The One and Only – Part 5

picsart_20161003235728_

Author

Choineke

Title

The One and Only

Cast

ย Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Kim Myungsoo (L Infinite) and others

Genre

Romance, Marriage–Life

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–You’re the one for me–

——

Author POV

“Ketua Tim, istri Anda ada di depan dan ingin menemui Anda.”

“Apa?”

Belum sempat Siwon memikirkan apapun, pintu ruangannya yang sebelumnya tidak tertutup rapat langsung terbuka dengan lebar. Muncul sosok mungil Yongri lengkap dengan wajah kesalnya.

Siwon segera berdiri dan tampak salah tingkah. Ia berharap wajah kesal Yongri saat ini bukanlah karena apa yang sedang Siwon pikirkan akhir-akhir ini.

“Kau bisa keluar, Soohyun-ssi.” Ujar Siwon.

“Ya, ketua tim.” Soohyun keluar dari ruangan Siwon dan menutup pintunya dengan rapat.

Siwon membalas tatapan Yongri dan berusaha menampilkan wajah acuh yang selama ini selalu dilakukannya. Kalau pun apa yang ingin disampaikan oleh Yongri nanti adalah hal yang Siwon takutkan, Siwon tidak boleh terlihat gugup.

“Apa yang kau lakukan dikantorku? Aku sedang sibuk.” Kata Siwon sembari hendak kembali duduk.

“Sibuk?! Ah, sibuk memikirkan bagaimana kita bisa bercinta?” Sahut Yongri membuat gerakan Siwon terhenti.

“Kau tidak perlu melakukannya lagi. Karena aku sudah mengetahuinya.” Lanjut Yongri.

Siwon menegakkan punggungnya dan menatap Yongri. Perempuan itu sedang tersenyum. Benar-benar tersenyum. Hanya saja senyumannya terlihat sangat mengerikan untuk Siwon. Siwon mengusap tengkuknya yang terasa merinding.

Beberapa saat kemudian senyum Yongri hilang dari wajahnya. Perempuan itu mengepalkan tangannya dan bersiap untuk memukul Siwon kapan saja. Namun Yongri akan membiarkan laki-laki itu memberikan pembelaan jika memang ia memilikinya.

“Aku yang melakukannya.” Kata Siwon membuat Yongri terkejut.

Suaminya itu sudah mengetahuinya? Lalu, kenapa ia tidak mengatakannya pada Yongri? Ah, tentu saja karena laki-laki itu takut. Bukankah setiap orang yang bersalah akan merasa takut?

Siwon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan menghampiri Yongri. Rasa gugup serta takut yang dirasakan Siwon tadi entah melayang kemana. Sepertinya laki-laki itu sudah memiliki pembelaan untuk dirinya sendiri.

“Kau tau bahwa itu kesalahanmu dan sekarang kau memasang wajah sombongmu dihadapanku?” Kata Yongri tidak habis pikir.

“Kau benar-benar sudah mengingat semuanya?” Tanya Siwon. Yongri menganggukkan kepalanya.

“Aku akui bahwa aku memang yang pertama kali mencium bibirmu itu.” Kata Siwon sembari menatap bibir Yongri.

Dan sialnya, ia merasa bibir tipis Yongri terlihat sangat seksi. Siwon menahan dirinya untuk tidak melahap bibir perempuan itu dan melumatnya dengan kasar.

“Tapi ingatkah kau jika aku hanya menciumnya saja?” Tanya Siwon membuat kening Yongri berkerut.

“Apa maksudmu?”

“Aku menyudahi ciumanku ketika melihatmu bangun. Kau tau, saat itu aku pikir kau akan menendangku keluar dari kamar.” Kata Siwon. Yongri tampak memikirkan ucapan Siwon.

“Kau juga seharusnya ingat siapa yang kembali memulai ciuman itu ketika aku menyudahinya, kan?” Tanya Siwon sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah Yongri.

Matanya menatap tepat di manik mata Yongri yang sedang bergerak gelisah. Siwon menarik salah satu sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah seringaian. Ia suka melihat bagaimana perempuan itu tidak dapat berkutik dihadapannya.

“Kau mengingatnya dengan jelas ‘kan, istriku?” Bisik Siwon.

Tangan Yongri yang terkepal terasa basah oleh keringat. Tentu saja Yongri dapat mengingat semuanya dengan jelas. Apa yang dikatakan Siwon benar. Ketika laki-laki itu menyudahi ciuman mereka, Yongri justru yang kembali memulai semuanya. Hingga akhirnya mereka benar-benar bercinta.

Yongri benar-benar mengutuk dirinya. Seharusnya ia memikirkan semuanya dengan matang sebelum memutuskan untuk datang ke kantor laki-laki itu. Jika sudah begini, apa yang bisa dilakukan Yongri untuk membela diri? Siwon pasti sangat senang memojokkannya.

“Lagipula kenapa harus mempermasalahkan sesuatu yang sudah terjadi?” Kata Siwon sembari menjauhkan wajahnya dari wajah Yongri.

“Bukankah aku sudah mengingatkanmu bahwa kita adalah suami istri? Bukankah bercinta adalah hal yang wajar kita lakukan? Bahkan pasangan kekasih yang belum menikah sering bercinta, dan mereka tidak pernah mempermasalahkannya.” Ucap Siwon membuat Yongri menatapnya dengan geram.

Yongri bukanlah perempuan bodoh yang melupakan fakta bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Namun kehidupan pernikahan yang mereka jalani berbeda dengan kehidupan pernikahan biasa. Mereka dijodohkan dan tidak ada cinta di antara mereka.

Tentu saja bercinta adalah hal yang asing untuk mereka lakukan. Bukan begitu?

“Jika aku menelanjangimu dan bercinta denganmu di ruangan ini pun, tidak akan ada yang bisa melarangnya.” Kata Siwon membuat Yongri terkejut dan marah.

Yongri melayangkan tangannya untuk menampar Siwon. Namun Siwon dengan cepat menahan tangan istrinya itu. Siwon juga terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya dan apa yang hendak Yongri lakukan padanya barusan.

“Jaga ucapanmu, Choi Siwon!” Desis Yongri.

“Karena itulah aku katakan padamu untuk tidak terus meributkan hal yang sudah berlalu!” Ujar Siwon sembari menghempaskan pelan tangan Yongri. Siwon terlihat kesal dengan Yongri dan juga pada dirinya sendiri.

“Biarkan saja semua yang sudah berlalu dan kita lanjutkan kehidupan kita yang saling tidak memperdulikan ini.” Ujar Siwon.

“Setuju?” Kata Siwon sembari mengulurkan tangannya dihadapan Yongri.

Yongri menatap Siwon dengan tajam. Tanpa mengindahkan tangan Siwon yang mengajaknya bersalaman, Yongri segera berlalu dari hadapan laki-laki itu dan meninggalkan ruangannya.

Siwon melarikan tangannya ke rambut dan menjambaknya dengan frustasi. Terdengar desisan pelan dari mulutnya yang baru saja mengeluarkan kata-kata yang membuat Yongri marah.

“Kau benar-benar sudah tidak waras, Choi Siwon.”

——

“Choi Yongri?”

Yongri menghentikan langkahnya yang terburu-buru untuk meninggalkan kantor Siwon, saat mendengar ada yang memanggilnya. Ia menoleh dan menemukan Kiho yang sedang berjalan menghampirinya.

Yongri terlihat sangat terkejut namun ia dengan cepat mengatur ekspresi wajahnya. Perempuan itu membungkukkan sedikit badannya untuk menyapa Kiho.

“Anda disini, abeonim.” Ujar Yongri.

“Tentu saja. Ini kantorku.” Sahut Kiho sembari tertawa geli. Yongri terkesiap dan tersadar dengan ucapan bodohnya barusan.

“Dan tidak perlu seformal itu padaku. Bukankah aku sudah menjadi ayahmu juga?” Kata Kiho membuat Yongri menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecil.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Kiho.

“Oh, itu–aku–” Yongri terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan ayah mertuanya itu.

“Kenapa kau terlihat bingung?”

“T–tidak, abeonim. Aku ke sini untuk bertemu dengan Siwon.”

“Ah, benarkah? Apa kalian habis makan siang bersama?” Tebak Kiho.

“Tidak, abeonim.” Bantah Yongri langsung.

“Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya tadi.” Kata Yongri.

“Kalau begitu urusan kalian sudah selesai, kan?” Yongri mengangguk ragu.

“Apa kau ada waktu? Bisa kita minum teh bersama diruanganku?” Ajak Kiho.

Yongri terlihat bingung dengan apa yang harus dikatakannya. Apakah ia harus menyetujuinya atau menolak? Bukankah akan terasa canggung jika mereka menghabiskan waktu bersama? Tetapi akan lebih tidak sopan jika Yongri menolak permintaan Kiho.

“Diammu aku anggap setuju, okay? Kita ke atas sekarang.” Ujar Kiho sembari menepuk pelan lengan Yongri.

Kiho berjalan lebih dulu meninggalkan Yongri. Yongri meringis sembari menatap punggung Kiho yang masih tegap walaupun usia pria itu tidak muda lagi. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berjalan menyusul Kiho.

——

Sekretaris Kim menaruh dua cangkir teh masing-masing dihadapan Kiho dan Yongri. Yongri menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih pada pria itu. Perempuan itu dapat mencium bau harum dari teh yang baru saja disajikan oleh Sekretaris Kim.

Apa semua orang kaya meminum teh dengan bau harum seperti ini? Apakah ayahnya juga melakukan hal yang sama?

“Kau bisa keluar, Sekretaris Kim.” Kata Kiho sembari menyeruput tehnya.

“Ya, presdir.” Sahut Sekretaris Kim dan kemudian melangkah meninggalkan ruangan Kiho.

Yongri sudah memikirkannya bahwa ia akan berada dalam suasana canggung jika berdua saja bersama Kiho. Mereka tidak saling mengenal sebelumnya dan baru sekitar beberapa bulan yang lalu mereka menjadi sebuah keluarga.

“Minumlah tehnya, rasanya enak sekali. Aku dan Siwon sangat menyukainya.” Kata Kiho dengan tersenyum.

“Ah ya, abeonim.” Yongri segera mengangkat cangkirnya dan menyeruput sedikit teh yang berada di dalamnya.

Mata Yongri sedikit melebar saat merasakan bahwa teh tersebut sangat enak. Rasa manisnya sangat pas di lidah Yongri. Ia tidak tau apakah memang tehnya yang terasa enak ataukah seseorang yang menyajikannya terlalu pintar dalam mengatur komposisi gulanya.

“Bagaimana pernikahan kalian?” Pertanyaan Kiho hampir membuat Yongri tersedak.

Untung saja Yongri dapat menahannya sehingga ia tidak perlu mempermalukan dirinya dihadapan Kiho. Yongri menaruh kembali cangkir tehnya dan menatap Kiho yang juga sedang menatapnya. Haruskah ia mengatakan yang sejujurnya pada Kiho?

“Kau tidak perlu takut. Katakan saja apa yang ingin kau katakan.” Ujar Kiho sembari ikut menaruh cangkir tehnya di atas meja.

“Bagaimana aku harus mengatakannya, abeonim? Kau tau bahwa aku dan Siwon tidak saling mengenal sebelumnya. Lalu beberapa bulan kemudian kami dipertemukan dan dijodohkan begitu saja. Tidak ada cinta di antara kami dan tentu saja kehidupan pernikahan kami jauh dari apa yang kalian bayangkan.” Jawab Yongri sembari menundukkan kepalanya.

Kiho tersenyum kecil. Seharusnya ia sudah bisa menebak hal itu ‘kan tanpa menanyai langsung pada menantunya?

“Pernikahan dengan cinta pun terkadang tidak berakhir bahagia.” Kata Kiho membuat Yongri mendongak menatapnya.

“Apa kau ingin aku memberitahukanmu tentang Siwon? Yah, siapa tau kau bisa lebih mengenalnya setelah ini.” Saran Kiho.

“Ah, tidak perlu–“

“Siwon..” Kiho tampak tidak memperdulikan penolakan Yongri.

“Anak itu tidak pernah bisa menunjukkan perasaan yang sedang dirasakannya. Yang bisa dia lakukan hanyalah marah, marah, dan marah. Bukan begitu?”

Yongri tanpa sadar menganggukkan kepalanya dengan semangat. Membuat Kiho tidak dapat menahan tawanya saat melihat wajah polos menantunya itu.

“Hal itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa Siwon tidak pernah berkencan dengan perempuan. Sehingga aku memutuskan untuk menjodohkannya denganmu.”

“Salah satu alasan? Apakah ada alasan lain?” Tanya Yongri. Tiba-tiba ia menjadi sangat penasaran dan tertarik dengan cerita Kiho. Kiho tersenyum kecil.

“Aku dengar dari Hyunseok bahwa kau sering mabuk-mabukan setiap malam.” Kata Kiho.

“Ayahku mengatakannya?!” Pekik Yongri tanpa sadar.

“Ah, maaf, abeonim.” Sesal Yongri saat menyadari reaksinya yang berlebihan. Perempuan itu menepuk bibirnya dengan pelan.

Seandainya Hyunseok bukanlah ayahnya, Yongri pasti sudah mengutuk pria itu di dalam hatinya. Haruskah Hyunseok mengatakan hal tersebut pada Kiho? Apa tujuan ayahnya itu menjelekkannya di hadapan ayah mertuanya? Oh, Yongri benar-benar merasa kesal.

“Apa memang benar?” Tanya Kiho. Yongri menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Kiho.

Apa yang harus dikatakannya? Membenarkan ucapan Hyunseok hingga membuat Kiho kecewa padanya? Ataukah ia harus membuat Hyunseok menjadi seorang pembohong?

Untuk pertama kalinya Yongri ingin sekali memiliki kekuatan untuk menghilang.

“Maafkan aku, abeonim.” Ucap Yongri pelan.

“Yah, kenapa kau minta maaf? Aku hanya bertanya dan kau hanya perlu menjawab ya atau tidak. Bukan meminta maaf.” Kiho benar-benar merasa geli dengan menantunya ini.

“Apa yang ayahku katakan memang benar, abeonim. Karena itu maafkan aku.” Kata Yongri masih tanpa menatap Kiho. Entah kenapa Yongri mulai memikirkan untuk berhenti mabuk-mabukan.

“Kau tau, wanita yang suka mabuk-mabukan belum tentu merupakan wanita yang buruk. Terkadang banyak wanita yang memiliki kelakuan lebih baik tetapi pada akhirnya mereka hanya menjadi wanita yang buruk.” Ucap Kiho.

Perlahan Yongri mengangkat kepalanya untuk menatap Kiho. Ia dapat menangkap kesedihan pada mata pria itu. Ada apa? Apa sebenarnya maksud dari ucapan Kiho barusan?

“Kau bertanya alasan lain kenapa Siwon tidak pernah berkencan dengan wanita, kan?” Tanya Kiho. Yongri menganggukkan kepalanya.

“Karena Siwon pernah ditinggalkan oleh seorang wanita.” Kata Kiho.

“Apa?” Yongri terlihat sangat terkejut.

“M–maksudmu kekasih Siwon meninggalkannya?”

“Aku tidak pernah berkata wanita itu kekasih Siwon.”

“Lalu, wanita yang dicintainya?”

“Yah, bisa dibilang begitu.”

“Apa cinta bertepuk sebelah tangan?” Yongri benar-benar merasa penasaran. Kiho kembali tersenyum.

“Jika aku mengatakan seorang wanita, apa yang ada di dalam pikiranmu hanya kekasih, pacar dan semacamnya?” Tanya Kiho. Yongri benar-benar merasa bingung.

“Apakah ibu bukan seorang wanita?” Tanya Kiho lagi.

Kebingungan Yongri semakin menjadi. Seandainya Myungsoo yang sedang berbicara dengannya saat ini, Yongri pasti sudah berteriak marah karena dia berbicara secara berbelit-belit. Tidak bisakah Kiho mengatakan saja semuanya secara langsung?

“Apa maksudmu, abeonim? Ibu Siwon meninggalkannya? Lalu, w–wanita yang mendampingimu selama ini dan yang menghadiri pernikahanku dan Siwon–“

“Habiskan tehmu.” Kiho memotong ucapan Yongri dan kembali meminum tehnya.

Mengabaikan rasa penasaran Yongri yang sudah mencapai maksimal. Yongri menatap Kiho yang tampak tidak peduli. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada sesuatu yang tidak Yongri ketahui mengenai keluarga Siwon.

Dan sialnya, saat ini Kiho sudah menariknya masuk untuk mengetahui semuanya. Sayangnya, Yongri harus berusaha sendiri untuk memuaskan rasa keingintahuannya.

——

Siwon memegang tengkuknya yang terasa berat dan lelah. Begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya hari ini di kantor. Ia sangat membutuhkan air hangat saat ini. Siwon ingin menghabiskan waktunya untuk berendam.

Namun alih-alih melakukan keinginannya, Siwon malah berdiri di tengah-tengah rumah sembari menatap sekitar. Rumah mewahnya ini terasa sangat sepi. Baiklah, rumah ini memang sangat sepi karena hanya ditinggali olehnya dan Yongri. Pelayan datang saat pagi hari dan pulang ketika hari mulai gelap.

Siwon mengalihkan pandangannya pada pintu kamar Yongri yang tertutup rapat. Apa perempuan itu tidak ada di rumah? Apa dia pergi ke club untuk mabuk-mabukan? Siwon mendengus pelan. Apa pedulinya?

Siwon melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun tiba-tiba ia berbalik dan menuju ke kamar Yongri. Terkutuklah rasa penasarannya yang ingin tau dimana keberadaan perempuan itu saat ini.

Siwon menempelkan telinganya di pintu kamar Yongri. Mencoba mendengarkan suara apa saja yang terdengar dari dalam sana. Dan Siwon terlihat terkejut saat ia mendengar suara rintihan seseorang.

“Suara siapa?” Gumam Siwon.

Siwon kembali menempelkan telinganya di sana, dan suara rintihan tersebut kembali terdengar. Merasakan kekhawatiran yang entah datang dari mana, Siwon segera membuka pintu kamar Yongri dengan lebar.

Siwon menemukan Yongri yang sedang meringkuk di atas tempat tidur. Posisi perempuan itu terlihat seperti janin yang berada di rahim seorang ibu. Dan rintihan yang didengar oleh Siwon semakin jelas.

“Yongri-ssi?” Panggil Siwon sembari mendekati Yongri.

Tidak ada tanggapan apapun dari Yongri yang sedang memejamkan matanya sembari memegangi perutnya. Siwon dapat melihat keringat yang membasahi wajah istrinya itu.

“Yah, kau baik-baik saja?” Tanya Siwon sembari mengguncang tubuh Yongri.

Yongri membuka matanya dan menatap Siwon dengan sayu. Beberapa saat kemudian perempuan itu kembali menutup matanya.

“Pergilah.. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu.” Ucap Yongri dengan suara pelan. Siwon mendengus.

“Ya, aku tau. Kau bahkan tidak memiliki tenaga untuk bertengkar denganku saat ini, kan?.” Sahut Siwon.

“Apa yang terjadi padamu? Kau berkeringat dan merintih kesakitan? Apa yang sakit?” Tanya Siwon sambil menatap tangan Yongri yang menekan perutnya sendiri.

“Perutmu?” Siwon duduk di tepi tempat tidur.

“Aku bilang pergi…” Ucap Yongri tanpa membuka matanya.

Siwon menghela nafas dan berdiri. Mereka memang tidak ditakdirkan untuk saling peduli, kan? Ia seharusnya mengabaikan keinginan hatinya yang merasa khawatir dengan keadaan perempuan itu.

Siwon berjalan meninggalkan kamar Yongri. Namun saat ia kembali mendengar rintihan perempuan itu, Siwon berbalik dan segera mengambil alih tubuh Yongri dalam gendongannya.

“Kita ke rumah sakit.” Kata Siwon.

“Yah, turunkan aku.” Yongri memberontak di sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

“Ya! Ya! Ya! Kau bisa jatuh!” Ujar Siwon dengan panik.

“Karena itu turunkan aku!” Yongri menatap Siwon dengan kesal.

Siwon berdecak dan kembali membaringkan Yongri di atas tempat tidur. Merasa kesal karena Yongri tidak bisa melihat niat baiknya saat ini.

“Apa kau mau mati di dalam kamar ini, huh?!” Omel Siwon.

“Aku tidak akan mati hanya karena datang bulan.” Sahut Yongri membuat Siwon menatapnya dengan mata yang melebar.

“D–datang bulan?” Gumam Siwon.

“Aku sakit perut karena sedang datang bulan. Karena itu pergilah dari kamarku!” Usir Yongri kesal.

Siwon menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal dan tampak salah tingkah.

“Baiklah, aku akan keluar.” Kata Siwon dan segera meninggalkan kamar Yongri.

Namun sebelum benar-benar keluar, Siwon sempat mengambil ponsel Yongri yang berada di atas meja nakas. Setelah berada di luar kamar perempuan itu, Siwon segera mencari nomor telepon Sujin.

Setelah menemukannya, Siwon mengeluarkan ponsel dari sakunya. Menekan nomor Sujin pada ponselnya sebelum akhirnya menempelkan benda persegi tersebut ditelinganya.

Halo?

“Selamat malam, eommonim. Ini aku Choi Siwon.”

Oh, menantuku!” Siwon menjauhkan ponselnya sesaat setelah mendengar suara Sujin yang cukup memekakkan telinganya.

Ada ada kau menghubungiku malam-malam seperti ini?

“Ah, begini–“

Apa Yongri membuat masalah?

“Tidak, eommonim.” Sela Siwon langsung.

Oh, benarkah? Baguslah jika seperti itu. Lalu, ada apa?

“Begini, eommonim, Yongri mengalami sakit perut karena sedang datang bulan.”

Benarkah? Dia pasti sangat kesakitan.” Siwon dapat mendengar nada panik pada suara Sujin.

Aku akan ke sana–“

“Kau tidak perlu melakukannya, eommonim.” Siwon terlihat panik.

Jika Sujin datang ke rumah mereka, maka Siwon dan Yongri harus kembali melakukan sandiwara. Siwon mungkin harus bersikap kelewat khawatir melihat Yongri yang kesakitan. Walau sebenarnya saat ini pun Siwon sedikit mengkhawatirkan istrinya itu.

Kenapa?

“Beritahukan saja padaku apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya, eommonim.” Pinta Siwon sembari menggigit bibir bawahnya.

Wah, menantuku sepertinya sangat mengkhawatirkan istrinya.

Siwon melirik ponselnya dengan bingung. Baru beberapa saat tadi wanita itu tampak mengkhawatirkan keadaan putrinya. Namun sekarang ia terlihat bersemangat menggoda Siwon.

Tidak banyak yang perlu kau lakukan. Kau hanya perlu membuatkannya minuman hangat dan juga..

“Dan juga?”

Mengusap perutnya dengan perlahan.

“Apa?!”

——

Siwon menatap teh hangat yang baru saja dibuatkannya untuk Yongri. Ia berada di depan kamar Yongri dan terlihat sangat ragu. Jika ia hanya harus memberikan teh hangat ini, Siwon pasti akan dengan semangat memberikannya.

Namun, mengusap perut Yongri? Astaga, Siwon benar-benar ragu untuk melakukannya. Baiklah, mungkin mereka memang pernah bercinta dan Siwon melakukan lebih dari sekedar mengusap perut. Tetapi itu semua dalam keadaan tidak sadar.

Dan sekarang Siwon benar-benar dalam kondisi sadar. Begitu pun dengan Yongri yang dalam keadaan sadar. Belum sempat Siwon mengusap perut perempuan itu, mungkin Yongri sudah menendangnya keluar.

Tetapi Siwon tidak memiliki pilihan apapun saat ini. Jika dia tidak melakukannya, Yongri akan terus kesakitan. Dan jika Sujin tau, wanita itu pasti akan sangat kecewa padanya. Bagaimana pun Siwon sudah meminta ibu mertuanya itu untuk tidak khawatir dan menyerahkan Yongri padanya.

Siwon menghela nafas panjang dan menatap pintu kamar Yongri. Hari semakin malam dan ia sudah tidak bisa melakukan apapun lagi selain mengikuti instruksi dari Sujin. Lebih baik Yongri menendangnya daripada ia harus menjadi saksi dari kematian istrinya sendiri.

Memantapkan hatinya, Siwon memasuki kamar Yongri dengan perlahan. Ia masih menemukan Yongri dalam keadaan meringkuk beserta suara rintihan pelan. Siwon menghampiri tempat tidur dan menaruh teh hangat di atas meja. Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur.

“Yah,” panggil Siwon.

“Apa lagi?” Tanya Yongri dengan suaranya yang lemah namun Siwon dapat menangkap nada geram dari sana.

“Minumlah ini, siapa tau dapat meredakan sakit perutmu.” Kata Siwon dengan acuh. Yongri melirik secangkir teh yang masih mengeluarkan uap panas.

“Aku tidak mau. Kau pasti sudah menambahinya dengan racun.” Tolak Yongri membuat Siwon menatapnya dengan kesal.

Siwon mengangkat tangannya dan ingin sekali memberikan pukulan pada kepala perempuan itu. Di saat sedang kesakitan seperti ini pun, dia masih bisa mencurigai Siwon berbuat jahat padanya.

“Ya! Apa kau pikir aku rela meninggalkan kehidupanku yang berharga ini hanya untuk membunuhmu?!” Sungut Siwon.

“Kau tiba-tiba berbuat baik padaku apa kau pikir aku tidak curiga?!” Balas Yongri.

“Aku hanya tidak ingin ada seseorang yang mati dirumahku.” Sela Siwon.

“Cepat bangun dan minum ini.” Kata Siwon dengan cepat. Takut Yongri kembali membalas ucapannya.

Siwon menarik bahu Yongri dengan pelan hingga posisi perempuan itu menjadi duduk. Ia mengambil cangkir teh dan memberikannya pada Yongri. Yongri menerima cangkir teh tersebut dan segera meminumnya. Tidak memiliki tenaga lebih untuk menolaknya.

“Minumlah sedikit lagi.” Kata Siwon saat Yongri mengembalikan cangkir tersebut padanya. Namun Yongri menggeleng dan kembali berbaring.

Siwon menghela nafas dan meletakkan cangkir di atas meja nakas. Menatap Yongri yang sesekali masih meringis. Siwon tidak bisa membayangkan seberapa sakit perut perempuan itu saat ini. Ia mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas paha.

Haruskah ia melakukannya sekarang?

Dengan ragu-ragu, Siwon mengulurkan tangannya untuk mengusap perut Yongri. Namun belum sempat tangannya menyentuh perut perempuan itu, Yongri sudah lebih dulu menepisnya dengan kuat.

“Apa yang kau lakukan?!” Tanya Yongri dengan menatap Siwon tajam.

Siwon terlihat terkejut dengan apa yang perempuan itu lakukan padanya.

“Aku sudah tau jika perbuatan baikmu itu ada maksud tujuannya! Kau pikir kau bisa menyentuhku dengan seenaknya, huh?!” Pekik Yongri.

“Dengar, bisakah kau menghilangkan pikiran burukmu tentangku untuk sesaat saja?” Pinta Siwon.

“Tidak bisa!” Sahut Yongri langsung.

Siwon mengusap rambutnya dengan kasar. Terlihat benar-benar kesal pada Yongri dan juga dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak perlu mengkhawatirkan perempuan itu. Seharusnya Siwon hanya memikirkan keadaan tubuhnya yang terasa lelah dan butuh istirahat sekarang.

Sialnya, Siwon tidak bisa mengabaikan istrinya itu. Setidaknya untuk saat ini.

“I–ibumu bilang bahwa p–perutmu harus diusap saat kau sedang seperti ini.” Kata Siwon dengan terbata.

“Apa?!” Yongri terlihat sangat terkejut.

“K–karena itu biarkan aku melakukannya untuk mengurangi rasa sakitmu.” Ucap Siwon.

Yongri menatap Siwon dengan mulut terbuka. Dia berharap sedang salah mendengar saat ini. Apa maksud laki-laki itu? Siwon ingin mengusap perutnya? Astaga! Apa laki-laki itu sudah gila? Ya, dia pasti sudah gila.

“Keluar!” Usir Yongri.

“Apa?”

“Aku bilang keluar!!”

“Yah, ibumu bilang dia akan datang kemari jika aku tidak melakukannya!” Siwon terlihat frustasi.

“Lalu, bagaimana tepatnya ibuku bisa mengetahui jika aku sedang seperti ini?!” Yongri tidak kalah frustasinya.

“A–aku yang mengatakannya.”

“K–kenapa kau melakukannya?” Tanya Yongri sembari menatap Siwon dengan bingung.

“Aku juga bahkan ingin mengetahuinya.” Jawab Siwon.

Siwon tidak bisa mengatakannya pada Yongri bahwa ia mengkhawatirkan perempuan itu. Laki-laki itu saja tidak bisa memahami perasaannya sendiri.

“Karena itu biarkan aku melakukannya. Jika kau takut kita berakhir telanjang seperti saat itu, aku janji tidak akan melakukannya. Kita sama-sama sadar saat ini.” Ucap Siwon dengan wajah meyakinkan.

“Aku hanya ingin mengurangi rasa sakit perutmu. Tidak lebih.” Lanjut Siwon.

Yongri menatap Siwon dengan keraguan. Siwon benar bahwa mereka sama-sama sadar saat ini. Tidak mungkin mereka akan kembali bercinta seperti saat itu. Kecuali jika mereka saling mencintai.

Sayangnya tidak ada perasaan seperti itu diantara keduanya.

Tetapi, Yongri tidak bisa mengizinkan Siwon begitu saja, kan? Siwon memang suaminya, tapi laki-laki itu tetaplah orang asing untuknya.

Yongri terkesiap saat Siwon menaruh tangan laki-laki itu di atas perutnya. Mata Yongri membesar dan perempuan itu langsung memegang tangan Siwon. Yongri merasa tubuhnya merinding akibat sentuhan laki-laki itu.

“Y–ya!”

“Diamlah!” Siwon menjauhkan tangan Yongri.

Siwon memasukkan tangannya ke dalam kaos yang dipakai oleh Yongri dan mulai mengusapnya dengan pelan. Kulit Yongri benar-benar terasa sangat halus di tangan Siwon. Namun Siwon berusaha untuk tidak memikirkan apapun.

Telapak tangan Siwon terasa sangat hangat di atas perut Yongri. Dan tangan laki-laki itu cukup halus untuk ukuran seorang lelaki. Namun tetap saja apa yang Siwon lakukan saat ini membuat Yongri tidak bisa bernafas dengan normal. Perempuan itu bahkan mengepalkan kedua tangannya.

“Pejamkan matamu dan tidurlah.” Kata Siwon.

Yongri langsung mengikuti apa yang Siwon katakan. Ia hanya tidak tau harus melakukan apa selagi menunggu Siwon mengusap perutnya. Yongri hanya berharap rasa kantuk segera menjemputnya agar ia tidak perlu melewati rasa canggung seperti ini.

Siwon dapat melihat kening perempuan itu berkerut, walaupun Siwon tidak tau apa penyebabnya. Siwon berharap itu bukan karena rasa sakit pada perutnya yang semakin menjadi. Ia berharap usapannya pada perut perempuan itu dapat menghilangkan atau paling tidak mengurangi rasa sakitnya.

Siwon dapat sedikit bernafas lega saat melihat kerutan pada dahi Yongri sedikit berkurang dan lama kelamaan menghilang. Nafas Yongri juga terlihat teratur yang menandakan bahwa istrinya itu sudah tertidur.

Siwon tau bahwa ia tidak seharusnya merasakan hal ini. Hanya saja ia merasa sangat bangga karena dapat mengurangi rasa sakit Yongri dan juga membuatnya tertidur dengan pulas.

——

Yongri membuka matanya saat hari mulai terang dan matahari sudah menampakkan dirinya. Ia mengusap matanya yang terasa berat sebelum akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk.

Yongri menatap ke sekeliling dan tidak menemukan Siwon. Menundukkan kepalanya, Yongri menatap perutnya yang semalam diusap oleh Siwon. Tanpa sadar tangannya bergerak untuk menyentuh perutnya sendiri. Yongri seolah masih dapat merasakan kehangatan yang laki-laki itu hantarkan padanya.

Yongri menatap jam dinding dan segera turun dari atas tempat tidur. Ia harus menemui Siwon sebelum laki-laki itu berangkat kerja. Yongri belum sempat mengucapkan terima kasih kepada suaminya itu.

Beruntung karena perutnya tidak terasa sakit lagi pagi ini. Karena kalau tidak, ia tidak akan bisa turun di atas tempat tidurnya. Yongri mungkin akan membutuhkan tangan Siwon sepanjang hari untuk meredakan rasa sakitnya.

Yongri berdiri tepat di depan kamar Siwon. Menghela nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu kamar laki-laki itu dengan cukup keras.

Siwon yang baru saja selesai mandi terlihat terkejut ketika melihat pintu kamarnya terbuka dengan lebar. Pasalnya laki-laki itu tidak memakai apapun selain sehelai handuk yang menggantung dipinggangnya.

“Astaga!” Pekik Yongri yang tidak kalah terkejut.

Yongri segera membalikkan badannya ketika melihat Siwon yang setengah telanjang. Pipinya terasa panas karena ia dapat melihat dengan jelas tubuh setengah telanjang suaminya itu.

Yongri memejamkan matanya dan mengutuk kebodohan dirinya. Seharusnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya. Yongri tidak terpikir sama sekali jika Siwon baru saja selesai mandi.

“M–ma–maaf.” Ucap Yongri dengan gugup.

“A–apa yang kau lakukan?” Tanya Siwon sembari memakai celananya.

Siwon tidak merasa malu, ia hanya terkejut karena ada yang masuk ke dalam kamarnya tanpa pemberitahuan.

“M–maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengintipmu.” Kata Yongri.

“Aku tau. Hanya orang gila yang melakukannya dengan sengaja.” Sahut Siwon membuat Yongri menggerutu tanpa suara.

“Apa yang kau inginkan dariku?” Tanya Siwon sambil memilih kemeja yang akan dipakainya untuk bekerja.

Yongri terlihat memainkan kesepuluh jarinya sembari menundukkan kepalanya. Ia terlihat ragu dan malu untuk mengucapkan terima kasih pada Siwon. Bagaimana jika Siwon mengejeknya setelah Yongri berterima kasih?

“Aku.. Soal kemarin..” Ucap Yongri pelan.

“Ada apa dengan kemarin?” Siwon terlihat pura-pura tidak tau.

“T–terima kasih karena sudah melakukannya.” Kata Yongri membuat gerakan Siwon yang sedang memasang kancing terhenti.

Bola mata Yongri bergerak gelisah menunggu reaksi yang akan Siwon berikan. Namun sayangnya tidak ada yang Yongri dapatkan setelah beberapa puluh detik berlalu. Hingga membuat Yongri memutuskan untuk membalikkan badannya dengan perlahan.

Yongri bersyukur karena Siwon sudah memakai pakaiannya. Namun kemudian Yongri merasa bingung saat melihat Siwon yang hanya diam saja layaknya sebuah patung.

“Ada apa?” Tanya Yongri.

Siwon seolah tersadar dan segera melanjutkan kegiatannya. Bisa-bisanya ia merasa takjub mendengar ucapan terima kasih dari Yongri. Bukankah itu hanya kalimat biasa?

“Sudah aku katakan jika aku melakukannya karena tidak mau ada seseorang yang mati dirumahku.” Ujar Siwon membuat Yongri menatap punggung laki-laki itu dengan kesal.

“Aku juga sudah katakan jika aku tidak akan mati hanya karena datang bulan!” Balas Yongri. Siwon membalikkan badannya dan menatap Yongri dengan tersenyum sinis.

“Sepertinya kau sudah benar-benar membaik.” Sindir laki-laki itu.

“Terserah apa katamu! Aku hanya ingin berterima kasih!” Ujar Yongri sembari menutup pintu kamar Siwon dengan kesal.

Siwon tersenyum sembari menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup dengan rapat. Ternyata membuat perempuan itu kesal menjadi kesenangan tersendiri untuk Siwon. Siwon merasa lebih baik melihat wajah kesal Yongri daripada melihatnya meringis kesakitan seperti semalam.

Siwon kembali berbalik dan menatap pantulan dirinya di depan cermin. Saat mendapati dirinya tersenyum, Siwon terkejut bukan main. Senyum diwajahnya langsung menghilang digantikan dengan wajah kakunya.

Apa yang sebenarnya membuatnya tersenyum?

“Choi Siwon, apa kau sudah gila?!”

——

“Siwon-ssi.”

Siwon segera menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya. Tidak seperti pagi-pagi kemarin, pagi ini Siwon terlampau sering melihat wajah Yongri. Walaupun sedikit merasa asing, namun Siwon tampak tidak keberatan akan fakta tersebut.

“Ada apa?” Tanya Siwon.

Siwon sudah bersiap untuk ke kantor namun Yongri menahannya. Ia berharap apa yang hendak perempuan itu katakan lebih penting daripada kepergiaannya ke kantor. Agar waktu yang disia-siakannya tidak terbuang begitu saja.

“Itu–Bibi Lee sudah membuatkan sarapan.” Kata Yongri sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Apa?” Siwon merasa bingung.

“Bibi Lee membuatkan sarapan.” Ulang Yongri.

“Lalu?” Siwon bertanya karena dirinya benar-benar tidak mengerti.

Memangnya kenapa jika Bibi Lee membuatkan sarapan? Apa Yongri tidak tau jika Siwon selama ini tidak pernah sarapan? Ah, tentu saja perempuan itu tidak tau. Mereka tidak pernah saling memperdulikan selama ini. Tetapi, kenapa tiba-tiba seperti ini?

“Yah, kau benar-benar ingin membuatku marah, ya?!” Geram Yongri. Siwon semakin menatap perempuan itu dengan bingung.

“Apalagi yang harus kau lakukan selain makan, jika ada yang membuatkanmu sarapan?!” Ujar Yongri dengan wajah kesal.

“Aku mengatakan ini karena kau tidak mengetahuinya.” Kata Siwon. Yongri hanya diam saja seolah menunggu lanjutan ucapan Siwon.

“Aku tidak pernah sarapan.” Lanjut Siwon dengan tenang. Yongri menatap Siwon dengan kedua matanya yang terus berkedip pelan.

“Apa sekarang aku boleh berangkat kerja?” Tanya Siwon.

“Tapi Bibi Lee–

“Astaga! Aku tidak sarapan, Yongri-ssi.” Siwon mulai terlihat geram.

Belum sempat Yongri membalas ucapan Siwon, keduanya dikejutkan oleh suara bel yang memenuhi rumah mereka. Mereka segera memalingkan wajah menatap pintu rumah yang tertutup rapat sembari bertanya-tanya siapa yang datang pagi-pagi seperti ini.

“Saya akan membuka pintu.” Kata Bibi Lee yang baru saja muncul dari dapur.

Siwon dan Yongri sama-sama menunggu untuk melihat siapa yang datang mengunjungi mereka pagi itu. Keduanya bahkan melupakan sesaat perdebatan yang sedang mereka lakukan.

“Yongri-ya..”

“Eomma?!” Pekik Yongri dengan tidak percaya.

Wajah terkejut tidak dapat terelakkan dari sepasang suami istri tersebut. Mereka segera berdiri berdampingan sembari menatap Sujin yang berjalan menghampiri mereka.

“Apa yang eomm–“

“Bagaimana keadaanmu? Kau sudah lebih baik?” Sujin menyela ucapan Yongri.

“E–eo. Aku sudah lebih baik.” Jawab Yongri terbata.

“Ah, syukurlah. Aku benar-benar khawatir semalam.” Ucap Sujin dengan lega.

“A–aku merawatnya dengan baik, eommonim.” Kata Siwon membuat Sujin menatapnya.

“Terima kasih banyak, menantuku.”

“Lalu, kenapa eomma datang pagi-pagi seperti ini dan tanpa memberitahuku?” Sela Yongri.

“Dasar anak ini!” Sujin terlihat ingin memukul kepala Yongri. Yongri tanpa sadar bersembunyi di balik punggung Siwon.

“Aku datang karena mengkhawatirkanmu, anak nakal! Dan aku sudah menghubungimu dari tadi, kau saja yang tidak menjawabnya!” Omel Sujin.

Yongri bahkan tidak tau dimana ponselnya saat ini. Karena kesakitan semalam, Yongri tidak memperdulikan keadaan sekitarnya lagi. Salahnya karena ia tidak memeriksa ponselnya terlebih dahulu.

“Sarapan sudah siap.” Kata Bibi Lee tiba-tiba.

“Oh, kalian sedang ingin sarapan? Aku boleh bergabung, kan?” Pinta Sujin.

Tanpa memperdulikan tanggapan anak serta menantunya, Sujin segera berjalan menuju meja makan. Siwon dan Yongri sama-sama berbalik menatap kepergian Sujin. Siwon berdecak pelan sembari mengusap wajahnya dengan kasar.

“Kenapa? Kau ingin marah padaku?” Sungut Yongri saat melihat Siwon menatapnya.

“Salahmu sendiri karena menghubungi ibuku kemarin.” Ucap Yongri.

Siwon menghela nafas panjang dan membenarkan ucapan Yongri. Hanya saja ia tidak merasa menyesal sama sekali telah menghubungi Sujin. Ia akan lebih menyesal jika tidak menghubungi Sujin dan membiarkan Yongri kesakitan.

Siwon hanya merasa geram karena harus bersandiwara di hadapan wanita itu untuk kedua kalinya. Karena saat ini ia tidak mungkin pergi begitu saja dan mengabaikan ibu mertuanya itu.

“Apa ibumu tidak memiliki pekerjaan lain?” Tanya Siwon acuh.

“Ya, kurasa juga begitu.” Jawab Yongri dengan lesu.

“Apa yang kalian tunggu?! Cepat kemari!” Teriak Sujin dari ruang makan.

Keduanya sama-sama menghela nafas dan segera menuju ke ruang makan. Wajah Sujin yang tampak bahagia menyambut mereka setelah sampai di sana. Siwon dan Yongri duduk berdampingan di sebrang Sujin.

Sujin tampak menikmati sarapan yang dibuat oleh Bibi Lee. Mengabaikan Siwon dan Yongri yang tampak tidak semangat sama sekali saat memakan sarapan mereka.

Selama ini Siwon tidak pernah sarapan, karena itulah laki-laki itu merasa asing saat harus memasukkan makanan ke dalam perutnya pagi-pagi seperti ini. Ia tidak memiliki pilihan lain karena ada ibu mertuanya saat ini.

Yongri sedikit menyesal karena telah meminta BIbi Lee menyiapkan sarapan untuk mereka. Awalnya, Yongri melakukan semua ini sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada Siwon. Ia tidak menyangka jika harus menyantap sarapan bersama ibunya juga.

“Kalian tidak perlu patah semangat seperti itu.” Kata Sujin sembari mengunyah.

“Apa maksud eomma?” Tanya Yongri basa-basi dan tanpa menatap Sujin.

“Soal anak.” Jawab Sujin langsung.

Yongri tidak bisa menghindar saat dirinya tersendak oleh makanan yang baru saja hendak ditelannya. Akibatnya ia merasa sangat sakit pada tenggorokannya saat ini.

Siwon juga terkejut saat mendengar ucapan Sujin, namun ia lebih terkejut saat melihat Yongri tersendak. Perempuan itu terus terbatuk-batuk hingga membuat Siwon memberikannya segelas air putih yang berada di meja.

Siwon menepuk punggung Yongri dengan pelan untuk meredakan batuk istrinya itu. Ia sedikit khawatir saat melihat wajah Yongri yang terlihat memerah.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Sujin tanpa rasa bersalah.

“Eomma!” Jerit Yongri kesal.

“Kenapa? Kenapa? Apa?” Sujin terlihat bingung.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Siwon. Yongri menatap Siwon dan wajah khawatir laki-laki itu mengalihkan kekesalannya pada Sujin untuk sesaat.

“Ya, aku baik-baik saja.” Jawab Yongri.

“Inilah maksudku.” Ujar Sujin membuat Siwon dan Yongri menatapnya.

“Jika kalian terus dekat seperti ini dan selalu berusaha, tidak lama lagi kalian pasti akan mendapatkan kabar baik. Hanya karena Yongri datang bulan saat ini, bukan berarti kalian tidak bisa memiliki anak.” Ucap Sujin.

“Kalian tidak perlu terlihat tidak semangat seperti itu. Lagipula kalian ini masih pengantin baru.” Lanjut Sujin kemudian.

Siwon dan Yongri tidak dapat menahan wajah tidak percaya mereka. Apakah Sujin berpikir bahwa mereka tidak semangat karena Yongri sedang datang bulan? Karena mereka belum bisa mendapatkan anak? Astaga. Yongri yakin ibunya sudah benar-benar gila.

“Tidak seperti itu, eommonim.” Bantah Siwon dengan sopan.

“Tidak perlu malu padaku, menantuku. Aku bisa melihat wajah kecewamu saat ini walaupun kau mengkhawatirkan Yongri semalam.” Kata Sujin sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Siwon menatap Yongri yang juga sedang menatapnya. Yongri seolah merasa malu dengan tingkah Sujin yang memojokkan Siwon saat ini. Siwon mengalihkan pandangannya dan menghela nafas panjang.

Apa yang dikatakan Sujin memang benar. Siwon memang sedang kecewa saat ini. Hanya saja laki-laki itu kecewa karena harus bersandiwara di depan Sujin. Siwon kecewa karena ia tidak bisa menghindari ibu mertuanya itu.

Bukan karena Yongri datang bulan hingga membuat mereka tidak bisa mendapatkan anak dalam waktu dekat. Demi Tuhan bukan karena itu. Siwon berani bersumpah.

“Dulu aku dan ayah Yongri harus menunggu hingga bertahun-tahun untuk mendapatkan Yongri. Dan kemudian setelah itu kami tidak diberikan keturunan lagi.” Cerita Sujin.

Mendengar cerita Sujin mau tidak mau membuat Siwon sedikit kasihan padanya. Wanita itu pasti sangat menyayangi Yongri. Karena bagaimana pun Yongri anak satu-satunya dan mereka membutuhkan perjuangan keras untuk mendapatkannya.

“Hentikan, eomma.” Kata Yongri yang merasa tidak nyaman.

Yongri tidak merasa sedekat itu dengan Siwon sehingga laki-laki itu harus mendengarkan cerita ibunya. Lagipula Siwon pasti merasa tidak tertarik dengan apa yang Sujin ceritakan barusan.

“Aku memang sudah berhenti.” Gumam Sujin.

Suara ponsel Siwon yang berbunyi nyaring mengejutkan mereka bertiga. Yongri dan Sujin segera menatap Siwon seolah laki-laki itu baru saja ketahuan mencuri. Siwon merogoh saku celananya dan segera mengeluarkan ponselnya.

Tanpa membuang waktu, laki-laki itu segera menjawab teleponnya.

“Ya, abeoji.”

“…..”

“Ya, aku masih di rumah.”

“…..” Siwon menatap Sujin dan Yongri bergantian. Hingga membuat mereka berpikir jika Kiho sedang membicarakan mereka.

“Baiklah, aku mengerti.”

“…..”

“Ya.”

Siwon menjauhkan ponselnya dari telinga dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Saat mendongak, ia menemukan dua pasang mata yang sedang menatapnya dengan intens. Membuat laki-laki itu menjadi salah tingkah.

“Ada apa? Apa ayahmu tau jika aku berada disini? Apa dia merasa aku telah mengganggu kalian?” Tanya Sujin dengan hati-hati.

“Tidak seperti itu, eommonim.” Jawab Siwon langsung. Sujin merasa lega.

“Ayahku mengundang abeonim dan eommonim untuk makan malam dirumahnya. Semenjak aku dan Yongri menikah, kita belum mengadakan makan malam bersama.” Kata Siwon.

“Ah, benarkah?” Sujin terlihat bersemangat.

“Ya, eommonim.”

“Baiklah jika seperti itu, aku akan pulang dan bersiap-siap.” Kata Sujin sembari berdiri.

“Ini masih pagi, eomma.” Ucap Yongri sembari memutar kedua bola matanya.

“Yah, ada banyak yang harus eomma siapkan sebelum ke rumah mertuamu. Kau juga dandanlah yang cantik nanti. Jangan sampai mertuamu melihat penampilan lusuhmu seperti ini.” Ujar Sujin menasehati.

“Aku tau.” Sahut Yongri.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai berjumpa nanti malam, anak-anak.” Kata Sujin berpamitan. Siwon segera berdiri dan membungkuk sedikit untuk mengantar kepulangan wanita itu.

Baru beberapa langkah berjalan, Sujin menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia menatap Siwon untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya tersenyum dengan hangat pada laki-laki itu.

“Terima kasih karena sudah merawat Yongri saat dia sakit, Siwon-ah.” Ucap Sujin dengan tulus.

Merasakan ketulusan Sujin, membuat Siwon menjadi salah tingkah. Ia tidak bermaksud untuk mendapatkan ucapan terima kasih seperti ini dari Sujin. Apa yang dilakukan Siwon semalam adalah murni karena dia merasa khawatir pada Yongri.

Yongri pun terlihat salah tingkah setelah mendengar ucapan Sujin barusan. Walaupun Yongri sudah mengucapkannya secara langsung pada Siwon, ia tetap merasa malu ketika ibunya itu berterima kasih kepada Siwon.

Yongri dapat merasakan bahwa Sujin benar-benar mempercayakan dirinya kepada Siwon. Karena Yongri dapat melihat bahwa tidak ada keraguan sedikit pun pada mata sang ibu ketika menatap Siwon. Mengetahui fakta tersebut membuat perasaan Yongri campur aduk.

“Tidak perlu berterima kasih, eommonim. Yongri istriku, sudah seharusnya aku merawatnya ketika dia sedang sakit.” Balas Siwon.

Yongri mengalihkan pandangannya pada Siwon. Ia tau bahwa apa yang Siwon katakan barusan adalah karena laki-laki itu sedang bersandiwara. Namun tetap saja Yongri tidak dapat menyembunyikan perasaan berdebarnya, yang muncul entah karena apa.

——

–To Be Continued–

HAI! Kita berjumpa lagi. Aku gak terlalu lama kan ngepostnya? Semoga gak, ya.

Gak perlu berbasa-basi, semoga part ini buat kalian tambah greget sama mereka.

Happy reading!

BYE~

Advertisements

71 thoughts on “The One and Only – Part 5

  1. wah kayanya mereka udah mulai saling ada rasa tuh.awalnya mulai sedikit perhatian walau masih malu-malu,lama-lama nanti mereka mulai suka deh.ah gak sabar nunggu lanjutan hubungan mereka.moga aja mereka tambah perhatian lagi dan deket deh.

  2. makin seru nihh. siwon yong semoga tambah harmoniss dan siwon bisa menunjukka cintanya ke yongrii. greget pas siwon ngobatin pms yongri hehey .. seru pokoknya mah ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

  3. Tuhkan yongri sm siwon uda mulai dagdigdug hihihi
    Keren bgt deh mereka tp tkut jg klo mereka smpe pisah aku galau pst wkwk

  4. Aaaaaw siwon so sweet deh ngurusin yongri yang lagi ‘dapet tamu’. Gak mau yonhri kesakitan makanya dia sampai menelepon mertuanya. Semoga pasangan ini semakin romantis dan mencintai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s