Forbidden Love – Part 2

PhotoGrid_1458277802299

Author

Choineke

Title

Forbidden Love

Cast

Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Jeon Jungkook-BTS, Choi Minho-Shinee (Yongri’s Brother), Choi Jinhyuk (Yongri’s Father)

Genre

Sad Romance

Length

Chapter

Rating

PG-15

 

Kau adalah dosa terindah di dalam hidupku. –Choi Siwon

——

Author POV

Siwon merasakan aliran darahnya berhenti saat melihat foto Yongri berada di atas meja kerjanya. Lengkap dengan seluruh biodata mengenai gadis itu. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap Sekretaris Lee yang hanya memberikan pandangan datar. Dalam hatinya, Siwon sangat berterima kasih pada Sekretaris Lee.

Laki-laki itu mendudukan dirinya pada kursi kebesarannya dan mulai membaca jati diri gadis itu. Siwon tersenyum kecil saat tau Yongri berkuliah di Inha University. Dulu ia juga berkuliah di sana. Dan di sanalah ia bertemu dengan Choi Jinhyuk, hingga akhirnya mereka berteman sampai sekarang.

“Kau bisa menjelaskan informasi yang tidak ada di kertas ini, Sekretaris Lee.” Kata Siwon tanpa menatap Sekretaris Lee.

“Nona Yongri memiliki teman dekat bernama Jeon Jungkook. Mereka berteman sejak kecil, dan kedua keluarga mereka sudah saling mengenal sejak lama. Perusahaan ayah Jeon Jungkook–Jeon Group, juga menjalin kerja sama dengan King Departemen Store.”

“Kau yakin mereka hanya berteman?” Tanya Siwon memastikan.

“Ya, sajangnim. Jeon Jungkook memang memiliki perasaan pada Nona Yongri. Hanya saja Nona Yongri tidak pernah menyadarinya.” Jawab Sekretaris Lee.

“Bagaimana dengan kekasih? Apa Yongri memiliki kekasih?” Tanya Siwon lagi.

“Tidak ada, sajangnim. Banyak laki-laki yang mendekati Nona Yongri sejak ia SMA. Namun lagi-lagi Nona Yongri tidak pernah memperdulikan mereka. Karena menurut Nona Yongri, mereka semua mendekatinya karena Nona Yongri kaya.”

“Jadi sekarang Yongri tidak dekat dengan laki-laki manapun?”

“Nona Yongri hanya dekat dengan Jeon Jungkook, sajangnim.”

“Aku mengerti. Kau bisa pergi sekarang.” Ucap Siwon.

“Jangan lupa dengan rapat jam 2 nanti, sajangnim.”

“Aku tau.”

“Saya permisi.”

Sepeninggalan Sekretaris Lee, Siwon tersenyum-senyum sendiri. Ini semakin menarik untuknya. Yongri seperti anti kepada laki-laki. Kecuali Jeon Jungkook sepertinya. Siwon mendesis mengingat bocah itu. Bocah yang selalu menempel pada Yongri. Sepertinya Siwon harus memikirkan cara agar Yongri dan Jungkook bisa sedikit menjaga jarak.

——

Yongri dan Jungkook kembali menghabiskan jam makan siang mereka di kantin kampus. Mereka menyantap makan siang yang ada di hadapan mereka sembari ditemani obrolan-obrolan kecil. Banyak laki-laki yang mencuri pandang pada Yongri. Dan banyak gadis yang mencuri pandang pada Jungkook. Namun kedua orang itu seolah tidak peduli dan sibuk dengan dunia yang mereka ciptakan sendiri.

“Pulang sekarang?” Tanya Jungkook setelah mereka menghabiskan makan siang.

“Tidak. Aku mau ke kantor appa saja. Antarkan aku ke sana, ya?” Pinta Yongri.

“Tentu, dear. Ayo!”

Jungkook dan Yongri segera meninggalkan kantin dan menuju tempat parkir dimana mobil Jungkook berada. Setelah keduanya telah berada di dalam mobil, Jungkook segera menginjak pedal gas dan meninggalkan Inha University.

“Tidak biasanya kau ingin ke kantor abeonim.” Jungkook memulai pembicaraan selama di perjalanan.

“Hanya ingin saja. Lagipula jika aku pulang, aku hanya ditemani oleh pelayan. Membosankan.”

“Bagaimana jika kita jalan-jalan saja?” Kata Jungkook menawarkan.

“Tidak, aku sedang malas.” Tolak Yongri.

“Ah, aku tau. Kau pasti ingin mengambil hati abeonim agar keinginanmu untuk memiliki mobil cepat terpenuhi. Ya, kan?” Tuduh Jungkook. Yongri segera memberikan cubitan ringan pada tangan kanan Jungkook yang berada di stir mobil. Membuat Jungkook meringis sembari mengusap tangan kanannya dengan tangan kirinya.

“Kau selalu menyakitiku, dear.”

“Dan kau selalu membuatku kesal, Jungkook!”

“Jika kita menikah, rumah kita pasti akan berisik sekali, ya?”

“Menikah katamu? Ya! Kau pikir siapa yang mau menikah denganmu? Bermimpi saja kau!” Dengus Yongri.

“Jangan seperti itu, dear. Jika nanti kita benar-benar menikah, kau akan menyesali ucapanmu barusan.”

“Ya. Ya. Terserah apa katamu, Jungkook-ah.” Kata Yongri mengalah. Membuat Jungkook tersenyum senang.

Terlalu banyak berdebat, membuat keduanya baru sadar jika mereka telah memasuki kawasan King Hotel. Jinhyuk dan Minho memang selalu bekerja di King Hotel daripada di King Departemen Store. Mereka hanya sesekali ke sana untuk melihat keadaan mall tersebut. Yongri menoleh ke belakang untuk mengambil tasnya yang memang ia taruh di jok belakang. Kebiasaannya jika naik mobil Jungkook.

“Apa aku perlu menjemputmu nanti?” Tanya Jungkook.

“Tidak perlu. Aku bisa pulang dengan appa atau Minho oppa. Kau pulang saja. Terima kasih sudah mengantarkanku dan hati-hati di jalan.”

“Aku melakukannya dengan senang hati, dear.”

Yongri hanya mencibir pelan dan segera turun dari mobil Jungkook. Ia memasuki hotel dan langsung di sambut oleh beberapa karyawan yang membungkuk hormat padanya. Semenjak King Departemen Store berulang tahun waktu itu, Yongri sudah dikenal sebagai anak pemiliknya. Yongri memberikan senyumnya untuk membalas perlakuan karyawan-karyawan tersebut.

Ia segera menaiki lift dan menekan angka 28 dimana ruangan Jinhyuk berada. Yongri memang jarang mengunjungi tempat kerja Jinhyuk dan Minho. Ia sedikit terlihat tidak peduli dengan perusahaan Jinhyuk tersebut. Namun entah mengapa hari itu ia ingin sekali datang ke sana. Yongri tidak memiliki alasan pasti dan hanya mengikuti keinginan hatinya.

Pintu lift terbuka, dan Yongri segera keluar dari sana. Ia berjalan perlahan menuju ruangan sang ayah yang telah terlihat di depan matanya. Namun langkahnya terhenti saat sekretaris Jinhyuk menyapanya.

“Selamat siang, Nona Yongri.”

“Ah, selamat siang.”

“Anda datang untuk menemui sajangnim?”

“Ya, dia ada di ruangannya, kan?”

“Ada, Nona. Apa saya perlu menghubunginya untuk memberitahukan kehadiran Anda?”

“Tidak perlu. Saya langsung masuk saja.”

“Baiklah, silahkan.”

Yongri tersenyum sebentar sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya menuju ruangan Jinhyuk. Setelah mengetuknya beberapa kali, gadis itu segera membuka pintunya.

Yongri merasakan nafasnya tercekat saat melihat sosok Siwon di dalam sana. Sedang duduk berhadapan dengan Jinhyuk di sofa coklat yang terlihat sangat empuk itu. Pandangan mereka bertemu dan Yongri merasa seperti terhipnotis. Sama seperti pertemuan pertama mereka, saat itu Siwon juga terlihat sangat tampan. Yongri benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya sekarang. Dan Siwon pun sepertinya juga enggan mengalihkan pandangannya.

“Apa yang kau lakukan disini, sayang?” Tanya Jinhyuk terlihat sedikit terkejut. Pertanyaan Jinhyuk segera menyadarkan Yongri. Ia langsung menatap Jinhyuk.

“Maaf, appa. Apa aku mengganggu? Apa lebih baik aku pulang saja?” Yongri terlihat salah tingkah sekarang.

“Tidak, sayang. Masuklah.” Jinhyuk memberi isyarat pada Yongri untuk masuk dan duduk di sampingnya. Yongri mengikutinya dan segera menghempaskan dirinya di samping Jinhyuk.

“Appa sedang rapat? Aku tidak apa-apa jika harus pulang.” Ujar Yongri.

“Tadinya memang seperti itu. Tetapi sekarang sudah selesai dan kami hanya mengobrol ringan. Bukan seperti itu, Siwon-ah?”

“Tentu saja. Tidak perlu sungkan, Yongri-ssi. Lagipula ini kantor ayahmu sendiri. Jikapun memang harus ada yang pulang, itu adalah aku.” Kata Siwon dengan tersenyum.

“Kita belum selesai bercerita, Siwon-ah. Aku tidak akan mengizinkanmu pulang.” Gurau Jinhyuk yang dibalas tawa kecil dari Siwon.

“Jadi apa yang membuatmu datang kemari, Yongri-ya? Kau mencari kakakmu?” Tanya Jinhyuk.

“Aku hanya ingin menemuimu, appa. Aku bosan jika harus pulang.” Jawab Yongri.

“Jungkook yang mengantarkanmu kemari?” Tanya Jinhyuk lagi dan dibalas anggukan dari Yongri.

“Bagaimana berkuliah di Inha University, Yongri-ssi?” Tanya Siwon. Membuat gadis itu segera menatapnya dengan terkejut.

“Bagaimana kau bisa tau dia berkuliah di Inha University, Siwon-ah?” Sama halnya seperti Yongri, Jinhyuk pun terlihat terkejut. Seingatnya, ia tidak pernah memberitahukan hal tersebut pada Siwon.

“A–apa? Ah, itu–aku hanya menebak. Karena kau berkuliah di sana, kupikir anakmu juga melakukan hal yang sama.” Kilah Siwon mencoba tidak terlihat mencurigakan. Ia benar-benar merutuki dirinya yang kelepasan bertanya.

“Tebakanmu benar sekali.” Sahut Jinhyuk dengan tertawa.

“Dia bertanya padamu, Yongri-ya.” Kata Jinhyuk seolah menyuruh Yongri untuk menjawab pertanyaan Siwon.

“Rasanya menyenangkan, Tuan Choi.” Jawab Yongri pelan.

“Jika kau membutuhkan bantuan dalam kuliahmu, kau bisa mengatakannya padaku.” Kata Siwon menawarkan.

“Terima kasih, Tuan Choi. Tetapi saya rasa tidak perlu. Karena jika memang saya membutuhkannya, saya akan memintanya pada appa.” Tolak Yongri sopan. Ia berusaha mati-matian menahan rasa senangnya saat ini. Siwon menunjukkan sikap perhatian padanya. Dan Yongri benar-benar senang sekarang. Rasanya ia ingin berteriak dengan sangat kencang.

Beberapa jam dihabiskan Jinhyuk, Siwon dan Yongri dengan mengobrol. Sebenarnya Jinhyuk dan Siwon yang lebih banyak mengobrol. Yongri hanya sesekali bersuara ketika ditanya. Selebihnya ia memilih diam dan mencuri-curi pandang pada Siwon. Begitupun dengan Siwon, walaupun ia mengobrol dengan Jinhyuk, matanya sesekali mengarah pada Yongri.

“Lebih baik aku pulang sekarang, appa. Aku lupa ada tugas yang harus segera diselesaikan.” Ujar Yongri pada Jinhyuk.

“Baiklah. Sebentar, appa akan menghubungi Supir Han untuk mengantarmu pulang.” Kata Jinhyuk sembari mengeluarkan ponselnya.

“Lebih baik aku saja yang mengantarnya pulang, Jinhyuk-ah. Aku juga harus kembali ke kantor.” Ucap Siwon tiba-tiba. Membuat Yongri lagi-lagi menatapnya dengan pandangan terkejut.

“Apa tidak merepotkan?” Jinhyuk terlihat tidak enak.

“Tidak apa-apa.” Sahut Siwon yang sudah berdiri dari duduknya.

“Ayo, Yongri-ssi.”

“Tapi–”

“Kau harus menjaganya selama diperjalanan, Siwon-ah. Jika sedikit saja tubuh anakku ada yang lecet, aku akan mematahkan lehermu.” Ancaman Jinhyuk memotong ucapan Yongri. Ia sangat-sangat ingin menolak. Yongri tidak bisa membayangkan jika dia harus berada di mobil yang sama dengan Siwon.

“Pulanglah, sayang. Jika dia tidak menjagamu laporkan pada appa. Kau mengerti?”

Aku tidak mengkhawatirkan itu, appa. Aku hanya takut pingsan karena terlalu senang!!‘ Batin Yongri berteriak.

“Aku mengerti. Aku pulang dulu, appa.” Pamit Yongri.

“Aku pulang dulu, Jinhyuk-ah.” Pamit Siwon. Jinhyuk mengangguk dan melambaikan tangannya pada Yongri.

Siwon dan Yongri keluar dari ruangan Jinhyuk dan segera menuju lift. Di dalam lift yang sialnya hanya terisi mereka berdua, tidak terjadi pembicaraan apapun. Yongri mencengkram tali tas selempangnya untuk menghilangkan gugupnya. Ia tidak bisa bernafas dengan benar sekarang. Berbeda halnya dengan Siwon, laki-laki itu tampak terlihat biasa. Ia berdiri di samping Yongri dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku celana.

Yongri bernafas lega saat melihat lift terbuka dan mereka telah sampai di lobby hotel. Ia berjalan lebih dulu dari Siwon. Membuat Siwon tanpa sadar tersenyum kecil. Ia dapat melihat kegugupan dari Yongri. Dan Siwon tidak mengerti mengapa Yongri terlihat sangat gugup. Apa mungkin gadis itu merasakan apa yang dirasakan juga oleh Siwon?

Ketika mereka telah sampai diluar, terlihat supir Siwon beserta mobilnya yang telah menunggu mereka. Saat supir tersebut membukakan pintu mobil belakang, Siwon segera menutupnya dan terlihat membisikkan sesuatu pada supir tersebut. Supir itu mengangguk pelan dan merogoh saku celananya, memberikan kunci mobil kepada Siwon. Siwon dan Yongri segera menaiki mobil dan duduk bersebelahan di depan. Siwon di balik kemudi dan Yongri di sampingnya. Setelah memastikan Yongri telah memakai seat belt-nya, Siwon segera menginjak pedal gas dan meninggalkan King Hotel.

——

“Sebenarnya Anda tidak perlu repot-repot mengantarkan saya pulang, Tuan Choi.” Kata Yongri mencoba menghilangkan kecanggungan di dalam mobil Siwon.

“Bukankah waktu itu aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa kau tidak perlu terlalu formal padaku?” Ujar Siwon mengabaikan perasaan tidak enak Yongri.

“Saya hanya takut itu tidak sopan.” Balas Yongri.

“Aku tidak masalah dengan itu. Justru dengan kau yang terlalu bersikap formal, aku menjadi tidak nyaman.” Ungkap Siwon. Yongri mengerutkan hidungnya dan tampak berpikir sejenak.

“Baiklah jika itu maumu. Aku akan memanggilmu ahjussi mulai sekarang. Karena kau teman ayahku, berarti kau sudah seperti ayahku sendiri.” Kata Yongri. Setelahnya, gadis itu menyesali apa yang sudah dikatakannya. Sejak kapan ia menganggap Siwon seperti Jinhyuk? Ia justru menatap Siwon sebagai laki-laki seusianya.

Di sisi lain, Siwon yang mendengar Yongri menganggapnya dirinya seperti Jinhyuk merasakan perasaan kecewa. Jika fakta sudah berbicara, ia tidak bisa berbuat apapun. Karena umurnya dan Jinhyuk yang tidak jauh berbeda, wajar saja jika Yongri menganggapnya seperti ayah sendiri. Namun tetap saja Siwon merasa kesal dan kecewa dengan kenyataan itu.

“Ya, mungkin itu lebih baik.” Kata Siwon akhirnya setelah lama diam. Keheningan kembali menyambut mereka setelah Siwon membalas ucapan Yongri. Keduanya sama-sama tidak tau harus memulai pembicaraan dari mana dan tentang apa.

“Kau baru semester pertama bukan kuliah di Inha university?” Tanya Siwon sembari melirik Yongri.

“Ya. Kau tau dari mana, ahjussi? Jangan katakan kalau kau kembali menebak?” Ucap Yongri dengan menatap Siwon. Siwon tersenyum kecil dan mengangguk.

“Bagaimana mungkin semua tebakanmu selalu benar, ahjussi? Benar-benar mengagumkan.” Yongri tidak dapat menutupi rasa kagumnya pada Siwon. Bertambahlah lagi nilai plus untuk Siwon dari Yongri.

“Terlihat dari wajahmu, Yongri-ya. Wajahmu belum memiliki beban sama sekali. Itu tandanya kau baru memulai kuliahmu, bukan?” Ujar Siwon dengan tertawa pelan.

“Memangnya wajahku akan seperti apa jika sudah lebih lama kuliah di sana?” Tanya Yongri penasaran.

“Akan berubah seperti monster.” Jawab Siwon bercanda.

“Apa?!” Suara Yongri terdengar meninggi.

“Kau serius, ahjussi? Wajahku yang cantik ini akan berubah menjadi monster? Bagaimana mungkin?” Keluh Yongri dengan memegang kedua pipinya. Wajahnya berubah sendu dan itu kembali mengundang tawa dari Siwon.

“Aku bercanda.” Ujar Siwon. Yongri mendongak dan menatap Siwon dengan sedikit jengkel.

“Kau berkuliah di jurusan bisnis, kan? Sama seperti aku dan Jinhyuk. Saatnya tiba, kau pasti akan berpikir bahwa kau menyesal sudah memilih jurusan itu.” Jelas Siwon.

“Apa sesulit itu, ahjussi?” Yongri terlihat ngeri. Siwon mengangguk pelan.

“Ah, aku berharap appa dan Minho oppa bisa membantuku nanti. Dan juga Jungkook.” Gumam Yongri pelan. Namun masih dapat didengar jelas oleh Siwon.

“Kau juga dapat meminta bantuanku jika mereka sibuk.” Kata Siwon menawarkan.

“Kau juga pasti sibuk, ahjussi.” Sahut Yongri.

‘Sesibuk apapun aku nanti, aku akan meluangkan waktu hanya untukmu, Choi Yongri.’ Batin Siwon.

“Aku tidak sesibuk yang kau bayangkan.” Kilah Siwon.

“Perusahaanmu besar dan kau sangat kaya. Bagaimana mungkin kau tidak sibuk, ahjussi? Jangan membohongiku.”

“Sudah sampai.” Ujar Siwon mengalihkan Yongri. Yongri seolah tersadar dan segera turun dari mobil Siwon. Siwon menurunkan kaca mobilnya dan sedikit menunduk untuk melihat Yongri.

“Terima kasih sudah mengantarkanku pulang, ahjussi. Hati-hati di jalan.” Kata Yongri dengan membungkukkan sedikit badannya.

“Jangan sungkan. Masuklah.” Ucap Siwon. Yongri mengangguk dan segera memasuki rumahnya. Meninggalkan Siwon yang terus menatapnya sembari tersenyum. Setelah memastikan Yongri telah berada di dalam rumah, Siwon dengan segera meninggalkan kediaman Choi Jinhyuk.

——

Yongri keluar dari kamar mandi lengkap dengan pakaian olahraganya. Hari itu adalah hari Minggu dan Yongri biasa melakukan olahraga pagi seperti lari pagi di sekiar area rumahnya. Ia selalu rutin melakukannya jika penyakit malasnya sedang tidak kambuh. Yongri duduk di depan meja rias dan mulai mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Setelahnya, ia menuju meja nakas di samping tempat tidurnya untuk mengambil ponsel yang ia letakkan disana.

Ia menekan nomor dial 3 yang merupakan nomor ponsel Jungkook. Menempelkan benda persegi tersebut ke telinga kirinya sembari beranjak keluar dari kamar. Pada nada tunggu ke empat, Jungkook menjawab teleponnya.

Halo?

“Kau baru bangun?”

Hmm, teleponmu yang membangunkanku.

“Kau malas sekali.”

Ada apa, dear?

“Temani aku lari pagi.”

“Astaga, jam berapa sekarang, dear?

“Jam 6 pagi.”

Aku mengantuk sekali. Maafkan aku, dear. Kau lakukan saja sendiri. Bye!

“Ya!! Jungkook-ah! Jeon Jungkook!!”

Yongri mengumpat kesal pada ponselnya. Jungkook memutuskan sambungan telepon begitu saja sebelum ia selesai bicara. Saat ini Yongri sedang malas melakukan lari pagi seorang diri. Makanya ia meminta Jungkook menemaninya. Karena tidak akan ada lagi yang mau menemaninya. Jinhyuk dan Minho pasti lebih memilih bergelung dengan selimut mereka daripada harus lari pagi yang melelahkan diri.

Akhirnya Yongri menuruni tangga dan segera mengambil sepatu ketsnya. Sepatu berwarna biru seperti warna baju yang sedang dipakainya. Ia memakai sepatu tersebut dan mengikatnya dengan benar. Sebelum keluar dari rumah, gadis itu memasang earphone di kedua telinganya.

I’m ready!” Gumamnya sembari membuka pintu rumah dan memulai kegiatannya pagi itu.

——

Setelah melakukan lari pagi sebanyak 5 putaran, Yongri mulai melakukan perenggangan otot di daerah taman di dekat rumahnya. Banyak orang-orang yang melakukan hal yang sama seperti yang sedang Yongri lakukan sekarang. Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya dengan teratur. Kaos yang sedang dipakainya saat ini terlihat basah oleh keringatnya sendiri.

Setelah merasa cukup, Yongri menuju mesin minuman untuk membeli minuman sebelum mengistirahatkan dirinya. Namun sebelum ia memasukkan koin ke dalam mesin minuman tersebut, Yongri melihat ada minuman yang sudah jatuh terlebih dahulu. Gadis itu menyeringai dan merasa ini sebuah keberuntungan untuknya. Ia menundukkan tubuhnya dan menjulurkan tangannya untuk mengambil minuman tersebut.

“Itu punyaku.” Sebuah suara menghentikan pergerakan Yongri. Yongri meringis kecil untuk menahan malu. Ia pasti akan dianggap sebagai gadis yang tidak tau malu karena berniat mengambil minuman orang. Yongri menegakkan tubuhnya sebelum akhirnya berbalik untuk meminta maaf kepada orang tersebut.

“Maaf– ahjussi?!” Permintaan maafnya terhenti saat ia melihat sosok Siwon berdiri tepat di hadapannya. Yongri mengerjapkan mata berkali-kali untuk meyakinkan penglihatannya saat ini.

“Choi Yongri..” Ucap Siwon.

“Apa yang kau lakukan disini, ahjussi?” Tanya Yongri.

“Aku habis lari pagi.” Jawab Siwon. Mendengar jawaban Siwon, membuat Yongri dengan segera memperhatikan penampilan Siwon. Gadis itu berusaha mati-matian meneguk salivanya saat melihat penampilan Siwon yang sialan sexy saat ini. Kaos ketat tanpa lengan yang memamerkan lengan-lengan berototnya dan juga membingkai perutnya yang sixpack. Celana pendek sebatas lutut, sepatu kets, dan handuk putih yang laki-laki itu lilitkan di tangannya sekarang. Oh! Dan jangan lupakan keringat yang terus mengalir membasahi seluruh tubuh Siwon termasuk rambut laki-laki itu. Adakah istilah lain untuk Siwon saat ini selain sexy?

Yongri ingin sekali rasanya mengambil handuk yang ada di tangan Siwon dan dengan sukarela mengelap semua keringat itu hingga tak berbekas. Tetapi ia tidak memiliki keberanian lebih. Dan yang lebih penting, gadis itu tidak memiliki hak! Yongri seolah tersadar dan segera memalingkan wajahnya dari Siwon.

“A–apa yang di dalam sana minumanmu?” Tanya Yongri dengan menggaruk tengkuknya.

“Ya. Karena minumannya terlalu lama turun, aku sengaja meninggalkannya sebentar untuk membuang sampah. Saat aku kembali dan melihat ada yang ingin mengambil minumanku, tentu saja aku hendak protes. Tetapi jika aku tau itu kau, aku tidak akan melakukannya.” Jawab Siwon sembari mengambil minuman yang sebelumnya hendak diambil oleh Yongri.

“Ini, minumlah.” Siwon memberikan minuman tersebut kepada Yongri.

“Tidak perlu, ahjussi. Aku membawa koinku.” Tolak Yongri sembari memasukkan koinnya ke dalam mesin minuman. Siwon hanya tersenyum kecil dan mulai membuka kaleng minuman tersebut sebelum akhirnya meminumnya hingga kandas. Yongri lagi-lagi hanya dapat menatap Siwon dengan terpesona saat melihat gaya minum laki-laki itu yang benar-benar menggoda, dengan adam apple–nya yang terus bergerak naik turun.

“Kenapa? Kau mau?” Tanya Siwon saat melihat Yongri yang menatapnya tanpa berkedip.

“Apa? Ah, tidak. Ini minumanku.” Kata Yongri yang dengan segera mengambil minumannya. Dan melakukan halnya sama dengan Siwon, yaitu menghabiskan minumannya.

“Kau sudah sarapan?” Tanya Siwon. Yongri menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Siwon.

“Sama, aku juga belum. Bagaimana jika kita lomba lari hingga ujung sana? Yang kalah akan mentraktir sarapan yang menang?” Usul Siwon.

“Aku pasti kalah, ahjussi!” Rajuk Yongri yang telah lebih dulu menyerah.

“Sebelum dicoba, tidak akan ada yang tau hasilnya. Bagaimana?” Kata Siwon.

“Baiklah.” Putus Yongri akhirnya.

“Dalam hitungan ketiga kita mulai. Okay? Satu…dua…” Belum sempat Siwon menyelesaikan hitungannya, Yongri telah lebih dulu memulai larinya. Meninggalkan Siwon yang melongo melihat kecurangan gadis itu. Setelah sadar, Siwon tersenyum kecil dan segera menyusul Yongri.

——

“Aku tidak kuat lagi!” Pekik Yongri bersamaan dengan tubuhnya yang tersungkur di aspal. Gadis itu meringis saat merasakan telapak tangan dan lututnya yang terasa perih. Ia segera mendudukan dirinya di aspal, dan melihat telapak tangannya memerah dan lututnya berdarah. Yongri berdecak sembari membersihkan kotoran yang melekat di kakinya.

“Kau baik-baik saja?” Suara khawatir Siwon mengalihkan Yongri luka-lukanya. Ia menatap Siwon yang sedang berjongkok sembari menatapnya dengan pandangan cemas.

“Lututmu berdarah.” Gumam Siwon.

“Ini tidak apa-apa, ahjussi. Hanya luka kecil.” Elak Yongri.

“Walaupun luka kecil, tetap saja harus diobati sebelum terjadi infeksi. Ayo, ikut aku ke mobil. Kita obati lukamu disana.” Ajak Siwon.

“Tidak perlu, ahjussi. Aku bisa pulang ke rumah dan mengobatinya. Lagipula kau tau jika rumahku di sekitar sini.” Tolak Yongri. Gadis itu hanya mencoba untuk membuat jantungnya selamat. Yaitu dengan cara tidak berdekatan dengan Siwon lebih lama lagi. Yongri benar-benar merasa akan gila.

“Mobil ku ada di sana.” Tunjuk Siwon pada mobil mewahnya.

“Lebih dekat jika dibandingkan kau harus pulang ke rumah.” Lanjutnya.

“Tapi–”

“Ayolah, apa kau ingin aku menggendongmu?” Tanya Siwon. Kontan saja Yongri merasa wajahnya memerah. Walaupun sebenarnya Siwon tidak bermaksud menggodanya. Ia benar-benar bersedia menggendong gadis itu jika ia kesulitan berjalan.

“Benar? Kau tidak sanggup berjalan, kan? Aku akan menggendongmu sampai ke mobilku.” Kata Siwon. Sembari menyelipkan tangannya di belakang lutut Yongri dan punggung gadis itu.

“Ti–tidak perlu, ahjussi. Aku bisa jalan sendiri.” Yongri mencoba mendorong tubuh Siwon menjauh darinya. Jantungnya benar-benar berdetak di luar batas normal sekarang. Dan ia takut sekali Siwon bisa mendengarnya.

Melihat Yongri kembali menolaknya, membuat perasaan Siwon kecewa. Entah mengapa ia merasa gadis itu selalu menjaga jarak dengannya. Dan Siwon benar-benar tidak suka itu.

“Baiklah.” Putus Siwon akhirnya. Menjauh dari Yongri dan berdiri. Yongri mencoba berdiri walaupun merasakan perih dilututnya. Siwon yang tidak peduli dengan penolakan Yongri pun membantu gadis itu dengan merangkulkan tangannya di bahu Yongri. Setelahnya Siwon menggiring Yongri menuju mobilnya. Dengan menempelnya tubuh Siwon pada Yongri, Yongri dapat merasakan lengan kekar Siwon yang bermandikan keringat. Dan itu membuat Yongri semakin gugup hingga wajahnya benar-benar merah.

Siwon mendudukan Yongri di kursi penumpang di samping kemudi dengan kaki menjuntai ke aspal. Laki-laki itu kemudian membuka bagasi mobil dan mengambil kotak P3K di sana. Setelahnya, ia berjongkok di hadapan Yongri, bermaksud untuk mengobati luka gadis itu.

“Aku bisa sendiri, ahjussi.” Kata Yongri. Siwon menghela nafas dan mencoba tidak memperdulikan penolakan gadis itu.

“Aku tidak mengerti mengapa kau selalu menolak bantuanku. Padahal kau sendiri yang mengatakan bahwa kau menganggapku seperti ayahmu sendiri.” Kata Siwon sembari membersihkan luka Yongri. Yongri merasa bersalah saat mendengar perkataan Siwon. Ia yakin Siwon merasa kecewa dengan penolakan yang terus dilakukannya.

“Maafkan aku, ahjussi. Aku tidak bermaksud.” Sesal Yongri. Siwon mendongak dan tersenyum. Menampilkan sepasang lesung pipi yang semakin menambah ketampanannya.

Kumohon jangan tersenyum!‘ Batin Yongri berteriak.

“Tidak apa-apa.” Ucap Siwon yang sudah kembali mengobati luka Yongri.

“Kalau boleh tau, kenapa kau terus mau membantuku, ahjussi?” Tanya Yongri. Gerakan tangan Siwon dilututnya terhenti. Dengan perlahan laki-laki itu kembali menatap Yongri. Mata Yongri yang mengerjap sembari menatapnya membuat Siwon mati-matian menahan diri untuk tidak menarik tengkuk gadis itu dan mencium bibirnya.

Siwon berdehem pelan dan mengalihkan pandangannya. Kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

“Karena kau anak Jinhyuk tentu saja.” Jawab Siwon setelah sekian lama.

“Ah, ya.” Gumam Yongri sembari merutuki dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang kau harapkan, Choi Yongri? Apa kau berpikir Siwon akan mengatakan ‘Karena aku menyukaimu‘? Otakmu benar-benar sudah tidak waras, Yongri-ya.

“Sudah selesai.” Ucap Siwon menyadarkan Yongri dari lamunan anehnya. Gadis itu menatap lututnya yang sudah di tempeli penutup luka.

“Terima kasih, ahjussi.” Kata Yongri dengan tersenyum kecil.

“Bukan masalah.” Balas Siwon.

“Karena kau sudah berbaik hati padaku, aku akan mentraktirmu sarapan. Ayo!” Ujar Yongri sedikit mengejutkan Siwon. Masalahnya adalah gadis itu selalu menghindar darinya, dan sekarang gadis itu mengajaknya sarapan bersama? Siwon takut sekali telinganya salah dengar.

“Ahjussi!” Pekik Yongri saat melihat Siwon diam saja.

“Ya?”

“Kau tidak mau?” Tanya Yongri.

“Apa? Ah, tidak. Tentu saja aku mau. Kapan lagi bisa ditraktir olehmu?” Jawab Siwon dengan tersenyum lagi.

Oh, jangan senyum itu lagi.

“Tetapi karena aku hanya mahasiswi biasa dan tidak kaya sepertimu, aku tidak akan mentraktirmu di tempat mahal.” Ujar Yongri mengingatkan. Membuat Siwon tertawa.

“Aku tau.” Sahut Siwon geli.

“Aku yang akan menentukan tempat.” Kata Siwon cepat, sebelum Yongri mengatakannya terlebih dahulu. Yongri hanya mengerucutkan bibirnya dan mengikuti Siwon yang masuk ke dalam mobil.

——-

Yongri tidak dapat menahan mulutnya untuk terbuka saat melihat restoran dimana Siwon mengajaknya sarapan. Yongri tidak tau harus dengan kata apa mendeskripsikan tempat ini. Mewah? Sepertinya kata itu saja tidak cukup. Restoran ini benar-benar mewah. Yongri menatap Siwon dan menyipitkan matanya. Membuat Siwon menatapnya dengan alis terangkat sebelah.

“Kenapa?” Tanya Siwon.

“Bukankah aku sudah mengatakan padamu, bahwa uangku tidak banyak, ahjussi? Bagaimana mungkin kau mengajakku ke tempat ini? Aku tidak mau mentraktirmu di tempat ini.” Oceh Yongri. Siwon tidak dapat menahan tawanya dan tidak berniat menanggapi ucapan Yongri hingga seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka.

Siwon dan Yongri sama-sama membuka buku menu untuk melihat daftar makanan apa saja yang ada di sana. Dan Yongri lagi-lagi harus menganga saat melihat harga makanan yang jauh dari kata murah. Gadis itu menutup buku menu dengan kasar. Membuat pelayan yang berdiri di sisi mereka sedikit terkejut.

“Ahjussi–”

“Kau cukup diam, dan aku yang akan memesan makanan.” Perkataan Siwon menahan ucapan Yongri yang hendak marah. Yongri akhirnya hanya dapat menghela nafas dan membiarkan Siwon menyebutkan makanan apapun yang terdengar asing di telinganya. Wajar saja, restoran dimana mereka berada sekarang adalah restoran Italia.

Setelah selesai mencatat semua pesanan yang disebutkan Siwon, pelayan tersebut meninggalkan Siwon dan Yongri. Membuat Yongri menatap Siwon dengan pandangan memelas.

“Aku akan menemanimu makan saja. Jadi kau bisa membayar sendiri makananmu.” Lirih Yongri.

“Aku memang akan membayar makanannya.” Sahut Siwon.

“Apa?!”

“Aku akan mentraktirmu.” Jelas Siwon.

“Tapi, aku sudah berjanji akan mentraktirmu, ahjussi.” Ujar Yongri.

“Lain waktu. Kita bisa makan bersama lagi dan kau bisa mentraktirku.”

“Saat itu aku yang akan menentukan tempatnya.”

“Aku setuju.”

“Ah, jika tau begitu, aku akan memesan apapun yang ada dibuku menu itu.” Keluh Yongri. Siwon tertawa kecil.

“Aku sudah memesan banyak, Yongri-ya. Aku bahkan yakin perutmu tidak akan mampu menampungnya.” Ucap Siwon.

“Kau salah, ahjussi. Biarpun badanku kecil begini, nafsu makanku tinggi sekali. Bahkan melebihi Minho oppa.” Ucap Yongri berbangga diri.

“Baiklah, aku akan percaya jika melihatmu menghabiskan semua makanan yang aku pesan.”

“Siapa takut?”

Tak berapa lama kemudian, satu per satu makanan yang dipesan Siwon mulai berdatangan. Asap yang mengepul dari berbagai makanan itu, membuat perut Yongri semakin merasa lapar. Apalagi ia baru saja menghabiskan banyak energi untuk olahraga pagi. Ia benar-benar butuh makan sekarang.

“Ini benar-benar luar biasa.” Gumam Yongri.

“Tunggu apa lagi?” Tanya Siwon saat melihat Yongri hanya menatap makanan-makanan tersebut dengan mata berbinar.

“Selamat makan!” Kata Yongri sebelum akhirnya memindahkan semua makanan ke dalam perutnya.

——

“Terima kasih atas makanannya, ahjussi.” Kata Yongri. Siwon mengantarnya pulang dan sekarang mobil itu sudah terparkir dengan sempurna di depan rumah Jinhyuk.

“Bukan apa-apa.” Sahut Siwon.

“Aku masuk dulu, ahjussi.” Pamit Yongri.

“Jangan lupa janjimu untuk mentraktirku.” Ujar Siwon mengingatkan. Yongri menatap Siwon dengan berdecak pelan.

“Orang kaya sepertimu ternyata mengharapkan juga ditraktir oleh seorang mahasiswi sepertiku?” Cibir Yongri.

“Bukan itu masalahnya. Aku hanya minta kau menepati janji.” Siwon membela diri.

“Kau tenang saja, ahjussi. Aku tidak pernah mengingkari janji. Katakan saja saat kau memiliki waktu luang, aku akan mentraktirmu saat itu.”

“Aku mengerti. Masuklah.”

“Hati-hati di jalan, ahjussi.”

Yongri segera turun dari mobil Siwon dan menatap kepergian mobil itu sebelum masuk ke dalam rumah. Ia menemukan Minho sedang menonton televisi di ruang tengah. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Jinhyuk, namun tidak menemukannya.

“Dimana appa?” Tanyanya pada Minho.

“Di ruang kerjanya.” Jawab Minho. Yongri mengangguk sekilas dan mengambil tempat duduk di samping Minho.

“Kau darimana?” Tanya Minho.

“Olahraga pagi. Kau tidak melihat bajuku?” Jawab Yongri.

“Aku tau. Tetapi biasanya tidak sampai selama ini.” Sahut Minho.

“Ah, itu. Aku pergi sarapan dulu.”

“Sendiri?”

“Eum, ya.” Ucap Yongri pelan. Entah mengapa ia tidak berani mengatakan bahwa ia pergi bersama Siwon. Walaupun mungkin Siwon hanya menganggap Yongri sebagai anaknya, tetapi Yongri tetap merasa tidak pantas jika ia pergi bersama teman ayahnya.

“Kau tidak mandi? Tubuhmu bau keringat.” Keluh Minho yang menggeser dirinya menjauh dari Yongri. Yongri menatap Minho dengan tajam. Sesaat kemudian gadis itu menyeringai. Ia menggeser duduknya mendekati Minho.

“Apa yang kau lakukan?!” Pekik Minho.

“Aku mau memelukmu. Kenapa? Aku menyayangimu, oppa.” Kata Yongri sembari mengulurkan tangannya melingkari leher Minho.

“Ya, Choi Yongri! Bagaimana mungkin ada gadis jorok sepertimu?! Kau benar-benar bau! Astaga!!” Minho mendorong kepala Yongri menjauhinya. Yongri tertawa senang dan menjauhkan dirinya dari Minho.

“Pantas saja sampai sekarang kau tidak ada pacar. Laki-laki mana yang mau dengan gadis jorok sepertimu?!” Ejek Minho.

“Dasar berlebihan. Wajar saja jika bau, oppa. Aku habis berolahraga. Tidak seperti kau yang malas. Lihat perutmu itu. Benar-benar berlemak.” Balas Yongri.

“Jangan asal bicara, Choi Yongri. Kau belum pernah melihat perutku, kan? Kau akan terkejut jika melihatnya.” Kata Minho dengan percaya diri.

“Tunjukkan padaku!” Perintah Yongri. Minho tersenyum kecil dan mengangkat kaos yang di pakainya. Menampilkan perutnya yang sixpack, dan cukup membuat Yongri takjub.

“Bagaimana?” Tanya Minho.

“Benar-benar menakjubkan. Berapa lama kau membentuknya, oppa? Aku tidak pernah melihatmu berolahraga.” Ujar Yongri bingung. Minho menutup perutnya dan tersenyum lebar.

“Aku selalu menyempatkan diri untuk berolahraga di sela-sela kesibukanku di kantor. Aku sengaja melakukannya untuk Keiko.” Jelas Minho.

“Keiko eonni? Maksudnya?”

“Jika nanti dia datang ke Seoul atau aku pergi ke Jepang, aku selalu menunjukkan padanya. Kemudian ia akan mengusap perutku dan–”

“Ya!! Dasar mesum!!” Teriak Yongri sembari melempar Minho dengan bantal sofa. Gadis itu berdiri dari duduknya dan menatap Minho dengan ngeri.

“Sejak kapan otakmu menjadi mesum seperti ini, huh?!”

“Aku laki-laki normal dan itu hal wajar bodoh.” Kata Minho membela diri.

“Jangan katakan kalau kau dan Keiko eonni–”

“Kenapa? Kami selalu melakukannya saat bertemu.” Potong Minho saat tau apa yang ada di pikiran Yongri.

“Apa?! Oppa, kau bercanda?!”

“Tidak. Untuk apa aku berbohong? Itu bentuk sayangku kepada Keiko. Begitupun sebaliknya. Kau tidak akan mengerti sebelum kau punya pacar.”

“Tidak! Kalaupun aku memiliki pacar. Aku tidak mungkin melakukannya sebelum menikah. Astaga, bagaimana jika Keiko eonni hamil?” Ucap Yongri ngeri.

“Aku hanya tinggal melamarnya dan kami menikah.” Balas Minho cepat. Yongri berdecak dan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak menyangka memiliki oppa berotak mesum.” Gumam Yongri dan segera meninggalkan Minho untuk ke kamarnya.

Di dalam kamar, Yongri kembali memikirkan ucapan Minho. Apa mungkin ia akan seperti Keiko jika nanti telah memiliki pacar. Menyerahkan sesuatu yang berharga hanya untuk seorang kekasih? Yongri menggelengkan kepalanya. Jika nanti ia berpacaran dengan Siwon. Ia tidak mungkin menyerahkan dirinya seutuhnya kepada Siwon sebelum menikah. Walaupun saling mencintai, tidak akan ada yang menjamin jika suatu hubungan akan terus bertahan hingga akhir, bukan? Tetapi, Siwon merupakan laki-laki dewasa dan normal. Jika ia memaksa untuk melakukannya sebelum menikah, apa yang akan Yongri lakukan? Menolak dan membuat Siwon kecewa?

Tunggu! Apa yang baru saja ia pikirkan?! Bagaimana mungkin ia berpikir dirinya dan Siwon berpacaran? Astaga! Bahkan tidak terjadi apapun antara ia dan Siwon. Yongri memukul kepalanya dan kembali menggeleng. Otaknya benar-benar sudah tidak waras. Tetapi saat melihat perut Minho tadi, tanpa sengaja Yongri membayangkan perut Siwon yang tercetak dari baju ketatnya. Kotak-kotak berjumlah enam buah milik Siwon benar-benar menggoda Yongri untuk menyentuhnya. Bagaimana rasanya jika Yongri benar-benar menyentuh itu? Jantung Yongri berdetak sangat cepat dan aliran darahnya mengalir deras. Dengan susah payah ia meneguk salivanya dan memejamkan mata. Mencoba menghilangkan pikiran liarnya.

“Ini semua gara-gara, oppa!” Gumamnya kesal. Ia menghentakkan kakinya dan segera menuju kamar mandi.

——

Siwon turun dari mobilnya saat mobil itu sudah terparkir di depan rumahnya. Memasuki rumahnya yang sepi karena memang di dalamnya tidak ada siapapun. Pembantu yang mengurusi rumahnya pasti sudah pulang setelah mengerjakan seluruh tugasnya. Siwon berjalan menuju dapur dan mengambil botol minum. Meneguk setengahnya sebelum akhirnya mengembalikannya ke tempat semula.

Siwon menuju ke ruang tengah dan mengistirahatkan dirinya di sana. Laki-laki itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya pikirannya melayang kepada gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Yongri. Gadis yang baru saja berpisah dengannya satu jam yang lalu. Gadis yang membuat Siwon tidak bisa memikirkan hal lain jika sudah berada di dekatnya.

Siwon kembali membayangkan bagaimana dirinya yang begitu dekat dengan Yongri, saat ia membantu gadis itu berjalan ketika lututnya terluka. Membayangkan bagaimana wajah Yongri yang menatapnya ketika ia mengobati lutut gadis itu. Dan membayangkan bagaimana wajah terkejut Yongri saat ia membawa gadis itu ke restoran mahal. Tidak ada satupun yang luput dari ingatan Siwon. Semuanya masih teringat jelas. Tubuh Yongri yang mungil ketika dibalut baju olahraga yang cukup ketat, membuat Siwon dapat melihat lekuk tubuh gadis itu yang cukup menggiurkan. Bibirnya yang berwarna kemerahan dan akan mengerucut ketika kesal, benar-benar mengundang Siwon untuk melumatnya. Oh, ayolah! Ia laki-laki dewasa dan normal. Hal-hal seperti itulah yang akan mereka pikirkan ketika bertemu seorang gadis. Apalagi Siwon sudah cukup lama tidak berhubungan dengan seorang gadis. Wajar saja buka jika sekarang pikirannya mendadak menjadi liar?

Siwon kembali menghela nafas dan menundukkan kepalanya. Tidak sengaja melihat celana bagian depannya yang mendadak basah. Kontan saja laki-laki itu menjadi terkejut dan sedikit panik. Ia bahkan tidak tau apa yang terjadi dan sekarang celananya basah. Apa yang kalian pikirkan? Keringat? Tentu saja bukan. Siwon bahkan sudah tidak berkeringat saat dirinya berada di dalam mobil untuk menuju ke restoran bersama Yongri. Apalagi sekarang udara di dalam rumahnya benar-benar sejuk dan jauh dari kata panas.

Siwon menggeram dan berdiri dari duduknya. Memejamkan matanya mencoba mengenyahkan Yongri dari pikirannya, sebelum ia benar-benar gila. Siwon merasa dirinya seperti laki-laki yang baru beranjak dewasa. Benar-benar menggelikan, menurutnya.

“Bahkan memikirkannya saja membuatku basah.” Gumamnya dan segera menuju kamar mandi.

——

Sepanjang kelasnya pada hari itu, Yongri terus melamun tanpa memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Membuat Jungkook beberapa kali harus menyenggolnya ketika mata para dosen mengarah padanya. Sebulan sudah berlalu dan Jungkook bersyukur karena Yongri tidak pernah membuat masalah. Hanya saja, tingkah gadis itu semakin aneh. Salah satunya adalah hal ini. Melamun tanpa henti dan Jungkook sama sekali tidak mengetahui apa yang dilamunkan sahabatnya itu.

“Hoi!” Teriak Jungkook tepat di telinga Yongri saat kelas mereka sudah berakhir. Yongri bahkan tidak menyadari itu dan masih asik dengan dunianya sendiri.

“Kau benar-benar mau mati?!” Geram Yongri sembari menatap Jungkook tajam.

“Aku rela mati di tanganmu, dear. Ayo, bunuh aku.” Goda Jungkook menanggapi kemarahan Yongri. Yongri hanya memutar bola matanya dengan malas dan membereskan buku-bukunya yang berserakan di atas meja.

“Sebenarnya apa yang kau lamunkan akhir-akhir ini, dear? Kau tampak sibuk dengan duniamu sendiri.” Jungkook terlihat sangat ingin tau. Yongri menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya.

“Aku tidak tau.” Lirihnya.

“Tidak tau bagaimana? Kau seperti selalu memikirkan sesuatu dan kau bahkan tidak tau apa yang kau pikirkan?” Jungkook menggelengkan kepalanya. Jungkook menaruh tangannya di dahi Yongri dan terlihat berpikir.

“Kau tidak sakit.” Gumam laki-laki itu. Yongri menepis tangan Jungkook.

“Aku memang tidak sakit.” Ketus gadis itu. Ia segera berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. Diikuti Jungkook dibelakangnya.

“Mau ke kantin?” Tanya Jungkook menawarkan.

“Aku sedang malas. Ingin pulang saja.” Jawab Yongri.

“Baiklah, kita pulang saja.” Ujar Jungkook akhirnya.

Ketika sedang berjalan menuju parkiran mobil, seorang gadis menghampiri mereka kedua. Tepatnya menghampiri Jungkook dan otomatis membuat langkah Yongri dan Jungkook terhenti. Keduanya menatap gadis itu dengan pandangan bingung. Pasalnya, gadis itu hanya menundukan kepalanya di depan Jungkook dan tidak mengatakan apapun.

“Maaf?” Suara Jungkook membuat gadis itu perlahan-lahan mendongakkan kepalanya. Memberanikan diri untuk menatap Jungkook yang langsung membuat pipinya merona.

“Jungkook-ssi..” Panggil gadis itu.

“Ya?” Sahut Jungkook. Jungkook tau gadis itu adalah teman satu kelasnya dan Yongri. Hanya saja, Jungkook tidak tau siapa namanya. Karena menurut Jungkook, gadis ini terlalu pendiam dan membuat orang tidak begitu mengenalnya. Termasuk dirinya.

“Aku..aku…” Gadis itu terlihat ragu dengan apa yang hendak dikatakannya. Membuat Jungkook sedikit geram, namun tetap sabar menunggunya.

“Aku–”

“Siapa namamu?” Tanya Jungkook memotong ucapan gadis itu.

“Apa?!”

“Siapa namamu?” Ulang Jungkook.

“Kim Soon.” Jawab gadis itu.

“Begini, Kim Soon-ssi. Jika kau masih harus merangkai kata tentang apa yang akan kau katakan padaku, kapan-kapan saja kau temui aku. Aku tidak punya cukup waktu sekarang, jadi–”

“Aku menyukaimu.” Sekarang giliran Kim Soon yang memotong ucapan Jungkook. Dan ucapan gadis itu sukses membuat mata Jungkook hampir keluar. Bukan hanya Jungkook yang terkejut, tetapi juga Yongri yang masih setia berdiri di samping Jungkook.

“Apa yang kau katakan?” Tanya Jungkook.

“Aku menyukaimu, Jungkook-ssi.” Kata Kim Soon mengulangi ucapannya.

“Aku tidak mengerti.” Ucap Jungkook, membuat Kim Soon menatapnya dengan bingung. Ia justru tidak mengerti dengan ucapan Jungkook barusan.

“Aku bahkan baru mengetahui namamu sekarang, dan bagaimana mungkin kau bisa menyukai seseorang yang bahkan tidak mengenalmu?” Ujar Jungkook sedikit dingin. Yongri memegang lengan Jungkook, membuat laki-laki itu menatapnya. Yongri menggelengkan kepalanya, bermaksud untuk menyuruh Jungkook agar tidak berkata kasar kepada Kim Soon. Jungkook menghela nafas dan melepaskan tangan Yongri dari lengannya. Menggantikannya dengan laki-laki itu yang merangkul Yongri dengan posesif. Membuat Yongri dan Kim Soon sama-sama terkejut.

“Aku sudah memiliki kekasih. Maafkan aku, Kim Soon-ssi.” Kata Jungkook.

“Apa?”

“Jungkook-ah..”

“Gadis ini kekasihku. Dan aku sangat mencintainya. Sekali lagi maafkan aku.” Ucap Jungkook tanpa rasa bersalah sedikitpun. Kim Soon menatap Jungkook dengan matanya yang berkaca-kaca. Wajah gadis itu memerah menahan tangis. Dan Jungkook terlihat tidak peduli sama sekali. Berbeda halnya dengan Yongri yang sekarang merasa bersalah pada gadis itu. Namun Yongri tidak mungkin mematahkan ucapan Jungkook barusan. Ia tidak mungkin mempermalukan sahabatnya itu dihadapan orang lain.

Airmata yang sedari tadi ditahan oleh Kim Soon akhirnya mengalir. Membuat Jungkook sedikit terkejut namun tidak mengatakan apapun. Kim Soon segera berbalik dan berlari meninggalkan Jungkook dan Yongri. Membuat Yongri segera menjauhkan tangan Jungkook dari pundaknya saat melihat Kim Soon sudah menghilang. Yongri menatap Jungkook dengan pandangan kesal.

“Apa yang kau lakukan? Jika kau memang tidak menyukainya, seharusnya kau katakan dengan jujur. Kenapa malah berbohong? Kau melukai perasaannya, Jungkook-ah.” Ucap Yongri.

“Bukankah sama saja? Jika aku berkata jujur bahwa aku tidak menyukainya, apa kau pikir perasaannya tidak akan terluka, dear?” Tanya Jungkook. Yongri terdiam. Apa yang diucapkan Jungkook disetujui oleh gadis itu.

“Tapi–”

“Lagipula apa yang aku katakan tadi tidak sepenuhnya berbohong.”

“Maksudmu?” Yongri terlihat bingung dengan ucapan Jungkook. Jungkook terdiam dan terlihat berpikir. Haruskah ia mengatakan tentang perasannya pada Yongri? Tetapi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Jungkook takut itu hanya akan menodai persahabatan mereka. Apalagi jika Yongri sampai menolak perasaan Jungkook.

“Aku menyukaimu.”

“Jungkook-ah..”

“Aku ingin kau menjadi kekasihku, dear.”

——

–To Be Continued–

Advertisements

55 thoughts on “Forbidden Love – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s