Love, Hurt, and Revenge – Part 1

Author

Choineke

Title

Love, Hurt, and Revenge

Cast

 Cho Kyuhyun, Jung Yeon (OC)

Other cast

Luke Collins (OC), Kang Eunsoo (OC), Cho Younghwan (Kyuhyun’s Father), Kim Hanna (Kyuhyun’ Mother), Jung Jun (Yeon’s Brother–OC), and others

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–I’m trapped in my own revenge–

——

Author POV

“Alasan saya ingin bekerja di sini  karena Pearl Group merupakan perusahaan teknologi terbaik dan terbesar di Korea Selatan. Saya tentu saja ingin belajar banyak dari perusahaan ini dan ingin mengetahui bagaimana Pearl Group mengembangkan teknologi dengan semakin baik setiap harinya.”

“Setelah saya lulus kuliah, belum ada satu pun perusahaan yang saya minati selain Pearl Group. Karena itulah lamaran pertama saya kirimkan ke perusahaan ini. Dengan harapan Tuan dapat mempertimbangkan kegigihan serta semangat yang saya miliki.”

Yeon dapat melihat dirinya tersenyum dengan sangat manis dari cermin dihadapannya. Andai saja kecantikan yang dimilikinya dapat dipergunakan untuk mendapatkan pekerjaan di Pearl Group, Yeon yakin ia akan diterima dengan mudah.

Sayangnya Pearl Group merupakan perusahaan yang mengedepankan wawasan serta pengetahuan pekerja. Wajah secantik apapun yang kau miliki, jika kau orang yang bodoh, maka kau tidak akan pernah dilirik oleh mereka.

Karena itulah Yeon berusaha keras untuk diterima di perusahaan ini.

Yeon menatap jam dipergelangan kirinya dan saat itulah matanya melebar karena terkejut. Ia segera mengambil tas kecil di atas tempat tidur dan segera keluar dari kamar. Ia hampir terlambat untuk melakukan wawancara pagi ini.

“Noona, dimana sarapanku?” Tanya Jun yang baru saja keluar dari kamar.

Laki-laki itu tampak rapi dengan seragam sekolahnya. Jun berada di tingkat terakhir Sekolah Menengah Atas. Ia sekolah di pagi hari dan bekerja di malam hari. Walaupun begitu, Jun tidak pernah terlihat lelah sedikit pun.

“Maaf, Jun-ah. Aku tidak sempat membuatkanmu sarapan. Sarapan saja saat kau diperjalanan ke sekolah, mengerti?” Ujar Yeon sembari memakai sepatu hak tingginya.

“Ck! Karena itulah berulang kali kukatakan untuk tidak bangun kesiangan, noona!” Gerutu Jun.

“Ini bukan soal bangun kesiangan, Jung Jun. Hidup dan matiku dipertaruhkan hari ini, karena itulah aku harus datang tepat waktu!” Kata Yeon dan segera meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini ditempatinya bersama Jun.

“Apa maksud ucapannya?” Gumam Jun sembari menatap pintu rumah.

“Terkadang dia suka bersikap berlebihan.” Kata Jun dan kembali masuk ke dalam kamar untuk bersiap pergi ke sekolah.

——

Yeon terus menatap ke arah pintu dimana tempat wawancara dilaksanakan. Ia sedang menunggu gilirannya dengan gugup. Beberapa orang yang sudah keluar dari ruangan tersebut selalu terlihat pucat dan lesu. Membuat Yeon merasa semakin takut.

Berapa kali pun ia melatih cara berbicaranya di depan cermin, itu semua tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya. Apalagi saat ini Yeon terus mendengarkan orang-orang berbicara sendiri disekitarnya.

Yeon juga ingin seperti mereka yang kembali berlatih di sana. Tetapi Yeon tidak bisa melakukannya di saat begitu banyak orang disekitarnya. Dan Yeon tidak berani beranjak dari sana sedikit pun karena bisa saja mereka memanggilnya di saat ia sedang tidak di tempat.

“Hahhh..” Yeon menghela nafas dengan panjang dan meremas kesepuluh jarinya.

Jari-jari tangan mungilnya sudah terasa sangat dingin. Yeon tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya. Pada saat sidang tugas akhirnya pun Yeon merasa begitu percaya diri. Tidak seperti saat ini. Dan Yeon tidak mengetahui alasan di balik itu semua.

Yeon menegakkan punggungnya saat pintu ruangan tersebut terbuka. Beberapa orang yang sebelumnya dipanggil telah keluar secara bersamaan. Dan lagi-lagi mereka terlihat begitu lesu.

“Nomor 16, Lee Sang Yoon. Nomor 17, Park Ji Hye. Nomor 18, Kim Nana. Nomor 19, Jung Yeon. Nomor 20, Lee Haneul. Nama yang dipanggil silahkan masuk ke dalam.”

Yeon segera berdiri saat mendengar namanya dipanggil, begitu pun dengan keempat orang lainnya. Ia merapikan pakaiannya yang terlihat sedikit kusut, sebelum akhirnya masuk ke dalam.

Ada lima buah kursi kosong yang diperuntukkan kepada mereka berlima yang akan melakukan wawancara. Yeon mengambil kursi nomor dua dari kiri dan menundukkan kepalanya. Perempuan itu sedang sibuk menghembuskan nafasnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.

Setelah merasa cukup, Yeon segera mengangkat kepalanya dengan percaya diri. Dan saat itulah, mata Yeon bertemu dengan mata seorang laki-laki yang terlihat begitu tajam namun juga hangat di saat yang bersamaan.

Yeon sangat tau siapa laki-laki itu. Laki-laki yang begitu tampan dan begitu dipuja-puja oleh berbagai perempuan di dunia ini.

Tetapi tidak untuk Yeon.

Yeon justru menatap laki-laki itu dengan pandangan benci. Namun kemudian Yeon tersadar bahwa bukan laki-laki itu yang seharusnya dibencinya. Laki-laki itu mungkin tidak mengetahui apapun. Karena itulah Yeon akhirnya menatap laki-laki itu dengan pandangan terluka.

Seolah memberitahukan kesedihan yang selama ini dipendam seorang diri oleh Yeon.

——

Cho Kyuhyun sudah merasa sangat lelah, padahal ia belum menyelesaikan tugasnya untuk mewawancarai para pelamar yang akan bekerja di perusahaannya. Selain merasa lelah, Kyuhyun juga merasa sangat bosan.

Pertanyaan yang diberikan olehnya dan juga beberapa orang disisi kanan dan kirinya selalu sama dan terkesan monoton. Bukan karena mereka tidak kreatif, tetapi memang pertanyaan seperti itulah yang harus mereka ajukan kepada orang-orang yang hendak melakukan wawancara.

Setelah memberikan penilaian kepada beberapa orang yang baru saja melakukan wawancara, Kyuhyun menaikkan pandangannya. Ada lima orang lagi yang harus diberikan pertanyaan dan juga penilaian olehnya.

Dan Kyuhyun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan yang berada dihadapannya saat ini. Perempuan itu tentu saja memiliki wajah yang luar biasa cantik. Tetapi bukan itu yang membuat Kyuhyun tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Apa Kyuhyun salah melihat? Ataukah Kyuhyun sudah terlalu lelah sehingga matanya menjadi bermasalah? Kenapa perempuan itu menatapnya dengan tatapan seperti itu? Terlihat sedih, terluka dan berbagai macam perasaan yang begitu memilukan.

Kyuhyun kembali menunduk untuk melihat siapa nama perempuan itu.

Jung Yeon.

Kyuhyun tidak mengenal nama itu. Nama yang begitu asing untuk Kyuhyun. Itu berarti bahwa perempuan bernama Jung Yeon itu bukan mantan kekasihnya, kan? Tentu saja bukan. Kyuhyun masih mengingat dengan jelas perempuan-perempuan yang menjadi mantan kekasihnya.

Lalu, kenapa perempuan itu menatapnya dengan perasaan terluka? Padahal Kyuhyun tidak pernah menyakiti perempuan itu sekali pun.

Kyuhyun membaca resume milik Yeon dengan serius, hingga ia tidak sadar bahwa wawancara telah dimulai. Seseorang yang berada di samping kiri Kyuhyun memanggil laki-laki itu dan membuatnya terkesiap.

“Silahkan berikan pertanyaan Anda, direktur.” Ucapnya.

“Apa? Ah, ya.” Sahut Kyuhyun.

Kyuhyun menatap satu per satu pelamar yang berada dihadapannya. Dan kemudian pandangannya kembali jatuh pada Yeon. Kyuhyun memikirkan pertanyaan yang harus diberikannya kepada perempuan itu.

“Jung Yeon-ssi..” Ucap Kyuhyun.

“Ya?” Sahut Yeon.

“Disini saya melihat jika Anda melakukan cukup banyak pekerjaan paruh waktu. Boleh saya tau alasannya?” Tanya Kyuhyun.

“Saya melakukannya untuk membiayai kehidupan saya dan adik saya yang masih berada di tingkat akhir Sekolah Menengah Atas.” Jawab Yeon.

“Apa maksud Anda bahwa Anda adalah tulang punggung keluarga?”

“Saya dan adik saya sama-sama mencari uang.”

“Jika Anda diterima di perusahaan ini, apa Anda akan meninggalkan semua pekerjaan paruh waktu ini?”

“Ya, saya akan melakukannya. Saya hanya akan fokus bekerja di Pearl Group.”

“Kalau begitu bisa Anda jelaskan kepada kami kenapa Anda ingin bekerja disini?” Kyuhyun kembali bertanya dan memusatkan perhatiannya pada Yeon. Yeon membalas tatapan Kyuhyun.

“Alasan yang utama adalah karena Pearl Group merupakan perusahaan terknologi terbaik di Korea Selatan. Dijaman yang semakin modern, kita tidak pernah bisa lepas dari yang namanya teknologi. Karena itulah saya ingin menjadi salah satu bagian dari perusahaan yang akan membuat Korea Selatan semakin berkembang.” Jawab Yeon dengan lancar.

“Anda mengatakan jika itu adalah alasan utama, apa Anda memiliki alasan yang lain?” Tanya yang lain.

Yeon menundukkan kepalanya sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan tersebut.

“Saya membutuhkan banyak uang untuk membiayai adik saya ketika dia kuliah nanti. Dan saya ingin memintanya berhenti bekerja dan hanya fokus pada pendidikannya.”

Kyuhyun menatap Yeon dengan berbagai macam pertanyaan yang tidak bisa diutarakannya. Dimana kedua orangtuanya? Kenapa dia harus bekerja keras? Apakah Yeon berasal dari keluarga tidak mampu?

Apakah tatapan terluka yang diberikan Yeon padanya untuk membuat Kyuhyun mengasihaninya? Agar Kyuhyun menerimanya di perusahaan?

Sibuk dengan pikirannya sendiri membuat Kyuhyun pada akhirnya tidak bisa berkonsentrasi. Ia bahkan sudah tidak mendengarkan ketika Yeon dan yang lain menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara lainnya.

Karena saat ini fokus Kyuhyun hanya tertuju pada foto Yeon yang terdapat pada resume di atas mejanya.

——

Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya dan terlihat sangat Lelah. Mengganti sepatu  dengan sandal rumah dan berjalan dengan terseok-seok. Kyuhyun merasa tenaganya terkuras dan membutuhkan makanan untuk mengisinya kembali.

“Anda sudah pulang, tuan muda.” Sapa seorang pelayan sembari membungkukkan badannya.

“Ya. Dimana orangtuaku?” Tanya Kyuhyun sembari melepaskan mantelnya dan memberikannya pada pelayan tersebut.

“Mereka ada di ruang kerja tuan, tuan muda.” Jawab pelayan.

“Baiklah. Tolong siapkan makan malam untukku.” Pinta Kyuhyun.

“Baik, tuan muda.”

Kyuhyun segera melangkahkan kakinya ke ruang kerja Younghwan. Selelah apapun dirinya, ia tetap harus menyapa kedua orangtuanya tersebut. Bisa dikatakan jika Kyuhyun menjunjung tinggi sikap kesopanan kepada orangtua.

Kyuhyun mengetuk pintu ruang kerja sebanyak dua kali, sebelum akhirnya membukanya dan masuk ke dalam.

“Aku pulang, abeoji, eommoni.” Sapa Kyuhyun sembari menatap mereka bergantian. Kemudian Kyuhyun tersenyum kepada sang ibu, Kim Hanna.

“Oh, anakku sudah pulang.” Sambut Hanna sembari menghampiri Kyuhyun dan kemudian merangkul lengannya.

“Kau sudah makan malam?” Tanya Hanna.

“Belum, eommoni. Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkannya.” Jawab Kyuhyun.

“Bagaimana para pelamar hari ini? Apa wawancara berjalan lancar?” Tanya Younghwan yang duduk dikursi kerjanya.

“Lancar, abeoji. Aku dan yang lainnya sudah menentukan 5 pelamar yang akan bergabung dengan perusahaan kita minggu depan.”

“Pilihanmu tidak akan mengecewakan, kan?” Selidik Younghwan.

“Ini bukan pertama kalinya untuk Kyuhyun, suamiku. Apa dia pernah mengecewakanmu?” Bela Hanna. Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

“Hanya karena seseorang tidak pernah mengecewakan orang lain, bukan berarti dia tidak bisa melakukannya.” Sahut Younghwan.

“Jangan dengarkan ayahmu.” Bisik Hanna membuat Kyuhyun tersenyum.

“Tapi, Kyuhyun-ah. Kapan kau akan membiarkan kami mewawancarai calon istrimu?” Ujar Hanna.

“Jangankan calon istri, calon kekasih pun aku tidak punya, eommoni.” Kata Kyuhyun.

“Karena itu pilihlah salah satu perempuan di luar sana dan ajak dia kesini.” Suruh Hanna.

“Segeralah menikah agar ayahmu bisa menyerahkan perusahaan kepadamu sepenuhnya.” Lanjut Hanna.

“Aku tidak menikah pun, dia akan tetap memberikan perusahaannya padaku. Bukan begitu, abeoji?” Goda Kyuhyun. Younghwan berdehem pelan.

“Itu karena aku tidak memiliki anak lagi selain kau. Ahra sudah hidup tenang dengan suaminya di Jepang. Dia tidak mungkin tertarik dengan perusahaan.” Balas Younghwan.

“Kau dengar, eommoni? Perusahaan akan tetap diberikannya padaku.” Ujar Kyuhyun dengan bangga.

“Tapi bukan berarti kau bebas untuk tidak menikah, Cho Kyuhyun. Aku akan mencarikanmu calon istri yang baik.” Ucap Younghwan.

“Abeoji..”

“Dia bisa mencarinya sendiri, suamiku.” Sela Hanna.

“Eommoni benar. Aku bisa mencari calon istriku sendiri, abeoji. Hanya karena aku tidak memiliki kekasih sekarang, bukan berarti tidak ada perempuan yang tidak mau padaku. Aku hanya perlu memilih mereka.” Kata Kyuhyun.

“Tanpa memperdulikan asal usul keluarganya? Siapa orangtuanya? Apa kau tidak akan memperdulikan itu?” Tanya Younghwan.

“Itu–“

“Kau tidak bisa sembarangan mencari istri, Cho Kyuhyun. Dia harus yang sederajat dengan kita.” Suara Younghwan terdengar seperti tidak ingin dibantah.

Kyuhyun terlihat ingin membalas kembali ucapan Younghwan, namun Hanna langsung mencegahnya. Ia hanya tidak ingin anak dan suaminya itu bertengkar. Apalagi saat ini Kyuhyun terlihat sangat lelah. Mungkin nanti mereka bisa bicara lagi setelah semuanya lebih santai.

“Lebih baik kau mandi dan setelah itu makan malam.” Kata Hanna. Kyuhyun menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya.

Kyuhyun meninggalkan ruang kerja Younghwan dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Di sepanjang perjalanan, ia melepaskan jas serta dasi yang melekat ditubuhnya. Kemudian membuka dua kancing teratas kemejanya.

Sesampainya dikamar, Kyuhyun meletakkan jas serta dasinya di keranjang kotor. Masuk ke dalam kamar mandi dan membuka seluruh pakaian yang dipakainya. Kyuhyun berdiri di bawah shower dan membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya.

Kyuhyun mengusap lehernya yang terasa kaku dan tiba-tiba saja bayangan wajah Yeon menghampirinya. Wajah yang begitu cantik dan lengkap dengan tatapan terluka yang ditujukan padanya. Seharian ini Kyuhyun mencoba untuk tidak memikirkannya.

Namun tanpa bisa dicegah, bayangan itu malah seolah menghantuinya. Bahkan selama ini mantan kekasih Kyuhyun tidak pernah menatap Kyuhyun dengan begitu terluka. Tetapi Yeon mampu melakukannya dan membuat Kyuhyun tidak bisa mengabaikannya.

“Jung Yeon..” Gumam Kyuhyun sembari menundukkan kepalanya.

“Apa mungkin aku pernah menolaknya saat sekolah dulu?” Tanya Kyuhyun sembari mendongak dan menjauh dari guyuran air. Matanya sedikit melebar dengan pemikirannya sendiri.

“Sial, apa mungkin aku menolak perempuan cantik seperti dirinya?! Otakku tidak bermasalah, kan?” Ujar Kyuhyun.

“Ah, terserah! Jika aku memang pernah menolaknya, mungkin dia memang tidak masuk ke dalam tipe perempuan yang aku sukai.” Kata Kyuhyun dan melanjutkan kegiatan mandinya yang tertunda.

——

Yeon tampak berjalan ke sana kemari di dapur kecil yang berada dirumahnya. Masih memakai pakaian tidur, Yeon menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Jun. Ia tampak begitu piawai saat memakai peralatan dapur serta mengolah bahan-bahan makanan menjadi sebuah makanan yang lezat.

Walaupun bahan-bahan makanan yang digunakan terbilang sangat sederhana. Namun sekalipun Yeon dan Jun tidak pernah tidak mensyukurinya. Mereka selalu memakan apapun makanan yang ada.

“Selamat pagi, noona.” Sapa Jun memasuki ruang makan yang menyatu dengan dapur. Laki-laki itu duduk di kursi makan sembari menatap Yeon yang tampak sibuk.

“Eo, pagi, Jun-ah.” Balas Yeon.

“Sebentar lagi sarapan akan siap.” Kata Yeon.

“Hari ini kau tidak mempertaruhkan mati dan hidupmu lagi?” Sindir Jun.

“Tidak, aku hanya perlu menunggu hasilnya.” Ujar Yongri menanggapi sindiran Jun.

“Noona, apa kau tidak berpikir untuk menikah?” Tanya Jun.

Yeon menghentikan gerakannya dan berbalik untuk menatap Jun. Sebelah alis perempuan itu terangkat dan ia terlihat bingung setelah mendengar pertanyaan dari adiknya tersebut.

“Kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” Ujar Jun.

“Noonamu ini masih muda, Jun.” Kata Yeon dan kembali melanjutkan kegiatannya.

“Jika kau menikah, kau tidak perlu bekerja keras, noona. Kau hanya perlu menjadi ibu rumah tangga yang baik.” Ucap Jun. Yeon tersenyum kecil dan menaruh makanan di atas meja makan.

“Aku akan menikah setelah kau menikah.” Yeon duduk dihadapan Jun.

“Tidak bisa seperti itu, noona!” Protes Jun langsung. Ia menatap Yeon dengan pandangan tidak setuju.

“Aku tidak bisa menikah dan meninggalkanmu begitu saja, Jun-ah. Kau adikku satu-satunya. Aku harus memastikan kau hidup dengan baik.” Jelas Yeon.

“Aku seorang laki-laki, noona. Akulah yang seharusnya menjagamu dan memastikan kau hidup dengan baik. Aku juga bisa mejaga diriku sendiri.” Komentar Jun.

Yeon menghela nafas panjang.

“Apa kita akan terus berdebat di meja makan, Jun?”

“Baiklah, selamat makan.” Jun langsung mengambil makanannya dan menyantapnya dengan lahap.

Jun melirik ponsel Yeon yang bergetar didekatnya. Ia dapat melihat sedikit isi pesan tersebut. Karena merasa penasaran, Jun mengambil ponsel Yeon dan membuka pesannya. Yeon tidak menyadari apa yang sedang dilakukan adiknya tersebut.

Mata Jun bergerak liar membaca setiap isi dari pesan yang baru saja masuk. Awalnya kening laki-laki itu terlihat berkerut. Namun tiba-tiba matanya membesar dan ia segera berdiri dari duduknya. Tindakannya itu menimbulkan suara ribut dan membuat Yeon terkejut.

“Jung Jun!” Bentak Yeon. Kemudian perempuan itu menyadari ponselnya berada di tangan Jun.

“Apa yang kau lakukan pada ponselku?!” Tanya Yeon.

“Pearl Group?!” Pekik Jun. Yeon merasa bingung dengan apa yang baru saja dikatakan Jun.

“Kenapa?” Tanya Yeon.

“Noona, kau diterima bekerja di Pearl Group!” Ucap Jun dengan wajah senang.

“Apa?!” Yeon ikut berdiri dan menatap Jun dengan tidak percaya.

“Pearl Group, noona!” Jun terlihat sangat antusias.

Yeon merampas ponselnya dari tangan Jun. Membaca pesan yang baru saja dibaca oleh adiknya tersebut. Dan Yeon benar-benar tidak bisa mempercayi apa yang dibacanya saat ini. Well, dia mungkin memang pintar. Dan wawancaranya saat itu berjalan dengan lancar.

Yeon hanya…merasa semuanya terlalu mudah dan seperti mimpi.

“Benar.” Gumam Yeon.

“Aku diterima bekerja disana.” Bisiknya.

“Noona, selamat!” Jun menghampiri Yeon dan menggenggam lengan perempuan itu dengan semangat.

“Aku tidak bermimpi ‘kan, Jun?” Yeon terlihat hampir menangis.

“Kalau begitu biarkan kita bermimpi bersama, noona!” Sahut Jun masih dengan wajah bahagianya.

Yeon menatap Jun dan beberapa saat kemudian senyum lebar tercetak diwajahnya. Perempuan itu mendapatkan akal sehatnya kembali dan mulai menerima keberuntungan yang dialaminya.

“Aku bekerja di Pearl Group, Jun-ah!” Pekik Yeon sembari memeluk Jun. Jun membalas pelukan Yeon dengan erat.

“Noonaku bekerja di Pearl Group!” Jun tidak dapat menutupi rasa bangganya.

“Noona, kita harus merayakannya!” Kata Jun setelah melepaskan pelukan.

“Tentu!” Balas Yeon masih dengan senyum lebarnya.

Jun terlihat hendak meninggalkan Yeon, namun Yeon dengan cepat menahan lengan kekar laki-laki itu. Yeon cukup takjub dan bertanya-tanya kapan adiknya itu merawat tubuhnya hingga sekeras ini untuk ukuran anak sekolahan.

“Kau mau kemana?” Tanya Yeon.

“Aku akan menyiapkan untuk pesta perayaanmu!” Jawab Jun.

“Sebelum itu, dengarkan aku dulu.” Yeon menarik Jun mendekat padanya.

“Ada apa, noona? Kau terlihat aneh. Tersenyumlah dengan lebar, ini harimu.” Ucap Jun.

“Berhentilah bekerja, Jun.” Kata Yeon sembari menatap wajah Jun dengan serius. Jun terlihat terkejut.

“Aku akan mendapatkan uang yang banyak saat bekerja. Karena itu berhentilah bekerja dan fokus saja pada sekolahmu.” Jelas Yeon.

“Noona..”

“Kau harus masuk ke universitas yang baik, Jun-ah.” Kata Yeon. Jun menghela nafas panjang.

“Yeon noona, aku mungkin memang tidak memiliki otak sepintar dirimu. Tetapi aku tidak bodoh, noona. Aku masih bisa mengikuti kelasku dengan baik.” Ujar Jun.

“Tapi–“

“Apakah aku belum pernah mengatakannya padamu? Aku bekerja bukan karena aku ingin mencari uang atau uang yang kau berikan padaku terlalu sedikit, noona.”

“Aku melakukannya karena aku menyukainya. Aku suka bekerja di sana, noona. Aku bisa melakukan dua hal sekaligus, bermain dan bekerja. Duniaku berada di sana.”

“Jun-ah..”

“Dan aku tidak ingin kuliah.”

“Jung Jun!” Yeon meninggikan suaranya.

“Bukan karena uang, noona. Aku tau bahwa kau mampu menghasilkan uang untuk kuliahku. Tetapi aku tidak mau melakukannya. Aku tidak mau kau menghabiskan uangmu untuk pendaftaran kuliahku, namun pada akhirnya aku tidak akan pernah bisa memakai toga.” Jelas Jun.

“Kumohon jangan berdebat denganku, noona.” Ucap Jun ketika melihat Yeon hendak berbicara.

“Ini hari baik untukmu. Aku tidak ingin merusaknya dengan perdebatan kita.” Kata Jun.

“Aku akan membeli bahan makanan untuk pesta perayaan kita nanti malam. Kau mandilah dan bersihkan rumah!” Jun kembali tersenyum dan membuat wajahnya semakin tampan.

Jun melambaikan tangannya pada Yeon dan segera meninggalkan rumah. Yeon menatap kepergian Jun dengan sedih. Ia yakin apa yang adiknya katakan tadi hanya untuk mengurangi beban pikirannya. Ia yakin Jun ingin kuliah. Ia yakin jun merasa lelah dengan pekerjaannya.

Tetapi Yeon sangat mengenal Jun. Jun bukanlah laki-laki yang suka merengek akan sesuatu. Entah bagaimana Jun selalu bisa menahan dirinya untuk tidak mengeluh dihadapan Yeon. Dan Yeon merasa sangat sedih akan hal itu.

Yeon mengusap airmatanya yang tidak tau sejak kapan mengalir. Perempuan itu melangkahkan kakinya menuju kekamarnya. Mendekati sebuah meja rias sederhana dimana terletak sebuah bingkai foto di sana.

Yeon mengambil bingkai tersebut dan memandanginya dengan sedih. Namun beberapa saat kemudian mata itu memancarkan kilat benci dan juga kemarahan yang mendalam. Yeon mengabaikan airmata yang mengalir semakin banyak diwajahnya.

“Tunggulah sebentar lagi, appa, eomma.” Ucap Yeon dengan dingin.

“Aku akan menghancurkan mereka semua. Aku akan membuat mereka membalas apa yang sudah mereka lakukan pada kalian.” Kata Yeon dengan suara yang penuh dengan tekad.

——

Untuk kedua kalinya Yeon menginjakkan kakinya di perusahaan Pearl Group. Jika saat pertama kali Yeon merasa sangat gugup, saat ini ia merasa lebih percaya diri.

Walaupun memakai pakaian kerja yang jauh dari merek terkenal, namun pakaian tersebut tetap mampu membungkus tubuh semampai Yeon dan memperlihatkan setiap lekukan yang dimilikinya.

Hak tinggi dari sepatu yang digunakannya pun terdengar saling bersahutan di lobby kantor. Sejauh ini, Yeon merasa penampilannya sempurna untuk hari pertama bekerja.

Setelah bertanya kepada receptionist kemana dirinya harus pergi, Yeon melangkahkan kakinya menuju lift yang berada di ujung lobby. Ada beberapa orang yang juga sedang menunggu lift terbuka. Yeon memasang senyum tipisnya dan berusaha untuk bersikap ramah.

Lift membawa Yeon ke lantai 8 dimana meja kerjanya–sepertinya–berada. Ia menelusuri matanya ke kanan dan ke kiri, seolah sedang mencari seseorang atau sesuatu yang bisa dijadikannya pentunjuk.

Dan Yeon tidak bisa menahan lonjakan pada dirinya, saat seseorang menepuk bahunya dari belakang. Yeon segera berbalik dan menemukan seorang perempuan yang sedang menatapnya sembari tersenyum geli. Perempuan itu cantik, tetapi senyum geli diwajahnya membuat Yeon merasa tidak nyaman.

“Kau mencari seseorang?” Tanya Perempuan itu.

“Itu–” Yeon menggigit bibir dalamnya.

Tiba-tiba perempuan yang mengajaknya berbicara itu menjentikkan jarinya, membuat Yeon merasa bingung.

“Apa kau karyawan baru?” Tanya perempuan itu. Yeon menganggukkan kepalanya.

“Ah, ternyata kau! Kami sudah mendapatkan informasi tentang itu.” Kata perempuan itu.

Kami?

“Aku Kang Eunsoo.” Perempuan bernama Eunsoo itu mengulurkan tangannya dihadapan Yeon. Dengan ragu, Yeon menerima uluran tangan Eunsoo.

“Jung Yeon.” Ucap Yeon.

“Ayo, semua sudah menunggu kedatanganmu.” Ujar Eunsoo sembari menarik tangan Yeon.

“Teman-teman, kita kedatangan anggota baru!” Suara Yongri terdengar semangat.

Yeon terlihat salah tingkah saat beberapa pasang mata menatapnya. Pandangan mereka seolah sedang menilai penampilannya dan Yeon merasa tidak nyaman. Terlihat sangat jauh perbedaan penampilan mereka dan Yeon.

“Siapa namamu?” Tanya seorang wanita yang Yeon tebak berumur di pertengahan tiga puluhan.

Wajah wanita itu terlihat angkuh dan sangat tidak bersahabat. Sangat jauh berbeda dengan wajah yang ditunjukkan oleh Eunsoo tadi. Dan Yeon merasa sangat kecil saat ditatap seperti itu.

“Jung Yeon.” Jawab Yeon hampir terdengar seperti bisikan.

“Manager Lee, sikapmu membuatnya takut.” Kata Eunsoo.

“Aku pikir aku sudah bersikap selayaknya untuk seorang pegawai baru. Aku tidak bisa bersikap lebih ramah atau dia bisa menginjak kepalaku.” Sindir Manager Lee.

Yeon melirik Yongri yang meringis pelan.

“Aku Lee Heejung, manager di bagian produksi. Kau tentu tau bahwa kau berada di tim produksi, kan?”

“Ya, manager.” Sahut Yeon.

“Tim produksi memiliki lima anggota, ditambah denganmu menjadi enam.” Kata Manager Lee.

“Di sana Kim Minji, lalu, Park Taehee, Cha Raebin, dan yang berdiri di sebelahmu adalah Kang Eunsoo. Aku rasa kau sudah mengetahuinya.” Manager Lee melipat kedua tangannya di depan dada.

Yeon menatap mereka satu persatu dan beruntung mereka terlihat lebih bersahabat. Mereka melambaikan tangan pada Yeon hingga membuat perempuan itu memberikan senyum kecilnya.

“Nama saya Jung Yeon. Mohon bantuannya.” Kata Yeon memperkenalkan diri sembari membungkukkan sedikit badannya.

“Kau tau, bagian tim produksi berhubungan langsung dengan direktur dari Pearl Group. Kami sering mengadakan rapat bersama beliau selama dua minggu sekali jika sedang tidak ada produk baru, dan seminggu sekali jika sedang merilis produk baru.” Jelas Manager Lee.

“Kau sudah tau direktur kita, kan?” Tanya Manager Lee.

Yeon menganggukkan kepalanya.

“Dengar, aku paling tidak suka saat seseorang menjawab pertanyaanku hanya dengan gerakan tubuh mereka.” Omel Manager Lee.

“Maafkan saya, manager.” Ucap Yeon.

Manager Lee terlihat ingin kembali mengomeli Yeon, tetapi niatnya diurungkan saat melihat Cho Kyuhyun bersama dengan sekretarisnya sedang berjalan menghampiri mereka. Manager Lee meninggalkan Yeon dan langsung mendekati Kyuhyun.

“Ayo, direktur datang.” Bisik Eunsoo.

Seluruh anggota tim produksi mengikuti Manager Lee dan kemudian menghentikan langkah mereka saat Manager Lee lebih dulu berhenti di hadapan Kyuhyun. Mereka semua membungkuk hormat pada Kyuhyun.

“Selamat pagi, Direktur Cho.” Sapa Manager Lee.

“Ya, selamat pagi. Bagaimana dengan perkembangan produk baru, Manager Lee?” Tanya Kyuhyun.

“Masih memiliki kendala dalam pemilihan alat, Direktur Cho. Tuan Park dan Tuan Cha sedang berusaha menemukan yang sesuai dengan keinginan Anda.” Jawab Manager Lee menjelaskan sembari menunjuk Taehee dan Raebin bergantian.

“Usahakan secepatnya untuk–” ucapan Kyuhyun terhenti saat matanya menangkap sosok Yeon yang berdiri di belakang Manager Lee.

Kyuhyun memiringkan kepalanya untuk melihat perempuan itu lebih jelas. Menangkap apa yang Kyuhyun lakukan, Manager Lee menggeser posisinya agar Kyuhyun lebih leluasa menatap Yeon.

“Dia anggota baru tim produksi, direktur. Nona Jung, perkenalkan dirimu.” Perintah Manager Lee.

Dengan ragu, Yeon menatap Kyuhyun yang masih setia menatapnya.

Tatapan itu lagi.

Yeon merasa bingung. Ia berpikir bahwa Kyuhyun sudah mengetahui namanya. Mereka telah bertemu saat wawancara kerja. Tetapi jika ia tidak memperkenalkan dirinya, ia takut Manager Lee memarahinya.

“Tidak perlu. Aku sudah mengenalnya.” Ujar Kyuhyun.

“Apa? Anda mengenalnya? Bagaimana–“

“Maksudku..” Kyuhyun menggaruk keningnya yang tidak gatal.

Yeon dapat melihat Kyuhyun memakai cincin di jari kelingkingnya. Jari-jari Kyuhyun terlihat indah dan Yeon kehilangan fokusnya untuk terus menatap jari laki-laki itu.

“Aku bertemu dengannya saat wawancara kerja. Aku juga sudah tau namanya.” Jelas Kyuhyun.

“Bukan begitu, Nona Jung?”

Yeon terkesiap saat mendengar Kyuhyun mengajaknya berbicara. Ia berharap Kyuhyun menangkap basah dirinya yang sedang memandangi jarinya.

“Umm, ya.”

Kyuhyun menatap Yeon sesaat sebelum mengalihkan pandangannya pada Manager Lee.

“Kita akan membahas masalah ini hari Rabu nanti. Aku harap kita sudah menemukan titik terang, Manager Lee.” Suara Kyuhyun terdengar tegas.

“Ya, direktur.” Sahut Manager Lee langsung.

“Bagus. Silahkan kembali bekerja.” Ujar Kyuhyun.

Mata Yeon melebar saat melihat Kyuhyun mengedipkan matanya pada Eunsoo. Mengalihkan pandangannya pada Eunsoo, Yeon dapat melihat perempuan itu tersenyum manis pada Kyuhyun.

Ada apa diantara mereka? Apa Kyuhyun dan Eunsoo memiliki suatu hubungan? Sepasang kekasih?

Kau tidak boleh memiliki kekasih, Cho Kyuhyun.

Dan Yeon kembali terkesiap saat melihat Kyuhyun menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Setelah merasa puas, Kyuhyun berbalik dan segera meninggalkan mereka.

“Kalian dengar itu, Taehee-ssi, Raebin-ssi? Percepat gerakan kalian.” Titah Manager Lee.

“Baik, manager.” Sahut mereka bersamaan.

“Eunsoo-ssi, tunjukan meja anak baru ini dan jelaskan pekerjaannya. Seperti yang aku jelaskan padamu kemarin.” Kata Manager Lee.

“Saya mengerti, Manager Lee.” Ucap Eunsoo.

Eunsoo melambaikan tangannya dan meminta Yeon untuk mengikutinya. Menggenggam tali tas yang dipakainya, Yeon mengikuti Eunsoo dari belakang. Eunsoo berhenti disebuah meja yang berisi sebuah komputer serta alat tulis.

“Ini mejamu.” Kata Eunsoo dengan tersenyum.

“Terima kasih, Nona Kang.”

“Panggil saja Eunsoo.” Pinta Eunsoo. Yeon mengangguk.

“Hai, Yeon-ssi.” Seorang laki-laki yang diingat Yeon bernama Taehee menyapanya.

Yeon tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya membalas sapaan Taehee.

“Senang rasanya ada wanita muda dan cantik di tim ini.” Puji Taehee.

“Terima kasih.” Bisik Yeon.

“Aku juga wanita muda dan cantik, Taehee-ssi.” Ucap Eunsoo dengan lirikan tajam.

“Kau memang cantik, tetapi kau sudah milik seseorang.” Komentar Taehee.

Yeon memusatkan perhatiannya pada Eunsoo dan melihat wajah perempuan itu merona. Apa Eunsoo benar-benar kekasih Kyuhyun? Yeon tidak pernah menyangka jika Kyuhyun memiliki kekasih.

Yeon akan mengalami kesulitan jika Kyuhyun bukanlah laki-laki lajang. Ia tidak mungkin merebut Kyuhyun dari Eunsoo yang jelas-jelas sudah bersikap baik padanya.

Yeon harus mencari kebenaran tentang hal ini. Tapi bagaimana caranya? Haruskah ia menanyakannya pada Eunsoo? Tidak, sangat tidak sopan jika Yeon menanyakan hal pribadi di hari pertamanya bekerja.

Mereka bahkan baru hampir dua jam saling mengenal.

“Yeon-ssi?” Yeon tersentak saat Eunsoo menepuk bahunya.

“Ya?”

“Kenapa melamun? Yah, kau tidak perlu memikirkan sikap Manager Lee. Dia selalu bersikap ketus sepanjang hari.” Kata Eunsoo. Kemudian Eunsoo mendekatkan mulutnya pada telinga Yeon.

“Dia dijuluki penyihir Lee.” Bisik Eunsoo membuat mata Yeon melebar.

Yeon tidak dapat menahan senyum diwajahnya. Eunsoo bersikap sangat ramah dan bersahabat. Yeon juga merasa nyaman berada di dekat perempuan itu.

Baiklah. Sebelum mendekati Kyuhyun, Yeon harus mendekati Eunsoo dan mencari tau hubungan apa yang mereka miliki. Jika memang benar keduanya menjalin hubungan, maka Yeon harus mencari cara lain untuk mendekati Kyuhyun tanpa menyakiti Eunsoo.

——

“Bagaimana kau pulang?” Tanya Eunsoo saat mereka berada di dalam lift.

“Aku naik bus.” Jawab Yeon.

“Aku membawa mobil, kau mau ikut denganku?” Eunsoo menawarkan.

Yeon tersenyum dan menggeleng.

“Terima kasih atas tawarannya. Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula aku tidak langsung pulang ke rumah.” Ujar Yeon.

Eunsoo menganggukkan kepalanya.

Yeon merasa beruntung karena Eunsoo selalu menemaninya dan mengajaknya berbicara. Ia tidak bisa membayangkan hari pertamanya bekerja ia hanya seorang diri.

Lift berhenti dan mereka segera keluar. Melangkah di lobby yang ramai oleh pegawai yang juga hendak pulang bekerja.

“Oh?” Yeon menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang dikenalnya.

“Ada apa, Yeon-ssi?” Tanya Eunsoo bingung.

“Temanku ada disini.” Kata Yeon.

“Benarkah? Dimana?” Eunsoo menjulurkan lehernya untuk mencari teman yang dimaksud Yeon.

Yeon kembali melangkah dan mendekati teman yang dimaksud. Eunsoo masih setia menemaninya karena merasa penasaran.

“Luke?” Panggil Yeon.

“Hai, baby..” Sapa laki-laki yang dipanggil Luke oleh Yeon

Yeon dapat mendengar Eunsoo bergumam ‘wow‘ saat melihat wajah Luke. Tidak ada yang tidak terpesona saat melihat wajah tampan laki-laki keturunan Irlandia tersebut.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yeon.

“Aku tidak sedang bertugas. Aku pikir kita bisa makan malam bersama sebelum kau pulang.” Jawab Luke sembari tersenyum.

Eunsoo tidak bisa menyembunyikan wajah kagumnya saat mendengar Luke sangat fasih berbicara bahasa Korea.

“Okay. Ah, Luke, kenalkan dia Kang Eunsoo. Dia berada di tim yang sama denganku.” Kata Yeon sembari menunjuk Eunsoo.

“Eunsoo-ssi, kenalkan dia temanku, Luke Collins.” Lanjutnya.

Luke mengulurkan tangannya dan tersenyum pada Eunsoo. Eunsoo menyambut uluran tangan Luke.

“Luke Collins. Senang bisa bertemu denganmu, Ms. Kang.”

“Senang bertemu denganmu juga, Mr. Collins.”

“Kita pergi sekarang?” Tanya Luke setelah melepaskan tangannya dari Eunsoo dan menatap Yeon.

“Ya.” Jawab Yeon.

“Aku pulang dulu, Eunsoo-ssi. Terima kasih untuk perkenalan hari ini.” Ujar Yeon menatap Eunsoo.

“Sama-sama, Yeon-ssi. Senang bisa mendapat teman kerja baru.” Balas Eunsoo.

Yeon melambaikan tangannya pada Eunsoo yang berjalan menuju tempat parkir di basement.

“Ayo.” Luke merangkul Yeon dan mereka berjalan meninggalkan lobby.

“Aku sudah memesan tempat.”

“Kau selalu bertindak lebih dulu baru berbicara. Bagaimana jika aku tidak ingin makan malam denganmu?” Gerutu Yeon.

“Oh, itu tidak mungkin, baby.” Luke mengedipkan sebelah matanya.

Yeon tersenyum dan kemudian terpaku saat melihat Kyuhyun berjalan berlawanan arah dengannya. Senyum Yeon menghilang saat menyadari bahwa Kyuhyun sedang menatapnya.

Your boss?” Bisik Luke menebak. Yeon mengangguk.

“Lepaskan rangkulanmu, Luke.” Pinta Yeon. Luke menurut dan memasukkan tangannya ke dalam saku jeans.

Yeon membungkukkan sedikit badannya saat berada di dekat Kyuhyun. Tidak yakin dengan kata-kata yang harus dikeluarkannya untuk menyapa laki-laki itu. Maka Yeon hanya menundukkan kepalanya sembari melewati Kyuhyun.

“Nona Jung..” Yeon menghentikan langkahnya dan berbalik saat Kyuhyun memanggil.

“Ya, direktur?”

“Bagaimana hari pertamamu bekerja?” Tanya Kyuhyun setelah menatap Luke disamping Yeon.

“Umm, semua berjalan lancar.” Jawab Yeon walaupun merasa bingung.

Apa Kyuhyun menanyai hal yang sama pada setiap pegawai baru?

“Baguslah jika seperti itu. Sampai bertemu besok.”

Kyuhyun melanjutkan langkahnya setelah lagi-lagi menatap Luke. Seharusnya Kyuhyun tidak memikirkannya, tetapi ia bertanya-tanya siapa laki-laki yang berdiri di samping Yeon tersebut.

Kenapa mereka terlihat dekat hingga laki-laki itu merangkulnya? Kekasih? Kakak? Kyuhyun mendengus. Wajah mereka sangat jauh berbeda. Ia tau jika laki-laki itu bukanlah orang Korea.

“Terserahlah.” Ujar Kyuhyun.

“Anda mengatakan sesuatu, direktur?” Sekretaris Han bertanya.

“Tidak. Siapkan mobil. Aku akan pulang setelah mengambil berkas di atas.” Perintah Kyuhyun.

“Baik, direktur.”

——

“Jadi, bisa ceritakan padaku berapa persen rencanamu sudah berjalan?” Pinta Luke sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Nol.” Gumam Yeon.

Seriously? Kau bercanda denganku.”

“Seperti itulah kenyataannya, Luke. Aku harus menyiapkan rencana lain.”

“Ada apa dengan rencanamu sebelumnya? Aku pikir semuanya baik-baik saja.”

Luke meninggalkan makanannya dan tampak sangat serius menatap Yeon. Perempuan yang sudah dikenalnya semenjak sepuluh tahun yang lalu. Karena mereka tinggal bersebelahan.

Orangtua Luke tinggal di Korea bahkan sebelum Luke lahir. Karena itulah Luke sangat fasih berbahasa Korea. Luke memiliki usia 6 tahun di atas Yeon. Walaupun begitu, Luke tidak pernah ingin dipanggil ‘oppa’ oleh Yongri.

Luke merasa panggilan tersebut sangat menggelikan dan tidak cocok dengannya. Ia juga meminta Jun untuk tidak memanggilnya dengan sebutan ‘hyung’. Hanya nama, dan Luke sudah merasa senang.

Luke merupakan seorang dokter di salah satu rumah sakit terkenal.

Yeon mengenal orangtua Luke, begitu pun sebaliknya. Luke juga mengetahui semua yang terjadi pada keluarga Yeon, termasuk rencana balas dendam perempuan itu. Ia mendukung semua yang Yeon lakukan, tak terkecuali saat Yeon ingin pindah ke rumah yang lebih kecil.

“Cho Kyuhyun memiliki kekasih.” Kata Yeon.

“Tidak heran. Wajahnya tampan.” Respon Luke.

“Perempuan yang kukenalkan padamu tadi.”

Well, haruskah aku mendekatinya dan membuatnya memutuskan Kyuhyun?” Saran Luke. Yeon menggeleng.

“Dia perempuan yang baik, Luke. Aku tidak ingin menyakitinya.”

“Kau tahu..” Luke menghabiskan minuman di gelasnya.

“Tidak semua yang terlihat baik, memang baik.”

“Aku tahu. Hanya saja, aku yakin jika Eunsoo benar-benar orang yang baik. Dia begitu ramah padaku.” Ucap Yeon.

“Aku hanya perlu memikirkan cara lain untuk mendekati Kyuhyun.”

“Apapun caramu, kau tetap akan menyakiti kekasihnya.” Komentar Luke.

Yeon tidak ingin mengakuinya. Tetapi, sial, Luke seratus persen benar.

——

Yeon melambaikan tangannya pada Luke setelah laki-laki itu mengantarnya pulang ke rumah. Ia memasuki rumahnya yang tampak gelap dan juga sepi. Seperti tidak ada kehidupan.

“Jun?” Panggil Yeon.

Tidak ada sahutan apapun.

Yeon meletakkan tasnya di atas meja makan dan menuju lemari es kecil yang berada di dapur. Ia hendak mengambil sebotol air saat melihat sebuah catatan yang ditinggalkan oleh adiknya.

Noona, malam ini aku tidak pulang dan akan menginap di warnet. Jangan lupa kunci pintu dan jendela sebelum kau tidur. Aku mencintaimu.

–Jun–

Yeon menghela nafas dan terlihat kesal. Inilah salah satu alasan lainnya kenapa Yeon tidak ingin Jun bekerja. Jun sering kali menginap di warnet–tempatnya bekerja–walaupun keesokan harinya ia harus sekolah.

Jun seakan tidak kenal lelah dan bohong jika Yeon tidak merasa khawatir. Tetapi Yeon sudah kehabisan akal untuk membujuk laki-laki itu agar berhenti bermain. Warnet adalah dunia Jun dan Yeon seringkali merasa tidak tega jika meminta adiknya itu berhenti bekerja.

Mengambil tasnya, Yeon berjalan terseok menuju kamarnya. Ia menghampiri foto keluarga miliknya dan menatap wajah ayah dan ibunya dengan sedih.

“Appa.. Eomma.. Jun terlalu keras kepala untuk mendengarkan ucapanku.” Keluh Yeon.

Yeon berbaring di atas tempat tidur masih dengan memandangi foto orangtuanya.

“Bisakah kalian membantuku untuk melancarkan balas dendam ini?” Bisik Yeon.

Yeon memeluk foto tersebut di dadanya dan memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian perempuan itu tertidur dengan harapan bahwa ia bisa bertemu dengan orangtuanya di dalam mimpi.

——

Yeon baru saja sampai di kantor dan meletakkan tasnya di atas meja, pantatnya belum menyentuh kursi saat Manager Lee memanggilnya. Dengan sedikit berlari, Yeon menghampiri Manager Lee yang tampak sedang sibuk.

“Bawa ini ke ruang rapat.” Manager Lee memberikan tumpukan kertas kepada Yeon.

Yeon yang tidak siap mencoba untuk menyeimbangkan tangannya agar tidak menjatuhkan kertas-kertas tersebut dan membuat Manager Lee murka. Tumpukan kertas tersebut tidak banyak, tetapi juga tidak bisa dikatakan sedikit.

“Apa yang kau tunggu?! Bawa sekarang!” Manager Lee menaikan nada suaranya.

“Y–ya, Manager Lee.” Sahut Yeon.

“Uh, aku pikir kau kesulitan membawanya. Aku akan membantumu.” Ujar Taehee.

Yeon baru saja ingin mengucapkan terima kasih tetapi suara Manager Lee mengurungkan niatnya.

“Aku memiliki pekerjaan untukmu, Taehee-ssi. Kemarilah!”

Taehee meringis dan terlihat merasa bersalah pada Yeon. Yeon tersenyum kecil dan mengisyaratkan Taehee untuk segera menemui Manager Lee.

Yeon menghela nafas panjang dan segera menuju ke ruang rapat di atas. Dengan susah payah menekan tombol lift. Sial sekali karena tidak ada siapapun di sana yang bisa membantunya. Saat mata Yeon memandang pada timnya, ia dapat melihat tatapan Raebin yang sedang tertuju padanya. Tatapan yang terlihat tajam dan sedikit mengerikan untuk Yeon. Kenapa Raebin menatapnya seperti itu? Yeon mencoba untuk terlihat tidak peduli dan mengalihkan pandangannya.

Yeon masuk ke dalam lift yang tidak ada siapapun. Tangannya terasa pegal akibat tumpukan kertas untuk bahan rapat. Mengingat tentang rapat, sama saja mengingatkannya tentang bertemu dengan Kyuhyun sebentar lagi.

Yeon merasa bingung mencari cara untuk mendekati Kyuhyun, tanpa menyakiti Eunsoo. Dan tanpa diketahui oleh orang-orang kantor lainnya. Cukup merasa kesal karena Kyuhyun harus menempati posisi yang sangat penting di kantor ini.

Pintu lift terbuka dan Yeon segera keluar dari sana. Menghela nafas panjang dan mencoba untuk fokus pada pekerjaannya lebih dulu. Di samping rencana balas dendam, ia benar-benar membutuhkan pekerjaan ini untuk hidup.

Yeon berhenti tepat di depan ruang rapat. Ruang rapat yang memiliki pintu berwarna coklat dan menjulang tinggi dihadapannya. Menatap ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapapun yang bisa membantunya membuka pintu.

“Jangan manja, Jung Yeon!” Ucap Yeon pada dirinya sendiri.

Yeon hendak mendorong pintu ruang rapat menggunakan lengan kanannya. Namun belum sempat ia mendorong, pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka dari dalam. Tumpukan kertas yang dibawa Yeon berjatuhan di lantai karena tubuhnya yang tidak seimbang.

Yeon bahkan akan jatuh jika saja seseorang tidak menahan pingganganya dengan erat. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas lega karena tidak harus bersentuhan dengan kerasnya lantai.

Namun tiba-tiba Yeon tersadar saat merasakan sebuah tangan dipinggangnya. Yeon segera membuka matanya dan tidak dapat menutupi keterkejutannya saat melihat Kyuhyun dihadapannya.

“Di–direktur.”

“Ya, ini aku.” Sahut Kyuhyun.

Yeon mencoba melepaskan dirinya dari dekapan Kyuhyun, namun laki-laki itu tidak membiarkannya. Kyuhyun justru mengeratkan rangkulannya pada pinggang Yeon. Membuat mata Yeon semakin melebar.

“Direktur..”

“Aku penasaran akan satu hal semenjak melihatmu di kantor ini, Nona Jung.” Ujar Kyuhyun.

Yeon mendorong bahu Kyuhyun dan berusaha membuat jarak diantara wajah mereka yang begitu dekat. Ia tidak tau sejak kapan dirinya tidak bisa bernafas dengan normal seperti ini.

“Bisakah kau beritahu aku, kenapa kau selalu menatapku seperti itu?” Tanya Kyuhyun.

Yeon mengerutkan keningnya.

“S–seperti apa?” Tanya Yeon balik.

“Terluka.” Jawab Kyuhyun.

“K–kapan s–saya melakukannya?”

“Kapan pun setiap kau melihatku. Jadi, bisakah kau beritahu aku alasannya?” Pinta Kyuhyun tanpa melepaskan pandangannya dari Yeon.

“Saya tidak melakukannya.” Yeon kembali berusaha melepaskan dirinya dari Kyuhyun.

Kyuhyun semakin menarik Yeon menempel padanya hingga membuat perempuan itu terkesiap. Yeon dapat merasakan seluruh tubuh Kyuhyun ditubuhnya. Dan hal ini membuat jantungnya semakin berdetak di luar batas normal.

“Kau melakukannya.” Ucap Kyuhyun dengan tajam.

“Dan karena tatapanmu itu, entah sejak kapan aku menjadi tertarik padamu.” Bisik Kyuhyun.

Yeon mendengar suara Manager Lee dari belakang dan ia merasa bersyukur saat mendengarnya. Karena dengan itu Kyuhyun langsung melepaskan rangkulannya. Walaupun hal itu membuat tubuh Yeon kembali tidak seimbang. Beruntung karena Yeon tidak jatuh.

Yeon menghela nafas panjang dan memasukkan rambutnya ke belakang telinga. Menatap apapun yang penting tidak menatap Kyuhyun yang tampak masih setiap menatapnya.

“Astaga, Jung Yeon-ssi! Apa yang kau lakukan?!” Bentak Manager Lee saat melihat kertas berantakan di lantai.

Tersadar, Yeon segera mengumpulkan bahan rapat yang telah dijatuhkannya dengan tangan gemetar. Sial. Yeon benci jika dia harus melakukan sesuatu yang memalukan seperti ini.

“Bukan salahnya, Manager Lee. Aku menabraknya saat dia masuk ke sini.” Ujar Kyuhyun mencoba membela Yeon.

Kyuhyun tiba-tiba berjongkok dan membantu Yeon membereskan kertas-kertasnya. Yeon menaikkan pandangannya ke atas dan melihat Kyuhyun sedang tersenyum padanya.

“Anda tidak perlu melakukannya, direktur.” Cegah Manager Lee.

“Berikan pada saya, direktur.” Eunsoo mengambil kertas di tangan Kyuhyun dan membantu Yeon.

Yeon menatap keduanya dan tidak ada reaksi berlebihan antara mereka. Sepertinya mereka mencoba menutupi hubungan mereka di kantor. Tetapi kenapa Kyuhyun bisa bersikap sangat tidak sopan padanya tadi? Bagaimana jika ada yang melihat?

“Kau baik-baik saja?” Tanya Eunsoo berbisik. Yeon mengangguk.

“Wajahmu terlihat pucat.” Kata Eunsoo.

“Terlalu gugup karena dimarahi.” Komentar Yeon membuat Eunsoo tersenyum.

“Bisakah kau membawanya ke dalam? Aku harus ke kamar mandi.” Ucap Yeon.

“Tentu.”

“Terima kasih, Eunsoo-ssi.”

Yeon dan Eunsoo sama-sama berdiri.

“Saya permisi sebentar.” Pamit Yeon dan segera berbalik untuk ke kamar mandi.

Ini bodoh. Tetapi Yeon dapat merasakan jika Kyuhyun terus menatap punggungnya dengan tatapan tajamnya. Yeon memperhatikan jalannya agar ia tidak terjatuh dan membuat dirinya lebih memalukan.

Yeon baru bisa bernafas lega saat ia sudah masuk ke dalam kamar mandi. Menumpu tangannya di atas meja wastafel, Yeon menatap pantulan dirinya di cermin. Benar apa yang dikatakan Eunsoo bahwa wajahnya pucat.

Sialnya ini semua karena ulah Kyuhyun. Yeon tidak pernah seintim itu saat bersama laki-laki. Bahkan Luke. Mungkin Luke memang sering merangkul ataupun memeluknya. Tapi Yeon tidak pernah merasakan nafas hangat laki-laki pada wajahnya.

“Sadarlah, Jung Yeon!” Yeon menepuk pipinya dan berharap dapat menimbulkan efek kemerahan disana.

“Dia tertarik padaku?” Gumam Yeon tiba-tiba.

Ia seperti mendapatkan sebuah pencerahan. Jika Kyuhyun tertarik padanya, maka Yeon tidak perlu berusaha keras untuk mendekatinya, kan? Dan Yeon juga tidak perlu merasa bersalah pada Eunsoo.

Yeon hanya perlu membiarkan Kyuhyun yang memulai semuanya. Ia akan bersikap pura-pura jual mahal agar Kyuhyun semakin tertarik padanya. Dan jika Kyuhyun benar-benar sudah jatuh ke dalam pelukannya, maka semuanya akan semakin mudah untuk Yeon.

“Benar. Kau hanya perlu menunggu dia mendekatimu, Yeon.” Yeon berbicara pada pantulan dirinya di cermin.

Yeon memejamkan matanya dan mencoba mengenyahkan wajah tersenyum Kyuhyun dari kepalanya. Ia membasuh wajahnya menggunakan air untuk menyadarkan dirinya. Sepertinya Yeon harus ekstra hati-hati untuk menjalankan rencana balas dendamnya.

Jangan sampai ia terperangkap di dalam rencana balas dendamnya sendiri.

——

–To Be Continued–

HAI! Part 1 udah muncul. Semoga suka, ya.

Aku tau kalo setiap aku buat FF baru selalu ada pro dan kontra. Seperti halnya FF ini. Ada yang suka karena castnya Kyuhyun, ada juga yang kecewa karena Siwon-Yongri harus vacum. Apapun itu, aku akan memberikan yang terbaik untuk readers aku. Dan aku harap kalian juga bisa mengapresiasikan usaha aku dalam bentuk comment kalian. Oke?

Seperti biasa cover yang kece dari Mikha Yadifa. thank you! ❤ 

Happy reading!

BYE~

Advertisements

112 thoughts on “Love, Hurt, and Revenge – Part 1

  1. Annyeong.
    Baru baca chapter 1. Dan penasaran untuk chapter selanjutnya. Lanjutnya baca… Good job author keceeeee

  2. Baru tahu ada ff baru cast utama nya Kyu oppa, penasaran keluarga cho itu pernah berbuat apa kpd org tua jung yeon sampai2 ia mau balas dendam dan org terdekat Yeon Luke pun tahu rencananya, mau baca part selanjutnya dulu

  3. Sepertinya yeon sendiri yg akan masuk kdalam perangkapnya sendiri nih hehehe…bakalan luoa sama rencana balas dendamnya

  4. Wah seruuu kira” apa keluarga kyuhyun penyebab ayah dan ibunya yeon meninggal?
    Aku takut kalau rencana yeon bakalan ngehancurin hidupnya yeon secara kyuhyun punya pesona tersendiri

  5. apapun karya yang ada di sini…penting karya choineke….selalu suka. Tak memungkiri jika paling favorite castnya siwon ama yongri. FIGTHING untuk karya2nya selanjutnya

  6. Penasaran sama dendam kusumatnya keluarga Jung ke keluarga Cho.
    Dan gimana kelanjutan kisah nya nanti ? Penasaraaan
    Eh iya apa Eunsoo beneran pacaran sama Kyu ? Aku rasa tidak. Mereka temenan doang atau sodaraan kali. Hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s