Love, Hurt, and Revenge – Part 10

Author

Choineke

Title

Love, Hurt, and Revenge

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC), Cho Younghwan (Kyuhyun’s Father), Kim Hanna (Kyuhyun’s Mother), Jung Jun (Yeon’s Brother–OC), and others

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–I’m trapped in my own revenge–

——

Author POV

Kyuhyun keluar dari lift saat sudah berada di lantai 8. Ia ingin melihat apa yang sedang dikerjakan Yeon sehingga perempuan itu tidak kunjung menjawab teleponnya. Apa Yeon tidak tahu jika Kyuhyun sangat merindukannya dan ingin bertemu dengannya?

Mungkin Kyuhyun akan memberikan Yeon sedikit pelajaran karena sudah membuatnya merasakan rindu. Kyuhyun menghampiri meja Yeon yang tampak kosong. Laki-laki itu mengerutkan keningnya. Kemana Yeon?

Kyuhyun menghampiri Eunsoo yang berada di balik meja kerjanya.

“Eunsoo-ya..” Panggil Kyuhyun pelan. Ia tidak ingin mengganggu pegawai lain yang sedang bekerja.

“Oh, oppa–maksudku, direktur.” Ucap Eunsoo.

“Dimana Jung Yeon?” Tanya Kyuhyun langsung.

“Dia di rumah sakit. Adiknya mengalami kecelakaan.” Jawab Eunsoo membuat Kyuhyun terkejut.

“Apa?! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku dari tadi?!” Bentak Kyuhyun. Eunsoo terkesiap mendengar bentakan Kyuhyun. Begitu pun dengan yang lainnya.

“Di rumah sakit mana?” Tanya Kyuhyun.

“Tempat Luke bekerja.” Jawab Eunsoo pelan. Ia tidak bermaksud untuk menyembunyikannya dari Kyuhyun. Ia pikir Yeon akan memberitahu kakak sepupunya itu.

“Sial!” Umpat Kyuhyun dan langsung berlari menuju lift.

Kyuhyun menekan tombol lift dengan tidak sabaran. Ia hampir saja memutuskan untuk menggunakan tangga darurat jika lift tidak segera terbuka. Kyuhyun langsung masuk ke dalam lift dan menuju ke tempat parkir.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan kembali menghubungi Yeon. Namun sama seperti sebelumnya, Yeon tidak menjawab telepon Kyuhyun. Membuat laki-laki itu mengerang kesal.

“Kenapa kau tidak memberitahuku dan memintaku menemanimu, Jung Yeon?!” Geram Kyuhyun.

——

Yeon tidak bisa berhenti menangis walaupun dokter sudah mengatakan bahwa tidak ada luka serius yang dialami oleh Jun. Hanya sebuah luka kecil di kepalanya, beberapa goresan kecil di wajahnya dan juga lengan kanannya yang terkilir.

Jun bahkan diperbolehkan pulang besok, jika laki-laki itu tidak merasakan sakit pada kepalanya. Tetapi Yeon tetap tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya. Ia benar-benar merasa jantungnya berhenti berdetak saat mengetahui bahwa Jun mengalami kecelakaan.

“Berhentilah menangis, noona. Aku baik-baik saja.” Kata Jun dengan nada frustasi.

Jun benar-benar tidak tahan melihat wajah Yeon yang basah oleh airmata. Ia tidak pernah suka melihat kakak perempuannya itu menangis.

“Ya, baby. Jun baik-baik saja. Tenanglah.” Timpal Luke sembari mengusap bahu Yeon yang masih bergetar karena isak tangisnya.

“Bagaimana bisa aku berhenti menangis?! Kau hampir membuatku berhenti bernafas, Jun!” Isak Yeon. Jun meringis pelan.

“Kau seharusnya tidak memberitahunya, Luke.” Ujar Jun menyalahkan Luke.

Yeon melotot pada Jun dan hampir melayangkan pukulan pada adiknya itu, jika ia tidak mengingat Jun sedang terluka.

“Jika kau menyembunyikannya, aku akan benar-benar mati, Jung Jun!” Geram Yeon.

“Maafkan aku, noona. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Tetapi aku baik-baik saja. Sungguh. Mobil yang menabrakku menginjak rem dengan cepat sebelum mobil itu menyeretku lebih jauh.” Ucap Jun.

“Dimana mereka sekarang? Apa mereka bertanggung jawab?” Tanya Yeon.

“Kabur. Orang-orang yang membawa Jun ke rumah sakit yang memberitahukannya padaku.” Jawab Luke.

“Apa kau mengingat nomor mobilnya, Jun?” Tanya Yeon. Jun menggeleng.

“Aku terlalu terkejut. Tidak perlu memperpanjang masalah, noona. Lagipula aku baik-baik saja.” Kata Jun.

Yeon menghela nafas dan mengusap rambut pendek Jun.

“Kau benar-benar baik-baik saja, Jun? Apa kepalamu sakit?” Yeon merasa sangat khawatir.

Jun meraih tangan Yeon dengan tangannya yang tidak sakit. Kemudian menggenggamnya dengan erat.

“Aku baik-baik saja, noona. Yah, kepalaku sedikit sakit. Tetapi tidak perlu khawatir.” Ucap Jun.

Yeon menghela nafas panjang.

“Tenanglah, hmm?” Kata Jun sembari mengguncang pelan tangan Yeon. Yeon tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.

Yeon merasa ponselnya dari tadi bergetar. Ia segera mengeluarkannya dari kantung blazer. Awalnya Yeon pikir Kyuhyun yang menghubunginya. Namun ternyata salah. Nomor yang tidak terdeteksi. Lagi.

Tanpa sadar Yeon mencengkram ponselnya dengan erat.

“Ada apa, noona? Siapa yang menelepon?” Tanya Jun. Yeon menatap Jun dan memaksakan senyumnya. Kemudian ia menatap Luke.

“Aku titip Jun sebentar, Luke. Aku harus menjawab telepon.” Ujar Yeon. Luke menganggukkan kepalanya walaupun merasa bingung. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Yeon.

Yeon segera meninggalkan kamar rawat Jun dan tidak lupa menutupnya dengan rapat. Kemudian Yeon menatap layar ponselnya yang masih berkedip dan ‘seseorang’ yang menghubunginya itu belum memutuskan sambungan telepon.

Dengan jari yang sedikit bergetar, Yeon menjawab telepon tersebut. Kemudian mendekatkan ponsel itu pada telinganya.

“H–halo?”

Peringatan pertama untukmu. Jauhi Cho Kyuhyun atau sesuatu akan terjadi lagi.

Sambungan terputus.

Yeon tidak dapat menutupi keterkejutan dalam wajahnya. Sesuatu akan terjadi lagi? Apa maksudnya?

Yeon menatap ke belakang di mana kamar rawat Jun berada. Matanya melebar dengan tiba-tiba. Apakah yang terjadi pada Jun karena…?

Yeon menggelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Tidak. Tidak mungkin.” Gumam Yeon dengan airmata mengalir diwajahnya.

“Yeoni-ya!”

Yeon terkejut mendengar teriakan Kyuhyun yang memanggil namanya dari ujung koridor. Ia menatap laki-laki itu yang berlari dengan cepat untuk menghampirinya. Keringat tampak mengalir di pelipis Kyuhyun.

“Bagaimana keadaan Jun?” Tanya Kyuhyun.

Yeon mengusap airmata diwajahnya dan mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.

“Baik.” Jawab Yeon singkat.

Kyuhyun menghela nafas lega. Ia mencoba menetralkan nafas lelahnya karena terburu-buru datang ke rumah sakit. Namun Kyuhyun merasa kelelahannya tidak sebanding dengan kelegaannya karena mengetahui Jun baik-baik saja.

“K–kenapa kau datang?” Tanya Yeon membuat Kyuhyun tersentak.

“Apa aku tidak boleh datang?” Tanya Kyuhyun balik.

“Hanya karena kau tidak memberitahuku, bukan berarti aku tidak akan pernah tahu, Yeon.” Geram Kyuhyun. Yeon mengepalkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.

“Apa masalahmu sebenarnya? Sampai kapan kau akan seperti ini padaku?!” Tanya Kyuhyun dengan kesal. Tidak ada nada lembut dalam suara Kyuhyun.

“Aku pikir hubungan kita memiliki kemajuan. Di luar tentang tidur bersama. Perasaanku padamu dan perasaanmu padaku semakin dalam. Bukan begitu?” Ujar Kyuhyun. Yeon hanya diam saja.

“Tetapi kenapa kau selalu tampak menutup dirimu padaku, Yeon? Kenapa kau tidak bisa lebih terbuka padaku? Kenapa kau tidak pernah mengandalkanku sekali saja?!” Tanya Kyuhyun dengan putus asa.

“Kenapa kau marah padaku?!” Balas Yeon dengan kesal. Airmata kembali mengalir di wajahnya.

“Aku hanya terlalu mengkhawatirkan Jun saat Luke memberitahukanku tentang kecelakaan itu! Aku tidak bisa memikirkan apapun termasuk dirimu! Jun satu-satunya yang aku miliki di dunia ini! Dan duniaku hampir saja meninggalkanku!” Bentak Yeon.

Kyuhyun tidak dapat menutupi keterkejutannya saat mendengar bentakan Yeon. Juga semua isi hati yang sedang dirasakan perempuan itu saat ini. Walaupun begitu, Kyuhyun senang karena Yeon mengatakan kekhawatirannya pada Kyuhyun.

“Semua itu karena–“

Yeon tidak dapat melanjutkan ucapannya. Ia tidak bisa menyalahkan Kyuhyun atas apa yang terjadi pada Jun. Dan Yeon juga tidak bisa memberitahu Kyuhyun jika Jun seperti ini karena dirinya. Yeon tidak mau menyakiti Kyuhyun.

Yeon mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang. Kemudian menaikkan pandangannya ke atas untuk menatap wajah Kyuhyun.

“Seperti inilah diriku. Jika kau tidak suka, kau bisa pergi.” Ucap Yeon dan segera berbalik untuk masuk ke dalam kamar rawat Jun.

Namun Kyuhyun langsung menahannya dan memeluk tubuh Yeon dari belakang. Kyuhyun menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Yeon. Ia dapat merasakan jika tubuh Yeon tampak menegang di dalam pelukannya. Tetapi pada akhirnya Yeon menerima pelukannya dengan baik.

“Maaf. Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu.” Gumam Kyuhyun.

“Aku hanya merasa sedih karena tidak bisa berada di sisimu saat kau sedang mengkhawatirkan Jun. Aku ingin menjadi satu-satunya tempatmu untuk bersandar, Yeon.” Bisik Kyuhyun. Yeon menggelengkan kepalanya dengan pelan.

“Aku tidak bisa menjadikanmu satu-satunya tempatku untuk bersandar.” Balas Yeon berbisik.

Kyuhyun melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Yeon kembali menghadapnya.

“Kenapa?” Tanya Kyuhyun.

“Bagaimana jika suatu saat kau meninggalkanku? Kepada siapa aku harus bersandar?” Ucap Yeon. Kyuhyun menangkup wajah Yeon.

“Kenapa aku harus meninggalkanmu, Yeon? Aku tidak akan pernah melakukannya.” Kata Kyuhyun.

“Kau akan melakukannya.” Sahut Yeon.

Setelah tahu apa yang aku lakukan padamu.

Rahang Kyuhyun tampak mengeras saat mendengar sahutan Yeon yang penuh keyakinan. Hati, tubuh, dan pikiran itu adalah milik Kyuhyun. Yeon tidak bisa bersikap sok tahu pada sesuatu yang bukan miliknya.

“Aku. Tidak. Akan. Pernah. Meninggalkanmu.” Ucap Kyuhyun dengan penuh penekanan di setiap katanya.

“Berhenti berbicara omong kosong atau aku akan benar-benar marah padamu.” Kata Kyuhyun. Yeon hanya diam saja sembari menatap laki-laki itu.

Kyuhyun menurunkan tangannya dan menggenggam tangan Yeon.

“Sekarang aku ingin melihat Jun. Kamarnya di sana?” Tunjuk Kyuhyun pada sebuah pintu di belakang Yeon. Yeon mengangguk.

Kyuhyun membawa Yeon bersamanya untuk masuk ke dalam kamar Jun. Hal pertama yang dilihat Kyuhyun adalah Luke yang sedang membantu Jun untuk minum.

Sialan. Kyuhyun tidak suka pemandangan ini.

“Hyung!” Sapa Jun dengan ceria.

Kyuhyun tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Yeon. Ia melangkahkan kakinya untuk berada di sisi tempat tidur Jun yang kosong.

“Bagaimana keadaanmu, Jun?” Tanya Kyuhyun.

“Kepala dan tanganku terasa sedikit sakit. Tetapi semua baik-baik saja.” Jawab Jun.

“Syukurlah. Aku tahu bahwa kau laki-laki yang kuat.” Kata Kyuhyun membuat Jun tersenyum bangga.

“Bagaimana bisa kau tertabrak? Apa mereka bertanggung jawab?” Tanya Kyuhyun. Jun menggeleng.

“Aku tidak mengingatnya dengan pasti, hyung. Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Lalu tiba-tiba saja dari belakang mobil itu menabrakku.” Jelas Jun.

“Dan setelahnya mereka kabur.” Tambah Jun. Kyuhyun menggeram pelan.

“Jangan dipikirkan, hyung. Aku senang kau datang. Kau bisa membuat noona berhenti menangis.” Ujar Jun.

Kyuhyun menoleh dan menatap Yeon yang sedang menundukkan kepalanya.

“Dia hanya terlalu mengkhawatirkanmu, Jun.” Kyuhyun membela Yeon.

“Aku akan kembali bekerja, baby.” Kata Luke sembari menatap Yeon.

“Baguslah. Aku juga tidak membutuhkanmu untuk menjaga mereka.” Sahut Kyuhyun tanpa menatap Luke.

“Aku mohon jangan. Kepalaku cukup sakit untuk menyaksikan kalian berkelahi lagi.” Gerutu Jun.

“Pergilah, Luke.” Ucap Yeon sembari menatap Luke yang sedang menatap Kyuhyun dengan tajam. Namun kemudian Luke kembali menatapnya.

“Terima kasih untuk hari ini.” Yeon memberikannya senyuman kecil.

“Dengan senang hati, baby. Kau tahu bahwa ini bukan pertama kalinya. Aku akan selalu ada untuk kalian berdua.” Balas Luke membuat Kyuhyun mendengus kasar.

Kyuhyun tahu bahwa Luke sengaja ingin memprovokasinya. Tetapi Kyuhyun berusaha untuk tidak terpancing. Tidak peduli seberapa sering Luke selalu ada untuk Yeon dan Jun, mulai sekarang Kyuhyun yang akan selalu ada untuk mereka.

“Banyak istirahat, Jun. Dan jika sakit di kepalamu semakin menjadi, panggil dokter jaga atau aku. Okay?”

“Tentu, Luke. Thanks.

Luke mengusap kepala Jun sebelum akhirnya meninggalkan kamar rawat Jun.

“Apa kau lapar, Jun? Apa aku perlu membelikanmu makanan?” Tanya Kyuhyun menawarkan.

Kyuhyun sempat menoleh saat merasakan Yeon melepaskan genggaman tangan mereka. Namun Kyuhyun tidak mempermasalahkannya.

“Jun sedang sakit. Dia tidak boleh makan makanan di luar makanan rumah sakit.” Kata Yeon sembari berjalan ke sisi kosong di tempat tidur Jun.

“Oh, noona! Yang sakit kepala dan tanganku. Mulut dan perutku baik-baik saja!” Gerutu Jun.

“Tidak tahukah kau jika seluruh anggota tubuh itu saling berkaitan?” Tanya Yeon. Jun mendengus dengan kesal.

“Aku pikir kita bisa membelikannya–“

“Jika kau membawakan makanan dari luar untuk Jun, aku akan menendang pantatmu untuk keluar dari sini.” Ancam Yeon pada Kyuhyun.

Mata Kyuhyun melebar mendengar ancaman Yeon. Wajah perempuan itu terlihat benar-benar serius saat mengatakannya. Membuat Kyuhyun tidak memiliki pilihan selain menurutinya.

“Maaf, Jun. Aku tidak bisa melakukan apapun.” Ringis Kyuhyun. Jun semakin menekuk wajahnya.

“Kalau begitu belikan makanan saja untuk noona, hyung. Dia belum makan malam.” Kata Jun dengan ketus. Kyuhyun menatap Yeon.

“Tidak. Tidak perlu. Aku tidak lapar.” Tolak Yeon.

“Kau harus makan, noona!” Tegas Jun.

“Aku setuju padamu, Jun. Dan kali ini kau tidak bisa mengancamku, Yeon.” Ucap Kyuhyun membuat Yeon menatapnya dengan kesal.

“Aku akan segera kembali.” Ujar Kyuhyun dan langsung meninggalkan kamar rawat Jun.

“Kau dan Kyuhyun hyung berkencan ‘kan, noona?” Tanya Jun langsung setelah Kyuhyun pergi.

“Jangan sok tahu, Jun.” Jawab Yeon.

“Noona..” Panggil Jun dengan wajah serius.

“Tidak apa-apa jika kau dan Luke tidak bisa bersama. Tetapi aku pikir kau dan Kyuhyun hyung bisa bersama. Aku dapat melihat jika Kyuhyun hyung mencintaimu. Dan aku juga tidak cukup bodoh untuk tahu bahwa kau memiliki perasaan yang sama padanya.” Kata Jun.

Yeon menundukkan kepalanya. Apakah perasaannya pada Kyuhyun sejelas itu? Jika Jun saja bisa melihatnya. Bagaimana dengan yang lainnya?

“Aku akan merasa tenang jika kau menikah dengan Kyuhyun hyung.” Lanjut Jun.

“Jun!” Tegur Yeon.

“Tidak akan ada pernikahan antara aku dan Kyuhyun!” Tegas Yeon membuat Jun menatapnya dengan kecewa.

——

Yeon membuka matanya yang terasa berat. Memulihkan penglihatannya dan menyadarkan dirinya bahwa ia berada di rumah sakit. Ia menoleh dan tersadar jika sedang bersandar pada bahu Kyuhyun. Yeon segera mengangkat kepalanya dan mengusap lehernya yang terasa pegal.

“Sudah bangun?” Tanya Kyuhyun tanpa menatap Yeon. Mata laki-laki itu sedang tertuju pada laptop dipangkuannya.

“Kau tidak tidur?” Tanya Yeon balik.

“Salah satu dari kita harus tetap terjaga untuk menjaga Jun.” Jawab Kyuhyun. Yeon mengalihkan pandangannya pada Jun yang sedang tidur dengan nyenyak.

“Lagipula ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.”

“Kapan kau membawa laptopmu?” Tanya Yeon.

Seingatnya Kyuhyun tidak membawa apa-apa saat datang ke rumah sakit. Dan seingat Yeon juga, ia tidak bersandar pada bahu Kyuhyun saat tidur tadi. Entah kenapa ia bisa berakhir pada bahu kokoh laki-laki itu.

“Aku meminta sekretarisku untuk membawakannya.” Kata Kyuhyun sembari menutup laptopnya kemudian menaruhnya di atas meja.

“Apa kau tidak ingin tidur lagi?” Tanya Kyuhyun sambil menatap Yeon. Yeon menggeleng pelan.

“Kau bisa tidur.” Ucap Yeon.

Kyuhyun mengangguk dan kemudian berbaring di atas sofa dengan paha Yeon sebagai bantalnya. Yeon terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Kyuhyun. Namun ia juga tidak bisa melakukan protes atas apa yang dilakukan laki-laki itu.

“Aku akan tidur sebentar saja. Karena aku harus bekerja–” Kyuhyun menatap jam di pergelangan tangannya.

“Tiga jam lagi.” Lanjutnya dan kemudian memejamkan matanya.

Yeon menatap Kyuhyun yang sepertinya telah tidur. Wajahnya terlihat sangat damai. Apa yang akan terjadi jika laki-laki itu tahu bahwa dialah penyebab kecelakaan yang terjadi pada Jun?

Yeon menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa menyalahkan Kyuhyun atas semua ini. Ia yang memutuskan untuk mendekati laki-laki itu. Ia yang memutuskan untuk melakukan balas dendam melalui Kyuhyun.

Seharusnya Yeon menyadari semuanya dari awal. Jika Younghwan bukanlah tandingannya. Younghwan membunuh kedua orangtuanya, sudah pasti pria itu bisa melakukan apapun yang tidak berjalan sesuai keinginannya.

Dan Yeon sangat yakin bahwa semua ini perbuatan Cho Younghwan.

Lalu apa yang harus Yeon lakukan sekarang? Haruskah ia melupakan balas dendamnya dan meninggalkan Kyuhyun? Yeon mungkin bisa merelakan balas dendamnya demi melindungi orang-orang disekitarnya.

Tetapi bisakah Yeon meninggalkan Kyuhyun? Bisakah ia melihat wajah terluka Kyuhyun saat meninggalkannya nanti? Jawabannya adalah tidak. Yeon tidak bisa meninggalkan Kyuhyun. Yeon sudah terperangkap pada laki-laki itu.

Yeon mengulurkan tangannya dan mengusap pelan kepala Kyuhyun. Seberapa pun di dalam hatinya ia menyalahkan Kyuhyun, Yeon tetap tidak bisa membenci laki-laki itu. Perasaan Yeon pada Kyuhyun sudah terlalu dalam tanpa di sadarinya.

Yeon menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada dahi lebar Kyuhyun. Memberikan kecupan lama di sana dan berharap Kyuhyun bisa merasakan perasaan yang ingin Yeon sampaikan padanya.

Yeon bahkan tidak menyadari seulas senyum kecil terukir di wajah tampan Kyuhyun.

——

Yeon membuka pintu kamar Jun dan membiarkan Kyuhyun serta Jun masuk ke dalam. Kyuhyun merangkul Jun dan memastikan laki-laki itu dalam keadaan seimbang saat berjalan. Walaupun Jun meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja, Kyuhyun tetap merangkulnya.

Kyuhyun membantu Jun berbaring di atas tempat tidur. Kemudian ia dan Yeon sama-sama menarik selimut untuk menutupi setengah tubuh Jun.

“Istirahatlah, Jun. Kau tidak bisa bekerja untuk beberapa hari ke depan.” Kata Yeon.

“Noona, tapi–“

“Aku setuju dengan Yeon, Jun. Walaupun kau mengatakan bahwa kau baik-baik saja, aku dapat merasakan tubuhmu yang masih lemah. Aku yakin kau akan jatuh jika aku tidak merangkulmu.” Sela Kyuhyun.

“Apa yang harus aku lakukan di rumah seperti ini?!” Keluh Jun.

Yeon mengeluarkan ponsel Jun dari tasnya dan memberikannya pada adiknya itu.

“Jika kau tidak mau tidur, kau bisa bermain game di ponselmu.” Saran Yeon.

“Tetap saja itu membosankan, noona!” Gerutu Jun.

“Haruskah kita kembali ke rumah sakit saja, Jun?” Tanya Yeon dengan kedua tangan di pinggang.

Kyuhyun berusaha mati-matian untuk tidak tertawa saat melihat wajah galak Yeon pada Jun. Yeon bersikap seperti seorang ibu-ibu yang memarahi anaknya karena tidak mau menurut.

“Menyebalkan.” Gumam Jun dengan wajah cemberut.

“Kau bisa kembali ke kantor, Kyuhyun. Aku sudah mengajukan cuti hingga besok.” Kata Yeon sembari menatap Kyuhyun.

“Apa kau bisa merawat Jun seorang diri?” Tanya Kyuhyun. Yeon mengangguk.

“Aku merawatnya seorang diri selama sepuluh tahun terakhir.” Jawab Yeon.

Kyuhyun terlihat merasa bersalah karena memberikan pertanyaan yang tampak menyinggung perempuan itu. Ia sama sekali tidak bermaksud melakukannya.

“Lagipula Luke akan datang nanti.” Lanjut Yeon membuat Kyuhyun mendengus.

“Katakan padanya untuk datang saat aku di kantor. Karena setelah pulang dari kantor aku akan datang ke sini. Dan jika kau tidak ingin melihat pertengkaran di antara kami, lebih baik kau menyuruhnya pulang sebelum aku datang.” Ucap Kyuhyun dengan ketus.

“Jun, aku pergi dulu. Beristirahatlah dan jangan menyusahkan Yeon, mengerti?” Pesan Kyuhyun.

“Aku mengerti, hyung. Terima kasih karena telah mengantar kami pulang.” Balas Jun sembari tersenyum.

“Bukan masalah.” Sahut Kyuhyun sembari menepuk pelan pipi Jun.

“Kau bisa mengantarku ke depan?” Tanya Kyuhyun pada Yeon. Yeon mengangguk.

Kyuhyun melambaikan tangannya pada Jun sebelum akhirnya meninggalkan kamar laki-laki itu bersama Yeon. Mereka berjalan bersama-sama menuju pintu rumah.

Kyuhyun menggeram dan kemudian menggeser tubuhnya untuk menghadap Yeon. Menarik tengkuk Yeon dan menyatukan bibirnya dan bibir Yeon dalam sebuah lumatan pelan.

Kyuhyun dapat merasakan tangan Yeon yang mencengkram jasnya dengan erat. Sepertinya perempuan itu terlalu terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari Kyuhyun. Namun ia bisa menerimanya dengan baik, bahkan membalas ciuman Kyuhyun.

“Yeon..” Bisik Kyuhyun.

“Hmm?” Gumam Yeon. Menikmati terpaan nafas Kyuhyun pada wajahnya.

“Jung Yeon..”

“Hmm?”

“Yeoni-ya..”

Yeon menjauhkan wajahnya dari wajah Kyuhyun.

“Jika kau memanggilku sekali lagi, aku akan menendang selangkanganmu.” Ancam Yeon.

Kepala Kyuhyun terjungkal ke belakang dan ia tertawa terbahak-bahak. Yeon yakin Jun dapat mendengar tawa Kyuhyun yang terlihat sangat bahagia. Dan Yeon tidak bisa menahan sudut bibirnya yang hendak tertarik ke atas.

“Yah, inilah Yeon–ku.” Ucap Kyuhyun dengan geli. Yeon mendengus dan mencubit pelan perut Kyuhyun.

Kyuhyun bersandar pada dinding dan menarik pinggang Yeon agar menempel padanya. Ia menatap Yeon dengan pandangan lembut.

“Yeon?” Panggil Kyuhyun dan di balas pelototan dari Yeon.

“Kali ini aku serius.” Kata Kyuhyun.

“Apa?!” Ucap Yeon ketus.

“Bagaimana jika akhir pekan ini kita melakukan liburan singkat?” Tanya Kyuhyun.

“Liburan?” Ulang Yeon.

“Aku memiliki sebuah penginapan di daerah Busan. Letaknya sangat dekat dengan pantai.” Ujar Kyuhyun sembari memainkan jari-jarinya di pinggang Yeon.

“Jun sedang sakit, Kyuhyun.”

“Dia akan pulih beberapa hari lagi, Yeon. Dan tidak bisakah kau memanfaatkan temanmu untuk menemaninya saat akhir pekan nanti?” Pinta Kyuhyun. Yeon tampak berpikir.

“Kita lupakan beberapa masalah yang akhir-akhir ini terjadi, Yeoni-ya. Bagaimana, hmm?” Tanya Kyuhyun sembari menggesekkan hidungnya dan hidung Yeon.

“Aku tidak bisa berpikir jika kau seperti itu.” Omel Yeon.

“Kau tidak perlu berpikir, sayang. Katakan saja ya.” Sahut Kyuhyun.

“Pemaksaan, huh?” Kyuhyun mengangguk.

Yeon memicingkan matanya pada Kyuhyun.

“Kau mengajakku pergi dengan berbagai pikiran kotor di otakmu, kan?” Tuduh Yeon membuat Kyuhyun terkejut. Namun kemudian laki-laki itu tertawa.

“Yah, jika yang kau maksud adalah sex, astaga, aku bisa melakukannya sekarang juga disini denganmu.” Kata Kyuhyun dengan geli.

“Jangan-jangan kau yang berpikiran seperti itu!” Kyuhyun menuduh Yeon balik. Wajah Yeon tampak merona mendapat tuduhan dari Kyuhyun dan membuat laki-laki itu kembali tertawa.

“Jadi, kita akan pergi?” Tanya Kyuhyun memastikan.

Yeon tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Kyuhyun tidak dapat menahan senyum penuh kemenangan di wajahnya. Sudah sangat lama ia ingin berakhir pekan bersama dengan Yeon.

“Kau bisa menyiapkannya dari sekarang.” Ucap Kyuhyun.

“Menyiapkan apa?” Tanya Yeon.

“Yah, kau tahulah.” Jawab Kyuhyun dengan tatapan menggoda.

“Apa?” Yeon tampak bingung.

Kyuhyun mendekatkan mulutnya pada telinga Yeon.

“Beberapa bikini.” Bisiknya membuat mata Yeon melebar.

Kemudian Kyuhyun langsung menjauh dari Yeon dan meninggalkan rumah perempuan itu sebelum Yeon menghajarnya.

Mendengar pintu rumah yang terbanting mengembalikan kesadaran Yeon. Perempuan itu merasa leher dan pipinya memanas akibat bisikan Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun dan pikiran mesumnya.” Umpat Yeon.

Namun jauh di lubuk hati Yeon terdalam, ia menantikan kepergian mereka di akhir pekan ini.

——

“Aku ingin semua jadwalku selesai pukul 3 sore hari Jumat nanti. Karena aku akan pergi berakhir pekan.” Kata Kyuhyun pada Sekretaris Han.

“Saya akan mengaturnya, direktur.” Ucap Sekretaris Han.

“Apa saya perlu menyiapkan supir untuk Anda pada hari Jumat nanti? Atau tiket pesawat?” Tanya Sekretaris Han.

“Tidak. Aku tidak membutuhkan supir ataupun tiket pesawat.” Jawab Kyuhyun sembari menandatangani sebuah dokumen dan kemudian memberikannya pada Sekretaris Han.

“Aku akan pergi naik mobil dan aku akan mengendarainya sendiri.” Lanjut Kyuhyun.

“Saya mengerti, direktur.”

“Kau boleh pergi.”

Sekretaris Han menundukkan kepalanya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Kyuhyun. Bersamaan dengan pintu ruangannya yang tertutup, ponsel Kyuhyun di atas meja bergetar. Kyuhyun menghela nafas panjang saat melihat Hanna menghubunginya.

“Halo..” Ucap Kyuhyun setelah menjawab telepon Hanna.

Kyuhyun-ah..

“Apa kabarmu, eommoni?”

Aku baik. Bagaimana dengan kau sendiri?”

“Aku juga baik, eommoni.”

Kapan kau akan pulang, nak? Aku merindukanmu.”

Kyuhyun menghela nafas saat mendengar nada suara Hanna yang membuat dadanya sedikit sesak. Ia dapat merasakan kerindukan dari suara wanita itu.

“Aku akan pulang jika abeoji mau menerima Yeon dan bersedia meminta maaf atas apa yang diucapkannya pada Yeon saat itu, eommoni.”

Tidak bisakah kau sedikit mengalah pada ayahmu, Kyuhyun-ah?

“Sampai kapan aku harus mengalah? Aku selalu menuruti keinginannya, eommoni. Aku bersedia saat ia menyuruhku melanjutkan kuliah di luar negeri. Aku bersedia saat ia memintaku memimpin perusahaan dan melupakan cita-citaku untuk jadi penyanyi. Aku selalu menurutinya.”

Kyuhyun mengeluarkan kekesalan dan rasa tertekan yang selama ini dirasakannya karena selalu menuruti keinginan Younghwan. Ia berjanji tidak akan melawan Younghwan jika pria itu menerima Yeon.

Kyuhyun terkesiap saat mendengar isakan pelan dari teleponnya. Ia menghela nafas panjang saat menyadari bahwa Hanna sedang menangis. Ia tidak pernah ingin melihat ataupun mendengar wanita itu menangis.

“Eommoni..”

Aku tidak ingin melihat anak serta suamiku bermusuhan seperti ini.

“Maafkan aku, eommoni. Aku juga tidak menginginkannya.” Kyuhyun berharap Hanna dapat menangkap nada menyesal dalam ucapannya.

Kau benar-benar tidak akan pulang?” Tanya Hanna.

“Tidak.” Jawab Kyuhyun.

“Aku harap kau tidak menyalahkan Yeon atas semua ini, eommoni. Dia tidak bersalah. Akulah yang mencintainya hingga seperti ini. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya walaupun aku harus meninggalkan rumah. Maafkan aku.”

Tidak, sayang. Aku tidak akan menyalahkan perempuan malang itu. Aku juga turut merasa bersalah atas apa yang ayahmu ucapkan padanya saat itu. Sampaikan permintaan maafku padanya, nak.

“Bukan salahmu, eommoni. Tapi walaupun begitu, aku akan menyampaikannya pada Yeon. Dan terima kasih karena sudah bersedia menerimanya, eommoni.”

Kebahagiaanmu yang paling penting, sayang.

“Kalau begitu berhentilah menangis. Jika kau menangis, aku akan merasa sedih.”

Ya, maafkan aku.

Kyuhyun dapat mendengar Hanna mengusap hidungnya.

“Jika kau merindukanku, datanglah ke apartementku, eommoni.”

Tentu, sayang. Aku akan datang setelah ayahmu bisa lebih tenang.

“Aku mengerti. Jaga dirimu.”

Kau juga jaga dirimu, nak. Sampaikan salamku pada Jung Yeon.

“Ya, eommoni.”

Kyuhyun menatap ponselnya sembari tersenyum kecil. Mengetahui bahwa Hanna mendukung hubungannya dengan Yeon benar-benar membuat Kyuhyun merasa tenang dan senang. Ia tidak peduli jika Younghwan tidak mendukungnya.

Hanna saja sudah lebih dari cukup untuk Kyuhyun. Karena selama ini Kyuhyun memang sangat menyayangi Hanna. Karena itulah dukungan Hanna sangat dibutuhkan oleh Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas dan mencoba melupakan masalah keluarganya. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan memikirkan akhir pekannya yang akan terasa menyenangkan bersama Yeon. Sebuah senyum lebar tampak terbentuk di wajahnya.

“Cepatlah datang akhir pekan.” Gumam Kyuhyun.

——

Yeon memberikan pakaian-pakaiannya yang diambilnya dari lemari kepada Jun. Kemudian Jun memasukkannya ke dalam sebuah tas berukuran sedang. Tas yang akan dibawanya ke Busan bersama Kyuhyun sebentar lagi.

“Tidakkah kau pikir bahwa kau perlu membawa beberapa pakaian yang sedikit seksi, noona?” Tanya Jun.

Yeon melotot pada adik laki-lakinya itu hingga membuat Jun meringis pelan. Yeon mendekati tasnya dan mulai merapikan isi di dalamnya. Ia tidak terlalu banyak membawa barang. Hanya barang-barang yang menurutnya dibutuhkan saat bermain di pantai nanti.

“Kau masih sekolah dan tidak boleh berpikiran seperti itu.” Omel Yeon. Jun duduk di tepi tempat tidur.

“Aku pernah melihat Kyuhyun hyung keluar dari kamarmu waktu itu.” Kata Jun membuat Yeon terkejut.

“Kapan?” Tanya Yeon.

“Aku lupa tanggal tepatnya. Yang pasti saat itu pagi hari.” Jawab Jun.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?!” Tanya Yeon lagi. Merasa sedikit panik.

“Karena Kyuhyun hyung yang memintanya. Ia tidak ingin kau marah.” Ucap Jun. Yeon menghela nafas dan mengalihkan pandangannya dari Jun.

“Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Jun.” Kata Yeon.

“Sejujurnya aku tidak peduli tentang apa yang kau dan Kyuhyun lakukan. Kalian sudah sama-sama dewasa. Lagipula Kyuhyun hyung orang yang baik. Karena itulah aku membiarkanmu pergi bersama Kyuhyun hyung ke Busan.” Jelas Jun.

Yeon tidak dapat menahan tawanya.

“Apa maksudmu kau tidak akan membiarkanku pergi jika Kyuhyun orang yang tidak baik?”

“Tentu saja!”

“Adikku sudah dewasa.” Kata Yeon sembari mengacak rambut Jun.

Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu rumah. Yeon dan Jun seolah dapat menebak siapa yang datang.

“Kau bisa meneruskan membereskan pakaianmu, noona. Aku akan membuka pintu.” Ujar Jun dan disambut anggukan kepala oleh Yeon.

Yeon tampak memikirkan barang apalagi yang harus dibawanya. Ia menatap ke sekeliling kamarnya. Dan setelah yakin bahwa tidak ada lagi yang tertinggal, Yeon menutup tasnya dan membawanya keluar kamar.

Yeon dapat mendengar suara Kyuhyun dan Jun yang sedang mengobrol. Dan ia segera menghampiri keberadaan kedua laki-laki itu.

Kyuhyun langsung mengambil tas di tangan Yeon saat perempuan itu mendekatinya. Tidak terlalu berat, namun tetap saja Kyuhyun tidak akan membiarkan Yeon membawanya. Karena salah satu tugas laki-laki di dunia ini adalah membawakan barang perempuannya.

“Kau yakin sudah membawa semua barang yang kau butuhkan?” Tanya Kyuhyun. Yeon mengangguk.

“Kalau begitu kita bisa pergi sekarang?” Tanya Kyuhyun lagi. Dan Yeon mengangguk lagi.

Kemudian Yeon menatap Jun dan mendekati laki-laki itu.

“Jaga dirimu, Jun. Luke akan datang setelah pulang bekerja. Jika ada apa-apa hubungi aku, mengerti?” Pesan Yeon yang disambut tawa geli dari Jun.

“Astaga, noona. Kau hanya pergi ke Busan selama dua hari. Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Tenanglah, okay?” Ucap Jun. Yeon memukul pelan lengan Jun hingga membuat adiknya itu meringis.

“Tidak bisakah kau mendengarkan saja apa pesanku? Haruskah aku membatalkan kepergianku?” Tanya Yeon membuat mata Kyuhyun dan Jun melebar.

“Tidak bisa!” Jawab mereka serempak. Yeon menatap Kyuhyun dan Jun bergantian.

“Jun, katakan saja kau mengerti!” Perintah Kyuhyun dengan panik. Ia tidak mau Yeon membatalkan liburan akhir pekan mereka.

“Baiklah, aku mengerti.” Kata Jun sembari mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.

“Jangan lupa kunci pintu saat kau pergi bekerja dan jangan lupa untuk makan!” Pesan Yeon lagi.

“Siap, noona!” Sahut Jun.

Yeon memeluk Jun dan mengusap kepala adiknya itu dengan sayang. Jun membalas pelukan Yeon dengan mengusap pelan punggung perempuan itu.

“Bersenang-senanglah, okay?” Bisik Jun. Yeon mengangguk.

“Jaga noona untukku, hyung.” Pinta Jun setelah melepaskan pelukannya.

“Tentu, Jun. Jangan khawatir. Jaga dirimu dan hubungi kami kapanpun kau membutuhkan kami.” Balas Kyuhyun. Jun mengangguk dan memberikan tanda ‘ok’ menggunakan jarinya.

“Ayo, Yeon.” Ajak Kyuhyun.

Yeon melambaikan tangannya pada Jun dan mengikuti Kyuhyun keluar rumah. Yeon terkesiap saat melihat mobil yang terparkir di depan rumahnya. Sebuah mobil audi–yang Yeon tidak tahu jenisnya–dengan atap yang terbuka.

Mobil Kyuhyun terparkir di depan rumah kecilnya benar-benar perpaduan yang tidak sempurna. Sangat bertolak belakang dan membuat rumah Yeon menjadi semakin kecil.

“Cuaca sore hari cukup baik. Aku pikir tidak masalah jika kita menikmati angin selama di perjalanan, kan?” Tanya Kyuhyun setelah menaruh tas Yeon di bagasi mobil.

“Tentu saja.” Jawab Yeon dengan tersenyum kecil.

Kyuhyun membukakan pintu mobil untuk Yeon. Melihat perempuan itu melangkah pelan untuk mendekatinya dan masuk ke dalam mobil. Sebelum menutup pintu, Kyuhyun membungkukkan badannya dan memberikan kecupan pelan pada pipi Yeon.

Setelah menunjukkan senyum miringnya pada perempuan itu, Kyuhyun menutup pintu mobil dan segera menyusul Yeon untuk duduk di balik kemudi.

“Siap?” Tanya Kyuhyun. Yeon tertawa pelan.

“Sangat siap.” Jawab Yeon. Kyuhyun ikut tertawa dan langsung menjalankan mobilnya.

Yeon tidak menghilangkan senyum diwajahnya. Untuk beberapa hari ini saja, ia akan melupakan rencana balas dendamnya. Ia akan menganggap dirinya sebagai kekasih Kyuhyun yang sesungguhnya. Ia hanya akan memusatkan perhatiannya pada laki-laki itu. Dan ia akan menikmati waktunya bersama Kyuhyun.

Yeon menatap sebelah tangan Kyuhyun yang berada di persneling. Mengulurkan tangannya, Yeon menautkan tangannya dan tangan Kyuhyun. Yeon menyadari bahwa Kyuhyun tampak terkejut dengan apa yang dilakukannya. Namun laki-laki itu hanya meliriknya sekilas dan membalas genggamannya.

“Kau tidak berusaha untuk menggodaku, kan?” Tuduh Kyuhyun.

“Apakah menggenggam tanganmu saja tampak seperti menggodamu?” Tanya Yeon. Kyuhyun mendengus.

“Lalu jika aku membuka ristleting celanamu–“

“YA!” Teriak Kyuhyun.

Yeon terkesiap sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Wajah Kyuhyun tampak memerah. Dan entah kenapa hal itu terlihat sangat lucu menurut Yeon.

“Kau bilang bahwa aku menggodamu. Aku pikir–“

“Hentikan, Jung Yeon. Kau tidak akan mau jika aku menghentikan mobil ini dan kita akan bercinta di dalam mobil ini, kan?” Ucap Kyuhyun dengan suara rendah.

Yeon tersenyum sebelum akhirnya merebahkan kepalanya pada bahu Kyuhyun. Tangannya yang lain memeluk lengan Kyuhyun dengan erat.

“Ada apa denganmu? Sikapmu tiba-tiba menjadi aneh?” Ujar Kyuhyun.

“Kau tidak suka?” Balas Yeon sembari menarik kepalanya dari bahu Kyuhyun. Kyuhyun melotot padanya dan memberi isyarat untuk kembali bersandar padanya.

“Hanya saja jangan tertidur. Aku tidak mau menghabiskan sisa perjalanan ke Busan seorang diri.” Ucap Kyuhyun.

“Aku bukan tukang tidur.” Dengus Yeon.

Yeon mengalihkan pandangannya pada jalan yang mereka lewati. Angin yang sejuk menerbangkan rambutnya yang tergerai. Beberapa kali Yeon menyelipkan rambutnya di belakang telinga.

“Ibuku menitipkan salam untukmu.” Kata Kyuhyun membuat Yeon menatapnya.

Yeon terdiam. Apa yang harus dikatakannya? Haruskah ia memberikan salam balik? Apakah hubungannya dan Hanna sedekat itu?

“Dia juga minta maaf atas apa yang ayahku katakan padamu.” Lanjut Kyuhyun.

“Bukan salahnya.” Balas Yeon.

“Aku senang karena ibuku benar-benar menyukaimu.” Ucap Kyuhyun dengan ibu jarinya yang mengusap punggung tangan Yeon.

“Kenapa ibumu menyukaiku?” Tanya Yeon. Kyuhyun tersenyum kecil.

“Aku tidak tahu.” Jawabnya.

“Lalu, kenapa kau menyukaiku?” Tanya Yeon lagi.

“Kenapa aku harus memberitahumu?” Tanya Kyuhyun balik. Yeon hanya mengangkat bahunya.

“Sekarang aku yang akan bertanya padamu. Apakah kau menyukaiku? Kenapa kau tidak pernah mengatakan perasaanmu padaku?” Ujar Kyuhyun.

Yeon tampak terkejut dengan pertanyaan Kyuhyun. Ia segera mengalihkan pandangannya.

“Wah, pemandangannya indah sekali.” Gumamnya.

Yeon menyandarkan dagunya pada tangannya yang menempel di atas pintu mobil. Ia berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya pada Kyuhyun. Namun Kyuhyun mengeratkan genggamannya.

Kyuhyun tersenyum saat melihat Yeon yang tampak salah tingkah. Ia tidak benar-benar ingin mendengar jawaban perempuan itu. Karena Kyuhyun dapat menebaknya hanya dengan memperhatikan gerak-gerik Yeon. Yeon tidak akan mau menghabiskan waktunya bersama Kyuhyun bahkan bercinta dengannya jika perempuan itu tidak menyukainya.

“Aku akan mendengar jawaban itu dari mulutmu sendiri suatu hari nanti.” Kata Kyuhyun penuh keyakinan.

——

Kyuhyun dan Yeon sampai di Busan–tepatnya di villa Kyuhyun–saat hari sudah malam. Dengan membawa dua buah tas di tangannya, Kyuhyun memasuki villa terlebih dahulu. Villa dalam keadaan terang saat Kyuhyun menginjakkan kakinya di sana.

“Tuan Muda Cho..” Sapa seorang pria berusia pertengahan lima puluh tahun.

“Selamat malam, Paman Lee.” Balas Kyuhyun.

“Selamat malam, tuan muda. Biar saya bawakan tas Anda.” Paman Lee mengambil tas dari tangan Kyuhyun.

“Kau sudah membersihkan kamarku?” Tanya Kyuhyun.

“Seperti permintaan Anda, tuan muda.” Jawab Paman Lee.

“Terima kasih banyak, paman. Ah, kenalkan ini kekasihku, Jung Yeon.” Ujar Kyuhyun sembari merangkul Yeon.

Yeon berusaha untuk menyembunyikan rona merah pada pipinya. Ia tidak pernah mendengar Kyuhyun menyebut dirinya sebagai kekasihnya selama ini. Karena itulah Yeon merasa malu.

“Ini Paman Lee Byunghan, Yeon. Dia yang bertugas menjaga dan membersihkan villa.” Lanjut Kyuhyun sembari menatap Yeon.

“Selamat datang, Nona Jung.” Sapa Paman Lee.

“Terima kasih, paman. Dan panggil saja Yeon.” Balas Yeon dengan tersenyum.

“Kekasih Anda sangat cantik, tuan muda.” Puji Paman Lee.

“Terima kasih, paman. Bisakah kau membawakan tas itu ke kamar? Kami lelah dan ingin beristirahat.” Pinta Kyuhyun. Paman Lee mengangguk dan menuju kamar Kyuhyun.

Kyuhyun dan Yeon mengikutinya dari belakang. Sesampainya di dalam kamar, Yeon tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Villa Kyuhyun benar-benar mewah dan besar. Bahkan kamar ini memiliki luas melebihi ruang televisi dan dapur di rumah Yeon jika digabungkan.

“Terima kasih sekali lagi, paman. Kau bisa beristirahat. Aku akan memanggilmu jika membutuhkanmu.” Kata Kyuhyun.

“Tentu, tuan muda. Selamat menikmati liburan kalian.” Pamit Paman Lee.

“Ini kamarmu?” Tanya Yeon. Kyuhyun mengangguk.

“Lalu dimana kamarku?” Tanya Yeon. lagi.

“Disini.” Jawab Kyuhyun. Mata Yeon melebar.

“Kenapa kita tidur di kamar yang sama?” Protes Yeon. Kyuhyun menyentil pelan dahi perempuan itu.

“Apa itu sesuatu yang baru untukmu? Sudah berapa kali kita bercinta, huh? Kita juga pernah berbagi tempat tidur di apartementku sebelumnya.” Ucap Kyuhyun membuat Yeon memukul lengannya.

“Yah, jika kau tidak mau tidur di kamar yang sama denganku, kau bisa memilih kamar yang lain. Hanya saja kau harus membersihkan terlebih dahulu kamar yang kau pilih itu. Karena kau tidak mungkin mengganggu istirahat Paman Lee untuk melakukannya, kan?” Kata Kyuhyun dengan menaik-naikkan alisnya.

Yeon menatap Kyuhyun dengan kesal. Kyuhyun menggodanya. Laki-laki itu sudah tahu jika Yeon merasa lelah dan tidak mungkin menambah kelelahannya dengan membersihkan kamar.

Yeon menghela nafas dan kemudian tersenyum. Membuat Kyuhyun menatapnya dengan curiga. Jika Yeon tiba-tiba tersenyum saat perempuan itu sedang kesal, ia pasti sudah merencanakan sesuatu. Kyuhyun yakin itu.

“Baiklah. Hanya tidur di kamar yang sama, kan? Aku tidak masalah dengan itu.” Kata Yeon sembari menunduk membuka tasnya dan mengambil pakaian tidur.

“Benarkah?” Tanya Kyuhyun.

“Tentu saja.” Jawab Yeon. Ia kembali berdiri tegak dan menatap Kyuhyun.

“Hanya saja jika kau berani membuatku telanjang di sana, aku akan mematahkan tanganmu.” Ancam Yeon dengan sebuah senyuman.

Kyuhyun terkesiap untuk sesaat saat mendengar ancaman Yeon. Namun kemudian ia mendengus dan memberikan senyuman meremehkan pada perempuan itu.

“Kau selalu bersikap jual mahal. Namun pada akhirnya kau akan menikmatinya juga.” Gerutu Kyuhyun.

“Karena kau memaksaku!” Hardik Yeon.

Kemudian perempuan itu menatap ke kanan dan ke kiri untuk mencari kamar mandi. Ada sebuah pintu di pojok kamar yang diyakini Yeon sebagai kamar mandi, sehingga perempuan itu segera menuju ke sana, setelah memberikan juluran lidahnya pada Kyuhyun.

Kyuhyun kembali mendengus sembari menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Yeon selalu bersikap jual mahal namun pada akhirnya akan menikmati apa yang Kyuhyun lakukan. Apakah semua perempuan memang seperti itu?

“Cih! Dia membuatku seperti seorang maniak seks.” Gerutu Kyuhyun sembari mengacak tasnya untuk berganti pakaian.

——

“Wah!” Ucap Yeon saat mereka sampai di Pantai Haeundae keesokan harinya.

Yeon berlari kecil meninggalkan Kyuhyun untuk mendekati air laut. Ia sudah meninggalkan sandal yang digunakannya dan membiarkan kakinya menginjak lembutnya pasir putih di sana.

Kyuhyun yang berada di belakang Yeon hanya bisa tersenyum. Dengan kedua tangan di dalam saku celana pendek, laki-laki itu berjalan untuk mendekati Yeon. Mata Kyuhyun tidak lepas dari tubuh perempuan itu.

Kyuhyun menatap pakaian yang digunakan oleh Yeon. Sebuah kaos putih polos berwarna putih yang sedikit kebesaran di tubuh perempuan itu. Kaos itu menutupi sebagian paha Yeon, tetapi Kyuhyun tahu bahwa Yeon masih memakai sebuah hotpants.

Yang menjadi masalah untuk Kyuhyun adalah karena sesuatu di balik kaos putih itu tampak terlihat cukup jelas. Yeon menggunakan sebuah pakaian dalam berwarna hitam yang menangkup payudara padatnya dengan begitu kencang.

Kyuhyun tidak ingin laki-laki lain menatap tubuh Yeon. Tetapi Kyuhyun tidak bisa melakukan apa-apa. Jika ia melakukan protes atas apa yang Yeon pakai, perempuan itu pasti akan marah. Dan mereka akan berakhir dengan bertengkar.

Bertengkar dengan Yeon adalah sesuatu yang sangat Kyuhyun hindari.

“Yah, hati-hati.” Pesan Kyuhyun.

“Cepatlah kemari. Ini indah.” Kata Yeon sembari melambaikan tangannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun tidak mempercepat langkahnya. Ia tampak menikmati angin pantai yang menerbangkan rambut yang menutupi keningnya. Karena memakai kaos tanpa lengan, Kyuhyun dapat merasakan dinginnya angin yang menampar lengannya.

“Kenapa kau lambat sekali untuk ukuran seorang laki-laki?” Ejek Yeon sembari mendekati Kyuhyun.

Yeon kemudian menggandeng lengan Kyuhyun dan mengajaknya untuk menginjak air laut. Ia tertawa senang saat merasakan cipratan air laut membasahi kakinya.

“Ayo, kita berfoto bersama.” Ajak Yeon sembari mengeluarkan ponselnya.

Yeon menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun dan menekan tombol untuk mengabadikan foto mereka.

“Lagi!” Kata Yeon dengan semangat.

Yeon menegakkan kepalanya dan menatap pantulan dirinya pada kamera di ponselnya. Kyuhyun mengecup pipinya pelan sesaat sebelum Yeon menekan tombol.

“Dasar pencuri.” Gerutu Yeon sembari mengamati hasil fotonya.

“Pencuri? Siapa? Aku?” Protes Kyuhyun.

Yeon menjulurkan lidahnya pada Kyuhyun dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dengan gerakan tiba-tiba–dan mengejutkan Kyuhyun–Yeon melepaskan kaos yang dipakainya hingga membuat Kyuhyun dapat melihat pakaian dalamnya.

“Apa yang kau lakukan?!” Bentak Kyuhyun.

Kyuhyun mendekati Yeon dan berusaha menutupi perempuan itu dari siapapun yang dapat melihatnya. Namun Yeon tampak tidak peduli. Yeon membentangkan kaosnya di atas pasir.

“Bukankah kau sendiri yang memintaku memakai bikini?” Ucap Yeon dengan santai.

“Pakai kaosmu, Jung Yeon!” Perintah Kyuhyun.

“Tidak.” Tolak Yeon membuat Kyuhyun menatapnya tajam.

“Karena sekarang aku berada di pantai. Aku ingin berjemur. Astaga, Cho Kyuhyun. Jangan berlebihan. Lihatlah, bukan hanya aku yang memakai bikini di sini. Aku bahkan masih memakai celana pendek.” Kata Yeon dan kemudian berbaring di atas kaos putihnya.

Kyuhyun menggeram dan kemudian membungkuk di atas tubuh Yeon. Membuat perempuan itu memekik karena terkejut. Namun sekarang ia merasa gugup karena posisi mereka terlihat seperti akan bercinta.

“A–apa yang kau lakukan?” Tanya Yeon.

“Menghalangimu dari pandangan laki-laki mesum.” Jawab Kyuhyun dengan suara rendah. Kyuhyun berusaha mati-matian untuk tidak menatap belahan payudara Yeon.

“Aku ingin berjemur, Cho Kyuhyun!” Protes Yeon.

“Tidak akan ada kegiatan berjemur, Jung Yeon!” Balas Kyuhyun.

“Pakai kaosmu sekarang atau–“

“Atau apa?! Kau selalu mengancamku!” Ucap Yeon dengan kesal.

“Atau kita akan bercinta di sini. Dan disaksikan oleh puluhan bahkan ratusan orang yang berada di pantai ini.” Kata Kyuhyun dengan wajah serius.

Yeon terkejut mendengar ucapan Kyuhyun. Namun kemudian ia tertawa untuk mengejek laki-laki itu.

“Kau memiliki wajah yang cukup serius untuk sebuah omong kosong.” Komentar Yeon.

Kyuhyun menegakkan punggungnya dan melepaskan kaos tanpa lengan yang dipakainya. Ia bertelanjang dada saat ini. Dan Kyuhyun dapat melihat mata Yeon membulat karena tidak mempercayai apa yang ia lakukan.

Kemudian Kyuhyun membuka kancing celana pendeknya dan membuka dengan cepat. Meninggalkan boxer berwarna abu-abu yang tampak begitu pas menutupi kejantanannya.

Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk meraih kancing celana pendek Yeon. Merasakan itu membuat Yeon menjadi panik. Perempuan itu menepis tangan Kyuhyun dan segera berdiri untuk menjauh darinya.

“Kenapa kau berdiri? Kemarilah. Kau bilang ini hanya omong kosong, kan?” Kata Kyuhyun dengan posisi berlutut di atas pasir.

“Kau gila!” Pekik Yeon dengan ngeri. Bagaimana bisa Kyuhyun memiliki pikiran untuk bercinta di tempat umum?

“Pakai kaosmu sekarang. Karena aku bisa menangkapmu dengan mudah jika aku mau.” Ujar Kyuhyun dengan tersenyum.

“Dasar bajingan!” Maki Yeon dan mengambil kaosnya dengan kasar. Kemudian memakainya seperti kemauan Kyuhyun.

Kyuhyun memakai kembali kaos serta celana yang telah dilepasnya. Kemudian berdiri untuk mendekati Yeon. Ia menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Awalnya Yeon menolak, namun kemudian ia membiarkan dirinya berada direngkuhan Kyuhyun.

“Aku tidak mau laki-laki lain menikmati keindahan tubuhmu. Kau milikku. Semua yang ada padamu hanya milikku.” Bisik Kyuhyun.

“Mereka hanya bisa melihat, Kyuhyun.” Ucap Yeon sembari mengangkat kepalanya. Menyandarkan dagunya pada dada Kyuhyun.

“Berawal dari melihat, mereka akan mengingat itu pada otak mereka. Kemudian mereka mulai membayangkan sesuatu yang tidak pantas di dalam otak mereka tersebut. Dan tubuhmu itu akan menjadi objek utama mereka.” Jelas Kyuhyun.

“Dan aku tidak menyukainya. Tidak, aku tidak akan pernah mengizinkan mereka melakukannya.” Lanjut Kyuhyun.

“Jadi, jika kau ingin kita berdua baik-baik saja hingga pulang besok, lebih baik kau menurutiku, Yeon. Karena jika kau melakukannya lagi, aku mungkin harus membunuh setiap laki-laki disini.” Ucap Kyuhyun.

“Bekerja samalah denganku, okay?” Pinta Kyuhyun.

Yeon menatap Kyuhyun dalam diam untuk beberapa saat. Kemudian ia mengangguk dan menunjukkan wajah menyesal.

“Sebenarnya aku hanya ingin menggodamu.” Gumam Yeon.

“Menggodaku?” Ucap Kyuhyun tidak percaya. Yeon mengangguk lagi.

“Jika kau memang ingin menggodaku, kita bisa kembali ke villa dan mengunci diri di kamar. Kau bisa menggodaku selama apapun yang kau mau, sayang.” Kata Kyuhyun. Yeon menggeleng.

“Aku belum mau pulang. Dan sekarang aku lapar. Bisakah aku mendapatkan makanan?” Tanya Yeon dengan menunjukkan wajah seperti anak kecil.

Kyuhyun tertawa dan mencium hidung Yeon.

“Selama kau berkelakuan baik, aku akan memberimu makan.” Jawab Kyuhyun dengan menyeringai.

——

Sup daging babi menjadi pilihan mereka untuk makan siang. Selain karena restorannya berada di dekat pantai, sup daging babi merupakan salah satu makanan yang wajib dicicipi saat berada di Busan. Karena itulah mereka akhirnya memilih makanan tersebut.

Selagi menunggu pesanan mereka diantarkan, Kyuhyun dan Yeon terlibat dalam sebuah pembicaraan santai. Sesekali mereka juga membicarakan pekerjaan di kantor. Sebuah teknologi baru akan diluncurkan oleh Pearl Group dalam beberapa bulan lagi dan Yeon merasa sangat antusias.

Dan ketika pesanan mereka tiba, Yeon tidak bisa menyembunyikan rasa lapar yang dirasakannya. Ia segera mencampurkan nasi ke dalam sup daging babi tersebut. Mengaduknya beberapa kali sebelum akhirnya menyuapkannya ke dalam mulutnya.

“Mmhh, benar-benar enak!” Ucap Yeon dengan antusias. Kyuhyun hanya tersenyum sembari menikmati makanannya.

Yeon mengerang kesal saat merasakan ponselnya bergetar. Siapapun yang menghubunginya saat ini benar-benar mengganggu kegiatan makannya.

Namun saat melihat nama Luke di sana, kekesalan Yeon sedikit meluap. Ia yakin Luke tidak mungkin menghubunginya jika tidak ada sesuatu yang penting.

“Siapa?” Tanya Kyuhyun.

“Luke.” Jawab Yeon pelan. Dan Kyuhyun menunjukkan wajah masamnya.

“Ya, Luke?” Yeon menjawab teleponnya.

“Baby..”

Yeon mengernyit saat mendengar nada tidak semangat dalam ucapan Luke.

“Ada apa, Luke? Semua baik-baik saja?”

Yah, aku harap begitu.

Yeon kembali merasa bingung mendengar ucapan Luke yang terdengar aneh.

“Jun baik-baik saja, kan?” Tanya Yeon.

Jun baik-baik saja.” Jawab Luke membuat Yeon tenang.

Apa yang sedang kau lakukan?

“Aku? Aku sedang makan siang. Kau tahu, sup daging babi disini enak sekali, Luke! Kau harus ke Busan dan mencicipinya!” Kata Yeon dengan semangat. Melupakan keanehan yang baru saja dirasakannya.

Benarkah? Aku akan mencicipinya suatu hari nanti. Baby?”

“Ya?”

Apa Kyuhyun memperlakukanmu dengan baik?

Yeon menatap Kyuhyun yang sedang makan dan tampak tidak peduli dengan permbicaraannya dengan Luke.

“Tentu saja, Luke.”

Baguslah. Aku senang mendengarnya.”

“Umm, Luke. Kau yakin semuanya baik-baik saja?”

Aku akan menemuimu hari Senin. Aku yakin kau merasa lelah besok. Sampai bertemu nanti, baby.”

Dan tanpa menunggu jawaban Yeon, Luke memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.

“Ada apa?” Tanya Kyuhyun terdengar tidak peduli.

“Aku merasa ada yang aneh pada Luke. Tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.” Jawab Yeon. Kyuhyun tidak berkomentar apa-apa.

“Habiskan makananmu.” Kata Kyuhyun kemudian.

Yeon menatap sup daging babi dihadapannya sembari berharap tidak ada sesuatu yang terjadi pada Luke atau Jun. Luke sudah meyakinkannya bahwa Jun baik-baik saja. Dan yang Yeon takutkan adalah sesuatu yang buruk terjadi pada Luke.

——

Kyuhyun membuka matanya yang langsung menutup kembali saat menangkap cahaya matahari. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali membuka matanya dengan rasa kantuk yang mulai hilang.

Kyuhyun menurunkan pandangannya dan menemukan wajah polos Yeon yang sedang tidur. Tidur di dalam pelukannya dan Kyuhyun dapat merasakan deru nafas teratur Yeon pada dada telanjangnya. Ia yakin Yeon merasa lelah atas apa yang mereka lakukan semalam. Karena Kyuhyun pun merasa lelah.

Hanya saja mereka tidak bisa membiarkan rasa lelah itu menahan mereka di atas tempat tidur lebih lama lagi. Kyuhyun menatap jam kecil yang berada di atas meja nakas. Sudah pukul sepuluh pagi. Mereka bahkan sudah melewatkan sarapan pagi.

“Yeon..” Panggil Kyuhyun sembari mengusap punggung telanjang Yeon.

“Hmm..” Gumam Yeon. Perempuan itu semakin mendekatkan dirinya pada Kyuhyun. Membiarkan hidungnya menekan dada bidang laki-laki itu.

“Bangunlah. Kita harus bersiap-siap untuk pulang.” Kata Kyuhyun. Kemudian memberikan kecupan pelan pada puncak kepala Yeon.

Yeon mengerang dan tetap tidak berniat untuk membuka matanya. Ia ingin tidur lebih lama lagi. Tidak, ia ingin berada di dalam dekapan Kyuhyun lebih lama lagi.

“Aku tahu kau lelah karena aku sama lelahnya denganmu. Tetapi kita harus bekerja besok. Dan aku pikir kita harus menghindari sampai di Seoul pada malam hari.” Ucap Kyuhyun.

Yeon membuka matanya dengan perlahan. Menaikkan pandangannya pada mata Kyuhyun yang juga sedang menatapnya. Yeon mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang Kyuhyun.

“Aku tidak ingin pulang.” Bisik Yeon.

“Bisakah kita tidak pulang? Bisakah kita terus seperti ini, Kyuhyun?” Tanya Yeon dengan pelan.

Kyuhyun tertegun mendengar pertanyaan Yeon. Perempuan itu terlihat tidak yakin saat menanyakannya. Tetapi Kyuhyun dapat melihat kesungguhan di mata Yeon. Perempuan itu benar-benar tidak ingin pulang. Tetapi kenapa? Kehidupannya berada di Seoul.

“Aku ingin melupakan semuanya. Aku hanya ingin seperti ini terus denganmu.” Gumam Yeon sembari menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun. Menghirup aroma Kyuhyun yang sangat disukainya.

“Apa yang ingin kau lupakan?” Tanya Kyuhyun.

Yeon kembali mendongak dan menatap Kyuhyun.

Kematian tragis orangtuaku. Kebencianku pada ayahmu. Dan balas dendamku.

Yeon tersenyum kemudian menggeleng. Ia menjauh dari Kyuhyun sebelum akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk. Menahan selimut yang menutupi dadanya. Ia merasakan Kyuhyun mengusap pelan punggungnya.

“Aku ingin sekali membaca pikiranmu.” Kata Kyuhyun membuat Yeon menoleh.

“Kenapa?” Tanya Yeon.

“Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Yeoni-ya. Hanya saja aku tidak tahu apa itu. Dan aku juga tidak bisa memaksamu untuk mengatakannya.” Jawab Kyuhyun.

Tidak ada nada menuntut di dalam jawaban Kyuhyun. Bahkan laki-laki itu menjawabnya sembari tersenyum. Tetapi Yeon dapat melihat bahwa ada sekelebat rasa kecewa di mata Kyuhyun.

“Kenapa kau tidak mau memaksaku?” Tanya Yeon. Kyuhyun mempertahankan senyumnya dan ikut duduk.

“Saling terbuka dalam sebuah hubungan tidak bisa dipaksakan, sayang. Semuanya harus terjadi secara naluriah. Secara tulus. Karena kau tidak mengatakannya padaku, maka aku menganggap bahwa aku memang tidak perlu mengetahuinya untuk sekarang. Namun aku selalu berharap bahwa kau akan mengatakan padaku apa sebenarnya yang ada di dalam kepala cantikmu itu.” Kata Kyuhyun sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga Yeon.

Yeon menyukai setiap sentuhan Kyuhyun padanya.

“Kyuhyun..” Ucap Yeon terdengar ragu.

“Hmm?”

“Bagaimana jika suatu saat aku menyakitimu?” Tanya Yeon.

Kyuhyun terlihat terkejut mendengar pertanyaan dari Yeon. Namun setelah mampu mencerna pertanyaan perempuan itu, Kyuhyun tersenyum.

“Kenapa? Apa kau ingin menyakitiku?” Tanya Kyuhyun balik. Yeon hanya diam saja dan menundukkan kepalanya.

“Aku tahu ini terdengar aneh bagimu, tetapi jika kau memang ingin melakukannya, kau harus memberitahukannya terlebih dahulu padaku. Agar aku bisa mempersiapkan diriku.” Kata Kyuhyun membuat Yeon menatapnya. Kyuhyun mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Yeon.

“Karena jika kau melakukannya dengan tiba-tiba, aku pasti akan hancur.” Lanjut Kyuhyun.

——

–To Be Continued–

HAI! Sorry ya sedikit lebih lama ngepost lanjutannya. Lagi sibuk dan waktu untuk ngetik juga berkurang. Semoga isi part ini memuaskan kalian yang sudah menunggu. Dan aku sengaja gak masukin scene Luke-Eunsoo. Soalnya sebagian dari kalian udah pada kehilangan fokus sama cerita. Kalian malah lebih penasaran sama cerita cinta mereka. Karena itu aku bakal sedikit mengurangi cerita tentang mereka. Buat yang kecewa, aku minta maaf.

Happy reading~

BYE~

Advertisements

59 thoughts on “Love, Hurt, and Revenge – Part 10

  1. Kyuhyun dan yeon bkl dpusahkn sm appa kyuhyun
    Klo rahasia yeon kebongkar kyuhyun bkl kecewa bgt
    Moga yeon hamil jd kyuhyun gk bs marah dan tinggalin yeon
    Luke dan eunso dtunggu

  2. Sbnernya itu kode kan buat kyuhyun klo suatu saat nanti Yeon ngakuin niat bales dendamnya yg bakal nyakitin Kyuhyun. Mungkin niatnya gitu tpi Yeon juga bisa kan ngejelasin perasaannya. Ini cukup rumit krna bapanya Kyuhyun yg kekeh benci bgt sma Yeon begitu juga sebaliknya. Tapi sbnernya bisakah Yeon nglupain bales dendam? Dan tetep sama Kyuhyun???

  3. apa lg yg terjadi sama jun??
    knapa luke begtu bnget wktu telp bikin penasaran
    wahh makin lama ayah kyuhyun makin menjadi”
    pingn acra balas dndam itu berakhir 😦
    gak mau mereka terpisah

  4. huhuhuhuhuhuhu kyuhyun manis bgt huhuhuhuhuuhuhuhu aku ga kuat huhuhuhu asli deh ini tuh yeon sama jun itu baikkkkkk bgt anaknya tp dendam itu…. duh bener deh curiga kalo sebenenrya yg jahat luke karena dia bener2 ngedorong yeon buat ttp pada rencana awal padahal udha ketawan bgt kalo yeon udah mau nyerah aja huwaaaaa jd sedih deh asliiiii

  5. Setelah sekian lama mencari waktu yg tepat untuk membaca lanjutan ff ini dan baru sempat malam ini.
    Aku mau baca siang tapi lagi puasa, takutnya nanti ada NC nya.

    Bagaiman kalau kyu tahu yeon sedang merencanakan balas dendam ke ayahnya dan dia sendiri dimanfaatkan oleh yeon untuk pembalasan dendam gadis itu?
    Apakah kyu bakalan hancur seperti yg dikatakannya?
    Atau mencoba tegar dan menerima keputusan yeon?
    Gak tega juga lihat si evill bakalan hancur karna yeon. Tapi, yeon juga bakalan hancur karna pembalasan dendamnya sendiri.
    Mudah”an aja ada jalan keluar untuk couple ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s