The Chance – Part 4

Author

Choineke

Title

The Chance

Cast

 Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Lee Donghae, Choi Siyong (OC), Lee Hara (OC), Lee Hanna–Siwon’s Grandmother (OC), and others

Genre

Romance

Length

Chapter

Rating

PG-15

——

–Give me one more chance to be with you again–

——

Author POV

Siwon dengan cepat menutup pintu dan berusaha untuk tidak meninggalkan suara. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Siyong berada dipangkuan Yongri. Siwon mencoba menepis bahwa mungkin saja Siyong bukan anak Yongri.

Tetapi ketika Siwon mengingat kembali bagaimana wajah bocah itu, Siwon menyadari jika ada kemiripan pada mereka berdua. Mata Siyong benar-benar mirip seperti mata Yongri. Dan hal itu tidak dapat mencegah Siwon untuk berpikir jika Siyong memang anak Yongri..dan Donghae.

Siwon mengusap wajahnya dengan frustasi. Pantas saja ia begitu tertarik pada Siyong. Pantas saja ia begitu senang saat berada di dekat bocah itu. Semua itu karena Siyong adalah anak Yongri. Siwon merasa sangat kesal, tetapi ada sedikit rasa lega saat tahu bahwa bocah itu adalah putri Yongri.

Siwon menoleh ke belakang dan menatap pintu yang tertutup. Di dalam ruangan itu terdapat mantan istrinya serta anak wanita itu yang begitu menarik perhatian Siwon.

Siwon meyakinkan dirinya bahwa ia tidak boleh bertemu lagi dengan Siyong. Karena jika mereka kembali bertemu, Siwon yakin pertahanan yang selama ini dia bangun akan runtuh begitu saja.

——

“Jadi, kau tersesat?” Tanya Yongri.

“Ya, eomma. Aku hampir saja tidak bisa kembali ke sini.” Jawab Siyong yang berada di pangkuan Yongri.

“Ck! Karena itulah kenapa kau tidak ingin eomma temani tadi?” Omel Yongri.

“Noona, jangan mengomeli anakmu.” Ucap Haneul.

“Tapi aku bertemu dengan ahjussi tampan dan dia yang mengantarku ke sini.” Kata Siyong dengan semangat.

“Ahjussi tampan?” Ulang Yongri bersamaan dengan beberapa member TOP.

“Eung! Dia benar-benar sangat tampan. Sangat-sangat tampan.”

Siyong kemudian mendekatkan mulutnya pada telinga Yongri.

“Lebih tampan dari Donghae ahjussi.” Bisiknya.

Mata Yongri melebar. Selama ini Siyong selalu menganggap Donghae adalah pria tertampan di dunia. Tetapi sekarang penilaian gadis itu berubah. Tentu saja Yongri terkejut.

“Benarkah?” Balas Yongri berbisik. Siyong mengangguk.

“Dan dia mengajakku berteman dengannya.”

Mata Siyong benar-benar berbinar saat mengingat sosok Siwon.

“Dia juga sangat baik dan cerewet sama sepertiku, eomma.”

“Yah, apa kau mengerti arti kata cerewet?” Tanya Minki sembari mencubit pelan pipi Siyong.

“Tentu saja, oppa. Eomma bilang orang yang banyak bicara itu cerewet.” Jawab Siyong sembari menatap Minki.

Kelima laki-laki itu menatap Yongri dengan terperangah. Sedangkan Yongri membalas tatapan mereka dengan cengiran polosnya. Ia merasa tidak bersalah karena seseorang yang banyak bicara memang cerewet.

“Apa kau berkenalan dengannya? Siapa namanya?” Tanya Yongri.

“Ya, aku berkenalan dengannya. Namanya–” Siyong menghentikan ucapannya dan tampak berpikir.

“Kenapa? Kau lupa namanya?” Tebak Jaehyun. Siyong menatap Jaehyun dan kembali berpikir.

“Hei, kau tidak boleh melupakan nama temanmu.” Tegur Yongri.

Siyong menundukkan kepalanya dan cemberut. Kenapa ia bisa melupakan nama temannya? Biasanya ia tidak pelupa seperti ini.

“Siyong-ah, karena kami sekarang juga temanmu, kau tidak boleh melupakan nama kami. Ingatlah, namaku Jang Hakyung.” Ucap Hakyung. Siyong menatap Hakyung dan semakin menekuk wajahnya.

“Sekarang kita harus pulang. Pekerjaan eomma sudah selesai.” Ujar Yongri sembari membantu Siyong berdiri, sebelum kemudian dirinya sendiri berdiri.

“Noona, kau harus membawanya lagi saat ke sini.” Kata Haneul.

“Ya, eomma. Aku juga ingin datang ke sini lagi. Aku ingin bertemu dengan ahjussi tampan.” Timpal Siyong.

“Kau tidak mau bertemu kami?” Rajuk Jaehyun.

“Aku juga ingin bertemu dengan oppa-oppa yang tampan.” Ucap Siyong sembari tersenyum menatap mereka.

“Aigoo, manis sekali.” Hoon mengusap kepala Siyong dengan sayang.

——

Hara benar-benar terkejut saat mendapatkan telepon dari Hanna. Tidak biasanya wanita itu menghubunginya dan mengajaknya bertemu. Biasanya Hanna akan meminta Siwon untuk mengajaknya bertemu. Tetapi kali ini Hanna ingin bertemu dengannya tanpa Siwon.

Bukankah itu terasa aneh?

Tetapi Hara tetap menyanggupi keinginan Hanna dan datang ke rumah wanita itu. Seorang pelayan telah membukakan pintu dan meminta Hara untuk menunggu Hanna di ruang keluarga.

Hara menatap foto keluarga Siwon. Di sana Siwon terlihat tersenyum penuh kebahagiaan. Hara sangat menyukai senyum Siwon di sana. Semenjak Yongri meninggalkan Siwon, Hara tidak pernah melihat senyum Siwon yang terlihat tulus seperti pada foto itu.

Semuanya telah benar-benar berubah pada diri Siwon.

“Hara-ya..”

Hara menoleh dan melihat Hanna sudah datang. Ia berdiri dan menghampiri Hanna. Menerima pelukan yang diberikan oleh wanita itu.

“Halmoni..”

Hara sudah mengenal Hanna sejak lama. Namun Hara selalu saja merasa bahwa ia tidak bisa benar-benar nyaman berdekatan dengan wanita itu. Entah karena apa.

“Duduklah, sayang.” Ucap Hanna.

“Bagaimana kabarmu, halmoni?” Tanya Hara sopan.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Hanna dengan tersenyum. Hara balas tersenyum.

“Aku akan terus sehat hingga kau dan Siwon menikah.” Lanjut Hanna membuat senyum Hara menghilang.

“Kenapa kau terlihat terkejut? Tentu saja kau dan Siwon akan menikah.” Ujar Hanna.

“Halmoni, aku–“

“Aku ingin kau datang ke sini agar kau bisa menyampaikan pada orangtuamu, bahwa kami para orangtua harus segera menentukan tanggal pernikahan kalian.” Kata Hanna membuat Hara panik.

“A–apakah Siwon oppa sudah mengetahuinya?” Tanya Hara.

Hanna mendengus.

“Jika pun dia tahu, apa yang kau harapkan darinya? Aku sudah membicarakan ini dengannya, tetapi Siwon tidak memberikan respon apapun. Aku ingin kalian menikah.”

“Siwon oppa akan marah jika–“

“Apa kau pikir Siwon bisa berlama-lama marah padaku?” Sela Hanna dengan tersenyum.

“Kau tenang saja. Aku akan menerima kemarahan Siwon. Kau hanya perlu memberitahukan apa yang aku katakan tadi pada orangtuamu.”

Hara meremas kesepuluh jarinya. Apa yang harus dilakukannya? Ia tidak ingin menikah dengan Siwon. Tetapi bagaimana caranya untuk menolak keinginan Hanna? Orangtuanya sudah pasti menyetujui rencana wanita itu.

“Kita harus mendapatkan tanggalnya sebelum akhir bulan.”

“Ada apa dengan akhir bulan?” Tanya Hara.

“Orangtua Donghae akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahan di Mokpo. Dan kita harus datang ke sana.” Jawab Hanna.

“Kita?” Ulang Hara.

“Ya, kita. Kau, aku, dan Siwon.”

“Kenapa aku harus ikut?”

“Kau akan menjadi keluarga kami. Tentu saja kau harus ikut. Karena itulah kita harus mendapatkan tanggal pernikahan kalian agar bisa memberitahukannya pada mereka.” Jelas Hanna.

“H–halmoni, aku pikir itu bukan sesuatu hal yang mendesak.” Komentar Hara.

Ekspresi wajah Hanna terlihat berubah saat mendengar komentar Hara. Ia menatap perempuan itu dengan kesal.

“Kau dan Siwon harus menikah secepatnya! Kalian sudah terlalu lama bertunangan!” Tukas Hanna.

Hara menghela nafas dan menatap Hanna.

“Pernahkah kau meminta pendapat Siwon oppa tentang semua ini, halmoni?” Tanya Hara.

“Pernikahan ini akan dijalani olehku dan Siwon oppa. Pernahkah kau meminta pendapat kami? Kenapa kalian para orangtua selalu melakukan sesuatu sesuka kalian?” Hara tidak peduli jika dia terlihat tidak sopan di mata Hanna.

“Siwon oppa tidak mencintaiku, begitu pun sebaliknya, halmoni.” Ucap Hara dengan putus asa.

“Cinta tidak selalu membuat bahagia.” Sahut Hanna.

“Jika kau lupa, aku pernah membiarkan Siwon menikahi perempuan yang dicintainya, tetapi apa yang dia dapatkan? Pengkhianatan, Hara-ya.”

Hanna menggenggam kedua tangan Hara.

“Percayalah pada kami. Kami para orangtua akan memberikan yang terbaik untuk kalian.” Ucap Hanna dengan tegas.

Hara hanya bisa menghela nafas panjang sembari menahan teriakan yang sudah berada di ujung lidahnya.

——

Hara masuk ke dalam ruangan Siwon dan menemukan pria itu sedang memejamkan matanya. Ia tahu bahwa Siwon tidak tidur karena pria itu memutar-mutar kursi yang sedang didudukinya. Hara mengerutkan dahinya karena merasa bingung dengan apa yang sedang dilakukan Siwon.

Hara menutup pintu di belakangnya dan menghampiri Siwon. Di lihat dari wajahnya, sepertinya Siwon sedang memikirkan sesuatu.

“Oppa?” Panggil Hara pelan.

Ia melihat Siwon langsung membuka matanya dan menghentikan gerakannya yang sedang memutar kursi. Hara menghela nafas dan duduk di sofa yang berada di sana.

“Ada apa?” Tanya Hara.

“Apa maksudmu?” Siwon bertanya balik.

“Kau seperti sedang memikirkan sesuatu.” Jawab Hara. Perempuan itu melihat Siwon menghela nafas panjang.

“Yongri eonni?” Tebak Hara. Siwon hanya diam saja.

“Kali ini apalagi yang eonni lakukan dan menganggu pikiranmu, oppa?” Terdengar nada jengah dalam pertanyaan Hara.

“Dia tidak melakukan apapun.” Kata Siwon tanpa menatap Hara.

“Lalu?”

“Aku bertemu seorang anak kecil perempuan hari ini.” Ujar Siwon.

Hara hanya diam saja seolah menunggu kelanjutan cerita Siwon. Ia yakin bertemu dengan seorang anak kecil tidak akan menjadi beban pikiran untuk Siwon.

“Dia sangat cantik dan juga pintar. Kami berkenalan dan juga berteman.”

Hara tidak bisa menahan tawanya hingga membuat Siwon menatapnya.

“Kau berteman dengan anak kecil? Kau sungguh-sungguh, oppa?” Ejek Hara.

Siwon tersenyum kecil. Ia juga tidak mempercayai apa yang baru saja di lakukannya tadi. Ia mengajak seorang anak kecil berteman.

“Dia pandai berbicara dan dari semua yang ada pada dirinya, aku menyukai matanya.” Aku Siwon.

“Kenapa?” Tanya Hara.

Karena matanya sama seperti mata Yongri.‘ Jawab Siwon di dalam hati.

Siwon menghela nafas dan mengabaikan pertanyaan Hara.

“Dan kau tahu? Dia adalah anak Yongri.” Kata Siwon dengan tersenyum tidak percaya.

“Apa?” Hara juga terlihat tidak percaya.

“Dari sekian banyak anak kecil di dunia ini, kenapa harus Yongri? Kenapa aku harus bertemu anak Yongri dan merasa nyaman pada anak itu?” Tanya Siwon lebih kepada dirinya sendiri.

“Kau yakin dia anak Yongri eonni?”

“Ya. Aku melihat anak itu berada di pangkuan Yongri dan memeluk Yongri dengan erat.”

Hara menutup mulutnya dan tidak tahu harus berkomentar seperti apa. Ia benar-benar merasa takdir mempermainkan Siwon dan Yongri.

“Ketika aku bertanya siapa yang mengajarinya hingga ia pintar berbicara, ia menjawab bahwa ayahnya yang mengajarinya. Dan saat ia menyebutkan kata ‘ayah’ matanya terlihat berbinar.” Ujar Siwon sembari mengingat bagaimana cantik dan lucunya Siyong.

“Oppa..”

“Kenapa semua ini terjadi padaku, Hara-ya? Kenapa di saat aku membenci Yongri, selalu saja ada yang membuat perasaanku menjadi kacau? Kenapa seperti ini?” Keluh Siwon.

“Kau tahu kenapa aku sangat menyukai matanya?” Tanya Siwon pada Hara. Hara hanya menggelengkan kepalanya.

“Karena matanya sangat mirip dengan mata Yongri. Aku tidak ingin mengakuinya, tetapi itulah yang aku rasakan.” Jawab Siwon.

Hara berdiri dan menghampiri Siwon. Ia mengusap bahu Siwon dengan pelan seolah ingin menenangkan pria itu.

“Kau tidak membencinya, oppa. Kau mencintai Yongri eonni.” Ucap Hara.

“Aku membencinya, Hara-ya. Aku membencinya di setiap tarikan nafasku. Aku benci setiap kali mengingat apa yang telah dilakukannya padaku.” Balas Siwon. Suaranya terdengar terluka.

“Oppa..” Hara menggeser kursi Siwon hingga pria itu menatapnya.

“Kau tidak membencinya. Percayalah padaku. Jika kau memang membencinya, kau tidak akan pernah mau bekerja sama dengannya. Kau pasti akan melakukan apapun untuk menghancurkannya. Tetapi apa yang kau lakukan?”

“Kau membiarkannya berada di dekatmu. Kau tahu jika kalian bekerja sama, kalian akan sering bertemu. Tetapi kau membiarkannya. Kenapa? Karena jauh di dalam hatimu, kau masih sangat mencintainya. Kau merindukannya dan selalu ingin melihatnya.” Jelas Hara.

Siwon mengusap wajahnya dengan frustasi. Seharusnya ia bisa membantah setiap ucapan Hara. Tetapi lidah Siwon seolah tidak bisa bergerak sama sekali. Kenapa semua ucapan Hara terdengar masuk akal ditelinganya?

“Dia meninggalkanku.” Lirih Siwon.

“Aku tahu, oppa. Tetapi bisakah kau mendengarkanku sekali saja?” Pinta Hara.

Gagal sudah niatnya yang ingin membicarakan apa yang baru saja dikatakan oleh Hanna. Masalah Siwon lebih penting daripada pernikahan mereka.

Siwon mendongak dan menatap Hara.

“Temui eonni dan tanyakan padanya, kenapa dia meninggalkanmu.” Saran Hara.

Siwon menatap mata Hara dan benar-benar terlihat bimbang. Bisakah ia melakukannya? Bisakah ia menanyakan hal itu pada Yongri?

Bagaimana jika jawaban Yongri akan mengecewakannya? Bagaimana jika jawaban Yongri akan membuatnya terluka? Siwon benar-benar tidak sanggup jika harus terluka untuk kedua kalinya.

——

Siyong belum terlalu bisa membaca, sehingga ia tidak tahu siapa yang sedang menghubungi ponsel Yongri saat ini. Tetapi saat melihat sebuah foto yang sangat dikenalnya, bocah itu tersenyum senang sebelum akhirnya menjawab telepon tersebut.

Yongri-ya..

“Halmoni!”

Siyong? Astaga, benarkah ini cucuku yang menjawab telepon?

“Ya, halmoni. Ini aku.” Siyong memegang ponsel dengan kedua tangan mungilnya dan tersenyum.

Oh, sayangku. Aku benar-benar merindukanmu. Apa kabarmu?

“Aku baik, halmoni. Bagaimana dengan kau sendiri? Haraboji? Donghwa ahjussi?”

Kami semua baik, sayang. Apa kau merindukan kami?

“Eung! Aku sangat merindukan kalian. Aku ingin bertemu dengan kalian.”

Tenang saja. Sebentar lagi kita akan bertemu. Dimana ibumu, nak?

“Sebentar, halmoni. Aku akan memanggilkannya.”

Siyong menjauhkan ponsel dari telinganya dan berlari untuk mencari keberadaan Yongri.

“Eomma! Eomma!” Teriak Siyong.

“Hei, ada apa? Kenapa teriak-teriak?” Tanya Yongri yang baru saja keluar dari gudang di butiknya.

“Ini, halmoni menghubungimu.” Jawab Siyong sembari memberikan ponsel pada Yongri.

Mata Yongri melebar dan langsung menerima ponsel dari Siyong.

“Eommonim.”

Anakmu itu benar-benar pintar, kau tahu? Aku benar-benar merindukannya.

Yongri tersenyum mendengar ucapan Hyangsook.

“Apa kabarmu, eommonim?”

Aku baik, Yongri-ya. Bagaimana denganmu sendiri?

“Aku juga baik, eommonim.”

Kau tidak sedang sibuk, kan? Ada yang ingin aku katakan padamu.

“Ya, eommonim. Aku tidak sedang sibuk. Ada apa?”

Kau tahu tentang ulang tahun pernikahanku dan ayah Donghae, kan?

“Ya. Tentang makan malam itu?”

Yongri mendengar helaan nafas Hyangsook.

Tidak hanya sekedar makan malam. Kami akan mengadakan pesta.

“Oh, benarkah? Aku akan membantumu menyiapkannya, eommonim.” Yongri tampak tersenyum walaupun Hyangsook tidak bisa melihatnya.

Tidak, sayang. Bukan itu maksudku memberitahumu tentang pesta itu.

“Tidak apa-apa, eommonim. Aku memang akan membantu kalian.”

Apa Donghae tidak mengatakan padamu?

Kening Yongri berkerut. Donghae mengetahuinya?

“Tidak, eommonim. Donghae tidak mengatakan apapun.”

Aku rasa dia bingung bagaimana cara menyampaikannya.

“Ada apa sebenarnya, eommonim?” Tanya Yongri bingung.

Yongri menatap Siyong sebelum akhirnya berjalan menjauhi bocah itu. Untung saja Siyong mengerti dan tidak menyusul Yongri.

Pesta ulangtahun ini bukan keinginanku ataupun ayah Donghae. Tetapi keinginan nenek Donghae.

Tubuh Yongri menegang saat mendengar ucapan Hyangsook. Sudah cukup lama Yongri tidak mengingat wanita paruh baya itu. Walaupun pertemuannya dengan Siwon membangkitkan masa lalu, Yongri mencoba mengubur dengan dalam nama Lee Hanna di dalam pikirannya.

Tetapi saat mendengar Hyangsook mengucapkannya, Yongri tidak menyangka jika semuanya masih terasa sama. Tetap terasa menyakitkan untuknya.

Nenek Donghae akan datang ke Mokpo bersama Siwon.” Lanjut Hyangsook.

“A–ah, benarkah?”

Yongri-ya, aku tahu bahwa ini berat untukmu. Aku juga tidak akan memaksamu untuk datang ke sini. Tetapi sejujurnya aku sangat ingin kau dan Siyong datang. Aku ingin memperkenalkan pada semuanya bahwa kau adalah calon menantu kami.

“Eommonim..” Yongri benar-benar merasa terharu.

Tetapi sekali lagi aku katakan bahwa aku tidak memaksamu. Jika semuanya terlalu menyakitkan untukmu, kau tidak perlu datang. Kau mengerti, kan?

“Ya, eommonim.”

Baiklah, aku hanya ingin mengatakan itu saja. Senang bisa bicara denganmu dan Siyong. Aku berharap bisa bertemu kalian secepatnya.

“Aku juga, eommonim. Sampaikan salamku pada abeonim dan Donghwa oppa.”

Tentu, sayang. Sampai jumpa.

“Sampai jumpa.”

Yongri menjauhkan ponsel dari telinganya dan mencengkram ponselnya. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Seandainya ia menolak undangan Hyangsook, wanita itu pasti akan sangat kecewa. Walaupun ia berkata bahwa ia tidak memaksa Yongri. Namun tetap saja Yongri tahu bahwa Hyangsook mengharapkan kedatangannya.

Tetapi jika Yongri datang ke sana, sudah dapat dipastikan ia akan bertemu Siwon dan Lee Hanna. Bertemu Siwon tidak akan menjadi masalah untuk Yongri.

Namun bertemu Lee Hanna? Siapkah hati Yongri melakukannya?

“Eomma!”

Yongri terlonjak saat Siyong menepuk pahanya. Ia menunduk dan menemukan wajah menggemaskan putrinya.

“Aku merindukan halmoni, haraboji, dan Donghwa ahjussi. Kapan kita akan bertemu mereka?” Tanya Siyong.

Mendengar itu, hati Yongri menjadi semakin bimbang. Jika ia tidak pergi, ia bukan hanya mengecewakan keluarga Donghae, tetapi juga mengecewakan putrinya. Yongri benar-benar merasa bingung.

“Kita akan bertemu mereka secepatnya, sayang.” Jawab Yongri.

“Benarkah?” Mata Siyong terlihat berbinar. Yongri mengangguk.

“Sekarang cari Sora ahjumma dan ajak dia untuk membeli es krim.” Ucap Yongri membuat Siyong merasa senang.

“Siap, eomma!”

——

Siwon sudah berjanji pada dirinya bahwa ia tidak akan mau bertemu dengan Siyong lagi. Tetapi tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ia mengendarai mobilnya dan menuju ke butik milik Yongri.

Siwon memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari bukit Yongri. Ia tidak ingin Yongri menyadari keberadaannya. Tetapi Siwon dapat memastikan jika ia masih bisa melihat dengan jelas siapa yang keluar dan masuk dari sana.

Siwon hanya ingin melihat Siyong seandainya bocah itu keluar dari sana. Ia tidak tahu apa yang menyebabkannya begitu tertarik pada anak itu. Siyong memiliki sesuatu yang membuat Siwon benar-benar merasa nyaman berada di dekatnya.

Siwon menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil. Ucapan Hara dan ucapan Hanna tentang Yongri terus berputar-putar di dalam pikirannya. Ia tidak tahu harus mendengarkan ucapan siapa. Hara, kah? Atau Hanna? Kedua wanita itu berarti di dalam hidup Siwon. Siwon tidak bisa mengabaikan mereka.

Jika seandainya Yongri memang tidak berniat meninggalkan Siwon, lalu apa? Apa yang akan Siwon lakukan? Bukankah semuanya sudah terlalu terlambat? Tidak ada yang bisa Siwon lakukan karena Yongri memiliki Donghae.

Siwon kembali menghela nafas dan menegakkan punggungnya saat melihat Siyong keluar dari butik. Tidak bersama Yongri tetapi bersama seorang perempuan yang pernah Siwon temui di butik Yongri.

Siwon tersenyum saat melihat Siyong yang memegang tangan perempuan itu dan melangkah dengan riang. Rambutnya yang dikuncir ekor kuda bergerak setiap ia melangkah. Benar-benar terlihat menggemaskan.

Siwon keluar dari mobil dan menyebrang jalan. Lagi-lagi ia tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Ia hanya mengikuti kata hatinya untuk menghampiri bocah itu.

“Siyong-ah.” Panggil Siwon.

Seperti dugaan Siwon, bocah itu langsung menoleh dan terlihat terkejut saat melihatnya. Namun kemudian sebuah senyum lebar nampak di wajahnya. Siyong melepaskan tangan perempuan itu dan menghampiri Siwon.

“Ahjussi!” Sapanya.

Siwon berjongkok di depan Siyong dan mengusap kepalanya.

“Apa kabar?” Tanya Siwon.

“Aku baik. Apa yang ahjussi lakukan disini?”

“Hmm, sedang jalan-jalan dan melihatmu.” Dusta Siwon.

“Benarkah? Aku senang bertemu lagi denganmu.” Kata Siyong masih dengan senyum lebar.

“Aku juga. Kau mau kemana?” Tanya Siwon.

“Membeli eskrim.” Jawab Siyong.

“Kalau begitu ahjussi akan membelikanmu eskrim.” Ucap Siwon sembari berdiri.

“Maaf, Anda siapa?” Tanya Sora sembari mencegah Siwon menggandeng tangan Siyong.

“Aku–“

“Ahjussi ini temanku, ahjumma.” Jawab Siyong.

“Teman?” Sora tampak tidak percaya.

“Ya, kami berteman. Ayo, ahjussi.” Ajak Siyong.

“Sebentar, Siyong-ah. Ibumu melarangmu untuk pergi bersama orang asing.” Ucap Sora.

“Dia temanku, ahjumma!” Keluh Siyong.

“Tapi–“

“Kau bisa mengikuti kami dari belakang.” Ujar Siyong dengan ketus.

“Ayo, ahjussi.” Siyong menarik tangan Siwon dan mulai melangkah.

Siwon tersenyum dan menggenggam erat tangan mungil Siyong. Ia melihat langkah Siyong lebih riang daripada sebelumnya. Dan ia benar-benar merasa sangat senang.

Siwon benar-benar tidak menyangka jika bersama seorang anak kecil seperti ini saja meringankan hatinya. Ia seolah melupakan semua masalah yang dihadapinya. Dan ia juga tidak ingin memikirkan apapun saat ini. Selain menikmati waktunya bersama Siyong.

“Kau mau pesan rasa apa?” Tanya Siwon sembari menunduk.

Ia melihat bocah itu sedang mendongak dan melihat berbagai gambar eskrim yang berada di dinding atas. Siwon berinisiatif untuk menggendongnya sehingga memudahkan Siyong untuk melihat. Siwon tersenyum saat melihat Siyong tersenyum di dalam gendongannya.

“Rasa coklat, ahjussi.” Siwon mengangguk.

“Aku pesan dua eksrim coklat.” Ucap Siwon pada pelayan.

Siwon tidak bisa menutupi rasa senangnya saat merasakan kedua tangan Siyong melingkari lehernya. Persis seperti apa yang Siyong lakukan pada Yongri saat itu.

“Ini untukmu.” Siwon memberikan satu eskrim pada Siyong, kemudian membawanya ke salah satu tempat duduk kosong.

Siwon tampak tidak tertarik pada eskrimnya. Matanya hanya terus terpaku pada Siyong yang tampak menikmati eskrim coklatnya. Tidak memperdulikan mulutnya yang berlepotan oleh coklat.

“Siapa namamu, ahjussi?” Tanya Siyong. Siwon tampak terkejut.

“Bukankah kita sudah berkenalan saat itu?”

“Maaf. Aku melupakan namamu. Aku harus memperkenalkan dirimu pada eomma. Tetapi aku melupakan namamu.”

Entah kenapa Siwon merasa lega saat mendengarnya. Bukankah itu berarti Yongri tidak tahu jika Siyong bertemu dengannya?

“Eum, Siyong-ah.”

“Hmm?”

“Bagaimana jika kita merahasiakan pertemuan kita ini dari ibumu?” Tanya Siwon. Ia melirik pegawai Yongri yang duduk cukup jauh dari mereka.

“Kenapa?” Siyong bertanya balik dengan mata bulatnya. Astaga, Siwon sangat menyukai mata itu.

“Kita buat ini menjadi rahasia kita saja.”

“Tetapi aku tidak pernah berbohong pada eomma.” Gumam Siyong.

“Memiliki rahasia tidak sama dengan berbohong, Siyong-ah.” Ucap Siwon.

“Benarkah?” Siwon mengangguk.

“Kau tidak perlu mengatakan apapun pada ibumu tentangku. Dengan begitu kau tidak akan berbohong, kan?”

Siyong menatap Siwon dengan kedua matanya yang berkedip pelan.

“Lalu bagaimana jika aku ingin bertemu denganmu?” Tanya Siyong.

“Aku akan menemuimu.” Jawab Siwon.

“Bagaimana caranya?” Tanya Siyong lagi.

“Serahkan padaku. Aku pasti bisa menemukanmu dimana saja.” Ucap Siwon sembari mencubit pelan pipi Siyong.

“Apa aku juga tidak boleh mengatakan pada eomma jika kau membelikanku eskrim?”

Siwon mengangguk.

“Kau tidak perlu mengatakan apapun. Minta juga pada ahjumma itu untuk tidak mengatakan apapun. Kau mengerti, kan?”

“Aku mengerti.” Siyong mengangguk dengan semangat.

“Anak pintar.” Puji Siwon.

“Habiskan eskrimmu. Apa kau ingin eskrim milikku?”

“Bolehkah?”

“Tentu saja. Ambil ini.” Siwon memberikan eskrim miliknya pada Siyong.

Siwon menopang dagunya yang menatap Siyong yang menikmati eskrimnya. Ia tidak akan pernah merasa bosan untuk menatap bocah itu. Siwon tahu jika ia sudah terikat pada anak ini.

——

Yongri terkejut ketika ia berbalik dalam tidurnya dan menemukan Donghae yang berbaring di atas tempat tidurnya. Saat ia menaikkan pandangannya, ia menemukan wajah pria itu yang sedang tersenyum sembari menatapnya.

“Selamat pagi.” Sapa Donghae.

“Kau sudah pulang?!” Yongri tidak percaya dengan penglihatannya.

“Tentu saja. Jika aku belum pulang, bagaimana bisa aku berbaring disini?”

“Kenapa tidak mengabariku?!” Omel Yongri.

“Surprice?” Ucap Donghae sembari terkekeh.

Yongri memukul dada Donghae dan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia merasakan Donghae mengikuti apa yang dilakukannya.

“Kapan kau sampai dan siapa yang membukakan pintu tuntukmu?” Tanya Yongri.

“Semalam. Bibi Kim yang membukakan pintu untukku. Untung saja saat itu ia sedang berada di dapur, kalau tidak–“

“Kau akan berdiri semalam di depan rumah.” Sela Yongri dengan tertawa senang. Donghae melotot dan mendorong pelan kepala Yongri.

“Kalau tidak aku akan kembali ke apartementku.” Ujar Donghae sembari menjulurkan lidahnya.

Yongri berpura-pura ingin memukul kepala Donghae sehingga membuat Donghae menjauh. Kemudian Donghae menarik Yongri ke dalam pelukannya dan mereka tertawa bersama.

“Aku merindukanmu.” Gumam Donghae.

Yongri tersenyum dan melepaskan pelukan Donghae. Mengabaikan tatapan protes dari kekasihnya itu.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun tentang pesta ulang tahun pernikahan orangtuamu?” Tanya Yongri.

Mata Donghae melebar dan ia terlihat benar-benar terkejut karena Yongri mengetahuinya.

“B–bagaimana kau bisa tahu?”

“Ibumu yang mengatakannya padaku.” Ucap Yongri.

Donghae menghela nafas dan terlihat merasa bersalah.

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan semua itu padamu. Aku tidak ingin membuatmu tertekan.”

“Aku baik-baik saja, Donghae-ya. Seharusnya kau mengatakannya padaku. Aku benar-benar terkejut saat mendengar semua itu dari ibumu.”

“Maaf.” Sesal Donghae.

“Kau tidak perlu datang, Yongri-ya. Aku akan menjelaskan semuanya pada orangtuaku. Mereka pasti akan mengerti.” Kata Donghae.

“Kenapa aku tidak perlu datang?” Tanya Yongri.

“Di sana ada nenek–“

“Apakah aku berbuat salah pada nenekmu? Kenapa aku perlu menghindar darinya? Tidakkah kau pikir dia yang seharusnya takut saat melihatku?” Tukas Yongri.

Donghae kembali menghela nafas dan menggenggam kedua tangan Yongri.

“Aku tahu. Tetapi kau juga tahu bagaimana nenekku. Kau sangat tahu dia orang yang seperti apa. Aku hanya tidak ingin dia menghinamu. Karena jika itu terjadi, aku mungkin akan benar-benar melupakan jika dia adalah ibu dari ibuku.”

“Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, tetapi aku akan datang.” Tegas Yongri sembari tersenyum.

“Kau yakin?”

Yongri mengangguk.

“Aku tidak ingin mengecewakan orangtuamu. Lagipula Siyong sangat merindukan mereka.” Kata Yongri.

Donghae mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Yongri.

“Aku akan menjagamu di sana. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghinamu. Tidak nenekku ataupun Siwon.” Janji Donghae.

Mendengar nama Siwon membuat perasaan Yongri menjadi kacau. Ia tidak tahu kenapa pria itu masih saja mempengaruhi seluruh organ vital di dalam dirinya. Yongri pikir, ia sudah benar-benar melupakan pria itu dari dalam hatinya. Tetapi ia salah.

Melamunkan Siwon membuat Yongri tidak sadar jika Donghae sedang mendekatkan wajahnya saat ini. Saat ia tersadar, bibir Donghae hampir mencapai bibirnya. Tiba-tiba ia mendorong bahu Donghae hingga membuat pria itu terkejut. Yongri pun cukup terkejut dengan apa yang dilakukannya.

“Ada apa?” Tanya Donghae.

Yongri menjauh dari Donghae dan berdiri. Ia memaksakan senyumnya pada pria itu. Ada rasa bersalah saat melihat wajah Donghae yang tampak kecewa.

“A–aku harus mandi dan bersiap untuk bekerja.” Kilah Yongri.

“Tetapi aku merindukanmu.” Ucap Donghae.

“Aku tahu. Tetapi ada pekerjaan di butik yang harus segera aku selesaikan.” Balas Yongri dan kemudian segera meninggalkan Donghae ke kamar mandi. Mengabaikan helaan nafas panjang pria itu yang tertangkap oleh telinganya.

——

“Selamat datang.” Ucap Yongri sembari tersenyum saat mendengar pintu butiknya terbuka.

Ia yang sedang membantu pegawainya merapikan patung-patung segera berbalik untuk menyambut tamunya. Senyum di wajahnya menghilang saat melihat kehadiran Siwon di sana. Kali ini pria itu datang seorang diri.

“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau selalu seperti itu saat menyambut tamu yang datang?” Sindir Siwon.

Yongri mengalihkan pandangannya sebentar untuk mengatur ekspresi wajahnya, sebelum akhirnya kembali menatap Siwon dengan tersenyum.

“Selamat datang di Carlene Boutique, Presdir Choi.” Ucap Yongri.

“Hyunji-ssi, tolong layani Presdir Choi dengan baik.” Kata Yongri sembari menatap salah satu pegawainya.

“Baik, nyonya.” Jawab Hyunji seraya berdiri dan mendekati Siwon.

“Tidak perlu. Aku ingin pemilik butiklah yang melayaniku.” Tukas Siwon.

Yongri yang sudah berbalik untuk pergi, terpaksa menghentikan langkahnya. Ia kembali menatap Siwon yang masih setia menatapnya.

“Kenapa Anda selalu ingin saya yang melayani Anda?” Tanya Yongri tanpa menghilangkan senyumnya.

“Bukankah pelayanan dari pemilik butik akan lebih memuaskan untukku?” Balas Siwon.

Yongri menahan dirinya untuk tidak mendengus di hadapan Siwon. Ia mencoba bersabar dan mengikuti keinginan Siwon.

“Kau bisa kembali bekerja, Hyunji-ssi.” Perintah Yongri.

“Baik, nyonya.”

Yongri menambah langkahnya untuk mendekati Siwon.

“Pakaian seperti apa yang sedang Anda cari, presdir?” Tanya Yongri.

Ia melihat Siwon mulai berkeliling dan tidak ada yang dapat Yongri lakukan selain mengikuti pria itu dari belakang. Yongri menatap bahu lebar dan punggung tegap Siwon. Ia sering bersandar di sana saat masih menjadi istri Siwon. Ia mengingat dengan jelas betapa nyamannya berada di sana.

“Apa yang kau lihat?”

Yongri terkesiap saat Siwon tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik. Hampir saja ia menabrak dada pria itu. Dengan cepat Yongri melangkah mundur untuk menjauhi Siwon.

“Apa?” Sahut Yongri. Ia tidak terlalu mendengar apa yang baru saja Siwon katakan.

“Carikan beberapa gaun yang pas untuk tunanganku. Kau mengenalnya dengan baik dan mengetahui ukuran badannya, kan? Kau juga tahu selera Hara.” Kata Siwon.

Yongri menghela nafas dan berdeham pelan.

“Sebagai tunangannya, bukankah Anda mengetahui semuanya dengan lebih baik?” Tanya Yongri.

“Tentu saja. Aku mengetahui semuanya dengan baik. Aku bahkan mengingat dengan jelas bentuk dan ukuran tubuhnya.” Jawab Siwon sembari tersenyum penuh arti.

Yongri menatap Siwon dalam diam. Apa maksud jawaban pria itu? Dan kenapa ia merasa tidak nyaman saat mendengarnya?

——

Tujuan sebenarnya Siwon datang ke butik Yongri adalah karena ia mempertimbangkan saran Hara untuk berbicara dengan wanita itu. Ia ingin menanyakan alasan sebenarnya kenapa mantan istrinya itu meninggalkannya dulu.

Walaupun Siwon merasa takut, tetapi ia ingin mencobanya. Ia ingin mencoba peruntungan terakhirnya dan berharap jika Yongri melakukan semuanya dengan terpaksa. Bahwa wanita itu juga terluka karena berpisah darinya.

Tetapi saat ia memasuki butik itu dan melihat wajah Yongri, tiba-tiba saja sisi egoisnya mencegah Siwon melakukan semua itu. Ia tidak ingin harga dirinya terluka seandainya Yongri berkata jika ia tidak pernah mencintainya.

Karena ketika Yongri meninggalkannya saat itu, Siwon berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan mengizinkan siapapun untuk melukainya lagi. Ia menutup hatinya dengan rapat untuk cinta maupun luka.

Karena itulah pada akhirnya Siwon kembali harus berpura-pura jika kedatangannya ke sana adalah untuk membelikan gaun untuk Hara. Ia ingin membuat matanya puas saat melihat wajah Yongri yang tidak nyaman ketika ia membahas tentang Hara.

“Aku tidak perlu menjelaskan padamu bagaimana aku mengetahui bentuk dan ukuran badan Hara, kan?” Tanya Siwon berpura-pura malu.

Siwon bersumpah demi orangtuanya bahwa ia tidak mengetahui apapun tentang tubuh Hara. Ia tidak pernah menyentuh tubuh Hara selain merangkul pinggangnya di saat mereka menghadiri acara formal bersama.

Tetapi jika seseorang bertanya padanya tentang Yongri, maka Siwon akan menjawabnya dengan lancar. Ia mengetahui semua tentang wanita itu. Semuanya, kecuali tentang perasaan Yongri padanya dan alasan Yongri meninggalkannya.

“Tentu saja saya tidak berniat mengetahuinya, presdir. Karena Anda mengetahui semuanya dengan jelas, saya pikir akan lebih baik jika Anda yang memilihnya sendiri. Tunangan Anda pasti akan merasa senang jika mengetahuinya.” Jawab Yongri.

Siwon mempertahankan senyum diwajahnya. Ia tidak ingin terpancing oleh jawaban Yongri dan mempermalukan dirinya sendiri dihadapan wanita itu.

“Sayangnya aku tidak terlalu mengerti mengenai gaun wanita. Ah, untuk memudahkanmu, gaun itu akan dipakainya saat kami berbulan madu di Hawai. Apa kau sudah mendapatkan gambarannya?” Ucap Siwon.

Ia melihat mata Yongri yang bergerak gelisah saat menatapnya. Jelas bahwa wanita itu sangat terganggu saat mendengar ucapannya.

“Karena kau sudah menghabiskan begitu banyak uang untuk menjadi seorang designer, kau pasti mempelajarinya dengan baik, kan?”

“Ah, aku lupa. Uang yang kau gunakan bukan uangmu. Kau menggunakan uang orang lain untuk kepentingan pribadimu. Yah, kau mungkin tidak terlalu menghargainya.” Kata Siwon sembari menyentuh koleksi pakaian Yongri secara bergantian.

“Apa sebenarnya tujuanmu datang ke sini, Choi Siwon?”

Gerakan tangan Siwon terhenti saat mendengar Yongri menyebut matanya. Dengan perlahan ia mengalihkan pandangannya pada wanita itu. Dari sudut matanya, ia melihat Yongri mengepalkan kedua tangannya.

“Choi Siwon?” Desis Siwon.

“Ya. Choi Siwon.”

“Aku tidak pernah mengizinkanmu untuk menyebutkan namaku lagi menggunakan mulutmu, semenjak kau meninggalkanku.” Ucap Siwon dengan penuh penekanan.

“Ah, benarkah? Kau tidak pernah mengatakannya padaku. Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Apakah suaraku saat menyebutkan namamu membuatmu tidak bisa melupakanku, Choi Siwon?” Balas Yongri sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

“Tutup mulutmu, Choi Yongri.” Siwon terlihat benar-benar marah.

“Kau selalu menyuruhku ini dan itu. Apa kau lupa jika aku bukan istrimu lagi? Aku tidak harus mengikuti setiap perintahmu.” Dengus Yongri.

“Kesalahanmu karena kau datang ke sini dan mencoba untuk mengintimidasiku. Kenapa? Kau berharap aku cemburu dengan berita pernikahanmu dan Hara? Jangan bermimpi, Siwon-ah. Aku harap kau tidak lupa jika aku memiliki Donghae dan kami juga akan menikah. Kau hanya masa lalu untukku.” Yongri menekankan setiap kata di kalimat terakhirnya.

“Jika kau sudah selesai, pintu keluarnya di sebelah sana. Dan sampai bertemu di Mokpo dua hari lagi.” Ucap Yongri dengan tersenyum sinis dan berjalan meninggalkan Siwon.

Siwon menatap kepergian Yongri dengan kedua tangan yang terkepal erat. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Tanpa bertanya, ia sudah mengetahui alasan Yongri meninggalkannya. Wanita itu tidak mencintainya.

Yongri tidak pernah mencintainya.

——

Siyong masuk ke dalam butik setelah Donghae mengantarkannya pulang dari tempat bermain. Walaupun ia merasa sedikit kecewa karena Donghae tidak bisa ikut turun–karena masih memiliki pekerjaan–Siyong tetap merasa senang karena Donghae sudah pulang dari Jepang.

Kesenangannya bertambah saat mengingat jika besok mereka akan pergi ke Mokpo untuk bertemu dengan keluarga  Donghae. Ia tidak harus pergi ke tempat bermain dan mendapatkan ejekan dari teman-temannya karena tidak memiliki ayah.

“Dimana eomma?” Tanya Siyong pada  pegawai Yongri.

“Di atas.” Jawab mereka.

Siyong mengangguk dan melangkah riang menaiki tangga untuk menuju ke ruangan Yongri. Ia berpegangan pada pegangan tangga agar tidak terjatuh. Mengingat kakinya masih sangat pendek untuk melangkah dengan lebar.

“Eomma?” Panggil Siyong saat sudah berada di lantai atas.

Biasanya Yongri akan keluar dari ruangannya dan menyambutnya dalam sebuah pelukan.

“Eomma?” Panggilnya lagi.

Tetapi Yongri tidak keluar dari manapun setelah Siyong memanggilnya beberapa kali.

“Dimana eomma?” Gumamnya.

Siyong mendekati ruangan Yongri dan membuka pintunya dengan susah payah. Kepalanya menyembul ke dalam untuk mencari sosok Yongri. Namun ia tidak menemukan siapapun di sana.

“Eomma?” Panggilnya untuk kesekian kali.

Siyong hampir saja meninggalkan ruangan Yongri jika ia tidak mendengar suara tangisan di sana. Ia sempat terlonjak dan menatap ke kanan dan kiri. Mencari suara tangis itu berasal.

Rasa takutnya hilang saat melihat sosok Yongri yang sedang meringkuk di sudut ruangan sembari menutup kedua wajahnya menggunakan tangan. Bahu ibunya itu bergetar hingga membuat Siyong yakin jika yang sedang menangis saat ini adalah wanita itu.

“Eo–eomma?” Lirih Siyong.

Siyong melangkah dengan pelan untuk mendekati Yongri. Semakin dekat, semakin nyata pula suara tangis yang didengarnya. Hal itu membuat Siyong tidak bisa menahan airmata yang hendak mengalir diwajahnya. Melihat Yongri menangis entah kenapa membuatnya sedih.

“Eomma..” Panggil Siyong.

Airmata Siyong semakin banyak mengalir ketika melihat Yongri menjauhkan tangan dari wajahnya dan menatap Siyong. Bocah itu melihat wajah Yongri basah oleh airmata.

“K–kenapa menangis?” Tanya Siyong dengan sesegukkan. Yongri nampak terkejut dengar kehadiran Siyong.

“Tidak, sayang. Eomma tidak menangis.” Ucap Yongri sembari menyeka airmatanya.

“Aku bisa melihatnya, eomma. Kau menangis.” Isak Siyong. Ia berdiri di hadapan Yongri.

“Oh, sayang.” Lirih Yongri sembari menarik Siyong ke dalam pelukannya. Airmatanya kembali mengalir diwajahnya.

“J–jangan menangis, eomma.” Ucap Siyong sembari melepaskan pelukan Yongri. Ia menyeka airmata diwajah Yongri.

“Siapa yang membuat eomma menangis?” Tanya Siyong. Yongri hanya menggelengkan kepalanya.

“Apa eomma bertengkar dengan Donghae ahjussi? Donghae ahjussi yang membuat eomma menangis?” Tebak Siyong.

“Tidak, sayang. Eomma tidak bertengkar dengan Donghae ahjussi.” Bantah Yongri.

“Lalu, kenapa? Jika eomma menangis, aku merasa sedih.” Ujar Siyong dengan suara parau.

Yongri menyeka airmata diwajah Siyong dan mengusap pipi tembam bocah itu.

“Kemarilah, sayang. Peluk eomma.” Pinta Yongri.

Siyong melingkarkan tangannya di leher Yongri. Sesekali ia masih sesegukkan karena menangis.

“Maafkan eomma. Eomma pasti membuatmu khawatir.” Bisik Yongri. Siyong mengangguk di dalam pelukan Yongri.

“Jangan lakukan itu lagi, eomma. Jangan menangis seorang diri. Kau bisa memintaku menemanimu jika kau ingin menangis.” Ucap Siyong.

Yongri mengeratkan pelukannya pada Siyong dan memberikan kecupan pelan pada pelipis putrinya itu. Benar-benar sebuah keberuntungan karena ia memiliki Siyong sebagai putrinya.

“Eomma menyayangimu.”

“Aku juga sayang padamu, eomma.”

——

Donghae, Yongri, dan Siyong telah sampai di Mokpo kemarin siang. Malam ini pesta ulang tahun pernikahan orangtua Donghae akan di adakan di rumah mereka. Persiapan telah dilakukan sejak pagi agar acara menjadi sempurna. Mengingat Donghae adalah seorang artis, maka pesta malam ini akan menarik perhatian media.

Yongri telah mendandani Siyong dengan begitu cantik. Bocah itu menggunakan gaun layaknya seorang putri. Gaun itu sendiri dibuat khusus oleh Yongri untuk acara ini. Ia merasa puas saat melihat putrinya itu tampak begitu senang dengan gaunnya.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Donghae saat berada di depan Yongri.

Yongri terkejut dan tidak menyadari kehadiran Donghae. Ia melihat kekasihnya itu sudah tampak rapi dan begitu tampan dengan pakaian formalnya. Yongri merapikan dasi kupu-kupu yang dipakai Donghae.

“Siyong terlihat senang dengan gaunnya. Karena itu aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya.” Jawab Yongri.

“Apa aku juga tidak bisa mengalihkan perhatianmu?” Goda Donghae. Yongri menatap pria itu dan memukul pelan perutnya.

“Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatianku dari Siyong. Termasuk dirimu.” Tegas Yongri. Donghae langsung memegang dadanya.

“Ah, aku terluka.” Candanya.

Yongri tertawa dan kembali memukul pria itu.

“Donghae-ya..” Panggil Hyangsook yang sedang menghampiri mereka.

“Ya, eomma?”

“Ikutlah denganku sebentar. Ada yang harus aku bicarakan denganmu dan Siwon.” Ujar Hyangsook sembari menunjuk Siwon yang berada di dekat mereka.

Yongri menatap Siwon sesaat dan kemudian langsung mengalihkan pandangannya dari pria itu. Ia mengingat bagaimana pertemuan terakhir mereka yang membuatnya menangis hebat dan membuat Siyong khawatir.

“Ada apa?” Tanya Donghae setelah menatap Siwon dan kembali menatap ibunya.

“Sebentar saja.” Jawab Hyangsook.

“Baiklah.” Kata Donghae.

“Aku tinggal sebentar.” Ucap Donghae pada Yongri. Yongri mengangguk.

Donghae mengikuti Hyangsook dan Siwon yang telah berjalan lebih dahulu. Ia tidak tahu apa yang hendak dibicarakan ibunya bersama Siwon. Sepertinya tidak ada sesuatu yang perlu mereka bahas bersama. Tetapi Donghae hanya mengikuti apa kemauan ibunya.

Donghae menutup pintu kamarnya setelah mereka masuk ke dalam. Ia melirik Siwon dengan enggan kemudian menatap Hyangsook dengan pandangan bertanya.

“Ada apa, eomma?” Tanya Donghae. Hyangsook mengabaikan Donghae dan menatap Siwon.

“Siwon-ah, jika seandainya malam ini aku mengatakan pada semua orang bahwa Yongri adalah calon istri Donghae, apa kau keberatan?” Tanya Hyangsook membuat mata Siwon dan Donghae melebar.

Kedua pria itu benar-benar terkejut mendengar pertanyaan dari Hyangsook.

“A–apa maksudmu, imo?” Siwon bertanya balik.

“Begini, Donghae dan Yongri akan menikah tahun depan. Aku bermaksud untuk memperkenalkan Yongri sebagai menantuku kepada semua orang. Aku tahu jika hari ini akan ada media yang meliput pesta ini. Dan aku yakin hal ini akan membuat fans Donghae heboh. Aku menanyakan hal ini kepadamu sebagai pemilik agensi. Apakah tidak apa-apa?” Jelas Hyangsook.

Setelah mengerti maksud ucapan Hyangsook, Donghae mengalihkan tatapannya pada Siwon. Ia dapat melihat wajah sepupunya itu tampak memucat. Rahangnya mengeras dan pria itu terlihat marah mendengar penjelasan Hyangsook.

“I–imo..” Lirih Siwon.

“Mungkin hal ini akan mempengaruhi sedikit karir Donghae. Tetapi jika secara tiba-tiba Donghae menikah tahun depan, bukankah hal itu akan lebih membahayakan?” Ujar Hyangsook.

Well, aku setuju denganmu, eomma.” Sahut Donghae. Hyangsook dan Siwon mengalihkan pandangan mereka pada Donghae.

“Aku pikir sudah saatnya aku memperkenalkan Yongri kepada fansku di luar sana.” Kata Donghae.

“Lee Donghae.” Ucap Siwon berusaha untuk menahan geraman dalam suaranya. Tetapi Donghae tetap dapat mendengarnya dengan baik.

“Karena itu aku membutuhkan izinmu, Siwon-ah. Jika kau mengizinkan, aku akan melakukannya.”

Siwon menatap Hyangsook dan benar-benar terlihat bingung. Apa yang harus dilakukannya? Jika ia mengizinkannya, maka Yongri akan benar-benar menikah dengan Donghae. Dan mereka akan hidup bahagia.

Lalu, bagaimana dengannya?

“Bagaimana jika aku tidak mengizinkannya, imo?” Tanya Siwon.

“Ya!” Donghae hendak mendekati Siwon namun Hyangsook menahannya.

“Kenapa kau tidak mengizinkannya?” Tanya Hyangsook.

“A–aku–” Siwon merasa kebingungan untuk mencari alasan.

“Jika semua itu karena alasan pribadi, aku akan menghajarmu!” Bentak Donghae.

“Tenanglah, Lee Donghae!” Tegur Hyangsook.

“Katakan padaku, Siwon-ah.” Pinta Hyangsook.

“Imo, Yongri adalah mantan istriku. Bagaimana bisa Donghae menikah dengannya?” Ucap Siwon.

“Sialan!” Maki Donghae.

“Apa masalahnya jika mereka menikah? Lagipula kau juga akan menikah dengan tunanganmu. Bukankah Yongri juga berhak melanjutkan hidupnya?”

“Kenapa harus Donghae, imo? Jika dia memang ingin melanjutkan hidupnya, dia bisa menikah dengan pria lain. Bukan dengan sepupuku!” Geram Siwon.

“Karena mereka saling mencintai, Siwon-ah. Kau tidak bisa menentang cinta.” Komentar Hyangsook.

“Imo–“

“Bahkan tanpa izinmu aku akan tetap menikahinya!!” Sela Donghae dengan marah.

“Jadi, ini semua hanya karena Yongri adalah mantan istrimu?” Tanya Hyangsook. Siwon mengangguk cepat tanpa sadar.

“Kalau begitu sebagai pemilik agensi, kau bisa mengatasi kekacauan yang mungkin terjadi setelah aku menyampaikan bahwa Yongri adalah calon istri Donghae, kan?” Ucap Hyangsook.

Mata Siwon melebar. Apa maksudnya? Bibinya itu akan tetap mengatakan kepada semua orang bahwa Yongri dan Donghae akan menikah?

“Imo!”

“Jika pada awalnya apa yang hendak aku lakukan ini akan menyusahkanmu sebagai pemilik agensi, aku akan mengurungkan niatku. Tetapi sepertinya kau lebih terganggu karena Yongri adalah mantan istrimu. Dan aku tidak bisa mengurungkan niatku karena itu.” Jelas Hyangsook.

“Imo, sebentar!” Cegah Siwon saat melihat Hyangsook hendak pergi.

Namun Donghae langsung menepis tangan Siwon dan membiarkan ibunya pergi.

“Imo, tidak! Dengarkan aku. Imo!” Teriak Siwon dengan panik.

——

–To Be Continued–

HAI!

Happy reading~

BYE~

Advertisements

54 thoughts on “The Chance – Part 4

  1. Siwon oppa semangat untuk merebut mantan istrimu itu huuffftt semoga yongri maupun siwon matanya sama2 terbuka 😦 dan untuk donghae yasudahlah ya cari wanita lain >_< ko keluarga donghae dengan tidak tau malunya meminta ijin sama siwon? disini yongri egois bgt sih memisahkan siyong dari appa kandungnya 😥

  2. Siwon paboo nya kebangetan yah😂😭 masa dy gak sadar sih kalo siyong itu anakx? Apakah mukax siyong gk mirip sama siwon ya? Kenapa kamu gk jujur ajh sih won kalo kamu tuh sebenar nya masih cinta sama yongri kan😣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s