The One and Only – Part 8

picsart_20161003235728_

Author

Choineke

Title

The One and Only

Cast

 Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Kim Myungsoo (L Infinite) and others

Genre

Romance, Marriage–Life

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–You’re the one for me–

——

Author POV

Siwon langsung memutar mobilnya untuk berbalik arah dan segera menuju ke rumah sakit yang baru saja disebutkan oleh Sekretaris Kim. Menaikkan kecepatan mobilnya dan tidak memperdulikan peraturan lalu lintas yang dilanggarnya.

“Abeonim kecelakaan?!” Tanya Yongri.

Siwon tidak menjawab pertanyaan Yongri. Wajah laki-laki itu terlihat sangat tegang saat ini. Beberapa kali Siwon mengusap wajahnya yang berkeringat hebat. Dan Siwon benar-benar tidak bisa mengabaikan jantungnya yang berdetak secara menggila.

Yongri menatap Siwon dengan khawatir. Khawatir karena Kiho mengalami kecelakaan dan khawatir karena melihat wajah suaminya itu kelewat tegang. Ia tidak pernah melihat wajah Siwon yang seperti ini. Seolah langit baru saja menimpa laki-laki itu.

Dan Yongri tidak suka melihatnya.

Entah mendapatkan keberanian darimana, Yongri mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Siwon yang terkepal di atas paha laki-laki itu. Siwon yang merasa terkejut segera menoleh untuk menatap Yongri.

“Abeonim akan baik-baik saja.” Bisik Yongri.

Siwon kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan mencoba mempercayai ucapan Yongri. Siwon bahkan tanpa sadar membalas genggaman istrinya itu. Walaupun sedikit, setidaknya genggaman tangan Yongri mampu menghilangkan kekhawatiran Siwon.

Yongri membiarkan tangannya dan tangan Siwon saling menggenggam selama di perjalanan. Jika ini bisa membuat Siwon sedikit tenang, Yongri sangat bersedia melakukannya.

Genggaman tangan Siwon padanya sangat erat. Seolah Siwon memberitahunya bahwa laki-laki itu sangat merasa takut saat ini. Yongri pun harus menahan diri untuk tidak memekik ketakutan karena Siwon membawa mobil secara menggila saat ini.

Yongri merasa tubuhnya terlempar ke kanan dan ke kiri akibat bantingan kemudi Siwon yang tidak beraturan. Jika mereka tidak sedang dalam situasi yang mengkhawatirkan seperti ini, Yongri pasti sudah memaki Siwon dengan semua kata-kata kasarnya.

Hingga beberapa puluh menit kemudian, Yongri baru bisa bernafas lega karena mereka sudah sampai di rumah sakit. Siwon memarkirkan mobilnya secara sembarangan. Melepaskan tangan Yongri dan segera turun dari mobil.

Awalnya Yongri berpikir bahwa Siwon akan berlari meninggalkannya. Namun nyatanya Siwon malah menghampirinya, kembali menggenggam tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah sakit bersama-sama.

Siwon tidak tau apa yang dia lakukan. Yang ia tau, ia tidak ingin berlari seorang diri dan meninggalkan Yongri. Karena itulah Siwon menggenggam tangan Yongri dan berlari bersama di dalam rumah sakit. Mencoba untuk memperlambat larinya karena tau Yongri akan sulit mengimbanginya.

“Disana Unit Gawat Darurat!” Tunjuk Yongri.

Siwon mengikuti arah tunjuk Yongri dan segera menuju ke sana. Mereka dapat melihat Hyemi yang berada di sana sembari menangis. Ada Sekretaris Kim yang berdiri tidak jauh dari Hyemi.

“Eommonim.” Panggil Yongri.

Yongri melepaskan genggaman tangan Siwon dan menghampiri Hyemi. Ini bodoh, tetapi Siwon merasa hampa setelah Yongri melepaskan tangannya. Namun Siwon mencoba untuk tidak memikirkan hal itu lebih lanjut.

“B–bagaimana ayahku?” Tanya Siwon pada Sekretaris Kim. Ia sempat melirik sesaat pada Yongri yang sedang memeluk Hyemi.

“Dokter masih di dalam, ketua tim. Saya belum mengetahui bagaimana keadaan presdir.” Jawab Siwon.

Siwon mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Terlihat sangat frustasi karena ia harus menunggu dokter keluar dari sana. Ah, Siwon rela menunggu lama asalkan keadaan Kiho baik-baik saja.

“Tetapi, ketua tim.” Suara Sekretaris Kim terlihat ragu.

“Ada apa?” Siwon merasa jantungnya semakin berdetak cepat.

“Supir yang mengendarai mobil presdir..”

“Ada apa dengannya?!” Nada suara Siwon terdengar tidak sabar.

“Dia.. Meninggal di tempat kejadian.” Kata Sekretaris Kim sembari menundukkan kepalanya.

Siwon tidak bisa mengalihkan perhatiannya sebentar saja dari Sekretaris Kim. Besar harapannya agar Sekretaris Kim mengatakan kebohongan. Jika supir yang mengendarai mobil Kiho meninggal dunia, sebenarnya seberapa hebat kecelakaan yang terjadi?

“Aku dengar bahwa ban mobil yang membawa presdir pecah, karena kejadiannya sangat tiba-tiba, supir tersebut terkejut dan seketika mobil menjadi oleng. Menurut saksi, mobil tersebut sempat terbalik beberapa kali hingga akhirnya menabrak pembatas jalan.” Jelas Sekretaris Kim.

Ketakutan dan kekhawatiran Siwon semakin menjadi. Ingin rasanya mendobrak pintu Unit Gawat Darurat untuk mengetahui keadaan Kiho.

Yongri yang mendengar ucapan Sekretaris Kim pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia juga merasakan kekhawatiran yang semakin mendalam. Namun Yongri mencoba untuk tidak memperlihatkannya. Karena ada Hyemi yang harus ditenangkannya.

“Abeonim akan baik-baik saja, eommonim.” Kata Yongri yang sedang merangkul Hyemi.

Hyemi menggenggam tangan Yongri dan menganggukkan kepalanya. Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya, karena Hyemi merasa sangat takut saat ini. Ia takut suaminya itu meninggalkannya. Tidak, Hyemi benar-benar tidak sanggup jika itu sampai terjadi.

“Siwon-ah!”

Semuanya menoleh saat mendengar sebuah suara yang memanggil Siwon dengan cukup keras. Hyunji berlari kecil menghampiri Siwon dengan wajah khawatirnya.

“Kenapa kau bisa kesini?” Tanya Siwon.

“Aku ke kantormu karena ku pikir kau akan kembali ke sana setelah mengantar istrimu. Tetapi aku malah mendengar kabar bahwa ahjussi mengalami kecelakaan.” Jawab Hyunji.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Hyunji kemudian.

“Aku belum tau. Ayahku dan dokter masih berada di dalam.” Jawab Siwon sembari menatap pintu.

Yongri mencoba mengabaikan rasa kesalnya melihat kehadiran Hyunji saat ini. Mencoba berpikiran positif bahwa semakin banyak rasa khawatir, maka semakin banyak doa yang diberikan kepada Kiho. Yongri hanya berharap bahwa ayah mertuanya itu baik-baik saja saat ini.

Beberapa saat kemudian, seorang dokter laki-laki yang sepertinya berusia seperti Kiho keluar dari ruang Unit Gawat Darurat. Siwon dengan segera menghampiri dokter tersebut dengan Hyunji yang berada di belakangnya.

Yongri menggiring Hyemi untuk mendekati dokter. Ia bisa merasakan tubuh Hyemi yang bergetar. Semoga saja dokter tersebut membawa kabar baik.

“Bagaimana keadaan ayah saya, dok?” Tanya Siwon.

Dokter tersebut mendongak menatap Siwon. Kemudian menatap orang-orang yang diyakininya keluarga Kiho, dengan pandangan menyesal. Sebelum berbicara, dokter tersebut menjatuhkan pandangannya pada Siwon yang terlihat tidak sabar.

“Pasien mengalami benturan yang sangat hebat karena kecelakaan tersebut. Dia juga kehilangan banyak darah selama diperjalanan ke rumah sakit.” Kata dokter.

“Tapi dia baik-baik saja, kan?” Tanya Siwon lagi dengan penuh harap. Dokter laki-laki itu menghela nafas panjang.

“Maafkan saya, tuan. Nyawa pasien tidak bisa tertolong.” Jawab dokter.

“Apa?!”

“Dengan berat hati saya katakan bahwa pasien meninggal dunia.”

“Tidak!! Kiho oppa!!”

Teriakan histeris bercampur tangisan dari Hyemi memenuhi koridor Unit Gawat Darurat. Yongri yang memeluk Hyemi pun tidak mampu menahan airmatanya yang berdesakan keluar. Ini benar-benar mimpi buruk untuk mereka. Kiho tidak mungkin meninggalkan mereka secepat ini.

“Siwon-ah!”

Yongri segera mengalihkan pandangannya saat mendengar pekikan penuh kekhawatiran. Ternyata tubuh Siwon hampir jatuh jika Sekretaris Kim dan Hyunji tidak segera menahannya. Wajah Siwon terlihat sangat kebingungan saat ini.

Yongri ingin sekali menghampiri Siwon dan memeluknya. Tetapi Yongri tidak bisa meninggalkan Hyemi yang membutuhkan sandaran saat ini. Yongri berharap tubuhnya bisa terbagi dua.

“Tidak.” Kata Siwon sembari tersenyum miris.

“Kau pasti salah, dokter.” Ucap Siwon sembari menatap dokter tersebut.

“Maafkan saya, tuan.” Sesal dokter tersebut.

“BUKAN MAAF YANG AKU INGINKAN, BRENGSEK!! AKU INGIN AYAHKU!!” Teriak Siwon marah.

“Siwon, tenanglah. Ahjussi sudah meninggalkan kita.” Ujar Hyunji yang juga menangis.

“Tidak! Ayahku tidak akan meninggalkanku! Dia berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku!!” Siwon terlihat tidak terkontrol.

“Siwon-ah..”

“A–aku akan masuk!” Siwon mencoba menerobos ke ruang Unit Gawat Darurat.

Dokter tersebut menahan Siwon agar tidak masuk.

“Maaf, tuan. Saat ini kami sedang bersiap untuk memindahkan ayah Anda ke kamar mayat.” Kata dokter itu.

“Apa? Kamar mayat katamu?” Desis Siwon. Ia semakin merasa marah mendengar ucapan dokter tersebut.

“Ayahku belum mati. AYAHKU BELUM MATI, BRENGSEK!!” Maki Siwon.

Sekretaris Kim menahan Siwon yang hendak memukul dokter tersebut. Yongri yang melihat kelakuan Siwon semakin tidak bisa menahan airmatanya. Ia benar-benar merasa sedih. Siwon tidak bisa menerima kematian Kiho dan terlihat sangat marah.

Sekretaris Kim mendorong tubuh Siwon dan mendudukkannya di kursi yang biasa dipakai untuk keluarga yang sedang menunggu. Siwon menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Laki-laki itu tidak menangis. Ia hanya tidak bisa menerima ucapan dokter barusan.

Kiho tidak mungkin meninggalkannya. Dia tidak memiliki siapapun di dunia ini selain Kiho. Jadi Kiho tidak mungkin dengan tega melakukannya.

“Tidak mungkin..” Gumam Siwon.

“Kau tidak akan meninggalkanku, abeoji..” Kata Siwon.

Hyunji menghampiri Siwon dan duduk di samping laki-laki itu. Tanpa memikirkan keberadaan Yongri, Hyunji melingkarkan tangannya disekitar bahu Siwon. Memeluk laki-laki itu dan menangis di bahu kokoh Siwon.

Yongri yang melihatnya segera mengalihkan pandangannya. Ia yang seharusnya melakukan itu pada Siwon. Ia yang seharusnya menenangkan laki-laki itu. Bukan Hyunji.

“Kiho oppa..” Isak Hyemi di dalam pelukan Yongri. Yongri mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Hyemi.

“Abeonim.” Gumam Yongri dengan airmatanya yang tidak berhenti mengalir.

——

Pada akhirnya, Siwon tidak bisa berbuat apa-apa ketika Hyemi dan Sekretaris Kim mengadakan sebuah penghormatan terakhir untuk Kiho keesokan harinya. Bertempat di rumah duka yang berada di rumah sakit, tempat dimana Kiho menghembuskan nafas terakhirnya.

Sebuah foto Kiho yang sedang tersenyum bersandar di tengah-tengah bunga, membuat siapa saja masih tidak mempercayai bahwa pria itu telah tiada.

Siwon memakai pakaian formal berwarna hitam dan pada lengannya dipasangkan pita hitam. Wajah pucatnya menatap foto Kiho yang tampak sangat damai dan bahagia. Senyum diwajah ayahnya itu terlihat benar-benar tulus.

Disampingnya tampak Yongri dan Hyemi yang memakai hanbok berwarna hitam serta sebuah jepit kecil berwarna putih dikepala mereka. Mata Yongri dan Hyemi sama-sama bengkak akibat menangis. Hanya saja, sampai saat ini airmata Hyemi masih terus mengalir.

Beberapa pelayat yang berasal dari CH Group tampak datang secara bergantian untuk memberikan penghormatan terakhir pada Kiho. Siwon bahkan tidak memperdulikan mereka yang menghampirinya dan mengucapkan kata-kata turut berduka cita.

Siwon bahkan ingin berteriak marah saat para pria paruh baya itu mengatakan padanya untuk bersabar. Bagaimana kau bisa bersabar saat kau ditinggal untuk selamanya oleh orang yang kau sayangi?

Teman-teman Siwon, Lee Minho dan yang lainnya turut hadir untuk mengucapkan rasa berduka mereka pada Siwon dan keluarganya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Minho dengan hati-hati.

“Hmm.” Gumam Siwon.

Karena tidak berbicara dari tadi, gumaman laki-laki itu terdengar serak. Jangankan berbicara, Siwon bahkan tidak makan semenjak dari rumah sakit. Dan hal itu cukup mengkhawatirkan.

“Ayahmu sudah tenang sekarang.” Jisung menepuk bahu Siwon dengan pelan.

“Kami akan menunggu di depan.” Kata Minho. Siwon menatap temannya satu persatu sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.

Yongri yang berada di samping Siwon menatap laki-laki itu dengan sedih. Siwon benar-benar tidak menangis sama sekali dari kemarin. Namun Yongri tidak merasa lega karena hal itu. Justru ia semakin mengkhawatirkan Siwon karena laki-laki itu memendam kesedihannya.

Siwon seolah menyiksa dirinya sendiri dengan tidak makan dan tidak berbicara. Ia tidak memperdulikan keadaan sekitar dan hanya terus melamun.

“Siwon-ssi..” Panggil Yongri. Siwon menoleh dan menatap Yongri.

“Kau harus makan. Kau belum makan dari kemarin.” Ucap Yongri.

“Aku tidak lapar.” Kata Siwon dengan suaranya yang serak.

Dan itu adalah kalimat pertama Siwon untuk hari ini. Yongri merasa sedikit lega karena setidaknya Siwon bersedia mengeluarkan suaranya.

“Tapi–“

Belum sempat Yongri menyelesaikan kalimatnya, Siwon malah berbalik dan memasuki sebuah ruangan yang berada di sana. Ruangan yang diperuntukkan kepada keluarga yang hendak menenangkan diri.

Yongri berniat untuk menyusul Siwon. Namun Hyemi menahan lengannya hingga membuat Yongri mengurungkan niatnya. Perempuan itu menatap Hyemi yang wajahnya masih basah oleh airmata.

“Biarkan Siwon menenangkan dirinya, Yongri-ya.” Kata Hyemi.

“Tetapi aku sangat mengkhawatirkannya, eommonim.” Suara Yongri terdengar sedih.

“Siwon belum bisa menerima kepergian ayahnya. Jika kita mendesaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya, dia akan marah.” Ucap Hyemi.

Yongri menyetujui ucapan Siwon. Hyemi sangat mengenal sifat Siwon walaupun laki-laki itu selalu acuh padanya. Yongri menoleh ke belakang dan menatap pintu ruangan di mana Siwon berada.

“Yongri-ya..” Yongri menoleh ke depan saat mendengar ada yang memanggilnya.

“Eomma..” Ucap Yongri terdengar lega.

Setidaknya kehadiran Sujin dapat membantu Yongri untuk menghibur Hyemi. Walaupun sebenarnya Yongri mampu menghibur Hyemi, Yongri hanya merasa Hyemi akan lebih nyaman jika bersama Sujin.

“Hyemi-ssi..” Sujin menghampiri Hyemi dan memeluknya.

Tangis Hyemi kembali pecah saat berada di dalam pelukan Sujin. Hal tersebut membuat Sujin ikut menangis. Ia tidak bisa membayangkan perasaan sedih yang dirasakan Hyemi saat ini. Dan Sujin benar-benar tidak mampu membayangkannya.

Hyunseok menghampiri Yongri dan mengusap kepala anak perempuannya itu. Pria itu tersenyum pada Yongri seolah menguatkannya. Walaupun Kiho bukan ayah kandung Yongri, Hyunseok yakin Yongri cukup merasa kehilangan.

“Dimana suamimu?” Tanya Hyunseok.

“Di dalam, appa.” Jawab Yongri sembari menunjuk pintu dibelakangnya.

“Dia tidak mau makan dan tidak mau bicara. Aku mengkhawatirkannya.” Ucap Yongri.

“Siwon butuh waktu untuk menerima semuanya. Kau tidak bisa memaksanya, sayang.”

“Aku tidak memaksanya, appa. Aku tau bahwa kepergian abeonim meninggalkan luka yang dalam padanya. Aku hanya ingin dia untuk tidak menyiksa dirinya sendiri.” Keluh Yongri.

“Karena itulah kau harus meyakinkannya. Ajak Siwon berbicara dan yakinkan dia untuk mengisi perutnya. Tetapi jangan sekali-kali kau memaksakan ucapanmu. Karena dia akan berakhir marah padamu.” Saran Hyunseok.

“Apa dia akan menuruti ucapanku? Selama ini dia tidak pernah mau mendengarkanku.” Gumam Yongri.

“Batu yang ditetesi air terus menerus akan hancur juga.” Kata Hyunseok.

“Appa akan menunggu di depan. Biarkan ibumu disini menemani ibu mertuamu.” Ujar Hyunseok. Yongri mengangguk.

Hyunseok yang sudah berniat berbalik, membatalkan niatnya dan kembali menatap Yongri.

“Kau sekarang sudah menjadi keluarga Tuan Choi. Karena itu, appa turut berduka untukmu.” Ucap Hyunseok sembari tersenyum.

“Terima kasih, appa.” Balas Yongri sambil menahan airmatanya.

——

Yongri menatap Siwon yang duduk disampingnya di dalam mobil. Saat ini mereka sedang berada di perjalanan pulang setelah melakukan pemakaman untuk Kiho. Sekretaris Kim yang mengantarkan mereka pulang. Karena ia tau Siwon tidak akan bisa menyetir dengan baik saat ini.

Tidak ada tangisan dari Siwon saat jenazah Kiho dimakamkan. Bahkan setetes airmata pun tidak singgah di wajah laki-laki itu. Namun saat melihat mata Siwon yang tampak kosong dan tidak fokus, membuat Yongri mengerti bahwa laki-laki itu merasakan kesedihan yang mendalam.

Walaupun Siwon memalingkan wajahnya dari Yongri, Yongri tau bahwa laki-laki itu sedang melamun. Wajahnya yang pucat benar-benar terlihat lusuh. Dasi hitam yang dipakainya sudah longgar dan dua kancing kemeja putihnya sudah terlepas.

Yongri menghela nafas panjang. Melihat Siwon seperti ini benar-benar mengerikan untuknya. Siwon yang terkadang kekanakan, egois dan sering marah tiba-tiba berubah menjadi pendiam. Jika diminta untuk memilih, maka Yongri akan memilih Siwon yang sering marah-marah padanya.

Yongri akan membiarkan laki-laki itu mengejeknya, menyindirnya dan memarahinya daripada melihat Siwon seperti ini. Apa Yongri harus memulai untuk mengajak Siwon bertengkar? Agar perhatian Siwon teralihkan? Haruskah? Tetapi bagaimana jika keadaan malah semakin kacau?

Beberapa saat kemudian mobil yang mereka naiki sampai di rumah. Yongri menoleh saat melihat Siwon langsung turun dari mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bahkan Siwon mengabaikan Sekretaris Kim yang terlihat ingin bicara padanya dan segera masuk ke dalam rumah.

“Terima kasih, Sekretaris Kim.” Kata Yongri.

“Sama-sama, nyonya.” Balas Sekretaris Kim.

“Tolong katakan pada Tuan Siwon bahwa besok ia harus ke kantor, nyonya. Pengacara Park harus membacakan wasiat dari Presdir Choi.” Ucap Sekretaris Kim.

“Apakah tidak bisa ditunda beberapa hari lagi? Aku rasa Siwon tidak akan bisa pergi ke kantor.”

“Tidak bisa, nyonya. Presdir Choi pernah berkata pada saya, jika suatu saat beliau meninggal dunia, maka pembacaan surat wasiat harus dilakukan setelah pemakamannya.”

Yongri menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin ia menyuruh Siwon datang ke kantor besok? Laki-laki itu bahkan tidak bersemangat dalam melakukan apapun saat ini. Yongri bahkan merasa sanksi bahwa Siwon bersedia keluar dari kamarnya besok.

“Besok Anda juga harus datang, nyonya.”

“Aku?!” Yongri benar-benar terkejut.

“Ya. Tuan Siwon, Anda dan Nyonya Oh harus datang ke kantor besok.” Kata Sekretaris Kim.

“Tolong sampaikan pesan saya pada Tuan Siwon, nyonya. Kalau begitu, saya permisi.” Pamit Sekretaris Kim sembari membungkukkan badannya.

Yongri menatap kepergian Sekretaris Kim sebentar, sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah. Tentu saja Yongri tidak menemukan keberadaan Siwon, karena laki-laki itu pasti sudah masuk ke dalam kamarnya.

Haruskah Yongri memeriksanya? Siwon tidak mungkin melakukan sesuatu yang bodoh, kan? Yongri menggelengkan kepalanya. Siwon mungkin seorang laki-laki kaku dan dingin, tetapi dia tidak bodoh.

Menghela nafas sekali lagi, Yongri berjalan menunju kamarnya sembari mengangkat ujung hanbok yang dipakainya. Dalam hatinya berharap jika besok Siwon mau di ajak bekerja sama untuk datang ke kantor. Walaupun Yongri tau kemungkinannya sangat kecil.

——

Yongri keluar dari kamar setelah berpakaian rapi. Perempuan itu memantapkan hatinya untuk menemui Siwon dan memintanya ke kantor. Yongri tidak pernah segugup dan setakut ini saat ingin bertemu dengan Siwon.

“Bibi Kim..” Panggil Yongri.

“Ya, nyonya?”

“Apa Siwon sudah keluar kamar?” Tanya Yongri.

“Tuan belum keluar dari kamar dari tadi, nyonya.” Jawab Bibi Kim.

“Baiklah, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu, bibi.”

“Apa Anda ingin dibuatkan sarapan, nyonya?”

“Tidak perlu, bibi. Terima kasih.”

Yongri segera meninggalkan Bibi Kim untuk ke kamar Siwon. Setelah mengetuk pintu kamar Siwon sebanyak dua kali, Yongri membuka pintunya dengan pelan. Dari celah pintu yang terbuka, Yongri dapat melihat jika tempat tidur kosong.

Karena merasa khawatir, Yongri membuka pintu lebih lebar dan menatap sekeliling. Dan apa yang dilihatnya saat ini benar-benar mengejutkannya.

Siwon berdiri di depan cermin dan sudah berpakaian dengan rapi. Sangat rapi. Astaga. Yongri tidak salah melihat, kan? Kemarin Yongri bahkan melihat Siwon yang tampak lusuh dan tidak bersemangat. Tetapi saat ini..

“Siwon-ssi..” Panggil Yongri. Siwon menoleh padanya.

“Kau mau kemana?” Tanya Yongri.

“Kantor.” Jawab Siwon kembali menatap cermin.

“Apa kau sudah tau bahwa–” Yongri tidak sempat menyelesaikan ucapannya saat melihat Siwon menghampirinya.

“Aku tau. Kita berangkat sekarang.” Kata Siwon sembari berjalan melewati Yongri.

Yongri berbalik dan menatap punggung Siwon dengan perasaan bingung. Ia benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di kepala laki-laki itu. Kenapa semua yang terjadi malah berbanding terbalik dengan apa yang Yongri pikirkan?

Tidak ingin larut dengan kebingungannya, Yongri berlari kecil menyusul Siwon. Laki-laki itu sudah berada di dalam mobil saat Yongri keluar rumah. Yongri masuk ke dalam mobil, dan belum sempat dirinya memakai seatbelt, Siwon sudah menjalankan mobilnya.

Yongri hampir saja mengumpat jika dia tidak ingat dengan situasi mereka saat ini. Ia akan membiarkan Siwon melakukan apapun untuk saat ini. Apapun itu kecuali sesuatu yang bisa membahayakan diri laki-laki itu.

Tiba-tiba Yongri teringat jika Siwon belum mengisi perutnya dengan makanan.

“Bagaimana jika kita pergi sarapan terlebih dahulu?” Tanya Yongri menawarkan.

“Aku tidak lapar.” Jawab Siwon datar.

“Tetapi kau belum makan apapun sejak di hari abeonim kecelakaan.” Kata Yongri.

Yongri dapat melihat mata Siwon yang berkedut sesaat setelah ia berbicara. Saat itulah Yongri tersadar bahwa ia sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan. Seharusnya ia tidak membahas mengenai Kiho dihadapan Siwon saat ini.

“M–maksudku, lambungmu bisa sakit jika kau tidak makan.” Ucap Yongri dengan terbata.

“Jika kau ada diposisiku, apa kau memiliki nafsu makan?” Tanya Siwon tanpa menatap Yongri.

Yongri menatap Siwon dengan terkejut. Ucapan laki-laki itu barusan menyinggung perasaannya. Apa secara tidak langsung Siwon bertanya pada Yongri, bagaimana perasaan perempuan itu jika Hyunseok meninggal? Bagaimana bisa Siwon mengatakannya?

Yongri tau bahwa Siwon sedang sedih dan perasaannya menjadi sensitif. Tetapi bagaimana mungkin Siwon mampu menyinggung perasaan Yongri seperti ini? Jika saat ini Hyunji yang berada di dekat Siwon, apakah laki-laki itu juga akan menyinggung perasaan Hyunji?

“Kau tidak perlu makan jika kau memang tidak mau.” Kata Yongri dengan ketus. Setelahnya perempuan itu mengalihkan pandangannya pada jalanan Seoul.

Siwon melirik Yongri dari sudut matanya. Ah, ia tau kata-katanya barusan menyinggung Yongri. Tetapi Siwon tidak dengan sengaja melakukannya. Siwon hanya merasa sedang sensitif dan paksaan perempuan itu untuk makan membuatnya kesal.

Siwon tentu saja tidak berharap Yongri berada diposisinya. Karena rasanya sangat mengerikan dan Siwon tidak ingin perempuan itu merasakannya. Siwon tidak bisa mendeskripsikan apa yang dirasakannya.

Yang Siwon tau, kehilangan ayahnya sama saja dengan kehilangan separuh dari jiwanya. Seolah kehilangan tempat bernaung di saat Siwon yang tak tau arah. Benar-benar mengerikan.

Beberapa saat kemudian mobil Siwon sampai di CH Group. Keduanya langsung turun dan mendapatkan bungkukkan hormat dari para pekerja di sana.

Siwon melihat begitu banyak karangan bunga bertuliskan turut berduka cita yang diperuntukkan kepada Kiho. Ia ingin sekali menendang semua karangan bunga tersebut dan meminta siapa saja untuk membuanganya.

Yongri menatap sedih berbagai karangan bunga yang terdapat nama Kiho di sana. Betapa Yongri berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk dimana mereka akan terbangun besok pagi. Bersama Kiho yang masih di tengah-tengah mereka.

Yongri mengalihkan pandangannya dan mengikuti Siwon yang sudah masuk ke kantor. Ia tidak tau harus kemana dan hanya membiarkan Siwon yang memimpin jalan. Lagipula Yongri terlalu malas untuk bertanya karena masih merasa kesal pada Siwon.

Setelah menaiki lift dan sampai di lantai 10, mereka memasuki ruangan yang memiliki meja panjang dan puluhan kursi. Yongri yakin ruangan tersebut adalah ruang rapat. Di sana sudah ada Sekretaris Kim, Hyemi serta satu pria yang tidak Yongri ketahui.

“Eommonim..” Yongri menghampiri Hyemi dan memeluknya.

Wajah Hyemi masih terlihat sangat sedih saat menyambut Yongri. Walaupun wanita itu mencoba menyematkan sebuah senyum kecil di wajah cantiknya.

“Kalian sudah datang, tuan, nyonya.” Sapa Sekretaris Kim.

Siwon segera mengambil tempat duduk yang biasa dipakai oleh Kiho. Sedangkan Yongri duduk di samping Hyemi. Sekretaris Kim dan pria lainnya duduk di seberang Yongri dan Hyemi.

“Ini adalah Pengacara Park yang akan membacakan wasiat dari Presdir Choi.” Ucap Sekretaris Kim.

Yongri menganggukkan kepalanya. Ternyata pria itu adalah Pengacara Park. Pengacara Park berdiri dan membungkukkan badannya.

“Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Choi, serta Nyonya Oh. Saya Park Do Kyung, pengacara yang dipercaya oleh Presdir Choi untuk mengurusi dan mensahkan wasiat beliau.” Kata Pengacara Park memperkenalkan diri. Setelahnya ia kembali duduk.

“Berdasarkan keinginan Presdir Choi, wasiat ini bisa dibuka dan dibacakan setelah kehadiran Tuan Choi Siwon selaku anak dari Presdir choi, Nyonya Choi Yongri selaku istri dari Tuan Choi Siwon dan Nyonya Oh Hyemi selaku istri dari Presdir Choi.” Kata Pengacara Park sembari menatap mereka satu per satu.

“Bisa dilihat jika amplop ini masih tertutup dengan rapi.” Pengacara Park menunjukkan pada mereka sebuah amplop coklat yang berisi wasiat Kiho.

Yongri dan Hyemi menatap amplop tersebut kemudian mengangguk. Sedangkan Siwon terlihat tidak berminat untuk sekedar melihatnya. Laki-laki itu justru menatap meja yang tidak terlihat menarik sama sekali.

Pengacara Park mulai membuka amplop tersebut dengan hati-hati. Setelahnya, ia segera mengeluarkan selembar kertas dari sana. Yongri sedikit takjub saat mengetahui bahwa Kiho hanya membutuhkan selembar kertas untuk menuliskan wasiatnya.

Mengingat harta Kiho yang luar biasa banyak, Yongri pikir pria itu memerlukan beberapa lembar kertas untuk menuliskan wasiat. Yongri menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang harus dipikirkannya saat ini.

Pengacara Park berdehem pelan sebelum mulai membaca isi wasiat Kiho.

“Pertama, seluruh perusahaan di bawah naungan CH Group menjadi milik Tuan Choi Siwon, kecuali CH Factory di Pulau Jeju dan CH Communications di London.”

Yongri menatap Siwon. Namun tidak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan laki-laki itu.

“Kedua, CH Factory di Pulau Jeju serta rumah terakhir yang ditinggali oleh Presdir Choi menjadi milik Nyonya Oh Hyemi. Perubahan nama akan segera dilakukan setelah surat wasiat ini disetujui. Tidak ada yang bisa mengambil rumah maupun memimpin CH Factory tanpa persetujuan dari Nyonya Oh, termasuk Tuan Choi Siwon.”

Hyemi menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa sedihnya. Ia merasa tidak membutuhkan semua itu. Ia hanya membutuhkan Kiho yang berada disisinya. Bukan rumah ataupun perusahaan.

“Ketiga, CH Communications di London menjadi milik Nyonya Choi Yongri. Perusahaan tersebut bisa dipimpin langsung oleh Nyonya Choi ataupun Tuan Choi berdasarkan keputusan kedua belah pihak. Namun apabila terjadi perceraian, maka CH Communications secara utuh dimiliki oleh Nyonya Choi Yongri.”

Yongri tidak dapat menutupi rasa terkejutnya. Bagaimana mungkin namanya bisa masuk di dalam wasiat Kiho? Bahkan pernikahannya dan Siwon belum mencapai angka satu tahun. Itu berarti bahwa dirinya pun belum setahun menjadi keluarga Kiho.

“Keempat dan terakhir, seluruh asset milik Presdir Choi, di luar perusahaan serta rumah akan diberikan kepada Tuan Choi Siwon sebesar 70 persen dan Nyonya Oh Hyemi sebesar 30 persen.” Pengacara Park meletakkan surat wasiat di atas meja dan menatap ahli waris Kiho secara bergantian.

“Apa ada yang ingin ditanyakan terkait isi wasiat dari Presdir Choi?” Tanya Pengacara Park.

Tidak ada yang bersuara sedikit pun. Mereka tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tidak ada raut wajah kebahagiaan  maupun raut wajah keberatan setelah Pengacara Park membacakan seluruh isi wasiat.

“Apa saya bisa menyimpulkan bahwa isi wasiat ini diterima?” Tanya Pengacara Park lagi.

Dan sama seperti sebelumnya, tidak ada tanggapan apapun dari mereka. Membuat Pengacara Park berinisiatif untuk berdiri dan menghampiri Yongri serta Hyemi, sembari membawa surat wasiat tersebut. Pengacara Park menaruh surat wasiat dihadapan Yongri.

“Bubuhkan stempel Anda jika Anda menyetujui surat wasiat ini, nyonya.” Kata Pengacara Park.

Yongri terlihat bingung harus berbuat apa. Ia menatap Hyemi yang juga sama bingungnya. Kemudian menatap Siwon yang terlihat tidak peduli. Yongri benar-benar merasa bingung. Haruskah ia setujui? Tidak akan terjadi masalah di kemudian hari, kan?

Akhirnya dengan ragu Yongri mengeluarkan stempelnya. Membubuhkan stempel miliknya di atas namanya yang tertera di surat wasiat tersebut.

Pengacara Park menggeser surat wasiat tersebut ke hadapan Hyemi.

“Silahkan, nyonya.” Ucap Pengacara Park.

Hyemi menatap Yongri dan terlihat bingung. Yongri tau bahwa ia tidak memiliki hak apapun untuk meringankan kebingungan Hyemi. Hanya saja, Siwon tidak akan mungkin bersedia untuk membantu Hyemi.

Hingga akhirnya Yongri menganggukkan kepalanya. Seolah meminta Hyemi untuk membubuhkan stempelnya di sana dan menyelesaikan semuanya dengan cepat.

Hyemi menatap Siwon dan tidak dapat menutupi keterkejutannya saat melihat laki-laki itu sedang menatapnya dengan tajam. Wanita itu tidak mengerti mengapa Siwon menatapnya seperti itu.

Mencoba mengabaikan tatapan Siwon, Hyemi akhirnya membubuhkan stempelnya di sana. Pengacara Park meninggalkan mereka dan menghampiri Siwon. Menaruh surat wasiat tersebut dihadapannya.

Siwon menatap surat wasiat yang telah berisi stempel dari Yongri dan Hyemi. Kemudian matanya membaca ulang semua yang telah dibacakan oleh Pengacara Park tadi. Belum sempat Pengacara Park berbicara, Siwon sudah membubuhkan cap stempelnya di sana.

“Karena surat wasiat ini telah disetujui oleh semua ahli waris, maka isi surat wasiat ini pun sudah bisa dilaksanakan. Saya serahkan kepada Anda, Sekretaris Kim.” Kata Pengacara Park. Sekretaris Kim mengangguk.

“Saya permisi.” Pamit Pengacara Park sembari membawa surat wasiat tersebut.

“Besok akan ada rapat bersama dewan direksi untuk pengangkatan Anda secara resmi sebagai presdir yang baru, tuan.” Ujar Sekretaris Kim.

“Aku mengerti. Kau bisa pergi sekarang.” Sahut Siwon tanpa menatap Sekretaris Kim.

“Satu hal lagi, tuan. Sebenarnya, kepergian Presdir Choi ke Jeju adalah untuk memindahtangankan perusahaan di sana atas nama Nyonya Oh. Tetapi karena kecelakaan yang dialaminya, beliau belum sempat melakukannya.”

“Lalu?”

“Setelah Anda diangkat menjadi presdir yang baru, Anda yang harus memindahtangankan perusahaan tersebut menjadi milik Nyonya Oh.”

“Pergilah.” Usir Siwon tanpa menanggapi ucapan Sekretaris Kim barusan.

Sekretaris Kim berdiri dan membungkuk pada ketiganya. Kemudian ia segera meninggalkan ruang rapat.

“Apa kau akan langsung pulang, eommonim?” Tanya Yongri. Hyemi menatap Yongri dan mengangguk.

“Ya, Yongri-ya.” Jawab Hyemi.

“Kau senang?” Tanya Siwon dengan sinis.

Yongri dan Hyemi secara serempak menoleh ke arah Siwon. Tatapan Siwon saat ini tertuju pada Hyemi. Tatapan laki-laki itu terlihat tajam walaupun kantung matanya terlihat jelas serta matanya yang terlihat lusuh.

“Apa yang kau bicarakan?” Ujar Yongri.

Siwon berdiri dari duduknya dan menghampiri Hyemi.

“Berapa uang yang kau inginkan?” Tanya Siwon.

“Apa maksudmu, Siwon-ah?” Hyemi bertanya balik dengan wajah bingung.

“Aku akan memberikan uang yang banyak untukmu, asalkan kau memberikan rumah itu untukku.” Kata Siwon. Yongri tidak dapat menahan mulutnya untuk tidak menganga.

“Apa?” Hyemi menatap Siwon dengan tidak percaya.

“Jika pada akhirnya kau akan menjual rumah itu kepada orang lain, lebih baik kau menjualnya padaku. Aku akan membelinya dengan harga tinggi.” Ucap Siwon.

“Jaga ucapanmu, Choi Siwon!”

“Berhenti bersandirawa!!” Bentak Siwon dengan wajahnya yang emosi.

“Ayahku sudah tidak ada! Kau tidak perlu menunjukkan wajah sedihmu yang membuatku muak. Kau bisa pergi sesuka hatimu dan mencari pria kaya lainnya!”

PLAKKK!!

Yongri menutup mulutnya menggunakan tangannya saat melihat Hyemi menampar Siwon dengan keras. Merasa tidak percaya jika Hyemi mampu melakukan hal tersebut kepada Siwon.

Siwon merasa pipinya panas dan perih akibat tamparan Hyemi. Ia menatap Hyemi dengan matanya yang membulat karena terkejut. Hyemi membalas tatapan Siwon dengan tajam walaupun mata wanita itu berkaca-kaca.

“Karena sikapmu inilah ibumu meninggalkanmu.” Ucap Hyemi dengan penuh penekanan.

“Tutup mulutmu!” Desis Siwon yang benar-benar terlihat marah.

“Kau yang tutup mulutmu!” Balas Hyemi.

“Siwon-ssi, hentikan. Eommonim, hentikan. Bagaimana bisa kalian bertengkar seperti ini? Abeonim baru saja meninggal dunia.” Kata Yongri dengan sedih.

“Apa kau pikir hanya kau sendiri yang sedih dengan kepergian ayahmu? Apa kau pikir aku senang karena ditinggalkan olehnya?!” Airmata Hyemi mengalir diwajahnya.

“Dia adalah ayahmu. Dan dia adalah suamiku! Istri mana yang bahagia saat ditinggal oleh suaminya untuk selama-lamanya?!” Isak Hyemi.

“Eommonim..” Yongri benar-benar merasa sedih. Ia berniat untuk merangkul wanita itu, namun Hyemi menolaknya.

“Jika aku memang menginginkan hartanya, aku akan mempengaruhi dia untuk memberikan seluruh hartanya untukku!! Aku akan memintanya mengusirmu dari kehidupannya!!”

“Jangankan mempengaruhinya, aku bahkan tidak mengetahui apapun jika dia memberikanku rumah dan perusahaannya di Jeju. Choi Kiho bodoh.” Hyemi menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Siwon tidak dapat melakukan apapun selain mengepalkan kedua tangannya. Pipinya terlihat memerah akibat tamparan dari Hyemi.

“Aku tidak akan pernah memberikan rumah itu padamu.” Ujar Hyemi sembari menatap Siwon.

“Karena hanya rumah itulah satu-satunya tempat untukku mengenangnya.” Lanjut Hyemi.

Hyemi mengambil tasnya dan segera meninggalkan ruang rapat masih dengan menangis. Yongri terlihat ingin menyusul Hyemi, tetapi merasa ragu.

Yongri menatap Siwon yang masih terlihat emosi. Walaupun begitu, mata laki-laki itu memancarkan kesedihan yang mendalam. Yongri merasa setuju bahwa mata memang tidak pernah bisa berbohong.

“Siwon-ssi..” Panggil Yongri sembari menghampiri Siwon.

“Kau ingin bercerai denganku?” Tanya Siwon membuat Yongri menghentikan langkahnya.

Mata Yongri sedikit melebar mendengar pertanyaan Siwon. Siwon menaikkan pandangannya dan menatap Yongri.

“A–apa maksudmu?”

“Aku akan mengabulkannya jika kau ingin bercerai denganku. Lagipula ayahku sudah tidak ada.” Siwon tersenyum sinis.

“Tidak akan ada yang menentang perceraian kita.”

“Siwon-ssi..”

“Karena pada akhirnya kalian semua akan meninggalkanku.” Kata Siwon sembari menundukkan kepalanya.

“Ibuku.. Ayahku..” Siwon mendongak dan menatap Yongri.

“Dan kau..” Bisiknya. Yongri tidak bisa menahan matanya yang berkaca-kaca.

“Sebelum aku mencintaimu, tidak, sebelum perasaanku padamu semakin mendalam, kau bisa pergi meninggalkanku.” Lirih Siwon.

Setelah mengatakan itu, Siwon langsung berbalik dan meninggalkan ruang rapat. Yongri tidak tau sejak kapan airmata membasahi wajahnya. Tetapi ucapan Siwon barusan benar-benar terdengar menyedihkan untuknya.

Bagaimana bisa laki-laki itu berpikir bahwa setiap orang akan meninggalkannya? Jika diberikan kesempatan untuk memilih pun, Kiho tidak mungkin ingin meninggalkannya. Kiho pasti ingin tetap bersama Siwon apapun yang terjadi.

Seolah tersadar, Yongri mengusap airmatanya dan menyusul Siwon. Pikiran laki-laki itu sedang tidak fokus dan ia tidak boleh menyendiri. Yongri harus menemaninya walaupun laki-laki itu menolak kehadirannya.

Namun sayangnya niat Yongri terhalang oleh kehadiran Hyunji. Hyunji menahan lengan Yongri yang sedang berlari hingga perempuan itu harus menghentikan langkahnya. Yongri menatap Hyunji dengan pandangan protes.

“Apa yang kau lakukan?!” Tanya Yongri kesal.

“Apa yang terjadi? Kenapa Siwon terlihat kacau? Pipinya terlihat merah. Apa kalian bertengkar? Kau menamparnya?” Tuduh Hyunji sembari menatap Yongri dengan tajam.

Yongri menghentakkan tangan Hyunji yang masih berada dilengannya. Kemudian membalas tatapan Hyunji dengan sama tajamnya.

“Apa kau tidak memiliki pekerjaan? Kenapa kau sangat ingin tau kehidupan rumah tangga orang lain?” Sindir Yongri.

“Siwon adalah temanku.” Sahut Hyunji.

“Dan dia adalah suamiku. Kau pikir siapa yang lebih berhak akan dirinya? Kau atau aku?!” Balas Yongri.

Hyunji terdiam dan terlihat sangat marah dengan ucapan Yongri barusan.

“Lebih baik kau tidak ikut campur. Walaupun kami menikah karena dijodohkan, dia tetaplah suamiku dan aku tetaplah istrinya. Jika kami bertengkar, aku menamparnya bahkan membunuhnya sekali pun, itu bukanlah urusanmu!” Ucap Yongri dengan penuh penekanan.

Setelahnya Yongri segera meninggalkan Hyunji dengan kemarahan yang memuncak. Perempuan itu mengepalkan kedua tangannya sembari menatap punggung Yongri dengan tajam. Ia tidak menyangka jika Yongri bisa bersikap sombong seperti itu dihadapannya.

——

Nyatanya Yongri tidak bisa mengejar Siwon yang tiba-tiba saja sudah menghilang dari kantor. Laki-laki itu bahkan tidak membawa mobilnya dan menugaskan Sekretaris Kim untuk mengantar Yongri pulang.

Saat ini sudah pukul setengah 12 malam dan Siwon belum juga pulang ke rumah. Bohong jika Yongri tidak merasa khawatir pada suaminya itu. Yongri bahkan sudah mencoba menghubunginya tetapi ponsel laki-laki itu tidak aktif.

Yongri benar-benar tidak tau harus mencari laki-laki itu kemana. Perempuan itu bahkan tidak mengetahui kontak teman-teman Siwon sehingga ia tidak bisa menghubungi mereka.

Yang bisa Yongri lakukan saat ini hanyalah berjalan bolak-balik di depan pintu rumah untuk menunggu kepulangan Siwon. Di luar sedang hujan lebat dan hal itulah yang membuat kekhawatiran Yongri semakin menjadi.

Yongri menatap jam dinding yang berada di sana. Kemudian matanya menatap ke jendela dan berharap sebuah taksi yang membawa Siwon berhenti di sana. Namun harapan Yongri sia-sia. Tidak ada taksi maupun Siwon di luar sana.

“Kemana kau sebenarnya?” Gumam Yongri sembari menggigiti kuku jari tangannya.

“Apa mungkin dia di rumah abeonim?” Yongri bertanya pada dirinya sendiri sembari menghentikan langkahnya.

Mengingat bahwa Siwon sangat menginginkan rumah itu saat bertengkar dengan Hyemi tadi pagi. Bukan tidak mungkin jika Siwon pergi ke sana untuk mempertahankan rumah itu, kan?

“Aku harus ke sana!” Kata Yongri sembari berjalan ke kamarnya untuk mengambil jaketnya.

“Anda mau kemana, nyonya?” Tanya Bibi Kim saat melihat Yongri yang memakai jaket.

“Aku harus ke rumah abeonim, bibi. Ini sudah malam, kau seharusnya beristirahat.” Jawab Yongri.

“Tetapi di luar sedang hujan deras, nyonya.” Kata Bibi Kim.

“Aku akan membawa payung dan mencari taksi. Aku pergi dulu, bibi.” Pamit Yongri sembari berjalan keluar rumah.

Baru saja Yongri membuka payung yang berada ditangannya. Ia melihat kehadiran seseorang yang baru saja memasuki pagar rumahnya. Yongri memicingkan matanya untuk melihat siapa yang datang.

Dan Yongri tidak bisa menyembunyikan perasaan leganya saat tau bahwa orang itu adalah Siwon. Namun perasaan lega itu hanya sesaat, karena setelahnya Yongri kembali merasa khawatir karena Siwon berjalan dengan lunglai dibawah guyuran hujan.

“Siwon-ssi!” Panggil Yongri sembari menghampiri laki-laki itu. Memayunginya walaupun Siwon terlihat tidak peduli.

“Kau darimana? Kenapa pulang hujan-hujanan?” Tanya Yongri.

Siwon tidak memperdulikan pertanyaan Yongri dan terus berjalan untuk masuk ke dalam rumah. Yongri menatap pakaian Siwon yang terdapat banyak bercak berwarna kecoklatan seperti tanah. Darimana sebenarnya laki-laki ini?

“Bibi, tolong siapkan handuk!” Kata Yongri saat mereka sudah berada di dalam rumah.

Bibi Kim sempat menatap Siwon dengan khawatir sebelum akhirnya berlari kecil untuk mengambilkan handuk. Wajah Siwon luar biasa pucat saat ini dengan bibirnya yang membiru. Tubuh laki-laki itu juga terlihat menggigil walaupun Siwon berusaha menyembunyikannya.

Yongri menerima handuk yang diberikan oleh Bibi Kim dan menyelimutkannya di tubuh Siwon. Namun Siwon membuang handuk itu dan berjalan meninggalkan Yongri untuk ke kamarnya.

Yongri mengambil handuk tersebut dan menyusul Siwon masuk ke dalam kamar. Yongri berpikir bahwa Siwon berencana untuk mandi atau sekedar mengeringkan dirinya yang kebasahan. Namun laki-laki itu justru malah membaringkan dirinya di atas tempat tidur.

Meringkuk seperti sebuah janin yang berada di dalam kandungan. Siwon terlihat begitu kecil dimata Yongri saat ini. Yongri seolah tidak mengenal laki-laki itu. Bagaimana bisa Siwon terlihat begitu hancur seperti ini?

“Yah, jika kau ingin tidur, paling tidak gantilah pakaianmu terlebih dahulu.” Kata Yongri. Siwon memejamkan matanya dan kembali tidak memperdulikan Yongri.

“Siwon-ssi..” Yongri mendekati Siwon dan menarik laki-laki itu untuk berdiri.

Satu hal yang dilupakan Yongri adalah selemah apapun Siwon, suaminya itu tetaplah seorang laki-laki. Tenaga Yongri tidak akan sebanding dengan tenaga yang dimiliki Siwon.

“Pergilah!” Kata Siwon sembari menghempaskan tangan Yongri.

“Ya!!” Bentak Yongri yang sudah kehilangan kesabaran.

“Jika kau memang bersedih, maka menangislah dengan kencang, brengsek!” Maki Yongri sembari menatap Siwon yang masih memejamkan matanya.

“Apa kau pikir dengan menyiksa dirimu sendiri, abeonim akan hidup lagi?!” Kata Yongri kesal.

“Apa yang kau lakukan saat ini tidak ada gunanya! Kau hanya menyakiti dirimu sendiri! Dasar laki-laki bodoh! Kau hanya terlihat seperti pencundang, apa kau tau?!” Yongri terus mengungkapkan kekesalannya.

“Kau tidak perlu bersikap sok tegar dan kuat dihadapan orang-orang! Kau tidak perlu memikirkan mereka. Jika kau bersedih, kau hanya perlu menangis!”

Sebanyak apapun Yongri melontarkan makian dan kata-kata kasarnya, nyatanya Siwon tetap bergeming. Laki-laki itu bahkan tidak membuka matanya untuk menatap Yongri. Setidaknya, Yongri ingin menunjukkan rasa khawatirnya pada laki-laki itu.

“Baiklah! Lakukan apapun semaumu! Siksalah dirimu dengan semua penyesalanmu kepada abeonim. Aku hanya membuang-buang waktuku untuk mengkhawatirkan laki-laki seperti dirimu!” Ucap Yongri dan segera berbalik untuk meninggalkan Siwon.

Namun Yongri menghentikan gerakannya saat sesuatu yang dingin menyentuh tangannya. Yongri menunduk dan menemukan tangan Siwon yang sedang menggenggam pergelangan tangannya.

Yongri menoleh ke belakang untuk menatap Siwon. Laki-laki itu sedang menatapnya dengan matanya yang tampak berkaca-kaca. Yongri merasa tertegun dan juga terkejut.

“Apakah boleh?” Suara Siwon terdengar seperti bisikan.

Yongri tidak mengerti maksud pertanyaan laki-laki itu barusan. Sehingga Yongri hanya menatapnya dengan wajah bingung.

“Apakah aku benar-benar boleh menangis?” Lirih Siwon sembari mengubah posisinya menjadi duduk.

Tangannya yang dingin masih menggenggam tangan Yongri. Siwon menarik Yongri dengan pelan untuk berdiri dihadapannya. Dengan gerakan perlahan Siwon melingkarkan tangannya di pinggang ramping Yongri dan menyembunyikan wajahnya di perut istrinya itu.

Yongri sangat terkejut dengan apa yang Siwon lakukan. Namun Yongri tidak sempat melayangkan protesnya, saat tiba-tiba saja telinganya mendengar sebuah isakan kecil dari bibir Siwon. Yongri menunduk dan melihat bahu laki-laki itu bergetar.

Isakan yang awalnya hanya terdengar samar-samar, lama kelamaan terdengar semakin nyata. Yongri bahkan dapat merasakan airmata Siwon yang menebus dari pakaian yang digunakannya. Siwon benar-benar menangis?

“Kenapa dia meninggalkanku?”

“Aku bahkan belum sempat meminta maaf padanya.”

Siwon seolah menumpahkan kesedihan yang beberapa hari ini ditahannya seorang diri. Ia tidak memperdulikan lagi harga dirinya dihadapan Yongri. Siwon hanya ingin melepaskan semuanya agar rasa sesak didadanya menghilang.

“Aku sangat menyayanginya.” Isak Siwon.

“Aku tau.” Bisik Yongri dengan suara yang bergetar.

Dengan ragu, Yongri meletakkan tangannya dikepala Siwon. Mengusap kepala laki-laki itu dengan pelan seolah menenangkannya. Yongri membiarkan airmata membasahi wajahnya. Ia dapat merasakan kesedihan yang sedang dirasakan Siwon.

“Semua meninggalkanku.. Aku tidak memiliki siapapun lagi..” Keluh Siwon.

“Tidak. Kau tidak sendiri, Siwon-ssi. Aku disini dan tidak akan meninggalkanmu.” Kata Yongri.

Yongri dapat merasakan pelukan Siwon padanya semakin erat. Dan tangisan laki-laki itu semakin menjadi. Biarlah seperti ini. Biarlah Siwon menumpahkan segala kesedihan serta keluh kesahnya. Untuk malam ini, Yongri akan bertindak seperti seorang istri yang berguna.

——

–To Be Continued–

Hai! Hiks.. hiks.. aku mau minta maaf sama abeonim karena menyudahi perannya begitu saja T.T selebihnya, aku serahin sama kalian yang membaca.

Happy reading~

BYE~

Advertisements

113 thoughts on “The One and Only – Part 8

  1. Sekuat dan sebesar apapun pria tersebut, bila ditinggalkan oleh ayahnya akan menjadi pria yang rapuh, mungkin karena trauma makanya siwon selalu berpikiran buruk terhadap orang lain, berpikir bahwa setiap orang akan meninggalkan dirinya…

  2. Aaahhh sedih banget sih,

    Semoga youngri sama siwon cepet cepet ngungkapin kalau mereka udah ada perasaan masing masing,

    Biat yang temen nyaa siwon itu ngga ganggu terus siwon..

  3. Meskipun sering bertgkar, ttp aja sebagai anak akan ttp merasa kehilangan dan sedih saat orang tuanya meninggaal . . .T.T

  4. Huwwaa mewek deh aku disini 😥 benar2 menyedihkan 😦 siwon masih saja blm menerima hyemi sebagai ibu tiri 😦 puas banget pas yongri membentak hyunji 😀 dasar wanita gatal wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s