Regret – Part 3

Regret – Part 3

Author

Choineke

Title

Regret

Cast

Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Cho Kyuhyun, Kim Sangmi, Kim Ryeowook

Genre

Romance, Sad

Length

Chapter

Rating

PG-15

 

Apapun yang kita miliki di dunia ini, tidak akan pernah kita sadari dan syukuri sebelum kita kehilangannya. Setelah hilang, yang akan kita rasakan hanya penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah ada gunanya.

 

Author POV

Angin malam yang berhembus dengan kencang, tidak mengagalkan rencana Yongri untuk berdiri sembari merenung di atas balkon. Rambut ikal kecoklatan miliknya terus melambai-lambai karena tiupan angin. Hembusan nafas Yongri yang terdengar gusarpun tampak saling bersaut-sautan. Ia mencengkram pembatas balkon dengan erat. Pikirannya melayang saat kejadian kemarin ketika dirinya mendapati Sangmi berada di apartemennya bersama Siwon.

 

Flashback

“Sa–Sangmi-ya… Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yongri dengan terbata. Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu hingga beberapa saat. Yongri menatap keduanya secara bergantian. Dadanya benar-benar bergemuruh hebat. Ia merasakan telapak tangannya basah oleh keringat. Sangmi menatap Yongri dan tersenyum sinis.

“Aku-“

“Dia ingin bertemu denganmu.” Siwon segera memotong kata-kata Sangmi. Setelah mengatakan itu, Siwon segera berlalu dari hadapan mereka dan masuk ke kamar.

“Kau ingin bertemu denganku?” Tanya Yongri pada Sangmi. Sangmi berdiri dari duduknya dan mendekati Yongri.

“Apa kau pikir aku memiliki alasan untuk bertemu denganmu?” Tanya Sangmi balik.

“Tentu kau tau jawabannya. Jika ada yang bertanya padaku, justru aku akan menjawab bahwa tidak ingin lagi melihat wajahmu. Bagaimana mungkin aku datang ke sini untuk bertemu denganmu? Aku sarankan agar tidak terlalu mempercayai orang-orang di sekitarmu.” Sangmi segera berlalu dari hadapan Yongri dan keluar dari apartemen mereka. Meninggalkan Yongri dengan nafas yang tiba-tiba saja tersengal. Kedua tangan yeoja itu mengepal kuat. Lagi, ia merasakan kepalanya sakit luar biasa. Sebelum takut terjadi sesuatu padanya, ia segera memasuki kamar dan beristirahat.

Flashback end

 

Yongri menghela nafas pelan. Apa yang diucapkan Sangmi memang benar. Sangmi sangat membenci dirinya dan tidak mungkin Sangmi rela mengunjungi apartemennya hanya untuk bertemu dengannya. Lalu, kenapa Siwon mengatakan bahwa Sangmi ingin bertemu dengannya? Sebenarnya ada apa? Itulah yang berkecamuk di dalam pikiran Yongri sekarang. Apa sesuatu terjadi antara Siwon dan Sangmi? Yongri menggelengkan kepalanya dengan kuat.

“Tidak. Aku tidak boleh berpikiran buruk terhadap adik dan tunanganku sendiri.” Gumamnya sembari memegang dadanya. Tetapi pikiran aneh itu tidak juga mau menghilang dari otaknya. Yongri memejamkan matanya sembari menetralkan nafasnya. Siwon memang selalu berkata kasar padanya, tetapi laki-laki itu tidak mungkin mengkhianatinya dengan cara berpacaran dengan Sangmi.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa pikiranku tidak tenang begini?”

 

~~~

 

Yongri keluar dari kamarnya saat telah siap untuk berangkat ke kantor. Saat keluar kamar, ia berpapasan dengan Siwon yang baru saja dari arah dapur. Keduanya terdiam sebentar. Mata mereka bertemu dan enggan saling mengalihkan pandangan.

“Wajahmu…pucat sekali. Kau…sakit?” Tanya Siwon perlahan. Yongri mengerjapkan matanya seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Siwonkah yang bertanya seperti itu? Apa dia sedang bermimpi? Takut akan pendengarannya salah, Yongri mengabaikan pertanyaan itu dan berlalu dari hadapan Siwon. Siwon dengan cepat menahan pergelangan tangan Yongri. Yongri menghentikan langkahnya dengan perasaan campur aduk.

“Bukankah sudah kukatakan untuk bersabar? Aku tau kau tidak ingin melihatku, tetapi aku juga memiliki sesuatu yang harus kukerjakan. Aku tidak mungkin hanya berdiam diri di dalam kamar.” Ujar Yongri. Siwon membalikkan badan Yongri sehingga mereka sekarang berdiri berhadapan.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Siwon. Ia seolah tidak mendengar apa yang Yongri katakan tadi. Yongri mendongakkan kepalanya dan menatap Siwon. Entah ia salah melihat atau tidak, tetapi ia dapat melihat mata Siwon yang menyiratkan kekhawatiran.

“Aku baik-baik saja.” Ujar Yongri cepat dan kembali ingin melangkah sebelum Siwon lagi-lagi menahannya.

“Biarkan aku mengantarmu ke kantor.” Yongri mengerutkan keningnya dalam. Ini bukan Siwon. Ya, ia yakin jika ini bukan Siwon.

“Siapa kau?” Tanya Yongri yang membuat Siwon bingung.

“Aku? Aku Siwon, tunanganmu. Ada apa denganmu?” Yongri tersenyum miris.

“Sepertinya aku kurang tidur dan banyak berkhayal.” Gumamnya dan benar-benar berlalu dari hadapan Siwon. Siwon hanya dapat memperhatikan punggung Yongri yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu apartemen. Dadanya sesak.

“Kenapa malah menghindariku?” Tanya Siwon pada dirinya sendiri.

 

 

 

“Sedang apa kau disini?” Tanya Yongri terkejut saat melihat Kyuhyun sudah berdiri tegap di depan audy hitamnya.

“Menjemputmu.” Jawab Kyuhyun dengan cengiran khasnya.

“Mwo?!”

“Kajja! Kau tidak mau terlambat ke kantor, kan?” Kyuhyun membukakan pintu untuk Yongri.

“Aku bisa pergi sendiri, Kyuhyun-ah.” Tolak Yongri. Kyuhyun menghela nafas kasar.

“Ayolah, noona. Jangan membuatku datang ke sini sia-sia.” Rengek Kyuhyun dengan manja. Yongri tersenyum kecil melihat kelakuan Kyuhyun.

“Arraseo. Ish.” Yongri segera mendekati mobil Kyuhyun dan memasukkinya. Mobil audy hitam itu segera melaju dengan kecepatan sedang sesaat setelah Kyuhyun masuk ke dalamnya.

“Noona, apa kau sudah sarapan?” Tanya Kyuhyun tanpa menatap Yongri.

“Aku tidak lapar.” Jawab Yongri.

“Noona, kau sungguh bodoh.” Ujar Kyuhyun yang membuat Yongri menatapnya garang.

“Mwoya?!”

“Aku bertanya apakah kau sudah sarapan atau belum. Bukan apakah kau lapar atau tidak.”

“Kau yang bodoh! Jika aku bilang tidak lapar, tandanya aku belum sarapan dan tidak mau sarapan.” Cibir Yongri kesal.

“Baiklah kalau begitu kita pergi sarapan terlebih dahulu.”

“Cho Kyuhyun!!” Pekik Yongri tertahan.

“Aish jangan menjerit seperti itu, noona! Kau mau membuat telingaku rusak, eoh?”

“Berhenti bersikap kekanakan dan segera menuju kantor!!” Perintah Yongri yang berhasil membuat Kyuhyun mengerucutkan bibirnya.

“Arraseo!”

“Anak pintar.” Ujar Yongri dengan mengacak rambut Kyuhyun. Kyuhyun hanya mencibir pelan.

“Aku bukan anak kecil, noona.” Kyuhyun menjauhkan kepalanya dari tangan Yongri.

“Jinjja? Tetapi kelakukanmu seperti anak kecil, Kyuhyun-ah.”

“Kau saja yang tidak bisa melihat sisi dewasaku.”

“Bagaimana aku bisa melihatnya, jika kau saja tidak pernah berpacaran?”

“Aish, memangnya melihat sisi dewasa harus dengan berpacaran?”

“Tetapi Kyuhyun-ah, aku memang tidak pernah melihatmu bersama seorang gadis. Apa kau tidak pernah berpikir untuk menikah?”

“Pernah.”

“Benarkah? Apa tandanya kau sudah memiliki seorang kekasih?” Yongri tampak antusias. Kyuhyun tersenyum.

“Aku tidak mengatakan jika memiliki kekasih. Aku hanya mengatakan jika aku pernah berpikir untuk menikah.”

“Kapan?”

“Setelah aku dapat memastikan bahwa noona hidup dengan bahagia.”

“Mwo?!” Kyuhyun hanya tersenyum kecil saat melihat kebingungan Yongri. Tidak berniat sedikitpun untuk mengulangi kata-katanya.

 

 

 

Kyuhyun terpaksa pulang cepat hari ini dari kantor untuk pulang ke rumahnya. Siang tadi, tiba-tiba saja Ny. Cho menyuruhnya mampir ke rumah. Ya, Kyuhyun memang tidak tinggal bersama orangtuanya. Ia lebih memilih tinggal sendiri di apartemen mewah yang di belinya dari hasil kerja kerasnya. Kyuhyun memasukki rumahnya dan segera menuju ruang keluarga.

“Eommoni..” Sapa Kyuhyun saat melihat Ny. Cho sedang menonton televisi.

“Eoh? Kyuhyun-ah, waseo.” Ny. Cho berdiri dari duduknya dan memeluk Kyuhyun.

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak ada. Memangnya kenapa?”

“Lalu kenapa eommoni memintaku untuk datang?” Ny. Cho memukul pelan kepala Kyuhyun.

“Anak kurang ajar. Apa kau sudah tidak mau pulang ke rumah lagi, huh?!”

“Bukan seperti itu, eommoni. Pekerjaanku sedang menumpuk di kantor. Dan aku meninggalkannya karena eommoni memintaku ke sini. Jika hanya karena merindukanku, sebaiknya eommoni katakan saja dan aku akan mencari waktu luang untuk kemari.” Keluh Kyuhyun.

“Aigoo, siapa yang mengatakan jika aku merindukanmu?” Goda Ny. Cho yang berhasil membulatkan mata Kyuhyun.

“Woah, eommoni benar-benar keterlaluan. Bagaimana mungkin kau tidak merindukanku, setelah berbulan-bulan tidak bertemu denganku?” Gerutu Kyuhyun. Ny. Cho tertawa pelan melihat tingkah Kyuhyun yang seperti anak kecil.

“Sebaiknya aku kembali ke kantor, aku akan datang lagi besok-besok.” Ujar Kyuhyun.

“Tidak ingin bertemu dengan ayahmu dulu?”

“Aboeji belum pulang, kan? Aku banyak pekerjaan, eommoni.”

“Anak ini. Kalau tunggu sebentar, Kyuhyun-ah. Duduklah dulu. Ada yang ingin eommoni tunjukkan padamu.”

“Apa?”

“Duduklah dulu. Eommoni ke kamar sebentar.” Akhirnya, Kyuhyun mengikuti perkataan Ny. Cho untuk duduk terlebih dahulu selagi menunggu Ny. Cho kembali. Beberapa saat kemudian, Ny. Cho datang sembari membawa sesuatu.

“Apa itu?” Tanya Kyuhyun penasaran. Ny. Cho meletakkan apa yang di bawanya di atas meja.

“Lihat ini dan pilihlah salah satu yang kau sukai.” Ujar Ny. Cho. Kyuhyun mengerutkan keningnya saat melihat beberapa foto perempuan yang tidak bisa di bilang jelek tetapi juga tidak bisa di bilang cantik.

“Eommoni, ini…”

“Foto-foto ini adalah anak perempuan dari teman-teman eommoni. Pilihlah dan katakan padaku. Aku akan segera mempertemukanmu dengannya.” Ny. Cho tampak antusias. Kyuhyun menghela nafas pelan.

“Aku belum memikirkannya.” Kata Kyuhyun datar.

“Kyuhyun-ah, kau tau umurmu sudah 25 tahun. Kau sudah harus memikirkan untuk menikah.”

“Aku tau eommoni. Tetapi tidak untuk sekarang.”

“Lalu kapan? Sekalipun kau tidak pernah memperkenalkan seorang perempuan padaku.”

“Aku sudah memilikinya, eommoni.” Ujar Kyuhyun pelan. Ny. Cho membulatkan matanya saat mendengarkan kata-kata Kyuhyun.

“Benarkah? Kau tidak membohongi eommoni, kan?” Kyuhyun menggeleng pelan.

“Aku sudah memiliki seseorang yang mampu membuatku nyaman berada di sampingnya. Seseorang yang sampai saat ini tidak mampu ku baca isi hatinya, eommoni.” Ny. Cho tersenyum.

“Kenalkan pada eommoni.” Ujar Ny. Cho. Kyuhyun tersenyum.

“Ne?”

“Kenalkan padaku. Segera!”

“Tidak untuk sekarang. Aku pergi dulu eommoni. Sampaikan salamku pada abeoji. Aku akan kembali lagi jika ada waktu.” Kyuhyun beranjak dari duduknya dan segera berlalu meninggalkan Ny. Cho.

“Kyuhyun-ah!! Kyuhyun-ah!!” Teriak Ny. Cho yang tidak di hiraukan oleh Kyuhyun.

“Aish anak itu.”

 

~~~

 

“Apa hasil pemeriksaan saya sudah keluar, dokter?” Tanya Yongri pada Dokter Yoon.

“Sudah, Yongri-ssi. Harap tunggu sebentar. Saya sudah meminta seseorang untuk mengantarkan hasilnya kemari.” Jawab Dokter Yoon.

“Ah baiklah.”

Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan Dokter Yoon. Tampak seorang suster perempuan masuk sembari membawa sebuah map berwarna putih berlogokan rumah sakit tersebut.

“Terima kasih suster.” Ujar Dokter Yoon. Suster itu segera keluar dari ruangan itu setelah menunjukkan senyumnya untuk membalas ucapan Dokter Yoon. Dokter Yoon membuka map tersebut dan membaca hasil yang tertulis di sana. Sesekali keningnya berkerut dalam. Membuat Yongri yang melihatnya menjadi bingung.

“Ada apa, dokter?” Tanya Yongri. Dokter Yoon menutup map tersebut dan menatap Yongri. Tatapannya kali ini berbeda dengan tadi saat Yongri baru sampai di ruangannya.

“Apa Anda pernah mengalami kecelakaan hebat, Yongri-ssi?” Tanya Dokter Yoon. Yongri mengerutkan keningnya mendengarkan pertanyaan Dokter Yoon.

“Bagaimana Anda bisa tau?” Yongri balik bertanya.

“Jadi benar?” Yongri mengangguk pelan.  Dokter Yoon menghela nafas dan menundukkan kepalanya.

“Apa sesuatu terjadi padaku, dokter?” Ada perasaan takut dalam nada bicara Yongri. Dokter Yoon mengangkat kepalanya dan kembali menatap Yongri.

“Terjadi penggumpalan darah di dalam otak Anda karena kecelakaan itu, Yongri-ssi.” Tangan Yongri mengepal seketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Dokter Yoon.

“Ba–bagaimana mungkin? Kecelakaan itu terjadi saat saya berumur 17 tahun. Dan itu 12 tahun yang lalu, dokter.” Ujar Yongri tidak percaya. Perasaan takut menghinggapinya.

“Maafkan saya, Yongri-ssi. Tetapi seperti itulah hasil pemeriksaan Anda. Sepertinya saat kecelakaan itu terjadi, terjadi benturan yang tidak terlihat sehingga menyebabkan seperti ini. Dan saya juga pernah mendapatkan pasien seperti Anda. Efeknya memang terjadi beberapa tahun kemudian.” Jelas Dokter Yoon. Yongri menundukkan kepalanya dengan keringat dingin mengaliri pelipisnya. Matanya berkaca-kaca. Bagaimana mungkin itu terjadi padanya? Apa kecelakaan 12 tahun lalu belum cukup untuknya?

“Yongri-ssi, apa Anda baik-baik saja?” Dokter Yoon tampak khawatir.

“Apa ada cara untuk menyembuhkannya, dokter?” Tanya Yongri penuh harap. Dokter Yoon kembali menghela nafas.

“Cara tentu ada, Yongri-ssi. Hanya saja……”

“Hanya apa?”

“Kita bisa melakukan operasi untuk itu. Tetapi, ada dua kemungkinan yang akan terjadi.”

“Apa itu, dokter?”

“Yang pertama, operasi Anda akan berhasil tetapi Anda akan mengalami lupa ingatan total. Semua memori kehidupan Anda di masa sebelum Anda mengalam operasi akan menghilang.”

“Mw–mwo?!”

“Dan yang kedua, jika operasi itu gagal, maka nyawa Anda tidak akan tertolong.” Lanjut Dokter Yoon. Runtuh sudah pertahan Yongri yang sedari tadi di tahannya. Airmatanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipi putihnya. Terlalu sulit untuk mempercayai apa yang terjadi padanya. Bukankah kedua pilihan itu benar-benar sulit? Bahkan ia tidak bisa memilih di antara keduanya. Hilang ingatan total serta mati, keduanya sama saja dengan mati menurut Yongri.

“Bagaimana jika saya tidak melakukan operasi?” Tanya Yongri. Dokter Yoon tampak terkejut dengan pertanyaan Yongri.

“Saya mohon jangan mengambil resiko itu, Yongri-ssi. Tidak melakukan operasi sama saja dengan Anda memilih mati. Memang tidak secepat jika operasi Anda gagal, tetapi itu bukanlah pilihan yang baik. Jika Anda melakukan operasi sekarang, kami akan melakukan yang terbaik. Dan kalaupun Anda lupa ingatan, bukankah orang-orang disekitar Anda dapat membantu Anda untuk menjalani aktivitas sehari-hari?” Saran Dokter Yoon.

“Lagipula, Anda tau bagaimana sakitnya kepala Anda akhir-akhir ini. Anda tidak akan mungkin mampu menahannya dalam waktu yang cukup lama.”

“Berikan saja obat penahan atau penghilang sakit untukku, dokter.” Ujar Yongri sembari menyeka airmatanya.

“Yongri-ssi….”

“Saya mohon, dokter. Saya tidak bisa melakukan operasi itu.” Mohon Yongri. Ia tidak mau melupakan ingatannya tentang Siwon. Tidak, karena jika ia melupakan Siwon, maka Siwon akan dengan mudahnya untuk meninggalkan dirinya. Tidak. Yongri tidak mau itu terjadi. Dokter Yoon memperhatikan wajah Yongri yang penuh dengan harap.

“Saya hanya bisa berharap Anda berubah pikiran.” Ucap Dokter Yoon sembari mengambil resep dan menuliskan sesuatu yang bisa diperkirakan adalah nama obat.

“Ah ya satu lagi. Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu terlalu keras, karena itu dapat membuat kepala Anda kembali sakit.” Pesan Dokter Yoon. Yongri hanya menanggapinya dengan mengangguk kecil.

 

 

 

Yongri duduk termenung di kursi besi bewarna coklat yang berada di sungai han. Angin malam berhembus sedikit kencang membuatnya merapatkan blazer yang di pakainya. Sesekali ia tersenyum miris saat memikirkan nasibnya yang akan bertemu kematian yang entah kapan. Sangmi membenci dirinya. Siwon yang tidak pernah menganggap dirinya sebagai tunangan. Dan sekarang, penggumpalan darah di otak. Masih adakah cobaan lain yang harus dialaminya? Belum cukupkah semua itu?

“Noona…” Yongri menolehkan kepalanya saat merasa terpanggil.

“Wookie-ya..” Yongri tersenyum. Ryeowook ikut tersenyum dan duduk di sebelah Yongri.

“Apa aku mengganggu waktumu?” Tanya Yongri.

“Tentu saja tidak. Apa terjadi sesuatu?” Tanya Ryeowook balik. Yongri menggeleng pelan.

“Tidak ada. Aku hanya sedang butuh teman bicara.” Jawab Yongri.

“Ah begitu.” Kata Ryeowook sembari menganggukkan kepalanya. Ryeowook melepaskan jas hitam yang di pakainya dan memakaikannya di punggung Yongri.

“Udara malam sangat dingin, noona. Pakai ini agar kau tidak kedinginan.” Ujar Ryeowook.

“Gomawo, Wookie-ya.” Ryeowook tersenyum.

“Bagaimana kabar aboeji dan eommoni?”

“Mereka baik. Sepertinya mereka sangat merindukanmu.” Yongri tersenyum kecil.

“Katakan pada mereka aku akan kesana jika ada waktu.”

“Eish, kau seperti orang sibuk.” Cibir Ryeowook membuat keduanya tertawa pelan.

“Bagaimana dengan Sangmi? Dia baik-baik saja, kan?” Ryeowook menatap Yongri.

“Sangmi?” Ryeowook membeo. Yongri membalas tatapan Yongri dan mengangguk.

“Ya. Dia baik-baik saja.”

“Syukurlah jika begitu.”

“Oh ya, gadis yang waktu itu kau ceritakan-“

“Saat itu aku hanya berbohong, noona.”

“Mwo?!”

“Aku hanya ingin tau mengenai hubunganmu dan Siwon hyung.”

“Ahh, begitu rupanya.”

Hening menyapa mereka sesaat setelah Yongri mengatakan kalimatnya yang terakhir. Mereka sibuk memandangi keindahan sungai han di malam hari dengan pikiran masing-masing. Kepulan asap putih keluar dari mulut mereka saat mereka sama-sama menghembuskan nafas. Sepertinya suasana malam itu semakin dingin.

“Jika aku mati nanti, kira-kira apa yang akan terjadi?” Tanya Yongri tanpa menatap Ryeowook.

“Noona…”

“Waeyo? Apa aku salah bicara?”

“Kenapa tiba-tiba membicarakan kematian? Apa tidak ada sesuatu yang lain untuk kita bahas?”

“Aku hanya bertanya, Wookie-ya. Bukankah setiap orang pasti mati? Begitupun denganmu dan juga denganku. Aku hanya ingin tau, apa ada yang berubah jika nanti aku mati?”

“Noona!”

“Kalian akan sedih atau kalian akan senang?”

“Yongri noona!!”

“Kalian akan mengingatku, atau melupakanku?”

“Choi Yongri!!” Teriak Ryeowook keras membuat Yongri menghentikan kata-katanya. Airmata Yongri mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Ia terlalu takut untuk mati. Terlalu takut dilupakan oleh orang-orang yang disayanginya.

“Noona, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu.” Sesal Ryeowook.

“Jika aku mati, aku bisa bertemu dengan appa dan eomma kandungku. Bukankah itu lebih baik, Wookie-ya?” Yongri menatap Ryeowook dengan kedua matanya yang basah. Ryeowook menarik Yongri ke dalam pelukannya. Mengelus punggung serta kepala yeoja itu agar sedikit tenang.

‘Sesuatu pasti terjadi padamu kan, noona? Apa lagi? Kenapa tidak mengatakannya padaku? Bukankah aku pernah memintamu untuk mengatakan semua yang terjadi padamu?’ Tanya Ryeowook dalam hati.

 

 

 

Yongri berjalan gontai memasukki apartemennya. Matanya memerah sehabis menangis di sungai han tadi. Kepalanya juga tiba-tiba kembali terasa sakit. Langkahnya terhenti saat dengan tiba-tiba Siwon berdiri di hadapannya. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap Siwon dengan malas.

“Kau menangis?” Tanya Siwon. Yongri tidak menhiraukan pertanyaan Siwon dan kembali melanjutkan langkahnya. Namun langkahnya kembali terhenti saat merasakan Siwon memeluknya dari belakang. Siwon meletakkan dagunya di atas bahu kecil Yongri. Yongri hanya dapat memejamkan matanya agar tidak terbawa suasana dari apa yang dilakukan Siwon. Siwon melepaskan pelukannya dan membalikan badan Yongri. Ditatapnya wajah Yongri dengan intens serta membelai lembut wajahnya. Siwon mendekatkan wajahnya pada wajah Yongri, dan tidak ada penolakan dari Yongri. Saat bibir Siwon hampir menempel pada bibir Yongri, Yongri segera memalingkan wajahnya sehingga bibir itu mendarat di pipi mulus Yongri. Siwon menjauhkan wajahnya dan tidak dapat menutupi kekecewaannya atas penolakan Yongri.

“Katakanlah apa yang ingin kau katakan. Tidak perlu menciumku terlebih dahulu untuk mengatakannya. Walaupun itu sesuatu yang menyakitkan, aku sudah biasa mendengarnya.” Ujar Yongri tanpa menatap Siwon.

“Aku tidak ingin mengatakan apapun.” Balas Siwon. Yongri menatap Siwon dan tersenyum sinis.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, huh? Apa yang sudah kau rencanakan?” Tanya Yongri.

“Aku tidak merencanakan apapun. Apa salah jika aku bersikap seperti ini pada tunanganku?”

“Tunanganmu? Cih, sejak kapan kau mengakuiku sebagai tunanganmu?”

“Yongri-ya..”

“Kembalilah seperti kau yang biasanya. Siwon yang bersikap acuh dan selalu berkata kasar padaku. Sikapmu yang seperti ini justru membuatku takut.” Ujar Yongri dan segera berlalu dari hadapan Siwon. Siwon mengepalkan tangannya menahan kesal. Diambilnya vas bunga di atas meja dan melemparkannya dengan keras ke dinding.

“AAAAAKKKHHHHH!!!!” Jeritnya bersamaan dengan pecahnya vas bunga itu.

 

~~~

 

Yongri tertegun saat melihat Siwon tidur di sofa dengan posisi duduk. Ia mendekati Siwon bermaksud untuk menyuruh Siwon berpindah ke kamarnya.

“Dingin…” Gumam Siwon sembari memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya. Yongri semakin mendekatkan dirinya pada Siwon. Mengguncang sedikit tubuh Siwon agar bangun.

“Siwon-ah..” Panggilnya. Siwon membuka matanya dengan tidak sempurna. Saat melihat Yongri di hadapannya, namja tampan itu segera memeluk Yongri.

“Dingin, Yongri-ya..” Lirihnya.

“Kau sakit..” Gumam Yongri. Yongri melepaskan pelukan Siwon dan membantu Siwon untuk berdiri. Dipapahnya tubuh besar Siwon menuju kamar laki-laki itu. Setelah membaringkan Siwon dan tak lupa menyelimutinya, Yongri beranjak keluar untuk mengambil alat kompres dan obat. Yongri kembali ke kamar Siwon dan duduk di tepi kasur.

“Minum dulu obatnya.” Ujar Yongri dan membantu Siwon meminum obat. Setelah itu Yongri segera mengompres kening Siwon dengan handuk yang sudah basah.

“Tidurlah.” Gumam Yongri. Siwon meraih tangan Yongri dan menggenggamnya dengan erat.

“Gajima..” Kata Siwon dengan memejamkan matanya. Yongri ingin membalas genggaman itu, tetapi ia terlalu takut untuk melakukannya. Ia takut setelah membalas genggaman itu, Siwon malah melepaskannya. Hingga akhirnya Yongri membiarkan Siwon menggenggam tangannya. Yeoja itu hanya terus memperhatikan wajah Siwon yang tanpa cacat sedikitpun. Sepertinya Tuhan bekerja keras untuk membuatnya menjadi tampan seperti ini. Seharusnya ia menjadi gadis yang sangat bahagia karena memiliki tunangan yang tampan dan kaya. Tetapi kenapa justru kesedihan yang selalu di dapatkannya semenjak bertunangan dengan Siwon? Apakah itu artinya ia tidak berjodoh dengan Siwon?

 

 

 

Siwon terbangun dari tidurnya saat hari sudah beranjak sore. Ia sudah merasakan tubuhnya membaik dibandingkan pagi tadi. Ia menolehkan kepalanya dan melihat Yongri yang tertidur dengan duduk di atas lantai tetapi kepala di atas kasurnya. Siwon tersenyum saat menyadari tangannya yang masih menggenggam tangan Yongri. Dengan perlahan Siwon melepaskan genggaman tangannya dan menjauhkan handuk kompres yang berada di keningnya. Siwon beranjak dari tidurnya dan berdiri di samping Yongri. Di gendongnya tubuh Yongri dan membaringkannya di atas kasurnya. Siwon duduk di tepi kasur dan menyelimuti Yongri. Dibelainya puncak kepala Yongri sembari memperhatikan wajah yeoja itu. Siwon tersenyum kecil saat menyadari wajah Yongri yang begitu polos seperti anak kecil. Padahal tahun depan umurnya akan mencapai 30.

“Maafkan aku.” Gumam Siwon. Siwon mendaratkan bibirnya pada kening Yongri. Mengecup lama kening itu hingga ia puas. Setelah itu ia segera keluar dari kamarnya untuk mencari makanan. Perutnya terasa lapar setelah seharian tidur.

Siwon kembali ke kamarnya setelah membeli makanan untuk dirinya dan Yongri. Ia berencana untuk makan bersama Yongri.

“Yongri-ya.. Ireona..” Panggil Siwon pelan sembari mengguncang tubuh Yongri. Yongri menggeliat kecil dalam tidurnya. Bukannya bangun, Yongri malah menari selimut sampai ke kepala dan kembali tidur. Siwon tidak dapat menutupi rasa gelinya melihat tingkah Yongri.

“Yongri-ya…” Panggil Siwon lagi sedikit lebih keras. Kali ini Yongri benar-benar bangun dan terlonjak duduk.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Tanya Yongri.

“Kamarmu?” Ujar Siwon dengan sebelah alis terangkat. Yongri mengedarkan pandangannya dan tidak dapat menutupi keterkejutannya saat menyadari tidur di kamar Siwon.

“Kenapa aku bisa tidur disini?” Tanyanya.

“Sepertinya kau bosan karena menungguiku tidur hingga akhirnya tertidur di lantai. Aku hanya memindahkanmu ke atas kasur agar tubuhmu tidak sakit.” Jawab Siwon.

“Ah maafkan aku karena teridur.” Sesal Yongri takut.

“Aku akan memaafkanmu asal kau mau makan malam denganku.” Balas Siwon.

“Mwo?!”

“Aku sudah membeli makan malam untuk kita. Kau dan aku sama-sama belum makan dari pagi karena keasikan tidur.”

“Aku…aku tidak lapar.” Tolak Yongri.

“Aku tidak suka penolakan Choi Yongri. Ayo!” Siwon menarik pelan tangan Yongri untuk turun dari kasur dan keluar dari kamar menuju meja makan.

“Makanlah yang banyak. Akhir-akhir ini wajahmu selalu pucat.” Ujar Siwon. Yongri memperhatikan wajah Siwon dengan intens.

“Kau sudah lebih baik?” Tanya Yongri. Siwon tersenyum dan mengangguk.

“Tidak pernah merasa lebih baik dari ini.” Jawab Siwon. Yongri hanya mengangguk singkat. Baru saja ia hendak memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya, ponsel dalam sakunya bergetar. Nama Kyuhyun tertera di sana, dan Yongri tersenyum kecil.

“Yoboseo.”

“Noona, kau baik-baik saja?”

“Ne, waeyo?”

“Aish, aku yang seharusnya bertanya. Kenapa tidak masuk kerja dan tidak memberikanku kabar? Kau membuatku khawatir.”

“Maafkan aku, Kyuhyun-ah. Aku tidak sempat menghubungimu tadi. Aku baik-baik saja. Hanya ada sesuatu yang membuatku tidak bisa masuk kerja.”

“Kau tidak berbohong, kan? Kau benar baik-baik saja, kan?”

“Aku tidak berbohong, Cho Kyuhyun. Sudah ya aku tutup dulu.”

“Baiklah.” TREK. Yongri kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan memasukkan suapan nasi yang sempat tertunda tadi. Ia tidak menyadari jika Siwon memandangnya dengan pandangan tidak suka. Saat Yongri mendongak, barulah ia menyadari tatapan Siwon.

“Ada apa?” Tanyanya.

“Sepertinya kau sangat dekat dengan Kyuhyun.” Ujar Siwon tampak acuh.

“Begitulah.”

“Apa dia menyukaimu?” Yongri memperhatikan wajah Siwon dengan tatapan bingung.

“Seharusnya tanyakan itu pada Kyuhyun. Bukan padaku. Karena aku tidak akan tau jawabannya.”

“Bagaimana jika dia ternyata menyukaimu.”

“Kurasa bukan sesuatu yang buruk. Kyuhyun baik padaku dan dia selalu ada untukku.”

“Kau…menyukainya?” Yongri tersenyum kecil.

“Kenapa? Apa itu berpengaruh untukmu? Bersama Kyuhyun aku merasa senang dan bahagia. Aku dapat melupakan semua masalah-masalahku.” Siwon mencengkram kuat sumpit yang di pegangnya saat mendengar kata-kata Yongri. Namun sepertinya Yongri tampak acuh dengan itu.

“Bersamaku kau tidak bahagia?” Pertanyaan tolol itu keluar begitu saja dari mulut Siwon. Membuat Yongri tersenyum miris.

“Perlukah aku menjawabnya? Kau tentu tau apa yang kau lakukan selama ini padaku. Tentu saja kau dapat menilai apakah aku bahagia atau tidak dengan itu.” Yongri meletakkan sendok serta sumpit yang dipegangnya.

“Aku kenyang. Kau habiskan sendiri saja makanannya.” Kata Yongri dan segera beranjak dari meja makan. Meninggalkan Siwon yang tiba-tiba kehilangan selera makan.

 

~~~

 

Kyuhyun berjalan di lobby apartemennya di daerah Gangnam. Ia hendak menuju parkiran karena akan berangkat kerja. Namun langkahnya terhenti saat melihat dua orang yang sedikit banyak di kenalnya. Apalagi laki-laki tinggi yang di kenalnya sebagai tunangan dari seseorang yang disukainya selama ini secara diam-diam. Tangan Kyuhyun mengepal saat melihat gadis yang bersama laki-laki itu menggandeng tangannya dengan mesra. Kyuhyun pun tau akan gadis itu. Gadis yang dikenalnya sebagai adik tiri dari seseorang yang disukainya itu. Kyuhyun berjalan tergesa mendekati dua orang itu.

“Siwon hyung..” Panggilnya pelan. Merasa terpanggil, Siwon membalikkan badannya. Siwon mundur selangkah saat melihat Kyuhyun berada di hadapannya. Wajahnya berubah tegang dan gugup.

“Cho Kyuhyun…” Gumam Siwon pelan.

“Siapa kau?” Tanya Sangmi tidak suka saat melihat tatapan Kyuhyun yang begitu tajam pada namjachingunya itu. Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Sangmi.

“Adik tidak tau diri.” Desis Kyuhyun. Sangmi menatapnya dengan garang.

“Mwoya?!” Kyuhyun kembali menatap tajam Siwon.

“Ternyata kecurigaanku selama ini memang benar. Ada yang tidak beres dengan hubunganmu dan Yongri noona.” Ujar Kyuhyun. Lidah Siwon terasa keluh untuk membalas kata-kata Kyuhyun.

“Inikah yang selama ini kau lakukan di belakangnya? Berselingkuh dengan calon adik iparmu sendiri?”

“Aku bukan calon adik iparnya!” Bantah Sangmi.

“DIAM!” Teriak Kyuhyun penuh emosi.

“Brengsek!!”

 

BUKKK!!

BUKKK!!

 

Tubuh Siwon terhempas begitu saja ke lantai saat Kyuhyun memberikan tinjunya dengan emosi. Kyuhyun membungkuk dan mencengkram erat kerah kemeja Siwon.

“Taukah kau jika noona sangat mencintaimu, eoh? Taukah kau jika noona selama ini selalu mengatakan bahwa hubungan kalian baik-baik saja? Walaupun sebenarnya aku tau dia berbohong. Dia tidak pernah menjelekkanmu di hadapanku. Dan kau malah berbuat seperti ini dibelakangnya!”

 

BUKKK!!

 

“Siwon oppa!! Tolong!!” Jerit Sangmi. Beberapa petugas keamanan mendekati mereka dan menarik Kyuhyun menjauhi Siwon.

“Lepaskan aku!” Bentak Kyuhyun pada petugas keamanan yang memegangnya. Kyuhyun mencoba menetralkan nafasnya yang tersengal.

“Akan kubuat kau menyesal sudah berbuat seperti ini padanya.” Ancam Kyuhyun dan segera pergi dari hadapan Siwon. Sangmi mendekati Siwon dan mencoba membantunya berdiri.

“Lepas!!” Bentak Siwon sembari menghempaskan tangan Sangmi yang memegangnya. Sangmi kontan terkejut mendapat perlakuan kasar dari Siwon. Ini pertama kalinya Siwon berbuat seperti ini padanya. Dengan langkah sedikit limbung, Siwon berjalan meninggalkan Sangmi dan orang-orang yang sedari tadi memperhatikan pertengkarannya dengan Kyuhyun.

 

 

 

“Keluar!!” Teriak Kyuhyun pada pegawai kesekian yang memasukki ruangannya. Tak lupa Kyuhyun melempar kertas-kertas yang terletak di atas meja kerjanya. Takut akan teriakan Kyuhyun, pegawai itu segera keluar dari ruangan Kyuhyun dan menutup pintunya dengan tergesa. Pegawai perempuan itu menghembuskan nafas lega dan menghampiri meja kerja Yongri.

“Yongri-ssi.” Panggilnya. Yongri mendongak dan tersenyum.

“Ne?”

“Apa kau tau ada apa dengan Direktur Cho?”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Jadi kau tidak tau?” Yongri menggeleng.

“Memangnya ada apa?”

“Beberapa pegawai mengatakan jika Direktur Cho memarahi semua pegawai yang memasukki ruangannya hari ini. Karena aku tidak percaya, aku membawa berkas yang harus di tandatanganinya dan memasuki ruangannya. Ternyata benar, dia malah mengusirku dan melemparkan berkas yang kubawa.” Jelas pegawai itu.

“Benarkah?” Yongri tampak tidak percaya.

“Kau bisa mencobanya jika tidak percaya.” Ujar pegawai itu dan segera pergi dari sana.

“Ada apa lagi dengan anak itu?” Gumam Yongri. Yongri berdiri dari duduknya dan menghampiri ruangan Kyuhyun. Tanpa mengetuknya, Yongri membuka ruangan itu dan mendapati Kyuhyun sedang memejamkan matanya sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerja. Ruangan Kyuhyun berantakan oleh kertas-kertas berserakan di lantai. Yongri menggelengkan kepalanya dan memunguti semua kertas yang berserakan itu. Sesekali ia mendongak untuk melihat Kyuhyun. Namun tidak ada pergerakan sama sekali dari orang itu. Setelah selesai, Yongri mendekati meja kerja Kyuhyun dan meletakkan kertas-kertas itu di atas meja.

“Ada apa denganmu?” Tanya Yongri. Kyuhyun membuka matanya sebentar untuk melihat Yongri, kemudian kembali memejamkan matanya. Yongri mendengus kesal.

“Ya! Aku bertanya padamu!!”

“Noona keluarlah. Aku sedang ingin sendiri.”

“Tidak, sebelum kau mengatakan apa yang membuatmu memarahi semua pegawai hari ini.” Ucap Yongri keras kepala. Kyuhyun seolah tidak peduli dan tetap mengacuhkan Yongri.

“Cho Kyuhyun!!”

“Aku tidak ingin membentakmu, noona. Jadi kumohon keluarlah.” Pinta Kyuhyun. Yongri tersenyum kecil.

“Bentak saja jika kau ingin melakukannya. Aku tidak apa-apa.” Kata Yongri cuek. Kyuhyun membuka matanya dan menatap Yongri.

“Kenapa? Kenapa kau tidak apa-apa jika ada yang membentakmu? Apa karena kau sudah terbiasa mendapatkannya?” Tanya Kyuhyun datar. Yongri menatap Kyuhyun dengan bingung. Ia tidak tau apa maksud dari ucapan Kyuhyun.

“Sebenarnya ada apa denganmu, Kyuhyun-ah? Kenapa pertanyaanmu melantur seperti itu?” Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan Yongri dan malah beranjak dari duduknya menghampiri Yongri. Ia memperhatikan Yongri dengan intens.

“Kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Yongri risih.

“Bukankah noona pernah berjanji padaku, bahwa noona tidak akan menikah tanpa seizinku?”

“N–ne.” Yongri mengangguk ragu. Kyuhyun menghela nafas dan menarik Yongri ke dalam pelukannya.

“Aku tidak akan mengizinkanmu menikah dengan Siwon hyung.” Bisik Kyuhyun. Yongri terkejut dengan kata-kata Kyuhyun dan berusaha melepaskan pelukan Kyuhyun. Namun Kyuhyun mempererat pelukannya.

“Jangan membantahku untuk kali ini, noona.” Lirihnya.

~~~

–To Be Continued–

Advertisements

97 thoughts on “Regret – Part 3

  1. Kyuhyun: Nona TDK q ijinkan kau menikah m siwon hyung
    Yongri : ne?!?
    Kyuhyun: menikahlah deganku
    Yongri: OK
    Siwon: yongri andwae
    Yongri : I don’t care
    Me: rasain loe bang slh siapa bikin org parah hati mulu 😂😂😂😂

  2. daebak.
    nmpaknya kyu sdh mulai ingin menampakkan perasaannya pd yong ri??
    lantas bagaimana dgn siwon.stlh ia kepergok kyu sdg bersama sang mi??
    apakah ia akn memutuskan hubungannya dgn sang mi??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s