Love in Friendship – Part 5

IMG_20160731_193749

Author

Choineke

Title

Love in Friendship

Cast

Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Choi Sihoon (OC), Hong Hani (OC), and others

Genre

Romance, School Life

Length

Chapter

Rating

PG-15

——

–What would you choose between love and friendship?–

——

Author POV

Siwon membuka pintu kamar Yongjae dan masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Membanting dirinya di atas tempat tidur dan menutup matanya. Tidak memperdulikan Yongjae yang terlihat terkejut dan segera menutup laptop yang sedang digunakannya.

Yongjae meninggalkan meja belajarnya dan menghampiri Siwon. Laki-laki itu menelisik wajah Siwon namun ia tidak dapat melihat apapun karena posisi tidur Siwon yang tengkurap. Tetapi ada satu hal yang dapat Yongjae tangkap pada wajah Siwon yang sedikit terlihat olehnya.

“Hyung?” Panggil Yongjae.

“Biarkan aku tidur disini malam ini, Yongjae-ya.” Kata Siwon.

“Tidur disini? Kenapa tiba-tiba seperti ini, hyung? Ada apa?” Tanya Yongjae bingung.

“Jangan banyak bertanya dan biarkan saja aku tidur disini. Jika kau tidak ingin aku mengadukan pada abeonim apa yang baru saja kau tonton di laptopmu itu.” Ucap Siwon membuat Yongjae menjadi panik.

“A–aku mengerti, hyung. Tidurlah disini selama apapun yang kau mau.”

“Jangan beritahukan kepada siapapun tentang keberadaanku. Lagipula saat aku kemari, tidak ada siapa-siapa di bawah.”

“Termasuk Yongri noona?” Tanya Yongjae. Tidak ada jawaban apapun dari Siwon.

“Hyung?”

“Termasuk Yongri.” Jawab Siwon akhirnya.

“Berhenti bertanya, Yongjae-ya. Aku ingin tidur.”

“Ya, hyung. Tidurlah.”

“Tolong matikan lampunya.” Pinta Siwon.

Yongjae mengangguk dan segera mematikan lampu. Kemudian ia keluar dari kamarnya sendiri. Bukan karena Yongjae akan tidur di kamar lain. Tetapi Yongjae merasa ia harus memberikan waktu sendiri untuk Siwon. Yongjae yakin bahwa sahabat kakaknya itu sedang mengalami masalah besar.

Tiba-tiba Yongjae mendengar suara bel rumahnya yang ditekan berkali-kali. Yongjae yang terkejut belum melakukan pergerakan apapun hingga Yongri keluar dari kamarnya. Yongri menatap Yongjae dengan bingung karena adiknya itu hanya terdiam.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak membuka pintu?” Omel Yongri.

Gadis itu melewati Yongjae dan segera turun ke bawah. Seolah tersadar, Yongjae segera menyusul Yongri yang sudah sampai di bawah. Bukan hanya Yongri, orangtua mereka pun tampak keluar dari kamar dengan terkejut.

“Siapa yang datang? Kenapa terlihat terburu-buru sekali menekan bel?” Tanya Heeran bingung.

“Biar aku yang membuka pintu.” Kata Sangjoon.

Yang lain mengangguk dan mengikuti Sangjoon dari belakang. Setelah Sangjoon membuka pintu, mereka terlihat terkejut dengan kedatangan Eunhee dan Sihoon. Terlebih saat ini Eunhee sedang menangis di dalam rangkulan Sihoon.

“Eunhee-ssi?” Ucap Sangjoon.

“Eunhee-ya, ada apa?” Tanya Heeran yang sudah bergerak ke depan dan memegang lengan Eunhee.

“Heeran-ah, apa Siwon datang kemari?” Tanya Eunhee.

“Siwon?” Gumam Yongri.

“Siwon? Tidak ada Siwon disini. Benar ‘kan, Yongri-ya?” Heeran menoleh ke belakang menatap Yongri.

“Benar, eomma. Siwon tidak datang kemari, eommonim. Ada apa?” Yongri terlihat khawatir.

Yongjae yang berada di samping Yongri hanya dapat menutup mulutnya dengan rapat. Ia mengingat pesan Siwon tadi sebelum dirinya meninggalkan Siwon tidur di kamar.

“Ada sedikit kesalahpahaman tadi dan Siwon sepertinya marah. Dia pergi dari rumah dan tidak membawa mobilnya.” Jelas Sihoon.

“Pergi dari rumah?!” Pekik Yongri tidak percaya. Siwon tidak pernah seperti itu sebelumnya.

“Aku yang salah. Aku yang membuatnya sedih.” Sesal Eunhee dengan terisak.

“Berhenti menyalahkan dirimu, eomma.” Ucap Sihoon dengan putus asa.

“Sayang, bawa Eunhee-ssi dan Sihoon masuk.” Kata Sangjoon pada Heeran.

“Masuklah dulu, Eunhee-ya, Sihoon-ah.” Ucap Heeran.

“Tidak perlu, eommonim. Jika memang Siwon tidak ada di sini, kami akan kembali ke rumah. Eomma harus istirahat. Maaf karena sudah mengganggu dan merepotkan.” Tolak Sihoon.

“Tolong hubungi aku jika Siwon menghubungimu, Yongri-ya.” Pinta Sihoon.

“Ya, Sihoon-ah. Aku juga akan mencoba menghubunginya dan teman-temanku yang lain.” Balas Yongri.

“Kalau begitu cepat bawa Eunhee pulang, Sihoon-ah. Kalau ada apa-apa segera beritahu kami, mengerti?” Pesan Heeran.

“Ya, eommonim. Terima kasih banyak, abeonim, eommonim, Yongri-ya, Yongjae-ya. Kami pulang dulu.” Pamit Sihoon dan segera berbalik sembari terus merangkul Eunhee.

Heeran menutup pintu saat Eunhee dan Sihoon sudah masuk ke dalam rumah mereka. Keluarga Yongri terlihat sangat khawatir dengan keberadaan Siwon saat ini. Mereka sudah lama mengenal Siwon, dan Siwon tidak pernah membuat Eunhee menangis seperti itu.

“Aku akan mencoba menghubungi Siwon.” Kata Yongri dan bersiap beranjak untuk kembali ke kamarnya.

“Sebentar, noona.” Cegah Yongjae. Yongri menghentikan langkahnya dan menatap Yongjae. Begitu pun dengan Heeran dan Sangjoon.

“Ada apa, Yongjae-ya?” Tanya Sangjoon.

“Itu–sebenarnya, Siwon hyung ada di sini.” Ucap Yongjae pelan.

“APA?!” Sesuai dugaan Yongjae, semua anggota keluarganya terkejut.

“Disini dimana maksudmu?!” Tanya Yongri.

“D–dia ada di kamarku, noona.” Jawab Yongjae.

“Lalu kenapa kau diam saja dari tadi, Choi Yongjae?! Apa kau tidak lihat ibu Siwon sangat mengkhawatirkannya?!” Omel Sangjoon.

“Tenanglah, sayang.” Ucap Heeran.

“Siwon hyung yang memintanya, appa. Dia tiba-tiba saja datang ke kamarku dan mengatakan akan menginap disini malam ini.” Jelas Yongjae.

“Aku akan menemuinya!” Ucap Yongri.

“Noona, sebentar!” Yongjae kembali mencegahnya.

“Apalagi?!” Yongri terlihat sangat kesal.

“Sepertinya keluarga Siwon hyung sedang mengalami masalah yang serius.” Kata Yongjae.

“Apa?”

“A–aku melihat ada airmata diwajah Siwon hyung.”

“Siwon menangis?!” Pekik Yongri tak percaya.

“Ya, sepertinya begitu.” Sahut Yongjae.

“Apa kau tidak tau apa-apa, Yongri-ya?” Tanya Heeran. Yongri terlihat bingung dan menggelengkan kepalanya.

“Siwon tidak mengatakan apapun padaku, eomma. Tetapi akhir-akhir ini sikapnya memang aneh.” Jawab Yongri.

“Kalau begitu biarkan dia disini malam ini.” Putus Sangjoon.

“Kau temui ibu Siwon dan katakan Siwon ada di sini, Yongjae-ya. Katakan padanya untuk tidak khawatir dan biarkan Siwon menenangkan dirinya sementara waktu.” Suruh Sangjoon.

“Ya, appa.” Yongjae segera meninggalkan rumah untuk menuju ke rumah Siwon.

“Kau tidurlah dan jangan ganggu Siwon. Biarkan dia sendiri.” Pesan Sangjoon pada Yongri.

Yongri tidak mengangguk mau pun menggeleng. Tentu saja ia tidak akan menuruti pesan Sangjoon. Ia harus melihat keadaan laki-laki itu dan memastikan bahwa ia memang berada di rumah ini. Jika perlu Yongri akan memaksanya memberitahukan apa yang sedang terjadi.

Setelah memastikan orangtuanya masuk ke dalam kamar, Yongri berlari kecil menaiki tangga. Ia langsung menuju kamar Yongjae dan membuka pintunya. Yongri terkejut saat menemukan kamar Yongjae dalam keadaan gelap. Walaupun begitu, Yongri dapat melihat ada seseorang yang berbaring di atas tempat tidur Yongjae.

Dengan langkah perlahan, Yongri menghampiri Siwon. Gagal sudah niatnya untuk bertanya kepada laki-laki itu, tentang apa yang terjadi. Yongri duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping Siwon. Ia menghela nafas saat melihat wajah tidur laki-laki itu.

Benar apa yang dikatakan Yongjae, Siwon menangis. Yongri dapat melihat jejak airmata di wajah Siwon walaupun kamar dalam keadaan gelap. Yongri benar-benar ingin tau apa yang terjadi. Kenapa Siwon menyimpan masalahnya seorang diri dan terlihat sangat tertekan seperti ini?

Yongri mengulurkan tangannya untuk menghapus airmata Siwon. Namun saat tangannya menyentuh wajah Siwon, Yongri merasa darahnya berdesir. Jantungnya berdetak dengan sangat keras. Membuat Yongri segera menarik tangannya kembali, tetapi tiba-tiba tangan Siwon menangkap tangan Yongri.

Awalnya Yongri berpikir bahwa Siwon terbangun dari tidurnya. Namun mata laki-laki itu tetap terpejam dengan erat. Genggaman tangan Siwon pada tangannya terasa sangat erat. Seolah Siwon tidak ingin mengizinkan Yongri pergi.

“Jangan tinggalkan aku..” Gumam Siwon dalam tidurnya.

Yongri tertegun. Ia menatap Siwon dalam diam. Apa maksud ucapan laki-laki itu? Siapa yang akan meninggalkannya? Untuk siapa kata-kata itu ia ucapkan? Eunhee? Tidak mungkin. Kenapa Eunhee ingin meninggalkan anaknya sendiri?

“Aku tidak akan meninggalkanmu.” Yongri terkejut dengan apa yang baru saja diucapkannya. Ia seolah tanpa sadar mengatakan sesuatu yang belum sempat dipikirkannya.

Yongri melepaskan tangannya dari genggaman Siwon. Segera berdiri dan membenarkan letak selimut yang dipakai Siwon. Gadis itu menatap wajah Siwon sekali lagi, sebelum akhirnya keluar untuk meninggalkan kamar Yongjae.

——

Siwon membuka matanya yang terasa sangat berat pagi itu. Untuk sesaat Siwon lupa dimana dirinya berada. Namun beberapa detik kemudian ia tersadar dan mengingat apa yang terjadi padanya semalam. Siwon segera mengubah posisinya menjadi duduk dan mengedarkan pandangannya.

“Selamat pagi, hyung.” Sapa Yongjae yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

“Jam berapa sekarang, Yongjae-ya?” Tanya Siwon. Yongjae menatap jam dipergelangan tangan kirinya.

“Setengah tujuh, hyung.” Jawab Yongjae. Siwon mengangguk.

“Maaf, kehadiranku pasti membuat tidurmu tidak nyaman.” Sesal Siwon. Yongjae tersenyum.

“Tidak juga, hyung. Semalam aku tidur di kamar Yongri noona.”

“Apa?” Bukankah itu berarti..

Pintu kamar Yongjae terbuka dan Yongri masuk ke dalam. Sama seperti Yongjae, gadis itu juga sudah rapi dengan pakaian sekolahnya.

“Yongjae-ya, appa memanggilmu.” Kata Yongri.

“Ya, noona. Hyung, aku turun dulu.” Ucap Yongjae dan dibalas anggukan oleh Siwon.

Sepeninggalan Yongjae, Yongri segera menghampiri Siwon dan berdiri di samping tempat tidur. Siwon mengalihkan pandangannya dari Yongri dan tidak berani menatap gadis itu.

“Apa tidurmu nyenyak?” Tanya Yongri santai.

“Kau tau aku menginap disini?” Siwon bertanya balik tanpa menatap Yongri.

“Tentu saja. Bukan hanya aku, appa dan eomma juga tau. Ah, ibumu dan Sihoon juga tau.” Jawab Yongri membuat Siwon menatapnya dengan terkejut.

“Kenapa? Terkejut?” Ejek Yongri.

“Choi Yongjae, ck!” Decak Siwon kesal.

“Sebenarnya apa yang terjadi?! Kenapa kau melarikan diri dari rumah? Apa kau tidak tau bahwa ibumu datang ke sini sembari menangis?” Omel Yongri.

“Ada sedikit masalah.” Gumam Siwon. Yongri duduk di hadapan Siwon.

“Tidak mungkin sedikit, Siwon-ah. Kau tidak pernah seperti ini. Dan kenapa kau tidak mau menceritakannya padaku? Apa kau mulai ingin merahasiakan sesuatu dariku?” Wajah Yongri terlihat sangat kecewa.

Siwon menatap wajah Yongri dan terlihat sangat menyesal. Ia yakin bahwa Yongri merasa sangat kecewa padanya. Pasalnya Siwon tidak pernah merahasiakan apapun padanya selama ini. Hanya saja Siwon tidak tau bagaimana harus menjelaskannya pada gadis itu.

“Kau tidak percaya padaku?” Tebak Yongri.

“Tidak. Bukan seperti itu, Yongri-ya.” Bantah Siwon.

“Kalau begitu katakan padaku.” Pinta Yongri. Siwon menundukkan kepalanya dan menghela nafas.

“Eomma menyuruhku tinggal bersama appa di Amerika.” Kata Siwon membuat mata Yongri melebar.

“Karena Sihoon berada di sini, eomma mengusirku begitu saja. Ia tidak pernah memintaku tinggal bersama appa sebelumnya.” Suara Siwon terdengar terluka.

“Yah, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Tidak ada orangtua yang mengusir anaknya.” Ucap Yongri.

“Lalu, kenapa eomma memintaku tinggal bersama appa?” Tanya Siwon.

“Mungkin saja ibumu ingin bersikap adil, Siwon-ah. Ia ingin kalian mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari seorang ibu dan juga ayah.” Jawab Yongri. Siwon mendengus.

“Jadi, kau juga setuju jika aku pergi ke Amerika?” Tuduh Siwon.

“Tentu saja tidak!” Bantah Yongri langsung.

“Aku juga tidak setuju jika kau harus ke luar negeri. Tetapi bukan berarti kau harus melarikan diri seperti ini dan membuat ibumu khawatir!” Yongri memukul kepala Siwon hingga laki-laki itu merasa kesakitan. Siwon mengusap kepalanya dan menatap Yongri dengan kesal.

Yongri ingin bertanya apakah karena masalah itu Siwon menangis? Menurut Yongri Siwon bukanlah laki-laki cengeng yang mudah menangis hanya karena sebuah masalah. Apa mungkin ada masalah lain yang ditutupi oleh Siwon? Namun Yongri tidak berani menanyakannya.

“Lebih baik sekarang kau turun dan kita sarapan bersama.” Ujar Yongri sembari berdiri.

“Aku akan tetap disini hingga abeonim pergi bekerja. Aku merasa tidak enak karena membuat keributan.” Kata Siwon.

“Apa kau pikir ayahku itu seseorang yang akan dengan mudah memarahimu? Aku harap kau tidak lupa seberapa sayang dia kepadamu.” Sindir Yongri.

“Tapi tetap saja..” Gumam Siwon.

“Lagipula kau harus sekolah, Siwon-ah!”

“Karena itu bantu aku, Yongri-ya.” Pinta Siwon. Yongri menatap Siwon dengan pandangan bertanya.

“Pergilah ke rumahku dan ambilkan pakaian serta tas sekolahku.”

“Ya!” Bentak Yongri.

“Aku mohon bantu aku kali ini saja. Aku benar-benar belum ingin bertemu dengan ibuku.” Wajah Siwon terlihat memelas. Yongri menghela nafas kasar.

“Aku akan mengambilkannya jika kau turun sekarang.” Ucap Yongri. Siwon ikut menghela nafas dan mengangguk.

“Baiklah, aku akan mengambilkannya sekarang.” Kata Yongri.

“Jangan lupa kunci mobilku.”

“Cih! Kau merasa kesal pada ibumu tetapi masih memakai fasilitas yang diberikannya padamu.” Ejek Yongri.

“Kau lebih memilih kita menaiki kendaraan umum?” Tanya Siwon.

“Kita? Choi Siwon-ssi, aku masih memiliki seorang adik yang bisa mengantarkanku ke sekolah.” Jawab Yongri dan segera meninggalkan Siwon.

Siwon mendengus dan turun dari tempat tidur. Mendekati sebuah cermin di kamar Yongjae dan merapikan penampilannya. Setelahnya laki-laki itu segera meninggalkan kamar Yongjae dan turun ke bawah.

Siwon menuruni tangga dengan langkah perlahan. Memantapkan hatinya untuk menerima nasihat atau bahkan omelan yang mungkin akan diberikan oleh Sangjoon dan Heeran. Setelah sampai di bawah, Siwon segera menuju ke ruang makan.

“Selamat pagi, abeonim, eommonim.” Sapa Siwon sembari membungkukkan badannya.

“Oh, kau sudah bangun, Siwon-ah. Kemarilah, kita sarapan bersama.” Ajak Heeran. Siwon tidak bergerak karena merasa tidak enak.

“Maaf atas keributan yang telah aku lakukan semalam.” Sesal Siwon.

“Seorang laki-laki tidak pernah lari dari sebuah masalah.” Kata Sangjoon yang sedang membaca koran. Siwon menundukkan kepalanya karena merasa tersindir dengan perkataan Sangjoon.

“Sayang, hentikan. Tidak perlu membahasnya di meja makan.”

“Eomma benar, appa. Hyung, kemarilah.” Yongjae menepuk kursi kosong disampingnya. Siwon tersenyum canggung dan segera duduk di samping Yongjae.

“Karena tau kau menginap disini, aku memasakkan japchae untukmu.” Heeran meletakkan japchae di hadapan Siwon.

“Terima kasih, eommonim.”

“Jangan sungkan. Makanlah.”

“Tetapi, Yongri–“

“Noona bilang kita tidak perlu menunggunya untuk sarapan. Karena dia hanya akan meminum segelas susu nanti.” Kata Yongjae. Siwon mengangguk dan mereka pun memulai sarapan bersama.

——

Entah sudah keberapa kalinya Yongri selalu merasa terkejut oleh kehadiran Sihoon saat ia membuka pintu. Seperti sekarang, ketika ia membuka pintu rumah Siwon, Sihoon berada di hadapannya yang juga terlihat sedang membuka pintu rumah. Bukan hanya dirinya, Sihoon pun terlihat terkejut.

“Yongri-ya..”

“Selamat pagi!” Sapa Yongri.

“Eo, selamat pagi.” Balas Sihoon.

“Kau ingin bertemu denganku?” Tebak Sihoon. Yongri tersenyum geli.

“Aku ingin mengambil pakaian Siwon.”

“Apa?”

“Sepertinya Siwon belum merasa nyaman untuk bertemu dengan eommonim. Karena itu dia memintaku untuk mengambilkan seragam sekolahnya.” Jelas Yongri. Wajah Sihoon masih terlihat terkejut namun ia menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu aku akan mengambilkannya untukmu.” Ucap Sihoon.

“Tidak, Sihoon-ah. Aku bisa melakukannya. Kau bisa melanjutkan apa yang sedang kau lakukan. Kau mau keluar?”

“Eo. Tadinya aku ingin menemui Siwon, tetapi sepertinya nanti saja.”

“Baiklah, aku naik ke atas dulu.” Kata Yongri dan segera masuk ke dalam rumah Siwon.

Sihoon menatap gadis itu dalam diam. Hati kecilnya merasa kesal melihat perhatian gadis itu dalam mengurus Siwon. Sihoon tertawa kecil. Seharusnya dari awal dia tau bahwa Siwon tidak akan benar-benar bisa menjauhi Yongri.

Menghela nafas, Sihoon mengikuti Yongri yang sudah menghilang di lantai dua. Walaupun Yongri mengetahui semua isi kamar Siwon, tetap saja Sihoon tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Bagaimana jika Yongri membutuhkan bantuan?

Sihoon masuk ke dalam kamar Siwon yang pintunya terbuka. Ia melihat Yongri mengeluarkan seragam Siwon beserta pakaian dalam laki-laki itu. Membuat Sihoon menatapnya dengan pandangan terkejut.

“Yah, k–kau mengambil pakaian dalam juga?” Tanya Sihoon.

“Tentu saja. Siwon harus mandi.” Jawab Yongri tanpa canggung.

Setelah menaruhnya dalam sebuah paper bag, Yongri mengambil tas Siwon dan memakainya di punggung gadis itu sendiri.

“Aku pulang dulu.” Pamit Yongri.

“Kunci mobil Siwon.” Ucap Sihoon. Yongri menggeleng.

“Kau saja yang pakai. Biarkan Siwon naik bis, siapa suruh dia bertengkar dengan eommonim.” Dengus Yongri.

“Kalau begitu aku akan menjemputmu nanti.” Yongri kembali menggeleng.

“Aku akan pergi bersama Siwon naik bis.”

“Tapi–“

“Aku pulang dulu, nanti kami bisa terlambat.” Yongri segera meninggalkan Sihoon dengan berlari kecil.

Sihoon kembali menatap Yongri dengan tersenyum kecil. Gadis itu bahkan lebih memilih naik bis bersama Siwon daripada naik mobil bersamanya. Padahal Sihoon belum memulai, tetapi ia merasa telah kalah dalam memenangkan hati Yongri.

——

“Ambil ini.” Yongri memberikan paper bag dan tas sekolah pada Siwon.

Siwon menerima pemberian Yongri dan langsung memeriksa isi paper bag. Setelah beberapa kali mencari, ia tetap tidak menemukan kunci mobil yang telah dipintanya pada Yongri tadi.

“Kau benar-benar tidak membawa kunci mobilku?” Tanya Siwon.

“Tidak.” Jawab Yongri langsung.

“Ya–” Siwon hampir saja berteriak untuk memaki gadis itu. Tetapi ia segera teringat bahwa ia sedang berada di ruang makan bersama keluarga Yongri.

“Kau bisa pergi bersamaku naik motor, hyung.” Kata Yongjae menawarkan.

“Tidak, Yongjae-ya. Aku yang akan ikut bersamamu. Biarkan Siwon naik bis.” Ucap Yongri.

“Tidak, Yongjae-ya. Kau bisa pergi sendiri. Aku dan Yongri akan naik bis.” Bantah Siwon.

“Ya, begitu lebih baik. Aku sedikit khawatir jika Yongri naik motor bersama Yongjae.” Timpal Heeran.

“Cepatlah mandi! Aku tidak ingin terlambat.” Ujar Yongri. Siwon menatap gadis itu dengan geram.

“Aku ke atas dulu.” Pamit Siwon.

“Aku mau mengambil tas.” Kata Yongri.

Siwon merangkul Yongri dengan erat hingga membuat gadis itu kesulitan bernafas. Siwon sengaja melakukannya karena ia sudah merasa geram pada gadis itu dari tadi.

“Sejak kapan kau takut terlambat ke sekolah, huh?” Bisik Siwon.

“Sejak aku berangkat ke sekolah menggunakan bis karena dirimu.” Balas Yongri berbisik.

Siwon mendengus kasar. Ia mendorong kepala Yongri dari belakang dan langsung berlari kecil untuk naik ke atas.

“Ya!! Ini sebabnya aku menjadi tambah bodoh! Kau selalu mendorong kepalaku!!” Jerit Yongri kesal.

“Choi Yongri, pelankan suaramu!” Ujar Sangjoon.

“Kau selalu membela Siwon, appa! Apa kau tidak lihat dia mendorong kepalaku?!” Ucap Yongri kesal. Sangjoon hanya berdehem pelan dan segera bersiap untuk bekerja.

Yongri mendengus. Tentu saja Sangjoon tidak akan peduli. Ia selalu membenarkan apapun yang Siwon lakukan padanya. Membuat Yongri selalu bertanya siapakah anak kandung Sangjoon sebenarnya. Dirinya atau Siwon?

——

“Kau datang sendiri pagi ini..” Hani menyapa Sihoon saat laki-laki itu baru saja turun dari mobil.

Sihoon terlihat terkejut mendengar suara perempuan itu. Namun ia mencoba untuk menormalkan wajahnya. Sihoon melewati Hani begitu saja untuk menuju ke kelasnya. Hani tersenyum sinis seakan sudah bisa menebak bahwa Sihoon akan mengabaikannya.

“Apa kau ada waktu akhir minggu ini, Sihoon-ah?” Tanya Hani sembari mensejajarkan langkah lebar Sihoon.

“Aku sibuk dan selalu sibuk.” Jawab Sihoon singkat.

“Luangkan waktu beberapa jam saja untukku.” Pinta Hani. Sihoon melirik sinis dan tidak berniat menanggapi permintaan Hani.

“Aku ingin menonton sebuah konser, Sihoon-ah. Tetapi tidak ada yang bisa menemaniku dan menjagaku.” Kata Hani dengan nada manja.

Mereka sudah sampai di kelas dan Hani terus mengikuti Sihoon hingga laki-laki itu duduk di kursinya.

“Apa kau seorang bayi yang harus dijaga?” Sindir Sihoon.

“Jika aku seorang bayi, kau mau menjagaku?”

“Cih! Bermimpi saja.”

“Yah, kenapa kau selalu bersikap sinis padaku, Sihoon-ah?” Tanya Hani.

“Apa aku punya alasan untuk tidak bersikap sinis padamu?” Sihoon bertanya balik.

“Kau selalu bersikap baik pada Yongri. Kau selalu tersenyum manis padanya.” Ucap Hani tidak suka. Sihoon mengusap tengkuknya dan berusaha sabar.

“Apa kau berencana bersaing dengan kembaranmu sendiri untuk mendapatkan Yongri?” Tanya Hani. Sihoon menatap Hani tajam.

“Pertama, Yongri bukan barang yang harus didapatkan. Kedua, aku tidak berencana untuk bersaing dengan kembaranku sendiri. Dan ketiga, itu bukan urusanmu. Lebih baik kau tutup mulutmu itu sebelum–“

“Kau menutup mulutku dengan mulutmu?” Sambung Hani.

“YA!!” Teriak Sihoon marah. Siswa-siswi yang berada di kelas menatap mereka dengan penuh minat.

“Yah, tenanglah. Kau terlihat seperti seorang gadis yang sedang diganggu oleh laki-laki nakal.” Ejek Hani.

“Menjauhlah dariku selagi aku masih bersikap baik.” Desis Sihoon.

“Kau tidak pernah bersikap baik denganku.” Sela Hani.

“Dengar, aku menyukaimu. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu, Sihoon-ah. Aku akan menyingkirkan siapapun yang merebutmu dariku.” Ancam Hani.

“Jangan berani-berani mengancamku!” Ucap Sihoon.

“Aku bisa melakukan apapun yang aku mau.” Balas Hani dan segera meninggalkan Sihoon.

“Sialan! Siapa dia hingga berani mengancamku?!” Umpat Sihoon.

——

Resiko jika berangkat ke sekolah menggunakan bis, kalian harus rela bersedak-desakan. Bahkan rela untuk tidak mendapatkan tempat duduk dan berdiri sepanjang perjalanan. Seperti yang sedang dialami oleh Siwon dan Yongri saat ini.

“Ini akibatnya karena kau tidak mengambilkan kunci mobilku.” Bisik Siwon. Yongri mendelik tajam.

“Bukankah kemarin kau dengan senang hati naik bis? Aku hanya mengikuti keinginanmu.” Kata Yongri.

“Kemarin mungkin aku memang ingin naik bis. Tetapi tidak untuk hari ini, Choi Yongri.”

“Ck! Terserahlah dan tutup mulutmu itu. Aku sudah merasa sesak karena harus berdesak-desakan. Jangan menambah kekesalanku.”

Siwon mendengus dan menutup mulutnya seperti keinginan gadis itu. Tangannya sudah terasa pegal karena harus memegang pegangan di atas agar tidak terjatuh.

Mata Siwon memicing saat melihat dua laki-laki yang berseragam sekolah mendekati Yongri dan menempelkan diri mereka pada gadis itu. Seragam sekolah yang mereka gunakan berbeda dengan seragam sekolah yang dipakai oleh Siwon dan Yongri.

“Hai.” Sapa salah satu dari mereka kepada Yongri. Yongri mendongak untuk menatap mereka. Namun kemudian gadis itu mengalihkan pandangannya begitu saja.

“Sombong sekali. Kau dari SMA Hansang, kan?” Tanya yang satunya lagi.

“Kenapa bertanya jika sudah tau.” Gerutu Yongri.

“Bagaimana jika kita bertemu setelah kau pulang sekolah nanti?” Tanya laki-laki itu menawarkan.

“Yah, kami berbicara denganmu.” Ucap temannya.

“Wah, kau benar-benar sombong. Hanya karena wajahmu cantik, kau pikir bisa bersikap sombong?” Laki-laki itu mulai terlihat kesal.

“Ya!” Laki-laki itu menarik lengan Yongri.

Yongri menepis tangan laki-laki itu dan bersiap untuk melayangkan tinjunya. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat laki-laki itu segera mengelak. Yongri menatapnya tajam.

“Jangan mengangguku!” Perintah Yongri.

“Kau pikir aku takut?” Laki-laki itu kembali mendekati Yongri namun Siwon langsung menendang perutnya.

Laki-laki itu bertabrakan dengan orang-orang yang lain sebelum akhirnya terjatuh di dalam bis. Yongri terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Siwon.

“Dia berkata untuk tidak mengganggunya. Apa kau tuli?” Ucap Siwon kesal.

Laki-laki itu menatap Siwon dengan marah namun tidak bisa berdiri karena merasa perutnya sakit. Sedangkan temannya tidak bisa berbuat apa-apa karena takut Siwon memukulnya juga.

“Kita turun.” Kata Siwon sembari menarik tangan Yongri.

Menerobos kumpulan orang-orang yang berdiri dan meminta supir bis untuk menghentikan bisnya. Untung saja bis yang mereka naiki sudah mendekati sekolah mereka.

“Yah, ternyata kau bisa juga menggunakan kekerasan.” Ucap Yongri dengan takjub. Ia tidak pernah melihat Siwon berkelahi selama ini.

“Kau masih bisa berbicara seperti itu? Apa kau tidak tau bahwa mereka mencoba melecehkanmu?” Geram Siwon.

“Aku tau. Aku sudah berniat memukulnya, tetapi kau lebih dulu menendangnya. Terima kasih, Choi Siwon.”

“Cih! Ini akibatnya karena kau tidak mengambilkan kunci mobilku.” Kata Siwon. Yongri menghela nafas kasar.

“Apa kau tidak bosan berkata seperti itu terus? Aku yang mendengarnya saja bosan.” Ujar Yongri.

“Sepuluh menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Jika kau ingin terlambat, teruslah marah-marah disini.” Kata Yongri dan segera berjalan meninggalkan Siwon.

Siwon mencibir dan berlari kecil melewati Yongri. Tidak lupa dengan mendorong kepala gadis itu dan membuat Yongri benar-benar merasa kesal.

“Si brengsek itu..” Gerutunya.

Namun kemudian Yongri tersenyum. Setidaknya Siwon–nya telah kembali. Siwon tidak lagi bersikap cuek padanya. Dan Yongri telah mengetahui masalah apa yang sedang dihadapi oleh Siwon. Yongri mungkin memang takut jika Siwon mengacuhkannya, namun Yongri lebih takut jika Siwon tidak mau menceritakan masalahnya pada gadis itu.

Karena menurut Yongri, mereka dapat bersahabat karena mereka selalu berbagi cerita. Mereka tidak pernah menutupi apapun sehingga keduanya merasa sangat nyaman. Karena itu jika Siwon mencoba menutupi sesuatu dari Yongri, Yongri merasa takut. Ia takut jika persahabatan mereka tidak akan berjalan seperti yang selama ini.

“Choi Siwon, tunggu aku!” Yongri berlari menyusul Siwon.

Siwon dan Yongri sampai di sekolah diiringi dengan candaan ringan. Saling mengejek bahkan memukul pun dilakukan oleh mereka. Tidak memperdulikan tatapan para perempuan yang terlihat iri pada Yongri.

Mereka iri karena Yongri bisa begitu dekat dengan Siwon. Seseorang yang sangat mereka idolakan karena ketampanan, kecerdasan, serta kehebatannya dalam bermain basket. Tentu saja mereka sangat ingin berada di posisi Yongri.

“Perempuan-perempuan di sana terlihat ingin memakanku.” Kata Yongri dengan geli.

“Tidak mungkin. Kau tidak ada daging sama sekali.” Sahut Siwon. Yongri mendelik tajam padanya.

“Saat menggendongku, kau bilang aku berat. Dan sekarang kau mau bilang bahwa aku tidak ada daging?” Ucap Yongri tak percaya.

“Siwon-ah..” Sihoon yang melihat kedatangan Siwon langsung menghampirinya.

Siwon terlihat salah tingkah dan bingung harus berbuat apa. Ia yakin Sihoon akan membahas kejadian semalam. Dan sejujurnya Siwon sedang ingin melupakannya untuk sebentar saja. Ia ingin menghabiskan waktunya bersama Yongri dengan bersenang-senang.

“Aku akan meninggalkan kalian. Kalian bicaralah dan jangan bertengkar.” Pesan Yongri. Ia menepuk bahu Siwon sebelum akhirnya meninggalkan kedua laki-laki itu ke kelasnya.

“Eomma sakit.” Kata Sihoon.

“Apa?!” Siwon terlihat sangat terkejut.

“Tidak parah. Kepalanya sakit dan dia tidak bisa ke restaurant hari ini.” Jelas Sihoon sembari tersenyum kecil. Siwon terlihat merasa bersalah.

“Apa kau benar-benar menganggap eomma mengusirmu, Siwon-ah?” Tanya Sihoon. Siwon mengalihkan pandangannya dan terdiam.

“Kau jelas tau bukan itu maksud eomma, kan? Eomma hanya ingin kau merasakan bagaimana jika tinggal bersama appa.”

“Apa yang kau rasakan? Bukankah kau bilang bahwa appa tidak pernah memperdulikanmu? Bukankah kau seharusnya menjelaskan hal itu pada eomma, Sihoon-ah? Apa kau juga ingin aku ditelantarkan oleh appa?” Tanya Siwon.

“Eomma tidak tau apapun, Siwon-ah. Aku tidak pernah mengatakannya pada eomma bahwa appa tidak pernah memperdulikanku. Karena itu eomma menyuruhmu tinggal di Amerika.” Jawab Sihoon.

“Jika dia tidak mau memperdulikan anaknya, untuk apa dia meminta eomma agar salah satu dari kita tinggal bersamanya?” Dengus Siwon.

“Kita adalah seorang laki-laki, Siwon-ah. Bagaimana pun anak laki-laki selalu menjadi kebanggaan seorang ayah. Walaupun appa tidak pernah memperdulikan kita, dia tetap menyayangi kita.” Kata Sihoon. Siwon menatap Sihoon dengan tidak suka.

“Jangan salah paham. Aku tidak bermaksud untuk mengusirmu. Dan tentang ucapanku waktu itu, aku mohon kau melupakannya. Aku benar-benar tidak berniat menjauhkanmu dengan Yongri.” Ucap Sihoon. Siwon menghela nafas panjang.

“Jangan seperti ini, Siwon-ah. Sikapmu melukai hati eomma. Jika eomma memang berniat mengusirmu, ia tidak mungkin sampai sakit karena memikirkanmu.”

“Aku harap saat pulang sekolah nanti, kau pulang ke rumah dan menemui eomma.” Kata Sihoon sembari tersenyum.

“Aku ke kelas dulu.” Pamit Sihoon.

“Sebentar.” Cegah Siwon.

Sihoon kembali berbalik dan menatap Siwon. Siwon membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari sana. Setelahnya ia memberikannya pada Sihoon. Dengan bingung, Sihoon menerima dan membacanya.

“Tiket konser Super Junior?”

“Yongri sangat ingin menontonnya. Pergilah bersamanya.” Kata Siwon.

“Siwon-ah..”

“Aku juga bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa aku akan membantumu.” Ucap Siwon.

“Aku akan membantumu, tetapi aku tidak bisa menjauhinya, Sihoon-ah. Maafkan aku. Tetapi ketahuilah bahwa Yongri tidak menyukaiku. Begitu pun..begitu pun s–sebaliknya.” Siwon terlihat ragu saat mengucapkan kalimat terakhir.

“Sebenarnya dia mengajakku untuk menonton konser ini bersama. Tetapi katakan saja bahwa aku sibuk latihan basket.” Jelas Siwon.

“Jika kau sibuk latihan basket, bukankah begitu juga dengan diriku?” Tanya Sihoon. Siwon tersenyum.

“Katakan saja padanya bahwa pemain cadangan tidak harus berlatih dengan keras.” Jawab Siwon.

“Pokoknya, pergilah bersamanya dan buatlah dia semakin merasa nyaman denganmu. Dan jangan lupa menjaganya.” Ujar Siwon.

“Masuklah ke kelasmu.” Siwon menepuk lengan Sihoon dan berjalan menuju ke kelasnya.

Siwon menghela nafas panjang dan meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya benar. Ia tidak ingin bertengkar dengan Sihoon hanya karena seorang perempuan. Menurutnya itu sangat kekanakkan dan bukan sifatnya.

Siwon menghampiri mejanya dan duduk dikursinya. Ia menyadari tatapan ingin tau Yongri yang sedang ditujukan padanya saat ini. Namun Siwon mencoba mengabaikannya dan membiarkan gadis itu penasaran. Bukankah menyenangkan membuat gadis itu penasaran?

“Kalian tidak bertengkar, kan?” Tanya Yongri.

“Tentu saja tidak.” Jawab Siwon langsung.

“Kau akan menemui eommonim pulang nanti, kan?” Tanya Yongri lagi. Siwon menatap gadis itu dan mendengus kasar.

“Kenapa kau cerewet sekali?” Ejek Siwon.

“Ya!” Yongri melayangkan tangannya namun Siwon dengan cepat menangkapnya.

“Jangan memukul kepalaku. Nanti aku bertambah bodoh.” Sindir Siwon sembari tertawa geli.

“Kalian sudah berbaikan?” Tanya Kyuhyun dari belakang. Keduanya segera menoleh ke belakang.

“Berbaikan? Memangnya kami kenapa?” Siwon terlihat bingung.

“Yongri bilang–mmppphhhh–” Kyuhyun tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Yongri membekap mulutnya dengan tangan gadis itu sendiri.

“Yongri bilang apa? Yah, kenapa kau menutup mulutnya?” Siwon berusaha menjauhkan tangan Yongri. Namun Yongri tidak membiarkannya.

“Tidak perlu dipikirkan. Kau tau bahwa Kyuhyun selalu berbicara tidak penting, kan?” Kata Yongri sembari menyengir. Siwon memiringkan kepalanya.

“Guru Lee datang.” Ucap Yongri membuat Siwon segera menghadap ke depan. Gadis itu tidak berbohong.

Yongri melepaskan tangannya dan menatap Kyuhyun dengan tatapan kesal. Begitu pun dengan Kyuhyun. Laki-laki itu mengusap mulutnya dengan kasar. Yongri memberikan gerakan memotong leher pada Kyuhyun dan kemudian segera menghadap ke depan. Sedangkan Kyuhyun hanya bisa mendengus kasar dan menutup mulutnya.

——

Siwon dan Sihoon sampai di rumah sore itu, setelah mereka latihan basket. Ketika Sihoon sudah masuk ke rumah dengan santainya, Siwon justru terlihat ragu. Tiba-tiba ia takut kembali membuat Eunhee menangis seperti semalam.

“Kau kenapa?” Tanya Sihoon. Siwon menggeleng.

“Temuilah eomma, Siwon-ah. Eomma pasti sudah menunggumu.”

“Aku mengerti.” Kata Siwon. Sihoon mengangguk dan segera naik ke atas untuk ke kamarnya.

Siwon menghela nafas dan segera menuju ke kamar Eunhee. Mengetuk pintunya terlebih dahulu, sebelum akhirnya membukanya. Siwon menemukan Eunhee yang sedang bersandar di kepala tempat tidur. Dan sekarang terlihat senang dengan kehadiran Siwon.

Siwon masuk ke dalam kamar Eunhee dan menutup pintunya. Dengan langkah ragu-ragu ia mendekati Eunhee. Siwon berdiri di samping tempat tidur dengan canggung. Kepalanya terus menunduk hingga Eunhee tidak bisa melihat wajahnya. Namun beberapa saat kemudian Siwon menatap Eunhee.

“Eomma sakit?” Tanyanya khawatir.

“Hanya pusing.” Jawab Eunhee dengan tersenyum.

“Duduklah.” Eunhee menepuk tepi tempat tidur. Siwon menuruti Eunhee dan segera duduk.

“Kau masih marah pada eomma?” Tanya Eunhee. Siwon menggeleng.

“Maafkan eomma, Siwon-ah.” Sesal Eunhee.

“Tidak, eomma. Aku yang salah.” Bantah Siwon.

“Tetapi jangan memaksaku untuk tinggal bersama appa, eomma.” Kata Siwon cepat.

“Aku mohon.” Pintanya.

“Eomma mengerti. Eomma tidak akan memintamu tinggal bersama ayahmu.” Balas Eunhee sembari memeluk Siwon.

“Sihoon tinggal bersama appa dari kecil, tetapi appa tidak pernah memperdulikannya. Eomma bisa bayangkan jika aku yang tinggal bersama appa.” Kata Siwon.

“Eomma sudah bersusah payah merawatku sembari bekerja. Aku menjadi pintar karena eomma yang mengajariku dari kecil. Aku tidak ingin appa menikmati hasil kerja kerasmu, eomma.” Lanjut Siwon.

“Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Dia tetap ayahmu, sayang. Ayah kandungmu. Dia berhak atas dirimu.” Ujar Eunhee menasehati. Siwon hanya diam saja.

“Jika kau memang tidak mau tinggal bersamanya, bisakah kau menghubunginya dan mengatakannya sendiri pada ayahmu?” Pinta Eunhee. Siwon melepaskan pelukan Eunhee.

“Kenapa aku harus melakukannya?” Tanya Siwon.

“Eomma tidak ingin memutuskan hubungan seorang anak dan ayahnya.” Jawab Eunhee.

“Hubungi ayahmu dan katakan bahwa kau akan baik-baik saja tinggal bersama eomma dan Sihoon disini.” Suruh Eunhee. Siwon menghela nafas panjang.

“Aku akan menghubunginya. Tetapi tidak untuk sekarang.” Ucap Siwon. Eunhee mengangguk dan kemudian tersenyum.

“Berjanjilah untuk tidak pergi dari rumah ketika sedang ada masalah, Siwon-ah. Eomma sangat khawatir.”

“Aku hanya pergi ke rumah Yongri, eomma.”

“Walaupun begitu kau tetap membuat eomma khawatir.” Omel Eunhee. Siwon tersenyum.

“Aku mengerti dan aku minta maaf, eomma. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Janji Siwon dan kembali memeluk Eunhee.

——

Yongri membuka lemari pakaiannya dan mengambil kaos serta celana jeans. Pakaian yang sangat nyaman dipakai jika kau hendak menonton konser. Tidak lupa Yongri menambahkan sebuah cardigan hitam untuk menyempurnakan penampilannya.

Menatap cermin, Yongri menguncir rambutnya menjadi satu ke belakang. Baiklah, Yongri sangat menyukai penampilannya yang seperti ini. Mengambil tas selempangnya, Yongri segera meninggalkan kamarnya. Siwon mungkin sudah menunggunya di luar.

Setelah berpamitan dengan Heeran, Yongri langsung keluar dari rumah. Ia menuju ke rumah Siwon namun harus dikejutkan dengan kehadiran Sihoon yang sedang bersandar pada mobil Siwon. Penampilan laki-laki itu terlihat santai, sama seperti dirinya.

“Sedang apa kau di luar, Sihoon-ah?” Tanya Yongri. Sihoon menoleh dan tersenyum.

“Menunggumu.” Jawab Sihoon.

“Menungguku? Ada apa? Tetapi aku harus pergi bersama Siwon.” Kata Yongri sembari mendekati laki-laki itu.

Sihoon mengeluarkan tiket konser dari saku celananya dan menunjukkannya pada Yongri. Yongri terlihat terkejut dan juga bingung.

“Kenapa kau–“

“Siwon sedang sibuk. Dan ia memintaku menemanimu menonton konser Super Junior.” Jelas Sihoon.

“Sibuk apa? Dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku.”

“Latihan basket. Kau tau ‘kan mereka akan melakukan pertandingan besar. Karena aku hanya pemain cadangan, Siwon tidak terlalu memberatkan latihanku.” Kata Sihoon.

Yongri berdecak pelan dan terlihat sangat kesal. Siwon tidak mengatakan apapun dan membuat keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu padanya. Yongri sudah katakan padanya bahwa ia lebih merasa nyaman saat menonton bersama Siwon. Tetapi Siwon malah membiarkan dirinya menonton bersama Sihoon.

“Yongri-ya?” Panggil Sihoon.

“Kenapa? Kau kecewa? Tidak jadi menonton?” Tanya Sihoon mencoba untuk menutupi rasa kecewanya saat melihat wajah kesal Yongri.

“Tidak. Kenapa aku harus kecewa? Dan kenapa pula aku harus membatalkannya hanya karena Siwon?” Kata Yongri yang juga berusaha menutupi rasa kesalnya.

“Ayo, kita pergi sekarang. Aku tidak mau terlambat.” Yongri masuk ke dalam mobil lebih dulu. Sihoon mengangkat kedua bahunya dan kemudian ikut menyusul gadis itu.

Mereka tidak menyadari bahwa Siwon melihat mereka dari jendela kamar laki-laki itu. Awalnya, Siwon ingin melihat bagaimana reaksi Yongri saat Siwon tidak menepati janjinya. Ia pikir gadis itu akan marah dan memilih untuk melewatkan konser yang sangat disukainya itu.

Namun nyatanya Siwon salah besar. Gadis itu terlihat biasa saja dan tidak mempermasalahkan dirinya pergi bersama siapa. Siwon jadi meragukan ucapan gadis itu saat dia bilang bahwa Siwon lebih membuatnya nyaman, daripada Sihoon.

——

Walaupun bukan Siwon yang berada di dekatnya, Yongri mencoba untuk menonton konser dengan nyaman. Lagipula Sihoon juga menjaganya dengan baik. Jika ada penonton yang bergerak berlebihan, Sihoon segera menarik gadis itu mendekat padanya.

Setidaknya Siwon dan Sihoon memiliki kesamaan dalam hal menjaganya. Berbeda dengan Siwon yang selalu tampak bosan saat menemaninya menonton konser, Sihoon tampak lebih santai dan berbaur dengan suasana.

Kepala laki-laki itu juga beberapa kali bergerak menyesuaikan musik. Ia tidak terlihat malu saat disekelilingnya adalah penonton perempuan. Sihoon bersikap layaknya seorang penggemar, sama seperti Yongri. Dan Yongri sangat menyukai itu. Ia merasa mendapatkan seorang teman baru yang sama-sama seorang penggemar Super Junior.

Yongri merasa sangat senang hingga konser berakhir. Walaupun tubuhnya berkeringat, ia merasa sangat bahagia setelah bertemu dengan pangeran-pangeran tampannya. Yongri menatap Sihoon dan keduanya tersenyum bersama.

“Pulang sekarang?” Tanya Sihoon.

“Bagaimana jika makan malam dulu? Aku lapar.” Jawab Yongri.

“Baiklah, kita makan malam dulu.” Kata Sihoon.

“Tetapi aku harus ke kamar mandi dahulu.” Ucap Yongri. Sihoon mengangguk.

Keduanya melangkah bersama untuk meninggalkan hall tempat diadakannya konser. Tidak menyadari bahwa Hani terus menatap mereka dari tempat penonton di atas mereka. Konser inilah yang ingin Hani datangi bersama Sihoon. Namun Hani tidak menyangka jika Sihoon lebih memilih pergi bersama Yongri.

“Perempuan sialan.” Maki Hani.

Hani mengikuti mereka keluar dari Hall. Ia merasa harus memberikan pelajaran pada Yongri. Lagipula Sihoon mengabaikan ancamannya saat itu. Ia sudah katakan jika tidak boleh ada yang menghalangi dirinya.

Saat melihat Yongri memasuki kamar mandi, Hani mengikutinya sembari menurunkan topi yang sedang dipakainya. Ia tidak ingin Sihoon menyadari keberadaannya. Hani melihat Yongri memasuki salah satu bilik dan gadis itu menunggu di depannya. Ia tidak memperdulikan keadaan kamar mandi yang cukup ramai.

Setelah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi, Yongri segera keluar. Ia menemukan seorang perempuan didepannya yang Yongri pikir sedang mengantri untuk ke kamar mandi. Yongri tidak menyadari bahwa perempuan di depannya itu adalah Hani, hingga gadis itu berjalan melewatinya begitu saja.

“Choi Yongri..” Panggil Hani.

Merasa terpanggil, Yongri segera menoleh. Belum sempat gadis itu melihat siapa yang memanggilnya, Hani sudah lebih dulu mendorong Yongri hingga ia terjungkal ke belakang. Pantat serta kedua siku tangannya membentur lantai dengan keras.

Yongri benar-benar merasa terkejut. Tubuhnya juga terasa sakit karena terjatuh. Yongri segera mendongak untuk melihat si brengsek siapa yang sudah dengan gila mendorongnya tanpa alasan. Hani membuka topinya dan membiarkan Yongri melihat dirinya.

“Kau–“

“Menjauh dari Sihoon!”

“Apa?” Yongri benar-benar tidak mengerti.

“Menjauh dari Sihoon atau aku akan berbuat yang lebih parah dari ini.” Ancam Hani.

Yongri menunjukkan wajah bodohnya sebelum akhirnya tertawa sinis dan segera berdiri. Ia menatap luka di siku tangannya. Kemudian mencengkram kaos Hani dan menarik gadis itu mendekat padanya. Hani terlihat terkejut begitu pun dengan perempuan lain yang berada di kamar mandi.

“Dari awal aku bertemu denganmu, aku sudah merasa ada yang aneh denganmu. Ternyata kau perempuan gila yang mengharapkan cinta seseorang yang tidak menyukaimu.” Ucap Yongri.

“Apa kau bilang? Perempuan gila?!” Hani terlihat marah.

Hani melayangkan tangannya dan hendak menampar Yongri. Namun Yongri dengan cepat menangkap tangan Hani dan memelintirnya. Hingga membuat Hani merasa kesakitan. Perempuan-perempuan yang berada di sana terlihat takjub dengan apa yang dilakukan Yongri.

“Kau tidak mengenalku dengan baik, Hani-ya. Aku bukan perempuan yang akan merasa takut jika mendapat ancaman dari gadis sepertimu. Dan aku bukan perempuan yang bisa kau suruh-suruh seperti pembantumu. Aku akan melakukan apa yang aku suka dan tidak melakukan apa yang tidak aku suka. Jadi, jangan bermimpi bahwa aku akan menuruti keinginanmu.” Kata Yongri sembari mendorong Hani hingga membentur pintu kamar mandi.

“Kenali aku sebelum kau berusaha mengancamku.” Pesan Yongri dan segera meninggalkan kamar mandi.

“Sialan! Choi Yongri sialan!!” Maki Hani marah.

“Apa yang kalian lihat?!” Bentaknya pada yang lain.

Ia benar-benar semakin bertambah benci pada Yongri. Gadis itu sudah membuat dirinya merasa malu dihadapan orang lain. Dan Hani merasa kesal karena Yongri bukanlah gadis penakut dan manja seperti yang dipikirkannya. Namun Hani tetap tidak akan menyerah begitu saja.

“Tunggu pembalasanku, Choi Yongri.”

——

Yongri keluar dari kamar mandi dan mencoba melunakkan wajahnya yang masih terlihat marah akibat perlakuan Hani. Ia menghela nafas panjang dan menghampiri Sihoon yang menunggunya di depan sana.

“Sihoon-ah..” Panggil Yongri sembari memaksakan senyumnya. Sihoon menoleh dan ikut tersenyum.

“Sudah selesai?” Tanya Sihoon dan Yongri mengangguk.

“Kau ingin makan malam dimana?”

“Restauran eommonim saja.”

“Baiklah, ayo.” Ajak Sihoon. Yongri kembali mengangguk dan berjalan lebih dulu.

Sihoon yang berjalan di belakang Yongri terlihat terkejut saat melihat siku gadis itu terluka. Celana bagian belakang gadis itu pun terlihat kotor. Sihoon mempercepat langkahnya dan menarik tangan Yongri.

“Kau terluka?” Tanya Sihoon.

“Luka kecil.” Jawab Yongri sambil lalu.

“Kecil darimana? Sikumu berdarah.” Kata Sihoon.

“Kau tidak mengenalku, ya? Aku tidak akan merengek hanya karena luka seperti ini.” Ucap Yongri sembari tersenyum geli.

“Bagaimana bisa kau mendapat luka itu? Apa ada yang menganggumu?”

“Tidak ada. Aku hanya terjatuh saat di kamar mandi.” Bohong Yongri.

“Kau serius? Aku akan membalasnya untukmu jika kau benar-benar diserang oleh seseorang.” Ucap Sihoon.

“Tidak, Sihoon-ah. Sungguh.” Yongri mencoba meyakinkan Sihoon. Ia tidak ingin membuat keributan.

“Jangan dipikirkan, eo? Aku tidak apa-apa.” Kata Yongri saat melihat wajah Sihoon yang terlihat merasa bersalah.

“Apa kau pernah terluka saat pergi bersama Siwon?” Tanya Sihoon.

“Kenapa bertanya seperti itu?” Tanya Yongri bingung.

“Aku ingin tau.” Jawab Sihoon dengan wajah datar. Yongri terlihat berpikir sebentar.

“Sepertinya tidak.” Ucapnya kemudian. Sihoon tersenyum miris hingga membuat Yongri menatapnya dengan bingung.

“Kenapa aku tidak pernah bisa menang dari Siwon?” Tanya Sihoon kepada dirinya sendiri.

“Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Aku tidak bisa menjagamu dengan lebih baik.”

“Yah, aku sudah bilang aku tidak apa-apa. Aku terjatuh dan itu bukan salahmu. Jangan berlebihan, Sihoon-ah.” Kata Yongri sembari tersenyum canggung. Ia merasa situasinya menjadi benar-benar aneh.

“Tetap saja aku kalah dari Siwon!” Sihoon tiba-tiba meninggikan suaranya.

Sihoon selalu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak boleh merasa iri ataupun kesal pada Siwon. Tetapi sepertinya Sihoon tidak pernah bisa melakukannya. Jika sudah berhubungan dengan Yongri, Sihoon selalu merasa iri dan kesal pada Siwon.

“Yah, kenapa kau seperti ini?” Yongri mulai merasa tidak nyaman.

Sihoon mendekati Yongri dan memegang kedua lengan gadis itu dengan erat. Yongri mendongak dan menatap Sihoon dengan terkejut.

“Bisakah kau membantuku, Yongri-ya?” Tanya Sihoon.

“Katakan padaku..katakan padaku bahwa aku lebih baik daripada Siwon.” Pinta Sihoon membuat kedua mata Yongri melebar.

Kumohon, Yongri-ya. Agar aku tidak membenci saudaraku sendiri.‘ Lanjut Sihoon dalam hati.

——

–To Be Continued–

Hai! Terima kasih ya untuk semua dukungan kalian di FF ini, dan dukungan kalian untuk aku. Aku bener-bener merasa terharu melihat dukungan kalian. Aku janji ke depannya bakal buat karya yang lebih baik. Sehingga kalian semakin betah berkunjung ke blog aku. Thank you very much^^

Happy reading!

Bye~

Advertisements

65 thoughts on “Love in Friendship – Part 5

  1. ada diposisi siwon tuh berat bgt udah nyaman malah lebih tiba2 saudara kandung kita secara ga langsung nyuruh kita buat ngejauh aku pernah diposisi itu maka dari itu aku baca part ini sampe ngeluarin air mata :’D

  2. Aduh jd kasian Siwon & kasian Sihoon juga,,
    mereka pasti mrsa serba salah, kasian, mngkin merka adalah anak” hasil akibat dr orang tua yg bercerai…

  3. Yhhh sihoon jgn gtu donk…ms yongri di suruh ngomong gt…mmmm q harap yongri bisa bls perbuatannya hani….awak suka bgt waktu yongri g ngebiarin hani berlaku smena mena m yongri^^

  4. Sihoon aggressive yaa xD seandainya siwon juga begitu xD kalo emg ada perasaan harusnya siwon ama sihoon bersaing secara lelaki donggg~~
    Asshhh kenapa lagi itu si hani -_- minta dihajar siaaaa -_-

    Disini alurnya makin seru nih eon xD makin semangat nulis yaaa

  5. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

  6. ahhh egois sihoon mulai muncul nih
    ohh astaga nenek sihir hani mulai berulah
    baru anak pindahan udah menjengkelkan tau yongri aja belum bisa bisa mengancam hingga melukai, rasain itu sakitnya dan dipermalukan di depan umum
    hahh siwon enggk akan prgi keluar negerikan? jng tinggalin yongri

  7. Siwon oppa kau kenapa.!? Please rasain dong perasaannya, saya tahu won pa bisa tahu itu.!? Jangan nyerah gitu dong masa iya yongri mau direlain gitu aja sama sihoon.!! Tetep semangat nulisnya eonnie, ff uni tetap juara.!:-) Hwaiting.!

  8. Sepertinya yongri jg suka sama siwon. . Hanya belum nyadar saja, mngkin krna sdh terbiasa dg perhatian dr siwon . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s