The Chance – Part 3

Author

Choineke

Title

The Chance

Cast

 Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Lee Donghae, Choi Siyong (OC), Lee Hara (OC), Lee Hanna–Siwon’s Grandmother (OC), and others

Genre

Romance

Length

Chapter

Rating

PG-15

——

–Give me one more chance to be with you again–

——

Author POV

Donghae memasuki ruangan Siwon dengan kesal. Ia membiarkan pintu tetap terbuka dan menghampiri Siwon yang berada di balik meja kerjanya.

“Ada apa?” Tanya Siwon.

“Ada apa?! Aku pikir kau lebih tahu alasanku datang ke sini.” Jawab Donghae dengan kedua tangan di pinggang.

Siwon menghela nafas dan mengabaikan Donghae. Melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kedatangan pria itu secara tiba-tiba.

“Kenapa kau menunda konserku di Seoul dan mengadakan konser di Jepang dalam waktu dua minggu lagi?!” Tanya Donghae.

“Begitu banyak permintaan dari mereka yang ingin kau mengadakan konser di sana.” Jawab Siwon dengan santai.

“Kau pikir aku akan percaya pada ucapanmu?”

“Kau tidak perlu bertanya jika tidak mau mempercayainya.”

“Choi Siwon!” Bentak Donghae.

“Jaga sikapmu saat sedang di kantor, Lee Donghae!” Balas Siwon membentak.

“Disini aku bukan sepupumu yang bisa kau bentak dengan sesuka hatimu! Kau tidak bisa bersikap kurang ajar padaku!” Hardik Siwon.

Donghae mengusap rambutnya dan menghembuskan nafas beberapa kali. Mencoba untuk menghilangkan emosinya. Ia bisa saja memukul Siwon saat ini.

“Bagaimana dengan mereka yang telah membeli tiket konserku? Apa kau tidak memikirkan penggemarku disini?”

“Aku hanya menunda konsermu bukan membatalkannya. Mereka masih bisa menggunakan tiket itu saat datang ke konsermu nanti.” Jelas Siwon.

“Aku tahu bukan itu alasanmu melakukannya.” Ucap Donghae. Siwon hanya diam saja dan tidak membantah ucapan Donghae.

“Kau ingin menjauhkanku dari Yongri, kan?” Tebak Donghae sembari tersenyum sinis.

Siwon masih terus diam seolah membenarkan tebakan Donghae.

“Wah, bagaimana bisa kau bersikap picik seperti ini, Siwon-ah?”

“Berhenti bicara omong kosong dan pergilah.” Kata Siwon.

“Kita sama-sama tahu jika aku tidak berbicara omong kosong, Presdir Choi.” Sindir Donghae.

“Apa kau masih mencintai Yongri?” Tanya Donghae membuat mata Siwon melebar.

“Apa kau tidak waras?!” Siwon segera berdiri dan menatap Donghae dengan marah.

“Jawab pertanyaanku, Siwon-ah. Apa kau masih mencintai Yongri?” Ulang Donghae dengan penuh penekanan.

Siwon mengepalkan kedua tangannya dan matanya terus menatap Donghae. Kenapa semua orang terus menanyakannya tentang perasaannya pada Yongri? Kenapa semua orang ingin tahu tentang perasaannya?

“Aku membencinya.” Jawab Siwon.

“Apa kau tidak mengerti dengan pertanyaanku? Aku tidak bertanya apakah kau membencinya atau tidak. Aku bertanya apa kau masih mencintainya atau tidak!” Geram Donghae.

Siwon mengalihkan pandangannya dan menelan ludahnya dengan susah payah. Seharusnya ia bisa menjawab pertanyaan Donghae dengan cepat. Tetapi Siwon merasa ada sesuatu yang menahan lidahnya.

Namun pada akhirnya Siwon tetap harus menjawab pertanyaan Donghae.

“Aku tidak mencintainya.” Siwon kembali menatap Donghae.

“Jika seperti itu, bersikaplah seperti jawabanmu, Siwon-ah! Jangan pedulikan dia, jangan mencampuri urusannya, dan jangan mengganggu hubungan kami!” Pinta Donghae.

“Sikapmu yang seperti ini membuatmu terlihat menyedihkan, apa kau tahu itu?”

“Apa?” Siwon terkejut mendengar ucapan Donghae.

“Ucapanmu dan sikapmu berbanding terbalik. Kau berkata jika kau tidak mencintainya, tetapi sikapmu mengatakan jika kau masih mencintainya.”

“Tutup mulutmu, Donghae.”

“Tetapi maaf saja, Siwon-ah. Kesempatanmu untuk mencintainya sudah berakhir sejak beberapa tahun yang lalu. Sekarang giliranku untuk membuatnya bahagia.” Ujar Donghae.

Siwon terlihat benar-benar marah mendengar ucapan Donghae. Pria itu bersikap sok tahu tentang perasaannya dan tentang semuanya. Kenapa Donghae harus terlihat bangga karena ingin membuat Yongri bahagia?

“Kau tahu jika hubungan kami tidak akan goyah hanya karena kau menjauhkan kami seperti ini. Karena aku bukan kau yang akan melepaskannya begitu saja dengan mudah.” Ucap Donghae sebelum akhirnya keluar meninggalkan ruangan Siwon.

——

Yongri sedang memasang sebuah pakaian di patung ketika ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan tersenyum saat melihat nama Donghae di sana. Ia menjawab teleponnya dan menghimpit ponselnya diantara telinga dan bahu.

“Selamat pagi.” Sapa Yongri.

Pagi.

Yongri mengernyit saat mendengar nada lesu dalam suara Donghae.

“Ada apa? Apa kau sakit?” Yongri merasa khawatir.

Aku baik-baik saja.

“Lalu, kenapa? Kenapa kau terdengar tidak semangat?”

Tidak ada jawaban apapun dari Donghae dan hanya terdengar helaan nafas pria itu.

“Yah, ada apa? Kau membuatku khawatir.”

Aku akan pergi ke Jepang dua minggu lagi.

“Ke Jepang? Untuk apa? Bukankah kau harus mempersiapkan konsermu?”

Yongri bergeser ke patung lainnya dan memasangkan pakaian yang sudah disediakannya.

Konserku di tunda. Dan aku akan mengadakan konser di Jepang dalam dua minggu lagi.

“Oh, benarkah? Kenapa tiba-tiba seperti itu?” Tanya Yongri.

Siwon yang melakukannya.” Jawab Donghae.

Tangan Yongri berhenti bergerak saat mendengar jawaban Donghae.

Dia ingin menjauhkanmu dariku untuk beberapa saat. Sial.

“Berhenti mengumpat.” Ucap Yongri setelah bisa menenangkan pikirannya.

Aku benar-benar kesal. Dia melakukan apapun sesuka hatinya hanya karena dia pemilik agensi.

“Sudahlah. Bukankah kau sudah sering pergi ke luar negeri dan meninggalkanku?”

Saat ini berbeda, Yongri-ya. Bagaimana jika Siwon melakukan sesuatu padamu saat aku berada di Jepang? Ah, sial! Aku benar-benar ingin memukul wajahnya.

“Apa yang akan dilakukannya padaku? Kau terlalu berlebihan. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku akan baik-baik saja. Lagipula kita masih bisa bersama-sama sebelum kau pergi.” Kata Yongri mencoba menenangkan Donghae.

Walaupun Yongri sebenarnya merasa gusar. Benarkah Siwon berusaha menjauhkan Donghae darinya agar pria itu bisa melakukan apapun padanya?

Kau dimana?

“Aku ada di butik bersama Siyong. Hari ini dia sedang tidak ingin berpisah dariku.”

Ah, benarkah? Bisakah kau memberikan ponselmu padanya? Aku ingin berbicara dengannya.” Suara Donghae terdengar kembali semangat.

“Sebentar.”

Yongri menekan tombol pengeras suara agar ia juga bisa mendengar apa yang Siyong dan Donghae bicarakan.

“Bicaralah, sayang. Ini Donghae ahjussi.” Ucap Yongri.

Siyong yang memang dari tadi mengikuti Yongri terlihat senang.

“Ahjussi?”

Selamat pagi, princess.”

“Selamat pagi, ahjussi.”

Kau sudah sarapan? Apakah kau terlihat cantik hari ini?

“Aku dan eomma sarapan bersama. Dan aku selalu terlihat cantik, ahjussi. Apa kau lupa?” Rajuk Siyong. Terdengar tawa Donghae dari ponsel.

Tentu saja ahjussi tidak lupa, sayang. Kau sedang apa?

“Aku sedang menunggu eomma selesai bekerja. Agar eomma bisa menemaniku bermain.”

Yongri mengusap kepala Siyong dengan sayang.

Apa ibumu mengabaikanmu? Haruskah ahjussi memarahinya?

“Ya!” Sela Yongri.

Siyong tertawa saat melihat Yongri yang merasa kesal karena ucapan Donghae.

“Tidak bisakah ahjussi kemari dan menemaniku bermain?”

“Donghae ahjussi sedang bekerja, sayang.” Ujar Yongri memberi pengertian kepada anaknya.

Ahjussi akan ke sana dan menemanimu bermain, Siyong-ah. Tetapi tidak sekarang. Ahjussi masih memiliki pekerjaan. Ahjussi janji saat jam makan siang nanti, ahjussi akan ke sana dan kita makan siang bersama. Bagaimana?

“Eum! Aku setuju!”

Anak pintar. Jadi, kau tidak boleh mengganggu ibumu bekerja. Mengerti?

“Aku mengerti, ahjussi.”

Sampai bertemu nanti, sayang. Yongri-ya..

Yongri menonaktifkan pengeras suara dan menempelkan ponsel ke telinganya.

“Ada apa?”

Ada beberapa hal yang harus aku urus untuk keberangkatanku nanti. Aku akan ke sana siang nanti.

“Aku mengerti.”

Yongri-ya..

“Hmm?”

Aku mencintaimu.

“Aku tahu, sampai jumpa nanti.”

Yongri memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

“Apa yang Donghae ahjussi katakan?” Tanya Siyong.

“Kenapa kau ingin tahu?”

Siyong hanya mengangkat kedua bahunya.

“Pergilah ke dalam dan minta Sora ahjumma menemanimu bermain.” Ucap Yongri.

“Bolehkah? Aku sudah mengajaknya bermain tadi. Tetapi dia takut eomma memarahinya karena tidak bekerja.” Kata Siyong.

“Katakan padanya jika eomma yang menyuruhnya.”

Yeay! Sora ahjumma! Ayo, bermain!”

“Ya! Jangan berlari!” Teriak Yongri seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.

——

Hara melambaikan tangannya saat melihat Siwon telah datang ke restoran tempat mereka akan bertemu. Ia melihat Siwon tersenyum dan membalas lambaian tangannya sembari menghampirinya. Pria itu melepas kancing jasnya sebelum duduk di depan Hara.

“Sudah lama menunggu?”

“Tidak. Aku juga baru sampai.”

“Maaf, ada sedikit pekerjaan yang tidak bisa aku tinggal.”

“Tidak masalah, oppa. Pesan makanan sekarang?”

Siwon mengangguk kemudian melambaikan tangannya pada pelayan. Mereka segera memesan makanan sesuai keinginan masing-masing. Kemudian pelayan itu meninggalkan mereka berdua.

“Ada apa? Apa ada sesuatu yang serius hingga kau memintaku untuk bertemu?” Tanya Hara sembari menyesap minuman yang telah dipesannya sebelum Siwon datang.

“Kau mau menikah denganku?” Tanya Siwon.

Hara terdiam saat mendengar pertanyaan Siwon. Matanya berkedip beberapa kali seolah tidak mempercayai apa yang baru saja Siwon tanyakan padanya. Namun kemudian ia berdecak pelan.

“Kenapa kau seperti ini akhir-akhir ini, oppa? Saat itu kau mengajakku bercinta. Dan sekarang kau mengajakku menikah.” Gerutu Hara.

“Saat itu aku hanya bercanda, tetapi sekarang aku serius.” Balas Siwon.

“Kenapa tiba-tiba mengajakku menikah? Kau tahu kita sepakat untuk tidak melanjutkan pertunangan ini bukan?”

“Aku tahu. Tetapi aku berubah pikiran. Halmoni–“

“Apa nenekmu yang memintamu melakukannya?” Sela Hara. Siwon mengangguk dan membuat Hara menghela nafas panjang.

“Aku tahu kau menyayangi nenekmu, oppa. Tetapi kau terlalu menuruti setiap keinginannya.” Komentar Hara.

“Kau benar. Tetapi aku sudah memikirkan semuanya dengan matang. Apa yang dikatakan halmoni benar. Aku harus terlihat bahagia di hadapan Yongri.” Ucap Siwon.

“Jadi, semua ini karena Yongri eonni?”

“Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku baik-baik saja setelah ia meninggalkanku.”

“Kau memang baik-baik saja, oppa. Bahkan tanpa menikah denganku, kau baik-baik saja.” Ujar Hara.

“Kau tidak ingin menikah denganku?” Tanya Siwon. Hara menghela nafas panjang.

“Oppa.. Aku nyaman berteman denganmu. Kau sudah seperti seorang kakak untukku. Menurutmu bagaimana bisa aku menikahi kakakku sendiri? Aku tidak ingin hubungan kita canggung jika kita menikah nanti. Aku tidak mau kehilanganmu.” Jawab Hara.

Siwon menghela nafas panjang dan menyetujui jawaban Hara. Ia juga sudah mengganggap Hara seperti adiknya. Ia juga tidak ingin menikahi Hara. Tetapi Siwon lagi-lagi memikirkan ucapan Hanna.

Siwon kembali menghela nafas sembari menatap datar pada makanan yang baru saja diantarkan oleh pelayan. Kenapa ia harus merasa frustasi seperti ini?

“Oppa.. Kenapa kau seperti ini? Jika memang Yongri eonni bahagia bersama Donghae oppa, kenapa kau ingin memisahkan mereka? Kenapa kau tidak ingin melihat mereka bahagia. Biar bagaimanapun Donghae oppa adalah saudaramu.” Ujar Hara.

“Kau tidak mengerti, Hara-ya.” Ucap Siwon dengan pelan.

“Yongri adalah wanita yang sangat aku cintai dulu. Aku menyerahkan seluruh hatiku padanya. Tetapi dia mengkhianatiku. Dia meninggalkanku begitu saja. Kau pikir bagaimana perasaanku saat melihatnya kembali muncul dengan kebahagiaannya sendiri?”

“Bukankah itu berarti kalian tidak berjodoh?” Komentar Hara.

Hara mengambil sumpitnya dan siap untuk menyantap makan siangnya, sebelum Siwon tiba-tiba menggenggam tangannya hingga membuat Hara terkejut.

“Hara-ya, aku tidak akan memaksamu untuk menikahiku. Tetapi kau harus membantuku melakukan sesuatu.” Pinta Siwon. Hara menjilat bibirnya.

“Melakukan apa?” Tanya Hara dan Siwon hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

——

Siyong menatap beberapa temannya yang yang datang diantar oleh ayah dan ibu mereka. Ia melihat teman-temannya itu mendapatkan kecupan penuh sayang dipipi mereka dari ayah mereka tersebut. Melihat mereka saling melambaikan tangan dengan sebuah senyum diwajah mereka.

Siyong menundukkan kepalanya. Ia sering melakukan hal itu dengan Donghae. Tetapi Donghae bukan ayahnya. Donghae akan menjadi ayahnya, jika pria itu menikah dengan ibunya. Setidaknya itu Yongri katakan padanya.

Hanya saja Siyong tidak tahu kapan tepatnya hal itu akan terjadi. Ia tidak tahu kapan Donghae akan benar-benar menjadi ayahnya. Ia ingin memanggil pria itu dengan sebutan ‘appa’ bukan ‘ahjussi’ lagi.

“Siyong-ah.”

Siyong mendongak dan melihat beberapa temannya berdiri dihadapannya.

“Kenapa kau hanya berdiri saja di sana? Apa yang sedang kau lihat? Apa kau sedang menatap ayah kami?”

“Apa aku tidak boleh menatap ayah kalian?” Siyong bertanya balik.

“Karena kau tidak memiliki ayah, kau boleh melakukannya.” Jawab temannya dan membuat yang lain tertawa.

Siyong menatap mereka dengan kedua mata bulatnya yang terus berkedip. Ia merasa tidak ada yang lucu disini. Merasa aneh karena teman-temannya tertawa dengan begitu bahagia.

“Apa yang kalian tertawakan?” Tanya Siyong.

“Kau yang tidak memiliki ayah.” Jawab mereka.

“Aku memiliki ayah.” Ucap Siyong.

“Benarkah? Dimana ayahmu? Kenapa dia tidak pernah mengantarmu ke tempat ini?”

“Dia sering mengantarku ke sini bersama ibuku.”

“Kau tidak boleh berbohong. Kami mendengar kau memanggilnya dengan sebutan ahjussi.”

“Dia akan menjadi ayahku sebentar lagi!” Balas Siyong sembari mencengkram rok yang dipakainya.

“Siyong seorang pembohong dan dia tidak memiliki ayah.” Ejek temannya dan berlalu meninggalkannya masih dengan menertawainya.

Siyong menatap mereka dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak menangis. Namun Siyong tidak bisa menahan dirinya dan membiarkan airmata membasahi wajahnya.

——

Yongri mengambil sebuah pensil dan kertas di atas meja kerjanya. Inspirasi di dalam kepalanya selalu datang secara tiba-tiba dan Yongri harus bergerak cepat untuk menuangkannya inspirasinya tersebut ke dalam sebuah gambar.

Terkadang Yongri merasa tangannya bergerak sendiri untuk membentuk sebuah pakaian yang akan dibuatnya nanti. Ia masih tidak mempercayai dirinya yang ternyata cukup berbakat di bidang fashion. Karena selama ini menjadi seorang designer tidak ada di dalam mimpi Yongri.

“Nyonya Choi..”

Yongri mendongak dan melihat pegawainya berdiri di dekat pintu ruang kerjanya.

“Ada apa?” Tanya Yongri dan kembali mencoret-coret kertas di atas meja.

“Ada tamu yang datang dan ingin Anda melayani mereka secara langsung.” Jawab pegawainya.

“Siapa?”

“Mereka tidak menyebutkan nama, nyonya. Mereka hanya ingin saya segera memanggil Anda untuk menemui mereka.”

“Mereka?” Ulang Yongri.

“Sepertinya sepasang kekasih.” Tebak pegawainya walaupun terdengar tidak yakin.

Yongri tampak memikirkan siapa sepasang kekasih itu. Tidak biasanya ada pelanggan yang datang dan ingin dilayani langsung olehnya. Ia memperkerjakan pegawai yang pandai dalam melayani pelanggan.

“Aku akan segera turun.” Ucap Yongri.”

“Baik, nyonya.”

Yongri menyelesaikan gambarnya dengan cepat dan sedikit acak-acakan. Ia akan memperbaiki gambar itu nanti. Paling tidak bentuk dari pakaian itu sudah terlihat dan tidak akan membuatnya lupa.

Merapikan pakaiannya, ia segera meninggalkan ruangannya dan turun ke bawah. Semoga saja pelanggannya ini tidak mengecewakannya setelah memintanya untuk melayani.

Langkah Yongri terdengar mantap dari alunan hak sepatunya yang terdengar teratur. Namun tiba-tiba langkahnya memelan saat ia melihat siapa pelanggan yang dimaksudkan oleh pegawainya tadi. Ia seolah tidak mempercayai matanya, tetapi Yongri yakin bahwa ia tidak salah melihat.

Siwon datang bersama tunangannya. Lee Hara.

“Ah, Carlene-ssi. Senang bertemu denganmu lagi.” Sapa Siwon dengan sebuah senyum sinis.

Yongri ingin balas tersenyum, tetapi ia merasa bibirnya terasa kaku untuk bergerak. Ia tetap melanjutkan langkahnya untuk mendekati sepasang kekasih itu.

“Presdir Choi.” Balas Yongri. Kemudian matanya beralih pada Hara.

“Eonni..” Ucap Hara.

Wajah Hara terlihat merasa bersalah. Tetapi Yongri tidak tahu kenapa perempuan itu harus merasa bersalah. Memangnya apa yang dilakukannya?

“Hei, kau tidak boleh memanggilnya seperti itu, Hara-ya. Dia sekarang seorang designer terkenal.” Tegur Siwon.

Yongri tersenyum kecil dan matanya tidak sengaja menangkap tangan Siwon yang merangkul pinggang Hara dengan begitu mesra. Dan sepertinya saat Siwon tahu bahwa Yongri melihatnya, pria itu mengeratkan rangkulannya.

Yongri berdeham pelan sebelum akhirnya menatap mereka secara bergantian. Ia memberikan senyum terbaiknya.

“Saya sudah memperkerjakan pegawai yang sangat berkompeten dalam hal melayani. Saya yakin kalian tidak akan merasa kecewa dengan pelayanan mereka. Katakan saja apa keinginan kalian, pegawai saya akan melakukan yang terbaik.” Ucap Yongri.

“Sora–ssi.” Panggil Yongri sembari menoleh.

“Akan lebih baik jika kau yang melayani kami, Carlene-ssi.” Sela Siwon.

Yongri kembali menatap Siwon. Dan ia tidak bisa mengabaikan jantungnya yang berdetak dengan begitu kencang.

Yongri kembali menghela nafas dan memaksakan senyumnya. Baiklah. Jika Siwon ingin bermain-main dengannya, maka ia akan menemani pria itu bermain.

“Pakaian seperti apa yang ingin kalian cari?” Tanya Yongri dengan ramah.

“Gaun pengantin.” Jawab Siwon membuat senyum Yongri menghilang.

Kedua tanganya yang bertautan saling mencengkram. Dan Yongri merasa ada yang memukul dadanya dengan keras hingga ia merasa sesak nafas.

“G–gaun pe–pengantin?” Ulang.

“Eonni–“

“Ya. Aku mencari gaun pengantin untuk mempelaiku yang cantik ini.” Sahut Siwon menyela semua ucapan yang ingin Hara katakan.

“K–kalian akan menikah?” Yongri tanpa sadar bertanya.

“Tentu saja. Kami sudah bertunangan selama beberapa tahun.” Jawab Siwon.

Sejujurnya bukan reaksi seperti ini yang Siwon inginkan dari Yongri. Ia ingin Yongri terlihat biasa saja saat Siwon mengatakan bahwa ia akan menikah. Bukankah itu membuktikan jika Yongri memang tidak mencintainya?

Tetapi kenapa wajah Yongri terlihat sangat terkejut saat ini? Kenapa wajah wanita itu memucat? Dan kenapa Yongri terlihat terluka? Terlalu banyak pertanyaan ‘kenapa’ di kepala Siwon hingga membuatnya sedikit menyesal telah membawa Hara ke tempat ini.

Benarkah Yongri tidak mencintainya selama ini?

“S–saya tidak merancang gaun pernikahan.” Ucap Yongri setelah terdiam cukup lama.

“Sepertinya kedatangan kalian ke sini akan menjadi sia-sia.” Yongri mencoba menunjukkan wajah menyesal.

“Aku pikir kau bisa membuat pengecualian untuk kami. Bukankah kita rekan bisnis?” Tanya Siwon.

Yongri tersenyum setelah berhasil mengendalikan dirinya.

“Banyak hal yang tidak bisa dipaksakan, Presdir Choi. Hanya karena kita rekan bisnis, bukan berarti Anda bisa meminta saya melakukan sesuatu sesuka hati Anda. Lagipula Anda berada di wilayah saya saat ini. Saya tidak harus menuruti setiap keinginan Anda.” Jawab Yongri.

“Ah, haruskah saya merekomendasikan sebuah butik yang menjual berbagai gaun pernikahan?” Tanya Yongri.

“Tidak perlu, eonni.” Jawab Hara langsung sebelum Siwon sempat mengatakan apapun.

“Kalau begitu saya minta maaf karena mengecewakan kalian.” Yongri membungkukkan badannya dihadapan kedua orang itu.

“Kau bisa pilih pakaian apapun yang kau inginkan disini, Hara-ya.” Kata Siwon dengan matanya yang terus menatap Yongri.

“Aku tidak menginginkan apapun, oppa.” Sahut Hara.

Siwon menatap Hara dan tampak kecewa melihat respon perempuan itu. Seharusnya Hara bisa sedikit bekerja sama dengannya. Ia tidak ingin kedatangannya ke sini menjadi sia-sia.

“Atau kalian ingin minum teh sebelum pergi?” Tanya Yongri menawarkan. Siwon kembali menatap Yongri.

“Terima kasih atas tawaranmu, Carlene-ssi. Tetapi sepertinya kami harus pergi untuk mencari gaun pengantin. Oh ya, aku akan mengirimkan undangan pernikahanku padamu.” Ucap Siwon.

Yongri memaksakan senyumnya dan mengangguk.

“Saya menantikannya, presdir.”

“Ayo, Hara-ya.” Ajak Siwon yang lebih dulu berbalik untuk pergi.

“Eonni, aku pergi dulu.” Pamit Hara masih dengan wajah bersalah.

Yongri menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian sepasang kekasih itu. Namun sebelum mereka benar-benar pergi, Yongri memanggil mereka.

“Presdir Choi.. Hara-ssi..”

Keduanya langsung berbalik untuk menatap Yongri.

“Selamat atas pernikahan kalian.” Ucap Yongri dengan tersenyum.

Tidak ada tanggapan apapun dari keduanya. Dan Yongri dapat melihat Siwon mengepalkan kedua tangannya sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan butiknya bersama tunangannya.

——

“Kau puas?” Sindir Hara setelah mereka berada di dalam mobil.

Siwon hanya diam saja dengan matanya yang tidak lepas dari butik Yongri.

“Apa gunanya berpura-pura akan menikah dihadapannya?” Tanya Hara.

Ia masih tidak percaya Siwon memintanya untuk berpura-pura akan menikah dihadapan Yongri. Pada akhirnya Siwon akan merasa malu karena mereka tidak akan menikah.

“Untuk melihat reaksinya.” Jawab Siwon.

“Lalu apa sudah kau dapatkan?” Tanya Hara lagi.

“Diluar perkiraanku.” Sahut Siwon.

Hara menarik lengan Siwon hingga pria itu menatapnya.

“Memangnya apa yang kau perkirakan, oppa?”

“Jika dia tidak mencintaiku, maka dia akan bersikap biasa saja saat tahu aku akan menikah.” Jelas Siwon.

Hara terdiam dan mencoba mengingat reaksi apa yang diberikan Yongri tadi saat Siwon berkata akan menikah dengannya.

“Dia terkejut dan wajahnya memucat.” Ucap Hara.

Siwon mengangguk. Menjadi semakin yakin dengan apa yang dia lihat tadi, karena Hara memiliki pendapat yang sama.

“Sudah aku katakan jika eonni mencintaimu.”

“Tetapi dia meninggalkanku, Hara!”

“Itulah yang seharusnya kau selidiki!” Geram Hara. Ia ingin sekali memukul kepala Siwon jika tidak mengingat soal kesopanan.

“Terkadang kita harus melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan.” Kata Hara.

“Apa maksudmu?” Tanya Siwon.

“Mungkin saja Yongri eonni terpaksa meninggalkanmu. Mungkin saja itu bukan keinginan hatinya.” Jawab Hara.

Siwon mengalihkan pandangannya dan tampak memikirkan jawaban Hara. Benarkah Yongri terpaksa meninggalkannya? Tetapi, kenapa?

——

Yongri merenung sembari mencoret-coret kertas. Pikirannya melayang kemana-mana, khususnya kepada kejadian yang baru saja terjadi. Kenapa pernikahan Siwon dan Hara begitu mengganggunya? Tidak seharusnya ia seperti ini.

Saat melihat berita pertunangan Siwon dan Hara di televisi beberapa tahun yang lalu, Yongri tidak memikirkannya hingga seperti ini. Tetapi kenapa sekarang seperti ini? Kenapa ia tidak bisa berhenti melakukannya?

Yongri menghela nafas. Ia sudah memiliki Donghae. Ia pun akan menikah dengan pria itu tahun depan. Tapi, kenapa?

Yongri mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut. Seharusnya dari awal ia tidak bertemu dengan Siwon. Seandainya mereka tidak pernah bertemu kembali, Yongri tidak akan merasakan perasaan bimbang seperti ini.

Dari awal Yongri tidak perlu menunjukkan pada Siwon bahwa ia sudah sukses saat ini. Karena Siwon tidak akan peduli padanya bahkan jika ia mati sekalipun. Pria itu sudah terlanjur membencinya sejak perpisahan mereka.

Yongri menundukkan kepalanya dan merasa menyesal. Menyesal karena memutuskan untuk bekerja sama dengan C–Star Entertainment. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menunggu hingga kontrak mereka berakhir.

“Nyonya, ada yang ingin saya tanyakan tentang jahitan gaun pesta yang Anda berikan seminggu yang lalu.”

Yongri tersentak dari lamunannya dan menatap pegawainya yang berdiri di ambang pintu. Ia kembali menghela nafas panjang. Ya, ia tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak penting. Ia harus fokus bekerja demi karirnya dan demi Siyong.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

——

Donghae masuk ke dalam rumahnya setelah hampir satu bulan tidak pulang ke sana. Kegiatannya yang padat membuatnya harus tinggal di apartement seorang diri karena rumah orangtuanya tidak berada di Seoul, melainkan di kota Mokpo.

Tetapi ada hal yang membuat Donghae mau tidak mau menempuh perjalanan beberapa jam untuk bertemu dengan mereka. Untung saja sedang tidak ada jadwal penting yang harus dihadirinya selain latihan untuk konsernya di Jepang beberapa hari lagi.

Donghae menghela nafas. Mengingat ia akan pergi ke Jepang dalam beberapa hari lagi membuatnya kesal. Seandainya saja kepergiannya ini memang karena jadwal yang sesungguhnya, ia tidak akan merasa sekesal ini.

Tetapi semuanya sudah diatur oleh Siwon untuk menjauhkannya dari Yongri. Hal itu membuat Donghae benar-benar kesal hingga rasanya ingin melukai wajah tampan Siwon. Jika saja pria itu bukan saudara sepupunya.

“Oh, Donghae-ya. Kau datang, nak.” Kim Hyangsook–Ibu Donghae–terlihat terkejut dengan kedatangan putra bungsunya.

“Ya, eomma. Bagaimana kabarmu?” Donghae memeluk Hyangsook dengan penuh rasa rindu.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu sendiri? Kau makan dengan teratur, kan?” Tanya Hyangsook sembari mengusap pipi Donghae.

“Kau tidak lupa jika aku memiliki Yongri yang akan selalu mengingatkanku tentang makan ‘kan, eomma?” Ujar Donghae membuat Hyangsook tersenyum geli.

“Kau benar.”

“Dimana abeoji dan Donghwa hyung?” Tanya Donghae.

“Oh, mereka baru saja pulang bekerja dan sedang mandi. Kau akan menginap disini malam ini, kan?”

Donghae mengangguk.

“Hanya satu malam saja, eomma. Aku harus mempersiapkan konserku di Jepang.”

“Ah, benar. Jepang. Kenapa tiba-tiba konser di Jepang?” Tanya Hyangsook. Donghae menghela nafas.

“Ceritanya panjang, eomma. Yang saat ini ingin aku tanyakan padamu adalah kenapa tiba-tiba mengadakan pesta ulangtahun pernikahan kalian? Bukankah kita sudah sepakat bahwa hanya makan malam keluarga?” Ucap Donghae.

Hal inilah yang ingin Donghae tanyakan. Ia begitu terkejut saat kemarin kakaknya–Lee Donghwa–mengatakan jika orangtuanya akan mengadakan pesta ulangtahun pernikahan. Karena sebelumnya mereka sudah sepakat jika hanya akan mengadakan makan malam keluarga bersama dengan Yongri dan Siyong.

“Itu semua keinginan nenekmu.” Jawab Hyangsook membuat mata Donghae melebar.

“H–halmoni?”

“Ya. Dia tiba-tiba saja menghubungiku dan mengatakan jika kami harus mengadakan pesta ulangtahun pernikahanku dengan ayahmu. Dan dia akan datang dari Seoul bersama sepupumu, Siwon.” Jelas Hyangsook.

“Apa?!” Donghae benar-benar tidak percaya.

“Tidak ada yang bisa kami lakukan selain menuruti keinginan nenekmu.” Kata Hyangsook dengan pasrah.

Donghae mengalihkan pandangannya dari Hyangsook dan tampak memikirkan setiap kata dari wanita itu. Kenapa tiba-tiba Hanna peduli pada keluarganya?

“Lalu, bagaimana dengan Yongri, eomma? Kau tahu bahwa dia tidak akan bisa datang jika halmoni ada disini.” Ujar Donghae.

“Kenapa Yongri tidak bisa datang? Dengar, nak, dari awal kami telah menerima Yongri sebagai kekasihmu walaupun kami tahu dia adalah mantan istri Siwon. Hanya karena nenekmu dan Siwon akan datang kesini, bukan berarti penilaian kami pada Yongri akan berubah.”

“Aku tahu, eomma. Tetapi kau tidak mengerti. Yongri dan halmoni tidak bisa bertemu. Dia akan–“

“Donghae-ya..” Hyangsook menyela ucapan Donghae.

“Aku dan ayahmu telah merestui hubungan kalian. Hubunganmu dan Yongri bukan hubungan terlarang. Jangan pikirkan orang lain dan fokus saja pada apa yang sedang kau kerjakan, sayang.” Ujar Hyangsook.

Donghae berdecak pelan dan menghela nafas. Hyangsook sama sekali tidak mengerti. Ia tidak tahu bagaimana jika Yongri dan Hanna bertemu. Mereka tidak boleh bertemu, tetapi Donghae tidak mungkin melarang Yongri datang ke pesta ulangtahun pernikahan orangtuanya.

“Donghae-ya, kau datang! Kemarilah, ada yang ingin aku tunjukkan padamu.”

Donghae mengalihkan pandangannya pada Donghwa yang sedang melambaikan tangan padanya dengan antusias.

“Ya, hyung.” Sahut Donghae.

“Jangan pikirkan sesuatu yang serius selama kau di rumah, Donghae-ya. Bersenang-senanglah dengan Donghwa dan hilangkan beban pikiranmu untuk sesaat.” Saran Hyangsook.

Donghae kembali menghela nafas dan menganggukkan kepalanya. Kemudian ia segera menyusul Donghwa yang sudah kembali menghilang entah kemana.

——

Yongri tersenyum saat melihat Siyong yang masih tidur dengan posisi meringkuk. Putrinya itu terlihat begitu kecil di tempat tidur yang besar. Yongri menghampirinya dan duduk di tepi tempat tidur. Tangannya mengusap pipi Siyong dengan pelan.

“Siyong-ah..” Yongri berniat untuk membangunkannya.

“Sudah pagi. Ayo, bangun, sayang.” Ucap Yongri sembari menarik selimut yang dipakai Siyong.

“Nngghh, eomma, aku masih mengantuk.” Keluh Siyong. Ia menutupi wajahnya dengan boneka kelincinya.

“Eomma harus pergi. Apa kau tidak ingin ikut dan di rumah saja bersama Bibi Kim?” Tanya Yongri.

“Ya, aku tidak ingin ikut. Aku akan bermain bersama Bibi Kim.” Jawab Siyong dengan suara serak.

“Kau sungguh tidak ingin ikut?” Tanya Yongri lagi. Siyong mengangguk.

“Bahkan untuk mengantar Donghae ahjussi naik pesawat?” Yongri tersenyum jahil.

Siyong membuka matanya dan menatap Yongri dengan mata bulatnya yang melebar. Yongri tidak bisa menahan rasa geli melihat wajah terkejut bocah itu.

“Donghae ahjussi naik pesawat? Kemana dia akan pergi?” Tanya Siyong.

“Donghae ahjussi harus bernyanyi di tempat yang jauh. Karena itu dia harus naik pesawat.” Jawab Yongri.

Siyong mengubah posisinya menjadi duduk dan mengusap wajahnya yang mengantuk.

“Kenapa kita tidak ikut Donghae ahjussi naik pesawat?” Tanya Siyong. Yongri tertawa pelan.

“Tidak bisa, sayang. Eomma harus bekerja.”

Siyong tidak bisa menutupi rasa kecewanya membuat Yongri menghela nafas panjang.

“Kita akan naik pesawat bersama Donghae ahjussi saat eomma dan ahjussi tidak memiliki pekerjaan.”

“Janji?” Siyong mengulurkan jari kelingkingnya.

“Janji.” Sahut Yongri sembari melingkarkan kelingkingnya dengan kelingking Siyong.

“Jadi, kau mau ikut eomma?” Siyong mengangguk semangat.

“Sekarang kita mandi.”

Yongri segera berdiri dan disusul oleh Siyong. Mereka bergandengan tangan menuju kamar mandi. Yongri memandikan Siyong diiringi dengan candaan satu sama lain. Mereka tertawa bersama dan terlihat sangat bahagia.

Setelah memandikannya, Yongri memakaikannya pakaian dan menyuapinya sarapan. Sarapan yang telah dibuatkan oleh Bibi Kim.

“Ya ampun, nona kecil sudah cantik sekali. Apa kau mau pergi?” Tanya Bibi Kim.

Yongri tersenyum saat melihat wajah Siyong yang tampak senang mendapat pujian dari Bibi Kim.

“Ya, bibi. Aku akan mengantar ahjussi naik pesawat.” Jawab Siyong dengan mulut penuh.

Bersamaan dengan itu, bel rumah Yongri berbunyi. Yongri memberikan isyarat pada Bibi Kim untuk membukakan pintu. Bibi Kim mengangguk dan segera menuju pintu.

“Cukup, eomma. Aku kenyang.” Ucap Siyong saat Yongri hendak menyuapinya lagi.

“Habiskan susumu.” Suruh Yongri sembari memberikan gelas berukuran sedang kepada Siyong.

“Selamat pagi!”

Yongri dan Siyong menoleh saat mendengar suara Donghae di belakang mereka.

“Ahjussi!” Pekik Siyong.

Dengan susah payah ia menaruh gelasnya di atas meja dan turun dari kursi makan. Ia berlari kecil untuk menghampiri Donghae dan menyambut rentangan tangan pria itu untuk memeluknya.

“Apa yang kau lakukan disini? Bukankah sudah aku katakan jika aku akan menjemputmu di apartement?” Tanya Yongri sembari mendekati mereka.

“Lebih lama jika kau harus ke apartement dulu. Penerbanganku dua jam lagi.” Jawab Donghae.

“Kalau begitu kita berangkat sekarang.” Kata Yongri.

“Bibi Kim, tolong ambilkan tasku dan kunci mobil.”

“Baik, nyonya.”

“Aku yang akan menyetir ke bandara kau bisa menyetir saat pulang nanti.” Ujar Donghae yang disambut anggukan oleh Yongri.

“Ayo, kita pergi, princess.” Donghae menggendong Siyong saat Bibi Kim telah memberikan tas serta kunci mobil kepada Yongri.

——

Donghae memarkirkan mobilnya di tempat parkir bandara. Ia menatap ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa tidak ada orang lain di sekitar mobil Yongri. Kemudian Donghae keluar dari mobil dan masuk kembali melalui pintu belakang. Bergabung bersama Yongri dan Siyong di kursi belakang.

“Kita sudah sampai?” Tanya Siyong dengan matanya yang menatap Donghae.

“Ya, sayang. Kita sudah sampai di bandara.” Jawab Donghae. Siyong menunjukkan wajah sedihnya.

“Yah, kenapa wajahmu seperti itu? Kita hanya berpisah beberapa hari, Siyong-ah. Saat kau tidak menyadarinya, ahjussi sudah akan berada di rumahmu.” Kata Donghae.

“Benarkah?”

“Tentu saja. Kau ingin oleh-oleh apa? Boneka? Ikat rambut? Tas sekolah?”

“Aku ingin bando kelinci, ahjussi.” Ucap Siyong membuat Donghae dan Yongri tersenyum geli.

“Bando kelinci? Kau akan mendapatkannya, princess.” Donghae mengecup pipi Siyong kemudian mengalihkan pandangannya pada Yongri.

“Aku harus segera pergi.” Kata Donghae.

“Ya. Pergilah.” Sahut Yongri.

“Berhati-hatilah saat menyetir pulang nanti. Aku akan mengabarimu saat telah sampai di Jepang. Dan kau juga harus mengabariku saat kau telah sampai ke tujuanmu, mengerti?” Pesan Donghae. Yongri mengangguk.

Donghae menunduk dan melihat Siyong yang sedang menatap mereka dengan tatapan polosnya. Pria itu tersenyum sebelum akhirnya menutup mata Siyong dengan sebelah tangannya. Sebelah tangannya lagi digunakannya untuk menangkup rahang Yongri dan memberikan ciuman mesra pada kekasihnya.

“Ugh! Kenapa mataku di tutup?” Keluh Siyong sembari menyingkirkan tangan Donghae.

Donghae dengan cepat melepaskan bibirnya dari bibir Yongri dan tersenyum pada wanita itu.

“Berikan ciuman pada ahjussi.” Pinta Donghae sembari menunduk dan menyodorkan bibirnya. Siyong bergerak maju dan mengecup bibir Donghae.

“Jangan nakal dan jangan menyusahkan ibumu, mengerti?” Siyong mengangguk.

“Aku pergi.” Donghae mengusap pipi Yongri.

“Hati-hati, Donghae-ya.”

Donghae melambaikan tangannya dan segera keluar dari mobil. Memakai topi hitam dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam bandara.

“Baiklah, sekarang kau duduk disini dan pakai sabuk pengamanmu.” Ucap Yongri sembari memasangkan sabuk pengaman pada Siyong.

“Eomma akan mengantarmu ke tempat bermain.”

Gerakan Yongri yang hendak membuka pintu mobil untuk pindah ke kursi pengemudi terhenti oleh genggaman tangan Siyong. Yongri menoleh dan menatap putrinya.

“Ada apa?”

“Aku tidak mau pergi ke sana.” Kata Siyong.

“Kenapa?” Tanya Yongri bingung. Siyong hanya diam saja dan menundukkan kepalanya.

“Hei, ada apa? Kau selalu semangat saat eomma akan mengantarmu ke tempat bermain.” Ujar Yongri.

Siyong menatap Yongri dan memaksakan senyumnya.

“Aku sedang tidak ingin bermain, eomma. Aku ingin ikut eomma bekerja saja.”

“Tapi eomma harus bekerja di tempat lain terlebih dahulu sebelum ke butik.”

Yongri harus datang ke C–Star Entertainment untuk bertemu dengan TOP hari ini. Ada sedikit hal yang terlupakan yang berhubungan dengan pakaian mereka. Karena itulah Yongri harus bertemu dengan mereka.

“Tidak apa-apa. Aku akan ikut denganmu, eomma.”

Yongri tampak berpikir. Apa tidak apa-apa jika ia mengajak putrinya ke sana? Bagaimana jika mereka bertemu dengan Siwon? Lalu kemudian Yongri berpikir,  kenapa jika ia bertemu dengan Siwon? Ia tidak perlu bersembunyi dari pria itu.

Lagipula Yongri ingat jika member TOP ingin bertemu dengan putrinya. Mereka pasti akan senang saat melihat Siyong, begitu pun sebaliknya.

“Baiklah. Eomma akan mengajakmu. Kau akan bertemu dengan banyak laki-laki tampan di sana nanti.” Kata Yongri dengan tersenyum.

“Apa mereka setampan Donghae ahjussi?” Tanya Siyong. Yongri meringis mendapatkan pertanyaan seperti itu dari putrinya

“Kau akan mengetahuinya nanti.” Jawab Yongri dengan cengiran dan segera berpindah ke balik kemudi.

——

“Astaga, anakmu cantik sekali, noona!” Puji Jaehyun sembari menatap takjub pada Siyong.

“Dia juga imut.” Sahut Haneul.

“Dan menggemaskan.” Timpal Hoon.

Yongri tidak bisa menahan tawa geli saat melihat kelima laki-laki itu tampak berbinar saat menatap Siyong. Berbanding terbalik dengan Siyong yang menatap mereka dengan pandangan melongo khas anak kecil.

“Nah, sekarang perkenalkan namamu pada mereka, sayang.” Ucap Yongri. Siyong mengangguk dan membungkukkan badannya.

“Namaku Choi Siyong. Aku anak dari Choi Yongri.” Ujar Siyong memperkenalkan dirinya.

“Astaga, lucu sekali.” Gumam Hakyung.

“Choi Yongri? Apa itu nama Koreamu, noona?” Tanya Minki sembari menatap Yongri. Yongri menganggukkan kepalanya.

“Ah, begitu rupanya.”

“Kenalkan namaku Lee Jaehyun, Siyong-ah. Panggil aku Jaehyun oppa, okay?” Jaehyun berjongkok dihadapan Siyong sembari mengulurkan tangannya.

“Yah, kau pantas di panggil ahjussi.” Ejek Hakyung membuat yang lain tertawa.

Jaehyun menatap Hakyung dengan kesal. Namun kemudian ia kembali menatap Siyong.

“Kau menggemaskan sekali. Bisa berikan ciuman pada oppa?” Pinta Jaehyun sembari menunjuk pipinya.

Siyong tampak terkejut dan kebingungan. Ia mendongak dan menatap Yongri untuk meminta pendapat. Yongri tersenyum geli dan menganggukkan kepalanya. Melihat itu, Siyong langsung memberikan kecupan pelan pada pipi Jaehyun.

“Giliranku.” Ucap Haneul.

“Cukup, teman-teman.” Sela Yongri membuat mereka menatap Yongri dengan pandangan protes.

“Aku membutuhkan kalian untuk memberikanku informasi tentang konsep boyband kalian. Dan melihat kalian menggoda putriku bukan hal yang kuinginkan saat ini.” Ucap Yongri.

“Dia hanya terlalu menggemaskan.” Rajuk Haneul.

“Aku tahu. Karena aku pun seperti itu, kan?” Tanya Yongri dengan percaya diri.

Kelima laki-laki itu menatap Yongri dengan terkejut dan ngeri. Membuat Yongri tidak dapat menahan tawanya. Perutnya terasa sakit karena menertawakan mereka.

“Astaga, aku hanya bercanda.” Ujar Yongri.

Yongri menunduk saat merasakan Siyong menarik pelan pakaian yang digunakannya.

“Ada apa, sayang?”

“Aku harus ke toilet.” Ucap Siyong.

“Apakah mendesak?” Tanya Yongri. Siyong mengangguk.

“Baiklah, eomma akan menemanimu.”

“Tidak, aku bisa pergi sendiri, eomma. Aku melihat toilet saat datang ke sini tadi.”

“Apakah kau yakin?” Siyong kembali mengangguk.

“Kalau begitu hati-hati.” Ucap Yongri.

Member TOP dan Yongri menatap langkah kecil Siyong yang meninggalkan ruang latihan mereka.

“Aku pikir ayahnya pasti sangat senang memiliki anak seperti Siyong.” Gumam Hakyung membuat tubuh Yongri menegang.

——

Siwon sedang mendengarkan Sekretaris Go berbicara tentang audisi yang akan mereka lakukan di luar Korea Selatan, saat matanya tiba-tiba menangkap keberadaan anak kecil yang terlihat kebingungan.

Siwon hanya menatap anak kecil itu sekilas dan tidak memperdulikannya. Namun ia tidak tahu apa yang membuat kakinya berhenti berjalan dan kemudian berbalik untuk kembali menatap anak kecil itu. Ia menelengkan kepalanya dan tampak memusatkan perhatiannya pada bocah itu.

“Ada apa, presdir?” Tanya Sekretaris Go.

“Kau duluan saja dan tunggu aku di ruanganku.” Ujar Siwon.

“Baik, presdir.”

Siwon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menghampiri bocah perempuan itu. Ia berdiri tepat dihadapannya hingga membuat anak itu mendongak untuk menatapnya.

Ada sedikit rasa bersalah saat menyadari bahwa tindakannya itu bisa membuat leher anak itu terasa pegal. Hingga akhirnya Siwon memilih untuk menekuk salah satu kakinya dan membuatnya dalam posisi setengah berlutut.

“Apa yang sedang kau cari?” Tanya Siwon.

Bocah itu hanya terus mengedipkan matanya sembari terus menatap Siwon.

Siwon kembali menelengkan kepalanya saat melihat bocah itu tidak menjawab pertanyaannya.

“Siapa namamu?” Tanya Siwon lagi.

Masih sama, bocah itu menutup mulutnya dengan rapat. Tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Siwon.

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”

Siwon mulai berpikir jika bocah itu tidak bisa berbicara. Namun pikiran itu terbantahkan saat bocah itu bersuara.

“Eomma bilang aku tidak boleh berbicara dengan orang asing.” Jawabnya.

Untuk sesaat Siwon tertegun. Namun kemudian ia tidak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Wajah bocah itu terlihat sangat cantik dengan pipi penuhnya yang kemerahan.

“Kalau begitu kita harus berkenalan agar tidak menjadi orang asing. Namaku Choi Siwon.” Ujar Siwon sembari mengulurkan tangannya.

Bocah itu menatap tangan Siwon dan terlihat ragu. Keningnya berkerut beberapa kali membuat wajahnya semakin terlihat lucu dimata Siwon.

“Ayolah..” Ucap Siwon sembari menggoyangkan tangannya. Entah kenapa ia sangat ingin berkenalan dengan bocah perempuan itu.

Akhirnya bocah itu menyambut uluran tangan Siwon dan tangannya seolah tenggelam oleh besarnya tangan Siwon.

“Siapa namamu?” Tanya Siwon kembali.

“Choi Siyong.” Jawabnya. Siwon kembali tertegun.

“Wah, kita memiliki nama belakang yang sama.” Kata Siwon dengan senang.

“Kita bisa menjadi teman.” Ucap Siwon.

“Teman? Apakah orang dewasa dan anak kecil bisa berteman?” Tanya Siyong dengan bingung.

“Tentu saja! Tidak ada batasan usia untuk berteman.” Jawab Siwon.

“Kau mau berteman denganku, kan?” Ajak Siwon.

Siyong menatap tangannya yang masih berada di dalam genggaman Siwon. Kemudian ia menatap Siwon.

“Ahjussi sangat tampan.” Ucapnya membuat Siwon terkejut. Ia tidak bisa menahan senyum diwajahnya.

“Benarkah? Dan apakah kau mau berteman dengan ahjussi tampan ini?” Tanya Siwon untuk kesekian kalinya.

Siyong menganggukkan kepalanya dan senyum diwajah Siwon semakin lebar.

“Nah, sekarang katakan padaku apa yang kau cari.”

“Aku baru saja dari toilet dan aku harus kembali pada eomma. Tetapi aku lupa dimana eomma berada.” Ucap Siyong sembari menggaruk kepalanya.

“Ah, kau tersesat.” Simpul Siwon.

“Apa yang ahjussi lakukan disini? Apa ahjussi bekerja disini juga? Sama seperti eomma?” Tanya Siyong.

“Ya. Ahjussi bekerja disini.” Jawab Siwon.

“Lalu kenapa ahjussi tidak bekerja? Bagaimana jika kau dimarahi oleh bosmu, ahjussi?” Kata Siyong dengan polos.

Siwon tidak tahu berapa kali ia sudah tersenyum karena ucapan polos Siyong. Ia benar-benar merasa terhibur oleh bocah itu.

“Bos ahjussi orang yang baik. Dia tidak mungkin marah.” Ujar Siwon. Tidak berniat memberitahukan pada bocah itu jika dialah bos di sana.

“Benarkah? Kalau begitu dia tidak akan pernah memarahi eomma.”

“Jadi, sekarang kau ingin menemukan ibumu?” Tanya Siwon. Siyong mengangguk.

“Apa yang kau ingat tentang tempat dimana ibumu berada saat ini?” Tanya Siwon lagi. Siyong tampak berpikir.

“Eomma bersama para oppa tampan di sana. Ah! Aku mengingat salah satu nama mereka. Lee Jaehyun.” Jawab Siyong.

Siwon tampak memikirkan jawaban Siyong. Lee Jaehyun? Apakah Lee Jaehyun member TOP?

“Lee Jaehyun? Apakah dia laki-laki berkulit putih dan memakai anting hitam di telinganya?”

“Ya, ahjussi. Jaehyun oppa memakai anting di telinganya!” Kata Siyong dengan semangat.

“Apa tempat ibumu berada terdapat kaca yang besar?”

“Benar, ahjussi!”

Siwon mengangguk dan berdiri. Ia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Siyong.

“Ahjussi tahu dimana ibumu berada.” Ucap Siwon.

Siwon melangkah pelan untuk menyamai langkah kecil Siyong. Tangan Siyong terasa begitu mungil di dalam tangannya. Dan saat melihat bocah itu berjalan disampingnya, membuat Siwon tersenyum.

“Jadi, berapa usiamu?”

“Kata eomma sebentar lagi usiaku enam tahun.”

“Apa ibumu membiarkan anaknya yg berusia enam tahun pergi ke toilet seorang diri?” Ucap Siwon tidak percaya.

“Tidak, ahjussi. Eomma ingin menemaniku. Tetapi aku tahu jika eomma harus bekerja. Karena itu aku pergi seorang diri. Jika aku tahu bahwa bos eomma tidak jahat, aku akan meminta eomma menemaniku.” Jelas Siyong.

Siwon kembali tersenyum untuk kesekian kalinya. Siwon tidak mungkin sekejam itu dengan memarahi pegawainya yang menemani anaknya ke toilet.

“Apa ini pertama kalinya kau datang ke sini?” Tanya Siwon. Siyong mengangguk membuat poninya bergoyang.

“Bagaimana pendapatmu tentang kantorku?” Siyong menatap Siwon dengan terkejut.

“Maksudku–bagaimana pendapatmu tentang kantor ini?” Ralat Siwon.

“Besar. Sangat besar.” Komentar Siyong.

“Hanya besar saja? Tidak ada yang lain?”

“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.” Keluh Siyong.

“Kalau begitu bagaimana pendapatmu tentangku?” Tanya Siwon. Siyong menghentikan langkahnya membuat Siwon juga menghentikan langkahnya.

“Tampan.” Jawab Siyong.

“Lalu?”

“Baik.”

“Lalu?”

“Cerewet.”

Siwon terkejut mendengar pendapat terakhir Siyong. Pertama kalinya ia mendengar seseorang mengatakan dirinya cerewet. Anehnya, Siwon tidak merasa kesal sama sekali.

“Cerewet?” Ulang Siwon.

“Aku sering banyak bicara sehingga eomma mengatakan bahwa aku cerewet. Ahjussi juga banyak bicara, karena itu ahjussi cerewet.” Kata Siyong.

Siwon tertawa. Benar-benar tertawa dengan kencang. Beberapa pegawai yang lewat menatapnya dengan terkejut, namun Siwon tampak tidak memperdulikan mereka.

“Yah, siapa yang mengajarimu hingga begitu pintar berbicara? Apa ayahmu?” Tanya Siwon dengan kagum.

Siyong menundukkan kepalanya. Ia tidak memiliki ayah. Donghae yang selalu mengajarinya berbicara. Tetapi sebentar lagi Donghae akan menjadi ayahnya, tidak ada salahnya jika ia mengakui Donghae sebagai ayahnya lebih awal.

“Ya. Ayahku yang mengajarinya.” Jawab Siyong dengan tersenyum.

Siwon ikut tersenyum dan mereka kembali berjalan.

“Jika kita bertemu lagi, ahjussi akan membelikanmu es krim. Kau membuat ahjussi merasa terhibur.” Janji Siwon.

“Sungguh? Es krim? Rasa coklat?”

“Rasa apapun yang kau mau.”

“Hore!” Pekik Siyong senang.

“Nah, disini ibumu berada.” Siwon menghentikan langkahnya di depan ruang latihan TOP yang pintunya tertutup rapat.

“Masuklah.” Kata Siwon sembari melepaskan genggaman tangannya pada Siyong.

“Terima kasih sudah mengantarku, ahjussi.” Ucap Siyong sopan.

“Sama-sama, Siyong-ah. Senang bertemu denganmu.” Balas Siwon.

Siyong melambaikan tangannya dan membuka pintu. Siwon membalas lambaian tangannya dan segera berbalik. Namun beberapa langkah berjalan, ia teringat jika belum bertanya pada bocah itu siapa ibunya.

Siwon mungkin bisa meminta pegawainya itu untuk mengajak Siyong kembali kemari untuk bertemu dengannya. Karena itu Siwon kembali berbalik menuju ruang latihan TOP.

Siwon membuka pintu dengan pelan dan menyembulkan kepalanya ke dalam. Matanya bergerak liar untuk mencari keberadaan Siyong serta ibu dari anak itu.

Mata Siwon melebar dengan sempurna saat melihat siapa yang sedang memangku Siyong saat ini. Siyong memeluk lehernya dan mereka tampak tertawa bersama. Siwon tidak mempercayai penglihatannya, tetapi semuanya begitu nyata.

Kalau begitu, apakah Choi Siyong adalah anak Yongri? Karena wanita itulah yang sedang memangku Siyong saat ini.

——

–To Be Continued–

HAI!

Happy reading~

BYE~

Advertisements

67 thoughts on “The Chance – Part 3

  1. Ntah gk suka sama sifat siwon yg percaya sama omongan orang lain meskipun itu nenek nya sendiri daripada dengerin penjelasan dari yongri:’) bakal nyesel dia kalo tau kebenaran yg sesungguhnya

  2. Neneknya siwon oppa dan donghae oppa pgn bgt kayaknya menjauhkan yongri kembali dr keluarga mrk, pdhl Yongri baik, kayaknya dulu Yongri pergi krn neneknya Siwon oppa dan tdk pernah diketahui sedikitpun, Siyong penggambarannya di ff imut banget, lovable person, ditunggu bgt kelanjutannya

  3. huahhhhh kira2 siwon curiga gx ya klo siyong tu anaknya???
    itu nenek nya siwon emg Sumber masalah ya>< kasihan siwon mlhan di kibulin ma neneknya sendiri

  4. Kalo yongri berkata dulu sangat mencintai siwon semuanya itu pasti bongong -_- cinta? Haaa lucu kkk cinta tapi sudah memiliki kekasih dan ternyata sepupu dari mantan suami kkk dan sudah melakukan hubungan intim ck aigoo >_< Puas banget siwon memanas2 yongri 😀 asyik siyong dan siwon sudah berteman 🙂

  5. Nah ini nih aq gak suka sm sifatx siwon yang hanya percaya sama omongan orang lain aja!!😭 Walaupun itu nenek nya sendiri,tapi kan harusnya dia jg nanya donk sm yongri alasanx kenapa yongri ninggalin siwon dlu!! Eh ini siwon langsung main percaya ajh sm nenek peyot itu ketimbang nanya apa alasan yongri ninggalin dy!!!
    Kalo siwon tau apa yang sebenarx, bakal menyesal km bang 😭

  6. siwon sampe segitunya pura2 wkwkwk. tapi rada sedih juga soalnya reaksi yongri begitu. sepertinya nanti donghae akan sakit hatiii hu hu hu…

    asikk udah mulai ada kemistri nih bapak dan anakk..

    niceee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s