Painful Life – Part 6

IMG_20160624_103143

Author

Choineke

Title

Painful Life

Cast

Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Cho Kyuhyun and others

Genre

Sad Romance, Marriage-life

Length

Chapter

Rating

PG-15

——

Seburuk apapun sikapnya dan bagaimanapun tanggapannya mengenai diriku, sampai saat itu tiba, dia tetap suamiku. –Choi Yongri-

——

Author POV

Siwon membuka matanya dengan pelan. Ah, ia merasa seluruh tubuhnya sakit dan kepalanya juga sangat pusing. Laki-laki itu memegangi keningnya dengan sebelah tangannya yang bebas. Terdengar ringisan pelan dari mulutnya. Siwon melihat ke atas dan ia terkejut menemukan sebuah kantung cairan infus tergantung didekatnya. Saat ia menurunkan pandangannya, ia mengerti bahwa cairan tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Siwon tertegun saat melihat tangannya yang diinfus digenggam erat oleh Yongri, yang sedang tertidur. Gadis itu duduk di lantai dan meletakkan kepalanya disebelah tangan Siwon yang digenggamnya. Siwon juga dapat melihat mata gadis itu bengkak. Tetapi karena apa? Seingat Siwon, ia tidak membuat gadis itu menangis tadi malam.

Siwon benar-benar tidak mengingat bagaimana ia bisa mendapatkan infus seperti ini. Siapa yang melakukannya? Apa Donghae? Siwon merasa aneh karena ia tidak mengetahui apapun. Apa ia pingsan? Itu menjadi satu-satunya alasan yang paling masuk akal jika ia memang tidak mengetahui apa-apa. Siwon mengangkat tangannya yang bebas untuk membelai kepala Yongri dengan pelan. Laki-laki itu tidak tau mengapa ia melakukannya. Ia hanya ingin saja. Rambut Yongri benar-benar halus dan lebat. Ini pertama kalinya Siwon menyentuh rambut gadis itu.

Siwon mengalihkan pandangannya saat mendengar suara pintu kamarnya dibuka dan Jungsoo muncul dari sana. Ia langsung menarik tangannya menjauh dari kepala Yongri, dan memberi isyarat kepada Jungsoo untuk tidak berisik. Siwon seolah tidak sadar melakukannya, hingga Jungsoo–pun merasa terkejut melihatnya. Namun ia tetap menuruti perintah Siwon untuk tidak berisik. Jungsoo mendekati Siwon dan berdiri di sisi tempat tidur yang kosong–karena sisi yang lain terdapat Yongri yang sedang tidur. Jungsoo sedikit bernafas lega saat melihat wajah Siwon yang tidak terlalu pucat lagi.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Jungsoo berbisik.

“Apa yang terjadi padaku?” Siwon tidak kalah berbisik.

“Kau pingsan.” Ujar Jungsoo membuat Siwon terkejut. Ternyata dugaannya benar.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, huh? Yongri bilang kau mengigau tentang ayahmu.” Siwon kembali menatap Yongri saat mendengar ucapan Jungsoo.

“Aku–aku tidak apa-apa.” Jawab Siwon kemudian.

“Apa kau serius? Aku dan Donghae benar-benar takut, Siwon-ah. Donghae mengatakan padaku bahwa trauma dan depresimu kambuh.” Jelas Jungsoo. Siwon memejamkan matanya sesaat dan berdecak. Ini semua pasti karena mimpi sialan yang terus menghantuinya.

“Kau kenapa? Kepalamu sakit? Yah, katakan padaku sebenarnya ada apa? Jangan coba-coba menutupi apapun padaku, Siwon-ah.” Kata Jungsoo menatap Siwon dengan serius. Siwon menghela nafas dan membalas tatapan Jungsoo.

“Aku tidak apa-apa, hyung. Aku hanya bermimpi buruk akhir-akhir ini. Dan itu tentang pria brengsek tersebut.” Desis Siwon.

“Apa kau melupakan obatmu?” Tanya Jungsoo sekaligus menebak. Seperti tertangkap karena sedang mencuri, Siwon menunjukkan raut wajah salah tingkah dan gugup. Membuat Jungsoo mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diberikannya pada Siwon.

“Ya! Kau tidak bisa melakukannya!” Tanpa sadar ia membentak Siwon. Membuat Yongri terkejut dan terbangun dari tidurnya. Siwon mendelik tajam pada Jungsoo. Jungsoo juga terlihat merasa bersalah karena telah membuat Yongri bangun.

“Eo? Oppa, sudah bangun?” Yongri menegakkan punggungnya dan menaruh tangannya di kening Siwon. Siwon menepis pelan tangan Yongri. Ia tidak suka dengan sikap Yongri yang terlalu mengkhawatirkannya. Yongri tersadar bahwa ia tidak seharusnya bersikap seperti itu. Ia lupa bahwa Siwon saat ini tidak pingsan seperti kemarin. Sehingga ia tidak bisa bersikap semaunya.

“Ma–maaf, oppa.” Ucap Yongri sembari segera berdiri.

“Jangan berlebihan. Dia hanya mengkhawatirkanmu.” Komentar Jungsoo.”

“Aku akan membuatkan bubur untukmu.” Ucap Yongri pada Siwon.

“Tidak perlu.” Tolak Siwon langsung. Yongri menatap Siwon dengan kecewa. Ia benar-benar mengkhawatirkan suaminya itu. Apa laki-laki itu tidak dapat melihatnya?

“Bersiaplah sekolah.” Ucap Siwon tanpa menatap Yongri.

“A–aku akan izin hari ini untuk merawatmu.” Yongri memang sudah memiliki niat tersebut sejak Siwon pingsan. Mendengar ucapan Yongri membuat Siwon menatapnya dengan tajam.

“Aku bukan seorang pasien!” Desisnya.

“Tapi, oppa–“

“Bersiap ke sekolah atau aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi ke sekolah lagi.” Ancam Siwon.

“Pergilah ke sekolah, Yongri-ssi. Aku yang akan menjaganya.” Jungsoo menengahi perdebatan antara Siwon dan Yongri. Ia juga merasa salah tingkah karena harus berada di antara sepasang suami istri ini. Yongri yang tidak memiliki pilihan lain akhirnya menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan kamar Siwon untuk bersiap-siap ke sekolah.

“Yah, apa kau selalu seperti itu padanya?” Tanya Jungsoo tidak percaya. Siwon tidak memperdulikan pertanyaan Jungsoo dan segera bangun dari tempat tidur. Laki-laki itu hendak mencabut jarum infus di tangannya, namun Jungsoo bergerak lebih cepat untuk mencegahnya.

“Kau harus beristirahat, Siwon-ah.” Ujar Jungsoo.

“Aku baik-baik saja.” Sahut Siwon.

“Tidak. Kau tidak baik-baik saja.” Tegas Jungsoo.

“Hyung!”

“Baiklah, aku akan menghubungi Donghae terlebih dahulu. Biarkan Donghae memeriksamu sekali lagi, setelah itu lakukan apapun yang kau mau.” Kata Jungsoo menyerah. Siwon sangat keras kepala dan ia benci itu.

“Aish, cepat hubungi dia!” Perintah Siwon dengan kesal.

——

“Bagaimana keadaannya, Donghae-ya?” Tanya Jungsoo saat melihat Donghae telah selesai memeriksa Siwon.

“Demamnya sudah turun, hyung.” Jawab Donghae sembari memasukkan stetoskop ke dalam tasnya.

“Apa kau pusing, Siwon-ah?” Donghae menatap Siwon yang sedang berbaring.

“Sedikit dan aku masih bisa menahannya.” Jawab Siwon dan beranjak untuk duduk.

“Kenapa kau tidak meminum obatmu?” Donghae bertanya dengan raut wajahnya yang serius. Siwon segera menundukkan kepalanya seolah enggan menatap wajah Donghae yang terkesan mengintimidasinya. Okay, mungkin dia memang salah. Tapi Siwon tetap tidak suka dengan perlakuan Donghae.

“Dulu kau bahkan menyuruh Jungsoo hyung meminta resep padaku karena obatmu habis sebelum waktunya. Kenapa sekarang seperti ini?” Donghae tidak marah. Ia hanya ingin mengetahui jawaban Siwon. Ia sangat ingin Siwon sembuh dari penyakitnya. Tetapi tentu bukan seperti ini caranya. Siwon bahkan membuat dirinya tersiksa sendiri.

“Aku hanya tidak ingin tergantung pada obat-obat itu lagi.” Jawab Siwon setelah lama diam. Jungsoo yang sedari tadi berdiri di sisi tempat tidur hanya menatap Siwon dengan kasihan. Siapapun tidak ingin mengalami ketergantungan obat dan terlihat seperti seorang yang berpenyakitan. Apalagi Siwon memiliki harga diri yang sangat tinggi. Ini tentu menjadi berat untuknya.

“Nyatanya kau tidak bisa.” Komentar Donghae.

“Aku tau.” Sahut Siwon membalas tatapan Donghae.

“Aku sudah katakan berulang kali padamu, jika kau memang ingin terbebas dari trauma masa lalumu itu, kau harus berani membuka semua luka lama itu, Siwon-ah.” Suara Donghae terdengar sedikit putus asa.

“Tidak.” Ucap Siwon cepat.

“Kau tidak akan bisa sembuh jika terus menjadi pengecut seperti ini.”

“Benar! Aku memang pengecut! Lalu kenapa?” Siwon tiba-tiba merasa marah mendengar Donghae mengatakan dirinya pengecut. Laki-laki itu melepaskan jarum infus pada tangannya dan turun dari tempat tidur. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya. Tidak memperdulikan punggung tangannya yang berdarah. Meninggalkan Jungsoo dan Donghae yang saling bertatap dengan terkejut. Sesaat kemudian Donghae meringis kecil.

“Sepertinya aku salah bicara, ya?” Gumamnya pada Jungsoo.

“Ya, sepertinya kau salah bicara.” Ujar Jungsoo membenarkan gumaman Donghae.

“Tetapi apa yang katakan sebelumnya, aku menyetujui itu.” Lanjutnya kemudian. Membuat Donghae menatapnya dengan bingung.

“Jika Siwon benar-benar membuka luka lamanya itu, apa ia benar-benar akan sembuh?” Tanya Jungsoo dengan wajahnya yang serius. Donghae menghela nafas panjang dan mengalihkan pandangannya.

“Aku pernah berkonsultasi dengan seorang psikiater di rumah sakit tempatku bekerja, mengenai trauma dan depresi yang dialami Siwon. Obat-obat yang diminumnya selama ini tidak akan pernah membuatnya sembuh, hyung.” Kata Donghae membuat Jungsoo terkejut.

“Ya! Lalu untuk apa obat-obat itu?” Tanyanya panik.

“Obat-obat itu hanya pengalihan untuknya, hyung. Agar trauma dan depresi yang dialaminya hilang sesaat. Namun semuanya akan kembali saat pengaruh obat tersebut habis.” Jawab Donghae.

“Astaga. Pantas saja selama ini tidak pernah ada kemajuan.” Gumam Jungsoo. Donghae memutar kepalanya dan menatap pintu kamar mandi.

“Siwon benar-benar harus membuka lukanya jika ingin sembuh. Mungkin itu memang menyakitkan untuknya, namun semuanya hanya sesaat. Setelah itu, ia bisa menjalani hidupnya tanpa memerlukan obat-obatan ini lagi.” Ucap Donghae dan kembali menatap Jungsoo.

“Siwon tidak seberani itu, Donghae-ya.” Komentar Jungsoo.

“Aku tau, hyung.” Sahut Donghae cepat.

“Kenapa kau tidak memberitahukan hal ini pada istri Siwon?” Tanya Donghae. Jungsoo menghela nafas dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Aku ingin memberitahunya, tetapi aku merasa tidak berhak melakukannya. Ia harus mendengar itu dari mulut Siwon langsung.” Jawab Jungsoo.

“Gadis itu mungkin dapat membantu Siwon sembuh.” Ucap Donghae acuh. Ia berdiri dari duduknya dan bersiap-siap untuk kembali ke rumah sakit.

“Apa maksudmu?” Jungsoo terlihat bingung.

“Tidak ada obat yang paling ampuh selain cinta dan kasih sayang, untuk seseorang yang menderita luka batin, hyung.” Ujar Donghae dengan tersenyum.

——

Nae saranginde nal utge haejun neon de

Daheul su eobsi meoreojin nae maeumi

Hanbeon deo ddwil su isseulgga

Kyuhyun – The Day We Felt The Distance

Kyuhyun menyelesaikan proses rekamannya untuk hari itu. Ia meletakkan earphone yang dipakainya dan keluar dari ruangan kedap suara tersebut. Laki-laki itu membungkukkan badannya beberapa kali sebagai tanda terima kasih kepada beberapa staff yang bertugas saat itu. Lagu yang akan dinyanyikannya belum selesai direkam. Ia masih akan melakukan beberapa rekaman lagi untuk beberapa hari kedepan. Kyuhyun menghampiri Jungwoon yang berada di sana. Ia juga membungkukkan badannya pada Jungwoon sembari tersenyum canggung.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Jungwoon dengan memegang gelas plastik berisi kopi.

“Karena ini pertama kalinya untukku, rasanya sedikit aneh.” Jawab Kyuhyun jujur. Jungwoon tertawa pelan dan menganggukkan kepalanya.

“Kau akan terbiasa. Oh ya, maaf karena managermu belum bisa bekerja hari ini. Masih ada beberapa hal yang harus diurus.” Kata Jungwoon.

“Tidak apa-apa, Presdir. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri.”

“Karena ini permulaan untukmu, kau masih bisa melakukannya sendiri. Tetapi jika nanti kau sudah menjadi artis terkenal, satu manager akan terasa kurang untukmu.” Jungwoon dan Kyuhyun tertawa bersama.

“Aku juga sudah menyiapkan sebuah apartement untukmu. Dan semuanya masih dipersiapkan. Jika tidak ada halangan, beberapa hari ke depan kau bisa segera menempatinya.” Jungwoon kembali menyesap kopinya.

“A–apartement?” Kyuhyun membeo dengan wajah bodohnya. Membuat Jungwoon menatapnya dengan mata yang membesar.

“Jangan bilang jika kau melupakan isi kontrakmu, Kyuhyun-ah?” Tebak Jungwoon. Kyuhyun menundukkan kepalanya dan terlihat berpikir. Benarkah di dalam kontrak diberitahukan bahwa ia akan diberikan apartement?

“Astaga. Kau benar-benar bisa ditipu jika seperti ini.” Kata Jungwoon sambil menggelengkan kepalanya.

“Setiap artis di bawah agensiku akan mendapatkan apartement untuk mereka tempati. Apartement itu milik perusahaan, tetapi selama kau terikat kontrak, kau bisa menggunakannya.” Jelas Jungwoon. Kyuhyun kembali menatap Jungwoon untuk mencari kebohongan atas ucapan pria itu. Tetapi wajah Jungwoon terlihat sangat serius, hingga membuat Kyuhyun mau tidak mau mempercayainya.

“Aku benar-benar bisa tinggal di sana?” Tanya Kyuhyun memastikan. Jungwoon menganggukkan kepalanya sembari menatap jam mahal yang terpasang di pergelangan tangan kirinya.

“Aku harus pergi, Kyuhyun-ah. Kau sudah bekerja keras hari ini.” Ujar Jungwoon sembari menepuk pelan lengan Kyuhyun dan berjalan melewati laki-laki itu.

“Presdir Kim.” Kyuhyun berbalik dan memanggil Jungwoon. Membuat pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Kyuhyun.

“Ada apa?” Tanyanya.

“Apa aku boleh membawa i–ibuku untuk tinggal bersamaku di apartement itu?” Tanya Kyuhyun terdengar ragu. Jungwoon tersenyum mendengar pertanyaan Kyuhyun.

“Tentu, Kyuhyun-ah. Selama kau berada di bawah agensiku, bisa dikatakan bahwa apartement itu milikmu. Kau bebas menggunakannya.” Jawab Jungwoon dengan mengedipkan sebelah matanya. Sebelum kemudian benar-benar berlalu dari hadapan Kyuhyun. Sepertinya ada hal penting yang harus dilakukannya.

“Terima kasih, Presdir!” Walaupun tau Jungwoon tidak akan mendengarnya, Kyuhyun tetap mengucapkannya sembari membungkukkan badannya. Ia terlihat sangat senang saat ini. Selain mendapat uang, ia juga akan mendapat tempat tinggal. Sudah pasti tempat tinggal tersebut lebih layak dibandingkan rumahnya saat ini. Walaupun rumah itu selalu terasa hangat, Kyuhyun tetap merasa rumah tersebut terlalu kumuh dan kecil untuk mereka tinggali.

Kyuhyun menatap jam dinding yang terdapat di sana. Hari sudah semakin siang dan perutnya mulai terasa lapar. Walaupun begitu, ia tidak berniat untuk langsung mencari makan siang. Ia ingin menemui Yongri terlebih dahulu dan memberitahukan kabar baik ini. Ia melakukan ini semua untuk Yongri, tentu saja Yongri harus menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Laki-laki itu tersenyum kecil sembari membayangkan wajah bahagia Yongri.

Kyuhyun segera menuju halte bis dan menunggu bis yang akan membawanya ke sekolah Yongri. Wajah laki-laki itu terlihat berseri dan tidak ada beban sama sekali. Dan Kyuhyun yakin kebahagiaannya semakin sempurna jika ia sudah bisa membawa Yongri pulang. Sebentar lagi. Ia hanya memerlukan waktu sebentar lagi untuk mewujudkan itu semua. Kyuhyun menaiki bis dan duduk di kursi yang berada beberapa baris dari belakang. Ia mengeluarkan ponselnya yang tidak seperti kebanyakan ponsel saat ini. Walaupun begitu, ponsel tersebut masih dapat digunakan untuk menyimpan foto. Terbukti saat ini Kyuhyun sedang menatap wallpaper ponselnya yang menampilkan wajah dirinya, Yongri dan ibu Yongri. Mereka terlihat bahagia walaupun serba kekurangan.

Beberapa saat kemudian, bis yang dinaiki Kyuhyun berhenti di halte bis yang berada di dekat sekolah Yongri. Kyuhyun segera turun dan ia harus berjalan kaki sedikit lagi untuk sampai di sekolah adik tirinya itu. Dari sana, Kyuhyun sudah melihat beberapa siswa dan siswi yang sedang berjalan menuju halte bis untuk pulang atau mungkin berjalan-jalan sebentar. Kyuhyun memelankan langkahnya saat melihat sosok Yongri yang juga sedang menuju halte bis yang baru saja di tinggalkannya. Langkah gadis itu terlihat buru-buru membuat Kyuhyun menatapnya dengan bingung. Kyuhyun kembali mempercepat langkahnya untuk menghampiri Yongri.

Yongri tersentak saat tiba-tiba ada yang menggenggam lengannya. Ia memang sedikit melamun saat sedang berjalan. Sebenarnya Yongri sedang memikirkan Siwon yang berada di apartement. Ia memikirkan kesehatan laki-laki itu. Apakah sudah membaik atau malah semakin memburuk. Yongri benar-benar khawatir. Makanya ia berjalan dengan terburu dan terus memikirkan Siwon.

“Oppa?” Yongri seharusnya tidak terkejut melihat Kyuhyun saat ini. Karena ia sudah terlalu sering mencuri-curi waktu untuk bertemu dengan kakak tirinya tersebut. Namun saat ini ada sedikit keterkejutan dalam diri Yongri. Sejujurnya, ia sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun dan ingin cepat pulang.

“Apa yang terjadi? Kau terlihat buru-buru?” Tanya Kyuhyun setelah melepaskan genggamannya pada Yongri. Mendapatkan pertanyaan dari Kyuhyun membuat Yongri menjadi salah tingkah dan gugup. Gadis itu segera mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Semakin membuat Kyuhyun curiga.

“A–apa yang oppa lakukan disini?” Tanya Yongri seperti orang bodoh. Ia hanya mencoba untuk mengalihkan Kyuhyun dari pertanyaannya tersebut.

“Apa itu sesuatu hal yang aneh?” Kyuhyun bertanya balik. Yongri mendesah pelan. Ia tidak memiliki banyak waktu.

“Dimana ponselmu, oppa?” Yongri menengadahkan tangannya di hadapan Kyuhyun. Dengan ragu, Kyuhyun memberikan ponselnya pada Yongri. Yongri mengambil ponsel Kyuhyun dan mengetikkan nomor ponselnya di sana. Setelahnya ia kembali memberikan ponsel itu pada Kyuhyun.

“Aku harus segera pulang, oppa. Kita bisa bicara di telepon.” Ujar Yongri sembari tersenyum dan segera beranjak untuk meninggalkan Kyuhyun. Namun Kyuhyun dengan cepat menahan bahu Yongri. Membuat Yongri semakin gusar.

“Ada apa, Yong? Kau terlihat aneh. Tidak biasanya kau ingin cepat pulang saat bertemu denganku.” Kata Kyuhyun menatap Yongri dengan intens. Yongri memilih untuk menundukkan kepalanya.

“Ah! Apa si brengsek itu sudah mengetahui bahwa kita sering bertemu? Dia marah padamu dan mengancammu? Benar?” Tebak Kyuhyun. Yongri segera mendongak dan menggelengkan kepalanya.

“Bukan seperti itu, oppa.” Sahutnya.

“Lalu kenapa? Katakan padaku!” Desak Kyuhyun. Yongri kembali mendesah pelan.

“Siwon oppa sedang sakit saat ini, oppa.”

“Lalu?” Kyuhyun menyahut dengan cepat dan terdengar tidak peduli.

“Aku harus merawatnya.”

“Kau bukan perawat, Choi Yongri.”

“Tetapi aku istrinya.”

“Apa?” Kyuhyun terlihat benar-benar terkejut dengan respon dan ucapan yang diberikan Yongri. Kyuhyun tidak mau mengakuinya, tetapi ia dapat melihat gurat kekhawatiran pada mata Yongri.

“Kau–jangan katakan jika kau benar-benar menganggapnya sebagai suamimu.” Kata Kyuhyun. Ia tidak berani membayangkan ucapannya dibenarkan oleh Yongri.

“Dia memang suamiku, oppa. Seburuk apapun perlakuannya padaku, dia tetap suamiku. Sebagai seorang istri, sudah seharusnya aku merawat Siwon oppa saat ia sedang sakit.” Ucap Yongri.

“Yongri-ya!” Kyuhyun benar-benar tidak dapat menerima ucapan gadis itu. Apa yang sebenarnya ada dipikirannya?

“Apa kau tau tujuan kedatanganku kemari? Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku sudah menandatangi kontrak dengan WJ Entertainment. Hari ini, aku sudah mulai melakukan rekaman. Sebentar lagi aku akan mendapatkan uang yang banyak. Bahkan aku akan mendapatkan sebuah apartement. Apa kau tidak tau untuk siapa aku melakukan ini semua? Untukmu, Yong! Kenapa kau seperti ini?” Ujar Kyuhyun dengan kekesalan yang tiba-tiba melingkupi dirinya.

“Oppa..”

“Aku akan membayar hutang pada si brengsek itu dan membawamu pulang. Kau akan segera bercerai dengannya.” Lanjut Kyuhyun. Yongri terperangah mendengar ucapan Kyuhyun. Bercerai? Ia sudah lama tidak memikirkan itu. Yongri mulai melupakan fakta bahwa ia dan Siwon akan bercerai suatu saat nanti, ketika keluarganya sudah mampu membayar hutang pada Siwon. Yongri menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa seperti sebuah batu.

“Aku tau–“

“Jika kau tau kenapa seperti ini?! Kau tidak perlu mengabdikan dirimu pada si brengsek itu!”

“Si brengsek itu adalah suamiku, oppa!” Yongri menyahuti Kyuhyun dengan kesal. Ia merasa telinganya panas sedari tadi, karena Kyuhyun terus menyebut Siwon dengan sebutan ‘si brengsek’. Kyuhyun lagi-lagi dibuat terkejut oleh Yongri. Kyuhyun merasa gadis yang berada dihadapannya saat ini bukanlah adiknya. Kemana adiknya yang saat itu bahkan sangat takut ketika Siwon akan membawanya pergi?

“Sebelum aku bercerai dengannya, dia tetaplah suamiku. Dan sampai saat itu tiba, aku akan mengabdikan diriku padanya.” Ucap Yongri dan segera berbalik meninggalkan Kyuhyun. Ia segera menaiki bis yang baru saja datang. Meninggalkan Kyuhyun dengan kekesalan yang memuncak. Ia merasa ada yang salah pada Yongri. Yongri tidak seharusnya bersikap seperti ini. Kyuhyun semakin yakin bahwa Yongri diancam oleh Siwon. Ya, Yongri pasti sangat ketakutan hingga ia bersikap seperti ini.

“Brengsek! Aku benar-benar ingin mematahkan lehernya.” Umpat Kyuhyun dan segera meninggalkan tempatnya sekarang.

——

Yongri masuk ke dalam apartement masih dengan terburu-buru. Ia mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan segera menuju kamar Siwon. Namun gadis itu harus menelan kekecewaan saat melihat kamar Siwon dalam keadaan kosong. Tidak ada Siwon ataupun Jungsoo didalamnya. Yongri menghela nafas panjang dan berjalan mendekati tempat tidur. Ia duduk di sana sembari melepaskan tas yang dipakainya. Gadis itu menoleh dan tidak menemukan cairan infus Siwon.

“Apa ia sudah benar-benar baikan?” Tanyanya pada diri sendiri. Yongri akan merasa lega jika Siwon benar-benar sudah sembuh. Tetapi tetap saja ia merasa kecewa saat tidak menemukan Siwon di dalam kamar. Ia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Siwon benar-benar sudah sembuh. Ia ingin menghilangkan rasa khawatirnya.

Helaan nafas pelan kembali terdengar, sebelum Yongri memutuskan beranjak untuk berganti pakaian. Sudah menjadi kebiasaannya ketika pulang sekolah untuk mengganti pakaian sebelum melanjutkan aktivitasnya. Lagipula seragam sekolahnya akan dipakai lagi esok hari, sehingga ia tidak mau seragamnya kusut atau bahkan kotor. Yongri menggantung pakaiannya di depan lemari dan segera keluar dari kamar.

Bersamaan dengan itu, Yongri mendengar suara pintu apartement yang dibuka. Ia berjalan dengan cepat untuk melihat siapa yang datang. Mengingat bukan hanya dirinya dan Siwon yang mengetahui password apartement ini, Yongri tidak dapat langsung menebak. Dan Yongri tidak dapat menutupi rasa leganya saat melihat sosok Siwon yang baru saja memasuki apartement. Wajah laki-laki itu terlihat lelah dan membuat Yongri semakin khawatir.

“Kau sudah pulang, oppa?” Yongri mencoba untuk menyapa Siwon. Siwon mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan tidak memperdulikan Yongri.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Yongri. Siwon kembali ingin mengabaikan Yongri dan menuju ke dapur. Ia membutuhkan air putih untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Namun laki-laki itu terpaksa mengurungkan niatnya saat melihat penampilan Yongri. Tepatnya pakaian yang digunakan gadis itu.

Siwon mendekati keberadaan Yongri dengan matanya yang tidak lepas dari gadis itu. Menatap dari atas ke bawah beberapa kali hingga membuat Yongri bingung dan juga gugup. Yongri sangat yakin bahwa saat ini ia tidak melakukan kesalahan apapun. Atau mungkin ia tidak menyadari kesalahannya? Yongri menautkan kesepuluh jarinya saat Siwon sudah berada dihadapannya. Ia memberanikan diri untuk membalas tatapan Siwon.

“Apa kau selalu berpakaian seperti ini saat siang hari?” Tanya Siwon. Yongri segera menatap pakaian yang digunakannya saat mendapatkan pertanyaan dari Siwon. Sebuah kaos ketat lengan pendek dengan celana hotpants yang panjangnya di atas paha. Apa ada yang salah? Yongri biasa memakai pakaian seperti ini bahkan saat ia di rumah dulu.

“Ya.” Jawab Yongri setelah lama diam. Selama ini, Siwon memang selalu pulang pada malam hari, dan menemukan Yongri yang sudah lengkap dengan piyama–nya. Saat pagi hari–pun, ia hanya melihat gadis itu memakai seragam sekolah. Hingga melihat Yongri berpakaian seperti adalah pertama kalinya untuk Siwon.

“Setiap hari?” Siwon memperjelas pertanyaannya. Yongri mengangguk pelan.

“Saat Jungsoo hyung datang ke apartemen untuk memberikan gaun padamu, kau juga berpakaian seperti ini?” Siwon kembali bertanya. Yongri mengingat-ingat hari dimana Jungsoo datang ke apartement ini seperti yang Siwon katakan barusan. Dan gadis itu kembali mengangguk. Sesaat kemudian terdengar hembusan nafas Siwon yang terdengar cepat.

“Mulai sekarang, kau tidak boleh berpakaian seperti ini dihadapan orang lain. Khususnya pria.” Ucap Siwon dengan tegas.

“Apa?” Yongri terlihat terkejut dan bingung dengan ucapan Siwon.

“Hanya di depanku. Kau mengerti?” Siwon memajukan langkahnya hingga semakin dekat dengan Yongri. Walaupun masih dalam kebingungan, Yongri tetap menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin membuat Siwon marah.

“Sekarang, bisakah kau buatkan aku makanan? Aku lapar.” Ujar Siwon dan melewati Yongri untuk beristirahat sebentar. Tubuhnya belum benar-benar pulih dan Siwon merasa sangat lelah saat ini.

“Apa kau mau aku buatkan bubur, oppa? Kau masih terlihat kurang sehat.” Ucap Yongri sembari membalikkan badannya untuk menatap punggung Siwon.

“Terserah!” Sahut Siwon dan segera menghilang di balik pintu kamar. Yongri tersenyum dan segera menuju ke dapur untuk membuat bubur. Ia merasa sangat bersyukur karena selalu meminta ibunya untuk mengajarinya memasak dulu. Hingga sekarang kemampuan memasak Yongri tidak perlu diragukan. Selama ia menjadi istri Siwon–pun, Siwon tidak pernah protes dengan makanan yang dimasak gadis itu. Dan Yongri tidak dapat menutupi rasa senangnya akan hal itu.

——

Yongri masuk ke dalam kamar Siwon sembari membawa sebuah nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Yongri melihat Siwon yang sedang berbaring menyamping dengan memejamkan matanya. Ia tidak tau apakah Siwon tidur atau tidak. Gadis itu menaruh nampan yang dibawanya di atas nakas yang berada di samping sisi tempat tidur Siwon. Setelahnya dengan hati-hati ia duduk di samping Siwon di atas tempat tidur.

“Oppa..” Panggil Yongri pelan. Siwon tidak menanggapi panggilan istrinya tersebut, walaupun sebenarnya ia tidak tidur. Ia hanya memejamkan matanya sebentar untuk menghilangkan sakit kepalanya.

“Makanlah terlebih dahulu sebelum kau tidur.” Kata Yongri yang masih setia menatap Siwon dari samping. Gadis itu mengangkat tangannya untuk mengguncang tubuh Siwon. Karena yang ada dipikiran Yongri saat ini adalah Siwon sedang tidur. Ia memang tidak mempermasalahkan jika Siwon ingin beristirahat dengan tidur, tetapi paling tidak Siwon harus mengisi perutnya terlebih dahulu. Mengingat jika tadi pagi Yongri tidak mempersiapkan sarapan untuk Siwon, Yongri menebak bahwa perut Siwon belum diisi oleh apapun.

“Jika aku..” Siwon yang tiba-tiba berbicara membuat gerakan tangan Yongri berhenti di udara. Ia segera menurunkan tangannya dan meletakkannya di atas pahanya. Laki-laki itu berbicara dengan memejamkan matanya.

“Jika aku bukanlah laki-laki normal seperti yang lainnya. Apakah kau masih menganggapku suamimu?” Tanya Siwon tiba-tiba.

Siwon juga tidak tau mengapa ia menanyakan hal itu pada Yongri. Pikiran bahwa dirinya bukanlah seorang laki-laki normal tiba-tiba menghantuinya. Ia tau jika yang memiliki masa lalu kelam bukan hanya dirinya saja.. Banyak orang-orang di luar sana yang mungkin memiliki masa lalu yang lebih buruk daripada dirinya. Siwon juga tau bahwa memiliki masa lalu yang buruk tidak membuatnya menjadi laki-laki yang tidak normal. Tetapi pikiran-pikiran itu terus menggerayangi kepala Siwon hingga membuat kepalanya semakin sakit.

“Oppa..” Yongri terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Siwon.

“Jawab pertanyaanku.” Kata Siwon. Yongri mengalihkan pandangannya dan menghela nafas panjang.

“Apa kau menganggapku sebagai istrimu?” Yongri memberanikan dirinya untuk bertanya balik pada Siwon. Yongri dapat mendengar Siwon mendengus dengan kasar. Membuatnya kembali menatap Siwon yang belum bergerak sama sekali. Bahkan laki-laki itu juga tidak berniat untuk membuka matanya.

“Kalaupun aku tidak menganggapmu sebagai istriku, orang-orang di luar sana sudah mengetahui bahwa kau adalah istriku.” Jawab Siwon. Yongri menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan miris. Ternyata seperti itu pikiran Siwon mengenai status dirinya.

“Jika seperti itu, kenapa kau ingin aku mengakuimu sebagai suamiku? Kau tau bahwa aku sangat membencimu. Kau membuatku berpisah dengan keluargaku.” Kata Yongri dengan suaranya yang bergetar.

“Itu semua salah keluargamu yang berhutang pada ibuku.” Sahut Siwon.

“Lalu kenapa kau membayarkan hutang keluargaku pada ibumu? Kenapa kau menjadikanku sebagai istrimu untuk membayar hutang kepadamu?!” Yongri tanpa sadar meninggikan suaranya. Membuat Siwon membuka matanya dengan perlahan, namun tetap tidak melakukan pergerakan apapun. Anehnya, ia tidak merasa kesal mendengar gadis itu berteriak padanya. Ia tidak merasa marah saat Yongri mengatakan bahwa ia membenci Siwon. Sejujurnya, Siwon suka saat mendengar Yongri mengutarakan isi hatinya. Selama ini Yongri hanya diam saja dan terkesan menurut padanya. Walaupun Siwon tau itu semua dilakukan Yongri karena ia takut pada Siwon.

“Walaupun kau tidak menganggapku sebagai istrimu, wa–walaupun pernikahan ini tidak ada artinya untukmu. Sampai saat itu tiba, aku akan tetap menganggapmu sebagai suamiku.” Ucap Yongri. Gadis itu segera berdiri untuk meninggalkan kamar Siwon. Siwon mengangkat kepalanya untuk melihat kepergian Yongri. Setelah Yongri benar-benar keluar dari kamar, Siwon mengubah posisinya menjadi duduk. Ia memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Yongri.

“Sampai saat itu tiba? Apa maksudnya?” Gumam Siwon. Laki-laki itu menatap pintu kamar yang tertutup dengan rapat. Beberapa saat kemudian, Siwon memutar kepalanya dan menatap semangkuk bubur dengan asap yang masih mengepul. Ia mengulurkan tangannya dan meraih mangkuk tersebut. Sebelum akhirnya memindahkan bubur buatan Yongri ke dalam perutnya.

——

Keadaan Siwon sudah semakin membaik, dan ia sudah bisa mengerjakan tugasnya dengan benar. Ia dan Jungsoo baru saja menyelesaikan rapat dengan salah satu rekan bisnis sembari menikmati makan siang. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan pulang ke kantor. Karena masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.

“Nyonya Kang terus menghubungiku, Siwon-ah. Ia ingin bertemu denganmu. Katanya sulit sekali bertemu denganmu akhir-akhir ini. Saat ia ke kantor, kau tidak ada di sana.” Kata Jungsoo. Siwon menatap jendela mobil dan tampak tidak tertarik mendengar ucapan Jungsoo.

“Kau tidak boleh mengabaikan ibumu terus. Dia pasti mengkhawatirkanmu.” Jungsoo mencoba menasehati Siwon, namun laki-laki itu malah mendengus kasar.

“Tidak mungkin.” Sahut Siwon kemudian.

“Yah, apanya yang tidak mungkin? Sudah sewajarnya jika seorang ibu mengkhawatirkan anaknya.”

“Tapi tidak untuk ibuku.”

“Lagipula tujuan ibuku terus merecokiku adalah karena ia ingin menjodohkanku dengan wanita pilihannya.” Kata Siwon membuat Jungsoo terkejut.

“Menjodohkan? Kau sudah menikah, Siwon-ah.” Komentar Jungsoo.

“Kau pikir aku tidak tau?”

“Lalu apa alasan Nyonya Kang melakukannya?” Tanya Jungsoo.

“Tentu saja karena dia tidak menyukai Yongri.” Jawab Siwon.

“Kenapa–” Jungsoo tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena ia baru saja menginjak rem mobil secara tiba-tiba. Membuat tubuh Siwon mau–pun dirinya terlonjak ke depan dan hampir membentur dashboard mobil. Siwon sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Jungsoo. Ia menatap Jungsoo dengan matanya yang membesar.

“Hati-hati, Park Jungsoo!” Bentak Siwon. Jungsoo tidak menanggapi bentakan Siwon. Ia mengangkat sedikit kepalanya dari balik stir, dan melihat ke depan. Wajahnya terlihat pucat dan ia mencengkram stir mobil dengan kuat.

“Ada apa?” Tanya Siwon bingung.

“Se–sepertinya aku menabrak orang, Siwon-ah.” Bisik Jungsoo membuat Siwon melebarkan matanya.

“Apa?!”

“Ba–bagaimana ini?” Jungsoo terlihat panik. Siwon segera keluar dari mobil untuk melihat keadaan orang yang ditabrak Jungsoo.

Seorang wanita paruh baya terduduk di depan mobil Siwon sembari membersihkan kakinya yang terlihat kotor. Wajah wanita itu juga terlihat sedikit pucat membuat Siwon berpikir bahwa Jungsoo mungkin memang sudah menabraknya. Dengan langkah pasti, Siwon mendekati wanita paruh baya tersebut. Ia menatap wanita itu dari atas hingga ke bawah, dan sedikit bernafas lega saat tidak menemukan luka di tubuh wanita itu.

“Anda baik-baik saja, ahjumma?” Tanya Siwon yang sudah berjongkok di hadapan wanita itu. Wanita itu mendongak dan menatap Siwon.

“Ah ya, aku baik-baik saja.” Jawabnya dengan senyum canggung.

“Maafkan kelalaian teman saya, ahjumma. Saya akan mengantar Anda ke rumah sakit.” Kata Siwon sembari membantu wanita itu berdiri.

“Tidak-tidak. Saya tidak apa-apa. Mobil temanmu tidak menabrak saya. Saya terjatuh karena terlalu terkejut melihat mobil yang tiba-tiba datang.” Jelas wanita itu.

“Katakan pada temanmu bahwa saya tidak apa-apa.” Wanita itu menatap Jungsoo yang masih berada di dalam mobil dengan wajah pucatnya. Ia merasa bersalah karena Jungsoo pasti merasa ketakutan. Wanita itu kembali menatap Siwon dan menepuk lengannya pelan sebelum beranjak meninggalkannya. Namun Siwon tidak membiarkannya begitu saja. Entah mengapa wajah pucat wanita itu membuat Siwon sedikit khawatir.

“Sebentar, ahjumma.” Siwon mengejar wanita itu dan berdiri dihadapannya.

“Kalau begitu saya minta maaf karena sudah membuatmu terkejut.” Ujar Siwon sembari membungkukkan badannya.

“Astaga, tidak apa-apa.” Wanita itu terlihat tidak enak.

“Sebagai permintaan maaf saya, saya akan mengantar Anda. Anda mau kemana?” Siwon menatap wanita itu tanpa tersenyum dan terkesan dingin. Namun wanita itu dapat merasakan kebaikan Siwon.

“Saya mau pulang. Tetapi saya bisa pulang sendiri.” Tolak wanita itu.

“Saya akan mengantar Anda pulang, ahjumma. Saya mohon. Kalau tidak, Saya dan teman saya tidak akan bisa tenang.” Ucap Siwon. Wanita itu ingin menolak lagi, tetapi melihat wajah Siwon yang terlihat bersungguh-sungguh, wanita itu menjadi tidak tega.

“Baiklah.” Putusnya akhirnya. Siwon menerbitkan sedikit senyumnya sebelum menggiring wanita itu ke mobilnya. Membukakan pintu mobil untuk wanita itu dan setelahnya ia kembali masuk ke dalam mobil dan duduk si samping Jungsoo.

“Kita kerumah sakit?” Tanya Jungsoo berbisik. Ia melirik wanita paruh baya yang duduk di belakang.

“Tidak. Ahjumma itu hanya terkejut dan baik-baik saja. Bersyukurlah karena kau tidak menabraknya. Kita akan mengantarnya pulang.” Jawab Siwon sembari memasang seatbelt. Jungsoo bernafas lega dan segera memutar kepalanya untuk menatap wanita itu.

“Saya benar-benar minta maaf, ahjumma.” Ucap Jungsoo menyesal. Wanita itu tersenyum dengan hangat.

“Saya sudah katakan pada temanmu tidak apa-apa.” Balasnya.

“Katakan saja di mana rumah Anda, ahjumma. Kami akan mengantar Anda.” Kata Jungsoo. Setelah wanita itu menyebutkan alamatnya, Jungsoo kembali menjalankan mobil dan lebih hati-hati.

Hampir setengah jam kemudian, wanita itu meminta Jungsoo untuk menghentikan mobilnya di depan sebuah lorong yang tidak terlalu sempit. Bahkan sebenarnya mobil Siwon masih dapat masuk ke dalam lorong tersebut. Tetapi wanita itu meminta mobil Siwon untuk berhenti di sana. Jungsoo mengikutinya dengan senang hati. Siwon dan Jungsoo ikut turun dari mobil, mereka bukan ingin mengantar wanita itu sampai ke depan rumahnya, tetapi sebagai bentuk kesopanan mereka.

“Terima kasih banyak sudah mengantarkan saya.” Kata wanita itu.

“Bukan apa-apa, ahjumma.” Sahut Jungsoo dengan tersenyum. Wanita itu ikut tersenyum dan menghampiri Siwon. Ia mengusap lengan Siwon membuat laki-laki itu merasa sangat canggung dengan keadaan sekarang.

“Kau sangat baik, anak muda. Apa kau sudah memiliki kekasih?” Tanya wanita itu membuat Siwon terkejut.

“Dia sudah menikah, ahjumma.” Jungsoo yang menjawab.

“Ah, benarkah?” Wanita itu terlihat terkejut. Siwon hanya dapat menampilkan senyum kecilnya.

“Istrimu pasti merasa beruntung sekali karena mendapatkan suami yang baik sepertimu. Aku doakan kehidupan rumah tanggamu akan selalu harmonis.” Ucap wanita itu dengan tulus. Siwon membungukkan sedikit badannya sebagai tanda terima kasih. Setelahnya wanita itu segera meninggalkan mereka dengan masuk ke dalam lorong tersebut.

Siwon terus menatap wanita itu walaupun hanya melihat punggungnya saja. Wajah wanita paruh baya itu terlihat mirip dengan seseorang yang Siwon kenal. Dan juga, Siwon pernah datang ke tempat ini. Ia juga pernah masuk ke lorong ini sebanyak tiga kali. Yaitu saat menagih hutang pada keluarga Yongri, saat mengenalkan Yongri pada Jungsoo dan Bong ok, dan saat membawa Yongri untuk menikah dengannya. Jungsoo yang hendak masuk ke dalam mobil mengurungkan niatnya saat melihat Siwon yang begitu serius menatap kepergian wanita paruh baya itu.

“Yah, ada apa?” Tanya Jungsoo.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Siwon dan segera masuk ke dalam mobil. Jungsoo menaikkan kedua bahunya sebelum akhirnya menyusul Siwon dan mereka melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kantor.

——

Ruang televisi di apartement Siwon yang sebelumnya tampak rapi, saat ini terlihat berantakan oleh buku-buku pelajaran Yongri. Gadis itu duduk di atas karpet berbulu berwarna abu-abu sembari mengerjakan soal di atas meja. Wajah Yongri terlihat serius dan frustasi di saat bersamaan. Ujian akhir tinggal seminggu lagi dan Yongri harus semakin giat belajar jika ingin lulus sekolah. Ia bukanlah gadis pintar di sekolahnya, namun Yongri juga bukan gadis bodoh. Semua pelajaran-pelajaran itu akan mampu diserapnya jika ia belajar dengan bersungguh-sungguh. Untuk itu saat ini Yongri sedang mencoba untuk serius belajar. Ia sengaja memilih waktu malam hari, karena saat malam hari–lah ia tidak memiliki pekerjaan apapun.

Yongri sesekali meringis pelan saat menemukan soal yang tidak bisa dikerjakannya. Beberapa kali ia mencoret-coret bukunya saat hasil yang didapatkannya tidak sesuai dengan jawaban soal tersebut. Ia mengembungkan pipinya sembari menghembuskan nafas, hingga membuat poninya berterbangan. Kemudian Yongri kembali mengerjakan soal tersebut. Walaupun beberapa saat kemudian ia masih tidak dapat menemukan jawaban yang benar. Gadis itu meletakkan pensil yang dipegangannya kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa dibelakangnya. Ia menghela nafas panjang.

“Seandainya ada Kyuhyun oppa..” Gumamnya. Selama ini, Yongri memang selalu meminta bantuan Kyuhyun dalam pelajaran matematika. Kyuhyun memiliki otak yang cemerlang dan sangat pintar. Salah satu hal yang membuat gadis itu merasa beruntung memiliki kakak tiri seperti Kyuhyun.

Yongri menatap ponselnya yang berada di atas meja. Haruskah ia menghubungi laki-laki itu? Yongri menggelengkan kepalanya. Jika ia melakukan itu, Kyuhyun mungkin akan kembali memaki Siwon karena telah membawa Yongri pergi. Hingga ia tidak bisa mengajari Yongri belajar. Yongri kembali menghela nafas panjang. Gadis itu mengalihkan pandangannya saat mendengar suara pintu kamar Siwon dibuka. Siwon keluar dari kamar dengan pakaian santainya. Ia mencoba mengabaikan Siwon dan kembali melanjutkan kegiatannya. Lebih berkonsentrasi agar ia dapat mengerti soal tersebut.

Siwon menatap Yongri sekilas, setelahnya ia melangkah ke dapur untuk mencari minum. Tenggorokannya terasa kering sehabis mandi. Saat membuka kulkas, Siwon sedikit terkejut ketika melihat kulkasnya tampak penuh. Penuh oleh berbagai makanan, sayuran serta minuman. Bahkan minuman-minuman beralkohol–pun ada di sana. Siwon memutar kepalanya untuk melihat Yongri yang sedang menunduk untuk mengerjakan soal. Apa gadis itu yang membeli ini semua? Jika hanya makanan dan sayuran, Siwon masih dapat mempercayainya. Tetapi jika minuman beralkohol?

“Tidak mungkin dia yang membelinya.” Ujar Siwon kepada dirinya sendiri. Namun jika bukan gadis itu, lalu siapa? Jungsoo?

Siwon mengambil sebotol air putih dan meneguk isinya hingga habis setengah. Lalu ia mengembalikan lagi botol tersebut ke dalam kulkas. Ia meninggalkan dapur dan menghampiri Yongri. Duduk di sofa ruang televisi dan menatap televisi yang menyala namun tidak bersuara. Siwon dapat merasakan lirikan mata Yongri padanya. Walaupun gadis itu meliriknya diam-diam dan terkesan takut-takut, ia dapat mengetahuinya.

“Kau yang membeli minuman di dalam kulkas?” Tanya Siwon tanpa mengalihkan pandangannya. Yongri mendongak dan menatap Siwon.

“Ya, aku yang membelinya. Kenapa?” Yongri menjawab kemudian balik bertanya.

“Darimana kau tau berbagai macam minuman itu? Dan untuk apa kau membelinya?” Siwon menundukkan pandangannya dan membalas tatapan Yongri.

“Ah, itu–” Yongri terlihat ragu untuk menjawabnya.

“Jawab pertanyaanku.” Ucap Siwon tegas. Yongri menundukkan kepalanya dan mencoret-coret bukunya. Ia terlihat takut dan juga gugup. Bagaimana jika Siwon marah setelah mendengar jawabannya?

“Choi Yongri..” Suara Siwon mulai terdengar tidak sabar.

“Ketika aku berbelanja di supermarket, aku melihat minuman-minuman itu.” Yongri mulai menjawab.

“Lalu?”

“Ka–karena kau sering pulang dalam keadaan mabuk, aku pikir kau akan menyukai minuman itu. Sehingga kau tidak perlu menghabiskan waktu di luar jika hanya ingin mabuk-mabukan.” Lanjut Yongri.

“Jadi maksudmu aku mabuk-mabukan di rumah saja?” Ujar Siwon memastikan. Yongri semakin menundukkan kepalanya.

“Maafkan aku jika sudah mengatur hidupmu.” Ucapnya pelan. Siwon menatap gadis itu dengan tajam. Tadinya ia ingin marah setelah mendengar jawaban Yongri. Tetapi setelah mendengar permintaan maaf dari gadis itu, kemarahannya mereda. Siwon tidak tau apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Hanya saja, ia mulai menerima apapun yang dilakukan gadis itu.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Siwon acuh.

“Eo?” Yongri kembali mendongak dan menatap Siwon dengan bingung. Ia pikir Siwon akan marah padanya. Tetapi nyatanya laki-laki itu terlihat biasa saja.

“Aku sedang belajar.” Jawab Yongri kemudian.

“Lalu kenapa bukumu penuh dengan coretan?” Siwon ikut duduk di samping Yongri sembari menarik buku dari hadapan gadis itu. Siwon memperhatikan soal yang sedang dikerjakan Yongri beserta jawaban-jawaban yang sudah dikerjakan dan di coret-coret oleh gadis itu.

“Kau tidak bisa mengerjakannya?” Tanya Siwon diiringi dengan senyum ejekan.

“Aku sedang berusaha.” Jawab Yongri sedikit ketus. Ia merasa sedikit tersinggung dengan ejekan Siwon. Gadis itu mengambil bukunya dari tangan Siwon namun Siwon menahannya.

“Aku bisa mengerjakannya.” Sahut Siwon sembari memajukan badannya. Ia mengambil pensil Yongri dan bersiap untuk mengerjakan soal di buku Yongri, sebelum getaran di ponsel Yongri menarik perhatian Siwon.

Kyuhyun Oppa’s calling….

Mata Siwon memicing tajam untuk memastikan nama yang dibacanya dari ponsel itu. Ia melihat tangan Yongri yang hendak meraih ponsel itu, namun Siwon bergerak lebih cepat untuk mengambilnya. Siwon memastikan sekali lagi siapa yang menghubungi Yongri, sebelum akhirnya ia menatap Yongri dengan tajam. Yongri terlihat ketakutan saat membalas tatapan Siwon. Ia tau Siwon pasti akan marah melihat Kyuhyun menghubunginya. Yongri juga tidak menyangka jika Kyuhyun akan menghubunginya di saat ia sedang bersama Siwon seperti ini.

“Oppa..” Yongri benar-benar merasa takut sekarang. Padahal Siwon baru saja bersikap sedikit bersahabat dengannya. Siwon tidak memperdulikan ketakutan Yongri. Ia menggeser icon berwarna hijau untuk menjawab telepon Kyuhyun.

“Halo..”

Siapa ini?

“Apa aku perlu memperkenalkan diriku?” Suara Siwon benar-benar terdengar tidak bersahabat. Yongri mencoba merebut ponselnya dari Siwon.

“Aku akan berbicara dengannya, oppa.” Ujar Yongri. Siwon menahan tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.

Berikan ponselnya pada Yongri.

“Kenapa aku harus melakukannya?”

Kau–berhentilah bersikap sombong.

“Itu bukan urusanmu, Cho Kyuhyun-ssi.”

Sebentar lagi aku akan mengembalikan uangmu dan membawa Yongri pulang.” Siwon tidak dapat menyembunyikan tawanya saat mendengar ucapan Kyuhyun yang sangat percaya diri menurutnya. Sesaat kemudian Siwon menghilangkan tawanya dan digantikan dengan senyum sinis.

“Jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak dapat kau lakukan.”

Kenapa? Karena kau sudah membuat namaku di blacklist, kau merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah mendapat uang?” Perkataan Kyuhyun membuat senyum Siwon benar-benar menghilang. Siwon cukup terkejut karena Kyuhyun mengetahui dirinya–lah dalang di balik kesusahan laki-laki itu mencari pekerjaan. Tanpa sadar, Siwon mengeratkan genggamannya pada tangan Yongri, hingga membuat Yongri kesakitan.

Sebanyak apapun uang yang kau miliki, kau tidak akan bisa membeli dunia. Apa kau tidak tau itu? Dan kalau–pun kau memang bisa membeli dunia, dunia tidak akan pernah merasa terhormat dimiliki oleh orang sombong sepertimu.” Perkataan Kyuhyun semakin membuat Siwon emosi. Nafas laki-laki itu terlihat memburu karena mendengar perkataan Kyuhyun. Yongri yang berada di dekat Siwon–pun dapat merasakan kemarahan laki-laki itu. Yongri tidak tau apa yang telah dikatakan Kyuhyun pada Siwon. Yang Yongri harapkan saat ini adalah Kyuhyun menghentikan itu semua. Siwon membuang nafasnya dengan pelan, sebelum menanggapi ucapan Kyuhyun.

“Apa kau sudah selesai?”

Belum. Aku peringatkan kau untuk tidak menyakiti adikku hingga aku membawanya pulang.

“Jangan terlalu percaya diri bahwa kau bisa membawanya pulang.” Siwon mengalihkan pandangannya pada Yongri. Mata gadis itu berkaca-kaca dan Siwon sedikit terganggu melihatnya. Hingga ia kembali membuang pandangannya dari Yongri.

“Walaupun kau mengumpulkan uang yang banyak, aku tidak akan dengan mudah membiarkanmu membawanya.”

Aku tau bahwa kau brengsek, sombong, dan berkuasa. Tetapi kau juga harus menepati janjimu sebagai seorang lelaki, bukan? Aku harap kau tidak melupakan janjimu saat kau membawa Yongri pergi. Karena jika kau berani melanggar janjimu, aku tidak akan tinggal diam.” Kyuhyun memutuskan sambungan telepon begitu saja tanpa menunggu tanggapan Siwon. Sama seperti Siwon, Kyuhyun–pun merasa emosi berbicara dengannya.

Siwon mencengkram ponsel Yongri dengan erat sebelum akhirnya mengambil gerakan untuk membanting ponsel tersebut. Namun Yongri dengan cepat menahannya. Ia tidak ingin ponsel itu rusak. Ponsel tersebut adalah ponsel pertama yang dimilikinya selama hidupnya. Ia tidak ingin kehilangan benda itu walaupun Yongri mendapatkannya bukan dari hasil kerja kerasnya.

Siwon menatap Yongri tajam saat melihat gadis itu berani menghalangi dirinya melampiaskan emosi pada ponsel itu. Saat ini Siwon merasa sangat emosi dan ia ingin melampiaskannya pada benda-benda didekatnya. Ia akan menganggap benda-benda itu adalah Kyuhyun. Seandainya saja Kyuhyun berada di dekatnya saat ini, Siwon yakin Kyuhyun tidak akan bisa bernafas dengan normal lagi setelah ini.

“A–aku tidak tau apa yang Kyuhyun oppa katakan padamu. Tetapi jika kau ingin marah, jangan lampiaskan kemarahanmu pada benda-benda yang tidak berdosa. Aku akan menanggung kemarahanmu pada Kyuhyun oppa.” Ujar Yongri dengan airmatanya yang sudah mengalir.

“Kau tidak berhak mengaturku, Choi Yongri!” Bentak Siwon. Laki-laki itu melempar ponsel Yongri ke atas meja. Ia mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Yongri dan mendorongnya ke belakang, hingga membuat Yongri meringis. Ia merasa tangannya seperti mau patah. Namun Siwon tidak memperdulikan itu. Ia memajukan wajahnya hingga menjadi sangat dekat dengan wajah Yongri.

“Apa yang sedang dilakukan kakakmu itu, huh? Apa yang sedang dilakukannya hingga ia berbicara begitu sombong kepadaku?!” Siwon kembali membentak Yongri di akhir kalimatnya.

“A–apa m–maksudmu?” Yongri bertanya dengan terbata.

“Kau mengerti maksudku, Choi Yongri. Bukankah kalian bertemu secara diam-diam selama ini?” Ujar Siwon sembari menyeringai. Yongri terlihat terkejut mendengar ucapan laki-laki itu. Siwon mengetahuinya?

“Dengarkan ucapanku baik-baik dan sampaikan padanya ketika kau bertemu dengan kakakmu itu. Sebanyak apapun uang yang dikumpulkannya, aku tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkan apartement ini, Yongri-ya. Aku tidak pernah membiarkan orang lain mengambil apapun yang menjadi milikku. Dan aku tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang telah menjadi milikku.” Ucap Siwon dengan sangat tajam dan dingin. Matanya menatap tepat di mata Yongri yang memerah karena menangis. Yongri membalas tatapan Siwon masih dengan keterkejutannya. Sesaat kemudian gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk mendorong Siwon menjauh dan melepaskan cengkraman Siwon padanya. Setelah berhasil, Yongri kembali menatap Siwon.

“K–kau tidak akan pernah melepaskanku?” Tanyanya. Siwon kembali menarik ujung bibirnya untuk tersenyum dengan sinis, sebelum menjawab pertanyaan Yongri.

“Ya. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Choi Yongri.”

——

–To Be Continued–

 

HAI! Sorry ya lanjutan PL—nya agak lama. Semoga part ini bisa menghibur^^

50 comment? Lanjut…..

BYE~

Advertisements

105 thoughts on “Painful Life – Part 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s