Regret – Part 10

Regret – Part 10

Author

Choineke

Title

Regret

Cast

 Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Cho Kyuhyun, Kim Sangmi, Kim Ryeowook

Genre

Romance, Sad

Length

Chapter

Rating

PG-15

 

Apapun yang kita miliki di dunia ini, tidak akan pernah kita sadari dan syukuri sebelum kita kehilangannya. Setelah hilang, yang akan kita rasakan hanya penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah ada gunanya.

 

Author POV

Yongri duduk termenung dengan pandangan dan pikiran yang kosong. Wajahnya sangat pucat dan tampak tidak seperti mahluk hidup. Ia menghela nafas berkali-kali dan memperhatikan seseorang yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Beruntung Siwon tidak memiliki luka serius akibat pukulan Kyuhyun. Hanya luka-luka kecil yang memang cukup butuh perawatan. Tampak perban yang membalut disekitar kepala Yongri akibat pelipisnya yang pecah karena terhanta ujung meja kerja Kyuhyun. Ia tidak mempermasalahkan itu, yang dikhawatirkannya adalah dua laki-laki yang sama-sama sakit karenanya. Yongri tidak tau dimana keberadaan Kyuhyun sekarang. Laki-laki itu pergi begitu saja setelah memukul Siwon habis-habisan- atau tepatnya pergi setelah mendapat tamparan darinya.

“Nngghh…” Yongri mengalihkan pandangannya ke wajah Siwon saat mendengar lenguhan kecil keluar dari mulutnya. Yongri merasakan jari-jari Siwon didalam genggamannya bergerak pelan.

“Siwon-ah..” Yongri dapat mendengar suaranya yang serak. Perlahan namun pasti mata Siwon terbuka dan mengerjap beberapa kali. Setelahnya namja itu segera menatap Yongri dengan pandangan khawatir. Ia hendak bangun namun dengan cepat Yongri menahannya.

“Istirahatlah..” Ujar Yongri.

“Kau…tidak apa-apa?” Komentar Siwon saat melihat kepala Yongri yang diperban.

“Aku baik-baik saja. Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri.” Sahut Yongri.

“Aku juga baik-baik saja.”

“Baik-baik saja, bagaimana? Wajahmu penuh luka dan kau pingsan!” Ujar Yongri dengan suara meninggi. Matanya berkaca-kaca karena ingin menangis. Ia merasa bersalah dan tidak tau harus berbuat apa.

“Jangan menangis.” Kata Siwon pelan. Yongri menundukkan kepalanya dan airmata itu mengalir begitu saja. Hingga lama-lama menjadi isakan kecil.

“Aku..aku tidak bermaksud menyuruhmu membalas perbuatan Kyuhyun. Tetapi..kenapa kau tidak melakukan sesuatu untuk melindungi dirimu? Kenapa kau membiarkan Kyuhyun memukulimu hingga seperti ini?” Isak Yongri. Siwon menghela nafas panjang. Dengan susah payah ia bangun dari baringnya menjadi duduk dan menarik Yongri ke dalam pelukannya. Mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya.

“Aku baik-baik saja. Aku masih hidup dan sekarang tengah memelukmu.” Bisik Siwon tepat di telinga Yongri.

“Jika aku membalas perlakuan Kyuhyun, mungkin bukan hanya aku yang akan berada di rumah sakit ini. Dan aku tidak mau menambah kekhawatiranmu.” Ucap Siwon lagi. Dengan perlahan Yongri melepaskan pelukan Siwon. Ia mengusap pelan pipi Siwon agar tidak mengenai lukanya.

“Apa aku terlalu jahat pada kalian?” Tanyanya masih dengan menangis. Siwon menggeleng dan menggenggam tangan yang mengusap wajahnya itu.

“Kami hanya terlalu mencintaimu.” Jawab Siwon yang membuat tangisan Yongri semakin menjadi.

“Kenapa? Kenapa harus mencintaiku sampai seperti itu? Aku hanya bisa membuat kalian sama-sama terluka.”

“Ssttt.. Bukan kau yang membuat kami terluka. Tetapi diri kami sendiri. Kami yang sama-sama tidak mau mengalah dan ingin memilikimu.”

“Tapi-”

“Cukup!” Ucapan Yongri terhenti mendengar suara Siwon yang tegas.

“Berhenti menyalahkan dirimu seperti ini. Untuk sekarang, biarkan saja Kyuhyun menenangkan dirinya terlebih dahulu. Aku yakin suatu saat dia dapat menerima keputusanmu untuk bersamaku.” Ucap Siwon dan menyeka airmata Yongri. Yongri mengangguk kecil.

“Lebih baik kau istirahat.” Ujar Yongri. Siwon menggeleng.

“Aku ingin pulang. Bisa panggilkan dokter?”

 

 

 

Kyuhyun kembali meneguk soju di dalam gelas kecil yang entah untuk keberapa kali. Ia mengeryit saat rasa pahit dan manis itu menyentuh lidahnya. Selalu seperti itu. Tetapi ia seolah enggan untuk menyudahi kegiatannya yang sudah berlangsung hampir dua jam.

“Maaf, Tuan. Kami sudah mau tutup.” Kata seorang pelayan menginterupsi kegiatan Kyuhyun.

“Jangan ganggu aku.” Desis Kyuhyun dan kembali meneguk sojunya.

“Tetapi kedai kami mau tutup, Tuan.” Pelayan itu masih bersikeras untuk menyuruh Kyuhyun pergi. Kyuhyun mendongak dan menatap tajam pelayan itu. Tubuh sang pelayan sedikit terhuyung ke belakang saat mendapatkan tatapan tajam dari Kyuhyun. Ia merasa menyesal sudah memaksa laki-laki itu untuk pergi dari kedainya. Masih dengan menatap tajam pelayan itu, Kyuhyun mengeluarkan dompet serta beberapa uang won untuk membayar soju yg sudah diminumnya. Setelah itu ia beranjak dan meninggalkan tempat yang sejak 2 jam lalu di tempatinya.

Dengan langkah terhuyung-huyung, Kyuhyun berjalan sembari menghirup udara malam di Seoul. Beberapa kali ia menabrak sesama pejalan kaki, dan bukannya minta maaf, Kyuhyun malah tertawa sendiri. Saat tiba di depan mobilnya, namja itu malah bersandar di sana sembari menundukkan kepalanya. Ia menghela nafas berkali-kali dan tampak tersenyum miris. Kejadian hari ini benar-benar diluar dugaannya. Ia tidak menyangka akan menghajar habis Siwon dan malah mendapat sebuah tamparan dari orang yang dicintainya.

“Keterlaluan.” Gumamnya. Kyuhyun mengeluarkan ponsel serta sebuah kertas yang berisi nomor telepon seseorang. Sepertinya ia memang harus mengambil jalan ini untuk dapat bersama Yongri.

 

 

Sangmi tersenyum senang sembari memutuskan sambungan telepon yang baru saja dilakukannya. Ia tidak menyangka jika Kyuhyun akan menerima tawarannya untuk memisahkan Siwon dan Yongri. Gadis itu bernafas lega saat tau ia tidak harus berjuang sendiri. Sangmi segera menyambar tasnya dan keluar rumah untuk menemui Kyuhyun. Tidak sampai setengah jam, gadis itu sudah dapat melihat sosok Kyuhyun yang sedang bersandar di mobil. Ia berjalan dengan langkah biasa menghampiri Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi..” Panggilnya dan berhasil membuat Kyuhyun mendongak. Secara tiba-tiba Kyuhyun mencengkram kerah kemeja Sangmi dan mendorongnya hingga bersandar di mobilnya. Kyuhyun menatap tajam Sangmi dan itu cukup sukses membuat Sangmi takut.

“Kau…cepat bawa Siwon-mu menjauh dari Yongri-ku.” Bisik Kyuhyun pelan namun sarat akan perintah. Sangmi menghempaskan tangan Kyuhyun hingga membuat laki-laki itu terjungkal ke belakang dan jatuh. Bukan karena tenaga Sangmi yang kuat, hanya saja Kyuhyun yang dalam keadaan mabuk tidak memiliki banyak tenaga.

“Jinjja! Berapa banyak soju yang kau minum, huh? Bau sekali!” Bentak Sangmi sembari merapikan bajunya yang sedikit kusut karena ulah Kyuhyun. Dengan susah payah Kyuhyun bangkit dan berdiri tegap di hadapan Sangmi.

“Bawa Siwon pergi!” Ujarnya lagi. Sangmi mendengus.

“Disini kita bekerja sama. Bukan berarti kau bisa seenaknya menyuruhku melakukan keinginanmu. Aku bukan pembantumu, bodoh!”

“Terserah! Terserah apa katamu, aku tidak peduli. Yang aku mau, noona menjadi milikku!” Lagi-lagi Sangmi mendengus

“Dia sendiri mencintai eonni dengan nafsu.” Gumamnya pelan.

“Baiklah! Kalau begitu percayakan saja padaku. Aku janji akan membuat Siwon oppa berpisah dari eonni. Dengan begitu kau bisa memiliki eonni dan aku bisa memiliki Siwon oppa.” Kyuhyun mengangguk kecil.

“Apa kau mau aku antarkan pulang? Keadaanmu benar-benar tidak memungkinkan kau pulang sendiri.” Kata Sangmi menawarkan. Kyuhyun tersenyum sinis.

“Aku tidak pernah mengizinkan perempuan manapun untuk berdekatan denganku selain noona. Jadi tidak usah bersikap baik padaku dan pergilah!” Setelah mengatakan itu Kyuhyun langsung memasukki mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan Sangmi. Sangmi menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil.

“Kau sangat beruntung eonni. Laki-laki yang mencintaimu, benar-benar rela melakukan apapun untuk mendapatkanmu.” Desahnya dan ikut meninggalkan tempat pertemuannya dengan Kyuhyun.

 

~~~

 

“Berhentilah menganggapku seperti anak kecil, Yongri-ya.” Rengek Siwon untuk kesekian kalinya.

“Berhenti katamu? Lihat, kau saja merengek seperti itu. Apa kau pikir tingkahmu tidak seperti anak kecil?” Siwon mendengus mendengar sahutan Yongri.

“Ayo, habiskan makanan ini agar tubuhmu cepat pulih.” Kata Yongri sembari menyodorkan sesuap nasi ke hadapan Siwon. Siwon menjauhkan tangan Yongri dan menggeleng pelan.

“Berapa kali ku bilang, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Aku tidak selemah yang kau pikirkan.”

“Kau tidak ingat pesan dokter? Mereka bilang kau boleh pulang, tapi aku harus memperhatikanmu dengan seksama. Lukamu dari luar memang tampak kecil, tapi dalamnya kita tidak tau.”

“Tapi aku benar-benar kenyang. Sungguh. Jangan paksa aku lagi, eo?” Yongri menghela nafas saat melihat wajah memelas Siwon. Ia akhirnya mengangguk kecil dan meletakkan makanan Siwon di meja samping tempat tidur.

“Kau tidak ingin memberitahu orangtuamu?” Tanya Yongri. Siwon menggeleng.

“Untuk apa? Aku tidak mau memperbesar masalah. Ah, bagaimana dengan kepalamu? Apa masih sakit?”

“Terkadang saat aku menggerakkan kepalaku, akan terasa sedikit perih. Mungkin karena jahitannya yang belum menyatu dengan kulitku. Tapi tidak apa-apa.” Siwon mengangguk dan menggenggam tangan Yongri.

“Berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi.” Kata Siwon yang membuat Yongri bingung.

“Melakukan apa?” Tanyanya.

“Jika sesuatu terjadi padaku, jangan pernah kau mencoba untuk membantuku seperti kemarin. Kau akan baik-baik saja seandainya tidak menghentikan Kyuhyun saat itu.” Jelas Siwon dengan lembut.

“Kau pikir aku akan diam saja saat melihatmu tidak berdaya seperti itu? Kau bisa mati di tangan Kyuhyun jika aku tidak dapat menghentikannya.”

“Selama kau masih berada disisiku, aku akan bertahan.”

“Itu tidak ada hubungannya.” Cibir Yongri. Siwon kembali menghela nafas panjang.

“Kau tidak akan pernah berpaling pada Kyuhyun, kan?” Tanya Siwon.

“Kau meragukanku?” Tanya Yongri balik.

“Tidak. Tidak seperti itu. Kau tidak tau jika laki-laki sudah mencintai seorang wanita.”

“Memangnya seperti apa?” Tanya Yongri ingin tau.

“Mereka akan melakukan apapun untuk memiliki wanita itu. Aku takut itupun akan terjadi pada Kyuhyun.” Jawab Siwon.

“Bukankah kau akan selalu ada disampingku? Atau kau akan meninggalkanku untuk menyakitiku lagi?”

“Jangan pernah berkata seperti itu, Yongri-ya. Setiap orang pernah mengalami titik di mana merasa sangat bodoh. Saat aku menyakitimu, disanalah  aku merasa sangat bodoh.”

“Mau tidak berjanji satu hal padaku?” Tanya Yongri sembari tersenyum.

“Apa?”

“Jika suatu hari nanti aku pergi untuk selamanya, berjanjilah kau tidak akan bersedih dan harus terus melanjutkan hidupmu.”

“Apa yang kau bicarakan?” Siwon tampak tidak suka dengan topik pembicaraan Yongri.

“Berjanjila, eo?” Yongri tampak mengguncang tangan Siwon yang masih menggenggam tangannya.

“Tidak.”

“Siwon-ah..”

“Di saat orang yang kucintai pergi meninggalkanku, apa kau pikir aku masih bisa hidup secara normal? Jangan bodoh! Aku akan ikut pergi bersamamu.” Yongri menatap mata Siwon dengan intens saat ucapan laki-laki itu meluncur dari mulutnya. Mata itu menunjukkan kesungguhan dan keyakinan. Membuat hati Yongri terasa hangat.

“Lalu, apa kau pikir jika kita mati, kita akan bertemu di atas sana?”

“Tentu.” Ucap Siwon yakin.

“Bagaimana bisa kau seyakin itu?”

“Takdir Choi Siwon adalah Choi Yongri. Dan takdir Choi Yongri adalah Choi Siwon.” Kata Siwon sembari mencubit gemas hidung Yongri.

“Ah sakit!” Keluh Yongri sembari memegangi hidungnya yang memerah. Siwon tersenyum geli melihat wajah kesal Yongri.

“Padahal kau berada di hadapanku. Kenapa aku merasa rindu denganmu?”

“Laki-laki aneh.” Sahut Yongri. Siwon membelalakan matanya mendengar sahutan Yongri.

“Keterlaluan! Kekasih sendiri kau bilang aneh? Memangnya aku salah?” Protes Siwon.

“Rindu pada kekasih sendiri tentu saja tidak salah. Tetapi akan menjadi aneh jika kau rindu pada kekasihmu, jelas-jelas dia ada di hadapanmu.”

“Makanya biarkan aku memelukmu, agar rasa rindunya terobati.” Kata Siwon sembari merentangkan tangannya. Yongri mencibir pelan.

“Kenapa tidak katakan saja jika kau ingin memelukku?” Siwon hanya tersenyum dan langsung menarik Yongri ke dalam pelukannya. Yongri membalas pelukan Siwon dan memejamkan matanya. Tampak menghirup aroma Siwon yang sangat disukainya.

 

~~~

 

Yongri tampak duduk gelisah di dalam sebuah cafe yang terdapat tidak jauh dari kantornya. Sangmi mengajaknya bertemu disini dan katanya gadis itu ingin mengajaknya berbicara. Kenapa harus di cafe? Kenapa tidak dirumah saja? Apalagi semenjak Yongri pulang ke rumah, Sangmi tidak pernah sekalipun mengajaknya berbicara. Bukankah ini aneh? Yongri segera menggelengkan kepalanya saat pikiran aneh itu merasuki otaknya. Sangmi adiknya, ia tidak boleh berpikiran yang macam-macam.

Yongri menegakkan tubuhnya saat melihat sosok Sangmi yang duduk di hadapannya. Sangmi menatap Yongri dengan wajah datar. Membuat Yongri bingung harus bersikap bagaimana.

“Kenapa wajahmu tegang seperti itu, eonni?” Tanya Sangmi sembari tersenyum sinis.

“A–ahh, anieya.” Jawab Yongri kaku.

“Kau bingung karena aku mengajakmu berbicara di sini dan bukan di rumah? Benar?” Dengan ragu Yongri mengangguk.

“Di rumah ada Ryeowook oppa dan aku tidak mau dia mengganggu. Lagipula, aku tidak mau merusak hubunganku yang sudah membaik dengannya.”

“Ah, ne.”

“Aku rasa, aku tidak perlu berbasa-basi. Aku hanya ingin bertanya, apa yang sudah eonni lakukan pada Kyuhyun?” Tanya Sangmi tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari Yongri.

“Kyuhyun?” Yongri membeo.

“Kurasa telinga eonni tidak bermasalah. Dan aku malas mengulang apa yang sudah aku katakan.” Ucap Sangmi ketus.

“Memangnya ada apa dengan Kyuhyun?” Tanya Yongri.

“Beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dan kau tau, keadaannya menggenaskan.” Jawab Sangmi. Wajah Yongri menengang seketika.

“Meng–menggenaskan? Apa maksudmu? Tidak terjadi apa-apa kan dengan Kyuhyun?” Yongri tampak sangat khawatir. Sangmi kembali tersenyum sinis.

“Mengkhawatirkannya, huh? Kenapa tidak kau terima saja cintanya jika kau mengkhawatirkan laki-laki itu?”

“Sangmi-ya..”

“Kyuhyun mabuk dan seperti orang kehilangan arah. Benar-benar menyedihkan.” Ujar Sangmi sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Yongri tampak mencerna kata-kata Sangmi.

“Aku bingung kenapa laki-laki selalu mabuk di saat sedang ada masalah. Siwon oppa juga seperti itu.” Kata Sangmi seolah ia tau semua tentang Siwon.

“Kau tampak sangat mengetahui tentang Siwon.” Yongri tidak dapat menutupi rasa cemburunya.

“Tentu saja. Eonni tentu tidak lupa jika aku pernah menjadi kekasihnya.”

“Aku tidak mungkin bisa lupa.” Tangan Yongri terasa bergetar saat ia mengatakan itu. Yongri mengepalkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas paha.

“Ah apa eonni tau jika Siwon oppa paling tidak bisa jika sudah merasa bersalah pada orang lain?”

“….”

“Oppa akan melakukan apapun untuk menghilangkan rasa bersalahnya itu, walaupun hatinya menentang.”

“Mwo?”

“Eonni mungkin tau jika oppa merasa bersalah padamu karena ia pernah menyakitimu. Tetapi apa eonni yakin jika Siwon oppa melakukannya bersungguh-sungguh? Apa eonni yakin jika hati Siwon oppa mendukung apa yang dilakukannya?”

“Apa maksudmu, Sangmi-ya? Kau ingin menjelek-jelekkan Siwon di hadapanku?” Jika tadi tangan Yongri merasa bergetar, sekarang justru ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat.

“Menjelek-jelekkan bagaimana? Aku mencintai Siwon oppa. Bagaimana mungkin aku menjelekkan orang yang aku cintai?”

“Lalu apa maksudmu mengatakan itu semua?”

“Aku hanya ingin eonni membuka mata eonni lebar-lebar. Kyuhyun sangat membenci Siwon oppa. Dan ia melakukan itu tidak mungkin tidak ada alasan yang jelas. Biasanya laki-laki lebih peka terhadap kelakuan sesama laki-laki. Kyuhyun tentu tau maksud dari semua gerak gerik Siwon oppa. Lagipula, kenapa eonni menyia-nyiakan Kyuhyun yang jelas-jelas sangat mencintaimu?” Dalam hati Sangmi benar-benar tersenyum puas saat melihat mata Yongri yang memerah dan tampak berkaca-kaca. Sepertinya rencana yang sudah disusunnya berjalan dengan lancar.

“Siwon juga sangat mencintaiku.” Kata Yongri berusaha meyakinkan hatinya bahwa Siwon tidak seperti yang Sangmi katakan.

“Dari awal Siwon oppa tidak akan menyakitimu jika dia memang mencintaimu.” Sahut Sangmi. Yongri menyeka airmata yang tiba-tiba keluar dan tersenyum kepada Sangmi. Sangmi mengumpat dalam hati saat melihat Yongri yang tersenyum.

“Apa ini rencanamu, eo?” Tanya Yongri.

“Mwo?” Sangmi tampak sangat terkejut dengan pertanyaan Yongri.

“Memfitnah Siwon di hadapanku, agar aku membenci Siwon dan kami berpisah. Begitu? Caramu sangat picik, Kim Sangmi.” Yongri tersenyum sinis kepada Sangmi. Sangmi mengatupkan rahangnya rapat-rapat dan berusaha menahan tangannya agar tidak mendarat di pipi Yongri.

“Kau akan menyesal karena tidak mempercayai kata-kataku.”

“Aku akan lebih menyesal jika mempercayai kata-katamu.” Yongri segera berdiri dari duduknya dan berbalik meninggalkan Sangmi yang menatap Yongri dengan penuh kebencian.

 

 

 

Yongri menghela nafas panjang sebelum menekan bel apartemen Kyuhyun. Kyuhyun tidak masuk kerja beberapa hari ini. Tepatnya semenjak insiden perkelahiannya dengan Siwon. Yongri tidak tau apa yang membuatnya berada di sana sekarang. Karena ia mengkhawatirkan Kyuhyun atau karena kata-kata Sangmi. Yongri kembali menekan bel saat pintu apartemen itu tak kunjung terbuka. Gadis itu memundurkan langkahnya saat dengan tiba-tiba pintu apartemen Kyuhyun terbuka. Yongri dan Kyuhyun sama-sama terkejut. Kyuhyun yang terkejut dengan kehadiran Yongri, serta Yongri yang terkejut dengan penampilan Kyuhyun yang tampak berantakan.

“Noona…” Kyuhyun langsung memeluk tubuh Yongri dengan erat dan seolah enggan melepaskannya. Yongri yang terkejut dengan perlakuan Kyuhyun yang tiba-tiba hanya dapat mematung tanpa niatan membalas pelukan Kyuhyun.

“Jangan membenciku, noona. Jangan tinggalkan aku.” Lirih Kyuhyun. Yongri dapat mencium bau alkohol yang keluar dari aroma tubuh Kyuhyun. Sangat menyengat sehingga Yongri tidak dapat menebak seberapa banyak Kyuhyun mengkonsumsinya.

“Kenapa kau seperti ini?” Tanya Yongri setelah dengan susah payah melepaskan pelukan Kyuhyun.

“Kau tampak kacau, Kyuhyun-ah. Seperti bukan dirimu. Kau yang biasanya berpenampilan bersih dan rapi, tapi sekarang persis seperti seorang gelandangan. Belum lagi bau alkohol yang tercium dari tubuhmu. Seberapa banyak kau minum alkohol, eo? Kenapa kau menjadi seperti ini?!” Suara Yongri tiba-tiba saja meninggi. Ia mendongak dan menatap wajah Kyuhyun yang tampak sangat lusuh.

“Sebenarnya siapa yang salah disini? Bukan aku, kan? Tetapi kenapa kalian membuat aku seperti orang jahat?!” Jerit Yongri dengan menangis. Yongri tidak suka saat melihat keadaan Kyuhyun yang seperti ini karena dirinya. Ia tidak mau ada orang yang tersakiti karena dia. Tetapi kenapa sepertinya tidak ada yang mau mengerti itu?

“Kita bisa bicara baik-baik, noona. Sebaiknya kau masuk dulu.” Kata Kyuhyun berusaha tenang. Kyuhyun menarik tangan Yongri dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Kyuhyun menggiring Yongri hingga akhirnya duduk di sofa ruang tamu. Mata Yongri tampak terpaku saat melihat beberapa botol alkohol yang sudah kosong di atas meja serta sebuah cangkir kecil yang berisi minuman terkutuk itu. Dengan geram Yongri mengambil salah satu botol itu dan melemparnya ke dinding kosong di hadapannya.

 

PRANGG!!

 

“Noona!” Kyuhyun tampak sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Yongri.

 

PRANGG!!

PRANGG!!

 

“Cukup, noona! Cukup!!” Kyuhyun menahan tangan Yongri yang hendak kembali mengambil botol alkohol itu. Yongri menangis histeris dan tampak memberontak di dalam pegangan Kyuhyun.

“LEPASKAN AKU!! LEPASKAN AKU!!” Jerit Yongri. Kyuhyun mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan Yongri yang tiba-tiba saja memiliki kekuatan lebih. Kyuhyun memeluk Yongri dengan sangat erat dan tentu saja Yongri masih terus memberontak.

“Biarkan aku tampak seperti orang jahat!! Biarkan aku melakukannya!!” Isaknya membuat Kyuhyun menatapnya dengan miris. Bukan seperti ini yang Kyuhyun inginkan. Kyuhyun hanya ingin memiliki Yongri, tetapi kenapa semuanya menjadi seperti ini?

“Bukan. Noona bukan orang jahat.” Bisik Kyuhyun tepat di telinga Yongri. Pemberontakan Yongri melemah saat mendengar bisikan Kyuhyun. Yongri mencengkram kemeja kusut Kyuhyun dan menangis sekuat tenaga.

“Kenapa di saat aku bahagia kalian tidak ikut bahagia? Tetapi kenapa saat aku tidak bahagia, kalian malah bahagia?”

“Tidak, noona. Tidak seperti itu.” Kyuhyun mengusap pelan punggung Yongri berusaha untuk menenangkan gadis itu.

“Tenanglah.” Kyuhyun masih terus mengusap punggung Yongri hingga waktu yang cukup lama. Ruang tamu Kyuhyun sudah seperti kapal pecah. Beling dimana-mana, dan mereka harus ekstra hati-hati saat berjalan jika tidak mau telapak kaki mereka terluka. Kyuhyun menunduk dan melihat Yongri memejamkan matanya. Yongri tertidur, Kyuhyun tau itu. Setiap orang yang habis menangis, mereka akan tertidur dengan sangat pulas. Apa itu bentuk istirahat setelah mengeluarkan semua emosi? Entah, Kyuhyun tidak memikirkannya. Dengan hati-hati Kyuhyun menyandarkan dirinya pada sandaran sofa dan tetap dalam posisi memeluk Yongri. Yongri sedikit menggeliat dan Kyuhyun menepuk-nepuk pelan punggungnya agar Yongri kembali nyaman.

‘Bisakah waktu berhenti di saat seperti ini?’ Batin Kyuhyun berbicara. Ia benar-benar ingin seperti ini terus dengan Yongri. Tidak ada yang lebih menyenangkan saat Yongri berada di sisinya. Berada dalam jangkauannya.

Kyuhyun merasakan getaran dari dalam tas Yongri. Dengan susah payah Kyuhyun menjangkau tas Yongri dan mengambil ponselnya. Laki-laki itu menghela nafas saat melihat nama Siwon tertera di layar ponsel Yongri.

“Sayang, kau dimana? Aku ada di kantormu, tetapi kau tidak ada.” Suara Siwon langsung terdengar oleh Kyuhyun begitu ia menyentuh gambar telepon berwarna hijau pada ponsel Yongri.

“Ehem..” Kyuhyun sedikit berdehem agar Siwon menyadari bahwa bukan Yongri yang menjawab teleponnya.

“Nuguya? Dimana Yongri?” Tanya Siwon saat menyadari suara laki-laki terdengar olehnya.

“Cho Kyuhyun.” Jawab Kyuhyun pelan.

“Mwo? Kenapa kau yang menjawab teleponku? Dimana Yongri?”

“Noona…sedang bersamaku.”

“Dimana? Aku akan menjemputnya.”

“Tidak bisakah sehari saja noona bersamaku?”

Aku tanya dimana!!” Suara Siwon mulai tidak sabaran.

“Kumohon, satu hari saja. Biarkan noona bersamaku.” Tidak ada sahutan dari Siwon. Namun sambungan telepon itu belum terputus. Kyuhyun tidak peduli jika ia harus memohon kepada Siwon. Yang terpenting ia bisa lebih lama bersama Yongri.

Jika kau menyakitinya, aku benar-benar akan membunuhmu.” Sudut bibir Kyuhyun secara otomatis tertarik membentuk sebuah senyuman saat Siwon mengatakan itu.

“Terima kasih.” TREK. Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada Yongri sebari mengecup puncak kepalanya. Ia menunduk dan memperhatikan wajah Yongri yang masih sedikit basah oleh airmata. Mata dan hidup gadis itu juga merah. Biarpun seperti itu, Yongri tetap terlihat cantik di mata Kyuhyun.

“Tidur yang nyenyak. Selamat malam.” Bisik Kyuhyun.

 

~~~

 

Yongri menggeliat kecil dan lama-lama kelamaan terbangun dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya pegal-pegal entah karena apa. Saat ia memperhatikan sekitar dan tersadar berada di dalam pelukan Kyuhyun, barulah ia tau apa yang menyebabkan tubuhnya pegal. Yongri melepaskan pelukan Kyuhyun dengan perlahan agar tidak menganggu tidur Kyuhyun. Namun nyatanya Kyuhyun tetap terbangun.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Kyuhyun dengan suara seraknya.

“Aku tidak akan pernah merasa baik selama kau seperti ini.” Jawab Yongri. Kyuhyun menghela nafas panjang.

“Apa salah jika aku seperti ini, noona?” Tanya Kyuhyun dengan ekspresi yang menyedihkan.

“Aku sakit, Kyuhyun-ah. Harus berapa kali kubilang kalau aku akan mati.”

“Semua orang akan mati, noona!” Sambar Kyuhyun langsung.

“Aku malas berdebat denganmu. Jika kau seperti ini terus, aku tidak akan pernah mau menemuimu lagi.” Kata Yongri dan segera berdiri dari duduknya untuk meninggalkan apartemen Kyuhyun. Kyuhyun dengan cepat berdiri dan menahan tangan Yongri.

“Biar aku antar.”

“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Baiklah, aku tidak akan seperti ini lagi. Biarkan aku mengantarmu pulang.”

“Kau janji tidak akan seperti ini lagi?”

“Aku janji. Kajja!”

Sepuluh menit sudah mobil Kyuhyun melaju di jalanan Seoul yang lumayan padat pagi itu. Tidak ada pembicaraan yang berarti antara kedua insan itu.

“Maafkan aku.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba, membuat Yongri menolehkan kepalanya dan menatap Kyuhyun dengan bingung.

“Untuk apa?”

“Kepalamu.” Yongri meraba kepalanya dan mengangguk singkat.

“Tidak apa-apa.” Balas Yongri.

“Pasti sakit, kan?” Wajah Kyuhyun tampak sangat menyesal.

“Tentu saja. Bohong sekali jika aku mengatakan tidak sakit. Apalagi saat dokter itu menjahit pelipisku ini. Ugghh, benar-benar tidak berperasaan dokter itu.” Keluh Yongri seperti anak kecil dan berhasil membuat Kyuhyun tersenyum geli.

“Apa kau tidak dibius?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak. Dokter itu bilang, aku sudah dewasa dan sakitnya hanya sedikit. Benar-benar bermulut manis.” Jawab Yongri dan kali ini membuat Kyuhyun tertawa. Yongri ikut tertawa dan bernafas lega saat melihat tawa Kyuhyun yang terdengar sangat renyah di telinganya.

“Mau kuberitahu satu hal padamu?” Tanya Yongri membuat tawa Kyuhyun terhenti.

“Apa?”

“Saat tertawa kau lebih tampan.” Kata Yongri dan Kyuhyun tersenyum tipis.

‘Nyatanya setampan apapun diriku, kau tidak akan melihat ke arahku, noona.’ Batin Kyuhyun. Mobil Kyuhyun berhenti tepat di depan kediaman keluarga Kim beberapa saat kemudian. Yongri melepaskan seatbeltnya dan tersenyum pada Kyuhyun.

“Terima kasih sudah mengantarkanku.” Kata Yongri. Kyuhyun hanya mengangguk singkat dan tersenyum kecil.

“Aku masuk dulu. Kau pulangnya hati-hati, ya.”

“Ne, noona.” Yongri segera turun dari mobil Kyuhyun dan memasukki rumah. Saat ingin menaiki tangga, langkah Yongri terhenti karena kepalanya yang tiba-tiba sakit luar biasa. Kali ini sakitnya berbeda dari sebelum-sebelumnya. Yongri benar-benar tidak bisa menahan rasa sakitnya. Sebentar saja keringat dingin mengalir dari kedua pelipis Yongri yang masih di perban.

“Akkhhh-” erangan kesakitan terdengar jelas dari mulut Yongri. Yongri hendak mengabaikan sakitnya dan ingin kembali melangkah. Namun kakinya tidak bisa digerakkan. Kakinya terasa dingin dan kaku.

‘Kakiku…’ Berulang kali Yongri mencoba untuk menggerakkannya, namun hasilnya nihil. Wajah Yongri basah oleh keringat serta airmata. Perasaan takut menghampirinya. Entah karena rasa sakit dikepala yang tidak bisa ditahannya, atau karena ketakutan, tubuh Yongri tiba-tiba saja lemas dan akhirnya tidak sadarkan diri. Dari atas, Sangmi melihat semuanya dengan jelas. Saat Yongri mulai kesakitan hingga akhirnya sekarang pingsan. Tubuh Sangmi bergetar. Kedua tangannya mengepal dan mata gadis itu berkaca-kaca. Ia ingin melangkahkan kakinya menghampiri Yongri. Namun kedua kaki itu seolah dipaku dengan kuat hingga tidak bisa bergerak.

“Eo–eonni..” Gumamnya pelan.

“Yongri!” Ny. Kim yang baru keluar dari kamarnya tampak sangat terkejut saat melihat Yongri yang tergeletak pingsan di lantai rumah.

“Yongri,, bangun sayang!! Yongri!!” Ny. Kim mengguncang kuat tubuh Yongri namun tidak ada hasilnya.

“Sangmi! Apa yang kau lakukan disana? Cepat bantu aku menggendong kakakmu!!” Teriak Ny. Kim. Tubuh Sangmi tidak merespon apapun saat mendengar teriakan Ny. Kim. Tubuh itu malah semakin bergetar dan Sangmi merasa tangannya berkeringat karena terlalu kuat mengepal.

“Sangmi!!” Teriak Ny. Kim lagi.

“….”

“Yeobo!! Wookie!!!” Ny. Kim tampak putus asa saat melihat Sangmi yang tak kunjung bergerak, hingga akhirnya memanggil Tn. Kim dan Ryeowook.

“YEOBO!!!” Airmata Ny. Kim mengalir begitu saja seiring dengan teriakannya. Tn. Kim yang terkejut mendengar teriakan istrinya segera keluar dari kamar.

“Ada apa?” Tanyanya.

“Astaga!!” Suara berat Tn. Kim tampak menggelegar saat melihat apa yang terjadi.

“Ada apa dengan Yongri?” Tanya Tn. Kim setelah mengambil alih tubuh Yongri dari Ny. Kim.

“Saat aku keluar kamar, Yongri sudah pingsan. Cepat bawa dia kerumah sakit, yeobo. Aku takut terjadi apa-apa.” Ucap Ny. Kim masih dengan menangis.

“Noona!!” Ryeowook segera turun dari lantai dua dan menghampiri Tn. dan Ny. Kim yang keluar rumah untuk membawa Yongri ke rumah sakit. Sangmi tampak tidak bergerak sama sekali sampai mobil yang di bawa Ryeowook meninggalkan rumah. Airmata Sangmi tiba-tiba saja mengalir. Gadis itu menyeka kasar airmatanya dan segera turun ke bawah. Dengan setengah berlari ia keluar rumah dan mencari taksi untuk menyusul ke rumah sakit.

 

 

 

“Mwo? Penggumpalan darah?” Tn. Kim tampak sangat terkejut saat mendengar penjelasan dari Dokter Yoon.

“Bagaimana mungkin, dok?” Tanya Ny. Kim yang juga ikut terkejut.

“Tuan dan Nyonya baru tau? Padahal Yongri-ssi sudah mengalami penggumpalan darah ini beberapa bulan yang lalu. Ryeowook-ssi juga sudah mengetahuinya.”

“Apa?!” Lagi, Tn. dan Ny. Kim terkejut dengan apa yang diberitahukan oleh Dokter Yoon.

“Tapi maafkan saya, Tuan Kim, Nyonya Kim. Penggumpalan darah yang Yongri-ssi alami sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Penggumpalan yang terjadi semakin besar. Apabila kita masih memaksakan untuk operasi, Yongri-ssi bisa meninggal.”

“Anakku…” Ny. Kim semakin terisak setelah Dokter Yoon mengucapkan kata-kata itu. Tn. Kim menarik Ny. Kim ke dalam pelukannya dan menenangkannya. Ia juga merasakan kesedihan atas apa yang dialami anak sulungnya itu.

“Benar-benar tidak ada jalan keluar, dokter?” Tanya Tn. Kim penuh harap.

“Maafkan saya, Tuan Kim.” Sesal Dokter Yoon dengan wajah murung. Tn. Kim memejamkan matanya seolah menenangkan dirinya. Ia benar-benar tidak menyangka Yongri dapat mengalami ini semua.

“Dan saya ingin memberitahukan satu hal kepada kalian. Apabila nanti saat Yongri-ssi sadar dan ia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya, saya harap kalian dapat menenangkannya. Itu adalah resiko yang harus di tanggungnya karena tidak mau melakukan operasi beberapa bulan yang lalu.” Jelas Dokter Yoon.

“Maksud dokter, Yongri akan lumpuh?” Tanya Ny. Kim. Dengan berat hati Dokter Yoon mengangguk kecil. Isakan Ny. Kim semakin menjadi melihat kepala Dokter Yoon yang mengangguk.

“Terima kasih, dokter.” Ucap Tn. Kim dan segera keluar dari ruangan Dokter Yoon.

Tn. dan Ny. Kim menghampiri ruang dimana Yongri berada. Ny. Kim masih menangis di dalam rangkulan Tn. Kim. Terlihat Ryeowook yang sedang duduk sembari menundukkan kepalanya di depan ruang rawat Yongri. Ryeowook yang mendengar langkah kaki segera mendongak.

 

PLAKKK!!

 

Ryeowook merasakan pipi kanannya panas dan perih. Tangan besar Tn. Kim mendarat sempurna di pipi mulusnya itu. Ia memegangi pipinya dan menatap Tn. Kim dengan bingung.

“A–abeoji..”

“Bagaimana mungkin kau dapat menyembunyikan penyakit Yongri pada kami, huh?! Apa kau tidak punya otak?!” Bentak Tn. Kim pada Ryeowook. Ryeowook hanya dapat menundukkan kepalanya dan tidak melakukan perlawanan sama sekali.

“Kau tau apa akibatnya kalian menutupi ini dari kami? KAU TAU, HUH?!” Tampak beberapa orang yang berada di lorong rumah sakit, di mana kamar Yongri berada, menoleh ke arah Tn. Kim ketika mendengar teriakan dari laki-laki paruh baya itu.

“Yongri tidak bisa di operasi lagi!! Ia bisa lumpuh!!” Tn. Kim kembali ingin menampar Ryeowook namun Ny. Kim menahannya.

“Sabarlah, yeobo..” Ujar Ny. Kim masih dengan menangis. Ryeowook mendongak dan menatap Tn. Kim.

“Aku tau, abeoji. Aku tau noona bisa lumpuh.” Lirih Ryeowook dengan wajah sedih.

“Lalu kenapa kau membiarkannya seperti ini, jika kau tau?!”

“Noona yang menginginkannya. Noona tidak mau membuat kalian khawatir.” Jawab Ryeowook. Tn. Kim mengalihkan pandangannya dan tampak tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ny. Kim masih terus menangis tersedu-sedu. Dari balik tembok putih di dekat kamar rawat Yongri, Sangmi tampak bersandar dengan menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar. Sangmi benar-benar tidak percaya jika Yongri mengalami sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya. Penggumpalaan darah? Bahkan ia masih menyakiti Yongri saat kakak perempuannya itu mengalami ini semua. Sangmi mendengar semua yang dikatakan oleh Dokter Yoon tadi. Ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Yongri sehingga memutuskan untuk menguping. Tetapi apa yang didengarnya benar-benar membuatnya terpukul.

“Tidak..mungkin.. Eo–eonni…”

 

 

Ryeowook dan kedua orangtuanya mengelilingi ranjang rumah sakit tempat Yongri berbaring. Gadis itu masih belum sadar. Tabung oksigen terpasang rapi di wajahnya. Jarum infuspun tampak tertancap di tangan kirinya. Wajah itu terlihat pucat dan tidak berdaya. Ketiga orang yang melihat itu tampak benar-benar merasa miris dan sedih. Masih sulit di percaya Yongri dapat mengalami ini semua.

“Bangun, sayang…” Ny. Kim mengusap puncak kepala Yongri dengan perasaan sayang. Ia berusaha mati-matian menahan isakannya yang mendesak untuk keluar.

“Bagaimana mungkin kau merahasiakan ini dari kami? Kenapa kau menanggungnya sendirian, nak..” Lirih Ny. Kim sembari menyeka airmatanya. Kedua mata Yongri yang tertutup terlihat seperti ingin terbuka. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya hingga akhirnya mata itu terbuka sempurna.

“Yongri-ya..” Yongri menoleh pelan saat mendengar suara Ny. Kim sampai ke telinganya. Gadis itu memaksakan senyumnya untuk menenangkan sang ibu.

“A–a–apa y-yang terja–di?” Tanya Yongri terbata. Airmata Ny. Kim kembali mengalir saat mendengar suara Yongri yang begitu lemah.

“Tadi kau pingsan, sayang..” Jawab Tn. Kim.

“Pingsan?” Tn. dan Ny. Kim mengangguk kompak. Yongri melepaskan oksigen yang terpasang diwajahnya. Ia merasa itu mengganggu pergerakannya untuk berbicara. Saat ia mencoba untuk bangun, Yongri merasakan kakinya kaku. Raut panik tercetak jelas di wajah cantik Yongri. Yongri menyibakkan selimut rumah sakit yang membalut tubuhnya. Ia menggeser kakinya untuk bergerak, namun itu terasa sangat berat.

“Kakiku…” Ucap Yongri takut.

“Noona tenanglah. Kau harus banyak istirahat.” Ujar Ryeowook memaksa Yongri untuk kembali berbaring. Tetapi Yongri menepis kasar tangan Ryeowook.

“Kakiku tidak bisa bergerak!!” Jerit Yongri histeris.

“Yongri, tenangkan dirimu, sayang.” Ny. Kim mencoba memeluk Yongri.

“Eommoni!! Kakiku, eommoni!!” Airmata mengalir dari kedua sudut mata Yongri.

“Tidak apa-apa, noona..”

“Tidak apa-apa, bagaimana?! Kakiku tidak bisa bergerak, Wookie!!!” Jerit Yongri lagi. Ia masih terus mencoba menggerakkan kakinya namun tidak mendapatkan hasil apapun. Yongri mencengkram erat sprei tempatnya berbaring. Di otaknya saat ini sedang berputar satu kata yang membuatnya sangat ketakutan. Lumpuh.

“Kau harus sabar, sayang.” Ny. Kim mengeratkan pelukannya pada Yongri. Yongri menangis sesegukkan di dalam pelukan Ny. Kim.

“Aku lumpuh, eommoni. Aku lumpuh.” Isaknya.

“Tidak apa-apa, sayang. Ada eommoni yang akan selalu membantumu.”

“Aku cacat.. Aku gadis cacat..” Ryeowook tidak dapat menahan airmatanya saat mendengar kata-kata Yongri yang membuat hatinya miris. Ia tidak menyangka jika Yongri akan benar-benar lumpuh akibat penggumpalan darah itu. Sedangkan Tn. Kim dengan cepat mengalihkan pandangannya karena tidak tahan melihat keadaan anaknya yang terlihat menyedihkan.

“Bagaimana setelah ini aku menjalankan hidupku, eommoni?? Apa salahku hingga Tuhan memberikan hukuman seberat ini?? Aku tidak mau lumpuh.. Aku tidak mau lumpuh..” Yongri meremas baju yang dipakai Ny. Kim. Sakit di kepalanya belum benar-benar hilang. Dan sekarang ia mendapati dirinya tidak dapat berjalan. Yongri merasa selama ini dia tidak pernah melakukan perbuatan jahat kepada siapapun. Tetapi kenapa cobaan seperti ini yang harus didapatkannya? Yongri benar-benar tidak sanggup dan tidak akan pernah sanggup menghadapinya.

~~~

–To Be Continued–

Advertisements

92 thoughts on “Regret – Part 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s