Painful Life – Part 10

IMG_20160624_103143

Author

Choineke

Title

Painful Life

Cast

Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Cho Kyuhyun and others

Genre

Sad Romance, Marriage-life

Length

Chapter

Rating

PG-17

——

Aku terlalu sering menyakitimu. –Choi Siwon-

——

Author POV

Tiga hari berlalu semenjak Yongri mengetahui dirinya sedang mengandung buah cintanya dengan Siwon. Buah cinta? Yongri merasa dua kata itu tidaklah cocok untuk menggambarkan bayi yang berada di perutnya saat ini. Jika ia memang sedang mengandung buah cinta mereka, bukankah seharusnya mereka merasa senang? Bukankah seharusnya Siwon menemaninya melewati masa-masa kehamilan seperti ini? Lalu, kemana laki-laki itu? Ia bahkan sudah tidak pulang ke apartement selama tiga hari. Tepat setelah ia mengetahui kehamilan Yongri.

Yongri tentu merasa sangat terluka dengan sikap Siwon. Laki-laki itu menolak kehamilannya dan menyuruh Yongri untuk menggugurkan kandungannya. Yongri benar-benar tidak tau apa yang ada dipikiran Siwon saat ia mengatakan kalimat terkutuk itu. Bayi yang dikandungnya adalah sosok yang tidak berdosa. Jika Siwon memang tidak menginginkan bayi ini, bukankah seharusnya laki-laki itu tidak menumpahkan spermanya di rahim Yongri?

“Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?” Yongri menyeka airmatanya. Sudah tidak terhitung seberapa banyak airmata yang dikeluarkan Yongri selama tiga hari ini. Saat mengingat perkataan Siwon saat itu, Yongri akan kembali menangis dan benar-benar membenci Siwon. Namun Yongri tidak benar-benar membencinya, karena Yongri mengharapkan kepulangan laki-laki itu. Mengharapkan kedatangannya dan berkata bahwa saat itu ia hanya bercanda.

Yongri sudah berusaha untuk menghubungi Siwon. Tetapi ponsel laki-laki itu tidak aktif. Yongri juga menghubungi Jungsoo, namun sekretaris pribadi Siwon itu juga tidak mengetahui keberadaan Siwon. Jungsoo bahkan harus mengerjakan pekerjaan Siwon karena laki-laki itu menghilang. Jungsoo terus bertanya pada Yongri tentang apa yang terjadi. Namun Yongri tidak memiliki keberanian untuk menceritakannya pada Jungsoo. Ia tidak ingin Jungsoo mengasihaninya. Lagipula, Yongri ingin meluruskan masalah ini terlebih dahulu sebelum mengumbar kehamilannya.

Mendengar suara pintu apartement membuat Yongri dengan segera keluar dari kamarnya. Ia berharap itu Siwon. Namun harapan Yongri tidak terkabulkan, karena yang datang adalah Bong Ok. Yongri menyeka airmatanya dan membungkuk sopan untuk menyapa Bong Ok. Bong Ok terlihat terkejut dengan penampilan Yongri. Wajahnya yang lusuh dengan bekas airmata dan rambut acak-acakan. Bong Ok mendekati Yongri sembari menatap gadis itu dari atas ke bawah.

“Bagaimana bisa penampilan seorang istri seperti ini?” Kata Bong Ok dengan suara yang tidak bersahabat.

“Maaf.” Ujar Yongri dengan membenarkan rambutnya dan mengusap wajahnya.

“Dimana Siwon?” Tanya Bong Ok. Yongri terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena ia juga tidak tau dimana keberadaan Siwon.

“Aku bertanya padamu!” Ucap Bong Ok kesal.

“A–aku tidak tau dimana Siwon oppa.” Jawab Yongri.

“Bagaimana mungkin? Kau istrinya dan kalian tinggal bersama. Jangan coba-coba untuk membohongiku.” Bong Ok berjalan melewati Yongri dan berniat mencari Siwon dikamarnya.

“Siwon oppa tidak pulang ke apartement sejak tiga hari yang lalu.” Perkataan Yongri membuat langkah Bong Ok terhenti. Wanita itu berbalik dan menatap Yongri dengan terkejut.

“Kenapa?” Tanya Bong Ok lagi. Yongri meremas kesepuluh jarinya. Apa yang harus dikatakannya?

“Aku bertanya padamu kenapa Siwon tidak pulang?!” Bong Ok mencengkram lengan Yongri.

“A–aku–” Yongri merasa ragu. Haruskah ia mengatakannya kepada Bong Ok? Bagaimana jika Bong Ok bersikap seperti Siwon dan menyuruh Yongri untuk menggugurkan bayi di dalam kandungannya? Tapi, Bong Ok adalah seorang wanita. Dia tidak mungkin setega itu pada Yongri, kan?

“A–aku hamil.” Ujar Yongri. Ia memberanikan diri menatap wajah Bong Ok. Sama seperti Siwon, Bong Ok juga terlihat terkejut mendengar berita kehamilan Yongri.

“H–hamil?” Ulang Bong Ok. Yongri mengangguk pelan. Bong Ok menatap perut Yongri yang datar.

“Lalu kenapa Siwon tidak pulang?” Cengkraman Bong Ok di lengan Yongri mengendur namun tidak lepas. Airmata Yongri kembali mengalir.

“S–Siwon oppa tidak menginginkan kehadiran bayi di dalam kandunganku. Di–dia menyuruhku menggugurkannya.” Jelas Yongri. Bong Ok benar-benar tidak percaya mendengar ucapan Yongri. Walaupun sebenarnya Bong Ok sudah dapat mengetahui alasan Siwon melakukan itu. Masa lalunya membuat laki-laki itu takut memiliki seorang keturunan. Bong Ok benar-benar mengutuk dirinya yang menjadi salah satu penanggung jawab atas apa yang terjadi pada Siwon.

Bong Ok melepaskan tangannya pada lengan Yongri. Mengusap sudut matanya yang hendak mengeluarkan airmata. Dia tidak membenci bayi yang ada di dalam kandungan Yongri. Ia tidak merasa kesal sama sekali. Bagaimanapun, bayi di dalam kandungan Yongri tidak berdosa. Bayi itu tidak mengetahui apapun.

“J–jika Siwon pulang, kau harus memberitahukannya padaku.” Pesan Bong Ok. Bong Ok menatap Yongri sebentar sebelum kembali melewatkan gadis itu untuk meninggalkan apartement.

“Jaga dirimu dan bayi di dalam kandunganmu.” Ujar Bong Ok. Yongri menatap Bong Ok dan menganggukkan kepalanya. Beruntung karena Bong Ok tidak meminta hal yang sama seperti yang Siwon lakukan. Dari awal Yongri sudah tau bahwa Bong Ok tidak benar-benar jahat.

Sepeninggalan Bong Ok, Yongri segera membenahi dirinya. Mandi dan memakai riasan seadanya. Ia harus memeriksakan kandungannya ke dokter. Ia harus tau berapa usia kandungannya, walaupun Siwon tidak menginginkan anak ini. Yongri akan mempertahankan bayi ini bagaimanapun caranya. Jika ia dan Siwon harus berpisah, bayi ini akan menjadi penyemangat hidupnya. Ia bisa terus mengingat sosok Siwon dari bayi ini.

Yongri turun dari taksi saat sudah sampai di salah satu rumah sakit yang berada di Seoul. Yongri merasa miris karena harus melakukan ini seorang diri. Seorang wanita hamil biasanya ditemani oleh suaminya ketika sedang melakukan check up. Seorang suami biasanya sangat menjaga istrinya yang sedang hamil muda. Selain karena menanti kehadiran anaknya, mereka juga takut terjadi sesuatu pada istri mereka. Tetapi tidak untuk Yongri. Suaminya bahkan tidak memperdulikannya sama sekali.

Yongri mendaftarkan dirinya pada bagian administrasi. Mengisi formulir sendiri dan menunggu dirinya di panggil oleh seorang perawat. Sesuai dugaan Yongri, banyak wanita yang juga ingin memeriksakan kandungan mereka. Dan tentu saja ditemani oleh suami mereka. Hanya Yongri yang datang seorang diri saat itu. Yongri menghela nafas dan mencoba untuk mengabaikan mereka. Ia yakin masih bisa bertahan walaupun harus mengurus bayi di dalam kandungannya seorang diri.

“Nyonya Choi Yongri.” Panggil seorang perawat membuat Yongri langsung berdiri.

“Silahkan masuk.” Ujar perawat tersebut.

“Ya.” Yongri segera masuk ke dalam ruangan seorang dokter kandungan. Perawat tersebut menuntun Yongri untuk berbaring di ranjang sebelum dokter melakukan pemeriksaan.

Seorang dokter wanita bernama Kang Iljoo dan berusia pertengahan 40 tahun mendekati Yongri dan tersenyum kecil. Yongri membalas senyuman tersebut. Ia membiarkan dokter itu melakukan pemeriksaan yang sejujurnya tidak di mengerti oleh Yongri. Bukankah ia masih terlalu muda untuk melalui ini semua? Namun Yongri tidak pernah merasa menyesal. Ia merasa bahagia bisa mengandung anak Siwon.

Setelah Dokter Kang selesai memeriksa Yongri, keduanya duduk saling berhadapan di ruangan itu. Dokter Kang tampak sedang meresepkan obat yang harus ditebus oleh Yongri. Yongri menunggu dengan sabar sembari sesekali mengusap perutnya dengan pelan.

“Kandungan Anda baik, Nyonya Choi.” Ujar Dokter Kang sembari menatap Yongri.

“Ah, benarkah? Syukurlah. Berapa usianya, dok?” Tanya Yongri.

“Usia kandungan Anda 6 minggu.” Jawab Dokter Kang. Yongri menganggukkan kepalanya.

“Walaupun kandungan Anda baik-baik saja, tetapi tidak dengan rahim Anda, nyonya.” Kata Dokter Kang membuat Yongri menjadi takut. Ada apa dengan rahimnya?

“Maksud Anda, dok? Ada apa dengan rahim saya?”

“Karena usia Anda yang masih muda, rahim Anda masih belum terlalu kuat untuk mengandung.” Jelas Dokter Kang.

“L–lalu apa akan terjadi sesuatu yang berbahaya pada bayi di dalam kandungan saya, dok?” Tanya Yongri.

“Tidak, nyonya. Selama Anda menjaganya dengan baik, Anda akan melahirkan dengan selamat. Bayi Anda juga akan baik-baik saja. Tetapi Anda harus menghindari benturan pada perut Anda. Benturan lembut ataupun benturan keras.” Jawab Dokter Kang.

“Sedikit benturan saja bisa memungkinkan Anda mengalami keguguran.” Lanjut Dokter Kang.

“Saya mengerti, dok.” Ujar Yongri.

“Saya sudah meresepkan beberapa vitamin untuk Anda. Ada vitamin yang dapat mengurangi mual dan vitamin untuk menguatkan rahim Anda.” Dokter Kang memberikan sebuah resep yang sudah penuh dengan tulisannya kepada Yongri. Yongri menerima resep itu dan menganggukkan kepalanya.

“Terima kasih banyak, dok.” Kata Yongri.

“Senang bisa membantu, nyonya.” Balas Dokter Kang.

Yongri keluar dari ruangan Dokter Kang dan menyelesaikan pembayaran administrasinya. Tidak lupa menebus resep yang sudah dibuatkan oleh Dokter Kang. Untung saja ia memiliki uang pemberian dari Siwon, sehingga Yongri masih dapat pergi ke rumah sakit walaupun tidak ada Siwon disisinya. Setelah menyelesaikan semua urusannya di rumah sakit, Yongri segera meninggalkan rumah sakit menggunakan taksi.

Jarak dari rumah sakit dan apartement Siwon yang cukup jauh, membuat Yongri harus menempuh perjalanan hampir satu jam. Hari mulai sore dan Yongri merasa perutnya lapar. Ia memang tidak sempat memakan apapun sejak bangun tidur. Terlalu memikirkan nasib anaknya yang tidak diinginkan oleh Siwon. Yongri masuk ke apartement dan tertegun saat melihat sepatu Siwon. Yongri sempat terdiam ditempatnya, sebelum akhirnya mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan segera masuk ke dalam. Ia harus berbicara dengan Siwon.

Hampir mendekati ruang televisi, Yongri mendengar suara-suara yang aneh. Suara-suara yang sering Yongri dengar ketika ia dan Siwon sedang bercinta. Namun Yongri mencoba untuk menepis itu. Yongri memperlambat langkahnya dan tiba-tiba ia merasa sangat takut. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Keringat pun mengalir di sekitar pelipisnya. Yongri meneguk ludahnya yang terasa sangat keras. Langkah Yongri semakin dekat dengan ruang televisi, dan Yongri merasa jantungnya berhenti berdetak. Apa yang ditakutkannya terjadi.

Di sana, di sofa yang sering Yongri pakai untuk menonton televisi saat menunggu Siwon pulang, ada sepasang manusia yang sedang menyalurkan gairah mereka. Sang lelaki yang berbaring di atas sofa dan sang wanita yang berada diatasnya sembari menaikturunkan tubuhnya. Suara desahan wanita itu membuat Yongri benar-benar merasa sangat muak. Dan sialnya laki-laki yang sedang berbaring itu tampak sangat menikmati apa yang dilakukan wanita itu.

Yongri tidak akan merasa sesakit ini seandainya ia tidak mengenal laki-laki yang sedang berada di sana. Yongri tidak akan merasa sesakit ini seandainya ia tidak mencintai laki-laki yang sedang berada di sana. Dan Yongri tidak akan merasa sesakit ini seandainya bukan Siwon yang sedang bercinta dengan wanita lain di apartement, di mana tempat mereka tinggal. Yongri tidak dapat menahan airmatanya. Airmata itu mengalir dengan begitu saja tanpa sempat Yongri cegah. Dan tangis Yongri semakin menjadi saat mata Siwon menatap matanya, namun laki-laki itu tidak berbuat apapun selain mendesah.

——

A Few Hours Ago

Siwon pulang ke apartement dalam keadaan sedikit mabuk. Ia tidak pulang sendiri melainkan bersama wanita yang dijodohkan Bong Ok padanya, yaitu Han Seol. Seol memegangi Siwon saat berjalan agar laki-laki itu tidak terjatuh. Beberapa kali Siwon menepis tangannya karena Siwon merasa mampu berjalan sendiri. Namun Seol tidak mengindahkan penolakan Siwon, ia tetap merangkul lengan laki-laki itu dengan erat.

Siwon melangkahkah kakinya menuju ruang televisi. Ia butuh tidur saat ini. Karena selama tiga hari ini ia hanya tidur beberapa jam saja. Siwon tidak ingin menuju ke kamarnya karena memikirkan keberadaan Yongri di sana. Ia belum bisa bertemu dengan gadis itu. Ia tidak mampu menatap wajah Yongri yang sudah pasti menatapnya dengan wajah kecewa. Siwon mendudukan dirinya di sofa dan menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Memejamkan matanya dan menghela nafas dengan panjang.

Seol yang berada di sebelah Siwon mengusap dada laki-laki itu dengan gerakan menggoda. Walaupun Siwon sudah menepis tangannya, Seol tidak kehabisan akal. Ia menaikkan tangannya dan mengusap wajah tampan Siwon, hingga membuat Siwon menjadi kesal padanya. Laki-laki itu membuka matanya dan menatap Seol dengan marah.

“Apa yang kau lakukan?!” Bentak Siwon.

“Oppa, aku tau kau sedang banyak pikiran. Dan aku bisa membantumu menguranginya.” Bisik Seol. Siwon mendengus kasar mendengar bisikan wanita itu.

“Aku tidak butuh kau!” Ujar Siwon, kembali menepis tangan Seol untuk menjauh. Seol berdecak dan menatap Siwon dengan kesal.

“Aku sudah menemanimu selama tiga hari ini, oppa! Apa kau tidak mau bercinta denganku sekali saja?” Kata Seol meluapkan kekesalannya. Siwon tersenyum sinis.

“Aku tidak memintamu untuk menemaniku. Dan apa kau bilang? Bercinta? Dasar wanita gila! Bercinta hanya dilakukan oleh orang-orang yang saling mencintai.”

“Aku mencintaimu!” Sahut Seol cepat.

“Aku tidak!” Balas Siwon membuat Seol semakin merasa kesal.

“Pergilah! Aku sudah bilang untuk tidak datang ke apartementku lagi! Dasar jalang!” Siwon kembali membentak Seol. Seol benar-benar merasa sakit hati dengan ucapan Siwon. Ia juga kesal karena Siwon tampak tidak tertarik sama sekali dengannya. Tidak pernah ada laki-laki yang seperti ini padanya, sebelumnya. Dan Seol tidak akan membiarkannya begitu saja. Ia akan membuat Siwon memohon padanya.

“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Tetapi sepertinya kau membutuhkan minum. Suaramu terdengar serak karena terlalu banyak minum alkohol. Aku akan membuatkanmu minuman hangat.” Ujar Seol. Siwon tidak menanggapi ucapan wanita itu dan kembali memejamkan matanya.

Han Seol tersenyum sinis dan segera meninggalkan Siwon untuk ke dapur. Ia membuatkan laki-laki itu secangkir teh hangat. Seol mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi cairan putih dari dalam tasnya. Ia meneteskan beberapa tetesan ke dalam cangkir teh yang sudah di buat Seol. Ia memasukkan kembali botol kecil tersebut ke dalam tasnya dan mengaduk teh Siwon. Seol membawa secangkir teh itu kembali ke ruang televisi dan memberikannya kepada Siwon.

“Oppa, minum teh ini dulu sebelum kau tidur.” Ujar Seol membangungkan Siwon. Siwon mengerang kesal namun tetap membuka matanya. Ia memang membutuhkan minuman hangat saat ini.

Siwon menegakkan punggungnya dan menerima cangkir yang diberikan oleh Seol. Ia meminum teh tersebut beberapa tegukan dengan perlahan. Setelahnya ia kembali memberikan cangkir tersebut kepada Seol. Seol menaruh cangkir itu di atas meja dan menatap Siwon dengan alisnya yang terangkat sebelah.

“Pergilah. Aku ingin sendiri.” Ujar Siwon yang sudah kembali menyandarkan punggungnya.

“Aku mengerti. Aku akan pergi.” Sahut Seol. Namun tidak beranjak sedikitpun dari posisinya.

Beberapa menit kemudian, Siwon terlihat gelisah. Beberapa kali ia menggerakkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman. Kedua alisnya saling bertautan, dan Siwon mengusap tengkuknya yang terasa panas. Tidak hanya tengkuknya, tetapi seluruh tubuh Siwon terasa sangat panas.

“Sial! Kenapa panas sekali?” Siwon membuka kemejanya dan menyisakan kaos putih polos yang membalut tubuh atasnya. Seol yang berada di sebelah Siwon hanya menatap laki-laki itu dengan senyum penuh kemenangan.

“Arggh! Panas!” Ujar Siwon mengusap wajahnya dengan frustasi. Siwon menegakkan punggungnya dan menatap Seol dengan tajam. Seol kembali menaikkan sebelah alisnya sembari membalas tatapan Siwon.

Siwon menarik tengkuk Seol dan menyambar bibir wanita itu. Namun baru beberapa saat Siwon menyentuh bibir Seol, Seol mendorong dada Siwon hingga bibir keduanya terpisah. Siwon menatap Seol dengan kesal.

“Apa yang kau lakukan?!” Tanya Seol berpura-pura marah.

“Sialan! Aku tau kau menaruh obat perangsang di dalam teh itu! Dan sekarang kau mau berpura-pura menolakku? Dasar wanita iblis!” Maki Siwon.

Siwon kembali menarik tengkuk wanita itu dan mencium bibir Seol dengan kasar. Ia merasa tidak perlu bersikap lembut pada wanita pelacur ini. Seol masih merasa geram kepada Siwon. Nyatanya walaupun ia sudah membuat Siwon terangsang, laki-laki itu tetap tidak mau memohon padanya. Dan malah berbuat kasar padanya. Namun Seol tidak menolak Siwon dan membiarkan laki-laki itu berbuat sesukanya. Karena memang ini yang diinginkan oleh Seol.

Siwon sangat sadar dengan apa yang dilakukannya. Dan Siwon juga sangat sadar siapa yang sedang disentuhnya saat ini. Siwon ingin menghentikan apa yang dilakukannya, namun ia tidak bisa. Otak serta anggota tubuhnya sedang tidak bisa di ajak untuk bekerja sama. Seluruh tubuhnya tidak mau mengikuti perintah otaknya untuk berhenti. Siwon bahkan mengutuk dirinya sendiri karena sudah melanggar janjinya pada Yongri.

Siwon melakukan semuanya dengan cepat. Karena ia ingin semuanya cepat selesai dan Yongri tidak harus melihat kelakuan brengseknya. Namun sayangnya harapan Siwon tidak terkabul, karena ia dapat melihat Yongri yang sedang berdiri sembari menatapnya dengan wajah terluka. Gadis itu menangis dan airmata membasahi wajahnya. Siwon sudah tidak tau seberapa brengsek dirinya, hingga terus membuat Yongri menangis. Walaupun begitu, tidak ada yang dapat dilakukan Siwon. Ia memalingkan wajahnya dari gadis itu. Memejamkan matanya dan menikmati apa yang sedang dilakukan oleh Han Seol.

——

Yongri duduk di sudut kamar dengan memeluk kedua lututnya. Tidak tau sudah berapa lama ia duduk di sana sembari menatap ke depan dengan pandangan kosong. Terdapat jejak-jejak airmata di wajah Yongri. Ia sengaja tidak menghapusnya dan membiarkan dirinya terlihat sangat menyedihkan. Yongri mengunci dirinya di dalam kamar Siwon. Ia tidak ingin Siwon menerobos masuk ke dalam kamar. Karena sejujurnya Yongri sedang tidak ingin melihat wajah Siwon.

Namun nyatanya tidak terdengar ketukan pintu semenjak Yongri duduk si sudut kamar. Tidak terdengar suara Siwon yang hendak mendobrak pintu dan berniat menjelaskan sesuatu kepada Yongri. Siwon kembali merasa kecewa. Setelah melanggar janjinya, Siwon bahkan tidak berniat untuk meminta maaf ataupun menjelaskan sesuatu kepada Yongri.

“Laki-laki jahat.” Gumam Yongri. Dalam seumur hidupnya, Yongri tidak pernah ingin membunuh seseorang. Namun saat ini ia sangat ingin membunuh Siwon. Laki-laki itu dengan tega membuatnya jatuh cinta dan sekarang dengan seenaknya membuat gadis itu kecewa.

Seandainya Yongri bisa membunuh Siwon. Namun sayangnya rasa cinta gadis itu lebih besar daripada rasa bencinya kepada Siwon. Ia bersedia memaafkan Siwon jika laki-laki itu menemuinya sekarang juga. Ia tidak akan meminta penjelasan apapun dari Siwon. Cukup dengan Siwon menemuinya dan memeluknya sebentar saja. Yongri yakin ia dapat langsung memaafkan Siwon.

Yongri sadar bahwa ia tidak memiliki hak untuk marah kepada Siwon. Walaupun ia adalah istrinya Siwon, Siwon menikahinya bukan karena cinta. Siwon tidak pernah mencintainya sejak awal. Cinta Yongri hanya bertepuk sebelah tangan. Bukankah dengan kenyataan itu, Siwon berhak untuk meniduri wanita mana saja? Yongri tidak berhak mengatur Siwon hanya karena laki-laki itu berstatus sebagai suaminya.

“Ayahmu benar-benar laki-laki brengsek, kan?” Kata Yongri sembari mengusap perutnya.

Yongri mengusap wajahnya dan berdiri. Ia meringis saat merasakan sakit pada pinggangnya. Sepertinya ia terlalu lama duduk dan tidak bergerak. Yongri mengusap pinggangnya dengan pelan. Gadis itu menatap jendela kamar yang memperlihatkan langit yang sudah gelap. Setelahnya ia menatap pintu kamar yang tertutup dengan rapat. Yongri ingin keluar kamar dan ia harap Siwon dan wanitanya tidak ada di luar sana. Yongri tidak ingin menambah sakit hatinya dengan melihat sepasang manusia itu.

Dengan gerakan perlahan, Yongri memutar kunci dan kemudian membuka pintu dengan pelan. Apartement dalam keadaan gelap dan sepi saat Yongri menginjakkan kakinya keluar kamar. Ia memberanikan dirinya untuk menuju ruang televisi. Tempat dimana ia melihat hal terkutuk tadi sore. Yongri benar-benar tidak mendengar apapun sehingga ia berpikir bahwa tidak ada siapapun di apartement selain dirinya.

Namun ternyata Yongri salah. Masih ada seorang wanita dan laki-laki yang duduk di sofa ruang televisi. Hanya saja wanita yang duduk di sana, berbeda dengan wanita yang bersama dengan Siwon tadi sore. Wanita yang berada di sana adalah wanita yang dibenci Siwon namun aliran darahnya mengalir di tubuh Siwon. Kang Bong Ok.

“Ny–Nyonya Kang.” Yongri bergumam pelan. Yongri cukup terkejut dengan kehadiran Bong Ok. Ia tidak memberitahukan wanita itu tentang kepulangan Siwon. Dan Yongri tidak tau darimana wanita itu tau bahwa anak tunggalnya tersebut sudah pulang ke apartement.

Yongri memundurkan langkahnya karena tidak ingin kehadirannya diketahui oleh kedua orang itu. Walaupun sebenarnya sedari tadi Bong Ok maupun Siwon sama-sama tidak menyadari kehadiran Yongri. Yongri ingin meninggalkan ruang televisi, namun ia tidak bisa menutupi rasa ingin tahunya tentang apa yang dibicarakan oleh ibu dan anak tersebut. Yongri tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Siwon yang sedang tertunduk di hadapan Bong Ok. Serta Bong Ok yang sedang menatap Siwon dengan pandangan sedih.

“Siwon-ah..” Yongri mendengar Bong Ok membuka suaranya.

“Kenapa kau seperti ini?” Tanya Bong Ok. Suara wanita itu terdengar bergetar. Siwon masih betah dengan kebisuannya. Bong Ok mendekati Siwon dan menggenggam tangan laki-laki itu. Namun Siwon malah menepisnya dan melepaskan genggaman tangan Bong Ok.

“Siwon-ah, aku tau jika aku sudah mengecewakanmu. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Aku tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik untukmu.” Kata Bong Ok dengan airmata yang mengalir dipipinya.

“Biarpun seperti itu, aku tetap ibumu, Siwon-ah. Aku yang melahirkanmu. A–aku ingin kau berbagi denganku apa yang sedang kau pikirkan. Aku ingin berguna di dalam hidupmu, walau hanya satu kali.” Ujar Bong Ok.

“Kau tidak perlu melakukannya. Karena aku pun tidak pernah berguna untuk hidup orang lain.” Ucap Siwon.

“Tidak seperti itu, Siwon-ah.” Bantah Bong Ok.

“Istri dan bayi di dalam kandungan Yongri sangat membutuhkanmu.” Lanjut Bong Ok. Siwon mendongak dan menatap Bong Ok. Bong Ok dapat melihat mata Siwon yang memerah. Bukan karena laki-laki itu mabuk, tetapi karena Siwon sedang menahan tangisnya.

“Kau tidak bersungguh-sungguh saat menyuruh istrimu untuk menggugurkan bayi kalian, kan?” Tebak Bong Ok.

Siwon terdiam dan menundukkan kepalanya. Bong Ok kembali menggenggam tangan Siwon dan beruntung Siwon tidak menolaknya lagi. Beberapa saat kemudian, Bong Ok dapat mendengar suara tangis Siwon. Laki-laki itu membalas genggaman tangan Bong Ok dengan erat, seiring dengan tangisnya yang semakin menjadi. Membuat airmata Bong Ok mengalir semakin deras.

“Menangislah, sayang. Menangislah jika itu bisa menghilangkan rasa sakitmu.” Ujar Bong Ok.

“Aku bukan suami yang baik, eomma.” Lirih Siwon.

“Tidak ada seorang suami yang menyuruh istrinya untuk menggugurkan kandungannya.” Airmata Siwon menetes hingga menyentuh kedua tangan mereka yang saling menggenggam.

“Eomma tau kalau kau tidak bersungguh-sungguh.” Kata Bong Ok yang memahami isi hati Siwon.

“Aku hanya takut, eomma. Aku takut memperlakukan anakku seperti apa yang appa lakukan padaku.” Isak Siwon. Hati Bong Ok terasa sakit mendengar ucapan Siwon barusan. Betapa perlakuan suaminya meninggalkan kenangan yang sangat buruk untuk anaknya.

“Bukankah kau bilang bahwa kau tidak seperti ayahmu?” Ujar Bong Ok. Siwon menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Darah appa mengalir di dalam tubuhku, eomma. Cepat atau lambat aku akan mewarisi sikapnya.”

“Siwon-ah, dengarkan eomma.” Bong Ok melepaskan genggaman tangannya dan menangkup wajah Siwon menggunakan kedua tangannya. Bong Ok tidak pernah melihat wajah Siwon semenyedihkan ini semenjak mereka terlepas dari Choi Kiho.

“Apa kau memukul istrimu seperti apa yang dia lakukan pada eomma?” Tanya Bong Ok. Siwon menggelengkan kepalanya. Ia memang sering menyakiti hati Yongri, tetapi Siwon tidak pernah melakukan kekerasan terhadap istrinya itu.

“Lalu, apa kau benar-benar tidak menginginkan seorang anak?” Tanya Bong Ok lagi. Siwon kembali terdiam.

“Jawab eomma, Siwon-ah.” Desak Bong Ok.

“Aku menginginkannya, eomma.” Jawab Siwon.

“Saat aku menyuruh Yongri untuk menggugurkan bayi di dalam kandungannya, dadaku sakit sekali, eomma. Sakit seperti banyak pisau yang tertancap di sana.” Kata Siwon sembari menunjuk dadanya. Bong Ok menatap dada Siwon sebentar, sebelum akhirnya kembali menatap Siwon.

“Jika nanti anak yang ada di dalam kandungan Yongri lahir, apa kau akan menanggilnya dengan sebutan anak sial?” Bong Ok memberikan pertanyaan terakhirnya. Sama seperti pertanyaan yang pertama, Siwon menggeleng dengan cepat.

“Lihat. Kau tidak sama seperti ayahmu. Kau menyayangi anakmu.” Ujar Bong Ok.

“Aku tetap takut, eomma.” Kata Siwon. Bong Ok memeluk Siwon dan mengusap punggungnya.

“Kau harus membuang ketakutan itu, sayang. Jika kau memang menyayangi keluarga kecilmu, kau harus mempertahankan mereka. Jangan sampai kau menyesal jika mereka pergi dari hidupmu.” Pesan Bong Ok.

“Apakah aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku, eomma?” Tanya Siwon.

“Tentu saja.” Jawab Bong Ok. Siwon membalas pelukan Bong Ok dengan airmatanya yang belum berhenti mengalir, sama seperti Bong Ok. Keduanya tidak tau kapan terakhir kali mereka saling berpelukan dan menangis bersama seperti ini.

Yongri yang memang dari tadi mendengar percakapan antara Siwon dan Bong Ok tidak dapat menahan tangisnya. Gadis itu membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar oleh mereka. Ia tidak menyangka jika alasan Siwon menyuruhnya menggugurkan kandungan adalah karena ia takut menyakiti anak mereka. Yongri tidak dapat membayangkan rasa sakit yang dialami oleh Siwon selama ini.

Yongri tau bahwa ia tidak berhak melakukannya. Tetapi Yongri benar-benar ingin mengutuk ayah Siwon. Walaupun Yongri tidak tau dengan pasti apa yang sudah dilakukan ayah Siwon pada Siwon, Yongri dapat menebak bahwa itu sangat menyakitkan untuk Siwon. Laki-laki itu bahkan tidak bisa mempercayai dirinya sendiri akibat apa yang sudah dilakukan ayahnya itu. Yongri bahkan tidak dapat membayangkan betapa menderitanya Siwon harus melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya.

Yongri yang tidak dapat menahan tangisnya lagi segera berniat untuk meninggalkan ruang televisi. Ia tidak mampu melihat kesedihan Siwon yang selama ini selalu berusaha disembunyikan oleh laki-laki itu. Sebelum benar-benar pergi dari sana, Yongri dapat melihat mata Bong Ok yang menangkap kehadirannya di sana. Mata Bong Ok yang tidak menatapnya dengan tajam–seperti biasa–namun dengan penuh kesedihan dan juga penyesalan.

——

Yongri meninggalkan ruang makan saat merasa dirinya lebih tenang dan juga tangisnya yang sudah berhenti. Ia terkesiap saat melihat kehadiran Bong Ok yang baru saja memasuki ruang makan. Sama seperti Yongri, Bong Ok juga terkejut melihat Yongri yang berada di sana. Yongri dapat melihat wajah Bong Ok yang membengkak karena habis menangis. Yongri membungkukkan badannya sebentar sebelum berjalan melewati Bong Ok.

“Kau–” Yongri menghentikan langkahnya–saat mendengar Bong Ok bersuara–namun tidak berbalik.

“Apa kau mendengar semuanya?” Tanya Bong Ok. Yongri membalikkan badannya dan tampak merasa menyesal karena telah mencuri dengar pembicaraan Bong Ok dan Siwon.

“M–maafkan aku, Nyonya Kang.” Sesal Yongri.

“Aku tidak bisa menyalahkanmu, karena setiap orang memiliki telinga.” Ujar Bong Ok. Yongri menundukkan kepalanya.

“Siwon sudah tidur di sofa. Aku harap kau tidak mengganggunya, karena ia membutuhkan waktu istirahat.”

“Aku mengerti, nyonya.” Sahut Yongri. Ia membalikkan badannya dan memutuskan untuk beristirahat juga.

“Yongri-ya..” Panggil Bong Ok.

“Ya, eommonim?” Terkejut mendengar Bong Ok memanggilnya, Yongri langsung berbalik dan menyahut dengan cepat.

“A–ah, m–maaf. Maksudku, Nyonya Kang.” Ralat Yongri. Bong Ok tersenyum tipis dan tampak tidak mempermasalahkan panggilan yang diberikan gadis itu padanya.

“Aku ingin berbicara denganmu.” Ujar Bong Ok. Yongri terlihat terkejut dan ia menatap wajah Bong Ok. Bong Ok membalas tatapan Yongri sesaat, dan kemudian mendudukan dirinya di kursi makan. Bong Ok memberikan isyarat kepada Yongri untuk duduk dihadapannya. Yongri awalnya merasa ragu, namun ia tetap menuruti kemauan Bong Ok.

“A–apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Tanya Yongri. Bong Ok terdiam sebentar dan tampak memantapkan hatinya.

“Tidakkah kau penasaran dengan apa yang terjadi pada Siwon? Pada masa lalunya?” Tanya Bong Ok. Yongri hampir saja menjawab ‘aku penasaran’ dengan cepat. Namun ia menahan mulutnya untuk tidak terbuka. Ia belum tau apa yang hendak dibicarakan Bong Ok dengannya. Dan lagi, Yongri tidak merasa yakin Bong Ok bersedia menceritakan masa lalu Siwon padanya.

“Kau tidak penasaran?” Tebak Bong Ok saat melihat Yongri hanya diam saja. Yongri menautkan kesepuluh jarinya yang berada di atas meja.

“B–bukan seperti itu, nyonya.” Jawab Yongri.

“Sebenarnya, aku sangat ingin tau apa yang terjadi pada Siwon oppa. Aku ingin tau apa yang terjadi padanya saat masa lalu. Tapi–“

“Tapi?”

“Tapi aku akan menunggu hingga Siwon oppa bersedia menceritakannya padaku.” Kata Yongri.

“Siwon tidak akan pernah melakukannya.” Ucap Bong Ok yang sangat mengerti bagaimana Siwon. Yongri menatap Bong Ok dengan wajah kecewanya.

“Kenapa?” Tanya Yongri.

“Anakku memiliki harga diri yang tinggi. Dia tidak akan pernah mau mempermalukan dirinya dihadapan orang lain.” Jawab Bong Ok. Yongri menghela nafas dan mengalihkan pandangannya. Yongri juga sangat mengetahui hal itu. Siwon bahkan tidak mengizinkan Yongri untuk mengkhawatirkannya.

“A–aku yang akan menceritakannya padamu.” Kata Bong Ok. Dan membuat Yongri lagi-lagi terkejut.

“Apa?!” Yongri tidak tau apa yang terjadi pada Bong Ok hari ini. Wanita itu bersikap tidak seperti dirinya yang biasa. Angkuh dan sombong. Yongri tidak dapat melihat itu dalam diri Bong Ok saat ini.

“Aku akan memberitahumu bagaimana buruknya masa laluku dan Siwon.”

Flashback

Choi Kiho, pewaris tunggal Hyundai Departement Store tampak begitu menawan dengan setelan tuxedo putih yang melekat ditubuhnya. Senyum tidak pernah menghilang dari wajahnya hingga membuat dirinya terlihat semakin tampan. Ia mematut dirinya sekali lagi di depan cermin panjang yang berada di dalam groom’s waiting room. Setelah memastikan tidak ada yang kurang dalam penampilannya, Kiho meninggalkan ruangan yang sudah ditempatinya sejak dua jam yang lalu. Dengan langkah pasti ia melangkah menuju ruangan lain yang berada beberapa meter dari ruangan sebelumnya.

Kang Bong Ok tampak terkejut dengan kehadiran Kiho di dalam bride’s waiting room. Walaupun begitu, kehadiran Kiho membuatnya dapat menghilangkan sedikit rasa gugupnya saat itu. Tubuhnya yang terbalut gaun pengantin membuat Bong Ok sedikit sulit bergerak. Namun ia tetap berdiri untuk menghampiri Kiho yang juga sedang menghampirinya. Bong Ok tersenyum dan menerima uluran tangan Kiho yang tertuju padanya.

“Kau sangat cantik.” Puji Kiho dengan senyum tampannya.

“Aku sangat gugup, oppa.” Keluh Bong Ok. Kiho berdecak dan menunjukkan wajah pura-pura kecewanya.

“Bukan itu yang ingin aku dengar. Seharusnya kau juga memujiku, sayang.” Ujar Kiho. Bong Ok menatap Kiho dengan wajah tidak percaya. Sebelum akhirnya tertawa pelan hingga menular kepada Kiho.

“Sudah berapa kali kukatakan bahwa kau tidak pernah terlihat jelek sedikit pun di mataku? Lalu untuk apa aku memujimu jika kau sendiri sudah tau bagaimana penampilanmu saat ini?” Ucap Bong Ok membuat tawa Kiho semakin lebar.

“Aku mengerti. Aku mengerti.” Balas Kiho. Bong Ok menghela nafas panjang dan menatap tangannya yang berada di dalam genggaman tangan Kiho. Kiho mengikuti tatapan wanita itu. Ia dapat merasakan kegelisahan serta kegundahan yang dirasakan oleh Bong Ok.

“Apakah tidak apa-apa jika seperti ini, oppa?” Tanya Bong Ok.

“Menikah tanpa seizin orangtuamu apakah tidak apa-apa?” Tanya Bong Ok sekali lagi.

Kiho dan Bong Ok sudah menjalin hubungan semenjak dua tahun yang lalu. Keduanya bertemu saat Kiho menjadi seorang donatur di panti asuhan tempat Bong Ok tinggal. Seperti kisah cinta pada umumnya, keduanya saling tertarik saat pertama kali bertemu. Saat intensitas bertemu keduanya yang semakin banyak membuat Kiho dan Bong Ok sering menghabiskan waktu bersama. Hingga mereka memutuskan untuk menjalin hubungan asmara.

Perbedaan status keduanya tentu saja menjadi sebuah penghalang yang besar untuk hubungan mereka. Orangtua Kiho tidak pernah menyetujui hubungan mereka. Tentu saja karena asal usul Bong Ok yang tidak jelas, serta wanita itu yang dibesarkan di panti asuhan. Sebagai orangtua, mereka menginginkan seorang istri yang sederajat dengan Kiho. Mereka tidak ingin menanggung malu karena harus memiliki seorang menantu yang tinggal di pasti asuhan.

Sudah terlalu banyak cara yang dilakukan oleh orangtua Kiho untuk memisahkan Kiho dan Bong Ok. Dimulai dari menjodohkan Kiho dengan wanita lain, memfitnah Bong Ok di hadapan Kiho, serta mengancam Bong Ok agar meninggalkan Kiho. Namun semua cara itu tidak membuahkan hasil, karena Kiho dan Bong Ok tetap menjalin hubungan. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah tanpa seizin orangtua Kiho. Mereka melakukan itu agar orangtua Kiho tidak dapat memisahkan mereka lagi untuk selamanya.

“Apakah kau sekarang ragu untuk menikah denganku?” Kiho bertanya balik pada Bong Ok.

“Tidak. Bukan seperti itu, oppa.” Bantah Bong Ok cepat.

“Aku hanya takut orangtuamu berbuat sesuatu yang lebih gila lagi untuk memisahkan kita.” Kata Bong Ok. Kiho menghela nafas dan mengeratkan genggaman tangannya.

“Jangan khawatir. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu.” Janji Kiho. Bong Ok menatap Kiho dengan haru.

“Yah, kau tidak boleh menangis di hari bahagia kita.” Kata Kiho sembari menyeka airmata yang mengalir di pipi Bong Ok.

“Maaf.” Ujar Bong Ok dan ikut menyeka airmatanya.

“Apa kau sudah siap menjadi istriku?” Tanya Kiho. Bong Ok tersenyum dan menggangguk. Kiho ikut tersenyum. Pria itu menyelipkan tangan Bong Ok pada lengannya. Kemudian keduanya segera keluar dari ruangan itu untuk mengucapkan janji suci sebagai sepasang suami istri.

——

Setelah mengucapkan janji suci dan hanya mengadakan pernikahan yang seadanya, Kiho membawa Bong Ok pulang ke rumah mewahnya. Kiho tau bahwa seharusnya ia tidak mengambil resiko seperti ini. Seharusnya ia menyiapkan tempat tinggal untuk hidup bersama istrinya. Hanya saja, Kiho tidak pernah menyiapkannya selama ini. Kiho juga belum mampu untuk meninggalkan kemewahan yang diberikan oleh orangtuanya selama 35 tahun ini. Kiho hanya berharap bahwa orangtuanya akan berubah pikiran setelah ia menikahi Bong Ok. Lagipula Kiho sudah berjanji akan menjaga Bong Ok. Ia tidak akan membiarkan orangtuanya menyakiti Bong Ok ketika mereka sama-sama tinggal di rumah ini.

“Tersenyumlah.” Ujar Kiho. Bong Ok memaksakan senyumnya.

Bong Ok tidak pernah merasa setakut ini saat bertemu dengan orangtua Kiho. Ia hanya merasa keributan yang besar akan terjadi karena pernikahan yang dilakukannya hari ini bersama Kiho. Bong Ok merasa yakin bahwa orangtua Kiho tidak akan mungkin memberikan restu walaupun mereka sudah menikah. Orangtua Kiho sangat menakutkan menurut Bong Ok. Bong Ok bertahan terhadap hinaan yang mereka berikan hanya karena ia sangat mencintai Kiho.

“Apa-apaan ini?” Bong Ok tersentak saat mendengar suara yang begitu menggelegar di dalam rumah mewah ini. Tanpa sadar Bong Ok mencengkram tangan Kiho karena merasa sangat takut.

Kedua orangtua Kiho sedang menuruni tangga dengan gaya angkuh mereka. Keduanya menatap Kiho dan Bong Ok dengan pandangan tajam. Terutama ibu Kiho. Wanita itu tampak sangat tidak suka dengan kehadiran Bong Ok dirumahnya. Menurutnya, Bong Ok hanyalah seorang benalu yang terus menempel pada Kiho. Tentu saja untuk mengambil keuntungan dari Kiho.

“Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian.” Kata Kiho saat orangtuanya sudah berdiri beberapa langkah dihadapannya.

“Kita akan berbicara, Kiho-ya. Tetapi singkirkan wanita itu dari hadapan kami!” Ujar ibu Kiho sembari menunjuk Bong Ok. Bong Ok menundukkan kepalanya. Kiho menatap Bong Ok sekilas, sebelum kembali menatap orangtuanya.

“A–aku sudah menikah dengan Bong Ok, abeoji, eommoni.” Aku Kiho. Wajah orangtua Kiho tampak terkejut untuk beberapa saat. Namun tiba-tiba ibu Kiho tertawa seolah baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat lucu dari mulut Kiho.

“Apa yang kau bicarakan, sayang? Jangan mengarang cerita seperti ini.” Ujarnya.

“Apa kau pikir kami akan merestui hubungan kalian dengan kau berbohong seperti itu?” Tanya ayah Kiho dengan wajah marahnya.

“Aku tidak berbohong. Aku dan Bong Ok benar-benar sudah menikah. Kau dapat menyuruh orang untuk memastikan itu, abeoji.” Kata Kiho. Ayah Kiho segera mengeluarkan ponselnya. Menekan speed dial 3 sebelum mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya. Sebentar saja, sambungan telepon ayah Kiho dijawab oleh seseorang disebrang sana.

“Cari kebenaran tentang pernikahan Kiho sekarang juga.” Ujar ayah Kiho terdengar tegas. Kemudian ia langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Matanya masih terus menatap Kiho dengan tajam. Sedikit pun ia tidak mau menatap Bong Ok yang berdiri di samping Kiho.

“Kiho-ya, kau tidak melakukan itu, kan?” Ibu Kiho memegang lengan Kiho yang bebas. Ia menatap Kiho dengan wajah penuh harap. Kiho membalas tatapan ibunya dengan wajah penuh penyesalan. Bukan penyesalan karena telah menikahi Bong Ok. Tetapi penyesalan karena ia tidak bisa menuruti apa kemauan ibu dan ayahnya.

“Maafkan aku, eommoni.” Ujar Kiho. Ibu Kiho menatap Bong Ok dengan sangat tajam. Ia ingin memaki wanita itu namun terhalang oleh suara ponsel ayah Kiho yang berbunyi dengan nyaring. Ayah Kiho langsung menerima panggilan itu tanpa membuang waktu.

“Bagaimana?” Tanya ayah Kiho. Pria itu mendengarkan jawaban dari orang kepercayaannya dengan seksama. Setelah mendengarkan serentetan jawaban dari orang kepercayaannya tersebut. Ayah Kiho memutuskan sambungan telepon. Ia segera menghampiri Kiho dan menampar wajah anak tunggalnya itu dengan keras.

PLAKKK!!

“Yeobo!” Ibu Kiho terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Bong Ok yang berada di samping Kiho juga terkejut dengan tamparan yang diberikan oleh ayah mertuanya. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah menempatkan Kiho dalam situasi yang seperti ini.

“DASAR TOLOL! KAU PIKIR APA YANG KAU LAKUKAN?!” Ujar ayah Kiho marah. Ia berteriak dengan keras hingga membuat telinga mereka yang ada sana berdenging nyaring.

Kiho memejamkan matanya dan mencoba untuk menahan rasa sakit pada pipinya. Ia menatap Bong Ok yang sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Kiho tersenyum kecil seolah meyakinkan Bong Ok bahwa semua akan baik-baik saja. Namun Bong Ok tidak dapat tenang karena ayah Kiho terlihat sangat marah saat ini.

“Apa kau benar-benar ingin mempermalukanku dengan menikahi wanita ini?!” Ayah Kiho menunjuk Bong Ok.

“Apa yang salah dengan menikahinya, abeoji?!” Balas Kiho.

“Kau bertanya karena tidak tau atau berpura-pura tidak tau, huh?!” Ujar ayah Kiho.

“Aku mencintainya, abeoji.” Sahut Kiho.

“Apa kau pikir dengan cinta kau bisa menjadi sukses seperti diriku?!”

“Aku tidak menginginkan kesuksesan sepertimu, abeoji. Aku hanya ingin hidup dengan tenang bersama wanita yang aku cintai.”

PLAKKK!!

Kiho kembali mendapatkan tamparan dari ayahnya. Tanpa sadar ia menggeram karena rasa sakit pada pipinya tidak main-main. Ia bahkan tanpa sadar menggenggam tangan Bong Ok dengan erat untuk menahan rasa sakitnya. Airmata Bong Ok mengalir dengan deras seolah dapat merasakan kesakitan yang dialami oleh Kiho. Ia tidak tau harus melakukan apa untuk menolong Kiho.

“Yeobo, hentikan. Kau menyakiti anak kita.” Ujar ibu Kiho. Ia juga tidak rela melihat anak kesayangannya dipukuli oleh suaminya.

“Kau–aku pastikan kau akan menyesal telah menikahi wanita yang tidak jelas asal usulnya seperti ini! Dan aku peringatkan padamu untuk tidak memberitahukan pada orang-orang tentang pernikahan ini. Jika sampai kau melakukannya, aku akan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan.” Ancam ayah Kiho. Setelahnya ia segera meninggalkan mereka dan pergi entah kemana. Kiho menghela nafas panjang melihat kepergian ayahnya.

“Ini semua karena dirimu!”

PLAKKK!!

Ibu Kiho memberikan tamparan pada pipi Bong Ok. Ia merasa tidak terima karena hanya Kiho yang mendapatkan pukulan dari suaminya. Jika harus mencari siapa yang patut disalahkan, menurut ibu Kiho, Bong Ok–lah orangnya. Wanita itu sudah merayu anaknya hingga melawan orangtuanya seperti ini. Tentu saja ibu Kiho tidak akan pernah bisa menerima itu semua.

“Eommoni, apa yang kau lakukan?!” Kiho terlihat marah. Ia menatap Bong Ok dengan khawatir. Apalagi saat melihat pipi istrinya itu yang memerah karena tamparan ibunya.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Kiho. Bong Ok menatap Kiho dan menganggukkan kepalanya. Tidak lupa dengan senyum kecil yang sedikit dipaksakan.

“Wanita ini sudah menggodamu hingga menyebabkan kekacauan ini!” Kata ibu Kiho.

“Tidak! Bong Ok tidak menggodaku, eommoni. Akulah yang lebih dulu jatuh cinta padanya.” Bela Kiho. Ibu Kiho menatap Kiho dengan tidak percaya.

“Kiho-ya! Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?!”

“Ya. Aku sangat sadar, eommoni. Aku sangat mencintai wanita ini. Istriku.” Suara Kiho terdengar tegas.

“Kau akan menyesal, Kiho-ya.” Kata ibunya dengan yakin.

“Tidak, eommoni. Aku akan menyesal jika meninggalkannya.” Sahut Kiho. Ibu Kiho terlihat marah dan segera meninggalkan sepasang suami istri itu. Kiho lagi-lagi menghela nafas panjang. Ia tentu sudah dapat menduga semua kekacauan yang akan terjadi hari ini. Tetapi Kiho tidak merasa menyesal sama sekali. Ia yakin kesabaran serta perjuangan yang dilakukannya bersama Bong Ok akan membuahkan hasil yang manis. Suatu saat nanti.

“Oppa, kau baik-baik saja?” Tanya Bong Ok. Wanita itu memegang pipi Kiho dan suaminya itu meringis pelan.

“Sakit sekali?” Tebak Bong Ok. Kiho mengangguk pelan namun tetap tersenyum.

“Tetapi aku baik-baik saja.” Ujar Kiho berusaha untuk menenangkan Bong Ok.

“Aku takut, oppa.” Kata Bong Ok dengan airmatanya yang terus mengalir. Kiho menyeka airmata Bong Ok.

“Tidak bisakah kita meninggalkan rumah ini? Aku tidak apa-apa jika kita hanya tinggal di rumah kecil, oppa. Kau bisa mencari pekerjaan lain.”

“Aku tidak bisa, Bong Ok-ah. Maafkan aku.” Sesal Kiho. Ia memang tidak bisa meninggalkan rumah ini.

“Aku berjanji semuanya akan baik-baik saja. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Kau harus percaya padaku.” Ujar Kiho. Bong Ok terus menangis dan tidak bisa menanggapi ucapan Kiho. Ia ingin mempercayai ucapan pria itu, namun Bong Ok terlalu takut. Kiho menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan sangat erat hingga membuat tangis Bong Ok semakin menjadi.

“Maafkan aku, sayang. Maafkan aku.”

——

–To Be Continued–

HAI! Part ini pendek, ya? Gpp deh ya.. ntar part selanjutnya dipanjangin. Nah yang minta masa lalu Siwon, flashback mulai jalan nih.. aku sengaja buat flashback nya dari perjalanan orangtua Siwon nikah, biar lebih jelas aja. Dan kalo kalian sadar, sebelum TBC gak ada tulisan flashback end, yang artinya flashback akan terus berlanjut hingga part selanjutnya.

Happy reading, ya!

BYE~

Advertisements

95 thoughts on “Painful Life – Part 10

  1. Iya nech chingu,pendek part ini…biasanya tiap kali selesai baca ff ini aku puas banget tapi part ini rasanya kurang pol puasnya karena kependekan tapi gak apa dech asal dilebihin di next part ya.
    Permasalahan antara yongri dan siwon soal bayi mereka sudah jelas dan untung sekali ibunya siwon mau menerima kehamilan yongri tinggal permasalahan masa lalu siwon lagi

  2. Author bileh request ga ?? boleh yaa.. πŸ˜… anaknya siwon lahirnya cewe aja.. sukak bgt liat siwon punya anak cwe.. sukak bgt thor.. iyaa yongri bkal jdi obat buat siwon supaya siwon bisa lepas dri masalalunya yg kelam. dan jgn sampe ada mslah lain kya han seol bisa aja pnya anak dri siwon.. itu complicated bgt πŸ˜‚

  3. sumpah siwon jahat ih knp dia hrus plng ke apartemen sama han seol n knp jg ga ngentiin kegiatan laknatnya pas tau ada yong T.T syukurlah kalo siwon sbnrnya ga bener” pngen gugurin bayi mereka, nextnya di tnggu ya^^

  4. Wah gmn reaksi siwon tuh kl dia tau yongri liat dia nangis & tau ttg masa lalunya. Semoga yongri jg tau kl siwon berbuat ky gitu sama han seol karena seol kasih obat perangsang ke minuman siwon jd setidaknya yongri bs maafin siwon

  5. baru sempet komen😌😌😌 kasian sama siwon kena trauma masalalu. mudah2an part depan udah bisa baik k yongri lagi

  6. Kenapa segala ada tbc disaat lagi serius gini sih.. tapi gapapa deh biar kejutan hahaha
    Tapi aku terharu bgt si bong ok akhirnya dia punya sisi baik juga buat anak dan menantu nya.
    Btw aku takut ada masalah baru yg timbul gara gara siwon sama so eul

  7. part ini sedih T.T bong ok peduli sama yongri, hubungannya ma siwon meski harus nangis-nangis dulu tapi membaik. nunggu reaksi kyuhyun denger adik kesayangannya hamil & apa masih tetep mau ambil yongri….
    #penasaran

  8. huaaaa makin penasaran
    bner kan siwon pasti gak iklas nyuruh yongri buat gugurin kandungan nya
    semangat trs eonni, part selanjutnya gk pkek lama yaaa^^

  9. Ahhh, nyesek banget baca part ini. Feelnya dapet banget, eonni. Daebak!
    Siwon tega ya, tidak menepati janjinya ke Yongri. Penasaran nih sma reaksi Kyu saat tau adiknya hamil. Eonni fighting, ne!! Ditunggu moment2 Siwon-Yongrinya. Gomawo. πŸ™‚

  10. Aduh please..
    Knpa siwon mesti ML ama si han seol sii??
    Bego banget klo yongri mau maafin dan bertahan sma siwon…

  11. Waktu bagian siwon-han seol di apartement itu bikin aku kesel keselllll!!!! Pingin banting siwon kalo bisa ihhh!!! Tapi ternyata cewenya yg bermasalah, rese banget buat nyesek.

    Sepertinya Siwon’s eomma disini udah bisa terima yongri πŸ™‚

    Semoga siwon bisa tentuin pilihan yang paling tepat πŸ™‚ πŸ™‚

    Semangat terus kak ^^

  12. Hang Seol si wanita rubah, nyebelin, perusak rumah tangga orang..
    Untungnya siwon meniduri Hang Seol karena minuman teh itu bukan karena suka…
    Ketahuan deh isi hati siwon sebenarnya, tentang bayi dan ketakutannya akan masa lalu..
    Ternyata masa lalu orang tua siwon juga banyak rintangannya..pantesan Bong Ok tidak merestui pernikahan siwon-yongri, karena mengingatkan akan masa lalunya..dan seperti ada ketakutan pernikahan siwon-yongri berakhir sama dengan pernikahannya.

  13. Cerita kehidupan ortunya siwon sama siwon agak” mirip ye? Ya mungkin kek kata pepatah
    Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ya mungkin hampir seperti itu.
    But….udh mulai terungkap kan gimana dulu siwon kehidupannya.

  14. hahh ayah siwon gtu bangt blum bisa hidup sendribtp udah ngajakin nikah. tinggal ditempat yg sdrhana berdua gak bisa , hidup sederhana gak bisa. gitu kok mau nikah mana udah ada anak nganggepnya anak sial
    yh sial itu bapaknya heheh
    ahh jd itu alasan siwon, tp gak usah smpe sgtunya kan bisa dng dipikirin jalan tengahnya untung yongri gak kabur wktu ditinggal siwon

  15. Part ini sedih bgt… kasian siwon.. kasian juga yongri..
    😒😒😒😒😒
    Penasaran sama part selanjutnya …
    Siwon Yongri baikan kan ??? Yakan yakan ??

  16. Baca ff ini d flying nc
    Lgsung cari authornya
    Jd gk penasaran lg
    Appa siwon gk bs hdp susah
    Dy kira hdp istrinya bkl baik” aja
    Pdahal penderitaan baru dmulai

  17. Salam kenal ak reader baru sih d sni, ak pernah baca fd ini tapi d blog sebelah dan baru tau ternyata airnya punya blog sendiri.. hehehehe semangat terus autor buat nulisnya….

  18. Ternyata siwon menyesali ucapannya…ku kira hati siwon takan terpengaruh adanya sang baby dalam kandungan yongri..dan siwon sangat rapuh bila bila bersama sang eomma..ku kira hti siwon akan keras walupun dengan eommanya sendri bagaimana sikap siwon selama ini terhadap eommanya…dan sang eomma jg telah luluh dan nerima kehadiran sang baby…
    Belum tahu penyebab traumanya siwon tapi ternyata pernikahan orang tua siwon tak dapat restu..

  19. sumpah ni part isinya cma masalah dan intrikk,sdikit demi sedikit masa lalu siwn mulia terkuak
    smoga siwon dan youngri bsa bersama-sama menghadapi masalah yg di alami siwon mengenai masa lalunya dan ayahmy yg pasti bkl dtg kehidupanny

  20. Ternyata siwon nyuruh yongri buat ngegugurin itu karna dia takut ga bisa jadi ayah yang baik buat anaknya . Kasian siwon

  21. laki2 yg tdk bsa berdamai dng masa lalu nya ngga usah dtg ke masa depan , tinggal aja sono di masa lalu.. semua org punya masa lalu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s