The One and Only – Part 3

picsart_10-12-08-37-22

Author

Choineke

Title

The One and Only

Cast

 Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Kim Myungsoo (L Infinite) and others

Genre

Romance, Marriage–Life

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–You’re the one for me–

——

Author POV

Yongri mengerang sembari memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Masih dengan memejamkan matanya, perempuan itu mengubah posisinya menjadi duduk. Yongri mengacak rambutnya hingga menjadi benar-benar berantakan.

Perlahan namun pasti, Yongri membuka matanya. Dan perempuan itu terkesiap saat melihat kehadiran Siwon di dalam kamarnya. Laki-laki itu berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap Yongri dengan tajam.

“Apa yang kau lakukan dikamarku?!” Tanya Yongri tidak suka.

“Bagaimana bisa ada perempuan seperti dirimu?” Ucap Siwon dengan datar.

“Ada apa denganku? Memangnya aku perempuan seperti apa?” Yongri terlihat tidak terima dengan ucapan Siwon.

“Pulang malam dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri.” Kata Siwon.

“Itu urusanku! Kenapa kau mau ikut campur? Bukankah kau sendiri yang mengatakan untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing?” Balas Yongri. Siwon tersenyum sinis.

“Kau pikir aku mau mengurusi urusanmu? Aku tidak tertarik.” Sahut Siwon.

“Hanya saja, ingatkah kau dengan apa yang kau lakukan padaku semalam?!” Tanya Siwon sembari berusaha untuk tidak emosi. Mengingat apa yang sudah dilakukan Yongri padanya tadi malam.

Yongri tampak memikirkan ucapan Siwon. Apa yang dilakukannya? Ia tidak mungkin berbuat macam-macam pada Siwon, kan? Seperti menyerangnya dan menelanjangi laki-laki itu?

Yongri menunduk dan menatap pakaiannya sendiri. Ia merasa lega karena pakaian masih lengkap. Itu berarti tidak terjadi apapun tadi malam, kan? Lalu, apa yang sebenarnya ia lakukan pada Siwon? Hingga laki-laki itu terlihat sangat marah.

“Apa yang..aku lakukan?” Tanya Yongri pelan.

Bukannya menjawab pertanyaan Yongri, Siwon malah keluar meninggalkan kamar perempuan itu. Membuat Yongri menatap kepergiannya dengan bingung. Yongri mencoba mengingat-ingat sebenarnya apa yang sudah dilakukannya pada laki-laki kaku itu.

Sayangnya, Yongri tidak mengingat apapun.

Beberapa saat kemudian Siwon kembali masuk ke dalam kamar Yongri dan mendekati perempuan itu. Siwon melemparkan pakaian yang dibawanya tepat ke atas pangkuan Yongri. Yongri menatap Siwon dan pakaian tersebut secara bergantian.

Sebelum akhirnya Yongri mengangkat pakaian itu menggunakan tangannya.

“Ugh! Bau sekali. Ada apa dengan pakaian ini?” Yongri menutup hidungnya saat mencium bau busuk pada pakaian yang dilempar Siwon.

“Ini pakaianmu, kan? Kenapa kau memberikan pakaian busuk ini padaku?!” Protes Yongri.

“Itu memang pakaianku. Tetapi bau busuk yang sedang kau cium itu karena ulahmu!” Ucap Siwon.

“Apa?”

“Kau muntah di pakaianku semalam, Yongri-ssi! Sial!” Umpat Siwon dengan kesal.

“Apa?! Muntah?!”

Siwon mengusap tengkuknya dan berusaha mati-matian untuk tidak terpancing emosi. Melihat wajah bodoh Yongri membuat kekesalan Siwon semakin menjadi.

“L–lalu, apa kau ingin aku mencuci pakaianmu ini?” Tanya Yongri dengan ragu.

“Tidak, aku ingin kau membuangnya.” Jawab Siwon langsung. Yongri menatap Siwon dengan mulut menganga.

“Apa kau tidak bisa melakukannya sendiri?”

“Yah, kau yang mengotori pakaianku. Bukankah kau harus bertanggung jawab? Beruntung karena aku tidak meminta ganti rugi padamu.”

“Kau pikir aku tidak mampu mengganti rugi padamu?” Ucap Yongri.

“Sayangnya, aku tidak membutuhkannya. Aku peringatkan padamu untuk menjaga sikapmu, Choi Yongri-ssi. Jika kau memang ingin mabuk-mabukan lebih baik kau tidak pulang ke rumah dan menyusahkanku!” Ujar Siwon dengan penuh peringatan.

Siwon menatap Yongri dengan tajam sebelum akhirnya meninggalkan kamar istrinya itu.

“Aish!” Umpat Yongri sembari melempar pakaian Siwon ke lantai.

“Tidak biasanya aku muntah jika sedang tidak sadarkan diri.” Gumam Yongri.

Yongri tidak bisa melawan kemarahan Siwon karena ia bersalah. Tetapi mengingat kemarahan laki-laki itu yang berlebihan membuat Yongri merasa kesal.

Yongri tersentak saat mendengar ponselnya yang berbunyi dengan nyaring. Ia menatap kesekeliling untuk mencari keberadaan ponselnya. Tentu saja Yongri tidak ingat dimana ia menaruh ponselnya semalam.

Yongri menatap tasnya yang tergeletak tak berdaya di lantai. Perempuan itu dengan cepat menuruni tempat tidur dan meraih tasnya. Mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.

Saat melihat siapa yang menghubunginya saat ini, Yongri menghela nafas panjang.

“Ada apa?” Jawab Yongri dengan suara tidak semangat.

Ada apa dengan suaramu? Apa kau mabuk-mabukan lagi semalam?!” Yongri berdehem pelan.

“Tentu saja tidak, eomma. Aku baru bangun tidur makanya suaraku terdengar aneh.”

Oh, benarkah? Bukan karena kau kelelahan sehabis bercinta dengan suamimu?

“Eomma!”

Astaga, telingaku.

“Berhenti bicara yang aneh-aneh. Katakan saja apa maumu?!”

Aku sedang dalam perjalanan untuk mengunjungimu, anakku. Aku ingin menyapa sepasang pengantin baru.

“Apa? Ck! Kenapa tidak mengatakannya lebih dulu padaku?”

Yah, ini eomma sedang mengatakannya padamu. Sebentar lagi eomma akan tiba di rumah kalian. Sampai bertemu nanti, anakku.

Yongri menatap ponselnya yang menampilkan wajahnya sebagai wallpaper. Sujin memutuskan sambungan telepon begitu saja, membuat Yongri merasa kesal.

Namun tiba-tiba Yongri kembali tersentak. Ia menatap sekeliling dan terlihat panik. Jika Sujin datang ke sini, wanita itu tidak boleh tau jika Siwon dan Yongri tidur di kamar terpisah. Jika Hyunseok sampai tau, Yongri pasti akan tamat.

Yongri segera membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan sebagian pakaiannya. Perempuan itu keluar dari kamarnya dan segera menuju ke kamar Siwon. Membuka pintunya dengan keras dan tidak memperdulikan keterkejutan laki-laki itu yang sedang memakai dasi di depan cermin.

“Apa-apaan ini?!”

“Yah, cepat bantu aku!” Pinta Yongri sembari menaruh pakaiannya di atas tempat tidur Siwon.

“Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?!” Bentak Siwon. Laki-laki itu terlihat sangat marah.

“Aku tau bahwa kebiasaanmu adalah marah-marah. Tetapi bisakah kau tidak marah-marah dulu untuk saat ini? Kita sedang dalam bahaya.” Kata Yongri membuat kedua alis Siwon menyatu.

“Apa maksudmu?” Tanya Siwon acuh.

“Ibuku sedang dalam perjalanan ke sini. Dia tidak boleh tau jika kita berdua tidur di kamar yang berbeda.” Jawab Yongri.

“Kenapa ibumu tidak boleh tau?” Tanya Siwon lagi. Yongri menghela nafas jengah.

“Jika ibuku tau, dia akan memberitahu ayahku. Dan jika ayahku tau, dia akan memberitahu ayahmu. Kau tau apa artinya itu? Kita akan tamat, Choi Siwon-ssi!” Jelas Yongri.

“Apa?” Siwon seolah mencerna penjelasan Yongri.

Jika Kiho tau bahwa Siwon dan Yongri tidur di kamar yang berbeda, pria itu akan tau jika Siwon masih menolak pernikahan ini. Apa Kiho akan berbuat sesuatu untuk mengancam Siwon lagi?

“Ya! Kau tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir! Ibuku sebentar lagi akan sampai!” Pekik Yongri.

Siwon tersentak dan tersadar. Laki-laki itu segera berlari ke kamar Yongri dan mengambil peralatan make up yang berada di atas meja rias Yongri. Siwon memindahkan semua make up tersebut ke dalam kamarnya.

Sepasang suami istri itu terlihat panik dan juga sibuk satu sama lain. Memindahkan barang-barang Yongri ke dalam kamar Siwon dan menatanya dengan hati-hati. Sedikit kesalahan saja mungkin akan menimbulkan kecurigaan untuk Sujin.

Siwon mulai mengenali ibu mertuanya itu. Menurutnya, Sujin adalah wanita yang berbahaya. Wanita itu mungkin terlihat ramah, namun wanita itu juga selalu suka ikut campur masalah orang lain. Sujin mungkin akan membeberkan apapun kecurigaan yang dirasakannya.

“Ya! Kenapa kau melempar pakaian tidurku dan pakaian tidurmu di lantai?!” Tanya Yongri.

“Jika ibumu melihatnya, dia akan berpikir bahwa kita semalam habis bercinta.” Jawab Siwon.

“Apa? Ya! Kita tidak harus melakukan itu!” Komentar Yongri.

“Kau pikir ibumu akan diam saja jika melihat keadaan rumah ini dalam keadaan tenang? Tidakkah menurutmu itu akan membuatnya semakin curiga?” Kata Siwon.

Beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara bel yang berbunyi. Membuat keduanya semakin merasa panik.

“Ibuku sudah datang!” Ucap Yongri dengan suara meninggi.

“A–aku akan membukakan pintu.” Kata Yongri.

“Yongri-ssi!” Panggil Siwon. Yongri berbalik dan menatap Siwon dengan cemas.

“Pakaianmu, astaga! Itu pakaian yang kau gunakan semalam ketika pergi ke club!” Kata Siwon dengan panik. Yongri menatap pakaiannya dan kepanikkannya semakin menjadi.

Siwon mengambil pakaian tidur Yongri yang dilemparnya di lantai tadi. Kemudian memberikannya kepada perempuan itu.

“Biarkan pelayan yang membukakan pintu. Sekarang, ganti pakaianmu dengan ini. Dan buatlah dirimu terlihat seperti baru bangun tidur. Mengerti?.” Kata Siwon. Saat Yongri hendak bergegas ke kamar mandi, Siwon menahan lengan perempuan itu.

“Apalagi?” Tanya Yongri kesal bercampur panik.

“Dimana cincinmu?” Tanya Siwon. Yongri menatap jari-jari tangannya dan wajahnya terlihat bingung. Sesaat kemudian ia menatap Siwon sembari meringis.

“Aku lupa menaruhnya dimana.” Jawab Yongri. Siwon berdecak keras dan menatap Yongri dengan kesal.

“Kau–aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun lagi.” Desis Siwon.

“Cepat ganti bajumu!” Perintah Siwon dan segera meninggalkan kamar.

Yongri segera berlari ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan tidak memperdulikan kekesalan Siwon.

——

“Selamat datang, eommonim.” Sapa Siwon setelah Sujin masuk ke dalam rumahnya.

“Terima kasih, menantuku.” Balas Sujin sembari tersenyum. Siwon balas tersenyum dengan kaku.

“Mendadak sekali kau datang kemari, eommonim.” Kata Siwon.

“Aku sudah memberitahukannya pada Yongri melalui telepon tadi.”

“Benarkah? Sepertinya Yongri tidur lagi setelah menerima telepon darimu.”

“Jadi, maksudmu sekarang dia masih tidur?” Tanya Sujin tidak percaya.

“Itu–“

“Aku baru bangun.” Sahut Yongri yang baru saja keluar dari kamar.

Siwon menoleh dan menatap perempuan itu dari atas sampai bawah. Penampilan Yongri saat ini terlihat seperti baru bangun tidur. Siwon harap Sujin tidak curiga jika anak perempuannya itu sedang berpura-pura.

“Yah, bagaimana bisa kau baru bangun di saat suamimu sudah siap berangkat kerja?” Omel Sujin.

“Tidak apa-apa, eommonim. Yongri sepertinya terlihat sangat kelelahan.” Ucap Siwon sembari menghampiri Yongri. Laki-laki itu merangkul bahu Yongri dengan erat.

“Kelelahan?” Sujin tertawa dengan senang.

“Kalian tidak perlu terburu-buru untuk memberikan kami cucu.” Kata Sujin masih dengan tertawa.

Siwon dan Yongri hanya membalas ucapan Sujin dengan sebuah senyum keterpaksaan. Yongri menatap tangan Siwon yang berada dibahunya. Ingin sekali ia menjauhkan tangan laki-laki itu dari tubuhnya.

“Aku akan bersiap-siap untuk ke kantor dahulu, eommonim.” Kata Siwon.

“Temani suamimu, Yongri-ya. Eomma bisa menunggu sebentar.” Ucap Sujin.

“Tentu saja, eomma. Eomma tunggu sebentar, ya.” Balas Yongri.

Siwon dan Yongri segera berbalik untuk kembali ke kamar mereka. Sesampainya di dalam kamar, Yongri segera mendorong Siwon menjauh. Perempuan itu mengusap bahunya seolah baru saja terkena kotoran. Siwon menatapnya dengan tidak peduli.

“Aku tidak tahan dengan ini.” Ucap Yongri.

“Apa kau pikir aku tahan jika harus terus-terusan merangkul bahumu itu?!” Balas Siwon.

“Kalau begitu cepatlah bersiap-siap dan pergilah ke kantor. Agar aku tidak harus terus bersandiwara di depan ibuku!”

Siwon mengumpat pelan dan langsung memakai jas yang berada di atas tempat tidurnya. Ia harus berangkat sedikit lebih pagi akibat ibu Yongri yang datang ke rumah.

Karena jika ia terus berada di rumah, maka ia harus kembali bersandiwara bersama Yongri. Sedangkan Siwon sangat tidak ingin berada di dekat perempuan pembuat masalah itu.

“Apa yang kau lakukan di sana?!” Tanya Siwon saat melihat Yongri yang hanya diam saja.

“Kau harus mengantarkanku pergi bekerja, bodoh!” Ujar Siwon seolah menyadarkan Yongri.

Yongri segera mendekati Siwon dan mereka keluar bersama dari kamar. Yongri menggandeng lengan Siwon hingga membuat laki-laki itu terkejut. Namun Siwon tidak mengatakan apapun.

Jika saja bukan karena Kiho, Siwon benar-benar tidak mau melakukan ini semua. Berdekatan dengan Yongri hanya akan membuat banyak masalah untuknya. Benar-benar menyebalkan.

“Wah, kalian benar-benar pasangan yang serasi. Menantuku terlihat tampan sekali.” Puji Sujin membuat Siwon tersenyum kecil.

Setidaknya ibu mertuanya itu berkata jujur. Ia memang tampan, kan?

“Aku akan pergi ke kantor, eommonim. Nikmati waktumu bersama Yongri.” Pamit Siwon.

“Hati-hati di jalan, menantuku.”

“Ya, eommonim.”

Siwon memakai sepatunya dan bersiap untuk meninggalkan rumah. Namun Siwon merasa bahwa Sujin masih terus menatapnya seolah menantikan sesuatu yang harus dilakukan Siwon.

Siwon menoleh dan melihat Sujin yang sedang tersenyum menggoda padanya. Ia berharap salah melihat saat ini. Siwon mengalihkan pandangannya pada Yongri. Yongri sedang menatapnya dengan kedua alis yang bertautan.

“A–aku pergi dulu.” Ucap Siwon membuat Yongri bingung.

Siwon memberikan isyarat pada Yongri bahwa Sujin sedang melihat mereka saat ini. Mengerti dengan isyarat Siwon, Yongri melirik sang ibu yang masih setia di belakang mereka.

“Hati-hati di jalan, Siwon-ssi. Jangan pulang terlalu malam.” Kata Yongri membalas ucapan Siwon.

Siwon tiba-tiba menambah langkahnya untuk mendekati Yongri. Menangkup wajah Yongri dengan sebelah tangannya dan mengecup pelan kening Yongri, hingga membuat perempuan itu terkejut.

Berbeda dengan Sujin yang tampak senang melihatnya.

“Kau juga hati-hatilah dirumah.” Bisik Siwon sembari tersenyum.

Yongri mengerjapkan matanya sembari menatap wajah Siwon. Astaga, wajah Siwon terlihat sangat tampan saat ini, menurut Yongri. Yongri pasti belum tersadar sepenuhnya dari mabuk semalam.

“Y–ya.” Sahut Yongri setelah Siwon menjauhkan wajahnya.

Siwon membungkukkan badannya pada Sujin sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan rumah. Yongri segera berbalik dan menatap Sujin yang masih tersenyum dengan senang.

“Berhentilah tersenyum seperti orang bodoh, eomma.” Ejek Yongri sembari berjalan melewati Sujin.

“Dasar anak kurang ajar. Di depan suamimu kau bersikap sangat manis.” Ucap Sujin mengikuti anaknya dari belakang.

Yongri memasuki dapur dan mengambil sebotol air minum dari sana. Karena baru bangun tidur dan efek mabuk semalam membuat tenggorokan Yongri terasa sangat kering.

“Bukankah itu yang eomma inginkan? Aku bersikap manis di depan suamiku.” Sindir Yongri.

“Benar juga. Setidaknya suamimu tidak perlu tau bagaimana liarnya dirimu selama ini.” Sahut Sujin. Yongri melirik Sujin dengan kesal.

“Sebenarnya ada apa eomma datang kemari?” Tanya Yongri.

“Ayahmu yang menyuruhku datang ke sini. Ia ingin memastikan bahwa kau tidak membuat masalah dengan suamimu.” Jawab Sujin.

“Haruskah eomma datang pagi-pagi sekali?” Ucap Yongri. Sujin hanya mengangkat kedua bahunya.

“Lagipula jika kalian memang tidak mempercayaiku, kenapa kalian menyuruhku menikah?!” Yongri benar-benar merasa jengkel.

“Terkadang aku juga tidak bisa menebak jalan pikiran ayahmu.” Sahut Sujin.

“Ngomong-ngomong di mana kamar kalian? Eomma ingin melihat.” Kata Sujin berjalan meninggalkan dapur. Yongri segera menyusul Sujin.

“Untuk apa, eomma? Itu kamar pribadi kami!” Protes Yongri.

“Memangnya kenapa? Eomma hanya ingin melihat-lihat.” Ucap Sujin sembari terus berjalan dan menatap ke sekeliling.

“Dimana kamarnya?” Tanya Sujin. Yongri menggerutu tanpa suara.

“Di sana.” Jawabnya sembari menunjuk kamar Siwon.

“Jangan menyentuh apapun saat di dalam, eomma. Siwon tidak suka jika ada orang asing yang menyentuh barangnya.” Kata Yongri memperingatkan.

“Orang asing apanya? Aku adalah ibu mertuanya.” Gerutu Sujin sembari memasuki kamar Siwon.

“Astaga, kenapa berantakan sekali?!” Tanya Sujin terkejut.

Yongri berpura-pura panik sembari membereskan pakaian tidur Siwon yang berserakan di lantai. Sujin terus menatap anak perempuannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Yongri menaruh pakaian tidur Siwon di tempat pakaian kotor.

Selanjutnya perempuan itu merapikan tempat tidur Siwon yang sedikit berantakan. Yongri tidak tau apakah temapt tidur ini memang berantakan atau Siwon yang membuatnya berantakan.

“Kalian benar-benar melakukannya?” Tanya Sujin.

“Apa?” Yongri menghentikan gerakannya.

“Kalian benar-benar melakukan hubungan suami istri?” Tanya Sujin memperjelas. Yongri melebarkan matanya.

“Haruskah eomma menanyakannya?” Yongri memasang wajah berpura-pura malu.

Tidak lama kemudian, Sujin tertawa dengan senang. Wanita paruh baya itu terlihat sangat bahagia. Membuat Yongri menatapnya dengan kedua alis yang bertaut. Terkadang ia suka tidak bisa menebak jalan pikiran Sujin.

“Kau tau..” Sujin menghentikan tawanya.

“Awalnya eomma pikir kalian tidak akan melakukannya. Kalian terlihat tidak peduli satu sama lain. Bahkan eomma berpikir bahwa kalian akan tidur di kamar yang terpisah.” Jelas Sujin. Yongri meringis saat mendengar penjelasan ibunya.

Seandainya kau tau bahwa yang kau pikirkan itu benar, eomma.

Yongri yakin jika Sujin mengetahui kenyataannya, wanita itu tidak akan bisa tertawa lebar seperti tadi. Sujin mungkin akan menceramahinya dan yang paling parah memberitahukannya pada Hyunseok.

“Jika seperti ini, ayahmu pasti akan senang.” Gumam Sujin.

“Semoga saja.” Sahut Yongri pelan.

——

“Ya!”

Myungsoo tersentak saat ada yang memukul pelan bahunya. Ia sedang melamun dan tentu saja pukulan itu cukup mengejutkannya. Myungsoo segera menoleh dan mendelik tajam pada siapapun yang sudah mengejutkannya.

“Apa yang kau lamunkan di siang hari seperti ini, Kim Myungsoo?” Tanya Kim Sunggyu, saudara sepupu Myungsoo.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Myungsoo balik.

“Aku ingin menemanimu disini.” Jawab Sunggyu dengan cengiran lebar. Membuat Myungsoo mendengus pelan.

Myungsoo segera mengubah wajahnya menjadi lembut dan tersenyum saat ada pelanggan yang hendak membayar.

Kim Myungsoo memiliki sebuah cafe yang berada di Seoul. Sama seperti Yongri, laki-laki itu tidak tertarik untuk bekerja di perusahaan orangtuanya. Walaupun cafe tersebut di bangun dari uang ayahnya, Myungsoo mengelolahnya dengan baik.

Myungsoo bertekat untuk mengembalikan uang ayahnya di saat ia sudah mampu melakukannya. Ia ingin mandiri dan benar-benar menghasilkan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri.

Kegiatan rutin yang sering dilakukan Myungsoo saat pagi hingga sore hari adalah berada di cafe. Tepatnya di belakang meja kasir.  Dan ketika hari mulai gelap, laki-laki itu akan bersiap untuk menemani Yongri ke club.

Myungsoo sangat menikmati kegiatan sehari-harinya. Ia bekerja namun pekerjaannya tidak menuntutnya untuk terus berada di sana. Karena itulah Myungsoo selalu siap sedia jika Yongri membutuhkannya.

“Terima kasih.” Ucap Myungsoo sembari terus tersenyum.

“Aku memiliki obat patah hati untukmu, Myungsoo-ya.” Kata Sunggyu.

“Siapa yang patah hati?!” Sahut Myungsoo.

“Kau tentu saja. Seseorang yang kau sukai menikah dengan laki-laki lain.” Ucap Sunggyu sembari menepuk pelan punggung Myungsoo. Myungsoo menepis tangan Sunggyu.

“Tutup mulutmu, hyung. Jika ada yang mendengar bagaimana?” Ujar Myungsoo sembari menatap ke kanan dan ke kiri.

“Yah, aku ‘kan tidak menyebutkan namanya. ‘Myungsoo patah hati karena Yongri menikah dengan laki-laki lain’, jika seperti itu kau–mmmpphhh–” Myungsoo langsung membekap mulut Sunggyu membuat laki-laki itu tidak bisa melanjutkan ucapannya.

“Kau baru saja menyebutkan namanya, sialan!” Umpat Myungsoo.

Sunggyu melepaskan tangan Myungsoo dari mulutnya. Ia mengusap mulutnya yang terasa kebas akibat tangan Myungsoo. Sesaat kemudian Sunggyu tertawa senang.

“Daripada kau melamunkannya terus menerus, lebih baik kau merebutnya, Myungsoo-ya.” Kata Sunggyu.

“Daripada kau berbicara omong kosong, lebih baik kau pergi, hyung.” Balas Myungsoo membuat Sunggyu menatapnya kesal.

“Yah, kali ini aku benar-benar serius. Aku ingin memberikan saran untukmu.” Ujar Sunggyu dengan wajah serius. Myungsoo terlihat tidak peduli.

“Kau bilang bahwa mereka menikah karena dijodohkan. Sudah pasti tidak ada cinta di antara keduanya, kan? Kau bisa mendapatkannya kembali.”

“Dari awal aku memang tidak bisa mendapatkannya, hyung.”

“Bukan tidak bisa, tetapi belum. Karena kau tidak berani mengatakannya, Myungsoo-ya. Itulah kelemahanmu.” Kata Sunggyu. Myungsoo menghela nafas panjang.

“Aku tidak ingin merusak persahabatanku dengannya.” Sahut Myungsoo.

“Kalian bisa tetap bersahabat jika dia tidak menyukaimu.” Myungsoo tersenyum kecil mendengar ucapan Sunggyu.

“Kau pikir hubungan kami akan baik-baik saja setelah dia menolakku? Kami berdua akan canggung dan perlahan menjauh. Ah, membayangkannya saja membuatku sakit kepala.” Keluh Myungsoo.

“Kau tau pepatah yang cocok untukmu?” Tanya Sunggyu. Myungsoo menggeleng.

“Kalah sebelum berperang.” Sunggyu menjawab pertanyaannya sendiri.

“Kau tidak pernah mau mencoba karena pikiran-pikiran burukmu terus menghantuimu. Lihatlah akibatnya! Sekarang dia sudah menikah dengan laki-laki lain.” Ucap Sunggyu.

“Selama itu membuatnya bahagia, aku tidak apa-apa, hyung.”

“Apa dia bahagia?” Tanya Sunggyu.

Myungsoo terdiam. Tentu saja tidak. Yongri tidak menginginkan pernikahan itu. Suaminya pun terlihat sangat tidak peduli pada perempuan itu. Myungsoo yakin tidak ada kebahagiaan dalam kehidupan Yongri sekarang.

“Perjuangkan dia dan bahagiakan Yongri, Kim Myungsoo.”

——

“Apa maksudmu dengan pemasaran kita tidak berhasil?!” Tanya Siwon kepada Soohyun.

“Tidak tau bagaimana caranya, rival kita memiliki pemasaran yang serupa dengan yang kita lakukan, ketua tim. Dan mereka sudah lebih dulu mempresentasikannya pada investor.” Jawab Soohyun menjelaskan.

Laki-laki itu melirik Siwon dengan takut. Ketua timnya itu saat ini terlihat sangat marah dengan apa yang baru saja di sampaikannya tadi.

“Sialan!” Maki Siwon sembari membanting berkas yang sedang dipeganganya.

“Kita bahkan belum sempat mempresentasikannya, tetapi mereka sudah menolak?!” Ucap Siwon tidak percaya.

“Seperti perintah Anda, kami sudah mengirimkan konsep kepada mereka melalui surel. Setelah mempelajari konsep kita dan menemukan kesamaan dengan perusahaan rival, mereka menolaknya begitu saja, ketua tim.” Ucap Soohyun.

Siwon melarikan tangannya ke rambut dan menjambaknya pelan. Laki-laki itu memejamkan matanya dan berusaha memutar otaknya untuk berpikir. Dia benar-benar belum memiliki jalan keluar untuk menyelesaikan masalah ini.

“Untuk sekarang..” Siwon membuka matanya.

“Pastikan jika tidak ada yang mengetahui tentang penolakan ini selain tim pemasaran.” Lanjut Siwon sembari menatap jam di pergelangan tangannya.

“Kumpulkan semua anggota dalam waktu satu jam dari sekarang. Kita harus–” ucapan Siwon terhenti saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.

“Masuk.” Ucap Siwon. Tanpa sadar Siwon menahan nafasnya saat melihat kehadiran Sekretaris Kim.

“Ada apa, Sekretaris Kim?” Tanya Siwon.

“Presdir memanggil Anda, Ketua Tim Choi.” Jawab Sekretaris Kim membuat Siwon dan Soohyun sama-sama terkesiap.

Soohyun menatap Siwon dengan kedua matanya yang melebar. Siwon membalas tatapan Soohyun dan berusaha untuk menyembunyikan wajah terkejut dan paniknya.

“Aku harus rapat dengan anggotaku sebentar lagi, Sekretaris Kim. Katakan pada Presdir bahwa aku akan menemuinya setelah itu.” Kata Siwon.

Siwon harus memiliki konsep pemasaran baru sebelum bertemu Kiho. Jika Kiho mengomelinya, paling tidak ia sudah memiliki konsep baru untuk disombongkannya pada pria itu.

“Presdir Choi berkata bahwa beliau yang akan datang ke sini, jika Anda tidak menemuinya sekarang.” Ucap Sekretaris Kim membuat Siwon tanpa sadar mendesis.

Membiarkan Kiho datang ke sini dan memarahinya di depan anggotanya bukanlah hal yang baik. Kiho mungkin akan memarahinya di dalam ruang ini dan Siwon bisa saja menutup pintu dengan rapat. Tetapi suara pria itu ketika marah mungkin akan terdengar sampai keluar.

Siwon benar-benar tidak memiliki pilihan lain, selain menemui Kiho di ruangan pria itu.

“Aku akan datang ke sana.” Putus Siwon akhirnya.

Sekretaris Kim mengangguk dan membungkuk hormat pada Siwon sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Siwon. Siwon segera berdiri dan memakai jas yang tersampir di kursi kebesarannya.

“Apa yang harus kami lakukan sekarang, ketua tim?” Tanya Soohyun pelan.

“Menyiapkan peti mati untukku.” Jawab Siwon sambil berlalu.

Meninggalkan ruangannya, Siwon menuju lift yang akan membawanya ke ruangan Kiho. Laki-laki itu sedang memutar otaknya untuk melakukan pembelaan di hadapan Kiho nanti.

Namun saat ini otak Siwon seperti sedang tidak ingin diajak kerjasama. Siwon mengusap wajahnya dengan kasar dan tiba-tiba pandangannya jatuh pada cincin pernikahan yang dipakainya.

Siwon segera melepaskannya dan memasukkannya ke dalam saku celana. Melihat cincin itu mengingatkannya pada Yongri. Dan mengingat Yongri membuat kekesalan Siwon semakin bertambah.

Siwon menghela nafas panjang dan segera keluar dari lift. Tidak memperdulikan bungkukkan Sekretaris Kim, Siwon langsung memasuki ruangan Kiho. Kiho terlihat sekali sedang menunggu kedatangannya.

“Anda memanggil saya, Presdir.” Ujar Siwon setelah menundukkan sedikit kepalanya.

“Bukankah seharusnya kau datang ke sini tanpa panggilan dariku, Ketua Tim Choi?” Sindir Kiho.

“Saya hanya tidak tau kenapa saya harus ke sini tanpa panggilan Anda.” Siwon membalas sindiran Kiho, membuat Kiho mendengus kasar.

“Jangan coba menutupi kesalahan yang kau lakukan, Choi Siwon! Walaupun kau berpura-pura bodoh, aku tau apa yang terjadi. Kau tidak mau menjelaskan padaku?!” Kiho meninggikan suaranya.

Siwon menghela nafas panjang. Kiho bilang bahwa ia mengetahui semuanya, tetapi pria itu masih memintanya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Ingin sekali Siwon mengatakan hal itu pada ayahnya tersebut. Namun ia takut pria itu semakin marah.

“Investor menolak untuk berinvestasi pada produk baru kita.” Kata Siwon.

“Karena kau terlalu banyak membuang waktu. Apa kau begitu sibuk hingga harus mengirimkan konsep pemasaranmu melalui surel?!” Tanya Kiho sembari menatap Siwon tajam.

“Aku hanya berpikir bahwa cara itu lebih praktis. Setidaknya mereka bisa mempelajari konsep pemasaran tersebut terlebih dahulu, sebelum aku bertemu dengan mereka.” Jawab Siwon.

“Ketika kau berpikir bahwa itu cara yang praktis, perusahaan lain menemukan cara yang lebih praktis. Kau tau itu?!” Sahut Kiho.

“Maafkan aku.” Siwon membungkukkan badannya.

“Apa aku harus menurunkanmu menjadi anggota tim pemasaran? Sehingga kau bisa belajar lagi?” Kata Kiho membuat Siwon menatapnya dengan kedua mata yang melebar.

“Abeoji!”

“Selama ini aku sudah menjalankan tugasku dengan baik. Selama aku menjadi ketua tim pemasaran, ini adalah pertama kalinya aku gagal, abeoji.” Ucap Siwon.

“Dalam pekerjaan bukan seberapa banyak kau melakukan kesalahan, Siwon-ah. Tetapi seberapa besar keinginanmu untuk tidak melakukan kesalahan.” Jelas Kiho.

“Lalu, apa kau pikir ini keinginanku?” Tanya Siwon. Kiho terlihat tidak peduli dan mengalihkan pandangannya dari Siwon.

“Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kesalahan, abeoji.” Kata Siwon.

“Apa sekarang kau sedang membela diri dan tidak ingin disalahkan olehku?! Menurutmu kau sudah benar dan ini bukan kesalahanmu?!” Kiho terlihat marah.

Siwon menutup mulutnya dan menundukkan kepalanya. Jika memang ada yang harus disalahkan, tentu saja itu adalah dirinya. Semua anggotanya bekerja sesuai perintahnya. Siwon tidak bermaksud untuk tidak dipersalahkan oleh Kiho.

“Walaupun kau anakku, kesalahan tetaplah kesalahan. Kau pikir apa yang akan dipikirkan oleh anggotamu jika kau terus membela diri seperti ini dan tidak mau disalahkan?!”

“Maafkan aku.”

Kiho menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Peluncuran produk baru harus di tunda karena investor tidak mau berinvestasi. Dan hal tersebut cukup membuat Kiho sakit kepala.

Sejujurnya Kiho tidak akan sekeras ini jika Siwon mau mengakui kesalahannya. Kiho mengenal Siwon dan ia tau bahwa anak tunggalnya itu memang tidak pernah mau mengakui kesalahan apapun yang dilakukannya.

“Pergilah dan pikirkan bagaimana pun caranya untuk meluncurkan produk ini dalam waktu cepat.” Ujar Kiho.

“Baik, presdir. Saya permisi.” Sahut Siwon sembari membungkukkan badannya.

“Sebentar.” Cegah Kiho saat melihat Siwon hendak meninggalkan ruangannya.

Siwon menatap Kiho dengan pandangan bertanya. Apa pria itu ingin melanjutkan kemarahannya? Siwon berharap tidak, karena ia sudah merasa sangat kesal dengan kemarahan Kiho tadi.

“Dimana cincinmu?” Tanya Kiho.

“Apa?”

“Cincin pernikahanmu dimana, Choi Siwon?” Kiho memperjelas pertanyaannya.

Siwon dengan segera menyembunyikan tangannya ke dalam saku celananya.

“Aku sudah melihatnya.” Desis Kiho.

“Pakai cincinmu.” Suruh Kiho.

“Tanpa aku memakainya, orang-orang  tau bahwa aku sudah menikah, abeoji.” Balas Siwon.

“Memakai cincin pernikahan bukan berarti kau ingin menunjukkn kepada orang-orang bahwa kau sudah menikah. Jika kau memakainya, istrimu akan merasa bahwa kau menghargai pernikahan kalian.” Jelas Kiho.

Siwon mendengus pelan dan ingin sekali berteriak bahwa Yongri sama sekali tidak peduli dengan pernikahan ini. Perempuan itu bahkan tidak mengingat di mana ia meletakkan cincinnya.

“Abeoji, jika urusan pekerjaan, aku akan membiarkanmu mengaturku bahkan memarahiku.” Kata Siwon dengan wajah kesalnya.

“Tetapi jika itu mengenai kehidupan rumah tanggaku, aku harap kau tidak ikut campur didalamnya.” Lanjut Siwon dan kemudian segera meninggalkan ruangan Kiho.

Meninggalkan Kiho yang menghela nafas panjang dan menatap kepergian laki-laki itu sembari menggelengkan kepalanya. Kiho tidak berniat untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga Siwon.

Kiho hanya ingin Siwon menemukan kebahagiaannya dalam pernikahan tersebut. Ia hanya ingin Siwon tau bahwa tidak semua orang adalah pengkhianat. Dan istri Siwon tidak akan meninggalkan laki-laki itu dalam keadaan apapun. Kiho berharap Siwon dapat menyadari hal itu.

——

“Ya! Ya! Hentikan. Kau sudah cukup mabuk, Choi Siwon.” Omel Minho.

Tak mengindahkan omelan Minho, Siwon terus meneguk cairan alkohol yang berada di mejanya. Tujuan ia datang ke klub malam itu adalah untuk mabuk. Ingin melupakan semua suara-suara Kiho yang memarahinya tadi.

“Itulah akibatnya jika kau selalu ingin hidup secara sempurna. Ketika orang lain mengomentari kesalahanmu, kau akan mengalami kekesalan yang berlebihan seperti ini.” Kata Minho.

“Diamlah.” Desis Siwon.

“Kau yang diam dan lebih baik segera pulang ke rumah. Istrimu pasti sedang menunggumu.” Ucap Minho membuat Siwon mendengus kasar.

“Aku berani bertaruh bahwa perempuan itu belum pulang ke rumah.” Kata Siwon sembari meneguk alkoholnya.

“Wah, apa kau sudah mengetahui kebiasaan istrimu?” Goda Minho. Siwon menatap Minho dengan kesal.

“Apa kalian melakukan hubungan suami istri?” Tanya Minho tidak memperdulikan kekesalan Siwon.

“Lee Minho!!”

“Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku? Kalian adalah suami istri, bukankah wajar jika kalian bercinta?”

“Sialan! Kau tidak lupa jika kami dijodohkan, kan?!”

“Ah, kau benar. Tidak ada cinta di antara kalian.” Ucap Minho sembari menganggukkan kepalanya.

“Aku mungkin bisa bercinta dengannya walaupun aku tidak mencintainya. Tetapi aku benar-benar tidak mau berurusan dengan perempuan itu. Dia benar-benar membuatku sakit kepala.” Ujar Siwon.

“Aku pikir kau juga membuatnya sakit kepalanya.” Sahut Minho.

“Kau benar-benar tidak membantuku, Lee Minho.” Dengus Siwon sembari berdiri.

Tubuh laki-laki itu limbung dan hampir jatuh jika ia tidak berpegangan pada sofa yang didudukinya barusan. Siwon merasa ia sudah cukup mabuk saat ini. Kepalanya juga terasa sakit. Dan yang dibutuhkan Siwon sekarang adalah tempat tidur.

“Kau mau kemana?” Tanya Minho.

“Pulang.” Jawab Siwon.

“Kau bilang ingin mabuk malam ini?”

“Aku memang ingin mabuk. Tapi kau membuatku kesal.”

“Baiklah, maafkan aku. Aku hanya bercanda.”

“Sudahlah. Aku sudah tidak tertarik lagi. Aku ingin pulang.” Kata Siwon sembari berjalan dengan sempoyongan.

“Yah, yah, kau mabuk.” Minho menyusul Siwon dan memegang lengannya.

“Aku baik-baik saja. Nikmatilah waktumu.” Siwon menepis tangan Minho.

“Tunggulah di mobilmu, aku akan menghubungi supir pengganti.” Kata Minho sembari mengeluarkan ponselnya. Siwon hanya melambaikan tangannya untuk membalas ucapan Minho.

“Laki-laki itu, sekarang bertambah lagi hal yang membuatnya sensitif selain pekerjaan.” Gumam Minho sembari menempelkan ponselnya di telinga.

——

Siwon menerima kunci mobilnya dari supir pengganti. Mengibaskan tangannya pertanda untuk meminta supir pengganti tersebut segera pergi.

Masih dengan berjalan sempoyongan, Siwon memasuki rumahnya. Rumah dalam keadaan gelap dan Siwon tidak berniat untuk menghidupkan lampunya. Ia ingin mengistirahatkan kepalanya yang terasa benar-benar sakit.

Siwon berjalan dengan menyeret kakinya yang terasa sangat berat dan lemas. Ia berharap tubuhnya tidak jatuh sebelum sampai di kamar.

Sama seperti dengan keadaan di luar kamarnya, kamar Siwon pun tampak gelap. Namun Siwon dapat melihat bahwa ada seseorang yang berbaring di atas tempat tidurnya. Siwon mengerjapkan matanya dan sesaat kemudian tidak ada siapapun di sana.

Kemudian ketika Siwon mengerjap kembali, seseorang tersebut kembali berada di atas tempat tidurnya. Siwon tersenyum sinis sembari mendekati tempat tidurnya.

“Aku sudah benar-benar mabuk.” Gumamnya.

Siwon melemparkan dirinya di atas tempat tidur. Desahan lega keluar dari mulutnya saat merasakan kenyamanan tempat tidur yang sedang ditempatinya saat ini. Siwon memejamkan matanya dan bersiap untuk menyambut mimpi.

Namun Siwon kembali membuka matanya, saat mendengar suara nafas teratur yang berada di dekatnya. Saat menoleh, Siwon menemukan Yongri yang sedang tidur dengan wajah polosnya.

Siwon mengerjap dan berharap bahwa ia hanya sedang berkhayal saja karena terlalu mabuk. Laki-laki itu mengubah posisinya menjadi menyamping dan mendekatkan wajahnya ke wajah Yongri.

Siwon dapat mencium bau alkohol dari mulut perempuan itu yang sedikit terbuka. Sepertinya Yongri mabuk dan tidur di kamarnya. Hal itu membuat Siwon yakin bahwa ia sedang tidak berkhayal.

Alih-alih berteriak marah dan membangunkan Yongri, Siwon justru meletakkan jari telunjuknya di pipi Yongri. Membuat gerakan naik turun untuk membelai pipi perempuan itu. Walaupun hanya menggunakan satu jari, Siwon dapat merasakan kelembutan wajah Yongri.

Siwon tidak tau apa yang merasukinya hingga ia melancangkan jarinya untuk menyentuh Yongri. Mabuk. Ya, Siwon yakin karena itu. Alkohol membuatnya tidak bisa berpikir dengan benar.

Dan Siwon yakin ia sudah benar-benar kehilangan akal saat wajahnya semakin mendekat pada wajah Yongri. Mata Siwon terpaku pada bibir mungil Yongri yang setengah terbuka. Siwon bahkan mengabaikan bau alkohol yang menyengat dari perempuan itu.

Siwon memejamkan matanya saat bibirnya sukses menyentuh bibir Yongri. Untuk kedua kalinya Siwon mencium bibir perempuan itu. Siwon tidak mengerti, namun ia merasa senang saat bibirnya menyentuh bibir Yongri.

Merasa yakin bahwa Yongri tidak akan bangun, Siwon menggerakkan bibirnya dan melumat bibir Yongri dengan pelan. Terasa pahit dan manis akibat alkohol yang dikonsumsi Yongri.

Yongri bergerak pelan membuat Siwon menghentikan gerakannya. Menjauhkan wajahnya dari wajah Yongri dan bersyukur karena perempuan itu masih tertidur. Bibir Yongri semakin memerah akibat perbuatan Siwon barusan.

Setelah merasa bahwa Yongri sudah kembali nyaman, Siwon menyatukan bibirnya dan bibir Yongri untuk kedua kalinya malam itu. Membuat gerakan yang lebih intens dengan menghisap bibir atas dan bawah perempuan itu secara bergantian.

Siwon bahkan tidak sadar sejak kapan kepalanya sudah meninggalkan bantal dan wajahnya tepat di atas wajah Yongri. Ia menggenggam lengan Yongri dengan pelan namun gerakan bibirnya semakin menjadi.

Siwon membuka matanya dan berniat melihat wajah polos Yongri yang sedang tidur. Wajah yang terlihat sangat berbeda saat perempuan itu sedang terjaga. Namun betapa terkejutnya Siwon saat melihat mata Yongri terbuka dan sedang membalas tatapannya.

——

–To Be Continued–

HAI!

Udah lama ya aku gak ngepost FF. Sejujurnya ini bukan kemauan aku sepenuhnya. Part ini udah selesai lumayan lama, tapi berhubung FF terakhir yang aku post belum mencapai 50 comment, aku belum bisa ngepost. Bahkan hingga sekarang FF Love in Friendship – Part 10 END belum mencapai 50 comment. Dan ini sudah hampir sebulan semenjak aku ngepost part tersebut.

Aku gak tau ya, apakah kualitas aku dalam penulisan FF berkurang atau memang peminat FF sudah berkurang. Menurut aku sekarang susah banget ngumpulin 50 comment dengan cepat. Beda banget pada saat jamannya FF Forbidden Love dan Painful Life. Sepertinya kualitas penulisan FF aku sudah menurun drastis dan aku gak cukup pandai dalam memilih tema FF. Maafkan aku.

Aku tau bahwa seharusnya aku gak ngepost FF sebelum FF sebelumnya mencapai 50 comment. Tetapi aku tetap melakukannya untuk mencoba peruntungan terakhir aku. Jika FF part ini gak bisa mencapai 50 comment juga dalam waktu cepat, maka aku bakal berhenti ngepost FF. aku akan tetap menulis FF hanya saja tidak akan aku post disini. Aku hanya akan ngepost FF di blog sebelah (flying ff NC) jika FF yang aku buat sudah END.

So, aku mengucapkan terima kasih sama readers yang masih setia nungguin FF aku. Kalaupun nanti aku gak ngepost FF lagi, aku harap kalian masih bisa membaca FF aku di tempat lain^^ maaf jika pemberitahuan aku ini mengecewakan kalian yang masih setia. Aku hanya merasa putus asa karena tidak bisa membuat kalian merasa excited saat membaca FF aku. Terima kasih karena sudah meramaikan blog abal-abal aku ini!

Happy reading^^

BYE~

Advertisements

105 thoughts on “The One and Only – Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s