Love, Hurt, and Revenge – Part 9

Author

Choineke

Title

Love, Hurt, and Revenge

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC), Cho Younghwan (Kyuhyun’s Father), Kim Hanna (Kyuhyun’s Mother), Jung Jun (Yeon’s Brother–OC), and others

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–I’m trapped in my own revenge–

——

Author POV

Kyuhyun menggenggam tangan Yeon selama diperjalanan pulang. Sesekali matanya melirik Yeon yang sedang memejamkan matanya. Wajah perempuan itu terlihat lelah. Sisa-sisa airmata masih berada di pipinya.

Kyuhyun tidak akan memulangkan perempuan itu malam ini. Ia tidak ingin membuat Jun khawatir ketika melihat keadaan Yeon yang tampak lusuh. Karena Kyuhyun tahu, membuat Jun khawatir adalah sesuatu yang tidak diinginkan Yeon.

Kyuhyun merasa bersyukur karena Raebin belum sempat melakukan apapun pada Yeon. Jika saja Kyuhyun terlambat sedikit, maka Kyuhyun tidak akan pernah memaafkan dirinya. Karena Kyuhyun sudah pernah berjanji akan menjaga Yeon.

Kyuhyun membawa tangan Yeon yang digenggamnya dan memberikan kecupan pelan pada punggung tangan itu. Tidak tahu sejak kapan, tetapi Kyuhyun yakin bahwa dia sudah jatuh cinta pada perempuan itu.

Dan Kyuhyun tidak akan pernah mau melepaskan Yeon. Bahkan hingga ia harus menukarkannya dengan nyawanya sendiri, Kyuhyun akan melakukannya. Kyuhyun tidak akan pernah melepaskan Yeon, hingga perempuan itu sendiri yang memohon agar Kyuhyun melepaskannya.

Kyuhyun memarkirkan mobilnya di tempat parkir apartementnya. Ia menatap Yeon sekilas sebelum akhirnya turun dari mobil. Kyuhyun berjalan ke sisi Yeon dan dengan pelan membuka pintunya. Punggung tangan Kyuhyun digunakannya untuk mengusap pipi Yeon.

“Yeoni-ya..” Panggil Kyuhyun pelan.

Yeon langsung membuka matanya dengan terkejut. Untuk sepersekian detik Yeon tampak menegang saat melihat Kyuhyun dihadapannya. Namun kemudian Yeon berusaha untuk tenang.

“Ini aku.” Kata Kyuhyun.

“Maaf, aku hanya–“

“Aku mengerti.” Sela Kyuhyun.

“Kita sudah sampai. Ayo, turun.” Ujar Kyuhyun. Yeon menatap ke sekelilingnya.

“Dimana ini?” Tanyanya.

“Gedung apartementku.” Jawab Kyuhyun.

Yeon melayangkan tatapan protes pada Kyuhyun. Kyuhyun seharusnya mengantarkannya pulang.

“Aku akan memberitahu Jun bahwa kau bersamaku malam ini. Kau tidak akan mungkin ingin pulang dalam keadaan kacau seperti ini, Yeon.” Ucap Kyuhyun.

Yeon langsung mengusap wajahnya saat Kyuhyun mengatakan bahwa keadaannya kacau. Hal itu membuat Kyuhyun tersenyum kecil.

“Wajahmu baik-baik saja. Perasaanmu yang sedang kacau. Turunlah.” Kyuhyun membantu Yeon untuk turun dari mobil.

Kyuhyun menggenggam tangan Yeon saat mereka masuk ke dalam lift. Kyuhyun menekan angka di mana apartementnya berada. Tidak ada siapapun di dalam lift selain mereka. Dan karena tidak ada pembicaraan apapun, suasana di sekitar mereka menjadi sangat hening.

Kyuhyun terus menggenggam tangan Yeon hingga mereka sampai di apartement Kyuhyun. Mencium baunya saja, Yeon dapat mengetahui jika apartement ini memiliki kehidupan selama beberapa hari ini.

“Kau tidur disini kemarin?” Tanya Yeon.

“Sebenarnya aku tidur di sini setelah kau mengusirku saat itu. Aku tidak kembali ke rumah hingga hari ini.” Jawab Kyuhyun.

Bohong jika Yeon tidak merasa terkejut mendengar jawaban Kyuhyun. Kenapa Kyuhyun tidak pulang?

Kyuhyun membawa Yeon ke kamarnya. Ia terpaksa melepaskan tangan Yeon saat harus mencarikan pakaian ganti untuk perempuan itu. Kyuhyun mengambilkan sebuah kaos dan memberikannya untuk Yeon.

“Bersihkan dirimu dan pakailah ini. Kau tidak akan nyaman tidur dengan pakaian itu.” Kata Kyuhyun.

Yeon menerimanya dengan ragu-ragu. Kenapa terasa sangat canggung?

“Dimana ponselmu?” Tanya Kyuhyun. Yeon mencoba mengingat dimana ponselnya berada.

“Ponselku tiba-tiba lepas dari tanganku saat Raebin–” Yeon tidak bisa menyelesaikan jawabannya. Kyuhyun mengangguk dan mengeluarkan ponselnya.

“Ketikkan nomor ponsel Jun disini. Aku akan menghubunginya selagi kau mandi.” Ujar Kyuhyun.

Yeon mengikuti apa yang Kyuhyun katakan. Setelahnya ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Kyuhyun menempelkan ponselnya di telinga dan menunggu hingga Jun menjawab teleponnya.

Halo?

“Jun. Ini aku Cho Kyuhyun.”

Oh, hyung.

“Aku ingin memberitahumu jika Yeon tidak akan pulang malam ini. Dia bersamaku.”

Kenapa noona tidak pulang? Noona baik-baik saja, kan?” Kyuhyun dapat mendengar nada khawatir dari suara Jun.

“Yeon baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku pastikan jika kau akan bertemu dengan Yeon besok. Jadi, bekerjalah dengan baik. Jangan lupa kunci pintu rumah saat kau pergi.”

Aku mengerti, hyung. Tolong jaga noona untukku.

“Tentu, Jun. Sampai jumpa.”

Kyuhyun menghela nafas dan menaruh ponselnya di atas meja. Membuka jasnya dan melemparnya begitu saja ke keranjang pakaian kotor. Ia kembali menghela nafas sebelum akhirnya duduk di atas tempat tidur.

Hari ini Kyuhyun melihat Yeon menangis lagi. Kyuhyun menghindari perempuan itu karena tidak ingin melihatnya menangis. Tetapi ia justru harus melihatnya menangis karena hal yang lebih mengerikan lagi. Kyuhyun benar-benar merasa kesal.

Seandainya saja Kyuhyun tidak menghubungi Yeon hari ini, Kyuhyun tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Dan seandainya saja Yeon tidak berteriak memanggilnya, Kyuhyun mungkin akan melihat Raebin sudah mencium perempuan itu.

Kyuhyun mendesis dengan kesal. Ia ingin melupakannya. Tetapi kejadian tadi terus berputar dikepalanya seperti sebuah film.

Kyuhyun menegakkan punggungnya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Yeon keluar dari sana menggunakan kaosnya yang menutupi hingga setengah pahanya. Kyuhyun dapat melihat jika Yeon tidak memakai pakaian dalam.

Tetapi Kyuhyun meyakinkan dirinya bahwa tidak akan ada sex hari ini. Hubungannya dan Yeon bukan hanya sekedar tentang sex. Dia mencintai perempuan itu bahkan tanpa sex sekalipun.

Kyuhyun berdiri dan menghampiri Yeon. Tanpa mengatakan apapun ia menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Hanya sebentar, karena kemudian Kyuhyun langsung melepaskan pelukannya.

“Istirahatlah. Aku akan mandi dan kemudian menyusulmu.” Kata Kyuhyun. Yeon hanya menganggukan kepalanya dan setelahnya menatap punggung Kyuhyun yang menghilang di balik pintu kamar mandi.

——

Layaknya sepasang suami istri yang sedang bertengkar, Kyuhyun dan Yeon berbaring di atas ranjang yang sama dengan saling membelakangi.

Saat keluar dari kamar mandi, Kyuhyun melihat Yeon berbaring membelakanginya. Karena itulah Kyuhyun pun akhirnya berbaring dengan membelakangi Yeon.

Kyuhyun ingin menarik Yeon dalam pelukannya, tetapi merasa ragu. Apakah Yeon sudah benar-benar memaafkannya? Apakah melihat wajah Kyuhyun tidak akan mengingatkan Yeon pada hinaan Younghwan saat itu?

Karena itulah Kyuhyun tidak melakukan apapun. Setidaknya merasakan Yeon bernafas didekatnya sudah sangat membuat Kyuhyun merasa tenang.

“Kyuhyun..” Panggil Yeon tiba-tiba. Kyuhyun langsung menoleh dengan terkejut. Yeon masih membelakanginya.

“Ada apa?” Tanya Kyuhyun.

“Maafkan aku.” Ucap Yeon dengan pelan.

Kyuhyun tertegun mendengar permintaan maaf Yeon. Kenapa Yeon meminta maaf?

“Lihat aku, Yeon.” Pinta Kyuhyun sembari menarik bahu Yeon.

Yeon berbalik dan menatap Kyuhyun. Dengan mata yang berkaca-kaca, perempuan itu beringsut untuk memeluk Kyuhyun. Kyuhyun mengusap punggung Yeon dan membiarkan perempuan itu berbaring di dadanya.

“Maaf karena sudah bersikap kasar padamu.” Sesal Yeon dengan suara parau.

“Sssttt.. Tidak apa-apa, Yeon. Aku salah.”

“Tidak. Kau tidak salah, Kyuhyun.” Kata Yeon.

“Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Maaf atas apa yang ayahku katakan padamu.” Ujar Kyuhyun. Yeon mendongak untuk menatap Kyuhyun.

“Aku benar-benar tidak menyangka jika ayahku bisa berbicara seperti itu padamu. Aku benar-benar menyesal membawamu ke rumah.”

“Aku yang memintamu mengajakku ke sana.” Yeon tidak ingin Kyuhyun menyalahkan dirinya.

“Pada awalnya, ya. Tetapi aku sadar bahwa aku memang harus mengenalkanmu pada orangtuaku. Kau tahu jika diusiaku ini, aku sudah tidak bisa bermain-main saat berhubungan dengan seorang perempuan.” Kata Kyuhyun. Yeon terkejut mendengar ucapan Kyuhyun.

“Apa kau sedang melamarku?” Tanya Yeon membuat Kyuhyun tidak bisa menahan tawanya.

“Belum, sayang.” Jawab Kyuhyun.

“Apakah tidak apa-apa jika kau tidak pulang? Bagaimana dengan ibumu?” Yeon yakin Hanna sangat mengkhawatirkan Kyuhyun.

“Jika aku pulang, aku akan kembali bertengkar dengan ayahku. Itu akan membuat ibuku semakin sedih.”

“Maaf, Kyuhyun. Karena diriku, kau harus bertengkar dengan ayahmu.”

“Bukan salahmu. Berhentilah minta maaf. Dan, Yeon, jangan pernah mendorongku menjauh lagi.” Pinta Kyuhyun dengan sungguh-sungguh.

Yeon mengangguk dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun.

“Tidak akan pernah.” Gumam Yeon.

“Terima kasih karena telah menyelamatkanku tadi.” Kata Yeon kemudian.

“Aku mulai berpikir untuk membuatmu menjadi sekretarisku, Yeon.” Ujar Kyuhyun dengan serius. Yeon menatap Kyuhyun dengan memberengut.

“Aku menyukai pekerjaanku, Kyuhyun.” Ucap Yeon.

“Aku tidak mau kau selalu lembur. Bagaimana jika kejadian ini–” Kyuhyun tidak dapat melanjutkan ucapannya.

“Kerja lembur adalah sesuatu yang harus aku hadapi saat bekerja. Aku tidak bisa menghindarinya.” Tukas Yeon.

Kyuhyun menghela nafas panjang. Yeon memang benar.

“Berjanjilah kau akan memberitahuku jika kau bekerja lembur.” Pinta Kyuhyun.

Walaupun aku akan memastikan kau tidak akan pernah bekerja lembur lagi, Jung Yeon.

“Aku janji.” Kata Yeon dengan tersenyum.

“Sekarang tidurlah.” Ucap Kyuhyun dan mengeratkan pelukannya pada Yeon.

——

Kyuhyun melangkah memasuki kantornya dengan langkah mantap. Wajahnya terlihat datar dengan sebuah emosi yang tersimpan di sana. Ia datang  terlambat hari ini karena harus berdebat dengan Yeon terlebih dahulu.

Kyuhyun ingin perempuan itu meliburkan dirinya, tetapi Yeon memaksa untuk bekerja. Tentu saja pada akhirnya Kyuhyun yang menang. Dan Kyuhyun yakin Yeon sangat kesal padanya. Tetapi Kyuhyun hanya ingin Yeon beristirahat.

Kyuhyun yakin saat ini seluruh tim produksi sudah berada di ruang rapat. Mereka memiliki rapat tertunda karena Kyuhyun tidak masuk beberapa hari yang lalu.

Saat Kyuhyun masuk ke ruang rapat, mereka serempak langsung berdiri dan membungkuk hormat padanya. Kyuhyun mendekati kursinya dan duduk di sana dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Ia menatap wajah Manager Lee yang tampak cemas.

“Ada apa, Manager Lee?” Tanya Kyuhyun.

“Maafkan saya, direktur. Tetapi materi presentasi hari ini belum siap.” Kata Manager Lee dengan menundukkan kepalanya.

“Oh ya? Kenapa bisa seperti itu?” Tanya Kyuhyun lagi dengan nada santai.

Manager Lee menatap Kyuhyun dengan takut-takut. Begitu pun dengan anggota tim produksi yang tersisa. Eunsoo, Taehee dan Minji.

“S–sebenarnya saya meminta Tuan Cha dan Nona Jung untuk menyiapkannya kemarin. Tetapi keduanya belum datang hingga sekarang.” Jawab Manager Lee.

“Cha Raebin tidak akan pernah datang lagi.” Kata Kyuhyun membuat mereka terkejut.

“A–apa maksud Anda?” Tanya Manager Lee.

“Aku memecatnya.” Jawab Kyuhyun dan ia dapat mendengar suara terkesiap dari mereka.

“Semalam dia berusaha memperkosa Jung Yeon.” Kata Kyuhyun.

“APA?!” Pekik Taehee dan Eunsoo bersamaan.

Kyuhyun berdiri dan menempelkan kedua tangannya di atas meja. Menatap wajah Manager Lee yang tampak begitu terkejut dengan ucapan Kyuhyun barusan.

“Apa sebenarnya yang kau pikirkan dengan menyuruh seorang laki-laki dan seorang perempuan bekerja lembur bersama di sebuah kantor yang sepi, Manager Lee?” Tanya Kyuhyun. Wajah Kyuhyun terlihat mengeras menahan emosi.

“D–direktur, saya–“

“Tidak tahukah kau bahwa hal-hal seperti itu bisa terjadi?!” Bentak Kyuhyun sembari memukul meja.

“M–maaf–maafkan saya, direktur.” Sesal Manager Lee.

“Karena kelalaianmu, kau hampir saja mencemari kantorku dengan perbuatan kotor dari si bajingan Raebin itu!” Maki Kyuhyun.

“Maaf, direktur. Seharusnya saya yang mengambil alih pekerjaan Nona Jung.” Sela Taehee dengan wajah menyesal.

Kyuhyun melirik Taehee sesaat. Ia tidak peduli dengan penyesalan laki-laki itu. Semuanya telah terjadi.

“Aku tidak tahu apa masalahmu pada Jung Yeon. Tetapi kau tampak begitu membencinya.” Ujar Kyuhyun.

“T–tidak seperti itu, direktur.” Bantah Manager Lee.

“Aku ingin kau merenungkan kelalaianmu selama satu minggu, Manager Lee. Yang berarti bahwa kau tidak perlu masuk selama satu minggu ini. Ini hukuman untukmu.” Kata Kyuhyun.

“Dan ini..” Ucap Kyuhyun penuh penekanan.

“Ini benar-benar kesempatan terakhirmu, Manager Lee. Karena jika kau melakukan kelalaian seperti ini lagi, aku akan langsung memecatmu.” Lanjutnya penuh peringatan.

“S–saya mengerti, direktur.”

Kemudian Kyuhyun langsung meninggalkan ruang rapat. Ia datang ke kantor hari ini memang hanya untuk memberikan peringatan pada Manager Lee. Sebenarnya Kyuhyun ingin memecatnya, tetapi Yeon meminta agar Kyuhyun tidak melakukannya.

“Oppa! Oppa, tunggu!” Eunsoo menyusul Kyuhyun dan menarik lengannya untuk berhenti berjalan.

“Ada apa, Eunsoo-ya? Kau tidak bekerja?” Ujar Kyuhyun sembari menghentikan langkahnya.

“Dimana Yeon sekarang? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Eunsoo khawatir.

“Dia bersamaku. Dan dia baik-baik saja. Jangan khawatir.” Jawab Kyuhyun. Eunsoo menghela nafas lega.

“Bagaimana kau bisa mengetahui apa yang dilakukan Raebin? Astaga, selama ini dia selalu bersikap baik pada kami.” Kata Eunsoo. Ia benar-benar tidak percaya Raebin bisa melakukannya.

“Peringatan untukmu agar tidak mempercayai laki-laki yang bersikap baik, adikku.” Kata Kyuhyun.

“Aku akan menjelaskan semua padamu nanti. Sekarang aku harus menemani Yeon. Dia sendirian di apartemenku. Kau kembalilah bekerja.”

“Sampaikan salamku padanya, oppa. Aku mengkhawatirkannya.” Ucap Eunsoo.

“Tentu. Aku pergi.” Kyuhyun melambaikan tangannya pada Eunsoo dan melangkah lebar meninggalkan perempuan itu.

——

Yeon berlari ke kamar Kyuhyun saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia mengambil ponselnya di atas tempat tidur dan melihat siapa yang menghubunginya. Yeon mengerutkan keningnya saat melihat nomor yang tidak terdeteksi.

Namun Yeon tetap menjawabnya.

“Halo?”

Tidak ada tanggapan apapun dari sebrang sana. Dan Yeon bahkan tidak mendengar suara apapun.

“Halo? Siapa ini?”

Jauhi Cho Kyuhyun.

Yeon menyingkirkan ponselnya dari telinganya karena terkejut mendengar sebuah suara yang sangat berat.

Apa yang baru saja orang itu katakan?

Dengan ragu-ragu Yeon kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.

“H–halo?”

Jauhi Cho Kyuhyun.

Dan kemudian sambungan telepon terputus begitu saja. Yeon menatap layar ponselnya yang sudah menunjukkan wallpaper yang digunakannya.

Apa maksud telepon barusan? Apa dia mendapatkan sebuah ancaman? Dari siapa?

“Cho Younghwan?” Gumam Yeon tidak yakin.

Yeon menggelengkan kepalanya. Younghwan bukanlah seseorang yang akan mengancam seperti itu. Younghwan pasti akan langsung melakukan apapun jika sesuatu terjadi diluar keinginannya.

Tetapi siapa lagi yang melakukannya jika bukan Younghwan? Bukankah hanya Younghwan yang tidak menyukai Kyuhyun dekat dengannya?

“Yeoni-ya..”

Yeon terkejut saat mendengar suara Kyuhyun yang baru saja masuk ke dalam kamar.

“Ada apa? Semua baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun saat melihat wajah Yeon tampak begitu shock dan pucat.

Yeon bahkan tidak tau apa yang baru saja terjadi.

“Yeoni-ya, lihat aku.” Pinta Kyuhyun sembari menangkup wajah Yeon.

“Semua baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun lagi.

“S–seseorang baru saja menghubungiku.” Jawab Yeon.

“Lalu?”

“Dia memintaku untuk menjauhimu.”

“Apa?”

“Nomornya tidak terdeteksi, Kyuhyun.” Kata Yeon.

Kyuhyun mengambil ponsel Yeon dan memeriksanya. Dan apa yang Yeon katakan memang benar. Nomornya tidak terdeteksi.

“Siapa yang melakukannya?” Tanya Yeon.

Kyuhyun memaksakan senyumnya pada Yeon.

“Mungkin saja hanya sebuah candaan, Yeon. Jangan memikirkannya.” Kata Kyuhyun.

“Aku akan mengantarmu pulang. Ayo.” Sela Kyuhyun saat melihat Yeon akan membuka suaranya.

Kyuhyun menggenggam tangan Yeon dan mengajaknya meninggalkan apartement.

Kenapa Kyuhyun berpikir bahwa Younghwan yang sudah menghubungi Yeon barusan? Kyuhyun tidak tahu ia mendapat pemikiran dari mana. Tetapi Kyuhyun merasa sangat yakin.

Kyuhyun tidak bisa memberitahukan apa yang dipikirkannya pada Yeon. Ia tidak mau membuat perempuan itu khawatir dan takut. Kyuhyun akan menyelidiki semua ini. Ia akan memastikan tidak ada satupun yang menyakiti Yeon. Termasuk Cho Younghwan.

——

Yeon tahu bahwa keesokan harinya saat ia masuk kerja, Eunsoo dan Taehee akan menuntut penjelasan atas apa yang terjadi. Ia sudah bisa menebaknya, tetapi Yeon berharap ia bisa melewati bagian ini. Ia benci jika harus mengingat apa yang Raebin akan lakukan padanya.

“Bagaimana bisa Raebin melakukan itu padamu? Wah, aku benar-benar tidak menyangka. Selama ini dia selalu bersikap baik.” Ujar Taehee yang terlihat kesal.

“Direktur Cho bilang jika kami para perempuan tidak boleh mempercayai laki-laki yang bersikap baik.” Sahut Eunsoo sembari menjauh dari Taehee.

Taehee mendelik kesal pada Eunsoo.

“Kau tidak apa-apa, kan? Raebin belum sempat melakukan apapun padamu, kan?” Tanya Eunsoo sembari mengusap bahu Yeon.

“Dia tidak melakukan apa-apa, yah, selain mencengkram lenganku.” Jawab Yeon.

“Laki-laki gila.” Umpat Eunsoo.

“Bagaimana bisa Direktur Cho menyelamatkanmu, Yeon-ssi? Bukankah dia tidak masuk bekerja selama dua hari?” Tanya Taehee.

“Tuhan menyayangiku, Taehee-ssi. Kemarin Direktur Cho datang ke kantor untuk bekerja. Kemudian seperti yang kalian tahu. Dia menyelamatkanku.” Jawab Yeon menjelaskan. Ia hanya tidak tahu harus mengatakannya seperti apa.

“Direktur Cho benar-benar seperti pahlawan. Dia sudah dua kali memergokimu yang sedang lembur.” Ucap Taehee. Yeon hanya tersenyum kecil.

“Apakah terjadi sesuatu antara kau dan Direktur Cho?” Tanya Taehee membuat Yeon tersedak air ludahnya sendiri.

Eunsoo tersenyum geli saat mendengar pertanyaan Taehee dan melihat respon yang diberikan oleh Yeon. Yeon tidak akan mungkin mau mengaku pada Taehee. Yeon saja tidak mau mengatakan apapun pada Eunsoo. Tetapi Eunsoo tahu bahwa memang ada sesuatu antara mereka.

“S–sesuatu seperti apa maksudmu? Dia adalah bosku. Bos kita. Benar, kan?” Kilah Yeon dengan senyum dipaksakan.

“Dia selalu datang saat kau kesusahan. Seperti telah ditakdirkan untuk menjadi dewa penolongmu.” Kata Taehee.

“Kau terlalu banyak menonton film.” Sahut Eunsoo sembari menepuk bahu Taehee.

“Kau sudah tahu jika Manager Lee di skors oleh Direktur Cho, kan?” Tanya Eunsoo. Yeon mengangguk pelan.

“Aku merasa bersalah. Ini bukan kesalahannya. Biar bagaimana pun pekerjaan yang kemarin diberikannya benar-benar mendesak.” Kata Yeon.

“Seharusnya dia tidak membiarkanmu yang menemani Raebin untuk lembur. Dia bisa menyuruhku.” Sela Taehee.

“Tidak ada yang tahu bahwa Raebin bisa melakukan semua itu.” Ucap Yeon. Eunsoo dan Taehee sama-sama mengangguk.

“Apakah Manager Lee akan membenciku setelah ini?” Tanya Yeon dengan cemas.

“Tentu saja tidak. Disini kau menjadi korban, Yeon-ssi.” Jawab Eunsoo.

“Jangan pikirkan apapun lagi. Karena Manager Lee tidak masuk kerja selama seminggu, kita harus bersama-sama menghandle pekerjaannya.” Tukas Taehee.

“Kau bisa beristirahat jika mau, Yeon-ssi. Biar aku dan Eunsoo serta Minji yang menyelesaikan pekerjaan.” Kata Taehee.

“Ya! Aku tidak sakit!” Rajuk Yeon membuat mereka tertawa.

——

Akhir pekan kembali datang. Yeon dan Jun telah memiliki rencana untuk menghabiskan akhir pekan kali ini. Mereka akan mengunjungi rumah keluarga Luke dan menghabiskan waktu di sana. Keluarga Luke pasti akan merasa senang dengan kehadiran mereka.

Yeon juga sudah membuat sebuah cheese cake untuk mereka. Tepatnya untuk Max. Karena pria itu sangat menyukai kue buatan Yeon.

Yeon menggandeng lengan Jun saat mereka sedang menuju ke rumah Luke setelah turun dari bis. Kedua kakak beradik itu terus bertukar cerita selama mereka diperjalanan. Jika saja wajah keduanya tidak mirip, orang-orang mungkin akan menganggap mereka sepasang kekasih.

“Bagaimana jika Max dan Kate tidak ada di rumah? Seharusnya kita memberitahu mereka tentang kedatangan kita, noona.” Kata Jun.

“Bukankah sudah kukatakan jika ini kejutan, Jun? Jika kita memberitahu mereka, itu bukan kejutan namanya.” Omel Yeon.

“Bagaimana jika mereka tidak ada di rumah? Kita yang akan mendapat kejutan, noona.” Sindir Jun.

Yeon hendak melayangkan tangannya untuk memukul kepala Jun. Tetapi Jun langsung menghindar.

Jun menghentikan langkahnya saat melihat rumah yang dulu mereka tempati. Pandangan Jun tampak sendu membuat Yeon menatapnya dengan sedih. Yeon menepuk bahu Jun dengan pelan.

“Rumah kita, noona.” Bisik Jun.

“Dulu.” Ralat Yeon.

“Seandainya appa dan eomma masih ada.” Gumam Jun.

“Jun-ah..” Ucap Yeon dengan sedih.

“Aku hanya memikirkan jika seandainya mereka masih ada, noona. Kau pasti tidak harus bekerja keras seperti ini. Kehidupan kita pasti akan lebih baik.” Kata Jun.

“Apa menurutmu kehidupan kita sekarang tidak baik? Kau tidak suka hidup berdua saja denganku?” Tanya Yeon berpura-pura tersinggung.

Jun menatap Yeon dengan panik.

“Tidak, noona. Bukan itu maksudku.” Jawab Jun langsung.

“Jangan menyesali apa yang sudah terjadi dan jangan mengharapkan sesuatu yang tidak bisa terjadi, Jun. Kita hanya perlu menjalani kehidupan kita sekarang.” Ujar Yeon.

Jun tersenyum dan mengangguk.

“Maafkan aku, noona. Sepertinya aku terlalu terbawa suasana.” Sesal Jun.

“Tidak apa-apa. Hanya jangan tunjukkan wajah sedihmu pada Max dan Kate. Mereka akan ikut sedih jika mengetahuinya.”

“Aku mengerti, noona. Ayo.”

Mereka memasuki halaman rumah Luke yang tampak asri. Jun yang lebih dulu menekan bel rumah Luke. Keduanya menunggu pintu terbuka dengan antusias.

“Kate!” Ucap keduanya ketika pintu rumah di buka oleh Kate.

Oh my God!” Kate tidak bisa menutupi keterkejutannya melihat kehadiran Yeon dan Jun.

“Max! Max! Lihatlah siapa yang datang! Anak-anak kita datang, Max!” Pekik Kate dengan semangat.

Yeon dan Jun tertawa sembari memeluk Kate bersamaan. Kate membalas pelukan mereka dengan erat. Sesekali Kate mengusap kepala Jun seolah laki-laki itu adalah seorang bocah berusia 5 tahun.

“Bagaimana kabarmu, Kate?” Tanya Jun setelah melepaskan pelukannya.

“Tidak lebih baik setelah melihat kalian.” Jawab Kate dengan senyum lebar.

“Jun!” Pekik Max dari kejauhan.

Daddy!” Balas Jun sembari berlari menghampiri laki-laki itu dan kemudian memeluknya.

Kate mengajak Yeon untuk menghampiri Jun dan Max yang tampak berpelukan dengan begitu erat.

“Astaga. Berapa lama aku tidak melihatmu? Bagaimana bisa kau setinggi ini?” Ucap Max dengan takjub.

“Tidak setinggi Luke.” Keluh Jun membuat yang lainnya tersenyum.

Max mengalihkan pandangannya pada Yeon.

“Kemarilah, sweetheart.” Ujar Max sembari melambaikan tangannya.

Yeon mendekati Max dan memeluknya. Seperti biasa, Max akan mengangkat tubuh Yeon dan memutar-mutarnya hingga membuat Yeon tertawa senang.

“Aku pasti bermimpi baik semalam karena kedatangan kalian hari ini.” Kata Max.

“Tidak sebaik cheese cake ini, Max.” Sahut Yeon sembari mengambil kotak kue dari tangan Jun. Max mengerang saat melihat kue tersebut.

“Kau benar-benar ingin membunuhku karena bahagia, ya?” Tuduh Max membuat Yeon tertawa.

“Kalian membawakannya cheese cake. Apa yang kalian bawakan untukku?” Tanya Kate dengan wajah berpura-pura merajuk.

Jun mendekati Kate dan merangkul pundak mungilnya.

“Tidakkah kehadiranku sudah cukup untukmu, Kate?” Goda Jun.

Kate tersenyum dan memukul pelan dada Jun. Ia selalu suka dengan godaan-godaan jenaka yang diberikan Jun untuknya.

“Umm, Kate, Max.” Panggil Yeon dengan ragu.

Semua mata tampak tertuju pada Yeon.

“Ada apa, sweetheart?” Tanya Max yang berdiri di samping Yeon.

“Sepertinya aku dan Jun akan merepotkan kalian.” Ucap Yeon membuat Max dan Kate menatapnya dengan tidak suka.

“Apa maksudmu?” Tanya Kate.

“Apakah aku dan Jun boleh menginap disini malam ini?” Tanya Yeon dengan ringisan pelan diakhir kalimatnya.

“Kau ingin aku memukul pantatmu, ya?” Ancam Max dengan mata melotot.

“Katakan sekali lagi jika itu merepoti kami, dan aku akan memukul pantatmu!” Ucap Max.

Yeon tersenyum dan kembali memeluk Max dengan erat. Betapa ia sangat menyayangi laki-laki ini.

“Aku akan meminta pelayan menyiapkan kamar untuk kalian.” Ujar Kate.

“Aku akan tidur dengan Luke!” Kata Jun.

“Apapun yang kau mau, sayang.” Sahut Kate.

“Berbicara tentang Luke, dimana dia?” Tanya Yeon. Kate memutar bola matanya dengan malas.

“Kau tidak mengharapkannya bangun pagi di akhir pekan, kan?” Ujar Kate.

“Kecuali ada operasi darurat.” Komentar Max.

“Aku akan membangunkannya.” Kata Yeon menawarkan diri.

“Pergilah.” Max mendorong pelan punggung Yeon.

“Dan kau kemarilah, Jun. Aku harus memberimu hukuman karena telah sangat terlambat datang ke sini.” Ucap Max.

Yeon tersenyum menatap mereka sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menaiki tangga. Kamar Luke berada di lantai dua dan Yeon sangat mengetahui itu. Dulu ia sering bermain di kamar Luke ketika mereka masih menjadi tetangga.

Yeon membuka pintu kamar Luke dengan keras, berharap laki-laki itu terganggu dengan suara berisiknya. Tetapi Luke tampak tidur seperti orang mati.

Yeon melihat punggung telanjang Luke. Ia berdoa dalam hati jika Luke memakai celana di balik selimut itu. Yeon tidak sanggup jika ia harus melihat kejantanan laki-laki lain selain Kyuhyun.

Wake up, Luke!” Yeon memukul pelan punggung Luke. Luke hanya bergumam tidak jelas dan mengubah posisi kepalanya dengan mata yang masih terpejam.

“Luke Collins!” Panggil Yeon lagi.

Luke membuka sebelah matanya untuk melihat siapa yang telah menganggu tidurnya. Ia tahu bahwa itu bukan Kate, karena Kate tahu seberapa berartinya akhir pekan untuk Luke.

Baby?” Gumam Luke.

“Bangunlah.” Perintah Yeon sembari membuka tirai di kamar Luke.

Luke mengerang dan mengubah posisinya menjadi terlentang. Beberapa saat kemudian ia bangkit menjadi duduk. Luke menunduk dan tersadar bahwa ia telanjang di balik selimut putih yang dipakainya.

Baby, don’t turn around!” Kata Luke dengan panik.

“Kenapa? Kenapa? Ada apa?” Balas Yeon dengan panik juga.

Pants.. Pants.. Pants.. Where is my pants?” Gumam Luke.

Mata Yeon melebar. Apa yang ditakutkannya benar terjadi. Luke tidak memakai celana di balik selimut yang dipakainya. Apa sebenarnya yang dilakukan laki-laki itu semalam?

“Luke, apa kau sudah gila?! Kenapa kau tidur tidak memakai celana?!” Omel Yeon.

“Dan kenapa kau masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu?!” Balas Luke mengomel.

Well, sorry. Aku tidak tahu jika kau dalam keadaan telanjang.” Sesal Yeon.

“Kau sudah memakai celanamu?” Tanya Yeon.

Yeah.” Jawab Luke.

Yeon berbalik dan menatap Luke dengan melotot.

“Apa kau membawa seorang perempuan ke sini semalam?” Tuduh Yeon.

Daddy mungkin sudah memotong leherku jika aku melakukannya.” Tukas Luke.

“Lalu, apa kau habis..habis..bermain–maksudku menonton–” Yeon tampak tidak tahu harus memakai kata-kata apa untuk mengutarakan maksud ucapannya.

“Kau datang ke sini bersama siapa?” Tanya Luke mengalihkan pembicaraan.

Luke mengerti apa yang ingin ditanyakan oleh Yeon. Namun ia berpura-pura tidak tertarik. Luke tidak mungkin mengakui apa yang sudah dilakukannya semalam hingga ia berakhir terlanjang.

“Bersama Jun. Dia ada di bawah.” Jawab Yeon. Luke mengangguk.

“Beri aku waktu lima menit, baby. Aku akan segera bergabung bersama kalian di bawah.” Kata Luke.

“Baiklah.” Sahut Yeon. Ia melangkah untuk keluar dari kamar Luke.

“Luke..” Panggil Yeon sembari memegang kenop pintu.

“Ya?”

“Aku tidak yakin kau hanya membutuhkan lima menit untuk mandi. Jika kau membayangkan perempuan telanjang di dalam sana.” Sindir Yeon dan langsung berlari meninggalkan kamar Luke.

“TUTUP MULUTMU, BABY!” Teriak Luke.

——

Yeon sedang menikmati makan siang bersama Jun dan keluarga Luke saat ponselnya berbunyi. Ia menggumamkan kata maaf sebelum akhirnya meninggalkan meja makan untuk menjawab teleponnya.

“Halo, Kyuhyun..”

Apa yang sedang kau lakukan, Yeoni-ya? Aku bosan.” Keluh Kyuhyun. Yeon tersenyum geli mendengarnya.

“Aku sedang makan siang.”

Di rumah? Apa aku boleh ke sana?

“Tidak, Kyuhyun.”

Aku tidak boleh bergabung?” Yeon dapat menangkap nada kecewa dalam suara Kyuhyun.

“Bukan. Maksudku, aku tidak makan siang di rumah.”

Kau dimana sekarang?” Tanya Kyuhyun.

“Aku sedang berada di rumah Luke.” Jawab Yeon. Ia menggigit bibir bawahnya karena merasa gugup.

Ah..” Yeon yakin jawabannya mengecewakan Kyuhyun.

“Aku tidak seorang diri disini, Kyuhyun-ssi. Jun juga bersamaku. Orangtua Luke sudah seperti orangtuaku sendiri. Karena itulah kami mengunjunginya. Aku dan Jun juga akan menginap disini malam ini. Aku tidak hanya berdua saja dengan Luke.” Jelas Yeon. Ia tidak ingin Kyuhyun salah paham.

Aku mengerti.” Suara Kyuhyun terdengar pelan.

“Kau marah?” Tanya Yeon.

Tidak. Aku tidak marah.” Jawab Kyuhyun.

Yeon hanya diam saja sembari terus menggigiti bibir bawahnya. Ia yakin Kyuhyun akan marah jika tahu apa yang sedang dilakukannya ini.

Aku hanya merasa iri pada Luke.

Yeon terkejut mendengar ucapan Kyuhyun.

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

Aku ingin kau dekat dengan keluargaku juga, Yeoni-ya.

Yeon kembali diam.

Aku ingin kau menghabiskan waktu di rumahku juga.

“Kyuhyun, kau tahu bahwa–“

Ya, aku tahu. Ayahku tidak menyukaimu.” Sela Kyuhyun.

Aku berbicara omong kosong, ya?

Sweetheart, cepat tutup teleponmu dan kemari. Habiskan makananmu.”

Yeon menoleh.

“Ya, Max.”

“Aku akan menghubungimu lagi nanti malam, Kyuhyun-ssi.”

Ya. Nikmati waktumu, Yeoni-ya.

Yeon menghela nafas dan kembali bergabung di ruang makan. Melanjutkan untuk menghabiskan makanannya yang tersisa setengah. Dan mencoba melupakan sejenak suara kecewa Kyuhyun di telepon tadi.

“Jadi apakah kau sudah memiliki kekasih, Yeon?” Tanya Kate membuat mata Yeon melebar.

“Sudah, Kate. Noona berkencan dengan direktur Pearl Group.” Jawab Jun.

“Jun!” Tegur Yeon.

Really? Apa dia laki-laki yang baik? Apa dia bersikap sopan padamu, sweetheart?” Tanya Max dengan serius.

Tiba-tiba pria itu berubah menjadi sosok seorang ayah untuk Yeon.

We’re just friend, Max. Don’t worry about that.” Jawab Yeon dengan tersenyum kecil.

“Sebenarnya aku berharap kau dan Luke bisa menikah. Tetapi kau terlalu baik untuk seorang bajingan seperti Luke.” Kata Max membuat Luke memutar bola matanya.

Dad? Seriously?” Ucap Luke. Yeon terkekeh pelan.

“Lagipula Luke telah memiliki seseorang dihatinya, Max.” Sindir Yeon.

“Siapa?” Tanya Kate langsung.

“Dia teman kerjaku di kantor. Namanya Kang Eunsoo.” Jawab Yeon.

Baby!” Tukas Luke.

Namun kemudian Luke tiba-tiba terlonjak hingga kursi yang didudukinya terpental ke belakang.

“Luke!” Tegur Max.

Damn it! Aku lupa ada janji dengan Kang Eunsoo!” Tukas Luke membuat mata Yeon melebar.

“Maaf, aku harus pergi. Aku akan kembali sebelum malam.” Pamit Luke.

Brother, kau bisa menggunakan kamarku sesukamu.” Ujar Luke pada Jun dan langsung berlari meninggalkan ruang makan.

——

Eunsoo menatap jam di pergelangan tangan kirinya untuk kesekian kalinya. Ia sudah tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesal di wajah cantiknya. Seumur hidupnya, Eunsoo tidak pernah ingin membunuh seseorang. Tetapi hari ini ia sangat ingin membunuh seseorang.

Dan laki-laki itu adalah Luke Collins.

Eunsoo menatap ponselnya. Tidak ada pesan apapun dari Luke yang mengatakan jika laki-laki itu terlambat ataupun membatalkan janji mereka. Luke membuat Eunsoo menunggu hampir satu jam di sebuah cafe dan seorang diri.

Bagaimana bisa Eunsoo tidak membunuh Luke jika seperti itu? Eunsoo seharusnya tahu bahwa ia dan Luke memang tidak bisa berteman. Laki-laki bajingan seperti Luke tidak bisa dijadikan seorang teman. Eunsoo merasa bingung karena Yeon bisa tahan berteman dengan Luke.

Eunsoo menghela nafas panjang dan segera berdiri. Tidak ada gunanya ia menunggu laki-laki yang tidak akan pernah menepati janjinya. Eunsoo mendekati kasir dan membayar es jeruk yang dipesannya. Setelahnya, ia segera keluar dari cafe.

Berdiri di depan cafe, Eunsoo menatap langit yang sedang menangis dengan kencang. Hari ini ia tidak membawa mobil dan hujan nampaknya membuat suasana hati Eunsoo semakin memburuk.

“Kau benar-benar sial hari ini, Kang Eunsoo.” Gumam Eunsoo.

Ia tidak mungkin menunggu hingga hujan reda di depan cafe ini. Cukup sudah ia terlihat seperti orang bodoh saat di dalam tadi. Dan Eunsoo tidak mau terlihat seperti orang bodoh lagi di depan cafe.

Eunsoo menghela nafas dan membuat gerakan untuk siap berlari menembus hujan. Paling tidak ia harus berjalan ke jalan besar untuk mencari sebuah taksi. Eunsoo mulai melangkahkan kakinya untuk berlari dan tubuhnya sudah separuh basah, saat tiba-tiba ada yang menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya ke belakang.

Eunsoo merasa tubuhnya melayang untuk sesaat dan mendarat disebuah bidang yang empuk dan juga hangat. Ia tidak bisa menahan matanya yang tidak melebar saat menyadari bahwa dirinya sedang berada di pelukan seorang Luke Collins saat ini.

Apa Eunsoo sedang bermimpi? Atau dia sedang berada di surga? Bagaimana bisa ada laki-laki yang begitu tampan seperti Luke Collins? Luke tampak seperti seorang dewa saat ini. Dan Eunsoo tidak bisa mengalihkan pandangannya untuk sebentar saja.

“Mau pergi kemana kau hujan-hujan seperti ini?” Bahkan suara Luke terdengar seperti sebuah alunan piano. Eunsoo pasti sudah benar-benar gila.

“Kang Eunsoo?” Panggil Luke berusaha menyadarkan Eunsoo.

Eunsoo tersentak dan segera mendorong Luke menjauh. Namun Luke memegang siku tangannya agar terus menempel pada laki-laki itu.

“Kau bisa basah!” Tukas Luke.

Eunsoo mendongak dan menyadari bahwa ada sebuah payung yang melindungi mereka dari air hujan.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Eunsoo. Luke menaikkan sebelah alisnya.

“Bukankah kita memiliki janji bertemu?” Jawab Luke. Eunsoo tersenyum sinis.

“Ya, kita memilikinya. Satu jam yang lalu.” Hardik Eunsoo.

Luke meringis pelan dan wajahnya terlihat menyesal.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menunggu–“

“Kau sudah membuatku menunggu.” Sela Eunsoo.

Eunsoo mencoba menyembunyikan rasa gugupnya karena tubuhnya dan tubuh Luke nyaris menempel. Dan tangan Luke yang menggenggam sikunya terasa hangat.

Yeah, I know. And I’m so sorry.” Sesal Luke. Eunsoo membuang wajahnya dari Luke.

“Aku bangun kesiangan hari ini. Bahkan jika bukan Yeon yang membangunkanku, aku mungkin masih tidur hingga sekarang.” Jelas Luke.

“Yeon?” Ulang Eunsoo.

“Ya. Yeon dan adiknya ada di rumahku saat ini. Mereka bersama orangtuaku. Dan karena dia menyebut namamu, saat itulah aku ingat bahwa aku memiliki janji denganmu. Aku benar-benar minta maaf.” Ujar Luke.

Eunsoo masih tampak kesal walaupun penjelasan Luke mengatakan jika laki-laki itu tidak dengan sengaja melupakan pertemuan mereka.

“Aku bersumpah jika aku tidak sedang mempermainkanmu.” Kata Luke dengan bersungguh-sungguh.

“Kau bisa bertanya dengan orangtuaku, jika kau tidak percaya.” Lanjut Luke.

Eunsoo menatap wajah Luke yang terlihat bersungguh-sungguh. Tidak ada wajah–bajingan–brengsek yang biasa ditunjukkan laki-laki itu pada Eunsoo. Membuat Eunsoo tidak memiliki pilihan selain memaafkannya.

“Baiklah.” Gumam Eunsoo.

Wajah Luke terlihat berbinar ketika Eunsoo memaafkan kelalaiannya.

“Aku akan mentraktirmu makan siang untuk menebus kesalahanku.” Ujar Luke.

“Aku tidak mau makan di dalam. Aku sudah terlihat seperti orang bodoh selama satu jam tadi.” Keluh Eunsoo sembari menunjuk cafe di dekat mereka.

Luke tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah merajuk Eunsoo. Terlihat cantik dan lucu disaat bersamaan. Luke berusaha mati-matian untuk tidak menatap bibir perempuan itu. Karena jika Luke menatapnya, Luke pasti akan menciumnya. Dan bisa dipastikan ia akan mendapatkan tamparan–lagi–dari Eunsoo.

“Aku tahu tempat makan yang enak disini.” Ujar Luke.

Dan tanpa meminta izin, Luke menautkan tangannya dan tangan Eunsoo. Kemudian mulai berjalan di bawah payung yang sama. Payung yang di pegang oleh Luke.

Eunsoo tidak bisa menahan matanya untuk tidak menatap tautan tangannya dan Luke. Ia bisa merasakan bagaimana Luke menggenggam tangannya begitu erat. Seolah takut Eunsoo akan hilang jika Luke melonggarkan genggamannya sedikit saja.

Saat Eunsoo menaikkan pandangannya, ia menemukan Luke yang sedang menatapnya sembari tersenyum. Dan Eunsoo rela jika Tuhan mencabut nyawanya saat ini juga. Karena hal terakhir yang dilihatnya adalah sesuatu yang benar-benar indah.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Luke.

“Apa? Ah, tidak. Maksudku, kenapa hujan tiba-tiba turun?” Eunsoo mengusap pelipisnya dengan salah tingkah. Dan Luke tentu saja menyadarinya.

“Jika hujan tidak turun, aku tidak akan bisa sedekat ini denganmu.” Gumam Luke.

Eunsoo menatap Luke dengan pandangan bingung. Ia tidak terlalu mendengar apa yang laki-laki itu katakan. Suara Luke tertelan oleh suara hujan.

“Apa yang baru saja kau katakan?” Tanya Eunsoo. Luke menatap Eunsoo dan menggeleng.

“Kau suka makan steak?” Tanya Luke.

“Kadang-kadang.” Jawab Eunsoo.

“Ini restaurant steak favoritku.” Kata Luke sembari mempersilahkan Eunsoo masuk ke dalam restaurant lebih dulu.

Mereka kemudian memilih tempat duduk. Luke menarik kursi untuk Eunsoo, sebelum akhirnya menarik kursi untuk dirinya sendiri.

“Kau sengaja mengajakku bertemu di cafe itu agar bisa makan disini, kan?” Tuduh Eunsoo. Luke menyeringai.

“Apa terlihat jelas?” Sahutnya. Eunsoo mencibir dan mereka mulai memesan makanan.

Eunsoo diam-diam menatap Luke yang tampak serius membaca buku menu. Wajah seriusnya benar-benar terlihat sangat tampan. Sesekali laki-laki itu mengerutkan keningnya seolah isi buku menu itu adalah sesuatu yang sulit dipahami.

“Apa yang ingin kau pesan?” Tanya Luke tiba-tiba membuat Eunsoo terkesiap.

“S–sama sepertimu.” Jawab Eunsoo.

Luke tersenyum dan menyebutkan pesanannya pada pelayan yang dengan setia menunggu mereka. Setelahnya pelayan tersebut meninggalkan mereka.

“Apa kau selalu mengajak perempuan-perempuan yang kau tiduri untuk makan siang bersama?” Tanya Eunsoo. Luke tidak bisa menahan senyum diwajahnya.

“Aku lebih tertarik melihat mereka mendesah daripada makan.” Jawab Luke membuat mata Eunsoo melebar. Kata-kata Luke terlalu vulgar.

“Jadi, benar-benar hanya one night stand?” Gumam Eunsoo dan disambut anggukkan kepala oleh Luke.

“Kenapa kau hanya tertarik pada sex, Luke? Kenapa kau tidak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan serius dengan perempuan?” Tanya Eunsoo tanpa bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.

Luke nampak terkejut mendapatkan pertanyaan tidak terduga dari Eunsoo. Dan ia merasa bingung untuk menjawabnya. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya pada Eunsoo?

“Jika kau tidak bisa mengatakannya, kau bisa melupakan pertanyaanku.” Kata Eunsoo berusaha untuk terlihat tidak peduli. Perempuan itu meneguk air putih di atas meja.

Lama tidak ada pembicaraan di antara mereka. Eunsoo tidak lagi menanyakan hal-hal yang akan membuat suasana menjadi semakin canggung. Sedangkan Luke masih sibuk berperang dengan pikirannya sendiri.

Eunsoo jadi merasa menyesal karena telah menanyakan sesuatu yang sangat pribadi. Walaupun mereka berteman, hubungan mereka tidak sedekat itu. Seharusnya ia bisa menahan mulutnya untuk sementara waktu.

“Aku pernah menjalin sebuah hubungan yang cukup serius saat awal kuliah.” Kata Luke tiba-tiba. Eunsoo menoleh dan menatap laki-laki itu.

“Dia kekasih pertamaku.” Lanjut Luke.

Eunsoo tanpa sadar mencengkram gelas berisi air putih yang ada di atas meja.

“Aku tidak tahu apakah karena dia kekasih pertamaku atau bukan, saat itu aku sangat menyukainya. Ah, tidak. Aku pikir perasaanku padanya lebih dari itu.”

Eunsoo masih tetap diam dan hanya mendengar Luke berbicara.

“Kami berkencan selama hampir tiga tahun. Pernah satu kali aku sangat ingin menidurinya, murni karena rasa sayangku padanya. Bukan karena nafsu. Tetapi dia menolakku. Dia bilang bahwa dia masih perawan dan ingin menjaganya untuk suaminya kelak. Aku menghargai penolakannya dan sempat terpikir bahwa akulah yang akan menjadi suaminya nanti.”

“L–lalu kenapa kalian berpisah?” Eunsoo tidak dapat menahan pertanyaan di dalam kepalanya.

“Dia hamil.” Ucap Luke sembari menatap Eunsoo.

Eunsoo terkesiap saat mendengar ucapan Luke. Bagaimana bisa perempuan itu hamil saat ia masih perawan? Ia bahkan menolak Luke saat laki-laki itu ingin menidurinya.

“Bagaimana bisa?”

“Dia berselingkuh dariku. Dia menjalin hubungan dengan laki-laki lain setelah dua tahun kami bersama.”

“Maksudmu, dia berselingkuh darimu selama hampir satu tahun?”

Luke mengangguk.

“Dia mempercayai laki-laki itu untuk mengambil keperawanannya dan menghamilinya. Dia tidak mempercayaiku.” Luke tersenyum miris.

“Karena itulah kau meninggalkannya?” Tanya Eunsoo. Luke menggeleng.

“Apa kau percaya bahwa dia yang meninggalkanku?” Tanya Luke balik. Eunsoo lagi-lagi terkesiap.

“Dia mengakhiri hubungan kami dan mengatakan padaku bahwa dia akan menikah dengan laki-laki itu.” Ujar Luke.

Eunsoo tidak bisa mempercayai cerita Luke. Tetapi saat melihat wajah terluka Luke, Eunsoo tahu bahwa semua cerita itu benar. Bagaimana bisa ada perempuan sekejam itu?

“Karena itulah aku tidak mau menjalin hubungan dengan perempuan manapun lagi. Aku tidak mempercayai mereka. Selain ibuku dan Yeon, bagiku perempuan adalah sebuah mainan.” Kata Luke dengan menggertakkan giginya.

Eunsoo menatap Luke yang tampak menundukkan kepalanya. Kenapa Eunsoo sangat ingin memeluk laki-laki itu saat ini? Kenapa Eunsoo tidak marah saat Luke mengatakan bahwa perempuan hanya sebuah mainan? Dan kenapa Eunsoo sekarang ingin menjadi salah satu mainan Luke di atas ranjang?

——

Kyuhyun masuk ke dalam ruang kerja Younghwan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Langkahnya terlihat mantap saat mendekati di mana Younghwan berada. Younghwan tidak melihatnya, tetapi Kyuhyun tahu bahwa pria itu menyadari keberadaannya.

“Masih ingat pulang ke rumah?” Sindir Younghwan.

“Aku datang bukan untuk pulang.” Sahut Kyuhyun membuat Younghwan mendongak untuk menatapnya.

“Aku datang untuk mengatakan kepadamu bahwa kau tidak perlu mengancam Yeon agar dia meninggalkanku. Dia tidak akan pernah meninggalkanku.” Kata Kyuhyun.

“Aku mengancamnya?” Ulang Younghwan. Kemudian pria itu tertawa dengan kencang.

“Apa kau pikir aku tidak memiliki pekerjaan lain, Cho Kyuhyun?” Ujar Younghwan setelah menghentikan tawanya.

“Kau bisa menyangkalnya sesuka hatimu, abeoji. Tetapi aku memperingatimu untuk tidak menyakiti Yeon. Karena di hari kau menyakitinya, maka kau akan kehilanganku sebagai anakmu.” Ucap Kyuhyun.

“Kau mengancamku?!” Geram Younghwan.

“Aku harap kau tidak merasa terancam, abeoji.” Sahut Kyuhyun.

“Kau bilang bahwa kau tidak menginginkan perusahaan. Kenapa kau masih bekerja di sana?” Ujar Younghwan dengan ketus.

“Aku akan pergi jika kau memintaku untuk pergi.” Kata Kyuhyun.

“Apa kau akan mengusirku dari perusahaan?” Tanya Kyuhyun. Younghwan hanya diam saja dan mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.

“Aku menarik kesimpulan bahwa kau masih membutuhkanku di sana. Maka aku akan tetap di sana.” Ucap Kyuhyun.

Kyuhyun berbalik untuk meninggalkan ruang kerja Younghwan. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan kembali berbalik.

“Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku, abeoji. Tolong jangan mengganggu Yeon.” Pinta Kyuhyun dan kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda.

Younghwan menatap pintu ruang kerjanya yang baru saja tertutup dengan serius. Kedua tangannya mengepal dengan erat di atas meja.

“Semakin kau ingin melindunginya, semakin aku akan menyakitinya, Cho Kyuhyun.” Geram Younghwan.

——

Yeon memiringkan kepalanya dan menatap wajah murung Eunsoo. Ia bahkan tidak bisa menghitung berapa banyak Eunsoo menghela nafas sejak mereka berada di dapur kantor. Mereka ingin membuat kopi untuk menghilangkan rasa kantuk.

Yeon menuangkan air panas pada gelasnya dan kemudian mengaduk kopi serta gula yang berada di dalamnya agar segera larut. Ia kembali menoleh dan menatap Eunsoo yang belum melakukan pergerakan apapun.

“Ada apa, Eunsoo-ssi?” Tanya Yeon sembari menyenggol pelan siku Eunsoo.

Eunsoo menatap Yeon dan kembali menghela nafas panjang. Ia tampak memainkan ujung kemeja yang digunakannya. Eunsoo tidak pernah merasa segusar ini dalam hidupnya.

“Apa kau mengetahuinya, Yeon-ssi?” Tanya Eunsoo pelan.

“Mengetahui apa?” Yeon mengerutkan dahinya.

“Luke pernah dicampakkan oleh seorang perempuan.” Kata Eunsoo membuat mata Yeon melebar.

“Kau mengetahuinya?!” Tebak Yeon. Eunsoo menatap Yeon lagi.

“Jadi, kau mengetahuinya juga.” Gumam Eunsoo.

“Luke menceritakannya padamu?” Tanya Yeon. Eunsoo mengangguk pelan.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?” Tanya Eunsoo balik.

Yeon menghela nafas dan menyandarkan punggung bawahnya pada meja pantry di dapur, tepat di sebelah Eunsoo yang juga sedang bersandar.

“Karena cerita itu bukan milikku. Hanya Luke yang berhak melakukannya.” Jawab Yeon.

“Aku benar-benar tidak menyangka. Di balik sikap brengseknya, dia memiliki luka yang cukup dalam.” Kata Eunsoo. Yeon tersenyum kecil dan mengangguk.

“Selama ini aku berpikir jika dia bersikap seperti seorang bajingan karena dia memang tidak pernah menghargai seorang perempuan.” Eunsoo tampak sangat menyesal dengan pemikiran buruknya selama ini pada Luke.

“Seandainya kau mengatakannya padaku dari awal..” Gumam Eunsoo.

“Maafkan aku, Eunsoo-ssi. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu membenci Luke.” Sesal Yeon.

“Luke pernah memintaku untuk tidak pernah mengatakan pada siapapun tentang hal itu. Aku hanya mencoba menghargai privasinya.” Lanjut Yeon.

Eunsoo menyetujui ucapan Yeon. Biar bagaimana pun Yeon adalah sahabat Luke. Yeon tidak mungkin mengkhianati Luke hanya karena dirinya. Yeon dan Luke sudah mengenal selama belasan tahun. Sedangkan Yeon dan dirinya hanya beberapa bulan saja.

“Apa hal itu sangat mengganggumu?” Tanya Yeon hati-hati.

“Aku tidak tahu kenapa hal ini sangat menggangguku.” Jawab Eunsoo.

“Bahkan saat melihat wajah Luke ketika dia menceritakan segalanya padaku, aku ingin merengkuhnya ke dalam pelukanku. Cih! Aku pasti sudah gila.” Desis Eunsoo dengan tawa dipaksakan.

Yeon menahan nafasnya.

“Eunsoo-ssi, jangan bilang bahwa kau–“

“Aku rasa aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya.” Sela Eunsoo membuat Yeon sangat terkejut.

“Aku bahkan berpikir untuk membiarkannya membawaku ke atas tempat tidur.” Ucap Eunsoo dengan nada putus asa.

“Eunsoo-ssi..” Yeon tampak tidak bisa berkata-kata.

“Aku tidak mengerti kenapa perasaanku pada Luke bisa sedalam ini..” Desah Eunsoo.

Yeon mengusap bahu Eunsoo dengan pelan.

“Jika kau memang mencintainya, maka jangan biarkan dirimu menjadi salah satu perempuan yang ditiduri oleh Luke.” Kata Yeon. Eunsoo menatap Yeon dengan bingung.

“Jika kau memang mencintainya, maka buatlah dia berubah. Buatlah Luke berhenti untuk meniduri perempuan lain. Buat Luke hanya menatap dirimu seorang, Eunsoo-ssi.” Saran Yeon.

Eunsoo memikirkan saran Yeon. Bagaimana cara ia melakukannya? Luke jelas-jelas hanya tertarik pada sex. Bagaimana Eunsoo menghilangkan kebiasaan buruk laki-laki itu?

“Buat dia tahu bahwa tidak semua perempuan sama seperti mantan kekasihnya. Kau pasti bisa melakukannya.” Kata Yeon sebelum mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari saku blazernya.

“Luke menghubungiku.” Ujar Yeon membuat mata Eunsoo melebar.

“Jangan katakan jika kau sedang bersamaku!” Ucap Eunsoo.

Yeon tersenyum dan mengangguk. Kemudian langsung menjawab telepon Luke.

“Hai, Luke.”

“Baby, berjanjilah untuk tidak panik setelah mendengar apa yang akan aku katakan padamu.

Yeon tanpa sadar menegakkan punggungnya saat mendengar ucapan Luke.

“Ada apa, Luke? Kau baik-baik saja?” Tanya Yeon. Eunsoo menjadi khawatir saat mendengar pertanyaan Yeon.

“Yeah, aku baik-baik saja.” Jawab Luke. Yeon tampak menghela nafas lega.

Saat ini aku berada di Unit Gawat Darurat.

“Lalu?”

Jun berada di sini.

Tubuh Yeon menegang dengan jantung yang berdetak di luar batas normal.

“Baby.. Jun mengalami kecelakaan.

——

–To Be Continued–

Hai! Aku mau tanya, deh. Aku post FF akhir-akhir ini gak pernah lama, kan? Maksudnya kurang dari seminggu. Tapi kok masih aja ada yang bilang lama banget ngepostnya? Aku harap kalian gak lupa kalo aku kerja di kehidupan nyata aku. Aku gak cuma mikirin FF ini aja. Jadi, aku mohon pengertiannya.

Happy Reading~

BYE~

Advertisements

102 thoughts on “Love, Hurt, and Revenge – Part 9

  1. Jun kecelakaan ?
    Kenapa feeling gue ini ada hubungan nya sama Tua Cho ? -_-
    .
    Dan dan daaaan Eunsoo sama Luke, duh mereka diem diem demen..
    .
    Btw kasian pas part Kyu bosan, dan butuh tmen tapi Yeon malah lagi sama keluarga Luke. Kasian ga sih dia kesepian.. huhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s