.” Sahut Eunsoo sembari menjulurkan lidahnya.

“Ayo, kita pergi, Luke.” Ajak Eunsoo. Luke mengangguk.

Baby, aku pulang dulu. Jangan lupa tentang saranku tadi untuk menjauhkan Hyunjae darinya.” Ucap Luke membuat Yeon tersenyum geli.

“Pulanglah. Aku tidak ingin terjadi perang dunia disini.” Yeon mengantar Luke dan Eunsoo sampai ke depan pintu.

“Jangan bersikap kekanakkan dan bertengkar lagi. Pernikahan kalian sudah dekat.” Pesan Yeon.

“Aku mengerti. Sampai jumpa.”

Yeon melambaikan tangannya pada kedua orang itu sebelum akhirnya menutup pintu.

“Sepertinya kau dan Luke benar-benar tidak ada harapan.” Tukas Yeon.

“Berhenti membicarakan Luke. Lebih baik sekarang kita membuat adik untuk Hyunjae.” Kata Kyuhyun sembari tersenyum manis. Yeon membalas senyum Kyuhyun dengan tidak kalah manisnya.

“Kita bisa membuat adik untuk Hyunjae jika kau bersedia untuk mengandung dan melahirkan.” Ucap Yeon. Ia mendorong Kyuhyun menjauh dan masuk ke dalam kamar.

“Ya! Pria tidak bisa mengandung dan melahirkan!” Kata Kyuhyun sembari berjalan menyusul Yeon.

——

“Aku benar-benar gugup!” Ucap Eunsoo sembari menatap Yeon–yang berdiri di belakangnya–melalui cermin.

“Aku juga merasakannya ketika akan menikah dengan Kyuhyun saat itu.”

“Lalu bagaimana kau menghilangkannya?” Tanya Eunsoo. Yeon menggeleng.

“Rasa gugup itu tidak bisa hilang hingga acara selesai.” Jawab Yeon membuat Eunsoo meringis.

“Bagaimana jika aku terjatuh saat berjalan menghampiri Luke nanti? Bukankah itu akan sangat memalukan?” Eunsoo terlihat sangat gelisah.

“Maka usahakan jangan sampai terjatuh.” Sahut Yeon.

“Kau benar-benar menyebalkan, Jung Yeon.” Gerutu Eunsoo.

“Aku tahu.” Yeon yang sedang merapikan gaun pengantin Eunsoo nampak tidak peduli dengan gerutuan wanita itu.

“Apa aku terlihat cantik? Apakah Luke akan terpesona saat melihatku nanti?” Tanya Eunsoo.

Yeon menegakkan punggungnya dan menatap Eunsoo.

“Kau cantik. Kemana sifat percaya dirimu?”

“Ah, entahlah. Aku benar-benar merasa gugup dan hampir gila. Tanganku berkeringat.” Keluh Eunsoo sembari menunjukkan kedua tangannya yang memakai sarung tangan putih pada Yeon.

“Kang Eunsoo.” Yeon menangkup wajah Eunsoo.

“Kau terlihat luar biasa. Semua orang akan terpesona padamu. Terutama Luke. Mungkin dia akan pingsan di atas altar nanti.” Ucap Yeon membuat Eunsoo tersenyum.

“Kau memang yang terbaik.” Puji Eunsoo.

“Lebih baik sekarang tenangkan dirimu. Tarik nafas panjang dan hembuskan perlahan.”

Eunsoo menuruti perintah Yeon.

“Oppa..” Ucapnya saat melihat Kyuhyun masuk ke dalam ruang tunggu.

“Dimana Hyunjae?” Tanya Yeon saat melihat Kyuhyun datang seorang diri.

“Bersama Kate.” Jawab Kyuhyun.

“Siapa wanita itu?” Tanya Kyuhyun kemudian sembari menunjuk Eunsoo.

“Oppa!”

“Wah, apa kau Kang Eunsoo? Aku benar-benar tidak mengenalimu.” Kata Kyuhyun dengan takjub.

“Itu berarti kau sangat cantik.” Bisik Yeon.

“Siapa yang mengatakannya? Aku tidak mengenalinya karena dia sangat jelek.” Canda Kyuhyun.

“Suruh dia pergi, Yeon-ah.” Rajuk Eunsoo.

“Aku bercanda.” Ucap Kyuhyun sembari berjongkok dihadapan Eunsoo.

“Kau sangat cantik. Walaupun tidak lebih cantik dari Yeon.” Puji Kyuhyun. Eunsoo memukul pelan bahu Kyuhyun.

“Luke si bajingan itu sangat beruntung mendapatkanmu.”

“Oppa, dia akan menjadi suamiku. Berhenti berkata seperti itu tentangnya.” Pinta Eunsoo.

“Aku tahu. Maafkan aku.” Kyuhyun berdiri dan menepuk pelan pipi Eunsoo.

“Sebentar lagi ayah Eunsoo akan ke sini. Kita harus segera bergabung dengan tamu yang lainnya.” Kata Kyuhyun pada Yeon.

“Jangan lupa tarik nafas dan hembuskan perlahan, Eunsoo-ya.” Pesan Yeon.

“Aku mengerti. Pergilah.” Ucap Eunsoo sembari melambaikan tangannya pada sepasang suami istri itu.

Eunsoo menatap wajahnya di cermin. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Benar-benar tidak menyangka jika sebentar lagi ia akan menjadi istri Luke. Pria yang begitu dicintainya.

Eunsoo tidak menyesal walaupun ia yang lebih dulu menyukai Luke. Karena pada akhirnya Luke juga menyukainya dan mengajaknya menikah. Membuat Eunsoo merasa bahwa ia sedang berada di negeri dongeng saat ini. Dengan Luke sebagai pangerannya.

“Apa kau sudah siap, nak?” Tanya ayah Eunsoo yang baru datang.

Eunsoo menoleh dan tersenyum pada ayahnya. Sebelum akhirnya berdiri dan berjalan dengan susah payah.

“Apa menurutmu aku sudah siap, appa?” Eunsoo bertanya balik.

“Kau cantik, sayang. Dan aku tahu jika kau sudah sangat siap untuk menjadi istri Luke.” Jawab ayah Eunsoo.

Pria itu mengulurkan lengannya agar Eunsoo bisa menggandengnya.

“Berat sekali melepaskan putriku satu-satunya.” Keluh ayah Eunsoo.

“Appa.. Aku tetap akan menjadi putrimu sampai kapanpun. Jangan membuatku menangis.” Pinta Eunsoo. Ayah Eunsoo menatap putrinya dan tersenyum.

“Semoga kau bahagia, Eunsoo-ya.”

Eunsoo ikut tersenyum dan mengangguk. Kemudian mereka mulai meninggalkan ruang tunggu untuk menuju ke altar. Dimana Luke telah menunggunya untuk mengucapkan janji pernikahan.

Eunsoo menghembuskan nafas panjang saat telah berdiri di depan pintu altar yang tertutup. Ia menggandeng lengan ayahnya dengan erat. Tidak ingin terjatuh dan mempermalukan dirinya sendiri.

“Kau siap?” Tanya ayah Eunsoo sekali lagi. Tanpa menatap ayahnya, Eunsoo mengangguk.

Pintu altar perlahan-lahan terbuka. Alunan musik pernikahan menyambut telinga Eunsoo membuat wanita itu semakin gugup. Dan saat melihat Luke yang telah berdiri di ujung sana, Eunsoo merasa kakinya lemas.

“Kuatkan kakimu, sayang. Jika kau tidak ingin aku menggendongmu hingga ke depan sana.” Bisik Ayah Eunsoo.

Eunsoo dan ayahnya berjalan perlahan untuk menghampiri Luke. Mata Eunsoo terus menatap Luke yang juga sedang menatapnya dengan penuh kehangatan. Pria itu terlihat sangat luar biasa tampan. Eunsoo tidak tahu apakah Luke bisa lebih tampan lagi dari ini.

Eunsoo menggenggam tangan Luke dengan erat setelah sang ayah memberikan tangannya pada calon suaminya itu. Ia tahu bahwa ayahnya berpesan sesuatu kepada Luke, tetapi Eunsoo tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Luke tersenyum padanya sebelum akhirnya menuntunnya untuk mendekati Pendeta yang telah menunggu mereka. Pendeta memulai khotbah pernikahan dan lagi-lagi Eunsoo tidak bisa mendengarnya dengan baik.

“Cantik.” Bisik Luke membuat Eunsoo menatapnya.

Sialnya, bisikan Luke terdengar dengan begitu jelas di telinganya. Membuat Eunsoo merasa wajahnya memanas. Ia berharap Luke tidak menyadarinya.

“Tuan Luke Collins, apakah kau bersedia menerima Kang Eunsoo sebagai istrimu dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, dan berjanji untuk menjaganya dengan sepenuh hati dihadapan Tuhan dan semua yang ada disini?”

Luke menatap Eunsoo.

“Saya bersedia.” Ucapnya dengan mantap.

“Nona Kang Eunsoo, apakah kau menerima Luke Collins sebagai suamimu  dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, dan berjanji untuk menjaganya dengan sepenuh hati dihadapan Tuhan dan semua yang ada disini?”

Eunsoo membalas tatapan Luke.

“Ya, saya bersedia.”

“Dengan ini saya nyatakan kalian berdua sebagai sepasang suami istri. Semoga kalian bisa saling menjaga hingga maut memisahkan kalian.” Ucap Pendeta.

Luke dan Eunsoo saling berhadapan ketika harus memasangkan cincin pernikahan. Luke lebih dulu memasangkan cincin di jari Eunsoo sebelum akhirnya Eunsoo juga memasangkan cincin dijarinya.

Keduanya saling menatap dan tersenyum dengan penuh cinta. Terdengar tepukan tangan yang begitu meriah untuk menyambut pasangan yang baru saja menjadi suami istri itu.

Luke menambah langkahnya untuk mendekati Eunsoo. Tangannya melingkar di pinggang ramping Eunsoo hingga membuat Eunsoo menyandarkan kedua tangannya di dada Luke. Luke memiringkan kepalanya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Eunsoo.

Bukan untuk yang pertama kali. Tetapi Luke tetap merasa berdebar saat mencium bibir Eunsoo. Mungkin saja karena ini ciuman pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Luke melumat bibir Eunsoo tanpa peduli jika lisptik istrinya itu akan luntur.

“Aku mencintaimu.” Bisik Luke disela-sela bibir mereka yang menyatu.

Tanpa berniat membalas pernyataan cinta Luke, Eunsoo justru mencengkram jas Luke dan menarik pria itu semakin mendekat padanya. Ia membalas lumatan bibir Luke dan memperdalam ciuman mereka. Karena Luke sekarang adalah suaminya, Eunsoo tidak peduli dengan apapun lagi.

——

Yeon menangkup kedua tangan di depan dada dan tersenyum saat melihat Luke dan Eunsoo yang sedang berciuman. Ia ikut larut dan merasakan suasana romantis yang diciptakan oleh sepasang suami istri itu.

“Ah, romantisnya.” Puji Yeon membuat Kyuhyun menoleh.

“Apanya yang romantis?” Tanya Kyuhyun.

“Berciuman di depan banyak orang.” Jawab Yeon tanpa menatap Kyuhyun.

“Kita sudah pernah melakukannya.” Komentar Kyuhyun.

“Aku tahu. Tetapi aku lebih suka saat melihat orang lain yang melakukannya. Karena aku juga bisa merasakan suasana romantis yang mereka ciptakan.” Ucap Yeon masih dengan tersenyum.

Kyuhyun menatap istrinya dan ikut tersenyum. Saat sedang tersenyum seperti itu, kecantikan Yeon menjadi berkali-kali lipat. Dan Kyuhyun tidak tahu sampai kapan ia akan terus jatuh cinta seperti ini pada ibu dari anaknya tersebut.

Kyuhyun merasa bahwa ia adalah pria paling beruntung karena bisa mencintai Yeon, begitu pun sebaliknya. Ia tidak bisa membayangkan jika pria lain yang berada di posisinya. Pria lain yang menjadi suami Yeon dan ayah dari Hyunjae. Membayangkannya saja membuat Kyuhyun merasa ngeri.

Kyuhyun menangkup wajah Yeon hingga membuat wanita itu menatapnya dengan bingung. Ia memajukan wajahnya dan memberikan kecupan pelan pada bibir Yeon hingga membuat Yeon merasa terkejut.

“Apa kau yakin kau lebih menyukainya saat melihat orang lain berciuman di depan semua orang, daripada kau sendiri yang melakukannya?” Tanya Kyuhyun.

Yeon yang masih merasa terkejut tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya menatap Kyuhyun dengan kedua matanya yang berkedip dengan pelan.

“Karena aku lebih menyukainya saat aku melakukannya sendiri daripada melihat orang lain melakukannya.” Ucap Kyuhyun sebelum akhirnya melumat bibir Yeon dan memastikan semua orang melihat apa yang dilakukannya.

——

–Fin–

HAI! Sorry baru bisa post sekarang. Baru ada waktunya mala mini. Semoga suka sama sequelnya, ya. Abis ini gak ada sequel-sequel lagi untuk FF Love, Hurt and Revenge^^

Happy reading~

BYE~

Advertisements

57 thoughts on “Happy Ending (Sequel–Love, Hurt, and Revenge)

  1. aku pikir ni ff ga bakal ada sequel,, ternyataaaa…
    bener” deh author sayang banget sama readers nya, kkk 😂😍😘😘😘
    happy end bikin terhura suasana romantisnya💒💏
    di tunggu karya lainnya,, authornim fightiiiiiing 👍👏💪

  2. Finally luke and eunsoo nikah
    Maksih jga buat author yg ud buat sequel and buat cerita ini happy ending
    Hahaha
    Stlh sekian lama akhirnya dpt ff yg bgus and bikin penasaran
    Di tunggu karya selanjutnya ya author, yg ff castnya kyu 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s