Forbidden Love – Part 14

PhotoGrid_1458277802299

Author

Choineke

Title

Forbidden Love

Cast

Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Lee Jonghyun-CN BLUE, Jeon Jungkook-BTS, Choi Minho-Shinee (Yongri’s Brother), Choi Jinhyuk (Yongri’s Father)

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-15

 

Kau adalah dosa terindah di dalam hidupku. –Choi Siwon

——

Author POV

Minho masih berdiri dengan kaku sembari menatap seorang pria yang terlihat sangat lemah dimatanya saat ini. Ia tidak pernah melihat pria tersebut seperti ini sebelumnya. Dan jujur saja Minho tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi. Minho tidak menyadari bahwa saat ini airmata mengalir dari kedua matanya. Menyaksikan bagaimana dua orang yang saling mencintai memutuskan untuk berpisah demi kepentingan orang lain. Menyaksikan bagaimana dua orang yang saling mencintai harus sama-sama terluka karena perpisahan yang tidak pernah mereka inginkan. Ya, Minho melihat dan mendengar dengan jelas bagaimana Yongri memutuskan untuk berpisah dengan Siwon. Dan Minho–pun melihat dengan jelas bagaimana Siwon terlihat sangat terpuruk saat ini.

Minho baru saja keluar dari ruang rawat Jinhyuk saat ia tiba-tiba melihat Yongri dan Siwon yang sedang berbicara berdua. Awalnya laki-laki itu mencoba untuk mengabaikan mereka. Namun semakin lama ia melihat, ia tau bahwa yang sedang dibicarakan oleh keduanya adalah hal yang serius. Ia juga dapat melihat tubuh Yongri yang bergetar karena menangis. Hingga akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.

Tidak pernah terpikirkan sekali–pun oleh Minho, bahwa Yongri akan mengakhiri hubungannya dengan Siwon. Minho dapat melihat bagaimana keduanya saling mencintai. Tentu saja kehamilan Yongri menjadi bukti mutlak hubungan keduanya. Yongri bahkan menangis dengan begitu memilukan ketika ia memutuskan Siwon. Minho sangat ingin tau apa yang ada dipikiran Yongri hingga mengambil keputusan seperti ini. Apa karena Jinhyuk? Sejujurnya, Minho tidak ingin mengakui hal ini. Tetapi apa yang dikatakan dokter tentang bagaimana Jinhyuk menolak kehadiran Yongri adalah benar adanya. Ketika suster membawa Yongri keluar, Jinhyuk dapat mengendalikan kembali dirinya dan semuanya kembali normal. Sekali lagi, Minho tidak ingin mengakuinya. Tetapi..

“Hyung!” Minho segera menoleh saat mendengar teriakan seseorang. Laki-laki itu segera mengusap pipinya yang basah dan menajamkan penglihatannya. Seseorang yang diketahui Minho sebagai sekretaris pribadi Siwon saat ini tengah berlari menghampiri Siwon yang seperti sedang sekarat. Wajah Jonghyun terlihat sangat khawatir. Jangankan Jonghyun, Minho saja sangat khawatir melihat keadaan Siwon saat ini. Pria itu terlihat begitu terluka karena Yongri meninggalkannya. Sesaat tadi sempat terpikirkan oleh Minho untuk melihat kondisi Siwon. Tetapi Minho merasa dirinya tidak punya hak apapun. Minho terus menatap Jonghyun yang baru saja melewatinya dan beberapa saat kemudian berada tepat di hadapan Siwon. Minho segera membuang pandangannya dan berlalu dari sana. Ia merasa tidak berhak untuk memandangi keterpurukan Siwon lebih jauh lagi.

——

Jonghyun memang membiarkan Siwon lebih dulu memasuki rumah sakit, selagi dirinya mencari tempat parkir. Jonghyun pikir Siwon perlu menemani dan menjaga Yongri yang sedang hamil saat ini. Yang Jonghyun ingat, hubungan Siwon dan Yongri masih baik-baik saja tadi pagi. Dan lagi saat ia dan Siwon dalam perjalanan ke rumah sakit, Siwon terus membicarakan pekerjaan seperti tidak ada yang terjadi sama sekali.

Namun apa yang dilihat Jonghyun saat ini adalah sesuatu yang tidak dapat dipercayai laki-laki itu begitu saja. Betapa terkejutnya Jonghyun saat melihat Siwon dalam posisi berlutut di lantai rumah sakit dengan wajahnya yang basah. Selama Jonghyun hidup bersama Siwon, ini adalah pertama kalinya Jonghyun melihat Siwon dalam keadaan sangat menyedihkan.

“Hyung..” Lirih Jonghyun saat berada di hadapan Siwon. Jonghyun tidak tau apa yang terjadi dan ia juga tidak dapat mengatur ekspresi wajahnya saat ini. Ia hanya merasakan kesedihan yang dirasakan pria itu. Pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri.

“H–hyung, apa yang terjadi?” Tanya Jonghyun sembari mencoba membantu Siwon berdiri. Namun dikarenakan tubuh Siwon yang sudah tidak memiliki kekuatan sama sekali, pria itu malah jatuh terduduk dan ia dapat merasakan dinginnya lantai rumah sakit. Lutut pria itu juga terasa nyeri karena terbentur dengan lantai. Namun itu semua tidak seberapa dibandingkan dengan luka yang sedang dirasakan oleh hatinya saat ini.

“Tolong katakan sesuatu, hyung. Kau membuatku takut.” Ujar Jonghyun yang sudah ikut duduk di lantai. Siwon menundukkan kepalanya dan mencoba menghilangkan sesak yang dirasakannya. Siwon tidak pernah seperti ini sebelumnya, dan ia tidak tau bagaimana menanganinya. Mungkinkah jika jantungnya berhenti berdetak maka rasa sakit dan sesak yang dirasakannya akan hilang?

Siwon mengumpulkan kekuatan di dalam tubuhnya. Ia tidak akan menunjukkan kelemahan di depan orang-orang seperti ini. Siwon menyeka airmatanya. Dengan susah payah pria itu mencoba berdiri di tengah-tengah kakinya yang masih terasa sangat lemas. Melihat itu, Jonghyun dengan segera membantu Siwon agar pria itu tidak kembali terjatuh. Jonghyun tidak melepaskan Siwon begitu saja, karena Jonghyun dapat merasakan lemasnya tubuh Siwon. Jonghyun sangat ingin tau apa yang sedang terjadi pada Siwon. Dan dimana Yongri? Apa ini semua ada hubungan dengan gadis itu? Namun Jonghyun mencoba menyimpan rasa penasarannya terlebih dahulu. Ia harus memastikan kondisi Siwon baik-baik saja saat ini.

“Kita pulang.” Ujar Siwon dengan suaranya yang serak.

“Ya, hyung.” Jonghyun menyahut tanpa banyak berkomentar.

Jonghyun tidak melepaskan pegangannya pada Siwon. Dan Siwon–pun terlihat tidak menolak bantuan Jonghyun, karena laki-laki itu memang membutuhkan pegangan saat ini. Keduanya melangkah dengan perlahan meninggalkan rumah sakit. Tanpa mereka sadari, dari salah satu sudut rumah sakit, Yongri melihat semuanya. Gadis itu melihat bagaimana terlukanya Siwon karena dirinya. Melihat dengan tangisnya yang tak kunjung reda. Yongri membekap mulutnya sendiri untuk meredam suara tangisnya agar tidak di dengar oleh orang lain. Sekalipun tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menyakiti Siwon hingga seperti ini.

Yongri tentu menjadi salah seorang yang sangat tau bagaimana terpuruknya Siwon ketika ditinggalkan oleh seseorang. Karena alasan utama Siwon tidak menikah hingga sekarang adalah karena pria itu pernah mengalami yang namanya kehilangan. Namun Yongri terpaksa melakukan semua ini. Ia tidak mau bersikap egois dengan memikirkan kebahagiaannya sendiri. Sedangkan ada orang lain yang tidak ikut merasa bahagia bersamanya. Yongri hanya berharap Siwon dapat menyembuhkan luka dihatinya dengan cepat. Walaupun ia tau itu tidak akan mungkin terjadi. Karena Yongri–pun tidak dapat menyembuhkan rasa sakitnya dengan cepat.

“Maafkan aku, ahjussi. Maafkan aku..”

——

Minho keluar dari ruang rawat Jinhyuk ketika memastikan pria itu telah tidur dengan nyenyak. Laki-laki itu menemukan Yongri yang sedang duduk di depan ruang rawat Jinhyuk sembari melamun. Minho mendekatinya dan duduk disebelahnya. Beruntung Yongri masih dapat menyadari keberadaan Minho. Setidaknya gadis itu tidak benar-benar sedang melamun saat ini.

“Kau tidak mau masuk?” Tanya Minho. Yongri menatap Minho dan tersenyum tipis.

“Tidak, oppa. Aku takut tekanan darah appa naik lagi.” Jawab Yongri menolak.

“Abeoji sudah tidur. Tidak apa-apa jika kau menemuinya.” Bujuk Minho. Ia tau bahwa Yongri sangat mengkhawatirkan Jinhyuk. Namun Yongri kembali menggeleng.

“Aku tunggu disini saja. Yang penting kau selalu memberitahukan padaku bagaimana perkembangan appa.” Ujar Yongri dan segera mengalihkan pandangannya. Gadis itu menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya.

Minho tidak mengerti dengan jalan pikiran Yongri. Adiknya itu telah memutuskan hubungannya dengan Siwon, tetapi ia tidak dengan segera memberitahukan hal tersebut kepada keluarganya. Ia seolah menutupi hal tersebut dan memendamnya seorang diri. Bukankah tujuan Yongri berpisah dengan Siwon adalah demi kesehatan Jinhyuk? Lalu kenapa gadis itu tidak dengan langsung memberitahukannya?

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Minho khawatir. Gadis bodoh ini benar-benar tidak memikirkan kesehatannya. Padahal ia sedang mengandung dan harus banyak istirahat.

“Kenapa, oppa? Apa aku terlihat seperti akan mati?” Yongri bertanya balik dengan nada bercanda. Minho tidak tertawa mendengar candaan gadis itu. Ia malah semakin merasa kasihan kepada Yongri.

“Kau sudah makan?” Tanya Minho lagi.

“Sudah, oppa.” Jawab Yongri. Yongri menatap ponselnya yang bergetar dan menampilkan nama Jonghyun di sana. Entah sudah berapa kali laki-laki itu menghubunginya. Yongri bahkan tidak bisa menghitungnya karena Jonghyun terlalu sering melakukannya. Yongri sudah dapat menebak apa yang akan Jonghyun bicarakan. Mengenai keadaan Siwon yang sebenarnya Yongri juga sangat ingin tau.

“Kenapa tidak di angkat?” Tanya Minho saat melihat Yongri me–reject telepon dari Jonghyun. Yongri terlihat salah tingkah ketika mengetahui bahwa Minho melihat apa yang dilakukannya.

“Eo? Tidak apa-apa. Hanya sedang malas bicara saja.” Jawab Yongri berbohong.

“Dimana Keiko eonni, oppa?” Yongri mengalihkan pembicaraan.

“Di dalam. Ia sedang beristirahat.” Minho menunjuk kamar rawat Jinhyuk.

“Kau ingin aku memanggilnya untuk menemanimu?” Ujar Minho menawarkan.

“Tidak, oppa. Eonni pasti lelah. Sebaiknya oppa masuk dan temani eonni. Aku akan pulang sebentar lagi.” Kata Yongri menenangkan.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Minho berdiri dari duduknya.

“Tidak perlu, oppa. Aku akan pulang sendiri saja. Oppa masuklah. Sampaikan salamku pada Keiko eonni.” Yongri segera berdiri dan melambaikan tangannya pada Minho. Kemudian ia membalikkan badannya dan segera meninggalkan Minho seorang diri. Minho menatap punggung kecil Yongri dengan sedih. Ia sudah tidak bisa menolong adiknya itu. Kondisi Jinhyuk yang seperti ini membuat Minho tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin membantu Yongri dengan meyakinkan Jinhyuk lagi. Karena bisa dipastikan saat itu juga mereka harus menghadiri pemakanan Jinhyuk. Minho mengusap wajahnya dan mendesah pelan. Tuhan sedang memberikan cobaan untuk keluarganya, dan Minho harus bersabar menghadapinya.

——

Yongri berjalan di lobby rumah sakit tanpa semangat. Wajahnya yang pucat dengan hidung yang memerah membuatnya terlihat sangat menyedihkan. Ia merasa tubuhnya sangat lelah dan kepalanya juga terasa sedikit sakit. Yongri menghentikan salah satu taksi ketika telah berada di luar rumah sakit. Masuk ke dalam dan menyebutkan alamat rumahnya kepada supir taksi. Ia menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.

Raut wajah terluka Siwon tadi tiba-tiba muncul di dalam kepala Yongri. Membuat gadis itu langsung membuka matanya dan kembali merasa bersalah. Ia berharap Siwon tidak akan pernah memaafkannya. Karena Yongri tau betapa ia sangat melukai hati Siwon. Tetapi sejujurnya Yongri berharap Siwon dapat mengerti dirinya dan tidak membencinya. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya harus dibenci oleh ayah dari calon bayi di dalam kandungannya.

Yongri tersentak saat merasa ponselnya kembali bergetar. Bukan sebuah telepon masuk, tetapi sebuah pesan singkat.

 

From: Jonghyun Oppa

Yongri-ya, bisakah kau jawab teleponku?

Siwon hyung pulang ke rumahnya dan mengunci dirinya di sana.

Aku benar-benar khawatir saat ini.

Tolong jelaskan apa yang terjadi pada kalian.

Telepon aku, atau paling tidak balas pesan ini.

Kumohon!

 

Yongri mendesah pelan dan segera menghapus pesan dari Jonghyun tersebut. Ia yang sudah membuat Siwon seperti ini dan ia tidak memiliki hak apapun untuk mengkhawatirkan Siwon. Gadis itu bahkan harus dijadikan orang pertama yang bersalah jika terjadi sesuatu kepada Siwon. Yongri sangat tau bagaimana Siwon. Jika laki-laki itu marah, ia tidak akan melampiaskan emosinya seperti kebanyakan yang laki-laki lakukan. Siwon hanya akan menghilang dan mengurung dirinya seperti ini hingga emosinya mereda dengan sendirinya. Tetapi Yongri tidak yakin jika kemarahan Siwon saat ini akan cepat mereda.

Yongri kembali menghela nafas dan turun dari taksi, saat taksi tersebut telah berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Ia segera masuk ke dalam rumah setelah membayar taksi. Gadis itu menutup pintu rumah dan terdiam di sana. Tidak berniat untuk naik dan beristirahat seperti apa yang diinginkan tubuhnya. Tubuh Yongri tiba-tiba merosot ke bawah dan ia terduduk di lantai rumah. Tangisnya pecah dan terdengar memilukan di seluruh penjuru rumah. Salah satu pelayan yang dekat dengan Yongri terlihat menghampiri gadis itu dan berjongkok dihadapannya. Wajah pelayan tersebut terlihat khawatir dan juga kasihan saat melihat Yongri.

“Nona Yongri..” Ucapnya.

“Apa yang harus aku lakukan?” Isak Yongri sembari menarik-narik lengan pelayan tersebut. Pelayan itu tidak dapat melakukan apapun selain membiarkan Yongri melampiaskan emosinya.

“Apa yang harus aku lakukan, Jieun-ah? Aku sangat mencintainya tetapi aku telah menyakitinya..” Pelayan bernama Jieun tersebut semakin mendekatkan dirinya pada Yongri. Ia memberanikan dirinya untuk memeluk Yongri, demi menenangkan majikannya tersebut. Yongri tidak menolak pelukan Jieun, ia membalas pelukan tersebut dengan erat.

“Semuanya akan baik-baik saja, nona.” Ucap Jieun.

“Tidak, Jieun-ah. Aku sudah menyakitinya. Aku menyakiti laki-laki yang sangat aku cintai.” Kata Yongri dengan wajahnya yang basah. Tidak ada yang dapat dikatakan lagi oleh Jieun. Ia hanya bisa terus mengusap punggung Yongri dengan pelan.

Setelah merasa Yongri sedikit tenang, Jieun membantu Yongri untuk menuju ke kamar. Jieun juga membantu gadis itu berbaring di atas tempat tidur dan menyelimutinya. Ia menghidupkan lampu tidur di atas nakas. Yongri berbaring menyamping dan membelakangi Jieun. Gadis itu memejamkan matanya hingga airmata mengalir dari sudut matanya.

“Istirahatlah, nona. Jika butuh sesuatu panggil saya saja.” Ujar Jieun. Karena tidak mendapat tanggapan apapun dari Yongri, membuat Jieun segera melangkah untuk meninggalkan kamar Yongri. Ia mematikan lampu kamar sebelum akhirnya benar-benar keluar.

Yongri membuka matanya dan penerangan yang minim menyambut matanya. Gadis itu mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang dan menatap langit-langit kamar. Yongri masih terus menangis tanpa isakan. Airmata terus mengalir dari kedua sudut matanya. Ia hanya tidak bisa menghilangkan rasa bersalah dalam dirinya. Ia juga bersumpah tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Pikiran Yongri tiba-tiba melayang pada salah satu kenangan manisnya saat bersama Siwon.

 

–Flashback–

Yongri duduk di atas pangkuan Siwon ketika mereka baru saja menyelesaikan kegiatan bercinta di kantor Siwon. Jika di lihat secara sekilas, keduanya tampak sangat normal karena pakaian keduanya masih sama-sama lengkap. Tetapi sebenarnya saat itu milik Siwon masih memenuhi Yongri. Di kolong meja terlihat celana dalam Yongri yang dilempar oleh Siwon kesana. Namun tidak akan ada yang tau apa yang terjadi pada mereka, karena baju terusan yang dipakai oleh Yongri menutupi semuanya. Yang akan orang-orang lihat adalah Siwon yang sedang memangku Yongri.

Siwon memajukan kursi yang didudukinya mendekati meja. Ada pekerjaan yang masih harus diselesaikannya hari ini juga. Ia membiarkan Yongri yang sedang bersandar didadanya. Dengan tangan kiri laki-laki itu yang sesekali mengusap punggung Yongri. Dan tangan kanannya yang memegang pena. Siwon mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, walaupun sebenarnya ia tidak bisa.

“Ahjussi..” Panggil Yongri pelan.

“Hmm?” Gumam Siwon. Ia dapat merasakan hembusan nafas Yongri yang menerpa lehernya.

“Apa kau tidak ingin melepaskannya?” Tanya Yongri.

“Tidak.” Jawab Siwon cepat saat tau maksud dari pertanyaan gadis itu. Siwon ingin melanjutkan percintaan mereka ketika pekerjaannya telah selesai. Itulah alasan mengapa ia masih membiarkan miliknya berada di dalam Yongri.

“Ahjussi..” Panggil Yongri lagi.

“Kenapa? Istirahatlah sebentar selagi aku menyelesaikan pekerjaanku.” Ujar Siwon dengan menghela nafas panjang.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan ‘aku mencintaimu’ padaku?” Pertanyaan dari Yongri membuat gerakan tangan Siwon terhenti. Siwon menatap wajah gadis itu yang saat ini juga sedang mendongak untuk menatapnya. Rambut Yongri yang masih basah akibat keringat sebagian menempel di pipi gadis itu. Siwon segera mengalihkan pandangannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Kenapa, eo? Kenapa?” Yongri menegakkan punggungnya hingga membuat badan gadis itu menghalangi pandangan Siwon dari kertas-kertas di atas meja. Siwon meletakkan penanya dan kembali menghela nafas. Sebelum akhirnya membalas tatapan Yongri.

“Kata-kata seperti itu tidak harus selalu diucapkan dengan mulut. Kita sering melakukannya dengan tubuh kita. Bukan begitu?” Kata Siwon sembari memeluk pinggang Yongri. Yongri mengerucutkan bibirnya tanda ia protes, tetapi sebenarnya ia membenarkan ucapan Siwon.

“Apa yang kau ucapkan memang benar. Tetapi aku ingin mendengarnya.” Ucap Yongri manja. Siwon tersenyum kecil.

“Jika aku tidak mengatakannya, apa kau akan meninggalkanku?” Tanya Siwon bermaksud menggoda gadis itu.

“Cih! Yang benar saja. Aku memang sedih karena tidak mendengar hal itu darimu. Tetapi aku akan lebih sedih jika harus meninggalkanmu.” Jawab Yongri.

“Kata-katamu manis sekali.” Siwon mencubit pelan hidung Yongri setelahnya laki-laki itu menggeser sedikit tubuh Yongri agar ia bisa melanjutkan pekerjaannya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Yongri yang telah kembali menghalangi pandangan Siwon.

“Aku harus bekerja. Sebentar saja karena pekerjaan ini harus selesai hari ini juga. Setelah itu aku akan menghabiskan waktu denganmu.” Janji Siwon.

“Bekerja saja.” Ucap Yongri sembari menaikturunkan badannya beberapa kali hingga milik Siwon kembali mengeras dan menegang.

“YA!!” Teriak Siwon. Yongri tersenyum sinis dan menjulurkan lidahnya.

“Aku tidak akan mengganggumu, ahjussi. Bekerja saja.” Ucap gadis itu tanpa dosa. Siwon mengerang dan mendesah pelan. Ia memang tidak bisa menang melawan gadis itu jika sudah seperti ini. Siapa yang akan fokus bekerja jika sedang diselimuti gairah? Akhirnya yang dapat Siwon lakukan adalah kembali mendorong kursinya menjauh dari meja dan menarik tengkuk gadis itu untuk menggapai bibirnya.

–Flashback End–

 

Yongri kembali memejamkan matanya saat kenangan manis yang begitu nyata tersebut terus bermain dikepalanya. Ini akan menjadi sebuah hukuman untuknya setelah menyakiti Siwon. Kenangan-kenangan itu akan terus menghantuinya karena ia tidak akan bisa mengulanginya lagi ataupun membuat kisah baru karena semuanya telah berakhir.

——

Yongri membuka matanya yang terasa berat karena terlalu banyak menangis sebelum ia tidur tadi malam. Mata itu pasti sangat bengkak karena Yongri dapat merasakan bagaimana sulitnya ia membuka mata. Tetapi Yongri tidak peduli akan hal itu. Walaupun sudah menangis semalaman, Yongri merasa belum puas dan kesedihan dihatinya juga belum hilang. Ia belum bisa juga menghilangkan rasa bersalahnya pada Siwon atas apa yang dilakukannya kemarin. Siwon bahkan tidak menghubunginya sama sekali semenjak Yongri memutuskannya. Membuat Yongri berpikir bahwa Siwon sangat marah dan mungkin telah membencinya.

Yongri mengubah posisinya menjadi duduk dan membiarkan kakinya menyentuh dinginnya lantai. Gadis itu membenarkan rambutnya yang kusut akibat bangun tidur. Yongri mengusap perutnya yang terasa sakit dan juga lapar disaat yang bersamaan. Tentu saja, gadis itu tidak makan malam dan ia berbohong pada Minho semalam. Yongri tersentak dan ia mengingat janjinya pada Siwon kemarin. Ia akan mempertahankan bayi ini dan melahirkannya. Tetapi ia bersikap acuh pada bayinya dengan menyiksa dirinya sendiri.

Yongri segera berdiri dan keluar dari kamar. Ia turun ke bawah dengan sedikit berlari untuk menuju ke dapur. Ia harus makan dan membiarkan janinnya tubuh sehat di dalam rahimnya. Ia harus menepati janjinya pada Siwon, walaupun Siwon sudah membencinya saat ini. Setidaknya janin ini adalah bukti cintanya pada Siwon, begitu–pun sebaliknya.

“Bibi Han, tolong siapkan sarapan. Aku lapar.” Yongri duduk di kursi makan dan menatap wanita paruh baya yang merupakan salah satu pelayan dirumahnya.

“Nona Yongri, sudah bangun? Selamat pagi, Nona.” Sapa Bibi Han dengan tersenyum. Yongri hanya membalas sapaan Bibi Han dengan senyuman tipis. Selanjutnya ia hanya memperhatikan bagaimana Bibi Han serta beberapa pelayan yang lain mempersiapkan sarapan untuk dirinya.

Beberapa saat kemudian, di atas meja sudah tersaji satu mangkuk nasi beserta berbagai lauk pauk yang membuat perut Yongri semakin lapar. Tanpa menunggu lama lagi, Yongri segera mengambil sumpit dan mulai makan. Ia terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya hingga penuh. Ia menghirup kuah sup yang masih panas untuk memperlancar kunyahannya.

Masakan buatan Bibi Han tidak pernah diragukan rasanya. Terasa sangat enak namun entah mengapa Yongri meneteskan airmatanya. Ia menyeka airmatanya dan terus memasukkan makanan ke dalam mulut tanpa berhenti. Beberapa pelayan yang melihat hal tersebut menatap Yongri dengan terkejut dan bingung. Mereka tentu tau apa yang terjadi pada nona muda mereka, mengingat banyak pertengkaran yang terjadi akhir-akhir ini di rumah.

“No–nona, Anda baik-baik saja?” Bibi Han menghampiri Yongri dan menatap gadis itu dengan khawatir. Yongri meletakkan sumpitnya dan tangisnya semakin menjadi. Ia benar-benar tidak dapat menahan kesedihannya. Ia sangat merindukan Siwon saat ini. Ia ingin bertemu dengan Siwon dan memeluk laki-laki itu dengan erat. Tetapi Yongri tidak dapat melakukannya lagi karena Siwon sudah menjadi orang asing untuknya.

“Nona…” Bibi Han ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Yongri. Seandainya ia bisa berbuat sesuatu untuk meredakan kesedihan Yongri. Tetapi ia hanyalah seorang pelayan rumah tangga yang tidak bisa ikut campur dalam urusan majikan.

Yongri menutup wajahnya dengan kedua tangan dan suara tangisnya semakin memilukan. Airmata menetes dari sela-sela jarinya. Ia merasa Tuhan sangat tidak adil padanya. Gadis itu selama ini tidak pernah menginginkan apapun seperti ia menginginkan Siwon dalam hidupnya. Ia memang gadis nakal yang sering membuat masalah dan membuat Jinhyuk sakit kepala. Tetapi ia tidak menyangka jika hukuman yang diberikan Tuhan atas kelakuannya itu adalah seperti ini. Hubungannya yang tidak direstui oleh Jinhyuk dan malah membuat pria itu hampir saja meninggal. Seandainya bisa, Yongri ingin memutar waktu dan menjadi gadis baik-baik agar Tuhan tidak memberikan hukuman yang menyakitkan seperti ini untuknya.

“A–aku sangat merindukannya, Tuhan..” Isak Yongri.

——

Yongri terlonjak saat menemukan kehadiran Jonghyun di depan rumahnya. Ia baru saja hendak pergi ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan Jinhyuk. Dan Yongri tidak dapat menutupi keterkejutan serta kegugupan melihat sosok Jonghyun. Ia belum siap untuk bertemu dengan Jonghyun ataupun Siwon–walaupun ia merindukan laki-laki itu. Yongri menatap ke sekeliling Jonghyun seperti sedang mencari sesuatu.

“Aku sendirian.” Kata Jonghyun seolah mengerti apa yang dicari oleh Yongri.

“A–aku tau.” Sahut Yongri.

“Benarkah? Bukankah kau sedang mencari Siwon hyung saat ini?” Jonghyun tidak marah pada Yongri. Ia hanya merasa kesal pada keadaan yang memaksa Siwon dan Yongri harus berpisah. Jonghyun tau bahwa ia tidak berhak ikut campur dalam masalah Siwon dan Yongri, tetapi jika bisa, Jonghyun ingin menyingkirkan orang-orang yang menghalangi kedua orang itu.

“Aku harus pergi ke rumah sakit, oppa.” Yongri berjalan melewati Jonghyun begitu saja. Namun baru beberapa langkah saja, Yongri terpaksa menghentikan kakinya karena Jonghyun memegang lengannya. Yongri berbalik dan menatap Jonghyun dengan putus asa.

“Oppa, aku mohon..” Ujar Yongri memelas.

“Aku hanya ingin tau kenapa kau memutuskan Siwon hyung, Yongri-ya. Aku juga ingin memberitahumu mengenai keadaan Siwon hyung saat ini. Tidakkah kau ingin tau bagaimana keadaannya setelah kau meninggalkannya?” Suara Jonghyun juga terdengar sama putus asanya dengan Yongri.

“Kau sudah tau bahwa aku dan Siwon ahjussi sudah berpisah. Itu tandanya aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apapun. Aku tidak mau mengetahui apapun lagi tentangnya.” Kutuklah lidah gadis itu sekarang juga karena telah berkata tidak sesuai dengan isi hatinya. Ia sangat ingin mengetahui keadaan Siwon. Apakah laki-laki itu baik-baik saja?

“Yongri-ya..” Jonghyun terkejut mendengar ucapan gadis itu. Ia tau Yongri tidak bersungguh-sungguh. Apalagi Jonghyun dapat melihat mata Yongri yang memerah karena sedang menahan tangis. Tetapi ia tidak menyangka Yongri dapat mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya.

“Aku tau bahwa hatimu tidak seperti itu.” Kata Jonghyun yakin. Yongri kembali tidak dapat menahan airmatanya, hingga ia membiarkan dirinya menangis di hadapan Jonghyun. Lagipula Jonghyun juga tau bagaimana sedihnya ia saat ini. Yongri mendekati Jonghyun dan memegang kedua tangan laki-laki itu. Seolah ingin mendapat kekuatan dari laki-laki yang sudah di anggap adik oleh Siwon.

“Tidak ada yang peduli dengan isi hatiku, oppa. Justru karena hati ini aku telah membuat ayahku harus di rawat di rumah sakit.” Kata Yongri.

“Tidak seperti itu, Yongri-ya.” Komentar Jonghyun. Ternyata Yongri sama mengenaskannya seperti keadaan Siwon. Dan Jonghyun merasa benar-benar kasihan kepada mereka. Sama-sama saling mencintai tetapi harus berpisah.

“Kenapa kalian harus memikirkan orang lain yang jelas-jelas tidak memikirkan kalian? Kenapa kalian harus berkorban sampai seperti ini?” Keluh Jonghyun mengeluarkan kekesalannya.

“Karena orang itu adalah ayahku, oppa. Aku tidak bisa mengabaikannya.” Yongri melepaskan genggamannya pada Jonghyun dan menyeka airmatanya.

“Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan Siwon hyung?” Tanya Jonghyun.

“Kami tidak benar-benar berpisah, oppa. Karena ada seseorang yang akan menghubungkan kami.” Jawab Yongri sembari mengusap perut datarnya.

“Yongri-ya..” Jonghyun terlihat belum bisa menerima keputusan Yongri.

“Tolong jaga Siwon ahjussi untukku, oppa. Setelah ini, aku harap oppa tidak menemuiku lagi. Agar semuanya mudah untukku, oppa.” Yongri memaksakan senyumnya pada Jonghyun.

“Aku akan berusaha baik-baik saja untuk Siwon ahjussi dan anak kami. Jadi, jangan khawatir.” Lanjutnya. Jonghyun mendesah pelan dan mengusap kepala gadis itu. Ia merasa Yongri masih terlalu muda untuk menghadapi ini semua. Ya, Jonghyun akan mencoba untuk mempercayai gadis itu. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Siwon, Yongri, dan juga anak mereka.

——

Tidak terasa sudah seminggu Jinhyuk di rawat di rumah sakit. Keadaan pria itu sudah menjadi lebih baik dan terlihat sangat sehat. Ia sudah bisa duduk dan mengerjakan pekerjaan kantor. Walaupun harus bersembunyi dari dokter. Dokter masih terus menekankan bahwa Jinhyuk harus banyak istirahat. Tetapi pria itu terlihat tidak betah jika hanya berdiam diri saja dan terus berbaring di ranjang rumah sakit.

Yongri masih setia mendatangi rumah sakit dan menunggu di luar ruang rawat Jinhyuk. Dia hanya akan mendengar bagaimana perkembangan Jinhyuk dari Minho ataupun Keiko. Jika di tanya bagaimana perasaan Yongri pada Jinhyuk saat ini, maka Yongri akan menjawab bahwa ia mengkhawatirkannya dan juga membencinya. Yongri tentu saja khawatir dengan kesehatan Jinhyuk dan untung saja saat ini ayahnya tersebut sudah semakin membaik. Tetapi Yongri juga membencinya karena Jinhyuk–lah penyebab ia dan Siwon harus berpisah. Ia benci melihat Jinhyuk yang tidak mau merestui mereka dan malah menjadi sakit, hingga Yongri harus mengambil pilihan seperti ini.

Minho dan Keiko tidak pernah bertanya pada Yongri mengenai hubungannya dengan Siwon. Yongri sebenarnya merasa bingung melihat Minho dan Keiko yang tampak diam saja ketika tidak melihat Siwon selama seminggu ini. Membuat Yongri menyimpulkan bahwa kedua orang itu telah mengetahui bahwa ia dan Siwon telah berpisah. Namun Yongri tidak tau darimana sepasang kekasih itu mengetahuinya.

Minho berdiri di salah satu sisi ranjang rumah sakit dan memperhatikan perawat yang sedang memberikan obat pada Jinhyuk. Dokter baru saja memeriksa ayahnya dan berkata bahwa dua hari lagi Jinhyuk sudah diperbolehkan pulang. Tentu saja Minho merasa senang. Tetapi ia merasa ada yang mengganjal dihatinya. Ia yakin sekembalinya Jinhyuk ke rumah, semuanya tidak akan lagi sama.

“Ambilkan kertas itu, Minho-ya.” Jinhyuk menunjuk berkas pekerjaan di atas sofa. Minho baru sadar jika perawat yang berada di ruangan ini telah pergi. Hanya menyisakan mereka berdua. Keiko saat ini sedang pulang ke rumah untuk beristirahat. Minho mendesah pelan dan menatap Jinhyuk dengan wajah lelah.

“Kau harus istirahat, abeoji.” Kata Minho mencoba untuk membantu Jinhyuk berbaring. Tetapi Jinhyuk menepis pelan tangan Minho.

“Aku baik-baik saja. Apa kau tidak mendengar yang dikatakan dokter tadi? Sebentar lagi aku sudah bisa pulang. Berarti aku sudah sehat.” Ujar Jinhyuk. Minho mendengus mendengar ucapan Jinhyuk.

“Jika begitu, kau juga telah cukup sehat untuk bertemu dengan Yongri ‘kan, abeoji?” Tanya Minho yang terdengar seperti sindiran. Jinhyuk menatap Minho dengan kesal.

“Apa maksudmu? Apa kau pikir aku tidak mau bertemu dengannya? Dia yang tidak mau menemuiku!” Bantah Jinhyuk.

“Itu karena dia memikirkan kesehatanmu, abeoji. Apa kau tidak tau saat itu tekanan darahmu naik hanya karena melihat Yongri? Bisa kau bayangkan bagaimana perasaannya?”

“Lalu apa itu salahku? Itu semua memang salahnya karena sudah menentangku!” Jinhyuk terlihat semakin kesal. Minho menjadi sedikit takut jika tiba-tiba penyakit pria itu kembali kambuh. Tetapi Minho hanya mencoba untuk membela Yongri saat ini. Jinhyuk bahkan tidak tau pengorbanan seperti apa yang telah dilakukan Yongri.

“Ya, Yongri memang salah. Dan aku memiliki kabar gembira untukmu, abeoji. Aku harap setelah mendengar kabar ini, kau menjadi semakin sehat.” Ucap Minho. Jinhyuk tidak menanggapi ucapan Minho dan hanya menatap anak laki-laki itu dengan sedikit tajam.

“Yongri dan Tuan Choi telah berpisah.” Kata Minho. Jinhyuk tidak dapat menutupi keterkejutannya atas kabar yang diberikan oleh Minho. Ya, dia memang sangat menginginkan hal ini. Tetapi ia tidak menyangka jika keinginannya ini benar-benar terjadi. Ia pikir Siwon dan Yongri akan terus keras kepala dengan mempertahankan hubungan mereka. Jinhyuk tanpa sadar tersenyum kecil. Setidaknya mereka telah melakukan sesuatu yang benar.

“Kau tersenyum, abeoji?” Minho benar-benar tidak menyangka dengan sikap Jinhyuk. Jinhyuk sangat egois dan tidak memikirkan perasaan Yongri. Jinhyuk berdehem pelan dan mengalihkan pandangannya dari Minho.

“Apa kau benar-benar bahagia mendengar kabar ini?” Tanya Minho.

“Ya, kenapa? Mereka memang tidak seharusnya menjalin hubungan terlarang ini!” Jawab Jinhyuk.

“Dan jaga sikapmu itu, Choi Minho! Kau semakin kurang ajar!” Lanjut Jinhyuk marah. Minho tersenyum kecil. Lebih kepada tersenyum miris.

“Aku ucapkan selamat kepadamu, abeoji. Selamat karena kau akan membuat calon cucumu lahir tanpa seorang ayah.” Setelah mengatakannya, Minho segera keluar dari ruang rawat Jinhyuk. Ia hanya sedang menahan diri untuk tidak semakin bersikap kurang ajar pada Jinhyuk. Ia seperti tidak mengenali ayahnya sendiri. Ayahnya tidak pernah bersikap semenyebalkan ini selama hidupnya.

Sepeninggalan Minho, Jinhyuk memikirkan kata-kata itu. Jujur, ia melupakan fakta bahwa Yongri sedang hamil saat ini. Ia benar-benar lupa. Dan kata-kata Minho tadi seolah menamparnya dengan kuat. Apa ia benar-benar telah melakukan hal itu? Apa ia benar-benar akan membuat cucunya tidak memiliki ayah? Jinhyuk mengusap wajahnya dan terlihat gelisah. Ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Apa ia akan terus berpegang pada pendiriannya atau ia harus memikirkan bayi yang tidak berdosa itu? Tetapi Jinhyuk benar-benar tidak bisa merestui hubungan Yongri dan Siwon. Jinhyuk tidak ingin memiliki menantu yang berusia sama dengannya. Apa kata orang-orang nanti?

Namun, ia juga tidak mungkin membiarkan Yongri membesarkan anak yang dikandungnya seorang diri. Ia juga tidak mungkin meyuruh gadis itu untuk menggugurkan kandungannya. Yongri akan menolaknya, lagipula Jinhyuk tidak sampai hati ingin menyingkirkan mahluk kecil itu. Jinhyuk benar-benar merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya sekarang. Kenapa ia tidak lagi merasa bahagia saat mendengar bahwa Siwon dan Yongri berpisah? Sebenarnya ada apa dengan dirinya?

——

Yongri menatap kepulangan Jinhyuk dari lantai dua, tepatnya di dekat tangga. Ia tidak memberikan sambutan sebagaimana seharusnya karena tidak ingin Jinhyuk kembali masuk rumah sakit karena dirinya. Lagipula, Jinhyuk baru saja pulang dari rumah sakit, bukan baru datang dari luar negeri. Yongri dapat melihat betapa gagahnya Jinhyuk saat berjalan, benar-benar tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja sembuh dari sakitnya.

Tidak tau apakah Jinhyuk menyadari ada seseorang yang sedang berada di atas atau karena Jinhyuk memang sedang menyari keberadaan Yongri. Tiba-tiba saja Jinhyuk menatap ke atas dan matanya bertemu dengan mata Yongri. Yongri terlihat terkejut saat tiba-tiba Jinhyuk menatapnya. Ia pikir Jinhyuk tidak akan menyadari keberadaannya di atas sini. Sedangkan Jinhyuk menatap anak bungsunya itu dengan pandangan datar. Walaupun begitu, ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa ia merindukan Yongri. Ia merindukan bagaimana Yongri selalu bersikap manja padanya. Namun akibat pertengkaran mereka, ia tidak lagi menemukan hal itu.

Yongri menghembuskan nafasnya setelah Jinhyuk mengalihkan pandangan darinya dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Gadis itu bahkan tidak sadar jika ia sedari tadi menahan nafasnya saat saling bertatapan dengan Jinhyuk. Yongri cukup bersyukur saat mengetahui bahwa tekanan darah Jinhyuk tidak lagi naik saat melihatnya. Ia merasa beban pikirannya sedikit berkurang saat ini.

“Uughh!” Yongri menutup mulutnya dengan sebelah tangan saat tiba-tiba merasa mual. Ia segera berlari ke dalam kamarnya, kemudian menuju kamar mandi dan memuntahkan apapun di dalam wastafel. Sayangnya tidak ada yang keluar selain cairan putih dalam jumlah sedikit. Yongri membasuh mulutnya dengan air dan kemudian menegakkan punggungnya. Ia menatap wajah pucatnya di depan cermin. Sepertinya ia mulai mengalami kebiasaan orang hamil yang sering disebut dengan morning sickness.

“Seandainya appamu dapat menemani eomma dalam menghadapi ini semua, aegi-ya.” Yongri mengusap perutnya.

“Hei, apa kau lapar? Eomma merasa lapar saat ini. Sepertinya akhir-akhir ini kau membuat eomma sering merasa kelaparan. Apa kau mau membuat eomma gemuk, eo?” Yongri terus mengajak berbicara bayi di dalam kandungannya. Belakangan ini bayi di dalam kandungan Yongri memang menjadi teman bicara gadis itu.

Yongri segera keluar dari kamar mandi dan kamarnya untuk turun ke bawah. Ia harus mencari sesuatu yang dapat di makan pada jam seperti ini. Padahal sebenarnya tepat satu jam lalu ia baru saja menghabiskan sarapan paginya. Dan itu dalam jumlah yang banyak. Sepertinya akhir-akhir ini nafsu makannya semakin meningkat.

“Apa ada yang Anda perlukan, Nona Yongri?” Bibi Han bertanya dengan tersenyum. Yongri terlihat terkejut dengan kehadiran Bibi Han. Sejujurnya ia ingin mengambil makanan tanpa diketahui oleh siapapun. Ia merasa malu jika harus memberitahukan maksud kedatangannya ke dapur.

“Ah, Bibi Han..” Yongri menggaruk kepalanya dan terlihat salah tingkah.

“Katakan saja apa yang nona butuhkan. Saya akan mengambilkannya untuk nona.” Ujar Bibi Han seolah tau maksud kedatangan Yongri. Yongri terlihat semakin salah tingkah dan ingin segera meninggalkan dapur. Namun ia benar-benar merasa lapar saat ini.

“Itu–sebenarnya aku merasa lapar, bibi.” Ujar Yongri pelan sembari menundukkan kepalanya. Bibi Han tersenyum kecil.

“Tunggulah di meja makan, nona. Saya akan menyiapkan semuanya.” Kata Bibi Han. Yongri segera mendongak dan menatap Bibi Han dengan bingung. Ia pikir Bibi Han akan terkejut mendengarnya merasa lapar.

“Sebagian besar wanita hamil memang memiliki nafsu makan yang tinggi, nona.”

“Benarkah?”

“Iya, nona. Sejujurnya, dulu saya juga memiliki tubuh seperti nona sebelum saya menikah dan mempunyai anak. Tetapi setelah saya melahirkan, yah, seperti inilah.” Bibi Han menceritakan pengalamannya kepada Yongri. Yongri menatap Bibi Han dan memperhatikan tubuh Bibi Han yang bisa dikatakan sangat gemuk.

“Jadi, aku juga akan memiliki tubuh seperti bibi setelah melahirkan nanti?” Tanya Yongri sedikit protes.

“Mungkin saja, nona.” Jawab Bibi Han sembari tersenyum geli.

“Tetapi nona tidak perlu khawatir. Suami nona pasti menerima nona apa adanya.” Lanjut Bibi Han. Yongri terdiam mendengar ucapan Bibi Han. Suami? Ia tidak memiliki suami. Bibi Han juga seolah tersadar dengan apa yang baru saja dikatakannya. Wanita paruh baya itu menepuk pelan mulutnya. Ia memang suka kelepasan jika sudah ada yang mengajaknya bicara.

Bibi Han berdehem pelan dan segera berlalu dari hadapan Yongri. Ia akan menyiapkan makanan untuk majikannya itu. Yongri menghela nafas dan segera menuju meja makan. Duduk di kursi sembari menunggu makanannya tersaji. Gadis itu memikirkan ucapan Bibi Han tadi. Tanpa sadar ia menyetujuinya. Ia yakin Siwon akan tetap mencintainya walaupun ia memiliki tubuh seperti Bibi Han setelah melahirkan. Tetapi masalahnya sekarang ia bahkan sudah berpisah dengan Siwon. Jika setelah melahirkan bentuk tubuhnya benar-benar berubah, Yongri yakin tidak akan ada laki-laki yang tertarik padanya. Mungkin ia tidak akan menikah seumur hidupnya.

Yongri mendengus pelan. Kalaupun ada laki-laki yang tertarik padanya, ia tidak akan dengan mudah membalas perasaan laki-laki tersebut. Ia sangat mencintai Siwon. Siwon adalah cinta pertamanya dan berharap menjadi cinta terakhirnya. Yongri lagi-lagi menghela nafas. Tidak menikah seumur hidup sepertinya bukan masalah yang serius. Lagipula ia akan memiliki anak dan Yongri cukup bahagia dengan itu.

“Makanlah, nona.” Ujar Bibi Han setelah selesai menyiapkan makanan di atas meja. Yongri menatap makanan di atas meja dan kembali menghela nafas. Sebelum akhirnya mulai memasukkan nasi beserta yang lainnya ke dalam mulut. Dan tak berapa lama kemudian, airmata mulai mengalir di pipinya.

Yongri tidak menyadari jika Jinhyuk baru saja masuk ke dalam ruang makan. Namun pria itu menghentikan langkahnya saat melihat sosok Yongri yang sedang makan di sana. Bibi Han yang menyadari kedatangan Jinhyuk segera menghampirinya dan membungkuk sopan.

“Apa Anda membutuhkan sesuatu, Tuan?” Tanya Bibi Han. Jinhyuk belum menanggapi pertanyaan Bibi Han. Ia sibuk menatap Yongri dengan keningnya yang berkerut.

“Tuan?” Bibi Han memanggil Jinhyuk.

“Apa yang dia lakukan?” Tanya Jinhyuk tanpa mengalihkan pandangannya. Bibi Han mengikuti pandangan Jinhyuk dan tersenyum tipis.

“Karena sedang hamil, nafsu makan Nona Yongri semakin meningkat, Tuan.” Jawab Bibi Han.

“Lalu–kenapa dia menangis?” Jinhyuk bertanya ragu. Bibi Han menghilangkan senyumnya dan menatap Yongri dengan kasihan.

“Saya juga tidak tau, Tuan. Nona Yongri sering makan sambil menangis akhir-akhir ini.” Ucap Bibi Han. Jinhyuk tidak dapat menutupi kegundahan hatinya yang semakin menjadi. Ia tidak suka melihat Yongri menangis seperti itu bahkan ketika ia makan. Apalagi Bibi Han bilang gadis itu sering melakukannya akhir-akhir ini. Itu artinya Yongri terus menangis selama dirinya berada di rumah sakit. Apakah gadis itu menangisi nasib anaknya yang tidak akan memiliki ayah? Jinhyuk menghela nafas dan segera berbalik meninggalkan ruang makan.

——

Yongri kembali ke dalam kamar setelah menyelesaikan sarapan keduanya. Karena terlalu banyak makan ia merasa sedikit mengantuk. Ia berencana untuk tidur sebentar sebelum nanti bangun dan menyantap makan siang. Mulai sekarang ia hanya akan memikirkan bayi di dalam kandungannya dan juga makan. Ia tidak mau memikirkan hal lain yang dapat membuatnya stress dan berdampak pada bayinya.

Yongri duduk di tepi tempat tidur dan dikejutkan oleh ponselnya yang bergetar di atas meja nakas. Gadis itu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Jantung Yongri berdetak dengan cepat saat melihat nama Jonghyun di sana. Ia yakin jika Jonghyun akan membicarakan tentang Siwon padanya. Padahal Yongri sudah mengatakan pada laki-laki itu untuk tidak lagi menghubunginya. Yongri membiarkan ponselnya terus bergetar tanpa niatan untuk menjawab ataupun menolak. Hingga beberapa saat kemudian getaran pada ponselnya berhenti. Yongri hendak menaruh kembali ponselnya, namun sialnya ponsel tersebut kembali bergetar. Membuat Yongri benar-benar bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Haruskah ia menjawabnya atau kembali mengabaikannya? Jika ia mengabaikannya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang serius pada Siwon? Lalu apa yang akan dilakukannya jika sesuatu yang sedang dipikirkannya benar?

Yongri menatap ponselnya yang telah berhenti bergetar. Tiba-tiba ia berharap Jonghyun kembali menghubunginya karena gadis itu sedikit khawatir saat ini. Tuhan sepertinya mendengarkan harapan Yongri karena Jonghyun kembali menghubunginya. Yongri menghela nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.

“Hal–”

Yongri-ya! Siwon hyung..

Yongri segera mengambil tasnya dan keluar dari kamar dengan tergesa. Ia menuruni tangga dengan cepat namun tetap hati-hati. Tentu saja ia tidak ingin membahayakan bayinya jika terjatuh di sana. Setelah berada di lantai bawah, Yongri berlari kecil untuk keluar dari rumah. Jonghyun akan menjemputnya di halte bis dekat rumahnya. Untuk itu ia harus segera pergi ke sana.

“Kau mau kemana?” Yongri menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumahnya. Tanpa sadar Yongri mencengkram tali tas slempang yang dipakainya. Ia membalikkan badannya dengan gerakan pelan. Jinhyuk terlihat berdiri beberapa meter didepannya sembari menatap gadis itu dengan tajam. Yongri meneguk ludahnya dengan susah payah.

“A–aku ingin menemui Siwon ahjussi.” Yongri menjawab pelan.

“Apa?” Jinhyuk terlihat terkejut dengan jawaban gadis itu. Bukankah hubungan mereka telah berakhir? Lalu untuk apa Yongri bertemu dengan Siwon?

“Untuk yang terakhir kalinya.” Lanjut Yongri dengan setetes airmata yang mengalir dari sudut matanya.

——

–To Be Continued–

 

Hai! Aku datang membawa kelanjutan FF ini. Hohoho..

Siwon—nya menghilang setelah diputusin Yongri huhuhu.. Suamiku…..

Oh ya, aku ada entah ini kabar gembiara atau kabar sedih utuk kalian. FF ini tinggal 1 part lagi saja. Jadi part 15 bakal end. Lelah juga panjang-panjangin mulu ini FF, lagipula aku mau fokus ke FF Painful Life. So, ending seperti apa yang kalian mau? Sad or happy? Sad aja gimana? HAHAHA *ketawasetan*

Jujur saja dari awal aku buat FF ini aku udh rencanain bakal sad ending. Tapi tiba-tiba jadi kasihan liat Siwon-Yongri T.T

Kalo aku dapet ilham, aku bakal buat ini happy ending. Tapi kalo gak yah bakal sad ending.

Ah, satu lagi. Kalian gak perlu comment untuk kasih tau aku kalo comment sudah mencapai 50. Karena aku selalu ngecek dan aku juga pasti tau kalo sudah mencapai 50 comment. Terima kasih karena mau repot-repot untuk memberitahu, tetapi kalian cukup comment tentang FF yang aku post aja setelah itu tunggu kelanjutannya.

Okay? Okay, dong.

50 comment? Lanjut….

BYE~

Advertisements

89 thoughts on “Forbidden Love – Part 14

  1. aku ga sanggup kalo harus sad ending ka, gimanapun mereka akan punya anak. walaupun keliatannya ga pantes tapi siwon yongri terbaik hahaha. saran aja, kalo bisa part 15nya agak panjang dan lebih romantis lagi biar ga terlalu kangen kalo udah end. hehe ditunggu ff selanjutnya ka 🙂

  2. Jadi sebenarnya alasan Jinhyuk ga merestui siwon yongri cuma karena malu dengan perkataan dan pemikiran orang klo dia punya menantu seumuran…. itu pemikiran egois…
    kenapa Siwon ajussi ga muncul…. kenapa siwon seperti menyerah… padahal aku ngarepin siwon berjuang sampai titik darah penghabisan…
    Ending harus happy ending ya
    Soal nya gini… klo ff yg sad ending tu membuat aku malas baca ulang…seperti Regret … mau baca tapi ujung2nya menyakitkan…
    pleasee happy ending

  3. Jinhyuk udahlah restuin hubungan mereka..gak kasian sama anak kali ya,anaknya masih hamil dan dipaksa pisah dari ayah dari anaknya..siwon kenapa??jangan sampe kenapa” 😣

  4. Eonni, terima kasih karena akhirnya sudah mau update fanfic ini. Hh, detik-detik menjelang part akhir, sebenernya masih pingin fanfic ini dilanjut terus, tapi yahh mau gimana lagi, terserah eonni dah, Happy ending yahh, eonni. Kasihan Siwonnya entar kalau gak bisa nyatu sama Yongri. Jinhyuknya dibuat setuju dong sama hubungan Siwon-Yongri, tp gk semudah itu nyetujuinnya, dibuat sedikit tantangan lagi biar lebih gimana gitu. 😀
    Eonni daebak, keep writing fanfic-fanfic lain yang menarik ya. I think, this is the best blog that I’ve ever seen. Eonni fighting!! 🙂

  5. udah kelewatan 3 judul
    sumpah nyesek dan kerasa bnget gimana sedihnya yongri smpek lgi makan pun nangis huuhu
    keep writing eonni^^

  6. Ada apa dgn siwon kayanya darurat? Jinhyuk appa kejem bgt gw kasian bgt sama yongri dan siwon pleas ngalah sama anak sendiri jangan egois

  7. Setiap ff yang berhubungan dengan Ayah. Demi apapun saya baper Eon. dan saya mau berterimakasih banget sama Eonni karena udah nambaaah informasi gimana perasaan seorang Ayah yang lagi marah sama anaknya ternyata dibalik itu semua ada hal yang menyentuh banget.
    Bestt banget eon!

    Best plus plus soal Yongri keep no stress demi si jabang bayi ummm

  8. Omo yaaa!!! Dalam sekali itu kata2nya minho yaa.. kan jinhyuk jadi kepikiran terus masalah ayah cucu nya nanti.. karma kan jadi ga tenang. Itu siwon kenapa lagi? Siwon mau pergi jauh kah? Sampe terakhir kali bertemu? Ato siwon mau bunuh diri kah??? Oh tidakkkk!!!!

    Btw part ini saya nangis xD baper sihhh

    Good job thor

  9. keduanya sama” tersiksa sampai kapan tuan choi jihyuk mendiamkan permasalahan putrinya
    cucunya sendiri juga
    apa yang terjadi ama siwon sich

  10. Untuk yang terakhir kalinya???
    Jgn bilang siwon mau pergi keluar negeri kayak jungkook -___-
    Atau mungkin lagi sekarat dirumah sakit? *ehhh*

    Pikiranku selalu bercabang kalo berhubungan dgn ‘terakhir kali’
    Penasarannnnnn 😀

  11. hwaaa..thorr..rmh ku jd kebanjiran nih..banjir krn air mata..hikhik..jgn sampe sad ending y thorr..please.ga sanggup kl ampe sad ending..

  12. siwon oppa kenapa omg ~ aku reader baru disini sebelumnya aku baca di fnc ~ aku suka banget sama alur cerita ini bahkan ampe nangis bombay baca chapter ini sama chapter sebelumnya ~

  13. Huuwaaaaa akhrnya ktmu jg blog author yg nulis ff forbiden love..seneng bgt!! Numpang ubek2 ya thor..aku reader bru tp ngikutin ff km d blog sebelah.ff yg udh sukses bkin aku baper tiap abis baca,bkin aku ga sadar nahan nafas pas baca adegan NC siwon-yongri,pkknya smua prasaan cmpur aduk tp aku suka & msh nungguin ff ini d publish d blog sebelah.
    Makacii ya thor bwt ff nya yg kece badaiii ini..*bow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s