‘My Life is Complete Because of You’

‘My Life is Complete Because of You’

Author : Choineke

Judul : My Life is Complete Because of You

Cast : Henry Lau, Choi Jihee (OC), Choi Yongri (OC)

Genre : Romance

Length : Oneshoot

Rating : PG-17

Warning !!!!! ini ff bener-bener hasil pemikiran aku.. kalopun ada kesamaan jalan cerita, itu bener-bener kebetulan..^^

~~~

Apakah cinta tak harus memiliki? Tetapi aku sangat ingin memilikimu. Apa yang harus aku lakukan? Bolehkah aku bersikap egois? -Choi Jihee-

 

Aku mencintaimu. Kau membuat hidupku lengkap penuh kebahagiaan. Tetapi apa daya? Aku tidak bisa memilikimu seperti yang aku mau. Aku terlanjur bersamanya. -Henry Lau-

Author POV

Laki-laki itu terpaku memandang perempuan yang tubuhnya tengah bergetar di atas sebuah ranjang. Bau obat-obatan menyeruak masuk ke dalam hidung laki-laki itu. Perkataan dokter barusan membuat tulang-tulangnya lemas. Kakinya ia paksakan berdiri demi melihat keterpurukan yang sedang di alami perempuan itu. Dengan perlahan di dekatinya perempuan itu. Menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

“Semua baik-baik saja.” Desis laki-laki itu. Perempuan itu melepas paksa pelukan laki-laki itu.

“Baik-baik saja katamu? Aku tidak bisa hamil lagi! Apa itu terlihat baik-baik saja?” Pekik perempuan itu dengan terisak. Laki-laki itu bergeming. Sekuat tenaga ia menahan butiran-butiran bening yang hendak meluncur di pipi chubbynya.

“Aku tidak butuh anak.” Ucap laki-laki itu dingin. Membuat perempuan itu mendongak, menatap laki-laki itu tidak percaya.

“Henry..” Desisnya lirih.

“Aku hanya membutuhkanmu Yongri-ya. Aku tidak membutuhkan yang lain.” Ujar laki-laki yang di panggil Henry itu. Perkataan laki-laki itu semakin membuat perempuan itu terisak.

“Aku gagal. Aku istri yang gagal. Bagaimana jika appa dan eomma tau hal ini.” Isaknya. Lagi. Laki-laki itu menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan hangatnya. Dekapan yang mampu menenangkan hati perempuan itu.

“Kita cari waktu yang pas untuk memberitahu mereka mengenai hal ini.” Kata Henry menenangkan.

“Aniyo. Kita tidak boleh melakukannya. Appa.. Aku tidak mau jantung appamu kambuh.” Tolak Yongri. Choi Yongri. Namun nama perempuan itu telah berubah menjadi Yongri Lau. Menikah dengan laki-laki bernama Henry Lau 6 bulan yang lalu. Sejak kecil, Henry dan Yongri tumbuh bersama. Tuan Lau dan Tuan Choi menjalin hubungan baik seperti saudara. Umur Henry dan Yongri pun tidak terpaut jauh, Henry 4 bulan lebih tua dari Yongri. Semenjak kedua orangtuan Yongri meninggal ketika umur mereka beranjak 10 tahun, Henry memutuskan akan menjadi orang pertama yang menjaga Yongri. Karena selalu bersama, akhirnya cinta itu pun timbul antara keduanya. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Tepat 2 bulan setelah pernikahan mereka, Yongri di nyatakan hamil. Saat itu, kebahagiaan sangat terpancar dari kedua insan itu. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama sampai hari ini datang. Yongri mengalami keguguran akibat kandungannya yang lemah. Bahkan rahimnya telah di angkat karena jika tidak dapat menyebabkan infeksi yang lebih parah. Bukankah sebuah keluarga akan bertambah lengkap dengan kelahiran seorang atau bahkan beberapa anak? Tetapi dengan teganya dokter mengatakan bahwa Yongri tidak akan pernah mampu melahirkan keturunan Henry Lau.

“Baiklah jika begitu. Biarkan semuanya berjalan seperti apa adanya. Bukankah sudah ku bilang. Aku tidak membutuhkan apapun selain dirimu.” Ucap Henry. Lagi-lagi Yongri memandang Henry tidak percaya.

“Mianhaeyo Henry-ya.” Sesal Yongri.

“Gwenchana. Kajja kita pulang.” Ajak Henry mencoba menyembunyikan kesedihannya. Bagaimanapun Henry adalah lelaki normal yang pasti menginginkan kehadiran buah hati dalam pernikahannya. Apalagi itu dengan wanita yang sangat dicintainya. Namun mau tidak mau ia harus menahan keinginan itu melihat kondisi Yongri yang sudah ditakdirkan seperti ini.

Yongri berdiri di balkon kamarnya memandangi langit malam di kota Seoul. Kebiasaannya jika sedang memikirkan sesuatu yang sangat menyita pikirannya. Ia memikirkan cara bagaimana agar Henry mampu mendapatkan keturunan. Apa ia harus membiarkan Henry menikah lagi? Tapi apa ia mampu membagi Henry untuk wanita lain? Tentu saja tidak. Ia sangat mencintai Henry melebihi apapun.

“Yongri-ya..” Panggil Henry. Yongri segera membalikkan badannya ketika mendengar panggilan Henry. Di lihatnya suaminya itu sedang menatapnya dengan lembut. Menyunggingkan senyum hangatnya yang selalu menjadi favorit Yongri.

“Wae?” Balas Yongri.

“Kemarilah. Kau harus banyak istirahat.” Pinta Henry. Yongri mengangguk dan menghampiri Henry yang tengah duduk di pinggir ranjang.

“Henry-ya..” Ucap Yongri ketika telah duduk di sampping Henry.

“Hmm?” Henry menggengam tangan Yongri. Yongri menundukkan kepalanya tampak ragu dengan apa yang akan di katakannya.

“Wae? Ada yang ingin kau katakan?” Tanya Henry bingung. Yongri tampak menghela nafas berat dan mendongakkan kepalanya menatap tepat di manik mata Henry.

“Bagaimana jika kau menikah lagi?” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut Yongri. Henry membulatkan matanya yang sipit ketika mendengar ucapan Yongri. Tampak tak percaya dengan ucapan istrinya itu.

“Mwo?! Kau gila?” Sambar Henry.

“Ini cara satu-satunya untuk menghasilkan keturunanmu, Henry..” Jawab Yongri.

“Shireo! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau melakukan hal gila itu.” Ucap Henry dan langsung naik ke atas ranjang. Berbaring memunggungi Yongri, menarik selimut dan menutupi sampai ke atas kepala. Yongri hanya mampu menghela nafas melihat sifat keras kepala suaminya. Kemudian ia ikut berbaring di samping Henry sembari memandangi tubuh Henry di dalam balutan selimut itu.

“Mianhae.” Ucapnya lirih.

~~~

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya seorang wanita paruh baya yang baru tiba di kediaman rumah Henry.

“Lebih baik eomma. Eomma datang bersama siapa?” Tanya Yongri ketika melihat ibu mertuanya datang kerumahnya.

“Bersama appa Henry. Dia sedang memarkir mobil.” Jawab Nyonya Lau.

“Oh. Eomma silahkan duduk dulu. Aku akan buatkan minum untuk eomma.” Nyonya Lau mengangguk dan duduk di ruang tamu sembari menunggu Yongri. Tak lama Tuan Lau juga masuk dan ikut bergabung bersama Nyonya Lau.

“Ini eomma, appa. Silahkan diminum dulu. Henry sebentar lagi akan pulang.” Ucap Yongri. Tuan dan Nyonya Lau mengangguk sembari mengambil minum yang di siapkan oleh menantunya itu.

“Appa.. Eomma..” Ucap Henry ketika memasuki rumahnya.

“Ah kau sudah pulang, nak.” Sapa Nyonya Lau. Henry mengangguk dan duduk di samping Yongri.

“Eomma dan appa hanya melihat keadaan Yongri. Dia pasti terpukul sekali dengan kegugurannya.” Ujar Nyonya Lau prihatin.

“Kalian tenang saja. Kalian bisa membuatnya lagi. Dan aku yakin sebentar lagi Yongri akan hamil kembali.” Ucap Tuan Lau diiringi tawa kecilnya. Henry hanya mampu tersenyum kecut, sedangkan Yongri menundukkan kepalanya menahan tangis.

“Henry.. Tidak bisakah kau pertimbangkan permintaanku?” Tanya Yongri ketika mereka sudah berada di kamar. Tuan dan Nyonya Lau baru saja pulang ke rumah mereka.

“Jangan bodoh Yongri-ya. Sudah ku katakan aku tidak akan melakukan itu. Aku mencintaimu. Hanya kau. Aku tidak akan menikahi wanita manapun selain kau.” Jawab Henry dingin.

“Kau bisa melihat betapa inginnya appa menimang cucu, Henry-ya. Apa kau ingin menyurutkan kebahagiaan appa?” Yongri masih terus mencoba meyakinkan suaminya.

“Kita bisa mengadobsi anak di panti asuhan.” Usul Henry.

“Tetapi dia bukan keturunanmu.” Tolak Yongri.

“Kalau begitu lupakan soal keturunan.” Balas Henry ketus. Yongri mencoba memikirkan cara apa lagi yang dapat di lakukan untuk menghasilkan keturunan dari suaminya itu.

“Bagaimana jika kita menyewa seorang wanita?” Tanya Yongri tiba-tiba.

“Mwo?! Apa maksudmu?” Henry tampak bingung dengan ucapan istrinya.

“Kita menyewa wanita untuk mengandung dan melahirkan anakmu. Tanpa kau harus menikahinya.” Jelas Yongri.

“Tetapi tetap saja aku harus menghamilinya kan? Demi Tuhan Yongri aku tidak ingin melakukannya.” Ucap Henry putus asa.

“Henry kumohon kali ini saja.” Bujuk Yongri sembari membelai pipi Henry.

“Aku tidak tau sebenarnya apa yang ada di pikiranmu.” Ucap Henry.

“Kau bersediakan?” Tanya Yongri mencoba tidak menghiraukan ucapan Henry.

“Tidak.”

“Henry..” Ucap Yongri memelas.

“Baiklah. Jangan memelas seperti itu.” Ucap Henry akhirnya. Yongri menatap Henry dengan mata bebinar. Akhirnya Henry mau menuruti ide konyolnya itu.

“Kyaa!! Gomawo Henry-ssi.” Pekik Yongri riang. Di layangkannya ciuman singkat pada bibir Henry. Namun dengan segera Henry menahan tengkuk Yongri untuk memperdalam ciuman mereka.

~~~

Yongri tampak beberapa kali menyeruput cappucino di hadapannya. Ia tengah berada di kona beans cafe sembari menunggu seseorang. Ini sudah 15 menit lewat dari waktu yang di janjikan. Namun orang yang ditunggunya belum menampakkan batang hidungnya. Sampai akhirnya bunyi bel di atas pintu masuk mengalihkan pandangan Yongri. Seorang yeoja cantik dengan tubuh semampai memasukki cafe dan menghampirinya.

“Yongri Lau?” Tanya yeoja itu mencoba menyakinkan. Yongri tersenyum dan mengangguk.

“Silahkan duduk Jihee-ssi.” Ucap Yongri. Yeoja yang di panggil Jihee itu mengangguk dan duduk tepat di hadapan Yongri.

“Kau mau minum?” Tanya Yongri yang di balas gelengan dari Jihee.

“Aku sedang terburu-buru. Bisa kau katakan apa yang kau inginkan?” Ucap Jihee sesopan mungkin. Yongri mengangguk dan menghela nafas berat.

“Aku ingin kau mengandung dan melahirkan benih dari suamiku.” Ucap Yongri. Jihee tampak membulatkan matanya. Ia sebenarnya ingin menanyakan ‘kenapa?’ namun lidahnya cukup kelu.

“Aku akan membayar berapapun yang kau mau.”

“Berapapun?” Jihee membeo. Yongri mengangguk mantap. Jihee tampak tertarik dengan tawaran itu. Jihee bukanlah seorang pelacur atau wanita bayaran. Ia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup sebatang kara dan berkekurangan. Ia hanya perlu mengandung selama 9 bulan dan melahirkan. Setelah itu ia mendapatkan uang yang sangat banyak. Bukankah itu tawaran yang menggiurkan?

“Kau bersediakan?”

“Aku tidak punya alasan untuk menolak.”

“Bagus. Aku akan memberikanmu waktu pendekatan dengan suamiku sampai suamiku bisa menidurimu. Kalian akan ke Jepang.” Ucap Yongri.

“Jepang?!” Pekik Jihee tak percaya.

“Ne, kalian akan melakukannya di Jepang.”

Yongri tampak gusar menunggu kepulangan Henry. Ia terus mondar mandir di ruang tamu. Ia ingin segera menyampaikan pada Henry bahwa ia telah menemukan wanita yang akan menolong mereka.

“Henry!” Panggilnya ketika melihat sang suami baru memasuki rumah mereka.

“Astaga! Wae? Kau mengagetkanku.” Gerutu Henry sembari berjalan mendekati Yongri. Yongri tersenyum sumringah sembari menatap wajah tampan Henry.

“Wae? Sepertinya kau senang sekali. Apa yang terjadi?” Tanya Henry sembari menarik pinggang Yongri agar mendekat dengannya. Yongri melingkarkan tangannya di leher kokoh Henry dan mengangguk cepat.

“Aku menemukannya.” Ucap Yongri.

“Apa?”

“Wanita yang akan melahirkan anakmu.” Henry sontak melepaskan tangannya yang berada di pinggang Yongri. Yongri memandangi wajah Henry yang tampak tidak suka.

“Kenapa? Bukankah kau mau melakukannya?” Tanya Yongri.

“Apakah harus secepat ini?” Tanya Henry balik.

“Tentu saja. Semakin cepat semakin baik.”

“Ayolah Yongri. Aku belum siap melakukan ini pada wanita lain.”

“Henry kau sudah berjanji akan melakukannya.” Henry memandangi wajah istrinya yang penuh harap.

“Ah baiklah! Kau selalu memasang wajah seperti itu.” Keluh Henry. Yongri tersenyum senang mendengar ucapan Henry.

“Aku sudah mengatur semuanya. Kau akan pergi bersamanya ke Jepang.”

“Mwo?! Jepang? Untuk apa?”

“Tentu saja melakukan semuanya di sana. Aku tidak akan sanggup jika kalian melakukan itu disini.” Ucap Yongri lirih.

“Kau ikut?” Yongri menggeleng.

“Kalian pergi berdua saja. Kau dan Jihee.”

“Jihee?”

“Hmm. Choi Jihee nama malaikat itu.”

“Malaikat?”

“Ne, Tuhan mengirimkan malaikat untuk membantu kita. Dan malaikat itu Jihee.” Ucap Yongri riang.

“Kenapa kau tidak ikut saja?” Pinta Henry.

“Aniyo. Aku tidak ingin menghancurkan semua yang telah aku rencanakan.” Henry menghela nafas kasar.

“Terserah kau saja.”

~~~

Henry dan Yongri sedang berada di Incheon airport sekarang. Keduanya menunggu kehadiran Jihee yang akan pergi ke Jepang bersama Henry hari ini. Henry tampak gusar melihat istrinya yang terlalu bernafsu menyuruhnya pergi ke Jepang bersama wanita yang bahkan tidak di kenalnya.

“Wanita itu tidak datang.” Henry menyimpulkan ketika mereka telah 30 menit menunggu Jihee.

“Ish. Jangan bicara sembarangan.” Gerutu Yongri. Senyum Yongri tampak mengembang ketika melihat Jihee yang berlari tergesa-gesa menghampirinya dan Henry.

“Mianhae Yongri-ssi, aku telat lagi.” Sesal Jihee dengan nafas tersengal.

“Gwenchana Jihee-ssi. Oh ya, ini suamiku. Henry Lau.” Ucap Yongri memperkenalkan Henry. Henry hanya memandang Jihee sekilas. Berbeda dengan Jihee yang menatap Henry dengan intens. Harus di akuinya jika lelaki itu memiliki wajah tampan. Kulit seputih susu, mata sipit, pipi chubby dan bibir tipis yang merah. Benar-benar seperti sosok pangeran.

“Jihee-ssi.. Jihee-ssi. Neo gwenchana?” Panggil Yongri ketika melihat Jihee yang diam terpaku.

“Ah, gwenchana. Suamimu tampan.” Bisik Jihee. Yongri hanya tersenyum kecut mendengar pujian Jihee. Biar bagaimanapun ia merupakan istri sah Henry. Istri mana yang tidak cemburu ketika ada wanita lain yang memuji suaminya.

“Baiklah, kalian harus segera masuk. Pesawat akan segera berangkat.” Ucap Yongri. Jihee tampak semangat dengan keberangkatannya. Berbeda 180 derajat dengan Henry yang tampak tidak bersemangat sekali.

“Sebaiknya kau ikut sayang.” Pinta Henry.

“Aish. Hanya seminggu saja. Lagipula Jihee pasti bisa menggantikanku selama seminggu.” Henry berdecak kesal mendengar ucapan Yongri.

“Kau benar-benar menyiksaku.” Keluh Henry. Yongri tersenyum. Ia membelai sayang pipi Henry dan mengecupnya.

“Maafkan aku.” Ucap Yongri lirih. Matanya berkaca-kaca menahan airmata yang siap keluar. Ia merasa bersalah dengan memaksa Henry seperti ini. Tetapi ia tidak memiliki cara lain.

“Arraseo. Uljima, hmm? Aku baik-baik saja.” Ucap Henry sembari mengelus kedua lengan Yongri.

“Pergilah. Jaga Jihee dan perlakukan dia dengan baik. Arra?” Pesan Yongri.

“Arra. Kau baik-baik disini. Jangan lupa makan dan jangan keluar malam-malam.” Ucap Henry. Yongri mengangguk mengerti.

“Jihee-ssi, aku titipkan suamiku padamu seminggu ini. Jaga dia baik-baik, ne?”

“Beres!” Ucap Jihee semangat.

“Aku akan merindukanmu.” Ucap Henry sembari mengecup berkali-kali bibir Yongri. Yongri hanya terkekeh pelan dan berusaha mendorong Henry agar menghentikan aksi gilanya itu.

“Aku pergi.” Henry dan Jihee berjalan berdampingan menuju pintu keberangkatan. Yongri hanya memandang nanar punggung suaminya yang semakin menjauh. Setetes airmata membasahi pipi mulusnya.

“Mianhae, Henry-ya. Saranghae.”

Henry dan Jihee sudah berada di pesawat menuju Jepang. Mereka duduk berdampingan pada kelas VIP. Jihee tampak antusias memperhatikan seisi pesawat. Ini pertama kali untuknya menginjakkan kaki di dalam pesawat.

“Henry-ssi. Bukankah ini menakjubkan?” Ucap Jihee takjub. Henry hanya bisa mencibir dan tersenyum kecil melihat kelakuan polos dari Jihee.

“Apa kau tidak pernah naik pesawat?” Tanya Henry basa basi.

“Ne. Ini pertama kalinya untukku.” Jawab Jihee.

“Jinjjayeo? Apa kau senang?”

“Geureomyeon. Siapa yang tidak senang jika bisa ke luar negeri? Apalagi gratis.” Ucap Jihee senang. Senyum tak lepas dari bibirnya. Lagi-lagi Henry ikut tersenyum. Mungkin dia gila, tetapi menurutnya senyum Jihee sangat manis.

“Geureh. Aku akan tidur sebentar. Dari Korea ke Jepang memakan waktu 2 jam. Jika kau ingin tidur silahkan. Terserah kau mau melakukan apa. Tetapi jangan bertingkah aneh. Arra?” Jihee mengangguk sembari menunjukkan puppy eyesnya. Persis seperti anak kecil yang menuruti perkataan ibunya. Henry lagi-lagi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.

Jihee memandangi wajah Henry yang tertidur pulas. Wajahnya sangat polos seperti bayi. Betapa tampannya laki-laki ini. Jihee tak dapat menahan tangannya untuk membelai wajah Henry. Entah dapat keberanian dari mana, ia menggerakkan tangannya mengelus pipi Henry.

“Astaga halus sekali.” Gumamnya. Kemudian Jihee membelai pipinya sendiri. Mencoba membandingkan pipinya dengan pipi Henry.

“Aku saja yang wanita tidak punya pipi sehalus itu. Sebenarnya dia laki-laki atau perempuan?” Gumamnya lagi.

“Beruntung sekali Yongri memiliki suami setampan dia. Seandainya Yongri bosan dengan laki-laki ini, aku mau menerimanya.” Jihee memukul keras kepalanya.

“Apa yang kau pikirkan Choi Jihee?”

Henry dan Jihee sampai di Narita airport. Perjalanan kurang lebih dua jam cukup membuat badan mereka lelah.

“Woahhh!! Apakah ini Jepang? Aigoo, yeppeuda!!” Pekik Jihee riang ketika melihat pemandangan Jepang. Banyak gedung-gedung yang tinggi menjulang terlihat dari sana. Membuat negara ini terlihat semakin mewah dan juga elegan.

“Kajja kita ke hotel. Aku lelah.” Ajak Henry sembari mencari taksi yang akan mengantarkan mereka ke hotel pesanan Yongri.

“Kita tinggal di hotel?” Tanya Jihee.

“Tentu saja. Kau pikir dimana?”

“Ah aniyo. Kajja!”

Selama di perjalanan ke hotel keduanya terdiam. Henry sibuk dengan pikirannya yang melayang pada Yongri di Seoul. Sedangkan Jihee sibuk dengan kekagumannya akan negri sakura itu. Beberapa kali ia berdecak kagum, namun tak sedikitpun di hiraukan oleh Henry. Hingga akhirnya mereka sampai di hotel dan segera menuju ke kamar yang telah di siapkan Yongri.

“Wahhhh!!! Kamar ini besar sekali!!” Decak kagum Jihee kembali terdengar.

“Henry-ssi, lihatlah! Kita bisa melihat apapun dari sini.” Ucapnya antusias yang hanya di balas gelengan kepala dari Henry.

“Eoh? Tetapi kenapa tempat tidurnya hanya satu?” Tanya Jihee bingung.

“Henry-ssi, kau tidur di mana?”

“Tentu saja di sana.” Jawab Henry sembari menunjuk kasur king size di sana.

“Lalu aku? Henry-ssi, pesankan satu kamar lagi untukku. Bukankah kau banyak uang? Apa kau tega melihatku tidur di sofa ini?” Tanya Jihee dengan tampang memelas.

“Ya! Apa kau lupa apa tujuan kita datang kemari? Tentu saja kita harus tidur bersama!” Geram Henry melihat tingkah Jihee. Seketika wajah Jihee bersemu merah. Ia akan memberikan keperawanannya pada laki-laki yang bahkan belum 24 jam di kenalnya. Tapi entah kenapa tidak ada sedikitpun keraguan yang di rasakannya. Belum lagi melihat tatapan Yongri yang penuh harap padanya. Wanita itu sangat baik padanya. Terlepas dari keinginan konyol ini tentunya. Jihee tau, Yongri memang seorang wanita berhati lembut.

“Sebaiknya kau bersiap. Kita akan makan malam di luar.” Ucap Henry datar sembari berlalu menuju kamar mandi.

30 menit kemudian, keduanya -Henry dan Jihee- telah siap dengan pakaian casual mereka. Mereka bersama keluar dari hotel mewah itu menuju taxi yang akan membawa mereka ke restoran Jepang yang terkenal. Tidak banyak kata yang mereka ucapkan. Jihee bahkan baru menyadari satu hal bahwa Henry merupakan namja yang irit kata. Karena itu dia menjadi sedikit sungkan untuk mengajak namja itu berbicara. Setelah keduanya memesan makanan, mereka kembali di sibukan dengan pikiran masing-masing.

“Ceritakan tentangmu.” Ucap Henry tiba-tiba. Membuat Jihee terkejut dan juga ada terbesit rasa senang di hatinya.

“Tentangku? Apa yang ingin kau ketahui?” “Anything.”

“Hmm. Aku hanya wanita biasa. Aku hidup sebatang kara di Jinan. Kota terpencil di Korea. Ayah dan ibuku meninggal ketika aku kecil. Yah, seperti yang kau lihat. Aku tidak mempunyai sesuatu yang special.” Jelas Jihee. Henry hanya mengangguk singkat dan menyantap makanan yang baru saja di antarkan pelayan.

“Bagaimana denganmu, Henry-ssi?” Tanya Jihee balik.

“Aku?” Henry menunjuk dirinya sendiri.

“Apa ada Henry lain yang ku kenal disini?” Balas Jihee geram.

“Aku juga hanya laki-laki biasa. Tapi aku memiliki istri yang luar biasa. Dan tentu saja keluarga yang luar biasa.”

“Kau sangat mencintai istrimu?”

“Tentu saja. Dia segalanya untukku. Kau pikir kenapa aku rela melakukan ini semua? Itu karena istriku yang memaksaku.”

“Apa yang terjadi pada istrimu hingga ia merencanakan ini semua?” Tanya Jihee penasaran. Dari kemarin-kemarin ia ingin menanyakan hal ini pada Yongri. Namun ia terlalu memikirkan perasaan yeoja itu. Sehingga mau tidak mau ia harus menahan rasa penasarannya. Henry menghela nafas berat ketika pertanyaan itu meluncur dari mulut Jihee.

“Yongri sempat mengandung 4 bulan kemarin. Namun kandungannya lemah. Rahimnya bahkan telah di angkat.” Jelas Henry.

“Omo! Kasian sekali istrimu.” Balas Jihee sembari menutup mulutnya sebagai tanda tak percaya dengan penjelasan Henry.

“Jangan sekali-kali mengasihaninya.” Ucap Henry dingin. Seketika Jihee menyadari bahwa ia sudah salah bicara.

“Ah maafkan aku.” Ucap Jihee lirih.

Henry dan Jihee sudah kembali ke hotel setelah makan malam mereka. Jihee tampak duduk gelisah di tepi ranjang mengingat sebentar lagi keperawanannya akan di ambil oleh laki-laki yang bukan suaminya.

“Apa kau siap?” Tanya Henry tiba-tiba.

“Apa kita akan melakukan malam ini?” Tanya Jihee takut-takut.

“Ne, lebih cepat lebih baik. Aku ingin segera pulang.” Ucap Henry yang di balas anggukan dari Jihee. Perlahan Henry berjalan mendekati Jihee yang masih duduk di tepi ranjang. Henry memegang kedua lengan Jihee dan membaringkan wanita itu dengan perlahan. Tampak raut wajah Jihee yang sangat takut bercampur gugup. Henry mendekatkan wajahnya pada wajah Jihee, bermaksud menciumnya. Jihee sendiri sudah memejamkan matanya bersiap untuk menyambut bibir Henry. Namun saat bibir Henry hampir menyentuh bibir Jihee, tiba-tiba wajah Yongri terlintas di pikirannya. Yongri ketika tertawa bersamanya. Yongri yang selalu bermanja padanya. Yongri yang menangis ketika mengetahui tidak bisa hamil lagi. Sontak Henry langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Jihee. Jihee segera membuka matanya dan menatap Henry dengan bingung.

“Kita…..lakukan lain kali saja. Kau….silahkan tidur disini. Aku akan tidur di sofa.” Ujar Henry dan segera berlalu dari hadapan Jihee. Jihee menghembuskan nafas lega sekaligus kecewa. Ia hanya dapat memandangi Henry yang segera memejamkan matanya ketika berbaring di sofa.

~~~

Sudah hari ketiga Henry dan Jihee berada di Jepang. Namun apa yang seharusnya mereka lakukan, belum juga terlaksanakan. Setiap kali Henry ingin melakukannya, wajah Yongri selalu terlintas di dalam pikirannya. Sejujurnya, Henry sudah ingin kembali ke Seoul untuk bertemu Yongri. Tetapi ia yakin Yongri akan kecewa jika mereka belum melakukannya. Sampailah malam ke 3 ini ia akan melakukan sesuatu yang konyol bersama Jihee.

“Jihee-ssi, kemarilah.” Ajak Henry. Dengan langkah malas, Jihee menghampiri Henry yang duduk bersantai di sofa.

“Wae?” Tanya Jihee.

“Bagaimana jika kita mengobrol sembari minum wine ini? Kau pasti belum pernah mencobanya kan? Ayolah.” Ucap Henry. Jihee sempat ragu untuk mencoba, tapi akhirnya ia memenuhi permintaan Henry. Jihee mengambil tempat duduk di hadapan Henry.

“Ya! Kenapa duduk di sana?”

“Lalu?” Tanya Jihee polos.

“Disini.” Ucap Henry sembari menepuk tempat kosong di sebelahnya. Entah mengapa jantung Jihee menjadi semakin cepat berpacu. Mendadak ia menjadi takut dan err gugup. Henry menuangkan wine itu ke dalam gelasnya dan juga gelas untuk Jihee.

“Cobalah.” Kata Henry sembari menghabiskan wine yang sudah ia tuangkan ke dalam gelasnya itu.

“Yak! Kenapa rasanya begini? Akhh!! Lidahku rasanya pahit.” Keluh Jihee ketika menghabiskan wine di dalam gelasnya.

“Wajar saja. Respon orang yang pertama kali meminum wine pasti sepertimu. Cha! Kita minum lagi.” Kembali, Henry menuangkan wine ke dalam gelas mereka berdua. Entah sudah berapa gelas mereka habiskan, setengah akal sehat mereka telah melambung jauh.

“Kau…apa yang menyebabkan kau mau melakukan ini?” Tanya Henry setengah mabuk.

“Tentu saja untuk mendapatkan uang. Bodoh.” Jawab Jihee tak kalah mabuk.

“Hanya karena uang? Dasar kau bodoh! Rela menjual harga diri.”

“Kau menghinaku?” Jihee mencoba memukul Henry, namun pukulannya meleset karena pandangannya sudah berkunang-kunang.

“Jihee-ssi.” Panggil Henry.

“Wae?”

“Mari kita lakukan apa yang harus kita lakukan.”

“Ne?”

Jihee membuka matanya dengan malas ketika sinar matahari masuk ke dalam kamar itu. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat akibat minum wine semalam.

“Akhh!” Erangnya. Ia mengumpat dalam hati, tidak akan meminum minuman biadab itu lagi. Namun tiba-tiba ia tersentak. Di edarkannya  pandangan ke seluruh kamar. Tidak di dapatinya Henry di sana. Ia merasakan pegal yang teramat sangat di sekujur tubuhnya. Ia mencoba menyikap selimut yang menutupi tubuhnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.

“Apa kami benar-benar melakukannya?” Gumamnya. Ia kembali menutupi badannya dengan selimut itu.

“Cepat bersiap. Kita akan pulang ke Korea 2 jam lagi.” Lagi-lagi Jihee tersentak ketika mendengar suara Henry yang entah datang darimana.

“Hahh.. Ya! Kau mengagetkanku.” Keluhnya. Seakan sadar, Jihee tiba-tiba merasa malu membayangkan apa yang sudah di lakukannya bersama Henry.

“Itu..kita…apa benar kita-”

“Aku tunggu kau di lobby.” Ucap Henry dingin memotong kata-kata Jihee. Jihee hanya mendengus kesal melihat sikap Henry yang sangat dingin.

“Apa dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan padaku? Tidak bisakah bersikap lebih baik?” Desisnya kesal.

~~~

Yongri berkali-kali mengganti channel TV yang ada di rumahnya. Entah mengapa hari ini ia merasa semua acara TV membosankan. Di matikannya TV itu ketika benar-benar merasa tidak ada acara yang menarik. Kemudian ia mengambil majalah di bawah meja tamu, membolak-baliknya mencari sesuatu yang dapat di bacanya. Namun sama, hasilnya nihil.

“Huhh.. Kenapa hari ini membosankan sekali?” Gumamnya. Namun tiba-tiba perhatian Yongri teralihkan ketika mendengar pintu rumahnya terbuka. Seperti ada yang memasukki. Setaunya, hanya ia dan Henrylah yang mempunyai kunci rumah ini. Jika ia sedang ada di rumah, lalu siapa yang membuka pintu? Apa Henry?

“Kalian sudah pulang? Bukankah seharusnya masih 3 hari lagi?” Tanya Yongri ketika melihat sosok Henry muncul dan Jihee di belakangnya. Henry menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Yongri. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Henry berlalu menuju kamar mereka. Yongri hanya tersenyum miris ketika tatapannya bertemu pada Jihee.

“Sebaiknya sekarang kau tinggal di sini Jihee-ssi. Jika nanti kau benar-benar sudah hamil, akan memudahkan untuk kami membantumu.” Ujar Yongri.

“Jinjjayeo? Tinggal di rumah sebesar ini?” Tanya Jihee tak percaya. Yongri mengangguk menjawab pertanyaan Jihee.

“Kau istirahatlah, aku akan menemui Henry terlebih dahulu.” Yongri kemudian berlalu dari hadapan Jihee dan menuju kamar mereka. Perlahan dibukanya pintu kamar dan melihat Henry yang sedang berganti pakaian. Ia masuk dan tak lupa menutup kembali pintunya.

“Kenapa kalian-”

“Apa kau puas?” Desis Henry tajam.

“Henry-ya, kau kenapa?”

“APA KAU PUAS SEKARANG??” Bentak Henry keras. Yongri terlonjak kaget mendengar bentakkan Henry. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Henry membentaknya. Yongri mundur beberapa langkah dan menundukkan kepalanya. Entah datang dari mana, tiba-tiba matanya sudah di penuhi cairan bening yang siap meluncur kapan saja. Henry berlalu dari hadapan Yongri menuju kamar mandi di kamar mereka.

BLAMM!!

Untuk kedua kalinya, Yongri terkejut karena bantingan keras berasal dari kamar mandi.

“Mianhae.” Desis Yongri bersamaan dengan jatuhnya cairan bening yang sedari tadi di tahannya.

Hari sudah malam. Bintang telah melaksanakan tugasnya menerangi langit malam. Yongri berdiri di atas balkon sembari memandangi bintang-bintang itu. Pipi mulusnya sudah di penuhi cairan bening yang membentuk sungai kecil. Ia meluapkan apa yang hatinya rasakan lewat airmata itu. Sedih, kecewa, bahagia, harapan. Semuanya.

“Sedang apa?” Tanya sebuah suara. Tanpa menoleh, Yongri tau siapa pemilik suara itu. Namun ia enggan untuk menjawab. Ia tidak ingin suaminya tau bahwa ia sedang menangis.

“Yongri Lau.. Sedang apa di sana?” Tanya Henry lagi. Henry berdecak kesal ketika tidak mendapatkan jawaban dari istrinya itu. Di dekatinya keberadaan Yongri dan mencoba membalikkan badan Yongri. Namun sekuat tenaga Yongri menahan tubuhnya agar tidak berhadapan dengan Henry. Merasa aneh, dengan sedikit keras Henry membalikkan tubuh Yongri. Dan dengan cepat pula Yongri menundukkan kepalanya.

“Kau kenapa?” Yongri menggeleng. Henry menangkup kedua pipi Yongri dan mendongakkan kepalanya. Hatinya sakit ketika melihat wajah Yongri yang basah akibat airmata. Tetapi masih dengan bodohnya wanita itu memaksakan tersenyum.

“Kau…kau menangis?” Tanya Henry terbata.

“Aku hanya kemasukkan debu.” Kilah Yongri sembari menyeka airmatanya.

“Kau menangis. Wae? Bukankah ini yang kau inginkan?” Yongri mengangguk.

“Benar.. Ini yang aku inginkan.” Ucapnya sepelan mungkin.

“Lalu kenapa kau menangis?” Ucap Henry dengan nada sedikit tinggi.

“Henry-ssi. Aku hanya memintamu untuk meniduri Jihee. Aku tidak pernah memintamu untuk membentakku terus menerus. Ada apa denganmu?” Tubuh Henry menegang. Ia bahkan tidak sadar jika sudah membentak Yongri.

“Aku tau jika kau tersiksa melakukan ini. Aku juga tidak pernah mengharapkan ini terjadi. Tetapi bisakah kau mengerti posisiku? Bisakah sedikit saja kau pahami keadaanku?” Tanya Yongri dengan terisak. Kaki Yongri lemas, tubuhnya merosot ke bawah sehingga ia terduduk di lantai balkon yang dingin.

“Aku hanya ingin appa dan eomma bahagia. Aku ingin membahagiakan mereka. Apa aku salah?” Isakan Yongri semakin menjadi. Tubuh Henry seolah kaku. Lidahnya menjadi kelu. Yang ia tau, ia hanya mencoba menahan cairan bening yang hendak keluar.

“Apa yang terjadi? Aku mendengar orang menangis dari luar.” Ucap Jihee tiba-tiba yang sudah masuk ke dalam kamar mereka.

“Omo Yongri-ssi!” Pekik Jihee kaget melihat Yongri.

“Keluar.” Ucap Henry.

“Tapi dia-”

“AKU BILANG KELUAR!” Tanpa berpikir dua kali, Jihee segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Henry dan Yongri. Henry mensejajarkan wajahnya dengan wajah Yongri. Di kecupnya sekilas bibir Yongri, kemudian menarik Yongri ke dalam pelukannya. Membiarkan bajunya basah oleh airmata Yongri.

“Maafkan aku.. Maafkan aku. Kumohon jangan membenciku.” Pinta Yongri lirih.

“Cukup.” Ucap Henry.

“Aku memang bukan istri yang baik. Aku gagal. Tapi jangan membenciku.” Dengan sedikit kasar Henry mencium bibir Yongri. Melumatnya perlahan menumpahkan rasa cintanya kepada istrinya itu. Setetes kristal bening itu jatuh membasahi pipi Henry.

“Aku sudah katakan cukup. Aku tidak ingin mendengar apapun. Maafkan aku. Maaf karena keegoisanku.” Ucap Henry ketika tautan bibir mereka terlepas.

“Kau tidak marah padaku kan?” Tanya Yongri takut. Henry menggeleng. Henry menyeka airmata Yongri kemudian tersenyum.

“Mari kita bersama-sama membahagiakan eomma dan appa. Kau maukan?” Ajak Henry. Yongri tersenyum dan mengangguk.

“Gomawo.” Ujarnya kemudian memeluk Henry.

~~~

Dua bulan sudah semenjak kejadian itu dan Jihee di nyatakan hamil oleh dokter. Usia kandungannya baru beranjak 2 minggu. Henry, Yongri dan Jihee sama-sama berbahagia ketika mendengar kabar itu. Semua rencana yang telah di susun Yongri akhirnya dapat berjalan dengan baik. Dan dalam 9 bulan lagi, mereka akan mendapatkan keturunan dari Henry.

“Mulai sekarang kau harus hati-hati dalam melakukan apapun. Jika mau kemana-mana kau harus minta Henry menemanimu. Arrachi?” Pesan Yongri kepada Jihee.

“Mwo?! Ya! Kau kira aku tidak sibuk?” Tolak Henry.

“Aish. Biar bagaimanapun itu anakmu, bodoh.” Henry hanya mendengus kesal melihat kelakuan istrinya itu.

“Aku tidak menyangka.” Ucap Jihee.

“Apa?”

“Aku tidak menyangka jika perutku dapat menghasilkan uang. Huaaaa,, senangnyaaa..” Jerit Jihee riang. Yongri dan Henry tersenyum.

“Gomawo Jihee-ssi.” Ucap Yongri tulus.

“Aniyo. Untuk apa berterima kasih. Bukankah di sini kita sama-sama untung? Lupakan ucapan terima kasih. Aku hanya butuh kalian untuk menepati janji.” Balas Jihee.

“Kau tenang saja. Berapapun yang kau minta, kami akan memberinya.”

“Sudahlah, aku berangkat kerja dulu. Kalian baik-baiklah dirumah.” Ucap Henry beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Yongri dan mengecup singkat bibir dan keningnya. Melihat itu, Jihee merasakan sesatu mengganjal dalam hatinya. Ia juga ingin merasakan itu. Ia ingin merasa di cintai dan juga di sayangi. Namun dengan cepat ia tepis perasaan bodoh itu. Sudah baik keluarga Henry akan memberikannya uang. Ia tidak boleh berharap lebih. Yongri dan Jihee bersama-sama mengantarkan kepergian Henry ke kantor. Henry tersenyum sekilas dengan keduanya kemudian melajukan mobilnya.

~~~

Malam ini Henry dan Yongri sedang bersantai bersama di dalam kamar mereka. Yongri menyandarkan kepalanya pada pundak kokoh Henry yang sedang bersandar pada headboard tempat tidur mereka.

“Henry-ya..” Panggil Yongri.

“Hmm.. Wae?” Balas Henry. Yongri menjauhkan kepalanya dari pundak Henry dan beralih menatap wajah suaminya itu.

“Bukankah sebaiknya kita mengatakan pada appa dan eomma jika aku hamil? Aku hanya takut appa dan eomma curiga jika tiba-tiba kita memiliki anak.” Ujar Yongri. Henry tampak berpikir dengan usul yang di berikan Yongri.

“Baiklah.. Kita akan memberitahu mereka.” Ucap Henry kemudian mengambil iphone-nya di atas meja di samping tempat tidur.

“Yoboseo..”

“Yoboseo.. Henry-ya, wae geureh?” Tanya Nyonya Lau dari sambungan telepon.

“Aniyo. Aku hanya ingin mengatakan jika Yongri hamil.” Ucap Henry mulai berbohong.

“Jinjjayeo? Berapa usia kandungan menantuku?” Tanya Nyonya Lau antusias.

“Ne, baru berusia 2 minggu.” Jawab Henry.

“Aigoo.. Kalau begitu jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi. Arrachi?” Pesan Nyonya Lau.

“Arraseoyo.”

“Nanti eomma akan sampaikan pada appa berita gembira ini. Appa dan eomma sekarang sedang berada di Taiwan. Beberapa bulan lagi kami akan pulang, dan kami akan langsung berkunjung ke sana.” Kata Nyonya Lau.

“Ne, eomma. Kalian hati-hati di sana. Annyeong.”

“Arra. Annyeong.” KLIK. Henry meletakkan iphone-nya ke atas meja, kemudian kembali menatap Yongri. Di lihatnya raut wajah Yongri berubah menjadi sendu.

“Wae?” Tanya Henry.

“Mianhaeyo. Karena aku, kau harus membohongi orangtuamu.” Sesal Yongri. Henry menghela nafas berat.

“Sudahlah. Lebih baik sekarang kita jalani saja apa yang sudah terjadi.” Yongri mengangguk, mengerti.

“Henry-ya, mulai sekarang kau harus lebih perhatian pada Jihee.” Pesan Yongri.

“Mwo?! Kenapa?” Tanya Heny bingung.

“Karena tentu saja anak yang di dalam kandungannya itu akan sangat membutuhkan perhatianmu. Biar bagaimanapun anak itu darah dagingmu. Secara tidak langsung kalian akan mengalami ikatan batin.” Jelas Yongri.

“Kau rela jika suamimu membagi perhatian pada wanita lain?” Yongri terdiam. Namun sesaat kemudian ia tersenyum.

“Bukankah ini hanya untuk 9 bulan saja? Aku harus bisa membagi perhatian suamiku pada wanita yang akan memberi kita anak.”

“Aish kau ini! Kau benar-benar membuatku frustasi.” Keluh Henry.

“Hanya 9 bulan. Kumohon bertahanlah.” Pinta Yongri.

“Arraseo.” Lagi-lagi Yongri tersenyum.

“Sebaiknya sekarang kau temui Jihee. Tanyakan padanya apa ia membutuhkan sesuatu. Atau jangan-jangan dia sedang mengidam.” Kata Yongri sembari mendorong pelan tubuh Henry.

“Ne. Ne. Kau tunggulah di sini. Aku akan segera kembali.” Ucap Henry sembari melayangkan kecupan singkat di kening Yongri kemudian keluar dari kamar mereka.

‘Tok..Tok..Tok..’

Henry mengetuk pelan pintu kamar Jihee. Tak berapa lama, terdengar suara langkah mendekat dan pintu terbuka.

“Eoh? Henry-ssi? Ada apa?” Tanya Jihee bingung. Henry menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

“Ah itu…aku…kau… Aish! Apa kau membutuhkan sesuatu?” Ucap Henry dengan susah payah.

“Mwo?! Maksudmu?”

“Bukankah kau sedang hamil? Apa kau menginginkan sesuatu? Apa kau tidak ngidam?” Jihee membulatkan matanya ketika mendengar penuturan Henry.

“Apa kau akan mengabulkannya jika aku menginginkan sesuatu?” Tanya Jihee. Henry mengangguk.

“Aku ingin nasi goreng kimchi.” Pinta Jihee.

“Baiklah, aku akan membelikannya. Tunggulah sebentar.” Ujar Henry dan bermaksud berlalu dari hadapan Jihee.

“Ah sebentar!” Cegah Jihee.

“Apa lagi?”

“Aku ingin kau yang membuatnya.”

“Mwo?! Maksudmu aku yang memasak?” Tanya Henry tak percaya. Jihee mengangguk antusias.

“Ya! Aku tidak bisa memasak. Apa kau ingin anak itu keracunan?”

“Anak ini yang menginginkannya Henry-ssi. Lagipula kau sudah berjanji akan mengabulkannya.” Ujar Jihee memelas. Henry mengacak rambutnya frustasi.

“Baiklah. Aku akan memasaknya.” Ucap Henry.

“Gomawoyo Henry-ssi.”

“Aku bisa gilaa.” Gumam Henry pelan kemudian berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, Henry membuka kulkas dan mengeluarkan semua bahan yang kira-kira di perlukannya. Bermodalkan nekat, Henry memulai acara memasaknya sesuai dengan keinginan Jihee. 20 menit kemudian, nasi goreng kimchi ala Henry pun telah siap di meja makan. Jihee memandanginya dengan ngeri. Bagaimana tidak, makanan itu tidak layak di sebut dengan nasi goreng kimchi dilihat dari tampilannya saja. Dengan ragu Jihee memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.

“Huekkk!! Ya! Makanan apa ini??” Keluh Jihee memuntahkan nasi goreng itu.

“Huahahahahaha.. Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak bisa memasak? Kau yang memaksa. Hahaha..” Ujar Henry diiringi dengat tawa lepasnya. Sejenak Jihee tertegun melihat tawa Henry. Ini pertama kali untuknya melihat seorang Henry tertawa seperti itu. Tampan. Itulah yang dapat di simpulkannya. Dengan tertawa Henry semakin tampan. Bahkan ia baru menyadari jika di pipi namja itu terdapat sebuah lesung yang cukup dalam. Merasa di perhatikan, Henry menghentikan tawanya. Ia berdehem pelan menghilangkan kecanggungan.

“Wae? Apa ada yang salah dengan wajahku?” Tanya Henry canggung.

“Ah aniyo. Hanya saja kau semakin tampan jika tertawa. Ku harap kau bisa tertawa terus.” Ucap Jihee tulus. Henry tertegun mendengar ucapan Jihee. Entah mengapa ia ingin mengabulkan permintaa yeoja itu.

“Sudah malam. Sebaiknya kau segera tidur.” Ujar Henry. Jihee mengangguk kemudian berbalik untuk melangkah ke kamar. Namun baru beberapa langkah, ia kembali berbalik.

“Jaljayo.” Ucapnya. Henry tersenyum melihat kepolosan Jihee. Ia membereskan piring kotor di atas meja kemudian kembali ke kamarnya.

~~~

Usia kandungan Jihee sudah beranjak 4 bulan. Perutnya juga sudah lebih membuncit dari ukuran perut biasanya. Layaknya seperti perempuan hamil lainnya, Jihee juga terkadang suka mengidam sesuatu yang aneh-aneh. Terkadang Henry kesal sendiri apabila penyakit ngidam Jihee sudah kambuh. Henry bisa saja tidak memperdulikan kemauan Jihee. Namun Yongri selalu memaksa Henry untuk melakukan apapun untuk memenuhi keinginan Jihee.

“Henry.. Henry..” Jerit Yongri dari arah ruang keluarga. Dengan sedikit tergesa Henry menghampiri keberadaan Yongri.

“Ada apa?”

“Hari ini adalah jadwal Jihee check up kandungan. Kau harus menemaninya.” Ucap Yongri.

“Bukankah biasanya kau yang menemani? Kenapa sekarang harus aku?”

“Henry-ssi benar. Sepertinya aku merasa lebih nyaman jika kau yang menemani Yongri-ssi.” Timpal Jihee.

“Aniyo! Tidak boleh begitu. Perutmu semakin membesar. Jika terjadi apa-apa aku bisa berbuat apa? Henry laki-laki, setidaknya dia lebih cepat tanggap dari pada aku.”

“Arraseo. Kau cerewet sekali.” Geram Henry melihat tingkah Yongri yang sedikit menyebalkan akhir-akhir ini. Apalagi jika sudah menyangkut Jihee dan calon anaknya.

“Kajja kita pergi sekarang.” Ajak Henry sembari mengambil kunci mobil dan keluar menuju mobilnya.

Selama di perjalanan menuju rumah sakit, Henry dan Jihee tidak banyak berbicara. Keduanya di hantui rasa canggung yang memang sering hadir belakangan ini. Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit khusus kandungan. Dokter memeriksa kandungan Jihee dengan sangat teliti. Sesekali ia menanyakan pertanyaan seputar hal-hal yang biasa di rasakan oleh ibu hamil. Seperti mual-mual atau tidak nafsu makan. Setelah selesai, Jihee bergabung bersama Henry duduk di hadapan dokter yang tadi memeriksa Jihee.

“Kandungan istri Anda baik-baik saja, Henry-ssi.” Ujar dokter itu.

“Istri?” Desis Henry spontan.

“Ne, bukankah ia istri Anda?” Tanya dokter itu memastikan.

“Ah benar. Dia istriku.” Jawab Henry. Jihee merasa hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan Henry. Walaupun ia tau Henry terpaksa mengakuinya sebagai istri, tetapi setidaknya Henry mau melakukan itu.

“Jaga baik-baik istri Anda. Sering-seringlah mengajak calon bayi berbicara. Walaupun tidak akan pernah ada tanggapan, tetapi si cabang bayi merasakan kehadiran kalian.” Jelas sang dokter yang di balas anggukan dari Henry.

“Baiklah, terima kasih dokter Lee. Kami permisi dulu. Annyeong.”

“Ne annyeong.” Henry dan Jihee berjalan beriringan melewati koridor rumah sakit menuju mobil Henry. Lagi-lagi di dalam mobil di warnai keheningan. Sampai akhirnya Jihee membuka pembicaraan.

“Henry-ssi. Jika anak ini lahir, kau menginginkan anak laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki atau perempuan sama saja untukku. Yang terpenting adalah bayinya sehat dan Yongri senang dengan kehadiran bayi itu.” Jawab Henry tanpa mengalihkan sedikitpun perhatiannya pada jalanan Seoul. Hati Jihee merasa perih. Hanya itukah yang dipikirkan Henry? Apakah ia tidak memikirkan nasib calon ibu yang akan melahirkan anak itu? Apa ia tidak peduli jika dirinya tidak tertolong saat melahirkan si cabang bayi? Jihee membuang mukanya ke arah jendela. Setetes airmata mengalir dari sudut matanya. Terlalu sakit mengetahui kenyataan bahwa tidak pernah terbesit sedikitpun kekhawatiran Henry untuknya.

Baru beberapa jam Henry dan Jihee sampai di rumah, ketika Yongri mendengar deru mobil dari depan rumahnya. Dirinya terlonjak panik ketika melihat siapa yang datang.

“Henry! Eomma dan appa datang!” Pekiknya tertahan.

“Mwo?!”

“Ayo cepat kita harus membuat perutmu sedikit membesar.” Ujar Henry tak kalah panik.

“Ambil bantal!” Usul Jihee.

“Yang ini?”

“Jangan itu terlalu besar.”

“Bagaimana dengan yang ini?”

“Ah ne, cepat pakaikan di perutku.” Setelah selesai, Henry dan Yongri segera berjalan ke arah pintu untuk menyambut kehadiran eomma dan appa Henry.

“Aigoo menantuku. Apa kabarmu?” Tanya Nyonya Lau sembari memeluk Yongri.

“Baik eomma. Eomma apa kabar?” Tanya Yongri balik.

“Semakin baik. Apalagi ketika tau kami akan segera memiliki cucu.” Jawab Nyonya Lau. Yongri memaksakan senyum mendengar jawaban mertuanya. Terbesit perasaan bersalah kepada mereka.

“Apa kau menjaga istrimu dengan baik, Henry-ya?” Tanya Tuan Lau pada Henry.

“Tentu saja appa.” Jawab Henry bangga.

“Apa perlu eomma tinggal disini untuk menemanimu sampai kau melahirkan?” Tawar Nyonya Lau.

“Tidak perlu!” Jawab Henry dan Yongri bersamaan. Membuat Tuan dan Nyonya Lau menaikkan alis karena bingung.

“Bukan begitu eomma. Henry sudah sangat membantuku. Eoma tidak perlu repot-repot. Lagipula eomma harus menemani dan menjaga appa.” Kata Yongri mencari alasan. Nyonya Lau menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Yongri.

“Omo! Siapa itu?” Tanya Tuan Lau ketika melihat kepala Jihee yang menyembul dari belakang dinding. Serempak, Henry dan Yongri mengikuti arah pandang Tuan Lau. Keduanya sedikit menegang ketika melihat Jihee di sana.

“Ah, dia…dia… Dia istri temanku eomma.” Jawab Henry terbata.

“Dia juga sedang hamil. Suaminya sedang berada di luar negeri untuk bekerja. Makanya menitipkan istrinya di sini. Lagipula ia berteman akrab dengan Yongri. Benarkan sayang?” Tanya Henry kepada Yongri, mencoba mencari dukungan.

“Ah benar sekali.” Jawab Yongri kikuk.

“Benarkah? Kemari, nak. Kenapa kau bersembunyi di sana?” Dengan ragu-ragu Jihee berjalan mendekati keluarga kecil itu.

“Aku akan menyiapkan makanan kecil dulu untuk kita.” Ujar Yongri kemudian beranjak ke dapur.

“Appa, bisakah appa ikut ke ruang kerjaku? Ada yang ingin ku tanyakan.” Pinta Henry pada Tuan Lau. Tuan Lau mengangguk dan mengikuti langkah Henry. Tinggalah Nyonya Lau dan Jihee duduk berdampingan di ruang tamu.

“Berapa usia kandunganmu?” Tanya Nyonya Lau.

“4 bulan ahjumma.” Jawab Jihee.

“Sama persis seperti kandungan Yongri. Mungkinkah kalian akan melahirkan di waktu bersamaan?” Canda Nyonya Lau. Jihee hanya tersenyum tipis mendengar gurauan Nyonya Lau.

“Di mana orang tuamu?” Tanya Nyonya Lau lagi.

“Tidak ada ahjumma. Aku hidup sebatang kara di dunia ini.” Nyonya Lau memandang iba wajah Jihee. Di belainya pipi Jihee menyalurkan kehangatan.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu. Jika kau mempunyai hubungan dekat dengan Henry dan Yongri, maka kau boleh menganggap aku dan suamiku sebagai keluargamu. Bahkan kau bisa memanggilku eomma jika mau.” Jihee menatap wajah Nyonya Lau tidak percaya. Matanya menjadi berat menahan kilauan bening yang sudah berkumpul. Sudah sangat lama ia tidak mendapatkan kasih sayang dari seseorang yang di sebut ‘eomma’.

“Benarkah?” Tanya Jihee memastikan.

“Tentu saja. Aku menganggap Yongri bukan sebagai menantu, tetapi sebagai putriku. Aku akan menganggap hal yang sama padamu.” Jawab Nyonya Lau.

“Gomawoyo ahju- ah eomma. Jeongmal gomawo.” Ujar Jihee sembari memeluk Nyonya Lau erat. Betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan keluarga dari orang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya. Jihee menyadari, kehadiran calon anaknya membawa banyak dampak positif untuknya. Tak hentinya ia berdoa di dalam hati, mengucap syukur kepada Tuhan karena menganugerahkan calon bayi ini padanya. Sehingga ia dapat merasakan kebahagiaan yang tidak pernah di bayangkannya.

~~~

Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika Henry sampai di rumah. Hari ini ia lembur karena banya pekerjaan yang menumpuk. Ia berpikir bawah Yongri dan juga Jihee pasti sudah terlelap. Namun perkiraannya salah ketika melihat kehadiran Jihee yang sedang menonton TV di ruang tengah.

“Jihee-ssi.” Ucap Henry.

“Eoh? Kau sudah pulang? Apa kau sudah makan?” Tanya Jihee. Henry memandang Jihee dengan raut wajah bingung.

“Aku sudah makan. Mana Yongri?”

“Dia sudah tidur.”

“Lalu kenapa kau tidak tidur? Sebaiknya kau tidur. Kau harus banya istirahat. Mengingat kandunganmu yang sudah semakin membesar.” Ya Henry benar, kandungan Jihee sudah memasukki bulan ke 9. Perutnya semakin membuncit dan terkadang menghambat pergerakkan Jihee.

“Aku tidur dulu.” Ucap Henry dan berjalan menuju kamarnya. Namun dengan cepat Jihee menahan pergelangan tangan Henry. Langkah Henry terhenti. Di pandanginya tangan Jihee yang menggenggam pergelangan tangannya. Darahnya berdesir merasakan hangat tangan Jihee.

“Wae?” Tanya Henry.

“Maukah kau menemaniku tidur malam ini. Anakmu menginginkannya.” Ucap Jihee.

“Mwo?! Apa kau lupa jika aku sudah memiliki istri, Jihee-ssi? Aku tau kau memang mengandung anakku, tetapi kita tidak memiliki ikatan apapun.” Tolak Henry.

“Aku hanya memintamu menemaniku tidur. Bukan tidur bersamaku. Tolong bedakan kata-kata itu Henry-ssi.” Tubuh Henry terpaku mendengar ucapan Jihee. Jihee benar, dari awal ia memang hanya meminta di temani tidur. Tetapi kenapa pikirannya kemana-mana?

“Temani hingga aku tertidur. Setelah itu kau bisa kembali bersama istrimu.” Ujar Jihee. Henry menghela nafas kemudian mengangguk. Keduanya memasukki kamar Jihee. Henry membantu Jihee berbaring karena Henry tau Jihee kesulitan untuk bergerak. Henry duduk di tepi ranjang tepat di sebelah tubuh Jihee. Di selimutinya tubuh Jihee sampai sebatas dada. Jihee menggengam tangan Henry kemudian memejamkan matanya. Ada perasaan aneh yang di rasakan Henry ketika kedua tangan mereka bertaut. Perasaan yang sama ketika ia mulai merasakan cinta pada Yongri. Apa mungkin ia jatuh cinta untuk kedua kalinya? Tapi bagaimana dengan Yongri? Ia sangat mencintai Yongri, ia tau itu. Tetapi ia tidak dapat memungkiri jika Jihee telah mendapatkan posisi tersendiri di dalam hatinya.  Henry segera menepis pikiran itu. Ia tidak boleh larut dalam pikiran sesaat seperti ini. Ini pasti karena Jihee sedang mengandung anaknya. Makanya ia mempunyai perasaan aneh itu. Setelah di lihatlah Jihee sudah tertidur pulas. Dengan hati-hati Henry melepaskan genggaman tangan Jihee kemudian beranjak dari kamarnya. Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya bersama Yongri. Pencahayaan di kamar hanya berasal dari lampu di samping tempat tidur. Henry mengganti pakaiannya dengan piyama kemudian bergabung dengan Yongri yang sudah terlebih dahulu berada di alam mimpi. Di pandanginya wajah polos Yongri ketika tidur. Seulas senyum terukir dari bibir tipis Henry. Di tariknya dengan perlahan tubuh Yongri hingga kepala sang istri bertengger manis di dada nya. Inilah yeojanya. Inilah wanita yang ia cintai.

~~~

Henry, Yongri dan juga Jihee sekarang tengah berada di sebuah mall. Sengaja mereka pergi bersama untuk membeli peralatan yang di butuhkan calon bayi ketika lahir ke dunia nanti. Beberapa kali Jihee harus menelan rasa sakit ketika melihat Yongri dan Henry memamerkan kemesraan mereka di hadapan orang banyak. Henry dan Yongri bergandengan tangan dan berjalan di depannya. Sedangkan Jihee? Ia berjalan sendiri di belakang mereka dengan tidak semangat. Belum lagi tatapan aneh yang di berikan orang sekitar pada dirinya.

‘Memangnya ada yang aneh denganku? Apakah seorang wanita hamil itu aneh? Kenapa mereka memandangiku seperti itu?’ Batin Jihee kesal.

“Jihee-ssi kau kenapa?” Tanya Yongri ketika melihat raut wajah kesal dari Jihee.

“Nan gwenchana.” Jawab Jihee ketus kemudian berjalan lebih dulu dari Henry dan Yongri. Yongri dan Henry saling pandang melihat tingkah aneh Jihee.

“Dia kenapa?” Tanya Henry bingung.

“Mollayeo. Sudahlah kajja! Nanti kita terpisah dengannya.” Yongri menarik tangan Henry mengikuti langkah Jihee.

“Bagaimana dengan yang ini?” Tanya Yongri pada Jihee. Jihee hanya mengangguk sekilas. Jujur saja, moodnya untuk berbelanja sudah hilang. Berkali-kali Jihee mencoba menarik perhatian Henry, namun hasilnya nihil. Laki-laki itu seperti menghindari dirinya. Entah apa yang sudah di perbuatnya sehingga Henry bersikap demikian.

“Henry, ayo pilihkan baju untuk calon anakmu.” Pinta Yongri.

“Kenapa tidak kau saja? Bukankah itu juga calon anakmu.” Balas Henry. Tubuh Jihee terpaku. Kata-kata Henry barusan seperti petir di siang hari. Begitu mengejutkan dan juga menyakitkan telinga. Apa tidak pernah terbesit sedikit saja arti kehadiran Jihee untuk Henry? Kenapa selalu Yongri, Yongri, dan Yongri?

“Ish. Kau ini.” Geram Yongri.

“Ah mianhae. Aku tiba-tiba tidak enak badan. Aku akan pulang. Jika kalian ingin meneruskan berbelanja silahkan saja. Annyeong.” Pamit Jihee. Dia sudah tidak tahan lagi. Entah karena dia sedang hamil atau bagaimana, tetapi perasaannya terlalu sensitif sekarang. Ia kesal, marah, kecewa, sedih. Ia ingin meluapkan emosi itu. Menangis. Hanya itu yang ingin ia lakukan sekarang. Namun sebelum berlalu dari hadapan sepasang suami istri itu, ia harus bisa menahan airmata yang siap keluar kapan saja.

“Jihee-ssi, kau kenapa? Apa baik-baik saja?” Tanya Yongri khawatir.

“Nan gwenchana.” Jawab Jihee lirih.

“Henry-ya, sebaiknya kita pulang sekarang. Aku takut sesuatu terjadi pada Jihee.” Ujar Yongri. Seketika Jihee menatap Yongri dalam.

“Kau takut terjadi sesuatu padaku, atau pada calon bayi ini?” Tanya Jihee datar. Pertanyaan itu spontan saja keluar dari bibirnya.

“Apa maksudmu?” Tanya Yongri bingung.

“Kalian tidak pernah mengkhawatirkanku. Kalian hanya mengkhawatirkan calon bayi ini! Kalian egois. Kalian-”

“Cukup Jihee-ssi!” Sela Henry kesal.

“Sebenarnya kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba marah pada istriku?” Yongri menarik pergelangan tangan Henry pertanda agar Henry dapat menahan emosinya. Jihee tersenyum miris. Ia menatap Henry lekat pada bola matanya.

“Kau…pernahkah kau sedikit saja memikirkan perasaanku? Kau hanya memikirkan perasaan istrimu ini! Kau selalu ingin membuatnya bahagia. Tetapi taukah kau jika aku merasakan sakit ketika kau ingin melakukannya? Anak ini anakku! Dia bukan anak Yongri.” Kata Jihee setengah berteriak. Yongri menutup mulutnya yang sedikit terbuka akibat ucapan Jihee. Ia tidak menyangka Jihee akan mengatakan sesuatu yang sangat menyakitinya.

“Kalian selalu bermesraan di depanku. Pernahkah kalian tau bagaimana perasaanku, huhh?! PERNAHKAH?!” Jerit Jihee.

“Ya! Kenapa harus berteriak?” Pekik Henry emosi.

“Jihee-ssi. Kumohon tahan emosimu. Kami…kami minta maaf. Maafkan ka-”

“Tidak perlu!” Potong Jihee langsung yang membuat Henry dan Yongri lagi-lagi terperangah.

“Ini anakku. Aku tidak akan pernah memberikannya pada kalian.” Ujar Jihee. Henry dan Yongri tersentak. Mata Yongri memanas dan pandangannya sudah sedikit kabur akibat airmatanya.

“Jihee-ssi, jangan seperti itu. Kumohon jangan lakukan itu. Kau tau betapa aku menginginkan anak itu.” Pinta Yongri memohon. Pertahanannya runtuh sudah. Baik Yongri maupun Jihee sama-sama menangis. Wajah keduanya sudah sangat basah.

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Jihee pada Henry. Jihee seolah tidak memperdulikan permohonan Yongri. Henry terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa.

“Aku..aku..”

“Kau mencintaiku! Tetapi kau pengecut.” Sambar Jihee. Yongri menatap wajah Henry seolah menuntut penjelasan. Apa benar apa yang diucapkan Jihee.

“Sekali lagi aku tegaskan. Aku tidak akan memberikan anak ini. Dia milikku.” Ucap Jihee dan berusaha pergi dari toko yang sudah di penuhi oleh orang-orang yang melihat pertengkaran mereka. Secepat kilat Yongri menahan pergelangan tangan Jihee. Membuat yeoja itu kembali berbalik, berhadapan dengan Henry dan Yongri.

“Aku akan memberikanmu apapun yang kau mau. Katakan berapa yang kau inginkan? Aku akan memberikannya.” Ujar Yongri sembari menyeka airmatanya. Jihee lagi-lagi tersenyum miris.

“Baik. Kau boleh memiliki anak ini….” Ucap Jihee yang membuat senyum berkembang di bibir Yongri.

“Tetapi berikan suamimu untukku.” Lanjut Jihee.

PLAKKK!!

Pipi kanan Jihee memanas dan memerah akibat tamparan kuat dari Yongri.

“Apa kau sekarang sudah menjadi seorang pelacur, huhh?” Tanya Yongri datar.

“Wae? Apa aku salah? Kau memiliki segalanya. Aku tidak butuh uangmu. Aku tidak butuh hartamu. Aku hanya membutuhkan suamimu. Aku mencintainya!!” Jerit Jihee sembari terisak.

“Akhhh…akhhh!!” Belum sempat Yongri membalas ucapan Jihee, Jihee meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.

“Jihee-ssi, kau kenapa?” Tanya Yongri panik.

“Akhhh..sa..kitt..” Erang Jihee sembari mengcengkram pergelangan tangan Henry. Membuat Henry sedikit meringis merasakan perih. Yongri melihat ada cairan yang mengalir dari sela paha Jihee. Sepertinya cabang bayi sudah harus di lahirkan.

“Omo Henry-ya! Sepertinya Jihee akan melahirkan.”

“Mwo?!”

“Cepat gendong dia dan bawa ke mobil. Kita harus segera ke rumah sakit.”

“Akkhh..” Henry langsung menggendong tubuh Jihee ketika mendengar ringisan Jihee. Sesampainya di mobil ia langsung melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia panik. Henry bahkan tidak memerdulikan peraturan lalu lintas lagi. Yang di pikirkannya adalah ia bisa sampai di rumah sakit denga segera.

“Dokter!! Suster!! Ada yang mau melahirkan.” Jerit Yongri panik ketika mereka sudah sampai di rumah sakit. Dengan sigap, beberapa suster membantu Jihee untuk berbaring di ranjang beroda dan mendorongnya ke ruang bersalin. Henry dan Yongri hanya bisa mengikutinya dari belakang. Jihee tak henti-hentinya berteriak menahan sakit. Ketika Jihee sudah berada di ruang bersalin, Henry dan Yongri pun mengikutinya hingga ke dalam. Dokter langsung memeriksa keadaan Jihee.

“Bayinya terbalik. Ini akan membahayakan salah satu di antara mereka.” Ujar dokter itu.

“Selamatkan ibunya dok! Selamatkan ibunya!” Pekik Yongri sembari terisak. Henry menarik tubuh Yongri ke dalam dekapannya. Kemudian seorang suster meminta mereka untuk menunggu di luar. Selama menunggu proses bersalin, Yongri tak henti-hentinya menangis. Henry sendiri tidak tau harus berbuat apa. Ia hanya mampu menenangkan Yongri di dalam pelukannya.

2 jam kemudian, dokter dan beberapa suster keluar dari ruangan itu. Henry dan Yongri segera menghampirinya.

“Bagaimana dok?” Tanya Yongri tak sabar. Dokter itu tersenyum.

“Beruntung. Keduanya dapat di selamatkan. Bayinya seorang laki-laki.” Henry dan Yongri mendesah lega mendengar jawaban sang dokter. Henry dan Yongri memasukki ruang bersalin untuk melihat keadaan Jihee. Jihee masih terbaring lemah di atas ranjang. Sesaat kemudian, suster membawa seorang bayi laki-laki yang baru saja di mandikan.

“Ini putra Anda, aggashi.” Ujar suster sembari memberikan bayi itu pada Jihee. Yongri hanya mampu menatap haru. Jihee memandangi Yongri yang matanya sembab akibat menangis.

“Ambillah. Ini anakmu.” Ujar Jihee.

“Jihee-ssi….”

“Bukankah tadi kau bilang selamatkan ibunya? Ibunya sudah selamat. Dan anak ini milik kalian.” Ucap Jihee yang membuat Yongri lagi-lagi menangis. Namun bedanya kali ini tangis karena kebahagiaan. Dengan hati-hati Yongri menggendong bayi mungil yang sedang tertidur itu. Di kecupnya berkali-kali dahi sang bayi. Henry sendiri hanya dapat tersenyum bahagia melihat apa yang terjadi sekarang.

Masih melanjutkan kebohongan mereka, Henry memberi kabar pada orangtuanya bahwa Yongri dan Jihee sudah melahirkan. Dengan segera Tuan dan Nyonya Lau mendatangi rumah sakit. Henry juga sengaja memesan satu kamar untuk di tempati oleh Yongri agar dirinya benar-benar terlihat seperti habis melahirkan. Dengan bayi di gendongannya, Yongri tersenyum ketika melihat kehadiran kedua mertuanya.

“Aigoo cucuku.” Ucap Tuan Lau senang. Nyonya Lau langsung menggendong bayi laki-laki itu dan menimangnya dengan senang.

“Lihatlah, ia tampan sekali. Persis seperti Henry.” Ujar Nyonya Lau bangga.

“Gomawoyo menantuku. Kau sudah memberikan kami seorang cucu yang sangat tampan.” Kata Tuan Lau sembari mencium kening Yongri dengan sayang.

“Ne, cheonma appa.” Balas Yongri.

“Oh ya, bagaimana dengan Jihee?” Tanya Nyonya Lau. Henry menundukkan kepalanya sebentar, kemudian kembali menatap Nyonya Lau.

“Bayinya meninggal eomma. Dokter tidak dapat menyelamatkan bayinya.” Jawab Henry berbohong. Nyonya Lau tampak terkejut dengan jawaban Henry.

“Ya Tuhan. Jihee pasti sangat terpukul. Eomma akan melihatnya sebentar.” Ucap Nyonya Lau sembari meletakkan cucunya pada box bayi yang ada di kamar itu.

“Di mana kamarnya?”

“Tepat di sebelah kamar ini eomma.” Nyonya Lau mengangguk dan segera berlalu untuk ke kamar inap Jihee. Ketika ia membuka pintu, dilhatnya Jihee sedang menyeka airmata. Perasaan sedih menghampiri Nyonya Lau.

“Eomma..” Panggil Jihee lirih.

“Anakku..” Balas Nyonya Lau.

“Semua baik-baik saja. Kau harus kuat, ne? Yongri juga pernah mengalami ini. Tetapi kau lihat? Sekatang ia bisa melahirkan seorang bayi. Kau juga pasti bisa hamil kembali.” Ucap Nyonya Lau sembari memeluk Jihee. Tangis Jihee semakin menjadi di dalam pelukkan Nyonya Lau. Jihee mengeratkan pelukannya. Pelukan yang mungkin terakhir kalinya ia rasakan.

~~~

“Haruskah kau pergi, Jihee-ya?” Tanya Yongri ketika melihat Jihee yang sedang membereskan pakaiannya. Jihee memutuskan akan kembali ke Jinan -kampung halamannya-.  Yeoja itu menghentikan kegiatannya dan tersenyum pada Yongri.

“Tugasku sudah selesai, Yongri-ya. Aku tidak harus ada di sini lagi.” Jawab Jihee.

“Tetapi kita bisa tinggal bersama.” Ujar Yongri mencoba menahan kepergian Jihee. Jihee menggeleng.

“Aniyo. Ini bukan tempatku.” Balas Jihee. Yongri hanya mendesah kecewa mendengar ucapan Jihee.

“Gomawoyo Yongri-ya. Karena kau aku dapat merasakan kembali kasih sayang dari seorang eomma.” Kata Jihee. Yongri tersenyum dan memeluk Jihee.

“Akulah yang seharunya berterima kasih padamu.” Desis Yongri. Jihee melepaskan pelukannya dan kembali membereskan pakaiannya.

“Aku akan menyuruh Henry untuk mengantarmu sampai di terminal.” Ujar Yongri. Jihee tidak menolak dan hanya mengangguk.

Henry dan Jihee sudah sampai di terminal sekitar 30 menit yang lalu. Keduanya larut dalam kebisuan dengan saling berhadapan. Bis Jihee akan berangkat 20 menit lagi. Namun keduanya masih belum mau mengucapkan kata-kata perpisahan.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?” Tanya Jihee pada Henry. Henry menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Jihee.

“Gomawo. Terima kasih untuk semuanya. Kau membuat hidupku lengkap sekarang. Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini.” Ujar Henry. Jihee tersenyum. Belum berniat membalas ucapan Henry. Ia tau masih ada yang akan Henry ucapkan.

“Kau benar. Aku memang seorang pengecut. Aku tidak dapat mengakui perasaanku sendiri. Aku terlalu takut.” Ucap Henry sembari tersenyum kecut.

“Aku tau ini hanya perasaan sesaat. Tetapi…….aku mencintaimu.” Ucapnya lagi. Lagi-lagi Jihee tersenyum mendengar pengakuan Henry.

“Arraseo. Terima kasih atas perasaanmu. Setidaknya perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.” Canda Jihee.

“Inilah takdir kita. Tuhan telah merencanakan semuany. Kita saling mencintai tetapi tidak bisa saling memiliki. Namun setidaknya aku bahagia karena telah melahirkan anakmu. Jagalah anak itu baik-baik.” Pesan Jihee. Henry mengangguk. Henry mendekatkan wajahnya dengan wajah Jihee dan mengecup lama kening yeoja itu. Setetes cairan bening keluar dari sudut mata Jihee.

“Pergilah. Lanjutkan hidupmu. Kuharap kau dapat menemukan kebahagiaanmu setelah ini.” Jihee mengangguk dan menarik kopernya menjauhi Henry. Sesekali ia menoleh kebelakang hanya untuk melihat wajah namja itu untuk terakhir kalinya.

“Gomawoyo Henry-ssi. Saranghae.” Gumam Jihee.

-END-

Advertisements

10 thoughts on “‘My Life is Complete Because of You’

  1. acha acha acha kayaknya aku pernah baca deh yang ini
    bang wonnie yongri selingkoh tuh ma mochi
    yok kita selingkoh juga …#ngarep beuth mah bang
    walo ada tipos2 dikit so par so god-lah
    like usuall …i like it
    luv yah
    besok2 sambung lagi bai bai

  2. Ahhhh ini kayak pilem indiaa. Kalau ga salah judulnya chalte-chalte. Ni di bkin agak berbeda sdkit. Tetep suka karena ada gaya tulis khas authornya. Hehehe ^^
    Aku suka banget log dgn pilem2 bollywood. Haha.
    Kerennn di jadikan fanfic!! XD
    keep writing 🙂

  3. Ooo..kirain henry akan milih jihee atau jihee bakalan mati trs anaknya di ambil sama yongri tp ternyata jihee milih pergi..kasihan sih tp lbh baik gt kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s