Love, Hurt, and Revenge – Part 6

Author

Choineke

Title

Love, Hurt, and Revenge

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC), Cho Younghwan (Kyuhyun’s Father), Kim Hanna (Kyuhyun’s Mother), Jung Jun (Yeon’s Brother–OC), and others

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–I’m trapped in my own revenge–

——

Author POV

Yeon dengan hati-hati mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Pinggangnya terasa benar-benar sakit dan Yeon harus melakukan gerakan dengan perlahan. Pahanya juga terasa pegal karena menopang kepala Kyuhyun semalaman.

Tetapi Yeon tidak ingin mengeluh karena semua itu keinginannya. Ia akan mengobati pinggangnya saat pulang kerja nanti. Karena saat ia sampai di rumah tadi pagi, Yeon tidak memiliki banyak waktu. Ia tidak ingin terlambat bekerja.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Eunsoo saat melihat gerakan Yeon yang tampak kaku.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Yeon.

“Tetapi kau terlihat kesakitan. Apa kau terjatuh?”

“Ya, aku tidak hati-hati. Tetapi tidak ada yang berbahaya. Jangan khawatir.” Kata Yeon menenangkan.

“Eunsoo-ssi, apa aku bisa mengatakan sesuatu padamu?” Tanya Yeon kemudian.

“Ada apa?” Eunsoo terlihat bingung.

“Aku tidak bermaksud untuk ikut campur urusanmu. Tetapi, aku sudah tahu bahwa kau berbohong tentang memiliki kekasih.” Ucap Yeon membuat Eunsoo panik.

Eunsoo menatap sekeliling dan memastikan tidak ada yang mendengar ucapan Yeon. Tidak boleh ada yang tahu bahwa ia berbohong selama ini. Atau Eunsoo akan kewalahan menolak setiap laki-laki yang mendekatinya.

“Bagaimana kau bisa–ah, pasti Kyuhyun oppa.” Dengus Eunsoo.

“Kau juga sudah tahu bahwa aku adik sepupunya?” Tebak Eunsoo. Yeon mengangguk.

“Jadi, hubungan kalian sudah sedekat itu hingga berbagi informasi?” Sindir Eunsoo. Yeon tersenyum kecil.

“Awalnya aku berpikir bahwa kau adalah kekasihnya.” Aku Yeon.

“Apa?! Yah, yang benar saja!” Eunsoo terlihat geli dengan pengakuan Yeon.

“Bahkan jika aku bukan sepupunya pun, aku tidak akan menyukainya. Dia kekanakan, pemaksa, dan menyebalkan!” Tukas Eunsoo membuat Yeon tersenyum geli. Yeon sangat menyetujui itu.

“Tolong jangan katakan pada siapapun tentang kebohonganku, Yeon-ssi.” Pinta Eunsoo dengan wajah serius.

“Aku tidak akan melakukannya.” Janji Yeon.

“Nah, karena kau sudah mengetahui rahasiaku, aku bisa menanyakan tentang Luke sesukaku, kan?” Ujar Yeon.

Yeon menundukkan kepalanya sebentar. Sebelum akhirnya kembali menatap Eunsoo dengan pandangan bersalah.

“Aku tahu seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu. Tetapi aku tidak ingin kau berharap terlalu banyak padanya, Eunsoo-ssi.” Ucap Yeon.

“Kenapa?” Tanya Eunsoo.

“Luke tidak tertarik untuk menjalin hubungan serius dengan perempuan.” Jawab Yeon membuat Eunsoo tidak bisa menyembunyikan wajah kecewanya.

“Walaupun dia dibesarkan di Seoul, darah Irlandia pada tubuhnya tidak bisa hilang, Eunsoo-ssi. Kau tahu bahwa laki-laki di sana hanya tertarik pada sex.” Jelas Yeon.

“Karena itu aku harap kau tidak mengharapkan apapun padanya. Karena ia tidak bisa memberikan apapun padamu.” Pinta Yeon.

Eunsoo menghela nafas panjang kemudian memaksakan senyumnya pada Yeon.

“Tentu saja! Yah, aku hanya tertarik karena dia memiliki wajah yang tampan. Aku tidak sampai tergila-gila padanya.” Dusta Eunsoo.

Yeon tidak tega melihat wajah kecewa Eunsoo. Ia benar-benar mengutuk Luke karena tidak bisa membuka hatinya untuk Eunsoo. Eunsoo perempuan yang cantik dan baik. Luke akan sangat beruntung jika mendapatkannya. Tetapi Luke terlalu bodoh, menurut Yeon.

“Hei, ada apa ini? Kenapa serius sekali?” Tanya Taehee yang baru datang.

“Selamat pagi, Taehee-ssi.” Sapa Yeon sembari tersenyum.

“Selamat pagi, Yeon-ssi.” Balas Taehee.

“Jadi, kenapa wajah putri Eunsoo pagi ini terlihat murung?” Goda Taehee.

“Karena melihat wajah jelekmu!” Ucap Eunsoo dengan asal dan segera kembali ke mejanya.

Taehee terlihat terkejut dengan suara Eunsoo yang tampak ketus. Ia menatap Yeon seolah meminta penjelasan, tetapi Yeon hanya tersenyum kecil padanya.

“Yeon-ssi.” Panggil Manager Lee.

“Ya, manager.” Sahut Yeon sembari berdiri. Mengabaikan rasa sakit pada pinggangnya.

“Bawa ini pada Direktur Cho untuk ditandatangani. Minta dia untuk menandatanganinya segera karena aku harus mengirimkan ini.” Ujar Manager Lee.

“Baik, manager.” Jawab Yeon sembari mengambil sebuah berkas dari tangan Manager Lee.

“Apa yang kau lakukan di sana, Taehee-ssi? Apa kau tidak akan bekerja?” Omel Manager Lee.

“Saya akan bekerja, manager.” Kata Taehee. Manager Lee mendengus dan meninggalkan mereka.

Yeon terkekeh saat melihat Taehee mengerucutkan bibirnya. Namun semua hanya sesaat. Karena ketika Yeon melihat berkas ditangannya, ia teringat bahwa ia harus menemui Kyuhyun.

Dan Yeon seakan menepati ucapannya pada Kyuhyun tadi. Bahwa mereka akan bertemu saat di kantor. Dan inilah saatnya.

Yeon memasuki lift dan menekan angka paling atas, di mana ruangan Kyuhyun berada. Ia merasa bodoh karena saat ini merasa berdebar hanya karena akan bertemu Kyuhyun. Yeon bahkan melupakan rasa sakit pada pinggangnya.

“Apa Direktur Cho ada diruangannya?” Tanya Yeon pada sekretaris Kyuhyun.

“Direktur Cho ada di ruangannya, nona. Silahkan masuk.” Jawab sekretaris Kyuhyun dengan tersenyum.

Yeon balas tersenyum dan segera menghampiri ruangan Kyuhyun. Mengetuk pintunya sebanyak dua kali sebelum kemudian membukanya.

Yeon tampak terkejut saat melihat Kyuhyun duduk di sofa bersama seorang perempuan. Yeon tidak dapat melihat wajah perempuan itu, karena ia duduk membelakanginya. Tetapi Yeon dapat melihat Kyuhyun yang juga tampak terkejut melihatnya.

“Yeon–Nona Jung, ada apa?” Tanya Kyuhyun.

Perempuan yang duduk di hadapan Kyuhyun menoleh saat melihat Kyuhyun mengajak Yeon berbicara. Dan Yeon bisa melihat wajahnya. Perempuan itu cantik dan terlihat muda. Mungkin memiliki usia seperti Yeon.

“Maaf jika saya mengganggu, direktur. Manager Lee meminta saya memberikan ini pada Anda.” Ucap Yeon.

“Masuklah.” Kata Kyuhyun.

“Bisakah kau tinggalkan pekerjaanmu sebentar agar kita bisa membahas masalah pertunangan kita?” Tanya perempuan di hadapan Kyuhyun hingga membuat mata Kyuhyun dan Yeon melebar.

“Yongra-ssi!” Bentak Kyuhyun.

Yeon tanpa sadar mencengkram berkas yang dibawanya. Tunangan? Kyuhyun akan bertunangan? Bagaimana bisa? Kyuhyun tidak mengatakan apapun padanya. Kenapa semuanya tiba-tiba menjadi seperti ini?

“Walaupun kau bilang kau tidak ingin menikah sekarang, tetapi ayahmu memaksa ayahku agar aku untuk tetap bertunangan terlebih dahulu denganmu, Kyuhyun-ssi.” Ucap Yongra.

Kyuhyun segera berdiri dan menatap Yeon dengan panik.

“Bisakah kau meninggalkan kami? Kami membutuhkan waktu untuk membicarakan pertunangan kami. Jika pekerjaan itu tidak mendesak–“

“Tutup mulutmu.” Hardik Kyuhyun.

“S–saya permisi.” Kata Yeon dan langsung meninggalkan ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun akan bertunangan. Ayah Kyuhyun ingin Kyuhyun segera menikah. Yeon tidak bisa membiarkannya. Tetapi Yeon tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika Kyuhyun menikah, maka balas dendam Yeon akan sia-sia.

Yeon kembali ke meja kerjanya dengan tergesa-gesa. Perasaannya terasa bercampur aduk. Dan Yeon yakin semua ini hanya karena Yeon takut balas dendamnya gagal. Tetapi setelah ia memikirkannya lagi, benarkah hanya karena itu?

Yeon merasakan perasaan lain seperti kesal dan cemburu. Bagaimana bisa Kyuhyun akan bertunangan di saat laki-laki itu bilang bahwa ia menyukainya? Ingin mengenalnya lebih jauh?

“Dimana berkasnya?” Tanya Manager Lee membuat Yeon terkesiap.

Yeon menatap berkas yang masih berada ditangannya. Namun tiba-tiba berkas itu diambil oleh Manager Lee. Manager Lee membukanya dan keningnya berkerut ketika tidak melihat tanda tangan Kyuhyun di sana.

“Kenapa–“

“Maaf, Manager Lee. Direktur Cho sedang ada tamu. C–calon tunangannya ada di sana.” Kata Yeon.

Mata Manager Lee melebar mendengar ucapan Yeon. Calon tunangan?

“Calon tunangan?!” Itu suara Eunsoo. Eunsoo segera menghampiri Yeon dengan pandangan terkejut.

“Calon tunangan apa maksudmu? Kyuhyun oppa tidak memiliki calon tunangan!” Ujar Eunsoo. Ia bahkan melupakan fakta bahwa dirinya harus memanggil Kyuhyun secara formal saat di kantor.

“Direktur Cho akan bertunangan?” Tanya Taehee ikut menimpali.

Yeon menatap mereka secara bergantian. Ia pun ingin mengetahuinya juga. Apakah benar laki-laki itu akan bertunangan atau tidak? Tetapi calon tunangan Kyuhyun mengatakan jika semua ini keinginan ayah Kyuhyun. Besar kemungkinan jika Kyuhyun tidak menginginkannya, kan?

Eunsoo tiba-tiba menarik Yeon menjauh dari yang lainnya. Yeon yang masih merasa bingung hanya bisa mengikuti kemana perempuan itu membawanya.

“Kyuhyun oppa tidak mungkin bertunangan. Dia menyukaimu!” Ujar Eunsoo dengan yakin.

“A–aku pikir ini keinginan ayahnya.” Gumam Yeon.

“Aish, Younghwan samchon.” Geram Eunsoo.

“Dia selalu memaksa Kyuhyun oppa melakukan apapun yang diinginkannya.” Gerutu Eunsoo.

“Aku akan bicara pada Kyuhyun oppa.”

“Tidak perlu, Eunsoo-ssi.”

“Aku tidak mau kau salah paham padanya.” Ucap Eunsoo.

“Aku dan Direktur Cho tidak memiliki hubungan apapun. Tidak akan ada kesalahpahaman.” Balas Yeon sembari tersenyum dan kemudian meninggalkan Eunsoo.

——

Yeon terkesiap saat melihat kehadiran Kyuhyun di depan rumahnya. Untung saja ia tidak pulang bersama Luke malam ini. Karena jika kedua laki-laki itu bertemu, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi.

Melihat Kyuhyun di depan rumahnya tidak terpikirkan oleh Yeon. Seharian ini Yeon sibuk berpikir tentang apa yang harus dilakukannya agar Kyuhyun tidak bertunangan. Yeon mungkin merasa marah dan merasa Kyuhyun berbohong padanya. Tetapi Yeon menekankan pada dirinya bahwa ini hanya balas dendam. Ia tidak boleh melibatkan perasaan.

Sedikitpun tidak boleh.

“Yeoni-ya..” Panggil Kyuhyun saat melihat Yeon mendekat.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yeon. Berusaha membuat suaranya terdengar datar.

“Aku ingin menjelaskan tentang apa yang terjadi tadi.” Jawab Kyuhyun sembari menambah jaraknya untuk mendekati Yeon.

“Tidak perlu ada yang dijelaskan. Aku mengerti. Semua orang kaya melakukannya. Menyakiti perasaan orang-orang miskin dan tidak berdaya.” Kata Yeon dengan tersenyum kecil.

Yeon berjalan melewati Kyuhyun untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun Kyuhyun dengan cepat menahannya.

“Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu, Yeon. Setelah itu kau bisa berpikir sesukamu.” Ujar Kyuhyun.

Yeon menatap Kyuhyun dalam diam. Sedangkan Kyuhyun menghela nafas panjang.

“Ayahku yang menginginkanku menikah dengan perempuan itu. Aku sedikit pun tidak menyukainya, Yeon. Aku sudah menolaknya, namun ayahku tampak tidak peduli. Alasan kenapa aku melarikan diri ke apartement saat itu adalah karena hal ini. Dia memaksaku menikah!” Jelas Kyuhyun.

Yeon dapat melihat wajah frustasi Kyuhyun. Sepertinya laki-laki itu benar-benar tidak menginginkan pertunangan apalagi pernikahan yang diinginkan ayahnya.

Yeon tentu saja tahu bahwa pria itu bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Bisa memaksakan kehendaknya kepada siapa saja. Namun Yeon tidak menyangka jika pria itu juga memaksakan kehendaknya kepada anaknya sendiri. Hingga membuat anaknya tampak begitu tersiksa.

Yeon tidak tahu bisa sebrengsek apalagi seorang Cho Younghwan.

“Aku tidak menginginkannya. Aku bersumpah aku tidak–” Yeon menghentikan ucapan Kyuhyun dengan menaruh telunjuknya pada bibir laki-laki itu.

“Aku tahu.” Bisik Yeon.

“Tidak, Yeon. Kau tidak tahu. Aku tidak mau membuatmu salah paham. Aku tidak mau kau berpikir jika aku salah satu orang kaya yang suka menyakiti perasaan orang lain. Aku tidak seperti itu, Yeon.” Ujar Kyuhyun.

“Aku menyukaimu, Yeon. Entah sejak kapan tetapi hanya kau perempuan yang ada di pikiran dan hatiku saat ini.” Lanjutnya.

“Kalau begitu katakan pada ayahmu.” Kata Yeon membuat mata Kyuhyun melebar.

“Bawa aku pada orangtuamu dan katakan bahwa aku adalah perempuan yang kau sukai.” Saran Yeon.

Genggaman Kyuhyun pada tangan Yeon sedikit mengendur saat mendengarkan saran perempuan itu. Tetapi Kyuhyun tetap tidak melepaskannya. Kyuhyun hanya merasa terkejut mendengar apa yang dikatakan Yeon.

Kyuhyun tentu saja sangat ingin mengenalkan Yeon pada orangtuanya. Sangat–sialan–ingin. Tetapi tidak untuk sekarang. Karena saat ini Younghwan menganggap bahwa Yeon hanyalah perempuan yang menginginkan hartanya.

Memperkenalkan Yeon pada Younghwan sekarang akan membuat pria itu semakin membenci Yeon. Dan akan semakin memaksa Kyuhyun untuk menikah dengan perempuan pilihannya.

Tetapi Yeon benar. Hanya ini satu-satunya cara agar Younghwan berhenti menjodohkannya dengan perempuan lain. Jika Younghwan melihat kesungguhan Kyuhyun, pria itu akan luluh dan mengikuti pilihannya, kan?

Kyuhyun benar-benar merasa sangat bingung saat ini.

“Ada apa? Apa aku salah bicara?” Tanya Yeon saat melihat Kyuhyun hanya diam saja.

Kyuhyun melepaskan tangan Yeon dan mengusap wajahnya dengan kasar.

“Baiklah, aku mengerti.” Kata Yeon membuat Kyuhyun menatapnya dengan bingung.

“Aku tahu bahwa perasaanmu padaku memang tidak sedalam itu. Seharusnya aku tidak mempercayai–“

“Tidak. Hentikan, Yeon.” Ujar Kyuhyun panik. Ia tidak ingin Yeon menganggapnya seorang pembohong.

Kyuhyun mengulurkan tangannya dan memegang kedua bahu Yeon. Memberikan remasan pelan di sana. Dan Yeon dapat merasakan kegelisahan yang dirasakan laki-laki itu. Ada sedikit rasa bersalah yang merayap di hati Yeon.

“Berikan waktu padaku, Yeon.” Pinta Kyuhyun.

“Bukan karena aku meragukan perasaanku sendiri. Selama ini aku tidak pernah membawa seorang perempuan pun pada mereka. Aku tidak ingin mereka berpikir jika aku hanya terlalu terburu-buru.” Jelas Kyuhyun.

Laki-laki itu menghela nafas panjang.

“Lagipula kau tidak pernah mengatakan padaku bagaimana perasaanmu padaku, Yeon. Terkadang kau mendorongku menjauh. Namun beberapa saat kemudian kau menarikku mendekat. Kau bahkan tidak mempercayai perasaanku sepenuhnya padamu. Bagaimana bisa aku mengajakmu bertemu orangtuaku, jika kau sendiri masih meragukanku?” Kyuhyun mengeluarkan semua yang dirasakannya selama ini.

“Apa kau menyukaiku?” Tanya Kyuhyun.

Yeon tidak membuka mulutnya dan hanya menatap Kyuhyun dengan kedua matanya yang berkedip pelan. Apa yang harus dikatakannya? Haruskah ia mengatakan bahwa ia menyukai Kyuhyun? Apa itu akan membuat Kyuhyun merasa tenang?

“Lihat. Kau bahkan tidak bisa menjawabnya.” Kata Kyuhyun dengan senyum yang dipaksakan pada wajahnya. Kyuhyun kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya.

“Jika nanti kau sudah mengetahui bagaimana perasaanmu, jika nanti kau sudah menyukaiku, kau bisa mengatakannya padaku. Saat itu aku akan membawamu pada orangtuaku. Aku akan mengenalkanmu sebagai perempuan yang aku sukai dan perempuan yang menyukaiku.” Ucap Kyuhyun.

Kyuhyun mengusap pipi Yeon yang tampak memerah karena hawa dingin.

“Masuklah. Di luar dingin.” Suruh Kyuhyun. Namun Yeon masih betah dalam kediamannya.

“Aku akan pulang sekarang. Selamat malam, Yeon.” Pamit Kyuhyun dan segera meninggalkan Yeon untuk masuk ke dalam mobilnya.

Yeon menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang. Kenapa mulutnya tidak mau terbuka dan mengatakan bahwa ia menyukai Kyuhyun? Seharusnya ia bisa mengatakannya sehingga Kyuhyun segera membawanya bertemu kedua orangtua laki-laki itu.

Tetapi kenapa Yeon merasa tidak sanggup untuk mengatakannya? Kenapa mulutnya seolah terkunci hingga membuatnya tidak bisa berbicara? Kenapa di sudut hati Yeon yang terdalam, ia tidak ingin Kyuhyun mendengarkan kalimat itu dalam sebuah kebohongan?

——

Eunsoo keluar dari lift sebuah hotel setelah menemui temannya yang tinggal di salah satu kamar di hotel tersebut. Karena dulu ia berkuliah di London, Eunsoo memiliki teman-teman yang berasal dari sana.

Dan sesekali teman-teman Eunsoo datang ke Seoul untuk bertemu dengannya sekaligus menikmati negara Korea Selatan tersebut. Dan Eunsoo akan menemani mereka ketika ia memiliki waktu luang.

Sekarang setelah ia merasa puas bercerita panjang lebar bersama temannya, Eunsoo memutuskan untuk pulang. Ia merasa lelah karena setelah bekerja harus datang ke hotel ini.

Namun langkah Eunsoo sedikit memelan saat melihat seorang laki-laki yang dikenalnya. Laki-laki yang menarik perhatiannya semenjak beberapa minggu yang lalu. Namun sayangnya laki-laki itu tidak sendiri. Ia bersama seorang perempuan di dalam rangkulannya.

Tidak tahu apa yang dipikirkannya, Eunsoo mendekati orang itu. Hingga membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya karena terkejut melihat kehadiran Eunsoo.

“Kang Eunsoo?” Suara laki-laki itu terdengar tidak percaya.

“Hai, Mr. Collins.” Sapa Eunsoo dengan senyum lebar.

Namun kemudian senyum Eunsoo menghilang saat melihat perempuan di samping Luke. Perempuan dengan penampilan yang berlebihan dan Eunsoo yakin banyak bagian tubuhnya yang dioperasi. Tetapi sepertinya Luke menyukai perempuan-perempuan seperti itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Eunsoo. Luke tertawa.

“Sejak kapan aku harus memberitahukan apa yang aku lakukan padamu?” Jawab Luke.

One night stand?” Tebak Eunsoo membuat tawa Luke menghilang.

“Aku pikir kita tidak sedekat itu untuk saling mencampuri urusan pribadi.” Ujar Luke dengan ketus. Kemudian Luke berjalan begitu saja melewati Eunsoo.

“Kita tidak dekat?” Tukas Eunsoo membuat Luke menghentikan langkahnya.

Eunsoo kembali berjalan dan berdiri di hadapan Luke.

“Bukankah kau pernah mengatakan padaku jika kau tidak menyukai perempuan yang mengoperasi dada dan pantat mereka?” Ucap Eunsoo membuat mata Luke melebar. Begitu pun perempuan di rangkulan Luke.

Damn it! What are you talking about?!” Umpat Luke.

“Kau bilang bahwa kau menyukai perempuan berdada kecil karena itu akan terlihat seksi. Tetapi kenapa kau sekarang bersama..” Eunsoo menatap perempuan di samping Luke dengan pandangan mencemooh.

Eunsoo tidak tahu apa yang dilakukannya. Yang ia tahu, ia tidak suka saat melihat Luke membawa perempuan itu ke salah satu kamar hotel. Eunsoo mengingat apa yang dikatakan Yeon padanya. Luke hanya tertarik pada sex.

“Kau bilang jika perempuan berdada besar membuatmu tidak bisa bernafas. Dan gairahmu akan menghilang begitu saja..” Lanjut Eunsoo.

“Benarkah kau berkata seperti itu?” Tanya perempuan di samping Luke.

“Tidak, honey. Dia–“

“Bukankah tadi kau memuji dadaku saat kita berada di club?” Sela perempuan itu.

“Jangan percaya pada ucapannya. Dia akan memuji perempuan manapun ketika tidak mendapatkan perempuan yang menarik perhatiannya.” Kata Eunsoo dengan tersenyum sinis.

“Ms. Kang!” Bentak Luke.

“Kenapa? Bukankah memang itu yang pernah kau katakan padaku? Kau tidak boleh menjilat ludahmu sendiri, Mr. Collins.” Ujar Eunsoo dan ia dapat mendengar Luke kembali mengumpat.

“Sial, apa kau memang sebrengsek itu?” Maki perempuan di samping Luke. Ia mendorong Luke menjauh darinya.

Honey, dengarkan aku.”

“Dasar laki-laki munafik. Kau seharusnya malu pada kejantananmu yang tidak pernah memilih-milih perempuan!” Maki perempuan itu dan kemudian segera berbalik untuk meninggalkan Luke.

“Tidak, honey. Tunggu. Jiyeon–bukan, Jihyun–sial, siapa namanya?!” Gerutu Luke.

Eunsoo tidak dapat menahan senyum kemenangan di wajahnya. Kenapa melihat Luke seperti ini terlihat sangat lucu?

“Tersenyum?” Geram Luke.

Eunsoo hanya mengangkat bahu dan berjalan melewati Luke. Setidaknya Luke tidak akan menghabiskan waktunya dengan seorang perempuan malam ini. Dan Eunsoo merasa puas.

Eunsoo memekik pelan saat tiba-tiba saja ada yang menggenggam pergelangan tangannya dan menarik tubuhnya hingga menabrak sebuah dada bidang. Eunsoo benar-benar tidak percaya bahwa wajahnya dan Luke sangat dekat saat ini.

“Apa yang kau–“

“Setelah membuat teman ranjangku pergi, tidakkah kau berpikir untuk menggantikannya?” Ujar Luke dengan sebuah seringai hingga membuat mata Eunsoo melebar sempurna.

——

Yeon menatap wajah Luke yang tampak murung. Laki-laki itu tiba-tiba saja datang ke rumahnya malam-malam seperti ini. Tanpa mengatakan apa-apa dia masuk ke dalam rumah Yeon dan duduk di sofa dengan wajah mengkhawatirkan.

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Yeon.

“Ada apa dengan teman kerjamu itu, baby?” Gusar Luke.

Yeon mencoba memutar otaknya untuk memahami maksud ucapan Luke.

“Kang Eunsoo?”

“Apa mungkin aku bermasalah dengan Park Taehee?” Sindir Luke. Karena hanya dua teman kerja Yeon yang dikenal olehnya. Cho Kyuhyun tidak termasuk di dalamnya.

“Kenapa dengan Kang Eunsoo?” Tanya Yeon.

“Dia membuat teman sex–ku meninggalkanku!” Jawab Luke dengan geram.

“Apa?!” Yeon benar-benar terkejut.

“B–bagaimana bisa?”

“Aku bertemu dengannya di salah satu hotel. Lalu dia mengatakan omong kosong dan membuat perempuanku pergi. Sial!” Umpat Luke.

“Tunggu.” Sela Yeon.

“Apa maksudmu? Bagaimana bisa dia membuat teman perempuanmu pergi? Apa yang dilakukannya?” Yeon terlihat tidak mengerti.

“Apa aku pernah mengatakan padamu bahwa aku menyukai perempuan berdada kecil?” Tanya Luke. Yeon tersedak oleh ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan Luke.

“Ya, Luke Collins!” Bentak Yeon.

“Lihat! Aku tidak pernah mengatakannya padamu. Kau bahkan terkejut saat aku mengatakannya. Tetapi Kang Eunsoo..” Luke tampak tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

“Kau menyukai Eunsoo karena dia berdada kecil?” Tanya Yeon yang tidak mengerti. Dan Luke hampir saja menghadiahi perempuan itu sebuah pukulan dikepalanya.

“Sial! Bisakah kau sedikit bekerja sama denganku?! Aku benar-benar butuh teman bicara saat ini, baby!” Gerutu Luke. Yeon menghela nafas.

“Baik, maafkan aku. Bisakah kau mengatakannya dengan lebih jelas?” Pinta Yeon. Luke ikut menghela nafas.

“Kang Eunsoo bersikap seolah-olah bahwa dia mengenalku dengan baik. Dia mengatakan hal-hal yang bertolak belakang dengan perempuan yang aku bawa untuk menemaniku malam ini. Lalu perempuan itu marah dan meninggalkanku. Perempuan itu bahkan membandingkanku dengan kejantananku. Sial. Aku dan kejantananku adalah satu kesatuan. Kami tidak bisa dibandingkan!” Jelas Luke dengan kesal.

“Dan kau gusar hanya karena itu?” Tanya Yeon.

“Tentu saja bukan itu.” Jawab Luke.

“Lalu?”

“Aku meminta Kang Eunsoo untuk menggantikan teman perempuanku yang pergi.” Ucap Luke.

“Luke, kau gila!” Desis Yeon.

“Tidak segila Kang Eunsoo yang menamparku!” Balas Luke sembari mengusap pipinya yang masih terasa perih.

Yeon terdiam sebentar sembari mencerna ucapan Luke. Jadi, Eunsoo menampar Luke karena Luke memintanya untuk menemani laki-laki itu di atas tempat tidur?

Yeon tiba-tiba tertawa dengan kencang hingga membuat Luke menatapnya dengan wajah masam. Luke tahu bahwa Yeon akan menertawainya. Selama ini  tidak ada perempuan yang menamparnya saat Luke mengajaknya ke tempat tidur. Eunsoo yang pertama.

“Yah, aku sudah katakan padamu bahwa Eunsoo orang yang baik, kan? Dia tidak akan mau naik ke atas tempat tidur bersamamu.” Kata Yeon dengan geli.

“Tetapi kau bilang dia menyukaiku!” Sungut Luke.

“Suka bukan berarti bersedia untuk telanjang dihadapanmu, Luke. Kau seharusnya mengerti itu.” Ucap Yeon.

Yeon masih mempertahankan senyum geli pada wajahnya. Setidaknya Eunsoo menyadarkan Luke bahwa tidak semua perempuan berpikiran tentang sex.

“Kau tampak begitu terpukul. Apa kau mulai menyukainya?” Tuduh Yeon.

“Aku tidak menyukainya!” Bantah Luke. Namun kemudian sebuah seringai licik tampak di wajahnya.

“Tetapi aku mulai tertarik untuk membawanya ke atas tempat tidurku.” Ucapnya.

“Kau mungkin akan mendapatkan tamparan di pipi yang lain.” Sahut Yeon membuat Luke mendelik tajam padanya.

“Jun sudah pergi bekerja?” Tanya Luke kemudian.

“Sudah.” Jawab Yeon. Yeon menyandarkan punggungnya dan menghela nafas.

“Umm, Luke.” Panggil Yeon.

“Ya?”

“Aku pikir aku harus pergi ke rumah Cho Younghwan.”

What? Wait, what?! Are you crazy?!

“Apa yang akan kau lakukan di sana?”

“Aku harus menemukan bukti atas apa yang dilakukannya pada orangtuaku, Luke.” Kata Yeon.

“Bagaimana caramu menemukannya? Kau tidak akan menemukan apapun, baby. Pria itu orang yang licik!” Ujar Luke.

“Pasti ada sesuatu, Luke.” Yeon terlihat yakin.

“Tidak ada apapun di sana, baby. Oh my god! Apa kau lupa pria seperti apa Cho Younghwan itu? Dia bahkan membuat catatan medis palsu untuk menghindari hukumannya!” Geram Luke.

Yeon terdiam. Ia tahu tentang hal itu. Dan Yeon juga sangat tahu orang seperti apa Cho Younghwan. Dia pria terkejam di dunia menurut, Yeon. Mungkin menurut Luke juga.

“Luke, bukankah kau sekarang sudah memiliki posisi yang cukup tinggi di rumah sakit?” Tanya Yeon. Luke mengangguk ragu.

“Bisakah kau mendapatkan catatan medisnya, Luke? Dia pergi ke rumah sakit tempatmu bekerja saat itu.” Ujar Yeon.

I can’t, baby.” Tolak Luke langsung. Wajah Yeon tampak kecewa.

“Aku bisa di pecat jika melakukannya. Kau tahu bahwa catatan medis pasien bersifat rahasia.” Kata Luke.

“Aku harus mengumpulkan bukti.” Gumam Yeon dengan sedih.

Luke mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak suka melihat Yeon terlihat sedih seperti ini.

“Aku yakin ada sesuatu di rumahnya. Aku harus ke sana dan menemukan sesuatu.” Tekad Yeon.

Baby, please..

“Cho Younghwan memiliki hutang pada ayahku. Aku harus menemukan bukti itu.” Ucap Yeon.

Luke menghela nafas panjang. Ia tidak boleh membiarkan Yeon bekerja seorang diri. Ia sudah berjanji bahwa ia akan selalu membantu Yeon di saat perempuan itu membutuhkannya.

“Aku akan mendapatkan catatan medis Cho Younghwan.” Kata Luke membuat Yeon menatapnya dengan terkejut.

“Luke..” Yeon merasa sangat terharu.

“Aku tidak bisa memaafkan seseorang yang sudah membuat senyum bahagia diwajahmu hilang.” Ujar Luke.

Yeon merasa matanya kabur oleh airmata. Ia langsung memeluk Luke dengan erat dan menyembunyikan isak tangis yang hendak keluar. Yeon selalu merasa bersyukur karena memiliki Luke di dalam hidupnya.

“Aku mencintaimu, Luke.”

“Aku juga, baby.”

——

Kyuhyun mengubah posisinya menjadi duduk saat melihat Hanna memasuki kamarnya. Wanita itu tersenyum padanya sebelum akhirnya menghampirinya dan duduk di atas tempat tidurnya.

“Ada apa, eommoni?” Tanya Kyuhyun.

“Kenapa kau belum tidur?” Tanya Hanna balik.

“Aku belum mengantuk.” Jawab Kyuhyun.

“Kenapa wajahmu selalu terlihat sedih?” Ujar Kyuhyun sembari mengusap pipi Hanna.

“Kau dan ayahmu saling mendiamkan. Bagaimana bisa aku tidak terlihat sedih?” Ucap Hanna.

Kyuhyun menghela nafas.

“Bukan aku yang menginginkannya, eommoni. Aku tidak suka saat dia memaksakan kehendaknya padaku.” Kata Kyuhyun.

“Tidak bisakah kau menikah saja dengan perempuan pilihan ayahmu?” Tanya Hanna. Kyuhyun menatap Hanna dengan kecewa.

“Apa kau juga akan memaksaku melakukan hal yang tidak kusukai, eommoni?”

“Bukan itu maksudku, sayang. Kau tidak memiliki kekasih. Kau mungkin tidak mencintai perempuan pilihan ayahmu, tetapi cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu.” Jelas Hanna.

“Aku tidak akan pernah mencintainya, eommoni.” Kata Kyuhyun.

“Kenapa kau mengatakan sesuatu yang belum kau ketahui, Kyuhyun-ah?”

“Karena aku menyukai perempuan lain, eommoni.” Tukas Kyuhyun membuat mata Hanna melebar.

“A–apa?”

“Ada seorang perempuan yang menarik perhatianku, eommoni. Aku menyukainya. Sangat menyukainya.” Kata Kyuhyun dengan tersenyum.

“Kau serius?” Wajah Hanna tampak senang. Kyuhyun mengangguk.

“Dia pegawai baru di kantor, eommoni.” Ujar Kyuhyun.

“Siapa namanya? Berapa usianya?” Tanya Hanna antusias.

“Namanya Jung Yeon. Usianya 24 tahun. Dia pekerja keras, eommoni. Sejak sekolah ia sudah bekerja untuk membiayai kehidupannya dan adiknya.” Jawab Kyuhyun.

“Anak yang malang.” Ucap Hanna. Kyuhyun tampak terkejut.

“Apa kau tidak masalah dengan itu, eommoni?” Tanya Kyuhyun.

“Apa maksudmu?”

“Dia tidak berasal dari keluarga kaya seperti kita.” Ujar Kyuhyun.

Hanna tersenyum dan menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya yang mulai keriput.

“Aku tidak masalah dengan itu. Kau memiliki uang yang berlebih untuk menghidupinya jika kalian menikah nanti. Lagipula yang terpenting untukku adalah perasaanmu.” Kata Hanna.

Kyuhyun tersenyum dengan lebar. Sesuai yang ia duga, Hanna selalu mendukungnya. Hanna selalu berada di pihaknya. Kyuhyun menjadi sedikit lebih tenang. Setidaknya Hanna menerima Yeon. Kyuhyun hanya perlu meyakinkan Younghwan setelah ini.

“Terima kasih, eommoni.”

“Cepatlah bawa dia untuk menemuiku dan ayahmu. Siapa tahu dengan begitu, ayahmu akan membiarkan kau menikah dengan perempuan pilihanmu.” Saran Hanna.

“Aku tidak terlalu yakin, eommoni.” Ucap Kyuhyun dengan wajah sendu.

“Abeoji menyuruh orang untuk memata-mataiku. Dan ia juga sudah mengetahui tentang Jung Yeon. Dan dia menunduh perempuan itu hanya menginginkan harta kita.” Jelas Kyuhyun.

“Mungkin semua itu hanya karena dia belum pernah bertemu dengan perempuan itu. Siapa tahu ayahmu akan berubah setelah bertemu dengannya.” Komentar Hanna.

“Lalu, bagaimana bisa kau tampak menerimanya begitu saja, eommoni? Kau juga belum bertemu dengannya.” Tanya Kyuhyun. Hanna tersenyum.

“Aku yakin dia perempuan yang baik. Karena perempuan itu sudah membuatmu jatuh cinta dan tersenyum seperti ini.” Jawab Hanna.

Kyuhyun menundukkan wajahnya yang tampak memerah karena malu. Ia tidak membantah jawaban Hanna. Karena Kyuhyun sepertinya memang telah jatuh cinta pada Yeon dan ingin memiliki perempuan itu.

——

“Jadi, ada masalah apa antara kau dan Luke?” Tanya Yeon saat melihat wajah Eunsoo yang tampak murung. Sama persis seperti wajah Luke kemarin.

“Jangan bertanya sesuatu yang sudah kau ketahui.” Sungut Eunsoo sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Yeon tersenyum geli.

“Aku ucapkan selamat padamu. Kau satu-satunya yang tidak tertarik untuk tidur dengannya dan berani menamparnya.” Kata Yeon. Eunsoo mendengus.

“Kau tidak tahu betapa besar usahaku untuk menolaknya.” Gumamnya.

“Dia benar-benar laki-laki brengsek! Tapi aku..tapi aku..” Wajah Eunsoo terlihat sendu.

“Aku sudah katakan padamu dari awal jika Luke laki-laki seperti itu. Kau seharusnya tidak menyukainya.” Saran Yeon. Wajah Eunsoo semakin terlihat masam. Jika bisa, ia pun tidak akan menyukai laki-laki brengsek seperti Luke Collins.

“Apa kau tidak pernah menyukainya?” Tanya Eunsoo penasaran. Yeon langsung menggeleng.

“Dasar tidak normal. Bagaimana bisa kau tidak menyukai laki-laki tampan seperti dia?” Gerutu Eunsoo membuat Yeon tertawa.

“Lalu, apa kau menyukai Kyuhyun oppa?” Tanya Eunsoo membuat tawa Yeon menghilang. Yeon terlihat salah tingkah mendapat pertanyaan dari Eunsoo.

“Aku harus kembali bekerja.” Ujar Yeon membuat Eunsoo menahan lengannya.

“Aku menceritakan semua yang aku rasakan pada Luke kepadamu. Tidak bisakah kau melakukan hal yang sama? Percayalah bahwa aku mendukungmu, Yeon-ssi. Aku senang saat mengetahui Kyuhyun oppa menyukaimu.”

Yeon melihat kesungguhan dan ketulusan di mata Eunsoo. Ia merasa terharu saat melihatnya. Yeon hanya tidak terbiasa mengatakan perasaannya kepada orang lain, selain Luke. Tetapi, Eunsoo akan kecewa jika Yeon tidak mengatakan apapun.

“Aku senang saat Kyuhyun oppa mengatakan jika dia menyukaimu. Karena selama ini Kyuhyun oppa selalu sibuk bekerja dan sesekali tidur dengan perempuan di sebuah hotel. Aku pikir itulah yang membuat Younghwan samchon ingin menjodohkannya.” Kata Eunsoo.

“Tetapi jika samchon tahu bahwa Kyuhyun oppa sudah memiliki perempuan pilihannya, pasti perjodohan itu dibatalkan.” Lanjut Eunsoo.

“Kenapa kau setuju jika Direktur Cho menyukaiku? Kita belum terlalu lama saling mengenal, Eunsoo-ssi.”

“Apa kau percaya jika aku pandai menilai sifat dan karakteristik seseorang? Aku bisa melihat jika kau orang yang baik.” Ucap Eunsoo.

Tidak. Kau salah. Saat kau tahu apa yang aku lakukan pada Cho Kyuhyun, kau akan membenciku.

“Jadi, kau menyukainya, kan?” Tanya Eunsoo lagi.

“Aku–“

“Hentikan.”

Yeon dan Eunsoo sama-sama terkejut saat mendengar sebuah suara menyela pembicaraan mereka. Keduanya langsung menoleh dan menemukan Kyuhyun yang berdiri di dekat mereka.

“Jangan ikut campur masalah kami, Nona Kang.” Ujar Kyuhyun. Eunsoo mengerucutkan bibirnya.

“Aku hanya penasaran.” Gumam Eunsoo.

“Bagaimana pun perasaannya padaku, aku harus menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Bukan kau.” Kata Kyuhyun.

“Aku yang pertama mengenalnya.” Dengus Eunsoo membuat Kyuhyun tertawa.

“Yah, kau tidak lupa jika aku yang mewawancarainya, kan? Maaf, Kang Eunsoo. Tapi aku yang pertama.” Balas Kyuhyun

Yeon tidak dapat menahan senyumnya saat melihat Kyuhyun dan Eunsoo berdebat. Mereka benar-benar terlihat seperti saudara yang selalu beda pendapat.

“Sial.” Umpat Eunsoo dan pergi meninggalkan mereka.

Kyuhyun tersenyum dan kemudian menatap Yeon yang masih tersenyum.

“Bagaimana dengan makan siang bersama?” Tanya Kyuhyun.

“Di kantin?” Ucap Yeon ragu. Kyuhyun menggeleng.

“Tidak di kantor.”

Yeon tampak merasa lega. Ia tidak mampu menolak ajakan Kyuhyun. Tetapi jika mereka makan siang bersama di kantin kantor, itu bukanlah hal baik. Untunglah Kyuhyun sudah memikirkannya jika mereka tidak harus melakukannya di kantor.

“Aku akan pergi ke parkiran lebih dulu. Aku akan menunggumu di sana.” Kata Kyuhyun dan segera meninggalkan Yeon.

Yeon merasa terharu karena Kyuhyun masih memikirkan keinginannya untuk tidak menunjukkan kedekatan mereka di kantor. Sejujurnya Kyuhyun bisa melakukan apapun, karena dia adalah pemilik kantor ini. Tetapi Kyuhyun menghargainya.

Yeon mengambil tasnya dan segera menyusul Kyuhyun. Seharusnya Yeon mengajak Eunsoo dan mereka bisa makan siang bersama Kyuhyun juga. Tetapi sudut hati Yeon ingin menghabiskan waktu berdua saja bersama Kyuhyun.

Saat sampai di tempat parkir, Kyuhyun sudah berada di dalam mobil. Yeon berlari kecil untuk segera masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt.

“Kau tidak perlu berlari. Apa kau begitu merindukanku?” Goda Kyuhyun. Yeon menatapnya dengan kesal.

Kyuhyun tertawa dan menjalankan mobilnya.

“Aku hanya tidak ingin kau menunggu lama dan mengomeliku.” Kata Yeon beralasan.

“Apa aku suka mengomel?” Tanya Kyuhyun.

“Oh, kau tidak tahu itu? Seharusnya kau tahu karena itu adalah kebiasaan utamamu.” Jawab Yeon mengejek.

“Kau menyebalkan.”

“Tapi kau menyukaiku.” Sahut Yeon tanpa sadar.

Tiba-tiba suasana di dalam mobil menjadi sunyi. Saat itulah Yeon menyadari apa yang baru saja diucapkannya. Ia menggigiti bibir bawahnya. Kenapa dia bersikap sangat percaya diri seperti itu? Benar-benar memalukan.

“Benar. Aku menyukaimu.” Ujar Kyuhyun dengan pelan.

Merasa tidak ada tanggapan, Kyuhyun melirik sekilas pada Yeon.

“Sial! Jangan gigit bibirmu! Berapa kali harus kukatakan?!” Bentak Kyuhyun.

Yeon tersentak oleh bentakan Kyuhyun.

“Kenapa aku tidak boleh menggigiti bibirku sendiri?! Ini bibirku! Aku berhak melakukan apapun pada bibirku!” Balas Yeon membentak.

Yeon menjadi kesal karena Kyuhyun terus melarangnya menggigiti bibirnya sendiri. Ia sudah terbiasa melakukannya saat sedang gugup. Dan Kyuhyun tidak berhak melarangnya melakukan apapun.

Tiba-tiba saja Kyuhyun membanting stir dan menginjak rem dengan kencang. Membuat ban mobil berdecit keras. Tubuh Yeon terlempar ke depan jika saja Kyuhyun tidak memposisikan tangannya di depan dada Yeon.

“Apa kau gila–“

Kyuhyun menyatukan bibirnya dengan Yeon dan melumatnya dengan sedikit kasar. Ia menggigit bibir bawah Yeon yang sebelumnya digigit oleh perempuan itu. Yeon benar-benar merasa terkejut dengan perlakuan Kyuhyun.

Ciuman Kyuhyun menjadi lebih pelan. Sebelum benar-benar melepaskan bibir Yeon, Kyuhyun mengigit bibir bawah Yeon dan menariknya hingga membuat Yeon memekik. Yeon menatap Kyuhyun dengan kesal.

“Bibir ini bukan hanya milikmu. Bibir ini juga milikku!” Ucap Kyuhyun penuh penekanan.

“Dan aku tidak mengizinkanmu untuk menggigitnya. Hanya aku yang boleh melakukannya.” Tukas Kyuhyun.

“Sejak kapan–“

“Aku akan melakukannya lagi jika kau mengeluarkan kalimat bantahan.” Ancam Kyuhyun membuat Yeon menutup mulutnya.

Kyuhyun menatap bibir Yeon dan memastikan tidak ada luka akibat apa yang dilakukannya barusan. Setidaknya ia masih bisa mengontrol nafsunya yang benar-benar ingin memakan bibir merona Yeon.

“Jadi, tetap ingin melanjutkan makan siang atau..”

“Ya!!” Jerit Yeon saat melihat Kyuhyun mengerling padanya.

Kyuhyun tertawa senang dan kembali menjalankan mobilnya. Yeon mendengus saat melihat laki-laki itu menertawainya. Namun tiba-tiba Yeon tertegun saat merasakan tangan Kyuhyun meraih tangannya dan menggenggamnya.

Yeon menatap tangannya dan tangan Kyuhyun yang saling terkait. Rasanya sangat hangat. Dan rasa kesal Yeon karena Kyuhyun menggodanya pun menghilang entah kemana. Tangan Kyuhyun seolah sangat pas saat melingkupi tangannya.

“Jangan marah jika aku selalu membuatmu kesal.” Ujar Kyuhyun. Yeon menaikkan pandangannya pada wajah Kyuhyun.

“Aku melakukan semua itu agar kau tidak memandangku dengan tatapan terluka. Aku tidak tahu apa yang pernah aku lakukan padamu hingga kau tampak begitu terluka, Yeoni-ya. Dan kau juga sepertinya tidak akan pernah mengatakannya padaku.”

“Tetapi aku berjanji bahwa suatu saat tatapan terluka itu akan menghilang. Dan kau hanya akan menatapku dengan penuh cinta.” Janji Kyuhyun sembari mengeratkan genggaman tangannya.

Dan Yeon hanya bisa terpaku saat mendengar kata-kata Kyuhyun, dengan jantung yang berdetak sangat cepat.

——

Selama ini hanya Luke yang akan membawanya makan di restaurant yang mahal dan mewah. Tetapi sekarang ada Kyuhyun yang juga dengan senang hati mengajaknya makan di tempat yang jauh dari kata murah.

Kyuhyun menggenggam tangannya saat mereka masuk ke dalam restaurant tersebut. Seorang pelayan menghampiri mereka dan berbicara pada Kyuhyun. Kemudian pelayan itu menuntun mereka untuk mendapatkan tempat duduk. Mereka mendapat tempat yang lebih tertutup.

“Kenapa kita tidak memilih tempat di dekat jendela? Kita bisa melihat apapun dari sana.” Kata Yeon setelah duduk di hadapan Kyuhyun.

“Aku lebih suka tempat yang tertutup. Agar aku bisa melakukan apapun padamu.” Komentar Kyuhyun. Mata Yeon memicing.

“Memangnya apa yang ingin kau lakukan padaku? Apa kau selalu mengajak perempuan makan di tempat-tempat tertutup seperti ini?” Tuduh Yeon.

“Aku tidak pernah membawa mereka makan, jika kau ingin tahu. Aku lebih senang membawa mereka ke atas tempat tidur.” Ujar Kyuhyun.

“Tempat tidur di apartementmu?”

“Bukan. Tempat tidur di hotel. Aku perempuan pertama yang aku bawa ke apartementku.”

Yeon tampak tidak mempercayai ucapan Kyuhyun. Namun Kyuhyun tampaknya tidak ingin memaksa Yeon agar percaya padanya.

“Lagipula apa kau pikir mereka suka makan? Bahkan tubuh kurus mereka sudah dianggap sangat gemuk.” Kyuhyun memutar bola matanya tidak percaya. Dan Yeon tidak dapat menahan senyum diwajahnya.

“Bagaimana denganku? Aku gemuk atau kurus?” Tanya Yeon.

“Aku tidak tahu apa itu gemuk dan kurus. Yang aku tahu, kau sangat–sialan–seksi.” Jawab Kyuhyun membuat wajah Yeon terasa menghangat.

“Dan kau ingin tahu apa yang bisa aku lakukan di tempat seperti ini?” Tanya Kyuhyun. Yeon mengangguk ragu.

Kyuhyun berdiri dan mencondongkan badannya. Salah satu tangannya bertumpu pada meja dan tangan yang lain memegang dagu Yeon agar wajahnya mendongak ke atas. Dan Kyuhyun memberikan kecupan pelan pada bibir Yeon.

“Itu yang bisa aku lakukan.” Bisik Kyuhyun dan kembali duduk.

“Hanya itu saja?” Komentar Yeon.

“Kau menantangku?”

“Aku bercanda.” Kata Yeon.

Tentu saja Yeon tidak berani menantang Kyuhyun. Kyuhyun bisa melakukan apapun tanpa kenal malu. Yeon tidak mau menanggung rasa malu atas apa yang bisa dilakukan oleh Kyuhyun nantinya.

“Kau takut?” Ejek Kyuhyun. Yeon mendengus.

“Tunggu sebentar.” Kata Kyuhyun saat merasakan ponselnya bergetar.

Yeon menopang dagu dengan tangannya dan menatap Kyuhyun yang tampak sibuk dengan ponselnya. Apakah Yeon pernah mengatakan jika Kyuhyun sangat tampan? Dahi, mata, hidung, dan bibirnya benar-benar sempurna.

Tetapi Yeon paling senang dengan bibir tebal laki-laki itu. Bibir yang selalu menciumnya dan membuat Yeon melupakan segalanya. Bibir itu juga sudah menyentuh seluruh tubuhnya malam itu.

“Berhenti menatapku.” Ucap Kyuhyun dengan mata masih tertuju pada ponselnya.

Yeon mengabaikan ucapan Kyuhyun dan masih terus menatapnya. Setelah Kyuhyun melarang Yeon menggigiti bibirnya, sekarang Kyuhyun melarang mata Yeon untuk menatapnya? Yang benar saja! Yeon bebas melakukan apapun pada anggota tubuhnya.

Kyuhyun memasukkan ponselnya dan membalas tatapan Yeon. Perempuan itu tampak tidak terganggu setelah Kyuhyun membalas tatapannya. Biasanya Yeon akan merasa malu jika Kyuhyun menatapnya.

“Teruslah menatapku seperti itu, aku akan melupakan makan siang kita dan kita tidak akan kembali ke kantor.” Ujar Kyuhyun.

“Kemana kita akan pergi?” Tanya Yeon.

“Tempat tidurku.” Jawab Kyuhyun.

“Penawaran yang baik.” Kata Yeon membuat Kyuhyun langsung berdiri.

“Tetapi aku menolak.” Lanjut Yeon sembari menjulurkan lidahnya.

Kyuhyun tertawa dan kembali duduk. Merasa lucu karena Yeon baru saja mempermainkannya. Bukannya merasa kesal, Kyuhyun justru merasa senang karena Yeon mengajaknya bercanda. Kyuhyun menyukai semua hal-hal kecil yang dilakukan Yeon padanya.

“Saat itu aku lengah. Aku tidak akan mau di bawa ke tempat tidurmu lagi.” Ucap Yeon. Kyuhyun menyeringai.

“Benar. Aku juga tidak mau membawamu ke tempat tidurku lagi.” Sahut Kyuhyun membuat Yeon terkejut.

Kyuhyun sudah bosan dengannya?

“Tetapi kau yang akan membawaku ke tempat tidurmu.” Kata Kyuhyun dengan yakin.

Yeon sempat terperangah mendengar ucapan Kyuhyun. Namun kemudian ia tertawa hingga membuat Kyuhyun menatapnya dengan bingung.

“Bagaimana bisa kau bersikap begitu percaya diri?” Tanya Yeon.

“Kau menganggapku begitu?”

“Baiklah, bagaimana jika kita bertaruh?” Tantang Kyuhyun. Yeon menaikkan sebelah alisnya.

“Jika aku berhasil membuatmu membawaku ke atas tempat tidurmu kurang dari seminggu, kau harus mengabulkan satu permintaanku. Tetapi jika sebaliknya, kau bisa meminta apapun padaku.” Jelas Kyuhyun.

Yeon tampak memikirkan tantangan Kyuhyun. Tidak tahu kenapa, Yeon merasa bahwa ia akan kalah. Ia tidak bisa melawan pesona Kyuhyun. Tetapi Yeon tidak mungkin mengakuinya dihadapan Kyuhyun, kan?

“Aku setuju!” Kata Yeon dan Kyuhyun kembali menyeringai.

“Baiklah, Nona Jung. Aku pikir kau harus menyiapkan tempat tidurmu dengan baik.” Komentar Kyuhyun.

“Karena kita akan berada di sana dalam waktu dekat.” Bisik Kyuhyun sebelum akhirnya makan siang mereka tiba.

——

Kyuhyun, asisten pribadi Kyuhyun, serta seluruh tim produksi berkumpul di ruang rapat setelah makan siang. Mereka kembali berkumpul untuk membahas perkembangan aplikasi baru yang hendak mereka luncurkan.

Tidak ada presentasi saat ini. Kyuhyun meminta tim produksi untuk membuat tiga kelompok kecil dengan setiap kelompok berisi dua orang. Kemudian Kyuhyun memberikan mereka masing-masing pekerjaan yang berbeda. Semua itu agar mereka dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.

Namun Kyuhyun sedikit menyesal saat ini. Ia harus menahan dirinya agar tidak mendorong Park Taehee agar menjauh dari Jung Yeon. Awalnya Kyuhyun berpikir jika Yeon agar berkelompok bersama Eunsoo. Tetapi perempuan itu justru bersama dengan Taehee.

Dan mereka terlihat sangat dekat. Membuat Kyuhyun sangat kesal melihatnya. Kepala Yeon dan Taehee bahkan terlihat hampir menempel. Dan Kyuhyun tidak bisa mengalihkan tatapannya dari kedua orang itu.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk Yeon.

To: Jung Yeon

Jauhkan kepalamu dari kepala Park Taehee. Sebelum aku menghancurkan kepala laki-laki itu!

SEND

Kyuhyun membolak-balikkan ponselnya sembari menunggu Yeon membaca dan membalas pesannya. Ia melihat Yeon mengeluarkan ponselnya dari saku blazer perempuan itu. Dan Kyuhyun melihat mata Yeon melebar setelah membaca pesannya.

Kyuhyun menyeringai ketika Yeon menatapnya dengan pandangan protes. Kemudian ia melihat Yeon mengetikkan sesuatu di ponselnya. Beberapa saat kemudian ponsel Kyuhyun menyala.

From: Jung Yeon

Maaf. Tetapi aku merasa nyaman saat berdekatan dengannya.

Sial! Kyuhyun tanpa sadar mencengkram ponselnya sembari menatap Yeon. Dan ia melihat Yeon menjulurkan lidahnya untuk mengejeknya.

To: Jung Yeon

Menjauhlah darinya, Jung Yeon! Aku tidak suka melihatnya!

SEND

From: Jung Yeon

Aku sedang bekerja, Cho Kyuhyun! Bersikaplah profesional!

Kyuhyun menghela nafas.

To: Jung Yeon

Aku tahu. Tetapi buatlah jarak di antara kalian. Kedekatanmu dengannya bisa membuat siapa saja salah paham.

SEND

From: Jung Yeon

Hanya dirimu yang salah paham.

Sial!

To: Jung Yeon

Apa kau ingin aku mengatakan pada semua orang tentang hubungan kita?

SEND

Kyuhyun kembali menyeringai membayangkan wajah kesal Yeon saat membaca pesannya.

From: Jung Yeon

Katakan saja. Dan bersiaplah untuk tidak melihatku di kantormu lagi.

Mata Kyuhyun melebar. Sial. Apa Yeon baru saja mengancamnya? Tidak boleh seperti ini. Kyuhyun–lah yang seharusnya mengintimidasi perempuan itu. Bukan sebaliknya.

“Hari ini cukup sampai disini.” Kata Kyuhyun tiba-tiba.

Semua yang ada di sana menghentikan pekerjaan mereka dan memusatkan perhatian mereka pada Kyuhyun.

“Lanjutkan pekerjaan kalian di meja kalian masing-masing. Dan aku ingin laporannya besok pagi.” Perintah Kyuhyun.

“Baik, direktur.” Sahut beberapa dari mereka.

“Kalian bisa pergi.” Kata Kyuhyun.

Semuanya langsung berdiri dan berbondong-bondong untuk keluar dari ruang rapat. Saat melihat Yeon hendak meninggalkan ruang rapat, Kyuhyun memanggilnya hingga membuat Yeon berbalik menatapnya.

“Kemari. Aku memiliki pekerjaan untukmu.” Ucap Kyuhyun.

“Kau bisa meninggalkan kami, Sekretaris Han.” Suruh Kyuhyun pada asistennya.

“Baik, direktur.” Sahut Sekretaris Han dan segera meninggalkan ruang rapat.

Kyuhyun berdiri dan duduk di ujung meja rapat. Ia menatap Yeon yang berjalan menghampirinya dengan wajah menantang. Ia benar-benar ingin memberikan pelajaran pada perempuan itu karena sudah berani mengancamnya.

“Pekerjaan apa yang harus saya lakukan, direktur?” Tanya Yeon setelah berdiri di depan Kyuhyun.

“Apa maksud pesanmu tadi, huh? Kau mengancamku?”

“Kau lebih dulu mengancamku.” Sahut Yeon.

“Karena kau tidak mau menjauhkan kepalamu dari kepala Park Taehee! Kalian terlihat seperti akan berciuman.” Komentar Kyuhyun.

“Benar. Dan kau mengacaukannya.” Balas Yeon membuat mata Kyuhyun melebar.

“Kau!” Kyuhyun berdiri dan melotot pada Yeon. Namun Yeon tampak tidak takut sama sekali.

“Tarik kata-katamu!” Perintah Kyuhyun.

“Tidak.” Tolak Yeon.

“Tarik kata-katamu jika tidak aku akan membuat kita berdua telanjang di ruang rapat ini!” Ancam Kyuhyun.

“Kau tidak akan berani melakukannya, Cho Kyuhyun.” Ejek Yeon.

Kyuhyun menarik blazer Yeon agar perempuan itu mendekat padanya. Dan dada mereka saling menempel saat ini. Kyuhyun berusaha melepaskan blazer Yeon dan Yeon berusaha untuk melepaskan dirinya dari Kyuhyun.

“Diam, Jung Yeon! Aku akan membuktikan bahwa aku berani melakukannya!” Ujar Kyuhyun.

Yeon menepis tangan Kyuhyun yang hendak melepaskan kancing kemejanya. Dan kemudian entah mendapatkan ide darimana, Yeon menginjak kaki Kyuhyun menggunakan hak tinggi dari sepatunya hingga membuat Kyuhyun menjerit kesakitan.

Yeon segera menjauh dari Kyuhyun dan tampak tidak peduli saat melihat wajah kesakitan laki-laki itu. Ia membenarkan pakaiannya yang tampak berantakan oleh Kyuhyun. Sial. Ternyata beberapa kancing kemejanya sudah terbuka dan memperlihatkan bra yang dipakainya.

“Jika kau ingin telanjang, telanjanglah seorang diri, Direktur Cho Kyuhyun!” Tukas Yeon dan segera berlari meninggalkan ruang rapat.

“YA, JUNG YEON!!” Teriak Kyuhyun kesal.

——

–To Be Continued–

HAI! Thanks yang udah setia menunggu dan setia berkomentar.

Happy reading~

BYE~

Advertisements

103 thoughts on “Love, Hurt, and Revenge – Part 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s