Regret – Part 8

Regret – Part 8

Author

Choineke

Title

Regret

Cast

 Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Cho Kyuhyun, Kim Sangmi, Kim Ryeowook

Genre

Romance, Sad

Length

Chapter

Rating

PG-15

 

Apapun yang kita miliki di dunia ini, tidak akan pernah kita sadari dan syukuri sebelum kita kehilangannya. Setelah hilang, yang akan kita rasakan hanya penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah ada gunanya.

 

Author POV

Yongri menatap Siwon dengan mata bulatnya yang dikerjapkan berkali-kali. Masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Apa penggumpalan darah itu berefek kepada telinganya? Tetapi Dokter Yoon mengatakan penggumpalan darah itu berefek pada kakinya. Lalu kenapa sekarang ia merasa telinganya bermasalah?

“Aku mencintaimu.” Kembali kata-kata itu terdengar oleh Yongri. Yongri langsung mendorong dada Siwon agar terdapat jarak diantara mereka. Yongri menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan kuat.

“Yongri, ada apa?” Tanya Siwon khawatir.

“Aku pasti salah dengar.” Gumam Yongri masih dengan menggelengkan kepalanya. Siwon kembali mendekati Yongri dan menangkup wajah yeoja mungil itu.

“Tidak. Kau tidak salah dengar, Yongri-ya. Aku memang mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Ujar Siwon dengan sangat jelas. Arimata Yongri kembali mengalir mendengar kata-kata Siwon.

“Kenapa baru sekarang?” Tanya Yongri.

“Mwo?”

“Kenapa baru sekarang mengatakannya?” Tanya Yongri lagi. Siwon menghela nafas dan menundukkan kepalanya. Merasa sangat bersalah.

“Maafkan aku.” Sesal Siwon.

“A–aku…aku..aku tidak bisa.” Ucap Yongri pelan. Siwon mendongakkan kepalanya dan menatap Yongri dengan intens.

“Yongri-ya…”

“Semuanya sudah terlambat.”

“Tidak. Tidak ada yang terlambat. Kita bisa memulainya dari awal. Kita bisa kembali bertunangan, huh?” Siwon mencoba meyakinkan Yongri.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa noona akan menikah denganku?” Siwon dan Yongri sontak menoleh saat mendengar sebuah suara yang sangat mereka kenal.

“Kyuhyun-ah..”

“Jauhkan tanganmu dari wajah calon istriku.” Desis Kyuhyun sembari menatap tajam Siwon.

“Jangan pernah bermimpi.” Kata Siwon sembari tersenyum sinis. Kyuhyun ikut tersenyum sinis.

“Kau harus mulai menerima kenyataan, Siwon-ssi. Noona bukan milikmu lagi. Lebih baik berhenti menganggunya dan biarkan dia bahagia bersamaku.”

“Aku tidak akan pernah melakukannya. Jangan munafik, Kyuhyun-ssi. Yongri hanya mencintaiku. Selamanya akan seperti itu.”

“Cukup..” Ujar Yongri pelan dengan nafas tersengal. Kepalanya kembali terasa sangat sakit. Ia memejamkan matanya mencoba menahan sakitnya.

“Aku bisa membuat noona mencintaiku. Apa kau pikir noona orang yang bodoh? Noona tidak mungkin mau terus mencintai seseorang yang sudah menyakitinya terus menerus.” Kyuhyun seolah tidak sadar dengan keadaan Yongri sekarang.

“Yongri memang tidak bodoh. Tetapi kau yang bodoh. Aku yakin didalam hati kecilmu, kau tau apa yang dirasakan oleh Yongri.”

“Kau-”

“Akhhh..” Erangan kesakitan keluar dari mulut Yongri saat sakit itu semakin menjadi. Mendengar perdebatan Siwon dan Kyuhyun membuatnya merasa sangat pusing.

“Yongri-ya..” Siwon yang memang berada lebih dekat dengan Yongri langsung memegang kedua bahu Yongri. Wajah khawatir tidak bisa disembunyikan oleh Siwon.

“Noona.. Gwenchana?” Kyuhyun menepis tangan Siwon dan mengambil alih Yongri.

“Sakit…Kyuhyun-ah..” Ucap Yongri terbata.

“Kita istirahat, huh?” Yongri mengangguk.

“Pergilah dan jangan pernah datang lagi.” Ujar Kyuhyun tetap dengan menatap tajam Siwon.

“Tidak akan.” Balas Siwon cepat.

“Pergi…Siwon-ah..” Siwon menatap Yongri dengan pandangan terluka saat kata-kata itu meluncur dari mulutnya.

“Bukankah sudah kukatakan aku mencintaimu, Yongri-ya.. Maafkan aku. Kumohon jangan menolakku.” Mohon Siwon dengan wajah memelas. Yongri menggeleng pelan.

“Pergi..”

“Baik, aku akan pergi. Tapi ingat, Yongri-ya. Aku tidak akan pernah menyerah sampai kau kembali padaku. Aku tau isi hatimu. Permisi.” Siwon segera berlalu dari hadapan Yongri dan Kyuhyun. Airmata Yongri kembali mengalir dengan perlahan. Kyuhyun sendiri hanya menghela nafas berkali-kali mencoba menghilangkan emosinya.

“Ayo kita ke kamar.” Ujar Kyuhyun sembari menuntun Yongri menuju kamar. Sesampainya di kamar, Kyuhyun membantu Yongri berbaring dan tak lupa menyelimutinya. Kyuhyun duduk di tepi ranjang sembari menatap Yongri yang saat itu juga sedang menatapnya.

“Sudah lebih baik?” Tanya Kyuhyun yang disambut anggukan oleh Yongri.

“Kyuhyun-ah…”

“Ne?”

“Apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku calon istrimu? Dan kau bilang kita akan menikah? Jelaskan padaku apa maksudnya..” Kyuhyun menghela nafas mendengar pertanyaan Yongri.

“Aku hanya mengatakan apa keinginanku, noona. Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin kau menjadi istriku.” Jawab Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah…”

“Kumohon jangan pernah kembali pada Siwon hyung, noona. Tidak apa-apa jika kau tidak bisa hidup bersamaku. Tapi jangan pernah menerimanya kembali. Jebal.” Pinta Kyuhyun dengan mata berkaca-kaca. Yongri tertegun melihat Kyuhyun yang akan menangis. Tidak pernah-pernah Kyuhyun menunjukkan sisi lemahnya seperti ini.

“Setiap manusia boleh bersikap egois, kan? Aku ingin bersikap egois untuk kali ini saja. Jangan kembali pada Siwon hyung dan cukup berada disisiku.”

 

~~~

 

Pagi hari di hari Minggu cukup cerah dengan matahari yang tidak terlalu menyengat. Yongri berdiri di atas balkon dengan pikiran bermacam-macam. Ingin rasanya Yongri membuang otaknya jauh-jauh agar ia tidak perlu menghabiskan waktu untuk berpikir. Siwon dan Kyuhyun. Dua laki-laki yang sangat berarti untuknya. Dua laki-laki yang sangat bertolak belakang. Yongri menghembuskan nafas panjang sembari menatap langit.

“Sedang apa disini, noona?” Suara Ryeowook mengagetkan Yongri.

“Ouh, kau mengagetkanku.” Keluh Yongri. Ryeowook hanya tersenyum tipis.

“Hari ini cuaca sangat baik.” Gumam Ryeowook. Yongri mengangguk setuju.

“Apa yang sedang noona pikirkan?”

“Ne?”

“Keningmu berkerut. Itu tandanya kau sedang memikirkan sesuatu, kan? Boleh aku tau?” Yongri menatap Ryeowook sebentar sebelum akhirnya menundukkan kepalanya. Ryeowook tampak ikut diam menanti Yongri berbicara. Sesaat kemudian, Yongri kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Ryeowook.

“Wookie..”

“Ya?”

“Aku ingin pulang.”

“Mwo?!” Ryeowook tidak dapat menutupi keterkejutannya.

“Aku ingin pulang ke rumah.”

“Noo–noona yakin?” Yongri mengangguk pasti.

“Tidak apa-apa jika harus bertemu Sangmi?” Ryeowook kembali memastikan. Yongri terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

“Aku tidak bisa terus-terusan menghindarinya, kan? Lagipula, aku rindu aboeji dan eommoni.” Ujar Yongri. Ryewook mengalihkan pandangannya dari Yongri.

“Kenapa sekarang aku yang tidak yakin jika kau pulang?” Gumam Ryeowook.

“Bukankah sudah kukatakan aku tidak apa-apa. Percayalah.” Sahut Yongri.

“Aku hanya takut, noona. Aku takut Sangmi menyakitimu. Tidakkah lebih baik seperti ini? Atau mungkin aku bisa membawa abeoji dan eommoni kesini untuk bertemu denganmu.” Bujuk Ryeowook. Yongri tersenyum dan menggeleng pelan.

“Aku ingin pulang. Bukankah sudah jelas?” Ujar Yongri keras kepala. Ryeowook menghela nafas.

“Yakin?”

“Yakin.”

“Kapan kau mau pulang?”

“Hari ini.”

“Mwo?!”

 

 

 

Yongri menatap rumah keluarga Kim dengan perasaan rindu luar biasa. Ryeowook berdiri disebelah Yongri dengan membawa tas berisi pakaian Yongri.

“Abeoji dan eommoni pasti ada di dalam, kan?” Tanya Yongri tanpa menatap Ryeowook.

“Noona tidak mungkin lupa kebiasaan mereka jika hari minggu.” Jawab Ryeowook. Yongri tersenyum tipis.

“Aku tidak lupa. Abeoji dan eommoni pasti menghabiskan waktu berdua di dalam kamar.” Ujar Yongri.

“Mau masuk sekarang?” Yongri mengangguk.

“Kajja.”

Yongri dan Ryeowook berjalan beriringan memasuki rumah. Saat masuk ke dalam, suasana rumah sangat sepi. Hanya terlihat pembantu rumah tangga yang sedang membersihkan rumah.

“Noona tunggu saja disini. Aku akan panggilkan abeoji dan eommoni.” Ujar Ryeowook sembari meletakkan tas yang dibawanya di lantai. Yongri mengangguk singkat dan duduk di sofa. Beberapa kali Yongri menarik nafas panjang dan menghela nafas. Tiba-tiba saja ia merasa gugup. Gugup jika nanti bertemu Sangmi. Bagaimana ia harus bersikap? Yongri tidak tau. Apakah ia harus marah atau bersikap biasa pada Sanmi? Lagi-lagi Yongri tidak tau.

“Yongri-ya…” Yongri segera menoleh saat mendengar suara Ny. Kim. Yongri berdiri dari duduknya dan segera menghampiri Ny. Kim.

“Eommoni..” Ujarnya dan memeluk Ny. Kim dengan sangat erat.

“Oh anakku. Aku sangat merindukanmu.” Ucap Ny. Kim dengan suara bergetar.

“Aku juga merindukanmu, eommoni.” Balas Yongri. Tn. Kim tampak tersenyum lega dan membelai kepala Yongri yang masih berada di pelukan istrinya.

“Kau baik-baik saja, kan?” Tanya Ny. Kim setelah melepaskan pelukannya. Yongri mengangguk cepat dan tersenyum. Ny. Kim membelai wajah Yongri dengan sayang.

“Tidak mau memeluk ayahmu?” Sindir Tn. Kim sembari merentangkan kedua tangannya. Yongri tersenyum geli dan segera berhambur kedalam pelukan Tn. Kim.

“Aku merindukanmu, abeoji.” Gumam Yongri.

“Abeoji juga, sayang.” Tn. Kim mengecup puncak kepala Yongri. Sesaat kemudian ia melepaskan pelukannya.

“Kami kira kau tidak mau kembali kesini.” Kata Tn. Kim.

“Maafkan aku, abeoji. Maaf atas sikapku yang kekanak-kanakkan.” Sesal Yongri dengan menundukkan kepalanya. Tn. dan Ny. Kim tersenyum kecil.

“Bukankah putri kami yang satu ini memang masih anak-anak?” Goda Tn. Kim.

“Abeoji!!” Yongri memukul pelan dada Tn. Kim yang masih terlihat bidang. Tn. Kim tertawa senang dan kembali menarik Yongri ke dalam pelukannya.

“Kau tidak akan pergi lagi, kan?” Tanya Ny. Kim. Yongri melepaskan pelukan Tn. Kim dan menatap Ny. Kim.

“Tidak akan, eommoni. Aku akan tetap disini bersama kalian.” Jawab Yongri.

“Baguslah kalau seperti itu. Siang ini kita harus makan siang bersama. Aku akan siapkan terlebih dahulu.” Ujar Ny. Kim.

“Biar aku bantu, eommoni.” Sahut Yongri. Ny. Kim tersenyum dan mengangguk singkat. Tn. Kim dan Ryeowook tidak dapat menyembunyikan senyum mereka. Saat Ny. Kim dan Yongri sudah menghilang di balik dapur, Tn. Kim menatap Ryeowook.

“Kau yang membujuknya untuk pulang?” Tanya Tn. Kim. Ryeowook menggeleng pelan.

“Tiba-tiba saja noona ingin pulang. Aku justru ingin menahannya agar tidak usah pulang.” Jawab Ryeowook polos. Tn. Kim mengangkat tangannya dan menjitak pelan kepala Ryeowook.

“Dasar bodoh! Kau tau kalau kami sangat merindukannya. Dan kau ingin menahannya agar tidak pulang. Apa kau gila?” Protes Tn. Kim.

“Apa abeoji tidak berpikir bagaimana jika nanti noona bertemu dengan Sangmi?” Tanya Ryeowook kesal. Tn. Kim terdiam mendengar pertanyaan Ryeowook.

“Jika sudah begini, abeoji pasti mendukungku karena menahan noona untuk pulang.” Ucap Ryeowook dengan percaya diri.

“Cih! Masalah tidak akan selesai jika mereka tidak saling bertemu. Justru bagus jika mereka dapat saling bertemu.” Ucap Tn. Kim.

“Aboeji!!” Ryeowook mengerang kesal saat melihat Tn. Kim berlalu begitu saja dari hadapannya.

“Ahh benar-benar tidak peka.” Keluhnya.

 

 

 

Ruang keluarga malam itu di kediaman keluarga Kim terasa lebih hangat daripada biasanya. Tawa dan canda terdengar dari mulut Tn. dan Ny. Kim serta Yongri dan Ryeowook. Yongri mampu menghilangkan sebentar beban pikiran yang selama ini menghimpit otaknya. Ia tidak perlu memikirkan Siwon maupun Kyuhyun.

“Jadi Wookie-ya, sebaiknya kau segera mengenalkan gadis yang berkencan denganmu waktu itu.” Ujar Ny. Kim.

“Gadis yang mana, eommoni? Dan aku tidak pernah berkencan.” Bantah Ryeowook dengan wajah memerah.

“Eish, kau mau aku tunjukkan foto-fotomu saat berkencan dengannya?”

“Abeoji!! Ahh kenapa juga kau harus menyuruh orang mengikutiku.” Gerutu Ryeowook.

“Jadi siapa gadis itu?” Tanya Ny. Kim. Yongri yang duduk di samping Ryeowook hanya dapat tersenyum melihat wajah Ryeowook yang memerah karena malu.

“Dia rekan bisnisku.” Jawab Ryeowook malu-malu.

“Rekan bisnis yang mana? Kenapa aku tidak tau?” Tanya Tn. Kim bingung.

“Abeoji memang tidak tau karena dia rekan bisnis yang spesial.”

“Mwo? Hahahaha…” Ketiga orang disana tidak dapat menahan tawa saat mendengar jawaban Ryeowook. Ryeowook sendiri hanya dapat menunduk sembari tersenyum malu. Namun tawa yang tadinya terdengar renyah tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Keempat pasang mata disana menatap seseorang yang sedang berdiri di ujung ruang keluarga. Kembali Yongri merasakan gugup saat melihat kehadiran Sangmi disana. Yongri meremas jari-jarinya untuk menghilangkan gugup.

“Sangmi-ya,, ayo ikut duduk disini.” Ajak Ny. Kim dengan tersenyum lembut. Sangmi mengepalkan kedua tangannya berada di samping tubuhnya. Ia menatap Yongri dengan tajam dan tanpa berkedip sedikitpun. Sesaat kemudian, tanpa berkata apapun Sangmi segera berlalu dari hadapan mereka. Keempat orang yang ada di sana hanya mampu terdiam dan tidak tau harus berkata apa.

“Maaf.” Ujar Yongri tiba-tiba dengan menundukkan kepala.

“Waeyo noona?” Tanya Ryeowook dengan nada tidak suka.

“Bukan salahmu.” Sambar Tn. Kim langsung. Yongri diam mendengar ucapan Tn. Kim.

“Aku lelah dan mau istirahat. Sebaiknya kalian juga beristirahat.” Ujar Tn. Kim seraya berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruang keluarga.

“Istirahatlah.” Ny. Kim juga ikut beranjak dari duduknya menyusul sang suami.

“Wookie, apa aku harus menemui Sangmi?” Tanya Yongri pada Ryeowook.

“Andwae! Untuk apa menemuinya?” Tanya Ryeowook balik.

“Aku tidak bisa seperti ini teruskan dengan Sangmi?”

“Bukan kau yang harus menemuinya, noona. Tapi dia yang harus menghampirimu. Dia harus minta maaf padamu.”

“Tapi-”

“Sudahlah. Sebaiknya sekarang kau istirahat. Ingat, kau tidak boleh memikirkan masalah yang berat-berat. Mau kepalamu sakit lagi?” Yongri menggeleng pelan.

“Kalau begitu ayo kita istirahat sekarang.”

“Arraseo.”

 

~~~

 

Siwon memasukki apartement Yongri dan menemukan keadaan sepi. Ia mencoba menghampiri kamar Yongri dan menemukan keadaan yang sama. Namun bedanya, bukan hanya suasana kamar itu yang sepi, tetapi juga isi dari kamar itupun sepi. Siwon membuka lemari pakaian yang ada di kamar itu dan tidak menemukan sehelaipun pakaian Yongri. Laki-laki tampan itu menghela nafas kecewa.

“Lagi-lagi kau menghindariku.” Gumam Siwon. Siwon keluar dari kamar Yongri dan memperhatikan keadaan sekitar. Ia mengecek seluruh ruangan yang ada di sana dan tidak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan Yongri sekarang.

“Apa dia pulang kerumah?” Tanyanya pada diri sendiri. Siwon mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sangmi. Cukup lama Siwon harus menunggu hingga akhirnya sambungan terjawab.

Yoboseo oppa…” Sapa Sangmi senang.

“Sangmi-ya, kau dimana?” Tanya Siwon.

Aku dirumah. Wae? Mau bertemu denganku?

“Apa Yongri ada dirumah?”

“….”

“Sangmi-ya…”

Kau menghubungiku cuma untuk menanyakan keberadaan eonnie, huh?

“Apa dia ada dirumah?” Tanya Siwon lagi seolah tidak memperdulikan Sangmi yang merasa kecewa.

Maaf tapi aku tidak punya waktu hanya untuk mengetahui dimana keberadaan eonnie.” Sambungan telepon tiba-tiba saja langsung diputuskan oleh Sangmi. Siwon menatap layar ponselnya dengan kesal dan perasaan campur aduk. Namun sesaat kemudian Siwon mengalihkan pandangannya ke arah pintu apartement saat mendengar pintu itu terbuka. Tampak Kyuhyun memasukki apartement dan belum menyadari kehadiran Siwon. Ketika ia mendongak, barulah Kyuhyun tau Siwon berdiri tak jauh darinya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Kyuhyun ketus.

“Dimana Yongri?”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Yongri tidak ada disini. Semua pakaiannya juga tidak ada.”

“Mwo?!” Kyuhyun yang tidak percaya dengan kata-kata Siwon, memasukki kamar Yongri dan menemukan keadaan yang sama seperti yang Siwon temukan. Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Yongri. Erangan frustasi meluncur dari mulut Kyuhyun saat mendapatkan bahwa ponsel Yongri tidak aktif. Saat mencoba menghubungi Ryeowook, Kyuhyun malah tidak mendapat jawaban. Kyuhyun keluar dari kamar dan menghampiri Siwon.

“Ini semua pasti karena kau.” Ucapnya langsung.

“Mwo?”

“Noona pasti pergi karena menghindarimu.” Siwon tertawa sinis.

“Kau gila? Untuk apa Yongri menghindariku? Atau mungkin dia bosan melihat wajahmu sehingga dia pergi.” Balas Siwon kesal.

“Tutup mulutmu! Aku akan pergi mencari noona. Jangan ikuti aku.” Ancam Kyuhyun dan kemudian berlalu dari hadapan Siwon. Siwon hanya tersenyum kecil melihat tingkah Kyuhyun. Selanjutnya ia mencoba berpikir keras, memikirkan dimana keberadaan Yongri sekarang. Entah mengapa ia yakin jika Yongri berada di rumah keluarga Kim. Tanpa membuang waktu lagi, Siwon segera keluar dari apartement dan menuju kediaman keluarga Kim.

 

 

Sebentar saja untuk Siwon sampai di sana. Siwon segera turun dari mobil dan menuju pintu rumah. Ditekannya bel yang terdapat di dinding beberapa kali hingga akhirnya perlahan-lahan pintu terbuka.  Siwon bernafas lega saat melihat Yongri yang membukakan pintu untuknya. Siwon menunjukkan senyum terbaiknya pada Yongri. Yongri hanya dapat terpaku saat melihat Siwon berdiri tegap di hadapannya.

“A–apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yongri terbata.

“Aku mencarimu, Yongri-ya.. Kenapa tiba-tiba pergi dari apartement dan kembali ke rumah?”

“A–aku..aku..”

“Tidak apa-apa. Yang terpenting adalah aku bisa menemukanmu disini.” Ucap Siwon sembari mempersempit jaraknya dengan Yongri.

“Tetap disana, Siwon-ssi.” Suara Tn. Kim menghentikan langkah Siwon. Dilihatnya Tn. Kim berdiri tidak jauh di belakang Yongri. Yongri menoleh dan cukup terkejut melihat Tn. Kim berada disana.

“Ahjussi..”

“Jangan pernah berpikir untuk kembali bersama Yongri.” Kata Tn. Kim sembari menatap Siwon dengan tajam.

“Abeoji..”

“Ahjussi..”

“Naik ke atas, Yongri-ya..”

“Ahjussi, kau tidak bisa seperti ini.” Siwon menggenggam tangan Yongri. Bermaksud agar Yongri tidak kemana-mana. Yongri memperhatikan wajah Tn. Kim dan Siwon secara bergantian.

“Lepaskan tanganmu.”

“Tidak, ahjussi. Aku mencintai Yongri. Aku tidak akan pernah melepaskannya lagi.”

“Kau sudah menyakiti anakku!” Suara Tn. Kim mulai meninggi.

“Maafkan aku, ahjussi. Aku tau aku salah. Kumohon beri aku satu kesempatan lagi.” Pinta Siwon. Tn. Kim menghela nafas sebelum akhirnya menghampiri Siwon dan Yongri. Tn. Kim melepaskan paksa tangan Siwon yang menggenggam tangan Yongri dan menarik Yongri berdiri di belakangnya.

“Pergilah dan jangan pernah datang lagi.” Ucap Tn. Kim tanpa menatap Siwon.

“A–ahjussi…”

“Aku bilang pergi!”

“Aku mencintai Yongri, ahjussi.” Ucap Siwon dengan memelas. Tn. Kim tersenyum sinis.

“Kau tidak akan menyakitinya kalau kau mencintainya. Aku benar-benar menyesal mempercayakan Yongri padamu.”

“Aku minta maaf, ahjussi.”

“Ayo masuk.” Tn. Kim seolah tidak memperdulikan Siwon dan hendak meninggalkannya saat dengan tiba-tiba Siwon berlutut sembari memegangi kaki Tn. Kim.

“Apa yang kau lakukan, Siwon-ah..” Tanya Tn. Kim yang tampak sangat terkejut dengan perbuatan Siwon.

“Apa yang harus aku lakukan agar ahjussi mengizinkanku bersama Yongri? Katakan ahjussi. Aku akan melakukan apapun.”

“Tidak perlu.” Jawab Yongri. Siwon mendongak dan menatap Yongri.

“Kalaupun abeoji mengizinkannya, aku tidak akan pernah mau kembali padamu, Siwon-ah. Hubungan kita sudah berakhir. Jangan pernah kembali kesini lagi.” Setelah mengatakan itu, Yongri berlari meninggalkan Siwon dan Tn. Kim. Siwon terdiam sembari mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Yongri.

“Kau dengar itu, kan? Tidak mudah menyembuhkan sebuah luka, Siwon-ah. Salahmu yang tidak pernah menghargai kehadiran Yongri saat itu. Sekarang hargailah keputusan Yongri. Biarkan dia bahagia tanpa kehadiranmu.” Tn. Kim ikut meninggalkan Siwon yang masih dalam posisi berlutut dengan setetes airmata mengalir dari sudut matanya.

“Kenapa harus seperti ini? Aku benar-benar menyesal, Yongri-ya..” Gumam Siwon.

“Menyesal tidak ada gunanya, hyung.” Ucap Ryeowook tiba-tiba. Siwon mendongak dan segera menyeka airmatanya.

“Bantu aku, Ryeowook-ah. Kumohon bantu aku untuk kembali bersama, Yongri.” Pinta Siwon.

“Cih! Kau pikir aku bodoh? Mana mungkin aku mau menjebloskan noonaku ke dalam lubang yang sama.”

“Kali ini aku serius. Aku tidak akan menyakitinya lagi. Aku janji.” Ucap Siwon yakin.

“Jika kau memang yakin dengan keinginanmu, seharusnya kau bisa meyakinkan noona. Jangan meminta bantuan orang lain.” Ucap Ryeowook dan segera berlalu dari hadapan Siwon. Siwon menghela nafas dan menatap punggung Ryeowook yang semakin menjauh.

 

~~~

 

“Aku senang noona memutuskan untuk kembali bekerja.” Ujar Kyuhyun. Yongri hanya tersenyum tipis. Kyuhyun cukup dibuat terkejut oleh kehadiran Yongri yang tiba-tiba pagi itu di kantor. Kyuhyun memang sudah mengetahui keberadaan Yongri dari kemarin. Namun laki-laki itu memutuskan untuk tidak menemui Yongri terlebih dahulu. Dan sekarang melihat Yongri berdiri di hadapannya membuat perasaan Kyuhyun senang luar biasa.

“Tapi noona tidak boleh terlalu lelah, eo? Jika noona merasakan sakit cepat katakan padaku, arraseo?” Pesan Kyuhyun.

“Aku pasti akan baik-baik saja, Kyuhyun-ah. Jangan terlalu mengkhawatirkanku.”

“Eish, aku hanya takut sekretarisku tiba-tiba sakit. Pekerjaanku bisa berantakan jika itu sampai terjadi.”

“Dasar bocah. Kembalilah keruanganmu dan bekerjalah.” Kyuhyun menghela nafas panjang.

“Sampai kapan noona akan menganggapku seorang bocah? Aku sudah dewasa, noona. Apa itu yang membuatmu tidak bisa melihat kehadiranku? Karena kau menganggapku masih terlalu kecil. Benar?”

“Berhentilah membahas itu, Kyuhyun-ah. Aku harus bekerja.” Kyuhyun kembali menghela nafas sebelum memutuskan masuk ke dalam ruang kerjanya.

 

 

Hari itu semua pekerjaan berjalan lancar untuk Yongri. Walaupun sempat tidak bekerja dalam waktu yang cukup lama, namun Yongri tidak mengalami kesulitan sedikitpun. Yongri menghela nafas panjang sebelum akhirnya memberes-bereskan barangnya untuk bersiap pulang. Baru saja Yongri hendak berdiri dari duduknya, saat dengan tiba-tiba ia melihat kehadiran Siwon yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Yongri mencoba untuk tidak peduli dan kembali memberes-bereskan barangnya. Siwon berjalan perlahan menghampiri Yongri.

“Annyeong, Yongri-ya..” Sapa Siwon. Gerakan tangan Yongri terhenti mendengar sapaan Siwon. Kepalanya mendongak dan menatap Siwon bingung saat nada suara Siwon yang tidak seperti biasa menyapa telinganya.

“Untuk apa lagi kau menemuiku? Apa kata-kataku kemarin belum jelas untukmu?” Tanya Yongri dengan wajah yang dibuat setegar mungkin.

“Apa tidak boleh aku datang kesini sebagai temanmu?” Jawab Siwon yang terdengar seperti pertanyaan.

“Mwo? Teman?”

“Iya. Aku datang kesini sebagai teman. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali padaku. Tetapi kau juga tidak boleh menolak untuk berteman denganku.” Yongri tersenyum sinis mendengar kata-kata Siwon.

“Aku semakin tidak mengerti dengan jalan pikiranmu.” Giliran Siwon yang tersenyum mendengar kata-kata Yongri. Bedanya senyum Siwon bukan senyum sinis.

“Untuk saling mengerti jalan pikiran masing-masing, tentu kita harus menghabiskan waktu bersama. Benar, kan? Dimulai dari sore ini, apa kau punya sebuah tempat yang bisa kita kunjungi?” Tanya Siwon masih dengan tersenyum. Yongri menatap Siwon intens sebelum akhirnya berdiri dari duduknya.

“Sebenarnya apa maksud ucapanmu? Aku sama sekali tidak mengerti.”

“Kau akan mengerti setelah ikut denganku.”

“Mwo? Ikut denganmu? Kemana?”

“Kajja!” Siwon tidak berniat menjawab pertanyaan Yongri dan malah menarik pelan pergelangan tangannya meninggalkan kantor. Mobil Siwon melaju dengan kencang setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Yongri menatap Siwon dengan tidak suka.

“Kau mau membawaku kemana? Aku mau pulang, Siwon-ssi.” Ucap Yongri ketus.

“Aku pasti akan mengantarkanmu pulang. Tetapi tidak sekarang.” Yongri akhirnya memilih duduk diam sembari membuang wajahnya ke arah jendela mobil -kesal-. Siwon yang melihatnya lantas tersenyum kecil.

 

 

 

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah pantai yang terlihat sepi sore itu. Air laut terlihat berwarna orange karena matahari yang akan terbenam. Siwon turun lebih dulu dari mobil. Yongri yang kebingungan, hanya mampu terpaku sembari menatap keindahan air laut. Siwon berjalan kearah Yongri dan membukakan pintu mobil untuk mantan tunangannya tersebut.

“Turun.” Ucap Siwon lembut. Yongri melepaskan seatbelt yang masih terpasang dan setelah itu turun dari mobil. Siwon mengulurkan tangannya di depan dada Yongri. Kembali Yongri menunjukkan raut wajah bingung. Ia memperhatikan wajah dan tangan Siwon secara bergantian. Melihat itu, Siwon kontan merasa gemas. Ditariknya halus tangan Yongri dan menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Yongri.

“Bukankah terasa lebih hangat?” Ujar Siwon sembari tersenyum manis. Yongri tidak menanggapi dan hanya diam. Siwon memulai langkahnya menyusuri daerah pantai. Sebelumnya, kedua insan itu melepas alas kaki mereka sehingga sekarang bertelanjang kaki. Yongri tersenyum kecil manakala air laut menyentuh kakinya.

“Matahari sebentar lagi akan terbenam.” Gumam Siwon.

“Untuk apa mengajakku kesini?” Tanya Yongri.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa kita harus menghabiskan waktu bersama?”

“Kenapa? Kenapa harus? Berapa kali harus kukatakan bahwa kita tidak bisa kembali bersama.”

“Bukan tidak bisa, Yongri-ya. Tetapi kau yang tidak menginginkannya. Jika kau mau, kita bisa memulai semuanya dari awal. Kita bisa memulainya dengan berteman terlebih dahulu.”

“Kau yakin itu akan berhasil?”

“Sangat yakin.”

“Bagaimana dengan Sangmi?”

“Hubungan kami sudah berakhir.” Yongri tersenyum sinis.

“Kau memang tidak punya perasaan. Pertama diriku, dan sekarang Sangmi. Sampai kapan kau akan seperti ini?”

“Yongri-ya.. Aku tidak seperti itu.” Siwon membela diri.

“Lalu seperti apa, huh?” Suara Yongri mulai meninggi. Matanya yang berkaca-kaca menatap Siwon intens. Siwon melepaskan tautan tangan mereka. Sebagai gantinya, ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Yongri.

“Aku akui waktu itu aku memang salah. Aku menyesal, Yongri-ya. Sangat menyesal. Saat itu aku tidak menyadari kehadiran dirimu. Aku belum tau bagaimana perasaanku padamu. Dan sekarang, sekarang aku sadar jika aku sangat mencintaimu.” Tes. Airmata Yongri mengalir dari pelupuk matanya saat mendengar ucapan Siwon.

“Hentikan. Jangan katakan lagi. Kumohon jangan mengatakannya lagi.”

“Aku mencintaimu, Yongri-ya. Aku mencintaimu.” Bisik Siwon.

“Tidak. Aku tidak bisa.” Yongri berbalik dan hendak meninggalkan Siwon. Namun dengan cepat Siwon menahannya dengan memeluk tubuh mungil Yongri dari belakang. Airmata Yongri semakin deras mengalir mendapat perlakuan dari Siwon. Siwon membenamkan wajahnya di bahu kecil Yongri.

“Jangan pergi.” Gumam Siwon.

“Kita tidak bisa bersama.” Lirih Yongri.

“Arraseo. Aku tidak akan memaksa agar kita kembali bersama. Tetapi kau jangan pergi lagi. Biarkan aku terus merasakan kehadiranmu. Aku mohon.” Yongri segera membalikkan badannya dan memeluk Siwon dengan erat. Siwon membalas pelukan Yongri dengan sama eratnya. Airmata Siwon ikut mengalir dari sudut matanya.

“Aku tidak akan pergi.” Kata Yongri di dalam pelukan Siwon.

 

 

 

Kedua insan itu sekarang tengah duduk berdampingan di atas pasir putih. Tatapan mereka tertuju pada hamparan air laut dengan ombak-ombak yang terus berdatangan. Yongri menghela nafas berkali-kali sembari memejamkan matanya saat sakit di kepalanya tiba-tiba kembali kambuh.

Jangan sekarang. Kumohon jangan sekarang.‘ Pintanya dalam hati. Kedua tangannya yang memeluk lutut terlihat mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih.

Siwon terus tersenyum saat mengingat kejadian tadi. Ia tidak menyangka jika Yongri akan mengabulkan permintaannya agar tidak pergi. Siwon memang tidak dapat menutupi kekecewaannya karena tidak bisa membuat Yongri kembali menjadi miliknya. Tetapi setidaknya, ia bisa terus bertemu dengan Yongri. Tidak ada yang lebih baik dari itu. Siwon menolehkan kepalanya menatap Yongri. Senyum yang tadinya berkembang tiba-tiba menghilang saat melihat wajah Yongri yang tampak pucat.

“Yong–Yongri-ya,, gwenchana?” Tanya Siwon sembari memegang kedua bahu Yongri. Yongri membuka matanya dan mencoba tersenyum pada Siwon.

“Aku baik-baik saja.” Jawabnya pelan.

“Wajahmu pucat sekali. Kau sakit? Atau kau kedinginan?” Raut wajah Siwon terlihat sangat khawatir. Yongri menggeleng pelan.

“Aku hanya sedikit lelah.” Ujarnya.

“Kita pulang sekarang saja, ya?” Ajak Siwon. Yongri tidak mampu menjawab dan hanya mengangguk. Siwon berdiri dari duduknya dan membantu Yongri untuk ikut berdiri. Dipapahnya tubuh Yongri menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh dari tempat mereka duduk berdampingan tadi.

“Kau benar baik-baik saja? Kita kerumah sakit saja, ya?” Tanya Siwon setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Wajah Yongri berubah panik.

“A–andwae. Aku baik-baik saja. Tidak..tidak perlu kerumah sakit.” Jawabnya terbata.

“Apa kau yakin?”

“Aku yakin, Siwon-ah. Lebih baik kita pulang saja. Agar aku bisa beristirahat.” Yongri mencoba meyakinkan. Siwon menghela nafas dan mengangguk.

“Arraseo.” Ujarnya dan menyalakan mesin mobilnya.

Hampir satu jam kemudian, mobil Siwon terparkir sempurna di halaman rumah keluarga Kim. Jantung Yongri tiba-tiba berdetak lebih kencang saat melihat sosok Kyuhyun yang sedang duduk di teras depan rumahnya. Mata Kyuhyun tampak menatap tajam mobil yang baru saja terparkir di sana.

“Ayo turun.” Ucap Siwon. Yongri menahan tangan Siwon, saat laki-laki itu hendak turun.

“Biar aku turun sendiri. Kau langsung pulang saja.”

“Kenapa? Apa karena di sana ada Kyuhyun?” Siwon tampak tidak suka saat Yongri menyuruhnya pulang.

“Aku hanya tidak ingin ada keributan. Lebih baik kau pulang, eo?” Suara Yongri melembut. Siwon menghela nafas dan tersenyum pada Yongri.

“Arraseo. Aku akan pulang. Kau segeralah istirahat. Wajahmu sangat pucat.” Yongri mengangguk. Siwon mengecup singkat kening Yongri sebelum yeoja itu turun dari mobil Siwon. Yongri segera membalikkan badannya setelah mobil Siwon hilang dari pandangannya. Ia melihat Kyuhyun yang sekarang sudah berdiri sembari menatapnya.

“Kau disini, Kyuhyun-ah..” Ujar Yongri mencoba menghilangkan gugupnya.

“Darimana?” Tanya Kyuhyun dengan nada bicara yang tidak bersahabat.

“Aku…aku..dari..aku-”

“Pergi bersama Siwon hyung.” Sambar Kyuhyun langsung.

“Tidak seperti yang kau bayangkan, Kyuhyun-ah.” Ujar Yongri. Kyuhyun tersenyum miris.

“Kenapa, noona? Kenapa kau tidak pernah mendengarkan kata-kataku?”

“Bukan seperti itu-”

“Apa karena aku lebih muda darimu? Kau merasa tidak pantas mendengarkan kata-kataku?”

“Kyuhyun-ah….”

“Arraseo.. Aku tau aku memang bukan siapa-siapa. Aku kesini hanya karena mengkhawatirkanmu. Tiba-tiba saja kau tidak ada di meja kerjamu. Aku takut kau pergi. Tapi sepertinya aku terlalu berlebihan.” Lagi-lagi Kyuhyun tersenyum miris.

“Aku bisa menjelaskan semuanya, Kyuhyun-ah..”

“Aku rasa aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi. Sudah ada seseorang yang akan menjagamu. Lebih baik aku pulang sekarang. Selamat malam.” Kyuhyun segera berlalu dari hadapan Yongri saat merasa matanya memanas. Ia tidak mau menangis di hadapan Yongri. Ia tidak mau terlihat lemah.

“Kyuhyun-ah… Kyuhyun-ah..” Teriakan Yongri seolah angin lalu oleh Kyuhyun. Karena nyatanya, laki-laki itu tidak menoleh sedikitpun hingga akhirnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman keluarga Kim.

~~~

–To Be Continued–

Advertisements

83 thoughts on “Regret – Part 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s