Love, Hurt, and Revenge – Part 2

Author

Choineke

Title

Love, Hurt, and Revenge

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC), Cho Younghwan (Kyuhyun’s Father), Kim Hanna (Kyuhyun’ Mother), Jung Jun (Yeon’s Brother–OC), and others

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–I’m trapped in my own revenge–

——

Author POV

Yeon tidak bisa fokus memperhatikan layar yang sedang menunjukkan slide pekerjaan tim produksi. Ia merasa gelisah oleh tatapan Kyuhyun yang tidak lepas darinya. Walaupun mata Kyuhyun terus menatapnya, laki-laki itu tampak selalu bisa menjawab pertanyaan serta mengajukan pertanyaan pada Taehee yang sedang mempresentasikan pekerjaan.

Bagaimana bisa Kyuhyun menatapnya seperti itu di saat kekasihnya berada di ruangan yang sama dengannya? Apa Kyuhyun tidak memikirkan Eunsoo jika perempuan itu menyadarinya?

Yeon tidak membalas tatapan Kyuhyun. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menatap ke arah laki-laki itu. Namun Yeon tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik Kyuhyun. Seharusnya Yeon tidak merasa segugup ini. Sial.

“Bagaimana pendapatmu tentang aplikasi yang ditawarkan oleh Tuan Park, Nona Jung?” Tanya Kyuhyun membuat mata Yeon melebar.

Namun ia segera tersadar dan menormalkan ekspresi wajahnya. Tidak bisakah Kyuhyun tidak membuatnya terus seperti orang bodoh oleh semua ucapannya? Yeon ingin bekerja dengan tenang di luar rencana balas dendamnya.

“Umm, aku–saya pikir aplikasi yang dipresentasikan sudah sangat efektif dan efisien. Waktu serta biaya yang dibutuhkan juga sangat sesuai hingga bisa meminimalisasikan kerugian perusahaan.” Jawab Yeon sembari menatap Taehee.

Yeon melihat Taehee mengacungkan jempolnya hingga membuat perempuan itu tersenyum. Apa yang dipresentasikan oleh Taehee adalah hasil pekerjaan mereka sebagai tim produksi. Yeon tidak mungkin tidak menyetujuinya.

“Baiklah jika seperti itu dalam waktu 6 bulan ini aku ingin semuanya berjalan lancar. Dan kita akan membahas tanggal peluncuran pada rapat kita minggu depan.” Putus Kyuhyun dan segera berdiri.

Seluruh tim produksi ikut berdiri. Mereka membungkuk hormat saat melihat Kyuhyun hendak meninggalkan ruang rapat. Namun sebelum pergi, Kyuhyun menatap Yeon sebentar. Setelah merasa puas, ia benar-benar meninggalkan ruang rapat.

“Lihatlah, karena kau ceroboh tadi, Direktur Cho terus menatapmu. Kau seharusnya tidak melakukan kesalahan itu, Yeon-ssi.” Omel Manager Lee.

Yeon menundukkan kepalanya. Ternyata Manager Lee juga menyadarinya. Apa anggota yang lain juga menyadarinya? Betapa memalukannya hal itu. Tetapi itu semua bukan kemauan Yeon. Seharusnya Manager Lee tidak membiarkan Yeon membawa kertas sebanyak itu.

“Maafkan saya, manager.” Sesal Yeon.

Yeon menyadari dirinya sebagai pegawai baru. Tidak ada yang dapat dilakukannya selain meminta maaf. Yeon tidak ingin kehilangan pekerjaan yang memberikannya gaji memuaskan.

“Seharusnya tadi aku membantumu.” Gumam Taehee.

“Yah, tidak apa-apa. Kyuh–Direktur Cho tidak sekejam itu. Mungkin ia menatap Yeon untuk mengingat wajahnya sebagai pegawai baru.” Sela Eunsoo dengan tersenyum.

Yeon merasa beruntung karena Eunsoo terus membelanya. Dan sepertinya Eunsoo tidak merasa cemburu atas apa yang dilakukan Kyuhyun padanya. Kebaikan Eunsoo membuat Yeon tidak sanggup untuk menyakiti perempuan itu dengan mengambil Kyuhyun darinya.

“Ini peringatan untukmu, Yeon-ssi. Aku harap kau tidak melakukan kecerobohan seperti tadi. Apalagi di depan Direktur Cho. Kau mengerti?” Hardik Manager Lee.

“Ya, Manager Lee.” Ucap Yeon.

Manager Lee meninggalkan ruang rapat. Yeon menghela nafas panjang dan matanya bertemu dengan mata Raebin. Lagi-lagi laki-laki itu menatapnya dengan pandangan misterius. Beberapa saat kemudian Raebin ikut meninggalkan ruang rapat.

“Yah, jangan dipikirkan ucapan ketus Manager Lee.” Kata Eunsoo.

“Benar. Manager Lee memang suka berlebihan.” Sahut Taehee.

Yeon tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Merasa senang karena Eunsoo dan Taehee bersikap bersahabat dengannya.

“Itu–aku merasa bahwa Tuan Cha tidak menyukai keberadaanku disini.” Ucap Yeon dengan pelan.

“Raebin?” Taehee memastikan. Yeon mengangguk.

“Tidak. Tidak seperti itu. Raebin orang yang baik. Dia hanya terlalu pendiam.” Jelas Taehee.

“Benar. Raebin terlalu pemalu untuk ukuran laki-laki.” Timpal Eunsoo.

Benarkah? Kenapa Yeon tidak merasa setuju dengan ucapan Taehee dan Eunsoo? Ataukah Raebin selalu seperti itu pada pegawai baru? Mungkin dia akan bersifat bersahabat setelah Yeon cukup lama bekerja di sana.

“Ayo, kita ke bawah.” Ajak Taehee yang disambut anggukkan oleh Yeon dan Eunsoo.

——

Yeon tersentak saat ponselnya tiba-tiba bergetar saat ia sedang fokus bekerja. Ia menatap ke kanan dan ke kiri berharap tidak ada yang terganggu dengan getaran ponselnya di atas meja.

Yeon menatap ponselnya dan tersenyum saat melihat nama Luke di sana. Tidak biasanya laki-laki itu menghubunginya saat siang hari seperti ini.

Hai..” Suara lembut Luke menyapa telinga Yeon.

“Hai, Luke. Ada apa?”

Siang ini aku memiliki waktu luang. Bagaimana dengan makan siang bersama?

“Tidak biasanya kau meminta pendapatku. Biasanya kau selalu mengambil keputusan sendiri.”

Ayolah, baby. Jangan menyindirku. Bagaimana? Aku sedang malas makan makanan di kantin rumah sakit.

“Umm, teman-teman di kantorku mengajak makan siang bersama di kantin kantor, Luke.”

Apa aku boleh bergabung?

“Aku tidak yakin. Tunggu sebentar.”

Yeon menggeser kursinya yang beroda untuk mendekati meja Taehee yang berada disampingnya.

“Taehee-ssi..” Panggil Yeon.

“Ya? Ada apa?”

“Apa boleh orang-orang di luar kantor makan siang di kantin kantor?” Tanya Yeon.

“Boleh. Tetapi mereka harus membayar.” Jawab Taehee.

“Ah, begitu. Terima kasih, Taehee-ssi.”

“Sama-sama, cantik.”

Yeon tersenyum. Ia menyukai sikap ramah Taehee. Terasa menyenangkan berada di dekat laki-laki itu. Setidaknya Taehee tidak bersikap misterius seperti Raebin.

“Kau masih di sana?” Yeon kembali mengajak berbicara Luke.

Tentu, baby. Aku sudah mendengar semuanya. Aku akan ke sana sekarang.

“Jangan lupa bawa uang, Luke. Aku sedang tidak ingin mentraktirmu makan.” Canda Yeon.

Kau menyebalkan, baby. Kalau begitu sampai jumpa di kantormu. Bye.

Bye.

Yeon kembali tersenyum kecil.

“Kekasihmu?” Yeon terlonjak saat mendengar suara Taehee.

Yeon menatap laki-laki itu yang sedang tersenyum menggoda padanya.

“Aku tidak memiliki kekasih.” Bantah Yeon. Taehee berdecak.

“Bagaimana bisa perempuan cantik sepertimu tidak memiliki kekasih?” Kata Taehee tidak percaya.

“Seperti itulah kenyataannya.”

“Dia tidak memiliki kekasih, tetapi memiliki teman yang sangat tampan.” Sela Eunsoo yang tiba-tiba sudah bergabung bersama mereka.

“Apakah lebih tampan dariku?” Tanya Taehee.

“Tentu saja.” Jawab Eunsoo langsung.

“Dia akan ikut makan siang bersama kita.” Ucap Yeon.

“Benarkah?” Mata Eunsoo berbinar.

“Tidak apa-apa, kan?”

“Tentu saja tidak apa-apa. Aku harus membenahi dandananku.” Kata Eunsoo.

“Ya! Kau sudah memiliki kekasih.” Ujar Taehee membuat Eunsoo tergagap.

“Tidak ada perempuan yang bisa menolak pesona laki-laki tampan, walaupun dia sudah memiliki kekasih.” Tukas Eunsoo.

Yeon menatap Eunsoo dalam diam. Apakah Eunsoo tertarik pada Luke? Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? Kenapa Kyuhyun dan Eunsoo bersikap layaknya mereka tidak memiliki kekasih? Kenapa mereka dengan terbuka menunjukkan ketertarikan pada orang lain?

Yeon ingin sekali menanyakannya. Tetapi ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak ingin dianggap mencampuri urusan orang lain. Hanya saja tidak tau sejak kapan, urusan Kyuhyun menjadi urusannya juga.

“Jung Yeon!” Panggil Eunsoo.

Yeon tersentak. Entah sejak kapan Eunsoo dan Taehee sudah berdiri berdampingan di hadapannya. Apa sebenarnya yang sedari tadi ia pikirkan?

“Kenapa melamun? Ayo, kita harus segera ke kantin. Jangan sampai temanmu menunggu.” Kata Eunsoo.

Yeon mengangguk dan segera berdiri. Mereka berjalan bersama-sama sebelum akhirnya Yeon menyadari sesuatu.

“Kita tidak mengajak Tuan Cha, Nona Kim, dan Manager Lee?” Tanya Yeon.

“Manager Lee biasa makan siang bersama manager lainnya. Sedangkan Raebin selalu makan siang bersama kekasihnya yang bekerja di bagian pemasaran.” Jawab Taehee.

“Dan Minji.. Perempuan itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.” Lanjut Taehee.

“Benar. Aku pernah mendekatinya karena ingin berteman dengannya, tetapi dia malah memandangiku seolah kepalaku ada dua. Menyebalkan.” Sungut Eunsoo.

Walaupun sudah bekerja selama satu minggu di sana, Yeon belum pernah makan siang di kantin bersama mereka. Selama ini Yeon selalu membawa makan siang yang selalu disiapkannya dari pagi hari.

Tetapi hari ini Yeon tidak melakukannya karena Eunsoo dan Taehee selalu memaksanya untuk makan siang bersama. Karena merasa tidak sopan jika terus menolak, akhirnya Yeon menyetujuinya.

“Tuan Cha memiliki kekasih?” Yeon tampak terkejut.

“Ya. Hanya kau dan aku yang tidak memiliki kekasih disini.” Ucap Taehee dengan nada bangga.

“Ayo.” Ajak Eunsoo saat melihat lift telah terbuka untuk mereka.

“Apakah Manager Lee sudah menikah?” Tanya Yeon saat mereka sudah berada di dalam lift.

“Belum. Dia itu perawan tua. Karena itulah dia sering marah-marah dan bersikap seperti seorang penyihir.” Geram Taehee

“Tetapi dia selalu bersikap lembut saat di depan Direktur Cho. Menyebalkan. Apa dia pikir dia bisa menarik perhatian direktur?” Cibir Eunsoo.

Untuk pertama kalinya Yeon menangkap kecemburuan dalam nada bicara Eunsoo. Keraguan akan hubungan keduanya seolah sirna saat Yeon menyadari bahwa Eunsoo cemburu pada sikap Manager Lee pada Kyuhyun.

Mereka benar-benar sepasang kekasih.

“Aku pikir Direktur Cho tidak keberatan.” Gumam Yeon.

“Karena Direktur Cho orang yang baik.” Sahut Eunsoo sembari tersenyum.

“Apa aku bisa menarik kesimpulan jika Manager Lee juga bersikap keras pada kalian?” Yeon berusaha mengalihkan pembicaraan. Rasanya tidak nyaman berbicara tentang Kyuhyun di depan kekasihnya.

“Ya.” Ucap Eunsoo dan Taehee bersamaan.

Mereka sampai di lantai dua dimana kantin berada. Eunsoo menggandeng lengan Yeon saat berjalan menuju kantin, dengan Taehee yang berjalan di belakang mereka. Layaknya seorang penjaga.

Kantin sudah cukup ramai saat mereka sampai di sana. Yeon menatap kagum pada kemewahan kantin tersebut. Hanya sebuah kantin tetapi interiornya lebih indah daripada rumah yang ditinggali oleh Yeon.

“Kelezatan makanan-makanan di sini tidak perlu diragukan lagi. Karena itulah kantin selalu dalam keadaan ramai.” Jelas Eunsoo.

“Mereka juga selalu menyajikan makanan asli Korea. Dan katanya semua itu atas permintaan Direktur Cho.” Tambah Taehee.

Mereka mulai berbaris pada antrian yang–untungnya–tidak terlalu panjang. Yeon, Eunsoo dan Taehee terus saling berbagi cerita untuk menghalau rasa bosan karena menunggu. Sesekali juga Yeon menatap pintu kantin untuk menanti kedatangan Luke.

Yeon menatap berbinar pada berbagai makanan yang disajikan. Ia mengambil semua makanan di atas piringnya, namun dalam jumlah yang sedikit. Terlalu malu untuk menunjukkan bahwa perempuan kurus sepertinya cukup banyak makan.

“Duduk di sana saja.” Tunjuk Eunsoo pada meja kosong.

Eunsoo dan Taehee duduk berdampingan sedangkan Yeon di hadapan mereka. Menyisakan sebuah tempat untuk Luke saat laki-laki itu datang.

Yeon mencicipi makanannya, dan seperti kata Taehee, rasanya benar-benar lezat. Tetapi tetap tidak selezat masakan ibunya. Mengingat ibunya membuat Yeon merasa sedih. Namun ia berusaha tersenyum, tidak ingin membuat Eunsoo dan Taehee merasa bingung.

Yeon menatap pintu kantin dan melihat kedatangan Luke. Ia melambaikan tangannya dan membuat Luke menyadari keberadaannya. Yeon menunjuk tempat mengambil makanan pada Luke. Seolah mengerti, Luke langsung menuju ke sana.

“Temanku sudah datang.” Kata Yeon.

“Dimana?” Tanya Eunsoo antusias.

“Sedang mengambil makanan.” Jawab Yeon.

Beberapa saat kemudian Luke bergabung bersama mereka dan duduk di samping Yeon. Luke melemparkan senyum tampannya pada Yeon untuk menyapa perempuan itu.

“Hai, Ms. Kang.” Sapa Luke pada Eunsoo.

“Hai juga, Mr. Collins.” Balas Eunsoo.

Just Luke, please.” Pinta Luke.

“Kalau begitu kau bisa memanggilku Eunsoo saja.” Kata Eunsoo dan Luke tersenyum.

“Taehee-ssi, kenalkan temanku Luke Collins. Luke, ini teman timku yang lain, Park Taehee.” Ujar Yeon.

Luke mengulurkan tangannya dan tersenyum bersahabat pada Taehee. Taehee langsung menyambut uluran tangan Luke dan mereka saling memperkenalkan diri.

“Akhir-akhir ini kau selalu memiliki waktu luang.” Kata Yeon.

“Aku merasa bersyukur karena itu berarti tidak banyak orang yang sakit, baby.”

“Kau seorang dokter?” Tanya Taehee.

“Ya. Aku seorang dokter bedah.” Jawab Luke.

“Wow. Mengesankan.” Kagum Taehee dan membuat Luke tersenyum.

“Apa kau sudah berkeluarga, Luke?” Tanya Eunsoo. Berusaha untuk menyembunyikan suara ingin taunya.

“Aku? Berkeluarga?” Luke tidak dapat menahan tawanya.

“Apa aku terlihat seperti seorang ayah? Atau suami?” Luke bertanya balik sembari menatap Eunsoo. Eunsoo membalas tatapan Luke.

“Kusimpulkan bahwa kau belum berkeluarga.” Kata Eunsoo.

“Aku laki-laki bebas.” Tegas Luke.

“Tampan dan memiliki pekerjaan yang menjanjikan. Aku pikir kau idaman semua orang, Luke.” Puji Taehee.

Thanks. Tetapi hanya Yeon yang tidak menganggapku laki-laki idaman.” Gurau Luke sembari menyenggol bahu Yeon.

Yeon mendengus pelan mendengarnya.

“Direktur Cho ada disini.” Ucap Eunsoo membuat Yeon tersentak dan langsung mencari keberadaan laki-laki itu.

Yeon menemukannya. Kyuhyun tidak sendiri. Ada beberapa laki-laki disekitarnya. Mereka sepertinya hendak makan siang sembari membicarakan bisnis. Kenapa harus di kantin? Kenapa di saat Yeon sedang bersama Eunsoo?

Tidak tau sejak kapan, tetapi Yeon selalu merasa tidak nyaman saat bertemu dengan Kyuhyun di saat ada Eunsoo bersamanya. Yeon tidak bisa secara leluasa untuk menatap laki-laki itu.

“Yeon-ssi, apa kau punya saudara?” Tanya Eunsoo.

Luke menyenggol lengan Yeon agar perempuan itu tidak terus menatap Kyuhyun. Ia tidak ingin Eunsoo mencurigai sikap Yeon yang menatap kekasihnya dengan begitu intens.

“S–saudara? Ya, aku memilikinya. Seorang adik laki-laki.” Jawab Yeon.

“Masih sekolah.” Timpal Luke.

Yeon terkesiap saat melihat Kyuhyun dan yang lainnya menempati meja kosong di samping meja mereka. Kyuhyun juga tampaknya menyadari keberadaan Yeon di sana. Karena mata laki-laki itu tampak sedikit melebar saat melihat Yeon, sebelum akhirnya wajahnya kembali datar.

Beberapa orang mengantarkan makan siang Kyuhyun serta yang lainnya dan menaruhnya di atas meja laki-laki itu. Karena seorang direktur tidak akan mengambil makanannya sendiri, tetapi ada orang-orang yang bertugas untuk melakukannya.

Yeon, Eunsoo, dan Taehee sempat berdiri dan menundukkan kepala mereka untuk menyapa Kyuhyun. Kemudian mereka kembali duduk dan melanjutkan makan siang mereka.

Kyuhyun berada tepat di samping Yeon. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah jarak yang memang menjadi pemisah antar satu meja ke meja lainnya. Yeon mencoba fokus pada makan siangnya.

“Kalian sudah berteman berapa lama?” Tanya Taehee.

“Berapa lama, baby? Sembilan tahun? Sepuluh? Sebelas?” Luke terdengar tidak yakin.

“Selama itu?” Ucap Eunsoo takjub. Yeon mengangguk.

“Apa kalian tidak saling suka? Kenapa tidak berkencan saja?” Saran Taehee.

Wajah Eunsoo berubah masam saat mendengar saran dari Taehee. Tetapi Eunsoo juga merasa penasaran. Kenapa Yeon dan Luke tidak berkencan. Mereka terlihat cocok bersama-sama.

“Dia tidak menerimaku sebagai kekasihnya.” Ujar Luke dengan berpura-pura terluka.

Yeon memukul lengan Luke dan laki-laki itu tertawa dengan senang.

“Bagaimana bisa aku menjadi kekasihmu, di saat kau meniduri begitu banyak wanita?” Geram Yeon. Luke mengerang.

“Jangan mempermalukanku, baby.” Rajuk Luke.

“Pria memang ditakdirkan untuk bersama banyak wanita.” Ucap Taehee sembari menyeringai.

Luke dan Taehee melakukan high five sedangkan Yeon dan Eunsoo memutar bola mata mereka. Menunjukkan bahwa mereka tidak setuju dengan ucapan Taehee barusan. Walaupun begitu, keempatnya menikmati waktu kebersamaan mereka.

——

Kyuhyun mendengar semuanya. Apa yang dibicarakan oleh keempat orang yang berada di dekatnya. Walaupun matanya terpaku pada rekan bisnis di hadapannya, tetapi telinganya dapat mendengar suara Yeon dengan baik.

Kyuhyun merasa lega dan juga kesal di saat bersamaan. Ia merasa lega ternyata laki-laki yang berada di samping Yeon itu bukan kekasihnya. Mereka sudah berteman lama tanpa ada perasaan suka–mungkin.

Dan Kyuhyun merasa kesal karena laki-laki itu terus memanggil Yeon dengan panggilan ‘baby‘. Dan sialnya Yeon tampak tidak keberatan dengan itu. Panggilan itu terdengar menggelikan menurut Kyuhyun. Dan siapa saja bisa salah paham saat mendengarnya.

Dan saat ini pun Kyuhyun yakin orang-orang yang berada disini akan menyangka jika laki-laki di samping Yeon itu adalah kekasihnya. Karena mereka terlihat sangat begitu dekat. Dan hal itu sangat menyebalkan menurut Kyuhyun.

Kyuhyun merasa menyesal karena memperbolehkan orang lain makan di kantin Pearl Group. Pada awalnya itu semua Kyuhyun lakukan karena ia sering menghabiskan waktunya bersama rekan bisnisnya di sana. Mereka akan makan siang sembari membahas pekerjaan.

Tapi Kyuhyun juga tau bahwa ia tidak bisa mengubah peraturan tersebut begitu saja. Rasanya menggelikan jika Kyuhyun harus mengganti sebuah peraturan hanya karena seorang perempuan. Lagipula laki-laki itu hanya teman Yeon, kenapa Kyuhyun harus memusingkannya?

“Untuk hasil yang terbaik tentu saja kita harus mengeluarkan uang yang cukup banyak.”

“Tidak, aku tidak setuju. Tidak semua hasil terbaik harus dengan uang yang banyak. Kita harus meminimalisasi pengeluaran, bukan?” Ucap Kyuhyun.

“Dia cantik dan banyak laki-laki yang menyukainya, hanya saja dia terlalu fokus kuliah dan bekerja paruh waktu.”

Fokus Kyuhyun teralihkan oleh suara laki-laki yang berada di samping Yeon. Kyuhyun menatap makanannya tetapi membuka telinganya lebar-lebar. Ucapan laki-laki itu membuat Kyuhyun tertarik untuk mendengarnya.

“Kau kuliah sembari bekerja? Kenapa seperti itu?” Tanya Eunsoo.

“Aku harus membiayai sekolah adikku.” Jawab Yeon.

“Kemana orangtuamu?” Tanya Eunsoo lagi.

Cukup lama Kyuhyun tidak mendengarkan jawaban dari mulut Yeon. Membuat Kyuhyun perlahan mengangkat kepalanya dan menoleh. Ia menemukan wajah Yeon yang terlihat tidak semangat. Sedangkan laki-laki di samping Yeon tampak merangkul bahunya.

“Pembahasan yang sedikit sensitif. Aku pikir kita bisa melewatinya.” Kata laki-laki itu.

“Oh, maaf.” Sesal Eunsoo.

“Jam makan siang akan berakhir sebentar lagi. Lebih baik kita kembali ke atas.” Ujar Yeon.

“Ya, aku juga harus kembali ke rumah sakit. Aku akan menjemputmu nanti sore, baby. Aku ingin mentraktirmu dan Jun makan malam.” Kata laki-laki di sebelah Yeon. Yeon mengangguk dan tersenyum.

“Ayo, teman-teman.” Ajak Yeon sembari berdiri dan membawa piring yang dipakainya untuk makan.

“Nona Jung.” Panggil Kyuhyun.

Kyuhyun bahkan terkejut saat mendengar suaranya sendiri. Sial. Untuk apa dia memanggil Yeon? Kyuhyun bahkan tidak mengetahui apa alasannya.

“Ya, direktur?” Jawab Yeon. Kyuhyun melihat genggaman Yeon pada piringnya tampak mengencang.

Kyuhyun memutar otaknya untuk mencari alasan. Sebenarnya kenapa dia memanggil Yeon? Kyuhyun bahkan tidak bisa menebak pikirannya sendiri.

“Aku ada pekerjaan untukmu. Tunggu aku di ruanganku.” Perintah Kyuhyun sembari menatap Yeon.

“Baik, direktur.” Ucap Yeon.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada teman Yeon. Tanpa sadar menatap laki-laki itu dengan tajam.

Luke menyadari tatapan Kyuhyun. Laki-laki itu melewati Yeon dan berdiri di hadapan Kyuhyun.

“Kenapa kau menatapku? Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku?” Tanya Luke tanpa memperdulikan sopan santunnya.

“Luke!” Tegur Yeon.

“Dia terus menatapku, baby. Aku hanya ingin tahu alasannya.” Kata Luke membela diri.

“Maaf, direktur.” Sesal Yeon sembari membungkukkan badannya.

Kemudian Yeon dengan susah payah menarik Luke untuk meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun dapat melihat Yeon mengomeli laki-laki itu saat mereka berjalan meninggalkan kantin. Bahkan beberapa kali Yeon memukul lengan laki-laki itu namun di balas usapan kepala hingga membuat Kyuhyun merasa kesal.

“Ada apa, direktur?” Tanya pria yang berada di hadapan Kyuhyun.

“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Jawab Kyuhyun sembari tersenyum kecil.

——

Yeon berdiri di depan meja kerja Kyuhyun dengan gelisah. Selain gelisah, ia juga merasa lelah. Memakai higheels dan berdiri dalam waktu setengah jam tidaklah mudah. Sialnya, Kyuhyun belum datang juga sampai sekarang.

Sebenarnya pekerjaan apa yang hendak Kyuhyun berikan padanya? Kenapa harus dirinya? Banyak anggota tim produksi yang lebih berpengalaman daripada dirinya.

Yeon menatap sofa yang berada di ruangan Kyuhyun. Sofa itu seakan-akan memanggilnya untuk duduk di sana. Yeon merasa sangat tergoda untuk beristirahat di sana. Tetapi bagaimana jika Kyuhyun marah karena ia bersikap tidak sopan?

Yeon tersentak saat mendengar pintu ruangan Kyuhyun terbuka. Merasa lega dan juga gugup saat melihat Kyuhyun di sana. Wajah laki-laki itu terlihat tidak bersalah telah membuatnya menunggu selama 30 menit.

“Kau lama menunggu?” Tanya Kyuhyun terdengar acuh.

Kyuhyun menghampiri mejanya dan duduk di kursi kebesarannya. Kursi yang terlihat sangat empuk dengan sandaran yang terlihat sangat nyaman.

“Tidak, direktur.” Jawab Yeon berdusta. Entah sejak kapan ia ingin sekali memaki Kyuhyun.

Kyuhyun menatap mata Yeon. Dan berusaha untuk menahan geraman saat melihat mata itu masih menatapnya dengan terluka. Kyuhyun menghela nafas dan membongkar berkas-berkas yang berada di mejanya.

“Lihat ini.” Kyuhyun memberikan sebuah kertas yang berisi berbagai gambar di dalamnya.

“Berikan pendapatmu tentang semua gambar itu.” Ucap Kyuhyun.

“Apa? K–kenapa saya?” Yeon terlihat bingung dan juga terkejut.

“Apa kau mau melakukan protes atas perintahku?” Tanya Kyuhyun.

“Ti–tidak, bukan seperti itu, direktur.” Jawab Yeon.

“Kalau begitu lakukan perintahku.”

“Baik, direktur.”

Yeon membungkukkan tubuhnya dan berbalik untuk meninggalkan ruangan Kyuhyun. Namun sebelum benar-benar keluar, Kyuhyun memanggilnya hingga membuatnya berhenti berjalan.

“Kau mau kemana?”

“Kembali ke tempat kerja saya, direktur.”

“Siapa yang menyuruhmu?”

Yeon menatap Kyuhyun dengan bingung. Apa sebenarnya maksud laki-laki ini?

“Bukankah Anda meminta saya memberikan pendapat–“

“Ya, aku memang melakukannya. Tetapi aku tidak menyuruhmu mengerjakannya di tempatmu. Lakukan disini.”

“Apa?!” Yeon tanpa sadar memekik.

“Lakukan disini. Di meja itu.” Kyuhyun menunjuk meja yang berada di tengah-tengah sofa empuk.

“Tapi, direktur–“

“Aku tidak memiliki waktu untuk berdebat denganmu, Nona Jung.” Tegas Kyuhyun.

Yeon terlihat ragu. Dia harus bekerja di ruangan Kyuhyun? Yang benar saja! Tetapi Yeon tidak memiliki keberanian untuk menolak. Mendapatkan kemarahan Kyuhyun bukanlah keinginannya. Yang Yeon inginkan adalah mendapat perhatian dari Kyuhyun.

Akhirnya Yeon duduk di sofa dan melakukan apa yang Kyuhyun inginkan. Matanya sesekali melirik pada Kyuhyun yang tampak sedang serius bekerja. Suasana di sekitar mereka begitu sunyi. Membuat Yeon tampak tidak betah.

“Direktur..” Panggil Yeon membuat Kyuhyun terkejut.

“Ada apa?”

“Apakah saya boleh menanyakan sesuatu?” Tanya Yeon sembari menatap Kyuhyun. Ia dapat melihat Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya.

“Boleh.” Jawab Kyuhyun.

“Anda bilang bahwa Anda tertarik pada saya. Bukankah Anda sudah memiliki kekasih?”

“Aku? Kekasih?” Kyuhyun tidak dapat menahan tawanya saat mendengar pertanyaan Yeon.

Kyuhyun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua tangannya terlipat di dada dan matanya menatap Yeon dengan penuh minat.

“Siapa yang mengatakan jika aku memiliki kekasih?” Kyuhyun bertanya balik.

Yeon terdiam. Ia tidak tau bagaimana menjawab pertanyaan Kyuhyun. Tidak ada yang mengatakan padanya tentang hal itu. Yeon hanya menarik kesimpulan dari semua gerak-gerik yang dilakukan Kyuhyun dan Eunsoo.

“Lupakan. Memangnya jika aku memiliki kekasih, aku tidak boleh tertarik pada perempuan lain?” Tanya Kyuhyun.

“Anda tidak memikirkan perasaan kekasih Anda?” Ucap Yeon tidak habis pikir.

“Aku pikir tidak masalah selagi dia tidak mengetahuinya. Benar, kan?” Kata Kyuhyun dengan senyum menggoda.

Mata Yeon melebar. Bagaimana bisa Kyuhyun mengatakan itu? Tanpa sadar Yeon mendengus pelan. Ternyata keluarga Cho memang keluarga paling brengsek.

“Selama aku belum memiliki seorang istri, aku masih bebas memilih seorang perempuan, kan?”

“Apa kekasihmu tahu jika Anda laki-laki seperti ini?”

“Laki-laki seperti apa maksudmu, Nona Jung?”

“Bagaimana saya harus mengatakannya? Laki-laki brengsek?” Ucap Yeon tanpa bisa menahan kekesalannya.

“Apa kau tahu persis bagaimana laki-laki brengsek itu, Nona Jung?”

Kyuhyun meninggalkan kursinya dan berjalan mendekati Yeon. Yeon mengangkat dagunya dan menatap Kyuhyun dengan angkuh. Karena Kyuhyun tidak bersikap sopan, maka Yeon pun merasa ia tidak harus bersikap sopan.

“Perlukah aku–“

Langkah Kyuhyun dan ucapannya juga terhenti saat mendengarkan pintu ruangannya diketuk. Beberapa saat kemudian terbuka dan menampilkan Manager Lee di sana. Yeon langsung berdiri saat melihatnya.

“Maaf mengganggu, direktur.” Ucap Manager Lee sembari membungkukkan tubuhnya.

Kyuhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Ada apa, Manager Lee?”

“Kenapa Anda menahan Nona Jung disini, direktur? Apa dia melakukan kesalahan?”

Kyuhyun melirik sekilas pada Yeon.

“Aku memiliki pekerjaan untuknya.” Ujar Kyuhyun.

“Pekerjaan? Saya bisa meminta Tuan Park atau Tuan Cha yang mengerjakannya, direktur. Mereka lebih berpengalaman daripada Nona Jung. Atau mungkin Anda bisa memberikan pekerjaan itu pada saya.”

Yeon menundukkan kepalanya. Bohong jika ia tidak merasa kesal mendengar Manager Lee seolah meremehkannya. Walaupun apa yang dikatakan olehnya memang benar. Tetap saja Yeon merasa kesal.

“Percayalah bahwa aku lebih tahu pekerjaan apa yang cocok untuk pegawai baru sepertinya.” Komentar Kyuhyun.

“Kau sudah selesai dengan pekerjaan yang kuberikan?” Tanya Kyuhyun pada Yeon.

“Sudah, direktur.” Jawab Yeon sembari memberikan kertas di atas meja.

“Kau bisa kembali ke tempatmu.” Kata Kyuhyun sembari mengambil kertasnya.

“Baik, direktur.”

Yeon membungkukkan tubuhnya pada Kyuhyun dan Manager Lee sebelum meninggalkan ruangan Kyuhyun.

“Kau juga bisa kembali ke tempatmu, Manager Lee. Karena aku sudah mengembalikan anggotamu yang aku pinjam.” Tukas Kyuhyun.

“Saya permisi, direktur.” Pamit Manager Lee.

Kyuhyun kembali duduk di kursinya dan menghela nafas. Menatap pintu yang baru saja dilewati oleh Manager Lee dengan kesal. Ia baru saja mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Yeon di luar pekerjaan. Tetapi Manager Lee mengganggunya.

“Sial.”

——

“Jung Yeon-ssi!” Panggil Manager Lee dengan suara membentak.

Yeon menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Manager Lee. Menghela nafas panjang saat tau bahwa ia akan mendapatkan ocehan dari wanita yang dijuluki Penyihir Lee itu.

“Apa yang kau lakukan di ruang direktur?” Tanya Manager Lee.

“Seperti yang Anda dengar, manager. Direktur Cho memberikan pekerjaan pada saya.” Jawab Yeon.

“Pekerjaan apa? Kenapa dia memberikannya padamu? Tim produksi memilikiku serta yang lainnya! Kenapa harus kau?!”

“Untuk hal itu saya tidak mengetahuinya, manager. Saat di kantin, direktur memintaku menunggunya diruangannya. Kemudian dia memberikan saya pekerjaan.” Jelas Yeon dengan sabar.

“Dengar! Kau harus menjaga jarak dengan Direktur Cho. Kau hanya pegawai baru. Kau mengerti?!” Kata Manager Lee penuh peringatan.

“Apa maksud Anda saya harus menolak pekerjaan yang diberikan olehnya?”

“Jangan melawan ucapanku! Jika aku bilang kau harus menjaga jarak dengannya, maka kau harus melakukannya! Jangan banyak bertanya!” Bentak Manager Lee.

“Baik, manager.” Gumam Yeon.

“Dasar pegawai rendahan.” Umpat Manager Lee dan meninggalkan Yeon.

Yeon mengepalkan tangannya dan menatap punggung Manager Lee dengan marah. Ternyata tebakannya selama ini benar jika Manager Lee memang tidak menyukainya. Walaupun dia juga sering memarahi Eunsoo dan Taehee, itu semua karena pekerjaan.

Berbeda halnya dengan Yeon. Manager Lee sepertinya membencinya entah karena apa. Apa karena wanita itu menyukai Kyuhyun? Apa dia merasa cemburu karena Kyuhyun menaruh perhatian pada Yeon?

Jika Manager Lee mengetahui Eunsoo adalah kekasih Kyuhyun, dia pasti lebih membenci Eunsoo. Yeon mendengus pelan. Kyuhyun tidak mungkin tertarik dengan pada wanita seperti Manager Lee.

Yeon menghela nafas panjang. Sepertinya ia harus lebih bersabar bekerja di sana. Ini semua karena Yeon membutuhkan uang dan juga harus melaksanakan rencana balas dendamnya.

——

Seorang pria memasuki sebuah ruang kerja yang berada di rumah mewah. Pria yang terbalut dalam setelan jas rapi itu berjalan mantap menemui seseorang yang berada di kursi besar di balik meja kerja yang cukup luas.

Pria itu menaruh sebuah amplop berwarna coklat di atas meja tersebut. Membuat seseorang yang duduk di kursi itu menatapnya dengan pandangan bertanya. Ia berharap pria itu mengerti dengan tatapannya, karena mulutnya terlalu malas untuk berbicara.

“Anak Jung Jaehoon bekerja di Pearl Group, presdir.” Kata Pria itu.

“Jung Jaehoon?” Desis seseorang itu sembari membuka amplop di atas meja.

Ia menemukan beberapa foto seorang perempuan cantik yang berkeliaran di Pearl Group. Perempuan yang tampak mirip dengan pria bernama Jung Jaehoon itu. Terdengar suara gebrakan dari meja yang luas itu.

“Sialan! Bagaimana bisa dia bekerja di sana?!” Orang itu tampak begitu marah.

“Direktur Cho Kyuhyun yang menerimanya, presdir. Sepertinya dia memenuhi kriteria yang diinginkan oleh direktur.” Jawab pria yang masih setia berdiri di sana.

“Cho Kyuhyun bodoh!” Makinya.

“Apa yang harus saya lakukan, presdir?” Tanya pria itu.

Tidak ada suara apapun selama beberapa menit setelah pertanyaan pria itu meluncur. Ia menatap seseorang dihadapannya itu dengan pandangan sabar. Ia juga dapat melihat beberapa urat tampak bermunculan di leher orang itu. Menandakan bahwa ia merasa sangat marah dan geram.

“Untuk sementara awasi terus perempuan ini. Jika dia melakukan sesuatu yang mencurigakan, kita harus menyingkirkannya.” Ucap orang itu.

“Saya mengerti, presdir.”

——

“Jun!” Panggil Yeon sembari masuk ke dalam rumah bersama Luke.

“Kau sudah pulang, noona?” Jun keluar dari kamar dengan wajah mengantuk.

“Oh, Luke!” Sapa Jun dan seketika kantuknya menghilang melihat Luke.

“Hai, brother!” Balas Luke sembari memeluk Jun dengan erat.

“Kau baru bangun tidur?” Tanya Yeon dan mendekati Jun.

“Ya, noona. Malam ini aku harus bergadang di warnet.” Jawab Jun. Luke mengacak rambut laki-laki itu saat mendengar jawaban Jun.

“Jun-ah..” Yeon menatap Jun dengan pandangan putus asa.

“Ayolah, noona. Berhenti mengomeliku.” Keluh Jun.

Yeon terlihat ingin kembali berbicara, tetapi Luke memberinya isyarat untuk menutup mulutnya. Ia tidak ingin Yeon dan Jun bertengkar. Dan Luke tidak ingin berdiri dengan posisi canggung karena tidak tahu harus berada di pihak siapa.

“Kau menolak traktiranku dan ingin memasak untuk makan malam, kan? Sekarang masaklah karena aku sudah sangat lapar.” Ujar Luke.

Kemudian Luke merangkul Jun dan membawa laki-laki itu ke ruang tamu yang merangkap menjadi ruang keluarga. Ruangan itu setidaknya memiliki sebuah sofa sederhana dan televisi berlayar datar dengan ukuran sedang.

Televisi yang di bawa dari rumah lama Yeon. Begitu pun dengan beberapa barang lainnya yang berasal dari rumah lamanya. Setidaknya rumah ini tidak terasa kosong.

Luke dan Jun duduk bersebelahan di sofa. Jun menyalakan televisi dan mencari channel yang menayangkan acara menarik.

“Apa kau sudah memilih universitas mana untuk kuliah?” Tanya Luke.

“Aku tidak mau kuliah.” Jawab Jun.

“Aku pikir itu bukan ide yang baik, brother.” Ucap Luke.

“Tapi menurutku itu yang terbaik. Aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik setelah lulus sekolah.”

“Dengar, Jun. Mencari pekerjaan bukan hal mudah. Apalagi jika kau hanya lulusan SMA.”

“Aku tahu, Luke. Tetapi bukan berarti aku tidak bisa menemukan pekerjaan yang layak untukku, kan?”

“Jun..” Luke mengambil remote dari tangan Jun. Meminta laki-laki itu untuk memperhatikannya.

“Yeon menceritakan padaku bahwa kau tidak mau kuliah. Kau memintanya untuk menikah agar dia tidak perlu bekerja keras.” Kata Luke.

“Tahukah kau bahwa tindakanmu itu dapat melukainya?” Tanya Luke.

“Kenapa aku melukainya? Aku melakukannya agar Yeon noona tidak mengalami kesulitan, Luke.” Ucap Jun membela diri.

“Aku pikir kau yang paling tau bagaimana senangnya Yeon saat mendapat pekerjaan di Pearl Group.” Ujar Luke.

Jun menundukkan kepalanya dan membayangkan bagaimana senangnya Yeon saat itu. Bahkan dirinya pun juga merasa sangat senang saat itu. Jun tidak tahu apa alasan dirinya merasa senang. Apakah karena ia bangga pada Yeon ataukah karena Yeon yang merasa senang, sehingga Jun ikut merasa senang.

Tetapi Jun masih mengingatnya dengan sangat jelas.

“Dia berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang layak hanya untukmu, Jun. Dia ingin kau mendapatkan yang terbaik untuk pendidikanmu. Hingga suatu hari nanti pun kau juga bisa mendapatkan pekerjaan yang layak sama seperti dirinya.” Jelas Luke.

“Kau tidak bisa menyia-nyiakan usahanya, Jun. Dengan kau menolak untuk kuliah, Yeon akan merasa bahwa semua usahanya tidak berguna.”

“Jika kau ingin Yeon merasa bahagia, maka kau harus menurutinya. Saat kau sudah bisa mendapatkan pekerjaan nanti, kau bisa memaksa Yeon untuk berhenti bekerja dan menikah sesuai keinginanmu.”

Jun tampak memikirkan kata-kata Luke. Tidak ada kata-kata yang bisa dibantah olehnya. Semua yang dikatakan Luke benar dan masuk akal. Membuat Yeon bersedih dan terluka adalah hal terakhir yang diinginkan Jun.

“Kau masih bisa bekerja paruh waktu saat kuliah. Sama seperti Yeon.” Ucap Luke.

“Tidak bisakah kau menikah dengan Yeon noona, Luke?” Tanya Jun.

Luke terkejut mendapat pertanyaan dari Jun. Namun kemudian ia tersenyum sembari mengacak rambut pendek Jun.

“Percayalah aku ingin melakukannya jika aku bisa, Jun. Tetapi menikah bukanlah hal mudah. Apalagi jika tidak ada cinta di dalamnya. Aku menyayangi Yeon, tetapi aku tidak mencintainya. Begitu pun sebaliknya. Kami hanya saling menyayangi sebagai saudara. Sama seperti kami yang menyayangimu.” Jawab Luke.

Jun tidak dapat menutupi rasa kecewanya. Dari dulu ia sangat ingin Yeon dan Luke menikah. Luke orang yang baik. Ia yakin Yeon akan bahagia jika memiliki suami seperti Luke. Orangtua Luke pun sangat menyayangi mereka.

“Tetapi mungkin aku akan memikirkan saranmu jika kami sama-sama tidak memiliki kekasih untuk beberapa tahun ke depan.” Canda Luke hingga membuat Jun tertawa.

“Kau mungkin tidak akan senang mendapatkan kakak ipar sepertiku. Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, Jun.” Kata Luke sembari berpura-pura hendak mencekik Jun.

Tawa Jun semakin kencang hingga membuat Yeon yang berada di dapur dapat mendengarnya.

Yeon meletakkan makanan terakhir yang dimasaknya di atas meja. Ia meninggalkan dapur untuk menemui dua laki-laki yang sangat disayanginya itu. Ia menemukan Luke dan Jun sedang bercanda satu sama lain.

“Makan malam sudah siap.” Kata Yeon. Luke dan Jun segera menoleh.

Jun berdiri dan menghampiri Yeon. Yeon menatap Jun dengan bingung. Wajah laki-laki itu terlihat sangat serius saat ini.

“Aku akan kuliah, noona.” Ucap Jun membuat mata Yeon melebar.

“A–apa?”

“Aku bilang aku akan kuliah. Bisakah kau membiayai kuliahku, noona?” Pinta Jun.

Keterkejutan Yeon langsung berubah menjadi kebahagiaan. Ia menganggukkan kepalanya dan menatap Jun dengan mata berbinar.

“Tentu, Jun-ah.” Jawab Yeon.

Jun memeluk Yeon dan mengusap punggung Yeon dengan pelan.

“Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh agar aku bisa cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan sepertimu. Saat aku sudah mendapatkan pekerjaan, aku ingin kau berhenti bekerja dan menikah, noona.” Ucap Jun. Ia dapat merasakan Yeon mengangguk dalam pelukannya.

Yeon menatap Luke dari balik bahu Jun. Ia mengucapkan ‘thank you‘ tanpa bersuara. Namun Luke dapat memahaminya dengan baik karena laki-laki itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

——

Kyuhyun memasuki rumahnya dan langsung disambut oleh Hanna. Ia tersenyum walaupun rasa lelah menggerogoti tubuhnya. Kyuhyun tidak ingin menunjukkan rasa lelahnya pada sang ibu.

“Kau sudah pulang, sayang.” Sapa Hanna.

“Ya, eommoni.” Sahut Kyuhyun.

“Mandilah setelah itu kita makan malam.”

“Aku sudah makan, eommoni. Aku akan mandi dan beristirahat.”

“Kalau begitu naiklah ke kamarmu. Kau terlihat lelah.” Kata Hanna.

“Padahal aku berusaha menyembunyikannya darimu.” Keluh Kyuhyun membuat Hanna tersenyum.

“Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, anakku.”

Kyuhyun merangkul Hanna dan mereka berjalan bersisian.

“Tuan muda, tuan besar memanggil Anda ke ruang kerjanya.” Salah seorang pelayan menghampiri mereka.

Kyuhyun menatap Hanna seolah bertanya maksud dari Younghwan memanggilnya. Tetapi Hanna menggelengkan kepalanya karena ia tidak mengetahui alasan Younghwan memanggil Kyuhyun. Suaminya itu tidak mengatakan apapun padanya tadi.

“Pergilah temui ayahmu. Mungkin dia ingin bertanya tentang perusahaan.” Ucap Hanna sembari mengusap punggung Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk dan meninggalkan Hanna menuju ruang kerja Younghwan. Ia mengetuk pintunya dua kali sebelum akhirnya membukanya dan masuk ke dalam.

“Aku sudah pulang, abeoji.” Ujar Kyuhyun.

“Aku tahu karena itulah aku memanggilmu ke sini.” Sahut Younghwan dengan ketus.

Kyuhyun mendengus membalas ucapan ketus Younghwan. Pria itu selalu bersikap seperti itu padanya. Hingga membuat Kyuhyun terkadang merasa kesal dan juga geram. Tetapi ia menyayangi Younghwan.

“Ada apa kau memanggilku kemari?” Tanya Kyuhyun.

“Ini.” Younghwan menyodorkan sebuah foto ke hadapan Kyuhyun.

“Siapa dia?” Tanya Kyuhyun lagi saat melihat seorang perempuan di foto tersebut.

“Dia anak bungsu dari CH Group. Namanya Choi Yongra. Aku ingin kau menemuinya dan menjalin hubungan dengannya. Aku ingin menjodohkan kalian.” Jelas Younghwan.

Kyuhyun menghela nafas dan meletakkan foto tersebut di atas meja Younghwan. Benar-benar terlihat tidak tertarik pada perempuan cantik di dalam foto itu.

“Aku tidak tertarik, abeoji.”

“Aku tidak meminta pendapatmu. Aku ingin kau melakukan apa yang aku ingiinkan.” Tegas Younghwan.

“Abeoji..”

“Dengar, Kyuhyun. Aku ingin kau menikah.” Ucap Younghwan sembari menatap Kyuhyun dengan tajam.

“Aku akan menikah, abeoji. Tetapi tidak sekarang. Dan tidak dengan perempuan yang kau jodohkan denganku. Pernikahan itu, aku yang akan menjalaninya. Maka aku yang akan memilih sendiri calon istriku.” Tegas Kyuhyun.

“Aku tidak ingin berdebat tentang pernikahanku. Aku akan ke kamarku untuk beristirahat. Selamat malam, abeoji.” Pamit Kyuhyun dan segera berbalik meninggalkan ruangan Younghwan.

“Ada apa?” Tanya Hanna saat melihat wajah kesal Kyuhyun ketika keluar dari ruang kerja Younghwan.

“Abeoji ingin menjodohkanku, eommoni. Dan aku tidak menyukainya. Aku masih mampu mencari seorang perempuan untuk menjadi istriku. Dia bisa mengaturku jika itu menyangkut perusahaan. Tetapi dia tidak bisa mengatur kehidupan pribadiku.” Ucap Kyuhyun penuh penekanan dan kemudian meninggalkan Hanna.

Hanna menatap punggung Kyuhyun dan ruang kerja Younghwan secara bergantian. Kedua laki-laki yang sama-sama keras kepala itu akan selalu berdebat jika mereka tidak sependapat. Dan Hanna selalu merasa sedih melihatnya.

——

Yeon menghentikan langkahnya yang hendak memasuki Pearl Group, saat melihat Kyuhyun dan Eunsoo turun dari mobil yang sama. Keduanya terlihat sedang membicarakan sesuatu yang menarik karena senyum terus terpancar dari wajah mereka.

Saat ini mereka terlihat tidak canggung satu sama lain. Apakah seluruh pegawai kantor tau mengenai hubungan mereka? Ataukah mereka hanya dikenal dekat saja? Apapun itu, Yeon benar-benar penasaran dengan hubungan mereka.

Karena selama ini Kyuhyun tidak pernah benar-benar mengatakan jika ia adalah kekasih Eunsoo. Begitu pun sebaliknya.

Senyum Eunsoo tampak semakin lebar saat melihat Yeon. Ia melambaikan tangannya dan di balas senyum tipis oleh Yeon. Yeon mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang sedang menatapnya. Senyum di wajah laki-laki itu menghilang.

“Selamat pagi, Yeon-ssi.” Sapa Eunsoo.

“Selamat pagi, Eunsoo-ssi.” Balas Yeon.

“Kau berangkat bersama Direktur Cho?” Yeon tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“A–ah, kebetulan bertemu di halte bus. Lalu Direktur Cho menawarkan untuk berangkat bersama dari sana.” Ucap Eunsoo.

“Halte bus? Bukankah kau biasa naik mobil? Lagipula apakah Direktur Cho biasa menawari kebaikannya seperti itu pada pegawai lain?” Tanya Yeon.

Yeon melihat Eunsoo menggaruk pelipisnya yang diyakini Yeon tidak gatal sama sekali.

“Mobilku rusak. Karena itu aku naik bus. Dan Direktur Cho memang orang baik. Ayo, masuk.” Ajak Eunsoo sembari menarik Yeon.

Yeon tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh. Dan ia menemukan Kyuhyun mengikuti mereka dari belakang. Tatapan laki-laki itu masih tertuju padanya.

Mereka menunggu lift bersama beberapa pegawai yang lainnya. Kali ini Kyuhyun berdiri di depan mereka. Yeon dapat menatap punggung lebar laki-laki itu. Rambutnya sedikit panjang dan sudah menyentuh kerah kemeja putih yang dipakainya.

Pintu lift terbuka dan Kyuhyun masuk lebih dulu sebelum yang lainnya menyusul. Karena Kyuhyun paling terakhir yang akan keluar dari lift nanti, maka laki-laki itu memilih untuk berdiri paling belakang. Punggungnya bersandar pada dinding lift.

Yeon berdiri tepat di depan Kyuhyun dengan Eunsoo yang berada di sampingnya dan diikuti dengan pegawai lainnya. Yeon mengabaikan bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri, entah karena apa.

Yeon mencoba fokus pada Eunsoo yang mengajaknya berbicara dari tadi. Dan anehnya, semua yang Eunsoo tanyakan sebanyak tujuh puluh persen adalah tentang Luke. Yeon tidak keberatan menjawab semua pertanyaan Eunsoo.

Hanya saja Yeon merasa tidak nyaman karena kekasih Eunsoo berdiri tepat di belakangnya. Bagaimana bisa perempuan itu membicarakan laki-laki lain di saat kekasihnya berada tidak sampai satu meter darinya?

“Jadi, Luke tidak memiliki saudara karena itulah dia sangat dekat denganmu dan adikmu?”

“Ya, orangtua Luke–“

Yeon tidak bisa melanjutkan ucapannya saat merasakan ada yang menggenggam jari-jari tangannya. Mata Yeon melebar dan ia yakin wajahnya memucat saat ini. Yeon tahu ini konyol, tetapi ia tahu bahwa yang melakukannya adalah Kyuhyun. Hanya Kyuhyun yang berada di belakangnya saat ini.

Yeon menunduk dan menatap tangannya. Sesuai dugaannya, sebuah tangan besar menggenggam jari-jari mungilnya. Nafas Yeon tiba-tiba terasa berat. Memberanikan diri, Yeon menoleh ke belakang secara perlahan.

Kyuhyun sedang menatapnya dengan sebelah alis naik ke atas. Saat seperti ini, Yeon benar-benar ingin menampar wajah Kyuhyun. Bagaimana bisa dia menggenggam tangan Yeon di saat ada kekasihnya di sana?! Tidak salah jika Yeon menyebutnya laki-laki ini brengsek, kan?

Yeon kembali menatap ke depan. Ia berusaha untuk melepaskan tangannya dari Kyuhyun. Namun Kyuhyun tidak membiarkannya dan menggenggamnya semakin erat. Yeon menggigit bibirnya dan menahan diri untuk tidak berteriak.

“Ada apa, Yeon-ssi?” Tanya Eunso.

“A–apa? Ah, t–tidak. Ti–tidak apa-apa.” Jawab Yeon.

Sial. Walaupun ia tidak melihat, Yeon yakin bahwa Kyuhyun sedang menertawakannya di belakang.

Yeon menatap angka yang sedang berjalan. Saat ini lift sedang berhenti di lantai 7. Satu lantai lagi maka ia bisa membebaskan dirinya dari Kyuhyun. Yeon masih terus berusaha melepaskan tangannya sembari berharap bahwa lift cepat naik.

“Jadi, bagaimana dengan Luke?” Tanya Eunsoo.

“Eunsoo-ssi, bukankah kau sudah memiliki kekasih? Bagaimana bisa kau menanyakan tentang laki-laki lain?” Yeon benar-benar tidak bisa menahan diri.

Yeon dapat melihat wajah Eunsoo merona malu. Eunsoo menoleh ke belakang dan mata Yeon melebar. Apa Eunsoo sedang menatap Kyuhyun? Eunsoo tidak akan menyadari tangan mereka yang saling menggenggam, kan? Ralat, Kyuhyun yang menggenggam tangannya.

“Aku hanya penasaran.” Gumam Eunsoo.

TING!

Yeon merasa sangat lega saat lift berhenti di lantai 8. Ia menarik tangannya dan berpikir bahwa Kyuhyun masih akan menahannya, ternyata Kyuhyun melepaskan tangannya dengan mudah.

Yeon segera keluar dari lift dan tidak memperdulikan kesopanannya pada Kyuhyun. Sebelum lift tertutup, Yeon melayangkan tatapan tajamnya pada Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun hanya menatapnya dengan wajah menggoda.

Yeon mendengus dan menyusul Eunsoo yang sudah berjalan lebih dulu. Karena terlalu kesal dengan tingkah Kyuhyun, Yeon tidak memperhatikan sekitar dan menabrak seseorang.

“Maaf.” Sesal Yeon sembari mendongak.

Yeon menemukan Raebin yang sedang memegang lengannya dan membantunya menyeimbangkan diri. Hampir saja pantatnya mencium lantai yang mengkilap itu.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Raebin.

Suara Raebin terdengar khawatir. Laki-laki itu juga tidak menatapnya dengan pandangan misterius. Sepertinya Eunsoo dan Taehee benar, jika Raebin adalah orang baik.

“A–aku baik-baik saja. Terima kasih, Tuan Cha.”

“Raebin saja.” Kata Raebin dan melepaskan tangannya dari Yeon.

“Terima kasih, Raebin-ssi.” Gumam Yeon.

“Sama-sama.” Balas Raebin dan segera meninggalkan Yeon.

Yeon menatap punggung Raebin dan menghela nafas. Seluruh anggota tim produksi bersikap baik padanya. Hanya Manager Lee yang membencinya dan Yeon tidak tau harus berbuat apa untuk membuat wanita itu menyukainya.

Ponsel di dalam saku blazer Yeon bergetar satu kali menandakan bahwa ada sebuah pesan masuk. Yeon mengeluarkan ponselnya sembari  berjalan menuju mejanya. Namun saat membaca pesannya, langkah Yeon terhenti.

From: 010-5896-0552

Apakah menggenggam tangan perempuan lain di saat ada kekasihnya di tempat yang sama merupakan perbuatan laki-laki brengsek?

Cho Kyuhyun?

Sial. Apa laki-laki itu baru saja mengakui bahwa Eunsoo adalah kekasihnya?

——

–To Be Continued–

HAI! Yah, walaupun ending FF TOAO belum mencapai 100 comment, aku memutuskan untuk ngepost lanjutan FF ini. Aku menghargai usaha kalian yang udah bersedia comment. Jujur aja aku ada ngapusin 5 comment dengan nama yang sama. Itu semua karena dia ga comment tentang FF TOAO tersebut, melainkan nagih kelanjutan FF ini. Dan aku kecewa banget, sumpah! Tapi aku berusaha berpikir positif, yang berarti FF ini memiliki banyak peminat. Thank you.

Selagi nungguin 100 comment, ga tahu kenapa ide di kepala aku ngalir lancar banget. Jadinya aku udah nyelesain FF ini sampe part 4. Dan sekarang part 5 udah ¼ jalan. Semuanya tergantung kalian. Kalau kalian comment lancar, aku juga bakal ngepostnya lancar.

Dan aku minta maaf atas banyaknya typo nama yeon dan yongri. Tahu’kan kalau menghilangkan kebiasaan itu susah? Huhuhuhu.. jadi kalau part-part yang lain masih ada nama Yongri tolong abaikan. Okay?

Happy reading~

BYE~

Advertisements

127 thoughts on “Love, Hurt, and Revenge – Part 2

  1. sukses bikin penasaran. penasaran akhirnya bakal gimana. banyak pertanyaan yang berterbangan dikepala.

  2. Kayanya ada masalah besar antara keluarga jung(Appa yeon) dan kerluarga cho tapi sebenarnya ada masalah apa? kenapa tuan cho marah sekali tau anaknya tuan jung kerja diperusahaannya?? penasaran banget apa hubungannya kyuhyun dan eunsoo? dan rencana yeon itu apa??

  3. uhhh kyuhyun berharap banget sama yeonn. ayahnya udah tau tp kyuhyun emang ga tau apa msalahnya mungkin yah.

  4. Haahhahhahahaha padahal kalo dari segi cerita pasti mikir ceritanya bakal yang agak gimana gitu, karena bercerita tentang balas dendam juga, tapi kenapa yang ada jadi lucu sih.. hahaha
    Bagus sih, jadi ga menegangkan dan bacanya juga ga yang tegang gimana gitu..
    sejauh ini tetep menarik lah ceritanya ^^

  5. ih penasaran . masih banyak misteri ini mah yang belum terungkap . masih misterius . eunbin . yeon . kyuhyun . raenbin .
    terus appa cho mau jodohin kyuhyun kah ,????

  6. kyuuuu mau dong di pegang tanganya :*
    eottokhae, kyu mau di jodohin sm anak bungsu dari CH Group. Namanya Choi Yongra. Omg Noooo nae tdk sesujuuuu

  7. Maniiss bgt si yeon, author na bkin penasaran ne tntang hub. Kyu n eunso n tentang penyebab bls dendam yeon jg. Hehehehe😄😄
    Next part aq yakin bkl makin seru dh
    Smangat author😉

  8. Makin penasaran ma hub kyu and eunsoo apa mereka benar2 pacaran?? Doh gak kuku thor ff nya bner2 ddaebakk 😘😘😘makin penasaran ma yeon ada masalah apa ma keluarganya kyu??? Keep writing ya thor 👏👏👏

  9. benerr gak sihh kyuu amaa eunsoo ituu???
    kokk penasarannn yaa….
    kaloo iaa tp kayak tidakkmm keduanyaa saling menutupi satu smaa lain..
    lgian pas d kelyargaanyaa kyuu gk bilang kalo dia punya kekasih

  10. ihhh misterius bgt sih kyuhyunah astaga aku gemes bgt hahahahaha btw raebin kenapaaaaaa dan duh kyuhyun eunsoo ini juga mencurigakan yet misterius bgt hahaha gemes bacanya asliii dah lanjjuuttt

  11. sebenernya hbgan eunsoo + kyuhyun apa? please masih ambigu ini, kkkk
    tapi seneng kyuhyun yg mulai tertarik sama yeon😄
    semangat buat lanjut karyamu author😘👍👏

  12. Kayaknya tuan cho sengaja mau menjodohkan Kyu oppa krn baru th anaknya itu memperkerjakan anak dr alm tuan jung, penasaran sbtlnya dulu bgmn hub tuan jung dan tuan cho, knp jung yeon jg smp menyusun rencana u melakukan balas dendam pd keluarga cho, eunsoo itu kekasihnya siapa ya penasaran

  13. Makin penasaran kenapa raebin natap yeon begitu misterius apa dia juga sama kaya yeon punya dendam sama keluarga cho?
    Kayanya kekasih eunsoo bukan kyuhyun deh mungkin mereka sepupuan atau temenan?

  14. Sebenernya ada hub apa Eunsoo sama Kyu ? Kenapa mereka sembunyi2 kalo mereka ga ada apa2 ?
    Dan kenapa Keluaga Cho kesel gt tau ada keluarga Jung kerja di P.G ?
    Ah banyak penasaran nya.. hehe

  15. Maaf ya ka aku komennya di sini sekaligus sama part 1 nya hehe
    Lagi iseng eh nemu blok ini dan langsung jatuh hati.
    Duuhhh Kyuhyuuunnnn
    Hubungan Kyuhyun sama Eunsoo apa ya? Saudara? Temen?
    Itu kenapa dah bapaknya Kyuhyun ga suka sama keluarga Jung?
    Terus apa hubungan kematian ortu Yeon sama keluarga Cho?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s