Painful Life – Part 11

IMG_20160624_103143

Author

Choineke

Title

Painful Life

Cast

Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Cho Kyuhyun and others

Genre

Sad Romance, Marriage-life

Length

Chapter

Rating

PG-17

WARNING!!! Ada sedikit adegan kekerasan di tengah-tengah cerita!

——

Anak sial? Tidak ada hal seperti itu di dunia ini. Jika kau mengalami kegagalan, itu adalah kesalahan dirimu sendiri. Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan. –Choi Siwon (kecil)-

——

Author POV

Kehidupan pernikahan Kiho dan Bong Ok tentu saja tidak berjalan lancar seperti dugaan mereka. Selalu ada masalah yang terjadi dan disebabkan oleh orangtua Kiho. Namun Kiho dan Bong Ok melewatinya dengan sisa-sisa kesabaran mereka. Keduanya seolah terus percaya bahwa cinta mereka semakin kuat dengan adanya masalah yang menimpa. Dan perjuangan mereka membuahkan hasil saat Bong Ok dinyatakan hamil oleh dokter keluarga Kiho. Usia kandungan Bong Ok adalah 4 minggu. Kiho terlihat sangat senang sekali. Ia memang menginginkan anak yang banyak dari pernikahannya dengan Bong Ok. Berbeda dengan Kiho yang terlihat senang, orangtua Kiho justru bertambah semakin khawatir dengan kehamilan Bong Ok. Mereka merasa anak di dalam kandungan Bong Ok akan membuat cinta Kiho dan Bong Ok semakin kuat. Dan membuat mereka tidak bisa memisahkan kedua orang itu.

“Terima kasih, sayang.” Ujar Kiho yang sedang menggenggam tangan Bong Ok. Wanita itu berbaring di atas tempat tidur mereka, sehabis diperiksa. Kedua orangtua Kiho langsung meninggalkan kamar Kiho dan tampak tidak tertarik sama sekali dengan keharuan sepasang suami istri tersebut.

“Kau tidak perlu berterima kasih, oppa. Dia anakku juga.” Balas Bong Ok.

“Tidak. Selain berterima kasih karena kau sudah hamil, aku berterima kasih karena kau mau bertahan di rumah ini.” Kata Kiho. Bong Ok tersenyum dan membalas genggaman tangan Kiho.

“Karena kita sudah berjanji untuk melewatinya bersama, oppa. Karena aku mencintaimu.” Ucap Bong Ok. Kiho ikut tersenyum dan mengecup punggung tangan Bong Ok.

“Aku harap dengan kehadiran anak ini, orangtuaku akan mulai luluh.” Nada suara Kiho terdengar penuh harapan.

“Yah, oppa. Kenapa wajahmu seperti itu, bukankah kita sedang bahagia?”

“Ah, ya. Maafkan aku, sayang. Sekarang kau istirahatlah. Aku harus kembali ke kantor untuk bekerja.”

“Ya, oppa. Pergilah. Aku akan beristirahat.”

——

“Ada apa ini?” Kiho yang baru pulang bekerja tampak bingung saat melihat keadaan ruang tamu yang cukup ramai. Ibunya, Bong Ok, beberapa pelayan serta seorang wanita tua yang tidak di kenal oleh Kiho. Ia mengalihkan pandangannya pada Bong Ok yang tampak menundukkan kepalanya, seperti orang yang ketakutan. Melihat itu, Kiho segera menghampirinya dan berdiri di samping Bong Ok.

“Ada apa ini, eommoni?” Tanya Kiho. Suaranya terdengar tidak suka.

“Dan kenapa kalian semua berkumpul disini?” Kiho menatap pelayan rumah dengan kesal. Mereka tampak menikmati sosok Bong Ok yang sedang terintimidasi oleh ibunya.

“Tidak ingin kembali bekerja?!” Gertak Kiho. Pelayan-pelayan tersebut segera membungkuk hormat dan meninggalkan ruang tamu. Kiho kembali menatap Bong Ok dan berjongkok disampingnya.

“Apa yang terjadi, Bong Ok-ah?” Tanya Kiho.

“Apa kau suaminya?” Wanita yang tidak dikenal oleh Kiho, bertanya pada pria itu. Kiho menoleh dan menatap wanita itu dengan kening yang berkerut.

“Ya. Aku suaminya.” Jawab Kiho.

“Kenapa?” Tanyanya kemudian.

“Auramu positif sekali.” Ujar wanita itu. Kening Kiho semakin berkerut mendengar ucapan wanita itu.

“Dia adalah Peramal Oh, Kiho-ya.” Kata ibu Kiho, membuat Kiho menatapnya.

“Lalu?” Kiho tampak tidak tertarik.

“Aku sengaja memanggilnya untuk meramalkan kandungan istrimu.” Kata Ibu Kiho. Kiho kembali menatap Bong Ok. Dan wajah Bong Ok terlihat cemas. Kiho mengerti, pasti peramal tersebut sudah mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai kandungan Bong Ok.

“Ayo, berdiri.” Ajak Kiho. Pria itu menggenggam pergelangan tangan Bong Ok.

“Istriku tidak membutuhkan peramal. Dia membutuhkan dokter untuk persalinannya nanti, jika kalian tidak tau.” Kata Kiho ketus. Ia menarik Bong Ok untuk meninggalkan ruang tamu. Namun suara peramal wanita di sana membuat langkah Kiho terhenti.

“Aura istrimu sangat negatif. Dan anak yang di dalam kandungannya akan mengikuti aura ibunya.” Kiho membalikkan badannya dan menatap wanita itu dengan tajam.

“Kau yang memancarkan aura negatif pada rumah kami!” Balas Kiho. Wanita itu tampak tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Kiho. Ia menarik salah satu sudut bibirnya hingga terlihat sedang tersenyum sinis.

“Anak di dalam kandungan istrimu, akan menjadi pembawa sial untukmu. Untuk pekerjaanmu dan orang-orang di sekitarmu.” Kata wanita itu.

“Tutup mulutmu!” Kiho terlihat benar-benar marah mendengar ucapan wanita itu. Sedangkan Bong Ok yang berada di samping Kiho sudah menangis. Ia merasa sedih karena anak yang berada di dalam kandungannya dihina seperti itu. Padahal anaknya tersebut belum melihat matahari dan usia kandungannya masih seumur jagung. Ia yakin perkataan yang diucapkan oleh wanita itu tidak lepas dari pengaruh ibu Kiho. Bong Ok hanya tidak menyangka mereka terlalu tega melakukan ini.

“Hanya orang bodoh yang mempercayai ucapanmu. Ah, apa kau sudah dibayar oleh ibuku?” Kiho mengalihkan pandangannya dan menatap ibunya dengan marah.

“Perhatikan ucapanmu, Choi Kiho!” Ibu Kiho tampak tidak terima dituduh oleh anaknya sendiri.

“Aku akan memperhatikan ucapanku jika kau tidak berbuat seperti ini, eommoni! Bong Ok adalah istriku, dan anak di dalam kandungannya adalah anakku! Cucumu! Bagaimana bisa kau berbuat seperti ini?!” Bentak Kiho.

“Aku tidak pernah menganggapnya cucuku!” Sahut ibu Kiho.

“Kalau begitu jangan pernah berbuat yang tidak-tidak pada sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu!” Balas Kiho membuat ibunya terdiam.

“Dan kau!” Kiho menatap peramal wanita yang masih setia duduk di samping ibunya.

“Jika kau berani mengatakan yang tidak-tidak tentang istri dan anakku, aku akan merobek mulutmu!” Ancam Kiho.

“Saat anakmu lahir nanti, kau akan kehilangan orang-orang yang berharga di dalam hidupmu!” Seakan tidak takut dengan ancaman Kiho, peramal wanita itu terus mengeluarkan ramalan-ramalannya tentang bayi di dalam kandungan Bong Ok. Mendengar itu, Kiho menjadi semakin marah.

“KAU-“

“Oppa, hentikan.” Bong Ok menahan Kiho yang hendak menghampiri peramal wanita tersebut. Bong Ok tidak ingin ada keributan di rumah itu.

“Jika kau tidak percaya dengan ucapannya, kau tidak perlu marah.” Kata Bong Ok. Kiho menatap Bong Ok dan menyetujui ucapan wanita itu. Kiho seharusnya menganggap ucapan peramal itu sebagai angin lalu.

“Ya, kau benar. Aku tidak percaya pada ucapannya.” Sahut Kiho. Ia melayangkan tatapan tajamnya pada sang peramal dan ibunya, sebelum mengajak Bong Ok untuk menuju ke kamar mereka.

——

Sembilan bulan berlalu dengan begitu cepat. Bong Ok merasa beruntung karena ia dapat melewati masa-masa kehamilannya–yang tidak bisa dibilang mudah–dengan baik. Bong Ok tidak menyangka jika dia memiliki tubuh yang kuat dan mampu melawan semua masa-masa rentan dalam kehamilannya. Hingga akhirnya ia berada di ruang bersalin dengan ditemani oleh Kiho disampingnya. Kiho terus menggenggam tangan Bong Ok dan menyemangati wanita itu. Ia terus mengusap peluh di wajah Bong Ok yang tidak berhenti mengalir. Raut cemas juga terlihat di wajah Kiho.

“Kau pasti bisa, sayang. Ayo, dengarkan instruksi dokter.” Kata Kiho. Bong Ok melirik Kiho dan mengangguk.

“Ayo, Nyonya Choi. Dorong lagi. Sedikit lagi, nyonya.” Ujar dokter yang membantu proses bersalin Bong Ok. Dokter itu memakai masker diwajahnya dan terus memantau bayi yang hendak dilahirkan oleh Bong Ok.

Bong Ok terus mengeluarkan tenaganya untuk mengeluarkan bayinya. Rasa sakit yang dirasakannya tidak main-main. Setidaknya menurut Bong Ok, rasa sakit yang dirasakannya tidak sebanding dengan rasa sakit yang diberikan orangtua Kiho padanya. Rasa sakit saat melahirkan melibatkan tubuhnya, namun hinaan yang diberikan orangtua Kiho benar-benar menyakiti jiwa dan pikirannya.

Tidak lama kemudian, terdengar suara tangisan seorang bayi. Kiho yang mendengarnya sangat merasa lega. Ia menatap bayi yang berada di dalam gendongan dokter itu dengan haru. Bayi yang masih dilumuri dengan darah itu terlihat begitu kecil.

“Selamat, Tuan, Nyonya. Bayi kalian laki-laki.” Ucap dokter tersebut.

“Laki-laki..” Gumam Kiho dengan senang. Ia memang menginginkan anak laki-laki. Kiho mengalihkan pandangannya pada Bong Ok. Bong Ok juga sedang menatap bayi mereka dengan airmata yang mengalir. Kiho mengusap kepala Bong Ok hingga wanita itu menatapnya.

“Terima kasih.” Bisik Kiho. Ia memberikan kecupan pada kening Bong Ok.

“Terima kasih, sayang.” Ulang Kiho.

“Anda bisa keluar, Tuan Choi. Kami akan menyelesaikannya dan segera memindahkan Nyonya Choi ke kamar rawat.” Ujar dokter tersebut. Kiho mengangguk. Ia memberikan kecupan sekali lagi pada kening Bong Ok sebelum keluar dari ruang bersalin tersebut.

——

Bong Ok sudah dipindahkan ke dalam kamar rawat dengan Kiho yang sudah menemaninya. Di dalam gendongan Bong Ok, bayi laki-laki mereka tampak tidur dengan lelap. Kiho terus mengusap pipi bayinya dengan perlahan. Kulit bayi tersebut sangat halus dan Kiho sangat takut meninggalkan goresan di sana. Bong Ok, memainkan jari-jari mungil bayi mereka dengan tersenyum senang. Bayi mereka terlihat sangat tampan.

“Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya, oppa?” Tanya Bong Ok. Kiho tampak berpikir sebentar.

“Karena dia sudah menyempurnakan kehidupan rumah tangga kita, dan karena aku yakin dia akan menebarkan kebaikan disekitarnya, aku akan menamainya dengan nama Siwon. Choi Siwon.” Jawab Kiho.

“Choi Siwon..” Gumam Bong Ok. Ia menatap bayi mereka dan tersenyum.

“Choi Siwon. Aku suka, oppa.” Ujar Bong Ok sembari menatap Kiho. Kiho membalas tatapan Bong Ok dan ikut tersenyum.

“Terima kasih karena sudah lahir ke dunia, Siwon-ah.” Bong Ok mencium pipi bayi mereka yang dinamai Siwon.

Kiho masih terus tersenyum sembari mengeluarkan ponselnya yang bergetar di dalam sakunya. Keningnya berkerut saat melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Melihat itu, Bong Ok menatap Kiho dengan bingung. Ia ingin tau siapa yang menghubungi suaminya, hingga wajah Kiho seperti itu.

“Ada apa, oppa? Siapa yang meneleponmu?” Tanya Bong Ok.

“Sekretaris pribadi abeoji yang meneleponku. Tidak biasanya ia menghubungiku seperti ini.” Ujar Kiho.

“Ayo, cepat di terima, oppa. Siapa tau ada sesuatu yang penting.” Saran Bong Ok. Kiho segera menerima panggilan tersebut dan sedikit menjauh dari Bong Ok.

“Hallo..” Jawab Kiho.

Kiho mendengarkan semua yang dikatakan oleh sekretaris pribadi ayahnya itu. Seiring dengan setiap kata yang masuk ke dalam telinga Kiho, kaki pria itu terasa semakin lemas. Ia berusaha mati-matian untuk tidak terjatuh saat ini juga. Walaupun begitu, Kiho tidak dapat menahan airmatanya yang mengalir dari matanya yang memerah. Ia mencengkram ponsel yang berada ditelinganya dengan erat.

Setelah panggilan terputus, tangan Kiho yang memegang ponsel terjatuh begitu saja di sisi tubuhnya. Pria itu menatap ke depan dengan pandangan kosong, dengan airmatanya yang terus mengalir. Bong Ok yang masih menggendong Siwon menatap suaminya dengan khawatir. Ia yakin sesuatu yang buruk telah terjadi.

“O–oppa..” Panggil Bong Ok. Kiho menoleh dan menatap Bong Ok dengan wajahnya yang basah. Melihat itu, Bong Ok menjadi semakin khawatir.

“O–oppa, a–apa yang ter–terjadi?” Suara Bong Ok terdengar bergetar. Kiho mengepalkan kedua tangannya.

“O–orangtuaku m–meninggal.” Ucap Kiho dengan lirih. Bong Ok benar-benar tidak dapat mempercayai pendengarannya. Ya, pendengarannya pasti salah, kan? Bagaimana mungkin dua orang yang terlihat baik-baik saja tadi pagi, meninggal dunia sore harinya?

“Oppa..”

“Mereka mengalami kecelakaan saat hendak menghadiri makan malam dengan rekan bisnis abeoji. M–mereka..mereka meninggal di tempat, Bong Ok-ah.” Airmata Kiho semakin banyak mengalir. Hingga membuat Bong Ok tidak dapat menahan laju airmatanya juga. Wanita itu ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Kiho. Walaupun orangtua Kiho selalu menyakiti hatinya, tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat disayangi oleh Kiho.

“Oppa..” Bong Ok tidak tau harus mengatakan apa. Ia benar-benar tidak memiliki kalimat penghibur untuk Kiho. Kiho tampak terpukul dengan kepergian kedua orangtuanya. Pria itu bahkan menangis. Sesuatu yang jarang dilakukan olehnya.

“B–bagaimana mereka dapat pergi begitu saja di saat aku belum meminta maaf pada mereka?” Ucap Kiho. Pria itu tiba-tiba langsung menyeka airmatanya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.

“Aku harus pergi, Bong Ok-ah. Maaf tidak bisa menemanimu.” Sesal Kiho. Bong Ok mengangguk mengerti. Ia tidak mungkin merengek pada suaminya itu, di saat ia sedang kehilangan orangtuanya.

“Aku tidak apa-apa, oppa. Pergilah.” Ucap Bong Ok. Tanpa berpamitan pada Siwon bayi, Kiho pergi begitu saja meninggalkan kamar Bong Ok. Bong Ok menatap Siwon bayi yang masih tertidur dengan pulas. Wanita itu merasa sangat cemas dan juga takut.

“Bagaimana bisa kata-kata wanita peramal itu menjadi kenyataan, nak? I–ini tidak ada hubungannya denganmu, kan?” Lirih Bong Ok. Ia mendekap Siwon bayi dengan erat. Tidak, ia tidak akan pernah menyalahkan anaknya. Semua terjadi karena sudah di atur oleh Tuhan. Tidak ada yang berhak menyalahkan anaknya.

——

Akibat meninggalnya orangtua Kiho, membuat Kiho mau tidak mau menjadi penerus di perusahaan yang telah dibangun oleh ayahnya tersebut. Ia langsung diangkat menjadi CEO di Hyundai Departement Store dan menggantikan tugas ayahnya. Dan semenjak Kiho menjalankan perusahaan tersebut, perusahaan itu menjadi berkembang dengan pesat dan keuntungan yang diraih semakin meningkat. Kiho bahkan membuat cabang perusahaan di negara lain akibat banyaknya permintaan dari konsumen. Para pegawai juga merasa sangat senang dengan kepemimpinan Kiho. Mereka juga merasa hidup mereka menjadi terjamin karena perusahaan semakin berkembang.

Kiho tidak dapat menutupi rasa bangganya akibat kesuksesan yang diraihnya secara tidak sengaja seperti ini. Tidak pernah terpikirkan olehnya ia harus menggantikan posisi ayahnya secara tiba-tiba. Dan Kiho juga tidak menyangka jika ia dapat memimpin perusahaan tersebut menjadi lebih baik. Kiho menganggap hasil yang didapatkannya sebagai permintaan maaf kepada orangtuanya. Walaupun ia merasa tidak melakukan kesalahan, namun Kiho merasa bahwa ia telah mengecewakan orangtuanya.

Bong Ok juga merasa sangat bangga dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Ia memang tau bahwa Kiho adalah orang yang cerdas dan juga jenius. Ia merasa Kiho sangat pantas mendapatkan kesuksesan seperti ini. Dan yang lebih penting, Bong Ok merasa lega bahwa apa yang dikatakan peramal wanita waktu itu tidaklah benar. Siwon tidak membawa sial untuk kehidupan Kiho. Buktinya, Kiho menjadi sukses karena kelahiran Siwon. Bong Ok juga merasa senang karena Kiho sangat menyayangi anak mereka. Kiho selalu membelikan banyak pakaian dan juga mainan untuk Siwon kecil.

Bahkan diusia Siwon kecil yang sudah mencapai 8 tahun, Kiho terus memanjakan anak laki-laki satu-satunya itu. Kiho sudah memiliki rencana untuk menjadikan Siwon kecil sebagai penerusnya, saat anaknya itu lulus di perguruan tinggi nanti. Kiho tidak berencana menunggu dirinya pensiun, ia akan membiarkan anaknya menjalankan bisnis keluarga diusia mudanya.

“Apa ini, appa?” Siwon kecil bertanya saat Kiho memberikannya sebuah bingkisan berukuran sedang. Kiho tidak menjawab dan membiarkan Siwon kecil menemukan sendiri atas pertanyaan yang diberikannya. Siwon kecil terlihat antusias dan membuka bingkisan tersebut dengan cepat.

“Kau membelikannya mainan lagi?” Tanya Bong Ok sembari membantu Kiho melepas jas dan mengambil tas kerja suaminya itu. Kiho tersenyum sembari mengangkat kedua bahunya dengan acuh. Ia yakin Bong Ok akan mengomel jika tau dirinya membelikan mainan lagi untuk Siwon kecil. Kamar Siwon kecil sudah penuh dengan berbagai mainan pemberian Kiho.

“Woah!” Siwon kecil memekik senang saat ia sudah membuka bingkisan yang diberikan Kiho.

“Kau suka?” Tanya Kiho memberikan usapan di kepala Siwon kecil.

“Ya, appa! Ini robot keluaran terbaru. Dan aku yakin teman-teman di sekolahku tidak memilikinya. Terima kasih, appa.” Jawab Siwon kecil dengan senyum mengembang. Kiho tersenyum mendengar jawaban anaknya.

“Kau tidak boleh membawanya ke sekolah. Mengerti?” Pesan Kiho.

“Aku mengerti, appa.” Sahut Siwon kecil yang sudah memfokuskan dirinya pada robot yang berada ditangannya.

“Mandilah, oppa. Aku sudah menyiapkan air hangat.” Kata Bong Ok. Kiho mengangguk dan segera menuju ke kamarnya. Bong Ok mendekati Siwon kecil dan duduk disampingnya.

“Siwon-ah..” Panggil Bong Ok.

“Ya, eomma?” Sahut Siwon kecil tanpa menatap Bong Ok.

“Apa kau menyayangi ayahmu?” Tanya Bong Ok.

“Tentu saja, eomma. Aku sangat menyayangi appa dan eomma.” Jawab Siwon kecil. Bong Ok tersenyum.

“Jika kau memang menyayangi kami, kau harus menuruti apapun yang kami katakan. Mengerti?”

“Memangnya apa yang akan appa dan eomma katakan padaku?” Siwon kecil menatap Bong Ok dengan kedua matanya yang sesekali berkedip. Bong Ok mengusap kepala Siwon kecil.

“Bukan sekarang, sayang. Suatu saat nanti. Apapun yang kami katakan kau tidak boleh membantahnya, ya?”

“Bagaimana jika aku tidak menyukainya, eomma?”

“Kau tetap harus mendengarkan dan melakukannya, Siwon-ah.” Nada final terdengar dari suara Bong Ok. Membuat Siwon kecil mengerucutkan bibirnya.

“Apa yang appa dan eomma pinta untuk kau lakukan, pasti yang terbaik untukmu.” Janji Bong Ok. Siwon kecil akhirnya mengangguk dan membuat Bong Ok tersenyum.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Kiho yang terlihat segar sehabis mandi, bergabung dengan istri dan anaknya.

“Tidak ada yang serius.” Sahut Bong Ok.

“Kau mau main bersama appa?” Tanya Kiho menawarkan. Kontan saja Siwon kecil langsung mengangguk dengan antusias. Membuat tawa Kiho pecah karena melihat wajah lucu putranya. Bong Ok yang melihat itu tersenyum dengan lebar dan mengusap kepala Siwon kecil. Ia merasa tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi sekarang. Ia yakin keluarga kecilnya akan hidup bahagia selamanya.

——

Namun, tidak semua harapan akan selalu dengan senantiasa dikabulkan oleh sang maha pencipta. Ia juga akan membuat jalan yang sedikit berliku untuk kita mencapainya. Tuhan tentu ingin melihat usaha dan kerja keras yang kita lakukan demi sesuatu yang kita inginkan tersebut. Dan jika kau bisa sabar melaluinya, bukankah semua hasilnya akan sesuai keinginan?

Malam itu, Kiho pulang sedikit terlambat dari biasanya. Wajahnya yang selalu terlihat segar dan bersemangat, seolah hilang entah kemana hari itu. Kiho terlihat sangat kelelahan dan juga wajah kecewanya tidak bisa disembunyikan. Kiho memasuki rumahnya dan langsung mendudukkan dirinya pada sofa di ruang tamu. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan menghela nafas panjang. Menarik dasi yang mencekik lehernya.

Pekerjaan dikantornya tidak berjalan dengan lancar hari ini. Proyek yang sudah didambakannya selama satu bulan terakhir ini, gagal didapatkannya. Ada perusahaan lain yang lebih baik dalam memberikan presentasi dan juga investasi. Perusahaan yang dijalankan Kiho memberikan sedikit kekeliruan hingga memberikan dampak yang besar terhadap proyek tersebut. Dan Kiho sangat menyesalinya. Tetapi ia merasa penyesalan yang dirasakannya tidak dibutuhkan lagi. Ia sudah kehilangan uang yang cukup banyak karena harus mempersiapkan proyek yang gagal tersebut.

“Oppa?” Bong Ok yang melihat wajah suaminya tidak baik-baik saja, merasa khawatir. Kiho menegakkan kepalanya dan menatap Bong Ok sekilas. Bong Ok duduk di samping Kiho.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Bong Ok.

“Eo. Aku hanya lelah.” Jawab Kiho. Bong Ok memberikan sedikit pijatan pada bahu Kiho yang terasa tegang.

“Appa!” Siwon kecil yang turun dari lantai dua, terlihat senang dengan kepulangan Kiho. Ia segera berlari dan menghampiri Kiho.

“Appa, ayo kita bermain seperti waktu itu.” Ajak Siwon kecil.

“Jangan sekarang, Siwon-ah. Appamu sedang lelah.” Ujar Bong Ok. Siwon kecil tampak tidak memperdulikan ucapan Bong Ok.

“Aku sudah menunggu appa dari tadi. Ayo, appa!” Siwon kecil menarik-narik tangan Kiho. Kiho masih tidak memberikan respon apapun karena tubuhnya terasa sangat lelah. Ia bahkan malas untuk berbicara saat ini.

“Appa!” Siwon kecil meninggikan suaranya. Kiho menatap tajam Siwon kecil. Namun itu hanya sesaat, setelahnya Kiho mengalihkan pandangan dan menghela nafas kasar.

“Appa lelah, Siwon-ah. Kau bermainlah sendiri atau bermain bersama ibumu.” Ucap Kiho dengan sabar.

“Aku tidak mau bermain bersama, eomma. Aku ingin bermain bersama appa.” Ujar Siwon kecil keras kepala.

“Kalau begitu, besok. Besok appa akan menemanimu bermain.” Kata Kiho berjanji. Siwon kecil masih tidak dapat menerima ucapan Kiho dan malah terlihat kesal.

“Sekarang, appa! Aku mau main sekarang.” Rengek Siwon kecil. Kiho tampak mulai kehabisan kesabaran menghadapi sikap manja Siwon kecil. Pria itu menepis tangan Bong Ok di bahunya dan menatap Siwon kecil dengan tajam.

“Jika kau seperti ini terus, aku akan membuang semua mainanmu.” Ancam Kiho. Siwon kecil terlihat takut, namun sifat keras kepalanya lebih mendominasi.

“Aku akan membawa mainanku ke sekolah jika appa tidak mau menemaniku bermain hari ini.” Ujar Siwon kecil membuat kemarahan Kiho semakin menjadi. Kiho merampas robot yang memang sedari tadi dibawa oleh Siwon kecil. Ia melempar robot tersebut ke lantai hingga membuatnya hancur berkeping-keping. Bong Ok dan Siwon kecil terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kiho.

“Kau mengancamku?!” Kiho mencengkram lengan Siwon kecil hingga membuat putranya meringis kesakitan. Saat ini Siwon kecil benar-benar merasa takut. Kiho terlihat berbeda menurutnya.

“Appa, aku–“

“Siapa yang mengajarimu melakukannya?!” Bentak Kiho.

“Oppa, kau menyakitinya.” Ujar Bong Ok. Mendengar ucapan Bong Ok, Kiho tersentak. Ia segera menatap tangannya yang mencengkram lengan Siwon kecil, dan melepaskannya. Kiho berdiri dan segera meninggalkan ruang tamu untuk kekamarnya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Bong Ok. Ia memeriksa lengan Siwon kecil yang terlihat memerah.

“Bukankah eomma sudah pernah mengatakan padamu, bahwa kau harus menuruti perkataan appa dan eomma?” Bong Ok terlihat sedikit kesal dengan apa yang dilakukan Siwon kecil hari ini.

“Maaf, eomma. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Sesal Siwon kecil. Bong Ok menghela nafas. Ia tidak tega jika harus mengomeli Siwon kecil.

“Sudah, tidak apa-apa. Eomma akan menenangkan ayahmu terlebih dahulu. Kau bereskan mainanmu, setelah itu bersiaplah untuk tidur.” Ujar Bong Ok. Siwon kecil menganggukkan kepalanya dengan lesu.

Setelah Bong Ok meninggalkannya, Siwon kecil menatap mainannya dengan nanar. Ia seperti ingin menangis, namun berusaha mati-matian untuk menahannya. Siwon kecil berjalan pelan menghampiri mainan robotnya yang sudah hancur. Kaki dan tangannya sudah terlepas dari badan robot itu. Siwon kecil berjongkok dan mengumpulkan serpihan-serpihan mainannya. Ia berjalan ke dapur dan segera membuang mainan yang telah hancur tersebut ke tempat sampah. Siwon kecil menatap mainannya sekali lagi, sebelum akhirnya memilih untuk meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamarnya.

——

Kegagalan yang dialami oleh Kiho nyatanya tidak terjadi hanya satu kali saja. Dalam waktu yang berdekatan, Kiho mengalami tiga kegagalan dan membuat perusahaannya rugi banyak. Kiho tidak tau apa yang terjadi pada dirinya. Ia memang tidak bisa berfokus pada pekerjaannya entah sudah berapa lama. Kiho bahkan terus memaki dirinya sendiri karena telah mengecewakan karyawan dikantornya. Selain itu ia juga telah membuat uang yang dengan susah payah dikumpulkannya, lenyap secara sia-sia.

Kiho meninggalkan ruangannya dan berjalan menuju kamar mandi. Mengabaikan sekretaris yang bertanya padanya. Ia perlu mendinginkan wajahnya saat ini. Saat hendak masuk ke dalam kamar mandi, Kiho menghentikan langkahnya karena mendengar sebuah pembicaraan di dalam sana. Pembicaraan yang sepertinya dilakukan oleh karyawan dikantornya.

“Apa yang terjadi pada Presdir Choi akhir-akhir ini? Ia tidak lagi bersinar seperti tahun-tahun kemarin.” Ujar salah seorang karyawan. Kiho terus menajamkan telinganya untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

“Yah, apa kau pikir Presdir Choi itu seorang artis?” Sahut yang lainnya.

“Maksudku, kinerja Presdir Choi tidak seperti dulu. Ia bahkan sudah mengalami kegagalan berkali-kali.”

“Bukankah itu hal wajar di dalam dunia bisnis? Berhasil dan gagal.”

“Aku tau, tetapi, tidakkah kalian berpikir Presdir Choi seperti mengalami kesialan?”

“Ya! Jaga ucapanmu. Jika Presdir mendengar, kau akan tamat.”

“Aku tidak asal bicara. Kalian tau, ada sebuah rumor yang mengatakan bahwa anak Presdir Choi adalah pembawa sial. Seorang peramal wanita yang mengatakannya.”

“Benarkah?”

“Tidak masuk akal. Bukankah anak Presdir Choi sudah berusia 8 tahun? Jika memang dia adalah pembawa sial, bukankah sudah sejak dia lahir? Buktinya beberapa tahun ini Presdir Choi mengalami kesuksesan.”

“Orangtua Presdir Choi meninggal saat anaknya lahir.”

“Apa?!”

Kiho yang tidak dapat menahan dirinya lebih lama lagi, segera masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata ada tiga orang karyawan yang sedang membicarakannya di kamar mandi. Ketiga karyawan tersebut tampak salah tingkah saat melihat kehadiran Kiho. Mereka dengan cepat menyelesaikan urusan mereka di sana. Membungkuk dengan hormat kepada Kiho, sebelum memutuskan untuk keluar.

“Berhenti.” Suara datar Kiho membuat ketiga karyawan tersebut menghentikan langkah mereka.

Mereka segera berbalik dan menatap Kiho dengan takut. Kiho menatap nametag ketiganya secara bergantian. Hingga membuat salah satu dari mereka langsung membalikkan nametag–nya agar tidak terlihat oleh Kiho. Namun Kiho sudah terlanjur mengetahui nama mereka.

“Jin Hyeongwoo, Kang Moohyuk, dan Han Jihoon. Kalian dipecat.” Ucap Kiho. Setelah mengatakannya, Kiho segera meninggalkan kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun. Meninggalkan ketiga karyawannya yang terlihat sangat terkejut dengan ucapan Kiho barusan.

——

“Dimana Siwon?” Kiho bertanya saat sudah sampai di rumah.

“Dia di kamar. Ada apa, oppa?” Pertanyaan Bong Ok tidak diperdulikan oleh Kiho.

Pria itu melewati Bong Ok dan segera menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Ia melangkahkan kakinya pada kamar Siwon kecil. Membuka pintunya dengan kasar hingga membuat Siwon kecil yang berada di dalam kamar menjadi terkejut. Kiho masuk ke dalam kamar Siwon kecil dan menghampiri bocah yang sedang bermain seorang diri tersebut. Ia berdiri di hadapan Siwon kecil, hingga membuat putranya harus mendongak untuk menatapnya.

“Ada apa, appa?” Tanya Siwon kecil. Kiho lagi-lagi tidak memperdulikan pertanyaan tersebut. Ia terus menatap Siwon kecil dengan perasaan berkecamuk. Perkataan karyawan dikantornya tadi menari dengan indah di dalam pikiran Kiho. Selain itu, perkataan peramal wanita 8 tahun lalu ikut memenuhi kepala Kiho. Ia ingin menepis semua pikiran tersebut, namun tidak berhasil sama sekali.

“Bukan kau penyebabnya, kan?” Gumam Kiho sembari terus menatap Siwon kecil. Siwon kecil memiringkan kepalanya dan menatap Kiho dengan bingung.

“Apa yang appa katakan?” Tanyanya.

“Oppa, ada apa?” Bong Ok yang menyusul Kiho terlihat bingung dengan sikap suaminya tersebut. Kiho segera berbalik dan meninggalkan kamar Siwon kecil. Membuat Bong Ok dan juga Siwon kecil menatap kepergiannya dengan bingung.

“Appa kenapa, eomma?” Tanya Siwon kecil. Bong Ok menatap Siwon kecil dan tersenyum.

“Tidak terjadi apa-apa, sayang. Lanjutkan bermainmu.” Jawab Bong Ok. Wanita itu ikut meninggalkan kamar Siwon kecil dan menuju ke kamarnya. Ia menemukan Kiho sedang duduk di tepi tempat tidur dengan wajah frustasinya. Bong Ok mendekati Kiho dan duduk disampingnya.

“Oppa, sebenarnya ada apa? Kau terlihat aneh akhir-akhir ini.” Bong Ok bertanya dengan hati-hati. Ia tidak ingin Kiho marah. Kiho menoleh dan menatap Bong Ok.

“Aku sudah kehilangan triliunan won.” Ujar Kiho.

“Apa? Apa maksudmu?” Bong Ok tidak dapat menutupi keterkejutannya.

“Proyekku gagal tiga kali berturut-turut.” Jelas Kiho.

“B–bagaimana bisa?”

“Ya, itulah yang sedang kupertanyakan.” Suara Kiho terdengar putus asa. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

“Bong Ok-ah.” Panggil Kiho.

“Ya?” Bong Ok menyahut dengan cepat. Kiho terlihat ragu untuk berbicara.

“Ada apa, oppa? Katakan saja.”

“A–apa mungkin yang dikatakan p–peramal saat itu benar?” Ucap Kiho. Bong Ok menatap Kiho dengan terkejut untuk beberapa saat. Karena setelahnya ia menatap Kiho dengan kecewa dan terluka.

“Kau menganggap Siwon sebagai pembawa sial?” Kata Bong Ok menyimpulkan.

“A–aku tidak berkata seperti itu.” Bantah Kiho.

“Tetapi maksud hatimu seperti itu, oppa.” Sahut Bong Ok. Ia terlihat benar-benar kecewa.

“Bagaimana mungkin kau tega berpikir seperti itu pada anakmu sendiri, oppa?”

“Kegagalan yang kau alami baru terjadi akhir-akhir ini, sedangkan Siwon sudah lahir dari 8 tahun yang lalu. Bahkan sebentar lagi usia Siwon bertambah 1 tahun.”

“Kau tidak bisa melimpahkan kesalahanmu pada Siwon, oppa.” Bong Ok mengeluarkan kekesalannya pada Kiho. Sampai kapanpun Bong Ok tidak akan terima saat ada yang mengatakan bahwa Siwon adalah pembawa sial. Siwon adalah anaknya. Anak yang dikandung dan dilahirkannya dengan penuh perjuangan.

“Aku tau!” Kiho berdiri dan menatap Bong Ok dengan perasaan berkecamuk.

“Jika dipikirkan lagi, semuanya memang tidak masuk akal. Tetapi kau tidak lupa dengan kematian orangtuaku yang bertepatan dengan kelahiran Siwon, kan?” Ujar Kiho.

Bong Ok menatap Kiho dengan airmatanya yang mengalir. Perkataan Kiho benar-benar melukai hatinya, walaupun bukan dirinya yang sedang dibicarakan oleh pria itu. Kiho sendiri terlihat terkejut saat melihat Bong Ok menangis. Ia seolah tersadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. Namun Kiho merasa bahwa ia tidak bisa menarik kata-katanya kembali. Semua yang dikatakannya adalah sebuah fakta yang telah terjadi. Namun Kiho tidak pernah mengetahui sebuah fakta bahwa perkataan peramal tersebut adalah atas permintaan ibunya.

Kiho mengacak rambutnya dengan frustasi dan segera meninggalkan kamar. Ia merasa benar-benar lelah dengan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Kiho tidak memperdulikan Bong Ok yang sedang menangis tersedu-sedu karena memikirkan ucapan pria itu. Perasaan takut yang pernah dirasakan Bong Ok 8 tahun yang lalu datang kembali. Ia takut Siwon akan menanggung semua yang terjadi pada Kiho ke depannya.

——

Hari ini adalah hari ulang tahun Siwon kecil yang ke-9 tahun. Bong Ok sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk keluarga mereka. Ulang tahun Siwon kecil memang tidak pernah diadakan secara meriah. Karena Kiho sudah berpesan bahwa saat Siwon kecil berusia 17 tahun nanti, sebuah pesta besar-besaran akan diadakan. Makanya selama 9 tahun ini, Bong Ok hanya mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun Siwon.

Walaupun begitu, Siwon kecil selalu merasa senang. Ia senang karena dapat berkumpul dengan kedua orangtua yang sangat disayanginya itu. Mereka akan bersenda gurau, saling menyuapi kue dan membuka kado bersama. Tidak lupa dengan mengabadikan setiap moment dalam bentuk foto.

Malam ini, Bong Ok dan Siwon kecil telah menunggu kepulangan Kiho selama hampir 1 jam. Sebelum Kiho berangkat kerja, Bong Ok sudah berpesan kepada Kiho untuk pulang lebih cepat. Kiho memang tidak mengiyakan permintaan Bong Ok, namun Bong Ok percaya bahwa Kiho akan pulang cepat karena hari ini adalah hari ulang tahun Siwon kecil. Namun harapan Bong Ok sepertinya sia-sia karena Kiho tidak kunjung pulang.

“Eomma, appa dimana?” Tanya Siwon kecil dengan lesu. Selain karena lelah menunggu, Siwon kecil juga merasa lapar. Ia bahkan sudah melepas topi pesta yang beberapa jam sebelumnya terpasang dikepalanya.

“Appa sebentar lagi pulang, sayang.” Bong Ok tidak tau harus memberikan jawaban apa kepada Siwon kecil. Karena ia memang tidak tau keberadaan Kiho saat ini. Ponsel pria itu tidak aktif.

“Eomma sudah mengatakan itu sejak satu jam yang lalu.” Kata Siwon kecil dengan wajah cemberut.

“Apa kau mau makan lebih dulu?” Tanya Bong Ok menawarkan.

“Tidak. Aku ingin menunggu appa.” Jawab Siwon kecil. Bong Ok menghela nafas dan dapat memahami kekecewaan yang sedang dirasakan oleh putranya itu. Bong Ok juga merasa kesal dan kecewa karena Kiho seperti melupakan hari ulang tahun Siwon.

Setelah menunggu selama tiga jam, Kiho akhirnya pulang. Namun sayangnya Siwon kecil sudah tertidur di atas sofa karena terlalu lama menunggu. Bocah itu bahkan belum makan malam karena bersikeras untuk menunggu Kiho. Sama seperti beberapa bulan terakhir, Kiho pulang dengan wajah kusut dan lelahnya. Bong Ok segera menghampiri suaminya tersebut.

“Oppa, kau darimana? Apa kau lupa hari ini ulang tahun Siwon?” Tanya Bong Ok menahan kekesalannya.

“Aku dari kantor. Kau pikir darimana lagi?!” Kiho juga terlihat kesal.

“Bukankah aku memintamu untuk pulang lebih awal hari ini? Kau tidak lihat anakmu yang kelelahan karena menunggu dirimu?” Bong Ok menunjuk sosok Siwon kecil yang sedang tidur. Di atas meja dihadapan Siwon kecil ada kue ulang tahun lengkap dengan lilin berangka 9.

“Apa aku memintanya menunggu?” Tanya Kiho tampak tidak merasa bersalah sama sekali.

“Oppa! Hari ini adalah hari ulang tahunnya.”

“Lalu kenapa?!” Bentak Kiho membuat Bong Ok terkejut. Bukan hanya Bong Ok, Siwon kecil yang sedang tidur pun terbangun karena mendengar suara Kiho. Siwon kecil mengusap matanya dan mengubah posisinya menjadi duduk.

“Appa..” Siwon kecil menghampiri Kiho dan memeluk pinggangnya dengan sayang.

“Akhirnya appa pulang.” Ujarnya. Di luar dugaannya, Kiho malah melepaskan pelukan Siwon kecil dan mendorongnya sedikit menjauh. Membuat Siwon kecil menatapnya dengan terkejut. Kiho berjalan melewati mereka dan tampak tidak memperdulikan istri dan anaknya tersebut.

“Kiho oppa!! Kita harus merayakan ulangtahun Siwon!” Ujar Bong Ok meninggikan suaranya. Kiho terlihat kehabisan kesabaran. Pria itu menghampiri meja dan mengambil kue ulang tahun Siwon. Melemparnya ke arah dinding hingga membuat Bong Ok memekik sembari memeluk tubuh Siwon kecil.

“APA GUNANYA MERAYAKAN ULANG TAHUN ANAK SIAL ITU, HUH?!” Teriak Kiho marah. Bong Ok dengan segera menutupi telinga Siwon kecil agar tidak mendengarkan ucapan Kiho. Namun Siwon kecil menepis tangan Bong Ok dan menatap Kiho dengan matanya yang memerah.

“Anak sial? Siapa anak sial?” Tanya Siwon kecil.

“Kau, brengsek! Kau anak sial!!” Jawab Kiho sembari menunjuk Siwon kecil.

“Hentikan, oppa!!”

“Aku? Kenapa aku? Apa yang aku lakukan?” Tanya Siwon kecil lagi. Ia tidak mengerti dengan maksud Kiho menyebutnya sebagai anak sial.

Kiho menghampiri Siwon kecil dan menariknya dari pelukan Bong Ok. Ia mendorong Siwon kecil hingga bocah itu tersungkur di lantai. Bong Ok lagi-lagi memekik melihat apa yang dilakukan oleh Kiho. Kiho tidak pernah melakukan hal seperti ini kepada Siwon kecil sebelumnya. Dulu, Kiho bahkan tidak mengizinkan Bong Ok membuat anak itu menangis sedikit saja.

“Kehadiranmu membuatku sial! Kau seharusnya tidak pernah lahir!” Ujar Kiho. Siwon kecil kembali menatap Kiho. Ia menahan airmatanya yang hendak mengalir.

“Apa yang aku lakukan, appa? Aku tidak melakukan apapun.” Kata Siwon kecil.

Kiho kembali menghampiri Siwon kecil dan menampar pipinya dengan keras. Hingga membuat sudut bibir Siwon kecil mengeluarkan darah. Bong Ok segera menghampiri mereka dan mendorong Kiho menjauh dari Siwon kecil. Bong Ok memeluk kepala Siwon kecil dan menyembunyikan wajah putranya didadanya. Bong Ok dapat mendengar isakan pelan dari mulut Siwon kecil. Tamparan Kiho pasti sangat menyakitinya.

“Apa kau sadar dengan yang kau lakukan, Choi Kiho?! Kau menyakiti anakmu!!” Airmata Bong Ok juga menetes dan membasahi pipinya.

“Anakku? Bukan. Dia bukan anakku. Anakku tidak akan membawa sial untuk diriku!” Sahut Kiho membuat Bong Ok kembali terkejut dengan ucapannya.

“Oppa..”

“Jika dia hanya dapat menularkan kesialannya padaku, lebih baik kau bawa dia menjauh dariku!” Ucap Kiho dan segera meninggalkan mereka. Ia menulikan telinga mendengar isakan Bong Ok dan juga Siwon kecil.

Bong Ok mendekap kepala Siwon dan tangisannya semakin kencang. Ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada putranya itu. Seharusnya ia bisa melindungi Siwon kecil agar tidak disakiti oleh Kiho. Seharusnya ia tidak membiarkan Siwon kecil mendengarkan kata-kata kasar dari mulut Kiho, mulut ayahnya sendiri. Seharusnya Bong Ok tidak membiarkan Siwon kecil meneteskan airmatanya.

Siwon kecil melepaskan pelukan Bong Ok padanya. Ia menatap Bong Ok dengan wajahnya yang basah karena airmata. Bahkan airmata itu menyentuh luka di sudut bibirnya hingga membuat Siwon kecil merasa perih. Namun perih yang dirasakan olehnya tidak sebanding dengan luka yang dialami hatinya. Mungkin Siwon memang masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang diucapkan oleh Kiho. Namun karena ia dianugerahi otak yang cerdas oleh Tuhan, membuatnya mengerti setiap ucapan yang keluar dari mulut ayahnya tersebut.

“Kenapa appa menyebutku anak sial, eomma? Apa yang kulakukan?” Tanya Siwon kecil. Airmatanya masih terus mengalir.

“Tidak, sayang. Kau salah dengar.” Ujar Bong Ok.

“Telingaku masih berfungsi dengan baik, eomma. Ucap Siwon kecil.

“Tidak, Siwon-ah. Tidak. Kau adalah anak kesayangan appamu. Bagaimana mungkin appa menyebutmu anak sial?” Bong Ok mencoba tersenyum dihadapan Siwon kecil.

“Appa tidak menyayangiku lagi. Appa bahkan memukulku. Aku anak sial. Tetapi, apa yang aku lakukan? Kenapa aku menjadi anak sial?” Siwon kecil seolah bertanya pada dirinya sendiri. Ia segera berdiri dan menjauh dari Bong Ok. Meninggalkan Bong Ok untuk menuju ke kamarnya, dengan terus bertanya mengapa dirinya menjadi anak sial?

——

Semenjak hari itu, Kiho terus memukuli Siwon kecil setiap ia mengalami kegagalan dalam pekerjaannya. Ia benar-benar sudah tidak menganggap Siwon kecil sebagai darah dagingnya lagi. Yang ada di pikiran Kiho hanyalah Siwon seorang anak sial. Rasa cinta Kiho kepada Bong Ok juga seolah menghilang. Ia tampak tidak memperdulikan wanita itu yang terus menangis setiap Kiho memukuli Siwon kecil. Ia tidak memperdulikan permohonan Bong Ok untuk tidak menyakiti putranya.

“Lebih baik kau mati, anak sial!” Ucap Kiho sembari menampar Siwon kecil. Ia menjambak rambut Siwon kecil–yang sedikit panjang–dengan kuat, hingga membuat Siwon kecil sedikit meringis. Namun tidak menangis.

“Kau melotot padaku?!” Melihat Siwon kecil menatapnya tajam membuat Kiho semakin bertambah marah.

“Kenapa? Kau tidak terima dengan perlakuanku?!” Ucap Kiho. Pria itu tidak mengetahui bahwa Siwon kecil sedang mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Siwon kecil memang sedang menahan dirinya untuk memberontak atas kelakuan Kiho. Siwon kecil masih memikirkan nasib Bong Ok jika ia melawan Kiho.

“Oppa, hentikan. Aku mohon hentikan, oppa.” Pinta Bong Ok. Ia memegangi tangan Kiho yang menjambak rambut Siwon kecil.

“Anak ini benar-benar membawa sial, Bong Ok-ah. Apa kau tau bahwa perusahaanku sudah di ambang kehancuran? Perusahaanku akan bangkrut!!”

“Itu bukan salah Siwon, oppa. Itu semua karena kelalaianmu!”

“Apa kau bilang?!” Kiho tampak tidak terima dengan ucapan Bong Ok. Ia melepaskan Siwon kecil dan beralih pada Bong Ok. Mencengkram rahang Bong Ok dengan keras.

“Kelalaianku?” Ulang Kiho.

“Ya. Karena kelalaianmu.” Bong Ok membiarkan dirinya menjadi pelampiasan kemarahan Kiho. Asalkan Bukan Siwon kecil, Bong Ok rela melakukan apapun.

“Kau sudah pintar bicara, huh?”

“A–aku hanya mengatakan kebenarannya, oppa. Se–seandainya kau lebih teliti, k–kau tidak akan gagal.” Bong Ok mencoba berbicara di sela-sela rasa sakit pada rahangnya. Cengkraman Kiho benar-benar kuat. Kiho melepaskan cengkramannya dan menampar Bong Ok hingga wanita itu tersungkur.

“Eomma!!” Siwon kecil berteriak dan segera menghampiri Bong Ok.

“Kau berani menceramahiku. Apa kau cari mati?!”

“Bunuh aku jika itu memang maumu. Tetapi jangan pernah kau menyentuh dan menyakiti anakku lagi!” Bong Ok terlihat tidak takut sama sekali dengan ancaman Kiho padanya. Jika memang ia harus mati untuk melindungi Siwon kecil, Bong Ok akan melakukannya.

“Kau–” Kiho seolah kehilangan kata-katanya saat melihat keberanian di mata Bong Ok.

“Jika kau memang siap menjadi seorang pembunuh, maka bunuhlah aku.” Ucap Bong Ok sekali lagi. Kiho menatap Bong Ok dengan tajam. Sebelum akhirnya memilih untuk meninggalkan mereka.

Kiho meninggalkan rumah dan menuju ke kedai soju yang menjadi langganannya beberapa bulan terakhir ini. Ia sengaja memabukkan dirinya untuk menghilangkan beban pikirannya. Tak tanggung-tanggung, Kiho dapat menghabiskan 8 botol soju dalam satu malam. Sisa-sisa uang yang dimilikinya dihabiskannya untuk membeli soju.

“Satu botol lagi!” Ucap Kiho kepada wanita pemilik kedai. Wanita itu segera membawakan satu botol soju lagi ke meja Kiho.

“Eo? Kiho-ya..” Seorang pria seusia Kiho menghampiri Kiho dan duduk di samping Kiho. Kiho segera mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya.

“Lee Haejoon?” Ucap Kiho menajamkan penglihatannya.

“Ya. Aku Haejoon.” Sahut pria itu.

“Bagaimana kabarmu, Kiho-ya? Kenapa penampilanmu seperti ini dan mabuk-mabukan ditempat seperti ini?” Tanya Haejoon dengan tawa herannya. Kiho tersenyum sinis dan meneguk sojunya.

“Aku hampir bangkrut. Sialan!” Desis Kiho.

“Bangkrut? Bagaimana bisa?” Haejoon terlihat terkejut.

“Ini semua karena anak sial itu. Dia benar-benar membawa kesialan untukku.” Dengus Kiho.

“Anak sial?”

“Sudahlah. Aku tidak ingin membicarakannya. Kau sendiri bagaimana? Apa pekerjaanmu sekarang?” Tanya Kiho. Ia menatap penampilan Haejoon. Sebuah kaos yang dilapisi jaket kulit lusuh berwarna hitam.

“Aku?” Haejoon menunjuk dirinya sendiri. Pria itu mendekatkan mulutnya pada telinga Kiho, seperti orang yang sedang berbisik.

“Menjual anak.” Bisik Haejoon.

“Apa?!” Kiho terlihat terkejut.

“Pelankan suaramu.” Ucap Haejoon.

“Bagaimana bisa kau melakukan pekerjaan seperti itu?!” Tanya Kiho dengan matanya yang membesar.

“Kenapa tidak jika aku bisa mendapatkan uang yang banyak?” Haejoon mengambil gelas Kiho dan meminum soju didalamnya.

“Uang yang banyak?” Gumam Kiho.

“Kenapa? Kau tertarik?” Tebak Haejoon.

“Kau gila?” Ucap Kiho sembari mendengus kasar. Haejoon tertawa sinis seolah sudah tau apa yang akan dikatakan oleh Kiho.

“Bukan masalah untukku jika kau tidak tertarik. Tetapi apabila kau menemukan anak di jalan, jangan membawanya ke panti asuhan. Berikan padaku.” Gurau Haejoon. Kiho tampak memikirkan ucapan teman lamanya tersebut. Tiba-tiba sosok Siwon kecil terlintas di pikiran Kiho. Kiho menatap Haejoon yang masih setia meminum soju miliknya.

“Haejoon-ah..” Panggil Kiho.

“Kenapa?”

“A–apa aku akan mendapatkan bayaran jika memberikan seorang anak padamu?” Tanya Kiho. Haejoon tampak terkejut mendengar pertanyaan Kiho. Namun setelahnya ia tertawa.

“Tentu saja. Bayaran yang sangat mahal.” Jawab Haejoon. Haejoon menatap jam di pergelangan tangannya, kemudian berdiri.

“Aku harus pergi untuk menemui bos besar. Kapan-kapan kita bertemu lagi.” Pamit Haejoon. Kiho menatap kepergian Haejoon hingga pria itu menghilang dari kedai yang ditempatinya. Tiba-tiba Kiho langsung berdiri dan keluar dari kedai. Ia menatap ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Haejoon.

“Haejoon-ah!” Panggil Kiho. Haejoon menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Ada apa?” Tanya Haejoon. Kiho mendekati Haejoon dengan kedua tangannya yang terkepal, seolah sedang memantapkan hatinya.

“A–ada seorang anak yang bisa kuberikan padamu.”

——

“Rumah siapa ini?” Haejoon bertanya saat Kiho membawanya ke sebuah rumah yang sangat mewah.

“Rumahku.” Jawab Kiho tanpa menatap Haejoon. Langkah pastinya membuat ia sampai di dalam rumah dengan cepat.

“Rumahmu? Lalu, anak siapa yang kau maksud?”

“Anakku.”

“Apa?! Ya, Choi Kiho! Pekerjaanku memang dipenuhi dengan dosa. Tetapi aku tidak sampai setega itu dengan menjual anakmu!!” Haejoon terlihat marah.

“Aku yang menginginkannya.” Kiho menatap Haejoon dengan dalam. Membuat Haejoon terdiam.

“Aku yang ingin menjual anakku. Karena aku membutuhkan uang untuk perusahaanku.” Lanjut Kiho. Haejoon benar-benar kehabisan kata. Pria itu terlihat tidak percaya namun dapat melihat kesungguhan di mata Kiho.

“Ta–tapi, dia a–anakmu.” Ucap Haejoon pelan. Kiho mengalihkan pandangannya dan mendengus.

“Dia hanyalah seorang anak sial.” Katanya. Haejoon menutup mulutnya lagi dan tidak tau harus berkata apa.

“Tunggulah disini sebentar. Aku akan membawa anak itu padamu.” Kiho segera meninggalkan Haejoon untuk mencari keberadaan Siwon kecil.

Beberapa saat kemudian, Haejoon dapat mendengar suara gaduh. Pria itu memanjangkan lehernya untuk melihat asal suara tersebut. Ia dapat melihat Kiho menarik seorang anak lelaki, diikuti oleh seorang wanita dibelakangnya. Wanita itu terlihat menangis dan mencegah Kiho menarik bocah tersebut. Haejoon dapat menebak bahwa wanita itu adalah istri Kiho. Ia tidak akan mungkin membiarkan Kiho menjual anak mereka.

“Oppa, apa yang kau lakukan?! Kau mau membawa Siwon kemana?!” Bong Ok terus menarik tangan Kiho untuk melepaskan Siwon kecil.

“Appa, aku tidak mau pergi. Appa, lepaskan aku!” Siwon kecil mencoba untuk melepaskan diri dari Kiho, namun karena tubuhnya yang masih kecil, ia tidak dapat berbuat banyak. Kiho tidak memperdulikan rengekan istri dan anaknya. Ia terus menarik Siwon kecil dengan kasar. Kemudian ia mendorong Siwon kecil ke arah Haejoon. Haejoon dengan cepat menangkap Siwon kecil agar tidak terjatuh.

“Ambil anak itu!” Ujar Kiho. Haejoon benar-benar tidak dapat mempercayai apa yang Kiho lakukan. Bagaimana mungkin ia dengan begitu tega menjual anaknya sendiri?

“Kiho-ya, aku–“

“Kau harus membayar mahal untuk anak sial itu. Aku membutuhkan uang, Haejoon-ah.” Kiho memotong ucapan Haejoon.

“Apa kau gila, oppa?! Kau akan menjual Siwon agar mendapat uang? Dia anakmu!!” Jerit Bong Ok.

“Tutup mulutmu. Aku tidak membutuhkan ceramahanmu.” Ucap Kiho sembari menatap Bong Ok dengan tajam.

“Bawalah dia, Haejoon-ah. Kau bisa mentransfer uangnya nanti.”

“Tetapi dia anakmu, Kiho-ya. Aku tidak bisa melakukannya.” Tolak Haejoon. Ia memang brengsek. Tetapi Haejoon tidak sebrengsek itu dengan menjual anak temannya sendiri.

“Jika kau tidak mau membawanya, aku akan melaporkan dirimu ke polisi. Tentang pekerjaanmu.” Ancam Kiho.

“Ya, Choi Kiho!” Haejoon meninggikan suaranya.

“Oppa, aku mohon. Jangan lakukan itu. Jika kau tidak suka, aku akan membawa Siwon pergi. Tetapi aku mohon jangan lakukan ini.” Pinta Bong Ok. Ia mencengkram kaos yang dipakai Kiho. Wajahnya terlihat memelas dan basah oleh airmata.

“Seharusnya kau membawanya dari kemarin.” Sahut Kiho.

“Maaf, oppa. Maaf jika Siwon membuatmu sial, aku akan membawanya pergi bersamaku.”

“Tidak perlu. Aku akan menjualnya untuk mendapatkan uang.”

“Bawa dia, Lee Haejoon!” Bentak Kiho. Haejoon tampak bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Ia tidak bisa mengabaikan ancaman Kiho. Haejoon tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Haejoon akhirnya menggandeng tangan Siwon kecil yang tampak sudah pasrah. Bocah itu tidak melakukan apapun lagi selain menatap Kiho dengan tajam.

“Jangan, aku mohon jangan lakukan itu!” Bong Ok menahan Haejoon agar tidak membawa Siwon kecil.

“Maafkan aku, nyonya.” Sesal Haejoon.

“Kalau begitu bawa aku juga bersamamu. Aku tidak bisa berpisah dengan anakku!” Pinta Bong Ok pada Haejoon. Haejoon membulatkan matanya mendengar permintaan Bong Ok.

“Kang Bong Ok!!” Bentak Kiho. Ia juga tampak terkejut dengan ucapan Bong Ok.

“Aku tidak mau berpisah dengan Siwon, oppa. Jika kau memang ingin membuang Siwon, biarkan aku bersamanya. Biarkan kami pergi bersama agar tidak menyusahkan hidupmu lagi.” Kata Bong Ok dengan tangisan yang tidak berhenti.

“Apa kau yakin dengan ucapanmu? Kau benar-benar ingin hidup dengan anak sial itu?!” Tanya Kiho. Bong Ok mengangguk pasti.

“Ya. Dia anakku. Aku ingin hidup bersamanya.” Jawab Bong Ok. Kiho mengangguk beberapa kali dan tersenyum sinis.

“Baiklah, jika itu maumu. Bawa dia juga bersamamu, Haejoon-ah.”

“Kiho-ya..”

“Aku tidak membutuhkan mereka. Aku bisa hidup seorang diri.” Wajah Kiho terlihat sangat angkuh.

“Dia istri dan anakmu, Kiho-ya.” Kata Haejoon mengingatkan.

“Setelah ini, aku akan menganggap mereka mati.” Sahut Kiho. Siwon kecil tanpa sadar mengepalkan tangannya mendengar ucapan Kiho.

“Kau akan menyesal, Kiho-ya.” Ucap Haejoon. Walaupun begitu, ia tetap membawa Bong Ok dan Siwon kecil pergi dari sana.

“Sebentar.” Bong Ok menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kiho. Wanita itu mengusap airmatanya.

“Ingat baik-baik ucapanku, oppa. Sebanyak apapun uang yang kau dapatkan karena menjual Siwon, kau tidak akan pernah merasa bahagia. Kau tidak akan pernah meraih kesuksesan karena uang itu.” Setiap kata yang diucapkan oleh Bong Ok terdengar penuh penekanan. Setelahnya ia berbalik dan menggandeng tangan Siwon kecil untuk keluar dari rumah.

Siwon kecil menatap Kiho sekali lagi sebelum meninggalkan rumah yang ditinggalinya selama 9 tahun itu. Ia bersumpah tidak akan pernah memaafkan pria yang sedang berdiri dengan angkuhnya di depan sana. Ia bersumpah akan mengganggap Kiho telah mati setelah ia meninggalkan rumah ini. Seumur hidupnya ia tidak akan pernah mengganggap Kiho sebagai ayahnya.

——

–Osaka, Jepang–

Dua hari yang lalu, Bong Ok dan Siwon kecil sampai di Jepang bersama dengan anak-anak yang lainnya. Hanya Bong Ok yang merupakan orang dewasa diantara yang lainnya. Bong Ok tidak memperdulikan itu, yang penting ia tidak berpisah dari Siwon.

Namun tidak tau apa yang dilakukan oleh Bong Ok, ia bisa membawa dirinya dan juga Siwon kecil untuk melarikan diri dari perkumpulan tersebut. Sepertinya wanita itu menemukan celah untuk kabur dan menyelamatkan dirinya dan Siwon kecil dari penjualan anak. Bong Ok merasa senang karena dapat menyelamatkan diri. Hanya saja, ia tidak memiliki tujuan dan uang sama sekali. Bong Ok tidak pernah ke Jepang selama ini. Dan mereka belum mengisi perut sama sekali selama dua hari ini. Membuat tubuh keduanya terasa lemas sekali.

“Siwon-ah, kau masih bisa bertahan ‘kan? Eomma akan mencari uang agar kita bisa membeli makanan.” Ucap Bong Ok. Ia tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Siwon kecil.

“Aku baik-baik saja, eomma.” Siwon kecil memaksakan senyumnya pada Bong Ok. Bocah itu berbohong. Perutnya terasa sangat sakit karena tidak terisi apapun selama dua hari. Bong Ok mengusap kepala Siwon kecil dan mereka terus berjalan tanpa tau arah.

Saat sedang berjalan sembari menatap ke kanan dan ke kiri, Bong Ok melihat sebuah tempat yang bertuliskan bahasa Jepang. Wanita itu tidak bisa membaca tulisan tersebut. Namun saat melihat banyak gadis-gadis yang keluar dengan pakaian seksi bersama dengan laki-laki, membuat Bong Ok dapat menebak tempat apa yang sedang dilihatnya saat ini. Bong Ok terus menatap tempat itu dengan kegelisahan hatinya. Ia sudah tidak tau harus kemana dan mencari uang dimana. Ia tidak mengenal siapapun di negara asing ini.

Bong Ok tanpa sadar berjalan ke arah tempat itu masih dengan menggenggam tangan Siwon. Ia berdiri tepat di depan tangga yang akan membawanya masuk ke dalam, apabila ia menuruni tangga tersebut. Bong Ok sedang berperang dengan hatinya sendiri. Ia tau apa yang dilakukannya ini tidaklah benar. Namun lagi-lagi Bong Ok tidak memiliki pilihan lain.

“Tempat apa ini, eomma?” Tanya Siwon kecil. Bong Ok menatap Siwon dan tersenyum kecil.

“Eomma akan mencari pekerjaan disini.” Jawab Bong Ok. Siwon kecil hanya mengangguk karena ia tidak mengetahui tempat apa yang ada dihadapannya saat ini.

Setelah mereka menuruni tangga dan masuk ke dalam, Bong Ok dan Siwon kecil dapat mendengar suara musik yang menghentak dengan sangat keras. Membuat keduanya merasa risih karena ini pertama kalinya mereka mendatangi tempat seperti ini. Siwon kecil membulatkan matanya saat melihat banyak perempuan yang berpakaian seksi bahkan hampir telanjang, sedang berdansa dengar beberapa laki-laki. Selain itu, Siwon kecil juga dapat melihat beberapa pasangan yang sedang berciuman dan juga saling meraba tubuh mereka. Membuat wajah Siwon kecil tanpa sadar memerah.

“Eomma, kenapa kita kesini? Aku tidak mau berada di tempat ini.” Siwon kecil terpaksa berteriak untuk mengalahkan suara musik. Bong Ok tampak tidak memperdulikan ucapan Siwon kecil. Wanita itu sedang sibuk mencari seseorang yang dapat diajaknya berbicara.

Bong Ok mendekati seorang bartender yang sedang menyiapkan minuman. Ia mengajak bartender tersebut berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Walaupun tidak pandai dalam menggunakan bahasa tersebut, setidaknya Bong Ok sedikit menguasainya. Siwon kecil tidak tau apa yang dibicarakan Bong Ok bersama bartender tersebut. Siwon kecil hanya berharap Bong Ok dapat membawanya keluar dari tempat ini sekarang juga.

“Ayo, Siwon-ah.” Bong Ok kembali menarik Siwon kecil entah kemana. Siwon kecil hanya mengikuti karena berpikir akan di ajak pergi dari tempat ini. Namun nyatanya mereka menaiki tangga dan memasuki sebuah ruangan yang berisi sebuah tempat tidur berukuran besar.

“Apa kita akan tidur disini?” Tanya Siwon kecil. Bong Ok benar-benar merasa bersalah pada Siwon. Ia terpaksa melakukan hal nista ini untuk mendapatkan uang. Bong Ok hanya merasa terlalu putus asa saat ini.

“Tidak, Siwon-ah. Eomma akan bekerja di kamar ini.” Jawab Bong Ok dengan matanya yang berkaca-kaca. Siwon kecil tidak mengerti maksud ucapan Bong Ok. Pekerjaan apa yang dilakukan di kamar ini?

Beberapa saat kemudian, seorang pria berperut buncit memasuki kamar. Pria itu menyeringai sembari menatap Bong Ok. Matanya terlihat buas ketika memandangi tubuh Bong Ok yang tidak bisa dikatakan jelek. Walaupun sudah melahirkan Siwon, Bong Ok memiliki tubuh layaknya seorang gadis berusia 20an tahun.

Pria itu berbicara dengan menggunakan bahasa Jepang yang tidak dapat di mengerti oleh Bong Ok dan Siwon kecil. Ia mendekati Siwon kecil dan menggiring bocah itu ke sudut kamar. Selanjutnya pria itu mulai menghampiri Bong Ok dan melucuti pakaiannya satu per satu, hingga Bong Ok telanjang dihadapannya. Siwon kecil sangat terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu. Namun ia tidak dapat melakukan apapun saat melihat pria itu juga menelanjangi dirinya sendiri. Melihat Bong Ok yang tidak melakukan perlawanan sama sekali, membuat Siwon kecil berpikir bahwa ini adalah keinginan Bong Ok sendiri.

Siwon kecil hanya dapat mengepalkan tangannya dengan mata yang berkaca-kaca saat melihat apa yang kedua orang itu lakukan dihadapannya. Di hadapan seorang anak berusia 9 tahun. Yang sebenarnya belum pantas sama sekali melihat hal nista seperti itu. Dan malam itu, Siwon kecil kembali bersumpah pada dirinya sendiri. Bahwa ia tidak akan hanya menbenci Kiho yang telah menjual dirinya kepada orang lain. Tetapi juga akan membenci Bong Ok karena telah melakukan hal nista yang seharusnya tidak dilakukan dihadapannya.

Flashback End

——

–To Be Continued–

HAI! Bagaimana dengan masa lalu Siwon? Aku mau minta maaf sama ayah mertua (Choi Kiho) karena sudah membuat dirimu begitu jahat disini, abeonim! Mianhae T.T ini hanya fiksi, ya! Jangan di ambil hati. Hohoho.

Alasan kenapa Siwon masih memanggil ayahnya dengan ‘appa’ di saat sudah besar adalah karena dia berpisah dengan ayahnya saat masih kecil. Jadi dia masih kebawa sampe sekarang manggil ‘appa’ yang seharusnya dipanggil ‘abeoji’.

Sepertinya masih ada 1 flashback lagi tentang masa lalu Siwon. Aku belum tau ada di part mana, nantikan saja, ya!

Happy reading!

BYE~

Advertisements

86 thoughts on “Painful Life – Part 11

  1. Bapak edan…orang gila itu mah..bangkrut krn dia yg kerja malah salahin anak yg di rmh..sedeng!!
    #emosiparah
    #abaikan
    Hehehehe…
    Lanjut Yong ^^

  2. Akhirnya sedikit banyak bisa tau masa lalu siwon 🙂 Walopun nyesekkkkk T.T

    Itu kenapa kita sebenernya gak dibolehin dateng ke peramal. Yang tadinya gak percaya pun secara gak sadar bisa jadi ngehubung-hubungin apa yang terjadi dengan ramalannya si peramal. Dan seperti ini, walopun fiksi tapi memang kebanyakan di masyarakat begitu. Sebenernya kan takdir itu udah di atur. Gak ada hubungannya matinya seseorang dengan lahirnya seseorang.

    *abaikantulisandiatas* heheee

    Next part ditunggu kak ^^
    Semangat!!!

  3. oh astaga !!! Aku sampe merinding baca.a, siwon kecil yg malang TT-TT ternyata itu yg bikin siwon jd brsikap kek gitu pas udah dewasa TT-TT daebak eon,ditunggu next part.a

  4. busettt.. siwon appa tega bener sumpah, jangan sampe deh ada orang kekgitu..

    jadi ini yg bikin siwon benci juga sama eomma nya, tapi kan eomma siwon begitubkan buat siwon juga.

    jangan terlalu lelah nde^^ fighting!!

  5. Yaampun sedih nya jadi siwon kecil hu hu hu 😥 ga nyangka si kiho kayak begitu.. jadi bapa ko jahat amat. Pantes aja trauma nya susah ilang.. semoga yongri bisa bantu siwonnn

    Nicee!!

  6. Kejam banget appa nya siwon, ngelampiasin kegagalannya sendiri ke anaknya yang tidak bersalah..rela ngejual anaknya, dan mengusir istrinya juga..belum lagi ngeliat eommanya yang menjadi pelacur..
    Pantesan siwon mengalami trauma yang besar..

  7. haduh nyesek bngt bacanya,
    Ayah jahat, ga pny hati,
    Ibu yg sbnarnya baik, tp knp hrs brbuat bgt di depan mata Siwon????????????

  8. Jadi ini toh..jdi begini critanya? Astaga siwon kecil yg tragis, emakmu tuh bukannya jahat, cuma dia harus melakukan itu biar kalian bisa hidup siwon. Aduhh..dasae deh, tp kiho aduhh..sampe tega bgt ngejual anak+istrinya

  9. masa lalu siwon kelam banget ya… untung dia kuat & ga jadi “penjahat kelamin” untuk melampiaskan kebenciannya.
    tapi yg pas eomma siwon gituan kok siwon ga ditinggal di luar aja biar ga liat tpi malah dibawa ke dalam kamar.

  10. Kasian bgt nasib siwon kecil.setelah di jua oleh appa nya,ibu nya malah memilih pekerjaan menjadi wanita penghibur. Meski pun niatnya untuk menghidupi siwon.😢😢

  11. hahh jd bgtu.
    kalo kegagalan seseorang mah itu kesalahannya sendiri tega banget anaknya di sebut anak pembawa sial mana sampe dihajar bahkan dijual
    udah bener tu dibawa prgi aja
    ehh dibawa pergi tp ibunya kerja bgtuan astaga knpa kluarganya jd pada gak bener
    kasian siwon kecl hrus menderita sberat itu saat kecil dmna mereka bersenang senang dengan tmnnya

  12. Pantas saja siwon jadi bersikap seperti itu, ternyata dia mempunyai masa lalu yang sangat sangat sangat menyakitkan batinnya. Poor siwon,,, moga aja ada pencerahan di hidupnya siwon…

  13. Semua gara2 Peramal… coba aja dulu peramal ga pernah ngomong aneh2 pasti ga bakal segitunya Choi Kiho.. masa lalu nya siwon pait bener.. dan sikap dingin nya siwon kayanya emang bener2 dr bapaknya..
    Pukpuk Siwon..
    Semoga Yongri makin punya cara buat luluhin hati siwon.. 😐

  14. Ya allah part ini bener2 nyesek😭😭😭 kasian masa kecil nya siwon yang dibenci bgt sm appa kandungx diblg anak sial,eommax ngejual diri 😭😭 jd ini yg menyebabkan siwon trauma berat😭😭 omo kisah yg memilukan:'(

  15. Jadi semula berawal dr kakek-nenek siwon. Peramal2 apaan wkwkwk Bagus kiho engga percaya tp setelah 9taun semuanya di percaya. Dan itu emaknya siwon engga berperasaan banget sih, td mikirnya baik ehhh malah begitu.. kasian siwon kecil makanya sekarang jd kayak gitu…..

  16. Aku balik lagi thor, sedih banget yak masalalunya siwon ,harus dianggap anak sial ,terus liat emak nya kaya gitu lagi . Pantes aja dia tumbuh jadi orang yang kaya gitu . Ok thor aku labas ke part selanjutnya ya..

  17. Kasian siwon masa lalunya yg sangat tragis dia dijual sang ayah dan sang ibu melakukan pekerjaan yg tak semestinya dihadapan siwon..wajar jika siwon trauma dan bersikap dingin terhadap sang ibu…
    Kesalahan terletak pada sang peramal..

  18. Huwaaaaaa author jahattt ngasih masa lalu siwon sangatt gelapp ㅠ_ㅠ udah di katain anak sial,dianiaya ayahnya,dijual ayahnya,trs hrs liat ibunya bekerja sbg psk
    jahaaatttt,sumpah ngeri ak bayangin ny thor ㅠㅠ

  19. Kasian siwon kecil yg dijual sama appanya sendiri,,, jadi syedihhh bacanyaaaaa hikss :((
    Udh gk kuat bgt baca part ini pen cepet beress, kasian sumpah liat siwon yg di siksa oleh appanya:((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s