Love, Hurt, and Revenge – Part 14

Author

Choineke

Title

Love, Hurt, and Revenge

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC), Cho Younghwan (Kyuhyun’s Father), Kim Hanna (Kyuhyun’s Mother), Jung Jun (Yeon’s Brother–OC), and others

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–I’m trapped in my own revenge–

——

Author POV

Setelah mendengar pintu apartementnya tertutup, Kyuhyun segera melepaskan bibir perempuan yang bahkan ia tidak ingat namanya. Ia langsung meninggalkan tempat tidurnya dan memilih untuk duduk di atas sofa dengan celana pendek yang memang dari tadi dipakainya.

“Kalian bisa tinggalkan aku.” Ucap Kyuhyun pelan tanpa menatap mereka.

Tanpa protes, perempuan-perempuan itu langsung memakai kembali pakaian mereka yang berserakan di lantai. Kyuhyun bersyukur karena belum meniduri mereka walaupun memiliki niatnya. Ia membutuhkan teman bicara, karena itulah menyewa perempuan-perempuan itu untuk datang ke apartementnya.

Kyuhyun membiarkan mereka telanjang dan mengizinkan mereka melepaskan seluruh pakaiannya kecuali celana pendek itu. Dan yang mereka lakukan dari tadi hanyalah berbagi cerita. Namun saat Yeon datang, Kyuhyun terpaksa berpura-pura mesra dengan mereka agar perempuan itu pergi.

Terlalu menyakitkan melihat Yeon di apartementnya. Apalagi setelah mendengar pernyataan cinta dari perempuan itu. Kyuhyun merasa dunianya seolah berputar.

“Aku harap kau mau mempercayai ucapan mantan calon istrimu tadi, Kyuhyun-ssi.” Kata salah satu perempuan yang membela Yeon tadi.

“Dia benar-benar terlihat jujur dan tulus. Ia juga terlihat terluka ketika melihat kau bersama kami. Aku pikir dia benar-benar mencintaimu.” Lanjutnya.

Kyuhyun hanya diam saja sembari menundukkan kepalanya. Ia juga mengabaikan perempuan-perempuan itu yang berpamitan padanya.

Bohong jika Kyuhyun tidak terpengaruh dengan pernyataan cinta dari Yeon. Nyatanya ungkapan cinta dari perempuan itu mampu membuat jantungnya berdebar dengan kencang.

Saat melihat airmata di wajah Yeon, Kyuhyun ingin sekali mendekatinya dan menyeka airmatanya. Memeluknya dengan erat seraya berkata ‘semuanya akan baik-baik saja’.

Hanya saja Kyuhyun terlalu takut untuk mempercayai Yeon lagi. Bukan hanya Yeon, Kyuhyun terlalu takut untuk mempercayai orang lain. Ia tidak mau mengalami hal yang menyakitkan seperti ini untuk kedua kalinya.

Bagaimana jika Yeon hanya bersandiwara? Bagaimana jika Yeon belum selesai dengan balas dendamnya? Bagaimana jika Yeon memanfaatkannya lagi karena rasa benci perempuan itu pada ayahnya?

Kyuhyun mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar. Ia tidak bisa mengabaikan rasa bersalahnya karena telah membuat Yeon menangis. Ia ingin sekali berteriak kencang dan melupakan semua masalah yang terjadi.

——

Jun menuruni taksi setelah sampai di depan rumahnya. Ia menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul satu malam. Ia tidak bisa berkonsentrasi bekerja karena rasa bersalahnya pada Yeon. Karena telah mengacuhkan perempuan itu selama dua hari ini.

Jun menghela nafas dan masuk ke dalam rumahnya. Rumah dalam keadaan gelap karena hari memang sudah malam. Yeon mungkin sudah tidur dengan lelap di kamarnya saat ini. Namun saat Jun menunduk, ia terpaku melihat sandal rumah Yeon yang berada di samping sandal rumahnya.

Jika Yeon ada di rumah, seharusnya sandal itu berada di kamar perempuan itu, kan? Kenapa sandal ini berada di dekat pintu rumah?

Jun membuka sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia menaruh tasnya di atas sofa dan menghampiri kamar Yeon. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu kamar Yeon.

“Noona?” Panggil Jun dengan pelan.

Tidak ada tanggapan apapun dari dalam.

“Yeon noona?” Jun mengetuk pintu semakin kuat. Masih tidak ada tanggapan apapun.

Jun memutuskan untuk membuka pintunya yang ternyata tidak di kunci. Tangannya meraba dinding untuk menghidupkan lampu kamar. Dan apa yang dipikirkan Jun memang benar. Yeon tidak berada di rumah. Kamarnya dalam keadaan kosong.

“Noona?” Panggil Jun sembari keluar kamar dan menuju kamar mandi. Sayangnya kamar mandi juga dalam keadaan kosong.

Jun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi perempuan itu. Namun sayangnya ponsel Yeon tidak aktif. Kekhawatiran mulai menggerogoti hati Jun. Laki-laki itu berjalan mondar-mandir sembari terus mencoba menghubungi kakaknya itu.

“Kau dimana, noona?” Gumamnya.

Jun mencari-cari nama Luke pada ponselnya untuk menghubungi laki-laki itu. Ia menunggu Luke menjawab teleponnya sembari menggigiti kuku-kuku jarinya.

Halo, Jun?” Sahut Luke dengan suara serak khas bangun tidur.

“Halo, Luke. Maaf jika aku menganggu tidurmu.”

Tidak. Tidak apa-apa. Ada apa?

“Aku memutuskan untuk pulang ke rumah malam ini karena tidak bisa fokus bekerja. Tetapi saat aku sampai di rumah, noona tidak ada di sini, Luke.”

Apa? Yeon tidak ada?

“Ya. Kamarnya dalam keadaan kosong. Saat aku menghubunginya, ponselnya tidak aktif.”

Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu jika dia ingin ke suatu tempat?

Jun meringis pelan. Bagaimana bisa Yeon mengatakan padanya jika ia mengacuhkan perempuan itu tadi? Tetapi setelah mengingat penampilan Yeon malam tadi, ia melihat perempuan itu memakai sebuah tas. Sepertinya memang hendak pergi ke suatu tempat.

“Tidak, Luke. A–aku masih merasa kecewa padanya hingga aku mengabaikannya saat ia ingin mengajakku berbicara tadi.”

Jun benar-benar merasa menyesal telah mengabaikan Yeon.

“Bagaimana ini, Luke? Aku khawatir.”

Tenang dulu, Jun. Beri aku waktu sepuluh menit untuk ke sana. Dan cobalah untuk terus menghubunginya. Mengerti?

“Ya, Luke. Aku mengerti.”

Jun memutuskan sambungan telepon dengan Luke dan kembali menghubungi Yeon. Sialnya ponsel Yeon tetap tidak aktif berapa kali pun Jun mencoba untuk menghubunginya. Yeon memiliki kebiasaan lupa mengisi baterai ponselnya. Jun khawatir saat ini pun ponsel Yeon kehabisan baterai hingga tidak aktif seperti ini.

“Dimana kau sebenarnya, noona?” Tanya Jun.

Jun masuk kembali ke dalam kamar Yeon. Ia mencoba mencari petunjuk yang mungkin saja ditinggalkan Yeon. Namun sayangnya Jun tidak menemukan apapun di kamar Yeon. Membuat Jun merasa frustasi.

Jun keluar dari kamar Yeon dan duduk di atas sofa. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas lututnya. Ia benar-benar merasa takut dan khawatir. Yeon tidak pernah berada di luar rumah hingga selarut ini.

Jika terjadi apa-apa pada Yeon, Jun tidak akan pernah memaafkan dirinya. Seandainya saja ia tidak mengabaikan perempuan itu, Yeon pasti mengatakan kemana ia akan pergi. Tetapi karena keegoisannya, ia tidak mengetahui apa-apa saat ini.

“Appa, eomma, aku mohon lindungi noona.” Pinta Jun.

Jun mencoba peruntungan terakhirnya dengan kembali menghubungi Yeon. Ia menghela nafas panjang sebelum menempelkan ponsel itu ke telinganya. Dan Jun mengumpat pelan saat ponsel Yeon masih tidak aktif juga.

Saat berada di taksi tadi, Jun sempat merasakan sedikit kantuk. Ia memutuskan untuk tidur saat sampai di rumah. Namun sekarang rasa kantuk Jun menguap entah kemana.

Jun merasa waktu bergerak dengan sangat lambat. Dan ia bernafas dengan lega saat mendengar pintu rumahnya diketuk serta diiringi suara Luke dari luar. Ia dengan cepat membukakan pintu untuk Luke.

“Bagaimana?” Tanya Luke.

“Ponselnya masih tidak aktif, Luke.” Jawab Jun dengan sedih.

Luke merangkul Jun dan membawanya untuk kembali duduk. Ia tahu bahwa Jun sangat khawatir karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Tetapi Luke mencoba untuk tidak menunjukkannya karena ia harus membuat Jun tenang.

“Benar-benar tidak ada pesan apapun darinya?” Tanya Luke. Jun menggeleng.

“Saat aku akan pergi kerja, noona keluar dari kamarnya dan hendak mengajakku berbicara. Namun aku tidak memperdulikannya dan pergi begitu saja. Tetapi aku ingat jika saat itu noona memakai tas, Luke. Sepertinya ia memang hendak pergi ke suatu tempat.” Jelas Jun.

“Aku benar-benar menyesal, Luke. Seharusnya aku mendengarkannya berbicara.” Keluh Jun.

“Tenang, brother.” Kata Luke sembari menepuk pelan punggungnya.

“Bagaimana aku bisa tenang, Luke? Noona tidak pernah seperti ini. Ia tidak pernah berkeliaran di luar rumah hingga selarut ini.” Tukas Jun.

“Aku tahu, Jun. Tetapi jika kau tidak tenang, kau tidak akan bisa berpikir.” Balas Luke.

“Ini belum 24 jam dan kita tidak bisa melaporkannya ke polisi. Kita harus menunggu.” Ucap Luke.

“Sampai kapan, Luke? Bagaimana jika noona dalam bahaya?”

“Jangan berkata seperti itu, Jun!” Omel Luke.

“Kita tunggu hingga pagi, okay? Jika Yeon belum kembali, kita akan mencari cara untuk menemukannya.” Putus Luke.

Jun menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia tidak bisa menunggu seperti ini. Apalagi pagi masih beberapa jam lagi. Tetapi Luke benar. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu untuk saat ini.

Jun tidak bisa berhenti untuk mengutuk dirinya sendiri.

——

“Noona!”

Luke terbangun saat mendengar suara Jun yang berteriak. Ketika ia menoleh, ia tidak menemukan Jun yang tertidur di sampingnya seperti jam 3 pagi tadi. Luke menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Jun.

“Jun?” Panggil Luke sembari berdiri.

Luke menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi. Tidak seharusnya ia tertidur dan bangun kesiangan seperti ini.

“Luke, noona belum kembali!” Ucap Jun yang keluar dari kamar Yeon.

“Oh, sial! Kemana sebenarnya dia?” Luke sudah tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Luke mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Yeon. Namun sama seperti hasil yang didapati Jun, ponsel Yeon tidak aktif. Yeon selalu mengatakan apapun padanya. Jadi, jika tiba-tiba perempuan itu menghilang seperti ini, sesuatu pasti terjadi.

“Apa mungkin noona menemui Kyuhyun hyung?” Tebak Jun dengan wajah frustasi. Luke memikirkan kemungkinan itu.

“Untuk apa?” Tanya Luke.

“Meminta maaf?” Jawab Jun terdengar tidak yakin.

“Tetapi dia tidak mengatakan apapun.” Gumam Luke.

Jika Yeon memang ingin minta maaf pada Kyuhyun, perempuan itu seharusnya meminta saran kepadanya terlebih dahulu. Yeon tidak mungkin bertindak sendiri seperti itu, kan? Lagipula jika memang Yeon menemui Kyuhyun, kenapa perempuan itu tidak kembali?

“Apa mungkin noona dan Kyuhyun hyung sudah kembali bersama? Karena itukah noona tidak pulang?” Ujar Jun.

Luke mengusap rambut pendeknya. Kenapa ia tidak bisa memikirkan kemungkinan itu terjadi?

“Luke, apakah kau tahu dimana Kyuhyun hyung tinggal? Bisakah kita ke sana?” Pinta Jun.

Luke menatap Jun. Ia tahu dimana apartement Kyuhyun berada karena saat itu pernah mengantar Yeon ke sana. Tetapi Luke tidak tahu di lantai berapa dan nomor berapa apartementnya.

“Sebentar.” Kata Luke sembari menjauh dari Jun.

Luke mencari nama Eunsoo dan menghubungi perempuan itu. Seharusnya Eunsoo tahu tentang apartement Kyuhyun.

Halo..

“Hai, Eunsoo.”

Hai, ada apa?

“Apa tidurmu nyenyak?”

Ya, tentu saja. Bagaimana denganmu sendiri?

“Umm, yah, tidak terlalu.”

Luke merasa tidak perlu memberitahukan Eunsoo tentang Yeon yang belum kembali. Atau mungkin ia akan memberitahukannya nanti, saat mereka bertemu.

Disini banyak wartawan setelah apa yang Yeon lakukan kemarin. Mereka menunggu Kyuhyun oppa untuk meminta penjelasan. Aku rasa di rumah samchon juga keadaannya akan seperti ini.” Ucap Eunsoo.

Ya, Luke sudah bisa menebak tentang hal itu. Itulah tujuan Yeon melakukan konfrensi pers. Agar hidup Younghwan tidak tenang oleh wartawan dan semua pemberitaannya di luar sana.

“Apa itu mengganggumu?” Tanya Luke hati-hati.

Tidak, Luke. Aku baik-baik saja.” Jawab Eunsoo. Luke menghela nafas.

“Eunsoo, apa kau tahu tentang apartement Kyuhyun?” Tanya Luke.

Apartement Kyuhyun oppa? Kenapa dengan apartementnya?

“Aku harus ke sana. Ada yang harus aku bicarakan dengannya.”

Kalian tidak akan bertengkar, kan?

“Tidak. Tenang saja.”

Apartement Kyuhyun oppa berada di Gangnam. Lantai 10 dengan nomor 1023.

“Baiklah, terima kasih, Eunsoo. Aku akan menjemputmu nanti sore.”

Aku mengerti, Luke. Sampai jumpa.

Luke memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan mendekati Jun yang masih tampak cemas.

“Aku sudah mengetahuinya. Ayo, kita ke sana.” Ucap Luke.

——

Saat mendengar bel apartementnya berbunyi, Kyuhyun berpikir jika itu mungkin saja Yeon. Ia tidak tahu mendapatkan pikiran itu darimana. Tetapi hati kecil Kyuhyun ingin Yeon datang dan mengatakan apa yang semalam perempuan itu katakan.

Namun saat melihat dari intercom bahwa yang datang adalah Luke dan Jun, Kyuhyun tidak bisa menutupi keterkejutannya. Ia merasa kedua laki-laki itu tidak memiliki kepentingan untuk datang ke apartementnya.

Apa kedua laki-laki itu ingin membujuknya agar memaafkan Yeon dan menerima perempuan itu kembali? Kyuhyun mendengus dengan pemikirannya sendiri. Jika semuanya benar, maka kedatangan kedua laki-laki itu akan sia-sia.

Karena rasa sakit hati Kyuhyun tidak akan hilang bahkan jika mereka berlutut dihadapannya.

Kyuhyun membukakan pintu untuk mereka dan menunjukkan wajah datarnya. Ia menatap ekspresi cemas di wajah Jun. Apa dia salah melihat?

“H–hyung..” Ucap Jun terlihat ragu.

Kyuhyun yakin Jun juga ikut merasa bersalah atas apa yang Yeon lakukan padanya.

“Ada apa kalian kemari?” Tanya Kyuhyun tanpa berniat membalas sapaan Jun. Ia melihat Jun yang menatap Luke sebelum akhirnya kembali menatapnya.

“Apa noona ada di sini, hyung?” Tanya Jun pelan.

Kyuhyun merasa bingung mendapatkan pertanyaan dari Jun.

“Dia tidak ada disini. Lagipula untuk apa dia disini?” Ucap Kyuhyun dengan acuh.

Jun menelan ludahnya dengan susah payah. Sepertinya Kyuhyun sangat membenci Yeon saat ini. Dan Jun merasa sedih melihatnya.

“A–apa kau tahu dimana noona, hyung?” Tanya Jun lagi.

Kyuhyun tersenyum sinis menanggapi pertanyaan dari Jun. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Yeon, Jun. Apa kau lupa atau kau berpura-pura lupa?” Ucap Kyuhyun.

“Aku tidak peduli dan tidak mau tahu dimana keberadaannya saat ini.” Kata Kyuhyun.

“Bajingan!” Umpat Luke dan memberikan pukulan di rahang Kyuhyun.

“Luke!” Jun menahan Luke yang hendak kembali memukul Kyuhyun yang telah terjatuh.

“Hentikan, Luke.” Pinta Jun sembari menahan dada Luke. Luke terlihat sangat marah dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kyuhyun.

“Laki-laki ini bajingan! Dia sama seperti ayahnya!” Maki Luke.

“Tutup mulutmu, sialan!” Balas Kyuhyun sembari berdiri.

“Kau dan keluargamu sama-sama bajingan! Yeon benar-benar sial karena harus mengenal kalian.” Hardik Luke. Kyuhyun tertawa meremehkan.

“Aku yang seharusnya berkata seperti itu! Aku yang merasa sial karena telah mengenal perempuan pembohong itu!” Komentar Kyuhyun.

“Lepaskan aku, Jun!” Bentak Luke marah.

“Aku mohon hentikan, Luke. Kita disini bukan untuk mencari keributan. Kita ingin mencari noona.” Ucap Jun dengan putus asa.

Kyuhyun terpaku mendengar ucapan Jun. Mencari Yeon?

“Apa maksudmu, Jun?” Tanya Kyuhyun sembari memaksa Jun untuk menatapnya. Mengabaikan rasa sakit dirahangnya akibat pukulan Luke.

“Kau tidak perlu tahu, brengsek! Kau mengatakan sendiri jika kau tidak memiliki hubungan dengannya!” Sela Luke.

“Katakan padaku, Jun. Apa maksdmu kau sedang mencari Yeon?” Kyuhyun tidak memperdulikan Luke.

“Noona tidak pulang dari semalam, hyung. Ponselnya juga tidak aktif.” Jawab Jun membuat mata Kyuhyun melebar. Jantungnya berdebar keras.

“Aku pikir noona datang ke sini dan kau memaafkannya hingga kalian menghabiskan waktu bersama. Tetapi ternyata noona tidak ada disini.” Kata Jun dengan sedih.

“Yeon tidak pulang dari semalam?” Tanya Kyuhyun lagi memastikan. Jun mengangguk.

Sial. Itu berarti Yeon tidak pulang setelah datang ke apartementnya. Kemana perempuan itu? Apa yang sudah Kyuhyun lakukan pada Yeon semalam hingga ia tidak pulang?

“Jika noona tidak ada disini. Kami akan pulang. Maaf telah mengganggu, hyung.” Ujar Jun sembari berusaha mendorong Luke untuk pergi.

“D–dia datang ke sini semalam.” Kata Kyuhyun.

Jun menghentikan gerakannya dan menatap Kyuhyun dengan terkejut. Ia meninggalkan Luke dan mendekati Kyuhyun. Secercah harapan tampak di wajahnya.

“Benarkah?” Ucap Jun.

“Apa yang dia lakukan disini, hyung? Lalu apa dia mengatakan sesuatu kepadamu? Apa dia mengatakan akan pergi ke suatu tempat?” Tanya Jun penuh harap.

“Dia..” Mata Kyuhyun bergerak gelisah.

Bagaimana mungkin Yeon mengatakannya di saat Kyuhyun memperlakukannya dengan kasar?

“Sialan, apa yang kau lakukan padanya?!” Maki Luke sembari mencengkram pakaian Kyuhyun dan mendorongnya ke dinding.

Kyuhyun terlihat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Luke. Tetapi ia tidak dapat melakukan apapun. Ia bahkan tidak ingin mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Yeon semalam.

“Hyung, kau tidak mengatakan sesuatu yang kasar pada noona, kan? K–kau tidak mengusirnya ‘kan, hyung?” Tanya Jun dengan ngeri.

Kyuhyun menatap Jun dengan pandangan bersalah. Apa yang harus dikatakannya pada Jun? Apa dia harus mengatakan jika dia mencumbu perempuan lain dihadapan Yeon hingga Yeon pergi meninggalkan apartementnya?

“H–hyung? Panggil Jun.

“Kau tidak melakukannya, kan?” Bisik Jun.

“Jun, aku–” Kyuhyun kembali menutup mulutnya. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada Yeon, Cho Kyuhyun.” Ancam Luke sembari menatap Kyuhyun tajam.

Kemudian Luke melepaskan cengkramannya pada Kyuhyun. Ia menghampiri Jun dan menarik tangannya.

“Kita pergi dari sini, Jun.” Ajak Luke.

Kyuhyun menatap Jun yang dibawa Luke pergi. Jun menoleh ke belakang dan menatapnya dengan kecewa serta sedih.

Kyuhyun tidak dapat menahan dirinya yang merosot di lantai. Apa yang sudah dilakukannya pada Yeon semalam? Apa yang membuat Yeon tidak pulang ke rumah? Dan kemana perempuan itu sebenarnya pergi?

——

Yeon membuka matanya yang terasa berat. Ia mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya remang-remang ditempatnya berada saat ini. Seluruh tubuhnya terasa sakit karena terikat dengan kencang seperti ini. Sedikit saja ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Yeon tidak tahu dimana ia berada saat ini. Mereka membuatnya pingsan saat berada di dalam mobil saat itu. Hingga Yeon tidak bisa menemukan satu pun petunjuk tentang keberadaannya.

Yeon dapat menebak jika hari sudah berganti. Cahaya terang memasuki celah-celah ditempatnya berada saat ini. Yeon bertanya-tanya apakah Jun dan Luke menyadari ketidakpulangannya semalam? Jika mereka menyadarinya, apakah mereka mencemaskannya?

Yeon menegakkan kepalanya yang terasa berat. Ia menatap sekelilingnya yang tampak kosong. Tidak ada apapun di ruangan itu selain beberapa bongkahan kayu serta dua buah kursi yang salah satunya sedang didudukinya.

Dimana aku?

Yeon tampak waspada saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya memicing saat cahaya memasuki ruangan itu dari pintu yang terbuka. Namun sesaat kemudian cahaya itu hilang ketika pintu kembali tertutup.

Yeon melihat seorang laki-laki tampak berjalan menghampirinya sembari membawa sesuatu di tangannya. Saat laki-laki itu semakin mendekat, Yeon baru menyadari jika dia membawa sebuah piring berisi makanan.

Laki-laki itu mengambil kursi kosong dan mendudukinya dihadapan Yeon. Yeon memundurkan kepalanya saat laki-laki itu mengulurkan tangan untuk menyuapinya.

“Kau harus makan.” Ucapnya.

“Aku tidak mau makan.” Sahut Yeon dengan suara serak. Dia membutuhkan air putih. Namun Yeon tidak sudi mengakuinya.

Laki-laki itu menertawai kesombongan Yeon.

“Apa kau memiliki pilihan, nona? Atau kau lebih memilih untuk mati?”

“Lebih baik aku mati.” Jawab Yeon.

Laki-laki itu tersenyum sinis dan kembali mengulurkan sendok yang telah terisi makanan. Namun Yeon memalingkan wajahnya hingga sendok itu terjatuh.

“Dasar jalang!” Maki laki-laki itu sembari memberikan tamparan pada wajah Yeon.

Yeon meringis pelan saat merasakan perih pada pipinya. Jika ia tidak terikat, Yeon yakin ia akan tersungkur akibat tamparan laki-laki itu.

“Kau tidak bisa bersikap semaumu disini! Kau seharusnya memohon agar dibebaskan. Bukannya bersikap sombong!” Tukas laki-laki itu.

“Sayangnya aku tidak sudi memohon padamu.” Ucap Yeon tanpa terlihat takut sama sekali.

Laki-laki itu berdiri dan melempar piring berisi makanan ke lantai. Yeon memekik karena terkejut. Laki-laki itu mencengkram rahang Yeon dengan kuat.

“Bahkan jika nanti kau merengek meminta makan padaku, aku tidak akan memberikannya padamu.” Ucap laki-laki itu dan kemudian menghempaskan kepala Yeon.

Pintu kembali terbuka dan tertutup kemudian. Kali ini Yeon melihat bukan hanya satu orang yang masuk. Tapi ada beberapa orang. Dan laki-laki yang baru saja menampar Yeon langsung membungkukkan tubuhnya saat melihat siapa yang datang. Yeon menebak itu adalah pemimpin mereka.

Dan kenapa Yeon tidak merasa terkejut saat melihat Cho Younghwan–lah di balik semua ini? Cho Younghwan yang menculiknya. Yeon sudah bisa menebak itu semua.

“Ada apa ini?” Tanya Younghwan pada anak buahnya.

“Dia tidak mau makan, tuan.” Jawab laki-laki itu.

Younghwan mengalihkan pandangannya pada Yeon dan tersenyum sinis.

“Tidak terkejut melihatku?” Tanyanya.

“Tidak sedikit pun.” Jawab Yeon sembari menatap Younghwan dengan penuh kebencian.

“Yah, tentu saja. Kau pasti sudah bisa menebak saat kau mengganggu ketenangan hidupku, kan? Kau membuat rumahku dipenuhi oleh sampah-sampah itu hingga untuk keluar rumah pun aku kesulitan.” Ucap Younghwan dengan geram.

Younghwan menduduki kursi yang diduduki anak buahnya sebelumnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan kembali menatap Yeon.

“Kau benar-benar memiliki keberanian untuk mengusik kehidupanku, Jung Yeon. Sama seperti ayahmu.”

“Jangan menyebut ayahku dari mulut kotormu!” Bentak Yeon.

Younghwan tersenyum sinis.

“Kau tidak berhak mengaturku, jalang.” Kata Younghwan dengan tenang.

“Aku sudah cukup bersabar menghadapimu selama ini. Jadi lebih baik kau tidak membuatku marah atau aku akan membunuhmu.” Ancam Younghwan. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Yeon.

“Seperti aku membunuh kedua orangtuamu.” Lanjutnya berbisik dan menyeringai.

Mata Yeon melebar mendengar bisikan pria itu. Akhirnya Younghwan mengakui apa yang dilakukannya sepuluh tahun yang lalu. Tetapi diwajahnya tidak ada rasa penyesalan sama sekali. Yeon ingin memukul wajahnya.

“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” Yeon mencoba memberontak dari ikatan kuat pada tubuhnya.

Younghwan tertawa melihat Yeon yang tampak marah. Ia membiarkan perempuan itu terus memberontak dan menyakiti dirinya sendiri. Mereka sama-sama tahu bahwa ikatan itu tidak akan lepas.

“Saat kau tahu bahwa aku pembunuh orangtuamu, seharusnya kau diam saja. Kau tidak perlu melakukan balas dendam ini.” Kata Younghwan.

“Dan seharusnya kau berhenti ketika aku telah memperingatkanmu dengan menyakiti orang-orang terdekatmu.”

“Kau yang menyakiti Jun dan Luke.” Lirih Yeon. Younghwan menganggukkan kepalanya.

“Benar. Kau juga sudah tahu itu dari awal, kan?” Sahut Younghwan.

Yeon seharusnya tidak menangis. Karena Younghwan akan tersenyum senang melihatnya tidak berdaya seperti ini. Tetapi ia tidak bisa menahan airmata yang mengalir diwajahnya. Yeon merasa benar-benar marah.

“Jika saja kau tidak bekerja di perusahaanku dan tidak mendekati anakku, aku tidak akan pernah menganggumu.” Ujar Younghwan.

“Tetapi buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kau benar-benar menyebalkan seperti ayahmu.”

“Bajingan. KAU BENAR-BENAR BAJINGAN!!” Teriak Yeon.

Younghwan memberikan tamparan keras pada pipi Yeon. Ia sudah menahan ini sejak di Gereja saat itu. Tidak, sudah sejak lama Younghwan ingin melakukan hal ini pada Yeon. Seharusnya ia membunuh Yeon bersama kedua orangtuanya sepuluh tahun yang lalu.

Yeon dapat merasakan darah keluar dari sudut bibirnya. Tamparan Younghwan benar-benar menyakitinya. Tetapi lagi-lagi tidak ada yang dapat dilakukannya untuk membalas perbuatan pria itu. Ia akan selalu kalah dari Younghwan.

Yeon meringis saat merasakan Younghwan menjambak rambutnya hingga kepalanya mendongak untuk menatap pria itu. Wajah Younghwan terlihat sangat dekat dengan wajahnya. Dan tarikan Younghwan pada rambutnya semakin kuat.

“Tutup mulutmu jika kau tidak ingin menyusul kedua orangtuamu dengan cepat.” Bisik Younghwan.

“Bunuh aku, brengsek!” Desis Yeon. Younghwan tersenyum sinis.

“Tidak sekarang, sayang. Kau telah membuat hidupku susah. Jadi aku akan membereskan perbuatanmu dulu sebelum menghabisimu.” Tukas Younghwan dan melepaskan tangannya dari rambut Yeon.

Younghwan berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.

“Jaga dia baik-baik. Si jalang ini bisa melakukan apapun untuk kabur.” Pesan Younghwan pada anak buahnya.

“Baik, tuan.”

“Ah, apa kau ingat laki-laki ini?” Tanya Younghwan sembari menepuk bahu laki-laki yang membawa makanan untuk Yeon.

Yeon menatap laki-laki itu untuk beberapa saat. Laki-laki itu memang tampak tidak asing untuknya. Beberapa saat kemudian mata Yeon melebar. Ia ingat siapa laki-laki itu.

“Benar. Dia orang yang telah menembak orangtuamu.” Ucap Younghwan seakan bisa membaca pikiran Yeon. Laki-laki itu menyeringai.

Dan salah satu yang memperkosaku.

“Jadi lebih baik kau menjaga sikapmu, jika tidak.. Dor!” Ujar Younghwan dengan tertawa.

Younghwan menatap Yeon sekali lagi sebelum berbalik untuk meninggalkan tempat itu.

“Cho Kyuhyun benar-benar sial mendapatkan ayah seperti dirimu.” Ucap Yeon membuat Younghwan menghentikan langkahnya namun tidak berbalik.

“Juga istrimu pasti sangat menyesal karena telah menikah dengan seorang bajingan sepertimu.” Lanjut Yeon.

Younghwan berbalik dan kembali memberikan tamparan pada Yeon, hingga membuat perempuan itu tidak sadarkan diri. Younghwan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

“Sudah aku katakan untuk tutup mulutmu.”

—–

Jun menatap foto keluarga yang berada di tangannya saat ini. Foto keluarga yang berada di kamar Yeon. Ia sedang berbaring di atas tempat tidur Yeon sembari memandangi foto itu dengan sedih.

Jun lupa kapan terakhir kali ia merasa begitu bahagia. Setelah kedua orangtuanya meninggal, semuanya terasa berbeda. Walaupun ia selalu menunjukkan wajah cerianya pada Yeon, tidak ada yang tahu apa yang dirasakannya selama ini.

Dan sekarang, di saat ia tidak tahu dimana keberadaan satu-satunya keluarga yang dimilikinya, Jun benar-benar merasa takut. Ia tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Jun tidak ingin Yeon meninggalkannya.

“Noona..” Gumam Jun. Mengabaikan airmata yang mengalir hingga membasahi bantal Yeon.

“Maafkan aku, appa, eomma. Aku tidak bisa menjaga noona dengan baik. Aku bahkan tidak tahu dimana keberadaannya saat ini.” Bisik Jun.

Jun ingin memutar waktu. Ia ingin kembali pada beberapa waktu lalu, saat Yeon masih berada di rumah ini. Ia ingin menemani kemana pun kakaknya itu ingin pergi. Ia ingin menjaga Yeon dengan sepenuh hatinya.

“Apa yang sebenarnya dilakukan Kyuhyun hyung padamu, noona?” Tanya Jun sembari menatap foto Yeon kecil.

“Jun! Jun!”

Jun segera mengusap airmatanya saat mendengar suara Luke yang memanggilnya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk masih dengan memegang foto di tangannya. Beberapa saat kemudian Luke masuk ke dalam kamar Yeon.

“Kau disini rupanya.” Ucap Luke terlihat lega.

Luke menghampiri Jun dan duduk disampingnya. Ia melirik pada foto yang sedang dipegang Jun.

“Kau tidak sekolah?” Tanya Luke.

“Bagaimana aku bisa sekolah di saat aku tidak tahu di mana keberadaan noona.” Jawab Jun.

“Yeon pasti baik-baik saja.”

“Bagaimana jika dia tidak baik-baik saja, Luke? Ini sudah dua hari sejak dia menghilang. Polisi bahkan belum mendapatkan petunjuk apapun.”

“Yeon perempuan yang kuat, Jun. Apapun yang terjadi padanya, ia akan mampu bertahan.” Kata Luke mencoba menenangkan Jun.

“Apakah saat itu Kyuhyun hyung berkata kasar pada noona, Luke? Apakah Kyuhyun hyung mengusirnya dan noona merasa sakit hati?” Tanya Jun dengan berbagai pemikiran buruknya.

Luke mencoba menahan geraman saat mendengar pertanyaan Jun. Jika memang seperti itu yang terjadi, Luke akan memberi pelajaran pada Kyuhyun. Ia tidak akan pernah melepaskan laki-laki itu.

“Berhenti berpikiran buruk. Yeon pasti baik-baik saja.” Ujar Luke.

“Sekarang kau ikut aku ke rumahku. Ayah dan ibuku mencemaskanmu. Kau akan tinggal bersama kami sampai Yeon kembali.” Kata Luke sembari menarik Jun untuk berdiri.

“Bagaimana jika noona tidak kembali?” Tanya Jun dengan mata yang berkaca-kaca.

Luke menatap Jun. Ia berharap Jun tidak menangkap perasaan takut yang dirasakannya.

“Yeon akan kembali.” Ucap Luke dengan tegas.

Kemudian Luke membawa Jun untuk meninggalkan rumahnya. Ia dan orangtuanya tidak bisa meninggalkan Jun seorang diri seperti ini. Mereka takut terjadi sesuatu pada laki-laki itu.

Luke merasa ada sesuatu yang tidak beres. Jika Yeon memang melakukan hal bodoh, perempuan itu pasti meninggalkan pesan padanya atau Jun. Hanya saja saat ini Yeon seolah menghilang tanpa jejak. Membuat Luke menebak jika ada orang lain yang melakukan sesuatu yang jahat pada Yeon.

Tetapi ia tidak bisa mengatakannya pada Jun. Ia tidak ingin Jun merasa khawatir. Karena itu Luke berusaha untuk mencari kebenarannya terlebih dahulu. Sebelum membahasnya pada Jun. Besar harapan Luke agar sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Yeon.

Selama sepuluh tahun ini Yeon menjalani hidup yang sulit. Ia harus kehilangan orangtuanya serta kehormatan dirinya sendiri. Perempuan itu harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan Jun. Semua itu karena ia tidak ingin merepoti keluarga Luke.

Dan Luke tidak sanggup jika harus melihat Yeon melewati kesulitan lagi di dalam hidupnya. Yeon pantas untuk bahagia.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Luke. Kedua laki-laki itu segera turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah. Luke merangkul Jun dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan untuknya.

Saat melihat Max dan Kate, Jun tidak bisa menahan kesedihan yang telah ditahannya beberapa hari ini. Ia segera menghampiri mereka dan memeluk Max dengan erat. Tangisnya pecah di bahu Max hingga membuat Kate ikut meneteskan airmatanya.

“Aku takut sesuatu terjadi padanya, daddy.” Isak Jun.

“Tidak, Jun. Dia akan baik-baik saja.” Bisik Max.

“Aku takut.” Ucap Jun.

Max melepaskan pelukan Jun. Ia mengusap wajah Jun untuk membersihkan airmatanya.

“Noona pergi karena aku mengabaikannya. Noona meninggalkanku karena aku sudah membuatnya sedih.” Isak Jun lagi.

“Tidak, sayang. Tidak seperti itu.” Kate mengusap wajah Jun.

Mom, bisakah kau membawa Jun ke kamarku untuk beristirahat? Dia nyaris tidak tidur beberapa hari ini.” Ucap Luke.

“Tidak. Aku tidak mau tidur. Bagaimana jika noona menghubungiku saat aku sedang tidur? Bagaimana jika noona membutuhkanku? Aku juga tidak seharusnya berada di sini. Jika noona pulang tidak akan ada yang membukakannya pintu.” Ujar Jun.

Jun berbalik dan hendak meninggalkan rumah Luke. Namun Max dan Luke langsung menahannya. Kondisi Jun benar-benar sedang tidak baik saat ini.

“Jun, tenanglah.” Pinta Luke.

“Tidak, Luke. Aku harus pulang.” Bantah Jun.

“Jun. Jun, look at me.” Max menangkup wajah Jun hingga laki-laki itu menatapnya.

Calm down, okay? She’s fine. She will come back for you. For us.” Bisik Max.

Daddy..” Isak Jun lagi. Max kembali memeluknya dan mengusap kepalanya.

It’s okay, son. It’s okay.

Mom..” Luke memberi isyarat pada Kate untuk membawa Jun ke atas.

“Ayo, Jun. Kau harus istirahat.” Kate menggandeng lengan Jun dan membawanya ke kamar Luke.

Luke dan Max menatap punggung Jun dengan sedih. Mereka bisa membayangkan bagaimana khawatirnya laki-laki itu pada Yeon. Karena mereka pun merasakan hal yang sama.

“Apa belum ada kabar, Luke?” Tanya Max.

“Belum, dad.” Jawab Luke.

“Aku pikir seseorang menculik Yeon.” Ucap Luke.

“Apa kau memiliki gambaran siapa orang itu?” Tanya Max lagi.

Luke menghela nafas dan mengangguk. Tentu saja ia bisa tahu siapa satu-satunya orang yang menginginkan Yeon terluka.

“Seseorang yang membunuh kedua orangtua Yeon.” Jawab Luke membuat mata Max melebar.

Dan Luke pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Max.

——

Seharusnya Kyuhyun tidak peduli dengan kabar menghilangnya Yeon. Ia seharusnya membenci perempuan itu sampai mati. Tetapi Kyuhyun benar-benar tidak bisa melakukannya. Kyuhyun tidak bisa mengabaikan keberadaan Yeon yang entah dimana. Dan rasa bencinya pada Yeon tidak sebesar rasa cintanya pada perempuan itu.

Kyuhyun tahu bahwa tidak seharusnya ia mencurigai Younghwan tentang menghilangnya Yeon. Tetapi Kyuhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak curiga. Jika Younghwan mampu membunuh orang lain, bukan tidak mungkin jika dia menculik Yeon.

Tentu saja kecurigaan Kyuhyun didasari dengan alasan yang kuat. Ia yakin Younghwan merasa marah karena Yeon telah mengatakan kepada seluruh dunia apa yang dilakukan pria itu. Bahkan hingga hari ini para wartawan masih setia berada di depan rumah Younghwan untuk meminta penjelasan pria itu.

Karena itulah Kyuhyun memilih untuk memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah Younghwan. Ia tidak ingin menarik perhatian wartawan dan membuat mereka menyerbunya. Ia bahkan tidak tahu harus berpendapat seperti apa tentang semua ini.

Kyuhyun tahu bahkan jika ia bertanya pada Younghwan, pria itu tidak akan mengatakan apapun. Ia tidak akan mungkin mau mengakui perbuatannya pada Kyuhyun. Karena itulah Kyuhyun menunggu hingga Younghwan keluar dan akan mengikuti kemana pun pria itu pergi.

Kyuhyun menyandarkan punggungnya dan menghela nafas panjang. Ia merasa bersikap brengsek karena menjadikan Younghwan sebagai tersangka atas menghilangnya Yeon.

Bagaimana jika Yeon pergi karena apa yang dilakukannya saat itu? Bagaimana jika Yeon pergi karena merasa sakit hati atas perlakuannya? Bagaimana jika Yeon benar-benar mencintainya dan merasa putus asa karena Kyuhyun tidak mempercayainya?

“Tidak..” Gumam Kyuhyun.

Yeon tidak akan mungkin meninggalkan Jun. Kyuhyun tahu bagaimana sayangnya Yeon pada Jun. Perempuan itu tidak akan tega jika harus meninggalkan Jun seorang diri di dunia ini. Jun satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

Kyuhyun kembali menatap ke depan dan tidak menemukan tanda-tanda Younghwan akan keluar rumah. Ia tahu usahanya ini bisa saja gagal. Younghwan termasuk jarang meninggalkan rumah selama ini. Pria itu lebih memilih menghabiskan waktunya di ruang kerjanya di dalam rumah.

Kyuhyun merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya bergetar. Ia melihat nama Sekretaris Han di sana sebelum akhirnya menjawab telepon itu.

“Ada apa?” Tanya Kyuhyun sembari matanya terus menatap rumah Younghwan.

Direktur, apa Anda hari ini tidak datang ke kantor lagi? Ada rapat penting–

“Aku tidak akan ke kantor sampai wartawan-wartawan sialan itu meninggalkan kantor!” Sela Kyuhyun terdengar geram.

Tetapi rapat–

“Persetan dengan rapat!” Umpat Kyuhyun.

Kemudian mata Kyuhyun melebar saat melihat mobil Younghwan meninggalkan rumah. Kyuhyun langsung menginjak gas untuk menyusul mobil itu. Ia dapat melihat beberapa wartawan mengejar mobil Younghwan namun tidak ada hasilnya.

“Jangan hubungi aku hingga kau bisa mengusir wartawan-wartawan itu!” Ucap Kyuhyun dan kemudian langsung melempar ponselnya ke kursi kosong disampingnya.

Kyuhyun menggenggam stir mobil dengan erat. Dalam hatinya terus berdoa semoga Younghwan tidak pergi ke tempat yang mencurigakan. Kyuhyun tidak ingin Younghwan terlihat dalam hilangnya Yeon. Ia tidak sanggup membenci ayahnya sendiri.

“Aku mohon, abeoji.” Gumam Kyuhyun.

Matanya terus menatap mobil Younghwan karena Kyuhyun tidak ingin kehilangan jejak. Namun Kyuhyun tetap menjaga jarak agar Younghwan tidak menyadari keberadaannya.

Kyuhyun tidak tahu berapa lama ia mengikuti Younghwan. Karena beberapa puluh-puluh menit kemudian–bahkan hampir satu jam–mereka mulai memasuki jalan yang sepi. Kyuhyun menatap ke sekeliling untuk mencari tahu dimana ia berada.

Kyuhyun dengan tiba-tiba menginjak rem hingga tubuhnya terjungkal ke depan, saat melihat mobil Younghwan berhenti. Jantungnya berdetak dengan kencang karena panik. Hampir saja ia membuat dirinya terlihat oleh Younghwan.

Kyuhyun memicingkan matanya ketika melihat Younghwan keluar dari mobil. Beberapa laki-laki keluar dari sebuah gedung yang sepertinya habis terbakar dan mereka menghampiri Younghwan. Mereka tampak berbicara dengan serius dengan Younghwan, sebelum akhirnya pria itu masuk ke dalam gedung itu.

Batin Kyuhyun bertanya-tanya. Siapa laki-laki yang mengajak Younghwan berbicara? Dan apa yang dilakukan Younghwan di tempat tidak terpakai seperti ini?

Jantung Kyuhyun berdetak dengan semakin cepat. Apa Yeon berada di sana? Apa Younghwan benar-benar menculik Yeon dan mengurungnya di sana? Kyuhyun benar-benar bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Ia merasa otaknya tidak bisa berpikir.

Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk menunggu hingga Younghwan keluar dari sana. Selama menunggu perasaan Kyuhyun benar-benar tidak tenang. Ia takut Yeon benar-benar berada di dalam sana.

Kyuhyun mengambil ponselnya dan mencari nama Yeon. Ia mencoba untuk menghubungi perempuan itu. Mungkin saja Yeon sudah kembali tetapi Luke dan Jun tidak memberitahukannya. Namun sayangnya ponsel Yeon tidak aktif, seperti kata Jun.

Kyuhyun mengerang dan langsung menundukkan kepalanya saat melihat Younghwan telah keluar dari gedung itu. Ia tidak menyangka jika Younghwan hanya sebentar saja di dalam sana.

Younghwan kembali masuk ke dalam mobilnya dan kemudian meninggalkan gedung itu. Kyuhyun menatap gedung itu dengan bimbang. Ia sedang berpikir apakah harus masuk ke sana atau tidak. Bagaimana jika Yeon benar-benar ada di sana?

Kyuhyun menggeleng. Ia tidak bisa bergerak dengan ceroboh. Jika Yeon memang ada di sana, kecerobohannya bisa membahayakan nyawa Yeon.

Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan gedung itu. Ia tidak bisa bergerak seorang diri seperti ini. Ia harus meminta bantuan jika tidak ingin terjadi apa-apa pada Yeon.

——

Luke merasa sangat terkejut saat melihat Kyuhyun ketika ia membuka pintu rumahnya. Melihat Kyuhyun lagi di rumahnya–setelah semua masalah yang terjadi–tidak pernah terpikirkan olehnya. Dan Luke dapat melihat ekspresi tertekan di wajah Kyuhyun.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Luke terlihat tidak suka.

“Bisa aku bicara denganmu?” Tanya Kyuhyun balik.

“Aku pikir tidak ada yang perlu dibicarakan di antara dua laki-laki yang saling membenci.” Jawab Luke sembari bersiap menutup pintu. Namun Kyuhyun langsung menahannya.

“Ini tentang Yeon.” Ucap Kyuhyun membuat Luke kembali membuka pintu.

Luke mendorong Kyuhyun.

“Kalian sudah tidak ada hubungan! Kau tidak berhak membicarakan apapun tentangnya.” Tukas Luke.

“Ada apa ini?” Tanya Max yang datang dari belakang Luke.

Kyuhyun melirik Max sesaat.

“Apa yang dilakukannya disini?” Tanya Max terlihat tidak senang.

Max ingin memukul Kyuhyun jika mengingat apa yang dilakukan Younghwan pada orangtua Yeon. Tetapi saat mengingat apa yang dilakukan Yeon pada Kyuhyun, Max mencoba menahan diri.

“Tidak ada.” Jawab Luke.

“Aku sepertinya tahu dimana Yeon berada.” Kata Kyuhyun membuat Luke dan Max menatapnya dengan terkejut.

“Sialan, apa maksudmu?” Luke mencengkram pakaian Kyuhyun.

“Luke, calm down.” Sela Max sembari menjauhkan Luke dari Kyuhyun. Kemudian ia menatap Kyuhyun.

“Kau benar-benar mengetahui dimana Yeon?” Tanya Max.

“Tidak terlalu yakin.” Jawab Kyuhyun.

Kening Max berkerut mendengar jawaban Kyuhyun.

“Karena itulah aku ingin membicarakannya.” Kata Kyuhyun.

“Masuklah.” Ucap Max.

Kyuhyun mengangguk dan masuk ke dalam rumah Luke. Max menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu. Pria itu sendiri duduk berdampingan dengan Luke di seberang Kyuhyun.

“Jadi, apa maksud ucapanmu tadi? Kenapa kau tidak yakin dengan keberadaan Yeon?” Tanya Max.

“Aku yakin kalian mencurigai ayahku ada hubungannya dengan hilangnya Yeon.” Ucap Kyuhyun membuat Luke mendengus.

“Karena aku pun mencurigainya.” Lanjut Kyuhyun. Luke memicingkan matanya.

“Aku memutuskan untuk mengikutinya. Dan dia mendatangi sebuah tempat yang membuat kecurigaanku bertambah.”

“Dimana itu?” Tanya Luke langsung.

“Aku yang akan ke sana dan menyelamatkan Yeon.” Kata Kyuhyun yakin.

“Kau tidak perlu melakukannya. Kau sendiri yang bilang jika kalian tidak memiliki hubungan apapun lagi.” Sahut Luke.

Kyuhyun merasa ada yang menampar wajahnya. Bisakah ia mencabut kata-kata itu?

“Tetapi ini berhubungan dengan ayahku.” Balas Kyuhyun.

“Jika Yeon benar-benar berada di sana dan kau berusaha untuk menyelamatkannya, ayahku bisa saja membunuhmu.” Kyuhyun benar-benar merasa sesak saat mengakui ayahnya seorang pembunuh.

“Membunuh sepertinya menjadi kegiatan sehari-hari untuk ayahmu.” Sindir Luke. Kyuhyun mencoba untuk tidak terpancing emosi.

“Ayahku tidak akan membunuhku jika aku yang melakukannya.” Ujar Kyuhyun.

“Kita hanya perlu melaporkannya pada polisi.” Kata Max. Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada pria itu.

“Ayahku bisa melakukan apapun pada Yeon jika dia terdesak.” Komentar Kyuhyun.

“Ayahmu benar-benar bajingan!” Maki Luke.

“Aku akan membuatnya membayar apa yang sudah dilakukannya pada Yeon.” Ucap Kyuhyun.

“Bahkan jika kau tidak melakukannya, aku yang akan melakukannya.” Tukas Luke.

“Luke, bisakah kau tenang sedikit?” Tegur Max.

“Bagaimana aku bisa tenang, dad? Yeon diculik oleh orang yang membunuh orangtuanya. Bajingan itu bisa melakukan apapun padanya!”

“Bahkan dengan kau marah-marah, kau tidak bisa menyelamatkannya.”

Luke mengumpat pelan mendengar ucapan Max.

“Jadi, apa yang kau inginkan?” Tanya Max sembari menatap Kyuhyun dengan serius.

Kyuhyun menghela nafas panjang.

“Aku akan memeriksa tempat itu dan memastikan apakah Yeon berada di sana atau tidak. Jika Yeon benar-benar berada di sana, aku akan menyelamatkannya dalam waktu 24 jam. Tetapi jika aku dan Yeon tidak kembali dalam 24 jam..” Kyuhyun menatap Max dan Luke bergantian.

“Aku ingin kalian menghubungi polisi dan memeriksa tempat itu.” Lanjut Kyuhyun.

Luke dan Max tampak memikirkan rencana Kyuhyun. Rencana yang sangat sederhana dan bisa langsung dilakukan. Wajah Kyuhyun pun terlihat sangat yakin saat menjelaskannya.

“Dimana tempat itu?” Tanya Luke.

“Berjanjilah untuk bekerja sama denganku, Luke. Ini semua demi keselamatan Yeon.” Pinta Kyuhyun.

“Jika kau bergerak ceroboh dengan langsung ke sana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Yeon.”

Wajah Kyuhyun terlihat frustasi dan Luke tertegun melihatnya. Ia menyadari jika laki-laki itu benar-benar mencintai Yeon. Dan kebenciannya pada Yeon tidak seberapa dibandingkan rasa khawatirnya pada perempuan itu.

“Ini kartu namaku.” Kata Max tiba-tiba sembari memberikan sebuah kartu nama.

Kyuhyun merasa bingung namun tetap mengambil kartu nama itu.

“Kirimkan pesan padaku dimana tempat itu berada. Aku tidak akan memberitahu Luke hingga 24 jam ke depan.”

Dad!” Protes Luke.

Don’t be selfish, Luke.” Ucap Max dengan tenang.

“Ini semua demi, Yeon. Aku tahu kau merasa marah pada ayah Kyuhyun. Bukan hanya kau. Semua yang menyayangi Yeon juga merasa marah. Tetapi kita harus menyelamatkannya terlebih dahulu, Luke. Apa kau tidak sedih melihat Jun?” Ujar Max.

Mendengar nama Jun membuat Kyuhyun mengingat tatapan sedih dan kecewa laki-laki itu saat meninggalkan apartementnya. Ia yakin Jun merasa sangat khawatir karena Yeon belum juga kembali.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya saat mendengar Luke memukul lengan sofa dengan kesal. Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap Kyuhyun dengan tajam.

“Jika terjadi apa-apa pada Yeon, aku akan membunuhmu dan ayahmu. Aku tidak main-main dengan ucapanku, Cho Kyuhyun.” Ancam Luke.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Karena jika memang terjadi apa-apa pada Yeon pun, ia tidak akan mau hidup lagi. Jadi ia akan membiarkan luke untuk membunuhnya.

“Aku akan mengabarimu saat sudah berada di sana, Mr. Collins.” Kata Kyuhyun menatap Max. Max mengangguk.

“Aku minta untuk tidak mengatakan tentang ini pada Jun. Aku tidak ingin dia semakin khawatir.”

“Kau tidak perlu menggurui kami. Kami lebih mengerti tentang itu.” Sergah Luke.

“Kalau begitu aku akan pergi ke rumah Yeon terlebih dahulu untuk menemui Jun. Setelah itu aku akan segera pergi ke tempat itu.” Ucap Kyuhyun sembari berdiri.

“Jun berada di sini.” Sela Max membuat mata Kyuhyun sedikit melebar.

“Kami tidak bisa membiarkannya seorang diri di rumah.”

Kyuhyun mengutuk dirinya. Seharusnya dia yang menemani Jun di saat-saat seperti ini. Seharusnya ia bisa bersikap layaknya seorang kakak dan menenangkan laki-laki itu.

“Bisakah aku bertemu dengannya sebentar?” Pinta Kyuhyun.

“Pergilah. Dia ada di kamar Luke. Lantai dua kamar pertama sebelah kanan.” Ucap Max.

Kyuhyun menggumamkan terima kasih dan segera melangkahkan kakinya untuk ke lantai dua. Ia dapat merasakan tatapan Luke dan Max di balik punggungnya.

Kyuhyun menemukan kamar seperti yang dijelaskan oleh Max. Ia membuka pintunya dengan pelan dan langsung menemukan Jun yang sedang menatap pemandangan dari jendela kamar. Tatapan laki-laki itu tampak begitu sendu.

“Aku benar-benar sedang tidak ingin makan, Kate. Jangan memaksaku.” Ucap Jun.

Kyuhyun menutup pintu di belakangnya.

“Ini aku, Jun.” Ujar Kyuhyun membuat Jun segera menoleh.

“Hyung?” Jun tampak tidak percaya jika Kyuhyun berada di sini.

“Apa yang kau lakukan disini, hyung?” Tanya Jun. Kyuhyun mendekati Jun dan berdiri di hadapan laki-laki itu.

“Kau belum makan?” Kyuhyun tidak memperdulikan pertanyaan Jun.

“Tidak lapar.” Ucap Jun singkat.

“Kau harus makan. Yeon akan sedih jika kau tidak makan.”

“Noona bahkan tidak ada disini. Tidak apa-apa jika dia mengomeliku, asalkan dia ada disini bersamaku.” Kata Jun dengan sedih.

Kyuhyun menghela nafas panjang.

“Maafkan aku karena menjadi orang terakhir yang bertemu dengan Yeon. Seandainya saja aku mengantarkannya pulang atau menahannya di apartementku.” Ujar Kyuhyun.

“Hubungan kalian berantakan. Kau sudah pasti tidak akan mengantarkan noona pulang.” Sahut Jun.

“Hanya jawab saja pertanyaanku, hyung.” Pinta Jun. Kyuhyun menatap Jun dengan waspada.

“Apakah kau memperlakukan noona dengan kasar saat itu? Apa kau mengusirnya?” Tanya Jun.

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Apa yang harus dikatakannya pada Jun? Ia memperlakukan Yeon dengan kasar dan secara tidak langsung mengusir perempuan itu. Jun pasti akan sedih jika mendengar jawabannya.

“Maafkan aku.” Bisik Kyuhyun.

Jun mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun dan mencoba menahan airmatanya. Ia tidak ingin menangis di hadapan Kyuhyun.

“Noona pasti sedih.” Gumam Jun.

“Aku akan membawa Yeon kembali, Jun.” Kata Kyuhyun. Jun kembali menatapnya.

“Bagaimana pun caranya, aku akan membawanya kembali.” Ulang Kyuhyun.

“Benarkah, hyung? Kau tidak akan mengecewakanku, kan?”

Kyuhyun tersenyum kecil.

“Aku tidak akan mengecewakanmu.” Kata Kyuhyun sembari menepuk pelan pipi Jun.

“Sekarang kau harus makan. Karena Yeon tidak akan senang jika kau menyiksa dirimu seperti ini.” Ucap Kyuhyun. Jun tidak mengangguk maupun menggeleng.

“Aku harus pergi.” Pamit Kyuhyun.

“Bawa noona kembali, hyung.” Pinta Jun. Kyuhyun kembali tersenyum dan mengangguk.

——

Hari sudah mulai gelap saat Kyuhyun sampai di gedung kosong tempat ia mengikuti Younghwan tadi. Ia sudah mengirimkan pesan pada Max dimana lokasi gedung ini. Saat ini Kyuhyun sedang menghubungi Hanna. Ia perlu memastikan satu hal sebelum masuk ke dalam sana.

“Eommoni..”

Kyuhyun-ah, kau dimana?

Kyuhyun mendengar nada khawatir dalam suara Hanna. Dan ia merasa bersalah.

“Aku baik-baik saja, eommoni. Maaf karena mengkhawatirkanmu akhir-akhir ini.”

Aku benar-benar mencemaskanmu.

“Jangan khawatirkan aku, eommoni. Apakah abeoji ada di rumah?”

Ya. Ayahmu ada di rumah. Apa kau akan ke sini dan bertengkar lagi dengan ayahmu? Saat ini masih banyak wartawan di luar sana. Aku tidak ingin kalian bertengkar.

“Aku tahu, eommoni. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuat para wartawan itu mendapatkan berita.”

Kyuhyun dapat mendengar Hanna mendesah lega.

“Kalau begitu jaga dirimu, eommoni. Aku akan menemuimu beberapa hari lagi.”

Kau juga jaga dirimu, sayang.

“Ya. Sampai jumpa.”

Kyuhyun mengaktifkan mode getar pada ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku. Ia segera keluar dari mobil dan menatap ke sekelilingnya. Memastikan tidak ada orang di dekatnya.

Kemudian ia berjalan mengendap-endap mendekati gedung kosong. Karena hari mulai gelap, Kyuhyun harap keberadaannya tidak mudah dilihat oleh para laki-laki yang berbicara dengan Younghwan tadi. Kyuhyun yakin merekalah yang bertugas menjaga gedung ini.

Kyuhyun terus menatap ke kanan kirinya selagi berjalan mendekati gedung. Ia berusaha untuk tidak menginjak apapun yang bisa menimbulkan suara.

Setelah berada di dekat gedung itu, Kyuhyun berusaha untuk mencari jendela ataupun sebuah lubang untuk mengintip ke dalam. Ia harus memastikan apakah Yeon berada di dalam atau tidak.

Kyuhyun memutari gedung itu masih dengan berjalan mengendap-endap. Ia tidak menemukan jendela satupun. Membuatnya berpikir jika tempat ini digunakan sebagai gudang sebelum terbengkalai seperti ini.

Kyuhyun meraba-raba dinding bagian samping gedung tersebut. Mencoba mencari celah untuk melihat keadaan di dalam. Ia menemukan sebuah lubang kecil dan digunakannya untuk mengintip. Sayangnya ia tidak bisa melihat apapun. Karena gedung itu dalam keadaan gelap.

“Kau siapa?”

Tubuh Kyuhyun menegang saat mendengar suara laki-laki dari belakangnya. Ia menegakkan punggungnya dan mencoba untuk tidak panik. Tertangkap di saat ia belum memastikan keberadaan Yeon adalah hal terakhir yang diinginkannya.

Dengan perlahan Kyuhyun berbalik. Hal pertama yang dipastikannya adalah laki-laki itu tidak membawa senjata apapun. Dan Kyuhyun tampak bernafas lega saat melihat laki-laki itu tidak membawa apapun.

“Kau siapa? Dan sedang apa disini?” Tanya laki-laki itu.

“Aku ingin menyewa gedung ini.” Ujar Kyuhyun.

“Gedung ini tidak disewakan.”

Kyuhyun memutar otaknya untuk mencari alasan.

“Apakah aku bisa melihat isi di dalam gedung ini?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak ada apapun di dalam.” Jawab laki-laki itu dengan wajah datar.

“Tapi–“

“Silahkan pergi. Ini bukan tempat umum.” Usir laki-laki itu.

“Aku hanya ingin melihat keadaan di dalam. Setelah itu aku akan pergi.” Kata Kyuhyun bersikeras.

Kyuhyun berjalan meninggalkan laki-laki itu dan mendekati pintu gedung tersebut. Namun belum sampai di sana, laki-laki tadi menahan bahunya.

“Kau tidak boleh ke sana.” Ucapnya.

Kyuhyun langsung berbalik dan memelintir tangan laki-laki itu yang berada di bahunya. Kemudian ia memberikan pukulan pada perut laki-laki itu hingga mengerang kesakitan.

Sikap laki-laki itu mencurigakan. Kyuhyun harus melumpuhkannya agar bisa melihat keadaan di dalam gedung. Laki-laki itu tidak tinggal diam saat mendapat pukulan dari Kyuhyun. Ia memberikan beberapa perlawanan yang mampu di hindari oleh Kyuhyun.

Kyuhyun memberikan pukulan pada rahang, hidung dan perutnya. Terakhir Kyuhyun memberikan tendangan pada perut laki-laki itu hingga ia tersungkur di tanah.

Kyuhyun menegakkan punggungnya dan mengusap keringat di pelipisnya. Setelah memastikan jika laki-laki itu tidak akan mampu menyerangnya lagi, Kyuhyun berbalik. Namun sebelum sempat benar-benar berbalik, seseorang memukul punggung bagian atasnya dan semuanya menjadi gelap.

——

–To Be Continued–

HAI!

Happy reading~

BYE~

Advertisements

81 thoughts on “Love, Hurt, and Revenge – Part 14

  1. Waduhhhh kyuhyuh ketangkap semoga paling gak bs ketemu yeon, dg begitu yeonghwan ketahuan sbg tersangka penculikan dan pembunuhan ayah yeon pasti itu…
    Semoga cepet dapet titik terangnya….
    Mereka berdua jg bs selamat….

  2. Hueeee itu bapaknya si gyu bener” bajingannn..😢😢😢 yeon di culik sekarang gyu?? Masa iya sama anak sendiri juga tega tu aki” ckck
    Bener” ga sabar pengen liat bapaknya gyu dipenjara kalau perlu matiii sekaliann wkwkwk *sadesss…

  3. Tegang banget , knp kyu sampe tertangkap hadehhhhh benci banget aq sama apoa kyu orang ko gak punya hati gtu ya , smg mrk berdua terselamatkan aminnnn

  4. ternyata tuan cho bener2 yang neror yeon dan sekarang dia nyulik yeon, bener2 ngk da hati ckclckck…
    semoga kyu dan yeon selamat dan tuan cho dapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya

  5. Itu sbnernya salah, seharusnya Kyuhyun bawa orang buat bantuin dia krna yg jaga gedung psti bnyak orang kan. Tuh kan, blum juga nemuin Yeon, Kyuhyun tumbang duluan. Next ah ini part menegangkan sekali yahh, sibapanya Kyuhyun smpe nyiksa Yeon segala, dan Yeon kyanya udh pasrah bgt ihh… Lanjut lanjutt~

  6. Ya ampunnn ini bner2 dehhh,, deg degan bacanya malah ketemu si tebece.
    Suka bner aku sm ff ini…

    Menguras tenaga dalam.. hihihi
    Tp knpa si kuukyu malah ikut kena sandera yaa.. huhu
    Semoga gak terjadi apa2 sm yeon + kyu..
    Semangat authornim….

    Love ni epep bangettt dahhhh

  7. Yaah kyuhyun ketangkep nih?
    Cerita nya makin seru..
    Ada foto visualnya Jun gak ya eon?? Penasaran foto visualnya Jun nih..

  8. makin seru dan menegangkan apalagi Kyu merasa bersalah telah membiarkan Yeon pergi begitu saja. appa Ky beneran keterlaluan udah salah malah menculik Yeon lagi. penasaran sama kelanjutannya apalagi rencana Kyu gagal menyelamatkan Yeon

  9. ASTAGAA knp semakin penasaran :((((
    Jahattt banget sih younghwan ihh kesel kasian yeon
    Tp sih aku pengennya kyuhyun merasa nyesel dulu kehilangan yeon mungkin hehehee
    Next thor yooo semangatttt terusssss

  10. Ya tuhaaaan.. nanggung bangeeet, lagi seru padahaaal.. huhuhu
    Trus nanti mereka berdua disekap, selanjutnya mereka bakal saling bicara satu sama lain, lalu setelahnya mereka bisa lolos dan ayah kyuhyun dipenjara, dan yeon – kyuhyun menikah, lalu hidup bahagia selamanyaaa.. hehehehehe ngayal nya akuu.. Maaf kan khayalan aku ini yah.. hehehehe
    Ditunggu kelanjutannya yaaa.. fighting ^^

  11. Yaah tebakanku salah besar!!!
    Ternyata memang ayahnya kyuhyun yg mengancam dan menyakiti jun dan luke. Bener2 jahat, hak punya hati tuh orang. Jahat kok gak ketulungan sih..

  12. Yeon jelas ketakutan ketemu sama luka lama 😑 Tapi salut juga dia masih bisa hidup tegar setelah mengalami gal buruk pakek banget 😑 Dan juga ni air mata gak mau berhenti juga!!!! 😂

  13. jangan sampai phobia jung yeon kambuh donk…
    wah kyuhyun gegabah nih tuh kan malah dia kena juga
    aduh gimana nasib.a jung yeon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s