Love, Hurt, and Revenge – Part 11

Author

Choineke

Title

Love, Hurt, and Revenge

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC), Cho Younghwan (Kyuhyun’s Father), Kim Hanna (Kyuhyun’s Mother), Jung Jun (Yeon’s Brother–OC), and others

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–I’m trapped in my own revenge–

——

Author POV

Karena jika kau melakukannya dengan tiba-tiba, aku pasti akan hancur.

Yeon tidak bisa mengenyahkan ucapan Kyuhyun kemarin saat di Busan. Ia tidak bisa melupakannya selama perjalanan pulang ke Seoul. Yeon bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkannya.

Dan sekarang Yeon tidak bisa fokus bekerja karena terus memikirkan ucapan tersebut. Juga membayangkan wajah Kyuhyun saat mengatakannya. Kyuhyun mungkin tanpa sadar meminta Yeon untuk tidak menyakitinya. Tetapi Yeon sudah terlanjur melakukannya.

Yeon tersentak saat merasakan ada yang menepuk bahunya. Ketika menoleh, ia menemukan Eunsoo yang berdiri di sampingnya sembari tersenyum.

“Kau tidak mau pulang?” Tanya Eunsoo. Yeon menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Bahkan ia tidak sadar sekarang sudah jam lima sore.

“Beri aku satu menit untuk berkemas.” Jawab Yeon dan disambut anggukan oleh Eunsoo.

Yeon membereskan barang-barangnya di atas meja. Memasukkannya ke dalam tas sebelum akhirnya melingkarkan tali tasnya pada bahu.

“Ayo.” Kata Yeon.

“Bagaimana liburan akhir pekanmu bersama Direktur Cho?” Tanya Eunsoo menggoda.

Yeon menyuruh Eunsoo menutup mulutnya. Tidak ingin ada yang mengetahui jika ia dan Kyuhyun berlibur bersama.

Saat di dalam lift, Yeon menceritakan semuanya pada Eunsoo. Berusaha untuk tidak menyebut nama Kyuhyun karena ada pegawai yang lain berada di dalam lift bersama mereka. Eunsoo tampak sangat senang mendengar cerita Yeon. Ia sesekali menggoda perempuan itu hingga membuat pipi Yeon memerah.

Cerita Yeon masih terus berlanjut hingga mereka sampai di lobby. Namun beberapa saat kemudian Yeon menghentikan ceritanya saat melihat kehadiran Luke di sana.

“Luke?” Gumam Yeon. Eunsoo tampak terkejut saat mendengar gumaman Yeon.

Yeon segera mendekati keberadaan Luke. Semakin dekat, ia semakin yakin bahwa itu Luke. Namun penampilan Luke saat ini membuat Yeon merasa bingung. Laki-laki itu tidak seperti Luke yang selama belasan tahun ini dikenalnya.

“Luke.” Panggil Yeon.

Luke menoleh dan tersenyum kecil saat melihat Yeon. Ia melirik sekilas pada Eunsoo, namun tidak menyapa perempuan itu.

Baby..” Balas Luke.

Yeon menatap Luke dari kepala hingga kakinya. Luke hanya memakai sebuah kaos sederhana dan celana jins. Ini hari kerja dan biasanya Luke akan memakai kemeja dan celana kain. Juga sepatu. Tetapi saat ini Luke hanya memakai sebuah sandal.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau berpakaian seperti ini?” Tanya Yeon.

“Kau memiliki waktu? Aku perlu berbicara denganmu.” Kata Luke.

“Tentu saja. Tapi..” Yeon menatap Luke dan Eunsoo secara bergantian. Luke tidak menyapa Eunsoo, dan Eunsoo tampak kecewa akan hal itu. Apakah mereka bertengkar?

“Apa kalian bertengkar?” Tanya Yeon.

“Tidak.” Jawab Luke cepat.

“Kita bisa pergi sekarang?” Pinta Luke. Yeon menatap Eunsoo sekali lagi sebelum akhirnya mengangguk.

“Aku pulang dulu, Eunsoo-ssi. Sampai bertemu besok.” Pamit Yeon. Eunsoo mengangguk singkat.

Yeon kemudian menyusul Luke yang sudah berjalan lebih dulu. Meninggalkan Eunsoo yang tampak merasa sedih karena perubahan sikap Luke yang secara tiba-tiba.

——

Yeon dan Luke berada di dalam mobil Luke selama hampir 5 menit tanpa bicara. Luke tampak menundukkan kepalanya sedangkan Yeon terus menunggu hingga Luke mau bicara. Ternyata apa yang Yeon takutkan memang benar. Sesuatu terjadi pada Luke.

“Luke..” Panggil Yeon sembari menggenggam tangannya.

“Ada apa?” Tanya Yeon dengan pelan.

Luke menghela nafas panjang sebelum akhirnya menatap Yeon. Ia membalas genggaman tangan Yeon.

“Pihak rumah sakit mengetahui apa yang aku lakukan dengan catatan medis Cho Younghwan.” Kata Luke membuat jantung Yeon berdetak di luar batas normal. Yeon tanpa sadar mencengkram tangan Luke.

“Tidak. Katakan bahwa kau berbohong, Luke.” Pinta Yeon dengan wajah pucat.

“Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa mengetahuinya.” Ucap Luke.

“A–apa kau dipecat?” Tanya Yeon.

“Beruntung mereka tidak melakukannya karena aku salah satu dokter tebaik di sana.” Jawab Luke. Yeon berusaha untuk menghela nafas lega.

“Tetapi aku mendapatkan skors selama satu bulan serta tidak akan mendapatkan gaji selama satu bulan penuh. Lalu setelahnya aku akan mendapatkan potongan gaji selama enam bulan berturut-turut.” Lanjut Luke dengan tersenyum sedih.

Yeon tidak bisa menahan dirinya yang hendak menangis saat mendengar ucapan Luke. Juga saat melihat wajah sedih laki-laki itu. Yeon tidak pernah melihat Luke sesedih ini sebelumnya.

“Aku belum mengatakannya pada orangtuaku. Tidak, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Mereka pasti akan terkejut jika tahu aku akan menganggur selama satu bulan ini.” Kata Luke.

“Maafkan aku, Luke.” Sesal Yeon dengan menangis.

No, baby. Please, don’t cry.” Ucap Luke dengan panik.

“Ini bukan salahmu. Aku tidak menyalahkanmu, sungguh.” Kata Luke.

“Ini salahku. Jika saja saat itu aku tidak memintamu melakukannya. Jika saja aku tidak melakukan balas dendam ini..” Isak Yeon.

Yeon tersentak saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponselnya dan jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat nomor tidak terdeteksi untuk ke sekian kalinya.

“Siapa itu?” Tanya Luke.

Yeon tidak menjawab Luke dan menerima panggilan itu.

“H–halo?”

Peringatan kedua untukmu. Dan kau masih tidak ingin menjauhi Cho Kyuhyun? Bagaimana jika korban selanjutnya adalah Cho Kyuhyun sendiri?

“Tunjukkan dirimu padaku, bajingan!! Jangan menyakiti orang-orang disekitarku!!” Jerit Yeon dengan menangis.

Jika kau tidak ingin orang-orang disekitarmu tersakiti, maka jauhi Cho Kyuhyun. Ini peringatan terakhir untukmu.

“Halo? Halo?!”

Yeon berteriak dengan kencang untuk melampiaskan rasa kesal dan frustasinya. Tangisnya semakin menjadi hingga membuat Luke menjadi panik. Yeon menutupi wajahnya hingga airmatanya mengalir dari sela-sela jarinya.

Baby, ada apa? Siapa yang menghubungimu?” Tanya Luke sembari mengguncang bahu Yeon.

Yeon tidak menjawab Luke dan terus menangis dengan kencang. Tangisannya juga diselingi dengan jeritan pelan dan Luke benar-benar ketakutan setengah mati.

“Aku mohon, baby. Katakan sesuatu! Kau menakutiku!” Kata Luke dengan wajah pucat.

“Cho Younghwan yang melakukannya! Cho Younghwan bajingan itu yang melakukan semua ini padamu, Luke!” Ucap Yeon hingga membuat mata Luke melebar.

“A–apa maksudmu?” Tanya Luke.

“Seseorang mengancamku, Luke. Dia memintaku untuk menjauhi Cho Kyuhyun. Karena aku tidak mengikuti kemauannya, dia menyakiti orang-orang disekitarku. Pertama Jun, dan sekarang kau.” Jawab Yeon masih dengan terisak.

“Jun? A–apa yang mereka lakukan pada Jun?” Tanya Luke. Namun kemudian matanya kembali melebar saat menyadari sesuatu.

“Kecelakaan itu karena Cho Younghwan?” Tebak Luke. Yeon mengangguk.

“Kau ingat ketika aku menerima telepon saat di kamar rawat Jun? Orang itu menghubungiku dan mengatakan padaku bahwa itu peringatan pertama. Dia sudah memperingatiku bahwa dia akan kembali menyakiti orang-orang disekitarku jika aku tidak segera menjauhi Cho Kyuhyun. Dan sekarang, mereka melakukan ini padamu, Luke!” Jelas Yeon.

Luke mencoba mencerna semua penjelasan Yeon. Penjelasan yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Namun sialnya semua benar-benar terjadi.

Shit! Bagaimana bisa kau tidak mengatakan apapun padaku?! Bagaimana bisa kau menyembunyikan semua ini dariku?!” Geram Luke.

Yeon hanya terus menangis untuk melampiaskan rasa sedihnya. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Luke. Seharusnya Younghwan menyakitinya saja. Tidak perlu menyakiti orang-orang yang tidak bersalah seperti Jun dan Luke.

Bahkan sekarang pria itu tidak segan-segan untuk menyakiti anaknya sendiri.

“Cho Younghwan benar-benar brengsek! Aku akan membunuhnya!!” Umpat Luke sembari bersiap untuk menjalankan mobilnya.

“Tidak, Luke!” Ucap Yeon dengan panik. Yeon menahan tangan Luke agar tidak menggeser persneling.

“Sebelum kau membunuhnya, dia akan membunuhmu lebih dulu! Dia orang yang kejam, Luke! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu!” Kata Yeon.

Luke memukul stir mobil dengan kesal. Ia membayangkan kepala Cho Younghwan yang dipukulnya saat ini. Ia benar-benar ingin membunuh pria itu.

Yeon menatap ponselnya yang menampilkan sebuah pesan dari Kyuhyun. Ia membuka pesan itu dan membacanya.

From: Cho Kyuhyun

Bagaimana dengan mampir ke apartementku? Makan malam bersama?

Yeon mencengkram ponselnya dengan erat. Ia tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengakhiri semua ini. Yeon tidak bisa membiarkan Younghwan menyakiti orang-orang yang disayanginya.

“Antarkan aku ke apartement Kyuhyun.” Ucap Yeon dengan dingin. Ia membersihkan wajahnya dari airmata.

“Untuk apa ke sana?” Tanya Luke.

“Aku harus mengakhiri hubunganku dengan Kyuhyun.” Jawab Yeon dengan yakin.

——

Kyuhyun tersenyum ketika melihat wajah Yeon di intercom apartementnya. Ia segera menghampiri pintu dan membukanya. Namun senyum Kyuhyun menghilang saat melihat wajah Yeon tampak lusuh dengan mata yang sembab.

“Hei..” Sapa Kyuhyun sembari memegang kedua lengan Yeon. Tetapi Yeon menjauhkan dirinya dari Kyuhyun.

“Yeon-ya..” Ucap Kyuhyun.

“Kau mengatakan padaku jika aku ingin menyakitimu, aku harus memberitahumu, kan?” Ujar Yeon. Kyuhyun hanya diam saja.

“Dan sekarang aku memberitahumu bahwa aku akan menyakitimu.” Lanjut Yeon.

“Berhentilah bicara omong kosong. Masuklah.” Kata Kyuhyun sembari menarik Yeon. Tetapi Yeon menepis tangan Kyuhyun.

“Aku datang ke sini bukan untuk berkunjung atau pun makan malam denganmu.” Kata Yeon dengan wajah datar.

“Ini adalah kedatanganku yang terakhir. Aku tidak akan pernah datang ke sini lagi. Dan aku berharap agar kita tidak bertemu selain di kantor.” Ucap Yeon membuat Kyuhyun terkejut.

“A–apa yang kau katakan?” Tanya Kyuhyun dengan terbata.

“Aku ingin mengakhiri hubungan kita.” Jawab Yeon. Ia dapat melihat jika tubuh Kyuhyun menegang.

“Y–yeoni-ya..”

“Ini semua demi kebaikan kita bersama, Cho Kyuhyun.” Kata Yeon dan kemudian berbalik untuk meninggalkan apartement Kyuhyun.

Namun Kyuhyun dengan cepat menahan lengan Yeon. Ia tidak membiarkan Yeon menepis tangannya seperti tadi.

“Omong kosong apa ini, Yeon? Demi kebaikan kita bersama? Cih! Kau bercanda denganku?!” Kyuhyun terlihat marah.

Kyuhyun mengeratkan cengkramannya pada lengan Yeon. Tidak peduli jika hal itu menyakiti Yeon. Semua itu Kyuhyun lakukan agar Yeon tidak pergi darinya. Tidak. Kyuhyun tidak akan pernah melepaskannya.

“Katakan padaku apa yang terjadi! Kenapa kau bersikap seperti ini?!” Tanya Kyuhyun.

“Lepaskan aku, Cho Kyuhyun!” Yeon memberontak dari cengkraman Kyuhyun.

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu!! Bahkan jika aku harus mengurungmu di apartement ini, aku akan melakukannya!” Bentak Kyuhyun sembari menarik Yeon memasuki apartementnya. Kemudian Kyuhyun menutup pintu agar Yeon tidak bisa pergi.

“Minggir! Aku mau pulang!” Yeon berusaha mendorong tubuh Kyuhyun yang menutupi pintu. Namun tubuh Kyuhyun tidak bergerak sedikit pun.

“Biarkan aku pergi, Kyuhyun-ssi!”

“Kau tidak akan kemana-mana sebelum mengatakan yang sebenarnya padaku! Apa yang terjadi? Aku tahu ada yang kau tutupi dariku! Semua masih baik-baik saja hingga tadi pagi!” Ujar Kyuhyun.

“Aku tidak bisa bersamamu, Kyuhyun!”

“Kenapa?!” Bentak Kyuhyun.

“Aku tidak akan mengatakan apapun.” Kata Yeon dan kembali mendorong Kyuhyun menjauh.

“Berhentilah bersikap keras kepala!”

“Kau yang berhenti bersikap keras kepala!!” Balas Yeon dengan kesal. Ia menatap Kyuhyun dengan tajam.

“Jika kita tetap bersama, kau akan celaka!!” Bentak Yeon membuat mata Kyuhyun melebar. Namun kemudian Yeon tersadar dengan apa yang baru saja dikatakannya.

“Apa maksudmu?” Tanya Kyuhyun.

“A–aku salah bicara. Jangan hiraukan ucapanku.” Jawab Yeon.

“Tidak. Aku tahu bahwa kau tidak salah bicara. Katakan padaku apa maksudmu! Atau aku tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari apartement ini, Yeon. Kau tahu bahwa aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.” Kata Kyuhyun dengan suara rendah.

Yeon menatap Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan wajah serius. Ia tahu bagaimana Kyuhyun. Kyuhyun memang tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dan di kurung oleh Kyuhyun di dalam apartement ini bukan hal yang diinginkannya.

“Seseorang mengancamku, Kyuhyun.” Kata Yeon dengan pelan.

“A–apa?”

“Kau ingat tentang telepon ancaman yang memintaku untuk menjauhimu?” Tanya Yeon. Kyuhyun mengangguk ragu.

“Orang itu tidak main-main dengan ucapannya. Dia yang mencelakai adikku, Kyuhyun. Dia yang membuat adikku kecelakaan!” Ucap Yeon.

Jantung Kyuhyun berdetak dengan cepat karena rasa terkejut dan panik. Kyuhyun mencurigai orang itu adalah Younghwan, walaupun pria itu tidak mengakuinya. Lalu, apakah Younghwan yang membuat Jun celaka?

“Dan dia mengancamku lagi, Kyuhyun. Dia akan menyakitimu jika aku tidak menjauhimu.” Kata Yeon dengan mata berkaca-kaca.

Dan apakah Younghwan akan menyakitinya? Setega itukah Younghwan menyakiti anaknya sendiri hanya karena keegoisannya?

“Bagaimana bisa aku tetap bersamamu? Bagaimana bisa aku melihatmu terluka?!” Ucap Yeon dengan menangis. Kyuhyun hanya diam saja dengan kedua tangan yang mengepal.

“Maafkan aku, Kyuhyun. Aku mungkin menyakitimu. Tetapi semua ini lebih baik daripada kau celaka. Aku tidak mau terjadi apapun pada dirimu.”

“Apa kau tahu siapa yang mengancammu?” Tanya Kyuhyun dengan suara pelan.

Yeon mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Ia tidak mungkin menyebutkan nama Younghwan di depan Kyuhyun. Kyuhyun pasti akan terpukul jika mengetahui bahwa ayahnya adalah orang yang kejam.

“Katakan padaku, Jung Yeon.” Perintah Kyuhyun.

“Aku tidak tahu.” Jawab Yeon.

“Kau tahu.” Sahut Kyuhyun.

“Maka aku tidak akan mengatakannya padamu.” Balas Yeon. Ia kembali berusaha untuk keluar dari apartement Kyuhyun. Namun Kyuhyun menggenggam pergelangan tangannya dengan erat.

“Ikut aku!” Kata Kyuhyun sembari menarik Yeon keluar dari apartementnya.

“Kita mau kemana?” Tanya Yeon sembari berusaha melepaskan tangannya. Namun Kyuhyun tidak mengatakan apapun dan terus menarik–hingga menyeret–Yeon untuk mengikuti langkah lebarnya.

“Kyuhyun-ssi, lepaskan aku! Kyuhyun-ssi!”

Kyuhyun tampak menulikan telinganya. Ia membawa Yeon ke tempat parkir dimana mobilnya berada. Membuka mobilnya dan mendorong Yeon untuk masuk ke dalam.

“Duduk atau aku akan menyakitimu.” Ancam Kyuhyun dengan menatapnya tajam.

Yeon benar-benar terkejut dengan sikap Kyuhyun yang tiba-tiba berubah seperti ini. Entah dalam keadaan sadar atau tidak, tetapi Kyuhyun sudah menyakitinya. Dan Yeon merasa sedih karena hal itu.

Akhirnya Yeon memilih untuk tidak melawan dan mengikuti kemana pun Kyuhyun akan membawanya. Ia juga berusaha untuk tidak menangis dan menunjukkan kelemahannya pada Kyuhyun.

Yeon bahkan tidak bisa mengatakan apapun saat Kyuhyun mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia hanya bisa mencengkram seatbelt yang menahan tubuhnya agar tidak terlonjak ke depan.

Sesekali Yeon menatap wajah Kyuhyun yang tampak tegang. Mulut Kyuhyun tertutup dengan rapat dan beberapa kali Yeon mendengar laki-laki itu menggertakkan giginya. Ia tampak sedang menahan kemarahan di dalam dirinya.

Beberapa saat kemudian, mobil Kyuhyun memasuki halaman rumah Younghwan. Menyadari hal itu membuat Yeon menjadi panik. Tidak. Ia tidak boleh datang ke rumah ini. Jika Younghwan melihatnya bersama Kyuhyun, maka Younghwan akan menyakiti laki-laki itu.

Yeon tidak melepas seatbeltnya setelah Kyuhyun memarkirkan mobil dan keluar dari mobil. Bahkan setelah Kyuhyun membukakan pintu untuknya, Yeon tetap tidak melepas seatbeltnya.

“Keluar.”

“Tidak. Aku tidak akan keluar.”

Kyuhyun menunduk untuk melepaskan seatbelt Yeon, namun Yeon menahannya. Laki-laki itu memberikan tatapan tajamnya pada Yeon hingga membuat Yeon menjadi takut.

Kyuhyun menarik Yeon untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu membuka pintu dengan keras hingga terbanting di belakang mereka. Ia tidak peduli jika apa yang dilakukannya menimbulkan keributan.

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menoleh saat mendengar suara Hanna. Ia dapat melihat jika Hanna tampak terkejut dengan kehadirannya bersama Yeon. Bahkan dengan Yeon yang dalam keadaan ketakutan.

“Apa yang terjadi?” Tanya Hanna.

“Dimana abeoji?” Kyuhyun bertanya balik.

“Ayahmu ada di ruang kerjanya.” Jawab Hanna.

“Tapi ada apa?” Tanya Hanna lagi.

Kyuhyun tidak memperdulikan pertanyaan Yeon dan kembali menarik Yeon untuk bertemu dengan Younghwan. Ia dapat merasakan Hanna mengikuti mereka dari belakang dengan tatapan cemas.

Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Kyuhyun langsung membuka pintu ruang kerja Younghwan. Masuk ke dalam dengan langkah terburu-buru hingga membuat Younghwan mendongak untuk menatapnya.

“Ada apa ini?!” Tanya Younghwan. Ia tidak suka saat melihat Yeon kembali menginjak rumahnya.

“Bukankah aku sudah katakan padamu untuk tidak menyakiti Jung Yeon?!” Ucap Kyuhyun dengan nada rendah.

“Aku tidak menyakitinya!” Kata Younghwan.

“Kau menyakiti adiknya!” Bentak Kyuhyun membuat Yeon terkejut.

Kyuhyun mengetahuinya?

“Dan itu sama saja seperti kau menyakitinya!” Kata Kyuhyun membuat Younghwan terdiam. Dan diamnya Younghwan membuat Kyuhyun dan Yeon merasa yakin bahwa semua itu memang perbuatannya.

“Dan sekarang apa? Kau mengancamnya menggunakan diriku? Kau akan menyakiti diriku?!” Ucap Kyuhyun dengan tidak percaya. Hanna yang berada di belakang mereka terlihat sangat terkejut.

“Aku tidak tahu bahwa kau orang yang sekejam ini, abeoji. Kau melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginanmu. Aku pikir bahwa aku mengetahui semua tentangmu selama ini. Tetapi aku salah.” Ujar Kyuhyun dengan tatapan kecewa pada Younghwan.

“Kyuhyun apa yang terjadi? Apa maksudmu ayahmu akan menyakitimu?” Tanya Hanna sembari menarik lengan Kyuhyun agar menatapnya.

“Abeoji mengancam Yeon agar meninggalkanku. Karena Yeon tidak menurutinya, abeoji mencelakai adik Yeon, eommoni. Dan karena Yeon masih tidak menuruti kehendaknya, ia mengancam Yeon bahwa ia akan menyakitiku.” Jawab Kyuhyun menjelaskan.

Hanna menatap Kyuhyun dengan tidak percaya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Younghwan yang tampak begitu marah dengan semua ucapan Kyuhyun.

Younghwan meninggalkan meja kerjanya dan menghampiri Kyuhyun. Secara tiba-tiba ia mengangkat tangannya dan memberikan tamparan keras pada Kyuhyun. Membuat Yeon dan Hanna memekik karena terkejut.

Kyuhyun memegangi pipinya yang terasa sakit sembari menatap Younghwan dengan tajam.

“Kau benar-benar sudah melupakan sopan santunmu hanya karena perempuan ini, Cho Kyuhyun!” Kata Younghwan sembari menunjuk Yeon.

“Apa kau memiliki bukti bahwa aku yang melakukannya?” Tanya Younghwan. Kyuhyun hanya diam sembari terus menatapnya dengan tajam.

“Kau memilih untuk memusuhi keluargamu sendiri hanya demi perempuan licik ini!”

“Berhenti menghinanya!” Bentak Kyuhyun.

Yeon tidak bisa menahan airmata yang mengalir diwajahnya. Seharusnya ia merasa senang melihat Kyuhyun dan Younghwan bertengkar. Inilah tujuan utama balas dendamnya. Membuat keluarga Younghwan hancur berantakan. Sama seperti apa yang pria itu lakukan pada keluarganya.

Tetapi Yeon tidak merasa senang sama sekali. Apalagi setelah melihat Kyuhyun mendapatkan tamparan dari Younghwan karena membelanya. Ia tidak ingin Kyuhyun tersakiti hanya karena dirinya. Kyuhyun tidak seharusnya membelanya.

“Kyuhyun-ssi, cukup. A–aku ingin pulang.” Ucap Yeon sembari mencengkram lengan Kyuhyun.

“Pulanglah seorang diri! Pulanglah ke neraka!!” Bentak Younghwan membuat Yeon terkejut.

Kyuhyun menggeram dan mengepalkan kedua tangannya. Terlihat ingin memukul Younghwan. Tetapi Yeon berusaha untuk menahannya. Yeon memejamkan matanya saat hati dan otaknya seolah sedang berperang.

Otaknya seolah berkata bahwa ia tidak perlu menahan Kyuhyun dan membiarkan mereka bertengkar. Tetapi hatinya berkata untuk menghentikan semuanya. Menghentikan Kyuhyun sebelum laki-laki itu menyesal dengan apa yang akan dilakukannya.

“Kyuhyun-ssi, aku mohon..” Bisik Yeon dengan terisak.

Kyuhyun menoleh dan menatap wajah Yeon yang basah oleh airmata. Ia merasa benar-benar marah saat melihat perempuan itu menangis. Tetapi Kyuhyun tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa.

Kyuhyun menggenggam tangan Yeon sebelum akhirnya kembali menatap Younghwan.

“Aku akan menikahi Jung Yeon.” Kata Kyuhyun membuat Younghwan, Hanna, dan Yeon terkejut.

“Kyuhyun-ah..” Ucap Hanna.

“Dan aku tidak membutuhkan persetujuanmu untuk itu.” Lanjut Kyuhyun masih dengan menatap Younghwan.

“Kau–” Younghwan berharap ia salah mendengar saat ini.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Hanna dan mengubah tatapannya menjadi lebih lembut.

“Aku minta maaf karena telah bersikap seperti ini, eommoni.” Sesal Kyuhyun.

“Tetapi aku tidak bisa meninggalkan Yeon. Aku mencintainya, eommoni.” Kata Kyuhyun membuat Yeon terkesiap. Ia tidak pernah mendengar Kyuhyun mengatakan kalimat cinta.

“Aku harap kau mendukung apa yang aku lakukan. Dan aku juga berharap kau bisa menghadiri pernikahan kami.” Ucap Kyuhyun sembari tersenyum kecil.

Kyuhyun menatap Yeon yang masih tampak terkejut. Tanpa mengatakan apapun lagi, Kyuhyun mengajak perempuan itu untuk meninggalkan rumah Younghwan.

“Berhenti, Cho Kyuhyun!” Perintah Younghwan.

Kyuhyun menggeram saat merasakan respon tubuhnya yang masih berfungsi dengan baik akan perintah dari ayahnya itu. Ia segera menghentikan langkahnya setelah mendengar perintah Younghwan.

“Jika kau berani melangkah keluar dari sini bersama perempuan itu, aku akan benar-benar menghapus namamu sebagai ahli warisku.” Ancam Younghwan.

Kyuhyun tersenyum sinis dan menoleh.

“Lakukan apa maumu, abeoji. Karena aku juga akan melakukan apa mauku.” Komentar Kyuhyun.

“Ah, perlu kau tahu bahwa aku tidak akan menggunakan uangmu untuk biaya pernikahanku. Karena aku memiliki uang sendiri selama aku bekerja di perusahaan.” Lanjut Kyuhyun dan kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi.

“Berhenti! AKU BILANG BERHENTI!!”

Kyuhyun tidak memperdulikan teriakan Younghwan. Langkahnya terdengar mantap saat meninggalkan rumah. Kyuhyun tidak pernah peduli dengan semua kekayaan Younghwan. Karena ia sadar semua itu bukanlah miliknya. Kyuhyun tidak pernah menginginkannya.

Kyuhyun membukakan pintu mobil untuk Yeon dan memberi isyarat pada perempuan itu untuk masuk. Namun Yeon menggeleng dan menatap Kyuhyun dengan matanya yang sembab.

“Apa maksud ucapanmu di dalam tadi?” Tanya Yeon dengan suara serak. Kyuhyun menghela nafas panjang.

“Apalagi? Aku akan menikahimu, Yeoni-ya.” Jawab Kyuhyun.

“Kyuhyun, tapi–“

“Aku tidak mau kau meninggalkanku. Bukankah sudah aku katakan jika aku akan hancur jika kau menyakitiku? Aku tidak mau hancur, Yeon.” Ucap Kyuhyun.

“Bagaimana dengan ayahmu? Kita tidak bisa menikah tanpa restu darinya.” Kata Yeon.

“Aku tidak peduli, Yeon. Dia tidak seperti ayah yang kukenal. Dia terlihat mengerikan.” Komentar Kyuhyun.

“Tapi–” Yeon memegangi pipi Kyuhyun yang terlihat lebam akibat tamparan dari Younghwan.

“Apakah sakit?” Gumam Yeon.

“Aku baik-baik saja.” Kata Kyuhyun sembari memegang tangan Yeon dipipinya.

“Apakah kau mau menikah denganku?” Tanya Kyuhyun kemudian dan membuat Yeon terdiam.

“Aku tahu seharusnya aku bisa melakukannya dengan lebih romantis. Ada makan malam, cincin, atau bunga. Tapi percayalah, Yeon, aku bisa memberikanmu semuanya nanti. Yang aku inginkan sekarang adalah menjadikanmu sebagai milikku seutuhnya.” Nada suara Kyuhyun terdengar sangat frustasi.

“Aku tidak tahu apalagi yang bisa dilakukan ayahku untuk memisahkan kita. Tidak! Aku tidak bisa berpisah denganmu, Yeon.” Kata Kyuhyun sembari menarik Yeon ke dalam pelukannya.

Yeon tidak seharusnya merasa sebahagia ini ketika mengetahui seberapa besar Kyuhyun mencintainya. Ia seharusnya tidak merasakan perasaan apa-apa selain rasa puas karena telah membuat Kyuhyun bertekuk lutut padanya.

Tetapi Yeon tidak merasa puas sama sekali. Yeon justru merasa sangat bersalah karena telah mempermainkan Kyuhyun seperti ini. Ia tidak mau Kyuhyun menjadi serapuh ini hanya karena dirinya.

“Kyuhyun..”

“Aku mohon jangan menolakku, Yeon. Menikahlah denganku.” Pinta Kyuhyun.

“Tidak bisakah aku memikirkannya terlebih dahulu?” Tanya Yeon. Kyuhyun melepaskan pelukannya dan menatap Yeon.

“Semua ini terlalu tiba-tiba untukku, Kyuhyun. Aku harus memikirkannya dan membicarakannya dengan Jun. Walau bagaimanapun, dia keluargaku satu-satunya.” Kata Yeon.

“Tentu, sayang. Kau bisa membicarakannya dengan Jun. Haruskah aku menemanimu?” Tanya Kyuhyun menawarkan.

“Tidak perlu. Aku harus membicarakan semua ini secara pribadi dengan Jun. Kau mau menunggu, kan?”

“Tentu saja. Aku akan menunggu.” Ucap Kyuhyun dengan senyum diwajahnya. Kemudian Kyuhyun kembali menarik Yeon ke dalam pelukannya.

——

Eunsoo menatap jam di pergelangan tangannya dengan cemas. Ia sedang duduk seorang diri di sebuah taman. Matanya menatap ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Luke. Ia merasa cemas karena takut Luke berubah pikiran untuk bertemu dengannya hari ini.

Melihat Luke yang bersikap acuh padanya kemarin benar-benar membuat Eunsoo sedih. Tiba-tiba saja sikap Luke berubah padanya, seolah mereka tidak pernah dekat sebelumnya. Karena itulah Eunsoo ingin bertemu dan berbicara dengan laki-laki itu hari ini. Eunsoo tidak suka saat Luke mengacuhkannya.

Eunsoo menghela nafas panjang dan kembali menatap ke sekelilingnya. Ia bernafas lega dan tanpa sadar tersenyum saat melihat mobil Luke sudah memasuki tempat parkir taman. Dan beberapa saat kemudian Luke keluar dari mobilnya.

Eunsoo langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Luke. Ia memberikan senyum terbaiknya pada laki-laki itu. Luke selalu terlihat tampan seperti biasanya. Dan Eunsoo tidak bisa menghentikan jantungnya yang berdetak di luar batas normal.

“Hai.” Sapa Eunsoo saat Luke sudah berada di hadapannya.

“Hai.” Balas Luke dengan tersenyum.

Eunsoo kembali duduk dan memberi isyarat pada Luke untuk duduk disampingnya. Untuk beberapa saat mereka terdiam sembari menatap pemandangan di taman yang dipenuhi oleh anak-anak kecil serta pasangan kekasih.

“Ada apa kau ingin mengajakku bertemu?” Tanya Luke tanpa menatap Eunsoo.

“Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu.” Jawab Eunsoo.

Luke segera menoleh dan menatap Eunsoo dengan alis yang terangkat sebelah.

“Apa yang terjadi padaku?” Tanya Luke sembari menunjuk dirinya sendiri.

“Kemarin kau datang ke kantorku dengan wajah frustasi. Lalu kau tidak menyapaku dan mengabaikanku seolah kau tidak mengenalku sama sekali. Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu.” Kata Eunsoo tanpa menutupi rasa ingin tahunya.

“Apakah kau berpikir bahwa aku akan memberitahumu hanya karena kau memintaku untuk bertemu denganmu saat ini?” Ucap Luke.

“Jika kau menganggapku sebagai temanmu. Maka kau akan memberitahuku.” Sahut Eunsoo.

“Teman..” Gumam Luke sembari menundukkan kepalanya.

“Benar. Kita adalah teman.” Kata Luke.

Luke menggeser duduknya dan kemudian menceritakan apa yang terjadi padanya. Tanpa mengatakan tentang catatan medis yang dicurinya dari administrasi rumah sakit. Luke hanya mengatakan jika ia melakukan sebuah kesalahan.

Eunsoo tampak mendengarkan cerita Luke dengan baik. Ia tidak menyela selama Luke bercerita. Eunsoo tampak merasa kasihan saat mendengar cerita laki-laki itu. Namun Eunsoo berusaha untuk tidak memperlihatkannya. Ia tidak ingin Luke merasa tersinggung.

“Jadi, yah, aku seorang pengangguran untuk satu bulan ke depan.” Kata Luke dengan tersenyum kecut.

“Karena kau tidak mendapatkan gajimu selama satu bulan ini, haruskah aku mentraktirmu makan selama satu bulan penuh?” Canda Eunsoo.

Luke tampak terkejut saat mendengar candaan Eunsoo. Namun kemudian laki-laki itu tertawa. Ia menghargai Eunsoo yang berusaha untuk menghiburnya. Dan Luke benar-benar terhibur.

“Aku dengan senang hati menerimanya.” Balas Luke.

“Ya! Aku hanya bercanda!” Rajuk Eunsoo membuat Luke kembali tertawa.

“Kau tidak bisa menarik tawaranmu.” Kata Luke. Eunsoo mendengus.

“Haruskah aku memberikanmu pekerjaan?” Tanya Eunsoo. Luke menatap Eunsoo dengan kening berkerut.

“Bagaimana jika menjadi supir pribadiku?” Tawar Eunsoo.

“Aku terlalu malas untuk membawa mobil sehingga selalu menggunakan kendaraan umum.” Ucap Eunsoo.

“Kau benar-benar ingin memberikanku pekerjaan untuk satu bulan ini?” Tanya Luke tidak percaya. Eunsoo mengangguk.

Luke tertawa tanpa suara. Eunsoo mungkin tidak terlalu bersungguh-sungguh. Tetapi tawaran pekerjaan untuk menjadi supir pribadinya, sedikit menggelitik Luke. Jika ia menjadi supir pribadi Eunsoo, ia bisa bertemu perempuan itu setiap hari.

‘Lalu kenapa jika kau bisa bertemu dengannya setiap hari?’ Batin Luke.

Luke meringis pelan. Sejak kapan ia bersedia bertemu dengan perempuan yang sama lebih dari satu kali kecuali Yeon? Ia selalu berharap agar tidak pernah bertemu dengan perempuan yang ditidurinya.

‘Tetapi Eunsoo bukan perempuan yang kau tiduri, Luke Collins!’ Batinnya kembali berbicara.

“Apa yang kau pikirkan?” Pertanyaan dari Eunsoo menyadarkan Luke dari perdebatan batinnya.

“Jangan katakan jika kau memikirkan tawaranku hingga begitu serius.” Tebak Eunsoo.

“Aku hanya bercanda. Tidak mungkin seorang dokter menjadi supir pribadiku.” Ucap Eunsoo dengan tertawa.

“Aku bersedia menjadi supir pribadimu.” Kata Luke membuat tawa Eunsoo menghilang. Eunsoo menatap Luke dengan terkejut.

“A–apa yang baru saja kau katakan?”

“Aku bersedia menjadi supir pribadimu. Haruskah aku mulai memanggilmu Nona Kang hingga satu bulan ke depan?” Goda Luke.

“Luke, kau bercanda!”

“Tidak, aku tidak bercanda. Menjadi supir pribadimu lebih baik daripada aku harus menjadi seorang pengangguran. Aku tidak mau melihat orangtuaku sedih karena harus melihatku menjadi seorang pengangguran.” Jelas Luke.

“Tetapi aku benar-benar bercanda, Luke.” Kata Eunsoo pelan.

“Maka aku akan membuatnya bukan hanya sekedar candaan.” Sahut Luke.

“Lau kau benar-benar akan meminta gaji dariku?” Tanya Eunsoo. Luke menggeleng.

“Kau tidak perlu membayarku. Hanya mentraktirku makan malam saja setiap malam.” Jawab Luke membuat Eunsoo terperangah.

“Kau mau memerasku, ya?!” Gerutu Eunsoo. Luke kembali tertawa melihat wajah kesal Eunsoo.

“Astaga, kau manis sekali.” Kata Luke sembari mengusap kepala Eunsoo.

Eunsoo terkesiap dan jantungnya berdetak semakin cepat. Ia merasa takut jika Luke dapat mendengarnya dengan jelas. Eunsoo berharap wajahnya tidak berubah menjadi merah karena gugup.

“Karena hari ini aku sudah resmi menjadi supir pribadimu, kemana kau ingin aku mengantarmu? Mobilku siap untukmu, Nona Kang.” Kata Luke dengan tersenyum.

Eunsoo mencoba tersenyum walaupun jantungnya masih berdebar keras. Melihat Luke yang tampak biasa saja setelah mengusap kepalanya membuat Eunsoo sedikit kesal. Apa hanya ia yang merasa gugup? Apa Luke tidak merasakan apa-apa?

“Umm, Luke.” Ucap Eunsoo.

“Ya?”

“Apa kau masih menghabiskan setiap malammu dengan perempuan yang berbeda?” Tanya Eunsoo.

Senyum di wajah Luke menghilang saat mendapatkan pertanyaan yang tidak terduga dari Eunsoo. Tubuh Luke tampak menegang dan ia tidak suka dengan topik pembicaraan ini.

“Aku tahu bahwa aku tidak memiliki hak untuk mengguruimu.” Kata Eunsoo tanpa menatap Luke.

“Tetapi ketahuilah, Luke, tidak semua perempuan seperti mantan kekasihmu itu. Banyak perempuan yang juga bisa menjalin hubungan serius serta setia bersama satu laki-laki.”

“Aku tahu.” Sahut Luke dengan ketus. Eunsoo menoleh untuk menatap laki-laki itu.

“Tetapi aku tidak bisa percaya pada mereka.” Lanjutnya.

“Apa kau percaya padaku?” Tanya Eunsoo.

Luke terdiam dan tampak memikirkan pertanyaan Eunsoo. Apakah dia percaya pada perempuan itu? Tentu saja jawabannya, ya. Karena jika Luke tidak mempercayainya, Luke tidak akan menceritakan masa lalu menyedihkannya pada Eunsoo.

“Ya.” Jawab Luke berbisik.

“Kalau begitu bisakah kau dan aku menjalin sebuah hubungan yang serius? Aku akan setia padamu dan kau pun hanya akan setia padaku. Tidak ada perempuan lain di setiap malammu, Luke.” Kata Eunsoo membuat mata Luke melebar.

“Kang Eunsoo..”

“Aku tahu bahwa kau akan menganggapku seperti perempuan tidak tahu malu. Ya, aku pun menyadari itu. Tetapi aku tidak bisa melihat dan membayangkanmu bersama perempuan yang berbeda setiap malamnya.” Tukas Eunsoo.

Ia menatap wajah Luke yang masih menunjukkan keterkejutannya. Tetapi Eunsoo tidak peduli. Ia harus mengatakannya sekarang atau tidak sama sekali.

“Jika kau membutuhkan seorang perempuan untuk melampiaskan nafsumu, maka hubungi aku. Aku akan melayanimu semampuku. Tetapi aku mohon jangan ada perempuan lain.” Pinta Eunsoo.

Eunsoo mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Luke. Tetapi di luar dugaan, Luke justru menepis tangan Eunsoo dan langsung berdiri. Ia berjalan beberapa langkah untuk menjauh dari Eunsoo.

“Bukankah kita berteman?” Tanya Luke.

“Ya, kita–“

“Kau harus mengetahui satu hal, Kang Eunsoo.” Kata Luke dengan wajah mengeras.

“Aku tidak meniduri temanku sendiri.” Ucap Luke dan segera pergi meninggalkan Eunsoo.

Eunsoo menatap punggung Luke dengan perasaan sesak. Luke menolaknya. Dan hal itu cukup untuk membuat airmata mengalir di wajahnya. Luke benar-benar tidak menatapnya lagi hingga mobil laki-laki itu meninggalkan taman.

Eunsoo menutup wajahnya menggunakan tangan dan membiarkan dirinya terisak di sana. Tidak peduli jika orang-orang akan menatapnya dengan kebingungan dan keanehan. Ia hanya ingin melampiaskan rasa sedihnya karena penolakan Luke.

——

Kyuhyun berdiri di tengah-tengah apartementnya dan menatap dengan penuh perhatian pada setiap sudutnya. Otaknya sedang memikirkan berbagai rencana yang akan dilakukannya setelah menikahi Yeon nanti.

Mereka akan tinggal di apartement ini. Kyuhyun juga akan membawa Jun untuk tinggal bersama mereka. Ia akan merombak ruang kerjanya untuk menjadi kamar Jun. Kyuhyun tahu bahwa Yeon sangat menyayangi Jun, dan Yeon tidak akan mau meninggalkan Jun seorang diri di rumah kecilnya.

Kyuhyun mulai memikirkan untuk mendirikan perusahaannya sendiri. Ia tidak ingin bergantung pada milik Younghwan. Ia ingin membuktikan pada Younghwan jika ia mampu hidup tanpa bantuan pria itu.

Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi Yeon. Ia harus segera mendapatkan kepastian dari perempuan itu. Kyuhyun tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia takut Yeon meninggalkannya.

Halo..”

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Kyuhyun sembari berjalan menghampiri sofa dan duduk di sana.

Aku baru saja selesai mandi.”

“Apa kau belum memakai pakaian?” Canda Kyuhyun.

Kau ingin aku mematikan telepon ini?

“Astaga. Kau benar-benar tidak bisa di ajak bercanda.”

Candaanmu selalu berakhir dengan pikiran kotor.

Kyuhyun tertawa pelan saat mendengar gerutuan Yeon dari teleponnya.

“Yeon..” Panggil Kyuhyun setelah berhenti tertawa.

Hmm?

“Apa kau sudah bicara pada Jun? Apa kau sudah bisa memberikan jawaban padaku?”

Tidak ada tanggapan apapun dari Yeon untuk beberapa saat. Membuat Kyuhyun merasa sangat gugup. Seharusnya ia tidak menanyakannya lewat telepon. Seharusnya ia menanyakannya secara langsung hingga bisa membaca ekspresi wajah perempuan itu.

Maaf, Kyuhyun.”

Jantung Kyuhyun terasa berhenti berdetak. Jangan katakan jika..

Aku belum sempat membicarakannya dengan Jun. Dan aku belum bisa memberikan jawabannya padamu.

Kyuhyun menghembuskan nafas lega. Ia pikir Yeon akan menolak untuk menikah dengannya. Ia lebih memilih untuk menunggu lebih lama lagi daripada di tolak oleh perempuan itu.

“Oh, sial! Kau benar-benar membuatku takut. Aku pikir kau menolakku, Yeoni-ya.”

Bagaimana jika pada akhirnya aku menolakmu, Kyuhyun?

“Tidak. Jangan katakan apapun, Yeon. Tutup mulutmu hingga kau benar-benar sudah siap memberikanku jawaban.”

Kyuhyun dapat mendengar Yeon tertawa pelan.

“Kau senang melihatku frustasi?”

Sedikit.

“Sial.”

Berhentilah mengumpat.

“Baiklah, maafkan aku. Tidurlah.”

Kau juga. Dan cobalah untuk tidak memikirkan semua yang terjadi, Kyuhyun. Kau butuh tidur nyenyak.

“Aku akan tidur nyenyak jika kau ada di dalam pelukanku. Seperti saat kita berada di Busan.”

Berhenti berkhayal bahwa aku akan datang ke apartementmu karena mendengar kau berbicara seperti itu.

Kyuhyun tertawa dengan kencang.

“Aku ketahuan.”

Selamat malam, laki-laki bodoh.

“Selamat malam, Jung Yeon.”

Kyuhyun tersenyum dengan lebar. Jika ia dan Yeon menikah, mereka tidak perlu mengucapkan ‘selamat malam’ melalui telepon seperti ini. Kyuhyun bisa membisikkannya pada Yeon dan langsung memeluk perempuan itu.

Membayangkannya saja membuat senyum Kyuhyun semakin lebar. Laki-laki itu berguling-guling di atas sofa hingga akhirnya terjatuh di atas karpet. Dan senyum Kyuhyun berubah menjadi sebuah tawa yang membuatnya terlihat seperti orang gila.

——

Yeon memegang dua ikat bunga lili sembari menaiki sebuah bukit pemakaman. Angin cukup kencang hingga membuat rambut Yeon terus berterbangan di sekitar wajahnya. Sesekali Yeon menciumi bunga lili tersebut dan tersenyum.

Setelah sampai di depan dua makam yang berdampingan, Yeon menaruh bunga lili tersebut di atas makam tersebut. Ia membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar makam.

Makam sebelah kiri bertuliskan nama Jung Jaehoon. Sedangkan makam di sebelah kanan bertuliskan nama Kim Hyunmi. Dan Mereka adalah orangtua Yeon.

Yeon melipat kedua tangan di depan dada dan memejamkan matanya. Memanjatkan doanya kepada kedua orangtuanya yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.

Setelah selesai berdoa, Yeon duduk di sisi kosong antara kedua makam. Tangannya mengusap kedua makam tersebut dengan pelan.

“Apa kabar, appa, eomma?” Tanya Yeon sembari menatap kedua makam bergantian.

“Aku harap kalian baik-baik saja di atas sana. Apa kalian sedang bersama Tuhan? Tuhan memperlakukan kalian dengan baik, kan? Tentu saja. Kalian adalah orang yang baik.” Kata Yeon sembari tersenyum.

“Maaf karena aku tidak datang bersama Jun. Anak bungsu kalian itu sibuknya melebihiku. Dia sama sepertimu, appa. Seorang pekerja keras.”

Yeon menghela nafas panjang.

“Appa.. Eomma..”

“Dari atas sana kalian pasti tahu apa yang aku lakukan disini, kan? Kalian pasti tahu apa yang aku lakukan pada Cho Kyuhyun, kan? Dan aku tahu kalau kalian kecewa padaku.”

“Aku tahu bahwa Kyuhyun tidak tahu apapun tentang perbuatan ayahnya. Seharusnya aku tidak melibatkannya. Tetapi Cho Younghwan adalah orang yang kejam, appa. Aku tidak bisa membiarkannya hidup tenang. Dan satu-satunya yang membuat Cho Younghwan tidak tenang adalah Kyuhyun–anaknya sendiri–yang bersikap kurang ajar padanya. Karena itulah aku harus melibatkannya.”

“Tetapi sekarang aku merasa menyesal karena telah melibatkannya. Aku merasa terjebak oleh balas dendamku sendiri. Apa yang harus aku lakukan, appa, eomma?” Tanya Yeon dengan airmata yang entah sejak kapan mengalir.

“Jika aku menerima Kyuhyun sebagai suamiku, aku akan menyakitinya. Tetapi jika aku menolaknya, aku juga akan menyakitinya. Aku benar-benar terjebak.” Isak Yeon sembari memeluk lututnya.

Yeon tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Apakah ia harus menikah dengan Kyuhyun atau tidak. Hal itulah yang membuat Yeon belum membicarakannya dengan Jun. Karena Yeon sendiri pun belum memiliki jawaban.

“Cho Younghwan pria yang mengerikan.” Ucap Yeon.

Yeon kemudian tersentak oleh ucapannya sendiri. Ia mengusap airmata diwajahnya dan menegakkan punggungnya. Matanya tiba-tiba berkilat tajam dan menunjukkan sebuah kebencian.

“Benar. Cho Younghwan adalah pria yang mengerikan dan bisa melakukan apapun. Karena itu aku pun juga bisa melakukan apapun. Kenapa aku harus memikirkan perasaan Kyuhyun? Semakin terluka perasaan Kyuhyun, bukankah semakin menghancurkan Cho Younghwan?” Kata Yeon pada dirinya sendiri.

Yeon kembali menatap makam kedua orangtuanya secara bergantian.

“Maafkan aku, appa, eomma. Kalian pasti sangat kecewa padaku. Tetapi aku tidak bisa mundur lagi. Aku harus melanjutkan apa yang sudah kulakukan.” Kata Yeon dan kemudian berdiri.

“Aku akan meminta maaf pada kalian secara langsung saat aku bertemu kalian di atas sana nanti. Kalian bisa memukulku jika kalian benar-benar kecewa padaku.”

“Sekarang aku harus pulang. Aku akan membawa Jun jika datang ke sini lagi. Sampai jumpa, appa, eomma.” Pamit Yeon.

Yeon menatap makam ayah dan ibunya sekali lagi sebelum akhirnya menuruni bukit untuk pulang ke rumah.

——

“MENIKAH?!” Teriak Jun dengan mata yang melebar.

“Pelankan suaramu, Jun.” Ucap Yeon.

“Bagaimana bisa aku memelankan suaraku, noona? Apa maksudmu kau akan menikah? Dengan siapa?!” Tanya Jun.

“Jika kau tidak bisa tenang, aku tidak akan mengatakan apapun.” Ancam Yeon.

Jun menghembuskan nafas panjang dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Tetapi seberapa banyak pun ia mencoba, ia tetap tidak bisa tenang. Kakaknya itu tiba-tiba mengatakan jika ia akan menikah. Tentu saja Jun sangat terkejut.

“Katakan padaku, noona.” Kata Jun.

Yeon menghela nafas panjang dan memantapkan hatinya.

“Beberapa hari yang lalu, Kyuhyun memintaku untuk menikah dengannya.” Ucap Yeon.

“Apa?! Kyuhyun hyung?” Pekik Jun. Namun kemudian sebuah senyum lebar tampak di wajah tampan Jun.

“Benarkah, noona? Kau akan menikah dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Jun.

“Setelah aku memikirkannya beberapa hari ini, aku pikir aku akan menerima permintaannya. Ya, aku akan menikah dengannya.” Jawab Yeon dan senyum di wajah Jun semakin lebar.

“Tetapi kau bilang tidak akan ada pernikahan antara kau dan Kyuhyun hyung.” Jun teringat ucapan Yeon saat di rumah sakit.

“Setiap orang bisa berubah, Jun. Lagipula kau menginginkanku untuk menikah dengan Kyuhyun, kan?” Balas Yeon.

“Ini bukan tentang keinginanku, noona. Ini tentang kebahagiaanmu. Apakah menurutmu kau akan bahagia jika menikah dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Jun.

Yeon terdiam sembari memikirkan jawaban dari pertanyaan Jun. Apakah dia akan bahagia? Bagaimana Yeon bisa bahagia jika rasa dendamnya masih terus menggerogoti hatinya?

“Kyuhyun mencintaiku. Sudah pasti aku akan bahagia.” Jawab Yeon berusaha untuk menenangkan Jun.

Jun kembali tersenyum dan menarik Yeon ke dalam pelukannya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

“Aku sangat senang karena kau akan menikah, noona.” Kata Jun.

Yeon menghela nafas dan merasa bersalah pada Jun. Jika saja Jun tahu apa tujuan Yeon menikah dengan Kyuhyun, adiknya itu pasti akan sangat kecewa padanya.

“Menikah?!”

Yeon dan Jun saling melepaskan pelukan dan menoleh saat mendengar suara lain di rumah mereka.

“Luke?!” Ucap mereka bersamaan.

“Siapa yang menikah? Kau?” Luke menunjuk Yeon.

“Ya, Luke. Noona akan menikah.” Ucap Jun dengan semangat.

“Menikah dengan siapa?” Tanya Luke.

“Kyuhyun hyung!” Jawab Jun.

Yeon hanya bisa menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Luke. Ia yakin Luke pasti akan marah.

“Benarkah?” Gumam Luke sembari menatap Yeon dengan tatapan tajam.

“Ya, Luke. Aku senang sekali karena Kyuhyun hyung akan menjadi kakak iparku. Dia laki-laki yang baik. Kau juga setuju jika noona menikah dengannya, kan?” Ujar Jun. Luke hanya memberikan senyum kecil sebagai jawaban.

“Jun, bisa tinggalkan kami berdua? Ada yang harus aku bicarakan dengan Yeon.” Pinta Luke kemudian.

“Oh, tentu, Luke. Aku juga harus bekerja.” Kata Jun sembari berdiri.

“Besok kau harus mengajak Kyuhyun hyung kemari, noona.” Saran Jun. Yeon menatap Jun dan menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu aku pergi kerja dulu, noona, Luke.” Pamit Jun.

“Hati-hati di jalan, Jun.” Pesan Yeon. Jun hanya melambaikan tangannya untuk membalas Yeon.

Yeon kembali menundukkan kepalanya setelah Jun pergi dan meninggalkannya berdua saja dengan Luke.

“Bisa jelaskan padaku apa maksudnya kau akan menikah dengan anak si bajingan Cho Younghwan itu?” Tanya Luke dengan rahang mengeras.

“Luke, aku bisa menjelaskannya–“

“Yeah, aku membutuhkan dan sedang menunggu penjelasanmu.” Sela Luke.

“Bisakah kau duduk dulu dan jangan menatapku dengan tatapan seperti itu?” Pinta Yeon.

Luke menghela nafas dan duduk di samping Yeon. Ia dapat melihat jika Yeon merasa gelisah dalam duduknya.

“Sekarang katakan padaku.” Perintah Luke.

“Kyuhyun tahu bahwa Cho Younghwan mengancamku, Luke. Ia marah besar dan membawaku untuk menemui Younghwan. Di sana mereka bertengkar hebat hingga Cho Younghwan menampar Kyuhyun. Lalu kemudian, Kyuhyun mengatakan pada ayahnya bahwa dia akan menikahiku. Tidak peduli bahwa dia akan mendapatkan restu dari pria itu atau tidak.” Jelas Yeon.

“Lalu kau langsung menerima ajakannya untuk menikah?” Tuduh Luke dengan mata memicing.

“Tidak seperti itu, Luke.” Bantah Yeon.

“Kyuhyun mengajakku menikah beberapa hari yang lalu, dan hari ini aku baru saja memutuskan untuk menerimanya.” Kata Yeon. Luke terlihat ingin kembali membuka mulutnya, namun Yeon dengan cepat melanjutkan.

“Bukankah kita sudah sepakat jika balas dendam ini dilakukan untuk menhancurkan keluarga Cho Younghwan? Keluarga mereka sedang hancur saat ini, Luke. Kyuhyun dan ayahnya saling berseteru. Itulah yang kuinginkan. Jika aku menikah dengan Kyuhyun, Cho Younghwan akan semakin murka dan marah pada Kyuhyun. Aku memiliki firasat jika Cho Younghwan sudah mengetahui siapa diriku. Karena itulah dia benar-benar menentang hubunganku dan Kyuhyun.”

“Tetapi kita juga sudah sepakat bahwa tidak akan ada pernikahan antara kau dan Cho Kyuhyun!” Balas Luke.

“Luke, please..”

Luke membuang pandangannya dari Yeon.

“Jika aku menolak Kyuhyun, maka balas dendam ini akan sia-sia. Kyuhyun akan percaya pada ayahnya bahwa aku bukanlah perempuan yang baik untuknya.” Ucap Yeon.

“Jika kau menikah dengan Kyuhyun, lalu apa yang akan terjadi? Kau akan menjalani sisa hidupmu bersama laki-laki itu? Menjadi bagian dari keluarga si bajingan Cho Younghwan?” Geram Luke.

“Aku akan menceraikannya dengan segera, Luke. Kau juga tahu bahwa tujuan utamaku bukanlah untuk menikah dengan laki-laki kaya. Aku ingin balas dendam atas kematian orangtuaku!” Tukas Yeon.

“Apa kau yakin ini benar-benar hanya untuk balas dendam?” Tanya Luke.

Yeon terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia benci dirinya yang seperti ini. Seharusnya Yeon bisa menjawab pertanyaan Luke tanpa berpikir. Tetapi lidah Yeon seakan sulit untuk digerakkan.

“Lihat! Kau sendiri tidak yakin, baby!” Komentar Luke.

“Kau melibatkan perasaanmu disini! Sebagian hatimu memang ingin menikah dengan Cho Kyuhyun!” Kata Luke tanpa bisa menyembunyikan kekecewaannya.

Luke tidak merasa cemburu karena Yeon akan menikah dengan Kyuhyun. Ia hanya tidak suka jika Yeon terikat dengan keluarga Cho Younghwan. Karena ia tahu, sekali saja Yeon sudah terikat, maka perempuan itu tidak akan bisa melepaskannya.

“Tidak. Kau salah, Luke.” Kata Yeon tiba-tiba dan melayangkan tatapan tajam pada Luke. Luke cukup terkejut saat melihatnya.

“Aku ingin menikah dengan Cho Kyuhyun karena aku ingin menghancurkan keluarganya. Aku ingin menghancurkan Cho Younghwan seperti dia menghancurkan keluargaku.” Desis Yeon dengan rahang mengeras.

——

–To Be Continued–

HAI! Buat yang protes karena merasa balas dendam Yeon gak jelas, aku harap di part ini kalian udah ngerti, ya. Secara aku udah ulang-ulangin berkali kali rencana balas dendamnya di part ini. Berharap kalau kalian bisa mengerti. Dan pasti ngerti, kan? Readers aku kan pintar^^

Aku mau mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa buat kalian yang menjalankan. Kurang-kurangin baca FF NC, ya. Hahahahaha..

Dan semoga FF ini bisa mengobati kerinduan kita pada si Kyuhyun yang udah pergi wamil, ya.

Happy reading~

BYE~

Advertisements

65 thoughts on “Love, Hurt, and Revenge – Part 11

  1. ah oke aku udah suuzon yah sama luke buahahaha lagian sih ya gemes bgt aku mah bisa bisanyaaaaa ini dendam duhilahh wkwkw btw yah btwwwww bgt aku jd tambah sayang kyuhyuj gini caranya hahahahah gemes bgt sij dia bener2 gamau hancur aka gamau diti ggal sama yeon tp sebegitu ngegemesinnya ketakutannya hahahah duh semoga bisa dilanjut cepet deh ini udah mau klimaks cerita kan? hahaha mereka nikah makin banyak yg tersakiti and its more interesting lol

  2. Oh Yeon kau punya banyak kemajuan.
    Dan pertengkaran anak dan ayah yang menegangkan.
    Makin seru dan makin bikin greget dan penasaran.
    Oke di tunggu nextnya ^^

  3. uuu yeon mulai menunjukkan taring nya yah.. semoga balas dendam nya ke ayah kyuhyun ga sampe nyerempet ke nyakitin kyuhyun juga yaaa..
    Rasanya ga ikhlas kalo kyuhyun dan yeon misalnya nanti bakal sedih sedihan karena saling tersakiti karena dendam dan kesalahan masa lalu, yang mereka ga tau sebenarnya apa.. huhuhu
    ditunggu part selanjutnya yah.. fighting ^^

  4. wah yeon jangan sampai kejebak dengan urusan hati yeon….
    takut ih klo kyuhyun tau klo yeon cuma mau balas dendam
    bakalan benci sama yeon or ga yah(?)
    penasaran nih…

  5. Apa cmn gue aja yang gayakin kalau itu perbuatan younghwan 😂 entah kenapa sprt nya bukan dia
    Coba next part mungkin dapet kode yang lebih menerangkan siapa pelakunya hehe

  6. Yeon serius dengan rencana balas dendamnya Kyu hanya dijadikan batu loncatan agar bisa menghancurkan appanya. kasihan juga Kyu kalau seperti ini padahal cintanya tulus pada Yeon. Eunsoo lebih miris karena Luke menolak dirinya setelah menjatuhkan harga dirinya begitu mudah

  7. Sebetulnya dendam mendalam itu gak baik, dosa. Tapi kalo sampe kedua ortunya meninggal sih ya jd pikiran bgt:3
    Harusnya yeon gak usah balas dendam ya:(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s