The One and Only – Part 1

picsart_10-12-08-37-22

Author

Choineke

Title

The One and Only

Cast

Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Kim Myungsoo (L Infinite) and others

Genre

Romance, Marriage–Life

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

–You’re the one for me–

——

Author POV

“Ketua Tim Choi, presdir memanggil Anda.” Kata Sekretaris Kim yang merupakan sekretaris presdir.

“Aku akan segera ke sana.” Sahut Siwon tanpa menatap Sekretaris Kim.

Mata Siwon tampak fokus pada berkas yang ada ditangannya saat ini. Berkas yang berisi tentang strategi pemasaran baru yang harus Siwon pelajari lebih lanjut. Mengingat begitu banyak produk baru yang diciptakan oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Setelah mendengar pintu ruangannya tertutup, Siwon segera menegakkan punggungnya. Meletakkan berkas yang dipegangnya di atas meja dan melepaskan kacamata bacanya tepat di samping berkasnya.

Siwon segera berdiri dan mengambil jas yang tergantung di kursi kebesarannya. Memakainya serta tidak lupa mengancingkannya hingga membuat penampilannya begitu formal. Ketika ia keluar dari ruangannya, anggota tim pemasaran yang lain langsung berdiri dan membungkuk hormat padanya.

Siwon hanya melambaikan tangannya tanpa menatap mereka. Melangkahkan kaki panjangnya ke arah lift yang akan membawanya ke ruangan presdir. Laki-laki itu mengusap tengkuknya yang terasa tegang. Dan mungkin akan bertambah tegang setelah bertemu dengan presdir.

Tidak akan pernah ada beres jika sudah bertemu dengan presdir, menurut Siwon. Presdir tempatnya bekerja ini hanya akan terus menambah masalah untuknya. Baik masalah pekerjaan maupun masalah pribadi, yang sayangnya tidak pernah bisa Siwon bantah.

“Silahkan, ketua tim. Presdir sudah menunggu.” Sekretaris Kim menghampiri Siwon saat melihat laki-laki itu keluar dari lift.

Siwon mengikuti langkah Sekretaris Kim yang berjalan didepannya. Ia hanya menunjukkan wajah datarnya karena memang wajah seperti inilah yang selalu Siwon tunjukkan saat di kantor.

“Ketua Tim Choi sudah datang, Presdir Choi.” Ujar Sekretaris Kim setelah mengetuk dan membuka pintu ruangan Presdir Choi.

“Tinggalkan kami, Sekretaris Kim.” Pinta Presdir Choi.

“Ya, presdir.”

Sekretaris Kim segera menutup pintu setelah Siwon masuk ke dalam ruangan presdir.

Tanpa menunggu perintah, Siwon segera mendudukkan dirinya di sofa mahal yang berada di ruangan itu. Presdir Choi mendengus pelan dan menyusul Siwon untuk duduk di hadapan laki-laki itu.

“Malam ini pukul tujuh di restoran Jepang yang berada di Myeongdong.” Kata Presdir Choi sembari menatap Siwon.

“Aku sibuk, presdir.” Sahut Siwon membalas tatapan Presdir Choi.

“Aku akan mengurangi pekerjaanmu.”

“Tidak perlu.”

“Kau mau aku menuruni jabatanmu lagi?”

“Abeoji!!” Jerit Siwon dengan wajah frustasi.

“Ah, suaramu.” Keluh Presdir Choi sembari menutup telinganya.

“Kau mau menjadikanku apa jika aku menolak perjodohan kali ini? Office boy?” Tebak Siwon. Presdir Choi tampak berpikir.

“Saran yang baik.”

“Aku belum mau menikah, Presdir Choi Kiho yang terhormat.” Kata Siwon dengan sabar.

“Usiaku bahkan baru seperempat abad, abeoji. Kau memperlakukanku seperti usiaku sudah mencapai 40 tahun.” Lanjut Siwon.

“Apa yang salah dengan itu? Aku menikahi ibumu saat usiaku sama sepertimu.” Ucap Kiho sembari menerawang.

Siwon mengalihkan pandangannya dan tampak tidak tertarik dengan ucapan Kiho. Beberapa saat kemudian Siwon mengacak rambutnya hingga terlihat berantakan.

“Kalau begitu biarkan aku mencari calon istriku sendiri. Aku hidup di zaman modern, abeoji. Berhenti melakukan perjodohan yang hanya terjadi pada zamanmu.” Keluh Siwon.

“Jangan sembarangan bicara. Perjodohan bisa terjadi di zaman apapun. Dan apa kau bilang? Mencari calon istri sendiri? Mungkin aku akan melihatmu menikah di usia 40 tahun.” Kata Kiho.

“Apapun itu, nanti malam kau harus datang. Jika tidak, kau akan benar-benar menjadi office boy besok.” Ancam Kiho dan segera berdiri untuk kembali ke meja kerjanya.

Siwon menggeram kesal. Kiho selalu berbuat semaunya pada laki-laki itu. Satu tahun yang lalu Kiho juga berencana menjodohkan Siwon dengan anak rekan bisnisnya.

Karena Siwon menolak mentah-mentah rencana itu, Kiho menurunkan jabatan Siwon yang sebelumnya menjadi Wakil Direktur menjadi Ketua Tim Pemasaran. Dan sekarang ketika Siwon mulai menikmati pekerjaannya sebagai tim pemasaran, Kiho hendak menjadikannya office boy.

Siwon mendengus kasar. Seorang anak presdir menjadi office boy di perusahaan ayahnya sendiri, yang benar saja. Mau di taruh di mana muka Siwon jika ia bertemu dengan teman-temannya nanti. Mereka pasti akan mengejek Siwon habis-habisan nanti.

Tetapi Siwon benar-benar belum ingin menikah saat ini. Siwon tidak ingin terikat dalam sebuah hubungan dengan perempuan manapun. Siwon ingin hidup dengan bebas. Jika ia menikah, maka Siwon harus membagi pikirannya antara bekerja dan keluarganya.

Ah, Siwon ingin sekali berteriak untuk meluapkan kekesalannya. Tetapi jika ia melakukannya disini, bisa dipastikan Kiho akan terkena serangan jantung. Dan Siwon akan merasa sangat menyesal di sepanjang hidupnya. Lalu, haruskah Siwon mengalah untuk kali ini?

——

Seorang wanita berusia di pertengahan 40an masuk ke dalam kamar bernuansa biru putih. Kamar yang sudah terlihat terang walaupun lampu kamar tidak dinyalakan. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar kamar itu akan membuat siapa saja merasa terganggu.

Namun tidak untuk seorang perempuan yang menggulung dirinya di dalam selimut tebal dan masih tertidur dengan lelap.

Park Sujin–nama wanita yang masuk ke dalam kamar–mendekati tempat tidur dan berniat untuk membangunkan perempuan yang masih terlelap itu. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelah siang. Bukan sebuah waktu yang pantas untuk seorang perempuan masih bergelung dengan selimut.

“Bangun, Choi Yongri!” Sujin menarik selimut yang menutupi tubuh Yongri.

Tubuh Yongri terlihat berputar ke sana kemari seiring dengan tarikan selimut oleh Sujin. Sujin mengumpulkan selimut di sudut tempat tidur. Ia menepuk lengan Yongri dengan kuat saat melihat perempuan itu masih memejamkan matanya.

“Bangun, pemalas!” Ucap Sujin.

“Ngghhh–” Yongri mengerang kesal karena tidurnya merasa terganggu.

“Oh, bau alkohol ini.” Ucap Sujin sembari mengibas tangannya di depan wajah.

“Cepat bangun, Choi Yongri! Sebelum aku membawa seember air untukmu!” Ancam Sujin.

Yongri menghentak-hentakkan kakinya di atas tempat tidur. Merasa kesal karena Sujin sudah mengganggu tidurnya bahkan mengancamnya. Yongri segera mengubah posisinya menjadi duduk dengan rambutnya yang terlihat berantakan.

“Aku baru tidur pukul 3 pagi, eomma.” Ucap Yongri dengan suara serak.

“Kepalaku juga sakit.” Keluh Yongri. Sujin memukul punggung Yongri hingga membuat perempuan itu mengaduh.

“Memangnya aku yang menyuruhmu tidur jam 3 pagi, huh? Aku yang menyuruhmu untuk mabuk-mabukkan?!” Omel Sujin.

“Kalau begitu biarkan aku tidur satu jam lagi saja.” Pinta Yongri yang hendak kembali berbaring. Namun Sujin mencegahnya.

“Kau tidak lihat jam? Astaga, Choi Yongri. Perempuan mana yang masih tidur jam segini? Pantas saja tidak ada laki-laki yang menyukaimu.” Gerutu Sujin.

“Aku tidak membutuhkan laki-laki.” Sahut Yongri sambil menggaruk kepala bagian belakangnya. Sujin berdecak pelan.

“Turun. Cepat turun.” Sujin menarik Yongri untuk turun dari tempat tidur.

“Eomma, sebentar. Kepalaku pusing.” Ucap Yongri.

“Kau harus mandi dan segera bersiap-siap. Kita harus bertemu dengan calon suamimu nanti malam.” Kata Sujin.

Mata Yongri terbuka dengan sempurna. Perempuan itu membenarkan rambutnya yang menutupi wajahnya. Menatap Sujin dengan pandangan terkejut dan juga bertanya. Calon suami? Apa dia sedang bermimpi saat ini?

“C–calon suami? C–calon suami siapa?” Tanya Yongri.

“Calon suamimu tentu saja. Kau pikir aku akan menikah lagi? Kau mau membuat ayahmu bunuh diri?” Jawab Sujin.

“Jangan banyak bertanya dan cepat mandi.” Sujin mendorong Yongri untuk masuk ke kamar mandi.

“Eomma, sebentar.” Kata Yongri sembari berbalik menatap Sujin.

“Calon suami apa? Kau dan appa tidak mengatakan apapun padaku.”

“Aku sudah mengatakannya sekarang. Aku sudah tidak sanggup mengurusi kelakuanmu yang suka mabuk-mabukan itu. Ayahmu juga sudah terlihat sangat putus asa. Karena itu, kami akan menikahkanmu.” Jelas Sujin.

“Eomma!!” Pekik Yongri tidak setuju.

“Kau tidak bekerja dan tidak mau bekerja. Karena itu, kami memberikan pekerjaan untukmu. Mengurusi pekerjaan rumah tangga di rumahmu dan suamimu nanti.”

“Kau benar-benar sudah gila, eomma!” Kata Yongri.

“Yak, mulutmu itu!” Geram Sujin.

“Aku tidak bisa datang malam ini.” Ujar Yongri sembari melipat tangannya di depan dada.

“Apa?”

“Aku sudah memiliki janji dengan Myungsoo.” Ucap Yongri.

“Tidak masalah. Aku akan menjelaskannya pada Myungsoo nanti. Myungsoo pasti akan mengerti.” Sela Sujin.

“Eomma! Jangan mengatakan apapun pada Myungsoo!” Jerit Yongri frustasi.

“Aku merasa sedikit beruntung karena Myungsoo selalu berada disisimu. Karena jika tidak, kau mungkin akan pulang ke rumah dengan perut yang membuncit.” Kata Sujin dengan ngeri.

“Eomma!! Astaga..” Yongri terlihat kehabisan kata-kata.

“Sekarang, cepat mandi. Jangan coba-coba kabur dalam pertemuan malam ini, sayang. Karena kau tidak akan tau apa yang bisa dilakukan oleh ayahmu nanti.” Ucap Sujin sembari tersenyum. Senyum yang cukup mengerikan untuk Yongri.

Setelahnya Sujin segera meninggalkan kamar Yongri. Meninggalkan Yongri dengan kekesalan yang berada pada tingkat tertinggi. Yongri berharap ia sedang bermimpi saat ini. Yongri menepuk kedua pipinya berkali-kali dan sialnya ia merasa kesakitan. Ini bukan mimpi.

“Calon suami? Yang benar saja..” Gumam Yongri.

Yongri kembali naik ke atas tempat tidur dan mencari ponselnya. Ah, ia lupa dimana menaruh ponselnya tadi pagi. Setelah mengacak tempat tidurnya dan tidak menghasilkan apapun, barulah mata Yongri menangkap ponselnya berada di atas meja nakas.

Yongri segera mengambilnya dan menekan speed dial 3. Menempelkan benda persegi tersebut ke telinganya sendiri. Yongri menunggu panggilannya di jawab sembari menggigiti kukunya sendiri. Dia benar-benar merasa kacau saat ini.

Selamat pagi, manis.

“Pagi, kepalamu! Apa kau tidak lihat jam berapa sekarang?!” Maki Yongri.

Wow! Kau tau sekarang jam berapa? Aku pikir kau tidak mengetahuinya karena baru bangun.

“Myungsoo-ya, selamatkan aku!” Suara Yongri tiba-tiba memelas.

Kenapa? Ada apa?

“Yah, aku rasa ibu dan ayahku sudah benar-benar gila!” Yongri dapat mendengar tawa Myungsoo dari ponselnya.

Ya! Anak mana yang mengejek orangtuanya sendiri gila?

“Mereka mau menikahkanku!!”

Apa?!

“Apa kau sepakat denganku sekarang? Orangtuaku benar-benar gila!”

Sebentar, aku tidak mengerti maksudmu.

“Tuan Kim, kau benar-benar menguji kesabaranku. Orangtuaku mau menikahkanku. Apa kau tidak mengerti itu? Mereka mau menjodohkanku dengan seorang laki-laki yang tidak aku kenal. Bagaimana ini?!”

Untuk sesaat, Yongri tidak mendengar jawaban apapun dari Myungsoo. Namun perempuan itu masih dapat mendengar nafas Myungsoo yang menandakan bahwa panggilan belum berakhir.

“Myungsoo-ya?” Panggil Yongri.

Ya?

“Kau tidak mendengarku?!”

Aku dengar. Yah, bukankah itu bagus? Jika kau menikah, aku bisa bebas. Aku juga bisa berkencan dengan perempuan manapun. Aku tidak harus menjagamu setiap kali kau mabuk.

“Kau benar-benar menyebalkan, Kim Myungsoo!”

Yongri segera memutuskan panggilan dengan kesal. Ia pikir laki-laki itu bisa memberikannya jalan keluar sehingga ia tidak harus mengikuti pertemuan menyebalkan malam ini. Namun Myungsoo justru menyetujui rencana gila orangtuanya itu.

Yongri mengambil bantal dan menutupi wajahnya. Ia terlihat benar-benar frustasi dan putus asa. Yongri tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

“Bagaimana ini? Aku tidak mau menikah!!”

——

Siwon menutup pintu mobilnya dengan cepat. Berlari kecil memasukki restoran Jepang seperti yang Kiho katakan tadi siang. Sial! Dia sudah terlambat selama 15 menit. Siwon tidak dengan sengaja melakukannya. Ia bersungguh-sungguh saat berkata bahwa ia sedang sibuk.

Namun Siwon dengan terpaksa tetap pergi ke pertemuan malam ini. Ia tidak ingin jabatannya berganti menjadi office boy besok. Siwon masih memiliki rasa malu dan ia tidak ingin teman-teman mengejeknya.

Setelah seorang pelayan memberitahukan di mana Kiho dan yang lainnya berada, Siwon segera menuju ke sana. Ia menghela nafas panjang setelah berada di depan ruang VIP. Melepas sepatunya yang mengkilap, Siwon menggeser pintu yang berada dihadapannya.

Tatapan tajam Kiho–lah yang didapati oleh Siwon ketika ia masuk ke dalam ruang VIP itu. Mencoba mengabaikan tatapan Kiho padanya, Siwon membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maafnya.

“Maaf karena saya datang terlambat.” Sesal Siwon.

“Tidak apa-apa. Kami juga baru datang.” Siwon menegakkan punggungnya dan menatap seorang wanita yang membalas permintaan maafnya dengan ramah.

“Duduklah, Siwon-ah.” Pandangan Siwon beralih pada wanita yang duduk di samping Kiho. Yoo Hyemi, wanita yang berstatus sebagai istri Kiho.

Siwon menuruti Hyemi dan segera duduk disampingnya. Satu-satunya tempat yang tersisa. Saat menatap ke depan, Siwon terkejut ketika melihat seorang perempuan yang tampak terlihat tidak semangat.

Tetapi terlihat sangat cantik dalam balutan gaun sederhana berwarna putih gading. Untuk sesaat, Siwon tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari perempuan itu. Namun ketika perempuan itu membalas tatapannya, Siwon segera membuang pandangannya.

“Dia Tuan Choi Hyunseok yang sudah bekerja sama dengan perusahaan kita sejak tiga tahun yang lalu, Siwon-ah.” Kata Kiho memperkenalkan. Siwon menatap Hyunseok dan menundukkan kepalanya.

“Tidak perlu sungkan. Aku berteman baik dengan ayahmu. Ini istriku, Park Sujin. Dan yang berada di hadapanmu itu putriku satu-satunya. Choi Yongri.” Ucap Hyunseok. Siwon kembali menatap perempuan dihadapannya. Menatap Yongri.

“Siwon juga putraku satu-satunya. Dia bekerja di perusahaanku sebagai Ketua Tim Pemasaran.” Ujar Kiho.

“Oh? Aku pikir dia akan menduduki sebuah jabatan tinggi. Mengingat dia anakmu satu-satunya.” Hyunseok terlihat terkejut.

“Dia akan mendapatkan tempat tertinggi jika sudah mampu menunjukkan kemampuannya.” Balas Kiho.

Siwon mendengus pelan saat mendengar ucapan Kiho. Kiho tentu sudah dapat melihat bahwa Siwon memiliki kemampuan. Tetapi Kiho mempermainkan Siwon karena Siwon tidak menurutinya.

Siwon terlihat salah tingkah ketika mendapati tatapan Yongri padanya. Sepertinya perempuan itu mendengar dengusan yang diberikannya pada Kiho nanti. Saat tatapan Yongri tidak lepas juga darinya, Siwon tanpa sadar memundurkan kepalanya.

Pada awal pertemuan saja perempuan itu sudah membuat Siwon tidak nyaman.

Awalnya, Yongri menyangka bahwa ia akan dijodohkan dengan laki-laki yang sudah tua. Yah, tidak setua Hyunseok. Mungkin laki-laki berusia di pertengahan 30? Namun Yongri tidak menyangka jika laki-laki yang dijodohkan dengannya terlihat sangat muda.

Sepertinya memiliki usia beberapa tahun saja diatasnya atau mungkin mereka memiliki usia yang sama. Wajah laki-laki itu juga terlihat tampan. Memiliki suami sepertinya, sepertinya tidak merugikan untuk Yongri.

Lagipula Siwon–nama yang didengarnya dari ayah laki-laki itu tadi–juga terlihat tidak menyetujui pernikahan ini. Mungkin mereka bisa bekerja sama untuk menggagalkan rencana pernikahan ini. Atau jika mereka memang harus menikah, sepertinya Siwon tidak akan menuntut apapun padanya.

“Sebelum kita mulai makan malam lebih baik aku menegaskan tujuan acara makan malam ini diadakan.” Kata Kiho. Membuat perhatian Siwon dan Yongri jatuh padanya.

“Seperti yang sudah kalian tau, kami akan menjodohkan kalian dan menikahkan kalian dalam waktu dekat. Mungkin satu bulan dari sekarang.” Lanjut Kiho.

“Kenapa terburu-buru sekali?” Tanya Siwon membuat Kiho menatapnya tajam.

“Kenapa? Apa kalian ingin melakukan pendekatan terlebih dahulu? Ingin saling mengenal? Bukankah kalian bisa melakukannya setelah menikah nanti?” Hyunseok bertanya balik.

“Kami sama-sama belum mengenal. Bagaimana jika kami tidak cocok satu sama lain dan pernikahan ini berujung pada perceraian?” Ucap Yongri dan membuat Hyunseok menatapnya dengan geram. Yongri langsung menundukkan kepalanya.

“Tidak baik mengucapkan perceraian dengan begitu mudah.” Kata Hyemi sembari tersenyum hangat menatap Yongri.

“Kami melakukan perjodohan ini karena menurut kami kalian sangat cocok. Kami saja dapat melihat kecocokan kalian. Bagaimana bisa kalian tidak melihatnya?” Timpal Sujin.

“Kau sudah pernah bertemu Siwon, eomma?” Bisik Yongri.

Sujin menatap Yongri dan menyuruh perempuan itu untuk diam. Yongri mencibir pelan. Ia yakin ini pertama kalinya Sujin bertemu Siwon, sama seperti dirinya. Ucapan yang tadi itu hanya basa-basi saja, menurut Yongri.

“Apapun itu, kami sudah menetapkan bahwa kami akan menikahkan kalian. Asal kalian tau, akhir-akhir ini begitu banyak perusahan-perusahaan besar yang bergabung menjadi satu dan bertambah kuat. Perusahaanku dan perusahaan Hyunseok juga membutuhkannya. Karena itu kami merencakan pernikahan ini. Jika kalian menyayangi kami sebagai orangtua kalian, aku harap kalian mengikuti keinginan kami.” Jelas Kiho.

“Lagipula Siwon tidak memiliki kekasih, dan aku dengar dari Hyunseok bahwa kau juga tidak memiliki kekasih, Yongri-ya.” Yongri tersentak saat Kiho mengajaknya berbicara.

“K–kekasih? Ah, ya.” Jawab Yongri pelan.

“Tidak ada pihak yang dirugikan dalam pernikahan ini, kan? Walaupun kalian masih muda, usia kalian sudah cukup untuk menikah.” Ucap Kiho.

“Ya, aku sangat setuju denganmu, Kihoo-ssi.” Sela Hyunseok.

“Kalian akan menerima pernikahan ini, kan?” Hyunseok menatap Yongri dengan tajam. Begitu pun Kiho yang menatap Siwon dengan tajam.

Siwon dan Yongri terlihat sama-sama menghela nafas panjang. Apa mereka masih memiliki hak untuk menolak? Pertanyaan itu hanya sekedar basa-basi. Sial!

“Ya.” Jawab Siwon dan Yongri bersamaan.

Orangtua Siwon dan orangtua Yongri terlihat sangat senang. Mereka tertawa bersama dan saling berjabat tangan. Berbeda dengan Siwon dan Yongri yang hanya dapat menundukkan kepala mereka. Sangat berharap pernikahan ini tidak membatasi kehidupan mereka kelak.

——

Siwon pikir setelah makan malam, ia bisa langsung pulang ke apartementnya dan mengistirahatkan pinggangnya. Ternyata ia salah besar. Kiho merecokinya dan menyuruhnya untuk mengantarkan Yongri pulang.

Padahal perempuan itu tinggal di rumah yang sama dengan orangtuanya. Dan saat datang ke restoran tadi, Yongri juga pergi bersama orangtuanya menggunakan mobil. Bukankah Kiho hanya ingin menyulitkannya? Namun lagi-lagi tidak ada yang dapat Siwon lakukan.

Berakhirlah mereka di sana, di dalam mobil Siwon dalam suasana yang hening. Siwon terlihat tidak menganggap kehadiran Yongri dan begitu pun sebaliknya. Hanya saja, Siwon tidak bisa benar-benar mengabaikan sosok Yongri di sampingnya.

Yongri terus menghela nafas panjang beberapa kali, membuat Siwon merasa terganggu. Seolah-olah perempuan itu merasa sangat jengah berada di dekat Siwon. Tentu saja Siwon merasa sedikit tersinggung dengan perlakuan Yongri.

“Bisakah kau berhenti menghela nafas?” Suara Siwon terdengar acuh.

“Kau benar-benar akan menerima pernikahan ini? Kau tidak menyukaiku, kan?” Tanya Yongri dengan percaya diri.

Siwon menatap Yongri dengan terkejut untuk sesaat. Kemudian ia kembali memfokuskan dirinya pada jalanan Seoul. Ternyata Yongri adalah perempuan yang sangat percaya diri, menurut Siwon.

“Apa kau sudah hilang akal? Kita bahkan belum lima jam saling mengenal.” Jawab Siwon. Yongri kembali menghela nafas.

“Dan kenapa kau berbicara dengan tidak formal seperti itu padaku? Sepertinya kau lebih muda dariku.” Kata Siwon.

“Aku tidak memiliki minat untuk berbicara formal denganmu.” Sahut Yongri.

“Aku bertanya apa kau menerima pernikahan ini?!” Tanya Yongri sekali lagi.

“Apa kau melihat aku memiliki pilihan?” Siwon bertanya balik.

Yongri menghentakkan kakinya yang memakai higheels, hingga membuat Siwon terkejut. Seingatnya, saat berada di restoran tadi Yongri lebih banyak diam. Tetapi saat ini perempuan itu seperti menunjukkan sifat aslinya.

“Berhenti!” Kata Yongri tiba-tiba.

“Aku tidak memiliki waktu untuk meladenimu. Aku harus segera mengantarkanmu pulang agar aku bisa segera pulang juga.” Ucap Siwon ketus.

“Aku bilang berhenti!!” Jerit Yongri sembari memegang stir dan memutarnya ke kanan.

“Ya! Dasar gila!” Maki Siwon sembari menginjak rem dengan kuat.

Astaga, dia memang ingin mengagalkan rencana Kiho untuk menikahkannya. Tetapi bukan dengan cara bunuh diri seperti ini. Siwon masih ingin hidup dalam waktu yang cukup lama.

“YA!” Teriak Siwon marah setelah mobilnya berhenti di pinggir jalan. Ia menatap Yongri dengan tajam.

“Jika kau memang ingin mati karena tidak mau menikah, lebih baik kau mati seorang diri!! Kau tidak perlu mengajakku!” Bentak Siwon.

“Siapa juga yang ingin mengajakmu mati..” Sahut Yongri santai.

“Apa?” Siwon terlihat benar-benar kesal dengan wajah polos Yongri saat ini.

“Kau lihat itu?” Kata Yongri sembari menunjuk ke depan.

Walaupun merasa kesal, Siwon mengikuti kemana jari Yongri menunjuk. Di depan mereka, ada sebuah mobil mewah yang terparkir saat ini. Pemilik mobil sedang bersandar pada mobil sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. Siwon dapat melihatnya dengan jelas.

“Dia kekasihku.” Ucap Yongri membuat mata Siwon melebar.

“Kau bilang tidak memiliki kekasih?”

“Kau percaya padaku?” Yongri menunjukkan senyum bodohnya.

“Kau tidak perlu mengantarku pulang karena aku bisa pulang bersama kekasihku.” Kata Yongri dan segera keluar dari mobil Siwon.

Siwon mengikuti Yongri yang sedang berlari kecil menghampiri laki-laki yang sedang bersandar di mobil mewah itu. Tidak tau apa yang mereka bicarakan, tetapi Siwon melihat laki-laki itu mengusap kepala Yongri.

Siwon mencibir pelan. Terlihat sangat tidak peduli sama sekali. Siwon kembali menekan gas dan menjalankan mobilnya. Meninggalkan sepasang kekasih yang sepertinya sedang melepas rindu.

Seharusnya perempuan itu mengatakan dari tadi jika kekasihnya akan menjemputnya. Sehingga Siwon tidak perlu bersusah payah seperti ini.

“Benar-benar menyebalkan.” Umpat Siwon.

——

Yongri berlari kecil menghampiri Myungsoo dengan tersenyum senang. Ah, ia sudah tidak sabar untuk menuju ke club dan menghilangkan stressnya dengan minum alkohol. Masalah pernikahan membuat kepalanya ingin pecah.

“Wahh, apa ini benar-benar kau, Choi Yongri?” Suara Myungsoo terdengar takjub.

“Berhenti meledekku.” Kata Yongri sembari melepas higheels yang dipakainya. Membiarkan kaki telanjangnya menginjak aspal.

“Bagaimana? Pertemuannya lancar? Kapan kau akan menikah?” Tanya Myungsoo sembari tersenyum. Menampilkan lesung pipinya dan membuatnya semakin tampan.

“Jangan membahas itu, aku mohon. Aku benar-benar tidak mau memikirkannya.” Keluh Yongri. Myungsoo tersenyum geli dan mengusap kepala Yongri.

“Apa kau mengatakan pada orangtuamu kau akan pergi ke club bersamaku?” Tanya Myungsoo.

“Tidak. Yang mereka tau aku pergi bersama laki-laki itu. Biarkan saja mereka berpikir semau mereka jika aku tidak pulang dalam waktu cepat.” Jawab Yongri.

“Laki-laki itu? Apa dia tampan? Lebih tampan aku atau dia?” Tanya Myungsoo lagi. Yongri terlihat berpikir.

“Dia tampan. Kau dan dia sama-sama memiliki lesung pipi. Kalian sama-sama tampan.”

“Yah, biasanya ketika aku bertanya tentang ketampanan laki-laki, kau akan menjawab bahwa aku paling tampan. Tetapi sekarang kau mengatakan bahwa kami sama-sama tampan. Sepertinya laki-laki itu tampan sekali.” Kata Myungsoo menggoda Yongri.

“Sepertinya mudah untukmu jatuh cinta padanya.” Tebak Myungsoo.

“Ya! Jangan asal bicara. Dia hanya laki-laki kaku. Dan dia baru saja memarahiku tadi gara-gara aku menyuruhnya menghentikan mobil. Yang pasti, dia laki-laki yang membosankan.” Jelas Yongri.

“Berhenti berbicara tentangnya. Sekarang, ayo, kita ke club!” Ucap Yongri dengan semangat. Ia segera masuk ke dalam mobil Myungsoo. Myunsoo tertawa pelan dan segera menyusul Yongri masuk ke dalam club.

——

Sujin membuka pintu rumah setelah mendengar bel berbunyi sebanyak dua kali. Dan wanita itu tidak dapat menutupi keterkejutannya, saat melihat Myungsoo yang sedang menggendong Yongri dipunggungnya. Dan sepertinya anak tunggalnya itu dalam keadaan tidak sadar.

“Myungsoo-ya..”

Myungsoo menunjukkan senyum kakunya saat melihat keterkejutan Sujin.

“C–cepat bawa dia ke kamarnya sebelum ayahnya terbangun.” Ucap Sujin dengan panik.

Myungsoo mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah. Melangkahkan kakinya menuju ke kamar Yongri. Myungsoo tentu sudah tau di mana letak kamar perempuan itu. Karena Myungsoo sudah terlalu sering mengantar Yongri pulang dalam keadaan mabuk.

Dengan hati-hati Myungsoo meletakkan Yongri di atas tempat tidurnya. Sujin langsung menutupi setengah tubuh Yongri dengan selimut. Sujin menggerutu pelan saat mencium bau alkohol yang membuatnya mual.

“Bagaimana bisa Yongri pergi bersamamu? Aku pikir dia pergi bersama calon suaminya.” Kata Sujin. Myungsoo menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

“Aku tau itu, eommonim. Tetapi Yongri menghubungiku dan memintaku menjemputnya di tengah jalan.” Ujar Myungsoo.

“Yah, jika begitu seharusnya kau mengantarkannya pulang.” Omel Sujin.

“Maaf, eommonim. Tetapi aku tidak bisa membujuknya. Dia mengancam akan pergi ke club seorang diri jika aku tidak menemaninya.” Sesal Myungsoo.

Sujin menatap Yongri yang tidak sadarkan diri dengan geram. Ingin sekali rasanya menyirami perempuan itu dengan seember air dingin hingga membuatnya sadar.

“Dasar perempuan nakal..” Gerutu Sujin.

“Myungsoo-ya, kami akan menikahkan Yongri untuk menghilangi kebiasaan mabuk-mabukkannya seperti ini. Karena itu bantu kami agar Yongri menerima pernikahan ini.” Pinta Sujin.

Myungsoo menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Sebagai seorang sahabat, seharusnya permintaan Sujin tidaklah sulit untuk Myungsoo. Namun entah mengapa Myungsoo tidak terlalu yakin bisa melakukannya.

“Aku akan mengusahakannya, eommonim.” Kata Myungsoo.

“Dan satu lagi, sebelum kebiasaan mabuk-mabukkannya ini hilang, kau harus tetap menemaninya. Jangan biarkan dia ke club sendirian.” Pesan Sujin.

“Bukankah calon suami Yongri bisa melakukannya, eommonim?” Tanya Myungsoo bingung.

Sujin mendekat pada Myungsoo hingga membuat Myungsoo menjadi bingung.

“Aku tidak yakin tentang hal itu.” Bisik Sujin. Kebingungan Myungsoo semakin bertambah.

“Calon suami Yongri orang yang kaku. Dia juga sepertinya tidak tertarik dengan pernikahan ini. Aku yakin dia tidak akan peduli dengan Yongri nantinya.” Jelas Sujin.

“Lalu, kenapa kalian–“

“Ayah Yongri yang bersikeras menjodohkan mereka. Aku hanya mengikutinya saja.” Jawab Sujin seakan tau pertanyaan seperti apa yang akan ditanyakan oleh Myungsoo.

“Yang penting terima kasih karena sudah mengantarkan Yongri pulang malam-malam seperti ini. Sekarang kau pulanglah. Kau pasti lelah.” Kata Sujin sembari mengusap lengan Myungsoo.

“Ya, eommonim. Aku pulang dulu.” Pamit Myungsoo. Ia menatap Yongri sekali lagi, sebelum akhirnya meninggalkan kamar perempuan itu.

——

“Bangun! Yak, bangun!” Sujin menepuk punggung Yongri dengan keras beberapa kali.

Yongri yang merasa kesakitan menggeliat dalam tidurnya. Saat merasakan pukulan pada punggungnya semakin keras, Yongri membuka matanya. Ia segera berbalik dan menatap Sujin dengan kesal.

“Apa lagi, eomma?!” Pekiknya.

“Cepat bangun!” Perintah Sujin dengan wajah geram.

Yongri mengubah posisinya menjadi duduk. Ia merasa benar-benar kesal saat ini. Yongri menatap Sujin dengan mata memicing.

“Apa lagi hari ini?! Makan malam dengan calon suami lagi?!” Tanya Yongri. Setelahnya ia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat.

“Antarkan makan siang untuk Siwon.” Jawab Sujin.

“Apa?!” Jerit Yongri.

Mata perempuan itu membulat sempurna. Yongri berharap pendengaran bermasalah saat ini. Atau mungkin otak ibunya yang bermasalah?

“Eomma, apa kau sudah benar-benar gila?” Tanya Yongri. Sujin memukul lengan Yongri.

“Dasar anak durhaka! Aku tidak gila!” Bentak Sujin. Yongri mengacak rambutnya.

“Kau memintaku mengantar makan siang. Sejak kapan aku bisa memasak, eomma?” Suara Yongri terdengar frustasi.

“Aku tidak mungkin tidak mengetahui kekurangan anakku. Karena itu aku sudah melakukannya untukmu. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kau hanya tinggal mengantarkan ke kantornya.” Kata Sujin sembari tersenyum penuh kemenangan.

“Kepalaku sakit, eomma. Aku perlu tidur lagi.” Sahut Yongri sembari kembali berbaring.

“Ayahmu tidak tau bahwa kau semalam pulang bersama Myungsoo.” Ucap Sujin membuat Yongri kembali duduk.

“Antarkan makan siang ke Siwon atau ayahmu mengamuk.” Ujar Sujin dan segera meninggalkan Yongri seorang Yongri.

Yongri terlihat benar-benar kesal dan siap meledak kapan saja. Ia tidak tau bermimpi apa hingga mengalami hari yang sangat menyebalkan pada minggu ini. Haruskah ia pergi ke Gereja dan menghilangkan kesialannya?

Yongri menendang selimut hingga terjatuh ke lantai. Berdiri di atas tempat tidur dan melompat-lompat untuk menghilangkan kekesalannya. Namun tidak berhasil. Yongri segera turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

“Sepertinya aku menjadi anak yang berbakti beberapa hari ini.” Gumam Yongri.

Yongri menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi dengan cepat. Memilih pakaian secara asal-asalan dan tidak memakai make-up sama sekali. Oh, tentu saja ia tidak berniat untuk menggoda ‘calon suami’–nya itu.

Yongri hanya akan memberikan makan siang seperti yang diinginkan Sujin, kemudian segera pulang. Ia akan kembali tidur agar bisa mengisi energinya untuk nanti malam.

“Kau mandi atau tidak?” Tanya Sujin setelah Yongri turun ke bawah.

“Aku mandi.” Jawab Yongri datar.

“Ini makanannya, kan? Aku pergi dulu.” Pamit Yongri sembari mengambil kotak bekal bertingkat di atas meja.

“Yah, tunggu dulu.” Sujin mengejar Yongri yang sudah hampir keluar.

Yongri menghela nafas sabar dan berbalik menatap Sujin. Ia akan mencoba ke apotik nanti dan membeli obat sabar. Karena sepertinya kesabaran Yongri mulai menipis.

“Ada apa lagi, eomma?” Tanya Yongri dengan senyum yang dipaksakan.

“Temani Siwon makan dan pastikan dia habiskan semuanya. Setelah itu bawa kotak bekal ini pulang. Mengerti?” Ucap Sujin.

“Eomma!!”

“Kenapa? Kenapa kau selalu menjerit-jerit padaku?!” Ujar Sujin dengan kesal.

“Laki-laki itu bukan anak kecil, eomma! Untuk apa aku menungguinya makan?!”

“Kau harus belajar menjadi seorang istri sekarang. Salah satunya dengan menemani suamimu makan.” Jelas Sujin. Yongri mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

“Sudah, ya. Ada yang harus eomma lakukan di dapur.” Kata Sujin dan segera meninggalkan Yongri.

“Oh, Tuhan..” Geram Yongri.

Yongri keluar dari rumah dan tidak lupa membanting pintu rumahnya. Menghampiri mobil yang akan mengantarkannya ke kantor Siwon. Supir pribadinya membukakan pintu mobil untuk Yongri dan Yongri segera masuk ke dalam.

“Kita berangkat sekarang, nona?” Tanya sang supir.

“Ya.” Jawab Yongri. Supirnya mulai menjalankan mobil.

“Tetapi, apa kau tau di mana kantornya?” Tanya Yongri.

“Ya, nona. Nyonya sudah memberitahukannya pada saya.” Jawab sang supir.

Yongri kembali menghela nafas. Sujin benar-benar sudah mempersiapkan semuanya. Yongri benar-benar tidak mengerti kenapa orangtuanya bersikeras ingin menikahkannya seperti ini. Apa mereka ingin segera menimang cucu?

“Yang benar saja..” Ucap Yongri sembari tersenyum geli.

“Siapa juga yang mau memberikan cucu pada mereka?!” Gerutu Yongri seorang diri.

Yongri tidak menyadari bahwa supir pribadinya sedang menatapnya dengan pandangan aneh dan bingung saat ini.

——

Siwon memberikan tanda tangannya pada sebuah berkas yang baru saja dibawakan oleh pegawainya. Tentu saja berkas itu sudah mengalami beberapa kali revisi setelah diperiksa oleh Siwon.

Siwon benar-benar sudah merasa nyaman bekerja sebagai Ketua Tim Pemasaran saat ini. Karena itu ia tidak mau Kiho mempermainkannya dengan menaik-turunkan jabatannya.

“Setelah makan siang, kumpulkan yang lain karena kita harus membahas mengenai pemasaran produk baru, Soohyun-ssi.” Kata Siwon sembari mengulurkan berkas yang baru saja ditandatanganinya.

“Ya, ketua tim.” Sahut Soohyun.

“Anda ingin makan siang bersama kami, ketua tim?” Tanya Soohyun kemudian.

“Tidak perlu memikirkanku. Nikmati waktu kalian.” Jawab Siwon.

Soohyun mengangguk mengerti. Ia membungkukkan badannya dan segera meninggalkan ruangan Siwon.

Siwon menghabiskan kopinya yang sudah dingin di atas meja. Ia sedang tidak bernafsu untuk menyantap makan siang saat ini. Siwon sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menggagalkan rencana pernikahannya.

Tentu saja bukan dengan cara yang sembarangan. Karena Siwon tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Ia harus membuat Kiho tidak berkutik, walaupun Siwon tau bahwa kemungkinannya untuk melakukan itu sangat kecil.

Siwon menatap pintu ruangannya saat mendengar ada yang mengetuknya. Setelah ia berucap ‘masuk’, pintu ruangannya segera terbuka.

“Ada yang ingin bertemu dengan Anda, ketua tim.” Kata Minjoon, salah satu pegawainya.

“Siapa?” Tanya Siwon.

“Aku.” Jawab Yongri yang langsung menerobos masuk ke dalam ruangan Siwon. Siwon terlihat benar-benar terkejut.

“Kau–” Siwon bahkan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat Yongri yang langsung duduk di kursi, yang biasanya digunakan untuk rapat bersama anggotanya.

“Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu, Minjoon-ssi.” Ucap Siwon.

“Ya, ketua tim.”

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Siwon setelah Minjoon menutup pintu.

“Jangan berpikir bahwa aku juga ingin berada disini.” Jawab Yongri dengan ketus.

“Lebih baik sekarang kau habiskan semua makanan di dalam sini agar aku bisa segera pulang.” Perintah Yongri.

“Aku tidak mau makan.” Sahut Siwon dan segera mengalihkan pandangannya dari Yongri.

“Itu berarti kau ingin terus melihatku hingga pekerjaanmu selesai.” Balas Yongri membuat Siwon menatapnya dengan tajam.

“Dengar, ini bukan keinginanku! Ibuku yang menyuruhku untuk mengantarkan dan memastikan kau menghabiskan makanan ini. Untuk itu, bisakah kau sedikit bekerja sama denganku?” Pinta Yongri.

“Kau bisa meninggalkannya di sana.” Kata Siwon.

“Sialan, ternyata kau benar-benar tidak mengerti ucapanku.” Umpat Yongri.

“Ya!” Bentak Siwon tidak terima.

“Habiskan makanan ini, setelah itu aku akan pulang.” Yongri menyederhanakan kalimatnya.

“Aku ada rapat sebentar lagi.” Ucap Siwon dengan sabar.

“Yah, aku tidak bertanya mengenai jadwal pekerjaanmu.” Sahut Yongri dengan geli.

Siwon mengepalkan tangannya dan terlihat benar-benar kesal. Ternyata ‘calon istri’–nya itu benar-benar keras kepala. Siwon bisa saja menyeretnya untuk meninggalkan kantor ini. Tetapi bagaimana jika perempuan itu mengadu pada orangtuanya?

Bisa dipastikan jika besok Siwon benar-benar menjadi seorang office boy. Benar-benar menyebalkan. Siwon melepas kacamata bacanya sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan meja kerjanya. Mendekati meja rapat dan duduk di hadapan Yongri.

Mengambil kotak bekal dan segera membukanya. Saat melihat begitu banyak makanan di dalam sana, Siwon tiba-tiba saja merasa sangat lapar. Namun Siwon tidak menunjukkannya di hadapan Yongri.

“Bukan aku yang memasaknya, jika kau ingin tau.” Ucap Yongri.

“Tanpa kau mengatakannya aku sudah tau.” Sahut Siwon dan segera menyantap makan siangnya.

Melihat Siwon makan, Yongri pun merasa lapar. Apalagi ia belum memakan apapun hingga siang ini. Semuanya karena Sujin yang menyuruhnya ke kantor Siwon ketika bangun tidur tadi.

Mengulurkan tangannya, Yongri mengambil telur gulung dan memasukkan ke dalam mulutnya. Siwon menatap Yongri dengan terkejut dan kesal. Sedangkan Yongri menunjukkan wajah tanpa dosanya. Lagipula makanan itu adalah masakan ibunya.

“Ya!”

“Kau selalu berteriak ya! Ya! Ya! Aku punya nama. Namaku Choi Yongri.” Gerutu Yongri.

Siwon meletakkan sumpitnya dan menghela nafas kasar. Ia menggeser kotak bekal itu ke hadapan Yongri. Kemudian segera berdiri dan menatap Yongri dengan kekesalan yang memuncak.

“Kau makan saja semua dan segera pergi dari kantorku!” Usir Siwon.

Meninggalkan meja rapat dan keluar dari ruangannya sendiri. Yongri terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar ucapan Siwon. Dan ia tersentak saat mendengar Siwon membanting pintu.

Yongri segera berdiri hingga kursi yang di dudukinya terjungkal ke belakang. Ia tidak kalah kesalnya dengan Siwon saat ini. Astaga, apa mereka tidak bisa berbagi makanan sedikit saja?

“Sialan! Oh, sialan!” Maki Yongri.

“Laki-laki sialan! Aku tidak mau menikah dengannya!!” Jerit Yongri.

——

“Eomma!!”

“Eomma!!”

Yongri memekik dengan keras ketika sampai di rumahnya. Wajahnya memerah karena menahan kesal dan marah. Ia melangkahkan kakinya menuju ke dapur. Ia harus minum air dingin untuk meredakan amarahnya.

Yongri meletakkan kotak bekal di atas meja makan. Mendekati kulkas dan membukanya. Mengambil sebotol air dingin yang sudah diidam-idamkannya sedari tadi. Tanpa membuang waktu, Yongri segera meneguknya dalam jumlah yang banyak.

“Anak perempuan mana yang pulang ke rumah dengan berteriak seperti itu?” Omel Sujin. Yongri mendelik tajam pada Sujin.

Sujin tidak memperdulikannya dan membuka kotak bekal yang dibawa pulang oleh Yongri. Dan Sujin tidak dapat menutupi kekecewaannya saat melihat makanan di dalam sana masih bersisa.

“Kenapa kau tidak menyuruh Siwon menghabiskannya?!” Tanya Sujin.

“Lebih baik kau suruh appa pulang sekarang, eomma.” Kata Yongri yang sudah mengembalikan botol ke dalam kulkas.

“Kau benar-benar sudah hilang akal sepertinya. Apa kau pikir ayahmu itu adalah temanmu? Yang bisa kau suruh-suruh semaumu?” Ucap Sujin.

“Jika eomma tidak ingin melihatku murka dan berbuat sesuatu yang tidak pernah kalian pikirkan, lebih baik eomma minta appa pulang sekarang. Aku mohon.” Pinta Yongri.

“Sebenarnya ada apa? Kenapa kau marah-marah seperti ini?” Sujin terlihat bingung.

Yongri duduk di kursi makan dan tidak berniat menjawab pertanyaan Sujin. Ia akan menunggu Hyunseok pulang dan berbicara langsung dengan pria itu. Ia akan melakukan apapun untuk keluar dari rencana pernikahan gila ini.

Sujin berdecak pelan saat melihat Yongri yang hanya diam saja. Wanita itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi suaminya, seperti permintaan Yongri. Mungkin terjadi sesuatu yang serius hingga membuat Yongri menjadi marah seperti ini.

Yongri mengepalkan kedua tangannya di atas meja sembari mendengarkan pembicaran Sujin dan Hyunseok di ponsel. Kekesalan Yongri belum hilang juga saat ini. Ia ingin sekali mematahkan leher Siwon dan membuat laki-laki itu berteriak kesakitan.

“Kebetulan sekali ayahmu memang sedang dalam perjalanan pulang. Ia harus bersiap untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan rekan bisnisnya.” Kata Sujin. Yongri lagi-lagi tidak memperdulikan ucapan Sujin.

Sujin menghela nafas dan duduk di samping Yongri. Mengulurkan kotak bekal ke hadapan putrinya itu.

“Kau belum makan apapun, kan? Makanlah ini.” Kata Sujin. Yongri mendorong kotak bekal menjauh dan semakin bertambah kesal.

“Aku tidak mau makan!” Ucap Yongri dengan ketus.

Sujin hanya dapat melongo melihat sikap putrinya itu. Ia seperti tidak mengenali putrinya sendiri. Sikapnya bahkan tidak bisa Sujin tebak.

Beberapa saat kemudian Hyunseok sampai di rumah. Sujin segera meninggalkan Yongri untuk menghampiri suaminya. Tetapi Yongri segera berlari dan melewati Sujin begitu saja. Membuat Sujin lagi-lagi dibuat bingung dan terkejut dengan kelakuan Yongri.

“Appa!” Panggil Yongri dengan suara keras.

“Ada apa? Aku baru saja pulang dan kau menghadiahiku dengan wajah kesalmu itu.” Kata Hyunseok sembari membuka jasnya dan memberikannya pada Sujin.

“Aku tidak mau menikah.” Ujar Yongri tiba-tiba.

“Apa?” Hyunseok dan Sujin sama-sama terkejut mendengar ucapan Yongri.

“Aku lelah, Yongri-ya. Jadi hentikan omong kosongmu itu.” Ucap Hyunseok dan berjalan melewati Yongri. Namun Yongri dengan cepat menahan lengan Hyunseok.

“Aku sungguh-sungguh, appa. Aku benar-benar tidak mau menikah dengannya!” Rengek Yongri. Hyunseok menghela nafas panjang dan menatap Yongri dengan tajam.

“Yah, ada apa sebenarnya? Katakan pada eomma lebih dulu.” Ujar Sujin dengan ngeri. Ia takut Hyunseok memarahi Yongri karena sifat kekanakkannya itu.

“Laki-laki itu–“

“Namanya Siwon.” Sela Hyunseok dengan datar.

“Anak teman appa yang bernama Choi Siwon itu, aku benar-benar tidak mau menikah dengannya! Dia bahkan tidak mau berbagi makanan denganku, appa. Yah, aku tidak mengidap penyakit menular. Tetapi dia berhenti makan ketika aku mengambil sepotong telur gulung darinya.” Ujar Yongri bercerita.

Wajahnya terlihat merah karena benar-benar kesal. Mengingat apa yang dilakukan Siwon saat di kantornya tadi, membuat Yongri benar-benar naik pitam. Lagipula Siwon tidak membeli makanan itu. Makanan itu Yongri sendiri yang membawanya. Apa salahnya jika Yongri meminta sedikit?

“Kau tidak mau menikah hanya karena itu?” Tanya Hyunseok tidak percaya.

“Appa, bagaimana bisa aku berbagi rumah dengan laki-laki seperti itu?! Bagaimana bisa aku tinggal bersamanya?!” Ucap Yongri putus asa.

Hyunseok menghela nafas panjang. Dia benar-benar tidak tau Yongri mewarisi sifat siapa dalam diri perempuan itu.

“Jadi, kau tidak mau menikah dengannya?” Tanya Hyunseok.

“Ya, aku benar-benar tidak mau menikah dengannya.” Jawab Yongri langsung.

“Baiklah, kau tidak perlu menikah dengannya.” Kata Hyunseok membuat Yongri benar-benar merasa tidak percaya.

“Sungguh, appa? Aku tidak perlu menikah dengannya?” Tanya Yongri memastikan. Hyunseok menganggukkan kepalanya.

“Yeyyy!!!! Appa memang yang terbaik!!” Puji Yongri dengan tertawa lebar.

“Tapi..” Kata Hyunseok menggantung. Yongri menutup mulutnya dan menunggu kelanjutan kalimat Hyunseok.

“Kembalikan semua kartu kreditmu padaku. Juga ponsel dan kartu ATM–mu. Dan jangan pernah keluar rumah lagi mulai besok.” Lanjut Hyunseok.

“Apa?” Yongri berharap telinganya bermasalah.

“Kau mendengarku dengan baik.” Ujar Hyunseok dan segera meninggalkan Yongri.

“Sudah aku duga ayahmu tidak mungkin melepaskanmu begitu saja.” Gumam Sujin sembari menyusul Hyunseok.

Yongri menatap kepergian Hyunseok dan Sujin dalam diam. Sepertinya ia belum bisa menangkap maksud ucapan Hyunseok barusan.

Menyerahkan kartu kredit, kartu ATM dan ponsel. Lalu, tidak boleh keluar dari rumah? Hyunseok pasti bercanda, kan? Tetapi tidak ada senyum pada wajah Hyunseok. Itu berarti, Hyunseok tidak main-main.

Kesadaran Yongri baru saja kembali. Hyunseok tetap memaksanya menikah dengan Siwon. Dan ia akan terikat seumur hidup dengan laki-laki itu.

“TIDAK, APPA!!!!!”

——

–To Be Continued–

HAI!

Aku datang membawa part 1 FF baru. Gimana? Suka? Kurang greget? Hahaha..

Jadi gini, sebenernya aku udah dari beberapa tahun yang lalu suka sama infinite khusunya L. tapi baru beberapa minggu ini aku bener-bener tergila-gila sama mereka. Makanya aku bawa L ke dalam FF baru aku. Bisa di terima, kan? Walaupun begitu, Siwon tetap nomor 1 di hati aku ❀

Terima kasih untuk Mikha yang udah editin covernya, di sela-sela kesibukan kamu. Maafkan aku yang selalu merepotkan kamu. Huhuhu..

Silahkan kasih komentar/masukkan kalian untuk FF ini ya. Komentar dan masukkan dari kalian bisa bantu aku untuk mengembangkan FF ini. Tapi dengan kata-kata sopan, ya. Ok?

Happy reading!

BYE~

Advertisements

111 thoughts on “The One and Only – Part 1

  1. Haha sepertinya yongri harus menikah dengan siwon agar fasilitasnya tidak di tarik ayahnya. Yasudahlahh terima nasib baik mu bisa menikah dengan siwon heheh

  2. Aku reader baru izin baca ffnya yaa
    Sebenarnya aku tau ff ini dari flying nc dan aku udah komen disana iseng” cari part 2 nya eh ketemu deh sama blog ini

  3. Ini dia ff yg aku baca di blog tetangga yg akhirnya ngebikin aku coba2 cari blog pribadinya kak choineke πŸ™‚

    Ff ini aku uda baca bbrp part, tp ttp seru dibaca lg dari awal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s