Love is You

Love is You

Author        : Choineke

Title             : Love is You

Cast              : Choi Siwon, Choi Yongri (OC)

Sub cast      : Park Jungsoo, Lee Donghae, Nam Sanna (OC), Lee Hyukjae

Genre           : Romance, sad

Length         : Oneshoot

Rating          : PG- 17

WARNING!!!!! Ini oneshoot yang bener-bener longshoot.. kalo orangnya mudah bosenan mending gak usah baca!!!! tapi author makasih banget kalo kalian mau baca.. Happy reading^^

 

Author POV

Seoul, Korea Selatan

21 Januari 2010, 08.00AM KST

“Sajangnim, pukul 2 nanti Anda ada rapat dengan Direktur Kim dari Kim Corp.”

“Selain itu ada apa lagi?”

“Nyonya Choi meminta saya mengingatkan Anda, bahwa pukul 7 malam nanti akan ada pertemuan dengan keluarga Nam.”

“Arraseo. Kau bisa keluar sekarang.”

Namja berperawakan tinggi itu menghela nafas beberapa kali. Ini masih terlalu pagi namun rasa lelah seolah sudah menghinggap di dirinya yang terbilang sosok nyaris sempurna. Bertambah lelah lagi kala mengingat malam nanti ia akan kembali di pertemukan dengan gadis yang diketahui orang sebagai calon istrinya. Ia tidak menyukai gadis itu. Gadis yang mungkin sudah di kenalnya hampir selama hidupnya. Namja itu terlanjur menganggap gadis itu adalah adik kandungnya. Baru saja namja itu akan memikirkan alasan untuk tidak datang ke acara pertemuan malam ini, ketika tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Ia melihat layar ponsel itu dan kemudian memutar kedua bola matanya, seakan jengah.

“Yoboseo.”

Siwon-ah, eomma hanya ingin mengingatkan jika-

“Eomma!!”

Ya! Kenapa kau berteriak seperti itu pada eommamu?

“Aku sedang lelah, bisakah tidak membicarakannya sekarang?”

Eomma tidak mau tau, malam ini kau harus datang untuk bertemu orang tua Sanna. Kalau tidak, kau akan tau akibatnya, Siwon-ah.” Tanpa membalas perkataan sang ibu, Siwon langsung mematikan sambungan telepon itu. Siwon kesal karena ibunya selalu tau jika ia hendak kabur dalam pertemuan keluar seperti ini. Dan kelemahannya adalah, ia tidak pernah bisa menolak permintaan ibunya. Siwon sangat menyayangi ibunya. Dan ia tidak mau wanita paruh baya itu kecewa dengan tingkahnya. Namja itu menghela nafas. Mau tidak mau malam ini ia harus mendatangi acara yang sudah pasti sangat membosankan.

07.00PM KST

Salah satu restoran termewah di Korea Selatan, dengan aksen bangunan yang kokoh dan berkilauan menjadi tempat pertemuan kedua keluarga Choi dan Nam malam itu. Choi Kiho, kepala keluarga dari keluarga Choi tampak begitu antusias menyambut kedatangan Nam Woohyun beserta istri dan anak perempuannya yang terbilang cantik.

“Apa kami terlambat?” Tanya Nam Woohyun pada Choi Kiho.

“Aniya. Kami juga baru sampai.” Jawab Kiho dengan tersenyum.

“Sapa mereka, Siwon-ah.” Bisik Jihee -ibu Siwon- pada Siwon.

“Annyeong haseyo, ahjussi, ahjumma, Sanna-ya.” Sapa Siwon dengan senyum andalannya. Menampilkan kedua lesung pipi yang menambah ketampanannya.

“Aigoo, Siwon semakin tampan saja.” Ujar Daeya -ibu Sanna- kagum.

“Kamsahamnida, ahjumma.” Balas Siwon malu-malu. Sanna yang sedari tadi memperhatikan Siwon tampak menyetujui kekaguman ibunya itu. Ia terbilang sering bertemu dengan Siwon, namun entah mengapa iapun merasa setiap harinya ketampanan Siwon selalu bertambah.

“Uri Sanna juga sangat cantik.” Kata Jihee yang membuat semburat merah di pipi Sanna.

“Sebaiknya kita pesan makanan dulu.” Ujar Kiho yang di setujui oleh yang lain. Setelah memesan makanan, mereka tampak mengobrol kecil hingga akhirnya makanan yang mereka pesanpun datang. Siwon tampan tidak terlalu bersemangat dalam menyantap makanannya. Yang ada di pikirannya adalah ingin cepat pulang dan tidur dengan nyenyak.

“Siwon oppa, apa kau sakit?” Sanna yang sedari tadi memperhatikan Siwon ikut merasakan ketidaksemangatan Siwon.

“Eoh? Aniya. Gwenchana.” Balas Siwon sembari memaksakan senyumnya.

“Kau mengkhawatirkan calon tunanganmu, eoh?” Goda Daeya pada sang anak.

“Calon tunangan?” Gumam Siwon.

“Ne, Siwon-ah. Kau dan Sanna akan bertunangan dalam beberapa bulan lagi.” Ucap Kiho yang berhasil membuat Siwon terkejut.

“Mwo?!”

“Wae? Shireo?” Tanya Woohyun saat melihat keterkejutan Siwon.

“Ah bukan begitu, ahjussi. Hanya…apa tidak terlalu cepat?” Bantah Siwon.

“Terlalu cepat bagaimana? Umurmu itu sudah 25 tahun, Siwon-ah. Lagipula Sanna hanya tinggal menyelesaikan kuliahnya di semester terakhir. Bukan begitu, Sanna-ya?”

“Ah ne, ahjumma.”

“Kalian masih memiliki waktu 3 bulan lagi sebelum hari pertunangan itu. Jaga kondisi kalian dan jangan sampai melakukan sesuatu yang dapat mengakibatkan pertunangan kalian batal atau tertunda. Arraseo?” Siwon dan Sanna kompak mengangguk saat mendengar kata-kata Kiho yang lembut namun tegas. Siwon hanya mampu menghela nafas kesal saat kehilangan kata-kata untuk menolak pertunangan yang tidak di inginkannya itu.

09.30PM KST

Siwon dan Sanna saat ini tengah berada di dalam mobil Siwon. Kedua orang tua Siwon memaksanya untuk mengantarkan Sanna pulang. Padahal seharusnya Sanna dapat pulang bersama kedua orang tuanya. Siwon menyesal karena saat menghadiri acara tadi, ia memutuskan untuk pergi sendiri. Kalau tau begini jadinya, ia lebih memilih pergi bersama kedua orang tuanya.

“Oppa..” Panggil Sanna.

“Wae?”

“Kau tampaknya tidak begitu antusias dengan pertunangan kita. Apa kau tidak mau bertunangan denganku?” Tanya Sanna sembari memperhatikan wajah Siwon yang tampak fokus menyetir. Siwon menghela nafas.

“Bukan begitu. Aku hanya belum ingin terikat dengan gadis manapun sekarang.” Jawab Siwon.

“Tapi oppa. Aku bukanlah gadis yang baru kau kenal 1 atau 2 hari. Kita sudah bersama sejak kecil. Kalaupun nanti aku menjadi tunanganmu, tidak mungkin ada yang berubah kan?”

“Tentu saja ada. Jika kau sudah menjadi tunanganku, tentu aku harus lebih memperhatikanmu dan kau menjadi tanggung jawabku. Dan aku belum mau melakukan itu, Sanna-ya.”

“Aku mencintaimu, oppa. Kau juga, kan?” Siwon hanya dapat tersenyum mendengar pertanyaan Sanna.

~~~

21 April 2010, 06.00PM KST

Pertunangan itu tetap dapat terjadi tanpa dapat di tolak oleh Siwon. Nyatanya, saat ini ia dan Sanna tengah berdiri berhadapan di atas panggung sebuah hotel mewah, tempat berlangsungnya pesta pertunangan mereka. Cincin pertunangan itupun sudah tersemat di jari manis mereka masing-masing. Sanna terus tersenyum senang mengingat Siwon sudah menjadi tunangannya. Hanya tinggal 1 langkah lagi untuk membuat Siwon menjadi miliknya. Berbanding terbalik dengan Sanna yang terus tersenyum, Siwon hanya dapat menampilkan ekspresi datarnya.

“Woahh,, akhirnya kau bertunangan juga.” Ujar namja dengan kulit seputih susu sembari memeluk Siwon.

“Biasa saja, Kyuhyun-ah.” Balas Siwon sengit.

“Wae? Tidak senang dengan pertunanganmu?” Bisik Kyuhyun masih dengan memeluk Siwon.

“Absolutely right.” Sambar Siwon sembari melepaskan pelukan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum mengejek.

“Takut tidak bisa bermain-main dengan wanita lagi, Tuan?” Goda Kyuhyun. Siwon memukul pelan perut Kyuhyun namun tetap dapat membuat Kyuhyun meringis.

“Pergilah dari sini sebelum wajahmu yang tidak terlalu tampan itu hancur olehku.” Ancam Siwon. Kyuhyun terkekeh.

“Sanna-ssi, sebaiknya hati-hati dengan tunanganmu ini. Ia suka bermain wanita.” Sanna memberengut kesal mendengar kata-kata Kyuhyun.

“YAA!!”

~~~

30 April 2010, 10.00AM KST

“Manajer Kim, saya minta Anda untuk mengecek kembali barang-barang yang masuk 1 bulan terakhir ini. Kemudian jika memang tidak sama dengan jumlah barang-barang yang sudah kita jual, segera laporkan pada saya.”

“Aigesseumnida, sajangnim.”

“Saya rasa rapat hari ini cukup sampai di sini. Yang lain kerjakan pekerjaan kalian yang memang belum terselesaikan. Selamat pagi.” Siwon segera beranjak dari duduknya, keluar dari ruang rapat menuju ke ruangannya diikuti Sekretaris Lee di belakangnya. Setelah sampai di ruangannya, ia segera duduk dan sedikit merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku.

“Sajangnim..” Panggil Sekretaris Lee.

“Hmm?”

“Minggu depan Anda di haruskan berada di Busan untuk menangangi masalah yang terjadi di perusahaan tambang kita.”

“Busan?”

“Ye, sajangnim. Ayah Anda sendiri yang meminta saya untuk menyampaikan ini pada Anda. Beliau bilang, kemungkinan besar ada orang dalam yang menyusupkan keuangan di sana.”

“Mwoya? Bagaimana mungkin? Bukankan Woohyun ahjussi yang bertanggung jawab di sana?”

“Ne, itu benar sekali. Tetapi tidak ada salahnya jika Anda mengeceknya.”

“Aish, arraseo. Kau bisa keluar sekarang.” Ujar Siwon. Sekretaris Lee membungkuk sebentar sebelum keluar dari ruangan Siwon. Siwon mengacak rambutnya, kesal.

“Menambah pekerjaanku saja.” Gerutunya. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang di dudukinya.

“Busan.. Busan.. Busan.. Ada apa di sana? Hahhh…” Gumamnya sembari memandang langit-langit ruangannya.

~~~

Busan, Korea selatan

7 Mei 2010, 12.00PM KST

Tuhan selalu menciptakan setiap manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setiap memiliki kekuatan untuk melakukan suatu hal, kita juga pasti diberikan kelemahan dalam melakukan sesuatu. Begitu juga yang di alami gadis cantik dengan rambut sepunggung yang saat ini tertiup angin kencang di sekitar pantai Busan. Gadis itu bertubuh mungil namun memiliki wajah yang sangat cantik. Mata bulatnya yang berwarna coklat, hidung mancung dan bibir tipis berwarna merah muda yang membuat setiap orang gemas melihatnya. Tubuhnya memiliki kulit putih yang halus, sehalus sutra. Namun sangat di sayangkan, mata indah itu tidak mampu melihat keindahan apapun di dunia ini. Keindahan yang sengaja di ciptakan Tuhan untuk seluruh ciptaannya. Gadis mungil itu hanya mampu merasakan keindahan itu. Walaupun hanya dapat merasakannya, gadis mungil itu selalu dapat tersenyum manis.

“Yongri-ya, kenapa kau selalu kesini?” Tanya seorang namja yang berdiri di sebelahnya.

“Eoh? Hyukjae oppa, sejak kapan kau ada di sini?” Tanya gadis yang di panggil Yongri itu.

“Baru saja. Kau itu selalu menghilang dan membuatku khawatir.” Yongri tertawa kecil mendengar kata-kata itu.

“Wae? Apa karena aku buta dan oppa takut aku tidak bisa kembali ke rumah? Begitukah?” Tanyanya sembari tersenyum. Hyukjae tampak salah tingkah.

“Bukan begitu, hanya saja-”

“Aku sudah biasa seperti ini, oppa. Kau bisa lihat jika selama ini aku baik-baik saja dan pulang ke rumah dengan selamat. Aku hanya senang berdiri di sini. Merasakan air-air pantai itu menyentuh ujung kakiku.” Ucapnya memotong kata-kata Hyukjae. Hyukjae memperhatikan wajah Yongri yang tampak begitu ceria. Ia tersenyum senang melihat wajah itu, wajah yang setiap hari di temuinya.

“Kau pasti sekarang sedang tersenyum.” Ujar Yongri.

“Eh? Bagaimana kau bisa tau?” Tanya Hyukjae bingung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Karena setiap kali kau tersenyum hatiku akan terasa damai, oppa.”

“Eoh? Jinjjayeo?”

“Hahahaha.. Kenapa oppa mudah sekali mempercayai ucapanku? Hahaha..” Yongri tertawa puas saat berhasil membohongi Hyukjae.

“Ya!! Kau membohongiku? Aishh!!” Geram Hyukjae sembari mengacak pelan rambut Yongri.

“Kajja kita pulang sekarang. Hari semakin siang. Pakai sepatumu.” Ajak Hyukjae yang di sambut anggukan dari Yongri. Tangan kiri Yongri di gunakannya untuk menggandeng tangan Hyukjae. Dan tangan kanannya menggenggam sebuah tongkat yang selama ini membantunya dalam berjalan.

02.00PM KST

“Apa kita tidak bisa ke hotel dulu?” Tanya Siwon yang sudah duduk manis di dalam mobil selama kurang lebih 1 jam.

“Bukankah Anda bilang tidak ingin berlama-lama di sini, sajangnim? Jika Anda ingin ke hotel dulu, itu berarti pekerjaan Anda tertunda.” Jawab Sekretaris Lee sembari fokus menyetir. Siwon menghela nafas kesal.

“Ne, ne. Terserah kau saja.” Ujarnya sembari mengalihkan pandangannya ke jalanan Busan.

CCCIIIIITTTTTT!!

BUKKK!!

“YAAAA!!” Teriak Siwon murka. Bagaimana tidak murka, mobil tiba-tiba saja berhenti mendadak dan sukses membuat dahi Siwon mencium jok mobil di depannya.

“Maafkan saya, sajangnim.” Ujar Sekretaris Lee takut.

“Apa yang terjadi?!” Bentak Siwon kesal.

“Saya tidak melihat jika ada orang yang mau menyebrang. Saya akan mengeceknya sebentar.” Sekretaris Lee segera turun dari dalam mobil mewah itu dan menghampiri orang yang di tabraknya.

“Aggashi, gwenchana?” Tanyanya.

“Yaa!! Bagaimana mungkin baik-baik saja? Kau tidak lihat lututnya berdarah?” Bentak Hyukjae pada Sekretaris Lee.

“Mianhae. Jeongmal mianhae.” Ujar Sekretaris Lee.

“Kau pikir dengan maaf lutut ini bisa sembuh, huh?!”

“Oppa sudahlah. Aku tidak apa-apa.” Kata Yongri sembari menahan sakit di lututnya.

“Lututmu berdarah, Yongri-ya.” Kekhawatiran tersirat dari nada bicara Hyukjae.

“Kita bisa obati di rumah.” Yongri menenangkan.

“Bagaimana jika infeksi?”

“Ah, ini ada uang untuk berobat ke rumah sakit. Tapi maaf, saya tidak bisa mengantarkan kalian. Saya sedang terburu-buru.” Ucap Sekretaris Lee sembari menyodorkan beberapa lembar uang won. Hyukjae memandangnya dengan kesal.

“Makan saja uangmu. Kami tidak butuh. Dasar orang kaya tidak punya hati.” Maki Hyukjae sembari membantu Yongri berdiri.

“Kenapa lama sekali??” Desis Siwon kesal sembari turun dari mobil. Ia menghampiri tempat di mana Sekretaris Lee berada.

“Sajangnim.” Hyukjae menoleh saat mendengar Sekretaris Lee menyebut kata ‘sajangnim’. Ia melihat Siwon yang sudah berdiri di sebelah Sekretaris Lee.

“Oh, jadi ini supirmu, eoh? Supir yang tidak punya mata!” Ujar Hyukjae sembari menatap Siwon tajam. Siwon tidak menanggapi kata-kata Hyukjae. Ia sibuk mengagumi kecantikan gadis yang sedang dalam rangkulan Hyukjae. Gadis yang hanya memakai gaun putih sederhana namun sangat pas di tubuhnya yang mungil itu. Dari bibirnya terkadang terdengar ringisan kecil.

“Yaa!! Apa kau tuli?” Teriak Hyukjae yang berhasil menyadarkan Siwon.

“Eh? Ada apa?” Tanya Siwon dengan tampang bodoh.

“Cih! Kau masih tanya ada apa? Kau tidak lihat lutut gadis ini berdarah karena supir bodohmu itu.” Siwon mengikuti pandangan Hyukjae ke arah lutut Yongri. Darah segar mengalir dari sana. Membuat Siwon sedikit ngilu melihatnya.

“Sebaiknya di bawa ke rumah sakit. Itu bisa infeksi. Kami akan mengantar kalian.” Ujar Siwon.

“Sajangnim, Anda harus segera ke perusahaan.” Siwon menatap tajam Sekretaris Lee.

“Kau mau masuk penjara karena menabrak orang hingga kehabisan darah, huh?” Tanya Siwon yang di sambut gelengan dari Sekretaris Lee.

“Ayo masuk ke dalam mobil.” Kata Siwon ramah. Hyukjae membantu Yongri melangkah, namun Yongri mencengkram lengan Hyukjae.

“Wae?”

“Oppa aku tidak apa-apa. Kita bisa mengobatinya di rumah. Tidak perlu ke rumah sakit.” Bisik Yongri.

“Kita tidak memiliki obat yang lengkap di rumah, Yongri-ya. Setidaknya kau beruntung karena mereka mau bertanggung jawab.” Sahut Hyukjae.

“Tapi-”

“Sudahlah, ayo!” Yongri hanya dapat pasrah saat Hyukjae menggiringnya ke dalam mobil. Dan sesaat kemudian, mobil itu melaju dengan kencangnya.

06.00PM KST

“Lukanya tidak terlalu parah. Saya akan memberikan obat penahan sakit. Dan usahakan perbannya di ganti 6 jam sekali.” Ujar Dokter sesaat setelah menutup luka Yongri dengan perban.

“Kamsahamnida dokter.” Balas Yongri. Dokter itu tersenyum.

“Ah maaf Yongri-ssi, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Ada apa dokter?”

“Anda….buta?” Yongri tersenyum.

“Ne, dokter.”

“Sejak kapan?”

“Dari lahir.” Dokter itu mengangguk.

“Boleh saya periksa matamu?”

“Eh? Untuk apa?”

“Hanya memeriksa saja.” Yongri tampak berpikir. Dan akhirnya dengan ragu ia mengangguk. Dokter itu segera memeriksa kedua mata Yongri dengan teliti. Sesaat kemudian ia kembali tersenyum.

“Mata Anda sehat.” Ujarnya.

“Ne?”

“Maksud saya. Mata Anda dapat melihat jika kornea mata Anda yang rusak itu di ganti dengan yang baru.”

“Jinjjayeo? Saya dapat melihat, dok?” Yongri tampak tidak percaya.

“Ne Yongri-ssi.”

“Begini saja. Kau bisa meninggalkan nomor yang bisa saya hubungi. Apabila ada donor yang cocok untukmu, saya akan menghubungimu. Kita bisa melakukan operasi.”

“Operasi?”

“Ya.”

“Apa itu mahal, dok?”

“Biayanya bisa 20 sampai 30juta.”

“MWO?! Semahal itu, dok?” Mata Yongri membulat sempurna.

“Ne. Apa ada masalah?”

“Ah tidak ada, dok. Kamsahamnida.”

“Cheonma. Saya permisi dulu.”

“Ne, dok.” Yongri menghela nafas beberapa kali sesaat setelah dokter itu keluar dari ruangannya. Ia memikirkan kata-kata dokter itu. Secercah harapan mampir di hatinya ketika dokter itu mengatakan ia bisa kembali melihat. Namun memikirkan biaya operasi yang terbilang tidak murah, membuat harapannya mengecil.

CKLEKKK!!

“Oppa?” Panggil Yongri.

“Annyeong haseyo.”

“Nuguya?” Tanya Yongri saat tidak mengenali suara itu.

“Choi Siwon imnida. Aku yang tadi mengantarmu ke sini.” Kata Siwon sembari berjalan menghampiri tempat tidur di mana Yongri berada.

“Oh annyeong haseyo. Choi Yongri imnida.” Ujar Yongri sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Siwon. Siwon sedikit bingung saat melihat tangan itu berada di sisi yang berlawanan dengan tempatnya berdiri sekarang. Ia menatap mata Yongri yang juga ternyata tidak menatapnya. Siwon tersenyum saat menyadari mata itu tidak berfungsi. Merasa sedikit di sayangkan, karena mata itu terbilang indah. Siwon menyambut uluran tangan Yongri.

“Bagaimana lukamu? Maaf atas kelalaian sekretarisku.” Sesal Siwon.

“Gwenchana. Beberapa hari lagi juga pasti sembuh.”

“Kuharap begitu.” Sahut Siwon.

CKLEKKK!!

“Yongri-ya, sudah lebih baik?” Tanya Hyukjae yang baru saja masuk ke dalam kamar inap Yongri.

“Hyukjae oppa.. Aku tidak apa-apa.” Jawab Yongri.

“Ayo pulang. Bukankah kau bilang tidak ingin menginap di sini?”

“Ne oppa. Di sini bau obat.” Keluh Yongri yang membuat Siwon tersenyum tipis. Hyukjae kembali membantu Yongri untuk turun dari tempat tidur.

“Terima kasih Siwon-ssi atas tanggung jawabmu hari ini.” Kata Hyukjae yang memandang Siwon dengan pandangan tidak suka.

“Ne. Maaf sekali lagi.” Balas Siwon kikuk.

“Yongri-ssi!” Panggil Siwon saat Hyukjae dan Yongri hampir keluar dari kamar. Yongri menoleh sembari tersenyum.

“Ada apa Siwon-ssi?”

“Bisa kita bertemu lagi nanti?” Tanya Siwon penuh harap.

“Tentu saja.” Jawab Yongri tanpa menghilangkan senyumnya.

“Kami pulang dulu. Annyeong.”

“Ne. Annyeong.” Siwon tersenyum senang hingga sedikit meloncat kegirangan. Namun setelahnya ia terlonjak.

“Ah neomu paboya!! Bagaimana bisa bertemu jika tidak bertukar identitas? Aishh,, Choi Siwon pabo!” Rutuknya sembari memukul pelan kepalanya.

~~~

10 Mei 2010, 03.00PM KST

Siwon tampak dengan teliti memeriksa semua berkas keuangan di salah satu perusahaan ayahnya di Busan. Sesekali dahinya berkerut ketika menemukan sesuatu yang ganjil. Kertas di hadapannya pun sudah penuh dengan coretan pena merah yang di pegangnya.

“Ini aneh.” Gumamnya.

“Bagaimana mungkin mengeluarkan uang sejumlah 100juta won dalam waktu 2 hari saja?” Ujarnya sembari menggelengkan kepalanya.

“Lama-lama perusahaan ini bisa bangkrut.” Ujarnya lagi sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang di dudukinya. Ia memejamkan matanya sembari menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali. Wajah Yongri tiba-tiba saja terlintas dalam lamunannya. Ia segera membuka matanya dan memegang dadanya yang berdegup sangat kencang.

“Ada apa ini?” Ucapnya pelan.

CKLEKK!!

Sekretaris Lee tampak masuk ke dalam ruangan di mana Siwon berada sembari membawa buku yang biasa di gunakannya untuk mencatat jadwal Siwon. Ia membungkuk sebentar sebelum menghampiri Siwon. Siwon mengambil kertas-kertas yang tadi di telitinya kemudian memberikannya pada Sekretaris Lee.

“Di sana tertulis bahwa perusahaan ini dalam 2 hari dapat mengeluarkan uang sebesar 100juta. Aku minta kau memeriksanya, untuk apa uang 100juta itu. Dan jika sudah kau temukan, atur waktu agar aku bisa bertemu dengan Woohyun ahjussi.”

“Aigesseumnida, sajangnim.”

“Oh ya, apa kau tau tempat yang kira-kira terdapat pemandangan indah di daerah Busan ini?” Tanya Siwon. Sekretaris Lee tampak berpikir.

“Di sini kalau tidak salah memiliki taman sederhana yang cukup asri. Busan juga memiliki pantai dengan air laut yang sangat indah, sajangnim. Mau saya antarkan ke sana?”

“Pantai? Tidak perlu kau antar. Kau berikan saja padaku alamatnya. Aku akan ke sana sendiri. Kau bisa lakukan tugasmu.”

“Ah ye.”

04.30PM KST

“Inikah tempatnya?” Tanya Siwon pada dirinya sendiri saat menemukan sebuah pantai. Ia lantas segera turun dari mobil dan berjalan ke tepi pantai. Angin laut segera menerpa wajahnya ketika ia sampai di sana.

“Woahh,, yeppeuda.” Ujarnya kagum. Ia merentangkan kedua tangannya sembari memejamkan matanya. Rasa lelahnya seolah terangkat. Angin laut terus membelai wajahnya seolah memberikan pijatan lembut yang membuat kerutan di sekitar wajahnya menghilang. Siwon membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Masih banyak pengunjung walaupun hari semakin sore. Tiba-tiba pandangan Siwon terhenti pada seorang gadis yang tampak berdiri tidak jauh darinya tanpa alas kaki. Ia menajamkan penglihatan agar tidak salah. Tongkat di tangan gadis itu seolah menambah keyakinan Siwon jika ia tidak salah melihat. Namja tampan itu tersenyum sembari mendekati gadis yang menarik perhatiannya itu. Choi Yongri.

“Annyeong, Yongri-ssi.” Sapa Siwon. Yongri tampak terlonjak.

“Nu–nuguya?” Tanyanya terbata.

“Kau tidak mengingatku?” Siwon tampak kecewa. Yongri tampak berpikir, namun ia benar-benar tidak mengingat pemilik suara itu.

“Aku Siwon. Choi Siwon. Sekretarisku tidak sengaja menabrakmu beberapa hari yang lalu.” Ujar Siwon membantu mengingatkan.

“Siwon? Choi Siwon? Ahh matda! Aku ingat. Annyeong Siwon-ssi. Maaf tidak mengenalimu sebelumnya.” Sesal Yongri. Siwon kembali tersenyum senang.

“Gwenchana. Kita baru bertemu 2 kali dengan hari ini. Wajar saja jika kau tidak langsung mengenali suaraku.” Kata Siwon maklum. Yongri mengangguk sembari tersenyum. Kembali Siwon di buat terpesona melihat senyuman Yongri. Tangannya terangkat di udara untuk membelai pipi Yongri. Namun gerakannya terhenti saat Yongri bertanya.

“Sedang apa di sini?”

“Hanya mencari udara segar.” Jawab Siwon sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Lebih baik seperti itu daripada ia kembali memiliki keinginan untuk membelai pipi mulus kemerahan milik Yongri.

“Kau sendiri?” Tanya Siwon balik.

“Aku setiap hari ke pantai ini.” Jawab Yongri.

“Tanpa…alas kaki?” Siwon menatap kaki Yongri yang terdapat banyak pasir.

“Ne. Aku senang saat merasakan air laut menyentuh ujung kakiku.”

“Lalu kau pulang dengan tetap seperti ini?” Tanya Siwon bingung. Yongri tertawa kecil.

“Tentu saja tidak. Hyukjae oppa akan selalu menjemputku sembari membawakan sepatuku.”

“Hyukjae oppa? Kekasihmukah?”

“Anieyo. Hyukjae oppa adalah laki-laki yang bersamaku kemarin saat sekretarismu tidak sengaja menabrakku. Dia seseorang yang sudah ku anggap sebagai kakak kandungku. Seseorang yang sudah ada sejak aku lahir.” Ujar Yongri. Entah mengapa Siwon sedikit tidak suka saat tau namja yang bernama Hyukjae itu begitu dekat dengan Yongri.  Akhirnya Siwon memilih diam tanpa mau menanggapi. Ia hanya tidak mau Yongri semakin banyak menceritakan tentang Hyukjae jika ia menanggapi.

“Siwon-ssi?”

“Ne?”

“Apa kau memang berasal dari Busan?”

“Ani. Aku dari Seoul. Aku ke Busan hanya untuk pekerjaan. Perusahaan mengalami sedikit masalah dalam keuangan.”

“Oh begitu. Kau pasti sangat kaya.”

“Begitukah menurutmu?”

“Ya. Kau memiliki perusahaan di Seoul. Di Busan juga ada. Mobilmu juga sepertinya mewah. Tentu sangat kaya.” Siwon tersenyum.

“Orangtuaku yang kaya. Itu semua bukan milikku.” Ujar Siwon merendah.

“Apa kau bekerja?” Tanya Siwon.

“Bekerja?” Yongri tersenyum miris.

“Bagaimana mungkin orang buta sepertiku bisa bekerja? Orang-orang tidak mungkin mau mengambil resiko dengan mempekerjakan orang buta.” Lanjutnya. Siwon menjadi merasa bersalah pada Yongri. Seharusnya ia tidak menanyakan itu.

“Kau tidak perlu merasa tidak enak, Siwon-ssi. Aku baik-baik saja.” Kata Yongri sembari tersenyum. Siwon tersenyum kecil.

“Bagaimana mungkin kau tau aku merasakannya?”

“Hanya menebak.”

“Eish, bagaimana jika tebakanmu salah?”

“Eum, anggap saja jika aku terlalu percaya diri.” Siwon tak dapat menahan tawanya saat mendengar jawaban polos Yongri. Tanpa sadar pun ia mengacak pelan rambut Yongri. Membuat Yongri terkejut sekaligus tiba-tiba menjadi salah tingkah. Siwon yang menyadari itu, segera menarik tangannya kembali.

“Ah mian.” Ujarnya. Suasana tiba-tiba menjadi hening dan canggung. Keduanya seperti kehilangan kata-kata untuk mengobrol.

“Yongri-ya!!” Teriak Hyukjae dari kejauhan.

“Eoh? Hyukjae oppa?” Yongri menoleh. Bukan hanya Yongri, Siwon pun ikut menoleh.

“Annyeong.” Sapa Siwon. Hyukjae menatap Siwon dengan tidak suka. Ia juga tidak membalas sapaan Siwon.

“Pakai sepatumu.” Ujar Hyukjae sembari membantu Yongri memakai sepatunya.

“Kajja kita pulang!” Ajaknya.

“Kami pulang dulu, Siwon-ssi.” Pamit Yongri.

“Bisa kita bertemu lagi besok, Yongri-ssi?

“Ne?”

“Aku ingin bertemu denganmu lagi. Apa boleh?”

“Ah tentu. Kau bisa datang ke tempat ini.”

“Baiklah. Sampai jumpa besok.” Yongri tersenyum dan kemudian bersama Hyukjae meninggalkan Siwon yang masih terus menatap punggung Yongri.

~~~

11 Mei 2010, 02.00PM KST

Siwon dan Yongri saat ini tengah berada di salah satu pondok yang terdapat di daerah pantai itu. Keduanya duduk berhadapan dengan 2 kelapa muda di atas meja mereka. Siwon tak henti-hentinya memperhatikan wajah Yongri yang polos dan cantik itu. Sedikit mensyukuri jika Yongri buta, karena dengan begitu ia tidak akan pernah takut ketahuan jika sedang memperhatikan wajah itu.

“Ibuku meninggal saat melahirkanku. Dan ayahku, entah dia berada di mana sekarang. Ayah meninggalkan ibu saat ibu sedang mengandungku.” Ujar Yongri.

“Kau tau dari mana jika ayahmu meninggalkan ibumu?”

“Bukankah sudah kubilang jika Hyukjae oppa sudah ada sejak aku lahir? Dialah yang menceritakan semuanya. Dia sangat mengenal keluargaku.”

“Kalau boleh tau berapa umurmu? Dan berapa umur Hyukjae?”

“Umurku 18 tahun. Dan Hyukjae oppa berumur 25 tahun.”

“Jinjjayeo? Umurku juga 25 tahun.”

“Geureyeo? Aku pikir umurmu 30 tahun.” Yongri terkekeh kecil.

“Cih! Yang benar saja. Apa suaraku seperti seorang ahjussi?”

“Anieyo. Hanya saja karena kau sudah menangani banyak perusahaan, sehingga aku berpikir jika kau seseorang yang berumur 30tahun dan sudah beristri.”

“Omo! Aku masih muda Yongri-ssi. Aku juga tidak memiliki istri. Mana mungkin aku menemuimu jika sudah memiliki istri.”

“Ah benar juga.”

“Hmm, biarpun begitu, maukah kau memanggilku oppa? Siwon oppa. Bukankah kita sudah menjadi teman?”

“Bolehkah?”

“Keuromyeon.”

“Geureh, Siwon oppa.” Ujar Yongri membuat Siwon tersenyum.

“Yongri-ya..”

“Hmm? Wae oppa?”

“Ani.”

“Eish, wae geureh?” Siwon kembali tersenyum saat melihat wajah Yongri yang penuh rasa ingin tau.

~~~

21 Mei 2010, 10.00AM KST

Siwon sedikit menggeram sembari menatap Sekretaris Lee dengan pandangan tajam. Sekretaris Lee hanya mampu menunduk dan menggenggam erat buku catatan yang sering di bawanya.

“Apa yang kau lakukan selama 2 minggu ini, huh?” Desisnya.

“Mianhada, sajangnim.”

“Aku hanya memberimu 1 pekerjaan dan kau tidak bisa menyelesaikannya. Apa kau sudah bosan bekerja di sini?” Sekretaris Lee menggeleng cepat. Keringat dingin mengalir deras dari kedua pelipisnya. Bekerja selama hampir 4 tahun bersama Siwon, membuatnya cukup mengenal pribadi Siwon dengan baik. Dan Sekretaris Lee tau jika Siwon sedang marah seperti ini, apapun bisa di lakukannya. Termasuk memecat dirinya.

“Lee Dongsan!!” Jerit Siwon tertahan.

“Ye sajangnim.” Sahut Sekretaris Lee. Siwon mengepalkan kedua tangannya.

“Aishh jinjja!! Kenapa kau membuatku kesal di saat hatiku sedang senang??” Rengeknya sembari melemparkan semua kertas di atas mejanya. Sekretaris Lee menatap pimpinannya itu dengan pandangan tidak percaya. Ia yakin sekali jika tadi Siwon sedang marah besar, tetapi kenapa sekarang Siwon seperti anak kecil?

“Apa kau tau di mana Woohyun ahjussi sekarang?” Tanyanya ketus.

“Beliau ada di ruangannya, sajangnim.” Jawab Sekretaris Lee takut-takut.

“Kita kesana.” Ujar Siwon yang kemudian berdiri dan memakai jasnya yang sebelumnya di biarkan tergantung. Siwon segera keluar dari ruangannya dan menuju ruangan Woohyun berada.

“Masuk.” Ujar sebuah suara dari dalam ruangan Woohyun begitu Siwon mengetuknya.

“Eoh? Siwon-ah? Ada apa?” Tanya Woohyun yang cukup terkejut dengan kehadiran Siwon di ruangannya.

“Sepertinya ahjussi sedang sibuk.” Ujar Siwon sembari menatap seorang pria paruh baya yang duduk di hadapan Woohyun.

“Ahh a–annieya.” Sahut Woohyun sembari tersenyum kaku.

“Kau keluar dulu. Aku akan menghubungimu nanti.” Bisik Woohyun pada pria paruh baya itu.

“Ayo silahkan duduk, Siwon-ah.” Entah mengapa, Siwon sedikit tidak suka melihat wajah Woohyun hari ini. Seperti ada sesuatu yang berusaha di tutup-tutupi. Namun mau tidak mau Siwon duduk tepat di hadapannya.

“Ahjussi tentu tau apa tujuan appa mengirimku kemari.” Kata Siwon tanpa basa-basi.

“Ah geureh. Tentu ahjussi tau.”

“Baiklah, langsung saja kalau begitu. Sekretaris Lee, berikan padaku kertas yang kau bawa.” Siwon menengadahkan tangannya dan Sekretaris Lee meletakkan kertas yang di maksud di atas tangan Siwon. Selanjutnya, Siwon meletakkan kertas itu tepat di hadapan Woohyun. Dahi Woohyun mengerut saat melihat banyak coretan di atas kertas itu.

“100juta dalam 2 hari. Boleh aku tau untuk apa uang itu?” Tanya Siwon. Woohyun berusaha memasang wajah sedatar mungkin saat Siwon menatapnya dengan penuh rasa ingin tau.

“Ten–tentu saja untuk perusahaan.”

“Aku tau ahjussi. Bisa sebutkan lebih spesifiknya?” Siwon mulai tampak tak sabaran.

“Ah jankamman. Apa kau sedang mencurigaiku?” Tanya Woohyun sembari menunjuk dirinya sendiri.

“Apa terlihat dari wajahku, ahjussi?” Siwon balik bertanya. Woohyun menghela nafas sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Siwon-ah, boleh aku mengingatkan sesuatu padamu?” Siwon mengangguk.

“Aku calon mertuamu.” Ujar Woohyun. Siwon diam sembari terus menatap wajah Woohyun.

“Kau akan menjadi menantuku. Dan itu artinya kau adalah bagian dari keluargaku. Begitupun appamu. Aku tidak mungkin menghancurkan perusahaan appamu. Kehancuran appamu juga merupakan kehancuranku.”

“Percayakan masalah ini padaku. Bukankah selama puluhan tahun, perusahaan ini baik-baik saja di bawah pimpinanku?” Siwon menghela nafas kemudian berdiri dari duduknya.

“Geureh. Aku tentu harus percaya pada calon mertuaku. Aku permisi, ahjussi.” Ucap Siwon dan segera berlalu dari ruangan Woohyun dengan perasaan campur aduk.

“Terus awasi dia.” Ujar Siwon pelan kepada Sekretaris Lee.

09.30PM KST

Yongri duduk di tangga depan rumahnya sembari tersenyum-senyum sendiri. Udara malam yang dingin tampaknya tidak menganggu sama sekali. Sesekali ia menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan. Ia juga terkadang mengetuk-ngetukkan tongkatnya di tangga kayu itu.

“Mau mati kedinginan, nona?” Hyukjae datang sembari menaruh jaket di punggung Yongri. Kemudian namja itu ikut duduk di samping Yongri.

“Oppa kau mengagetkanku.” Keluh Yongri.

“Apa yang kau lakukan? Tidak tidur?”

“Aku belum mengantuk, oppa.”

“Ada yang kau pikirkan?”

“Eh?”

“Choi Siwon?”

“Mw–mwo? Kenapa oppa menyebut namanya?” Yongri sedikit salah tingkah saat Hyukjae menyebut nama Siwon.

“Kulihat semenjak kecelakaan itu, kau semakin dekat dengannya.” Ujar Hyukjae sembari menatap langit yang di penuhi bintang.

“Kami hanya berteman oppa.” Bantah Yongri.

“Geureyeo?” Yongri mengangguk ragu.

“Aku hanya tidak ingin kau terluka.” Gumam Hyukjae.

“Mwoya? Oppa bicara apa?”

“Hmm? Anieyo.” Hyukjae menghela nafas panjang. Hyukjae tau jika Siwon sudah memiliki pasangan. Itu terlihat dari cincin yang terpasang di jari manisnya. Keadaan Yongri yang buta, tentu memungkinkan dirinya tidak mengetahui itu. Hyukjae takut jika Yongri terlanjur menaruh hati pada Siwon. Namja itu sangat menyayangi Yongri. Keluarga yang di milikinya hanya Yongri. Mereka hanya hidup berdua selama ini.

“Langit malam ini sangat indah.” Kata Hyukjae.

“Jinjjayeo?” Yongri mendongakkan kepalanya. Walaupun ia tau, usahanya itu tidak akan membuatnya melihat apa-apa.

“Dari lahir, aku selalu merasakan malam. Tetapi tidak pernah merasa indah.” Ujar Yongri sembari tersenyum miris. Hyukjae menatap Yongri.

“Yongri-ya…”

“Gwenchana oppa. Terkadang aku hanya ingin di berikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengagumi ciptaannya di bumi ini. Ciptaan Tuhan sangat indah bukan oppa? Kenapa Tuhan tidak mengizinkanku untuk melihatnya?” Mata Yongri mulai berkaca-kaca. Entah mengapa malam ini ia merasa sangat tidak percaya diri dengan keadaannya yang buta. Ia ingin menjadi gadis normal seperti gadis-gadis lainnya. Merasakan cinta dan dapat melihat wajah cinta pertamanya. Saat ini, ia pun merasakan hal yang sama. Namun ia tidak bisa melihat wajah cinta pertamanya. Ia hanya mampu mendengar suaranya. Hyukjae menarik tubuh Yongri ke dalam pelukannya. Bersamaan dengan airmata Yongri yang jatuh membasahi bajunya.

~~~

23 Mei 2010, 09.00AM KST

“Yongri-ya….” Panggil Hyukjae

“Ne oppa. Oppa di mana?”

“Oppa di ruang tamu. Ada telepon untukmu.” Ujar Hyukjae. Yongri segera menghampiri Hyukjae dengan bantuan tongkatnya. Ia sampai menabrak beberapa benda karena sedikit tergesa.

“Dari siapa, oppa?” Tanyanya setelah berdiri di samping Hyukjae.

“Rumah sakit.”

“Rumah sakit?” Gumam Yongri bingung.

“Yoboseo.”

Choi Yongri-ssi?

“Ah benar. Saya Yongri. Nuguya?”

Saya dokter Kim Jongwoon. Anda masih ingat, kan?” Yongri tampak berpikir sebentar.

“Ne saya ingat. Dokter Kim yang mengobati saya saat kecelakaan.”

Majayeo. Apa Anda sedang sibuk?

“Anieyo dokter. Ada apa?”

Saya memiliki berita gembira untuk Anda.

“Berita gembira? Apa itu dokter?”

Kami sudah memiliki pendonor untuk mata Anda. Ada seorang pasien yang meninggal semalam akibat sakit kanker. Dan keluarganya mengizinkan jika kornea pasien di jadikan pendonor.

“Jin–jinjjayeo?” Yongri tampak tidak percaya sekaligus senang.

Ne Yongri-ssi. Anda bisa segera ke rumah sakit dan kita bisa melakukan operasi segera.

“Geureyeo? Tetapi bukankah biaya operasi itu mahal, dok? Saat ini, saya belum mempunyai biayanya.”

Saya harap Anda bisa segera mendapatkan biaya untuk operasi itu, Yongri-ssi. Kornea mata ini tidak bisa bertahan lama. Dan sangat di sayangkan jika mata Anda di biarkan seperti itu dalam waktu yang lama.

“Aigesseo dokter. Terima kasih atas informasinya.”

Ne. Cheonma, Yongri-ssi.” Yongri segera menghela nafas saat sambungan telepon terputus. Ia mendapatkan kabar gembira, bukankah seharusnya ia terlonjak senang sekarang? Namun kenapa untuk melakukannya sangat sulit?

“Wae geureh? Operasi? Operasi apa, Yongri-ya?” Tanya Hyukjae yang memang sedari tadi berada di samping Yongri.

“Oppa…”

“Ne?”

“Sebanyak apa uang 30juta itu?”

“Wae? Kenapa tiba-tiba menanyakan uang 30juta?”

“Sebanyak apa oppa?” Desak Yongri. Hyukjae menghela nafas sembari menatap Yongri bingung.

“Oppa juga tidak tau, Yongri-ya. Karena oppa tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Tetapi sepertinya jumlah itu sangat banyak.” Tubuh Yongri tiba-tiba merosot ke bawah saat mendengar jawaban Hyukjae.

“Yongri-ya, kau kenapa? Gwenchana?” Tanya Hyukjae khawatir.

“Dokter mengatakan jika aku dapat melihat lagi, oppa. Tetapi itu membutuhkan biaya sebesar 30juta.”

“Mw–mwo??”

01.00PM KST

Siwon tersenyum senang saat melihat Yongri yang berdiri di tempatnya biasa. Siwon segera turun dari mobil dan menghampiri Yongri.

“Annyeong.” Sapanya.

“Siwon oppa?”

“Woah, sepertinya kau sudah mengenal suaraku.” Siwon tampak senang. Yongri hanya tersenyum kecil.

“Wae? Wajahmu tampak sedih.” Ujar Siwon saat melihat raut wajah Yongri yang tidak seperti biasanya.

“Gwenchana.” Jawab Yongri sembari tersenyum di paksakan. Siwon berjalan sedikit hingga akhirnya berdiri tepat di hadapan Yongri. Di pegangnya kedua bahu Yongri dengan cukup erat.

“Ceritakan padaku. Apa yang terjadi?” Desak Siwon.

“Tadi pagi, aku mendapatkan kabar gembira.”

“….”

“Dokter bilang aku dapat melihat oppa. Aku mendapatkan seorang pendonor yang dapat membantuku melihat.”

“Bukankah itu bagus?” Kata Siwon sedikit bingung. Yongri tersenyum kecut.

“Ne oppa. Itu akan menjadi berita bagus jika aku memiliki biaya untuk melakukan operasinya.”

“Berapa biayanya?” Tanya Siwon.

“30juta oppa. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan jika Hyukjae oppa bekerja selama 1 tahun, kami tidak akan pernah bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.” Siwon memperhatikan wajah Yongri yang tampak benar-benar sedih. Terlihat dari matanya yang mulai berkaca-kaca. Mata yang biasanya tampak berbinar walaupun tidak memiliki fungsi untuknya. Tetapi siang itu sangat tersirat akan kesedihan.

“Lakukan operasi itu.”

“Mwo?!”

“Aku akan menanggung biayanya.”

“Oppa….”

“Kubilang lakukan operasi itu.”

“Ta–tapi kenapa?”

“Karena aku menyukaimu.”

“Siwon oppa…”

“Apa itu cukup untuk di jadikan alasan? Aku menyukaimu, Choi Yongri.” Kristal bening itu akhirnya jatuh membasahi pipi Yongri saat mendengar penyataan Siwon. Yongri merasakan hatinya senang, namun ia bingung karena matanya mengeluarkan airmata.

“Jadilah kekasihku, Yongri-ssi.” Ujar Siwon mantap.

“Oppa kau bercanda?”

“Anieyo. Kenyataan yang ada, aku jatuh cinta pada seorang gadis buta dan sederhana. Namun memiliki wajah dan hati yang cantik luar biasa.”

“Kau juga menyukaiku, kan?” Yongri tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Ia hanya mampu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Siwon. Siwon tersenyum senang saat melihat kepala itu mengangguk. Di kecupnya sekilas bibir mungil Yongri oleh Siwon.

“Gomawo.”

~~~

24 Mei 2010, 02.00PM KST

Langit malam yang mendung tampaknya tidak menyurutkan keinginan Siwon dan Yongri untuk duduk bersama di kursi taman. Taman di kota Busan tidak sebesar taman kota di Seoul. Tetapi taman itu cukup indah saat di lihat malam hari. Sebuah air mancur sederhana yang terus mengeluarkan air di temani oleh beberapa lampu taman bewarna-warni. Siwon menyampirkan tuxedo coklatnya di bahu Yongri.

“Sepertinya akan turun hujan.” Ujar Siwon sembari menatap langit.

“Jeongmal? Kalau begitu sebaiknya kita pulang.” Sahut Yongri mencoba berdiri. Namun pergelangan tangannya di tahan oleh Siwon.

“Oppa, wae? Kita bisa kehujanan nanti.”

“Aku tidak peduli jika nanti hujan atau badai. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu.”

“Oppa… Kau seperti akan pergi jauh saja.” Ujar Yongri pelan.

“Bagaimana jika aku memang pergi jauh?” Tanya Siwon sembari menatap wajah cantik Yongri.

“Kau, akan kembali ke Seoul? Kapan?”

“Setelah pekerjaanku di sini selesai.” Wajah Yongri berubah menjadi sedih. Jika Siwon kembali ke Seoul, akankah ia bisa bertemu lagi dengan Siwon? Lalu bagaimana dengan hubungan yang baru mereka jalin?

“Sekarang tidak usah memikirkan masalah itu. Jika sedang bersamaku, yang harus kau pikirkan hanya aku. Arra?” Yongri hanya mengangguk pelan.

“Oppa..” Panggil Yongri.

“Hmm, wae?”

“Menurutmu, apa itu cinta?”

“Cinta? Kenapa tiba-tiba bertanya?”

“Anieya. Hanya ingin bertanya saja. Cepat jawab!”

“Eish, sejak kapan kau jadi gadis pemaksa, huh?” Gurau Siwon sembari membelai pipi Yongri.

“Oppa ayo jawab.” Desak Yongri lagi. Siwon tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Kau.” Kata Siwon singkat.

“Mwo?!” Yongri tampak bingung.

“Cinta itu kau, Yongri-ya. Karena hanya denganmu aku jatuh cinta. Saat bersamamu aku merasakan cinta. Jadi, Cinta itu adalah Choi Yongri.” Ujar Siwon sembari tersenyum. Yongri tersenyum malu mendengar jawaban Siwon. Ia yakin pipinya pasti sekarang memerah.

“Pipimu merah, sayang. Apa kau kedinginan?” Tanya Siwon khawatir.

“A–anieyo. Gwenchana.” Jawab Yongri sembari menunduk. Siwon mengangguk mengerti dan mengalihkan pandangannya ke sekitar taman.

“Taman ini sangat indah.” Ujarnya.

“Jinjja? Aku ingin sekali dapat melihatnya.” Cetus Yongri.

“Sebentar lagi kau bisa melakukannya.”

“Oppa, bagaimana jika operasi itu gagal? Bagaimana jika aku tidak dapat melihat selamanya? Apa kau akan meninggalkanku?” Tanya Yongri. Yongri tidak dapat menutupi rasa takutnya. Dalam operasi, 2 kemungkinan tidak dapat di hindari. Berhasil atau gagal. Jika berhasil, ia tentu akan senang. Tetapi jika gagal, ia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya.

“Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Jika memang operasi itu gagal, aku bersedia menjadi matamu. Ada aku yang akan selalu menuntunmu. Jangan khawatir.” Siwon menggenggam tangan Yongri dengan erat. Yongri menghela nafas pelan.

“1 minggu lagi aku akan operasi. Oppa pasti datang, kan? Aku ingin ketika dapat melihat nanti, oppa adalah orang pertama yang aku lihat.”

“Pasti. Aku pasti datang.”

“Janji?”

“Ya. Aku janji.”

~~~

31 Mei 2010, 08.00AM KST

Siwon mematut dirinya di depan cermin yang ada di kamar hotel. Hari ini Yongri akan melakukan operasi. Dan Siwon ingin saat Yongri melihat dirinya nanti, ia dapat terlihat tampan. Hari itu ia hanya memakai pakaian casual. Kaos putih tanpa lengan di padukan dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans hitam. Ia menyemprotkan sedikit parfume di sekitar tubuhnya. Hanya sedikit karena Yongri tidak terlalu menyukai jika Siwon memakai banyak parfume. Yongri mengatakan jika Siwon memakai banyak parfume, bau tubuh Siwon yang khas akan tertutupi. Dan Yongri tidak suka itu. Setelah merasa cukup, Siwon segera melangkahkan kakinya untuk keluar kamar. Namun langkahnya terhenti saat merasakan ponselnya bergetar. Di keluarkannya ponsel itu dari saku celananya, dan ia menghela nafas saat melihat tulisan ‘eomma’ di sana.

“Yoboseo.”

Siwon-ah, pulang sekarang.

“Mworago?”

Eomma sedang sakit sekarang, Nak. Cepatlah pulang karena eomma merindukanmu.” Siwon memutar kedua bola matanya, sedikit kesal.

“Eomma jangan kekanak-kanakkan.” Desis Siwon kesal.

Ya! Apa salah jika eomma merindukan anaknya sendiri?

“Itu tidak salah eomma. Tapi sekarang waktunya sedang tidak tepat. Aku sudah ada janji dan tidak bisa pulang sekarang. Besok aku akan kembali ke Seoul.” Tiba-tiba Siwon mendengar sedikit isakan dari ponselnya.

“Eomma menangis?”

Ne. Eomma tidak menyangka jika memiliki anak yang lebih mementingkan janjinya dari pada ibunya sendiri. Dan jika eomma mati hari ini bagaimana? Kau tetap akan pulang besok?

“Tapi-”

Eomma tidak mau tau. Kau harus pulang sekarang. Jika tidak, eomma tidak mau melihatmu lagi!

“Eomma.. EOMMA!!”

“Aishh!!” Siwon mengerang kesal saat sang eomma memutuskan sambungan telepon sepihak. Ia menghela nafas berat. Bingung dengan apa yang harus di lakukannya sekarang. 1 jam lagi operasi Yongri akan di lakukan. Dan operasi itu akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Jika ia menunggu hingga operasi itu selesai dan baru pulang ke Seoul, tentu ia akan sampai besok malam atau mungkin lusa. Sejujurnya Siwon mengkhawatirkan keadaan ibunya.  Dengan berat hati Siwon membalikkan badannya dan segera mengemasi barang-barangnya.

09.30AM KST

“Yongri-ssi, operasinya akan segera di mulai. Kita ke ruang operasi sekarang.” Ujar Seorang perawat. Yongri mengangguk mengerti.

“Oppa, apa Siwon oppa belum datang juga?” Tanya Yongri pada Hyukjae. Sedari tadi ia menunggu kehadiran Siwon. Namun sepertinya, tidak ada tanda-tanda kehadiran dari Siwon. Itu membuatnya gelisah.

“Belum, Yongri-ya. Mungkin ia terkena macet. Lebih baik sekarang kita ke ruang operasi. Saat operasimu selesai, dia pasti sudah ada di sini.” Mau tak mau Yongri mengangguk dan akhirnya mereka menuju ruang operasi.

03.30PM KST

“Bagaimana, dok?” Tanya Hyukjae saat dokter Kim keluar dari ruang operasi. Wajahnya sedikit pucat dan di penuhi peluh. Ia tersenyum pada Hyukjae.

“Operasinya berjalan lancar. Kita hanya perlu menunggu selama 24 jam sebelum perban mata Yongri di buka dan melihat hasilnya. Yongri-ssi akan di pindahkan ke kamar biasa. Ia masih tertidur akibat obat bius. Saya permisi dulu.” Jawab dokter itu dan segera berlalu dari hadapan Hyukjae.

“Kamsahamnida, dok!” Teriak Hyukjae. Pintu ruang operasi kembali terbuka dan terlihat beberapa perawat mendorong ranjang di mana Yongri berbaring di sana. Kedua matanya di tutupi oleh perban dan ia masih belum sadarkan diri. Hyukjae mengikuti perawat itu menuju kamar rawat Yongri.

“Kamsahamnida.” Ujar Hyukjae pada perawat-perawat itu saat mereka selesai melaksanakan tugas mereka di dalam kamar itu. Hyukjae duduk di samping Yongri yang masih belum sadarkan diri. Di genggamnya tangan Yongri sembari menatapnya dengan perasaan campur aduk.

“Laki-laki itu tidak datang, Yongri-ya. Bagaimana ini? Apa kau akan kecewa?” Gumam Hyukjae.

~~~

1 Juni 2010, 03.30AM KST

Yongri duduk di atas ranjang rumah sakit dengan perasaan bingung. Ia senang karena mungkin beberapa saat lagi, ia akan dapat melihat. Tetapi ia juga sedih karena sampai sekarang Siwon belum juga datang. Siwon sudah berjanji akan datang. Tetapi kenapa rasanya Yongri tidak dapat memegang kata-kata itu. Selama ini, Siwon tidak pernah mengingkari janjinya. Dan sepertinya, ini akan menjadi yang pertama.

CKLEKK!!

Yongri mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Sesaat kemudian ia mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

“Apa kau sudah siap, Yongri-ssi? Tanya dokter Kim. Yongri kembali menghela nafas saat mendengar suara dokter Kim. Ia berpikir bahwa yang tadi masuk ke kamarnya adalah Siwon. Namun harapannya sia-sia.

“Ne, dokter.” Jawabnya. Dokter Kim mengangguk dan dengan perlahan melepas perban yang melekat di mata Yongri. Di balik perban mata Yongri terus tertutup. Jantung Yongri berdegup dengan kencang. Bertambah kencang kala perban dan kapas yang menutup matanya sudah hilang entah kemana.

“Buka matamu perlahan-lahan.” Pinta dokter Kim. Yongri menurutinya. Dengan perlahan ia membuka matanya. Semua masih sama, gelap. Perasaan takut mulai merasuki hati Yongri.

“Bagaimana?”

“Masih gelap, dok.” Suara Yongri terdengar bergetar.

“Tutup kembali matamu.” Yongri kembali menurutinya.

“Dan sekarang buka kembali dengan perlahan.” Yongri kembali membuka matanya. Sekarang sesuatu yang kabur tercetak jelas oleh penglihatannya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya sesuatu yang kabur itu terlihat jelas. Ia dapat melihat seorang namja berwajah tampan berdiri di hadapannya.

“Bagaimana?” Tanya dokter Kim.

“Saya dapat melihat dok! Saya dapat melihat!” Jeritnya senang.

“Benarkah?” Tanya namja yang berdiri di hadapannya itu.

“Hyukjae oppa?”

“Ne, Yongri. Aku Hyukjae. Lee Hyukjae.” Ujar Hyukjae senang. Hyukjae segera menghampiri Yongri dan memeluknya dengan perasaan terharu.

“Oppa aku dapat melihat.” Ujar Yongri sembari menangis.

“Ne saengi-ya. Chukkae.”

“Selamat Yongri-ssi. Operasimu berhasil. Selamat menikmati keindahan dunia.” Ujar Dokter Kim sembari tersenyum.

“Jeongmal kamsahamnida, dokter.”

“Ne, cheonma. Saya permisi.” Dokter Kim segera berlalu dari kamar itu. Yongri mengedarkan tatapannya ke sekitar kamar. Mencoba mencari sosok lain yang mungkin ada di sana. Namun hanya ada dirinya dan Hyukjae di sana. Kali ini, Yongri benar-benar merasa kecewa.

~~~

1 November 2010, 01.00PM KST

Yongri duduk merenung di atas tangga kayu depan rumahnya. Ia memandangi pagar rumahnya yang sederhana itu. Beberapa orang berlalu lalang di sana. Namun tidak ada satupun yang menghampirinya dan mengatakan bahwa dia adalah Choi Siwon. 5 bulan sudah Yongri terus menunggu kehadiran Siwon. Namun hasilnya selalu nihil. Siwon tidak pernah datang semenjak matanya dapat melihat. Dan Yongri benar-benar sedih. Ia merasa semuanya sia-sia. Bahkan jika di suruh memilih, ia lebih memilih buta daripada melihat. Karena saat ia buta, Siwon berada di sisinya. Tetapi saat ia dapat melihat, Siwon berada jauh dari jangkauannya.

“Melamun lagi?” Suara Hyukjae sedikit mengejutkannya. Hyukjae ikut duduk di samping Yongri.

“Masih memikirkan laki-laki itu?” Yongri hanya mengangguk pelan.

“Aku merindukannya, oppa. Sangat.” Hyukjae menghela nafas berat.

“Lupakan dia, Yongri-ya.” Ujar Hyukjae sembari menatap ke depan dengan pandangan kosong. Yongri menatap Hyukjae dengan tatapan tidak percaya.

“Shireo! Kenapa aku harus melupakannya?” Tolak Yongri langsung. Hyukjae memandang Yongri dengan kesal. Pertama kalinya ia merasa sangat kesal dengan Yongri.

“Jika aku bilang lupakan dia. Kau harus lupakan! Jangan membantah!!” Bentak Hyukjae. Tubuh Yongri tersentak saat Hyukjae membentaknya. Matanya berkaca-kaca dan sebentar saja cairan bening itu langsung jatuh. Hyukjae menjadi merasa bersalah saat melihat Yongri menangis. Ia terus memerhatikan Yongri yang menundukkan kepalanya.

“Laki-laki itu bukan milikmu, Yongri-ya. Ia milik orang lain.” Ujar Hyukjae pelan. Yongri menatap Hyukjae dengan tatapan bingung.

“Aku melihatnya memakai cincin di jari manisnya. Itu bukan sembarang cincin, Yongri-ya. Laki-laki itu sudah memiliki tunangan. Atau mungkin istri.” Ujarnya lagi.

“Saat itu kau belum bisa melihat. Dan kau pasti tidak tau. Aku tidak mengatakan padamu hanya karena takut kau kecewa.” Kembali Yongri dihantui perasaan campur aduk. Antara percaya tidak percaya. Bagaimana mungkin Siwon mengatakan mencintainya saat ia memiliki tunangan atau istri?

“Kumohon lupakan dia dan jangan menyiksa dirimu dengan terus menunggunya. Dia bukan laki-laki yang baik untukmu.” Pinta Hyukjae dan kemudian segera meninggalkan Yongri sendirian yang masih bertarung dengan pikirannya. Haruskah ia melupakan Siwon?

 

~~~

 

2 years later

Seoul, Korea selatan

1 November 2012, 09.30AM KST

Seorang namja dengan tubuh kekar dan memiliki wajah tampan terus saja tersenyum saat berada di dalam mobil. Wajah itu masih terlihat muda, walaupun tahun ini umurnya sudah berkepala tiga. Saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju kantornya di Seoul. Namja itu baru saja tiba di Seoul karena beberapa jam yang lalu dirinya masih berada di Vietnam. Proyeknya yang berada di Vietnam berjalan lancar dan itu membuatnya senang. Tetapi lebih dari itu, kepulangannya ke Seoul inilah yang membuatnya lebih senang.

“Anda baik-baik saja, Tuan Park?” Tanya supir pribadinya yang memang kebetulan menjemputnya di airport. Namja itu segera melunturkan senyumnya dan memasang ekspresi dingin dan cuek.

“Memangnya kenapa?” Namja itu balik bertanya.

“Anieya. Saya hanya berpikir telah telah terjadi sesuatu karena Anda sedari tadi terus tersenyum.” Jawab sang supir.

“Apa itu ada urusannya denganmu? Kau sekarang mau mencampuri urusan pribadiku? Sudah bosan bekerja denganku, Han Taewon?” Desis namja itu dengan nada suara yang sangat menakutkan. Wajah sang supir mendadak pucat pasi. Ia mencengkram erat stir mobil yang memang sedang dalam genggamannya.

“Mianhada, Tuan Park. Jinjja mianhada. Saya tidak akan mengulanginya.” Ujar Han Taewon -supir- dengan takut.

“Baiklah. Kali ini ku maafkan. Sekarang fokuskan saja dirimu dengan jalanan.” Ujar namja itu dengan mengulum senyum. Tentu kata-kata tadi tidak sungguh-sungguh di ucapkannya. Supir Han sudah hampir 20 tahun bekerja dengannya. Tidak mungkin ia memecat namja paruh baya itu hanya karena masalah sepele.

10.30AM KST

Namja itu segera menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang di dudukinya saat sampai di kantornya- tepatnya di ruangannya. Ia memejamkan matanya sembari mengatur nafasnya yang sedikit tersengal.

‘Tok…tok…tok…’

“Masuk.” Ujarnya saat mendengar suara ketukan pintu. Pintu terbuka dan muncullah seorang gadis cantik dengan tubuh mungil yang berbalut pakaian kerja yang terlihat bermerek. Gadis itu menutup pintu dan menghampiri tempat di mana namja bermarga Park itu berada. Bunyi ujung hak sepatunya menggema di dalam ruangan yang cukup luas itu. Menambah kesan elegan pada dirinya.

“Welcome back, Tuan Park Jungsoo.” Ujarnya sembari tersenyum manis. Namja itu tersenyum geli.

“Saya pikir Anda tidak akan pernah kembali ke sini. Apa Anda mendapatkan gadis Vietnam sehingga betah berlama-lama di sana?”

“Apa kau sedang cemburu?” Namja itu terlihat senang.

“Haruskah saya cemburu? Hanya gadis bodoh yang mau dengan seorang ahjussi mesum seperti Anda.”

“Dan sayangnya gadis bodoh itu adalah dirimu.” Sahut sang namja dengan penuh kemenangan. Gadis itu hanya membalasnya dengan mencibir.

“Kemari kau.” Perintah Jungsoo. Gadis itu menurutinya dan berjalan memutari meja kerja Jungsoo dan berdiri tepat di sampingnya. Jungsoo segera menarik pergelangan tangan gadis itu, hingga jatuh terduduk di atas pangkuannya. Raut wajah gadis itu berubah panik.

“Oppa ini di kantor!” Ujarnya sembari mencoba bangkit. Jungsoo menggeleng tegas.

“Aku sudah hampir mati merindukanmu, Yongie.” Ujar Jungsoo dengan wajah memelas.

“Itu salahmu sendiri, Tuan Park. Siapa yang menyuruhmu pergi ke Vietnam selama 2 bulan lebih?” Yongri masih berusaha bangkit dari posisinya.

“Diamlah sebentar!” Jungsoo menatap tajam mata Yongri yang saat ini sangat dekat dengannya. Di jatuhkannya kepalanya dengan lunglai di atas bahu Yongri. Ia menghela nafas berat.

“Aku sangat lelah, Yongie.” Ujarnya manja sembari memeluk erat pinggang Yongri. Yongri mengelus kepala Jungsoo dengan sayang.

“Apa pekerjaan di Vietnam sangat melelahkan?” Tanyanya. Jungsoo mengangguk.

“Kenapa tidak langsung pulang saja?”

“Aku merindukanmu. Jika aku pulang, aku baru bisa bertemu denganmu malam nanti.” Jawab Jungsoo. Yongri melingkarkan kedua tangannya di sekitar bahu Jungsoo.

“Kita pulang sekarang saja, ya?” Ajak Jungsoo sembari mendongakkan kepalanya.

“Jigeum? Tetapi aku masih banyak pekerjaan oppa. Oppa duluan saja. Tunggu aku di rumah.”

“Jebalyeo.” Pinta Jungsoo. Yongri kembali menghela nafas sembari menatap wajah Jungsoo yang penuh harap.

“Arraseo. Tetapi biarkan aku yang bawa mobil, eoh? Kau bisa istirahat sebentar di dalam mobil selagi dalam perjalanan.”

“Bagaimana mungkin aku melakukannya? Aku masih memiliki tenaga hanya untuk mengendarai mobil.”

“Aish terserah kau saja. Cepat pulang sekarang atau aku akan berubah pikiran!!” Ucap Yongri ketus.

“Aigoo galaknya.” Goda Jungsoo.

10.00PM KST

“Kemarin Hyukjae oppa menghubungiku.” Ujar Yongri sembari membelai kepala Jungsoo yang berada di atas pahanya.

“Jinjja? Ada apa?” Tanya Jungsoo.

“Nana eonnie sudah melahirkan, anak mereka laki-laki.” Jawab Yongri.

“Jeongmal?” Jungsoo menatap Yongri.

“Ne.” Suasana tiba-tiba menjadi hening. Jungsoo dan Yongri sibuk dengan pikiran masing-masing. Tangan Yongri masih terus membelai rambut hitam Jungsoo.

“Yongie..” Panggil Jungsoo.

“Hmm?”

“Ayo kita menikah.” Gerakan tangan Yongri tiba-tiba terhenti. Ia menatap Jungsoo dengan pandangan tidak percaya.

“Waeyo? Kenapa tiba-tiba mengajakku menikah? Memangnya kau pikir menikah itu sesuatu yang mudah di lakukan, eoh?”

“Aku bisa menyiapkannya jika kau mau. Dan jika kau takut sibuk, aku tidak akan melibatkanmu. Kau tunggu saja sampai semuanya selesai. Otte?” Jungsoo kembali menatap Yongri dengan penuh harap. Sedangkan Yongri hanya bisa menghela nafas panjang.

“Yahh,, itu sama saja kau memaksaku menikah oppa.” Keluh Yongri. Jungsoo bangkit berdiri dari baringnya dan menatap Yongri. Ia menggenggam tangan mungil itu dengan erat.

“Aku mencintaimu. Dan aku hanya ingin kau menjadi istriku. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya. Apa itu salah?”

“Tentu saja tidak. Aku….hanya terkejut saja.” Ujar Yongri salah tingkah.

“Bagaimana mungkin kau terkejut? Kita sudah bertunangan 1 tahun. Kau tentu tau kita akan melanjutkan hubungan ini ke pernikahan. Kau maukan menikah denganku?”

“Sebenarnya ada apa denganmu oppa? Kenapa tiba-tiba mengajakku menikah?” Yongri tampak bingung. Jungsoo menghela nafas.

“Besok aku akan bertemu klienku dari Choi Corp. Kau tau, dia itu lebih muda dariku. Tetapi dia sudah menikah hampir 2 tahun.” Keluh Jungsoo seperti anak-anak. Yongri tertawa kecil melihatnya.

“Aigoo, kau iri padanya Jungsoo ahjussi?” Canda Yongri.

“Eish!” Jungsoo berpura-pura ingin menjitak Yongri.

“Keundae, siapa klienmu itu?” Tanya Yongri.

“Eum, namanya Choi Siwon.” Jawab Jungsoo yang membuat tubuh Yongri mendadak tegang. Keringat tiba-tiba saja mengaliri wajahnya. Pikirannya mendadak kembali ke 2 tahun yang lalu. Tahun di mana ia membulatkan tekat untuk melupakan Siwon. Ya, sesaat setelah Hyukjae mengatakan jika Siwon bukan seseorang yang baik untuknya, sejak saat itulah ia membenci Siwon. Siwon mencampakannya hingga ia harus menunggu 5 bulan lamanya. Setelah itu, Yongri mencoba peruntungannya dengan pergi ke Seoul untuk mencari pekerjaan. Beruntung ia bertemu dengan Park Jungsoo yang bekerja sebagai arsitek dengan langsung memberinya pekerjaan sebagai sekretaris pribadinya. Hingga akhirnya Jungsoo jatuh cinta pada Yongri dan menjadikan Yongri sebagai tunangannya 1 tahun yang lalu. Yongri menyayangi Jungsoo. Jungsoo sangat baik padanya. Karena Jungsoo ia memiliki tempat tinggal saat pertama kali sampai di Seoul. Walaupun saat itu ia hanya menempati sebuah rumah kontarakan kecil. Itulah yang membuat Yongri tidak bisa menolak Jungsoo. Tetapi semenjak menjadi tunangan Jungsoo, kehidupannya benar-benar berubah 180 derajat. Ia tinggal berdua bersama Jungsoo di rumah Jungsoo yang sangat mewah. Penampilannya juga sudah seperti gadis-gadis terhormat dengan dandanan yang menawan. Hyukjae sendiri sampai saat ini masih menetap di Busan. 1 tahun yang lalu ia menikah dengan Shin Nana dan anak pertama mereka baru lahir kemarin. Di Busan, Hyukjae memiliki sebuah restoran sederhana yang juga berkat bantuan Jungsoo. Jungsoo memberikannya modal untuk membangun usaha, dan Hyukjae memilih untuk membangun sebuah restoran kecil yang sekarang cukup ramai di kunjungi.

“Yongie, wae geureh? Kenapa kau berkeringat? Kau sakit?” Jungsoo tampak khawatir. Tubuh Yongri tiba-tiba tersentak. Nafasnya tersengal dan ia segera menarik nafas sedalam-dalamnya.

“Ada apa, Yongie? Demi Tuhan jangan membuatku khawatir.”

“Gwenchana oppa. Aku hanya lelah. Aku akan tidur sekarang. Sebaiknya kau juga tidur.” Yongri segera turun dari ranjang Jungsoo dan keluar dari kamarnya. Ia melangkah masuk ke kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Jungsoo. Setelah menutup pintu, ia bersandar di sana sembari menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali. Haruskah ia bertemu lagi dengan Siwon? Setelah bersusah payah menghilangkan ingatannya tentang Siwon dan itu juga belum berhasil di lakukannya. Belum lagi Jungsoo mengatakan jika Siwon sudah menikah. Bukankah itu berarti Siwon benar-benar melupakannya? Yongri berjalan lunglai ke tempat tidurnya dan menghempaskan dirinya di sana.

~~~

2 November 2012, 01.30PM KST

Jungsoo dan Yongri saat ini tengah berada di sebuah restoran Itali yang berada di daerah Insadong. Yongri duduk di samping Jungsoo yang tampak sibuk dengan netbooknya. Saat ini mereka sedang menunggu klien Jungsoo dari Choi Corp itu.

“Oppa, haruskah aku ikut bertemu klienmu itu?” Yongri mencoba untuk pergi dari sana. Ia tidak mau bertemu Siwon saat ini. Dan tidak akan pernah mau bertemu dengannya lagi. Jungsoo mengalihkan pandangannya dan tersenyum pada Yongri. Di kecupnya sekilas bibir Yongri dan mengacak pelan rambutnya.

“Tentu saja. Kau itu sekretarisku sekaligus tunanganku. Jika aku tidak bisa mengenalkanmu sebagai istriku, setidaknya aku bisa mengenalkanmu sebagai tunanganku.” Pundak Yongri mendadak lemas. Sepertinya ia memang tidak bisa menghindari pertemuan ini. Ia hanya bisa menunduk sembari meremas jari-jarinya.

“Park Jungsoo-ssi?” Sebuah suara membuat Jungsoo mendongakkan kepalanya.

“Siwon-ssi, senang bertemu denganmu.” Ujar Jungsoo sembari berdiri dan mengulurkan tangannya. Siwon menyambut uluran tangan itu sembari tersenyum ramah.

“Ah kenalkan, ini sekretarisku sekaligus tunanganku.” Kata Jungsoo sembari menunjuk Yongri yang berdiri masih dengan menundukkan kepalanya.

“Yongie…” Dengan perlahan Yongri mendongakkan kepalanya dan menatap Siwon yang saat itu sangat terkejut melihat dirinya. Yongri tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Naneun Choi Yongri imnida. Mannaseo bangapseumnida.” Ucap Yongri berusaha sedatar mungkin. Siwon tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ia terus menatap wajah Yongri. Wajah yang tidak pernah di lupakannya selama 2 tahun ini. Jungsoo yang melihat itu menjadi bingung.

“Siwon-ssi, gwenchana?” Tanya Jungsoo membuyarkan lamunan Siwon.

“A–ah gwenchana. Choi Siwon imnida.” Siwon menyambut uluran tangan Yongri. Baru saja Siwon ingin menggenggam tangan itu lebih lama, namun Yongri segera menariknya.

“Silahkan duduk.” Ujar Jungsoo. Setelah duduk, mereka segera memesan makanan. Jungsoo dan Siwon langsung membicarakan mengenai pekerjaan mereka. Siwon berencana membangun perusahaan baru di daerah Gangnam. Dan ia meminta Jungsoo untuk merancang dan membangunnya. Jungsoo tentu saja menerima tawaran itu. Belum lagi jumlah uang yang di tawarkan Siwon padanya. Jungsoo bukan gila uang, ia berpikir uang itu dapat membantunya dalam menyiapkan pernikahannya dengan Yongri. Siwon sedari tadi terus melirik Yongri yang duduk di samping Jungsoo. Yongri tampak tidak peduli dan mencatat apa yang mereka bicarakan di netbook milik Jungsoo.

“Saya permisi ke toilet sebentar, Siwon-ssi.” Ujar Jungsoo.

“Ah ne silahkan.”

“Yongie, aku tinggal sebentar.” Yongri berniat menahan Jungsoo. Ia tidak ingin di tinggalkan berdua saja dengan Siwon. Tapi Yongri yakin jika ia melakukannya, Jungsoo akan curiga.

“Ne, oppa.” Ucapnya pelan. Kali ini tanpa canggung Siwon terus memperhatikan Yongri. Ia rindu wajah itu. Rasanya ingin sekali menghampiri Yongri dan memeluknya dengan erat. Tapi itu tidak mungkin di lakukannya.

“Yongri-ya..” Panggilnya. Yongri tidak menanggapi dan terus sibuk dengan netbooknya.

“Kau sudah bisa melihat sekarang.” Kata Siwon pelan.

“Yongri-ya, aku tau kau mendengarku. Kenapa tidak melihatku?” Siwon sedikit kesal saat melihat Yongri mengacuhkannya. Baru saja ia ingin merampas netbook di tangan Yongri saat tiba-tiba saja Jungsoo sudah kembali dari toilet dan duduk.

“Oppa..” Panggil Yongri. Siwon menoleh cepat. Ia berpikir jika Yongri memanggilnya. Tetapi ia salah, mata itu tidak mengarah padanya. Tetapi pada Jungsoo.

“Wae?” Tanya Jungsoo lembut.

“Apa pekerjaanmu sudah selesai? Bisa kita pulang sekarang?”

“Waeyo? Apa kau tidak betah di sini?” Yongri tersenyum dan mengangguk kecil. Jungsoo itu tersenyum dan membelai pipi Yongri. Siwon yang melihat itu tentu saja menggeram.

“Arraseo. Kita pulang sekarang.” Ujar Jungsoo dan sesaat kemudian menatap Siwon.

“Penjelasan Anda mengenai bangunan itu sudah cukup jelas, Siwon-ssi. Saya akan mulai mendesainnya dengan staffku di kantor. Saya akan menghubungimu jika ada yang kurang jelas. Tidak apa-apa kan jika kami tinggal?” Siwon tersentak.

“A–ah ne.” Sahutnya tergagap. Jungsoo kembali menatap Yongri dan tersenyum.

“Kajja.” Keduanya berdiri dan bersiap berlalu dari tempat itu saat tiba-tiba Yongri menahan lengan Jungsoo.

“Jankkaman oppa.” Ujarnya. Jungsoo menatap Yongri bingung. Yongri menatap Siwon yang masih duduk dan juga kebetulan menatapnya.

“Selamat atas pernikahanmu. Semoga kau bahagia.” Ujar Yongri dengan senyum manis. Siwon tersentak saat Yongri mengatakan itu. Ia tidak menyangka Yongri mengetahui pernikahan yang tidak pernah di inginkannya itu. Siwon terus memperhatikan Yongri dan sudah berjalan jauh dan akhirnya keluar dari restoran itu. Ia menghela nafas dan memegang keningnya yang tiba-tiba terasa sakit.

~~~

9 November 2012, 08.30AM KST

Siwon terus melamun sembari menatap jendela ruangannya yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit yang berada di Seoul. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Pertemuannya seminggu yang lalu dengan Yongri membuat perasaannya campur aduk. Senang? Tentu saja ia senang karena bisa kembali melihat wajah yang membuat ia merasakan apa itu cinta. Sedih? Entahlah. Ia juga bingung dengan perasaan itu. Ia sedih karena Yongri bersama Jungsoo. Ia juga sedih karena dirinya sekarang sudah mempunyai istri. Istri yang tidak pernah di cintainya sedari dulu. Ya, Siwon sudah menikah dengan Nam Sanna. Ia terpaksa melakukannya karena saat itu Choi Jihee sakit cukup parah. Siwon hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada Jihee. Dan beruntung, Jihee sekarang sudah tidak apa-apa. Sekalipun Siwon tidak pernah melupakan Yongri. Bahkan satu tahun yang lalu, ia sempat pergi ke Busan untuk bertemu Yongri. Namun hasilnya nihil karena saat itu Yongri sudah berada di Seoul. Siwon tidak tau apa yang harus di lakukannya sekarang. Semua terjadi tiba-tiba, dan ia belum siap menghadapinya.

“Sajangnim….”

“….”

“Sajangnim….”

“….”

“Sajangnim!” Siwon tersentak. Ia segera menoleh dan mendapati Sekretaris Lee di sana.

“Apa? Kau berteriak padaku barusan?” Tanya Siwon sedikit emosi.

“Mianhada, sajangnim. Saya sudah memanggil Anda beberapa kali, tetapi Anda tidak merespon.” Sekretaris Lee membungkukkan badannya.

“Sudahlah, ada apa?” Tanya Siwon sembari duduk di kursi kerjanya.

“Anda sudah di tunggu di ruang rapat.” Jawab Sekretaris Lee. Siwon menghela nafas sembari menatap Sekretaris Lee.

“Batalkan rapat atau janji apapun hari ini. Aku sedang tidak ingin di ganggu.” Ujar Siwon tegas.

“Tapi sajangnim-” ucapan Sekretaris Lee terhenti saat melihat tatapan Siwon yang berisyarat tidak ingin penolakkan apapun.

“Aigesseo.” Ujarnya akhirnya dan segera berlalu dari ruangan Siwon. Siwon kembali menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia memejamkan matanya sembari membayangkan wajah Yongri.

BRAKKK!!

“YAA- Kyuhyun-ah?” Siwon baru saja akan berteriak marah saat mendengar pintunya terbuka keras. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu sembari tersenyum tanpa dosa.

“Aigoo, apa ini wajah Direktur Choi yang sedang tidak ingin di ganggu?” Gurau Kyuhyun sembari masuk dan menutup pintu.

“Ada apa? Aku sedang malas berurusan denganmu.” Ujar Siwon kembali menyandarkan punggungnya. Kyuhyun tersenyum sinis dan duduk di hadapan Siwon.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau kusut sekali? Padahal ini masih pagi.” Tanya Kyuhyun penuh perhatian. Siwon hanya diam saja tanpa niatan menjawab.

“Ahh,, kau tidak di beri ‘sarapan’ oleh istrimu?” Goda Kyuhyun sembari mengedipkan sebelah matanya. Siwon memandang Kyuhyun dengan kesal dan siap melemparkannya dengan pena jika saja Kyuhyun tidak menutupi wajahnya.

“Kalau begitu katakan padaku apa yang membuatmu begini!!” Desak Kyuhyun. Untuk yang kesekian kali Siwon menghela nafas.

“Kau ingat gadis yang pernah kuceritakan padamu dulu?” Tanya Siwon. Kyuhyun tampak berpikir.

“Gadis? Choi Yongri?” Siwon mengangguk.

“Wae?”

“Aku bertemu dengannya satu minggu yang lalu.”

“Jinjjayeo?” Kyuhyun tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Siwon kembali mengangguk.

“Di Busan? Kapan kau ke Busan?” Kali ini Siwon menggeleng.

“Aku bertemu dengannya di Seoul.”

“Mworago? Bagaimana mungkin?” Desis Kyuhyun tidak percaya.

“Ya, aku pun hampir tidak percaya. Dan yang lebih membuatku tidak percaya adalah ia sudah memiliki tunangan.” Ucap Siwon sembari menatap langit-langit ruangannya dengan pandangan kosong.

“Bagaimana kau bisa bertemu dengannya?” Tanya Kyuhyun penasaran.

“Aku memiliki kenalan seorang arsitek bernama Park Jungsoo. Dan Park Jungsoo itu adalah tunangan Yongri. Seminggu yang lalu kami janji bertemu untuk membahas mengenai perusahaan yang ingin ku bangun di Gangnam. Dan saat itu ada Yongri bersamanya.” Kyuhyun tampak mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti dengan cerita Siwon.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” Tanyanya. Siwon menggeleng pelan.

“Entahlah, Kyuhyun-ah. Aku juga bingung. Dia pasti membenciku sekarang.” Kyuhyun hanya diam sembari menatap wajah Siwon yang terpampang jelas akan kesedihan dan kerinduan yang bercampur menjadi satu.

“Dia masih sama. Cantik dan polos.” Ujar Siwon menerawang. Kyuhyun tersenyum.

“Sepertinya kau memang tidak pernah melupakannya.”

~~~

12 November 2012, 01.00PM KST

Yongri tampak begitu serius dengan pekerjaannya yang terdapat di layar laptopnya. Sesekali ia mengerutkan dahinya karena bingung. Namun sesaat kemudian ia tersenyum senang. Ia merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan merentangkan kedua tangannya ke atas. Tiba-tiba gerakannya terhenti saat melihat seseorang di sebrangnya berdiri dengan bersandar di tembok.

“Donghae oppa?!” Ujarnya. Seseorang yang di panggilnya Donghae itu tersenyum sembari berjalan menghampirinya.

“Aku ingin memberitahumu 1 hal.” Kata Donghae membuat Yongri penasaran.

“Mwo?!”

“Wajahmu saat sedang serius bekerja sangat cantik.”

“Eish, menggodaku?”

“Anieya. Jinjja.”

“Eum, jika Jungsoo oppa tau kau mengatakannya, ia pasti akan mencekikmu.” Gurau Yongri sembari terkekeh pelan.

“Ahh malas sekali rasanya mendengar nama itu.” Cetus Donghae.

“Waeyo?? Dia itu hyungmu, oppa.”

“Aish, dia itu egois. Tidak mau mengalah pada adik sepupunya sendiri.”

“Tentang apa?”

“Tentu saja dirimu. Apa lagi?”

“Ya!! Kau pikir jika Jungsoo oppa mengalah, aku mau padamu?” Canda Yongri. Wajah Donghae semakin tertekuk.

“Ahh aku patah hati lagi.” Ujarnya sembari memegang dadanya. Yongri tidak dapat menyembunyikan tawanya. Membuat Donghae juga ikut tertawa.

“Sampai kapan kau akan mendekati tunanganku, Donghae-ssi?” Suara Jungsoo terdengar mengerikan dari arah belakang Donghae. Donghae segera berbalik dan menatap Jungsoo.

“Hyung!” Sapanya seolah tidak ada apa-apa. Yongri berdiri dari duduknya dan tersenyum geli melihat tingkah Donghae. Jungsoo mencibir dan berjalan menghampiri Yongri.

“Aku lapar. Ayo kita makan.” Ujar Jungsoo sembari merangkul Yongri. Yongri melirik jam tangannya.

“Geureh, memang sudah jam makan siang.”

“Kajja.”

“Oppa ayo kita makan siang bersama.” Ajak Yongri pada Donghae.

“Andwae!” Cegah Jungsoo.

“Waeyo, hyung? Yongri mengajakku!” Donghae tidak terima.

“Sayang, kenapa kau mengajaknya?” Rengek Jungsoo.

“Memangnya kenapa? Donghae oppa kan juga bekerja di sini, oppa. Tidak ada salahnya jika kita makan siang bersama.”

“Ah matda! Aku setuju sekali.” Sambar Donghae. Yongri tersenyum.

“Kajja!” Donghae menarik tangan Yongri.

“Ya!! Lepaskan tanganmu dari tangan tunanganku!!” Jungsoo tidak dapat menutupi kekesalannya. Donghae menatap tangannya yang memegang tangan Yongri, kemudian menatap Jungsoo dan menunjukkan cengirannya.

“Mianhae hyung. Aku lupa jika dia tunanganmu.” Yongri hanya dapat tertawa pelan melihat tingkah Jungsoo dan Donghae.

02.00PM KST

“Oppa haruskah makan terburu-buru seperti itu?” Omel Yongri pada Jungsoo.

“Uhukk..uhuk..”

“Apa ku bilang??! Aishh!!” Yongri memukul-mukul pelan punggung Jungsoo yang tersedak dan menyodorkannya segelas air putih. Donghae yang melihatnya hanya bisa memutar bola matanya malas.

“Dia itu sengaja, Yongri-ya. Dia ingin kau perhatikan.” Kata Donghae cuek sembari memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya. Jungsoo menatap Donghae dengan kesal.

“Jangan ikut campur urusan kami dan makan saja makananmu.” Desis Jungsoo.

“Lihat, Yongri-ya! Tunanganmu itu bisanya hanya marah-marah saja. Lebih baik kau tinggalkan dia dan bersamaku saja.”

“YAA!! Aish neo jinjja!!” Geram Jungsoo ingin melempar sendok ke arah Donghae.

“Kenapa kalian selalu bertengkar??? Apa kalian itu anak berumur 7 tahun, huh? Aku tidak mau makan lagi! Menyebalkan!” Yongri langsung berdiri dari duduknya dan keluar dari restoran tempat mereka makan siang itu. Jungsoo dan Donghae hanya bisa terdiam melihat Yongri yang kesal dengan tingkah mereka berdua.

Yongri berjalan pelan sembari memperhatikan toko-toko yang sedang di lewatinya. Ia memang jarang berjalan-jalan sendiri seperti ini. Karena biasanya Jungsoo selalu menemani Yongri ke manapun Yongri ingin pergi. Dan saat ini, ia benar-benar menikmati ketika berjalan-jalan sendiri. Ia tau ini sudah melebihi jam makan siang. Tapi ia tidak peduli. Toh, Jungsoo tidak mungkin marah padanya. Yongri tersentak saat tiba-tiba ada yang mencengkram pergelangan tangannya. Dengan takut-takut ia menoleh ke belakang. Matanya membulat sempurna saat tau siapa pemilik tangan kekar itu.

05.00PM KST

Udara pantai selalu membuat suasana menjadi menyejukkan. Angin-angin yang berhembus melambai-lambaikan rambut ikal Yongri yang sepunggung. Beberapa kali Yongri membenarkan rambutnya dengan menyelipkannya di belakang telinga. Terkadang ia tersenyum saat air laut mengenai ujung kakinya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan suasana seperti ini.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Siwon yang berdiri di samping Yongri.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Yongri tanpa menatap Siwon sama sekali.

“Aku senang kau baik-baik saja.” Ujar Siwon sembari menatap Yongri. Yongri hanya tersenyum tipis.

“Apa benar….kau…tunangan Park Jungsoo?” Yongri kembali tersenyum. Ia tau Siwon pasti akan menanyakan tentang ini.

“Jungsoo oppa laki-laki yang baik. Dia yang menolongku saat aku pertama kali menapakkan kaki di Seoul. Dia mencintaiku dengan tulus. Dan yang pasti, Jungsoo oppa tidak pernah meninggalkanku dan membuatku menunggu hingga berbulan-bulan.” Tiba-tiba saja Siwon merasa air ludahnya adalah sebuah batu. Terasa sakit saat menelannya. Ia tau Yongri sedang menyindirnya.

“Kau mencintainya?” Tanya Siwon lagi. Yongri menatap Siwon dengan tatapan tajam.

“Apa aku harus memberitahumu?” Tanyanya. Siwon menghembuskan nafas dan menatap ke depan.

“Mianhae.” Ujarnya.

“Aku tau kau membenciku. Tapi kau harus tau satu hal, aku tidak pernah bermaksud meninggalkanmu dan membuatmu menunggu. Aku melakukannya karena terpaksa, Yongri-ya. Kau tau aku sangat mencintaimu.” Yongri mengalihkan pandangannya saat matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Siwon. Siwon memegang kedua bahu Yongri dan membuat Yongri berhadapan dengannya.

“Kau masih mencintaiku, kan?” Yongri masih enggan menatap Siwon. Airmatanya semakin mendesak ingin keluar.

“Yongri tatap aku dan katakan jika kau masih mencintaiku!” Pinta Siwon.

“Bodoh saja aku jika masih menaruh hati pada laki-laki yang mencampakkanku.” Ujar Yongri sembari tersenyum sinis bersamaan dengan airmatanya yang keluar. Dengan cepat ia menyekanya.

“Bertemu denganmu membuatku menjadi ingin cepat menikah dengan Jungsoo oppa. Sepertinya kau sangat bahagia dengan pernikahanmu. Maka aku juga ingin merasakannya.”

“Yongri-ya….”

“Ah satu lagi. Berikan aku nomor rekeningmu. Aku ingin mengembalikan uangmu yang ku pinjam untuk biaya operasi 2 tahun yang lalu. Karena setelah aku mengembalikan uang itu, tandanya kita tidak memiliki alasan lagi untuk saling bertemu.” Siwon menatap tajam Yongri yang berada di hadapannya. Ia mencengkram kuat bahu Yongri hingga membuat Yongri sedikit meringis.

“Aku yang berhak menentukan kapan kau boleh mengembalikan uang itu. Selama aku belum mengizinkan kau mengembalikannya, itu berarti kau dan aku masih harus terus bertemu.”

10.00PM KST

Yongri berjalan dengan lunglai memasukki rumahnya. Matanya merah dan sedikit bengkak karena habis menangis. Ia terus menundukkan kepalanya sembari menuju kamarnya. Bersamaan dengan itu, Jungsoo baru saja keluar dari kamarnya. Perasaannya lega luar biasa saat melihat Yongri pulang dengan selamat. Ia segera menghampiri Yongri dan memegang kedua lengannya.

“Yongie kau dari mana saja? Tadi siang kau tidak kembali ke kantor, dan sekarang kau baru pulang. Kau dari mana?”

“….”

“Apa kau masih marah karena kelakuanku dan Donghae tadi siang? Aku minta maaf. Aku tidak akan ke kanak-kanakkan lagi. Aku janji.”

“Oppa..”

“Ya?”

“Kita menikah saja.”

~~~

20 November 2012, 07.00AM KST

Nam Sanna selalu bangun lebih pagi seperti biasa untuk menyiapkan Siwon sarapan. Walaupun pada akhirnya Siwon hanya akan memakannya sedikit dan makanan-makanan itu akan berakhir di tempat sampah.

“Eoh? Oppa sudah siap?” Ujar Sanna saat melihat Siwon sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

“Hmm.” Sahut Siwon sembari meminum kopi yang sudah di siapkan Sanna.

“Oppa tidak sarapan?” Tanya Sanna saat melihat Siwon akan beranjak dari meja makan. Siwon menatap Sanna.

“Aku sarapan di kantor saja.” Jawabnya dan kembali melangkah ke pintu rumah. Sanna menahan pergelangan tangan Siwon hingga langkahnya terhenti. Siwon tidak berniat untuk menoleh sama sekali.

“Sampai kapan oppa akan seperti ini?” Tanyanya.

“….”

“Menikah hampir 2 tahun, tidur di kamar terpisah, tidak pernah menyentuhku dan mengacuhkanku. Apa itu belum cukup?”

“….”

“Aku mencintaimu oppa.” Siwon dapat mendengar isakan Sanna. Ia berbalik dan menghempas pelan tangan Sanna yang memegang tangannya.

“Di sana letak kesalahanmu, Sanna-ya.”

“Apa mencintaimu itu salah?”

“Ya. Karena kau tau aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai adik. Tidak bisa lebih, Sanna-ya.”

“Tapi kenapa oppa? Kenapa kau tidak bisa mencintaiku? Apa kurangnya diriku?”

“Tidak ada. Kau cantik. Kau baik dan kau pintar. Kau pantas mendapatkan laki-laki yang juga mencintaimu. Dan yang pasti itu bukan aku.”

“Apa karena wanita lain?” Tanya Sanna yang membuat Siwon sedikit terkejut.

“Mwo?!”

“Apa karena kau mencintai wanita lain?!” Ulangnya. Siwon menghela nafas dan kembali berbalik hingga akhirnya keluar dari rumah.

10.00AM KST

Siwon berjalan sedikit tergesa menuju rumahnya yang menjadi tempat tinggalnya sebelum menikah. Tiba-tiba Kiho menghubunginya dan memintanya untuk datang. Choi Kiho memang sudah tidak aktif lagi dalam urusan perusahaan. Namun ia masih meminta Sekretaris Jang -sekretaris pribadinya- untuk memberi kabar terbaru mengenai seluruh perusahaan yang di milikinya. Ketika sampai di rumah, Siwon segera menuju ruang kerja Kiho yang berada di lantai 1.

“Appa..” Ucapnya ketika sudah masuk ke dalam ruangan itu.

“Oh Siwon-ah, waseo.” Siwon hanya mengangguk.

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Siwon langsung. Kiho mengangguk.

“Perusahaan di Busan-”

“Perusahaan Busan lagi?” Desis Siwon tak percaya.

“Ya! Bahkan appa belum selesai bicara.” Ujar Kiho tidak terima perkataannya di potong. Siwon hanya menghela nafas selagi menunggu Kiho berbicara.

“Perusahaan di Busan benar-benar mengalami krisis, Siwon-ah. Hutang dengan bank dalam jumlah yang sangat banyak. Dan jika kita tidak bisa mengatasinya dalam waktu 6 bulan ini, mau tidak mau perusahaan itu akan di tutup.” Kata Kiho dengan nada sedikit putus asa.

“Mworago? Bagaimana mungkin di tutup? Lalu bagaimana nasib pegawai di sana? Kalian tidak memikirkannya?” Siwon tampak kesal.

“Tenanglah dulu. Woohyun juga sedang berusaha menanganinya sekarang.” Ucap Kiho mencoba menenangkan Siwon.

“Aboeji?” Siwon tersenyum sinis. Ia kemudian menatap Sekretaris Jang yang sedari tadi berdiri tegak di samping Kiho.

“Jang ahjussi, bisa tinggalkan aku dan appa berdua?” Pintanya.

“Ne tuan muda.” Sahut Sekretaris Jang dan kemudian segera berlalu dari ruang kerja Kiho.

“Wae? Kenapa meminta Sekretaris Jang keluar?” Tanya Kiho tampak bingung. Siwon mengambil tempat duduk di hadapan Kiho.

“Sepertinya Woohyun abeoji menjadi salah satu penyebab perusahaan di Busan itu krisis, appa.” Cetus Siwon mengutarakan pendapatnya.

“Mwo?! Maldo andwae! Bagaimana mungkin kau menuduh ayah mertuamu sendiri, Siwon-ah?” Kiho tampak tidak percaya.

“Appa, aku tidak mungkin mengatakan sesuatu tanpa alasan yang kuat.” Kiho menghela nafas panjang sembari memijat pelan pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.

“2 tahun yang lalu saat aku pergi ke sana, aku sempat melihat laporan keuangannya, appa. Dan appa tau, di sana tertulis jelas bahwa perusahaan menggunakan uang sebesar 100juta dalam waktu 2 hari. Aku sempat menanyakan itu pada Woohyun abeoji, tetapi dia tidak mau mengatakan untuk alasan yang jelas. Ia bilang aku harus percaya padanya. Dan appa bisa lihat sekarang? Perusahaan itu mengalami krisis dan hutang di mana-mana.” Jelas Siwon.

“Tetapi Nam Woohyun itu sahabat appa, Siwon-ah. Sangat tidak mungkin jika ia melakukan ini terhadap perusahaan appa.” Kiho masih tidak percaya.

“Uang bisa merubah segalanya, appa.”

09.00PM KST

Yongri berdiri di balkon kamarnya sembari menikmati udara malam di Seoul. Langit malam ini tampak begitu indah. Bintang juga berkelap-kelip di atas sana, membuat langit malam menjadi cukup terang. Yongri tidak sendiri. Jungsoo di belakangnya sedang mendekapnya dengan erat. Jungsoo menumpuhkan dagunya di atas pundak kanan Yongri, sesekali menghirup aroma Yongri yang sangat di sukainya.

“Yongie..”

“Hmm?”

“Saranghae.”

“….”

“Yongie..”

“Wae?”

“Kenapa kau tidak pernah membalas pernyataan cintaku?”

“Apakah harus?” Jungsoo melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Yongri. Yongri tersenyum sembari menatap Jungsoo.

“Kenapa aku merasa jika kau tidak pernah mencintaiku?” Tanya Jungsoo.

“Memang aku tidak mencintaimu.” Balas Yongri cuek.

“Eish, kau pintar sekali bercanda.” Yongri hanya tersenyum tipis. Jungsoo mendekatkan wajahnya ke wajah Yongri. Menyatukan bibirnya dengan bibir mungil Yongri. Jungsoo menarik pinggang Yongri semakin mendekat ke arahnya. Dilumatnya dengan lembut bibir Yongri seakan takut menyakiti Yongri. Yongri sendiri entah mengapa rasanya ingin menangis. Ia merasa bersalah pada Jungsoo. Jungsoo benar, ia memang tidak pernah mencintai laki-laki itu. Ia hanya menyayanginya layaknya seorang adik menyayangi kakaknya. Tetapi Yongri tidak mau menolak Jungsoo. Ia tidak mau menyakiti Jungsoo yang sudah banyak membantunya. Jungsoo melepaskan tautan bibir mereka setelah beberapa menit berlalu. Ia terkejut saat melihat Yongri menangis.

“Waeyo? Apa aku menyakitimu?” Ujarnya sembari menyeka airmata Yongri. Yongri menggeleng cepat.

“Kau tidak pernah menyakitiku oppa. Akulah yang mungkin selalu menyakiti dan menyusahkanmu.” Jungsoo tersenyum dan menarik Yongri ke dalam pelukannya.

“Akhir-akhir ini kau aneh. Waktu itu mengajakku menikah. Sekarang kau mengatakan kau selalu menyakiti dan menyusahkanku. Padahal jelas-jelas kau tidak pernah melakukannya. Sebenarnya ada apa?” Tanya Jungsoo lembut sembari mengelus punggung Yongri.

“Tidak terjadi apa-apa, oppa.”

“Jinjja?”

“Mm..”

“Baguslah jika begitu.”

“Lalu, apakah oppa sudah menentukan kapan kita akan menikah?” Tanya Yongri sembari melepaskan pelukan Jungsoo. Jungsoo tampak berpikir sebentar.

“3 bulan lagi, bagaimana?”

“3 bulan lagi?” Yongri membeo.

“Ne. Aku ingin pernikahan kita benar-benar di siapkan secara matang. Aku ingin kau tidak pernah melupakan saat kita menikah nanti. Dan kurasa, 3 bulan adalah waktu yang pas.” Jelas Jungsoo.

“Baiklah. Aku percayakan saja pada oppa.”

~~~

25 November 2012, 01.00PM KST

Mobil audy hitam Jungsoo melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota Seoul. Siang itu, mereka -Jungsoo dan Yongri- berencana pergi ke butik terkenal untuk memfitting baju pengantin. Keinginan Yongri untuk menikah dengan Jungsoo sepertinya sudah bulat. Ia tidak mau terus di hantui oleh bayangan Siwon yang sepertinya tidak mau melepaskannya. Ia berpikir, lebih baik ia hidup bahagia bersama Jungsoo yang mencintainya dengan tulus. Dan sudah pasti tidak akan pernah meninggalkannya.

“Kita sudah sampai. Butiknya di sebrang sana. Tidak apa-apa kan jika kita berjalan sedikit?” Tanya Jungsoo setelah mematikan mesin mobil.

“Gwenchana oppa. Kajja!” Jawab Yongri sembari tersenyum. Keduanya kemudian melepas seat belt dan turun dari mobil. Jungsoo menggenggam tangan Yongri ketika mereka menyebrang hingga sampai di depan butik. Namun tiba-tiba Jungsoo menepuk dahinya. Membuat Yongri bingung.

“Ponselku tertinggal di mobil. Kurasa di butik ini kita akan lama. Aku takut ada telepon dari kantor. Aku ambil sebentar ya?”

“Ne oppa.”

“Kau tunggu di sini. Jangan masuk duluan. Nanti kau dikira tidak memiliki calon suami.” Gurau Jungsoo membuat Yongri tersenyum tipis.

“Arraseo oppa.” Balasnya. Yongri kemudian sibuk memperhatikan Jungsoo yang menjauh darinya. Kemudian ia mengedarkan pandangan ke sana sini untuk mengusir kebosanan. Dari kejauhan, Siwon yang baru saja pulang dari makan siang melihat Yongri yang tengah berdiri sendiri di depan sebuah butik. Ia tersenyum senang dan segera memarkirkan mobilnya. Dengan sedikit tergesa ia turun dari mobil dan menghampiri Yongri.

“Yongri-ya..” Panggilnya. Yongri menoleh dan terkejut saat melihat Siwon di belakangnya. Yongri segera mengedarkan pandangannya berharap Jungsoo segera datang. Ia sedang tidak ingin berurusan dengan Siwon.

“Apa yang kau cari?” Tanya Siwon. Yongri diam dan tidak berniat untuk menjawab. Siwon kembali melangkah untuk lebih dekat dengan Yongri.

“Yongri apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Siwon lagi. Yongri masih terus diam dan terus berharap Jungsoo cepat datang. Dan akhirnya ia tersenyum lega saat melihat Jungsoo dari kejauhan yang berjalan ke tempatnya. Siwon mengikuti pandangan Yongri dan tiba-tiba mendesis kesal saat melihat Jungsoo. Jungsoo yang sudah berdiri di hadapan Yongri sedikit bingung saat melihat kehadiran Siwon. Yongri segera menggeser posisinya menjadi sedikit di belakang Jungsoo dengan menggandeng lengannya.

“Siwon-ssi? Sedang apa di sini?” Tanya Jungsoo.

“Ahh aku? Aku…kebetulan lewat. Kalian sendiri sedang apa?” Tanyanya balik.

“Kami akan memfitting baju pengantin di butik ini.” Jawab Jungsoo sembari tersenyum. Siwon tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Baju pengantin? Apa mereka akan menikah? Itulah yang ada di benaknya.

“Apa kalian akan-”

“Ne. Kami akan menikah 3 bulan lagi. Aku akan mengirimkan undangan resminya padamu. Oh ya, kau tenang saja, walaupun aku sibuk mempersiapkan pernikahanku, perusahaanmu yang baru itu akan tetap selesai sesuai waktunya.” Kata Jungsoo tanpa mengurangi senyumnya. Yongri hanya bisa memperhatikan raut wajah Siwon yang mendadak berubah menjadi sedih.

“Siwon-ssi? Gwenchana?” Tanya Jungsoo saat melihat Siwon hanya diam saja.

“Eoh? Gwenchana. Oh ya, apa kau mau aku membantu kalian dalam menentukan baju pengantin? Ya biar bagaimanapun aku sudah lebih dulu….menikah.” Ujar Siwon sembari menatap Yongri.

“Tidak perlu.” Sambar Yongri langsung. Jungsoo menoleh dan kembali bingung melihat tingkah Yongri yang kembali aneh.

“Waeyo, Yongie-ya? Siwon-ssi hanya berniat membantu. Apa kau malu? Tenang saja. Bukankah ada aku?”

“Tapi oppa-”

“Sudahlah, kajja kita masuk.” Jungsoo menarik tangan Yongri memasukki butik terkenal itu diikuti Siwon di belakangnya. Sesaat Yongri terpana dengan mewahnya butik itu. Beberapa model gaun pengantin terpajang di setiap sudut butik. Di mulai dari model yang sederhana hingga yang mewah sekalipun.

“Annyeong haseyo. Selamat datang di Camella Boutique. Joneun Kim Sangeun imnida. Ada yang bisa kami bantu?” Seorang gadis muda yang berpakaian khas butik itu menyapa mereka.

“Ne. Joneun Park Jungsoo. Dan ini Choi Yongri, calon istri saya. Kami kemari untuk memfitting baju pengantin.” Balas Jungsoo ramah sembari tersenyum.

“Woah, calon istri Anda sangat cantik, Tuan Park.” Puji gadis bernama Sangeun itu dengan tatapan kagum.

“Kamsahamnida.” Yongri tampak tersenyum malu.

“Tentu saja dia cantik. Jika tidak, saya tidak akan mau menikah dengannya.” Gurau Jungsoo. Yongri memukul pelan bahu Jungsoo membuat Jungsoo tertawa. Siwon yang melihat itu hanya mampu memasang wajah sedatar mungkin. Ia berusaha untuk tidak memukul Jungsoo sekarang juga karena sudah merebut gadisnya. Ralat- dialah yang mencampakkan Yongri sehingga membuat Yongri akhirnya bertemu Jungsoo.

“Tolong siapkan gaun-gaun terbaik di sini. Dan biarkan gadisku ini mencobanya. Arra?”

“Aigesseo, Tuan Park. Silahkan ikut saya, Nona.” Yongri mengangguk dan mengikuti Sangeun. Sesaat kemudian seorang gadis yang sedikit lebih tua dari Sangeun datang mendekati Jungsoo.

“Apa Anda ingin mencoba beberapa tuxedo, Tuan Park? Agar bisa di cocokkan dengan gaun pengantin yang di pilih oleh calon istri Anda nantinya.”

“Ya. Saya ingin mencobanya.” Ujar Jungsoo.

“Silahkan ikuti saya.”

“Tidak apa-apa jika kau menunggu, Siwon-ssi?” Tanya Jungsoo membuyarkan lamunan Siwon.

“Ah, gwencana Jungsoo-ssi.” Jungsoo mengangguk dan kemudian mengikuti gadis itu. Siwon yang melihat Jungsoo sudah masuk ke dalam fitting room, tiba-tiba berjalan ke tempat di mana Yongri berada. Dengan gerakan yang perlahan ia memasukki ruangan di mana Yongri mencoba gaun pengantin. Sangeun yang melihat Siwon masuk kontan terkejut. Baru saja ia ingin berteriak, Siwon langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir pertanda untuk diam. Sesaat kemudian Siwon menyuruh Sangeun keluar dari sana. Sangeun yang tidak mengerti apa-apa hanya mengikuti saja. Yongri yang masih sibuk dengan gaun pengantin yang digunakannya tidak sadar jika Siwon sekarang sedang berjalan mendekatinya. Saat Yongri menatap dirinya di cermin, barulah ia melihat Siwon di belakangnya.

“APA-” Siwon segera membekap mulutnya saat mengetahui Yongri akan berteriak.

“Kau mau Jungsoo tau jika aku di sini, huh?” Bisik Siwon masih dengan membekap mulut Yongri. Yongri memberontak untuk melepaskan tangan Siwon.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” Ucapnya tertahan.

“Batalkan pernikahanmu dengan Jungsoo.”

“Mwo?! Neo micheosseo??”

“Kau tidak mencintainya, Yongri-ya.”

“Apa pedulimu? Apa ada hubungan denganmu? Sekarang keluar dari sini sebelum aku berteriak.” Ancam Yongri.

“Teriak saja. Dengan begitu aku bisa mengatakan pada Jungsoo jika kita saling mencintai.” Sahut Siwon santai. Yongri menghela nafas.

“Oppa kumohon jangan begini. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.” Mohon Yongri dengan mata berkaca-kaca. Siwon menangkup wajah Yongri dengan kedua tangannya. Menatap tepat di mata Yongri.

“Kau tau jelas tidak ada kata perpisahan antara kita, Yongri-ya. Kita masih memiliki hubungan sampai sekarang.” Ujar Siwon lembut. Pertahanan Yongri pecah, airmata itu jatuh membasahi kedua pipinya. Dengan sabar Siwon menyeka airmata itu.

“Aku mencintaimu, Yongri-ya. Aku menikah dengan Sanna hanya karena paksaan eommaku. Kami tidur dengan kamar terpisah. Bahkan aku belum pernah menyentuhnya dari awal pernikahan ini. Dengan alasan itu, apa kau pikir aku senang menikahinya? Apa kau pikir aku mencintainya?” Ujar Siwon panjang lebar. Yongri hanya mampu terdiam sembari menatap wajah Siwon. Wajah yang baru di sadarinya begitu sempurna.

“Aku akan menceraikannya segera. Kau tenang saja. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah batalkan pernikahanmu dengan Jungsoo. Setelah aku bercerai dengannya, kita akan segera menikah. Arraseo? Hmm?”

“Oppa, tapi-”

“Sssttt.. Jangan membantah.” Siwon mengedarkan pandangannya mencari tas Yongri. Setelah ketemu, ia segera mengambilnya dan mengobrak-abrik isi tas itu. Yongri yang sedang menangis hanya mampu melihatnya saja dengan perasaan bingung. Siwon mengambil ponsel Yongri. Di tekannya beberapa angka yang sepertinya nomor ponselnya, kemudian tidak berapa lama ponselnya bergetar. Siwon mengembalikan ponsel itu ke dalam tasnya dan kembali menatap Yongri.

“Jangan mengabaikan teleponku. Karena jika aku menghubungimu, artinya aku ingin bertemu denganmu.” Kata Siwon terdengar seperti perintah. Yongri tidak mengangguk tetapi tidak juga menggeleng. Ia hanya terus memperhatikan wajah Siwon. Siwon mendekatkan wajahnya dengan wajah Yongri, mengecup lama bibir itu dengan sedikit lumatan.

“Sekarang aku pergi dulu. Hapus airmatamu itu.” Siwon mengecup singkat kening Yongri dan segera keluar dari fitting room. Saat ia keluar, ternyata Jungsoo sudah ada di sana lengkap dengan tuxedo putihnya. Jungsoo tidak dapat menutupi keterkejutannya saat melihat Siwon keluar dari ruangan di mana calon istrinya berada. Siwon pun mendadak menjadi sedikit panik saat melihat tatapan Jungsoo yang penuh curiga.

“Siwon-ssi apa yang kau lakukan di dalam? Bukankah di dalam ada Yongri?” Tidak ada nada ramah dalam suara Jungsoo. Siwon berdehem sebentar sebelum menjawab pertanyaan Jungsoo.

“Yongri-ssi tadi membutuhkan bantuan. Karena tidak ada orang, mau tidak mau aku membantunya. Tenanglah, saat aku masuk ke dalam Yongri masih memakai pakaian.” Jungsoo menatap tajam Siwon. Tidak ada niatan sedikitpun untuk menanggapi jawaban Siwon.

“Aku masih ada pekerjaan dan aku akan pergi lebih dulu. Oh ya, tuxedo itu tidak pas untukmu. Tidak cocok dengan gaun pengantin yang di pakai Yongri-ssi. Lebih baik kau mengganti tuxedomu.” Saran Siwon yang masih tidak di tanggapi oleh Jungsoo.

“Kau juga harus mencari pengganti calon mempelai wanitamu.” Gumamnya dengan pelan.

“Mwo?!”

“Anieya. Aku pergi dulu.” Dengan santainya Siwon segera melangkah keluar dari butik. Tidak memperdulikan semua orang di dalam butik sedang memperhatikannya.

~~~

1 Desember 2012, 05.00PM KST

Donghae terus memperhatikan wajah Yongri yang sedang melamun. Ia memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh tetapi juga tidak terlalu dekat. Beberapa saat kemudian, ia melihat sepertinya ada yang menghubungi ponsel Yongri. Yongri menghela nafas dan menjawab telepon itu.

“Yoboseo… Di kantor, wae? .. Sekarang? … Ne, arraseo.” Donghae mengerutkan keningnya saat melihat Yongri memberes-bereskan barangnya. Setelah itu Yongri segera beranjak dari meja kerjanya. Saat melihat ke depan, Yongri terlonjak karena kehadiran Donghae.

“Oppa?!”

“Mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?” Tanya Donghae.

“Ah itu…itu..temanku sudah menunggu karena ingin bertemu denganku.” Jawab Yongri terbata.

“Teman? Nugu? Biar ku antar ya?” Yongri segera menggeleng cepat.

“Tidak perlu oppa. Aku bisa naik taksi. Tolong beritahu Jungsoo oppa jika aku tidak pulang bersamanya. Aku pergi, oppa.”

“Eh.. Yongri.. Yongri..” Yongri tidak memperdulikan panggilan Donghae dan terus berjalan pergi menemui seseorang yang sudah menunggunya.

06.00PM KST

Siwon terus memperhatikan wajah Yongri yang saat ini duduk di hadapannya. Senyum manis terus tersungging di bibirnya. Saat-saat seperti inilah yang sangat diinginkannya. Saat di mana ia bisa dengan puas memandangi wajah Yongri. Keduanya sedang berada dalam sebuah kamar di hotel terkenal. Bukan untuk melakukan sesuatu yang tidak pantas. Mereka hanya ingin bertemu tanpa ada gangguan ataupun dilihat oleh siapapun yang mengenal mereka.

“Nan jeongmal bogossiposeo.” Ujar Siwon pelan.

“Na…do..” Balas Yongri. Siwon tersenyum. Di tariknya tubuh mungil Yongri ke dalam dekapannya. Di dekapnya dengan erat seolah takut Yongri hilang dari jangkauannya.

“Oppa…”

“Hmm?”

“Apa yang kita lakukan ini benar?” Siwon melepaskan pelukannya dan menatap Yongri.

“Wae? Apa sekarang kau sedang memikirkan Jungsoo?” Tanya Siwon sedikit kesal. Yongri mengangguk membuat mata Siwon membulat sempurna.

“Mwo?! Aish jinjja! Tidak bisakah kau berbohong sedikit? Lagipula, bagaimana mungkin kau memikirkan namja lain saat ada seseorang yang begitu kau rindukan berada di dekatmu?” Rajuk Siwon sembari memasang wajah kekanak-kanakkan. Yongri tidak dapat menahan tawanya melihat raut wajah Siwon.

“Hahh,, aku benar-benar merindukan saat-saat kau tertawa seperti ini.” Ujar Siwon sembari membelai pipi Yongri.

“Oppa… Perkataanmu yang mengatakan kau akan menceraikan istrimu, apa kau serius?” Tanya Yongri.

“Ne, tentu aku serius. Aku tidak pernah mencintainya, Yongri-ya. Dia sudah ku anggap seperti adikku. Sama seperti Hyukjae yang menganggapmu sebagai adiknya.”

“Apa dia mencintaimu?” Tanya Yongri lagi.

“Waeyo? Tidak usah memikirkan itu. Aku berjanji akan menceraikannya. Kali ini aku akan menepati janjiku.” Ujar Siwon.

“Dia mencintaimu. Benar, kan?” Tebak Yongri. Siwon menghela nafas sembari mengalihkan pandangannya dari Yongri.

“Ya. Salah satu kesalahan terbesarnya karena dia mencintaiku.” Kata Siwon.

“Oppa kita tidak boleh melakukan ini pada mereka.” Ucap Yongri membuat Siwon bingung.

“Mwoya?”

“Akan banyak orang yang tersakiti jika kita meneruskan ini semua.” Jelasnya.

“Jadi kau lebih memikirkan perasaan orang lain? Kau tidak memikirkan perasaanku? Perasaanmu?” Yongri terdiam. Ia menundukkan kepalanya dan tidak tau bagaimana menanggapi pertanyaan Siwon.

“Semua ini bukan salah kita, Yongri-ya. Takdirlah yang sudah mempermainkan kita.” Ucap Siwon sembari mendongakkan kepala Yongri.

“Bukan maksudku untuk bersikap egois. Tapi bisakah kau hanya memikirkan tentang kita saja?” Pinta Siwon.

~~~

15 Desember 2012, 09.00AM KST

Siwon memijat pelan pelipisnya sembari menyandarkan punggungnya pada sandara sofa. Di atas meja yang terletak tepat di depannya tampak begitu banyak kertas berserakan yang membuat kepalanya pusing. Ia memikirkan bagaimana caranya membuat perusahaan tambang mereka yang berada di Busan bisa terselamatkan. Entah mengapa saat ini otaknya benar-benar buntu. Ia bisa saja menggunakan uang dari perusahaan milik Kiho yang lain untuk membantu keuangan di sana, namun Siwon merasa itu bukanlah cara yang tepat. Terlebih ia sangat mencurigai Woohyun dalang dari semua ini. Ia yakin jika perusahaan itu dapat terselamatkan, Woohyun akan kembali menghancurkannya. Tetapi ia juga tidak tega jika perusahaan itu di tutup.

“Perusahaan Busan?” Gumam Sanna sembari duduk di samping Siwon. Siwon menegakkan badannya sembari membereskan kertas-kertas tadi.

“Apa yang terjadi oppa?” Tanyanya.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Siwon malas.

“Oppa.. Perusahaan Busan, bukankah di bawah naungan appaku?”

“Ne. Wae?”

“Apa terjadi sesuatu? Katakan padaku oppa. Jebal.” Pinta Sanna. Siwon menghela nafas panjang.

“Perusahaan itu hampir bangkrut. Hutang di mana-mana. Dan kemungkinan appa akan menutup perusahaan itu.” Ujar Siwon tanpa menatap Sanna sama sekali. Sanna menatap Siwon dengan tatapan tidak percaya.

“Mworago? Bagaimana…mungkin?” Siwon tersenyum sinis.

“Sepertinya ada orang dalam yang menyelundupkan uang perusahaan.” Setelah mengatakan itu, Siwon segera beranjak dari sana menuju ke kamarnya. Sanna memikirkan kata-kata Siwon tadi. Orang dalam? Nugu?

“Apa mungkin appa?” Gumamnya.

Busan, Korea Selatan

05.00PM KST

Mata Sanna membulat sempurna saat membuka pintu ruangan Woohyun. Woohyun pun tak kalah terkejutnya dengan kehadiran sang putri yang sangat tiba-tiba. Masih dengan perasaan campur aduk, Sanna masuk ke dalam ruangan Woohyun dengan perlahan. Matanya terasa panas dan sedikit mengabur oleh airmata.

“Sa–Sanna-ya.”

“Uang apa ini, appa?” Gumamnya sembari menatap tumpukan uang di atas meja Woohyun. Uang-uang itu tentu bukan dalam jumlah yang sedikit. Mungkin sekitar ratusan juta won.

“Sa–Sanna-ya, a–appa bisa jelaskan.”

“Jelaskan!! Cepat jelaskan padaku, appa!!” Teriak Sanna dengan airmata yang sudah mengalir di pipinya.

“Se–sebenarnya…”

“Woohyun-ssi, jika kau mengatakan semuanya, jangan pernah membawa-bawa namaku.” Ujar seorang pria paruh baya yang memang sedari tadi duduk di hadapan Woohyun dengan wajah pucat. Sanna menatap orang itu dengan tajam.

“Apa maksudmu, ahjussi?!” Tanyanya ketus.

“Tolong tinggalkan aku berdua dengan anakku, Jonghyun-ssi.” Ujar Woohyun sembari terus menatap anaknya. Laki-laki paruh baya bernama Jonghyun itu mengerang frustasi dan segera keluar dari ruangan Woohyun. Sanna menyeka airmatanya dengan kasar dan kembali menatap Woohyun.

“Appa kah yang menyebabkan ini semua?” Tanya Sanna pelan.

“Sanna-ya…”

“Appa kah orang dalam itu?” Tanyanya lagi. Woohyun menarik nafas sebentar dan kemudian mengangguk pelan. Airmata Sanna semakin banyak mengalir. Ia benar-benar tidak percaya Woohyun dapat melakukan ini semua.

“Wae, appa? WAE??!” Jeritnya.

“Appa melakukannya untukmu, Sanna-ya. Appa tidak ingin orang-orang merendahkanmu. Kau memiliki suami kaya raya, dan appa tidak mau mereka mengatakan bahwa kau tidak pantas untuknya karena kita miskin!!!”

“Geojitmal.. Geojitmal! GEOJITMAL!!” Tubuh Sanna seketika merosot ke bawah karena mendadak ia merasakan kakinya melemas. Isakannya semakin menjadi membuat Woohyun merasa bersalah. Woohyun bangkit dari duduknya menghampiri Sanna.

“Mianhae, Sanna-ya..” Ujar Woohyun sembari memegang kedua bahu Sanna.

“Bagaimana aku menghadapi Siwon oppa setelah ini?” Gumamnya.

~~~

Seoul, Korea Selatan

21 Desember 2012, 09.00PM KST

Yongri mencengkram erat pembatas balkon yang ada di hadapannya saat ini. Angin malam menyapu permukaan wajahnya, membuatnya terkadang memejamkan mata agar tidak merasa perih.

“Oppa..” Ujarnya saat melihat Jungsoo sudah berdiri di hadapannya.

“Sedang melamun?” Tanya Jungsoo.

“Anieyo, aku hanya merasakan angin malam.” Jawab Yongri. Jungsoo hanya menganggukkan kepalanya sembari menatap langit.

“Akhir-akhir ini kulihat kau sibuk sekali. Saat akan mengajakmu pulang bersama, kau pasti sudah tidak ada di kantor.” Ujar Jungsoo. Yongri menjadi salah tingkah.

“A–ah benarkah?”

“Eum. Sebenarnya kau ke mana? Donghae pernah mengatakan padaku jika kau bertemu temanmu. Nugu? Bukankah di sini kau tidak mempunyai teman dekat?” Raut penasaran tercetak jelas di wajah Jungsoo. Cengkraman Yongri pada pembatas balkon semakin mengerat. Ia belum siap jika Jungsoo tau ke mana ia pergi akhir-akhir ini.

“Yongie..”

“Ne?”

“Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?”

“Aku… Aku…bertemu temanku ketika kami masih sama-sama di Busan, oppa.” Jawab Yongri tanpa mau menatap Jungsoo. Perasaan bersalah benar-benar menggerogoti dadanya.

“Ahh teman di Busan.” Gumam Jungsoo. Dari sudut matanya Yongri dapat melihat jika Jungsoo masih menatapnya.

“Kau tidak berbohong padaku, kan?” Tanya Jungsoo. Kali ini, mau tidak mau Yongri menatap Jungsoo. Sesaat kemudian Jungsoo tersenyum.

“Kenapa melihatku seperti itu? Aku hanya bercanda, Yongie.” Ucapnya. Yongri tersenyum tipis. Jungsoo kembali menatap ke depan.

“Hahhh,, entah mengapa tiba-tiba aku ingin pernikahan kita di percepat.” Mata Yongri membulat. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat.

“Bagaimana jika kita percepat pernikahan kita? Satu bulan lagi misalnya.” Jungsoo menatap Yongri. Ia menyadari raut wajah Yongri yang berubah tegang. Namun ia tidak mau mempermasalahkannya.

“Oppa…”

“Waeyo? Shireo?”

“Bu–bukan begitu, tapi-”

“Bukankah waktu itu kau ingin kita cepat menikah?” Yongri benar-benar kehilangan kata-katanya. Ia tidak tau bagaimana cara menolak keinginan Jungsoo. Jungsoo menggeser posisinya lebih dekat dengan Yongri. Di baliknya tubuh Yongri menjadi menghadapnya. Jungsoo menatap Yongri dengan intens. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Yongri. Hidung mereka sudah bersentuhan pertanda wajah mereka sudah sangat dekat. Saat kedua bibir itu hampir bertemu, Yongri segera memalingkan wajahnya. Membuat bibir Jungsoo mendarat di pipi putihnya.

“O–oppa mianhae. Aku lelah. Aku ingin tidur.” Ujar Yongri yang segera berlalu dari hadapan Jungsoo. Jungsoo hanya dapat tersenyum miris sembari menatap punggung Yongri yang semakin menjauh.

~~~

3 Januari 2013, 08.00AM KST

Gerakan Siwon yang ingin beranjak dari meja makan terhenti saat melihat Sanna meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja. Siwon menatap amplop coklat dan Sanna bergantian. Namun Sanna seolah enggan menatap Siwon.

“Apa itu?” Tanya Siwon acuh tak acuh.

“Oppa bisa membacanya sendiri.” Jawab Sanna sembari terus melanjutkan sarapannya. Dengan ragu-ragu Siwon mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya berupa kertas. Ia membaca setiap tulisan di atas kertas itu dengan seksama.

“Surat….cerai?” Ucapnya sembari menatap Sanna dengan kebingungan. Pasalnya Siwon berpikir Sanna tidak akan pernah mau melepaskannya. Siwon bahkan sampai sekarang masih memikirkan bagaimana caranya untuk bercerai dengan Sanna. Namun sekarang, justru Sanna yang ingin bercerai dengannya. Sanna menatap Siwon sembari tersenyum. Tapi mata itu berkaca-kaca.

“Aku tau ini yang oppa inginkan sedari dulu.” Ujarnya dengan suara bergetar.

“Sejujurnya jika dulu oppa ingin menceraikanku, aku tidak akan pernah mau.”

“Aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin melepaskanmu. Aku rela jika harus hidup seperti ini selamanya, asal kau tetap berada dalam jangkauanku.” Siwon terus mendengarkan kata-kata Sanna dan belum ingin menanggapi.

“Tetapi sekarang, aku sudah tidak bisa mempertahankanmu, oppa. Aku sudah tidak memiliki kepercayaan diri lagi untuk bertemu denganmu. Bahkan kedua orangtuamu.” Airmata yang sedari tadi berada di pelupuk matanya akhirnya jatuh membasahi pipi Sanna.

“Apa maksudmu?” Tanya Siwon bingung.

“Appa lah yang menyebabkan perusaahan di Busan mengalami krisis. Appa yang menyelundupkan uang-uang itu, oppa. Appa yang…melakukannya.” Jawab Sanna dengan terisak. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis sejadi-jadinya. Walaupun Siwon mencurigai Woohyun, ia tetap tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar kata-kata Sanna.

“Maafkan appaku. Maafkan dia oppa. Dia melakukannya untuk diriku. Hukum aku saja.” Isak Sanna. Di dalam hati kecil Siwon bergetar saat melihat tangis Sanna yang begitu memilukan. Ia beranjak dari duduknya menghampiri Sanna dan duduk di sebelahnya. Di jauhkannya kedua tangan yang menutupi wajah Sanna.

“Ini bukan salahmu.” Kata Siwon pelan.

“Aku tau aku memang bukan laki-laki yang baik untukmu. Aku memang ingin berpisah denganmu. Tetapi perlu kau ketahui, ini semua tidak ada hubungannya dengan kelakukan appamu. Kau dan appamu berbeda. Ini semua appamu yang melakukan, biarkan dia yang menanggung semuanya. Jangan libatkan dirimu.” Lanjut Siwon.

“Aku terlanjur menyayangimu sebagai adik, Sanna-ya. Maafkan aku. Maaf jika selama 2 tahun ini kau tidak pernah bahagia dengan pernikahan ini. Sayangku untukmu tidak akan pernah berubah. Yaksokhae.” Sanna menatap Siwon yang saat itu juga sedang menatapnya. Sanna memaksakan senyumnya untuk Siwon.

“Gomawo oppa. Jeongmal gomawo.”

12.30PM KST

Beberapa pelayan membungkuk hormat pada Siwon saat namja tampan itu memasukki rumah orangtuanya. Namja itu memasang wajah datarnya dan bergegas menuju ruang kerja Kiho yang ia yakini tempat di mana Kiho berada. Benar saja, saat membuka pintu ruang kerja itu tampak Kiho sedang berbincang dengan Sekretaris Jang.

“Siwon-ah?”

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, appa.” Ujar Siwon.

“Wae geureh?” Tanya Kiho dengan wajah penasaran.

“Nam Woohyun. Sahabat yang sangat appa percaya, dialah yang menyebabkan perusahaan appa hampir bangkrut di Busan.”

“Mw–mwo?”

“Dia yang memakai semua uang perusahaan yang di pinjam dari bank. Ia yang menyelundupkan uang-uang itu bersama teman-temannya yang lain.”

“Maldo andwae! Jaga ucapanmu itu, Siwon-ah!!” Teriak Kiho sembari berdiri dari duduknya. Ia menatap Siwon dengan emosi.

“Sajangnim, tenangkan dirimu. Jantungmu kapan saja bisa kambuh jika kau seperti ini.” Sekretaris Jang mengingatkan.

“Sanna yang mengatakannya padaku, appa. Sanna sendiri yang pergi ke Busan dan menyaksikan semuanya. Woohyun ahjussi sendiri yang mengatakan semuanya pada Sanna.” Kiho kembali jatuh terduduk sembari memegang kepalanya. Sulit mempercayai kata-kata sang anak. Woohyun, orang yang sudah puluhan tahun bersahabat dengannya, bahkan sekarang mereka merupakan satu keluarga dapat melakukan ini semua. Selama ini Kiho selalu membantu Woohyun jika sahabatnya itu dalam kesusahan. Benar-benar tidak menyangka jika Woohyun menusuknya dari belakang.

“Appa, aku tau kau sulit mempercayai ini semua. Tapi inilah yang terjadi. Bukan hanya appa yang kecewa, Sanna bahkan jauh lebih kecewa daripada appa. Apalagi Woohyun ahjussi melakukan ini semua untuk Sanna.”

“Sekretaris Jang, hubungi pengacara Im. Suruh ia mengurus ini semua.” Siwon terkejut mendengar kata-kata Kiho.

“Appa! Appa tidak bermaksud untuk mengirim Woohyun ahjussi ke penjara, kan?” Siwon berjalan mendekati meja kerja Kiho.

“Keluarlah. Biar aku yang menanganinya.” Ujar Kiho dingin. Siwon menggelengkan kepalanya.

“Appa kita bisa bicarakan ini baik-baik. Cukup pecat Woohyun ahjussi. Tidak perlu seperti ini, appa!” Bujuk Siwon. Siwon memikirkan perasaan Sanna. Sanna pasti akan sangat terpukul jika mengetahui Woohyun di penjara.

“Aku tau kau melakukan ini karena dia adalah ayah mertuamu. Tetapi kau juga akan melakukan ini jika kau tau bagaimana rasanya di khianati.” Balas Kiho sembari menatap tajam Siwon. Kembali Siwon menggeleng keras.

“Aku dan Sanna memutuskan untuk bercerai, appa. Aku bahkan tidak memiliki alasan seperti itu untuk membelanya. Tetapi appa harus memikirkan perasaan Sanna dan Daeya ahjumma.”

“Bercerai?!” Desis Kiho tak percaya.

“Ne. Aku tidak pernah mencintai Sanna. Kurasa ini yang terbaik untuk kami. Dan kumohon padamu appa. Jangan libatkan hukum dalam masalah ini. Woohyun ahjussi juga pasti sangat terpukul melihat Sanna yang menanggung malu akibat ulahnya. Itu sudah cukup appa. Sudah cukup. Tolong pikirkan kata-kataku ini. Aku pergi.” Siwon berbalik dan segera meninggalkan ruang kerja Kiho. Kiho menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

“Tinggalkan aku sendiri.” Ujarnya pada Sekretaris Jang.

~~~

6 Januari 2013, 07.30PM KST

“Oppa tidurlah, kalau tidak demammu tidak akan sembuh.” Ujar Yongri. Jungsoo tidak menanggapi kata-kata Yongri dan terus memperhatikan wajahnya.

“Waeyo? Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Yongri sedikit risih.

“Kenapa kau mau merawatku?” Tanya Jungsoo pelan.

“Mwoya? Pertanyaan macam apa itu?” Yongri tertawa kecil.

“Jawab pertanyaanku. Kenapa kau mau merawatku?”

“Oppa.. Aku merawatmu karena itu memang harus aku lakukan. Kalau tidak, siapa lagi yang akan merawatmu?” Jungsoo tersenyum miris mendengar jawaban Yongri.

“Jadi itu alasannya? Karena kau harus melakukannya maka kau akan melakukannya?” Yongri mengangguk ragu.

“Hahh,, aku berharap kau melakukannya karena kau mencintaiku. Tidak bisakah sekali saja kau katakan jika kau mencintaiku?” Pinta Jungsoo. Tubuh Yongri membeku.

“Oppa..”

“Sekali saja…”

“Aku…aku…aku…-” kata-kata Yongri terhenti saat merasakan ponsel di dalam sakunya bergetar. Dengan segera ia merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menelepon. Yongri mencengkram erat ponselnya itu saat melihat nama siapa tertera di sana. Ia memandangi layar ponsel dan Jungsoo bergantian.

“Nugu?” Tanya Jungsoo. Yongri tidak menjawab dan segera keluar dari kamar Jungsoo. Jungsoo yang melihatnya kontan di buat bingung dan penasaran. Cukup lama Jungsoo menunggu Yongri kembali ke kamarnya hingga beberapa saat kemudian ia kembali.

“Sebaiknya oppa beristirahat sekarang. Aku harus pergi sebentar.” Ujar Yongri. Jungsoo segera menahan pergelangan tangan Yongri, saat yeoja mungil itu akan berbalik. Yongri menatap wajah Jungsoo yang tampak pucat.

“Kajima….” Pinta Jungsoo dengan mata berkaca-kaca.

“Oppa.. Aku hanya sebentar. Aku akan pulang cepat dan menemanimu.” Yongri berusaha melepaskan pegangan tangan Jungsoo. Namun Jungsoo tidak kunjung melepaskannya.

“Kajima…jebal..” Setetes airmata jatuh membasahi pipi Jungsoo yang terlihat pucat itu. Yongri tertegun melihatnya. Ini pertama kalinya ia melihat Jungsoo menangis. Yongri duduk di tepi kasur dan menatap Jungsoo dengan lembut.

“Aku tidak akan lama oppa. Aku janji.” Ujarnya sembari menyeka airmata Jungsoo. Akhirnya Yongri merasakan cengkraman Jungsoo melonggar. Ia memperhatikan pergelangan tangannya yang masih berada di atas tangan Jungsoo. Entah mengapa ia merasakan dadanya sesak. Tapi ia memang harus pergi. Seseorang sedang menunggunya sekarang. Yongri kembali menatap Jungsoo yang saat ini tidak menatapnya.

“Aku pergi.” Katanya dan segera berlalu dari kamar Jungsoo. Jungsoo merasakan hatinya sakit. Ini pertama kalinya ia merasakan sakit dengan penolakkan Yongri. Biasanya, jika Yongri menolak keinginannya, ia yakin Yongri akan tetap disisinya. Tapi sekarang, perasaan takut menghantuinya.

“Aku takut, Yongri-ya…. Aku takut kau tidak akan kembali….”

08.30PM KST

Siwon terus berjalan mondar mandir di sekitar kursi taman kota. Beberapa kali ia menoleh ke kanan dan kiri saat mendengar langkah kaki. Namun sayangnya langkah kaki itu bukan milik orang yang sedang di tunggunya. Entah mengapa malam itu ia merasa begitu tenang dan senang. Tidak pernah ia mengalami ini sebelumnya. Ia merasa semua beban yang di tanggungnya sudah terangkat. Siwon sudah resmi bercerai dengan Sanna. Sedangkan Woohyun sekarang entah berada di mana, karena Kiho sendiri yang menyuruhnya menghilang dari pandangan Kiho. Kiho terlanjur kecewa dan tidak ingin bertemu atau berurusan lagi dengan Woohyun.

Kembali Siwon menolehkan kepalanya ke kiri saat mendengar langkah kaki. Kali ini senyum berkembang di kedua sudut bibirnya saat melihat orang yang di tunggu-tunggu sudah berada di dekatnya.

“Yongri-ya…”

“Oppa, waeyo? Apa terjadi sesuatu? Cepat katakan. Aku tidak bisa berlama-lama.” Ujar Yongri dengan nafas sedikit tersengal. Siwon masih terus tersenyum sembari menarik pinggang Yongri mendekatinya. Yongri menaruh kedua tangannya di dada Siwon. Mencoba memberi jarak pada tubuh mereka.

“Apa yang lebih penting daripada bertemu denganku, huh?” Tanya Siwon sembari mengecup singkat bibir Yongri.

“Jungsoo oppa sedang sakit. Dan dia sendirian di rumah. Aku takut terjadi apa-apa.” Jawab Yongri. Senyum di wajah Siwon seketika luntur mendengar jawaban Yongri.

“Kau lebih mementingkan Jungsoo daripada aku?” Ketusnya. Yongri menghela nafas.

“Bukan seperti itu. Tapi Jungsoo oppa sedang membutuhkanku sekarang. Setidaknya biarkan aku memperlakukannya dengan baik untuk membalas semua kebaikannya selama ini padaku.” Balas Yongri.

“Arraseo.” Sahut Siwon malas.

“Sekarang cepat katakan ada apa memanggilku ke sini.” Desak Yongri.

“Aku sudah bercerai dengan Sanna.” Ucap Siwon. Wajah Yongri menegang mendengarnya. Ia segera melepaskan diri dari dekapan Siwon.

“Mwo?!”

“Wae? Kau tampak tidak senang.” Ujar Siwon bingung.

“Bukankah itu tandanya aku harus segera membatalkan pernikahanku dengan Jungsoo oppa?” Tanya Yongri. Siwon kembali tersenyum.

“Tentu saja.” Yongri menggelengkan kepalanya.

“Aku…aku belum bisa, oppa.”

“Apa maksudmu belum bisa? Yongri bukankah kita sudah sepakat dengan ini semua?” Siwon mencengkram lembut kedua bahu Yongri. Yongri menundukkan kepalanya tidak tau harus mengatakan apa. Entah mengapa hati kecilnya tidak mau terlalu banyak menyakiti hati Jungsoo.

“Yongie….” Tubuh Yongri tersentak mendengar suara itu. Suara yang setiap hari selalu di dengarnya. Ia berharap ia salah dengar. Ia berharap itu hanya halusinasinya saja.

“Yongie-ya…” Yongri memejamkan matanya. Ia menggelengkan kepalanya dengan keras. Tidak, tidak mungkin Jungsoo di sini. Dengan ragu ia membalikkan badannya. Ia tidak dapat menutupi keterkejutannya saat melihat Jungsoo yang berdiri dengan wajah pucatnya. Selain itu di wajah itu juga tersirat kepedihan yang membuat Yongri benar-benar merasa bersalah.

“Oppa…” Gumamnya. Dengan tenaga yang tersisa, Jungsoo mendekati kedua orang itu. Siwon menggenggam erat pergelangan tangan Yongri. Seolah takut Yongri akan berlari ke sisi Jungsoo.

“Aku tidak tau sebenarnya apa yang terjadi. Tapi tolong jelaskan padaku, kenapa kalian bisa seperti ini? Ke–kenapa kalian tampak seperti sepasang….kekasih?” Ujar Jungsoo pelan.

“Oppa aku bisa menjelaskan semuanya.” Sahut Yongri sembari ingin menghampiri Jungsoo. Tapi langkahnya tertahan oleh genggaman tangan Siwon. Yongri memperhatikan wajah Siwon dan seolah berkata untuk melepaskan tangannya. Namun Siwon menggeleng pelan.

“Biar aku yang menjelaskan.” Ujar Siwon tegas. Sesaat kemudian ia menatap Jungsoo.

“Kami memang sepasang kekasih, Jungsoo-ssi.”

“Oppa…” Yongri tampak ingin protes dengan pernyataan Siwon. Ia tidak ingin Jungsoo hancur.

“Geojitmal! Semua orang tau jika dia tunanganku, Siwon-ssi!!” Bentak Jungsoo. Yongri tersentak mendengar suara Jungsoo yang cukup keras.

“Oppa kita bisa bicarakan di rumah. Kau sedang sakit.” Yongri mulai di landa panik. Ia takut Jungsoo kenapa-kenapa. Ia juga tidak mau Jungsoo mengetahui semuanya sekarang.

“Tidak Yongri-ya. Dia harus mengetahui semuanya sekarang.” Kata Siwon.

“Siwon oppa!!” Jerit Yongri dengan mata yang tiba-tiba mengabur. Pelupuk matanya serasa berat. Entah mengapa ia merasa menjadi wanita paling jahat sekarang. Ia yakin setelah ini salah satu dari mereka akan merasakan sakit. Atau mungkin kedua-duanya.

“Aku lebih dulu bertemu dengannya. Aku lebih dulu mengenalnya dan aku lebih dulu menjadi kekasihnya, Jungsoo-ssi. Kesalahanku yang menyebabkan akhirnya kalian dapat bertemu dan menjadi tunangan seperti sekarang.” Ujar Siwon seakan tidak peduli dengan jeritan Yongri tadi. Jungsoo menatap Siwon tak percaya.

“Kau mencampakkannya?” Gumamnya. Siwon kembali menatap Yongri.

“Aku tidak pernah ada niatan untuk melakukan itu.” Cetusnya.

“Oppa kumohon hentikan.” Pinta Yongri memelas pada Siwon. Airmatanya sudah tidak bisa di tahan lagi, sehingga kilauan bening itu jatuh begitu saja. Jungsoo maju selangkah dan menggenggam tangan Yongri yang menganggur.

“Kita pulang.” Ujar Jungsoo pelan dengan mata merah. Jungsoo seolah tidak peduli dengan penjelasan Siwon.

“Sudah kubilang dia kekasihku, Jungsoo-ssi!!” Bentak Siwon.

“Kau mencampakkannya!!” Balas Jungsoo membentak. Keduanya saling menatap tajam. Yongri yang melihatnya benar-benar tidak tau harus melakukan apa. Tiba-tiba hujan deras mengguyur tubuh mereka. Biarpun begitu, mereka tidak mengubah posisi mereka sama sekali.

“Aku dan Yongri saling mencintai. Dia mencintaiku. Lepaskan dia, Jungsoo-ssi.” Ujar Siwon dengan suara lebih tinggi karena takut suaranya tidak terdengar di tengah hujan yang begitu deras. Jungsoo menatap Yongri. Ia sangat berharap Yongri menyangkal apa yang di katakan Siwon.

“Kau mencintaiku kan, Yongie?” Tanyanya. Yongri mendongak dan menatap Jungsoo. Wajah itu benar-benar penuh harap. Yongri juga dapat melihat jika Jungsoo menangis. Walaupun air hujan membasahi wajahnya, ia yakin ada air lain yang membasahi pipi itu.

“Oppa…aku…” Genggaman tangan Jungsoo di pergelangan tangan Yongri mengendur begitu saja. Entah mengapa harapannya seakan pupus sudah. Seharusnya ia memang sadar jika Yongri tidak pernah mencintainya dari awal. Masih dengan menatap Yongri, Jungsoo melangkah mundur dengan perlahan. Yongri yang melihatnya tidak mampu menahan tangisnya. Ini yang dia takutkan. Ia yakin hati Jungsoo hancur karenanya.

“Oppa…” Gumamnya. Setelah cukup jauh dari Yongri, Jungsoo membalikkan badannya dan melangkah menjauh. Langkahnya lunglai dan tanpa tenaga. Untuk pertama kalinya ia merasakan begitu mencintai seseorang. Dan sekarang untuk pertama kalinyaa juga ia merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak menyangka jika patah hati begitu menyakitkan.

Yongri mengalihkan pandangannya menjadi menatap Siwon. Tatapannya kali ini benar-benar tatapan memohon. Namun Siwon tidak menyadari itu.

“Kau bisa pulang ke rumahku.” Ucap Siwon.

“Oppa.. Mianhae..” Kata Yongri masih dengan menatap Siwon.

“Mw–mwo?!”

“Aku tidak bisa menyakiti Jungsoo oppa seperti ini. Dia sangat mencintaiku oppa.” Mata Siwon membulat. Ia tidak percaya jika Yongri mengatakan itu.

“Yong–Yongri-ya.. Aku juga mencintaimu.”

“Maaf oppa. Maafkan aku. Jungsoo oppa sudah banyak bekorban untukku. Aku tidak bisa melakukan ini.” Tangis Yongri semakin menjadi. Ia juga merasakan sakit. Sangat sakit. Sepertinya ia dan Siwon memang tidak di takdirkan untuk bersama.

“Yongri-ya…” Suara Siwon terdengar putus asa.

“Ku harap oppa bisa melupakanku.” Ujar Yongri dan segera berlari meninggalkan Siwon untuk mengejar Jungsoo.

“YONGRI!! CHOI YONGRI!!” Teriak Siwon yang tidak di tanggapi oleh Yongri. Yongri terus berlari mencari keberadaan Jungsoo. Ia berharap Jungsoo belum jauh. Ia sangat khawatir pada namja itu. Yongri menghentikkan langkahnya sesaat ketika melihat Jungsoo yang sedang berjalan beberapa meter di hadapannya. Kemudian ia kembali berlari mendekati Jungsoo dan memeluk Jungsoo dari belakang. Langkah Jungsoo terhenti. Ia menatap tangan mungil yang berada di perutnya. Tangan yang sangat di kenalnya.

“Oppa jangan tinggalkan aku…” Isak Yongri masih dengan memeluk Jungsoo. Jungsoo terpaku. Ia menyentuh tangan itu, kemudian membalikkan badannya.

“Yongie..”

“Aku tidak akan meninggalkan oppa. Dan kumohon oppa jangan meninggalkanku.” Jungsoo segera menarik Yongri ke dalam pelukannya. Tangis keduanya semakin pecah di bawah guyuran hujan.

“Tidak akan, Yongie. Tidak akan.”

~~~

13 Januari 2013, 08.45PM KST

Seminggu sudah semenjak kejadian di taman kota waktu itu. Semuanya terasa berubah. Tidak hanya untuk Yongri dan Siwon. Jungsoo pun merasakan perubahan itu. Walaupun Yongri mengatakan akan berada di sisinya, namun ia tidak merasakan itu. Ia seolah satu rumah bersama patung. Sikap Yongri benar-benar berubah total. Tidak ada lagi senyuman apalagi tawa. Yongri lebih banyak melamun, dan jika di ajak berbicara ia baru akan mengeluarkan suaranya. Wajahnya pucat dan tubuhnya sedikit mengurus.

“Yongie, kau ingin kita nanti menikah di mana?” Tanya Jungsoo sembari membuka album-album foto yang menampilkan tempat-tempat indah untuk menikah. Yongri hanya diam sembari menatap lantai yang tidak ada menariknya sama sekali. Jungsoo mengalihkan pandangannya menjadi menatap Yongri.

“Yongie…”

“…..”

“Yongie…” Jungsoo menghela nafas berat dan menutup album foto yang belum dilihat habis olehnya.

“Choi Yongri.” Ucap Jungsoo dengan nada sedikit tinggi. Tubuh Yongri tersentak. Ia seolah kembali ke alam sadarnya. Yongri menatap Jungsoo dan memaksakan senyumnya.

“Ada apa oppa?” Tanyanya.

“Pergilah.” Ujar Jungsoo sembari berdiri dari duduknya dan membelakangi Yongri. Yongri terkejut sekaligus bingung dengan maksud ucapan Jungsoo. Ia ikut berdiri dan memperhatikan punggung tegap Jungsoo.

“Apa maksudmu oppa?”

“Pergilah dari sini.” Suara Jungsoo terdengar bergetar. Jantung Yongri berdetak cepat mendengar kata-kata itu.

“Op–oppa..”

“Seharusnya kau tidak memiliku, Yongie. Sebaiknya kau tidak mengejarku waktu itu. Kau tau? Perlakuanmu seperti ini membuatku bertambah sakit.” Jungsoo memejamkan matanya seolah meredamkan perih di dadanya. Sakit itu datang lagi, dan ini semakin menjadi. Yongri terus menatap punggung Jungsoo. Pandangannya tiba-tiba saja mengabur oleh airmata. Lagi-lagi ia menyakiti Jungsoo.

“Oppa…mianhae..” Sesalnya.

“Pergilah.” Ucap Jungsoo lagi untuk kesekian kalinya.

“Oppa, aku sudah memilihmu.” Jungsoo berbalik dan menatap tajam Yongri.

“Sampai kapan kau akan menyakitiku, huh? Sampai kapan??!!” Jerit Jungsoo menumpahkan kekesalannya. Yongri mendekati Jungsoo dan memegang lengannya. Namun dengan pelan Jungsoo menepisnya.

“Pergilah, Yongri-ya. Pergi sebelum aku menahanmu disini untuk selamanya.” Ucapnya Jungsoo sembari membuang pandangannya dari Yongri.

“Oppa…” Airmata Yongri sudah mengalir membasahi pipi putih kemerahan miliknya. Begitupun dengan Jungsoo. Setetes airmata sudah jatuh dari sudut matanya.

“Kembalilah pada laki-laki itu. Kalian saling mencintai. Pergi dari sini dan raih kebahagiaanmu.” Kata Jungsoo lirih.

“Oppa…”

“AKU BILANG PERGI!!!” Bentak Jungsoo membuat airmata Yongri semakin banyak mengalir. Dengan menyeka airmatanya, Yongri berlari meninggalkan Jungsoo yang masih terpaku di tempatnya. Sebelum ia keluar dari rumah itu, Yongri menoleh ke belakang sekali lagi.

“Oppa mianhae. Ku harap kau juga bahagia.” Ujarnya dan segera keluar dari rumah Jungsoo. Jungsoo terduduk di atas sofa bersamaan dengan pintu rumahnya yang tertutup. Airmata itu semakin banyak mengalir. Kali ini, Yongri akan benar-benar hilang dari hidupnya. Namun entah kapan ia bisa menghilangkan Yongri dari hatinya.

10.00 PM KST

Siwon menatap gelas bening yang berisi cairan berwarna keemasan di tangan kanannya. Berulang kali gelas itu di putar-putarnya sehingga isi di dalamnya ikut berputar. Di teguknya habis isi gelas itu dan membuatnya sedikit mengernyit merasakan cairan yang sering di sebut soju itu. Kembali di ambilnya botol di atas meja dan menuangkan isinya ke dalam gelas yang masih berada di tangannya itu. Baru saja ia akan meneguk habis soju itu ketika terdengar bunyi bel rumahnya. Ia seolah tidak peduli dan kembali ingin menghabiskan minuman itu. Namun orang yang menekan bel itu seolah tidak sabaran dan membuat Siwon kesal. Dengan langkah sedikit limbung ia menghampiri pintu rumahnya. Di bukanya pintu itu dan seketika matanya membulat sempurna.

“Yongri..” Ucapnya dengan tidak percaya. Yeoja yang sudah menolaknya beberapa hari yang lalu, sekarang ada di hadapannya. Dengan jarak tidak lebih dari dua meter. Dadanya bergemuruh melihat sosok yang dirindukannya itu. Sosok yang membuatnya harus menelan soju beberapa hari ini.

“Yongri…ini benar kau?” Tanyanya.

“Ne oppa. Ini aku.” Jawab Yongri. Siwon tersenyum dan kemudian menarik Yongri ke dalam pelukannya. Ia memeluknya dengan sangat erat. Yongri membalas pelukan Siwon dengan tak kalah erat.

“Jeongmal bogossipeoyo. Jangan tinggalkan aku, Yongri-ya.” Suara Siwon terdengar memohon.

“Aku tidak akan meninggalkanmu oppa.” Sahut Yongri. Siwon melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yongri.

“Apa aku bisa memegang kata-katamu?” Tanya Siwon. Yongri mengangguk pasti. Siwon kembali tersenyum dan memeluk Yongri. Akhirnya ia bisa terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi yang tak pernah terbayangkan sekalipun olehnya. Kini gadisnya telah kembali. Berada di dalam peluk dan jangkauannya. Tidak ada yang lebih membahagiakan untuk Siwon selain keberadaan Yongri di sisinya.

“Saranghae, Yongri-ya.”

“Nado saranghae, Siwon oppa.”

–Fin–

Advertisements

35 thoughts on “Love is You

  1. Beneran longshoot niih,,jungsoo oppa sama aku aja ne…daebak,
    tapi thor gimana nasib mantan mertua siwon gk dijelasin lg gitu???

  2. ngebosenin gak chingu? 😦
    kan aku cuma jelasin sekilas aja chingu, kalo mertuanya siwon itu hilang entah kemana.. soalnya appa siwon gak mau ketemu dia lagi..

  3. yaelah penuh liku perjalanan cinta mreka
    untung sanna ma bang eteuk rela nglepasin pasangan yg dah terjalin benang merah bahkn seblom nongol di dunia #kale yah
    salut ma sanna n abang eteuk tak doain ntar cepet dpt jodoh #tuh tunjuk komeng laen banyak yg daftar loh
    pestanya undang2 gk yah
    dihianati sahabat ember sungguh menyakitkn bage tersayat sembilu untung om kiho mo maapin syabar om … sabar inget jantong yah dendem kacang ijo bih enak
    luv yaaa

  4. keren banget thor…
    sebenernya udah bisa nebak ujung2nya pasti yongri bakal balik ma siwon oppa…
    tp, kasihan ma jungsoo oppa, ga tega pas bacanya…
    tp, mw gimana lagi yongri kan belongs to choi siwon XD

  5. pdhal suka bnget sm critanya :””
    mungkin karna terlalu panjang tampilannya jadi rusak d laptop ku:””
    huhuhu:””
    jadi gabisa bca sampai selesai deh:”

  6. waaaah percintaanya rumit bner nh, v jd mkin seru. ska bnget klw castnya siwon oppa,,,,

  7. ff oneshoot yang long shoot
    tapi puas sama ff nya karna ada awal dan akhir
    benar2 kisah cinta yg komplit
    teruslah berkarya jangan sampai berhenti pertahankan dan kembangkan kemampuanmu
    SEMANGAT 😀

  8. Yongri labil, masa bisa lupain jungsoo yg udah 2 thn, pdhl sma siwon cma beberapa minggu doank dan blm liat orgnya pula! Udah cinta mati dy!

  9. Ahhh,,, kasihan Leeteuk oppa,,
    FF nya bagus kok eon, tapi kurang memuaskan endingnya, ,

    Keep Writing aja deh Eonnie !! 😉 🙂

  10. Cinta siwon sm yongri yg terpisah 2 taun akhirnya kembali, tp ad yg harus mnderita haah kasian jg jungsoo oppa… aq kira siwon bkl saingan sm hyuk dulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s