Love, Hurt, and Revenge – Part 3

Author

Choineke

Title

Love, Hurt, and Revenge

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC), Cho Younghwan (Kyuhyun’s Father), Kim Hanna (Kyuhyun’s Mother), Jung Jun (Yeon’s Brother–OC), and others

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–I’m trapped in my own revenge–

——

Author POV

Kyuhyun menatap ponselnya sembari tersenyum. Menyenangkan rasanya menggoda Jung Yeon. Kyuhyun tidak pernah seperti ini sebelumnya. Menggoda seorang perempuan bukanlah kesukaannya.

Kyuhyun lebih senang membawa mereka ke tempat tidur dan mendengar mereka mendesah, daripada melihat wajah mereka bersungut-sungut kesal padanya. Tetapi saat ini, Kyuhyun senang melihat Yeon merasa kesal padanya.

Kyuhyun melakukannya karena ia tidak ingin melihat tatapan terluka Yeon padanya. Ia benar-benar merasa tidak nyaman saat melihatnya. Kyuhyun merasa bahwa ia melakukan sebuah kesalahan hingga membuat Yeon membencinya.

Karena itu melihat wajah kesal dan marah Yeon lebih baik menurut Kyuhyun. Lagipula perempuan itu terlihat lebih cantik jika dia sedang melotot padanya. Membayangkannya membuat Kyuhyun kembali tersenyum.

Kyuhyun memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan menuju ke meja sekretarisnya. Ia berharap tidak ada pertemuan penting hari ini. Karena Kyuhyun sedang ingin bersantai.

“Bagaimana dengan jadwalku hari ini?” Tanya Kyuhyun.

“Hari ini tidak ada pertemuan penting, direktur.” Jawab sekretarisnya. Kyuhyun bernafas lega.

“Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu.” Ucap Kyuhyun.

“Presdir menitipkan pesan kepada Anda, direktur. Ini tentang ulang tahunmu pada hari Minggu nanti.”

Kyuhyun mengerang.

“Presdir meminta Anda untuk menentukan pesta seperti apa yang Anda inginkan.”

Kyuhyun bukanlah seorang remaja yang harus merayakan hari ulang tahun. Tetapi Younghwan selalu memaksanya untuk mengadakan pesta setiap tahunnya. Dan jika Kyuhyun menolak, makan Younghwan akan menentukan sendiri pesta seperti apa yang akan diadakannya.

Karena hal itu, setiap tahunnya Kyuhyun harus memikirkan jenis pesta seperti apa yang disukainya. Kyuhyun hanya akan berada di pesta itu selama dua jam sebelum akhirnya dia meninggalkan tempat pesta. Membiarkan para tamu undangan menghabiskan malam mereka tanpa kehadirannya.

“Aku akan memikirkannya nanti.” Ujar Kyuhyun dan langsung masuk ke dalam ruangannya.

——

Yeon tidak bisa melepaskan matanya dari sebuah pesan yang dikirimkan Kyuhyun. Walaupun Yeon tidak mengenal nomornya, tetapi ia yakin bahwa itu memang Kyuhyun. Isi pesan itulah yang membuat Yeon merasa yakin.

Tetapi setelah mengetahui bahwa Kyuhyun benar-benar berpacaran dengan Eunsoo, Yeon merasa tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Yeon berharap bahwa Kyuhyun hanya bercanda. Hanya saja semua keraguan Yeon selama ini terbukti bahwa mereka memang berkencan.

Yeon menghela nafas panjang. Apakah lebih baik jika ia meminta Luke untuk mendekati Eunsoo? Sepertinya Eunsoo tertarik pada Luke. Tetapi bagaimana jika akhirnya Eunsoo benar-benar menyukai Luke, sedangkan Luke tidak menyukainya?

Yeon menggeleng. Ia tidak bisa melakukannya. Itu terlalu kejam untuk Eunsoo. Lagipula Eunsoo selalu bersikap baik padanya. Yeon tidak mungkin menyakitinya.

Namun nampaknya Kyuhyun tidak memiliki pemikiran seperti Yeon. Laki-laki itu tampak tidak memiliki hati dan menduakan Eunsoo dengan tertarik padanya. Seharusnya Yeon mencegah Kyuhyun melakukan itu. Tetapi Yeon merasa hanya ini satu-satunya untuk menjalin hubungan dengan Kyuhyun.

Pada akhirnya Yeon dan Kyuhyun akan sama-sama menyakiti Eunsoo. Yeon kembali menghela nafas. Seharusnya ia tahu bahwa rencana balas dendam ini tidak hanya akan melibatkan keluarga Kyuhyun. Tetapi Yeon tidak bisa mundur lagi.

“Yeon-ssi..”

“Ya?” Yeon segera membalik ponselnya dan mencari orang yang memanggilnya.

“Kau melamun. Ada apa?” Tanya Taehee.

“Ah, hanya ada beberapa masalah.” Jawab Yeon sembari tersenyum.

“Tidak sedang memikirkan Penyihir Lee, kan?” Bisik Taehee membuat Yeon tertawa pelan.

“Bahkan jika aku laki-laki, aku tidak mau memikirkannya.” Balas Yeon berbisik.

“Apa yang sedang kalian lakukan?!” Tanya Manager Lee membuat Yeon dan Taehee tersentak.

Keduanya segera menjauh dan menatap Manager Lee dengan gugup. Berharap jika wanita itu tidak mendengarkan apa yang mereka katakan tadi.

“Ini adalah jam bekerja. Bukan untuk menggosip.” Tukas Manager Lee sembari menatap Yeon dengan tajam.

Yeon menundukkan kepalanya. Bukankah seharusnya ia dan Taehee yang disalahkan? Tetapi Manager Lee hanya terpaku pada dirinya. Benar-benar menyebalkan.

“Ini pekerjaan untukmu, Yeon-ssi.”

Manager Lee menaruh beberapa box file di atas meja Yeon. Yeon menatap box file yang terdiri dari berbagai warna tersebut. Ia yakin pekerjaan yang diberikan oleh Manager Lee tidaklah mudah.

“Urutkan berdasarkan abjad. Dan aku ingin semuanya selesai sore ini. Jika sore ini tidak selesai, aku pikir kau harus lembur hari ini, Yeon-ssi.” Kata Manager Lee membuat mata Yeon melebar.

“Tetapi ini banyak sekali, manager.” Ujar Taehee.

“Aku tidak meminta pendapatmu, Taehee-ssi. Kau selesaikan saja pekerjaanmu.” Ucap Manager Lee.

“Apa aku boleh membantunya?” Tanya Raebin tiba-tiba yang sudah berdiri di belakang Yeon.

Yeon menoleh dan terkejut melihat kehadiran Raebin. Sejak kapan laki-laki itu ada di sana? Seingat Yeon, Raebin berada di mejanya beberapa saat yang lalu.

“Aku pikir kau memiliki pekerjaan sendiri, Raebin-ssi. Bukan begitu?”

“Aku akan mengerjakannya.” Kata Yeon akhirnya.

Yeon tidak ingin teman-temannya mendapatkan kemarahan Manager Lee karena dirinya.

“Bagus. Kau memang harus mengerjakannya.” Sahut Manager Lee dan segera meninggalkan mereka.

Yeon menatap wajah Taehee yang terlihat menyesal. Ia tahu bahwa Taehee sangat ingin membantunya. Tetapi Taehee tidak berani membantah Manager Lee.

“Aku tidak apa-apa. Aku pikir ini bukan pekerjaan yang sulit. Terima kasih atas keinginan kalian yang ingin membantuku.” Ucap Yeon sembari menatap Taehee dan Raebin bergantian.

Raebin mengangguk dan segera kembali ke mejanya. Yeon menghela nafas panjang dan kembali menatap box file. Yeon bahkan tidak tau berapa banyak file di dalam satu box. Dan ia harus mengurutkan semuanya sebelum sore ini jika tidak ingin bekerja lembur.

“Semangat!” Ucap Taehee sembari menepuk bahunya.

——

Kyuhyun mengerang saat mengetahui bahwa ada file penting yang tertinggal dikantornya. Padahal sebelum pulang ke rumah, ia sudah mengingatkan dirinya untuk membawa file itu, agar ia bisa menyelesaikannya di rumah. Tetapi karena kecerobohannya, ia lupa membawanya.

Kyuhyun menatap jam yang terpasang di dinding kamarnya. Sudah pukul setengah sembilan malam. Ia terlalu malas untuk kembali ke kantor. Tetapi Kyuhyun harus melakukannya karena file itu harus siap besok pagi.

Akhirnya dengan berat hati Kyuhyun mengambil kunci mobil, keluar dari kamar dan rumahnya sebelum akhirnya memasuki mobilnya. Beberapa kali ia merutuki kecerobohannya selama di dalam perjalanan.

Empat puluh lima menit kemudian, Kyuhyun sampai di kantor yang dalam keadaan sepi. Tentu saja. Kyuhyun yakin semua pegawainya sudah pulang ke rumah dengan selamat.

Seorang petugas keamanan yang memang sedang bertugas pada malam itu menghampiri mobil Kyuhyun dan membukakan pintu mobilnya. Ia cukup terkejut melihat kedatangan Kyuhyun ke kantor malam-malam seperti ini.

“Selamat malam, direktur.” Sapa petugas keamanan itu.

“Ya, selamat malam. Biarkan mobilku disini sebentar. Aku hanya ingin mengambil sesuatu di ruanganku.” Ujar Kyuhyun.

“Baik, direktur.”

Kyuhyun masuk ke dalam kantor dengan penerangan seadanya. Menaiki lift yang menyala dalam waktu 24 jam dan sampai di ruangannya beberapa menit kemudian. Kyuhyun langsung mencari file penting yang dibutuhkannya.

“Kau benar-benar menyusahkanku.” Gerutu Kyuhyun pada file tersebut.

Meninggalkan ruangannya, Kyuhyun kembali masuk ke dalam lift dan menekan angka 1. Namun tiba-tiba lift berhenti saat di lantai 8. Kyuhyun cukup terkejut saat mengetahui masih ada orang lain di kantor ini selain dirinya.

Saat pintu lift terbuka, keterkejutan Kyuhyun semakin menjadi saat melihat sosok Jung Yeon di sana. Lengkap dengan wajah lelahnya yang sedang menguap.

“Kau!” Pekik Kyuhyun.

Mata Yeon langsung terbuka dengan lebar saat mendengar pekikan Kyuhyun. Ia benar-benar terkejut melihat Kyuhyun berada di dalam lift. Ia berpikir jika yang berada di dalam lift adalah petugas keamanan yang sedang memeriksa kantor.

“Direktur..” Gumam Yeon.

Kyuhyun langsung keluar dari lift dan membiarkan pintu lift menutup. Ia benar-benar tidak percaya bisa menemukan Yeon di kantor pada malam hari seperti ini.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Kyuhyun.

Yeon menatap Kyuhyun. Tidak ada wajah menggoda maupun jenaka di wajah Kyuhyun saat ini. Wajah Kyuhyun terlihat sangat serius hingga membuat Yeon menjadi tidak nyaman.

“S–saya bekerja.” Jawab Yeon. Apalagi yang dilakukan di kantor selain bekerja?

“Sial! Maksudku di jam seperti ini!”

Yeon menatap mejanya yang masih dalam keadaan terang saat ini.

“Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Ucap Yeon.

“Semalam ini? Seingatku kau masih seorang pegawai baru, Nona Jung. Pekerjaan apa yang membuat seorang pegawai baru harus lembur?!”

“Umm–“

“Dan apa pekerjaanmu sudah selesai sekarang? Kau akan pulang ke rumah?” Tanya Kyuhyun. Yeon menggeleng hingga membuat Kyuhyun menggeram.

“Saya ingin ke bawah untuk membuat kopi.” Lirih Yeon.

Kyuhyun meninggalkan Yeon dan berjalan menuju meja kerja perempuan itu. Yeon mengikutinya dari belakang masih dengan perasaan tidak nyaman. Kenapa Kyuhyun terlihat kesal? Bukankah lembur merupakan hal biasa?

“Pekerjaan apa yang kau lakukan?” Tanya Kyuhyun.

“Manager Lee meminta saya mengurutkan file-file ini berdasarkan abjad.” Jawab Yeon.

“Dengar..” Ujar Kyuhyun membuat Yeon mendongak untuk menatapnya.

“Aku tidak melarangmu untuk lembur jika pekerjaan itu memang mendesak. Tetapi aku pikir mengurutkan file seperti ini bukanlah suatu hal yang mendesak!”

“Manager Lee meminta saya untuk menyelesaikannya hari ini juga. Dan saya pikir itu cukup mendesak untuknya. Lagipula saya belum memiliki banyak pekerjaan, direktur. Saya pikir tidak masalah jika saya menyelesaikannya.” Jelas Yeon.

Yeon tidak ingin Kyuhyun memarahi Manager Lee karena membuatnya lembur. Karena Yeon yakin jika itu sampai terjadi, maka Manager Lee akan memarahinya. Membayangkannya saja membuat Yeon merasa ngeri.

Kyuhyun mematikan lampu di meja kerja Yeon. Kemudian mengambil tas serta ponsel perempuan itu dan memberikan padannya. Yeon terlihat bingung dengan apa yang Kyuhyun lakukan.

“D–direktur.”

“Kau harus pulang. Aku akan mengantarmu pulang.”

“Pekerjaan saya belum selesai.”

“Sekarang, Jung Yeon-ssi.” Tegas Kyuhyun.

Mata Yeon melebar saat mendengar Kyuhyun menyembut namanya.

“Aku bebas memanggil namamu, kan? Aku pikir jam kerja sudah berakhir.” Kata Kyuhyun sembari berjalan lebih dulu dari Yeon.

Yeon masih terpaku dan memikirkan suara Kyuhyun saat memanggil namanya tadi. Kenapa terdengar sangat menyenangkan ditelinganya?

“Yeon-ssi..” Panggil Kyuhyun lagi.

“Ya?”

“Apa yang kau tunggu?”

“T–tidak ada, direktur.”

Yeon segera menyusul Kyuhyun dan mereka masuk ke dalam lift bersama-sama. Dan sekarang Yeon merasa sangat gugup berada di dalam lift berdua saja bersama Kyuhyun. Ia mengingat saat laki-laki itu menggenggam tangannya tadi pagi.

Saat sampai di bawah, Yeon membiarkan Kyuhyun berjalan lebih dulu. Rasanya tidak nyaman jika harus berjalan di samping laki-laki itu.

Yeon tersentak saat melihat Kyuhyun membukakan pintu mobil untuknya.

“Masuk.” Ucap Kyuhyun.

“Direktur, saya bisa pulang sendiri. Anda tidak perlu mengantar saya pulang.” Kata Yeon membuat Kyuhyun melotot padanya.

“S–saya bisa naik taksi.” Kata Yeon lagi sembari membungkuk pada Kyuhyun dan berjalan meninggalkan laki-laki itu.

“Kau bisa pulang naik taksi jika tidak ingin bekerja lagi mulai besok.” Suara Kyuhyun menghentikan langkah Yeon.

Yeon berbalik dan menatap Kyuhyun dengan mata melebar. Kyuhyun akan memecatnya hanya karena dia ingin pulang naik taksi?

“Direktur..”

“Naik sekarang, Yeon-ssi.” Perintah Kyuhyun.

Merasa tidak memiliki pilihan, akhirnya Yeon masuk ke dalam mobil Kyuhyun. Setelah Kyuhyun duduk di balik kemudi dan menanyakan alamat Yeon, mobil laki-laki itu segera berjalan meninggalkan kantor.

“Kau sudah makan?” Tanya Kyuhyun.

Yeon mengangguk. Walaupun hanya semangkuk ramyeon, itu tetap sebuah makanan, kan?

Kyuhyun mendengus saat melihat Yeon hanya menganggukkan kepalanya. Padahal ia ingin mendengar suara perempuan itu lebih banyak.

“Kau mendapatkan pesanku tadi pagi, kan?” Tanya Kyuhyun.

Yeon menatap Kyuhyun dengan mata melebar. Apa mereka harus membahasnya sekarang?

“Kenapa kau tidak membalasnya?” Tanya Kyuhyun lagi.

“Saya merasa tidak pantas membalas pesan seorang direktur. Lagipula, bukankah apa yang Anda lakukan tadi pagi cukup keterlaluan? Bagaimana bisa Anda melakukan itu pada kekasih Anda?” Ucap Yeon dengan kesal.

“Memangnya apa yang aku lakukan?” Kyuhyun terlihat berpura-pura tidak tahu.

“Anda memegang tangan saya di saat Eunsoo-ssi juga berada di sana. Bagaimana jika dia melihatnya? Dia pasti akan sangat terluka, direktur.”

Kyuhyun menahan dirinya untuk tidak tertawa. Melihat Yeon menggerutu seperti itu membuat Kyuhyun merasa senang dan terhibur.

“Bukankah dia juga melakukan hal yang sama? Dia membicarakan laki-laki lain dihadapanku.” Komentar Kyuhyun.

“Itulah yang membuat saya merasa bingung. Bagaimana bisa kalian melakukan hal itu?” Gumam Yeon.

Lidah Kyuhyun terasa gatal karena ingin menjelaskan semuanya pada Yeon. Perempuan itu salah paham dengan hubungannya dan Kang Eunsoo. Namun Kyuhyun membiarkan Yeon mempercayai apa yang ada dipikirannya untuk sementara waktu.

Sampai waktunya tiba, Kyuhyun akan menjelaskan semuanya pada perempuan itu.

“Tetapi kenapa kau sangat peduli pada hubungan kami?” Tanya Kyuhyun.

Yeon menatap Kyuhyun. Kami? Bukan Kyuhyun dan Eunsoo, tetapi kami. Yeon menundukkan kepalanya dan tersenyum kecil. Bahkan cara Kyuhyun menyebut dirinya dan Eunsoo pun terdengar mesra.

Bukankah itu berarti hubungan mereka memang sangat dekat? Sudah berapa lama mereka berhubungan? Dan kenapa Yeon merasa sangat penasaran akan hal itu?

“Berapa lama Anda dan Eunsoo sudah berhubungan?” Tanya Yeon tanpa memperdulikan pertanyaan Kyuhyun.

“Apa kau sangat penasaran hingga mengabaikan pertanyaanku?” Cibir Kyuhyun. Yeon hanya diam saja karena ia memang sangat penasaran.

“Berapa lama kami berhubungan? Apa kau percaya jika aku mengatakan sejak kami lahir kami sudah memiliki hubungan?” Ucap Kyuhyun.

Mata Yeon melebar. Apakah maksud ucapan Kyuhyun mereka sudah dijodohkan sejak lahir? Karena itulah mereka mempunyai hubungan sejak itu?

Dan bagaimana bisa Yeon menghancurkan hubungan itu? Bagaimana bisa Kyuhyun berpaling padanya? Kyuhyun bahkan belum mengenalnya selama satu bulan. Tetapi Kyuhyun mampu berpaling dari perempuan yang dikenalnya sejak lahir.

Apa itu masuk akal? Namun itulah yang terjadi. Yeon tau bahwa Kyuhyun tidak main-main saat mengatakan jika laki-laki itu tertarik padanya. Kenapa Yeon merasa semuanya menjadi rumit?

“Kenapa kau diam saja? Kau tidak percaya ucapanku?” Tanya Kyuhyun.

“Saya percaya atau tidak, tidak ada pengaruhnya untuk Anda, direktur.” Jawab Yeon.

“Bisakah kau menghilangkan panggilan formal itu? Kita tidak sedang berada di kantor.” Ujar Kyuhyun. Yeon hanya diam saja dan tidak berniat menanggapi ucapan Kyuhyun.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan rumah Yeon. Tidak sampai benar-benar di depan rumahnya, karena Yeon tidak ingin Jun menyadari keberadaan Kyuhyun.

Tapi walaupun begitu, Yeon masih bisa melihat kehadiran Luke di depan rumahnya. Laki-laki itu duduk di atas tangga yang berada di halaman rumah Yeon. Sedang apa dia di sana? Dan kenapa Luke tidak menghubunginya?

“Siapa dia?” Tanya Kyuhyun yang juga menyadari kehadiran Luke.

Yeon menatap Kyuhyun.

“Dia Luke Collins–“

“Percayalah bahwa aku tidak ingin mengetahui namanya.” Sela Kyuhyun.

“Aku hanya ingin mengetahui hubungan apa yang kalian miliki.” Lanjut Kyuhyun.

“Dia temanku.” Jawab Yeon.

“Hanya teman, kan? Benar-benar teman?” Tanya Kyuhyun memastikan. Yeon mengangguk.

“Baguslah.” Ucap Kyuhyun. Tidak berusaha menutupi rasa lega yang dirasakannya.

“Masuklah.” Kata Kyuhyun.

Yeon hendak membuka pintu mobil, namun Kyuhyun menghentikannya saat mengingat sesuatu.

“Hari Minggu ini akan diadakan pesta ulang tahunku.” Kata Kyuhyun.

“Apa?”

“Aku yakin bahwa besok kau juga akan mendengarnya dari pegawai yang lainnya. Tetapi aku ingin kau mendengarnya dari mulutku.” Jelas Kyuhyun.

Yeon hanya diam saja sembari menatap Kyuhyun.

“Pestanya akan diadakan di Hotel Pearl. Dan aku ingin kau datang. Tidak, kau harus datang.”

“Tapi–“

“Ini perintah untukmu, Yeon-ssi. Aku ingin kau datang ke pesta ulang tahunku.” Tegas Kyuhyun.

“Sekarang, masuklah ke rumahmu.” Ujar Kyuhyun. Yeon menatap Kyuhyun sembari menghela nafas panjang.

“Terima kasih karena sudah mengantarkanku pulang, direktur.” Kata Yeon sebelum keluar dari mobil Kyuhyun.

Setelah mobil Kyuhyun pergi, Yeon menghampiri Luke yang sepertinya belum menyadari kepulangannya.

“Luke.” Panggil Yeon.

Baby!” Wajah Luke terlihat lega. Luke segera berdiri dan mendekati Yeon.

“Kau darimana saja? Kenapa baru pulang? Dan kenapa ponselmu tidak aktif?” Tanya Luke beruntun.

“Aku lembur, Luke. Dan ponselku..” Yeon mengeluarkan ponselnya dan baru menyadari bahwa baterainya kosong.

“Maaf, ponselku mati.” Sesal Yeon. Luke menghela nafas panjang.

“Kau seharusnya mengabariku jika memang pulang terlambat. Aku dan Jun sangat mencemaskanmu.” Ucap Luke.

“Maaf. Aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir. Dimana Jun?”

“Dia sudah pergi bekerja. Aku sudah berjanji akan mengabarinya jika kau pulang. Apa kau pulang sendiri?”

“Umm, Cho Kyuhyun mengantarkanku pulang.” Kata Yeon.

Really? Bagaimana bisa?” Tanya Luke.

“Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di kantor. Tetapi dia menemukanku dan kemudian mengantarkanku pulang.” Jawab Yeon menjelaskan.

Wow. It’s too fast. Aku pikir rencanamu benar-benar lancar.”

“Dan dia memintaku untuk datang ke pesta ulang tahunnya, Luke.”

“Lalu kenapa kau terlihat gusar, baby?” Tanya Luke.

“Dia mengakui bahwa dia memiliki kekasih, Luke. Apakah semuanya akan baik-baik saja? Aku tidak ingin Eunsoo terluka.” Jawab Yeon.

Luke menghela nafas dan memegang kedua bahu Yeon. Yeon menatap Luke sembari menggigit bibir bawahnya.

“Bukankah kau bilang dia tertarik padamu? Dia yang mendekatimu lebih dulu, baby. Kau lihat, dia bahkan mengundangmu ke pesta ulang tahunnya secara pribadi. Kau tidak perlu merasa bersalah.” Jelas Luke.

“Benarkah? Bisakah aku seperti itu?”

“Tentu saja. Jangan pikirkan apapun selain balas dendammu. Mengerti?

Yeon mengangguk.

“Aku lega karena kau sudah sampai di rumah. Sekarang aku akan pulang.” Kata Luke.

“Terima kasih, Luke. Dan hati-hati di jalan.”

With my pleasure, baby.

——

Yeon tahu bahwa pagi ini ia harus menghadapi wajah murka Manager Lee. Pekerjaannya tidak selesai, sudah pasti Manager Lee akan marah padanya. Tetapi Yeon benar-benar belum siap menghadapi kemarahan wanita itu.

“Apa ini?!” Bentak Manager Lee.

Yeon menundukkan kepalanya dihadapan Manager Lee. Ia tidak berani untuk menatap wajah wanita itu. Yeon menyadari keberadaan teman-temannya di sana dan mereka terlihat merasa kasihan padanya.

“Aku memberikanmu pekerjaan sederhana dan kau tidak menyelesaikannya?!” Bentak Manager Lee lagi.

“Maaf–“

“Aku tidak membutuhkan maafmu! Aku ingin kau menyelesaikan pekerjaanmu!” Tukas Manager Lee.

“Bukankah sudah kubilang jika kau tidak boleh pulang jika pekerjaanmu belum selesai?!”

Yeon tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan jika Kyuhyun yang memaksanya pulang, kan? Karena jika Yeon mengatakannya, maka Manager Lee akan semakin marah.

Tetapi apa yang harus Yeon lakukan sekarang? Apa yang harus ia katakan untuk membela dirinya? Yeon menahan dirinya untuk tidak menangis. Ia tidak ingin terlihat lemah. Tetapi dimarahi oleh Manager Lee setiap hari benar-benar membuatnya kesal.

“Kenapa kau pulang?!” Tanya Manager Lee.

Yeon masih diam saja dengan kepalanya yang menunduk semakin dalam.

“Jawab aku, Jung Yeon-ssi!”

“Saya–“

“Aku yang menyuruhnya.”

Yeon segera menoleh saat mendengar suara Kyuhyun. Laki-laki itu sedang berjalan menghampiri mereka dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celananya.

Seluruh anggota tim produksi berkumpul dan membungkuk untuk menyapa Kyuhyun. Namun Kyuhyun tampak tidak memperdulikan itu. Ia sibuk menatap wajah Yeon yang tampak pucat dengan mata memerah.

“Direktur Cho.” Ucap Manager Lee sembari tersenyum kaku.

Kyuhyun menatap Manager Lee.

“Aku yang menyuruhnya pulang semalam.” Ulang Kyuhyun membuat mata Manager Lee melebar.

“A–apa maksud Anda?”

“Apa yang kau pikirkan dengan membiarkan pegawai baru, seorang perempuan, bekerja seorang diri di malam hari, Manager Lee?” Tanya Kyuhyun.

“Dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, direktur.” Jawab Manager Lee.

“Pekerjaan apa? Menyusun file sesuai abjad? Apakah pekerjaan itu mendesak? Apakah kau harus menyuruhnya lembur untuk sebuah pekerjaan yang bisa dikerjakan kapan saja?!” Bentak Kyuhyun hingga membuat semuanya terlonjak karena terkejut.

Yeon tanpa sadar meneteskan airmata yang sedari tadi ditahannya. Mendengar Kyuhyun marah karena membelanya entah kenapa membuat Yeon merasa terharu. Walaupun Yeon tidak menginginkan semua ini terjadi, tetapi di sudut hatinya ia ingin seseorang membelanya.

“Apakah kau selalu memperlakukan pegawai baru seperti ini?! Kau menindasnya karena kau seorang manager? Karena kau seorang senior?!”

“B–bukan seperti itu, direktur.” Manager Lee terlihat ketakutan akibat bentakan Kyuhyun tadi.

“Aku ingatkan kepadamu bahwa kantorku bukanlah sebuah universitas. Kau tidak bisa memperlakukan juniormu sesuka hatimu dan berpikir bahwa mereka tidak akan pernah bisa melawan. Ini peringatan untukmu, Manager Lee. Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi.” Tegas Kyuhyun.

“Maafkan saya, direktur.”

“Aku ingin kau membimbingnya. Aku ingin kau membuat seluruh anggota tim produksi menjadi pandai, karena itulah kami mempercayakanmu menjadi seorang manager. Kau mengerti?” Kemarahan Kyuhyun tampak mereda.

“Saya mengerti, direktur. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Ucap Manager Lee tanpa berani menatap Kyuhyun.

Kyuhyun kembali menatap Yeon yang terus menundukkan kepalanya. Ia dapat melihat perempuan itu meremas kesepuluh jarinya hingga memerah. Dan apa ia salah melihat? Kyuhyun melihat ada air yang menetes ke jari-jarinya? Air apa? Sial. Apa Yeon menangis?

“Kau ikut aku, Nona Jung.” Perintah Kyuhyun dan langsung berbalik meninggalkan tim produksi.

Yeon terkejut saat mendengarkan perintah Kyuhyun. Ia langsung menyeka airmatanya dan melihat punggung Kyuhyun semakin menjauh.

“Manager, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak–“

“Sudahlah.” Sela Manager Lee masih dengan wajah setengah pucat.

“Pergilah. Direktur Cho memanggilmu.” Kata Manager Lee kemudian dan meninggalkan mereka untuk ke ruangannya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Eunsoo sembari mengusap bahu Yeon.

“Aku baik-baik saja.” Jawab Yeon sembari memaksakan senyumnya.

“Pergilah. Direktur memintamu mengikutinya.” Kata Taehee.

Yeon mengangguk dan segera menyusul Kyuhyun yang menunggunya di depan lift. Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa selama mereka di dalam lift. Ketika mereka tiba di lantai di mana ruangan Kyuhyun berada pun, Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa.

Yeon hanya terus mengikuti Kyuhyun hingga laki-laki itu masuk ke dalam ruangannya. Apa Kyuhyun akan memarahinya? Apa kemarahan Kyuhyun di bawah tadi hanya sandiwara?

“Apa tadi kau menangis?” Tanya Kyuhyun.

“Apa?”

“Jika kau ingin menangis. Menangislah disini. Aku akan menemanimu.” Kata Kyuhyun.

Bagaimana bisa Kyuhyun menyadari dirinya menangis?

“Saya tidak akan melakukannya, direktur.” Tolak Yeon.

“Terima kasih karena Anda sudah membantu saya tadi. Tetapi saya harap Anda tidak melakukannya lagi. Saya tidak ingin Manager Lee semakin membenci saya.” Ucap Yeon.

Saat melihat wajah Kyuhyun tampak terkejut, Yeon menyadari bahwa ia sudah kelepasan bicara.

“Manager Lee semakin membencimu? Apa maksudmu? Kenapa dia membencimu?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Saya permisi, direktur.” Yeon mencoba menghindari pertanyaan Kyuhyun dengan berniat meninggalkan ruangan laki-laki itu.

Namun Kyuhyun tidak membiarkannya. Kyuhyun menggenggam pergelangan tangan Yeon dengan erat hingga perempuan itu tidak bisa kemana-mana.

“Direktur..” Yeon berusaha melepaskan tangan Kyuhyun.

“Jawab pertanyaanku, Nona Jung. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menjawabnya.” Tukas Kyuhyun.

“B–bagaimana jika ada yang masuk?” Ucap Yeon panik.

“Percayalah bahwa aku tidak peduli.” Sahut Kyuhyun.

“Kau tahu bahwa aku bisa melakukan lebih dari ini untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanku.” Suara Kyuhyun terdengar rendah.

“S–saya akan menjawabnya. Tetapi lepaskan dulu tangan saya.” Pinta Yeon.

Kyuhyun mengikuti permintaan Yeon. Tetapi tetap waspada jika perempuan itu berniat kembali kabur darinya.

“Sekarang katakan.” Suruh Kyuhyun.

Yeon menghela nafas panjang sebelum memutuskan untuk berbicara.

“Saya tidak mengerti kenapa Manager Lee selalu bersikap kasar pada saya. Seolah semua yang saya lakukan tidak ada satu pun yang benar. Dia selalu membentak saya setiap berbicara dengan saya. Saya hanya berpikir jika Manager Lee membenci saya. Karena itulah saya takut apa yang Anda lakukan tadi, bisa membuatnya semakin membenci saya.” Jelas Yeon.

“Maksudmu, Manager Lee melakukan ini semenjak kau pertama kali bekerja disini?” Tanya Kyuhyun.

“Ya, direktur.” Jawab Yeon pelan.

Kyuhyun tiba-tiba berjalan cepat untuk keluar dari ruangannya. Melihat itu membuat Yeon panik dan langsung menahannya. Yeon bahkan tidak peduli dengan ketidaksopanannya yang menarik jas Kyuhyun.

“Anda mau kemana, direktur?” Tanya Yeon.

“Aku akan memecat Manager Lee.” Jawab Kyuhyun dengan wajah kesal.

“T–tidak, direktur. Jangan melakukannya. Saya mohon jangan melakukannya.” Pinta Yeon.

“Saya hanya ingin bekerja dengan tenang disini. Saya tidak ingin kehadiran saya disini justru membuat orang lain kehilangan pekerjaannya. Mungkin saja apa yang saya kerjakan selama ini tidak sesuai dengan keinginan Manager Lee.” Ucap Yeon. Cengkramannya pada jas Kyuhyun semakin kencang.

Kyuhyun melihat wajah Yeon yang tampak panik namun bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Seharusnya Yeon mendukung Kyuhyun untuk memecat Manager Lee. Tetapi dia masih membela wanita itu.

“Baiklah, aku tidak akan memecatnya.” Putus Kyuhyun dan membuat Yeon lega.

“Tetapi kau harus memberitahuku jika Manager Lee masih melakukan ini untuk ke depannya.” Pinta Kyuhyun. Yeon tidak langsung menyetujuinya.

“Ketahuilah bahwa aku memiliki seorang mata-mata yang bisa melakukannya untukku bahkan jika kau tidak mau memberitahukannya.” Ucap Kyuhyun.

Yeon langsung bisa menebak siapa mata-mata yang dimaksud Kyuhyun. Tentu saja Kang Eunsoo.

“Saya akan melakukannya.” Gumam Yeon.

Yeon kemudian tersadar dengan apa yang dilakukannya. Ia langsung melepaskan jas Kyuhyun yang terlihat kusut akibat perbuatannya. Ia merasa bersalah namun ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuatnya rapi kembali.

“Kenapa melepasnya? Aku suka kau melakukannya.” Kata Kyuhyun dan kembali menaruh tangan Yeon di atas jasnya.

Yeon menarik tangannya dan menatap Kyuhyun dengan mata membulat. Laki-laki itu sedang menggodanya saat ini. Bagaimana perasaan Kyuhyun berubah secepat ini? Baru saja ia marah karena perbuatan Manager Lee, sekarang ia melupakan kemarahannya dan menggoda Yeon.

“Saya permisi, direktur.” Pamit Yeon dan segera meninggalkan ruangan Kyuhyun.

Dan Yeon dapat mendengarkan tawa senang Kyuhyun dari dalam sana.

——

“Kau baik-baik saja, kan?” Tanya Eunsoo saat Yeon sudah kembali.

“Direktur Cho tidak memarahimu, kan?” Tanya Taehee.

Yeon tersenyum melihat perhatian mereka padanya. Benar-benar merasa beruntung karena masih ada orang-orang yang mengkhawatirkannya.

“Aku baik-baik saja. Dan Direktur Cho tidak memarahiku.” Jawab Yeon sekaligus.

“Jadi, kenapa dia menyuruhmu mengikutinya?” Tanya Eunsoo.

“Umm, d–dia memberiku sedikit pekerjaan.” Dusta Yeon.

“Manager Lee sepertinya benar-benar terpukul karena Direktur Cho memarahinya. Selama ini Direktur Cho selalu bersikap lembut padanya. Bahkan jika ada kesalahan pada pekerjaan, direktur tidak pernah memarahinya seperti tadi.” Ucap Taehee.

Benarkah? Lalu kenapa Kyuhyun sangat marah hanya karena Manager Lee membuatnya lembur? Apa Kyuhyun benar-benar sudah menyukainya?

“Tetapi Manager Lee pantas mendapatkannya. Dia bersikap berlebihan pada Yeon. Benar apa yang dikatakan direktur, ini bukan universitas. Tidak seharusnya dia menyiksa Yeon.” Geram Eunsoo.

“Teman-teman..” Panggil Yeon. Taehee dan Eunsoo menatap Yeon.

“Bisakah kalian berjanji padaku untuk tidak mengatakan apapun pada Direktur Cho seandainya Manager Lee melakukan hal ini lagi padaku?” Pinta Yeon.

“Kenapa?” Eunsoo tampak tidak setuju.

“Aku tidak ingin kejadian seperti ini terjadi lagi. Lagipula, aku yakin aku akan lebih terbiasa dan mampu mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Manager Lee padaku.”

“Baiklah. Jika Manager Lee masih bersikap wajar, aku akan menutup mulutku.” Janji Taehee.

Yeon menatap Eunsoo yang masih tampak tidak setuju. Eunsoo bahkan mengalihkan pandangannya dari Yeon karena ia tidak mau berjanji apapun. Tentu saja ia akan mengadukan semuanya pada Kyuhyun jika hal ini terjadi lagi.

“Eunsoo-ssi..” Ucap Yeon.

“Aku tidak mau berjanji apapun.” Tegas Eunsoo. Yeon menghela nafas panjang.

“Daripada kita membahas ini, lebih baik kita membahas pesta ulang tahun Direktur Cho hari Minggu nanti.” Kata Eunsoo mengalihkan pembicaraan.

Mendengar perkataan Eunsoo membuat mata Yeon melebar. Ia jadi mengingat undangan Kyuhyun semalam. Laki-laki itu sangat berharap Yeon bisa datang ke pesta ulang tahunnya.

“Kau sudah mendengarnya, kan? Kita harus datang! Banyak makanan lezat di sana.” Ujar Eunsoo.

“Kita juga bisa berdansa.” Timpal Taehee dengan wajah menyeringai.

“Pikiranmu hanya perempuan!” Gerutu Eunsoo.

“Kau akan datang, kan?” Tanya Eunsoo kemudian.

“Sepertinya tidak.” Jawab Yeon pelan.

“Kenapa?” Protes Eunsoo dan Taehee bersamaan.

Yeon tidak tahu harus menjawab apa. Ia terlalu malu untuk mengatakan alasannya tidak bisa datang ke pesta itu.

“Ya, Park Taehee! Pergilah. Ini masalah perempuan.” Usir Eunsoo. Taehee mencibir pelan dan kemudian kembali ke meja kerjanya.

“Ada apa?” Tanya Eunsoo setelah Taehee pergi.

“Aku tidak bisa datang ke pesta itu.” Jawab Eunsoo.

“Kenapa kau tidak bisa datang? Kau pasti memiliki alasannya, kan?”

Yeon kembali menutup mulutnya.

“Jangan katakan jika kau tidak memiliki gaun pesta.” Canda Eunsoo.

Namun saat melihat kepala Yeon yang semakin menunduk dan perempuan itu tidak membantahnya, membuat Eunsoo tahu bahwa candaannya benar.

“Kau benar-benar tidak memiliki gaun pesta?” Tebak Eunsoo. Yeon menganggukkan kepalanya.

Yeon memiliki banyak gaun pesta. Tetapi semua itu saat dirinya berusia 14 tahun. Setelah orangtuanya meninggal, Yeon tidak pernah lagi membeli gaun pesta atau pun menghadiri pesta apapun.

Dulu tubuhnya belum berlekuk dan menonjol seperti sekarang. Tentu saja gaun pestanya dulu tidak akan bisa dipakainya di usianya yang sudah 24 tahun.

“Ya! Itu bukan masalah!” Ucap Eunsoo membuat Yeon menatapnya.

“Lihat. Tubuh kita tidak berbeda jauh. Kau bisa memakai gaunku. Aku memiliki begitu banyak gaun.” Ujar Eunsoo.

“Tapi–“

“Tidak ada alasan lagi, Yeon-ssi. Besok pagi, datanglah ke rumahku. Kita akan berdandan dan berangkat ke tempat pesta dari sana. Aku akan membuatmu sangat cantik. Yah, walaupun sekarang pun kau sudah cantik.” Puji Eunsoo.

“Terima kasih atas pujiannya. Tapi, aku merasa tidak enak jika harus merepotimu.” Ucap Yeon.

“Kenapa harus merepotkan? Yah, kita teman, kan?” Tanya Eunsoo sembari menggenggam tangan Yeon.

Yeon menatap Eunsoo dengan haru. Eunsoo mengganggapnya teman tetapi Yeon berniat mengambil Kyuhyun darinya. Eunsoo pasti akan terluka saat Yeon melakukannya. Tetapi Yeon tidak bisa membatalkan balas dendamnya hanya karena Eunsoo. Kebencian di dalam diri Yeon lebih besar daripada apapun.

“Ya, kita teman.” Kata Yeon membuat Eunsoo tersenyum.

“Jadi, kau bisa datang ke rumahku Minggu pagi nanti, kan?” Tanya Eunsoo. Yeon tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

——

Hari Sabtu dan Yeon tidak memiliki kegiatan apapun. Ia hanya bekerja hari Senin hingga Jumat, dan sekarang Yeon tampak seperti seorang pengangguran. Ia dan Jun sudah sarapan bersama tadi.

Dan sepertinya saat ini Jun melanjutkan kembali tidurnya. Semalam laki-laki itu terjaga di warnet hingga pukul lima pagi. Yeon tidak lagi melarangnya untuk berhenti bekerja. Karena Jun sudah bersedia untuk kuliah.

Yeon menghela nafas sembari menatap televisi yang menampilkan acara yang membosankan. Biasanya Yeon menghabiskan akhir pekan dengan tidur-tiduran atau bermain bersama Jun.

Namun saat ini Yeon tidak mengantuk sama sekali. Ia terus memikirkan tentang pesta ulang tahun Kyuhyun besok hari. Yeon merasa sangat gugup. Walaupun ia tidak tahu apa yang menyebabkannya merasa gugup.

Mengingat tentang ulang tahun Kyuhyun membuat Yeon tersentak. Punggung perempuan itu menegang dan meninggalkan sandaran sofa. Ia belum membelikan hadiah apapun untuk Kyuhyun. Bukankah ia tidak boleh datang dengan tangan kosong?

“Bodoh.” Gumam Yeon.

Yeon menatap jam yang menempel di dinding. Saat ini pukul sebelas siang. Ia mengambil ponselnya di atas meja dan menghubungi Luke. Membeli hadiah untuk seorang laki-laki, akan lebih baik jika meminta pendapat dari laki-laki juga.

Hai, baby..”

“Luke, apa kau sibuk?”

Cukup sibuk hingga pukul satu siang. Kenapa?

“Aku membutuhkan bantuanmu. Besok pesta ulang tahun Kyuhyun. Dan aku belum menemukan hadiah untuknya.”

Kau memperhatikannya sampai sedetail itu, baby?”

“Apa maksudmu?”

Apakah kau harus benar-benar membelikannya hadiah? Aku pikir kau hanya perlu datang, membuatnya terpesona pada penampilanmu, kemudian pulang. Bukankah begitu?

Yeon terdiam sebentar saat mendengar ucapan Luke. Apa yang diucapkan Luke memang benar. Tetapi bukan seperti itu permainannya.

“Ini bisa menjadi salah satu cara untuk menarik perhatiannya, Luke.”

Begitukah menurutmu? Aku pikir dia sudah tertarik padamu bahkan tanpa kau memberikan apapun. Tetapi baiklah, aku akan menemanimu.

“Terima kasih, Luke.”

Aku punya satu permintaan padamu.

“Apa itu?”

Bisakah kau datang ke rumahku dan menungguku menjemputmu di sana? Orangtuaku merindukanmu dan Jun.

“Oh, tentu saja, Luke. Aku dengan senang hati akan ke sana. Tetapi aku tidak bisa membawa Jun. Dia kelelahan dan sedang beristirahat sekarang.”

Tidak apa-apa. Kehadiranmu pun sudah membuat mereka senang. Baiklah, sampai bertemu di sana, baby. Bye.”

Bye.

Yeon tersenyum dan segera berganti pakaian. Ia memeriksa Jun sebentar di dalam kamar sebelum akhirnya meninggalkan cacatan di pintu kulkas. Ia tidak ingin Jun merasa panik saat tidak menemukannya ketika bangun tidur.

Yeon berjalan kaki menuju halte bus yang berada di dekat rumahnya. Seharusnya ia naik taksi agar bisa sampai dengan cepat ke rumah Luke. Tetapi Yeon lebih senang dengan menyimpan uangnya untuk keperluan lain. Naik bus tidak akan membuat dompetnya menipis dengan cepat.

Hampir satu jam kemudian Yeon sampai di depan pagar rumah Luke. Ia menatap rumah mewah Luke, sebelum akhirnya beralih pada rumah yang berada tepat di samping rumah Luke.

Beberapa tahun yang lalu, rumah itu adalah rumahnya. Namun sekarang rumah itu bukan lagi miliknya. Ada seorang pembantu rumah tangga yang sedang membersihkan halaman rumah tersebut. Menandakan bahwa rumah itu telah memiliki pemilik yang baru.

Semua telah berubah.

Yeon menepuk pipinya pelan. Menghalau airmata yang hampir saja menetes. Orangtua Luke tidak boleh melihatnya menangis. Yeon tidak ingin membuat mereka bersedih karena dirinya.

Yeon tersenyum lebar dan masuk ke halaman rumah Luke. Menekan belnya satu kali kemudian menunggu pintu terbuka. Senyum Yeon semakin lebar saat melihat ibu Luke membukakan pintu untuknya.

“Kate!” Sapa Yeon sembari memeluk wanita langsing itu walaupun usianya tidak muda lagi.

“Oh, Yeon sayang!” Balas Kate dan membalas pelukan Yeon.

I miss you so much, honey.” Ucap Kate.

“Maaf aku baru datang sekarang.” Sesal Yeon.

No. No. It’s okay.” Kate melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Yeon menggunakan kedua tangannya.

“Kau datang seorang diri? Dimana putraku Jun?” Tanya Kate. Yeon tersenyum. Orangtua Luke memang selalu menganggapnya dan Jun sebagai anak mereka.

“Jun sedang tidur di rumah, Kate. Dia terlalu sibuk untuk ukuran anak sekolahan.” Ujar Yeon sembari memutar kedua bola matanya.

Kate tertawa dan membimbing Yeon untuk masuk ke rumahnya. Wanita itu merangkul Yeon dengan erat seolah tidak ingin perempuan itu pergi kemana-mana. Kate benar-benar merindukannya.

“Dimana Max?” Tanya Yeon. Max adalah ayah Luke.

Sama seperti Luke, orangtua Luke juga meminta Yeon untuk memanggil mereka dengan nama mereka. Kate Collins dan Max Collins. Mereka tidak ingin embel-embel bibi dan paman di depan nama mereka. Dan Yeon hanya bisa mengikuti keinginan mereka.

“Max!” Panggil Kate.

Tidak berapa lama kemudian, pria berusia hampir 60 tahun muncul entah dari mana. Pria yang memiliki wajah hampir serupa dengan Luke. Hanya saja pria itu telah memiliki beberapa keriput pada wajahnya. Walaupun begitu, wajah tampannya tetap terlihat.

“Max!” Sapa Yeon sembari berlari dan memeluk pria itu.

Max melingkarkan tangannya di pinggang Yeon dan memutar tubuh perempuan itu hingga membuat Yeon memekik senang. Yeon juga dapat mendengar tawa Max yang tampak begitu senang bertemu dengannya.

“Oh, sweetheart. I miss you so much. Kau kemana saja? Apa kau tidak merindukan kami?” Rajuk Max setelah membiarkan kaki Yeon kembali menginjak lantai.

Sorry, Max. Aku sibuk bekerja. Aku pikir Luke akan memberitahukan hal itu pada kalian. Aku tidak bermaksud untuk membiarkan kalian merindukanku.” Sesal Yeon.

“Kau tidak bisa mengandalkan dia. Kau tahu sendiri bahwa Luke lebih sibuk daripada seorang presiden.” Sindir Max membuat Yeon tertawa.

“Percayalah bahwa Luke selalu meluangkan waktunya untukku sesibuk apapun dia.” Kata Yeon membela Luke.

“Kau selalu membelanya.” Gerutu Max.

“Kau sudah makan siang, Yeon?” Tanya Kate.

“Haruskah aku mengatakan jika aku belum makan siang?” Ucap Yeon dengn wajah malu.

“Aku akan memasak untukmu, sweetheart.” Sahut Max sembari memberikan ciuman di pipi Yeon sebelum akhirnya meninggalkan dua wanita itu untuk ke dapur.

Yeon tidak perlu meragukan kelihaian Max Collins saat berada di dapur. Bahkan pria itu lebih pandai memasak daripada dirinya. Sama seperti Max, Luke pun sangat pandai memasak. Yeon terkadang merasa Tuhan terlalu menyempurnakan mereka.

“Melihat Max menari di dapur sepertinya pemandangan yang baik, bukan?” Ucap Kate.

Yeon mengangguk dan mereka segera menyusul pria itu. Mereka duduk di kursi makan dan menunggu Max selesai memasak. Yeon dan Kate berbagi cerita dengan Max yang sesekali menimpali.

Yeon merasa sangat senang berada di tengah-tengah keluarga Luke. Ia merasa seperti memiliki orangtua lagi saat bersama mereka. Itu semua karena Max dan Kate begitu menyayanginya. Dan Yeon merasa sangat bersyukur akan hal itu.

Setelah Max selesai memasak, mereka makan siang bersama. Yeon menceritakan pengalamannya bekerja di Pearl Group. Ia bahkan menceritakan bagaimana perilaku Manager Lee hingga membuat Max dan Kate menggeram. Namun Yeon berusaha untuk tidak membuatnya berlarut.

Max juga menyayangkan Jun yang tidak bisa datang ke rumah mereka. Ia juga merindukan laki-laki itu seperti ia merindukan Yeon. Max dan Kate berjanji akan berkunjung ke rumah Yeon secepatnya.

Beberapa saat kemudian Luke pulang ke rumah setelah selesai bertugas di rumah sakit. Suasana di rumah semakin bertambah ramai dengan kepulangan Luke.

“Kau selalu memiliki banyak alasan jika aku memintamu untuk memasak, dad. Tapi sekarang kau memasak dengan sukarela.” Sindir Luke.

“Kau juga selalu memiliki banyak alasan saat aku memintamu menikmati makanan yang kubuat, Luke. ‘Aku sudah makan di rumah sakit, dad. Aku sedang tidak nafsu makan, dad.’ Bukankah begitu?” Balas Max tidak mau kalah.

Yeon dan Kate hanya tersenyum mendengar perdebatan antara ayah dan anak tersebut. Yeon sangat tahu jika Max dan Luke tidak pernah saling menunjukkan rasa sayang mereka. Padahal keduanya saling menyayangi.

“Kau sudah selesai, baby? Bisa kita pergi sekarang?” Ajak Luke.

“Kalian mau kemana?” Sela Kate.

“Dia ingin membeli hadiah untuk ulang tahun bosnya, mom.” Ucap Luke.

“Kalian akan pergi sekarang? Secepat itu?” Kate terlihat kecewa.

“Oh, Kate. Jangan menunjukkan wajah seperti itu.” Keluh Yeon.

“Kau baru beberapa jam disini, sweetheart.” Komentar Max.

“Aku akan sering berkunjung.” Janji Yeon.

Max dan Kate tampak pasrah. Mereka tidak mungkin menahan Yeon lebih lama di rumah mereka.

“Jangan ragu untuk menghubungi kami di saat kau ada masalah. Mengerti?” Pesan Kate.

“Pasti, Kate. Terima kasih banyak.” Yeon memeluk Kate.

Setelah melepaskan pelukannya, Yeon beralih pada Max yang tersenyum hangat padanya. Max merentangkan tangannya dan Yeon masuk ke dalam pelukannya.

Thank you for the lunch, Max.” Ucap Yeon.

You’re welcome.” Balas Max.

“Jaga putriku dengan baik, Luke. Antarkan dia ke rumah dengan selamat.” Pesan Max.

Luke memutar bola matanya dengan malas. Dia selalu menjaga Yeon dengan baik selama ini. Max seharusnya tahu itu. Karena bukan hanya dia yang menyayangi Yeon. Luke juga menyayanginya.

Bye, Max. Bye, Kate.” Pamit Yeon sembari melambaikan tangannya.

Bye, Yeon.”

Bye, sweetheart.

——

Pergi ke sebuah mall pada saat akhir pekan merupakan sesuatu yang sangat dihindari oleh Kyuhyun. Jika saja Hanna tidak memaksanya mengambil pakaian yang harus dipakainya di pesta besok, Kyuhyun pasti akan lebih memilih bergelung dengan selimutnya di atas tempat tidur.

Kyuhyun sangat tidak bisa menolak permintaan Hanna. Bahkan jika wanita itu tidak memaksanya, Kyuhyun akan tetap menurutinya. Ia tidak tau apa yang dimiliki Hanna hingga membuat Kyuhyun selalu menurutinya.

Dengan tangan kanan yang membawa sebuah paper bag, Kyuhyun menatap mall yang dalam keadaan ramai. Itulah penyebab utama Kyuhyun tidak ingin datang ke mall saat akhir pekan.

Kyuhyun menghentikan langkahnya saat melihat sebuah penjepit rambut yang begitu cantik. Ia mendekati toko yang menjual penjepit tersebut. Saat melihat penjepit rambut itu, entah kenapa wajah Yeon–lah yang terlintas di dalam kepalanya.

Membuat Kyuhyun tersenyum sendiri saat membayangkan Yeon memakainya. Apakah Yeon mau memakainya jika Kyuhyun memberikannya? Jika Kyuhyun memaksanya, Yeon pasti akan memakainya, kan?

“Aku ingin penjepit ini.” Kata Kyuhyun sembari memberikan penjepit rambut itu pada sang penjual.

Setelah membayar, Kyuhyun memasukkan penjepit rambut tersebut ke dalam sakut jaketnya. Dan ia kembali melangkah untuk pulang.

Namun langkah Kyuhyun terhenti saat melihat Yeon. Kyuhyun melebarkan matanya seolah ingin memastikan dirinya bahwa itu benar-benar Yeon. Senyum Kyuhyun tampak sangat lebar pada wajahnya.

“Kenapa aku selalu bertemu denganmu di saat-saat yang tidak terduga?” Gumam Kyuhyun.

Kyuhyun baru saja hendak mendekati Yeon, namun mengurungkan niatnya saat melihat Yeon tidak sendiri. Ada seorang laki-laki di samping perempuan itu. Dan Kyuhyun tentu saja mengetahui siapa laki-laki itu. Luke Collins.

Kyuhyun mendengus. Tidak bisakah Luke tidak selalu berada di dekat Yeon? Kenapa selalu ada Luke di sekitar Yeon? Kyuhyun benar-benar merasa geram melihatnya. Apalagi saat melihat Luke merangkul Yeon.

Kyuhyun tidak mau mengakuinya. Tetapi mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih. Sial.

“Teman? Teman seperti apa yang terus berangkulan seperti itu?” Cibir Kyuhyun.

Namun pandangan geram Kyuhyun berubah menjadi sendu saat melihat Yeon yang terus tersenyum saat berada di dekat Luke. Mata perempuan itu juga tidak menatap Luke dengan pandangan terluka.

Walaupun bukan pandangan cinta, setidaknya Luke tidak akan terbebani oleh pandangan terluka seperti yang dilakukan Yeon pada Kyuhyun selama ini. Kenapa Kyuhyun merasa sangat iri melihatnya? Kenapa Kyuhyun sangat ingin ditatap oleh Yeon seperti itu?

“Sebenarnya apa yang aku lakukan hingga kau terus menatapku dengan terluka?” Tanya Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas panjang dan berbalik. Ia tidak ingin Yeon menyadari keberadaannya. Ia tidak ingin Yeon menyadari apa yang sedang dirasakannya saat ini.

Kyuhyun berjanji pada dirinya sendiri. Bahwa suatu saat nanti ia akan mengetahui alasan di balik tatapan terluka Yeon padanya.

——

–To Be Continued–

HAI! Sesuai janji aku, kalian comment lancar, aku juga ngepost lancar. Seneng deh banyak yang penasaran sama jalan ceritanya.

Jangan pada gagal fokus sama sosok Luke, ya 😀 ini semua karena beberapa bulan terakhir ini aku suka bacain novel terjemahan, karena itulah aku menghadirkan sosok pria asing seperti Luke Collins. 

Happy reading~

BYE~

Advertisements

124 thoughts on “Love, Hurt, and Revenge – Part 3

  1. Dari yang aku tangkap, kesalahannya terletak di ayh kyuhyun. sedangkan kyuhyun ga tau apa2. tapi yeon tetep mau balas dendam lewat kyuhyun.

  2. mff bnget ru kmen di part 4,,baru nyadar email’a lom dbnerin baru tdi dbnrin’a mff bnget

    aq malah pnsaran ma ayh’a kyuhyun,,kslhan’a apa smpe jung yeon bnr”pngen blz dndam ke kluarga cho??

  3. Makin penasaran sama rencana balas dendamnya yeon terhadap kyuhyun ㅠㅠ kalo misalnya ortu dari yeon dan jun terbunuh sama keluarga cho kenapa yeon pengen balas dendamnya sama kyuhyun??? Kyuhyun udah mulai cemburu buta nih sama luke 😀

  4. Wuuaaahh kyuhyun nya berasa pahlawan gitu yah..
    Hehehe
    Typo sepertinya ga terperhatikan, tata bahasa sepertinya juga ga ada masalah.. yang ada makijn penasaran dengan apa yang akan terjadi di pesta ulang tahunnya kyuhyun
    Hehehe
    Next part dibaca dulu yaa

  5. kyuhyun cemburu ternyata ..
    hmm pasti kyuhyun juga nanti tau kenapa yeon selalu menatap dengan tatapan terluka .
    kayanya appa cho orang kejam deh

  6. kyaaahaaaaa…. makiinn seruu dahh.. wkwk…
    aedekat ituu kahh keluargaa yeon dan lukee???
    sampee gk kerasa beda keluargaa…

  7. duh keluarga luke baik bgttt!!! eh makin gemes btw liat kyuhyun marah begitu hahahah trs yg narik jas kyuhyun jg gemesin bgt atulahhhhg ahaha lanjuuuttt

  8. Ceritanya makin menarikk. Penasaran kesalahan apa yang ayah kyu lakukan sm yeon. Dan kyu tau gx ya masalah kesalahan itu.
    Penasaraann. Semangat!!

  9. Kasihan Kyu oppa kalau smp tahu siapa sbrnya Yeon dan rencana apa yg sdg disiapkan untuk keluarga cho, penasaran eunsoo dan kyu oppa ada hub apa, eunsoo baik bgt sama yeon

  10. Jangan sampai abeoji nya yg ngehalangi
    Sampai part ini aku nangkap ny ayah nya yg bersalah,tp knpa ke kyuhyun balas nya?
    Fighting utk author aja dehh👌🏻💪🏻
    Aku reader br ya thor slm kenal

  11. Masih ga mau bayangin apa yg bakal nanti mereka bakal adepin kedepan nya.. menyangkut masalah dendam itu.. huhu
    .
    Mereka romantis diem2.. lebih romantis lagi semoga di part2 selanjutnya hehe
    .
    Daaaaan hub eunsoo sama kyu paan seh ? Kasian Yeon salah paham gitu.. kyu usil bgt deeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s