Regret – Part 2

Regret – Part 2

Author

Choineke

Title

Regret

Cast

 Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Other cast

Cho Kyuhyun, Kim Sangmi, Kim Ryeowook

Genre

Romance, Sad

Length

Chapter

Rating

PG-15

Apapun yang kita miliki di dunia ini, tidak akan pernah kita sadari dan syukuri sebelum kita kehilangannya. Setelah hilang, yang akan kita rasakan hanya penyesalan. Penyesalan yang tidak akan pernah ada gunanya.

 

Author POV

Ryeowook baru saja hendak keluar dari rumah untuk pergi ke supermarket, saat melihat Sangmi yang turun dari mobil Siwon. Ryeowook langsung bersembunyi di balik jendela dan melihat apa yang di lakukan kedua orang itu. Mata Ryeowook membulat sempurna saat menyaksikan Sangmi mencium mesra pipi tirus Siwon. Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah Siwon seakan menerimanya dengan senang hati. Sesaat setelah mobil Siwon meninggalkan lingkungan rumahnya, Ryeowook segera keluar dari persembunyiannya dan berdiri tepat di hadapan Sangmi.

“Oppa! Kau mengagetkanku!!” Sangmi tidak dapat menutupi keterkejutannya melihat kehadiran Ryeowook. Ia mengelus pelan dadanya sembari berlalu dari hadapan Ryeowook. Namun dengan cepat Ryeowook mencengkram pergelangan tangannya.

“Oppa, ada apa? Aku lelah dan mau istirahat.” Ujar Sangmi protes.

“Apa yang kau lakukan bersama Siwon hyung?” Tanya Ryeowook berusaha meredam amarahnya. Raut wajah Sangmi berubah tegang. Namun itu hanya terjadi sesaat, karena setelahnya raut itu kembali menunjukkan keangkuhan.

“Kau melihatnya?” Tanyanya dengan santai. Ryeowook kembali membulatkan matanya melihat reaksi Sangmi.

“Jadi….kau..dan Siwon hyung-”

“Ne, wae? Apa itu terlalu mengejutkan untukmu, oppa?” Ryeowook mengeratkan cengkramannya di lengan Sangmi hingga membuat adiknya itu meringis kecil.

“Demi Tuhan, Sangmi!! Siwon hyung itu tunangan Yongri noona! Apa kau gila?!” Sangmi tersenyum sinis.

“Itu tidak penting untukku, oppa. Kau tau kenapa? Karena Siwon oppa tidak mencintai eonnie. Dia hanya mencintaiku. Arrachi?!” Lagi, Ryeowook membulatkan matanya. Sepertinya malam itu menjadi malam yang penuh kejutan untuknya. Cengkraman tangannya di lengan Sangmi mengendur dan lama-lama terlepas.

“Biarpun begitu, kau tidak boleh melakukan itu pada noona, Sangmi-ya.” Suara Ryeowook sedikit melembut.

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh melakukannya?” Tantang Sangmi.

“Yongri noona itu kakak kita, Sangmi-ya. Kau tidak boleh melakukan itu pada eonniemu sendiri.” Perkataan Ryeowook membuat Sangmi mendengus.

“Dia bukan eonnieku! Bukankah sudah kubilang jika kakakku itu hanya dirimu! Tidak ada yang lain. Berhenti berdebat denganku. Aku lelah!” Sangmi segera pergi meninggalkan Ryeowook yang masih belum bisa menerima apa yang terjadi pada Yongri. Ia tidak menyangka jika Sangmi tega melakukan ini pada Yongri. Ryeowook mengusap wajahnya dengan frustasi.

“Noona, eotteohke?” Gumamnya.

 

~~~

 

Yongri kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa. Sakit kepalanya sudah tidak pernah di rasakannya lagi. Dan wajahnya kembali cerah, tidak pucat seperti beberapa hari yang lalu. Hari itu hari Minggu, Yongri menghabiskan waktunya di apartemen. Begitupun dengan Siwon. Sebenarnya Yongri sedikit aneh, karena biasanya Siwon selalu menghabiskan hari Minggunya di luar. Tetapi setidaknya ia senang karena bisa bersama Siwon satu hari penuh.

Jam-jam terlewati begitu saja tanpa terasa. Entah apa yang dilakukan oleh kedua orang itu hingga sekarang langit sudah mulai gelap. Yongri sengaja membuatkan makan malam untuk mereka berdua. Dengan cekatan dan persis seperti ibu rumah tangga, ia kesana kemari mengambil alat memasak serta bahan makanan. Setelah hampir satu jam berkutat di dapur, makanan-makanan yang menggugah selera sudah tergeletak pasrah di atas meja makan. Yongri tampak tersenyum puas dengan hasil masakannya. Ia segera meletakkan apron yang di pakainya kemudian menuju kamar Siwon. Diketuknya pelan kamar itu kemudian membuka pintunya. Dapat dilihatnya Siwon sedang berkutat dengan laptopnya sembari duduk di atas kasur.

“Siwon-ah..” Panggilnya perlahan. Siwon mendongak sebentar dan kemudian kembali menatap laptop.

“Aku sudah menyiapkan makan malam. Kau bisa makan dulu baru kembali melanjutkan pekerjaanmu.” Siwon tampak tidak bergerak. Yongri hendak melangkah mendekati Siwon saat tiba-tiba Siwon kembali mendongak dan menatap tajam tepat di manik matanya. Kaki Yongri mendadak seperti di paku sehingga ia tidak bisa bergerak. Siwon menutup kasar laptopnya dan segera keluar dari kamarnya. Setelah beberapa saat, Yongri baru ikut keluar dari kamar Siwon. Yongri mengambil tempat duduk tepat di hadapan Siwon yang sudah lebih dulu menyantap makan malamnya dalam diam.

“Kau bekerja keras akhir-akhir ini. Makanlah yang banyak.” Ujar Yongri sembari tersenyum manis. Tidak ada tanggapan dari Siwon hingga akhirnya membuat Yongri ikut bungkam dan menyantap makan malamnya.

Yongri membereskan meja makan saat dirinya dan Siwon telah selesai mengisi perut mereka. Siwon terus duduk di atas meja sembari melamun. Yongri sendiri tidak mau ambil pusing dan segera mencuci semua piring kotor. Hingga kegiatan Yongri selesai, Siwon tidak juga beranjak dari tempatnya. Yongri memandangnya heran namun tidak berani untuk menanyakannya.

“Aku akan ke kamar. Jika membutuhkan sesuatu katakan saja padaku.” Ujarnya pelan dan berlalu dari hadapan Siwon.

“Yongri-ya…” Suara Siwon menghentikan langkah Yongri tetapi ia tidak berbalik. Yongri harap-harap cemas menanti kata-kata Siwon selanjutnya. Ia harus menyiapkan hatinya jika Siwon akan kembali membentaknya. Cukup lama ia menanti Siwon kembali berbicara. Hingga akhirnya ingin kembali melanjutkan langkahnya sebelum merasakan Siwon memeluknya dari belakang. Tubuh Yongri menegang. Pertama kalinya Siwon memeluknya seperti ini. Yongri bahkan kehilangan kata-katanya untuk menanyakan ada apa dengan laki-laki itu. Dengan perlahan Siwon membalikkan tubuh Yongri hingga mereka berhadapan.

“Siwon-ah… A–ada apa?” Tanya Yongri terbata. Raut wajah Siwon tidak menampilkan ekspresi lain selain datar dan dingin. Siwon mendekatkan wajahnya dengan wajah Yongri hingga akhirnya membungkam bibir Yongri dengan bibirnya. Kali ini Yongri membulatkan matanya dengan perlakuan Siwon. Ada apa dengan Siwon? Itulah yang ada di benaknya. Otak Yongri serasa membeku dan tidak dapat berpikir apapun selain merasakan lembutnya bibir Siwon. Baru saja Yongri hendak menutup matanya untuk menikmati moment romantis itu, saat dengan tiba-tiba Siwon menjauhkan wajah mereka. Yongri merasakan wajahnya memanas.

“Siwon-ah…” Suara Yongri terdengar serak.

“Mulai detik ini…bisakah kau tidak memperlihatkan dirimu di hadapanku?” Nada suara Siwon terdengar tenang saat mengatakannya.

“N–ne?”

“Jangan perlihatkan dirimu di hadapanku.” Ulang Siwon. Mata Yongri berkaca-kaca mendengar kata-kata Siwon yang begitu menyakitkan. Jika seperti ini, mengapa Siwon memeluk bahkan menciumnya? Apa Siwon benar-benar ingin mempermainkan perasaannya?

“Menjauhlah dari hidupku mulai dari sekarang.” Ucap Siwon lagi dan segera berlalu dari hadapan Yongri. Meninggalkan Yongri yang mulai menangis hingga akhirnya terisak.

 

~~~

 

Siwon menggeliat dalam tidurnya dan merasa terganggu dengan panasnya matahari. Ia sedikit melenguh sebelum akhirnya bangkit menjadi duduk. Ia memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya terbuka sempurna. Siwon menghela nafas panjang. Pikirannya melayang kepada kejadian semalam. Kejadian di mana ia merasa telah menjadi laki-laki paling brengsek sedunia. Ia merasakan itu. Sesak di dadanya semakin menjadi jika mengingat wajah Yongri yang berderai airmata seperti semalam. Ia pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Di satu sisi ia memang menginginkan Yongri menjauh dari hidupnya. Tetapi setelah kata-kata itu meluncur mulus dari mulutnya sendiri, ia merasakan sesal yang sangat dalam. Siwon lagi-lagi menghela nafas sebelum akhirnya beranjak dari tempat tidur untuk bersiap-siap ke kantor.

Siwon keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Ia merasa kerongkongannya kering sehabis mandi. Namun sebelum sampai di dapur, langkahnya terhenti saat melihat pemandangan di meja makan. Ia tertegun melihat beberapa makanan tersaji rapi di atas meja. Ia tau, sangat tau siapa yang melakukan itu. Ia mendengus pelan.

“Bodoh.” Gumamnya dan segera berlalu dari sana. Tiba-tiba rasa hausnya hilang.

 

 

Yongri duduk termenung di depan laptop yang berada di meja kerjanya. Di tangan kanannya terdapat ponsel hitam yang berwallpaper seseorang yang sangat dicintainya. Ia memperhatikan layar ponselnya itu dengan mata berkaca-kaca. Semuanya terlalu menyakitkan. Bahkan ia pun tidak merasakan lelah karena sudah menangis semalaman. Saat itupun ingin rasanya ia menangis sekencang-kencangnya, jika tidak mengingat sedang berada di kantor. Setetes airmata bergulir dari sudut matanya saat kembali mengingat kata-kata Siwon semalam. Akhirnya ia pun yakin bagaimana perasaan Siwon padanya. Dan ia pun dapat memastikan cepat atau lambat Siwon akan pergi dari hidupnya. Hanya saja, untuk saat ini Yongri benar-benar tidak mau menjauh dari Siwon. Ia belum mampu dan tidak akan pernah mampu melakukannya.

“Eomma… Apa yang harus aku lakukan?” Gumamnya. Tiba-tiba saja Yongri mengingat ibu kandungnya dan membuatnya menjadi terisak. Sepertinya ia benar-benar tidak bisa menahan airmata itu untuk tidak terus menerus keluar. Yongri pun segera bangkit dari duduknya untuk menuju toilet. Ia ingin menangis dengan bebas di sana. Maka dengan terburu-buru ia pun berjalan dengan menundukkan kepalanya.

 

BRUKKK

 

Tubuh Yongri tersungkur ke samping saat dengan tidak sengaja menabrak seseorang. Kakinya terasa terkilir. Yongri memegangi pergelangan kakinya sembari meringis.

“Noona..” Beruntung, Kyuhyun masih dapat menahan tubuhnya agar tidak terjatuh menimpa Yongri. Ya, orang yang di tabrak oleh Yongri adalah Kyuhyun. Kyuhyun segera berjongkok di hadapan Yongri karena khawatir.

“Noona, gwenchana?” Tanyanya cemas. Berharap mendapatkan jawaban yang bisa membuatnya lega, Kyuhyun justru menjadi bingung dan khawatir saat melihat Yongri menangis. Tangis yang penuh dengan isakan.

“Noo–noona…” Ucap Kyuhyun lirih. Yongri tidak menjawab dan menangis semakin menjadi.

“Apa terjadi sesuatu, noona?” Tanya Kyuhyun sekaligus menebak. Kyuhyun tau Yongri orang yang tidak mudah menangis hanya karena terjatuh seperti ini. Pasti telah terjadi sesuatu yang membuatnya sampai terisak seperti ini.

“Kau menabrakku terlalu keras.. Hingga membuatku kesakitan.” Jawab Yongri masih dengan terisak. Yongri beruntung karena memiliki alasan agar dapat menangis seperti itu. Bukan Kyuhyun namanya jika dengan mudah mempercayai jawaban itu. Ia mengertukan keningnya dalam. Lagi-lagi Yongri tidak ingin bercerita padanya.

“Jinjja?” Tanya Kyuhyun basa-basi. Ia hanya tidak tau harus berkomentar seperti apa.

“Sakit….sangat sakit…Kyuhyun-ah…” Isak Yongri. Kyuhyun menghela nafas dan menarik Yongri ke dalam pelukannya. Sedikit bersyukur karena Yongri tidak menolak.

“Mianhae jeongmal. Menangislah jika itu bisa menghilangkan rasa sakitnya.” Bisik Kyuhyun sembari mengelus punggung Yongri. Maka tanpa menahannya sedikitpun, Yongri menangis dengan kencang. Mengundang perhatian karyawan kantor yang memang berada di dekat mereka. Para karyawan berbisik-bisik iri dan aneh melihat Kyuhyun memeluk Yongri yang sedang menangis. Namun sepertinya kedua insan itu tidak memperdulikan mereka dan sibuk pada dunia mereka sendiri.

 

 

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Kyuhyun sembari memberikan sebotol air mineral pada Yongri. Keduanya saat ini tengah berada di taman kota yang masih dipadati pengunjung walaupun sudah malam. Yongri mengangguk singkat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia meminum air mineral yang diberikan oleh Kyuhyun. Walaupun sebenarnya ia tidak merasa haus.

“Pergelangan kakimu sedikit membengkak, noona. Apa kita perlu kerumah sakit?” Ada nada cemas dalam pertanyaan Kyuhyun. Yongri tersenyum tipis dan ikut memperhatikan pergelangan kakinya yang memang sedikit membesar.

“Tidak apa-apa. Satu atau dua hari pasti sembuh.” Jawab Yongri menenangkan.

“Kau yakin?” Yongri lagi-lagi mengangguk. Wajah yeoja mungil itu sedikit pucat. Namun mata serta hidungnya memerah sehabis menangis cukup lama. Kyuhyun mengela nafas sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar.

“Seperti bukan dirimu.” Gumam Kyuhyun. Yongri menoleh menatap Kyuhyun menuntut penjelasan atas gumamannya itu.

“Apa?” Tanya Yongri. Kyuhyun membalas tatapan Yongri dan tersenyum sedikit dipaksakan.

“Aku hanya merasa ini bukan kau.” Alis Yongri terangkat sebelah.

“Apa maksudmu?”

“Aku mengenalmu sudah lebih dari 4 tahun, noona. Kau bukan wanita cengeng seperti ini. Hanya karena jatuh, kau tidak mungkin menangis sampai terisak. Dan asal kau tau, tangismu benar-benar terdengar menyedihkan.” Jelas Kyuhyun membuat Yongri menundukkan kepalanya. Kyuhyun menggeser duduknya menjadi menghadap Yongri.

“Noona kumohon katakan padaku. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuatmu menangis?” Tanya Kyuhyun sedikit mendesak. Yongri mengangkat kepalanya dan menatap mata Kyuhyun yang penuh harap. Namun akhirnya ia hanya menggeleng dan tersenyum kecil.

“Tidak terjadi apapun, Kyuhyun-ah. Aku menangis karena kakiku memang sakit. Kau dapat melihat buktinya.” Kata Yongri dengan menggerakkan sedikit kakinya. Kyuhyun kembali menghela nafas dan memposisikan duduknya seperti semula. Ia kesal karena Yongri tidak mau membagi cerita padanya.

“Mungkin kau belum bisa bercerita sekarang padaku. Tetapi aku akan selalu ada disisimu dan siap mendengarkan semua keluh kesahmu, noona.” Ujar Kyuhyun lirih dan tanpa menatap Yongri.

 

 

Kyuhyun memapah Yongri memasukki apartemen Yongri dan Siwon. Sebenarnya Yongri sudah menolak saat Kyuhyun bersikeras untuk membantunya berjalan. Ia hanya takut Siwon melihat itu dan menganggapnya sebagai wanita lemah. Ia tidak mau Siwon menganggapnya seperti itu.

“Sampai sini saja, Kyuhyun-ah. Aku bisa masuk ke kamarku sendiri.” Ujar Yongri.

“Apa kau yakin?”

“Iya. Sekarang pulanglah. Dan terima kasih sudah membantuku.”

“Terima kasih apa? Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau tidak marah padaku yang sudah membuat kakimu seperti itu.” Yongri tertawa kecil.

“Bukan masalah serius.”

“Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, noona. Segeralah istirahat dan jangan banyak bergerak. Istirahatlah hingga pergelangan kakimu benar-benar sembuh. Tidak perlu ke kantor. Arraseo?”

“Ne. Arraseo.”

“Oh ya, besok aku akan kemari. Dan jangan menolakku.” Ancam Kyuhyun dengan mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Yongri. Yongri tidak mampu untuk tidak tertawa melihat raut wajah Kyuhyun yang lucu.

“Pulanglah.” Ujar Yongri.

“Annyeong, noona!”

“Annyeong.”

Yongri segera menutup rapat pintu apartemennya saat Kyuhyun sudah keluar. Ia menghela nafas sebentar sebelum akhirnya berbalik dan dengan susah payah menuju kamarnya. Siwon mengerutkan dahi bingung saat melihat Yongri berjalan tertatih-tatih. Namja tampan itu hendak keluar kamar saat melihat Yongri yang sedang menutup pintu apartemen. Diurungkannya niatnya itu dan memilih melihat Yongri dari celah pintunya. Hati kecil Siwon memaksanya untuk keluar dan membantu berjalan. Namun keegoisan dan rasa gengsinya menahan diri untuk melakukan itu. Akhirnya ia hanya dapat menelan rasa penasaran atas apa yang terjadi pada Yongri.

 

~~~

 

Siwon menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja di ruang kantornya. Ia memejamkan mata sembari menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali. Akhir-akhir ini Siwon sedikit kesal pada dirinya sendiri yang tiba bisa tenang. Ia merasa ada yang menganggu pikirannya. Pekerjaan kantorpun sendikit terbengkalai karena itu. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah seseorang yang selama ini di bencinya, seseorang yang tidak di sukainya selalu muncul di pikirannya. Bukankah itu aneh? Lalu kenapa akhir-akhir ini ia sering memikirkan Yongri? Tepatnya semenjak ia meminta Yongri menjauh darinya. Ini sudah seminggu sejak Siwon meminta permintaan yang tidak masuk akal itu. Dan selama seminggu itu pula ia tidak pernah bertatap muka dengan Yongri. Tetapi diam-diam, Siwon selalu mengamati pekerjaan Yongri di apartemen. Tentu saja Yongri tidak mengetahuinya. Siwon menghembuskan nafas kasar sebelum membuka mata dan berniat menyelesaikan pekerjaannya. Namun niat itu tertunda saat melihat Sangmi memasukki ruangannya. Ia mengembangkan senyumnya pada wanita itu.

“Kau datang..” Ujar Siwon.

“Oppa sedang sibuk?” Tanya Sangmi sembari duduk di depan meja kerja Siwon.

“Seperti yang kau lihat. Pekerjaanku menumpuk.” Jawab Siwon tanpa minat. Sangmi mengembungkan pipinya sedikit kesal.

“Kenapa bisa? Apa kau banyak bersantai?” Siwon tersenyum kecil.

“Entahlah, hanya malas bekerja saja beberapa hari ini.” Sangmi memicingkan matanya sembari menatap Siwon.

“Wae? Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Siwon risih.

“Apa terjadi sesuatu? Seminggu terakhir ini kau memang sedikit aneh.”

“Benarkah? Mungkin perasaanmu saja.” Elak Siwon sembari mencoba fokus pada pekerjaannya di atas meja. Sangmi terus memperhatikan Siwon penuh curiga. Ia yakin memang Siwon bersikap aneh, dan itu bukan perasaannya semata.

“Apa karena eonnie?” Tebak Sangmi yang berhasil membuat Siwon terbatuk kecil.

“Mworago? Kenapa tiba-tiba membawa Yongri? Sudah kubilang aku tidak apa-apa.”

“Justru karena kau mengatakan tidak apa-apa, aku semakin curiga.” Gumam Sangmi yang tidak di tanggapi oleh Siwon. Walaupun sebenarnya Siwon mendengar gumaman itu.

“Ayoi kita makan siang bersama!” ajak Sangmi.

“Aku tidak lapar, Sangmi-ya. Lagipula kau bisa lihat, pekerjaanku sangat menumpuk.” Tolak Siwon.

“Oppa kau tau jika aku paling tidak suka ditolak.” Sangmi menatap Siwon dengan tajam. Siwon membalas tatapan Sangmi. Cukup lama mereka saling bertatap hingga akhirnya Siwon mengalihkan pandangannya dan menghela nafas pelan.

“Baiklah. Kita pergi sekarang.” Kata Siwon mengalah dan berhasil membuat senyum Sangmi mengembang.

 

 

Yongri memarkirkan mobilnya dengan sempurna di depan rumah keluarga Kim. Ia segera turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah. Ternyata Tn. dan Ny. Kim serta Ryeowook sedang makan malam bersama. Tidak ada Sangmi di sana, dan Yongri pun tidak mau ambil pusing dengan ketidakhadiran adik perempuannya itu.

“Eoh? Noona!” Ucap Ryeowook riang saat melihat kehadiran Yongri. Tersenyum kepada mereka dan mengambil tempat di samping Ryeowook.

“Apa aku boleh bergabung?” Tanya Yongri.

“Apa pertanyaan itu pantas kau ajukan pada keluargamu sendiri?” Tanya Tn. Kim balik sembari menatap Yongri hangat. Yongri tersenyum lembut pada Tn. Kim.

“Ah baiklah, kalau begitu aku akan makan.” Ujar Yongri riang. Akhirnya malam itu keluarga Kim makan malam dengan suasana hangat. Sesekali terdengar tawa mereka saat mendengar sesuatu yang lucu. Atau kadang terdengar teriakan Yongri maupun Ryeowook yang membuat Tn. serta Ny. Kim tidak pernah berhenti tertawa.

“Malam ini perutku benar-benar kenyang. Kenyang oleh makanan serta kenyang karena tertawa.” Ujar Tn. Kim sembari mengelus perutnya yang sedikit membuncit.

“Karena makan malam sudah selesai, sebaiknya sekarang kau istirahat. Kau sudah terlalu lelah karena tertawa.” Ny. Kim mengingatkan suaminya. Tn. Kim mengangguk mengerti dan beranjak dari duduknya.

“Abeoji, eommoni, malam ini bolehkan aku tidur disini?” Tanya Yongri menghentikan gerakan Tn. Kim.

“Woah.. Ada apa? Tidak biasanya.” Ny. Kim tampak senang.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin saja. Bolehkan?” Raut wajah Yongri penuh harap.

“Aigoo, anakku. Tentu saja boleh. Bukankah rumah ini juga rumahmu, eoh?” Kata Tn. Kim.

“Tapi apa kau sudah minta izin pada Siwon?” Tanya Ny. Kim. Yongri terdiam sebentar karena pertanyaan itu. Sedangkan Ryeowook terus menatap wajah Yongri yang rautnya tiba-tiba berubah.

“Aku sudah minta izin padanya.” Ujar Yongri berbohong. Lagipula Yongri juga sudah tau, tanpa meminta izinpun Siwon tidak akan mencarinya. Atau mungkin Siwon akan bersorak senang karena malam ini ia tidak pulang.

“Baiklah kalau begitu. Segera istirahatlah.” Tn. dan Ny. Kim segera berlalu dari ruang makan menuju kamar mereka. Meninggalkan Ryeowook dan juga Yongri di sana.

“Noona kau belum ingin tidurkan?” Tanya Ryeowook.

“Belum, kenapa?”

“Bagaimana jika kita menonton televisi saja di ruang keluarga? Bukankah sudah lama kita tidak menonton bersama?” Ajak Ryeowook. Yongri tampak berpikir sebentar.

“Ya kau benar juga. Ayo kita lakukan.” Tanggap Yongri dengan antusias.

 

Hampir setengah jam Ryeowook dan Yongri menonton televisi bersama. Tetapi sepertinya hanya Yongri yang tampak fokus dengan televisi. Berbeda dengan Ryeowook yang banyak duduk dengan gelisah. Sesekali ia menatap wajah Yongri dan hendak menanyakan sesuatu. Namun diurungkan karena takut. Beberapa kali ia menarik nafas dan menghembuskannya.

“Noona..” Panggilnya pelan.

“Hmm?” Sahut Yongri tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

“Kapan kau akan menikah?” Kali ini Yongri terpaksa menatap Ryeowook saat mendengar pertanyaan itu.

“Ada apa? Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?” Tanya Yongri bingung.

“Ah itu….itu… Noona aku juga ingin menikah!!” Mata Yongri membulat saat mendengar kata-kata Ryeowook yang terdengar seperti rengekan. Yongri tau, Ryeowook memang sering bersikap manja padanya. Namun ia tidak menyangka jika untuk hal yang penting seperti inipun Ryeowook masih harus merengek.

“Wookie-ya..” Yongri seperti kehilangan kata-kata.

“Kata abeoji, jika aku ingin menikah, aku harus menunggumu menikah terlebih dahulu.” Kata Ryeowook berbohong. Tentu saja berbohong, ia mengatakan itu hanya ingin tau tanggapan Yongri. Ryeowook ingin tau bagaimana sebenarnya hubungan Yongri dan Siwon.

“Wah, siapa wanita beruntung itu? Kenapa kau tidak mengenalkannya padaku?” Yongri mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Noona jangan mengalihkan pembicaraan.” Ujar Ryeowook datar. Yongri terdiam.

“Aku tidak tau, Wookie-ya.” Kata Yongri pelan.

“Apa maksudmu, noona?”

“Siwon sangat sibuk, dan aku rasa kami belum sempat membicarakan pernikahan.” Kilah Yongri.

“Tetapi pernikahan itu sesuatu yang sangat penting, noona. Sesibuk apapun Siwon hyung, bukankah ia tetap harus memikirkannya? Umur kalian sudah tidak muda lagi.” Ujar Ryeowook panjang lebar. Yongri menghela nafas sembari tersenyum miris.

“Mungkin kami tidak akan pernah menikah.” Gumamnya.

“Noona..” Ryeowook tidak dapat menutupi keterkejutannya saat mendengar gumaman Yongri.

“Aku ingin tidur.” Yongri segera beranjak dari duduknya. Ia hanya tidak mau jika Ryeowook banyak bertanya mengenai hubungannya dengan Siwon. Namun langkahnya tertahan oleh genggaman tangan Ryeowook. Ryeowook sedikit memaksanya kembali duduk.

“Sebenarnya apa yang terjadi, noona? Selama ini kau tampak baik-baik saja dengan hubungan kalian. Tetapi sepertinya perkiraanku salah.” Ujar Ryeowook sembari menatap wajah Yongri. Pandangan Yongri tiba-tiba saja mengabur. Airmata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Semuanya tidak baik-baik saja, Wookie-ya. Semuanya tidak baik-baik saja.” Lirih Yongri dengan setetes airmata yang mengalir di pipi putihnya.

“Ceritakan padaku, noona. Aku mohon. Jangan memendamnya sendirian.” Pinta Ryeowook sembari menggenggam erat kedua tangan Yongri.

“Dia tidak pernah mencintaiku. Dia membenciku.” Ucap Yongri dengan mulai terisak.

“Bagaimana kau mengetahuinya, noona?”

“Sekalipun ia tidak pernah bersikap lembut padaku. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu membuatku sakit.”

“Apa ia pernah memukulmu?”

“Tidak. Ia tidak pernah melakukannya. Aku cukup bersyukur akan hal itu.”

“Bagaimana mungkin Siwon hyung bersikap seperti itu padamu. Kau itu tunangannya. Jika memang ia tidak menyetujui perjodohan kalian, seharusnya ia mengatakan itu pada orangtuanya. Bukan melampiaskannya padamu.” Ryeowook mulai geram pada sikap Siwon. Yongri lagi-lagi tersenyum miris.

“Satu minggu yang lalu, dia bahkan memintaku untuk menjauh dari hidupnya. Dia tidak mau melihat kehadiranku, Wookie-ya. Itu sangat menyakitkan.” Isak Yongri. Ryeowook memandang iba pada kakak perempuan satu-satunya itu.

“Kau sangat mencintainya?” Yongri mengangguk. Ryeowook menghela nafas dan menarik Yongri ke dalam pelukannya.

“Aku akan mengatakannya pada aboeji dan eommoni.” Bisik Ryeowook.

“Jangan, Wookie-ya. Jangan.”

“Waeyo?”

“Aku hanya tidak ingin mereka kecewa dengan semua ini. Biarkan saja seperti ini. Aku juga tidak sanggup untuk berpisah dengan Siwon.” Ryeowook semakin mengeratkan pelukannya pada Yongri saat tangis yeoja itu semakin menjadi. Ia mengedarkan pandangannya pada ruang keluarga itu, dan pandangannya terhenti saat melihat Sangmi di ujung pintu yang sedang memperhatikan mereka. Ryeowook menatap adiknya itu dengan pandangan tajam. Sedangkan Sangmi hanya tersenyum sinis dan segera berlalu dari sana.

‘Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menyakiti noona, Sangmi-ya. Walaupun kau adik kandungku, aku tidak akan pernah mendukung perbuatanmu yang hanya akan membuat noona menangis.’ Ucap Ryeowook dalam hati.

 

~~~

 

Yongri menuruni tangga untuk menuju meja makan. Dia memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu di rumah sebelum menuju kantornya. Namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Sangmi yang hendak menaiki tangga. Sangmi menatapnya tajam sembari tersenyum sinis.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Sangmi ketus.

“Ne?!”

“Aku tanya, apa yang kau lakukan disini?” Ulang Sangmi.

“Semalam aku menginap di sini.” Jawab Yongri. Lagi-lagi Sangmi tersenyum sinis.

“Sepertinya aboeji dan eommoni akan membuat hotel di rumah ini. Agar dapat di tempati oleh siapapun.” Ujar Sangmi.

“Sangmi-ya..”

“Kuharap kau sadar diri. Rumah ini bukan rumahmu. Dan jangan seenaknya menginjakkan kakimu di sini.”

“KIM SANGMI!” Sangmi dan Yongri sama-sama terlonjak saat mendengar teriakan Ryeowook dari lantai atas. Ryeowook segera menuruni tangga dan berdiri di samping Yongri.

“Apa kau tidak bisa bersikap sopan pada kakakmu?!” Bentak Ryeowook yang hanya di balas dengusan oleh Sangmi.

“Minta maaf!” Suruh Ryeowook. Sangmi menatap Ryeowook dengan pandangan tajam dan kesal.

“Tidak akan pernah. Sebaiknya kau jangan terlalu banyak berharap oppa.” Balas Sangmi ketus sembari melewati Ryeowook dan Yongri menuju ke atas. Namun dengan cepat di susul oleh Ryeowook, dan mencengkram pergelangan tangannya.

“Lepaskan aku!!” Sangmi memberontak dari cengkraman Ryeowook. Yeoja itu menghempas kuat tangannya. Tangannya berhasil terlepas dari pegangan Ryeowook, namun hempasan yang terlalu kuat itu membuat tubuh Ryeowook tidak seimbang dan akhirnya menggelinding di tangga hingga sampai di bawah.

“WOOKIE!!!!” Jerit Yongri saat melihat tubuh Ryeowook terhenpas di lantai. Dengan cepat Yongri menuruni tangga dan menghampiri Ryeowook. Sedangkan Sangmi hanya dapat terpaku dengan tubuh gemetar.

“Wookie-ya..” Yongri mengangkat kepala Ryeowook dan menahan dengan lengannya.

“Noona…aku baik-baik..saja..” Ujar Ryeowook sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya. Beruntung tidak terlalu banyak tangga yang harus di lewati oleh Ryeowook sehingga tidak membuat tubuhnya terluka parah.

“Ada apa ini?” Tanya Tn. Kim yang baru saja keluar dari kamarnya diikuti oleh Ny. Kim.

“Ryeowook-ah?!” Tn. dan Ny. Kim segera menghampiri Ryeowook saat melihat keadaan anak laki-laki satu-satunya itu sedikit mengejutkan.

“Apa yang terjadi?” Tanya Ny. Kim khawatir.

“Aku tidak apa-apa, eommoni.” Jawab Ryeowook sembari memaksakan senyumnya. Tn. Kim melihat ke arah tangga dan dapat melihat Sangmi yang masih betah berdiri di sana.

“Apa Sangmi yang menyebabkan semua ini?” Tanya Tn. Kim sembari meredam emosinya. Ryeowook menggeleng pelan.

“Tidak aboeji. Aku hanya tidak hati-hati sehingga terjatuh.” Kilah Ryeowook. Yongri meneteskan airmatanya mendengar jawaban Ryeowook. Ia merasa bersalah. Seharusnya semalam ia tidak pulang ke rumah ini, sehingga menyebabkan Ryeowook dan Sangmi bertengkar.

“Noona aku baik-baik saja. Jangan menangis.” Ujar Ryeowook dan kemudian mencoba berdiri walaupun sesekali meringis merasakan sakit di sekitar pinggang dan kakinya.

“Lebih baik kau tidak usah bekerja hari ini. Istirahat saja di rumah.” Kata Tn. Kim bijak dan segera berlalu dari sana.

“Kau benar baik-baik saja? Apa perlu eommoni bawakan obat?” Ny. Kim masih tampak khawatir.

“Tidak perlu eommoni. Aku tidak apa-apa, sungguh.” Ryeowook kembali tersenyum.

“Noona, bisakah antarkan aku ke kamar?” Pinta Ryeowook. Yongri menyeka airmatanya dan mengangguk. Ia segera memapah Ryeowook menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Saat berada di samping Sangmi, Ryeowook menghentikan langkahnya dan menatap Sangmi dengan pandangan yang sulit di artikan. Sedangkan Sangmi tidak membalas tatapan itu dan malah menatap ke depan dengan pandangan kosong. Tubuhnya masih sedikit gemetar. Yongri dan Ryeowook melanjutkan langkah mereka hingga akhirnya sampai di kamar Ryeowook. Yongri membantu Ryeowook berbaring di kasur dan kemudian ia duduk di pinggir kasur.

“Apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja?” Suara Yongri terdengar serak. Ryeowook menggeleng pelan.

“Maafkan aku. Ini tidak mungkin terjadi jika semalam aku tidak menginap di sini.” Sesal Yongri.

“Jangan pernah berkata seperti itu, noona. Kau tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak akan membiarkan orang-orang menyakitimu, noona. Tidak untuk Siwon hyung maupun Sangmi.”

“Wookie-ya…”

“Dan mulai sekarang, kau juga harus berjanji padaku. Bahwa kau akan menceritakan apapun yang terjadi padaku. Kau tidak boleh menyimpannya sendiri. Arrachi?” Yongri menatap Ryeowook dengan tatapan haru. Sesaat kemudian ia mengangguk patuh.

“Gomawo, Wookie-ya.”

 

 

Yongri kembali ke apartemen saat hari mulai malam. Hari ini sepertinya sangat melelahkan untuknya. Pikiran maupun tubuh semuanya terasa lelah. Ia benar-benar ingin mengistirahatkan dirinya malam ini tanpa gangguan apapun. Langkah Yongri terhenti saat melihat Siwon keluar dari kamarnya. Ia mengepalkan tangannya karena takut bercampur gugup. Pasalnya Yongri sudah seminggu lebih tidak melihat Siwon. Dan malam itu ia kembali melihat wajah yang sangat dirindukannya itu. Sama halnya dengan Yongri, Siwonpun menahan langkahnya dan sibuk memperhatikan wajah Yongri yang sedikit memucat. Yongri mencoba bersikap biasa dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa menatap Siwon.

“Bukankah sudah kubilang untuk tidak memperlihatkan dirimu di hadapanku?” Suara bass Siwon mampu menghentikan kembali langkah Yongri. Posisi mereka saat ini saling membelakangi. Yongri kembali mengepalkan tangannya mencoba meluapkan semua perasaan yang saat ini dirasakannya.

“Kenapa? Kenapa aku harus melakukannya?” Tanya Yongri pelan.

“Kenapa kau selalu bertindak sesuka hatimu? Kenapa aku tidak boleh melakukan yang tidak kau suka? Kenapa kau sangat egois, Siwon-ah?” Lirih Yongri. Sesak. Dadanya kembali terasa sesak.

“Begitu banyak pertanyaan kenapa di otakku, dan tak ada satupun yang dapat kujawab. Bisakah kau membantuku menjawabnya?” Siwon tidak mampu menjawab pertanyaan Yongri. Dada laki-laki itu bergemuruh hebat. Dahinya berkerut dalam tanda ia sedang berpikir keras.

“Lupakan. Lupakan permintaanku, yang aku yakin kau tidak akan mungkin mengabulkannya.”

“Jika kau memang tidak ingin melihatku lagi, hanya ada satu cara. Aku akan pergi dari apartemen ini. Tapi aku harap kau dapat bersabar sedikit, hingga aku mendapatkan tempat tinggal. Untuk kali ini saja, ku harap kau bersabar jika harus kembali melihatku. Maafkan aku.” Yongri segera berlalu dari tempatnya berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Ia membanting keras pintu kamarnya dan bersandar di balik pintu. Tangisnya semakin keras dan penuh dengan isakan. Bahkan Siwonpun dapat mendengarnya dengan jelas. Kembali, Siwon merasakan dadanya sesak mendengar tangis Yongri. Ia memegangi dadanya dan sedikit menekannya untuk menghilangkan rasa sesaknya. Namun sia-sia, sesak itu semakin menjadi seiring tangis Yongri yang juga semakin keras. Siwon membalikkan badannya dan menatap nanar pintu kamar Yongri.

 

~~~

 

Yongri memasukki salah satu rumah sakit terkenal di Seoul. Siang itu ia kembali merasakan sakit kepala yang luar biasa. Sepertinya terlalu banyak masalah serta kurang tidur membuat kesehatan Yongri menurun. Yongri mendaftarkan dirinya di bagian informasi. Setelah mengisi data diri, ia di minta menunggu oleh petugas disana. Hampir setengah jam menunggu, nama Yongri terdengar di panggil oleh salah satu perawat. Yongri segera beranjak dan memasukki ruang praktek seorang doketr bermarga Yoon.

“Selamat siang, Nona Yongri.” Sapa dokter perempuan yang berumur sekitar 40an.

“Selamat siang, dokter.” Sapa Yongri balik sembari tersenyum.

“Silahkan duduk.” Yongri mengangguk dan segera mengambil tempat duduk di hadapan dokter itu.

“Bisa katakan keluhan Anda?” Pinta Dokter Yoon ramah.

“Akhir-akhir ini saya sering merasakan sakit kepala yang luar biasa, dok. Biasanya jika saya mengalami sakit kepala, itu akan hilang dalam beberapa menit saja. Tetapi sakit kepala yang saya rasakan akhir-akhir ini benar-benar sulit di tahan, dok.”

“Sudah berapa lama Anda merasakannya, Nona Yongri?”

“Hampir 2 minggu ini.” Dokter itu mengangguk.

“Bisa saya periksa terlebih dahulu?” Ujar dokter itu dan di balas anggukan dari Yongri. Yongri segera berbaring di ranjang yang tersedia di sana. Tidak sampai 15 menit, dokter itu menyelesaikan pemeriksaannya.

“Saya tidak menemukan apapun.” Ujar Dokter Yoon.

“Benarkah?” Yongri tampak lega.

“Tetapi lebih baik Anda melakukan pemeriksaan lebih dalam, Nona. Agar lebih jelas apa penyebab kepala Anda sering sakit. Jika hari ini Anda melakukan pemeriksaan, mungkin 3 hari kedepan hasilnya bisa keluar.” Saran Dokter Yoon.

“Ah begitu.” Ujar Yongri paham.

“Untuk saat ini, saya hanya dapat memberikan obat penghilang sakit saja. Obat ini tidak ada efek samping. Sehingga jika Anda merasakan sakit, sebaiknya cepat meminum obat ini.”

“Ne, saya mengerti, dok.”

Setelah melakukan pemeriksaan sesuai yang dianjurkan oleh Dokter Yoon, Yongri berjalan keluar dari rumah sakit menuju mobilnya. Ia memutuskan untuk pulang ke apartemennya karena tubuhnya terasa sangat lemas. Dengan kecepatan sedang ia mengendarai mobilnya hingga hampir satu jam kemudian sampai di apartemen.

 

Puncak kemalasan Siwon untuk bekerja akhirnya terbukti hari ini. Ia memilih untuk tidak bekerja dan malah bermalas-malasan di apartemen. Siwon baru saja selesai menyantap sebungkus ramen sebagai menu makan siangnya. Dan sekarang ia tengah menonton televisi tanpa minat sama sekali. Siwon mendengus saat mendengarkan bunyi bel apartemennya. Dengan malas ia beranjak dari duduknya dan menuju pintu apartemen. Mata Siwon membulat sempurna saat melihat Sangmi berada di depan pintu apartemennya.

“Apa yang kau lakukan disini?!” Tanya Siwon panik.

“Waeyo? Kenapa kau begitu panik?” Tanya Sangmi balik sembari memasukki apartemen itu. Dengan cepat Siwon menutup rapat pintu apartemen dan menyusul Sangmi yang duduk di tempat sebelumnya ia berada.

“Sangmi, kenapa kau kemari tanpa memberitahuku?” Tanya Siwon lagi berusaha sabar.

“Oppa jangan terlalu berlebihan. Bukankah eonnie sedang bekerja? Lalu apa yang kau permasalahkan?” Sangmi menarik tangan Siwon agar duduk di sampingnya.

“Ah kau benar-benar terlalu mengambil resiko.” Gerutu Siwon.

“Aku hanya terlalu merindukanmu, oppa.” Ujar Sangmi manja. Sangmi memajukan wajahnya dengan wajah Siwon. Mencoba mempersempit jarak di antara mereka. Tidak ada penolakan sedikitpun dari Siwon saat Sangmi melakukannya. Ketika kedua benda lunak itu hampir bertemu, bunyi pintu apartemen yang sedang dibuka menghentikan kegiatan mereka. Siwon kembali membulatkan matanya dan kali ini jantungnya bergemuruh hebat karena gugup.

“Yongri pulang!” Bisik Siwon.

“Biarkan saja.” Balas Sangmi kesal.

“Sangmi kau gila!!” Desis Siwon. Sangmi seolah tidak peduli dengan kepanikan Siwon.

“Sangmi ayo cepat sembunyikan dirimu!!!!” Suruh Siwon yang sudah mulai beranjak. Lagi-lagi Sangmi seolah menulikan telinganya.

 

Yongri berjalan perlahan memasuki apartemennya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat ada sepasang sepatu perempuan di sana. Tanpa kecurigaan sama sekali, Yongri melanjutkan langkahnya hingga sampai di ruang tengah. Ia menghentikan langkahnya dan terpaku saat melihat sesosok perempuan yang sangat dikenalnya sedang berada dengan tunangannya. Seperti game yang sedang terpause, tidak ada yang melakukan pergerakan maupun berbicara. Hanya terdengar deruan nafas Siwon dan Yongri yang sepertinya tidak dalam keadaan normal. Berbeda halnya dengan Sangmi yang tampak santai-santai saja. Yongri menatap Siwon dan Sangmi bergantian.

“Sa–Sangmi-ya… Apa yang kau lakukan disini?”

–To Be Continued–

Advertisements

78 thoughts on “Regret – Part 2

  1. Yongri: APA yg kau lakukan d sini sangmi
    Sangmi: selingkuh m siwon
    Yongri: what the hell?!?
    Sangmi : omg…stop it…
    Yongri maju selangkah n said
    :ambil j gua g butuh wkwkwk
    Sangmi cengo…. 😂😂😂😂😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s